Saturday, November 05, 2011

Pain

Sejujurnya, hari raya Idul Adha selalu menjadi momok mengerikan buat gw. Sekian puluh tahun hidup di dunia, tetap gw nggak bisa membiasakan diri dengan ritual keagamaan ini. As a little girl, I firmly asked my daddy to directly escort the goat to the mosque. Pokoknya kambing nggak boleh mampir ke rumah gw... karena gw tahu bahwa begitu si kambing pernah tinggal di rumah, pernah gw lihat, pernah gw kasih makan, ... maka it would hurt to even know that he was dead.

Masalahnya, gw menikahi orang yang salah... HAHAHAHA.... Suami gw berasal dari keluarga santri yang punya tradisi menyembelih hewan qurbannya sendiri - seperti disunnahkan. Sesuatu yang selalu membuat gw bergidik ngeri :-)

Saking ngerinya, sampai sekarang gw selalu menolak datang ke rumah mertua right after shalat Ied. Pokoknya... tunggu barang 4 - 5 jam dulu! Pastikan qurbannya sudah mati dan darah sudah dibersihkan, baru gw mau sowan ke sana :-)

For years, gw selalu mendapati diri gw diledek karena "empati" gw terhadap hewan qurban ini :-) Banyak yang berkata bahwa gw kurang Islami. Bahwa sebenarnya hewan2 qurban ini "bersyukur" karena dapat pahala. Bahkan pernah ada yang mengatakan gw anti-Islam karena ketidakmauan gw berurusan dengan hewan qurban ini.

Tapi bertahun2 juga... gw selalu tidak merasa pas dengan dikotomi pemahaman tentang qurban. Seperti terurai di atas, gw jelas tidak pas berada di dikotomi yang mengatakan bahwa qurban is one hell of happy festival; the poor is happy to receive some meat, the rich is happy to provide for the poor, and the cattles are happy to fulfill their purpose of life ;-)

Sebaliknya, gw juga nggak merasa pas berada di posisi penentang penyembelihan massal ini. Gak sepakat juga dengan mereka yang menganggap qurban adalah the massacre . This festival might include slaughtering, yes, but I can't agree that it is unnecessary. Jelek2 gini gw masih percaya agama... hehehe... sehingga buat gw, gw percaya bahwa kalau diharuskan oleh Tuhan, ya pasti sesuatu yang bagus. Meskipun gw gak bisa lihat dimana bagusnya :-)

... Kebimbangan itu bertahan hingga hari ini. Hingga gw membaca kul-twit menarik dari Goenawan Mohammad. Kul-twitnya ada 10 bagian, sila disimak dari sini hingga sini.

Bagian yang paling "nampol" buat gw ada dua, yaitu yang #2:

2. Kita cenderung hanya melakukannya dgn sikap praktis: beli kambing/sapi, kirim ke pembantaian. Tanpa lagi rasa belas dan empati.#q

dan yang #6:

6. Keiklhasan paling dalam ketika berkorban justru ketika kita menghayati bhw kita harus melakukan tindakan yg sebenarnya kejam.#q

Touche! You might've guessed where it's going ;-)

Ya, kedua bagian itu membuat gw memahami mengapa dianjurkan menyembelih qurban sendiri (atau kalau dalam versi modern: hadir saat qurban kita disembelih panitia). Sebab justru itulah makna kita berqurban. Di situ letak keikhlasan kita.

Nabi Ibrahim AS harus melakukan sesuatu yang maha sulit ketika Allah SWT meminta Ismail diqurbankan. Hanya keimanan, dan keikhlasan luar biasa, yang membuat seorang ayah mampu melakukan itu.

Sekarang, kita hanya diminta berqurban ternak, bukan anak. Tapi... apa esensi qurban itu? Hanya agar kita bisa membagikan makanan gratis pada kaum dhuafa? Agar kaum dhuafa dapat merasakan daging meski setahun sekali? I'm sorry to say this... but it sounds very shallow to me :-( Sangat tidak sebanding dengan apa yang dirasakan Ibrahim AS.

Tapi bagaimana jika kita sendiri yang harus menyembelih qurban itu sendiri? Walaupun tidak sebanding dengan Ibrahim AS, tidakkah kita merasakan suatu konflik yang berat juga? Karena kita harus melakukan sesuatu yang menurut logika kita adalah "kejam" demi sesuatu yang "cuma" kita percaya. Tidakkah hal2 seperti itu yang menguji iman, yang membuat kepercayaan kita goyah mengenai apakah kita sudah melakukan hal yang benar? Sudah percaya pada hal yang benar?

Dan tentu, makna ini menjadi berkurang, atau bahkan hilang sama sekali, jika kita hanya mengartikannya sebagai kewajiban menyembelih qurban dan memberikan dagingnya bagi kaum dhuafa. Karena dengan demikian proses menjadi tak penting lagi. Merasakan konflik yang membuat Ibrahim AS [mungkin] berada di persimpangan keimanan.

Dengan mudahnya kita akan mengambil cara yang praktis, seperti pada poin #2: kita cuma perlu beli sapi/kambing, antar ke tempat penyembelihan. Biarkan panitia yang menyembelih dan membagikan; sementara kita duduk manis di rumah untuk menunggu sepotong paha kambing yang sudah dibersihkan sebagai bukti qurban kita sudah disembelih. Atau dalam bahasa Goenawan Mohammad: menjadikan hewan qurban "sekedar" komoditi.

