Friday, December 26, 2008

I Google Analytics Myself Every Morning!

Sudah 15 bulan gw pasang Google Analytics, dan masih setia membaca datanya secara berkala. Selain karena gw tergila2 data, gw juga takjub dengan beberapa temuan menarik yang gw dapatkan dari perangkat ini.

Salah satu temuan menarik yang gw dapatkan adalah top keywords yang mengantarkan orang menuju blog gw. Bayangkan! Di puncak klasemen, dengan total nilai 82 dari 1,290 kunjungan melalui mesin pencari sebulan terakhir (= 6,36%), adalah kata "smritacharita".

Buat gw data ini aneh. Smritacharita adalah kata yang nggak lazim, karena gw pakai bertapa dulu untuk membuatnya... hehehe... Selain nggak lazim, ejaannya belibet khas Bahasa Sansekerta. Lha, yang gw heran, kalau orang bisa mengingat ejaan belibet ini, kok ya nggak mengingat bahwa blog gw adanya di blogspot, sehingga harus bolak-balik memasukkan kata belibet ini ke dalam mesin pencari? Gw yakin, menjejalkan informasi bahwa blog gw ada di blogspot itu jauuuuuh lebih mudah daripada mengingat ejaan "smritacharita" ;-)

Iseng2, gw ikutan gugling kata "smritacharita", dan... kayaknya gw tahu kenapa nama blog ini jadi top keyword: ada ABG yang nyontek nama blog gw! Langsung terbayang percakapan yang melatarbelakangi munculnya top keyword tersebut:

"Main-main dong ke blog gw, jangan lupa kasih komentar ya!"
"Emang blog loe alamatnya apa?"
"Smritacharita. Alamatnya di http://xxx.blog.friendster.com/"

-- besoknya pas si teman mau mengunjungi blog, bingung sendiri. Ejaan alamatnya gimana ya? Pakai EYD, Van Ophuysen, atau Suwandi? Ah, gugling aja deh nama smritacharita --

Jadi deh... nyasar di blog gw semuanya ;-)

Yaaah... antara tersanjung dan dongkol juga sih gw ;-) Tersanjung karena nama yang gw pilih dengan susah payah ini dianggap cukup keren buat ditiru. Tapi.... dongkol juga deh! Secara gw sengaja milih yang unik, pakai bertapa segala, biar nggak ada yang nyamain! Lagian, kan nama blog ini dipertimbangkan dengan filosofi yang panjang, mosok tiba2 dicomot gitu aja :-(

*Pemutakhiran 29 Desember 2008: Makasih buat si empunya blog yang sudah menghapus nama SmritaCharita dari blognya. Karena udah dihapus, masalah tidak diperpanjang. Lain kali jangan diulangi lagi ya, Dik ;-)*

Soal nama karangan gw dicomot dengan semena-mena tuh bukan pertama kali. Nama anak gw, Swastinika, juga dicomot dengan semena2. Gw yakin banget, pas pertama kali ngasih nama Swastinika, di internet nggak ada yang bernama sama. Swastika sih memang banyak. Nika juga banyak. Tapi... untuk menggabungkan Swasti dan Nika, gw bertapa dulu! Dan googling dulu untuk memastikan bahwa nama itu "nggak pasaran".

Naas... setelah gw menceritakan asal dan arti Swastinika di blog, tiba2 aja orang pada nyontek! Diawali dengan alumni Planologi ITB yang memberi nama anaknya Raya Swastinika (nomor 79) ini. Buset deeh! Baru juga 18 Januari 2007 gw publikasikan, akhir Februari 2007 udah ada yang nyontek! Kelihatan banget kan, orang tuanya nggak menyiapkan nama dari jauh2 hari? Mana habis itu dia nggak tahu artinya lagi! Menyebalkan!

Setahun kemudian, tepatnya 28 Januari 2008, nama Swastinika juga dicontek untuk perusahaan. Buseeet... orang2 kenapa nggak kreatif amat sih? Buka kamus Sansekerta kenapa? Yang online juga ada! Kalau namanya mau keren, KREATIF dong! Jangan cuma nyontek!

Yang paling parah adalah bayi ini. Namanya Swastinika Naima Suga. Nyontek abis deh! Gw ngerti kalau orang tua ingin nama anaknya istimewa. Mungkin biar namanya nggak pasaran kayak bapaknya. Kalau mau istimewa, ya cari sendiri dong! Jangan nyontek sampai ke titik komanya :-( Sekarang, arti nama Ima di sini terpaksa gw hapus. Gw kan merangkai nama itu biar anak gw punya nama yang nggak pasaran. Gw bagi ceritanya untuk menginspirasi orang agar semangat mencari nama. Bukan menyediakan bahan contekan!

Hhhh.... padahal, nama Swastinika Naima adalah sesuatu yang gw banggakan sebagai orisinil, setelah teman bapaknyaimanara juga memberi nama anak lelakinya Nara sebulan setelah my Nara lahir. Ketahuan bener tuh teman bapaknyaimanara ikut2an, wong pas pertama kali lahir namanya nggak pakai Nara, kok setelah pulang namanya jadi ada Nara-nya. Plenty of names, kenapa harus pakai nama Nara sih buat menggenapi nama anaknya? Nggak mungkin dia nggak tahu anak gw namanya Nara, karena papa si Nara Aksen itu sekantor dengan bapaknya Nara.

Sekarang gw tinggal berharap nggak ada yang nyontek nama Wimatsara ;-) Nama Nararya memang agak umum, banyak yang pakai. Tapi "Wimatsara" itu nggak umum. Gw jungkir balik cari nama itu ;-) Sejauh ini, gw gugling, belum ada yang pakai nama "Wimatsara". Tapi kita lihat aja beberapa tahun lagi... hehehe.... Sebagai antisipasi, arti nama Nara sudah gw hapus dari blog ini ;-)

Soal nama Ima yang dicontek ini memang terlambat gw antisipasi. Mestinya gw sudah menghapus artinya saat posting Tatami & Bento ini secara konstan berada dalam top 20 landing pages. Untuk bulan ini, posting tersebut menempati urutan ke-15, dari total 340 posting. Cukup istimewa, mengingat posting ini adalah hasil karya gw 23 bulan yang lalu :-) Harga yang harus gw bayar karena terlalu pede bahwa karya gw akan menginspirasi orang mencari nama buat anaknya, bukan mencontek mentah2 ;-)

Niwei, enuff about the plagiarism ;-) Kalau ada orang tua yang senang kasih nama contekan buat anaknya, ya what can I say? Gw cuma bisa melindungi nama anak2 gw dari pencontekan lebih lanjut ;-) Dan bilang pada Ima & Nara: bersyukurlah, Nak, ibumu tidak suka memberikan barang contekan sebagai identitas kalian... HAHAHAHA...

Kembali ke cerita tentang Google Analytics. Yang bikin gw curious juga adalah data tentang visitors. Sebagian besar pengunjung blog gw datang dari Indonesia, tentunya. Tapi, yang bikin gw takjub, banyak kunjungan dari negeri2 yang gw merasa tidak punya kenalan di sana. Kalau USA berada di urutan kedua, gw nggak heran. Teman gw banyak yang berada di sana; meskipun gw bukan termasuk mereka2 yang sempat ngambil S2 di sana (ehm!). Singapore di urutan ketiga juga gak heran. Ada Dodol dan teman2nya. Netherlands, Malaysia, Switzerland, Germany... juga nggak bikin gw heran. Apalagi sejak Ulfah hengkang ke tempatnya Onkel Klinsmann ;-) UK, urutan selanjutnya, juga tidak aneh. Ada sepupu gw nan cantik yang sedang studi di sana ;-) Australia di tempat ke-10, apalagi! Teman gw banyak yang hidup di sana. South Korea, ada Iwan. Bahkan, di Niger pun ada teman SD gw yang sekarang tugas di sana.

Tapi negeri-negeri seperti Canada, Japan, Hong Kong, dan UAE mencengangkan gw. I don't recall having friends there. Padahal, mereka termasuk pembaca yang tekun. Data sebulan terakhir, dari Canada ada 4 kunjungan, dengan rata2 membaca adalah 2 halaman/kunjungan, dan waktu rata2 4 menit 14 detik. Berarti penduduk Canada ini benar2 membaca, karena 4 menit tuh cukup untuk baca satu posting ;-) Dan ini udah lumayan turun, karena beberapa bulan lalu, Canada ini mencetak rata2 13 halaman/kunjungan ;-) Dan pasti orang dari Canada ini pengunjung tetap, karena untuk wilayah Canada ini New Visit (alias orang yang baru pertama kali ke blog gw) cuma 25% ;-)

Bulan ini, dari UAE ada 7 kunjungan, dengan rata2 2,29 halaman/kunjungan dan 9 menit 9 detik/kunjungan. Berarti kemampuan membacanya agak lebih rendah dari yang di Canada... hehehe... Yang jelas, kemungkinan besar yang di UAE ini juga orangnya itu2 juga, karena New Visit UAE adalah 42%

Well.. yang dari Canada ini sih gw bisa menduga. Kemungkinan ia adalah sang feminis yang jadi lawan gw nge-discuss UUP di luar blog belum lama ini ;-) Teman yang salah satu komentarnya gw kutip di tulisan itu. Yo opo ora... HAHAHAHA...

Kalau yang dari UAE ini masih gelap ;-) Demikian pula yang dari Norway dan Poland, yang tampaknya juga orang yang itu2 juga ;-)

Niwei, gabungan dari kedua temuan menarik inilah salah satu alasan kenapa gw jarang menulis akhir2 ini. Gw masih melihat2 perkembangannya sebelum lebih banyak lagi berbagi ide dan pengalaman. Memang, gw sempat mempertimbangkan bikin blog ini jadi private. Tapi.... gw masih ragu2 dengan ide itu, karena bertentangan dengan kenapa gw bikin blog ini pada awalnya.

Berawal dari nongkrongin milisnya anak2 AFI tahun 2004 lalu dan membuat kesimpulan tentang karakteristik pendukung masing2 akademia. Kesimpulan itu gw ceritakan berapi2 pada bapaknyaimanara, yang kemudian berkata, "Mestinya itu loe jadikan tulisan. Jadi nggak hilang begitu aja, dan banyak orang jadi tahu". Niat itu kemudian terbengkalai karena gw malah asyik jadi penulis tamu di blog afilovers buatannya yang kini udah almarhum.

Sampai kemudian seorang teman berpolemik, sebut saja namanya Tino si Tukang Perahu, memberikan saran yang sama, "Kamu harusnya nulis blog. Kamu itu cocok jadi komentator. Orang bisa belajar dari tulisanmu."

Nah... kalau sekarang blog gw jadi private blog, ya sama aja dong sama nggak nulis sama sekali?

So, sampai hari ini gw masih belum tahu apa yang akan gw lakukan selanjutnya. Ada ide, anyone ;-)?

***

On second thought, kayaknya posting ini lebih cocok dikasih judul berdasarkan quote-nya Gene Simmons di Ugly Betty dengan sedikit revisi:

I Google Analytics myself every morning ;-)

Jadi, judul lama "Some Readers, Some Copycats" yang nggak catchy itu gw hapus ;-)

Friday, December 19, 2008

Trough

Hari ini gw ambil rapor Ima. Seperti biasa, di depan gerbang sekolah sudah menanti barisan penyebar brosur Bimbel. Dan seperti biasa, gw sambut juga semua brosur yang disodorkan. Bukan karena gw berminat mengirimkan Ima ke sebuah torture chamber bernama bimbingan belajar sih, tapi karena gw kasihan aja kalau brosur mereka tidak habis :) Lagipula, gw masih merasa kurang sopan kalau disodorin sesuatu dan nggak menerima... hehehe...

Rata-rata brosur yang gw terima masih pemain lama. Ya bimbel yang itu2 aja sejak tahun pertama Ima masuk sekolah ini. Tapi ada satu brosur yang kayaknya baru gw lihat sekali ini: Speedway Bimbingan Belajar.

Dari segi promosi, kayaknya bimbingan belajar yang satu ini siap banget! Brosurnya berkesan elegan. Simple but elegant, dengan warna merah di sisi kiri seolah2 binder buku berwarna putih. Eye catching! Belum lagi, di bidang merah itu terjabarkan berbagai fasilitas yang membuat air liur menetes: Classroom with LCD, Research & Development (I wonder what they research and develop? Can I send a company profile to them? HAHAHA...), Parent Meeting Room, Multimedia Classroom, Consultation Room, Waiting Room, dan Digital Scanner.

