Monday, June 15, 2009

Time, The Final Frontier

Peringatan:
Penuh dengan SPOILER. Zilko dilarang baca ;-)

***

Sejak pertama baca di situs ini bahwa akan dibuat Star Trek XI, gw udah gak sabar menunggu. Padahal, pengumuman itu dibuat tahun 2006, nyaris 3 thn lalu. Udah lama ya? Hehehe... Apalagi kalau dilihat implikasinya pada hidup gw: tahun 2006, saat gw pertama kali dengar wacana tersebut, terbayang bakal punya Nara pun belum ;-)

Makanya, begitu dapat notifikasi dari sini bahwa tiket untuk pertunjukan perdana jelang tengah malam 6 Juni sudah dapat dipesan, gw langsung mau pesan. Tidak ada yang bisa menghalangi rencana gw, meskipun key internet banking gw terblokir saat isi saldo kartu yang mau dipakai beli tiket ;-) Toh ada bapaknyaimanara yang bisa gw bajak mengantarkan ke ATM tengah malam.

Demi film ini pula gw terlantarkan seorang blogger pemukim negeri jiran. Nasibnya buruk memang, pulang ke Jakarta barengan sama Star Trek tayang perdana. Antara dia dan Zachary Quinto, hmmm... emang nggak susah untuk memilih... HAHAHAHA... Jadi terpaksa deh dia mengalah; ketemuan sama gw di gedung bioskop ;-)

Tapi segala jerih payah gw nggak sia2. Adalah keputusan yang tepat untuk beli tiket sehari sebelumnya, karena... pemutaran perdana itu penuh. Sampai baris terdepan pun terisi orang.

Dan nggak sia2 juga, karena filmnya memang layak untuk segala jerih payah itu. Saking kesengsemnya pada film ini, gw malah udah nonton 2x ;-).


-- Spoiler dimulai --

Well.. kalau dibandingkan dengan film2 Star Trek lainnya, apalagi dengan film serinya yang padat filosofi, film ini tergolong ringan ;-) Nggak heran banyak Trekkie mencak2 dengan ceritanya ;-) Seperti dapat dibaca pada beberapa komentar di sini atau di sini. Nggak heran, karena ceritanya memang "mendasar" sekali: mulai dari bagaimana awak Enterprise pimpinan Kapten Kirk terbentuk. Cuma, di film ini, yang terjadi adalah realitas alternatif, alias beda dengan apa yang sudah diketahui Trekkies dari film2 dan serialnya (biasa disebut prime universe).

Sebagai contoh, di sini diceritakan bahwa James Tiberius Kirk lahir di sebuah shuttle menuju bumi karena kapal ayahnya, USS Kelvin, diserang. Ayahnya sendiri adalah kapten kapal yang bertarung sampai mati demi keselamatan armadanya pulang ke bumi. Ini tentunya beda sekali dengan kisah Kapten Kirk pada prime universe, dimana Kirk punya saudara kandung. Hal ini tidak tidak mungkin ada di realitas alternatif ini karena ayahnya sudah tewas

Kemudian, ada cerita mengenai hancurnya Planet Vulcan karena pembalasan dendam seorang penambang Romulan terhadap Spock. Planet Vulcan dibuat "tersedot" lubang hitam karena Nero si penambang ini menganggap Spock sudah menghancurkan planetnya. Nah, seingat gw sih di segala Star Trek yang ada Vulcan-nya, pasti ada cerita mereka pulang ke Vulcan. Jadi, di prime universe, planet ini nggak hancur ;-)

Ya. Cerita ini memang mengambil jalur alternate reality dari Star Trek yang dikenal sekarang. Same character, different reality. Penyimpangan realitas ini terjadi sejak dibunuhnya kapten USS Kelvin. gara2 sebuah supernova dan kesalahpahaman. Alkisah Spock (the prime universe Spock, as played by Leonard Nimoy ;-)) tidak cukup cepat mencegah sebuah supernova menghancurkan Planet Romulan. Dalam upaya membalas dendam, si last standing Romulan Nero dan kapalnya tersedot lubang hitam sehingga terlempar ke masa lalu. Masa ketika James T Kirk baru akan dilahirkan, bukan masa ketika James T Kirk sudah menjadi admiral.

Dan Nero memutuskan mengubah sejarah. Bukan hanya mencegah planetnya hancur, tetapi dengan agresif berusaha menghancurkan Vulcan dan bumi - agar mereka tidak dapat menghancurkan Romulan. Masalahnya, seperti dijelaskan Spock dalam salah satu dialognya, mana kala sebuah sejarah diubah, maka kenyataan alternatif akan berjalan. Sementara kenyataan yang sudah ada juga tetap berjalan.

Begitulah ;-) Sejarah berubah. Tapi... karena pada dasarnya prime universe dan alternate reality ini bersinggungan, maka tidak semua fakta berubah. Mungkin itu yang namanya takdir ya ;-)? Mungkin sudah takdir mubrom bahwa para awak Enterprise ini bertemu, sehingga mereka tetap bertemu dan terbentuk. Walaupun "jalan"-nya berbeda ;-)

Dan mengenai pertemuan itulah cerita ini berkisar. Bagaimana Spock dan Kirk yang bedanya 180 derajat bisa bersahabat. Dari cannot tolerate each other, mereka akhirnya menyadari bahwa keduanya adalah potongan jigsaw puzzle yang saling melengkapi.

