Wednesday, October 26, 2005

Tuan, tolong jangan rusak kepercayaan yang tersisa

Waktu kuliah,  gw pernah bikin tugas penelitian psikologi sosial tentang mental terabas (= kebiasaan tidak mau antri). Dan gw menemukan dari pengamatan di Stasiun UI dan Stasiun Pondok Cina: kalau saja calon penumpang mau tertib, tidak berdesak2an membeli karcis di peron, maka waktu yang dibutuhkan bagi petugas untuk menjual karcis ke masing2 orang menjadi sekian detik lebih cepat. Katakanlah jika mereka berdesak2an seperti sekarang maka rata2 waktu yang dibutuhkan untuk melayani per penumpang adalah 8 detik, maka jika mereka antri waktu tersebut berkurang menjadi 5 detik.

Hal itu membuat gw semakin percaya bahwa jika kita mengikuti aturan maka semua akan beres.

Kepercayaan itu gw jaga sampai sekarang. Gw nggak ngomel ketika BBM naik nggak kira2. Gw nggak ikutan menuntut impeachment dan mencaci maki pemerintah, walaupun sekarang makin susah buat gw mencukupi kebutuhan; semua harga2 naik, bahkan iuran antar-jemput sekolahnya Ima pun naik. Gw hanya diam, mengurangi lagi pos2 yg bisa gw kurangi, dan mengucap syukur bahwa gw masih punya pos yg bisa dikurangi. Gw percaya bahwa ini adalah laksana antrian loket belaka: kalau kita antri, memang mungkin nggak nyaman, tapi secara umum pelayanannya menjadi lebih cepat dan baik.

Tapi gw benar2 menjadi kecewa ketika kemarin pagi menjumpai berita di Kompas: Kenaikan Anggaran DPR Wajar karena Kegiatan dan Biaya Meningkat.

Duh, tuan2 yang terhormat, tidakkah Anda ingat rakyat Anda? Mereka juga mengalami kenaikan biaya. Kegiatan mereka juga tidak berkurang, sehingga yg makin harus dikencangkan adalah ikat pinggang. Di beberapa daerah, bahkan para nelayan sudah berhenti melaut karena sekedar modal untuk bahan bakar perahu saja mereka tidak sanggup lagi membeli.

Lantas, bagaimana tuan2 bisa menjustifikasi kenaikan anggaran karena kegiatan dan biaya meningkat? Tidakkah tuan2 merasa perlu (setidaknya punya keinginan) berbagi nasib bersama kami semua: harus mengurangi pos biaya karena biaya meningkat tapi tidak ada peningkatan pendapatan?

Tuan2 yang terhormat, saya diam ketika tuan2 menaikkan harga; saya terima itu sebagai harga yang harus saya bayar saat ini demi kebaikan di masa datang. Saya diam ketika tuan2 ternyata belum mempersiapkan data calon penerima dana kompensasi dengan baik; saya terima itu sebagai kesalahan teknis belaka. Namun, sulit bagi saya untuk diam saja ketika tuan2 tidak mau berbagi nasib bersama kami, ketika tuan menaikkan pendapatan tuan sendiri dengan dalih biaya2 kegiatan tuan meningkat.

Sulit untuk mencari kebenaran di balik kesalahan keputusan tuan. Sulit bagi saya untuk percaya bahwa keadaan akan membaik, karena tuan kini berlaku sebagai penghambat keadaan membaik itu sendiri. Tuan berlaku bak penjaga loket yang dengan enaknya masih baca koran sementara calon pembeli tiket telah berbaris rapi.

Oleh karenanya saya mohon: tuan, tolong jangan rusak kepercayaan yang tersisa ini. Sebelum semuanya menjadi terlambat.

Tuesday, October 25, 2005

Catatan Perjalanan: Anger Management

Perjalanan tugas ke luar kota di bulan Ramadhan selalu memerlukan ketabahan tersendiri. Mulai dari sahur sendirian, menu sahur ala hotel yang belum tentu sesuai (dan seringnya tidak sesuai) dengan selera gw, kesulitan mencari buka puasa di kota asing. Tapi perjalanan ke Bandung sekali ini benar2 membutuhkan anger management porsi ekstra.

Godaan pertama untuk marah terjadi begitu KA berhenti di Stasiun Bandung. Janjinya akan ada kendaraan hotel yang menjemput. Tunggu punya tunggu, 15 menit kok nggak ada yang jemput? Padahal tahu sendiri kan ke-barbar-an para supir taksi di Bandung, gw udah capek senyum dan bilang nunggu jemputan. Setelah konfirmasi ke hotelnya, katanya dalam 5 menit akan dijemput. Waktu itu molor hingga setengah jam dan 3x konfirmasi kemudian.