Kenapa gw nulis fasilitas2 itu dengan Bahasa Inggris? Karena emang begitulah adanya di brosur itu. Canggih kan? Kesannya standar internasional sekali nih bimbingan belajar ;-) Nggak heran mereka mematok harga lumayan tinggi: untuk program yang pertemuannya 2x seminggu, kisaran harganya adalah Rp 1,250,000 - Rp 2,000,000 per semester. Alias Rp 200,000 - Rp 330,000 per bulan. Untuk yang pertemuannya 3x seminggu lebih mahal, tentu, dengan Rp 1,750,000 - Rp 2,750,000 per semester (Rp 292,000 - Rp 458,000 per bulan!)

Tapi... semua kesan canggih, internasional, dan apa pun citra yang berusaha dibangunnya itu runtuh di mata gw, ketika gw membuka halaman kedua. Di halaman kedua terpampang judul ini:



Hehehe... gw agak ragu apakah menurut EYD yang benar itu "Jadual" atau "Jadwal", seingat gw sih "Jadwal" ya, tapi entar gw cek lagi. Yang jelas.... gw ingat banget bahwa yang benar itu "Aktivitas", pakai Ve! Bukan "Aktifitas", pakai eF :)

Menurut EYD, memang kata aktif, kreatif, efektif, diakhiri dengan F. Tapi... kata sifat berakhiran F, jika berubah bentuk menjadi kata benda, maka F-nya diganti menjadi V :)

Gw langsung mikir: seandainya pun gw berminat menyiksa anak gw dengan menambah jam belajarnya (as if sekian jam di sekolah itu nggak cukup!), gw nggak akan mengirimnya ke Speedway ;-) Salah satu program yang diajarkan di bimbel ini adalah BAHASA INDONESIA. Lha, kalau mereka sendiri nggak bisa menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, apa ada gunanya gw bayar mahal2 supaya anak gw diajarin di sini ;-)?

OK, boleh sebagian orang berkilah: "Tapi kan, Bahasa Indonesia emang ribet. Standarnya nggak jelas. Tercampur bahasa prokem. Lagian, ini kan standar internasional. Mungkin mereka fokus ke Bahasa Inggris"

Well, in that case... coba lihat halaman ketiga dari brosur ini:



Did you see what I mean ;-)?

Hahaha... you're right. It doesn't take a genius to see that they use the wrong word ;-) I believe they should've used the word "THROUGH" instead of "TROUGH"
;-)Atau niatnya memang bilang trough ya? Sebab, definisi trough menurut Merriam Webster adalah:

1 a: a long shallow often V-shaped receptacle for the drinking water or feed of domestic animals b: any of various domestic or industrial containers

2 a: a conduit, drain, or channel for water ; especially : a gutter along the eaves of a building b: a long and narrow or shallow channel or depression (as between waves or hills) ; especially : a long but shallow depression in the bed of the sea

Mungkin, maksudnya, Speedway ini - dengan segala classroom with LCD, waiting room, parent meeting room itu - letaknya adalah di selokan... hehehe... Gutter along the eaves of a building ;-)

Jadi ngerti kenapa iklannya bilang Hendra is going to be Einstein someday ;-) Bukan bilang bahwa Hendra is going to be Newton someday. Bukan karena Sir Isaac Newton kalah ngetop sebagai ilmuwan eksakta dibandingkan Albert Einstein ;-) Cumaaa.... bebannya berat kalau ngaku2 bikin anak jadi the new Newton, yang bahasa Inggrisnya belepotan... HAHAHA... Setidaknya, kalau jadi the new Einstein, kan bisa ngeles bahwa Einstein memang lingua franca-nya bukan Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris ;-)

***

Itu celaan gw hari ini terhadap brosur bimbel. Tapi, ada hal yang lebih mengkhawatirkan gw daripada kesalahan2 kata pada bimbel. Yang lebih mengkhawatirkan adalah: menjamurnya bimbel itu sendiri.

Gila ya, jika segitu banyak bimbel berdiri, berarti kan ada banyak kebutuhan ya? Apa iya, kebutuhan ini muncul karena semakin banyak anak ketinggalan pelajaran? Gw yakin enggak deh. Sebab, kalau yang ketinggalan pelajaran segini banyak, berarti ada yang salah dengan sistem pendidikan kita. Perkiraan gw, pangsa bimbel ini adalah ortu2 yang merasa perlu menambah porsi belajar anaknya walaupun anaknya mungkin nggak ketinggalan pelajaran. Jadi, fungsinya sebagai achievement booster, bukan equalizer

Kalau iya begitu, yang gw nggak ngerti, apa sih yang ingin dicapai oleh orang2 tua itu? Emang kalau anaknya sudah jadi juara kenapa? Kalau anaknya jadi pelajar teladan, kenapa? Kalau anaknya masuk kelas akselerasi, kenapa? Is it the top of the world?

Dari SD - SMA sih mungkin prestasi bisa dikejar dengan bimbel ya. Tapi... setelah kuliah, kayaknya belajar doang nggak cukup. Yang penting bisa mengaplikasikan. Nah... kalau sejak SD - SMA dibiasakannya cuma mengejar nilai, sampai harus bimbel segala, mau jadi apa setelah kuliah nanti? Mau jadi apa jika cara belajar yang mereka tekuni sejak dini tidak lagi berguna? Bisakah mereka mengubah paradigma dalam sekejab mata?

Gw takut... in the long run, akan makin banyak anak2 seperti Nova Mirawati, mahasiswi Fakultas Psikologi UI yang bunuh diri; diduga karena IP-nya anjlok. Atau seperti Hendrawan Winata, mahasiswa YAI yang "numpang bunuh diri" di Kampus Atmajaya - diduga karena kuliahnya tak kunjung selesai.

So... for my daughter and son, I think I prefer the Slowway... not Speedway ;-) Bimbel seperti Speedway ini benar2 trough buat gw, dengan sedikit revisi definisi: bukan "a long but shallow depression in the bed of the sea" seperti kata Merriam Webster, melainkan "a long, shallow way to a neverending depression" ;-)

Buat Anda bagaimana?

***

Pemutakhiran Cepat 19 Desember 2008 pukul 18:38

Ternyata gw benar! Yang benar adalah JADWAL dan AKTIVITAS ;-) Sudah gw duga sih... tapi senang juga mendapatkan buktinya di sini ;-) Selamat belajar EYD ;-)

Friday, December 05, 2008

I'm Not the Center of the Universe!

Awalnya menanggapi posting ibunya Vajra tentang pencerahannya ini. Gw ikut senang Nona Mellow Gumellow mendapatkan pencerahan, tapi gw menistakan caranya mendapatkan pencerahan itu. Yaaah... kalau gw bisa mencak2 karena tindakan melipat2 uang kertas, tentu wajar banget kalau gw menistakan tindakan menyobek2 uang kertas seperti ini.

Yup! Teman atau bukan, gw mah nggak pernah nahan2 lidah hanya demi keharmonisan ;-) All brain, no feeling, kan ;-)? Lagian, kata Oscar Wilde, a true friend stabs you in the front ;-)

Namun ternyata kemudian si Pawang Sobek, orang yang mengajarinya untuk menyobek2 uang, memberikan tanggapan balik. Dan si Nona Mellow minta gw memperpanjang polemik ini dengan embel2: "To be honest, gw tertarik banget nyimak 'adu persepsi' kalian dlm hal ini, interesting!"

Ya udah! Situ yang minta ya... jangan nyesel kalau comment box-nya jadi koloseum filial ;-) Pokoknya resiko ditanggung penumpang! Sekalian ditulis di blog buat dokumentasi ;-)

Komentar Sang Pawang bisa disimak aslinya di sini. Plus jawaban singkat dari gw di sini dan sini (singkat aja 2 porsi, apalagi kalau panjang... HAHAHA..) Yang di bawah ini sudah gw mutilasi, soalnya, disesuaikan dengan alur gw menjawabnya ;-)

Dear Maynot,

"Kita semua benar dalam sudut pandang atau persepsi kita masing-masing".Dan ketika tindakan yang sama, ditukar sudut pandangnya, skor akhir antara BENAR atau SALAH bisa berubah-ubah tak terhingga.

Yang menjadi masalah, ketika terjadi perbedaan pendapat (yang tentunya berakar pada perbedaan sudut pandang), kita seringkali merasa ada pihak yang benar, dan otomatis pihak lain menjadi salah.

Dalam sudut pandang saya, kita setiap hari merusak uang dan mengorbankan orang lain. Ketika uang dipakai untuk membeli barang yang sebenarnya tidak kita perlukan, atau produk yang tidak menunjang kesehatan dan kehidupan, ketika membeli buku atau musik yang tidak terlalu sesuai selera. Ini juga 'biaya' yang tak disadari harus kita bayar untuk kesia-siaan, tanpa harus melatih 'menyobek' uang.

Banyak orang kurang mampu secara ekonomi, mampu hidup dengan tentram dan bahagia, sementara banyak orang yang mampu secara ekonomi (meski itu tidak harus berarti jadi konglomerat), hidup penuh kuatir, takut dan stres tentang uang. Mengapa? Bukan karena mereka kurang menghargai uang, tetapi karena justru mereka terlalu menghargai uang. Lebih dari porsi penghargaan yang wajar, praktis dan sehat. Ini melahirkan berbagai gangguan mental yang menggerogoti kesehatan mereka, kebahagiaan hidup, bahkan mengorbankan relasi dengan orang-orang terkasihnya. Dan sejujurnya, saya banyak sekali menemui kasus seperti ini di kehidupan kota besar.


Wuih! Ada yang ngajarin gw tentang persepsi... HAHAHAHA... Gee, thanks honey, for the lecture on perception ;-) Tapi sayang, jaka sembung main gitar dengan apa yang gw ingin sampaikan.

Nggak tahu salah sambungnya dimana, tapi sebenernya sih gw nggak tertarik ngomongin tentang persepsi individu yang berbeda2 terhadap uang. Gw tahu banget bahwa persepsi individu terhadap suatu hal itu berbeda2.

Yang gw bicarakan kan: jika persepsi yang berbeda muncul dari satu obyek yang sama, apakah kemudian menjadi benar untuk menghancurkan sebuah benda demi menghilangkan persepsi tertentu?

Ibaratnya, kalau uang itu "bayi", maka si bayi itu bisa punya makna berbeda bagi orang2 di sekitarnya. Bisa sebagai anak, bisa sebagai cucu, sebagai keponakan, bahkan sebagai generasi muda harapan bangsa (wuih!)

Dengan demikian, pertanyaannya adalah: apakah dibenarkan bagi seorang ibu untuk membunuh anaknya demi memutus keterikatan dengan anak tersebut? Apakah tindakan membunuh si anak, yang notabene juga membuat kakek kehilangan cucu, paman kehilangan keponakan, bangsa kehilangan salah satu tunas muda, adalah sesuatu yang benar?

Gw sampai buka2 lagi teori tentang attachment. Banyak cara menghilangkan attachment (= keterikatan emosional) kok! Tidak harus dengan merusak benda yang mengikat kita itu :-)

Untuk ketidakbahagiaan yang berakar pada terlalu menghargai uang ini, kita perlu menetralisir apresiasi berlebihan atas uang. Menyobek uang sebesar 1% income bulanan hanyalah salah satu latihan yang bisa dicoba, dan terus terang sangat efektif bagi yang siap mengalaminya.

Mendermakan uang juga latihan yang baik, untuk belajar melepas dan berbagi, namun mendermakan uang tidak menetralisir apresiasi yang berlebih.

Ya, OK, menyobek uang itu efektif untuk menetralisir apresiasi berlebih terhadap uang. Efektif mengikis mata duitan (= baik tergila2 pada duit, atau selalu merasa nggak punya duit). Efektif membuat orang merasa biasa2 saja dengan duit.

Tapi pertanyaannya: yang bikin efektif itu tindakan menyobeknya, atau AKIBAT dari penyobekan itu? Tindakan menyobeknya, atau karena dia dengan sengaja membuat dirinya nggak bisa menggunakan uang itu lagi?

Gw kutipkan sebuah jurnal psikologi, tentang Effect of Attachment & Separation. Nggak persis ngomongin duit, tapi... pada dasarnya sama: keterikatan dapat diputus dengan perpisahan.

Atau... OK lah, mungkin kalau pisahnya baik2, seperti dengan berderma itu, maka keterikatannya nggak putus. Bisa kita atur kan, agar perpisahannya membuat seolah uang itu tidak bermakna? Ini gw punya beberapa alternatif berpisah dengan uang dengan cara menistakannya:

  1. Pergi ke warung pinggir jalan, ganjal meja di sana dengan tumpukan 100 ribu

  2. Random Throwing: buang setumpuk uang pada tiap tempat sampah ke 10. Kalau perlu, untuk lebih menistakan si uang, lokasinya dikonsentrasikan pada daerah pasar ikan yang bau dan becek.