So, this essay of his is an eye opener for mine ;-) Mengingatkan gw kembali bahwa it is important to endure the pain. Mereka yang berqurban harus juga merasakan "pain" itu. Psychological pain of doing something "cruel": killing another being.

Karena di situ letak makna qurban itu sendiri ;-)

Makanya, gw ingin mengutip penutup dari kul-twit di atas:

Salah mengatakan orang yg berqurban tak punya hati nurani. Justru intinya bukan menyembelih, tapi menghayati bagaimana berharganya hidup

Mudah2an para penentang ritual qurban dapat melihat hal tersebut juga ;-)

***

Bagaimana dengan gw sendiri? Apakah setelah ini gw akan dengan senang hati datang ke penyembelihan qurban? Ikut merasakan the psychological pain of killing another being? Sorry, I'm still gonna pass... HAHAHAHA... I now understand the importance of slaughtering your own qurban, tapi tetap gw belum mau jadi bagian dari itu. Gw cukup mengubah mindset gw aja bahwa it is necessary.

Lagipula... bukankah yang disuruh berqurban adalah Ibrahim AS? Waktu itu Siti Hajar gak disuruh juga kan ;-)?

Sunday, October 23, 2011

That's What FRIENDZ Are For

Pada Juni 2011, adik2 gw ini menikah. Dan sebagai kakak yang baik, gw membantu menyebarkan pengkabaran online-nya. Pada milis yang selama 7 tahun terakhir ini kami jaga kelestarian dan kemurniannya (iya, meskipun milisnya sudah gak aktif, tapi gw dan jurukunci lainnya masih galak: nge-ban member yang nge-post dagangan atau info gak nyambung lainnya). Serta pada Group FB yang dibuat ketika milis sudah gak happening, sementara FB masih membatasi Private Message hanya bisa dikirim ke 20 orang saja (sementara jaringan pertemanan kami sudah terbentuk sekitar hampir 40an saat itu).

Kabar pernikahan mereka menyebar dengan cepat. Dan sekonyong2, bermunculanlah orang2 tak kami kenal yang mengatakan bahwa mereka adalah penggemar kedua adik gw ini. Beberapa dari mereka mencoba mendekatkan diri dengan gw. Dengan beberapa teman yang juga aktif membantu kedua adik ini.

Tentu... kami senang mendapat teman baru. Gw senang mendapat teman baru. Namun... seiring dengan banyaknya message yang gw terima, gw mulai menyadari bahwa cara pandang kami berbeda.

Perbedaan cara pandang yang paling utama adalah mengenai SIAPA kedua adik gw itu :-)

Buat gw dan teman2 yang sudah bersama2 selama 7 tahun ini, pasangan pengantin ini adalah adik/teman tersayang. Kebetulan saja mereka pernah happening dalam skala nasional, tapi... intinya mereka adalah adik/teman yang sama dengan adik/teman kami lainnya :-) Namun teman2 baru kami masih melihat pasangan pengantin ini sebagai the living icons. Dua selebriti yang dipuja, dikagumi, dan diketahui detil kehidupan pribadinya

Maka bermunculannya pernyataan2 yang membuat dahi gw berkerut, seperti:

"kapan ya idola kita(nia & adit) bisa muncul bareng di tv lagi"

"Yang punya info ttg mereka tiap harinya ato paling ngak info terbaru dari mereka tolong di bagi2 ama kita di sini ya teman2....makasih"

Hal lain yang juga mengganjal adalah perbedaan pandangan tentang kedekatan kami. Buat gw dan teman2 yang sudah bersama2 selama 7 tahun terakhir, menjadi "dekat" dengan mereka adalah sesuatu yang alamiah. We're friends, of course we're close to each other ;-) Buat teman2 baru yang masih memandang mereka sebagai idola, ini adalah suatu aspirasi. Bahkan sumber iri. Seperti yang diungkapan salah satu mereka berikut ini:

"seneng y jd mbk maya bsa msuk daftar org spesial di hatinya mbk nia....*pinginn dee* tp syang mbk nia gk kenal ak :("

"wah seneng bgt mba bisa knal k'nia lbih dekat bgt jd iri,hehe.."

Dan komentar2 ini lah yang kemudian mendorong gw untuk menuliskan posting ini :-) Untuk meluruskan padangan2 di atas :-)

***

Apakah dekat dengan mereka adalah sesuatu yang membuat senang? Tentu saja :-) Nia is really a one sweet little creature. Depan/belakang kamera ya anaknya kayak gitu itu: polos, nggak pernah mikir buruk sama sekali, dan malah saking polosnya kadang2 naif :-) Adit? Di balik gayanya yang rame dan sok funky itu tersembunyi laki2 perasa... HAHAHAHA... Sangat intuitif :-) Juga sangat pintar :-) Nggak banyak orang yang bisa langsung "nangkap" penjelasan atau joke gw yang kadang (eh, seringnya ;-)) terlalu belibet. Adit gak pernah kesulitan menangkap langsung ke intinya :-) Personally, buat gw, adalah keasyikan tersendiri ketemu teman yang "nyambung" :-)

Tapi apakah kedekatan ini terbentuk dengan mudah? Semata2 karena kami punya akses dan gampang bertemu dengan mereka? NO! Sama sekali tidak ;-) Kedekatan yang terjalin antara kami semua ini adalah hasil kerja keras, usaha, dan penyesuaian diri selama 7 tahun :-)

Di masa awal2, ketika mereka masih jadi icon skala nasional, tak terhitung friksi antara kami. Seorang teman pernah sangat tersinggung karena Adit yang sedang moody tak sengaja menyepelekannya. Teman yang lain pernah sakit hati karena kepolosan dan tidak panjangnya pikiran Nia. Beberapa teman juga pernah agak sebal karena Nia & Adit tidak melayat ketika salah satu dari kami meninggal dunia. Atau ketika merasa tidak mendapat terima kasih yang pantas setelah apa yang dilakukannya di pesta kejutan untuk ulang tahun Adit.