Yang gw suka banget dari film ini adalah persinggungan2 dengan "realitas lama", meskipun bercerita pada "realitas baru". Bukan cuma ditampilkan melalui adegan2 nyata, tetapi juga melalui dialog2 yang subtle. Contohnya saja, saat baru bertemu Kirk, Scotty sedang di-skors di Delta Vega. Alasannya? Karena dia mengujikan teori trans-warp beaming yang ia postulatkan, "... to Admiral Archer's dog.". Asli, gw ngakak mendengar dialog ini, karena "cerdik" banget ;-) Cuma Trekkie yang akan bisa mengerti lelucon ini ;-)

Jadi, dalam timeline Star Trek, Star Trek: Enterprise (film seri yang terakhir muncul) sebenarnya justru terjadi sebelum masanya Star Trek: The Original Story. Kapten Enterprise yang pertama bernama Jonathan Archer, dan menjalani misinya di angkasa luar dengan ditemani seekor anjing. Perlu pengetahuan ini untuk bisa memahami lucunya sepotong dialog itu. Kalau Kapten Archer hidup sebelum masa Scotty dkk, maka ketika Scotty masuk Starfleet Academy, Kapten Archer sudah jadi sesepuh. Sudah naik pangkat jadi Admiral Archer. Jelas aja kalau Scotty kemudian kena skors. Berani2nya dia memindahkan anjing kesayangan "sesepuh" entah ke mana ;-)

Tuh, cerdik kan ;-)? JJ Abrams memang membuat "realitas baru" yang mungkin membuat Star Trek lebih bisa dimengerti awam. Tapi dia tidak menghilangkan "realitas lama", sehingga Trekkie bisa tetap merasa connected dengan film ini.

Konektivitas "realitas baru" dengan Trekkie juga dibangun melalui karakternya. Betul, Chris Pine nggak ada mirip2nya dengan William Shatner. Karl Urban dan DeForrest Kelley juga nggak mirip. Apalagi Walter Koenig dengan Anton Yelchin. Bahkan kalau kuping runcingnya Zachary Quinto dihilangkan, dia nggak ada mirip2nya dengan Leonard Nimoy. Tapi.... lihat deh gesture mereka. Gw pribadi sih nggak sulit membayangkan si tengil Kirk muda (Pine) akan tumbuh menjadi the womanizer Captain Kirk (Shatner). Karl Urban juga paaas banget mentransfer persepsi serba-negatif McCoy terhadap segala yang bukan-bumi. Quinto, meskipun masih kurang sendu, cukup bisa juga menampilkan "dingin"-nya Spock (Nimoy).

Baca di wiki, ini semua hasil kerja keras mereka. Para pemeran baru ini memang diminta untuk mempertahankan sebagian karakter pemain lama, meskipun boleh mengembangkan karakter itu sendiri. Swear, gw tadinya nggak menyangka Chris Pine bisa jadi se-tengil ini ;-) Setelah lihat betapa manisnya dia di Princess Diary 2, gw kira dia aktor medioker yang main film cuma buat menuh2in katalog doang... HAHAHAHA... (hai, kamu, dan kamu ;-))

Singkatnya, nggak gampang rejuvenate sebuah cerita yang sudah punya fans fanatik. Apalagi kalau bebannya adalah menciptakan pangsa baru tanpa kehilangan loyalitas pencintanya. Tapi Star Trek XI berhasil menciptakan itu. Film ini bisa gampang dicerna oleh orang yang baru pertama kali menonton Star Trek sekalipun, sekaligus tetap bisa dinikmati pecintanya.

Bayangkan, bapaknyaimanara malah bisa menginterpretasikan cerita ini lebih jauh lagi ;-) Buat dia, hancurnya Planet Vulcan itu menjelaskan mengapa bangsa Vulcan tidak terlalu banyak berperan di film2 seri Star Trek. Gw sih tadinya ngeyel bahwa kehancuran Vulcan itu kan di alternate reality, bukan prime universe, jadi nggak bisa dipakai untuk menjelaskan kondisi di prime universe. Tapi kemudian gw ingat: prime universe dan alternate reality saling berkait... hehehe... Jadi, di prime universe Vulcan tidak hancur. Tetapi... karena di akhir film sudah "kembali" ke khitahnya, bukan berarti ada alternate story yang setara di prime universe tentang kekurangaktivan Vulcan.

Hehehe... Fascinating! I love this movie ;-)

Well... memang sih, tidak seluruh filmnya sempurna. Ada bagian yang menurut gw "enggak banget". Seperti adegan Kirk kecil nyetir mobil di bumi. Emang apa pentingnya adegan itu? Langsung aja ceritakan Kirk dewasa yang bengal. Dan... polisi yang menilang Kirk kayak Robocop? Enggak banget deh!!!

Terus, gw juga nggak gitu sreg dengan adegan Kirk dikejar2 mahluk Delta Vega. Kok mahluknya mirip T-Rex banget sih??? Cuma moncongnya aja seperti bunga pemakan daging. Sooo un-Star Trek! Menurut gw akan lebih Star Trek kalau Kirk terpaksa berlindung di gua karena badai es yang beda banget dengan seperti di bumi, atau karena udara berkurang, atau apa lah yang biasa muncul jadi obstacle di film serinya.

