Monday, March 31, 2008

Atlas buat Ima

Sambil menunggu Ima latihan berenang di sekolahnya, gw malling ke Mal Kelapa Gading. Biasanya sih, waktu belum hamil, kalau Ima berenang gw ikutan nyemplung. Tapi berhubung baju renang gw udah nggak cukup, gw mendingan malling daripada berpanas2 ria dan keringetan di pinggir kolam renang ;-). Kebetulan Ima juga titip atlas, jadi ada alasan gw untuk nongkrong di toko buku.

*as if gw membutuhkan alasan buat ngendon di toko buku ;-)*

Nah.. sesampainya di bagian buku2 pelajaran SD, gw diantar dengan ramah oleh si Mbak Penjaga ke lemari atlas. Dan gw mendadak takjub, karena ternyata atlas tersedia dalam berbagai versi terbitan. Karena Ima secara khusus diberi instruksi oleh gurunya untuk membawa atlas yang ada gambar rumah adat dan pakaian adat juga, mulailah gw browsing. Satu persatu gw buka, gw lihat2, dan.. gw pun bingung ;-)

Dari sekitar 7 jenis atlas yang tersedia di rak, akhirnya gw bisa mempersempit pilihan menjadi 3. Yang paling murah Rp 27.500 harganya. Tapi biarpun paling murah, gambar rumah adat dan pakaian adatnya paling keren: pakai foto, bow, bukan gambar ilustrasi doang! Tapi.. begitu lihat daftar isi, ternyata propinsinya baru 31, karena Kepulauan Riau dan Sulawesi Barat belum dicantumkan sebagai propinsi tersendiri.

Alternatif kedua Rp 40.000 harganya. Propinsinya udah 33, masing2 berada di satu halaman sendiri, jadi untuk propinsi2 kecil seperti Banten atau Sulawesi Barat tuh skalanya gede banget. Saking gedenya, orang buta juga bisa membedakan satu kota dengan kota lainnya, kali ;-) Informasi tambahannya juga lumayan lengkap. Selain memuat peta2 propinsi di Indonesia, juga ada peta beberapa negara dunia, plus lembar2 informasi seperti bagan terjadinya letusan gunung berapi yang diimbuhi foto2 keadaan Gunung Merapi saat tenang dan siaga 1. Komplit deh.. cuma sayang aja gak ada fotonya Mbah Maridjan.. hehehe..

Cuma, gw kurang sreg dengan alternatif kedua ini, karena gambar rumah adat dan pakaian adatnya nggak pas. Mosok rumah adat Jawa Tengah disebut sebagai Rumah Pendopo, sedangkan rumah adat DI Yogyakarta disebut sebagai Rumah Joglo. Lho.. bukannya pendopo itu BAGIAN dari rumah joglo? Sebagai orang Jawa sih gw belum pernah dengar ada yang namanya rumah pendopo ;-) Terus.. gambar pakaian adatnya juga bikin gw gak sreg. Untuk Jawa Tengah tidak digambarkan sebagai kebaya dan beskap, melainkan.. basahan. Well.. memang sih, basahan itu baju PENGANTIN adat. Tapi.. antara baju pengantin adat dan baju adat kan beda? Gw nggak mau anak gw dapat informasi yang salah. Gw kan nggak tahu kesalahan apa lagi yang termuat di situ.. hanya karena kebetulan gw orang Jawa aja gw bisa menemukan kesalahan tersebut.

Sambil ngomel2 dalam hati dan menuduh bahwa ”Pasti yang bikin atlas ini bukan orang Jawa” dan ”Pasti editornya nggak ada yang Jawa”, gw melihat2 alternatif ketiga.

Yang ketiga ini in-between lah.. seharga Rp 36.000. Cetakannya juga bagus. Rumah adat dan baju adatnya nggak ngawur kayak yang harganya Rp 40,000 itu. Terus.. informasi tambahannya juga lumayan OK. Selain ada bagan lapisan bumi dan letusan gunung berapi, ternyata ada tabel tentang negara2 di dunia: seperti bentuk pemerintahan, mata uang, ibukota negara, dll.

Hampir gw beli yang ini, sampai gw menemukan satu cacat: Kepulauan Riau dan Riau berada dalam SATU halaman, demikian pula Sulawesi Barat dan Sulawesi (kalo nggak salah) Tengah! Kayaknya ini edisi buru2 deh.. buru2 direvisi pas Kepri & Sul-Bar jadi propinsi tersendiri. Jadi.. jalan pintasnya cuma nambahin garis pemisah antar propinsi dan ganti judul halaman aja.. hehehe.. nggak pakai nambah halaman baru.

Untuk Sulawesi Barat sih nggak masalah ya.. satu halaman cukup besar untuk dua propinsi mungil itu. Tapi.. it’s a big problem for Kepri dan Riau! Lha wong Kepri itu pulaunya jauh2, jadi satu halaman sendiri aja gambarnya kecil2, kok disatukan dengan propinsi lain. Susah baca petanya ;-)

So.. akhirnya, setelah 40 menit gw menimbang2 beli atlas mana, gw memutuskan beli yang pilihan kedua aja ;-) Kan, yang namanya atlas tuh buat lihat peta, bukan buat lihat baju/rumah adat. Setidaknya, itu pendapat gw sih sebagai pecinta peta ;-) Dan lagi.. ntar bisa gw cari di internet dan print aja gambar2 yang BENAR, lantas gw tempelkan di buku atlas.. hehehe.. Itu lebih gampang daripada gw harus googling mencari peta Ke-Pri dan Sul-Bar untuk ditambahkan ke atlas ;-)

Masalah atlas terpecahkan, namun.. jadi ada pikiran lain yang terlintas: kasihan ya, anak2 SD jaman sekarang? Bukan cuma anggota kabinet aja yang sebentar2 diganti dan harus dihafalkan, tapi juga.. propinsi ;-)

Dulu, jaman gw SD, yang namanya menghafalkan nama menteri itu jarang banget. Wong menterinya nggak ganti2. Tertib, baru kalo habis pemilu ganti. Ngapalin propinsi? Lebih gampang lagi.. hehehe.. dari masuk SD sampai lulus juga jumlahnya hanya 27. Lha, sekarang.. udah menterinya ganti2 melulu, propinsi juga sudah beranak-pinak jadi 33. Sampai yang bikin atlas aja bingung mengikuti perkembangannya, hehehe.. gimana anak2 sekolah?

Pantes ya.. sampai sekarang belum ada stasiun TV yang beli license-nya Are You Smarter than a 5th Grader? ;-) Kebayang susahnya bikin pertanyaan versi Indonesianya. Terutama yang berkaitan dengan PMP, PSPB, PPKn, atau IPS (eh.. di antara mata pelajaran ini, mana yang masih ada sih??) ;-) Smarter than 5th grader versi kurikulum yang mana ;-)? Yang jaman kabinetnya siapa? Yang jaman propinsinya berapa? Lha wong parameternya beda2, ganti2 melulu, gimana bisa dipakai menentukan siapa yang smarter ;-)

Ngomong2, kira2 jaman Kasultanan Mataram dulu udah ada sekolahan belum ya? Kalau udah ada, gimana kira2 keadaan murid pasca Perjanjian Giyanti? Mungkin ada soal yang bunyinya: ”Termasuk negara manakah desa yang kalian tinggali ini?”. Dan kalau anak2 itu menjawab, ”Kerajaan Mataram”, ntar dicoret oleh gurunya. Kan setelah Perjanjian Giyanti masuknya either Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat atau Kasunanan Surakarta Hadiningrat.. ;-)

Nanti, berikutnya mereka tambah bingung lagi setelah Perjanjian Salatiga yang membagi Surakarta menjadi Kasunanan dan Mangkunegaran ;-)

Hmm.. rupanya setelah ratusan tahun berlalu, history repeats itself ;-) Ini negara memang senang membelah diri kayak amuba.. HAHAHAHA..