(note: sekali ini memang gw dipesankan hotel baru oleh kantor, karena hotel langganan kantor gw penuh).

Sesampainya di hotel, ternyata mereka tidak punya tempat tidur double, adanya twin bed, kecuali di suite room. Waduh! Gw tuh nggak bisa tidur di tempat tidur single, pasti jatuh! Yah, agak jengkel juga, karena mereka nggak bilang sejak pemesanan. Tapi daripada bikin ramai, akhirnya gw memutuskan untuk pindah hotel. Alhamdulillah, Hotel Papandayan, hotel pertama yang gw datangi masih punya kamar kosong yang sesuai mau gw. Baguslah! Jadi gw nggak perlu tergoda untuk marah lagi.

Sambil gw istirahat, field team Bandung men-setup handycam yang gw bawa dari Jakarta untuk keperluan Focus Group Discussion siang itu. Baru saja gw mau merem sejenak, HP gw bunyi:

Mbak, kabel handycam-nya kayaknya rusak deh! Suara dari handycam nggak bisa keluar di TV tempat klien nonton. Gimana Mbak, kalo cari kabel baru agak susah, karena harus ke dealer Sony resmi. Cari handycam baru juga rasanya nggak keburu.

ARRRRGGGGGHHHH! Rasanya kemarin gw sendiri sudah memastikan semuanya bekerja dengan baik. Kok ya bisa tiba2 rusak? Sabar, sabar, bukan waktunya marah2. Harus quick solution nih! Untung akhirnya bisa diakali dengan meminjam wireless microphone. Jadi klien tetap bisa nonton dan mendengarkan jalannya diskusi, walaupun audio dan video-nya berasal dari media yang berbeda.  Yang penting, selama grup pertama, teknisinya bisa lari ke dealer Sony dan beli kabel baru.

Namun kemudian muncullah godaan ketiga: hujan angin! Buset, yang namanya hujan udah mirip banget di film The Day After Tomorrow! Bisa nggak datang responden gw! Artinya gw mesti memperpanjang stay di Bandung untuk re-schedule acara! Waduh, buang waktu, dan buang biaya project nih!

Akhirnya, dari 8 tamu undangan, yang datang ke acara hanya 4 orang! Itu pun setelah terlambat hampir 1 jam. Untung, metode kami kali ini adalah mini-group, jadi hanya perlu 4-5 orang. Slamet, slamet!

Setelah 3x mengalami ujian kesabaran dan ketenangan, gw berharap bisa menikmati sisa hari dengan tenang. Ternyata tidak! Sepuluh menit menjelang grup kedua, tiba-tiba saja sepatu gw jebol! Cari sepatu baru udah jelas nggak mungkin! Untung ada Selly, anak Prompt Bandung yang kakinya seukuran gw dan pakai sepatu hak (rata2 anak field team hanya pakai sepatu kets). Gw pinjam sepatu Selly, dan setelah grup selesai gw diantar Arie (anak Prompt Bandung juga) cari sepatu di Kepatihan. Jam 21:30 malam gw akhirnya menemukan sepatu cantik dengan harga miring buat keperluan kerja besok.

Kerja hari kedua, alhamdullillah, tidak ada masalah. Setelah grup penghabisan berakhir, gw ngajak klien makan malam. Cari tempat yang dekat, akhirnya kami berjalan ke Bandung Milk Center. Dan ternyata di sini nightmare kembali berulang. Pertama, Nasi Tutug yang dipesan salah satu klien gw sudah basi. Kemudian, klien gw yang lainnya menemukan serpihan bawang merah plus plastik di lime squash­-nya. Well, gw memang nggak ketiban sial malam itu, tapi kan gw ikut malu karena ngajak klien ke tempat yang pelayanannya nggak beres gini.

Besok paginya gw pulang. Naik KA Argogede jam 5:30 pagi. Gara2 nightmare yang bertubi2, gw udah lumayan parno bahwa kereta bakalan telat abis. Makanya, gw bersyukur banget begitu KA bergerak meninggalkan Stasiun Bandung tepat pukul 5:30. Kelelahan dan keparnoan gw lenyap seketika, diganti rasa kantuk luar biasa. Bangun2, gw ngerasa kereta sedang berhenti. Jam di tangan menunjukkan pukul 7:30. Ah, sudah 2 jam perjalanan, tentunya kereta api sedang berhenti di Stasiun Cikampek.

