Friday, December 26, 2008

I Google Analytics Myself Every Morning!

Sudah 15 bulan gw pasang Google Analytics, dan masih setia membaca datanya secara berkala. Selain karena gw tergila2 data, gw juga takjub dengan beberapa temuan menarik yang gw dapatkan dari perangkat ini.

Salah satu temuan menarik yang gw dapatkan adalah top keywords yang mengantarkan orang menuju blog gw. Bayangkan! Di puncak klasemen, dengan total nilai 82 dari 1,290 kunjungan melalui mesin pencari sebulan terakhir (= 6,36%), adalah kata "smritacharita".

Buat gw data ini aneh. Smritacharita adalah kata yang nggak lazim, karena gw pakai bertapa dulu untuk membuatnya... hehehe... Selain nggak lazim, ejaannya belibet khas Bahasa Sansekerta. Lha, yang gw heran, kalau orang bisa mengingat ejaan belibet ini, kok ya nggak mengingat bahwa blog gw adanya di blogspot, sehingga harus bolak-balik memasukkan kata belibet ini ke dalam mesin pencari? Gw yakin, menjejalkan informasi bahwa blog gw ada di blogspot itu jauuuuuh lebih mudah daripada mengingat ejaan "smritacharita" ;-)

Iseng2, gw ikutan gugling kata "smritacharita", dan... kayaknya gw tahu kenapa nama blog ini jadi top keyword: ada ABG yang nyontek nama blog gw! Langsung terbayang percakapan yang melatarbelakangi munculnya top keyword tersebut:

"Main-main dong ke blog gw, jangan lupa kasih komentar ya!"
"Emang blog loe alamatnya apa?"
"Smritacharita. Alamatnya di http://xxx.blog.friendster.com/"

-- besoknya pas si teman mau mengunjungi blog, bingung sendiri. Ejaan alamatnya gimana ya? Pakai EYD, Van Ophuysen, atau Suwandi? Ah, gugling aja deh nama smritacharita --

Jadi deh... nyasar di blog gw semuanya ;-)

Yaaah... antara tersanjung dan dongkol juga sih gw ;-) Tersanjung karena nama yang gw pilih dengan susah payah ini dianggap cukup keren buat ditiru. Tapi.... dongkol juga deh! Secara gw sengaja milih yang unik, pakai bertapa segala, biar nggak ada yang nyamain! Lagian, kan nama blog ini dipertimbangkan dengan filosofi yang panjang, mosok tiba2 dicomot gitu aja :-(

*Pemutakhiran 29 Desember 2008: Makasih buat si empunya blog yang sudah menghapus nama SmritaCharita dari blognya. Karena udah dihapus, masalah tidak diperpanjang. Lain kali jangan diulangi lagi ya, Dik ;-)*

Soal nama karangan gw dicomot dengan semena-mena tuh bukan pertama kali. Nama anak gw, Swastinika, juga dicomot dengan semena2. Gw yakin banget, pas pertama kali ngasih nama Swastinika, di internet nggak ada yang bernama sama. Swastika sih memang banyak. Nika juga banyak. Tapi... untuk menggabungkan Swasti dan Nika, gw bertapa dulu! Dan googling dulu untuk memastikan bahwa nama itu "nggak pasaran".

Naas... setelah gw menceritakan asal dan arti Swastinika di blog, tiba2 aja orang pada nyontek! Diawali dengan alumni Planologi ITB yang memberi nama anaknya Raya Swastinika (nomor 79) ini. Buset deeh! Baru juga 18 Januari 2007 gw publikasikan, akhir Februari 2007 udah ada yang nyontek! Kelihatan banget kan, orang tuanya nggak menyiapkan nama dari jauh2 hari? Mana habis itu dia nggak tahu artinya lagi! Menyebalkan!

Setahun kemudian, tepatnya 28 Januari 2008, nama Swastinika juga dicontek untuk perusahaan. Buseeet... orang2 kenapa nggak kreatif amat sih? Buka kamus Sansekerta kenapa? Yang online juga ada! Kalau namanya mau keren, KREATIF dong! Jangan cuma nyontek!

Yang paling parah adalah bayi ini. Namanya Swastinika Naima Suga. Nyontek abis deh! Gw ngerti kalau orang tua ingin nama anaknya istimewa. Mungkin biar namanya nggak pasaran kayak bapaknya. Kalau mau istimewa, ya cari sendiri dong! Jangan nyontek sampai ke titik komanya :-( Sekarang, arti nama Ima di sini terpaksa gw hapus. Gw kan merangkai nama itu biar anak gw punya nama yang nggak pasaran. Gw bagi ceritanya untuk menginspirasi orang agar semangat mencari nama. Bukan menyediakan bahan contekan!

Hhhh.... padahal, nama Swastinika Naima adalah sesuatu yang gw banggakan sebagai orisinil, setelah teman bapaknyaimanara juga memberi nama anak lelakinya Nara sebulan setelah my Nara lahir. Ketahuan bener tuh teman bapaknyaimanara ikut2an, wong pas pertama kali lahir namanya nggak pakai Nara, kok setelah pulang namanya jadi ada Nara-nya. Plenty of names, kenapa harus pakai nama Nara sih buat menggenapi nama anaknya? Nggak mungkin dia nggak tahu anak gw namanya Nara, karena papa si Nara Aksen itu sekantor dengan bapaknya Nara.