Thursday, March 27, 2008

Banyak Anak Banyak Rejeki

.. peribahasa itu pasti diciptakan oleh pemilik rumah bersalin atau dokter kandungan ;-) Nggak mungkin sama orangtua yang beranak banyak ;-)

***

Setelah berhasil menyiasati biaya periksa kandungan selama 9 bulan yang nggak sedikit, plus berhasil “mendaur ulang” sebagian besar perlengkapannya Ima untuk dipakai adiknya, sekarang tiba waktunya untuk menghadapi kenyataan: hal yang membutuhkan biaya terbesar justru tidak bisa didaur ulang.

Yup! I’m talking about delivery expenses.

Di kota Jakarta yang “kencing pun harus bayar” dan “berhenti parkir sebentar kena tarif Rp 2,000 (atau Rp 1,500 kalau pakai senyum manis buat tukang parkirnya)”, nggak heran memang kalau biaya melahirkan terbilang besar. Tapi.. gw baru sadar betapa banyak angka nol-nya setelah browsing ke dua rumah sakit incaran.

Tadinya gw sudah mantap mau melahirkan di Medistra aja. Sejak hamil Ima, gw periksa juga di sana. Melahirkan di sana. Dirawat karena demam berdarah sampai 2x juga di sana. Masuk UGD gara2 mimisan nggak berhenti2 sepanjang malam juga di sana (sampai bapaknyaima “dicurigai” sama orang2 di UGD melakukan KDRT lantaran bawa istri yang mukanya berdarah2.. hehehe..). Terus.. dari rumah dan kantor, rumah sakit ini juga sepelemparan batu. Tidak butuh banyak waktu untuk ke sana in case gw tiba2 impulsif mau melahirkan saat masih ngantor. Lewat jalan belakang kompleks Patra nggak sampai 10 menit.

Jadi.. rasanya pilihan melahirkan (lagi) di sana juga nggak aneh. Kan semua rekam medik gw ada di sana. The fact bahwa dokter kandungan gw sudah nggak praktek di sana lagi nggak menyurutkan langkah gw. Toh, kata Pak Dokter, beliau masih on-call di sana.

Tapi, lantaran Pak Dokter sekarang prakteknya di Brawijaya Women & Children Hospital, gw jadi mempertimbangkan rumah bersalin baru ini sebagai pilihan kedua (hehehe.. kayak Proyek Perintis, Sipenmaru, UMPTN SPMB aja, ada pilihan I & II ;-)). Plan B. Takutnya, Pak Dokter nggak bisa datang cepat ke Medistra lantaran lagi praktek di Brawijaya. Kan nggak lucu kalau gw udah bukaan 10 terus nggak boleh mengejan karena dokter belum datang ;-). Kayak waktu melahirkan Ima, bidannya sampai panik gara2 dokternya kejebak pawai kemenangan pasca pemilu 1999, sementara gw udah bukaan 10 ;-)

Ditambah lagi.. gw dapat rekomendasi dari teman sekantor bahwa tempat ini bagus, masih baru, dan masih kasih ”harga bersaing”. Walaupun bertempat di lokasi elit Jakarta, harganya masih wajar. Kalau saja ini sebuah warung steak, mottonya mungkin: rasa bintang lima, harga kaki lima ;-)

So, dengan semangat 45, gw kemarin browsing membandingkan harga antara Plan A dan Plan B. Kan nggak sampai sebulan lagi melahirkan, maka gw udah mesti punya rencana yang jelas dong ;-) Lagipula, walaupun asuransi dari kantor mencakup pula biaya melahirkan, tetap saja gw harus berhitung. Berdasarkan pengalaman teman yang istrinya melahirkan tahun lalu, ada klausul2 kecil dalam polis asuransi yang harus diperhatikan.

Di antara klausul2 kecil itu adalah: walaupun anak yang dilahirkan ter-cover asuransi sejak nol hari, tapi... selama dia belum keluar rumah sakit, maka dia belum dianggap ”ada” oleh asuransi. Maksudnya.. segala biaya yang keluar untuknya ”dibebankan” pada plafon ibunya, karena yang melahirkan adalah ibunya. Itu impact-nya besar, karena kamar rumah sakit umumnya membedakan antara biaya kamar (perawatan) ibu dan biaya kamar (perawatan) bayi. Jadi.. kalau misalnya plafon harian biaya kamar gw adalah X rupiah, kalau masuk rumah sakitnya adalah dengan agenda melahirkan, maka plafon harian kamar gw disunat menjadi X-Y rupiah, dimana Y merupakan biaya kamar (perawatan) bayi.

*sampai di sini gw beruntung bahwa gw bukan kucing yang sekali beranak bisa 4 ekor. Bayangin kalo plafon kamar gw X – 4Y.. hehehe.. bisa tekor, bow!*

Begitu perhitungannya, kecuali kalau begitu mbrojol tuh anak langsung diajak check out dari rumah sakit, dan baru check in lagi sebagai entity baru ;-) Tapi, emang ada ibu2 yang baru melahirkan langsung check out lantas check in lagi? Sekali lagi, gw kan bukan kucing yang kalo beranak anaknya mesti dipindah2 sampai 7x.. hehehe..

Semangat 45 gw mem-browsing ternyata malah bikin gw tambah pusing ;-). Bukan pusing mencongak, kalau itu sih gw masih lumayan lah, kan bisa dibantuin sama Microsoft Excel. Tapi.. gw jadi pusing melihat DIGIT biaya persalinan.. hehehe.. Gila, digitnya banyak, dengan nol berderet ke belakang. Duit semua tuh? Nggak bisa dibayar pakai daun sebagian?

Gw nggak tega memindahkan angka2 itu ke dalam blog gw.. hehehe.. jadi kalau berminat window shopping, monggo dilihat sendiri. Daftar menu paket normal di Brawijaya WC Hospital bisa dilihat di sini. Kalau paket spesial pakai iris2 pisau bedah ada di sini. Yaaah.. kira2 harga bayi paket normal yang paling murah sama lah, dengan satu smart phone. Kalau pakai paket spesial pakai iris2 harga termurah bisa dapat satu motor Honda.. hehehe.. Itu juga kalau ”tega” sama si bayi dilahirkan di kelas yang paling rendah.

*you know lah.. di sini kan pelayanan rumah sakit berbanding lurus dengan tingginya kelas. Wong yang di kelas tinggi aja sering keleleran, apalagi yang di kelas bulu*

Kalau harga di Medistra nggak pakai paket2an, boleh dilihat di sini. Mereka menerapkan unsur “calistung-wow”: silakan baca sendiri, tulis2 di kertas, berhitung, dan... WOW! Kaget baca jumlahnya ;-) Yaaah.. kalau soal jumlah, temen gw bener lah! Setali tiga uang antara Brawijaya dan Medistra.

Eh, angka2 ini boleh dilihat sebagai wacana buat yang belum pada nikah atau belum punya anak, biar lebih prepare. Prepare, maksudnya menyiapkan barang2 apa aja yang bakal dijual kalau memutuskan punya anak kelak.. HAHAHAHA.. atau buat bahan pertimbangan biar nggak sembarangan bikin anak. Bikinnya sih emang enak.. tapi.. ngeluarinnya, bow, mesti banyak pertimbangan ;-)

Banyak anak banyak rejeki memang bener.. hehehe.. Tapi bukan berarti [yang punya] banyak anak [identik dengan] banyak rejeki. Antara yang punya banyak anak dengan yang punya banyak rejeki itu korelasinya tidak tinggi, kalau nggak bisa dibilang negatif.. hehehe.. Peribahasa itu baru benar kalau yang banyak anak adalah orang lain, dan kita pemilik rumah bersalinnya ;-)

Anyway.. setelah berhitung, gw jadi mempertimbangkan usul Umminya Ankaa untuk melahirkan di Malang aja. Biaya melahirkan plus naik pesawatnya ke sana dihitung2 masih lebih murah daripada melahirkan di Jakarta.. hehehe.. Tapi kan gw udah gak boleh terbang ya? Lagian, kalau boleh terbang, ngapain cuma sampai Malang doang? Mending ikutan ke Hongkong sekalian.. hehehe..