Dan yang paling enggak banget, menurut gw, adalah memilih John Cho sebagai pemeran Hikaru Sulu. Deuh! Salah casting banget deh! Bukan John Cho mainnya jelek, tapi.... nggak ada jejak2 George Takei sama sekali di dia. Mukanya terlalu baby face, malah pas adegan hand-to-hand combat, mukanya feminin banget ;-) Beda banget dengan George Takei yang wajahnya keras.

Still, dengan kekurangan2 tersebut, gw tetap menganggap film ini fascinating. Gw kira film ini bakal cukup berhasil meregenerasi Trekkies. And I really hope so, karena gw nggak sabar menunggu film ataupun serial baru Star Trek. Nggak apa2 deh, cerita dari ulang lagi tapi dengan latar alternate reality, itu akan menjadi penyegaran buat cerita ini. Lagian, memang udah minim sekali apa yang bisa dibuat pada prime universe. Semua sisi sudah dibahas. Penerus Enterprise-nya Kirk sudah diceritakan di Star Trek: The Next Generation. Tentang stasiun luar angkasanya sudah diceritakan di Star Trek: Deep Space 9. Selanjutnya Star Trek malah udah sampai ke kuadran alam semesta yang berbeda dengan Star Trek: Voyager. Dan yang terakhir, bikin prequel dengan Star Trek: Enterprise. Memang sudah saatnya ganti realitas ;-) Toh latar mirror universe, alias realitas alternatif yang bertentangan, atau disebut juga parallel reality, juga sudah pernah dibuat.

It's time to regenerate Trekkies. And the manipulation of time the resulted in an alternate reality is indeed a bold move, as it is a violation to the temporal prime directive. This kind of move is taken only by those who do not believe in no-win scenario. And so, with your permission, let's conclude this posting with a famous quote - slightly modified:

Time... the Final Frontier to explore strange new worlds; to seek out new life and new civilizations; to boldly go where no man has gone before.

Live long and prosper ;-) Would love to watch you again ;-)

Saturday, June 06, 2009

Nip/Tuck feat Demi Moore

Tahu nggak gw sekarang lagi suka lagu apa? Gw lagi suka lagu yang disebut Tante Okke di Twitter sebagai cacing kuping: Lupa-lupa Ingat dari Kuburan ;-)

Ya, serius ;-) Gw suka banget lagu itu. Lagu itu sederhana, tetapi sebenarnya tidak sederhana. Sederhana, karena syairnya cuma itu2 aja diulang2, dengan chord yang gitu2 aja. Easy listening. Tapi sebenarnya tidak sesederhana itu, karena lagu itu bisa memotret dengan tepat kejadian nyata sehari-hari. Semua orang tentu pernah mengalami ingin menyanyi, tapi lupa syairnya. Hanya ingat nadanya. Semakin keras berusaha mengingat lagunya, semakin lupa. Dan rasanya gimana? Bete, frustrasi, gemas ;-)?

Itulah kekuatan lagu sederhana ini: lagu ini bisa mengantar pendengar pada suatu masa yang benar2 mereka alami. Sudah. Titik. Selanjutnya perasaan yang terasosiasi dengan kejadian itu yang akan berperan.

Menurut gw, inilah fungsi yang tepat dari sebuah lagu. Lagu itu durasinya pendek. Nggak mungkin menggambarkan seluruhnya dalam sebuah lagu. Oleh karenanya, lagu tidak boleh bercerita terlalu banyak. Cukup cerita singkat, tapi terelaborasi, sehingga membuat orang bisa terbawa pada pengalamannya sendiri. Menstimulasi "perasaan subyektif" pada masing2 orang yang terasosiasi dengan pengalaman tersebut.

Gw selalu suka lagu2 seperti itu. Seperti my all time favorite Nuansa Bening (buseet... susah benar cari versi aslinya ini ;-)), misalnya, yang cuma berkutat bercerita tentang bagaimana suatu perkenalan yang biasa2 aja meninggalkan bayang2 yang tak mau pergi. Atau Yesterday Once More, yang melulu cerita tentang kenangan masa kecil ketika mendengarkan radio. Atau ... pokoknya banyak deh! Rata2 lagu yang gw suka seperti itu. Lagu2 yang [menurut gw] kata2nya dalem dan menghunjam ke hati... hehehe...

