Friday, September 23, 2005

Asereje! Ah Rese!

Seminggu lalu ada SMS dari si Okke:

+62813xxxxxxxx: Titipan dari ninit yunita, undangan acara book launch Test Pack. Pembicara Fira Basuki di Potluck, besok 17 sept 05. Jam 15:00-selesai. Dateng ya?

Hihihi, nggak nyangka si Okke (mungkin karena permintaan Ninit) nyempet2in masukin nama gw sebagai salah satu yang ikutan di-SMS. So pasti gw mesti datang dong! Pingin tahu juga Ninit seperti apa setelah selama ini baca kolaborasi blog-nya bareng Okke di kamarcewek. Apalagi, temen gw Agung, *yang kebetulan istrinya adalah temennya Ninit, sementara Agungnya sendiri temen sepupunya suaminya Ninit (belibet yaks, but look how every single dot in the universe is connected)* udah berkoar2 di milis Psiko91 tentang bukunya Ninit ini.

Tapi satu masalah kecil nih! Tanggal 17 Sept 05 itu hari Sabtu! Harinya gw sama Ima. Jadi kalo gw kemana2, gw mesti bawa Ima. So, gw kirim SMS balesan:

+62811xxxxxx: Loe datang gak, Ke? Dan kalo datang, gw mesti bawa anak gw. Is that okay?

Sambil nungguin balesannya Okke, gw nge-browse internet untuk cari tahu dimana alamat Potluck di Jakarta. Kan gw bukan anak gaul, mana hafal nama cafe di Jakarta.

*hey, Okke ngundang gw. Tentunya gw berasumsi adalah itu di kota gw. Lagian, secara launching gitu loh, lazimnya di kota Jakarta toh?*

Browsing gw nggak menemukan hasil, jadi gw SMS lagi ke anak satu ini:

+62811xxxxxx: BTW, Potluck di Jakarta itu alamatnya dimana ya, Ke?

Lima detik setelah SMS gw terkirim, HP gw bunyi. Ada SMS masuk:

+62813xxxxxxxx: Oops! Potluck di Bandung, Jl Teuku Umar. Loe datang aja ke Bandung ya bu.

Asereje! Ah rese! Mau datang launching malah kena salah sambung dari si Okke!

Thursday, September 15, 2005

Koalisi Kue Donat

Gw dan teman gw sedang iseng membahas tentang koalisi. Menurut gw, kata kunci dari koalisi adalah kerjasama untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam kerjasama itu bisa jadi ada self-interest, tapi tetap ada common goal yang ingin dicapai bersama dengan kerjasama itu. Kerjasama dan common goal itu yang membedakan koalisi dari peer group, gank, pakta, atau kelompok sosial lainnya. Dalam peer group bisa saling membantu, karena ada rasa sayang antar para member. Namun itu tidak berarti para anggotanya saling berkoalisi.

Coalition: an alliance between entities, during which they cooperate in joint action, each in their own self-interest. This alliance may be temporary, or a matter of convenience.

Sebaliknya, para politikus bisa saja nggak saling sayang satu sama lain. Tapi karena ada tujuan bersama (misalnya mencegah partai tertentu menang mutlak) mereka bisa saja bekerja sama untuk mencapai tujuan itu. Dan itulah yg disebut berkoalisi, tidak perduli bahwa di belakang tujuan itu ada self-interest masing2; bahwa yg satu menghalangi kemenangan mutlak karena pingin jadi presiden sementara partai yang lain menghalangi karena kepercayaannya membuat dia tidak nyaman dengan presiden perempuan.

So, apa sih koalisi itu? Koalisi itu menurut gw adalah kue donat dengan kerjasama sebagai lubangnya.

Kok gitu? Ya emang gitu! Kan donat itu baru bisa dibilang donat kalau ada lubang di tengahnya. Bukan mekarnya adonan, karena kalau adonannya nggak mekar tapi ada lubang di tengahnya, tetap bisa dibilang donat bantet. Bukan juga toppingnya, karena kalaupun nggak dikasih topping, tapi ada lubang di tengahnya, maka tetap disebut sebagai donat tanpa topping.

Tapi coba loe hilangkan lubangnya. Apa yang loe dapat? Yup! Bukan lagi sebuah donat, bisa jadi jellydonuts (yg gak semua penggemar donat suka) atau bahkan English muffin!

Hal itu juga yg terjadi pada koalisi. Inti dari koalisi adalah kerjasama antara satuan2 yang ada di dalamnya. Selama ada cooperate in joint action di dalamnya, maka bisa disebut sebagai suatu koalisi. Gak perduli apakah aliansinya bertahan lama atau sebentar, dan seberapa kuat perbandingan antara intensitas self-interest vs. common goal. Yang penting adalah cooperate in joint action, seperti tergambar pada definisi di samping ini. Tapi selama aksi2 dilakukan secara terpisah, not cooperate in joint action, maka kemungkinannya masih terbuka lebar: koalisi atau bentuk persekutuan lain.