Tuesday, March 25, 2008

Dark Justice

Gw punya banyak ID di dunia maya ;-)

Saking banyaknya ID gw, ada beberapa orang yang kenal gw dengan 3-4 ID berbeda. Malah, ada yang pernah ketipu juga dengan 2 ID gw yang berbeda.. hehehe.. Maklum, waktu itu ID yang satu muncul dengan gaya bitchy, sementara yang satunya lagi dengan gaya manis ;-)

*padahal kalau di-cek IP Address-nya sih sami mawon, wong gw emang nggak berniat menutupi identitas ;-)*

Tapi, kalau nulis di blog, gw memilih dengan nama asli. Kenapa?

Bukannya gw sok ngetop.. hehehe.. Gw tahu kok, bahwa dengan mencantumkan nama asli dalam jagad maya yang kejam ini membuat blog gw vulnerable ;-) Bukan cuma admirers yang bakal dengan gampang menemukannya, tapi juga haters dan hujatters;-) Bukan cuma sesama blogger yang bakal menemukan gw, tapi orang2 yang kenal gw di dunia nyata juga bisa gampang mencuri baca apa yang gw tuliskan. Resikonya jelas lebih besar: gw mesti super hati2 menuliskan kisah ataupun sedikiiit nyerempet tentang mereka, dan siap2 jadi bahan gosip di belakang ;-). Lha wong gw aja beberapa kali ngelihat ada orang2 kantor lagi asyik baca blog gw.. hehehe.. Biarpun buru2 ditutup kalau gw lewat, tapi warna blog yang pink dangdut ini terlalu obvious untuk hilang dari layar begitu saja ;-) Dan mungkin2 aja ada yang tersinggung kisahnya diserempet di blog ini, biarpun kalau mengenai orang2 yang gw kenal di dunia nyata gw hati2 banget memilih angle, dalam hati siapa tahu kan? Persepsi orang kan beda2. Apalagi mereka kan hanya mencuri baca, sehingga pasti nggak enak untuk mengklarifikasi terang2an kalau rada2 tersinggung ;-)

Still, gw ngerasa harus nulis pakai nama asli di blog, karena blog adalah the closest to my childhood’s dream: jadi penulis seperti Laura Ingalls Wilder, yang kisah2 hidupnya diramu menjadi tulisan bagus ;-) Biar cuma nulis di blog doang, setiap tulisan yang gw hasilkan adalah dari pemikiran gw. Karya cipta gw dari mengamati, menganalisa, dan menuangkannya dalam bentuk tulisan. Gw mau tulisan gw dihargai sebagaimana mestinya, dan langkah pertama supaya orang menghargai tulisan gw adalah menunjukkan bahwa gw menghargai tulisan gw sendiri: dengan mencantumkan nama asli. Dengan demikian, orang tahu bahwa setiap entry ditulis dengan reputasi (tsah!) gw sebagai jaminannya ;-) Dan sedapat mungkin, sebelum menuliskan apa2, gw melengkapi dulu dengan bahan bacaan secukupnya serta landasan berpikir yang kuat. Supaya tulisannya nggak ngawur dan bisa gw pertahankan ;-)

Dalam rangka menghargai tulisan gw sendiri pula, gw [meminjam komentar Intan di sini] do take bad arguments or questions seriously ;-) Lha wong blog gw tidak dimaksudkan sebagai sekedar online diary jenis oh-today-I-washed-my-hair kok ;-). Jadi semua komentar juga gw tanggapi serius, no matter how bad the argument is. Kecuali kalau komentarnya berupa kata2 porno atau jorok atau promosi online. Kalau jenis itu, tanpa pandang bulu pasti gw delete dan penulisnya di-banned ;-)

Yang gw harapkan hanya satu: kalau ada tulisan gw yang dianggap menarik dan memberikan manfaat, please jangan lupakan bahwa itu juga karya cipta gw. Silakan kutip, silakan pakai, tapi jangan lupa sebutkan sumbernya ;-). Untuk soal konsep dan pemikiran, gw gak pelit, kok! Buat gw ide/konsep itu adalah ilmu; dan ilmu akan lebih baik jika dibagikan ke sebanyak-banyaknya orang (yaaah.. anggaplah ini sisa2 pure blood gw, atau upaya menebus ke-squib-an gw ;-)).

***

Berkaitan dengan itu, gw paling prihatin kalau dengar/baca kasus2 seperti yang dialami Mas Iman atau si Mbot ini. Isi blognya dikutip semena2 tanpa menyebutkan sumbernya!

Di kasus si Mbot rasanya masih agak lumayan. Biarpun nggak disebut nama penulis aslinya, setidaknya si pengopi-pasta tidak menafikan bahwa ada seseorang di luar sana yang punya hak cipta terhadap tulisan tersebut. Kategorinya, menurut gw, belum plagiat. Paling jauh bisa dianggap masuk copyright infringement (a.k.a copyright violation), yaitu:

the unauthorized use of material that is covered by copyright law, in a manner that violates one of the original copyright owner's exclusive rights, such as the right to reproduce or perform the copyrighted work, or to make derivative works.

Meskipun cuma muncul di majalah gratisan, tapi.. majalah gratisan itu bukannya punya profit juga ya ;-)? Cuma profitnya nggak diambil dari penjualan majalahnya, melainkan dari hal2 lain. Jadi, menggunakan tulisan orang lain untuk mendapatkan keuntungan, itu udah termasuk copyright violation kan ;-)?

Yang telak adalah pengalaman Mas Iman: tulisannya dicuri untuk masuk sebuah buku yang jelas2 dijual dan [secara tidak langsung] diakui oleh si penulis buku sebagai karya sendiri! Wah, wah, wah.. kalau yang ini, menurut gw sih sudah masuk kategori plagiarism, yang dosanya lebih besar daripada copyright violation:

the practice of claiming or implying original authorship of (or incorporating material from) someone else's written or creative work, in whole or in part, into one's own without adequate acknowledgement

[masukin sound effect dikit biar dramatis: petir menggelegar, gunung meletus mengeluarkan lahar, bumi terbelah, dan terdengar sebuah suara entah dari mana asalnya, “Bertobatlah! Atau azab Tuhan jatuh padamu!”]

And you know what?

Pelakunya punya gelar MBA dari Taiwan, S2 Teknik Sipil, sekaligus sudah mengambil pendidikan S2 Teologi, Magister Hukum, plus PhD dan ScD Manajemen Teknologi. Banyak banget ya, gelarnya? Hehehe.. Jadi mikir, gelar sebanyak itu belinya dimana ya? Apa ada paket hemat beli 1 dapat 3? Atau.. thesisnya siapa saja yang diplagiati? apakah saking tekun belajarnya untuk mendapat gelar2 tersebut si bapak ini jadi lupa belajar tentang copyright infringement dan plagiarism ;-)?

OK, lah, seandainya itu hanya “kekhilafan” semata mungkin nggak masuk waktu mata kuliah copyright infringement dan plagiarism saat ngambil Magister Hukum. Tapi kalau baca komentar Mas Iman di tulisan selanjutnya, kok timbul kesan nggak ada niat untuk memperbaiki kekhilafan? Atau memang segitu khilafnya, sampai khilaf nggak baca surat dan email juga ;-)?

Yaah.. gw sih cuma bisa ikut prihatin sambil nyilet2 si pelaku sedikit2. Sekaligus berdoa supaya gw nggak mengalami nasib yang sama. Sambil googling takut kalau ternyata gw sudah mengalami nasib yang sama tapi gak tahu ;-)

*iya, gw emang multi-tasking. So what ;-)?*

Tapi.. untuk jaga2, gw mau mengingatkan aja sama orang2 yang punya sedikiiiiit niat untuk jadi plagiat. Ingatlah kata2 tokoh film seri TV awal 90-an ini:

As a cop I lost my collars to legal loopholes, but I believed in the system. As a D.A. I lost my case to crooked lawyers, but I believed in the system. As a judge my hands were bound by the letter of the law, but I believed in the system. Until they took my life away.