*Dan itu memperjelas mengapa gw selalu pingin mbanting radio kalau dengar lagu Resah Tanpamu. Haiyah! Dalam satu lagu kok banyak banget yang mau diceritain: keresahan si cewek pada LDR, upaya si cowok untuk meyakinkan si cewek, harapan si cewek, ... akhirnya malah nggak orgasme, tauk! Lagunya ngambang. Sampai akhir lagu gw nggak dapat feel-nya. Cuma kedengeran seperti ada cewek menye2 minta digombalin cowoknya, dan cowoknya bener2 ngegombalin ceweknya dengan kata2 ;-)*

Lagu "Lupa-lupa Ingat" membuat gw terkenang kembali masa2 gw belajar main piano dulu. Selain harus bisa memainkan jemari di atas tuts untuk menghasilkan nada2 indah, ada teori2 musik yang harus gw pelajari. Salah satunya - tentu saja - tentang tangganada dan chord. Karena pada dasarnya, dalam bermain piano, nada lagu hanya dimainkan di tangan kanan. Tangan kiri, biarpun juga terus menerus memencet tuts, sebenarnya hanya memainkan chord untuk membuat lagu itu lebih manis ;-)

Dan salah satu hal krusial yang membedakan piano dengan electone, sejauh yang gw tahu, adalah bagaimana chord tersebut dimainkan. Walaupun chord-nya sama, piano punya variasi memainkan chord yang lebih banyak - serta membutuhkan pemahaman tangga nada yang lebih baik. Sebagai contoh, untuk dalam electone, chord C biasanya cukup dengan memencet nada C -E - G (eh, atau G - C - E ya?) berbarengan. Dalam piano, tangan kiri bisa C - G - E secara tidak berbarengan, atau bahkan kombinasi C (rendah) - C - G - E atau G (rendah) - G - C - E. Suka2 yang bikin musik aja ;-) Sebuah ketidakteraturan dalam keteraturan.

Salah satu variasinya bisa dilihat di partitur Fuer Elise gubahan Ludwig von Beethoven ini. Bar pertamanya menggunakan notasi A - E - A. Nggak jelas kan, ini chord A minor atau A? Emang sih, yang standar dipakai biasanya A minor atau A7, jarang gw dengar ada chord A. Tapiiii.... kalau pas lagi main dan ditanya ini chord apa, lumayan gelagapan juga deh. Sumpah ;-) Apalagi bar keduanya yang menggunakan notasi E - E - G#. Chord E yang sempat bikin gw terdiam sepersekian detik sebelum jawab.

Sumpah, chord adalah suatu momok dalam pelajaran piano gw... hehehe... Jadi, bayangkan betapa besarnya siksaan guru piano gw ketika beliau berusaha menjejalkan segala macam chord itu ke kepala gw... hehehe.... Sebagai lulusan sebuah konservatori di negerinya Oom Klinsmann, guru piano gw biasa berlatih piano 6 jam sehari ;-) Beliau hafal luar kepala chord apa di tiap bar lagu2 klasik. Sementara gw selalu tergagap2 mengingat2 itu chord apa dengan variasi apa... hehehe...

Dengan demikian walaupun gw selalu mengatakan bahwa my favorite musician adalah Beethoven dan Chopin, kalau udah menyangkut chord gw mendadak sontak nge-fans sama Mozart ;-) Bukan apa2, Mozart itu paling teratur bikin chord. Paling nggak bikin gw gelagapan kalau ditanya apa chord yang harus gw mainkan. Pengaruh jaman juga sih... Mozart hidup di jaman klasik, sementara Beethoven dan Chopin di jaman romantik. Yang klasik2 itu emang lebih rapi, sementara yang romantis lebih "menyentuh" ;-) Nggak heran, Beethoven romantis sekali bikin lagu Fuer Elise, yang konon kabarnya menggunakan kunci yang mengandung huruf2 hidup wanita yang dicintainya: Therese.

*Sampai di sini gw sempat berpikir: untuuuunggg Beethoven jatuh cinta pada Therese, jadi bisa bikin lagu ini. Coba kalau jatuh cintanya sama Kiki Fatmala. Susah aja dia mau bikin lagunya... hehehe... Nggak ada chord maupun nada "I" yang bisa dia pakai. Kalaupun pakai chord A buat Fatmala, jadinya lagunya monoton.... chord-nya dari A ke A lagi ke A lagi ;-) Paling2 jadi A - A minor - A lagi ;-)*

Eniwei.. lagu "Lupa-lupa Ingat" membuat gw teringat kembali kenangan masa kecil yang gw sudah lupa-lupa ;-) Dan dengan munculnya kenangan tersebut, muncul juga perasaan2 yang terasosiasi dengan kenangan itu. Tidak seluruh kenangan yang berkaitan dengan piano buruk. Ada masa2 indah juga ketika berhasil memainkan sonata2 dengan baik, saat konser, saat ujian, dll. Atau justru terbalik: lagu itu secara tidak langsung mengakses perasaan2 indah di dalamnya, dan muncullah kenangan2 dimana perasaan2 itu muncul :)

Sejak jaman purba (halah, lebay!) memang kognisi - afeksi - dan tindakan nyata itu saling berkaitan. Makanya sampai ada jurnal yang namanya Cognitive, Affective, & Behavioral Neuroscience ya karena hal tersebut di atas. Bukankah yang namanya domain belajar itu memang menyangkut 3 aspek: kognitif, afektif, dan psikomotorik? Idealnya kan suatu pembelajaran itu melekat memang jika ada ketiga unsur ini terintegrasi toh?