Salah satu "drama" perseteruan kami pernah gw tulis di sini (ehmmm...)

Tapi seiring waktu kami semua - baik Nia& Adit maupun gw & teman2 lain - belajar menyesuaikan diri. Belajar menerima kelebihan dan kekurangan masing2. seiring waktu kami belajar melihat mereka sebagai bagian dari kami. Bukan sebagai sepasang icon yang terpisah dari kami. Belajar melihat mereka sebagai "teman". Belajar menerima bahwa berteman adalah [seperti gw tuliskan pada posting tertaut di atas] "accept and endure any pain for his/her friend". Berteman itu tidak menuntut, tidak berharap something in return... tapi simply... menerima dan ikut menjalani any pain for his/her friend. Termasuk sakit yang disebabkan si teman :-)

Dan waktu menguji segalanya :-)

Sedikit demi sedikit, tirai mulai tertutup bagi Nia & Adit. Mereka yang mengaku sebagai penggemar sedikit demi sedikit tak muncul lagi. Sibuk dengan icon-icon baru yang bermunculan. Sehingga akhirnya tersisa kumpulan yang bisa dibilang 4L: loe lagi, loe lagi :-)

Sebagai perbandingan: puluhan orang hadir di pesta ulang tahun kejutan untuk Adit 3 November 2004 di New York Cafe. Pada tahun 2006, ketika kami mengikuti Kuis Siapa Berani, mengumpulkan 18 orang untuk peserta aja sulitnya bukan main... hehehe... Dan ketika Nia dan Adit meluncurkan mini-albumnya tahun 2008, dengan band Friendz yang namanya masih Djawa dan susunan personilnya masih beda jauh dari Friendz sekarang, yang mau datang nggak sampai 18 orang :-) Itupun yang dua hasil culikannya Mbak Wiet, ya Mbak :-)?

Tapi ini adalah seleksi alam. Survival of the fittest. Atau tepatnya survival of the strongest loyalty :-) Pada akhirnya yang tersisa adalah kumpulan kecil yang mau ikut susah dengan Nia dan Adit :-) Bukan yang cuma mau menunjukkan kepada dunia bahwa dia pernah dekat dengan Pasangan Favorit AFI-2 :-)

Kami yang tersisa ini yang ikut susah payah mengumpulkan tanda tangan ketika Nia & Adit mencoba peruntungannya di Fourth Monkey, dengan janji akan rekaman jika bisa mengumpulkan 1000 pendukung. Kami yang jumlahnya tidak sampai 18 ini mencoba segala cara untuk mengumpulkan yang mau dicatatkan sebagai pendukung. Hema dari Bengkulu sampai membujuk semua teman sekantornya untuk vote :-) Kalau mereka malas vote sendiri, Hema meminjam password email mereka saja, agar bisa vote :-)

*Pada masa itu, jika Hema diculik oleh hacker, dijamin bubar dunia... HAHAHAHA... Berapa password aja tuh ada di tangan dia ;-)*

FourthMonkey memang belum jadi rejeki Nia & Adit. Tapi kami membukukan sukses, karena dalam kurun waktu singkat melakukan the impossible: dari posisi ke sekian puluh, melejit ke posisi kedua di bawah Barry Likumahua :-) Pada akhirnya hanya Barry yang diproduseri, tapi... kami mendapatkan sesuatu yang tak kalah baiknya: PERSAHABATAN.

***

So, jika sekarang ada teman2 baru yang mengatakan betapa irinya mereka pada kami, atau betapa beruntungnya kami bisa "dekat" dengan kedua "idola" ini, gw hanya ingin mengatakan sesuatu: we EARN it :-) We earn this FRIENDSHIP :-)

Ingin seperti kami? Caranya mudah... :-) EARN it :-) Jangan cuma muncul saat mereka tenar, saat mereka diingat orang. Tapi beradalah di samping mereka setiap saat. Dalam suka dan sedih :-) Dalam tenar dan redup :-)

Dan saat berada di samping mereka, stop treating them like idols. Treat them like friends :-) Berhenti berharap mendapatkan "sesuatu" dari/tentang mereka. Tapi berilah sesuatu pada mereka :-)

In good times or bad times,
I'll be on your side forever more
That's what FRIENDZ are for
;-)

Thursday, October 20, 2011

Ferris Wheel of Love

Bulan Oktober 2011, bukan hanya satu pasang teman saja yang gw rayakan pernikahannya. Setelah pernikahan "Kemanusiaan dan Alam" pasangan ini pada Non-Violence Day, dua minggu kemudian tibalah resepsi pernikahan pasangan ini :-).

Konsep pernikahan mereka memang tidak spektakular seperti pasangan sebelumnya. Namun, setelah gw menemukan waktu untuk bertapa, gw menemukan bahwa it's not so much different from the previous wedding after all ... :-)

Begini ceritanya......

Januari lalu kami mendapat kabar bahwa mereka berdua akhirnya menentukan tanggal pernikahan. Ditetapkan tanggal 17 Juni 2011 sebagai Akad Nikah, dan 25 Juni 2011 sebagai resepsinya. Resepsinya nggak bisa dilaksanakan 18 Juni 2011 bukan karena mereka benci sama gw dan nggak mau berbagi tanggal perayaan yang sama dengan ultah gw... hehehe... Tapi karena masalah klasik calon pengantin: gak kebagian gedung :-p

Gw memutuskan untuk hadir ;-) Tentunya! Karena mereka adalah dua orang yang sangat berarti buat gw :-) Bukan saja gw sangat menikmati penampilan mereka (termasuk exposure terhadap cinlok mereka ;-)) sepanjang sebuah reality show di tahun 2004, tapi ... setelah 7 tahun berteman mereka sudah seperti adik2 gw sendiri. Dan lagi... secara tidak langsung mereka berdua telah menjadi perantara yang membuat gw menemukan beberapa teman terbaik. Baik yang gw kenal dari menongkrongi milis/forum acara tersebut seperti Jeng ini, ini, ini, maupun Bro ini. Atau si seleb-blog yang membuat gw rajin menulis lagi. Dan tak lupa "teman berantem" gw yang tautannya sebaiknya tidak diberikan :-p

Tapi ada satu masalah kecil: 25 Juni 2011 bertepatan dengan hari kelulusan Ima dari SD. Nggak mungkin kan gw nggak hadir di acara kelulusan anak gw sendiri ;-)? Dan gak mungkin kan, Ima nggak hadir di acara kelulusannya sendiri ;-)?

So, gw memutuskan datang pada Akad Nikah-nya saja. Meskipun dengan resiko gw akan mati gaya ;-) Yaaah... nggak akan semati gaya di Bali sih, kan gw datangnya bareng Ima. Lagipula masih ada beberapa teman yang gw kenal di acara yang pastinya lebih banyak dihadiri keluarga besar itu. Dan Surabaya mah gw kenal... ;-) Nggak bakal bingung mau ngapain di sana.

Berniat datang ke pesta, siap kamikaze mati gaya? Hmmm... sounds similar to the other wedding, eh ;-)? Dan kemiripan berlanjut, ketika ternyata gw nggak jadi mati gaya. Bukan dengan menemukan teman2 baru... melainkan karena teman2 lama yang tadinya berniat menghadiri resepsi berbondong2 rescheduled ke Akad Nikah :-)

Pindah jadwal itu terpaksa dilakukan karena sebuah kabar duka. Tanggal 25 April 2011, setelah semua persiapan untuk perhelatan dijalankan, tiba2 ibu mempelai pria meninggal dunia. Serangan jantung. Sebuah hal yang mengubah segalanya...

Sebagai bakti terakhir seorang putra pada almarhumah ibunya, kedua mempelai memutuskan mempercepat pernikahan. Mereka menikah di hadapan jenazah sebelum ibunda dikebumikan. Perhelatan yang rencananya dirayakan 25 Juni 2011 pun dibatalkan. Tak pantas rasanya membuat suatu perhelatan ketika ibunda baru 60 hari dikebumikan. Dan tak pantas pula rasanya membicarakan kapan resepsi akan diadakan, jikapun akan ada resepsi, sebelum duka benar2 berlalu.

Namun Akad Nikah di depan penghulu dari KUA tentu harus tetap dilaksanakan. Karena pernikahan di hadapan jenazah adalah pernikahan siri; pernikahan yang sah menurut Islam, namun tidak mendapatkan surat nikah dari negara karena tidak dihadiri oleh penghulu sebagai saksi dari pihak negara.

Dan itulah yang membuat teman2 berbondong2 mengubah jadwal pesawat untuk menghadiri Akad Nikah.

Menikah di hadapan jenazah ibunda? Mengorbankan kemungkinan pesta meriah demi sebuah Akad Nikah sederhana dalam suasana duka? That's another similarity with the previous wedding: bahwa pernikahan adalah bukan untuk diri sendiri. Walaupun itu sebentuk persatuan antara dua individu, di dalamnya ada bakti kepada orang tua. Karena dalam budaya kita, "menikahkan anak" adalah sebentuk pencapaian bagi orang tua. So it's worth to change all the plan.

***

Pada hari yang direncanakan, Akad Nikah di hadapan KUA berjalan dengan lancar. Kabut duka mulai terangkat, setelah lebih dari 40 hari ibunda berpulang. Kami sangat menikmati pesta sederhana di rumah mempelai putri tersebut. Sebuah pesta yang akrab, dengan sajian hiburan organ tunggal dan the singin' newlyweds ;-) Emang beda ya, kalau suami-istri penyanyi... hehehe... Nggak tahan nggak nyanyi kalau lihat mic :-p

Kabar bahagia pun kami terima. Bahwa setelah masa berkabung usai, kedua pihak keluarga sudah mampu memutuskan bahwa resepsi akan tetap diadakan. Tanggal 15 Oktober 2011 dipilih sebagai tanggal resepsi yang baru. Tanggal dimana mereka akan membagikan kebahagiaan ini kepada lebih banyak lagi orang.

Gw tidak yakin bisa hadir pada tanggal tersebut. Bulan Oktober adalah masa2 penuh pekerjaan buat gw. Oleh karenanya sebuah hadiah kecil dan sebentuk doa yang menyertainya gw sampaikan pada perhelatan Akad Nikah saja. Sebuah bingkai foto berbentuk "Bianglala". Ferris Wheel.

Kenapa Ferris Wheel? Yaaah... karena gw kan orangnya sok simbolis... HAHAHAHAHA....  Gw merasa ferris wheel adalah suatu simbol pernikahan yang tepat sekali. Seperti gw tuliskan di kartu ucapannya:

Dear Nia & Adit,
Pernikahan sejatinya adalah sebuah permainan bianglala.
Kadang di atas, kadang di bawah,
Kadang deg-degan, takut ketinggian dan diterpa angin
Kadang bete karena putarannya berjalan lambat.
Tapi... ketika akhirnya permainan berhenti, hanya satu rasa yang tersisa: BAHAGIA
Selamat menempuh hidup baru!
Semoga tetap sakinah, mawaddah, warrahmah
Enjoy your Ferris wheel ride of love!

*Note: naaah... ini bedanya pernikahan pasangan yang ini dengan pasangan di posting sebelumnya... hehehe... Kalau yang di sebelumnya, gw kan yang tercerahkan dengan kata2 bijak sang mempelai. Kalau di sini, gw yang sok gaya mengeluarkan kata2 mutiara dan analogi... ;-)*

Ada 12 tempat untuk foto di Ferris Wheel itu. Mereka dapat mengisinya dengan foto2 perjalanan cinta mereka. Dimulai dari ketika mereka bertemu di sebuah reality show, menjalani kebimbangan untuk menjadi pasangan, jatuh bangun meniti karir, akhirnya tiba di pelaminan, dan kebahagiaan2 selanjutnya yang akan menggenapi perjalanan cinta mereka.... (punya anak pertama ;-)?)

Once again... enjoy your ride, darlings ;-) Duka cita yang mewarnai awal langkah kalian ke pelaminan semoga menjadi sesuatu yang menguatkan untuk ke depannya :-)

----
Credit title: foto bingkai berbentuk bianglala dipinjam dari sini. Bingkainya mirip siiih... cuma yang dari gw gak seharga sekian poundsterling :-p

Saturday, October 08, 2011

A Very Give-away Wedding

Ketika mendapatkan kabar bahwa mereka akan menikah, gw langsung memutuskan untuk hadir. Bahkan sebelum gw melihat konsep acara yang luar biasa ini. Sebagai individu, meskipun belum kenal mereka secara pribadi dulu, they've already got me from hello :-) Dan gw sudah dengan sotoy-nya percaya mereka adalah pasangan yang cocok, seperti apa yang gw tulis di milis ini 21 Februari 2005:


Ketika akhirnya kenal dan menjadi teman di dunia nyata, gw makin kesengsem sama mereka. Gw memang belum pernah ketemu Tika di dunia nyata, tapi... setiap kali ketemu, ngobrol dengan, atau baca bukunya Gobind rasanya kematangan spiritual gw meningkat beberapa derajat ;-) Dan karena gw tahu bahwa peran Tika untuk Gobind itu persis seperti Kasturba terhadap Gandhi... ya gw tentunya kesengsem dengan mereka sebagai pasangan juga ;-)

So, atas nama pertemanan dan terima kasih gw atas "pencerahan" yang gw dapatkan selama ini (meskipun pencerahan itu sering kabur lagi akibat terlalu ramainya lalu lintas pikiran gw ;-)), gw HARUS berpartisipasi. Sebisa2nya. Termasuk HARUS datang :-)

Baru, setelah gw memutuskan untuk datang, gw bingung sendiri ... ;-)

Gw nggak kenal Bali! Terakhir kali gw ke Bali untuk senang2 adalah.... tahun 1987 ;-) Setelah itu gw beberapa kali kerja ke Bali, tapi ya nggak sempat ngapa2in juga. So, gw harus ngapain di Bali? Apalagi Sanur yang gw gak pernah injak sama sekali.

Masalah kedua: gw nggak kenal teman2nya Gobind dan Tika :-) Teman mereka kan buaaaaanyaaaakkk banget dari berbagai organisasi sosial dan kemasyarakatan. Sementara, gw ini teman di luar kumpulan itu. Nanti gw sama siapa di sana?  Mati gaya aja lah, kalau gw luntang-lantung gak ada teman :-)

Tapi... walau dengan kegalauan seperti ini, gw memutuskan untuk datang. Berharap Mas Boy (satu2nya teman mutual gw dan Gobind) bersedia hadir ke Bali. Atau... berharap bisa membajak Bayik yang emang kerjanya bolak-balik Jakarta dan BAli.

Pada awalnya, masalah tampak teratasi. Bayik bilang dia ada di Bali tanggal segitu. Dan Mas Boy bilang dia ingin sekali datang. Tapi.... pada H-2, kagetlah awak! Bayik tertahan di Jakarta karena boss besarnya datang. Sementara Mas Boy nggak bisa pesan pesawat karena satu dan lain hal. Mampus gw!! Rasanya malang benar gw ;-)

Tapi mosok gw harus membatalkan niat baik cuma karena gak ada teman? Nggak gw banget ;-)  Cemen ;-) Akhirnya gw tetap berangkat sesuai rencana. Meskipun siap mental untuk mati gaya ;-)

Dan di situlah baru gw menyadari betapa sebuah keikhlasan, sebuah niat baik yang no expectation, akan dimudahkan oleh Yang di Atas dan membawa keberuntungannya sendiri  :-)

Dimulai ketika gw sampai di Bali. Pada awalnya, Bayik merekomendasikan Werdhapura sebagai tempat menginap. Katanya dekat, 10 menit naik taksi dari tempat acara. Tapi.. karena Werdhapura nggak punya kamar dengan double bed, gw memilih memesan kamar di Abian Kokoro. Hotel ini rekomendasi kedua dari Bayik, katanya sedikit lebih jauh - sekitar 15 menit naik taksi ke tempat acara.

Ternyata... justru peristiwa ini adalah pangkal dari rangkaian "kemudahan" dan "keberuntungan" yang gw dapatkan :-)

Saat check in di Abian Kokoro, gw menemukan kejutan membahagiakan: perhitungan jarak Bayik tidak akurat :-) Alih2 lebih jauh dari tempat pesta, jaraknya malah sepelemparan batu :-) Menurut GPS gw, jarak garis lurus hanya 900m dari lokasi pesta! Total jalan yang dilalui jika menyusur pantai sekitar 1,2 km saja. Bisa ditempuh dengan jalan kaki. Jika ingin lebih nyaman, bisa pinjam fasilitas sepeda dari hotel ini. Gratis!

So, gw nggak perlu repot2 pesan taksi pagi2 buta, dan bingung cari taksi untuk kembali ke hotel setelah acara. Cukup bersepeda mini saja :-)

Kemudahan, atau keberuntungan, kedua yang gw dapat adalah ketika mengembalikan sepeda pinjaman setelah jalan2 sore. Biasa... gw survei dulu untuk tahu letak pestanya, dan ngukur kekuatan kaki untuk bike to wedding besoknya ;-). Di front desk sederhana, dimana nama tamu di ke-18 kamar hotel dituliskan di white board besar, mata gw menangkap bahwa 3 dari 6 kamar di lantai gw adalah "booked by Mr. Gobind". Nah lho? Could it be....?

Segera gw SMS sang calon mempelai, dan ... jawabannya merupakan kejutan yang menyenangkan:

"Hahaha... memang saya pesan untuk teman-teman yang membantu acara besok"

Yiiihaaa! Berarti gw gak akan sendirian! Gw bisa kenalan malam ini dengan beberapa orang sehotel. Setidaknya, besok gw gak jadi orang yang benar2 "asing" di pesta itu. Sukur2 gw bisa minta ikut dilibatkan, membantu apa pun yang bisa gw bantu, supaya gw gak mati gaya.

Gw sebutkan nomor kamar gw kepada sang mempelai, dengan tawaran silakan mengetuk pintu kapan pun malam ini jika temannya butuh bantuan. Meskipun gw nggak yakin teman2nya akan melakukan itu.

But we're talking about people who live to serve and help other human being here.... Orang2 yang nggak ragu ngetuk pintu kamar orang tengah malam jika itu untuk kebaikan. Dan itulah kemudahan (atau keberuntungan) ketiga yang gw dapatkan.

Jelang tengah malam, ketika gw sudah tak sengaja tertidur, pintu gw diketuk. Salah satu teman Gobind, Mbak Catur, datang dan mengajak gw membantu merapikan suvenir. Sejumlah 1.000 kalender abadi untuk suvenir baru datang malam itu, beserta kotak tempatnya. Keseribu suvenir itu harus masuk kotak sebelum fajar menyingsing kalau nggak kami akan dikutuk jadi candi :-). Jadilah, Mbak Catur mengumpulkan tenaga bantuan sebanyak2nya.

Tugas Sangkuriang itu dapat kami selesaikan sebelum tengah malam. Kerja yang menyenangkan, karena diisi obrolan akrab dan canda tawa. Padahal, gw baru kenal dengan teman2 Gobind ini. Sungguh kumpulan orang yang ramah dan menyenangkan :-)

Paginya, mereka menawari berangkat bersama2. Pagi2 buta :-) Tadinya sempat ragu menerima; bakal bengang-bengong nunggu acara nih... secara panitia pasti semua sudah punya kerjaan. Tapi gw putuskan ikut! Siapa tahu ada yang bisa dibantu lagi di sana. Lagian, bukankah gw sudah siap mental untuk bengang-bengong mati gaya?

Dan itulah kemudahan (atau keberuntungan) ketiga yang gw dapatkan.

Gw datang pagi2 bertepatan dengan kedatangan pohon2 kecil yang akan dijadikan suvenir. Pohon2 itu tentu harus ditata supaya mudah diambil tamu. Bayangkan... menata 1.000 pohon untuk suvenir!!! Butuh tenaga banyak :-) Apalagi di tiap pohon harus dikalungi nama pohonnya :-) Langsunglah gw ikut terlibat mengangkat2 pohon. Meski dengan rok panjang :-)

Daaaan.... kisah berakhir dengan bahagia. Pesta berjalan dengan lancar. Gw nggak jadi bengang-bengong mati gaya, karena sudah kenal beberapa orang panitia. Gw juga merasa lebih puas hadir di acara, karena bisa ikut "nyumbang tenaga". Ikut terlibat langsung untuk perayaan kebahagiaan sepasang teman. Nggak cuma datang sebagai tamu dan pengamat :-)

Sebuah nikmat yang tak terbayangkan bahkan hingga gw mendarat di Bali. Alhamdulillah yach... sesuatu banget *Syahrini mode: ON* ;-)

***

Dalam perjalanan pulang, gw merefleksikan pengalaman ini. Betapa semua menjadi begitu mudah, justru ketika gw melepaskan segala harapan. No expectation. Yang penting gw datang untuk berpartisipasi pada perayaan kebahagiaan teman.  The power of ikhlas... kekuatan dari berani melepaskan... seperti yang selalu coba Gobind sampaikan dalam setiap obrolannya (dan selalu gw lupakan tak lama setelah berpisah dari dirinya ;-)). Kebahagian bisa didapat dengan cara melepaskan. Melepaskan ikanan dari harapan terhadap hasil yang kita inginkan. Itu isi awareness insight di kalender abadi yang menjadi suvenir, untuk tanggal 1 Mei.

Itu refleksi tingkat pertama ;-) Masih self-oriented ;-)

Refleksi tingkat kedua terjadi setelah gw mulai berpikir tentang orang lain ;-) Dalam hal ini, gw mulai berpikir tentang kedua mempelai. Kedua mempelai yang mengabdikan hidupnya untuk perbaikan dunia. Yang bahkan begitu selfless dalam pernikahannya: alih2 menjadi raja dan ratu sehari di pesta, mereka justru memanfaatkan momen ini untuk memberi lebih kepada manusia2 lain. Dengan mengadakan donor darah di pesta pernikahannya. Dengan mengajak tamu beryoga. Dengan hanya menggunakan makanan/minuman/peralatan yang dapat didaurulang di pesta ini supaya tidak membebani bumi. Dengan mencanangkan satu suvenir kalender hanya dapat diambil jika tamu bersedia juga menanam sebatang pohon, karena kalender dibuat dari mengorbankan pohon. Dengan hanya menyediakan makanan vegetarian dan semua yang berasal dari tetumbuhan.

Dan gw berpikir.... jangan2 segala kemudahan dan keberuntungan ini bukan semata karena keikhlasan gw ;-) Tapi justru sebuah kemudahan bagi kedua mempelai yang sudah begitu ikhlas. Karena keikhlasan mereka, mereka mendapatkan satu lagi tenaga yang siap membantu. Satu teman lagi yang "percaya" dan akan berusaha menjadi lebih baik.

Atau... ini adalah kemudahan untuk kedua mempelai to give away another thing. Dengan gak sengaja gw nginap di hotel yang sama dengan panitia, itu memudahkan kedua mempelai memberikan gw "teman". Memudahkan mereka mengingatkan lagi pada gw tentang pentingnya ikhlas.

Jika demikian halnya, maka semua kemudahan gw di pesta lalu bukanlah apa yang gw dapatkan. Tetapi sebuah awal. Sebuah awal yang akan kembali lagi ke pelaku dalam bentuk yang berkat yang besar. Tangan yang memberi, adalah tangan yang memanen.. demikian awareness insight pada kalender abadi di tanggal 25 April :-)

Ah, how can I not admire them so much? Dalam pernikahan mereka pun, justru gw yang mendapatkan "kado" berupa teman2 baru dan diingatkan kembali akan keikhlasan. Manusia memang tidak akan pernah kehilangan apa-apa, karena manusia memang tidak pernah memiliki apa-apa.

Thank you for the beautiful gift, Gobind & Tika :-) Banyak berkat untuk kalian :-) Teruslah berusaha mengajak orang2 menjadikan dunia lebih baik. I rooted for the two of you during 'that game'... and I'm still rooting for the two of you in this even bigger game: LIFE.

***
Dan sebagai penutup, gw tadi bongkar2 arsip lama di milis tertaut di atas. Gw menemukan bahasan gw sendiri tentang bagaimana gw melihat kolaborasi mereka berdua, even when I haven't known that they'll be one entity :-)


That's the trust I have in them :-) And I think my trust will be the perfect gift for the couple who has given me so much :-)

Friday, October 07, 2011

Cinta

Gw punya sebuah pertanyaan hipotetis, yang baru jadi perbincangan dengan beberapa teman kantor. Pertanyaannya begini:

Bayangkan kamu seorang perempuan, lajang, usia nyaris 35 tahun. Kamu sudah berpacaran selama 10 tahun dengan pria yang membuatmu tergila2. Pokoknya cinta mati deh! Tapi... hubungan ini nggak ada tanda2 untuk berlanjut ke jenjang yang lebih tinggi. Si laki2 hanya selalu bilang, "We're soulmate. We'll grow old together, trust me".

Lantas... suatu hari kamu bertemu dengan seorang laki-laki lain. Dia tidak membuatmu tergila2, tetapi juga tidak membuatmu uncomfortable di dekatnya. Dia menawarkan cinta, pernikahan, dan kemapanan.

Manakah yang akan kamu pilih? Menikah dengannya dan belajar mencintainya? Atau ... tetap bertahan pada hubungan yang entah mau dibawa kemana?

Hehehe... ini sebuah pertanyaan hipotetis. Atau tepatnya analogi ;-) Bukan gw mau kawin lagi... HAHAHAHA... But I really want to hear any opinion from you, along with the reason ;-)

Thank you ;-)

Monday, September 19, 2011

Kucing

Dulu gw pecinta kucing. Di masa2 keemasan gw, gw pernah punya 16 ekor kucing. Dan kucing2 ini sering jadi bahan perseteruan dengan almarhum Bapak yang nggak terlalu suka rumah disliweri berbagai binatang.

Salah satu perseteruan yang sering terjadi bersumber pada pencurian lauk yang dilakukan si kucing. Beberapa kali sekantong daging, atau potongan ayam, atau seekor ikan, raib sebelum sempat diolah. Atau... sudah sempat diolah, tapi raib sebelum sempat dimakan. Kalau si kucing tertangkap basah oleh Bapak, sudah pasti di kucing digebuk. Dan kalau si kucing digebuk, gw ngambek :-) Kalau sudah gitu, Bapak akan bernyanyi:
"Makanya, kalau nggak mau kucingnya dipukul, diatur kucingnya!"