  3. Masukkan duit dalam botol, larungkan botol itu di laut atau sungai.

Apakah cara2 di atas tidak akan lebih efektif daripada menyobek uang? Hipotesa gw sih efektivitasnya akan setara ;-) Tapi dengan satu perbedaan besar: kita tidak menghilangkan manfaat uang itu!

Uang yang sama masih dapat sampai ke tangan mereka yang membutuhkan :-) Amalan si uang itu tidak pasti terputus seperti ketika kita menyobeknya.

Kalau balik ke analogi uang dan bayi, si ibu memutus hubungan dengan membuang si anak. Atau meninggalkan begitu saja di rumah orang tuanya. Sama2 enak, si ibu gak dibebani anak, tapi si kakek tidak kehilangan cucu.

Dan dalam sudut pandang saya juga, kita semua, termasuk seorang tukang bakso ataupun pemulung, sudah punya pundi-pundi rezeki sendiri dari Sang Ilahi, sehingga memikirkan uang Rp. 2.000 yang KITA miliki, dan bagaimana seandainya itu uang menjadi tambahan penghasilan kaum yang kurang mampu, mengajarkan kita untuk tidak menggunakan uang secara sia-sia.

Sia-sia atau tidak, sangat tergantung niat dan pengalaman yang kita dapatkan dari suatu kegiatan, bukan teori atau asumsi yang kita perkirakan tentang kegiatan tersebut.

Betul, rejeki memang sudah diatur oleh Sang Ilahi. Oleh karena itu, apa hak kita merusak sesuatu yang bisa menjadi rejeki orang lain? Apa hak kita untuk menentukan bahwa 1% penghasilan itu sah2 saja kita sobek, karena itu rejeki kita sendiri? Emangnya kita Tuhan, sehingga YAKIN bahwa tidak ada dari uang yang kita sobek2 itu yang sebenarnya adalah REJEKI ORANG LAIN yang DITITIPKAN TUHAN MELALUI TANGAN KITA?

Rejeki bukanlah takdir yang tidak dapat diubah seperti lahir, jodoh, dan mati. Sangat mungkin Tuhan menetapkan bahwa jika si X bekerja demikian, maka suatu hari dia akan bertemu dengan si B yang dititipi rejeki itu. Lha, kalau uangnya sudah disobek2 si B, apa nggak namanya si B memutus rejeki si X.

Sebagai seorang natural healer, mestinya ia tahu bahwa setiap titik di alam semesta ini saling terkait. Dengan demikian, tidak seorang pun yang berhak merusak sesuatu. Pun tidak 1% dari pendapatannya ;-) Karena apa yang dimilikinya itu, 1% pendapatannya itu, belum tentu miliknya sendiri. Segala sesuatu di alam semesta ini hanya titipan-Nya ;-)

So, dear Reza, I don't think this is about your perception vs my perception ;-) This is not about the readiness to accept the method or not. This is about us being a dust in the wind ;-) Dunia dan alam semesta ini lebih luas daripada sekedar hubungan antar pribadi, hubungan antara seseorang dengan sesuatu (dalam hal ini: uang), dari pengalaman kita terhadap sesuatu, dari immediate result tindakan kita terhadap sesuatu, dari niat kita dalam melakukan sesuatu, karena setiap titik di alam semesta ini saling terhubung.

Itu sebabnya dalam agama saya, diajarkan bahwa niat yang baik sudah merupakan suatu kebaikan. Tapi niat yang baik juga harus dinyatakan dengan baik, dan dilakukan dengan cara yang baik ;-)

I'm sure that a man of your calibre know this. If you are not, so please God help those who come to you for advice ;-) Terus terang, gw sih nggak akan bangga dan merasa tercerahkan kalau bisa nyobek2 duit. Gw akan merasa malu dan nista, karena sudah berhasil menempatkan diri gw sebagai center of the universe ;-) Yang melihat bahwa apa pun boleh dan sah demi kemaslahatan diri gw; bahwa kesia2an atau ketidaksia2an hanya dinilai dari niat dan hasil terhadap DIRI SENDIRI ;-)

The Aftermath:

Tapi kayaknya memang sulit baginya untuk bisa melihat ini ;-) Karena, seperti diakuinya sendiri dalam the aftermath, dia masih melihatnya sebagai "nuansa pengalaman langsung non-teoritis [pribadi]" ;-) Itu sebabnya dia mengatakan bahwa bisa/tidaknya melakukan "tindakan ekstrim" menyobek2 uang butuh suatu kesiapan; berani melompati ketakutan dan analisa or whatever ;-) Sementara... buat gw, sampai kapan pun kita tidak punya hak untuk MERUSAK-nya. Karena dengan membuatnya nggak berharga, nggak bisa dipakai lagi, maka kita merugikan orang lain ;-)

Uang, seperti dikatakan Reza dalam the aftermath itu, adalah energi netral. Gw setuju bahwa uang itu energi netral. Oleh karena itu, sebagai energi, dia menghubungkan energi2 lainnya. Dengan merusaknya, menghancurkannya, membuatnya tidak dapat digunakan lagi, berarti kita dengan sengaja merusak keseimbangan ;-) Dan jika kita merusak keseimbangan, berarti kita merugikan orang lain, which is a horrible thing to do apa pun alasannya ;-)

Tuesday, December 02, 2008

A Blast from the Past

Saat menyiapkan baju dan peralatan untuk Notodisurjo's Gathering di Pasir Mukti, ide yang muncul di kepala gw adalah cerita tentang betapa repotnya Baby's Night Out ;). Maklum, meskipun hanya menginap semalam, barang bawaan Nara banyaaaaaak banget! Setengah bagasi sendiri, sampai tas baju gw, Ima, dan pengasuhnya Nara harus diselip2kan ;)

Hari pertama di lokasi, gw nemu ide cerita baru: My Own Private Amazing Race. Memang, berlibur di Pasir Mukti seperti ikutan Amazing Race. Untuk mencapai lahan itu, petunjuknya nyempil. Satu2nya jalan adalah melewati Pasar Citereup yang becek, ramai, dan free-for-all-angkot ;-) Kalau mata nggak dipasang baik2, bakal kelewatan deh belokan di tengah pasar itu. Persis kayak route info di Amazing Race yang sering bikin racers tersesat ;-)

Sampai di lokasi, perjuangan belum berakhir. Lokasi berhektar2 itu petunjuknya minim banget. Kayaknya emang dirancang supaya orang tersesat di lokasi, biar sekalian olahraga untuk menemukan "jalan yang benar"... hehehe... Bayangin, waktu gw & sepupu2 gw (baca: segerombolan ibu2 malas jalan yang naik mobil untuk mencari lokasi dimana anak2nya sedang bermain) tanya ke satpam dimana lokasi Flying Fox. Jawabannya, "Di sana, Bu, ikutin jalan turun itu".

Lha, begitu jalan diikutin, kok 5 menit kemudian kembali ke satpam yang sama? Begitu ditanya lagi, jawabnya, "Di sana, Bu, ikutin jalan ini. Ntar ketemu parkiran, tanya lagi aja sama satpam di sana" [dzigh!] Untung naik mobil! Coba kalau jalan kaki, udah berapa kalori terbuang sia2 gara2 petunjuk yang nggak jelas ini ;-)?

Terus... mesti lihat dong lahan ATV-nya ;-) Kurang lebih 1,5km dari lokasi penginapan dan.... sepanjang jalan sudah seperti lahan ATV beneran! Jalannya asli dari batu, konturnya naik turun bak gunung dan lembah. Dan.... petunjuk terakhir adalah 1km dari lokasi! Bikin sepupu2 gw yang tadinya tabah berjalan akhirnya nge-deprok di pertigaan ;-) Untung gw nyusul belakangan, habis nyuapin Nara dulu. Jadi... gw nyusul dengan mobil dan mereka bisa ikut. Tapi, yang gw takut habis ini mobil gw mesti periksa shock breaker deh... hehehe... secara jalannya berbatu2 gitu ;-)

Judulnya: lokasi ATV harus dicapai dengan 4WD, yang mana jelas mobil gw bukan salah satunya ;-) Tapi untung akhirnya sampai juga, sehingga gw bisa napak tilas Marc & Rovilson di final The Amazing Race Asia 2 - minus lahan pasir ;-)

Dan puas banget gw main ATV, karena ternyata untuk mengendarainya size does matter! Perlu tenaga ekstra untuk membelokkan kendaraan, seperti kalau nyetir mobil tanpa power steering. Akibatnya, sepupu2 gw yang twiggy type itu ketinggalan jauuuuh di belakang gw. Soalnya mereka terpaksa milih salah satu: nge-gas atau membelokkan setang. Tenaganya cuma cukup buat satu hal. Nggak bisa dua2nya kayak gw yang belok sambil nge-gas... HAHAHA...

*Sst.. padahal ATV-nya cc kecil banget. Cuma 150 cc doang! Tapi jangan bilang2 ya, yang penting gw bangga bisa mencapai garis akhir duluan ;-)*

***

Tapi kedua ide itu gw batalkan setelah malamnya kami seluruh keluarga besar berkumpul. Sebagai salah satu acara, Oom gw yang nomor 6 sudah menyiapkan sebuah presentasi tentang sejarah keluarga besar. Ya, memang salah satu agenda kumpul2 kali ini adalah soft launch buku silsilah Kartohadiprodjo, my late father's maternal ancestor.

Sebelum buku dibagikan dan silsilah yang ada di Geni Tree ditunjukkan, Oom gw khusus menujukkan foto2 jadul via slide show MS PowerPoint. Nggak tanggung2, ada foto kakek moyang kami yang diambil tahun 1819! Satu per satu foto itu ditunjukkan, disertai cerita sambung menyambung dari para paman gw.

And with that story I learn a lot about them...

Gw tahu, dengan 8 anak laki2, Eyang Putri & Eyang Kakung must've lived in hell ;-) Lha wong gw punya anak laki2 satu aja kayaknya kelebihan energi, mereka punya 8. D-E-L-A-P-A-N! Nggak kebayang kalau gw punya 8 anak kayak Nara ;-)

Tapi, gw baru tahu betapa repotnya mereka setelah mendengar cerita paman2 gw. Paman gw yang nomor 5, misalnya, pernah hampir mati gara2 main layangan di atap rumah. Rumah Eyang kan model loji Belanda yang atapnya tinggi dan curam. Nggak ada tempat nyaman untuk berdiri, apalagi menaruh benang layangan. Nah... berdirilah beliau ini di atap rumah dengan benang layangan dililitkan di lehernya!

Untung ketahuan dan cepat2 diturunkan ;)

Cerita lain lagi, ternyata paman gw yang nomor delapan (anak laki2 ke-7) tidak pernah punya dot yang utuh. Semua dot digunting karena beliau nggak sabar menunggu aliran susu. Selera minumnya sebagai bayi memang ruaaarrr biasa ;-)

Fun fact lainnya, ternyata paman gw yang nomor 4 itu seperti Mahar dalam Laskar Pelangi. Songong style.. hehehe.. sadar kamera banget, dan senang bergaya ;-) Dari semua foto masa kecil itu, tidak satu pun gaya beliau yang kaku. Pasti bergaya ;-)

Tapi yang paling fenomenal, tentu cerita tentang almarhum Bapak ;-)

Salah satu foto yang ditunjukkan memuat Bapak beserta kakak, 4 adiknya, serta dua anak pembantu. Namanya Satiran dan Satimin. Dua2nya punya story dengan kreativitasnya Bapak.

Anak pembantu yang besar, Satiran, pernah dibujuk Bapak supaya makan sabun. Yak! Sabun! Paman2 gw nggak tahu alasannya, tapi katanya sih itu salah satu dari eksperimennya Bapak. Samar2, gw ingat bahwa Bapak pernah cerita bahwa sejak kecil beliau memang senang bereksperimen. Salah satu eksperimennya semasa SR (= sekolah rakyat, atau sekarang SD) adalah: ingin tahu bagaimana jika sabun dimakan. Apakah rasanya enak? Apakah menimbulkan busa jika kena air ludah?

Dan untuk membuktikannya, Bapak membujuk Satiran memakan sabunnya.