Sekarang gw tinggal berharap nggak ada yang nyontek nama Wimatsara ;-) Nama Nararya memang agak umum, banyak yang pakai. Tapi "Wimatsara" itu nggak umum. Gw jungkir balik cari nama itu ;-) Sejauh ini, gw gugling, belum ada yang pakai nama "Wimatsara". Tapi kita lihat aja beberapa tahun lagi... hehehe.... Sebagai antisipasi, arti nama Nara sudah gw hapus dari blog ini ;-)

Soal nama Ima yang dicontek ini memang terlambat gw antisipasi. Mestinya gw sudah menghapus artinya saat posting Tatami & Bento ini secara konstan berada dalam top 20 landing pages. Untuk bulan ini, posting tersebut menempati urutan ke-15, dari total 340 posting. Cukup istimewa, mengingat posting ini adalah hasil karya gw 23 bulan yang lalu :-) Harga yang harus gw bayar karena terlalu pede bahwa karya gw akan menginspirasi orang mencari nama buat anaknya, bukan mencontek mentah2 ;-)

Niwei, enuff about the plagiarism ;-) Kalau ada orang tua yang senang kasih nama contekan buat anaknya, ya what can I say? Gw cuma bisa melindungi nama anak2 gw dari pencontekan lebih lanjut ;-) Dan bilang pada Ima & Nara: bersyukurlah, Nak, ibumu tidak suka memberikan barang contekan sebagai identitas kalian... HAHAHAHA...

Kembali ke cerita tentang Google Analytics. Yang bikin gw curious juga adalah data tentang visitors. Sebagian besar pengunjung blog gw datang dari Indonesia, tentunya. Tapi, yang bikin gw takjub, banyak kunjungan dari negeri2 yang gw merasa tidak punya kenalan di sana. Kalau USA berada di urutan kedua, gw nggak heran. Teman gw banyak yang berada di sana; meskipun gw bukan termasuk mereka2 yang sempat ngambil S2 di sana (ehm!). Singapore di urutan ketiga juga gak heran. Ada Dodol dan teman2nya. Netherlands, Malaysia, Switzerland, Germany... juga nggak bikin gw heran. Apalagi sejak Ulfah hengkang ke tempatnya Onkel Klinsmann ;-) UK, urutan selanjutnya, juga tidak aneh. Ada sepupu gw nan cantik yang sedang studi di sana ;-) Australia di tempat ke-10, apalagi! Teman gw banyak yang hidup di sana. South Korea, ada Iwan. Bahkan, di Niger pun ada teman SD gw yang sekarang tugas di sana.

Tapi negeri-negeri seperti Canada, Japan, Hong Kong, dan UAE mencengangkan gw. I don't recall having friends there. Padahal, mereka termasuk pembaca yang tekun. Data sebulan terakhir, dari Canada ada 4 kunjungan, dengan rata2 membaca adalah 2 halaman/kunjungan, dan waktu rata2 4 menit 14 detik. Berarti penduduk Canada ini benar2 membaca, karena 4 menit tuh cukup untuk baca satu posting ;-) Dan ini udah lumayan turun, karena beberapa bulan lalu, Canada ini mencetak rata2 13 halaman/kunjungan ;-) Dan pasti orang dari Canada ini pengunjung tetap, karena untuk wilayah Canada ini New Visit (alias orang yang baru pertama kali ke blog gw) cuma 25% ;-)

Bulan ini, dari UAE ada 7 kunjungan, dengan rata2 2,29 halaman/kunjungan dan 9 menit 9 detik/kunjungan. Berarti kemampuan membacanya agak lebih rendah dari yang di Canada... hehehe... Yang jelas, kemungkinan besar yang di UAE ini juga orangnya itu2 juga, karena New Visit UAE adalah 42%

Well.. yang dari Canada ini sih gw bisa menduga. Kemungkinan ia adalah sang feminis yang jadi lawan gw nge-discuss UUP di luar blog belum lama ini ;-) Teman yang salah satu komentarnya gw kutip di tulisan itu. Yo opo ora... HAHAHAHA...

Kalau yang dari UAE ini masih gelap ;-) Demikian pula yang dari Norway dan Poland, yang tampaknya juga orang yang itu2 juga ;-)

Niwei, gabungan dari kedua temuan menarik inilah salah satu alasan kenapa gw jarang menulis akhir2 ini. Gw masih melihat2 perkembangannya sebelum lebih banyak lagi berbagi ide dan pengalaman. Memang, gw sempat mempertimbangkan bikin blog ini jadi private. Tapi.... gw masih ragu2 dengan ide itu, karena bertentangan dengan kenapa gw bikin blog ini pada awalnya.

Berawal dari nongkrongin milisnya anak2 AFI tahun 2004 lalu dan membuat kesimpulan tentang karakteristik pendukung masing2 akademia. Kesimpulan itu gw ceritakan berapi2 pada bapaknyaimanara, yang kemudian berkata, "Mestinya itu loe jadikan tulisan. Jadi nggak hilang begitu aja, dan banyak orang jadi tahu". Niat itu kemudian terbengkalai karena gw malah asyik jadi penulis tamu di blog afilovers buatannya yang kini udah almarhum.

Sampai kemudian seorang teman berpolemik, sebut saja namanya Tino si Tukang Perahu, memberikan saran yang sama, "Kamu harusnya nulis blog. Kamu itu cocok jadi komentator. Orang bisa belajar dari tulisanmu."