So, that's it. Melalui stimulus audio berupa syair yang menyebut2 "cuma ingat kunci" serta bunyi2 kuncinya, lagu ini membantu gw mengakses ranah afektif yang sudah lama tertimbun berbagai pengalaman baru. Membuat gw tidak mendengarnya sebagai cacing kuping (halah!) melainkan bak Nocturne Opus 9 no 2-nya Chopin. It's my favorite, and... can you believe it, once I performed it in the prestigious Gedung Kesenian Jakarta? Jaman duluuuuuuu banget ;-)

*BTW, di tautan yang gw kasih, yang main Rachmaninoff lho! Komposer yang umurnya tergolong muda kalau dibandingkan sama Opa Beethoven ;-) Tapi karyanya gak kalah indah, seperti Piano Concerto no. 3 ini*

See... we never know what a physical stimulus can evoke ;-) Yang jelas, sesuatu tuh nggak pernah berdiri sendiri. Sesuatu yang kasat mata selalu berkait dengan yang tak kasat mata ;-) A right stimulus given to the right person, especially at the right time, and you could call it a jackpot ;-)

Yang perlu diingat dalam membuat lagu (menurut gw sebagai penikmat lagu) adalah bagaimana membuat stimulus audio itu mengakses perasaan. Naaah... kalau menurut gw sebagai penikmat lagu lagi, agar sebuah lagu bisa mengakses perasaan yang tepat, lagu itu mesti sederhana tapi dalem. Nggak perlu banyak kata2 canggih juga sih... buktinya, lagu sesederhana (dan mungkin buat sebagian orang: sesembarangan) ini pun bisa ;-)

Lha... jadi hubungannya sama judulnya apaan dong? Hehehe... kalau itu, itu sih pembuktian bahwa sensori audio ini juga menstimulasi ranah kognitif gw ;-) Gara2 dengar salah satu syairnya yang kocak:

C - A minor - D minor - Ke G
ke C lagi - A minor
Demi Moore - ke C
Ke C lagi

Sebagai mantan remaja 80-an, kedengarannya syair ini lebih cocok berbunyi:

Demi Moore kece,
Kece lagi

Yang berarti terbayangkan oleh gw bahwa Demi Moore pernah nggak kece, tapi kemudian kece lagi. Kok bisa? Yaaa... kalau udah nggak kece tapi jadi kece lagi, salah satu kemungkinannya kan operasi plastik toh ;-)? Dan operasi plastik mengingatkan pada film seri Nip/Tuck... HAHAHAHA...

*Iya, memang bahaya memberikan stimulus pada saya, karena bisa kemana2... ;-)*

Wednesday, June 03, 2009

Goro-goro Ibu Pandawa

Goro-goro jaman kala bendu
Wulangane agama ora digugu
Sing bener dianggep kliru,
sing salah malah ditiru

(dipinjam dari sini)

***

Saat awal kisah kisruh Prita Mulyasari dengan sebuah rumah sakit merebak, gw merasa bahwa Indonesia sudah benar2 masuk kala bendu. Jaman semuanya terbolak-balik, yang salah jadi benar dan yang benar jadi salah. Cepat2 cari faktanya, menjelajah kanal maya mencari curhat elektronik yang menjadi sengketa. Dan setelah menemukannya, sikap gw jelas: gw tidak akan pernah menggunakan jasa rumah sakit itu, meskipun itu tinggal satu2nya rumah sakit di muka bumi (Halah! Bombastis!). Tapi alasannya bukan karena pelayanan medisnya buruk seperti yang diuraikan Mbak Prita pada curhatnya, melainkan karena menurut gw pihak manajemen rumah sakit tersebut kurang bijaksana dan kurang taktis menghadapi ”kliennya”.

Ya, bicara tentang ”pencemaran nama baik”, menurut gw sikap yang diambil pihak RS dengan mempidanakan curhat Mbak Prita did more damage daripada isi email itu sendiri. Mungkin tulisan Mbak Prita itu bisa membentuk opini sebagian orang pada RS tersebut buruk, namun.... memperhatikan tulisan yang kental nuansa emosi negatif serta mencampurkan antara fakta dengan penilaian subyektif atas fakta, gw yakin masih banyak orang yang mempertanyakan apakah ini bukan kesalahpahaman biasa saja.

Gw sendiri bekerja di bidang jasa, dan gw tahu banget susahnya memuaskan ”klien”. Mau kerja sebagus apa pun, selalu ada penilaian subyektif yang menyertainya. Sebagai orang yang kemampuan interpersonalnya nggak begitu bagus, I learned the hard way about this. Toh jargon kuno memang berkata: pelanggan yang tidak puas akan memberitahu 100 orang, sedang pelanggan yang puas diam saja. Yang nggak tercakup dalam jargon kuno itu adalah satu aspek: ketidakpuasan pelanggan belum tentu disebabka oleh keburukan hasil kerja, melainkan sering kali didasarkan pada penilaian subyektif pada situasi tertentu ;-)

Tapi kan kita nggak bisa menyerang semua pelanggan yang ngomong buruk tentang kita toh? Nggak bisa memaksa orang melihat kebaikan kita. Yang dapat kita lakukan hanya mencoba bekerja lebih baik lagi, sehingga pelanggan yang puas lebih banyak daripada yang nggak puas. Gimana dengan 100 orang yang sudah terlanjur diberitahu oleh pelanggan yang tidak puas itu. Well... the damage is there. Nggak bisa kita paksa 100 orang itu untuk kembali netral melihat kita. Yang kita bisa lakukan adalah agar tidak membuat 100 orang itu teryakinkan bahwa kita buruk. Dan salah satu caranya adalah dengan tidak menyerang si pelanggan yang banyak bicara itu ;-) Sebab, kalau kita menyerangnya, alih2 yang 100 orang itu teryakinkan bahwa kita bagus, malah omongan buruk si pelanggan yang tidak puas itu memperoleh justifikasi.