Satimin, nasibnya lebih malang. Dibujuk Bapak untuk digantung lehernya. Asli! D-I-G-A-N-T-U-N-G! Paman2 gw juga nggak tahu alasannya, tapi... cerita mereka membuat gw mengingat salah satu cerita Bapak tentang eksperimennya. Waktu itu, Bapak ingin tahu bagaimana orang bisa mati bunuh diri. Jadi... dia bujuk Satimin untuk digantung, dan dicatat reaksinya sejak awal digantung.

Untung eksperimennya cepat diketahui ibunya! Kalau Satimin keburu meninggal, entah apa jadinya Bapak... hehehe.. Kata Bapak, beliau mendapatkan hukuman dari Eyang Putri gara2 eksperimennya ini. Ya iya lah! Nggantung anak orang!!

Hehehe... gw rasa, Bapak punya creative disorder! Maksudnya, punya kreativitas yang sangat tinggi, sehingga mengganggu ;-) Tahu kan, katanya madness heightens creative genius ;-)

*Jadi mikir... kalau Nara adalah karma kebandelan gw, maka... mungkin gw adalah karma buat Bapak... HAHAHAHA.. ;-)*

Tapi tidak semua kreativitasnya Bapak merupakan disorder ;-) Pada bagian lain presentasi itu, paman keenam gw menunjukkan sebuah foto berwarna. Ditilik dari tahunnya, awal 50-an, mestinya teknologi foto berwarna belum masuk Indonesia. Ternyata... itu hasil eksperimen Bapak! Bapak mewarnai bagian per bagian foto itu, yang merupakan cikal bakal kecintaan Bapak pada fotografi. Saking cintanya pada fotografi, Bapak sempat punya kamar gelap sendiri dan kemudian membiayai kuliahnya dengan membuka studio foto.

Cerita berlanjut. Ternyata, selain bereksperimen bikin kamar gelap, Bapak juga pernah "menciptakan" mesin penetas telur ayam sendiri semasa SMA. Not bad, mengingat Bapak justru dari SMA jurusan Bahasa, bukan PasPal ;-) . That's my father, my "geniusly" eccentric father whom I love so much ;-)

Tapi ada satu cerita yang menyentuh hati, yaitu cerita Eyang Putri semasa perang. Salah satu foto menunjukkan rumah keluarga besar kami di Solo dengan sebuah pohon pepaya di depannya. Cerita paman gw yang nomor 3, pada awal masa kemerdekaan, Eyang Putri dan keempat anaknya (satu masih bayi), pernah terkurung di rumah tanpa makanan. Eyang Kakung ikut berperang, dan tentara pelajar menembaki tentara Belanda dari halaman rumah.

Melihat anak2nya kelaparan, Eyang Putri merayap dari pintu belakang rumah menuju pohon pepaya. Jaraknya tidak kurang dari 20m. Sampai di bawah pohon pepaya, Eyang menyodok buah yang masih mengkal supaya jatuh. Tentara Belanda melihatnya, dan membidik beliau. Alhamdulillah umurnya belum sampai, sehingga tembakan itu meleset. Bahkan pelurunya mengenai pepaya itu sehingga jatuh dan bisa dibawa Eyang ke dalam rumah.

Gw sangat terharu mendengar cerita ini. Begitu besar cinta seorang ibu pada anaknya, sampai rela berkorban nyawa untuk mereka.

*Nggak tahu juga ya, siapa tahu tentara Belandanya penembak jitu dan emang mau membantu seorang ibu memberi makan anaknya... ;-)*

Anyway... pingin juga share salah satu foto dari almh Eyang Putri dan alm Bapak, dua "orang hebat" yang menurunkan gw ;-) Foto ini gw pinjam dari presentasi paman keenam ;-) Kebetulan diambil pada pesta khitanan Bapak (duduk memakai sarung), sekitar tahun 1953. Waktu itu, Eyang Putri dan Eyang Kakung baru punya 7 anak ;-)


Fotonya sengaja dibikin kecil ya ;-) Biar nggak jelas... HAHAHAHA... ;-) Tapi, buat yang pernah lihat tampang gw, maka Eyang Putri itu wajahnya persis gw ;-)

*yang belum pernah lihat gw, terpaksa ngintip2 foto ini untuk bisa membayangkan bagaimana wajah gw ;-)*

Nggak sabar ingin ikut gathering berikutnya, to learn more about them ;-)

***

Bagaimana nasib dua ide cerita lainnya ;-)? Yaah, yang My Own Private Amazing Race sih ke laut aja deh ;-) Kalau yang Baby's Night Out, gw pindahkan ke sini ;-) Itu blog yang dibuat Ima untuk adiknya. Tapi namanya juga anak kecil, habis itu Ima males ngisinya ;-) Yah, gw isi aja deh, siapa tahu 40 thn dari sekarang, dalam sebuah gathering keluarga besar, nama gw disebut sebagai salah satu leluhur yang rajin mendokumentasikan sejarah keluarga... HAHAHAHA...

Sunday, November 23, 2008

Midnight with Ima

Manakala Ayahnya Ara dan Bundanya Naila baru mengalami saat pertama nonton bioskop bersama si buah hati, gw justru sudah memasuki babak2 terakhir kisah itu ;-) Film yang ditonton boleh sama dengan pilihan Naila, tapi... kelihatan kan siapa yang senior dalam masalah parenthood ini ;-)?

Ya, gw justru sedang menikmati saat2 terakhir Ima menganggap nonton bioskop bersama ibunya itu sesuatu yang cool. Sejak kelas 6 SD, gw merasa nonton bareng ortu itu nggak cool, dan mengingat Ima sekarang kelas 4, do the math lah! Makanya, waktu Ima mencanangkan nonton High School Musical 3 sejak pertama melihat teaser-nya, gw langsung setuju. Dalam rangka menikmati saat2 masih dianggap fun-to-be-with.

Gw janjikan nonton bareng pada hari pertama diputarnya film ini, Rabu, 29 Oktober 2008, Namun, Sabtu sebelum tanggal yang dijanjikan, gw & Ima kelayapan di Setiabudi One. Iseng2 lihat bioskop, lho... pemutaran perdananya ada di situ! Jam 23:35, alias setengah jam sebelum tengah malam. Malem banget yaks?

Seumur2, gw belum pernah nonton tengah malem di bioskop. Dan sebenernya nggak niat juga menambah porto-folio gw dengan "berpengalaman" nonton tengah malem di bioskop. Menurut gw, itu penyiksaan diri yang nggak perlu. Bayangin, jam 11 malem mesti nyetir di tengah gelap dan sepinya malam, untuk kemudian terkantuk2 memaksa mata melek sampai jam 2 pagi. Tapi.... karena Ima pasang wajah sendu, yaaah... akhirnya terpaksa gw beli tiket juga.

Gw sadar banget bahwa film ini merupakan salah satu milestone penting bagi pergaulan Ima sejak penghujung tahun lalu, Dengan demikian, being the first to watch adalah sangat penting artinya buat anak gaul kronis semacam Ima ;-) Dan, suka nggak suka, kalau gw pingin dianggap fun-to-be-with oleh anak gw yang gaul kronis, konsekuensinya gw mesti mau nonton midnight.

Begitulah! Akhirnya, diiringi doa dari eyang dan bapaknya anak2 supaya aman di perjalanan, gw bersikap heroik mengantarkan putri tercinta nonton pemutaran perdana filmnya "anak gaul". Berangkat jam 22:45, nyetir pelan2 biar aman (secara, nggak sampai sebulan sebelumnya, bapaknya anak2 baru kena musibah: taksi yang ditumpanginya ditabrak preman mabok di Jembatan Jatinegara, dan nyaris saja taksi itu dibakar preman lainnya kalau nggak ada polisi lewat). Terkantuk2 di bioskop sepanjang film. Dan pulang bareng maling berangkat kerja, alias jam 2 pagi, tetap dengan nyetir pelan2.

Tapi semua itu terbayar dengan kegembiraannya Ima, yang tak putus berceloteh tentang betapa asyik filmnya... dan betapa dia akan jadi source of reference Senin nanti - sebagai orang pertama yang nonton film yang lagi happening banget itu ;-)

*yah... sebenernya dia berceloteh juga tentang betapa ganteng Troy di film itu, tapi kuping gw udah punya sensor. Begitu ada kata "Troy" disandingkan dengan kata "ganteng", langsung kuping gw berbunyi, 'TiiiiT'" ;-)*

Kalau nyontek salah satu lagu di HSM sih, pengalamannya malam itu adalah:

Big fun, on the night of nights
...
It's gonna be a night to remember
It's gonna be the night to last forever

***

Senin malam, gw tentu minta laporan pandangan mata atas hasil jerih payah gw Sabtu sebelumnya. Gw ingin tahu bagaimana kesan2 Ima menjadi sumber informasi mengenai film itu. Seperti diduga, memang Ima satu2nya yang sudah nonton. Nggak banyak memang ibu2 yang rela nonton midnight bareng anaknya... HAHAHAHA... She had a good time menceritakan jalannya film, dan menjawab pertanyaan teman2nya. Maklum, sebelumnya, sudah banyak beredar spekulasi dan gosip tentang jalan ceritanya.

Tapi ada satu pertanyaan khusus yang membuat gw tergerak menuliskannya di sini:

"Tadi si Nesia [bukan nama sebenarnya] tanya, di HSM-3 ada ciumannya apa nggak. Ya aku jawab ada, kan Troy sama Gabriela ciuman, habis dansa. Terus dia jadi sedih, karena berarti dia nggak akan boleh nonton HSM-3 sama mamanya. Mamanya galak, dia nggak boleh nonton film yang ada ciumannya"

Hahaha... kalau nonton film yang ada ciumannya aja nggak boleh, gw nggak kebayang reaksi ibu temannya Ima ini kalau tiba2 anaknya nanya bedanya Lip Lock dan Tongue Tango ;-) Bisa disuwir2 kali, anaknya itu setelah sebelumnya dikuliti, dikasih bumbu, sembari direbus hidup2 ;-)

Hareee geneeee... masa dimana informasi terbuka seluas2nya, sampai kadang terlalu luas, masih pakai pola lama "membatasi" dan "menabukan" apa yang boleh dilihat atau tidak dilihat anak? Hmm... itu menimbulkan bahaya laten. Anak bisa dengan gampang cari info lewat jalan belakang, yang malah nggak bisa kita antisipasi hasilnya. Gw sih terus terang malah ngeri beberapa tahun lagi si anak malah nggak terkendali, karena terlalu banyak dikekang sekarang.

Pola pengasuhan model authoritarian seperti ini ternyata memang masih banyak. Di sekolahnya Ima, gw masih sering banget menemukan orang tua seperti ini. Orang tua yang punya sederet aturan detil bagi anak2nya. Dan orang tua si Nesia ini salah satunya.

Di satu sisi, memang akhirnya Nes ini jadi anak berprestasi. Walaupun gw yakin bahwa kecerdasannya hanya rata2 normal (well, sisa2 kemampuan gw mendeteksi tingkat intelegensi orang masih ada... hehehe... meskipun gak praktek jadi tukang psikolog ;-)), tapi selalu masuk 3 Besar di kelas. Mengalahkan banyak anak2 yang gw tengarai memiliki tingkat intelegensi lebih tinggi... termasuk Ima yang peringkatnya cuma di kisaran 10 Besar.

Ya gimana si Nes ini tidak berprestasi [akademik] tinggi? Wong di-drill dengan ketat oleh ortunya. Pulang sekolah, sederet les sudah menanti. Les mata pelajaran. Nonton TV hanya boleh 1 jam setiap hari. Sisanya belajar. Apalagi kalau musim ulangan! Dan kalau nilai ulangannya di bawah SKBM (= standar kecakapan belajar mengajar), maka hukuman sudah menanti.

Kok gw bisa tahu? Lha, ortunya sendiri yang pernah cerita sama gw ;-) Waktu itu kami sedang ngobrol tentang bagaimana anak belajar di rumah. Obrolan yang bikin mulut gw mengatup dengan rapat... hehehe... Bukan karena gw minder, tapi daripada gw nyolot dan nyilet2 pola authoritarian mereka ;-)

Gw sendiri berusaha menerapkan authoritative parenting, walaupun terkadang terpeleset juga jadi permissive parenting ;-) Gw berusaha membebaskan anak gw, tapi juga bukannya nggak punya aturan. Konsekuensinya, Ima dengan enteng pernah khataman baca Detektif Conan walaupun besoknya ulangan umum. Hasil ulangannya? Nggak mengecewakan sih, tapi gw yakin dia bisa dapat nilai lebih tinggi kalau malamnya belajar lebih tekun ;-)

Prestasi akademis yang lebih rendah daripada kemampuannya, itu [salah satu] harga yang mesti gw bayar dalam upaya jadi ortu yang otoritatif ini. Kadang bikin deg2an juga, karena takut Ima ini tergolong underachiever.