Then I stopped believing in the system and started believing in justice

(Judge Nicholas Marshall, in Dark Justice)

Tokohnya, Judge Nicholas Marshall, punya “nama pagi dan nama malem” ;-) Maksudnya suka main Pok Ame-ame gitu: siang jadi hakim [who believes in the system] kalau malam jadi preman [who believes in justice].

Justice may be blind.. but it can see in the dark”... ;-)

*habis ini gw mau menggelar ajang seleksi Organisasi Massa yang bisa diajak join mengganyang plagiat, in case legal system fails ;-) Daripada kerjaannya cuma sweeping atau keliling kota bikin macet, kan mendingan potensi mereka digunakan untuk hal2 yang berguna ;-)*

Thursday, March 20, 2008

The Overlook: Sorry, Haters!

Pada awalnya, gw rada2 kecewa baca novel terbaru Michael Connelly: The Overlook. Rasanya seperti baca atau nonton media massa Barat yang seringkali mendiskreditkan Islam dan Muslim. Seolah2 yang namanya Muslim dan Islam itu identik dengan terorisme.

Bagaimana tidak? Dari bab2 awal, sudah ada korban selamat yang bersaksi bahwa pelaku penyanderaan bicara dalam bahasa Timur Tengah, dan kemudian memanggil temannya dengan nama Arab. Lantas, ditemukan saksi pembunuhan yang mendengar teriakan “Allah” saat korban dieksekusi. Kalau nggak ingat bahwa Michael Connelly biasanya membuat plot cerita yang bagus, dan gak sayang dengan beberapa puluh ribu yang baru saja gw relakan untuk menebus buku ini dari toko, udah gw tutup tuh buku ;-)

Memang, gw udah cukup sebal menonton prejudice seperti ini. Nggak kurang dari film seri TV Heroes pun sempat memuat prejudice yang sama. Waktu beli DVD bajakan Season 2 lalu, kebetulan ada bonus “unaired pilot episode”. Di situ ada bagian cerita yang gak ditayangkan tentang saat pertama Matt Parkman menyadari keistimewaannya di Season 1. Kalau di versi tayangnya, kan si Parkman ini pertama menyadari kemampuannya mendengar pikiran orang saat menyelamatkan si gadis kecil Molly. Naah.. ternyata, di versi yang tidak ditayangkan, adegan itu berupa Parkman mendengar pikiran seorang teroris (yang tentu saja digambarkan sebagai Arab Muslim lengkap dengan segala atribut keislaman, seperti sajadah, peci haji, dan jenggot panjang) yang sedang bersembunyi. Mungkin adegan itu kurang gampang dikembangkan dalam alur cerita selanjutnya, kali ya, makanya lantas diganti dengan seorang Molly yang ternyata punya kemampuan istimewa juga.

Tapi untungnya, Connelly memang penulis yang asyik punya ;-) Seperti biasa, di akhir cerita, dia membuat twist alur yang tidak terduga. Dan apa yang dari awal tampak sebagai prejudice justru berbalik arah 180 derajat.

[AWAS SPOILER]

Dengan manisnya, Connelly membalikkan cerita: ternyata justru orang2 Arab itu dijebak oleh “orang dalam” FBI. Alasan penjebakannya nggak penting; karena si FBI ini punya affair dengan istri si korban. Dan paling enak memang menjebak orang2 yang reputasinya sudah buruk, karena kalau pun mereka mengelak, tidak akan ada yang percaya. Atau setidaknya, akan sedikit sekali yang percaya ;-) That’s the power of collective prejudice kan ;-)?

Dan kata “Allah” yang didengar oleh si saksi? Well.. di sini juga dengan manis Connelly menyampaikan pesannya tentang “We usually hear what we want to hear, not what is really said” ;-). Dalam gelap dan jarak yang jauh, kecil kemungkinan sang saksi memastikan siapa yang berteriak. Dia hanya mendengar kata yang mirip “Allah”, dan kemudian si interogator – karena sudah ada indikasi bahwa ini adalah kerja teroris Muslim – menginterpretasikan sebagai “Allah”. It turns out, after deeper exploration and analysis, bahwa yang didengar justru kata2 terakhir si korban; yang menyebut nama istri yang dicintainya, Alicia. Kata “Alicia”, tercampur dengan bunyi tembakan, get it?

[SPOILER SELESAI]

Akhir cerita menjadi menarik buat gw, karena ternyata Connelly belum berubah menjadi temannya Geert Wilders. Dan menarik sekali caranya membalikkan cerita, yang secara tidak langsung mengingatkan kita akan bahaya prejudice.

Cerita Connelly ini tak urung mengingatkan gw pada sebuah film bagus yang gw tonton sekitar setahun lalu: Sorry, Haters!

Mirip buku terbaru Connelly, film ini juga awalnya kental dengan penggambaran miring tentang seorang supir taksi Syria di New York. Secara tidak langsung, film ini menggiring kita untuk mempercayai bahwa supir taksi ini adalah anggota jaringan Al Qaeda. Mulai dari cerita bahwa si Arab ini adalah seorang ahli kimia di negerinya, lalu adanya ancaman bom, .. segala gerak-gerik si supir taksi mengindikasikan dia sedang merencanakan sebuah serangan lagi pasca 9/11.

Sampai kemudian, secara tak terduga, plot dipelintir di tengah cerita.

Dan kemudian, di akhir cerita, terjadi akhir yang lebih tidak terduga lagi.

Gw nggak mau kasih spoiler tentang ceritanya ;-) It’s such a very good movie, highly recommended to watch ;-) Yang bisa gw ceritakan adalah: seperti dalam buku Connelly di atas, mata gw jadi lebih terbuka lagi tentang bahayanya prejudice. Bagaimana di akhir cerita si supir taksi meninggal dengan bukti tak tersangkalkan bahwa dialah pelaku pemboman, sementara sesungguhnya dia hanya korban, menjadi suatu kejutan menarik. Sekaligus menjadi pesan moral bahwa what you see is not always what you get ;-) Dan bahwa kadang kita terjebak mengira bahwa what we see is what we get justru karena kita sudah punya prejudice sebelumnya. Prejudice yang menghalangi kita untuk melihat apa yang tidak terlihat. Menghalangi kita untuk mengingat dalil Sherlock Holmes yang terkenal:

“How often have I said to you that when you have eliminated the impossible, whatever remains, however improbable, must be the truth?”

Gimana kita mau mengeliminasi yang impossible, kalau penglihatan kita terhadap yang impossible itu terkabutkan oleh prejudice?

Aaaanyway.. setelah membaca The Overlook dan menonton Sorry, Haters!, gw merasa nggak perlu terlalu khawatir akan tingkah polahnya Geert Wilders ;-) Mau bikin film seperti itu ya sudah. Nggak usah dibunuh seperti Theo van Gogh ;-) Cukup bikin lebih banyak lagi buku2 seperti The Overlook atau film2 seperti Sorry, Haters! sebagai penyeimbang.

Gimana ;-)? Orang2 Indonesia ada yang mau bikin film untuk menandingi film Meneer Wilders ini ;-)? Kan udah pengalaman bikin film Ayat-ayat Cinta.. HAHAHAHA..