Karena itu, menurut gw justru sikap RS tersebutlah yang sealed their own fate ;-) Setidaknya gw justru akan menghindari RS ini karena melihatnya ”tidak bijaksana” dalam menyikapi ketidakpuasan pelanggan ;-) Seharusnya RS itu tidak perlu mempidanakan ”pelanggan”-nya. Mereka cukup membuat kampanye positif untuk membentuk opini publik tandingan. Misalnya dengan membuat testimonial dari pelanggan2 yang puas. Pasti ada dooong, ada ”pelanggan” yang puas dengan pelayanan mereka ;-)? Kenapa pula harus menempuh jalur hukum? Untuk membersihkan nama para dokter itu? Lha, kalau curhat elektronik yang gw temukan itu adalah versi-asli-yang-tidak-disunting, mestinya nggak ada masalah dengan nama baik para dokter. Wong Mbak Prita cukup santun dengan TIDAK MENYEBUTKAN nama dokternya, hanya mencantumkan inisial ;-)

Tapi sudahlah ;-) Alhamdulillah, akhirnya Mbak Prita dibebaskan juga dari tahanan penjara. Mudah2an segera bebas dari tuntutan hukum juga, karena menurut gw kasus ini memang tidak layak dipidanakan.

***

Namun, to be fair and objective, memang Mbak Prita banyak menggunakan kalimat yang menjerat kakinya sendiri dalam curhat elektronik itu. Seperti gw bahas di atas, isi suratnya kental bernuansa emosi negatif, sehingga antara fakta dan persepsi subyektif bercampur baur dan [dalam tulisannya] seolah2 semuanya adalah fakta. Dengan demikian, curhat pribadi ini menjadi dapat diterjemahkan sebagai pencemaran nama baik. Akibatnya, pihak RS memiliki dasar untuk memperkarakannya dengan Pasal 27 ayat 3 UU ITE sebagai acuan:

Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.

Sebagai sesama “tukang protes” yang terobsesi jadi ”editor”, gw mencoba menelaah paragraf demi paragraf, dan kalimat demi kalimat curhat elektronik Mbak Prita. Berikut ini hasil pengeditan gw terhadap curhatnya, sementara versi aslinya bisa dilihat di sini:

PELAYANAN RS OMNI DAPATKAN PASIEN DARI HASIL LAB FIKTIF MENGECEWAKAN

Prita Mulyasari - suaraPembaca

Jangan sampai kejadian saya ini menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan kemewahan dan title internasional tidak selalu menjamin bahwa Anda akan puas dengan pelayanannya

Judul dan kalimat yang gw coret itu memang bisa disalahartikan sebagai serangan, bukan sekedar curhat, karena dengan gamblang Mbak Prita mencampurkan persepsi dan pemaknaannya atas pengalaman dengan fakta. Fakta yang ada kan sebenarnya Mbak Prita tidak puas dengan bagaimana RS tersebut menanganinya, sementara "uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan" itu adalah persepsinya. Dengan mencampuradukkan demikian, kesannya memang jadi menuduh dan dapat dianggap mencemarkan nama baik.

Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini Pengalaman saya dengan di RS Omni International, tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB, mungkin dapat menjadi contoh. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandar International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.

Kembali di sini menurut gw cukup untuk menyampaikan fakta bahwa Mbak Prita tidak puas dengan penanganan RS tersebut. Mbak Prita dapat memposisikan pengalamannya sebagai contoh ketidakpuasan saja. Tanpa menyertainya dengan kata2 yang dapat diartikan sebagai menuduh.


Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah trombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr I (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.

dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.

Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.

Sama seperti sebelumnya, menurut gw Mbak Prita akan lebih sulit dijerat dan dipidanakan jika stick to the fact. Oleh karenanya, tidak perlu berpanjang lebar menceritakan tentang kekhawatirannya. Cukup sampaikan fakta bahwa pemeriksaan darah menyebutkan trombosit 27.000 dan diagnosanya adalah demam berdarah. Ternyata sehari kemudian dokter yang bersangkutan mengatakan ada revisi hasil lab menjadi 181.000 serta diagnosa tetap demam berdarah. Padahal sudah diinfus semalaman dan diberi suntikan.

Gw nggak tahu seberapa penting penjelasan/izin pasien/keluarganya terhadap suntikan yang diberikan. Pengalaman gw kena Demam Berdarah 3x, gw sih memang nggak pernah dikasih tahu suntikannya buat apa. Kalau gw tanya ya dijawab, tapi nggak ada penjelasan mendetail, apalagi minta ijin untuk memberikan obat tertentu. Obat kan diberikan menurut diagnosa.

Di kasus ini menurut gw pemberian obat tanpa penjelasan/izin bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan. Yang perlu digarisbawahi hanyalah fakta bahwa: ada revisi hasil lab dan diagnosa tetap demam berdarah.


Mulai Jumat tersebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.