Namun, akhirnya gw makin mantap berada di jalur ini setelah terbukti bahwa prestasi akademis Ima yang nggak luar biasa tergantikan dengan prestasi di bidang lain. Ima jelas bukan underachiever seperti yang gw khawatirkan; hanya saja minatnya bukan melulu di bidang akademis. Dia mencoba banyak hal, berhasil di banyak hal. Tidak menjadi si kuper yang hanya tahu mencetak nilai 10 di sekolah, tapi nggak tahu apa2 di luar textbook.

Salah satu prestasi luar sekolah Ima baru2 ini adalah.... memenangkan sebuah antioxidant water maker! Benar, bahwa kemenangannya ini "cuma" karena dia menjawab benar selembar kuis dari produsen antioxidant water maker tersebut. Benar juga, bahwa lantaran ini bukan lomba sains serius, maka nggak semua ortu teman sekelasnya serius meng-encourage anaknya untuk mengisi dengan akurat. Tapi.... ada satu hal yang harus dicatat: Ima menjawab SEMUA pertanyaan dengan tepat. Dan yang harus dicatat pula: Ima mendapatkan pengetahuan mengenai anti-oxidant itu HANYA dari ikutan ngintip gw bikin report.

Yup! Kebetulan sekali, seminggu sebelumnya gw membuat laporan penelitian yang sedikit banyak menyinggung mengenai anti-oxidant. Seperti biasa, Ima kadang2 ikut duduk di samping gw dan tanya ini-itu. Dan seperti biasa, gw jawab sambil lalu. Tak disangka, jawaban sambil lalu gw itu terpateri di benak Ima dan membantunya memenangkan produk tersebut.

Tak habis2 gw bayangkan: jika gw menggunakan pola authoritarian, apa jadinya Ima sekarang? Pasti dia tidak mungkin dengan enteng tanya ini-itu. Mungkin dia jadi juara kelas, jadi juara umum, atau malah jadi bintang pelajar se-kelurahan ;-) Tapi dia nggak akan tahu apa2 tentang anti-oxidant.

Kembali ke soal High School Musical 3. Sekarang memang gw nggak tahu apa gunanya Ima nonton film ini, sampai bela2in nonton pemutaran perdananya. Tapi... gw yakin semua hal itu berkaitan. Seperti efek kupu-kupu lah! Hal kecil yang gw lakukan dan izinkan saat ini, pasti ada gunanya di masa depan.

Sama seperti gw nggak pernah tahu apa yang bikin Ima hobby nongkrongin gw bikin report dan tanya ini-itu. Gw nggak pernah merencanakan itu, hanya berusaha sebaik2nya menjadi best-buddy. Tapi ternyata toh itu membuat Ima berani tanya. Dan pada akhirnya, tanya-jawab sambil lalu mengenai anti-oxidant itu, yang nggak ada kaitannya sama sekali dengan pelajaran sekolah itu, ternyata beberapa minggu kemudian terbukti membantu Ima meraih prestasi yang lain ;-)

So, biarin aja deh... anak2 tuh terbuka minatnya ;-) Dukung aja, jangan banyak aturan ini-itu. Saat ini mungkin nggak kelihatan gunanya, tapi.... bukan berarti nggak ada gunanya ;-)

Sunday, November 16, 2008

How to Read UUP... without Getting Mad about It

OK, ternyata UUP masih happening. Tempo edisi 10 November 2008 masih membahasnya. Kirain udah basi, tergulung berita tentang kemenangan Obama dan eksekusi mati Amrozy cs ;-) Dan karena masih happening, gw publikasikan deh draft yang sempat gw bikin tentang ini.

Gw termasuk nggak terlalu peduli UUP disahkan atau tidak. Gw nggak akan mati2an membela kalau ada yang ingin membatalkan pengesahannya, dan kemudian menggantinya dengan UUP yang lebih baik, karena gw melihat UUP ini belum sempurna. Tapi gw juga nggak akan mati2an ikut berjuang minta pengesahannya dibatalkan, karena gw melihat UUP ini (dengan segala ketidaksempurnaannya) sebagai langkah pertama yang bagus.

Ya, karena cara gw membaca dan meletakkan UUP ini [mungkin] berbeda dengan banyak orang, maka gw nggak melihat UUP ini sebagai ancaman terhadap keberagaman budaya. Gw bahkan melihatnya sebagai semacam garansi keamanan dalam berbudaya dan bermasyarakat. Pasal2nya multi-tafsir? Nggak juga tuh. Pasal2 itu menjadi multi-tafsir jika kita membaca UUP seperti soal matematika: urut dari depan ke belakang... hehehe... Dimana bagian pertama menjadi bagian yang paling penting, dan kalau nggak jelas harus berhenti di sana ;-)

Emang gimana sih gw membacanya?

Hmm... yang jelas, gw meletakkan UUP ini dalam konteks kegunaannya. Jadi, gw selalu melihat UUP ini sebagai instrumen untuk menyelesaikan perbedaan nilai budaya masyarakat - dimana nilai2 itu berpotensi menimbulkan benturan2 budaya, sehingga memperbesar potensi konflik. Itu hal mendasar yang selalu gw camkan di kepala gw.

Jika pornografi adalah delik aduan (= dapat diproses secara hukum jika ada pengaduan dari yang merasa dirugikan), maka gw akan mulai membaca UUP ini dari Pasal 22. Kenapa? Karena Pasal 22 ini adalah pembatasan hak dan wewenang seorang penggugat. Secara spesifik Pasal 22 sudah menyebutkan bahwa hak dan wewenang masyarakat hanya melaporkan/menggugat suatu tindak yang dianggapnya pornografi, atau menyosialisasikan UUP/melakukan pembinaan terhadap bahaya dan dampak pornografi. Malah, pada Pasal 22 ayat 2, lebih ditegaskan lagi bahwa sosialisasi dan pembinaan itu harus dilakukan secara bertanggung jawab.

Jadi, tidak seperti banyak orang lainnya, gw tidak nyolot dengan Pasal 22 ini - apalagi menganggapnya membuka kemungkinan sweeping ;-) Justru, menurut gw, pasal ini memberikan kepastian hukum bahwa yang sewenang2 melakukan tindakan sweeping dapat kita mintai pertanggungjawaban secara hukum.

Lha, kalau memberi kepastian hukum, kenapa yang dibilang harus dilaksanakan dengan bertanggung jawab hanya menyosialisasikan UUP dan membina terhadap dampak/bahaya pornografi saja? Kenapa menggugat dan melaporkannya tidak? Ini adalah pertanyaan yang diajukan oleh seorang teman untuk "menyadarkan" gw bahwa gw buta kalau tidak melihat UUP ini sebagai kesewenang2an ;-) Bukannya melek, gw malah ngetawain dia... hehehe... Sebab, menurut gw pertanyaan ini konyol! Melaporkan dan menggugat itu sudah pasti dilakukan dengan bertanggung jawab ;-) Kalau si A merasa si B melakukan pornografi, dan dia melaporkan/menggugatnya, pasti laporan/gugatan si A itu diajukan pada pihak ketiga yang berwenang. Tidak ada interaksi antara si A dengan si B secara langsung yang dapat menimbulkan tindakan tidak bertanggung jawab, kan ;-)?

Beda dengan jika si A berusaha menyosialisasikan UUP kepada si B, atau berusaha membina si B tentang bahaya/dampak pornografi. Dalam membina/menyosialisasikan, si A pasti berinteraksi langsung dengan si B, dan itu rentan terhadap tindakan tidak bertanggung jawab. Si A bisa saja terprovokasi (meskipun si B tidak bermaksud memprovokasi), dan menjadi gelap mata. Makanya harus ditekankan bahwa tindakan itu harus dilakukan secara bertanggung jawab. Get it ;-)?

Jadi jangan dibaca sebagai terbalik, bahwa pemerintah sengaja hanya menekankan tanggung jawab pada sebagian pasal. Sengaja membuka peluang tindakan anarki ;-)

***

Karena di kepala gw sudah tercamkan bahwa UUP ini adalah instrumen untuk menyelesaikan benturan kebudayaan, yang terbayang oleh gw adalah UUP ini muncul saat ada dua atau lebih orang/kelompok berserikat dan berkumpul berbeda pendapat tentang perilaku seseorang/sekelompok orang. Kita sebut saja si B sering melakukan suatu perilaku yang bisa dianggap pornografi oleh sebagian orang.

Naaah... siapa pun yang pernah melihat si B berperilaku seperti ini, dan merasa berkeberatan, berhak untuk melaporkan si B kepada pihak yang berwajib. Dasar pelaporannya adalah Pasal 5 - 12. Boleh pilih pasalnya yang mana, yang penting bisa menjelaskan kenapa menganggap tindakan itu adalah pornografi. Darimana batasan pornografinya? Ya gunakan Pasal 1 dan Pasal 4.

The infamous Pasal 1 butir 1 itu kan bunyinya jelas:

Pornografi adalah materi seksualitas yang dibuat oleh manusia dalam bentuk gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, syair, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan komunikasi lain melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang dapat membangkitkan hasrat seksual dan/atau melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat.

Banyak yang bilang bahwa Pasal 1 butir 1 ini nggak jelas. Menurut gw, ini sudah terang benderang seperti bintang di langit gelap ;-). Kita bahas ya ;-)

Mereka yang nggak setuju dengan UUP mengatakan bahwa kata "dapat membangkitkan hasrat seksual" itu ambigu. Apa yang dapat membangkitkan hasrat seksual pada tiap orang berbeda. Pendapat mereka betul ;-) Tapi tidak tepat dijadikan argumen ;-) Sebab, kalau kita menggugat seseorang dengan dasar "materi seksual yang dapat membangkitkan hasrat seksual", maka kita harus membuktikan bahwa materi itulah yang membangkitkan hasrat seksual. Kita harus dapat membuktikan bahwa bukan manusianya yang mudah terbangkitkan.

Pernah baca peringatan di bungkus rokok? Bunyinya "Merokok dapat menyebabkan impotensi, gangguan kehamilan, dan janin". Kenapa peringatan itu ada di tiap bungkus rokok? Jawabannya: ya karena sudah terbukti secara signifikan bahwa rokok dapat membuat si perokok impoten. Apakah semua yang merokok jadi impoten? Tentu tidak, karena banyak faktor yang bisa membuat seseorang tidak impoten walaupun merokok. Apakah semua yang tidak merokok pasti tidak impoten? Nggak juga, karena ada faktor2 lain yang menyebabkan impotensi. Tapi yang jelas, kalau sekelompok orang kondisinya disamakan, maka terbukti secara signifikan bahwa resiko impotensinya berbanding lurus dengan jumlah rokok yang diisap.

Jadi, menurut gw, argumen bahwa "dapat membangkitkan hasrat seksual" ini ambigu adalah argumen yang lemah. Kalau ada yang menggugat bahwa perilaku si B (atau si B ditangkap karena dituduh perilakunya) dapat membangkitkan hasrat seksual, maka harus ada pembuktiannya toh ;-)? Tinggal diujikan laboratoris aja, apakah perilaku yang dipermasalahkan ini memang secara signifikan dapat membangkitkan hasrat seksual ;-)

Gimana ngukurnya? Hmmm.... kalau untuk cowok, salah satu alternatifnya adalah menggunakan Erection Hardness Scale ;-) Gampang toh ;-)? Tentu samplingnya harus bener ya! Jangan sampai pakai EHS, tapi sample-nya penderita impotensi ;-)

Tapi gw rasa kecil kemungkinannya kita harus melakukan pengukuran untuk membuktikannya. Karena, dalam Pasal 4 sudah dengan jelas dipersempit mengenai hal2 apa yang dianggap pornografi (=dapat membangkitkan hasrat seksual dan/atau melanggar nilai2 kesusilaan). Di luar hal2 yang disebutkan itulah yang lantas menjadi dispute.

Ada seorang teman yang memberikan pertanyaan kritis: kalau misalnya gw bikin kalender gambar cewek cantik seksi dan cowok macho seksi berpakaian lengkap, tapi posisinya kurang anonoh, bisa dituduh pornografi nggak? Kan nggak termasuk yang disebut di Pasal 4.