Saturday, March 15, 2008

[Still] On AAC: Curiousity Kills the Cat

Ya, ya, gw tahu pepatah bahwa curiousity killed the cat. Apa daya, gw memang catwoman, jadi.. curiousity always gets the better of me ;-)

Dan demikianlah, atas nama keingintahuan, akhirnya.... gw nonton film Ayat-ayat Cinta! Cabut teng-go dari kantor kemarin sore, dan masih kebagian karcis film yang mulainya setengah jam setelah jam pulangnya kantor gw :-)

Well.. filmnya sih nggak bagus2 amat juga. Masih ada kesan sinetron di sana-sini yang [to be fair] tidak diakibatkan oleh novelnya yang memang sinetron-wanna-be. Jujur, peran pekerja filmnya (Produser? Penulis skenario? Sutradara?) juga punya andil memasukkan unsur2 sinetron baru di film adaptasi ini ;-) Tapi... overall.. gw berpendapat film ini lebih bagus daripada bukunya :-)

Lebih bagusnya film ini dimana dibandingkan dengan bukunya? Ada dua hal yang menyebabkan gw berpendapat demikian, yaitu: secara umum penokohan (dan logika yang ada di balik perilaku mereka) lebih kuat, dan.. tema dakwahnya lebih sedikit tapi fokus.

Yup, gw mesti mengoreksi respons gw terhadap komentar Vany kemarin.. hehehe.. Ternyata film ini nggak terlalu berlebihan kalau dibilang film dakwah. Tapi memang apa yang didakwahkan tidak sebanyak seperti di novelnya. Bahkan tema dakwah utamanya mungkin beda jauh dengan novelnya, tapi tetap ada nilai dakwahnya dan IMNSHO (= in my not so humble opinion) lebih fokus serta membumi.

Dua tema dakwah yang [menurut gw] diusung dalam film ini adalah: being a good Moslem adalah lebih dari sekedar rajin ibadah/hafal ayat suci/hadis, serta bahwa seluruh mahluk Tuhan itu sama terlepas dari apa pun agamanya.

How to be a good Moslem yang lebih dari sekedar menghafal kitab suci dan rajin beribadah itu terlihat dari perilaku serta interaksi antara Fahri dan Aisha. Fahri yang mahasiswa S2 Al Azhar, tapi akhirnya lulus University of Life setelah dipenjara dan merasakan sulitnya hidup berpoligami. Di penjara, sosok Fahri digambarkan jauh lebih manusiawi; walaupun dia seorang mahasiswa Al Azhar, dia tetap saja bukan Nabi Yusuf AS yang tidak punya rasa putus asa. Ada masa dimana ia bertanya apa salahnya hingga Tuhan memberinya nasib seperti ini, sampai seorang penjahat (yang dari tampangnya lebih kriminal daripada Fahri ;-)) mengingatkannya.

Menurut gw sih ini dakwah yang bagus; menjadi Muslim yang baik itu bukan berarti suci tak bernoda yang dapat nasib apa saja selalu sabar dan tawakal, tanpa bertanya dan putus asa sama sekali. Menjadi Muslim yang baik itu adalah berhasil mengalahkan rasa putus asa dan pertanyaan itu, tetap berhasil kembali yakin bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkannya. Tuhan memang Maha Membolak-balik nasib umatnya, tapi.. yang membedakan seorang umat dari umat yang lainnya adalah bagaimana dia menghadapi pembolak-balikan nasibnya yang sangat bisa membuat keyakinannya goyah tersebut.

Dan itulah Fahri yang digambarkan di film ;-) Bukan Fahri di buku yang sempat bikin gw berhipotesa bahwa jangan2 dia baru bebas kalau ada pembesar Mesir yang bermimpi melihat tujuh ekor sapi mellow kurus melahap tujuh ekor sapi tambun ;-)

Personally, gw juga suka bahwa yang mengingatkan Fahri adalah sesama teman satu sel yang bertampang kriminal. Buat gw, itu sebuah pesan juga bahwa tidak ada yang sepenuhnya hitam dan tidak ada yang sepenuhnya putih dalam hidup manusia. So theatrical ;-)

How to be a good Moslem juga tergambar dari Aisha. Aisha di film ini bukan Aisha si gadis super-salehah di novel, melainkan Aisha yang bisa cemburu, bisa sedih, namun berhasil kembali mengatasinya for the greater good. Aisha yang merelakan suaminya nikah lagi, bukan sekedar supaya si gadis bisa disentuh, bangun, dan menjadi saksi kunci yang membebaskan suaminya dari hukuman mati. Melainkan karena juga tahu bahwa suaminya memang jatuh cinta pada Maria. Manusia yang bisa menerima dengan logis bahwa membiarkan Fahri menikahi Maria adalah for the greater good bagi semua orang (termasuk bayi dalam kandungannya), namun tetap saja manusia biasa yang cemburu serta punya 2nd thought.

Beberapa blogger menggambarkan Aisha di film sebagai sombong. Tapi gw sih melihatnya nggak sombong ;-) Aisha terlihat lebih “perih” aja, dan itu manusiawi. Dan apa yang dikatakan sombong dengan membelikan Fahri komputer baru, gw kok melihatnya lebih sebagai pengejawantahan ke-Jerman-annya. Di novel, sisa didikan Jerman sama sekali nggak terlihat pada tokoh Aisha. Hal ini membuat gw merasa aneh, karena seumur2 toh Aisha dibesarkan dalam budaya Jerman, mosok gak ada sisanya? Justru, di film ini sisa ke-Jerman-an Aisha lebih terlihat dalam bentuk ke-saklek-annya dan kurang memperhatikan perasaan orang lain dalam mengambil keputusan yang dianggapnya benar ;-)

Satu pujian buat Rianti Cartwright: menurut gw anak ini benar2 bisa bicara dengan matanya ;-) Dengan wajah tertutup cadar, matanya bicara banyak. Perubahan ekspresi ketika cemburu melihat Fahri membantu Maria berjalan, atau ketika pamit dari Fahri karena butuh waktu untuk sendiri, terlihat jelas walaupun hanya mata yang tidak tertutup cadar ;-)

Bicara tentang kisah cinta Maria & Fahri, menurut gw ini adalah satu plot besar yang secara signifikan merangkai logika & penokohan dalam kisah ini.

Kisah cinta ini tidak digambarkan gamblang, namun muncul dalam bentuk kata2 dan adegan2 yang subtle; Fahri yang terpesona-tapi-ragu-menatap Maria ketika gadis itu membacakan Surat Maryam di Metro, Fahri yang mengatakan pada Aisha, “.. Komputer itu kenanganku bersama teman-temanku, bersama Maria..”, yang menatap mesra Maria seusai menikahinya.

Dan sebaliknya, Maria yang kehilangan daya hidup sedikit demi sedikit, hingga akhirnya terlalu linglung untuk menyadari mobil yang melintas, juga terlihat mencintai Fahri.

Somehow, terasa sekali bahwa hati Fahri sebenarnya memilih Maria. Namun, ia sendiri yang menarik garis pemisah tak mungkin menikahi Maria. Mungkin karena Maria itu Kristen Koptik? Dan mungkin seperti banyak Muslim lainnya, Fahri termasuk yang mempertanyakan apakah itu termasuk Ahli Kitab atau bukan? Sehingga akhirnya Fahri memilih Aisha karena gadis itulah yang datang padanya.

Keputusan ini memang cocok untuk diambil Fahri, jika memperhatikan penokohannya sejak awal film: cowok yang fasih menjelaskan tentang hadis dan ayat Al Quran pada Alicia, on cognitive level, tapi bisa panik kalau komputernya kena virus dan bingung sendiri terima surat cinta. Cowok pintar tapi lugu.. hehehe.. yang gamang dalam menghadapi perbedaan dunia ideal (yang dipelajarinya dari agama) dan dunia nyata. Naive and indecisive, seperti yang gw tangkap saat membaca novelnya ;-)

So, yang menarik buat gw, Fahri memang torn between two lovers. Antara istri yang dipilihnya atas nama Tuhan dan agama (gadis Muslim yang shaleha dan dijodohkan dengannya), serta gadis yang dipilih hatinya (namun tidak pernah diduganya akan berjodoh dengannya karena perbedaan mereka). Antara cinta dan “cinta”. Torn between two lovers, feeling like a fool; loving both of you is breaking all the rules... ;-)

Dan.. menurut gw, ini satu tema dakwah lagi yang diusung secara tidak langsung: bahwa manusia, apa pun agamanya, sebenarnya sama. Buktinya, walaupun dihindari, Tuhan tetap membuat Maria & Fahri berjodoh. Memang, yang membedakannya di hadapan Tuhan adalah kualitas keimanan, begitu toh, katanya ;-)? Dan kualitas keimanan itu tidak ditentukan sekedar dengan agamanya apa, apakah dia shalat atau tidak, apakah dia berpuasa atau tidak.