Di bagian ini Mbak Prita mestinya stick to the fact bahwa lemarinya penuh dengan infus dan berbagai ampul suntikan, tetapi dia tidak pernah mendapat jawaban yang jelas mengenai kegunaannya. Gw tidak melihat perlunya kalimat ”lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter” ;-) What’s the big deal? Bukannya tugas suster memang demikian ya? Psikolog aja nggak berwenang lho, memberi obat. Apalagi suster ;-) Mereka memang hanya pelaksana pemberian obat. Menurut gw suster memang tidak punya kompetensi untuk menjawab mengenai obat itu.

Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.

Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja.

Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.

Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, janji selalu diulur-ulur dan beliau baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi. Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri.

dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.

Di bagian ini, menurut gw, Mbak Prita mulai mengalami disintegrasi. Nuansa emosinya cenderung kental, sehingga ia hanya berulang kali melabel dr H dengan kata2 ”tidak memberi keterangan yang memuaskan”. Memuaskan/tidaknya suatu informasi tergantung dari kedua belah pihak, dan tidak ada parameter pastinya. Oleh karena itu, mengatakan seseorang ”tidak memberi keterangan yang memuaskan” sangat dapat diartikan sebagai sekedar labeling.

Kembali, menurut gw, mestinya Mbak Prita stick to the fact. Jabarkan keterangan seperti apa persisnya yang diberikan oleh dr H, sehingga semua pembaca bisa menilai sendiri apakah keterangan itu memuaskan atau tidak. Dengan menjabarkan fakta, Mbak Prita juga akan lebih sulit dijerat dan dipidanakan.

Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif yang sayangnya tidak sesuai dengan apa yang saya alami/rasakan.

Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.

Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 saya mendapat informasi bahwa data tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.

Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og (Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis.

Well.. gw sangat memahami kejengkelan Mbak Prita. Gw sendiri juga akan mencak2 dan mengajukan complaint kalau mengalami hal seperti ini. Namun... bener deh, Mbak Prita doesn’t help her own cause by mixing the fact with her perception. Jadi… nggak terlalu salah juga kalau dianggap menuduh dan ingin mencemarkan nama baik.

Kalau saja Mbak Prita dengan dingin menuliskan fakta bahwa data medis yang diterimanya tidak sesuai dengan kenyataan, bahwa hasil lab trombosit 27.000 tidak ada, dan mengakhiri paragraf ini dengan mengatakan bahwa dia sudah mengajukan keluhan tertulis, akan berkurang satu lagi alasan dan dasar bagi RS tersebut mempidanakan Mbak Prita. Sayangnya, Mbak Prita merasa harus menambahkan pemaknaan pribadinya terhadap kejadian tersebut, sehingga terdengar seperti tuduhan.

Kata2 “data fiktif” itu lebih terdengar sebagai tuduhan, karena belum tentu RS tersebut memanipulasi data. Mungkin saja data yang tidak sesuai kenyataan itu muncul karena kinerja yang buruk. Walaupun hasil akhirnya sama2 berupa data yang tidak sesuai kenyataan, namun kata2 “data fiktif” mengacu pada kesengajaan, bukan pada inkompetensi.

Demikian juga kalimat “staf Og yang … seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima”. Persisnya seperti apakah yang dianggap oleh Mbak Prita mencemooh? Apakah karena mencibir ketika Mbak Prita minta tanda terima? Mentertawakan? Atau apa? “Mencemooh” adalah penilaian Mbak Prita terhadap tindakan Og. Tetapi… bisa jadi cemooh itu adalah clouded judgment yang terjadi karena Mbak Prita memang sudah jengkel. Untuk amannya, lebih baik stick to the fact; jabarkan secara deskriptif apa yang dilakukan Og. Kalaupun Mbak Prita mau mengatakan Og mencemooh, setidaknya pembaca pun bisa menilai sendiri apakah itu sebuah cemooh atau tidak.

Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan manajemen. Atas nama Og (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.

Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000. Makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.

Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain saya ini tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain dengan baik. Dia Sayangnya dr G justru mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr M informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen, dan dr H. Namun, tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.

Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. Menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.

Jika kedua kalimat yang saya coret di atas tidak ditulis Mbak Prita, cerita Mbak Prita tetap sama: bahwa RS ini menyangkal pernah memberikan hasil lab 27.000 dan menolak untuk menggelar rapat dengan Mbak Prita. Tetapi ada satu perbedaan besar: tanpa kedua kalimat itu, Mbak Prita tidak pernah menuduh dr G tidak profesional ;-) Tetap ada kemungkinan bahwa pembaca akan menyimpulkan bahwa dr G tidak profesional, tetapi itu adalah murni permainan persepsi – Mbak Prita tidak dapat disalahkan karena ”menuduh” dan ”mencemarkan” nama baik dr G ;-)


Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas. Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas. Apalagi ketika suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya.

Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya. Kembali saya telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah. Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Di rumah saya tidak ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. LOgkanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan? Makanya saya sebut Manajemen Omni pembohong besar semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.

Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS ini cantum.