Nah... kalau sekarang blog gw jadi private blog, ya sama aja dong sama nggak nulis sama sekali?

So, sampai hari ini gw masih belum tahu apa yang akan gw lakukan selanjutnya. Ada ide, anyone ;-)?

***

On second thought, kayaknya posting ini lebih cocok dikasih judul berdasarkan quote-nya Gene Simmons di Ugly Betty dengan sedikit revisi:

I Google Analytics myself every morning ;-)

Jadi, judul lama "Some Readers, Some Copycats" yang nggak catchy itu gw hapus ;-)

Friday, December 19, 2008

Trough

Hari ini gw ambil rapor Ima. Seperti biasa, di depan gerbang sekolah sudah menanti barisan penyebar brosur Bimbel. Dan seperti biasa, gw sambut juga semua brosur yang disodorkan. Bukan karena gw berminat mengirimkan Ima ke sebuah torture chamber bernama bimbingan belajar sih, tapi karena gw kasihan aja kalau brosur mereka tidak habis :) Lagipula, gw masih merasa kurang sopan kalau disodorin sesuatu dan nggak menerima... hehehe...

Rata-rata brosur yang gw terima masih pemain lama. Ya bimbel yang itu2 aja sejak tahun pertama Ima masuk sekolah ini. Tapi ada satu brosur yang kayaknya baru gw lihat sekali ini: Speedway Bimbingan Belajar.

Dari segi promosi, kayaknya bimbingan belajar yang satu ini siap banget! Brosurnya berkesan elegan. Simple but elegant, dengan warna merah di sisi kiri seolah2 binder buku berwarna putih. Eye catching! Belum lagi, di bidang merah itu terjabarkan berbagai fasilitas yang membuat air liur menetes: Classroom with LCD, Research & Development (I wonder what they research and develop? Can I send a company profile to them? HAHAHA...), Parent Meeting Room, Multimedia Classroom, Consultation Room, Waiting Room, dan Digital Scanner.

Kenapa gw nulis fasilitas2 itu dengan Bahasa Inggris? Karena emang begitulah adanya di brosur itu. Canggih kan? Kesannya standar internasional sekali nih bimbingan belajar ;-) Nggak heran mereka mematok harga lumayan tinggi: untuk program yang pertemuannya 2x seminggu, kisaran harganya adalah Rp 1,250,000 - Rp 2,000,000 per semester. Alias Rp 200,000 - Rp 330,000 per bulan. Untuk yang pertemuannya 3x seminggu lebih mahal, tentu, dengan Rp 1,750,000 - Rp 2,750,000 per semester (Rp 292,000 - Rp 458,000 per bulan!)

Tapi... semua kesan canggih, internasional, dan apa pun citra yang berusaha dibangunnya itu runtuh di mata gw, ketika gw membuka halaman kedua. Di halaman kedua terpampang judul ini:



Hehehe... gw agak ragu apakah menurut EYD yang benar itu "Jadual" atau "Jadwal", seingat gw sih "Jadwal" ya, tapi entar gw cek lagi. Yang jelas.... gw ingat banget bahwa yang benar itu "Aktivitas", pakai Ve! Bukan "Aktifitas", pakai eF :)

Menurut EYD, memang kata aktif, kreatif, efektif, diakhiri dengan F. Tapi... kata sifat berakhiran F, jika berubah bentuk menjadi kata benda, maka F-nya diganti menjadi V :)

Gw langsung mikir: seandainya pun gw berminat menyiksa anak gw dengan menambah jam belajarnya (as if sekian jam di sekolah itu nggak cukup!), gw nggak akan mengirimnya ke Speedway ;-) Salah satu program yang diajarkan di bimbel ini adalah BAHASA INDONESIA. Lha, kalau mereka sendiri nggak bisa menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, apa ada gunanya gw bayar mahal2 supaya anak gw diajarin di sini ;-)?

OK, boleh sebagian orang berkilah: "Tapi kan, Bahasa Indonesia emang ribet. Standarnya nggak jelas. Tercampur bahasa prokem. Lagian, ini kan standar internasional. Mungkin mereka fokus ke Bahasa Inggris"

Well, in that case... coba lihat halaman ketiga dari brosur ini:



Did you see what I mean ;-)?

Hahaha... you're right. It doesn't take a genius to see that they use the wrong word ;-) I believe they should've used the word "THROUGH" instead of "TROUGH"
;-)Atau niatnya memang bilang trough ya? Sebab, definisi trough menurut Merriam Webster adalah:

1 a: a long shallow often V-shaped receptacle for the drinking water or feed of domestic animals b: any of various domestic or industrial containers

2 a: a conduit, drain, or channel for water ; especially : a gutter along the eaves of a building b: a long and narrow or shallow channel or depression (as between waves or hills) ; especially : a long but shallow depression in the bed of the sea

Mungkin, maksudnya, Speedway ini - dengan segala classroom with LCD, waiting room, parent meeting room itu - letaknya adalah di selokan... hehehe... Gutter along the eaves of a building ;-)

Jadi ngerti kenapa iklannya bilang Hendra is going to be Einstein someday ;-) Bukan bilang bahwa Hendra is going to be Newton someday. Bukan karena Sir Isaac Newton kalah ngetop sebagai ilmuwan eksakta dibandingkan Albert Einstein ;-) Cumaaa.... bebannya berat kalau ngaku2 bikin anak jadi the new Newton, yang bahasa Inggrisnya belepotan... HAHAHA... Setidaknya, kalau jadi the new Einstein, kan bisa ngeles bahwa Einstein memang lingua franca-nya bukan Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris ;-)

***

Itu celaan gw hari ini terhadap brosur bimbel. Tapi, ada hal yang lebih mengkhawatirkan gw daripada kesalahan2 kata pada bimbel. Yang lebih mengkhawatirkan adalah: menjamurnya bimbel itu sendiri.

Gila ya, jika segitu banyak bimbel berdiri, berarti kan ada banyak kebutuhan ya? Apa iya, kebutuhan ini muncul karena semakin banyak anak ketinggalan pelajaran? Gw yakin enggak deh. Sebab, kalau yang ketinggalan pelajaran segini banyak, berarti ada yang salah dengan sistem pendidikan kita. Perkiraan gw, pangsa bimbel ini adalah ortu2 yang merasa perlu menambah porsi belajar anaknya walaupun anaknya mungkin nggak ketinggalan pelajaran. Jadi, fungsinya sebagai achievement booster, bukan equalizer

Kalau iya begitu, yang gw nggak ngerti, apa sih yang ingin dicapai oleh orang2 tua itu? Emang kalau anaknya sudah jadi juara kenapa? Kalau anaknya jadi pelajar teladan, kenapa? Kalau anaknya masuk kelas akselerasi, kenapa? Is it the top of the world?

Dari SD - SMA sih mungkin prestasi bisa dikejar dengan bimbel ya. Tapi... setelah kuliah, kayaknya belajar doang nggak cukup. Yang penting bisa mengaplikasikan. Nah... kalau sejak SD - SMA dibiasakannya cuma mengejar nilai, sampai harus bimbel segala, mau jadi apa setelah kuliah nanti? Mau jadi apa jika cara belajar yang mereka tekuni sejak dini tidak lagi berguna? Bisakah mereka mengubah paradigma dalam sekejab mata?

Gw takut... in the long run, akan makin banyak anak2 seperti Nova Mirawati, mahasiswi Fakultas Psikologi UI yang bunuh diri; diduga karena IP-nya anjlok. Atau seperti Hendrawan Winata, mahasiswa YAI yang "numpang bunuh diri" di Kampus Atmajaya - diduga karena kuliahnya tak kunjung selesai.

So... for my daughter and son, I think I prefer the Slowway... not Speedway ;-) Bimbel seperti Speedway ini benar2 trough buat gw, dengan sedikit revisi definisi: bukan "a long but shallow depression in the bed of the sea" seperti kata Merriam Webster, melainkan "a long, shallow way to a neverending depression" ;-)

Buat Anda bagaimana?

***

Pemutakhiran Cepat 19 Desember 2008 pukul 18:38

Ternyata gw benar! Yang benar adalah JADWAL dan AKTIVITAS ;-) Sudah gw duga sih... tapi senang juga mendapatkan buktinya di sini ;-) Selamat belajar EYD ;-)

Friday, December 05, 2008

I'm Not the Center of the Universe!

Awalnya menanggapi posting ibunya Vajra tentang pencerahannya ini. Gw ikut senang Nona Mellow Gumellow mendapatkan pencerahan, tapi gw menistakan caranya mendapatkan pencerahan itu. Yaaah... kalau gw bisa mencak2 karena tindakan melipat2 uang kertas, tentu wajar banget kalau gw menistakan tindakan menyobek2 uang kertas seperti ini.

Yup! Teman atau bukan, gw mah nggak pernah nahan2 lidah hanya demi keharmonisan ;-) All brain, no feeling, kan ;-)? Lagian, kata Oscar Wilde, a true friend stabs you in the front ;-)

Namun ternyata kemudian si Pawang Sobek, orang yang mengajarinya untuk menyobek2 uang, memberikan tanggapan balik. Dan si Nona Mellow minta gw memperpanjang polemik ini dengan embel2: "To be honest, gw tertarik banget nyimak 'adu persepsi' kalian dlm hal ini, interesting!"

Ya udah! Situ yang minta ya... jangan nyesel kalau comment box-nya jadi koloseum filial ;-) Pokoknya resiko ditanggung penumpang! Sekalian ditulis di blog buat dokumentasi ;-)

Komentar Sang Pawang bisa disimak aslinya di sini. Plus jawaban singkat dari gw di sini dan sini (singkat aja 2 porsi, apalagi kalau panjang... HAHAHA..) Yang di bawah ini sudah gw mutilasi, soalnya, disesuaikan dengan alur gw menjawabnya ;-)

Dear Maynot,

"Kita semua benar dalam sudut pandang atau persepsi kita masing-masing".Dan ketika tindakan yang sama, ditukar sudut pandangnya, skor akhir antara BENAR atau SALAH bisa berubah-ubah tak terhingga.

Yang menjadi masalah, ketika terjadi perbedaan pendapat (yang tentunya berakar pada perbedaan sudut pandang), kita seringkali merasa ada pihak yang benar, dan otomatis pihak lain menjadi salah.

Dalam sudut pandang saya, kita setiap hari merusak uang dan mengorbankan orang lain. Ketika uang dipakai untuk membeli barang yang sebenarnya tidak kita perlukan, atau produk yang tidak menunjang kesehatan dan kehidupan, ketika membeli buku atau musik yang tidak terlalu sesuai selera. Ini juga 'biaya' yang tak disadari harus kita bayar untuk kesia-siaan, tanpa harus melatih 'menyobek' uang.

Banyak orang kurang mampu secara ekonomi, mampu hidup dengan tentram dan bahagia, sementara banyak orang yang mampu secara ekonomi (meski itu tidak harus berarti jadi konglomerat), hidup penuh kuatir, takut dan stres tentang uang. Mengapa? Bukan karena mereka kurang menghargai uang, tetapi karena justru mereka terlalu menghargai uang. Lebih dari porsi penghargaan yang wajar, praktis dan sehat. Ini melahirkan berbagai gangguan mental yang menggerogoti kesehatan mereka, kebahagiaan hidup, bahkan mengorbankan relasi dengan orang-orang terkasihnya. Dan sejujurnya, saya banyak sekali menemui kasus seperti ini di kehidupan kota besar.


Wuih! Ada yang ngajarin gw tentang persepsi... HAHAHAHA... Gee, thanks honey, for the lecture on perception ;-) Tapi sayang, jaka sembung main gitar dengan apa yang gw ingin sampaikan.

Nggak tahu salah sambungnya dimana, tapi sebenernya sih gw nggak tertarik ngomongin tentang persepsi individu yang berbeda2 terhadap uang. Gw tahu banget bahwa persepsi individu terhadap suatu hal itu berbeda2.

Yang gw bicarakan kan: jika persepsi yang berbeda muncul dari satu obyek yang sama, apakah kemudian menjadi benar untuk menghancurkan sebuah benda demi menghilangkan persepsi tertentu?

Ibaratnya, kalau uang itu "bayi", maka si bayi itu bisa punya makna berbeda bagi orang2 di sekitarnya. Bisa sebagai anak, bisa sebagai cucu, sebagai keponakan, bahkan sebagai generasi muda harapan bangsa (wuih!)

Dengan demikian, pertanyaannya adalah: apakah dibenarkan bagi seorang ibu untuk membunuh anaknya demi memutus keterikatan dengan anak tersebut? Apakah tindakan membunuh si anak, yang notabene juga membuat kakek kehilangan cucu, paman kehilangan keponakan, bangsa kehilangan salah satu tunas muda, adalah sesuatu yang benar?

Gw sampai buka2 lagi teori tentang attachment. Banyak cara menghilangkan attachment (= keterikatan emosional) kok! Tidak harus dengan merusak benda yang mengikat kita itu :-)

Untuk ketidakbahagiaan yang berakar pada terlalu menghargai uang ini, kita perlu menetralisir apresiasi berlebihan atas uang. Menyobek uang sebesar 1% income bulanan hanyalah salah satu latihan yang bisa dicoba, dan terus terang sangat efektif bagi yang siap mengalaminya.

Mendermakan uang juga latihan yang baik, untuk belajar melepas dan berbagi, namun mendermakan uang tidak menetralisir apresiasi yang berlebih.

Ya, OK, menyobek uang itu efektif untuk menetralisir apresiasi berlebih terhadap uang. Efektif mengikis mata duitan (= baik tergila2 pada duit, atau selalu merasa nggak punya duit). Efektif membuat orang merasa biasa2 saja dengan duit.

Tapi pertanyaannya: yang bikin efektif itu tindakan menyobeknya, atau AKIBAT dari penyobekan itu? Tindakan menyobeknya, atau karena dia dengan sengaja membuat dirinya nggak bisa menggunakan uang itu lagi?

Gw kutipkan sebuah jurnal psikologi, tentang Effect of Attachment & Separation. Nggak persis ngomongin duit, tapi... pada dasarnya sama: keterikatan dapat diputus dengan perpisahan.

Atau... OK lah, mungkin kalau pisahnya baik2, seperti dengan berderma itu, maka keterikatannya nggak putus. Bisa kita atur kan, agar perpisahannya membuat seolah uang itu tidak bermakna? Ini gw punya beberapa alternatif berpisah dengan uang dengan cara menistakannya:

  1. Pergi ke warung pinggir jalan, ganjal meja di sana dengan tumpukan 100 ribu

  2. Random Throwing: buang setumpuk uang pada tiap tempat sampah ke 10. Kalau perlu, untuk lebih menistakan si uang, lokasinya dikonsentrasikan pada daerah pasar ikan yang bau dan becek.

  3. Masukkan duit dalam botol, larungkan botol itu di laut atau sungai.

Apakah cara2 di atas tidak akan lebih efektif daripada menyobek uang? Hipotesa gw sih efektivitasnya akan setara ;-) Tapi dengan satu perbedaan besar: kita tidak menghilangkan manfaat uang itu!

Uang yang sama masih dapat sampai ke tangan mereka yang membutuhkan :-) Amalan si uang itu tidak pasti terputus seperti ketika kita menyobeknya.

Kalau balik ke analogi uang dan bayi, si ibu memutus hubungan dengan membuang si anak. Atau meninggalkan begitu saja di rumah orang tuanya. Sama2 enak, si ibu gak dibebani anak, tapi si kakek tidak kehilangan cucu.

Dan dalam sudut pandang saya juga, kita semua, termasuk seorang tukang bakso ataupun pemulung, sudah punya pundi-pundi rezeki sendiri dari Sang Ilahi, sehingga memikirkan uang Rp. 2.000 yang KITA miliki, dan bagaimana seandainya itu uang menjadi tambahan penghasilan kaum yang kurang mampu, mengajarkan kita untuk tidak menggunakan uang secara sia-sia.

Sia-sia atau tidak, sangat tergantung niat dan pengalaman yang kita dapatkan dari suatu kegiatan, bukan teori atau asumsi yang kita perkirakan tentang kegiatan tersebut.

Betul, rejeki memang sudah diatur oleh Sang Ilahi. Oleh karena itu, apa hak kita merusak sesuatu yang bisa menjadi rejeki orang lain? Apa hak kita untuk menentukan bahwa 1% penghasilan itu sah2 saja kita sobek, karena itu rejeki kita sendiri? Emangnya kita Tuhan, sehingga YAKIN bahwa tidak ada dari uang yang kita sobek2 itu yang sebenarnya adalah REJEKI ORANG LAIN yang DITITIPKAN TUHAN MELALUI TANGAN KITA?

Rejeki bukanlah takdir yang tidak dapat diubah seperti lahir, jodoh, dan mati. Sangat mungkin Tuhan menetapkan bahwa jika si X bekerja demikian, maka suatu hari dia akan bertemu dengan si B yang dititipi rejeki itu. Lha, kalau uangnya sudah disobek2 si B, apa nggak namanya si B memutus rejeki si X.

Sebagai seorang natural healer, mestinya ia tahu bahwa setiap titik di alam semesta ini saling terkait. Dengan demikian, tidak seorang pun yang berhak merusak sesuatu. Pun tidak 1% dari pendapatannya ;-) Karena apa yang dimilikinya itu, 1% pendapatannya itu, belum tentu miliknya sendiri. Segala sesuatu di alam semesta ini hanya titipan-Nya ;-)

So, dear Reza, I don't think this is about your perception vs my perception ;-) This is not about the readiness to accept the method or not. This is about us being a dust in the wind ;-) Dunia dan alam semesta ini lebih luas daripada sekedar hubungan antar pribadi, hubungan antara seseorang dengan sesuatu (dalam hal ini: uang), dari pengalaman kita terhadap sesuatu, dari immediate result tindakan kita terhadap sesuatu, dari niat kita dalam melakukan sesuatu, karena setiap titik di alam semesta ini saling terhubung.

Itu sebabnya dalam agama saya, diajarkan bahwa niat yang baik sudah merupakan suatu kebaikan. Tapi niat yang baik juga harus dinyatakan dengan baik, dan dilakukan dengan cara yang baik ;-)

I'm sure that a man of your calibre know this. If you are not, so please God help those who come to you for advice ;-) Terus terang, gw sih nggak akan bangga dan merasa tercerahkan kalau bisa nyobek2 duit. Gw akan merasa malu dan nista, karena sudah berhasil menempatkan diri gw sebagai center of the universe ;-) Yang melihat bahwa apa pun boleh dan sah demi kemaslahatan diri gw; bahwa kesia2an atau ketidaksia2an hanya dinilai dari niat dan hasil terhadap DIRI SENDIRI ;-)

The Aftermath:

Tapi kayaknya memang sulit baginya untuk bisa melihat ini ;-) Karena, seperti diakuinya sendiri dalam the aftermath, dia masih melihatnya sebagai "nuansa pengalaman langsung non-teoritis [pribadi]" ;-) Itu sebabnya dia mengatakan bahwa bisa/tidaknya melakukan "tindakan ekstrim" menyobek2 uang butuh suatu kesiapan; berani melompati ketakutan dan analisa or whatever ;-) Sementara... buat gw, sampai kapan pun kita tidak punya hak untuk MERUSAK-nya. Karena dengan membuatnya nggak berharga, nggak bisa dipakai lagi, maka kita merugikan orang lain ;-)

Uang, seperti dikatakan Reza dalam the aftermath itu, adalah energi netral. Gw setuju bahwa uang itu energi netral. Oleh karena itu, sebagai energi, dia menghubungkan energi2 lainnya. Dengan merusaknya, menghancurkannya, membuatnya tidak dapat digunakan lagi, berarti kita dengan sengaja merusak keseimbangan ;-) Dan jika kita merusak keseimbangan, berarti kita merugikan orang lain, which is a horrible thing to do apa pun alasannya ;-)

Tuesday, December 02, 2008

A Blast from the Past

Saat menyiapkan baju dan peralatan untuk Notodisurjo's Gathering di Pasir Mukti, ide yang muncul di kepala gw adalah cerita tentang betapa repotnya Baby's Night Out ;). Maklum, meskipun hanya menginap semalam, barang bawaan Nara banyaaaaaak banget! Setengah bagasi sendiri, sampai tas baju gw, Ima, dan pengasuhnya Nara harus diselip2kan ;)

Hari pertama di lokasi, gw nemu ide cerita baru: My Own Private Amazing Race. Memang, berlibur di Pasir Mukti seperti ikutan Amazing Race. Untuk mencapai lahan itu, petunjuknya nyempil. Satu2nya jalan adalah melewati Pasar Citereup yang becek, ramai, dan free-for-all-angkot ;-) Kalau mata nggak dipasang baik2, bakal kelewatan deh belokan di tengah pasar itu. Persis kayak route info di Amazing Race yang sering bikin racers tersesat ;-)

Sampai di lokasi, perjuangan belum berakhir. Lokasi berhektar2 itu petunjuknya minim banget. Kayaknya emang dirancang supaya orang tersesat di lokasi, biar sekalian olahraga untuk menemukan "jalan yang benar"... hehehe... Bayangin, waktu gw & sepupu2 gw (baca: segerombolan ibu2 malas jalan yang naik mobil untuk mencari lokasi dimana anak2nya sedang bermain) tanya ke satpam dimana lokasi Flying Fox. Jawabannya, "Di sana, Bu, ikutin jalan turun itu".

Lha, begitu jalan diikutin, kok 5 menit kemudian kembali ke satpam yang sama? Begitu ditanya lagi, jawabnya, "Di sana, Bu, ikutin jalan ini. Ntar ketemu parkiran, tanya lagi aja sama satpam di sana" [dzigh!] Untung naik mobil! Coba kalau jalan kaki, udah berapa kalori terbuang sia2 gara2 petunjuk yang nggak jelas ini ;-)?

Terus... mesti lihat dong lahan ATV-nya ;-) Kurang lebih 1,5km dari lokasi penginapan dan.... sepanjang jalan sudah seperti lahan ATV beneran! Jalannya asli dari batu, konturnya naik turun bak gunung dan lembah. Dan.... petunjuk terakhir adalah 1km dari lokasi! Bikin sepupu2 gw yang tadinya tabah berjalan akhirnya nge-deprok di pertigaan ;-) Untung gw nyusul belakangan, habis nyuapin Nara dulu. Jadi... gw nyusul dengan mobil dan mereka bisa ikut. Tapi, yang gw takut habis ini mobil gw mesti periksa shock breaker deh... hehehe... secara jalannya berbatu2 gitu ;-)

Judulnya: lokasi ATV harus dicapai dengan 4WD, yang mana jelas mobil gw bukan salah satunya ;-) Tapi untung akhirnya sampai juga, sehingga gw bisa napak tilas Marc & Rovilson di final The Amazing Race Asia 2 - minus lahan pasir ;-)

Dan puas banget gw main ATV, karena ternyata untuk mengendarainya size does matter! Perlu tenaga ekstra untuk membelokkan kendaraan, seperti kalau nyetir mobil tanpa power steering. Akibatnya, sepupu2 gw yang twiggy type itu ketinggalan jauuuuh di belakang gw. Soalnya mereka terpaksa milih salah satu: nge-gas atau membelokkan setang. Tenaganya cuma cukup buat satu hal. Nggak bisa dua2nya kayak gw yang belok sambil nge-gas... HAHAHA...

*Sst.. padahal ATV-nya cc kecil banget. Cuma 150 cc doang! Tapi jangan bilang2 ya, yang penting gw bangga bisa mencapai garis akhir duluan ;-)*

***

Tapi kedua ide itu gw batalkan setelah malamnya kami seluruh keluarga besar berkumpul. Sebagai salah satu acara, Oom gw yang nomor 6 sudah menyiapkan sebuah presentasi tentang sejarah keluarga besar. Ya, memang salah satu agenda kumpul2 kali ini adalah soft launch buku silsilah Kartohadiprodjo, my late father's maternal ancestor.

Sebelum buku dibagikan dan silsilah yang ada di Geni Tree ditunjukkan, Oom gw khusus menujukkan foto2 jadul via slide show MS PowerPoint. Nggak tanggung2, ada foto kakek moyang kami yang diambil tahun 1819! Satu per satu foto itu ditunjukkan, disertai cerita sambung menyambung dari para paman gw.

And with that story I learn a lot about them...

Gw tahu, dengan 8 anak laki2, Eyang Putri & Eyang Kakung must've lived in hell ;-) Lha wong gw punya anak laki2 satu aja kayaknya kelebihan energi, mereka punya 8. D-E-L-A-P-A-N! Nggak kebayang kalau gw punya 8 anak kayak Nara ;-)

Tapi, gw baru tahu betapa repotnya mereka setelah mendengar cerita paman2 gw. Paman gw yang nomor 5, misalnya, pernah hampir mati gara2 main layangan di atap rumah. Rumah Eyang kan model loji Belanda yang atapnya tinggi dan curam. Nggak ada tempat nyaman untuk berdiri, apalagi menaruh benang layangan. Nah... berdirilah beliau ini di atap rumah dengan benang layangan dililitkan di lehernya!

Untung ketahuan dan cepat2 diturunkan ;)

Cerita lain lagi, ternyata paman gw yang nomor delapan (anak laki2 ke-7) tidak pernah punya dot yang utuh. Semua dot digunting karena beliau nggak sabar menunggu aliran susu. Selera minumnya sebagai bayi memang ruaaarrr biasa ;-)

Fun fact lainnya, ternyata paman gw yang nomor 4 itu seperti Mahar dalam Laskar Pelangi. Songong style.. hehehe.. sadar kamera banget, dan senang bergaya ;-) Dari semua foto masa kecil itu, tidak satu pun gaya beliau yang kaku. Pasti bergaya ;-)

Tapi yang paling fenomenal, tentu cerita tentang almarhum Bapak ;-)

Salah satu foto yang ditunjukkan memuat Bapak beserta kakak, 4 adiknya, serta dua anak pembantu. Namanya Satiran dan Satimin. Dua2nya punya story dengan kreativitasnya Bapak.