Gw lebih senang melihat proses meninggalnya Maria di film ini. Ia meninggal setelah mengatakan menyadari perbedaan antara mencintai dan ingin memiliki. Tanpa ia sendiri mungkin sadar bahwa yang dimilikinya adalah cinta, bukan sekedar rasa ingin memiliki Fahri. Dan justru karena kerelaannya, keikhlasannya inilah, Maria meninggal dengan “nikmat”; saat sedang shalat.

Meninggalnya Maria di sini menjadi lebih bermakna; dia tidak ujug2 conveniently died setelah served the purpose membebaskan Fahri dari hukuman mati ;-). Dan gw senang bagian tentang Maria “diusir” dari berbagai pintu surga (Babur Rayyan, Babur Rahmah, dll) karena dia tidak mengikuti “jalan Muhammad” dihilangkan dari film ini. Waktu baca novelnya, gw sempat punya pikiran iseng gini, “Kalau ditolak2 terus, cari pintu surga berikutnya aja, Mar, yang dijaga sama Santo Petrus. Persyaratan masuknya beda kok!”.. hehehe..

Ngomong2 soal kisah cinta, gw jadi ngerti kenapa syair OST-nya berbunyi begini:

maafkan bila ku tak sempurna
cinta ini tak mungkin ku cegah
ayat-ayat cinta bercerita
cintaku padamu

bila bahagia mulai menyentuh
seakan ku bisa hidup lebih lama
namun harus ku tinggalkan cinta
ketika ku bersujud

Benar2 di-plot bahwa kisah cinta yang ada sebenarnya adalah antara Fahri & Maria, bukan Fahri & Aisha seperti yang diidolakan orang, atau ketertarikan antara Fahri & Nurul seperti yang digambarkan dalam buku.

Bait terakhirnya, mungkin menggambarkan Maria yang [merasa harus] meninggalkan cinta di akhir hidupnya, ketika ia sudah “insyaf” bahwa dirinya adalah orang ketiga walaupun sangat mencintai Fahri. Atau.. mungkin juga justru bait ini menggambarkan perasaan Fahri pada Maria? Bahwa dia mencintai Maria, tapi karena keyakinan yang memisahkan mereka, ia harus memilih meninggalkan Maria. Ketika kubersujud menggambarkan Fahri yang melihat rumah tangga sebagai “ibadah”, yang dengan demikian sulit dibangunnya bersama Maria?

***

Tentu saja, seperti gw tulis di atas, film ini tidak bebas dari kesan sinetron yang ke-India2-an ;-). Ada bagian2 yang bikin gw gemes juga sih.. hehehe.. seperti saat Fahri mengatakan akan minta tolong temannya di dinas intelijen (?) Mesir mencarikan orang tua kandung Noura. Wiiiih.. sakti bener nih mahasiswa, punya teman dinas intelijen.. hehehe.. Tapi herannya, tuh teman yang dinas intelijen gak berkutik ketika Fahri dipenjara. Sampai2 hanya Maria yang dapat menolongnya ;-)

Terus.. gw juga gak sreg dengan adegan Maria bebas keluar masuk apartemen Fahri. Biar gimana juga, ini kan apartemen mahasiswa Al Azhar di Kairo, bukan di Margonda ;-) Seliberal2nya mereka, gw nggak yakin bisa sebebas ini. Apalagi adegan Fahri dan Maria berdua2an di tepi Sungai Nil, waduuuh... gak mungkin banget deh ;-)

Yang terasa menganggu juga Aisha yang langsung tanya sama pamannya apakah kenal Fahri setelah perjumpaan pertama. Soalnya, perjumpaan pertama itu standard aja. Rasanya aneh kalau Aisha langsung jatuh cinta sama Fahri. Beda kalau kemudian pertanyaan itu terbentuk setelah beberapa kali bertemu, mendengarkan Fahri menjelaskan agama pada Alicia.

Daaaan... yang paling sinetron-wanna-be tuh.. adegan terakhir di pengadilan. Noura tiba2 bisa teriak bahwa Bahadur yang salah (iiih.. teriak2 di pengadilan, bukannya bisa dibilang contempt of the court ya ;-)?), tapi hakim diam saja, dan malah Fahri bisa menenangkan Noura dari kerangkengnya. Beuuh! Sinetron kaleee ;-) Apalagi kemudian Noura peluk2an dengan ortunya dan massa mengejar si Bahadur. Grrrh...

Terakhir.. adegan penegasan dari “arwah” Maria bahwa jodoh Fahri yang sebenarnya adalah Aisha terasa menganggu. Kayaknya dibuat untuk memenangkan hati para perempuan bahwa at the end istri tua selalu menang.. hehehe.. Tapi gak papa deh, kadang2 dalam membuat suatu karya kita harus agak “melacur” sedikit untuk menyenangkan hati penonton ;-)

Still, dengan segala kelemahannya itu, menurut gw sih filmnya sedikit lebih OK daripada bukunya. Sebagai karya seni :-)

Cuma.. memang gw jadi ngerti kenapa para pecinta novel Ayat-ayat Cinta kecewa pada filmnya. Mereka mungkin berharap menemukan dakwah Islam yang kental dan konservatif (walaupun dibungkus dengan gaya bercerita modern) dalam film ini. Sebaliknya, yang mereka dapatkan adalah dakwah yang tidak terlalu kental, bersifat lebih subtle, lebih toleran, serta cukup umum sebagai konsumsi non-Muslim juga. Tema dakwah yang lebih sekuler ;-)

Ibaratnya.. datang ke bioskop untuk menonton film dengan gaya ceramah KH Zainuddin MZ atau Hj Luthfiah Sungkar, eeh.. yang main malah gayanya Emha Ainun Nadjib atau Nurcholish Madjid.. hehehe.. Beda preferensi aja, tapi nggak heran kalau jadi mengecewakan ;-)

Monday, March 10, 2008

Ada AAL di AAC

Pernah dengar cerita Ande-ande Lumut? Itu dongeng di Jawa. Menurut versi yang diceritakan Ibu waktu gw kecil, ceritanya tentang seorang pemuda tampan, anak Mbok Randha (Janda) Dhadhapan, yang menunggu pinangan seorang gadis. Dia duduk aja di kamarnya, nggak mau keluar, kecuali jika nanti calon istri yang meminangnya benar2 istimewa. Susahnya, nggak ada satu pun peminang yang bikin Ande-ande Lumut sreg, karena dia gak mau dapat istri yang bibirnya second hand ;-) Memang, untuk mencapai rumah tersebut, para gadis yang berminat jadi istrinya harus menyeberangi sungai yang dalam dan berarus deras. Sungai itu dijaga oleh seekor kepiting raksasa, Yuyu Kangkang, yang berjiwa bisnis: mau membantu para gadis menyeberang, tapi.. cipok dulu dong ;-)

Yuyu Kangkang baru gak berkutik ketika Klenthing Kuning menolak dicium. Malah mengancam akan mengeringkan sungai dengan menyudet (= mengalihkan aliran) sungai. Dan si Yuyu memang berjiwa bisnis: sekali ini bolehlah ngasih fasilitas nyebrang gratis, daripada ngeyel dan malah kehilangan mata pencarian ;-)

Dulu.. waktu Ibu mendongengi kisah ini, gw bukannya respek sama Klenthing Kuning yang pandai menjaga [kehormatan] diri, dan sebagai reward-nya mendapatkan ”pria idaman” sebagai suami. Gw justru ilfeel sama Ande-ande Lumut yang menurut gw belagu: udah gak mau ”jemput bola”, eeeh.. persyaratannya macem2 lagi! Emangnya siapa loe ;-)?