Hehehe... kalau menurut gw sih, kalau yang mau digugat itu sudah jelas tercantum di Pasal 4, berarti dasar gugatan kita sudah kuat. Tapi kalau nggak tercantum di Pasal 4, kita masih bisa pakai batasan di Pasal 1. Seperti contoh kalender porno ini. Walaupun tidak tercantum dalam hal yang jelas dilarang dalam Pasal 4, tapi masih terbuka kemungkinan untuk membuktikan bahwa kalender ini dapat membangkitkan hasrat seksual dan/atau melanggar nilai2 kesusilaan.

Menurut gw emang nggak mungkin mencantumkan SEMUA hal yang dapat membangkitkan hasrat seksual dan/atau melanggar nilai2 kesusilaan di Pasal 4. Nanti malah jadi terlalu spesifik. Biarlah agak terbuka seperti ini, sehingga membuka ruang untuk pembuktian dan pembelaan. Kita baru belajar mengatur pornografi. Kalau pornografi ini diletakkan dalam Johari Window, maka posisinya masih di daerah gelap (unknown - not known to self, not known to others). Jalan masih panjang untuk berada di daerah terbuka (arena - known to self, known to others). Apalagi karena pornografi tidak senyata pembunuhan, tentu butuh waktu untuk kita sama2 belajar.

Undang-undang itu bukan harga mati kan? Selalu bisa dikeluarkan undang-undang baru untuk merevisinya.

***

Bagian kedua dari the infamous Pasal 1 yang sering dipermasalahkan adalah kata "melanggar nilai2 kesusilaan dalam masyarakat". Umumnya orang mempertanyakan: nilai kesusilaan masyarakat yang mana yang mau dipakai di Indonesia? Bukankah ini ambigu, memecah belah, karena masing2 masyarakat punya nilai susila yang berbeda?

Hmmm... karena gw melihat UUP ini sebagai instrumen peredam konflik, maka gw melihatnya adalah: nilai kesusilaan yang dipakai adalah nilai kesusilaan dalam masyarakat tempat terjadinya gugatan tersebut. Jadi... UUP ini tidak menggunakan nilai masyarakat tertentu sebagai benchmark nasional (seperti yang dituduhkan padanya), melainkan mengembalikan suatu dispute pada nilai masyarakat tempat terjadinya.

So, buat gw, UUP ini berguna untuk menyelesaikan gugatan [misalnya] seorang Aceh jika ada seorang rekan perempuan Bali berkemben di Lhoksemauwe sana. Di daerah istimewa Serambi Mekah yang kuat menjunjung nilai2 syariah Islam, terlihat rambutnya saja sudah dapat dikatakan melanggar nilai2 kesusilaan. Apalagi kalau bagian dada, kan? Nah... apa orang sepropinsi nggak boleh protes, nggak boleh merasa tidak nyaman, dengan alasan kebhinnekaan?

Lha, tapi ... jadinya kasihan dong si perempuan Bali itu? Dianggap sebagai kriminal? Bisa dipenjarakan?

Belum tentu! Alasan pertama, berkemben kan tidak termasuk materi seksualitas buatan manusia? Meskipun dapat dianggap melanggar nilai2 kesusilaan [masyarakat Aceh], tapi belum bisa dianggap pornografi karena hanya memenuhi sebagian syarat. Alasan kedua, kalaupun (ingat: KALAUPUN) dianggap sebagai pornografi, masih ada Pasal 14 yang menjamin bahwa penggunaan material seksualitas diperbolehkan untuk hal yang berkaitan dengan seni/budaya, adat istiadat, dan ritual tradisional.

Dengan demikian, meskipun di Aceh, kalau orang Bali mau ke pura dengan baju tradisional yang [mungkin] kurang sesuai dengan nilai kesusilaan Aceh pun, orang Aceh nggak bisa protes. Apalagi kalau di Bali sendiri ;-) Kecuali kalau orang Bali itu nggak bisa menunjukkan bahwa hal itu penting bagi ritual keagamaan/adatnya ya :-) Kalau alasannya cuma karena biasanya juga dandan begitu di rumahnya, yaaah... kita kembali ke peribahasa: di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung, kan ;-)?

Jadi, alasan penolakannya apa sih? Alasan ketersinggungannya dimana?

Seorang teman dengan gegap gempitanya mengajukan argumen: kalau gitu, orang Bali juga boleh protes dong, kalau ada orang Aceh datang ke Kuta pakai jilbab? Hmmm... menurut gw, ini argumen konyol dan kekanak2an ;-) Menampakkan bagian dada adalah pelanggaran kesusilaan di Aceh, tapi... apakah mengenakan pakaian tertutup adalah pelanggaran kesusilaan di Bali ;-)? Jika ya, OK, boleh2 aja masyarakat Bali menggugat turis yang berhijab. Tapi... setahu gw, di Bali sih berpakaian tertutup tuh bukan pelanggaran kesusilaan ya ;-) Dan cuma anak kecil yang kalau dilarang sesuatu lantas cukup naif membalas dengan melarang juga - tanpa peduli konteksnya ;-)

***

Setelah gw bolak-balik baca UUP ini, lantas membaca tebaran posting di blogosphere, gw sampai pada kesimpulan berikut mengenai alasan2 penolakan UUP:
  • Satu, karena punya trust issue dengan sistem peradilan Indonesia dan DPR, sehingga undang-undang ini dilihat sebagai bahan baru untuk pungli dan korupsi - atau setidaknya merupakan upaya kompromi dengan sekelompok masyarakat tertentu
  • Dua, karena punya kecurigaan bahwa UUP ini adalah upaya pemaksaan ideologis sekelompok masyarakat pada skala nasional
  • Tiga, karena punya ketakutan terhadap sekelompok massa tertentu yang senang bertindak sebagai polisi moral. Bahkan ketakutannya sudah meningkat menjadi ketakutan bahwa sekelompok massa ini adalah bala tentara untuk pemaksaan ideologis berskala nasional ;-)
  • Empat, karena kurang mampu membaca dokumen panjang tertulis secara holistik, apalagi dengan bahasa hukum ;-) Sehingga sering jump to conclusion atas kata2 yang ada di beberapa pasal ;-)

Keempat hal ini yang menurut gw adalah sumber utama penolakan terhadap UUP. Bukan isi UUP-nya itu sendiri ;-) Buktinya, gw bisa menerima UUP sebagai sesuatu yang baik tanpa harus menjadi bagian dari "sekelompok masyarakat" yang "dituduh" ingin melakukan "pemaksaan ideologis" (duh!). Isi UUP-nya masih dapat gw terima dengan nalar ;-)

Dan kalau gw sendiri sih lebih khawatir dengan trust issue, anxiety, serta jump to conclusion ini. Bukan dengan isi UUP-nya sendiri ;-) Kalau kita sudah hidup dengan saling curiga, apalagi diimbuhi dengan ketidakmampuan membaca secara holistik, maka... perpecahan kebhinnekaan justru lebih mungkin terjadi.

Bukan UUP-nya yang akan memecah kebhinnekaan, melainkan kesalingcurigaan kita ;-)

------
Catatan Penting: Aceh dan Bali gw ambil sebagai contoh, karena menunjukkan benturan budaya yang cukup besar. Semoga tidak ada yang merasa terserang ;-)

Thursday, November 13, 2008

Wednesday Night Fever

Sejak kecil gw memang keras kepala dan bikin orang tua susah. Nggak heran, seringkali Ibu mengeluarkan "kutukan" sebangsa kata2, "Titenono nek kowe wis nduwe anak! Nek ora kewales awakmu!" yang kurang lebih berarti "Lihat saja nanti kalau kamu punya anak, pasti terbalas semua [perbuatanmu]"

Sembilan tahun menjadi ibu, gw masih bisa jumawa mengatakan bahwa kutukan Ibu tidak terbukti ;-) Ima, my sweet little girl, nggak pernah macem2. Nggak keras kepala seperti gw, atau tepatnya tidak sekeras kepala gw. Masih nurut deh dijajah sama ibunya ;-) Mungkin karena temperamennya Ima lebih kalem, kayak bapaknya ya? Makanya nurut sama gw. Lha, biangnya aja (baca: bapaknya) nurut sama gw, apalagi cindilnya ;-)

But the day Nara was born, I knew my karma has come... ;-)

Belum genap 4 jam umurnya, Nara sudah menunjukkan kekeraskepalaannya dengan memancing keributan di kamar bayi. Nara menangis sekeras2nya, dan menolak untuk diam apa pun upaya yang dilakukan si suster penjaga, sehingga semua bayi kaget dan ikut menangis. Solusinya? Nara buru2 dilarikan ke kamar gw!

Itu cerita di balik layar mengapa suster memaksa gw menyusui Nara jam 12 malam! Padahal, gw masih setengah sadar setelah dioperasi, dan lazimnya bayi bisa survive beberapa hari tanpa ASI karena masih menyimpan sisa makanan dari plasenta. Rupanya ada lobster di balik mashed potato... hehehe...

Makin hari, keras kepalanya Nara makin kelihatan. Dan puncaknya adalah pekan lalu, tepatnya Rabu malam Kamis. Gw menyebutnya Wednesday Night Fever ;-)

Disebut begitu, karena Rabu malam Kamis itu Nara memang kena demam. Malam sebelumnya dia memang sudah nggak bisa tidur karena tidak enak badan. Badannya sumeng, alias hangat. Tetap gw tinggal ke kantor karena tidak parah, setelah memberi instruksi memberikan obat penurun panas. Tapi... jam 6 sore Eyangnya telepon dengan panik karena kini panas Nara mencapai 39 derajat Celcius, dan beberapa kali muntah.

Malamnya, setelah mendapat obat dari Pak Dokter, gw jadi sedikit lebih tenang. Bukan karena panasnya turun, tapi karena gw jadi tahu kenapa seharian Nara muntah. Tampaknya bukan karena mual seperti yang gw khawatirkan (catatan: panas dan mual adalah gejala yang selalu gw rasakan selama 3x kena demam berdarah ;-)). Ternyata... muntahnya Nara adalah karena... keras kepala nggak mau menelan obat! Setiap kali diberi obat, Nara langsung melancarkan aksi head banger! Kepala dibanting ke atas ke bawah sekuat tenaga. Jelas aja langsung muntah... hehehe...

Jadi, cocok kan, kalau dibilang Wednesday Night Fever? Sebab, selain emang kena fever, aksinya Nara juga bak John Travolta di Saturday Night Fever... hehehe... Cuma kalau John Travolta musiknya disko, Nara musiknya techno ;-)

Besoknya, Mbak Pengasuhnya yang mati akal, direstui oleh ibunya Nara yang gak kalah mati akal karena semalaman obat tetap nggak berhasil masuk, mengambil langkah pemaksaan. Mulutnya Nara dipaksa terbuka, obat dimasukkan melalui sendok, dan rahangnya dikatupkan secara paksa juga dengan posisi setengah tengadah. Cara ini duluuuuu berhasil untuk Ima.

Buat Nara? Ya nggak berhasil! Dengan keras kepala dia menahan obat di mulutnya, untuk disemburkan setelah rahang tak lagi terkatup! Percobaan kedua, dengan menahan rahang lebih lama, juga nggak berhasil ;-) Memang percobaan kedua itu berhasil membuat Nara terpaksa menelan obatnya, tapi.... dasar keras kepala, dia langsung memaksa tenggorokannya memuntahkan lagi obat yang masuk.

Dengan putus asa, gw menatap lemari obat. Eeeeh... untung, gw ingat masih menyimpan sebuah medicine dispenser. Yang soft tip, tapi soft tip-nya sudah gw buang karena leleh. Iyaaaa.... lelehnya juga karena inkompetensi gw mengurus barang2 bayi... hehehe... karena medicine dispenser ini gw rebus dalam rangka sterilisasi ;-) Barangnya persiiis seperti di bawah ini, cuma beda warna aja. Punya Nara warnanya biru muda, bukan hijau-kuning-ungu begini.

Gambar dipinjam dari sini

Gw coba memberikan obat melalui medicine dispenser ini. Disemprot sedikit ke arah pipi seperti petunjuknya. Eh! Berhasil! Karena cuma sedikit, ternyata Nara mau saja menelannya. Nggak terlalu sakit hati, rupanya, karena nggak dipaksa2 mengatupkan rahang ;-)

Karena soft tipnya sudah gw buang, gw gak tega menggunakan medicine dispenser ini lagi. Jadi, begitu gw melihat respons positifnya Nara, gw buru2 ke toko bayi beli medicine dispenser baru. Yang model soft tip nggak ada, adanya yang seperti di bawah ini.