Walaupun saya sangat memahami kegusaran Mbak Prita, serta setuju bahwa ada ketidakberesan dalam pelayanan RS ini, namun saya harus katakan bahwa the above paragraph is very harsh. Sangat disayangkan bahwa Mbak Prita mencampuradukkan persepsi subyektif dengan fakta. Sebenarnya ia tidak perlu berpanjang2 menuliskan segala tuduhan ini; cukup mengatakan bahwa ia sangat marah, apalagi ketika surat yang dijanjikan tidak datang – malah dikatakan ada tanda terima dengan nama Rukiyah.

Kalau dilihat dengan kepala dingin, masih ada kemungkinan bahwa RS tersebut tidak menipu. Nama Rukiyah bisa jadi merupakan [maaf] nama pembantu rumah tangga. Bisa terjadi utusan RS datang ke rumah yang salah, ditemui oleh pembantu rumah tangga, yang main terima dan tanda tangan saja. Saya pernah mengalami kejadian itu dengan salah satu tagihan kartu kredit saya. Dalam hal ini, si pengirim dan kurir memang bersalah, namun tidak menipu.

Demikian juga dengan alamat yang tidak jelas. Beberapa kali terjadi kekisruhan juga di kantor saya mengenai alamat/nama penerima; kadang saya tahu nama penerimanya, tapi tidak tahu informasi lainnya karena slip itu adanya di resepsionis, dan resepsionis sedang makan siang ;-) Maksud saya, kita tidak dapat serta merta mengatakan telah terjadi penipuan, karena kemungkinannya banyak.

Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami.

Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.

Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap.

Menurut gw sih paragraf ini nggak perlu ada. Cukup akhiri pernyataan di atas dan biarkan publik menilai kualitas RS ini. Datanya sudah cukup kok ;-)

Justru kalimat terakhir menjadi penjegal utama bagi Mbak Prita. Kata2 ”saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya mendapatkan pasien rawat inap” dapat diartikan bahwa titik awal masalah ini adalah prasangka Mbak Prita bahwa ia telah ditipu. Ini menjadi titik lemah keluhan ini, karena dapat diartikan bahwa Mbak Prita bukan sedang mengeluhkan kekecewaan berantai, melainkan sedang menegakkan prasangka bahwa RS tersebut menipu.

Looking from this point of view, I could understand why the hospital takes such a harsh action.

Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.

Saya dirugikan secara kesehatan. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.

Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr B). Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.

Ini juga paragraf yang menurut saya tidak perlu ada, kecuali satu kalimat penegasan bahwa Mbak Prita sudah dirugikan secara kesehatan. Tidak ada data baru dari paragraf ini, bahkan sebaliknya penuh dengan pengulangan label: ”kami ditipu”, ”biaya RS dengan asuransi makanya RS seenaknya”, ”serakah”, ”permainan kebohongan”. Frankly, it doesn’t help Mbak Prita’s cause, and only provides better ammunition to that hospital.

Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.

Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing. Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dipercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan.

Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.

Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G, dr H, dr M, dan Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.

Salam,
Prita Mulyasari

Alam Sutera

Ucap syukur Mbak Prita atas kesehatannya yang mulai membaik akan lebih “menyentuh” hati masyarakat jika paragraf2 yang berisi label pada RS tersebut dihilangkan. Dan jabaran tentang kondisi penglihatan yang buruk akibat sobeknya selaput mata karena virus yang salah didiagnosa akan lebih menggema jika tidak diwarnai dengan berbagai label tentang tipuan dan kebohongan. Stick to the fact; tunjukkan fakta2nya, serta bagaimana dampaknya pada kesehatan Mbak Prita. Itu sudah cukup untuk membuat pembaca memahami apa yang ingin disampaikan Mbak Prita. Tanpa membuat RS tersebut memiliki ”bukti” bahwa Mbak Prita menuduh mereka.

Dan untuk kata penutup, sebenarnya sudah cukup dengan menyampaikan harapan agar pekerjaan mulia mereka tidak sia2. Sayangnya, Mbak Prita justru melebarkan masalah dengan memberi informasi bahwa dr H berpraktek di RSCM. RSCM tidak ada hubungannya dengan masalah ini, dan dengan tersebutnya mereka di sini, bisa jadi malah membuat RSCM tersinggung karena disinggung2.

***

Goro-goro adalah wejangan antar adegan dalam pertunjukan wayang. Goro-goro kala bendu adalah suatu wejangan tentang jaman yang terbolak-balik.

Di akhir posting, setelah menelaah isi curhat elektronik Mbak Prita, keyakinan gw bahwa peristiwa ini adalah goro-goro kala bendu tidak sebesar ketika gw memulai tulisan ini. I still think that the hospital is not wise, and conducts an inappropriate act against its patient, tapi gw juga bisa melihat bahwa Mbak Prita didn’t help her own cause by using unnecessary sentences.

Sehingga pada akhirnya gw tetap melihat peristiwa ini sebagai goro-goro. Sebuah wejangan tentang the art of delivering bad news. Sebuah wejangan bahwa sesuatu yang [mungkin] benar, jika disampaikan dengan cara yang tidak tepat justru dapat berdampak buruk. The world is neither black or white, it’s always grey… ;-)

Lucunya, goro-goro ini tidak disampaikan melalui kisah para punakawan, melainkan melalui kisah “ibu para Pandawa”. Ya, Dewi Prita adalah nama lain dari Dewi Kunti, ibu dari Adipati Karna, Yudhistira, Bima, dan Arjuna ;-)