***

Ande-ande Lumut versi modern yang cocok dijadikan sinetron religi.

Itu kesan pertama gw ketika membaca Ayat-ayat Cinta beberapa hari lalu. Yup! Setelah sekitar setahun ngakunya nggak tertarik baca novel tersebut, akhirnya gw tergelitik juga. Ini gara2 di jagad blogosphere ketemu berbagai versi review film yang katanya gagal mengangkat novel luar biasa ini menjadi versi layar lebar. Gw jadi penasaran ingin tahu seberapa luar biasanya sih novel ini. Seberapa luar biasanya tokoh Fahri yang konon kabarnya mendekati sempurna ini.

Dan komentar gw setelah baca novelnya.. well, mungkin bukan pekerja filmnya yang gagal mengangkat buku ini ke layar lebar sehingga kelihatan [meminjam kata2 seorang blogger] seperti sinetron. Tapi.. sebagai buku, alur ceritanya memang Jakarta-Bogor dengan sinetron. Malah mungkin Jakarta-Bojonggede, atau Jakarta-Depok.. hehehe..

Don’t get me wrong!

Sebagai media dakwah, gw akui buku ini memang bagus. Nilai2 Islam disampaikan dengan cerita yang ringan, dengan konteks kehidupan sehari-hari, tanpa berkesan menggurui. Dibandingkan dengan gaya dakwah konvensional yang penuh ancaman siksa neraka dan bertobatlah-atau-azab-Tuhan-akan-datang-padamu, buku ini jelas lebih bagus. Pendekatan dakwahnya positif, bukan negatif. Mengutamakan tentang reward yang akan didapat jika mengikuti ajaran-Nya, bukan punishment yang akan dijatuhkan jika melakukan larangan-Nya.

Tapi.. ya mungkin karena terlalu bersemangat berdakwah itulah penceritaannya menjadi lemah. Penceritaannya dipaksakan pas dengan tema dakwahnya, sehingga seringkali mengesampingkan logika. Entah dalam bentuk kejadian yang terlalu gampang (sehingga kurang masuk akal), atau penokohan yang ekstrim (terlalu sempurna/terlalu buruk). Mirip seperti sinetron2 Indonesia ;-)

Salah satu contoh penggampangan kejadian untuk menyesuaikan diri dengan tema dakwah adalah perbincangan Fahri & Tuan Boutros Girgis di Cleopatra Restaurant. Tuan Boutros, ayah Maria, menyuruh Maria mengajak Fahri berdansa. Tema dakwah yang gw tangkap di sini adalah tentang tidak bolehnya bersentuhan dengan yang bukan muhrim. Tema dakwahnya sih OK aja, tapi.. menjadi aneh ketika seorang Mesir yang seumur hidupnya tinggal di Mesir tidak mengetahui bahwa [sebagian] muslim percaya bahwa bersentuhan dengan lawan jenis itu haram. Padahal, menurut halaman 157, 92% penduduk Mesir itu muslim. Dan bukan sekedar muslim KTP seperti di Indonesia, jika melihat bahwa Al Quran dibaca dimana2 termasuk di dalam kendaraan umum seperti metro (hal 36).

For God’s sake, Mr Boutros Girgis is just a Christian, he’s not a moron.. hehehe.. Apakah dia begitu buta, hingga tidak memahami budaya penduduk mayoritas di sekitarnya dan harus dijelaskan oleh seorang Fahri?

Lain lagi cerita ketika Fahri dirawat di RS dan sahabatnya (tentu laki2) minta Maria menjaga selama ia pergi sarapan. Salah satu keberatan Fahri adalah:

Aku merasa ingin buang air kecil. Mas Khalid mengambilkan pispot. Tangannya meraba tanpa membuka auratku dan berusaha agar aku bisa buang air di dalam pispot. Aku tidak bisa membayangkan kalau dalam keadaan seperti ini yang ada di sampingku hanyalah Maria seperti tadi pagi. Apakah aku harus buang air begitu saja di atas kasur seperti waktu aku bayi dulu, ataukah aku akan meminta tolong padanya untuk memasangkan pispot?

(hal. 180)

Again, for God’s sake, Fahri is a post-graduate student. He’s not a moron, I assume.. hehehe.. Kalau saat Maria menjaganya dan ia ingin buang air kecil? Ya tinggal minta Maria memanggilkan perawat (laki2) saja untuk membantunya buang air. Gampang kan? Atau minta Maria memanggilkan sahabatnya yang sedang sarapan di bawah. What’s a big deal? Mosok yang begini gak terpikir oleh seorang calon Master dari Al Azhar University yang kondang itu?

Itu tadi baru hal2 yang kecil, yang berkaitan dengan tema dakwah sederhana. Apalagi untuk hal2 yang lebih besar cakupannya ;-) Sampai sekarang gw nggak ngerti kenapa Noura memfitnah Fahri. Jika ia ingin menikah dengan Fahri, bukankah lebih gampang untuk minta pada orang tuanya memaksa Fahri menikahinya? Orang tuanya tinggal memanggil Fahri, memberikan opsi menikah atau dilaporkan sebagai pemerkosa. Kenapa harus melaporkan Fahri ke polisi terlebih dahulu, yang memperbesar kemungkinan bahwa Fahri akan dihukum mati dan anak Noura lahir di luar nikah ;-)?

Kembali, sepenangkapan gw, kejadian ini dicantumkan ke dalam cerita sebagai pengantar untuk dakwah mengenai kesabaran, sebagaimana kesabaran Nabi Yusuf AS yang difitnah oleh Zulaikha. Tema dakwah yang lebih besar daripada sekedar mengatur cara interaksi perempuan – laki2 ;-)

Penokohan yang tidak kuat juga menjadi kelemahan buku ini. Dalam menggambarkan karakter manusia, Kang Abik terlalu hitam-putih. Persis seperti sinetron. Contohnya tokoh Alia, ibunda Aisha, yang digambarkan terlalu sempurna: cantik, pintar, menggenggam gelar Doktor pada usia 25 thn, menemukan 3 obat yang bisa dipatenkan, memimpin klinik, tapi selalu punya waktu untuk mengurus keluarga. Sebaliknya, tokoh ayah Aisha digambarkan sepenuhnya hitam: mencari istri muslimah karena ingin membuktikan apakah muslimah benar2 perempuan setia, menjadi muslim yang sangat baik selama ibunda Aisha hidup, dan tiba2 berbalik 180 derajat ketika menjadi duda. Lho, kemana keislaman selama 16 thn menjadi muslim yang ”sangat baik” itu? Bisakah seseorang berpura2 sedemikian lama? Atau, segitu mudahkah orang berpaling?

Belum lagi kemunculan tokoh ibu tiri Aisha yang tipikal ibu tiri sinetron Indonesia: ibu2 yang mikirin hartaaaaa melulu dan berusaha segala cara untuk mengangkangi harta tersebut. Dalam kasus ini, sampai2 merancang perjodohan putranya, Robin, dengan Aisha supaya harta keluarga gak kemana2. Sinetron banget kan ;-)? Kayak sinetron Cinta Bunga aja.. HAHAHA..

Dan.. hey, seperti gw tulis di awal tulisan ini, buku ini mengingatkan gw pada Ande-ande Lumut ;-) Ande-ande Lumut di sini adalah tokoh Fahri yang dipuja di sana-sini sebagai gambaran muslim yang mendekati sempurna.

Terus terang, gw heran dimana letak kesempurnaan Fahri sampai 4 cewek tekuk lutut di hadapannya. Bahkan bukan hanya tekuk lutut; tapi ”meminangnya” dengan berbagai cara. Nurul, si putri kyai yang sampai minta seorang ustad menyampaikan isi hati pada Fahri. Aisha, yang minta pamannya mengatur perjodohan dengan Fahri. Maria, yang usaha sendiri sampai nyaris mati merana. Dan.. Noura yang sampai berani nulis surat cinta ”menyerahkan diri” pada Fahri. "Aku ingin halal bagimu," begitu tulis Noura (tsah!)