Kalau yang ini gambarnya dari sini

Tadinya gw agak ragu beli yang model ini. Selain bentuknya sama dengan medicine dispenser yang dipakai Ibu buat kucing2nya (agak nggak terima gw, Nara pakai barang yang sama dengan kucing... hehehe...), gw juga khawatir melihat ujungnya yang besar dan tidak lembut. Apa nggak susah memasukkan benda sebesar dan sekeras ini ke mulut Nara dan berharap dia tidak berontak? Apalagi, instruksinya menyebutkan bahwa fungsi bidang datar itu untuk menekan lidah. Walah! Bisa ada sequel dari Wednesday Night Fever nih!

Tapi karena nggak punya alternatif lain, terpaksa gw beli deh. Coba2. Ternyata.... hasilnya menggembirakan! Nara mengira medicine dispenser ini adalah teething ring. Jadi dia nggak masalah lidahnya ditekan sedikit, malah dengan semangat menggigit2nya. Menggigit medicine dispenser-nya, bukan menggigit lidah ;-) Alhasil, dengan masuknya obat, besoknya Nara sudah sembuh.

Hehehe... ternyata, masih bisa juga gw "memaksakan kehendak" pada bayi keras kepala ini. Thanks to the best innovation for the entire human race bernama medicine dispenser ini ;-) Dan secara khusus mengenai produk yang ini, gw senang karena bisa direbus tanpa jadi leleh ;-) Biar deh bentuknya sama dengan yang dipakai kucingnya Ibu, tapi keuntungannya banyak ;-)

*OOT buat teman yang nanyain cara ngasih obat ke binatang kesayangannya: yang sudah terbukti sih medicine dispenser ini berhasil dipakai untuk kucing. Jadi mestinya untuk anjing juga bisa. Tapi kalau untuk binatang yang lebih besar, sapi misalnya, apalagi gajah, nggak tahu juga ya apakah bisa berhasil ;-)*

Satu masalah teratasi. Satu "hukum karma" terlewati. Tapi... tetap saja gw jadi was-was. Mulai deh gw menghitung daftar dosa yang pernah gw lakukan sebagai anak kecil dulu... hehehe.... Dan bersiap2 melihat history repeats itself pada Nara. Hmmm.... let's see what's in store for me:

  1. Umur 3 thn, nyemplung ke kolam kotor di Senayan, gara2 pingin jalan di air seperti bebek.
  2. Umur 4 thn, mendeklarasikan diri mau berhenti sekolah karena bosan pelajarannya cuma nyanyi dan main2 melulu (padahal gw udah lancar membaca sejak umur 3,5 thn). Perlu beberapa hari bagi Bapak & Ibu, serta seorang Budhe yang Psikolog Anak, untuk membujuk gw kembali ke sekolah ;-)
  3. Umur 8 thn, kelas 2 SD, gw kabur dari rumah naik sepeda gara2 dimarahin Ibu. Niat gw mau berkelana.. hehehe... Ulah gw sempat bikin semua orang panik, Ibu naik becak sesorean mencari gw, dan Bapak mencari gw dengan mobil ;-)
  4. Umur 9 thn, gw lari2 di atap rumah tetangga mengejar layangan putus. Rumah gw kan kompleks tuh, jadi atapnya saling bersinggungan. Dari atap rumah gw, gw bebas lompat ke atap tetangga, dan dengan asyiknya gw ngejar layangan putus dari atap ke atap. Tak kurang dari 10 rumah gw injak atapnya, dan Bapak kerepotan menerima protes tetangga.

Itu dulu ya, daftarnya... hehehe... Empat aja gw udah keburu ngeri... HAHAHA... Kayaknya kudu sungkem minta ampun sama Ibu & Bapak deh... hehehe...

Friday, October 31, 2008

Adil Sejak Dalam Pikiran

Catatan: Sebelum membaca lebih lanjut, saya ingatkan terlebih dahulu bahwa pandangan saya terhadap RUU Porno masih seperti di entry ini: saya tidak keberatan dengan RUU Porno, namun saya meragukan bahwa rakyat & aparat siap mengaplikasikannya tanpa bias :-) Jadi, sebelum Anda menuliskan komentar bahwa saya adalah pendukung RUU Porno, tolong dibaca dulu tautan tersebut untuk memahami isi pikiran saya ;-)

***

Sudah lebih dari seminggu ini gw memperhatikan bahwa Surat Terbuka ini menjadi sesuatu yang happening ;-) Dikutip di berbagai blog, milis, sebagai fwd-an yang masuk ke japri. Tak tanggung2, seorang empu sekelas Mas Iman ini pun menjadikannya bahan tulisan ;-)

Dimana pun surat terbuka itu tercantumkan, reaksi publik sungguh seragam: menerima surat terbuka itu sebagai bukti keburukan sang ketua pansus. Menerima surat terbuka itu sebagai fakta yang tidak perlu lagi dipertanyakan, dikritisi, atau dibaca ulang.

Hmmm... tak terhitung tulisan di blog gw yang menyilet2 anggota dewan yang terhormat, sehingga gw yakin sekali bahwa gw BUKAN pro anggota dewan. Bukan pencinta fanatik anggota dewan yang tidak rela dan merasa harus membela membabi buta jika ada anggota dewan yang "diserang". Tapi... apakah hanya gw yang dapat melihat bahwa surat terbuka ini perlu dikritisi kembali? Apakah hanya gw yang melihat bahwa masih ada BEBERAPA kemungkinan lain, selain rasisme, yang melatarbelakangi munculnya pernyataan Balkan Kaplale tersebut?

Ohya, gw setuju bahwa pernyataan Balkan Kaplale itu sangat bisa menyinggung perasaan suku tertentu. Tapi... gw kurang yakin bahwa itu benar2 karena rasisme. Sebodoh2nya politikus, gw rasa dia tidak akan sebodoh itu menunjukkan rasisme terang2an hanya beberapa bulan menjelang pemilu ;-) Ada kemungkinan lain: inappropriate joke. Lelucon yang tidak pantas. Niatnya melucu, tapi karena insensitif terhadap orang lain, leluconnya menjadi tidak pada tempatnya WALAUPUN tanpa berniat menghina.

Itu kalau dilihat dari kemungkinan2 dinamika yang melatarbelakangi munculnya pernyataan Balkan Kaplale tersebut ;-) Dari sisi pendengar, a.k.a penulis surat terbuka, bisa kita lihat kemungkinan2 dinamika yang melatarbelakangi munculnya reaksi tersebut juga, bukan ;-)?

Dan dari segi si penulis surat terbuka, gw memperhitungkan kemungkinan bahwa sang penulis sudah terbawa emosi, sudah sakit hati terlebih dahulu, sehingga terjadi bias dalam memaknai pernyataan yang muncul. Let's face it... banyak di antara kita yang sudah sangat apriori terhadap anggota dewan. Tentu sangat manusiawi jika kita sulit bersikap obyektif pada mereka. Apalagi, ketika harus berdiskusi dengan mereka mengenai suatu RUU yang sangat alot dan kontroversial. Tidakkah saat kita melangkah ke ruang dengar pendapat, hati kita sudah separuh panas? Secara tidak sadar, kita sudah tinggal menunggu dirigen mengayunkan tongkat untuk menabuh genderang perang?

Maka akan sangat wajar jika kita menjadi over-reaktif terhadap semua pernyataan anggota dewan ;-) Ini masalah cognitive dissonance kok! Manakala kita sudah punya sikap negatif terhadap sesuatu, lantas ada suatu elemen yang sifatnya positif terhadap sesuatu itu, secara alamiah akan menimbulkan ketidaknyamanan. Dan... untuk mengembalikan kenyamanan, caranya adalah dengan mengubah sikap kita terhadap salah satunya. Supaya tidak lagi terjadi konflik. Dengan demikian, jika sikap kita pada RUU Porno adalah negatif, dan pernyataan Balkan merupakan elemen netral/positif pada RUU Porno, maka kita disonansi kognisi harus diselesaikan. Either dengan mengubah sikap kita pada RUU Porno menjadi positif, atau.... mengambil angle yang dapat membuat pernyataan Balkan tidak lagi menjadi elemen netral/positif :-)

Dan kemungkinan itu gw tengarai ada, ketika membaca tone surat terbuka itu. Sang penulis berulang kali menyatakan betapa sakit hatinya mendengar hinaan dari Ketua Pansus. Tapi, argumen2 yang digunakan untuk mendukung pendapatnya, menurut gw masih bisa terdengar sebagai inappropriate joke, jika intonasinya tepat. Kata2 yang dipilih Balkan bukan kata2 berbisa yang sudah pasti tak terbantahkan merupakan bentuk rasisme. Jangan2, "perasaan subyektif" ini adalah elemen yang digunakan [secara tidak sadar] untuk menawarkan elemen netral/positif yang muncul dari pernyataan Balkan.

Oleh karena itu, gw merasa perlu mencari rekaman aslinya sebelum menentukan sikap. Sang penulis memberikan catatan bahwa ia memiliki rekaman aslinya, kan ;-)? Maka, pasti akan bisa dilacak untuk mendapatkan raw data sebelum bersikap. Dan... baru saja gw AKHIRNYA menemukan rekaman tersebut beredar di imeem:

Pernyataan Kontroversial - Balkan Kaplale

Uhmmm... setelah mendengarkan rekamannya, dengan terpaksa gw mengambil sikap yang berbeda dengan sikap publik. Gw tidak tahu Balkan Kaplale itu orangnya bagaimana, selama ini bagaimana sikapnya, tapi... dalam kaitannya dengan rasisme yang disebut2 dalam surat terbuka itu, gw terpaksa mengatakan: I don't think this is racism. It is not even an inappropriate joke. It is just a joke gone badly, as the joke is made in the wrong place, in front of the wrong audience.

Sang penulis mengatakan bahwa Balkan Kaplale membentak. Tapi yang gw dengar hanyalah logat standar [maaf] seorang Ambon. Didengarkan dari awal sampai akhir, buat gw lebih terdengar sebagai penekanan saja, bukan bentakan. Bisa terdengar sebagai bentakan bagi orang yang tidak terbiasa dengan logat seperti itu.

Sebagai dasar argumennya, sang penulis surat menulis:

Saat giliran Pansus bicara, Balkan Kaplale langsung menanggapi pernyataan Albert. Balkan menyapa Albert dengan sebutan "Adinda" dan berkata: "Jangan begitu dong ah..overdosis. .tak usah ngapain keluar dari NKRI. Timor-timur aja perdana menterinya kemaren mengadu ke Komisi 10, nangis-nangis, rakyatnya miskin sekarang. Betul, belajarlah ke Ambon, saya kebetulan dari Saparua loh. Kalau mendengar begini tersinggung! Belajar baik-baik dari Jawa! (diucapkan dengan kencang dan bernada bentakan)"

Balkan juga berkata "Belajarlah baik-baik! Kalau perlu kau ambil orang Solo supaya perbaikan keturunan! (membentak)" Sebagian besar peserta forum langsung tertawa mendengar kalimat itu.

Namun yang penulis lupa (atau sengaja?) tidak menuliskan adalah: Balkan TIDAK langsung serta merta menyanggah Albert dengan kalimat ini. Kalimat ini adalah bagian dari sebuah paragraf panjang yang menjelaskan betapa hidup bernegara dengan kebhinnekaan memang tidak pernah mudah. Selalu ada perbedaan pendapat dan keinginan antar orang yang berbeda. Atas dasar itu, Balkan mengatakan janganlah mudah2 pundung atau mutung atau purik. Sedikit perbedaan, lantas penyelesaiannya bombastis: keluar dari NKRI :)

Betul, kata2 yang dikutip adalah kata2 Balkan. Dan betul, jika memang HANYA itu yang diucapkan Balkan, maka kesan menghina dan rasis makin sulit dihindari. Namun, mendengarkan secara lengkap pernyataan Balkan, gw jadi merasa bahwa kita berlebihan jika mengatakannya rasis.

Selanjutnya, lepas dari pemilihan kata2 Balkan yang "kurang manis", gw melihat esensi kata2nya benar: ngapain keluar dari NKRI untuk masalah pakaian doang? Kalau Papua memiliki budaya tidak berpakaian, budaya itu tidak diapa2kan. Seperti diucapkan oleh Balkan selanjutnya (dan dengan nyaman tidak dicantumkan - atau memang si penulis surat terbuka tidak mendengar karena keburu sakit hati ;-)): lex specialis derogat lex generalis. Sebuah hukum yang bersifat khusus menyampingkan hukum yang bersifat umum. So don't worry be happy aja deh ;-) Atau tepatnya don't pundung be calm aja deh ;-)

Belajarlah dari suku lain yang MENGALAMI KESULITAN LEBIH BESAR, tapi tidak pundung ingin keluar dari NKRI. Belajarlah untuk lebih taktis, lebih tenang, dalam meninjau persoalan. Jangan buru2 begitu ada persoalan minta putus hubungan. Putus hubungan belum tentu enak! Bisa jadi malah membawa dampak buruk lainnya, seperti di kasus Timor Timur itu. So, di sini penyebutan suku lain adalah contoh. Bujukan. Bukan meninggikan suku lain. Meskipun pemilihan kata2nya "kurang manis".

***

Begitulah yang gw tangkap dari polemik ini. Yang gw tangkap, kita telah terjebak dalam sebuah prasangka. Sebuah prasangka yang membuat penilaian kita tidak lagi obyektif. Bias.

Tuan Minke, tokoh ciptaan Pramoedya Ananta Toer dalam tetraloginya, pernah mengucapkan suatu kalimat menarik: ADIL SEJAK DALAM PIKIRAN. Kalau gw nggak salah ingat konteksnya, hal itu adalah prinsip pokok jurnalisme, dimana dalam menerima dan mengolah fakta haruslah seobyektif mungkin. Sejak dalam bentuk "pikiran", belum "tertuang" menjadi "tulisan", kita sudah harus adil. Supaya yang keluar pun hasilnya obyektif.

Dan untuk itulah gw bertanya ulang kepada KITA semua (termasuk gw ;-)): sudahkah kita bersikap adil sejak dalam pikiran pada kasus ini? Sudahkah kita bersikap adil sejak dalam pikiran ketika mengeluarkan respon terhadap masalah ini? Sudahkah kita menyingkirkan segala ketidaksukaan, segala kekecewaan, segala harapan yang tidak terpenuhi, dari pikiran kita saat menilai kasus ini?

The answer, my friend, is blowing in the wind. The answer is blowing in the wind;-)

Monday, October 27, 2008

Necessity is the Mother of Invention

*Sebangsa leftover dari Lebaran lalu ;-)*

Ketika tahu gw akan "sendirian" tanpa staf garda belakang selama libur Lebaran, gw sempat ngeri. Tugas2 domestik kerumahtanggaan sih nggak seberapa bikin bingung, tapi... punya bayi umur 5 bulan? Belum pernah! Di kasus Ima lebaran pertamanya jatuh saat dia sudah 7 bulan. Sudah lepas ASI, sudah makan bubur, dan sudah bisa duduk sendiri. Itupun gw tidak completely alone, karena yang pulang hanya pengasuhnya saja. Tetap ada PRT yang bantu2 mencuci tumpukan celana Ima.

Naaah... sekarang? Gw mesti berlaku bak Betari Durga bertangan 6.. hehehe.. karena harus mencuci tumpukan celana bekas ompol, menggendong bayi yang belum bisa duduk sendiri, sekaligus menjadi pemasok tunggal ASI. Dan... did I mention bahwa Nara ini bayi caper? Yang kalau nggak digendong sebentaaarrr aja, bakal nangis keras2? Dan tangisannya lebih keras daripada lampornya Nyi Roro Kidul? Dan.. ohya, selain caper, Nara juga punya bakat jadi satpam! Pokoknya, sebelum ayam jantan berkokok, pantang buatnya untuk tidur ;-)

Tapi the show must go on. Maka, akhirnya tibalah hari yang ditakutkan: hari dimana tidak satu pun orang tersisa (halah! hiperbola!) untuk membantu gw.

Hari pertama, bangun jam 10 pagi, setelah semalam nemenin Nara bergadang, langsung angkut2 pakaian kotor buat dicuci. Belum juga mulai kerja, baru sampai di service area, gw sudah mati ucap! Alih2 menemukan botol2 dengan merek pelembut, pembersih lantai, dll, gw malah menemukan sederet botol plastik BEKAS minuman. Tidak ada satupun tanda2 botol mana berisi produk apa! Pun, nggak ada kertas petunjuk!

Ah, tapi gw kan tahu baunya! Tinggal dicium kan? Maka mulailah gw menggunakan penciuman untuk melacak masing2 produk ;-) Ada 4 botol yang terlihat, dan gw tengarai sebagai 4 macam produk: pembersih lantai, pelembut pakaian, deterjen cair (yang dipakai untuk baju2 tertentu), dan karbol.

Botol pertama, terkonfirmasi sebagai pembersih lantai. Botol kedua, tidak diragukan lagi, pasti karbol. Botol ketiga, teridentifikasi sebagai deterjen cair. Maka... gw tidak repot2 lagi mencium botol keempat. Pasti pelembut pakaian toh ;-)?

Dengan riang gw mencuci baju, menguceknya, dan kemudian membilasnya beberapa kali. Tolong dicatat, setiap kali membilas tentunya membutuhkan tenaga tak sedikit untuk memeras sisa air di baju. Lega banget ketika akhirnya tiba pada bilasan terakhir. Tinggal menambahkan pelembut, dan... jemur! Tapi... lho, lho... kok pelembutnya berbusa? Bukannya pelembut itu dipakai di bilasan terakhir dan tidak perlu dibilas lagi? Logikanya nggak berbusa dong?

Penuh kecurigaan, gw mencium isi botol keempat itu. Bener kok, wanginya lembut. Mirip wangi bayi. Mirip dengan produk pencuci botol bayi yang selalu gw pakai. Jadi ini pelembut kan?

Eh.. bentar. Balik ke kalimat sebelumnya. Mirip dengan PRODUK PENCUCI BOTOL BAYI. Dan merek yang sama mengeluarkan produk deterjen cair. Dan gw pernah beli produk itu buat coba2. Jadi.... WAAAAAKSSSS, ini deterjen cair juga, tapi khusus untuk baju bayi!!!

Terpaksa deh, ulang dari awal mencucinya... hehehe....

Hari pertama penuh bencana itu belum berakhir, rupanya. Sorenya, gw mau mensterilkan botol2 Nara. Semua botol yang sudah gw cuci masuk dalam panci besaaaar yang kemudian direbus sampai mendidih. Di tengah proses, gw ingat bahwa teething ring Nara udah beberapa hari gak gw minta sterilkan. Jadi... tanpa pikir panjang, gw cemplungkan saja teething ring itu di panci, nyalain kompor, dan... gw tinggal rebusan itu untuk ngurusin Nara.

Sepuluh menit berlalu... botol2 gw angkat dari panci, dan..... teething ring berbentuk buah ceri yang indah itu sudah jadi kismis... HAHAHAHAHA... alias meleleh :-( Oh, oh, oh... ternyata, teething ring itu cuma boleh DICELUP ke air hangat, atau dicuci dengan produk khusus untuk mensterilisasi :-( It's a big no-no to boil the toy!

*Tapi gw udah beliin yang baru kok, buat menebus fuilty geeling gw ;-) Tuh, yang bentuknya es krim*

Bercermin dari kegagalan hari pertama, hari berikutnya bapaknya anak2 yang mencuci baju. Kalau gw orangnya sedikit perfeksionis, ngeyel mau mencuci manual, maka bapaknya lebih praktis: memanfaatkan mesin cuci. Tapi... saking praktisnya, dia main menuangkan aja seluruh isi keranjang baju kotor Nara ke mesin cuci.

Hasilnya? Di tengah mencuci dia bingung sendiri: kok banyak kapas2 ya, yang ngambang di mesin cuci? Tapi kebingungannya nggak lama, karena... sebentar kemudian sebuah disposable diapers menyembul bak lumba2 ;-)

Makanya toh, Pak, kalau mau nyuci lihat2 dulu isinya. Jangan main cemplungin... hehehe... Untung disposable diaper yang ada feces-nya langsung masuk keranjang sampah, nggak pernah mampir ke keranjang pakaian kotor ;-)

Dan bencana demi bencana terus berdatangan, sebagian karena ada mom's helper yang berniat baik membantu semua pekerjaan ibunya. Tapi... seperti layaknya other 9-year-old helper, kerjanya harus mendapat finishing touch (= eufemisme dari dikerjakan ulang) dari orang tuanya ;-)

*Makanya bener banget tuh kalau anak kecil gak boleh dipekerjakan. Kasihan yang mempekerjakan juga... HAHAHAHA... Damn Erik Haerik Erikson dengan Psychosocial Development Theory-nya! Pasti waktu menelurkan teori mengenai Industry vs Inferiority pada anak usia sekolah, dia nggak memperhatikan dampaknya pada si ibu ;-)!

***

Tapi, walaupun hari2 pertama penuh dengan bencana, dari hari ke hari ada juga proses belajarnya. Dan... beruntunglah kami, karena dianugerahi kemampuan berpikir, sehingga semua necessity yang muncul dari kesulitan2 tugas domestik ini benar2 menjadi the mother of invention ;-)

Temuan pertama terjadi pada hari keempat lebaran. Eyangnya Ima & Nara sudah berangkat ke Solo untuk pertemuan keluarga tahunan. Tapi, sebelum berangkat, beliau berbaik hati memasakkan nasi sebanyak2nya dalam magic jar di rumah kami.

Benar2 "sebanyak2nya" dalam arti harafiah... karena... jadi lebih banyak daripada yang mampu kami makan, dan besoknya nyaris basi!

Rasanya pingin nangiiiis deh melihat nasi sebanyak itu nyaris tak termakan. Dibuang kok sayang, sementara banyak orang nggak bisa makan. Tapi... mau dimakan kok juga udah benyek2 gimanaaaaa gitu.

Gw sudah hampir membuang nasi2 itu, ketika tiba2 mendapat pencerahan. Aha! Kenapa nggak digoreng aja? Kan tahan lebih lama?

Berhubung nggak punya bumbu nasi goreng, terpaksa deh mengarang bebas. Beruntung, beberapa tahun lalu sempat dapat tugas mewawancarai dan mengobservasi ibu2 masak nasi goreng. Jadilah, gw buka2 laci memori mengingat bumbunya apa saja. Yang penting bawang putih (rada banyak), bawang merah, cabe, dan... sisanya gw tuangin aja kecap ikan dan kecap asin.

Eh, jadinya enak juga lho! Setidaknya, bisa dimakan tanpa rasa terpaksa... hehehe... Ini temuan #1: bahwa ternyata gw bisa memasak kalau terpaksa ;-) Mengingat biasanya gw nggoreng nugget aja gosong ;-)

Temuan kedua juga masih berkaitan dengan makanan ;-) Berhubung gw tetap nggak jago masak (meskipun bisa berimprovisasi masak nasi goreng ;-)), akhirnya kami lebih banyak makan di luar. Kendalanya - selain dana membengkak - adalah mengatur posisi Nara ;-) Dia kan belum bisa duduk sendiri, jadi nggak bisa ditaruh di kursi makan anak2. Ditaruh di kereta? Coba aja! Pasti ada yang mengira lampor datang ;-). Jadi, kami harus bergantian menggendong Nara.

*Catatan: kami di sini artinya gw & bapaknya ya! Ima kan belum bisa. Eh, bisa sih, tapi kalau Ima nggendong, harus ada yang ngawasin juga, jadi sama aja lah!*

Dan temuan baru dari bapaknya anak2 adalah: makan sambil tetap menggendong Nara ;-) Seperti di gambar samping ini: Nara digendong dengan kantong kangguru, lalu kepalanya ditutupi tisyu, naaah... bisa deh makan tanpa kepalanya Nara kejatuhan makanan ;-)

Tapi temuan baru ini hanya bisa digunakan oleh bapaknya ;-) Soalnya gw kurang tinggi... HAHAHAHA... Atau mungkin gw cukup tinggi, tapi Nara yang terlalu tinggi untuk ukuran bayi ;-) Soalnya, kalau gw pakai posisi seperti itu, maka kepalanya Nara akan tepat berada di depan bibir gw. Dengan demikian... percuma juga kepalanya Nara ditutupin tisyu. Kalau mau nggak kotor, Nara mesti pakai jas hujan ;-) Belum lagi, tetap aja sendok susah masuk ke mulut gw ;-)

***

Dengan pengalaman ini, gw jadi benar2 membuktikan bahwa necessity is the mother of invention ;-) Mungkin, kalau para garda belakang ini pulangnya lebih dari 10 hari, bakal lebih banyak lagi temuan2 yang kami dapatkan ;-)

Tapi... mendingan nggak jadi penemu deh, daripada hidup jungkir balik kayak kemarin... hehehe... Makanya, ketika si Mbak balik dari kampung, langsung kami sambut dengan hangat. She's our savior.. HAHAHAHA...

Rescue me before I lose control
Rescue me from this fire in my soul
There's only you who can stop me from falling
I need a saviour, need my saviour


(Savior - dipopulerkan oleh Anggun)