Anak pembantu yang besar, Satiran, pernah dibujuk Bapak supaya makan sabun. Yak! Sabun! Paman2 gw nggak tahu alasannya, tapi katanya sih itu salah satu dari eksperimennya Bapak. Samar2, gw ingat bahwa Bapak pernah cerita bahwa sejak kecil beliau memang senang bereksperimen. Salah satu eksperimennya semasa SR (= sekolah rakyat, atau sekarang SD) adalah: ingin tahu bagaimana jika sabun dimakan. Apakah rasanya enak? Apakah menimbulkan busa jika kena air ludah?

Dan untuk membuktikannya, Bapak membujuk Satiran memakan sabunnya.

Satimin, nasibnya lebih malang. Dibujuk Bapak untuk digantung lehernya. Asli! D-I-G-A-N-T-U-N-G! Paman2 gw juga nggak tahu alasannya, tapi... cerita mereka membuat gw mengingat salah satu cerita Bapak tentang eksperimennya. Waktu itu, Bapak ingin tahu bagaimana orang bisa mati bunuh diri. Jadi... dia bujuk Satimin untuk digantung, dan dicatat reaksinya sejak awal digantung.

Untung eksperimennya cepat diketahui ibunya! Kalau Satimin keburu meninggal, entah apa jadinya Bapak... hehehe.. Kata Bapak, beliau mendapatkan hukuman dari Eyang Putri gara2 eksperimennya ini. Ya iya lah! Nggantung anak orang!!

Hehehe... gw rasa, Bapak punya creative disorder! Maksudnya, punya kreativitas yang sangat tinggi, sehingga mengganggu ;-) Tahu kan, katanya madness heightens creative genius ;-)

*Jadi mikir... kalau Nara adalah karma kebandelan gw, maka... mungkin gw adalah karma buat Bapak... HAHAHAHA.. ;-)*

Tapi tidak semua kreativitasnya Bapak merupakan disorder ;-) Pada bagian lain presentasi itu, paman keenam gw menunjukkan sebuah foto berwarna. Ditilik dari tahunnya, awal 50-an, mestinya teknologi foto berwarna belum masuk Indonesia. Ternyata... itu hasil eksperimen Bapak! Bapak mewarnai bagian per bagian foto itu, yang merupakan cikal bakal kecintaan Bapak pada fotografi. Saking cintanya pada fotografi, Bapak sempat punya kamar gelap sendiri dan kemudian membiayai kuliahnya dengan membuka studio foto.

Cerita berlanjut. Ternyata, selain bereksperimen bikin kamar gelap, Bapak juga pernah "menciptakan" mesin penetas telur ayam sendiri semasa SMA. Not bad, mengingat Bapak justru dari SMA jurusan Bahasa, bukan PasPal ;-) . That's my father, my "geniusly" eccentric father whom I love so much ;-)

Tapi ada satu cerita yang menyentuh hati, yaitu cerita Eyang Putri semasa perang. Salah satu foto menunjukkan rumah keluarga besar kami di Solo dengan sebuah pohon pepaya di depannya. Cerita paman gw yang nomor 3, pada awal masa kemerdekaan, Eyang Putri dan keempat anaknya (satu masih bayi), pernah terkurung di rumah tanpa makanan. Eyang Kakung ikut berperang, dan tentara pelajar menembaki tentara Belanda dari halaman rumah.

Melihat anak2nya kelaparan, Eyang Putri merayap dari pintu belakang rumah menuju pohon pepaya. Jaraknya tidak kurang dari 20m. Sampai di bawah pohon pepaya, Eyang menyodok buah yang masih mengkal supaya jatuh. Tentara Belanda melihatnya, dan membidik beliau. Alhamdulillah umurnya belum sampai, sehingga tembakan itu meleset. Bahkan pelurunya mengenai pepaya itu sehingga jatuh dan bisa dibawa Eyang ke dalam rumah.

Gw sangat terharu mendengar cerita ini. Begitu besar cinta seorang ibu pada anaknya, sampai rela berkorban nyawa untuk mereka.

*Nggak tahu juga ya, siapa tahu tentara Belandanya penembak jitu dan emang mau membantu seorang ibu memberi makan anaknya... ;-)*

Anyway... pingin juga share salah satu foto dari almh Eyang Putri dan alm Bapak, dua "orang hebat" yang menurunkan gw ;-) Foto ini gw pinjam dari presentasi paman keenam ;-) Kebetulan diambil pada pesta khitanan Bapak (duduk memakai sarung), sekitar tahun 1953. Waktu itu, Eyang Putri dan Eyang Kakung baru punya 7 anak ;-)


Fotonya sengaja dibikin kecil ya ;-) Biar nggak jelas... HAHAHAHA... ;-) Tapi, buat yang pernah lihat tampang gw, maka Eyang Putri itu wajahnya persis gw ;-)

*yang belum pernah lihat gw, terpaksa ngintip2 foto ini untuk bisa membayangkan bagaimana wajah gw ;-)*

Nggak sabar ingin ikut gathering berikutnya, to learn more about them ;-)

***

Bagaimana nasib dua ide cerita lainnya ;-)? Yaah, yang My Own Private Amazing Race sih ke laut aja deh ;-) Kalau yang Baby's Night Out, gw pindahkan ke sini ;-) Itu blog yang dibuat Ima untuk adiknya. Tapi namanya juga anak kecil, habis itu Ima males ngisinya ;-) Yah, gw isi aja deh, siapa tahu 40 thn dari sekarang, dalam sebuah gathering keluarga besar, nama gw disebut sebagai salah satu leluhur yang rajin mendokumentasikan sejarah keluarga... HAHAHAHA...