Padahal, selain hafalan Al Quran & Hadis, serta riwayat2 lainnya, Fahri tidak terlihat istimewa. Menurut gw, dia jelas bukan pria yang bijaksana. Sebab, kalau dia cukup bijaksana, intuisinya berjalan cukup baik. Dia tidak akan memberikan tanda2 yang salah pada perempuan: seperti mengucapkan inappropriate joke di depan ibunda Maria bahwa apa sebaiknya dia berpasangan saja dengan Maria, mengingat tidak ada perempuan yang mau dengannya. Kalau dia cukup bijak, intuisinya akan berjalan dengan baik untuk menangkap sinyal2 cinta dari Maria dan Nurul.

Dan kalau dia cukup bijak, saat jatuh hati pada Nurul, he will go and get her ;-). Bukan pasrah dan berkata:

Kutetapkan tahun ini bisa menikah, tapi tidak mencari. Lho, bagaimana? Siapa tahu ada yang menawari. Kalau sampai selesai magister tidak ada yang menawari, ya berarti memang nasibku tidak menikah di Cairo dengan mahasiswi Al Azhar.

(hal. 197)

Untuk kemudian menyesali ketika baru mengetahui - kebetulan sekali pagi hari sebelum akad nikahnya dengan Aisha - tentang perasaan Nurul padanya:

Nurul sungguh terlalu. Apakah dia bukan orang Jawa? Aku ini orang Jawa. Di Jawa, seorang khadim kiai dan batur santri, anak petani kere, mana mungkin berani mendongakkan kepala apalagi mengutarakan cinta pada seorang putri kiai. Dia sungguh terlalu menunggu hal itu terjadi padaku. Semestinya dialah yang harus mengulurkan tangannya. Dia sungguh terlalu berulang kali ketemu tidak sekalipun mengungkapkan perasaannya yang mungkin hanya membutuhkan waktu satu menit.

(hal. 232)

Yeee.. Fahri, mana ada perempuan Timur, apalagi Jawa, yang dididik untuk mengungkapkan perasaan cinta pada laki-laki secara blak2an? Ora ilok, le.. ;-). Yang bisa dilakukan perempuan [Jawa] hanya memberikan sinyal2 cinta melalui perhatian. Mestinya loe sebagai orang Jawa ngerti yang beginian ;-) Dasar loe aja yang nggak sensitif.. hehehe..

Dan lagi, sebagai seorang muslim yang sudah belajar sampai ke Mesir, yang tahu bahwa semua manusia adalah sama derajatnya di hadapan Tuhan, loe kok masih terikat sekali dengan unggah-ungguh Jawa yang nggak Islami: nggak berani menyatakan cinta pada putri kiai hanya karena status sosial ;-)?

Berdasarkan data2 ini, menurut gw Fahri lebih kelihatan sebagai seorang pria indecisive. Entah karena naive atau plain stupid.. HAHAHA.. Jelas bukan pria idaman yang top markotop deh ;-)

So.. kalau kemudian banyak yang kecewa bahwa filmnya mirip sinetron, mungkin mesti kembali membaca bukunya. Benarkah bukunya luar biasa dan tidak beralurkan sinetron ;-)?

Jangan2 kesan luar biasa terhadap buku ini memang overrated, karena dibandingkan dengan buku2 dakwah konvensional, bukan karena memang punya penceritaan yang baik ;-).

---

Catatan nggak penting:

Setelah menemukan Ande-ande Lumut pada kisah Ayat-ayat Cinta, kok kebetulan ada tokoh Tuan Boutros ya? Gw jadi ingat satu nama lagi: Boutros Boutros Ghali ;-) Rumus namanya sama kan.. HAHAHA.. dan beliau orang Mesir, jadi pas sama setting cerita ;-) Kayaknya nama Tuan Boutros Rafael Girgis emang diambil dari mantan Sekjen PBB ini deh, secara Boutros Boutros-Ghali ini juga Kristen Koptik.

Saturday, March 08, 2008

I Hate Wilson, too!

*An unauthorized sequel to this short story, written without the permission of, or even being acknowledged by, the original author*

He said he hated Wilson. I hate Wilson too. Perhaps, I hate Wilson even more!

But we hate this same person for different reason.

He hates Wilson as he thinks Wilson’s attitude is indecent. I hate Wilson as he is the living proof of anything I should have been, but always fail to be: so social, so amicable, so full of compliments...

So fake.

The Wilson Office Act, as he called it, indeed works well – too well - for Wilson. Not Wilson’s fault, though. There is nothing suggests that Wilson was anything but sincere in his comments and manners. And even if it was all a front, so what? People would take nice people anytime over rude ones.

And that what makes me hate him.

I am not the kind of person who can charm my way up the career ladder. I never even care whether people will like me or not. I just do what I believe is right, do things as best as I can, and let quality speaks for itself. I want people to judge me from my quality, my work quality. Not my personality. I don’t like small talks like Wilson. I always fail to notice whether someone has a new hair cut, let alone say compliments about it.

Well, you might say it doesn’t matter. And that was what I thought, too. Just be yourself, and anything will be okay. Fake will lead you to nowhere, even if you do it for the greater good. There is nothing called white-fake, isn’t it?

But, the real world is anything but that simple. There is always chance, a big chance, that the people’s judgment will be clouded by the personality. And when that happens, no matter what best work quality you present, it will always be oversighted.

At the end, the reality comes to whether you are a fun-to-be-with person or not.

If you are fun-to-be-with, people might forget about your little (or even big) mistakes. If you are not, there is a big chance that people will oversight your good works, and remembers the very little mistakes you’ve done.

Especially when you work in the line of business that requires you to work with a lot of people.

As he had said, even if it was all a front, so what? People would take nice people anytime over strict-to-business ones. As there is nothing purely business in this business. In this business where everyone works with everybody, talks with everybody, personality is very important. More important than quality.

***

There is a knock on the door.

It makes me stop my lamentation.

I wipe my tears, and continue to dab more powder around my eyes. I have to look dashing on the stage, once again put my best effort and show my best quality of work; hoping that this time people will remember my works over the fact that I am not fun-to-be-with in the real life. He said that it has been more and more difficult to find people that would hire me. Not that I show bad quality of works, he said, but because I cannot charm people. Because I fail to speak nice things to them. Because I fail to be so amicable, so social, outside my work. Thus people will not feel comfortable working with me, and they choose more amicable, more social people – even if they are only capable of less work quality. They need to feel fun during working, they say, and I simply cannot offer that kind of feeling.

He has said that he would give me this one last chance. I have to charm the people out there. If I fail again, then he’ll be done with me. I am free to find another manager, or even another career. I’m sorry, goodbye, he will say, as what Kris Dayanti sings.

But I cannot afford to lose him. I cannot lose the career I have developed over a decade. I have too many mouths to feed.

And I cannot imagine losing the career I love, the career I am good at, over one detail that turns out to be the root of everything: charm everyone in the real world.

Yes, I am an artist. An actress, to be exact. A good actress, I believe, who can personify anything on the stage so good. There is only one act I cannot do: to be a fake fun-to-be-with person in the real world.

Sadly, at the end, people might forget your best acting on stage, when you lose your words during the fans gathering – and makes the fans think you’re not nice to them, or when you are being too strict to the crew – including the director – all the time. It will always be a feast for the so-called infotainment, bringing your reputation down, and drown your career to the bottom of the sea.

The fact that he [Wilson] hates Wilson [himself] due to the Wilson Office Act will not change any of this, when everybody loves Wilson.

And.. I was wrong about the white-fake. White-fake does exist. You can find its existence under the word “diplomacy”.

-----

Note: