Tuesday, November 24, 2009

Taman-taman Air [Mata]

Beberapa minggu lalu, pada sebuah kios buku kecil tak berpapan nama di sudut Pasar Festival, gw menemukan sebuah novel yang seakan melambai minta dibeli. Novelnya cukup tebal, seharga hampir Rp 80.000

Mulanya gw merasa sayang mengeluarkan uang sebesar itu untuk membeli buku terjemahan. Seperti biasa, gw khawatir terjemahannya nggak enak dibaca dan akhirnya buku itu menjadi mubazir. Maka gw pun pulang tanpa membawa serta buku itu; berencana untuk mencarinya saja di toko buku online.

Tetapi ternyata tidak satu pun toko buku online yang menjual buku itu. Baik toko buku online kecil maupun yang bernama besar seperti Gramedia Online. Bahkan, gw cari di Lentera Hati yang menerbitkannya pun tidak ketemu. Akhirnya gw pun nekad kembali ke Pasar Festival untuk membelinya. Suatu tindakan yang sama sekali tidak gw sesali, karena Gardens of Water memang sangat layak untuk dibeli.

Awal cerita, gw sebenarnya khawatir bahwa buku ini akan menjadi another Middle Eastern story of oppressed women. Bagaimana enggak, ceritanya dibuka dengan kisah sungsang sumbel (=susah payah) seorang ayah yang miskin untuk membuatkan pesta khitanan meriah bagi putranya. Seorang ayah miskin dan cacat yang membelikan baju pasha (mungkin kalau di sini baju koko ya?) seharga seminggu gajinya, dan membawa si "pengantin sunat" keliling Istanbul karena itu adalah keinginan si anak. Meskipun si ayah hanya bisa membawanya berjalan kaki saja, dan membelikannya baclava sebagai jajanannya. Dua buah baclava, bukan hanya satu, untuk menandai bahwa hari itu istimewa.

Belum lagi, begitu setting beralih ke rumah, cerita bergulir pada keirian kakak si "pengantin sunat". Irem, kakak perempuan Ismail yang berusia 15 tahun, sungguh merasa diperlakukan tidak adil: pada hari Ismail memasuki akil balik, ia menjadi raja sehari. Sebaliknya, pada hari Irem menjadi wanita dewasa, ia menjelma menjadi sesuatu yang [dianggap] membahayakan dan harus senantiasa diawasi:

Untuk Irem tidak pernah diadakan pesta meriah, tidak ada uang atau pakaian mewah. Dia bangun di suatu pagi, dua tahun lalu dengan darah di kakinya dan noda di seprai. Ketika ia memberitahu ibunya tentang hal itu, tanpa suara ibunya melucuti seprai itu...

Irem tidur sebagai anak-anak dan bangun menjadi seorang wanita, dan dia harus tahan berdiri di kamar mandi yang terkunci - cahaya putih menyilaukan menyinarinya, ada bantalan tak nyaman di antara kakinya - dan mendengarkan celoteh ibunya tentang aturan-aturan baru dalam suara bisik-bisik yang membuatnya malu.

(hal. 49)


Gw juga sempat menduga bahwa kisah ini akan menjadi kisah menye2 antar sepasang kekasih, ketika Irem yang kecewa itu mulai main api dengan Dylan Taylor - tetangga Amerikanya. Sempat mendengus kesal membaca adegan Dylan dan Irem berbagi rokok secara sembunyi2 di balkon. WTF? Apa2an sih? Cerita tentang "cinta dalam sebatang rokok"? HAHAHAHA..

Tapi kekhawatiran gw tidak berlanjut lama. Semua itu cuma latar belakang cerita aja ;-) Cerita sesungguhnya baru dimulai ketika gempa melanda Golcuk usai khitanan Ismail. Gempa yang meluluhlantakkan segalanya, membuat segalanya berubah. Gempa yang membuat masing2 tokoh melihat ke dalam dirinya dan mengkaji ulang apa yang paling penting bagi mereka.

Akibat gempa tersebut, hidup mereka tak sama lagi. Sinan harus menerima kenyataan bahwa ia "berhutang budi" pada "musuh besarnya"; orang2 Amerika. Figur yang selama ini diasosiasikan sebagai pembunuh ayahnya, sang pendukung gerilyawan Kurdi, sekarang adalah figur penyelamat keturunannya. Ya, Ismail sang putra tersayang mungkin sudah tewas di bawah reruntuhan jika Sarah hanim, ibu Dylan, tidak pasang badan melindunginya. Ibu Dylan seolah menjadi "tumbal" bagi keselamatan Ismail.

Sinan juga harus menghadapi the demon inside him; ketika kebanggaannya sebagai laki2 dalam kelompok patriarki jatuh hingga titik nadir terbawah. Gempa menghancurkan mata pencahariannya, sehingga ia - sebagai kepala keluarga - tak lagi dapat menafkahi anak istrinya. Dan dalam keadaan seperti itu, ia harus menerima kenyataan yang lebih parah lagi: pemerintah tak sanggup memberi makan keluarganya. Wakil2 rakyat yang dipilihnya, yang membuat begitu banyak janji saat kampanye, tidak satu pun menunjukkan batang hidungnya. Mereka hanya datang untuk mendapatkan publisitas ketika menguburkan korban2 gempa:

Walikota menghadiri acara penguburan, berdiri di pinggir sebuah lubang galian yang besar, berusaha menghibur keluarga korban yang berdoa di depan kantong-kantong mayat kain goni dan dengan lantang mengkritik pemerintah.

"Maaf, " kata sang walikota, menekan saputangan menutupi hidungnya." Maaf, tapi kita harus mengubur mereka sekarang." Dia meneteskan kolonye aroma lemon ke saputangan yang sudah basah dan menekannya kembali ke hidungnya"

(hal. 129 - 130)


Sounds familiar ya ;-)? Dan bagaimana mereka membiarkan survival of the fittest, terdengar akrab di telinga juga:

Saat kawanan itu melewati tenda Sinan, dia mencium bau menyengat wol yang lapuk, dan perutnya mengerang kelaparan. Sinang memandang mata kawanan hewan itu - mata yang besar, hitam, dan bodoh - tetapi hanya bisa memikirkan daging yang melekat pada tulang-tulang mereka.

"Mereka tidak gemuk," si penggembala berkata kepada para lelaki. "Tapi kalian boleh mengambilnya."

"Terima kasih, Saudaraku," kata Sinan.

Dia merasa malu memanfaatkan tawaran lelaki itu, tapi dia terdesak. Sinan mencoba mencari hewan terlemah - tawaran dermawan harus dibalas dengan kedermawanan pula. Dekat dengan pinggir rumah penanaman tomat di mana rumput-rumput meninggi, Sinan menemukan seekor domba betina tua, dengan gerakan lamban dan lemah, seolah-olah tulang-tulang sendinya kaku karena radang tulang.

Sinan mengelurkan pisaunya dan menarik dagu domba itu.

(hal. 110 - 112)


Kejatuhan Sinan pada titik nadir muncul ketika sukarelawan Amerika datang membawa banyak makanan, tenda, serta cukup obat. The last straw untuk cobaan yang sudah dihadapinya; antara dia harus menerima uluran tangan "musuh" demi keluarganya, atau membiarkan keluarga yang dicintainya mati demi kehormatan?

Ketika akhirnya Sinan menyerah, dan masuk ke tenda2 para sukarelawan Amerika itu, gw kira hal itu adalah anti-klimaksnya. Gw kira selanjutnya kisah akan berpusat menjadi betapa hebatnya Amerika dan betapa terbelakangnya orang2 ini. Atau akan berubah Romeo-Juliet picisan. Tetapi ternyata sekali lagi gw salah ;-)

Kisah cinta antara Irem dan Dylan memang mungkin seolah2 mendominasi cerita ini. Bagaimana kedua anak yang merasa kehilangan keluarga ini - Irem karena memang selalu menjadi nomor dua setelah Ismail, sementara Dylan kehilangan perhatian ayahnya yang terobsesi dengan kerja sukarelanya - menemukan perhatian dalam diri masing2. Sama2 merasa menemukan tempat curhat, sama2 merasa dimengerti.

Hubungan mereka sebenarnya cukup santun, jika kita pakai standar kota besar. Bahkan agak konservatif, jika kita pakai ukuran Dylan. Tapi toh, kampung itu terlalu kecil untuk "dosa" sebesar itu. Dan... tak lama kemudian, Irem pun ditimpuki batu hingga pingsan oleh ibu2 tetangga. Keluarganya menjadi omongan di sana-sini.

Bagian cerita ini menjadi menarik. Adalah hal yang menarik ketika Nilufer - ibu Irem - menjadi bersikap sangat keras pada putri yang dianggap mempermalukan keluarga ini. Betulkah Nilufer menjadi keras karena nama baiknya dipertaruhkan, atau.... karena jauh di dasar hatinya ia iri akan keberanian Irem untuk melepaskan diri dari tuntutan tradisi konservatif? Suatu bentuk displacement, atas suatu resiko yang ia dambakan namun tidak berani ambil? Seperti tergambar dalam bagian berikut:

"Mereka tidak peduli. Kau mengolok-olok semua wanita ini. Kau mengolok-olokku!"

"Bukan begitu," kata Irem, "Aku hanya ingin bahagia"

"Bahagia, bahagia!" Nilufer mencengkeram lengan Irem. "Kau pikir kau tidak bisa bahagia sepertiku? Kau pikir karena aku memakai kerudung dan mengurus rumah aku tidak bahagia."

(hal 364)


Dan begitulah. Seperti kenyataan di dunia ini, suatu tindakan represi seperti ini justru membuat si korban melakukan hal yang sebaliknya. Seperti Irem dan Dylan yang kemudian memutuskan untuk lari. Pergi ke Istanbul melakukan apa yang mereka inginkan.

Dan seperti segala kenyataan di dunia ini, mendapatkan apa yang diinginkan adalah kebahagiaan sesaat. Yang segera akan disesali begitu euforia berakhir. Seperti Dylan dan Irem. Dylan dan Irem, yang akhirnya menemukan bahwa sometimes there is no love emerges from a love-making. Sometimes the fruit of love-making is hatred.

Kemeja Dylan terbuka dan dadanya tampak pucat, nyaris seperti kulit transparan salamander bersanding dengan parut-parut jelek tatonya. Rambut Dylan tersangkut di mulutnya, celana yang membungkus pinggul kurusnya terbalik, dan Irem tidak dapat menemukan keindahan apa pun dalam diri Dylan kini.

(hal. 518)


Setelah malam itu, Irem tidak sanggup lagi bertemu Dylan. Dan ketika orang tuanya tak dapat menerima kenyataan itu, ia pun melemparkan diri ke Selat Bosphorus.

Kisah selesai? Belum ;-)

Dan kisah ini ditutup dengan suatu akhir yang tidak dipaksakan menjadi happy. It's just a realistic ending, not a happy one :-)

Jika di atas langit masih ada langit, maka dalam kisah ini di bawah titik nadir masih ada titik2 lagi. Sinan sudah hancur dengan kehilangan segala di tangan musuh, bahkan hingga anak perempuannya pun harus direlakannya. Tapi hidup masih menyiksakan sebuah cobaan untuknya: dia mungkin akan kehilangan anak lelakinya. Bukan kehilangan dalam kehidupan fana, melainkan harus merelakan anaknya kehilangan kehidupan setelah mati.

"Mereka mencoba mengkristenkan orang-orang?"

"Sinan," kata Marcus, suaranya bertambah jelas dan letih secara bersamaan, "Dengar, tanpa orang-orang ini, kau masih akan duduk di atas padang rumput di dekat jalan tol menunggu pemerintah memikirkan cara yang terbaik," Marcus menunjuk ke arah jalan raya dengan telunjuknya, "Anak-anakmu akan kelaparan. Kalau beberapa di antara mereka ingin bicara tentang Yesus, bukankah itu wajar-wajar saja?"

"Kalau begitu, kau tidak benar-benar ingin membantu," kata Sinan. "kau di sini mengambil keuntungan dari kelemahan kami."

"Aku menemukan orang-orang yang bisa membantu, hanya itu yang kulakukan. Beberapa dari mereka adalah pembaptis dan beberapa dari mereka tidak memiliki kepercayaan yang sama denganku. Mereka sudah siap dengan suplai makanan dan sukarelawan," Marcus menengadah memandang puncak tenda. "Tuhan! Ayolah Sinan, selamatkan dulu tubuhmu, baru khawatirkan jiwamu belakangan."

(hal. 434 - 435)


*Hehehe... sampai di sini gw menemukan sesuatu yang ironis: gw baru bisa memahami mengapa orang2 menolak Miyabi mengunjungi korban gempa Padang. Ya, ya, memang belum pasti bahwa ada udang di balik batu. Tapi... buat beberapa orang, mati lebih baik daripada "menjual jiwa", bukan?*

Bagian akhir cerita ini benar2 penuh dengan metafora yang mengaduk hati. Dimulai ketika Ismail mulai senang menggambar anak2 bersayap, kemudian menggambar manusia yang disebutnya Nabi Isa. Suatu proses sinkretisme sedang terjadi, dan digambarkan melalui metafora sederhana yang menyentuh.

Sama menyentuhnya dengan adegan2 terakhir, dimana Sinan membawa Ismail shalat di mesjid. Menyuruhnya mengikuti bacaan shalat yang dikatakannya sendiri sebagai "terlalu keras"... seolah sebuah cara untuk menenangkan hati. Hingga akhirnya pun Sinan mengambil satu2nya keputusan tersisa bagi mereka yang terjepit: lari. Pulang ke kampung halaman mereka yang miskin, demi apa yang masih tersisa.

Sinan membangunkan Ismail dan mendudukkannya di pangkuannya. Mereka berdua menempelkan hidung mereka pada kaca jendela kereta.

"Lihat itu, Ismail," kata Sinan, "kau tidak ingat tanah ini, tapi ini adalah milik kita. Inilah surga dunia"

Yang Sinan miliki kini hanya anak dan istrinya, dan jika ada orang yang berusaha merampas mereka dari tangannya - siapa pun itu - Sinan akan membunuhnya. Dia merasakan kekuatan tumbuh dalam dirinya, seperti sebuah tinju yang mencekik sisa-sisa kelemahannya. Dia tak akan membiarkan apa pun mengancam kekuatannya lagi.

(hal. 630 - 631)


Ketika pertama kali membaca sinopsisnya, gw ragu bahwa kisah ini akan benar2 menjadi "... sebuah cerita yang mengaduk-aduk emosi". Kayaknya lebay deh ya... hehehe... Tapi di akhir cerita, gw menyadari kata2 itu benar.

Gardens of Water adalah kisah tentang berbagai sifat manusia. Tentang berbagai reaksi manusia. Ada homo homini lupus di sana, namun juga ada sebuah janji bahwa tak ada cobaan yang tidak dapat ditanggung manusia. Selama manusia itu percaya dan berusaha.

Mungkin itu sebabnya mengapa cerita ini dijuduli Gardens of Water, bukan Gardens of Tears. Meskipun ceritanya mengaduk2 emosi, namun menyimpan kekuatan. Seperti air, bukan air mata.

***
Credit Title: Gambar dipinjam dari sini, karena malas motret dan mengunggah sendiri ;-)

Saturday, November 21, 2009

I Vote for Nasruddin Hoja

Ibu Minah tidak jadi dipenjara. Kasusnya dihentikan, hakimnya menangis. Alhamdulillah :-) Really appreciated it, Pak Hakim ;-)

Untuk saat ini gw merasa cukup lega bahwa kasus berakhir dengan baik. Tapi.... mungkin karena gw terlalu banyak nonton CSI, dan baca buku2nya Michael Connelly, kegeraman gw tetap bertahan. Geram pada sistem yang menurut gw melakukan suatu kekonyolan, kalau tidak dapat dikatakan kebodohan atau kesengajaan. It's one thing to let those with money become above the law... but.... it's another thing to help those with money to crush the poor!

Gw menuangkan uneg2 itu di status Facebook. Alasannya sederhana: FB is more accessible. Statusnya bisa dimutakhirkan langsung dari HP akyu... ;-) Lagian, FB kayaknya masih jauh dari pemblokiran, tidak seperti blogspot yang diblokir ini.

Dan.... sesuai fungsinya sebagai jejaring sosial, status gw itu segera mendapatkan beragam komentar. Ada 2 orang yang memberikan tanggapan menarik. Eye opener comments, thanks to both of you ;-) Komentarnya kurang lebih begini:

Menurut saya gak ada yang salah di Kepolisian, hakim, atau jaksa. Sudah tugas mereka untuk memproses semua pelanggaran hukum, sekecil apapun itu. Yang kurang ajar adalah perusahaan itu yang tega melanjutkan kerugian 3 biji kakao ke proses hukum. Benar2 tidak mempunyai hati nurani, dia buta dan gak sadar bahwa bisnisnya hanya bisa hidup dan eksis di tengah2 orang2 seperti bu Minah dan tidak bisa membedakan mana yang layak dilanjutkan ke proses hukum dan mana yang tidak. Polisi di daerah yang menerima laporan dari perusahaan besar mana berani menolak untuk tidak memprosesnya. Kalau mau kasus ini diperpanjang perusahaan itu perlu diselidiki jangan2 penyelenggaraan hukum disana sudah mereka beli..

(dari Kak Aladin)

Abu2 sih ini, kalau waktu bu minah diterima kerja sudah diberitahu tidak boleh memetik buahnya, jelas itu pelanggaran. mungkin bu minah terlalu lugu? kalau ini kasusnya, memang si pengadu yg kurang bijak.Kalau jaksanya, jgn2 dia sudah cukup bijak dengan menuntut seringan2nya?

(dari Hans)



Hmmm... setuju sih sama mereka berdua bahwa - ditinjau dari segi kemanusiaan - sebenarnya yang paling layak dirajam hidup2 adalah mereka yang memperkarakan Bu Minah. To some extent, polisi dan jaksa "hanya melakukan tugasnya". Cumaaaa.... mungkin karena gw selalu mengerahkan daya upaya gw dalam bekerja, gw sulit sekali menerima alasan "hanya melakukan tugasnya" :-) Mereka toh bukan robot2 bodoh yang nggak punya pilihan, yang bisanya cuma memproses syntax dari si operator saja.

Atau... jangan2 mereka memang robot ;-)?

Dari segi bisnis, gw malah nggak terlalu menyalahkan perusahaan yang memperkarakan Ibu Minah. What can you expect? They are looking for profit, even when they have to crush poor people for that. Sah2 aja bagi pebisnis kalau isi kepalanya cuma untung rugi toh? Tapi.... jaksa dan polisi itu kan bukan businessman. Mereka aparat negara, yang tugasnya melindungi SELURUH RAKYAT Indonesia. Mereka bukan satpam gajian perusahaan, yang mesti menuruti apa maunya perusahaan.

For that reason, I cannot understand why they even made a case out of this. OK, memang benar komentar lanjutan Kak Aladin:

Maya, logika kita memang mengatakan itu bukan pencurian, karena belum diambil, tapi KUHP kita gak seperti itu, jangankan memetik, memasuki tanah pribadi orang lain tanpa ijin saja sudah masuk kategori pidana.

(dari Kak Aladin)


Tapi... KUHP yang sama, Pasal 362 yang digunakan menjerat Bu Minah, juga mengatakan dengan jelas bahwa:

Barang siapa mengambil barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian adalah milik orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam dengan pencurian, dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah


Yaaah.... mungkin gw emang kebanyakan nonton CSI dan baca novelnya Michael Connelly ya... hehehe.... Karena dengan kata2 seperti ini, menurut gw sih banyak pilihan bagi polisi dan jaksa untuk tidak memperkarakan ini ke pengadilan.

For once, mereka bisa mempertanyakan apakah Bu Minah memang berniat melanggar hukum. Dilihat dari berita ini, ada kutipan yang menarik:

Minah pun mengatakan jika buah kakao yang dipetiknya akan dijadikan bibit. Setelah mendengar penjelasan Minah, Tarno mengatakan, kakao di kebun PT RSA 4 dilarang dipetik oleh masyarakat. Dia juga menunjukkan papan peringatan yang terpasang pada jalan masuk perkebunan. Dalam papan tersebut tertulis petikan Pasal 21 dan Pasal 47 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004 Tentang Perkebunan, yang menyatakan bahwa setiap orang tidak boleh merusak kebun maupun menggunakan lahan kebun hingga mengganggu produksi usaha perkebunan. Minah yang buta huruf itupun segera meminta maaf kepada Tarno sembari menyerahkan tiga butir buah kakao tersebut untuk dibawa mandor itu.



Heeey.... kita sedang membicarakan Minah yang buta huruf, bukan? Minah yang memetik kakao untuk dijadikan bibit dengan terang2an tanpa sembunyi2? Minah yang baru diberi tahu bahwa perbuatan itu dilarang setelah terlanjur melakukannya? Lantas... apakah Pasal 362 itu berlaku surut, sehingga kalau orang ditegur setelah melakukan suatu kesalahan (yang tidak dia ketahui sebagai kesalahan) bisa dianggap melakukan dengan sengaja?

Setahu gw, suatu perbuatan tidak sengaja yang dapat dikenai pasal hukum adalah sesuatu yang membahayakan nyawa orang lain. Gw sih belum pernah dengar bahwa mencuri dapat dihukum karena ketidaktahuan... hehehe... Kecuali kalau bisa dibuktikan bahwa Bu Minah sudah tahu dan sengaja melakukannya.

Lagian, yang ditunjukkan si mandor itu kan mengatakan "Pasal 21 dan Pasal 47 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004 Tentang Perkebunan, yang menyatakan bahwa setiap orang tidak boleh merusak kebun maupun menggunakan lahan kebun hingga mengganggu produksi usaha perkebunan". Coba deh, bagaimana memetik 3 buah kakao dapat dikategorikan merusak kebun hingga mengganggu produksi ;-)?

Adalah hak si pemilik perkebunan untuk memperkarakan hal ini, meskipun menurut gw tindakan ini adalah kekonyolan (kalau tidak dapat dikatakan sebagai kebodohan). Tapi.... polisi dan jaksa menurut gw punya pilihan untuk tidak memperkarakan. Mereka kan memang HARUS menyidik Bu Minah terlebih dahulu untuk mendapatkan fakta dan pengakuan. Naaah... dalam proses ini, bukankah terungkap bahwa Bu Minah ini orang sederhana yang bahkan tidak bisa baca tulis? Orang sederhana yang bahkan tidak tahu perbuatannya salah? Should we punish her for being uneducated?

Polisi dan jaksa punya pilihan untuk talk the company's language untuk melindungi Bu Minah.
Mereka bisa mulai dengan mengatakan bahwa kalaupun diperkarakan paling2 si perusahaan cuma dapat ganti rugi Rp 900. Bayangkan sebuah perusahaan harus menghadapi kasus hukum "cuma" untuk dapat Rp 900, gw yakin tidak ada satu pun pebisnis yang menganggap itu worth it.

Mereka bisa menyitir cerita tentang Nasruddin Hoja dan Harga Asap. Cerita tentang bagaimana seorang pemilik warung menuntut bayaran dari seorang miskin yang mencium aroma masakannya. Nasruddin Hoja menyelesaikannya dengan bijak; dengan menggerincingkan dirham di telinga si pemilik warung. That's the price for aroma. Ini kutipan yang gw suka banget dari cerita itu:

"Ini keputusan yang adil. Kamu kan hanya menjual asap sate. Maka bayarannya adalah gema suara dirham," jawab Nasruddin.


Itu baru kalau bicara dengan metafora sederhana. Belum bicara bahasa hukum ;-)

Hans mengajukan komentar penutup yang cukup menarik:


Aparat hukum memang idealnya tidak bijak mbak... Ingat patung buta megang timbangan?


Hehehe... unfortunately I don't agree with you, Hans ;-) Justru menurut gw patung Dewi Keadilan yang Menutup Mata itu menunjukkan kebijaksanaan ;-) Bahwa dia harus memperhitungkan semua fakta sebelum mengayunkan pedangnya. Memperhitungkan segala kemungkinan, memperhitungkan segala faktor. Dalam penutup matanya, dia tidak dapat menerima alasan bahwa seseorang "hanya melakukan tugasnya", karena di setiap tugas ada hati nurani yang harus berperan.

Well... dalam kasus ini, gw juga tidak mengatakan bahwa Bu Minah tidak boleh dihukum ;-) Apalagi mengait2kannya dengan kasus lain bahwa pencurian yang lebih banyak pun bisa lolos ;-) She has made a mistake, and she must face the consequences. Gw hanya melihat memperkarakan dia ke pengadilan (meskipun akhirnya tidak jadi dihukum) adalah not proportional ;-)

Sedikit menyitir tulisan gw sendiri tentang Dewi Keadilan:

Makanya, kalau gw sendiri sih nggak mau meributkan masalah keadilan. Karena keadilan itu selalu punya dua sisi. Adil menurut si A belum tentu adil menurut si B. Keadilan yang sebenarnya, gw nggak tahu. Gw rasa keadilan yang sebenarnya baru bisa didapat jika kita menutup mata seperti sang dewi, kemudian membiarkan timbangan dan pedang itu bergerak sendiri. Berharap bahwa hati kita cukup peka untuk menimbang sedekat2nya dengan keadilan yang hakiki, sehingga keputusan mengayunkan pedang adalah keputusan yang sebaik2nya.


Mungkin gw salah... tapi... menurut gw proses menutup mata seperti sang dewi ada di setiap tahapan. Bukan hanya di meja hijau, melainkan juga pada saat si polisi diminta menyidik kasus ini, atau si jaksa diminta memperkarakan kasus ini. And for that reason, it's really hard for me to accept that the police and the prosecutor couldn't be blamed.

Ah, sayang ya.... polisi dan jaksa itu bukan Nasruddin Hoja ;-) Coba kalau polisi atau jaksanya si Nasruddin... hehehe.... dari awal mungkin penyelesaiannya beda. Semua bisa jadi Nasruddin Hoja kok ;-)

Dan ngomong2 soal Nasruddin Hoja, gw dapat undangan bergabung dukung seorang tokoh hukum untuk "reformasi [hukum] total" di FB. Well... undangan itu gw ignore, maaf ya... hehehe... Saat ini gw cuma tertarik untuk mendukung Nasruddin Hoja ... HAHAHAHA...

Saturday, November 14, 2009

Jumat Kliwon the 13th, [not yet] 2012

Apa yang terlintas di benak Anda bila mendengar kata "Friday the Thirteenth"? Kalau mendengar kata "Jumat Kliwon"? Horor? Ya, benar sekali ;-) Apalagi jika kebetulan Friday the Thirteenth jatuh pada pasaran Kliwon. Horor pangkat dua ;-) Tambahkan sekalian after office hour di Jakarta, seputaran Sudirman - Thamrin, dan selepas hujan badai yang mengguyur Jakarta sejak sekitar pukul 15:30. Dijamin, ini adalah kombinasi yang "enggak banget" untuk pergi kemana2 :-)

Tapi.... seperti di film2 horor lainnya, entah mengapa justru kami - Notodisurjo 3G - justru ndilalah memilih hari tersebut untuk nonton bareng. Nontonnya juga nggak tanggung2: 2012, jam 19:15, di Plaza Senayan. Jadilah... series of unfortunate events melanda kami2 semua ;-)

Dari kantor gw yang cuma di Kuningan itu, gw butuh 2 jam untuk mencapai Plaza Senayan. Padahal gw lewat Sudirman, karena memenuhi kuota 3-in-1 bareng nyokap gw dan Ima. Macetnya aje gileee.... dan the credit goes partly to penjahat pejabat yang menyebabkan gw tertahan di jalur lambat depan Kampus Atmajaya selama 35 menit tanpa bergerak sama sekali. Gw berangkat dari kantor jam 16:45, dengan harapan bisa makan malam dulu sebelum nonton. Ternyata.... boro2 makan. Jam 18:50 gw baru masuk PS!

Tapi ternyata penderitaan gw bukan yang terparah... hehehe... Ipar gw, hingga pintu teater telah dibuka, masih tertahan di Pejompongan. Istrinya sepupu gw, jam 19:00 masih belum dapat taksi di Citos. Daaan... yang paling kebat-kebit, sepupu gw yang membawa ke-14 tiket kami semua, ternyata baru datang 19:20... hehehe.... Untung trailernya banyak. Dan mungkin karena kami sudah beli 14 tiket, XXI agak berbaik hati mengundurkan pemutaran filmnya :-) Jadi deh gw nonton dari awal sampai akhir.

Penderitaan gw berlanjut selama film yang lumayan panjang ini. Pampered by Blitz Megaplex selama beberapa bulan terakhir, gw udah lupa bagaimana nggak nyamannya nonton di jaringan 21 - biarpun yang XXI sekalipun. Gw udah lupa bagaimana sakitnya pinggang kalau kebetulan kita duduk di depan penonton yang nggak tahu diri; terus menerus menendang bangku di depannya ;-) Dan... karena filmnya ini menegangkan, jangan heran kalau pinggang gw langsung biru2 *halah, lebay!*

Untung filmnya sendiri memuaskan untuk ditonton ;-) Seru, menegangkan, dan.... gw senang dengan pendekatannya yang lebih menekankan pada reaksi orang per orang dalam menghadapi yang tak terhindarkan. Meskipun akhirnya masih terlalu happy ending seperti lazimnya film Hollywood, tapi... setidaknya jauuuuuuhhh lebih asyik daripada film yang gw tonton karena salah perkiraan: 2012 Doomsday.

*untung yang terakhir itu nontonnya di DVD bajakan, jadi nggak terlalu berasa rugi... hehehe..*

[Spoiler Alert!] -- silakan berhenti membaca bagi yang belum nonton 2012

Film ini menggunakan pendekatan mirip Crash, sehingga di awal2 film penonton mungkin bingung dan membosankan, karena banyak banget tokoh yang dimunculkan. Seperti Crash juga, seiring berjalannya film, barulah terlihat keterkaitan dan jalinan kisah hidup antar tokoh2 tersebut. Jadi... buat mereka yang nonton film ini untuk cari seru2an dan males mikir panjang2, mendingan datang di pertengahan film aja... hehehe... Waktu bumi sudah mulai terbelah dan kerak bumi saling berpindah ;-)

Sekitar setengah jam film berjalan, barulah kita bakal "ngeh" bahwa plot utama filmnya berkisar pada dua tokoh: si penasihat kepresidenan, Adrian Helmsley, yang terus berkutat dengan perasaan bersalahnya karena temuannya tentang "kiamat" ini akhirnya justru disalahgunakan, serta Jackson Curtis, si "bukan siapa2" yang hanya ingin menyelamatkan anak2 dan [mantan] istrinya. Ya, temuan Adrian Helmsley membuat para pemimpin negara sempat membangun beberapa bahtera seperti kapal Nabi Nuh AS, untuk menyelamatkan spesies2 di bumi dari kepunahan. Sementara Jackson Curtis adalah satu dari milyaran orang "biasa" di dunia yang berjuang untuk bisa masuk ke dalam bahtera itu.

Tokoh2 lainnya, plot2 lainnya, yang terkesan rumit, pada akhirnya adalah bagian dari kisah yang menyatukan dua plot utama ini. Carl Anhauser dan Yuri Karpov sang oportunis, masing2 adalah penyebab rasa bersalah Helmsley dan penghambat upaya Curtis; the first daughter Laura Wilson yang menjadi conscience bagi Helmsley; serta Gordon Silberman yang mendorong Curtis untuk tampil optimal dalam upayanya - melalui persaingan menjadi pria utama bagi [mantan] istri Curtis.

Tapi yang menarik bagi gw dalam film ini adalah bagaimana reaksi tiap2 individu menghadapi hari akhirnya. Ada yang pasrah sumarah seperti ayah Helmsley. Ada pemimpin negara yang mengabaikan privilege untuk diselamatkan dalam bahtera yang sudah dipersiapkan bertahun2; yang satu karena merasa "tempatnya adalah di samping rakyat hingga titik darah penghabisan", sementara yang satunya memilih untuk "berdoa bersama para kardinal" di Vatikan hingga Vatikan rata dengan tanah.

Film ini menjadi menarik pula dengan tampilnya "sifat2 asli" manusia jika menghadapi hidup-mati: egois. Di akhir2 cerita terlihat bagaimana Anhauser dan kroni2nya "tega" menjual kursi di bahtera tersebut seharga 1 Milyar Euro per orang... dengan mengabaikan hak Satnam, ilmuwan India rekan kerja Helmsley dalam menemukan bukti2 ilmiah akan terjadinya "kiamat". Helikopter yang dijanjikan untuk menjemput Satnam tak pernah mampir di India, hingga India terhapus dari muka bumi oleh tsunami. Seperti kisah2 jaman kolonial, Satnam adalah pribumi tak berharga; dapat dieksploitasi, tapi tidak untuk diselamatkan.

Sepanjang menonton film ini, gw menjadi sadar dan berpikir: apa yang akan gw lakukan jika akhir dunia di depan mata? Akankah gw jadi seperti Jackson Curtis dan Yuri Karpov, yang melakukan segala upaya agar anak2 gw bisa selamat? Ataukah gw akan seperti Satnam, yang merengkuh anak dan istrinya dalam pelukan, and face the death with dignity. Atau... bisakah gw seperti Perdana Menteri Italia yang memilih untuk berdoa hingga ajal menjemput? Seperti Rinpoche pada biara di puncak gunung, yang menyambut akhir dunia ini dengan membunyikan lonceng besar? Lonceng itu bukan sangkakala sih... tapi... beneran deh, pas sang Rinpoche membunyikannya, gw merinding. Berasa seakan2 mendengar Izrafil membunyikan sangkakala di akhir dunia. It must be a helluva job, nggak ngerjain apa2 di sepanjang jaman, just to be ready for the end ;-)

Betul, film ini menjadi menarik buat gw karena bisa membuat gw benar2 berpikir tentang akhir dunia. Tapi ada satu aspek lagi yang membuat gw senang pada film ini: film ini tidak gegabah untuk membawa orang semakin percaya bahwa 2012 adalah kiamat. Di akhir cerita, tiga bahtera yang selamat bergerak menuju darata Afrika, yang kini menjadi "atap dunia" yang baru. Tujuannya? Cape of Good Hope. Tanjung Harapan. Satu2nya tempat yang selamat seutuhnya.

In a way... akhir cerita ini - meskipun terlalu happy ending -menjadi menarik. Karena secara tidak langsung menyatakan bahwa kita memang tidak pernah tahu kapan terjadinya kiamat. Bahkan, setelah semua bukti ilmiah tak terbantahkan menunjukkan kiamat terjadi pada 2012, ternyata itu bukan kiamat yang sesungguhnya. Itu adalah akhir jaman ini, tapi bukan kiamat yang disebut2 dan dipercayai dalam kitab suci. It's just another disaster, another recycling step, of this good old earth ;-)

Menjadi menarik karena ending film ini tetap menimbulkan harapan bahwa kita nggak perlu terbebani dengan ramalan2 tentang 21 Desember 2012. We never know when the end of the world is. Science still cannot beat religion.... scientists still cannot beat God ;-) Menurut gw itu suatu pesan tersembunyi yang bagus.

Ending film ini juga membuat gw berpikir tentang Hot, Flat, and Crowded (Thomas L. Friedman). OK, he has his point, bahwa bila kita nggak segera bertindak, maka bumi kita akan semakin teracuni. Tapi... gw jadi malah berpikir: kalau bumi sudah sedemikian "sakit", apa nggak memang sebaiknya kita serahkan untuk didaur-ulang oleh-Nya aja ya? Bahwa daur-ulang itu tak terhindarkan, dan... ini adalah bagian agar kita sadar untuk bersiap2? Ya, ya, kita tentu masih harus berusaha menyelamatkan dunia sampai titik darah penghabisan, tapi... mungkinkah fokus kita seharusnya tidak lagi pada mencoba menyelamatkan, melainkan bahwa mempersiapkan diri?

Hehehe... nggak tahu juga deh... ;-)

[SPOILER ENDS]

Tapi satu hal yang menarik buat gw. Kenapa ya... hari terakhir pada penanggalan suku Maya adalah 21 Desember 2012? 21/12/2012? Jangan2 suku Maya ini nenek moyangnya tukang jual Kartu Perdana, yang hobby menjual nomor cantik ;-) Akhir dunia jadi 21/12/2012 karena kalau mau yang angka cantik 20/12/2012 harganya lebih mahal... HAHAHAHA...

Angka cantik ini juga memperjelas kenapa data Google Analytics gw menunjukkan posting berjudul 2 Oktober 2014 terus menerus menjadi salah satu top landing pages. Tadinya gw kira karena makin banyak yang cinta batik... hehehe... Tapi sekarang ada kemungkinan lain: orang mengira gw nabi baru yang memprediksi kiamat bukan jatuh di 2012, tapi dua tahun kemudian... HAHAHAHA...

*oops, delusion of grandeur ;-)*

***

Dan jika ada di antara Anda2 yang berpikir bahwa simakan gw terhadap film ini yang begitu khusyuk akan menghindarkan dari further series of unfortunate events, maka tebakan Anda salah ;-) Jumat Kliwon tetap horor, dan Friday the 13th tetap mengerikan ;-)

Bubar dari nonton film, kami2 ber-15 berfoto ria di depan kafetarianya XXI PS. Depan kafetaria, bukan studio! Dan latar belakangnya adalah dinding, bukan poster2 atau karya2 kreatif yang gak boleh difoto karena bisa dikenai pasal2 "hak cipta". And you know what? Seorang petugas keamanan bersafari hitam dengan manisnya berusaha menutup lensa kamera dengan tangan :( Katanya nggak boleh foto2 di situ, karena melanggar hak cipta :( Hak cipta yang mana, dia tidak [bisa] menjelaskan... ;-)

So... demi membuat jengkel Pak Petugas Keamanan Bersafari Hitam... gw sengaja tampilkan foto itu... biarpun gagal... di sini... hehehe.... Lengkap dengan tangannya si bapak petugas ;-) Mungkin foto jari2nya bakal gw perbesar, dan dikirim ke Grisson dkk untuk dilihat sidik jarinya ;-)


Nggak usah dicoba2 memperbesar fotonya. Emang sengaja gw bikin kecil banget biar tampang sepupu2 gw yang cantik serta ganteng tidak terlihat... ;-) Ini kan preview, selebihnya... bayar! HAHAHAHA...

Sekalian biar Pak Petugas Keamanan lebih jengkel, gw sertakan foto lobby pesaingnya, Blitz Megaplex MOI.


Di Blitz boleh lho, Pak, foto2... hehehe....

Friday, November 06, 2009

Titi Kamal Anti Cinta

Setelah 2x mengalami kejadian yang sama, yang gw saksikan dengan mata kepala sendiri, rasanya cukup sudah data untuk menyimpulkan tentang hal ini ;-)

Kejadian pertama adalah beberapa bulan yang lalu. Tepatnya sekitar minggu kedua Ramadhan. Seperti biasa, gw baru meluncur pulang sekitar jam 7 malam dari kantor. Menunggu warung2 sepanjang Lapangan Ros kosong dulu dari para peserta bu-bar yang membuat jalanan macet.

Setengah jam kemudian, tentunya gw sudah sampai Jl Basuki Rahmat dengan selamat. Bersiap membelok ke arah Cipinang Jaya.

Tiba2, seorang pengendara motor dengan hebohnya mengetuk jendela mobil gw sambil berseru heboh, "Bannya kempes, Mbak, kempes!" Sambil menunjuk ke ban kanan belakang. Gw, yang sudah capai dan lapar, cuma mengangguk2 doang seperti burung pelatuk. Hehehe.... males aja gw ngedongkrak mobil untuk ganti ban, secara gw belum makan malam ;-) Buka di kantor kan menunya cuma teh manis sama lontong isi sayuran ;-)

Jadilah gw bertekad memaksa mobil gw berjalan. Toh rumah gw udah sepelemparan batu. Lagian, bukannya mobil gw bannya tube-less ya? Kata yang jual ban, ban yang begini nggak gampang kempes. Kalaupun melindas paku, baru akan kempes seutuhnya kalau paku dicabut.

Selang beberapa menit kemudian, dua orang lelaki bergoncengan motor menyalip gw sambil heboh menunjuk ban belakang. "Kempes, bannya kempes," begitu kata mereka. Gw - lagi2 - cuma mengangguk2 sambil berseru trilili, lili, lili, lili ;-) Tapi gw merasa ada yang aneh: apa gw segitu nggak sensitifnya, sampai nggak merasakan ada yang aneh dengan mobil gw? Mosok ban gw kempes, tapi gw nggak berasa sih?

Gw menjadi semakin waspada dengan pengendara2 motor di samping gw. Adakah pengendara motor altruistik yang memperingatkan gw kembali? Hehehe... Terus terang, gw sendiri merasa agak heran mengapa ada pengendara motor yang altruis memberitahu gw mengenai ban kempes. Biasanya pengendara motor nggak peduli sama kepentingan pengguna jalan lainnya... ooops ;-) Lha, ini kok malah sampai bela2in ngebut, nyalip, cuma untuk memperingatkan gw?

Mulailah gw menghitung berapa % pengendara motor yang baik hati malam itu. Ternyata, setelah beberapa motor berlalu, hanya ada satu motor lagi yang berbaik hati. Menyalip gw, dan kemudian "mempertaruhkan keselamatannya" dengan tidak memperhatikan jalanan di depannya. Tapi sayang, peringatannya sudah terlalu dekat dengan belokan menuju rumah gw, sehingga gw dengan sopan hanya tersenyum dan mengangguk. If my flat tire has survived the journey this far, it will survive a few meters more ;-) Lagian, gw belum berasa apa2 kok ;-)

Sampai rumah, pertama yang gw periksa - tentunya - adalah ban yang dikatakan kempes itu. My tire was perfect. Sama sekali nggak kempes. Kurang angin pun tidak. Jadi, apa pasal segala kehebohan itu??

Ngobrol2 dengan bapaknya anak2, gw baru sadar bahwa itu adalah upaya penipuan berjamaah. Modus operandinya adalah dengan membuat pengendara mobil turun karena mengira mobilnya kempes. Tim penipu biasanya terdiri dari 3 kloter: kloter pertama memberi peringatan, kloter kedua memberikan peringatan kedua yang diharapkan meyakinkan si pengendara, dan kloter ketiga adalah sweeper. Tugasnya menggasak isi mobil saat si pengendara mobil dalam posisi lemah karena sudah keluar mobil.

Alhamdulillah... gw selamat dari kejadian itu. Thanks to my paranoia ;-)

Dan karena konon kabarnya lightning never strikes twice in the same place, gw percaya kejadian ini tidak akan terjadi lagi. Tapi... ternyata.... peribahasa tinggal peribahasa, dan jelas pelaku tindak kriminal bukan petir... hehehe... jadilah, kejadian yang sama terulang lagi.

Terjadinya pekan lalu, pada jam yang kurang lebih sama. Lokasinya pun hanya beberapa meter dari lokasi kejadian pertama. Yang membedakan: tim kriminal yang kedua ini tampaknya lebih amatir daripada yang pertama... hehehe.... Makanya mereka nggak kompak menunjuk ban mana yang kempes ;-)

Dua kloter pertama menunjuk ban KANAN BELAKANG sebagai ban yang kempes.. ;-) Kloter ketiga, dengan nggak cerdasnya menunjuk KIRI BELAKANG sebagai ban yang kempes... hehehe...

Dan alhamdulillah, gw selamat juga dari serangan yang ini ;-)

So... teman2 pengendara mobil yang saya cintai ;-) Hati2lah jika ada pengendara motor yang berlaku "tidak wajar" dengan tiba2 menjadi super baik hati memperingatkan kita. Bukan mustahil itu adalah awal dari tindak kejahatan. Terutama kalau sedang berkendara di daerah yang gw gambarkan itu.

Ingatlah selalu: Titi Kamal Anti Cinta. Hati-hati Kalau Malam Antara Jatinegara dan Cipinang, Jakarta ;-)

*hehehe... nggak tahu juga kenapa daerah itu antara Jatinegara - Cipinang itu yang jadi lokasi kejahatan. Mungkin karena daerah itu dekat dengan Jl Christian Kolonel Sugiono ya ;-)?*

***
Catatan:
Gambar dipinjam dari - tentunya - Google Maps. Tanda jejak kaki yang lucu itu menggambarkan titik2 rawan kejahatan ;-)