Tapi gw langsung lemas waktu lihat tulisan di plang sebesar gambreng di stasiun tersebut. Di situ tertulis dengan megahnya: STASIUN PADALARANG

Aaaaarrrrghhh! Can you believe it? Dua jam perjalanan dari Bandung ke Padalarang! Gusti Allah, nyuwun diparingi sabar. Benar2 godaan puasa yang nggak putus2nya. Ini mungkin yg dibilang hikmah Ramadhan: kita diberi kesempatan untuk mendapatkan nilai tinggi dengan menyelesaikan ujian yg sulit.

(ohya, ada catatan nggak penting: selama gw di Bandung, HBO menayangkan Anger Management sebanyak 2x. Dua2nya gw nonton. What a coincidence, bahwa film itu menjadi pertanda buat gw)

 

 

Wednesday, October 12, 2005

Hanya Tukang Ban yg boleh Quick Solution

Satu juta KK terpaksa dikoreksi dari daftar penerima subsidi tunai dana kompensasi kenaikan BBM. Maklum, selama ini BPS tidak punya data tentang KK mana saja yang termasuk keluarga miskin.

Kompas, tiga hari yg lalu

 

Walapun mereka termasuk keluarga miskin, namun mereka tidak bisa dimasukkan dalam daftar penerima subsidi tunai dana kompensasi kenaikan BBM karena tidak memiliki KTP Jakarta

Kompas, kemarin

 

Pemerintah mengalami kesulitan mendata calon penerima subsidi tunai dana kompensasi kenaikan BBM. Pasalnya banyak petugas yang berasal dari aparat kemasyarakatan mendaftarkan keluarga atau kenalannya sendiri walaupun tidak termasuk keluarga miskin, di samping masih adanya warga yang merasa malu jika dikategorikan keluarga miskin.

Pemerintah mengakui bahwa mereka terpaksa dibantu aparat masyarakat, karena sejauh ini mereka baru memiliki sekitar 200 petugas, dari kebutuhan ideal 4,000 petugas

95.9FM, tadi malam

 

Baru sekitar 15% dana kompensasi kenaikan BBM yang dapat dicairkan untuk digunakan sebagai subsidi tunai.

Kompas, tadi pagi

 

Heran ya, setelah bertahun2 dan berbagai kejadian, tetap saja pemerintah tidak belajar bahwa yang diperlukan adalah problem solving, bukan quick solution.  Dan problem solving itu harus selalu dimulai dengan identifikasi masalah, lantas dilanjutkan dengan strategi penyelesaian masalah yg mencakup antisipasi terhadap berbagai kemungkinan.

Dalam kasus BBM ini, menurut gw sih yg harus ditelaah dulu adalah kenapa kita sampai membutuhkan BBM sebanyak itu. Kalau butuh BBM-nya banyak, dan gak bisa menyediakan BBM sendiri, ya tentu saja subsidi yg harus diberikan negara jadi banyak. Nah, itu dulu lah yg harus dicari tahu kenapa butuhnya sampai sebanyak itu, kenapa semua orang merasa harus pakai mobil sendiri, kenapa banyak banget orang yg butuh minyak tanah. Nah, itu dulu dipikirin, dan cari strategi pemecahannya. Kalau itu terpecahkan, otomatis penggunaan BBM berkurang, dan pemerintah gak perlu subsidi banyak2 kok.

Bukan malah bikin quick solution naikin harga BBM dan memberi isapan jempol bahwa dana kompensasinya bakal dijadikan subsidi tunai Rp 100,ooo per bulan ke rakyat miskin tanpa tahu jumlah rakyat miskinnya ada berapa.  Apalagi ternyata petugas pendataannya kurang banget, dan budaya KKN belum hilang. Piye to, udah sempat bikin iklan banyak2, tapi yg essential malah belum dipikirin. Sekarang bingung sendiri to? Mana para oposisi udah teriak2 impeachment lagi, tambah panik deh!

Ini mah logikanya bener2 seperti tukang tambal ban. Pokoknya ada ban bocor mah tambal aja, gityu, ntar kalo dipakai sehari dua hari bocor lagi ya ditambal lagi.  Ya maklumlah kalo dia nggak bisa mikir bahwa mau ditambal tiap hari, kalo batu tajam yg ada di jalanan nggak dibuang, ya tiap hari aja tuh ban bakal bocor lagi, dan bocor lagi, sehingga suatu hari ban yg sudah babak bundas itu nggak bisa dipakai lagi. Mogok deh tuh kendaraan :-p

Nah, emang sekarang pemerintah mau jadi tukang tambal ban? Kalo nggak mau, ya mulailah pakai problem solving. Karena hanya tukang tambal ban yg boleh bikin quick solution doang.