Well, donat, jellydonuts, dan English muffin sama enaknya buat gw. Tapi gw nggak pingin menamakannya donat kalau dia tidak punya lubang di tengahnya. Dan demikian pula dengan koalisi: selama belum terbukti ada cooperate in joint account, gw tetap enggak berani menyebutnya koalisi.

Saturday, September 03, 2005

INCEST - a novel

Sebelum berangkat ke Medan gw sempat beli sebuah buku di Gramedia, judulnya INCEST. Novel itu merupakan pemenang lomba menulis fiksi di Bali Post, yang publikasinya terpaksa dihentikan karena dianggap melecehkan adat. Penulisnya bahkan diadili bahkan menerima hukuman diasingkan secara adat karena tulisannya ini. Novel ini bercerita tentang kepercayaan tradisional bahwa sepasang buncing (kembar berbeda jenis kelamin) adalah aib desa yg dilahirkan krn kesalahan ortu/nenek moyangnya. Oleh karena itu mereka sekeluarga harus dikenai berbagai hukuman adat, yg berujung dgn memisahkan buncing itu (ortunya hanya boleh memelihara salah satu, dan di masa depan menikahkan keduanya. Di balik semua aib itu mereka tetap percaya bahwa buncing adalah sepasang kekasih yg bersatu sejak awal sampai akhir.

Sebenarnya, secara teknis, novel ini jauh dari sempurna. Banyak kejadian yg bertentangan dgn logika dan membuat dahi gw berkerut. Yang paling parah, sampai sekarang gw gak ngerti kenapa salah satu tokohnya, Putu Geo Antara (antropolog yg paham betul soal mitos buncing, pemikir, modern, bahkan berani melakukan pre-marital sexual intercourse), bertahan pada suatu jawaban yg tidak logis ketika diberitahu bahwa kekasihnya Gek Bulan Armani adalah saudara kembarnya sendiri. Psychologically, karakter seperti Putu Geo Antara itu akan mencari bukti2 terlebih dahulu sebelum mengatakan bahwa dia tidak percaya, dan apabila dia menemukan bahwa bukti2 itu tidak mendukungnya, dia akan membelokkan bukti. Sangat tidak masuk akal buat gw bahwa  Putu Geo Antara hanya bolak-balik bilang dia tidak percaya, tanpa melengkapi dirinya dgn bukti ATAU argumentasi yg kuat.

Tapi, lepas dari keterbatasan teknis, ide tulisan ini menurut gw bagus dan segar. Di samping itu, banyak hal2 kecil di dalamnya yg mengajarkan kita tentang falsafah serta kenyataan hidup. Misalnya tentang bagaimana bahayanya melihat sesuatu pada manusia sebagai persamaan linear (Masyarakat desa itu, menurut si penulis, hanya perduli pada masa kini dan masa lalu. Sebab-akibat yg sederhana. Buncing kadung dipercaya sebagai suatu aib. Dan sebagai hasil persamaan linear, dia hanya mungkin disebabkan satu hal: kesalahan orangtua/nenek moyangnya. Dan persamaan linear itu pulalah yg menyebabkan penyelesainnya sederhana: kawinkan mereka krn mereka sudah lahir bersama).

Novel ini juga menunjukkan betapa perubahan itu harus kita terima dgn beradaptasi. Karena dgn menentang perubahan itu sendiri maka justru akan terjadi penurunan makna dari solusi yg ada sekarang (hukuman buang di desa itu tentu sangat bermakna ketika universe bagi penduduknya hanya sebatas desa, tapi masihkah hukuman itu bermakna jika saat dunia bagaikan tak terbatas? Hukuman buang hanya akan menimbulkan rasa tidak nyaman, terbuang dari lingkungan tertentu. Tapi dia dengan mudah akan menemukan lingkungan lain. Jika mereka ingin hukuman itu punya makna yg sama, mungkin hukumannya harus berbeda; bukan justru mempertahankan hukuman yg sama hanya sebagai retorika yg kurang bermakna).

So, dgn mengabaikan keterbatasan teknisnya, banyak yg gw pelajari dari novel ini.

Dan satu lagi yang (sebenernya) nggak penting: novel ini ditulis oleh I Wayan Artika. Namanya mengingatkan gw pada Artika Sari Devi si Putri Indonesia 2004. Nama yang sama, dengan nasib yg sama pula: dihujat komunitasnya krn dianggap melecehkan nilai2 yg ada di budaya komunitasnya. Tanpa komunitas itu pernah sadar bahwa pada dasarnya kedua orang ini hanya berlaku jujur; menunjukkan dgn terbuka apa yg selama ini telah pelan2 bergeser (dan selalu ditutupi) oleh komunitasnya sendiri.

Oleh karena itu, satu lagi yg gw pelajari dari novel ini: KEJUJURAN itu mahal harganya.