Friday, October 07, 2005

Rp 27.000

Apa artinya Rp 27.000 buat kalian?

Gw ingat, ini seribu rupiah lebih tinggi daripada honor gw menjaga UMPTN di tahun 1992. Waktu itu pun secara nominal jumlahnya terhitung nggak besar, tapi karena kerjanya hanya sekitar 4 jam, plus bisa ngeceng pakai jaket kuning *coba ya, ternyata gw dulu noraks sekalih!*, gw sih seneng2 aja menerimanya.  Rp 27.000 ini juga dua ribu rupiah lebih tinggi dari honor gw sebagai mahasiswa tingkat akhir (dan kemudian psikolog baru yang belum punya ijin praktek) untuk memeriksa dan membuat laporan psikologis tes massal per kepala. Tapi karena paling enggak gw harus bikin 20 laporan, ya jumlah totalnya waktu itu lumayan nendang juga buat ukuran gw.

Buat saat ini, kalau gw turun makan dengan Rp 27.000 di tangan, gw bisa beli makan siang cumi bakar plus nasi uduk plus jus mangga, terus masih bisa beli 2 keping DVD bajakan, dan masih nyisa Rp 1.000 buat masuk kantong lagi. Gw juga bisa bawa Rp 27.000 ke Pas-Fes untuk beli Readers Digest edisi Asia yang berbahasa Inggris (bukan yang terbitan Femina Group), mencakup ongkos naik Kopaja 66 pp Rp 2.000, dan masih ada sisa Rp 1.000 untuk masuk kembali ke dompet. Kalo gw kelaparan di perjalanan pulang, gw juga bisa mampir di KFC Tebet, beli ayam, French fries, sup ayam, dan Teh Botol dengan uang itu, masih ditambah bayar ongkos parkir.

So, you name it. I can spend Rp 27.000 for small things I might not really need.

Tapi ternyata Rp 27.000 itu juga setara dengan keringat para buruh bangunan di proyek pembuatan monorail di depan kantor gw. Jumlah yang harus ditukar dengan bekerja sepanjang hari. Jumlah yang harus dibagi2 untuk makan 3x sehari (a.k.a modal untuk mendapatkan energi bekerja sebagai buruh bangunan), serta untuk disimpan membiayai kelangsungan hidup keluarganya.

Sedih banget baca berita di Kompas kemarin. Dengan meningkatnya harga BBM, harga makanan di warung Tegal juga naik. Dulu Rp 3.000 sudah bisa mendapatkan nasi, sayur, dan lauk telur. Sekarang uang sejumlah itu hanya bisa mendapatkan nasi kurang lebih separuh jumlah biasanya, sayur, dan lauk hanya tempe. Dulu, mereka bisa menyisihkan Rp 15.000 – Rp 17.000 untuk membiayai keluarga, setelah dipotong modal kerja: 3x makan dan rokok/kopi.

Sekarang, mereka dihadapkan dengan dua pilihan: mempertahankan modal kerja, dan dengan resiko mengurangi uang yang bisa disisihkan untuk rumah tangga. Atau mereka bisa mengurangi modal kerja, dan resikonya mereka tidak dapat bekerja sebaik sebelumnya.

Dua pilihan yang sama2 sulit. Jika mereka mau makan yang layak, harganya adalah Rp 4.000, dikali 3 saja sudah Rp 12.000, plus kopi dan rokok bisa mencapai Rp 15.000. Artinya, mereka hanya membawa pulang uang ke rumah sebesar Rp 12.000. Atau mereka harus mencari lemburan, bekerja lebih dari sepanjang hari, hanya untuk memenuhi taraf hidup yang layak. Dan seperti kata penutup di artikel Kompas itu: Mereka bukan orang2 yang dijamin menerima subsidi tunai dari dampak kenaikan BBM. Tapi mereka sudah harus mengencangkan ikat pinggang karena kenaikan BBM.

Well, rasanya banyak dari kita yang mengeluh karena kenaikan BBM ini. Teman gw kemarin baru nyumpah2 krn setelah dihitung2 dia sekarang harus mengeluarkan minimal 1jt untuk bensin doang (rumahnya di Cibubur, istrinya kerja di Pondok Indah). Teman yang lain lagi kesel karena sekarang harus mengurangi dugemnya. Tapi, kalau kita masih bisa mengeluarkan Rp 27.000 for small things, mungkin memang kita belum waktunya untuk mengeluh. Ada orang2 di luar sana yang lebih menderita dari kita, dan (kemungkinan) akan tambah menderita walaupun ada janji dari pemerintah untuk pengalihan subsidi.

Monday, October 03, 2005

Virtue

Dalam perjalanan pulang kemarin malam gw dengerin Emha Ainun Nadjib di DeltaFM. Bahasannya tadi malam adalah tentang kesulitan, apakah merupakan sebuah teguran atau sebuah ujian untuk naik kelas. Cak Nun bilang bahwa kalau kita mendapatkan kesulitan, anggaplah itu sebagai teguran dari Allah agar kita introspeksi diri dan berusaha menjadi lebih baik. Tapi kalau kesulitan itu terjadi pada orang lain, betapa pun buruk sifat orang itu, anggaplah itu sebuah ujian bagi dia; kesempatan dari Tuhan untuk dia naik kelas ke jenjang kebajikan yg lebih tinggi. Dengan bersikap begini, kita senantiasa teringat untuk menjadi lebih baik, dan juga terhindar dari perasaan benci pada orang lain.

Reaksi spontan gw: gw acung jempol sama Cak Nun! Ini bener2 sesuai dengan pandangan gw: the way you see the problem is the problem, esse est percipi (to be is to be perceived). Semua stimulus itu sifatnya netral, kita yang memberi arti pada stimulus itu; teguran, ujian, karma, siksa, berkah. Kenyataan itu adanya di kepala kita, bukan di mata kita.

Reaksi gw setelah kegirangan sesaat gw hilang: duh, betapa kalimat itu menampar gw! Betapa sering gw diam2 dan/atau tanpa gw sadari mensyukuri kesulitan yang dialami orang lain yang pernah berlaku kurang baik kepada gw. Betapa gw kadang2 masih punya kepongahan dan menggunakan kalimat suci sebagai justifikasi: doa orang yang teraniaya memang didengar Tuhan.

Padahal, apa sih hak gw menganggap diri gw sebagai orang yg teraniaya?

Salah satu kasus yg gw ingat adalah ketika bokap gw sakit dan meninggal. Ada satu tetangga, yang kebetulan adalah ketua masyarakat sekitar. Gw ingat banget beliau maki2 adik gw krn bukan adik gw sendiri yang mengurus surat keterangan untuk membawa jenazah bapak ke Solo. Si bapak ini merasa tidak dihargai, karena bukan si peminta surat sendiri yang datang. Waktu itu gw hanya bisa mengelus dada, nangis pun nggak bisa. Sedih rasanya, baru ditinggal orang tua untuk selama2nya, dan kita dimarahi untuk hal2 yang (menurut gw) nggak prinsip. Bulan lalu si tetangga itu kena stroke, sekarang lumpuh dan nggak bisa kemana2. Beliau terpaksa dibantu kemana2, dan keadaan berbalik: bahkan untuk mengurus KTP pun si bapak itu tidak bisa datang sendiri ke kelurahan seperti yang menjadi alasannya memaki2 adik gw.

Well, gw kasihan sama beliau. I really am. Tapi, walaupun gw berhasil menahan kemunculannya secara nyata, gw harus mengakui bahwa I smugly smiled dan merasa Tuhan sudah memberikan ganjaran pada beliau. Padahal, apa hak gw untuk berpikir seperti itu? Just because he did me wrong, it does not mean that I am better than him, or he is worse than me.

Tapi mungkin pengalaman2 seperti ini yang menjadi bagian dari proses perkembangan kita ya? Seperti kata Jeffrey Lang dalam bukunya Struggling to Surrender (hi, teman, thanks for sharing me this excellent book!): virtue itu harus dicapai manusia melalui evolusi moral-spiritualnya, dengan menggunakan kemampuan untuk memilih, kemampuan untuk menimbang konsekuensi pilihan kita, serta kesulitan yang akan menggoda kita memilih hal yang kurang tepat. Free will, intellect, and adversity.

Hmm, virtue memang tidak bisa di-install. Jika kita ibaratkan diri kita adalah computer, maka yg bisa di-install adalah program untuk spell-check; menghindari word processor dari kata2 yang salah. Tapi kita tidak akan pernah bisa membuat computer itu menjadi computer yang penuh kejujuran.

Moga2, sedikit demi sedikit, pengalaman2 seperti di atas akan mengantar kita pada suatu kebajikan. Mungkin saat ini kita baru sampai pada tahap spell-check; menghindari mengucapkan kata2 kasar secara nyata, sementara kejengkelan belum bisa kita hilangkan. Namun, dengan terus menerus belajar, suatu hari kita tidak perlu spell-check lagi, karena kebajikan itu menjadi bagian yg built-in dalam diri kita.

Selamat Menjalankan Ibadah Puasa!

Mohon maaf atas segala kesalahan yg pernah gw lakukan kepada teman2 sekalian.