Atau,

"Bapakmu ini ahli hukum. Dimana2 pemilik binatang peliharaan itu memang harus ngatur binatangnya. Kalau binatang tidak bisa diatur, bisa ditembak mati. Atau pemiliknya harus tanggung jawab"

Dan karena pada masa itu gw lebih cinta sama kucing gw daripada sama Bapak (heyyy... don't look at me like that! I was a teenager! And teenager is destined to rebel to their parents ;-)), gw bakalan ngeloyor ke kamar sampai bersungut2. Kalau nggak mau dagingnya digondol, ya dijaga dong! Masukkin kulkas, kek! Tutupin pakai tudung saji, kek!... Begitu gerutuan gw dalam hati ;-)

... And that was what exactly I did! Tiap kali gw lihat daging/ikan/ayam tergeletak di tempat yang accessible buat kucing, pasti gw tutupin. Dan tetap, kalau gw menangkap basah kucing gw dekat2 tempat yang ada daging/ikan/ayam, gw buru2 ngusir. Kalau perlu gw sentil, daripada mencuri dan digebuk Bapak.

Tetapi satu hal yang gw nyerah: gw nggak bisa "mendidik" kucing gw untuk tidak mencuri. Dan kalau Bapak sudah mulai ngomel, gw bersungut2 sambil ngomel dalam hati, "How? Show me lah... gimana caranya ngedidik kucing jadi vegetarian!"

***

Kini, sudah lama gw nggak nonton TV lokal. Nggak menarik acara2nya :-) Mendingan juga gw nonton TV Kabel atau DVD. Tapi gw masih memantau berbagai berita dari media online. Dan berita ini mengingatkan gw pada cerita kucing di atas ;-)

Beberapa hari yang lalu gw memang baca sekilas bahwa our dear governor berkomentar tentang rok mini. Waktu itu sih gw cuma baca sekilas. Kalau berita ini akurat, so what? Nggak ada isyu besar di situ. Dia toh mengatakan keamanan memang harus ditingkatkan, dan akan dibahas oleh pihak yang berwenang. Lantas menambahkan himbauan agar penumpang kendaraan umum juga "menjaga diri" dengan tidak menggunakan pakaian yang menunjukkan banyak bagian tubuh. I never like Foke that much, di banyak posting gw menggerutui dia terus bahkan berniat mencabuti kumisnya satu per satu setelah kemacetan parah di Kuningan hari2 ini, tapi.... terus terang gw nggak melihat ada yang salah dengan kalimatnya ini.

Makanya gw kaget begitu melihat reaksi demo hari ini. Dengan spanduk2 segede gaban bertuliskan [salah satunya] "'Jangan salahkan baju kami. Hukum si pemerkosa'. Errr.... gw melihat ada cacat pikir di sini: dimana menyalahkan bajunya? Tidak pernah dikatakannya bahwa kejadian ini adalah [murni] akibat baju. Di bagian mana juga pernyataan bahwa di pemerkosa tak akan dihukum?

All what Foke did was, in my opinion, telling YOU that male will be male. Typical male might not be able to restrain the impulse to imagine something kinky just by seeing female's thigh.  Just like a cat cannot restrain its instinct to grab a chunk of meat, or fish, or chicken.

Yang membedakan laki2 dari kucing adalah: kalau kucing semua gak bisa nahan tindakannya untuk mencuri daging. Sementara laki2, cuma sebagian aja yang nggak bisa nahan tindakannya. Yang lain berhenti di titik fantasi atau "gerah" doang ;-)

You might think it's so low.... and perhaps, some males are indeed THAT low. But it is natural... and it's a fact :-)

Memang... dalam suatu konteks sosial, laki2 mestinya juga belajar untuk menahan impulsnya. Seperti kucing gw yang harus belajar nggak nyolong kalau masih mau hidup di rumah gw... hehehe.... Tapi, ya dari diri sendiri juga harus ada usaha dong :-) Kita nggak bisa berharap HANYA mereka yang berubah, bahwa semua laki2 berubah menjadi santo yang tak bergeming melihat paha2 mulus. Nggak berfantasi macam2, apalagi melakukan tindakan kejahatan seksual, sementara kitanya bebas2 aja hilir mudik berbaju sesuai mau ktia... :-) Intinya: kalau kita mau bebas2 aja, yang jangan berharap sebuah utopia ;-)

Emangnya kalau semua orang nggak pakai rok mini, lantas gak ada perkosaan? Gitu mungkin salah satu argumen penangkis. Sama seperti argumen salah satu komentator di artikel yang gw tautkan: emangnya nggak tahu bahwa kriminalitas seksual di Arab Saudi tinggi sekali, padahal di sana tertutup?

Ya memang nggak ada yang jamin :-) As I said, cat will be cat. Mereka akan cari kesempatan. And in a way, male will be male. Mereka bukan santo yang tak bergeming lihat paha2 mulus. Dan di antara laki2 itu, laki2 bejat ya pasti selalu ada :-) Laki2 yang meskipun lihat perempuan semuanya ketutup, tapi tetap punya hasrat memperkosa.

Tapi satu hal yang pasti: kalau kita sudah menutup satu pintu, berarti one less worry kan, akan terjadi hal yang tidak diinginkan ;-)?

Intinya, gw sendiri juga bukan anti rok mini. Gw punya anak gadis, dan gw gak ngelarang dia pakai rok mini ataupun tank top. Tapi... ya, lihat2 juga situasinya lah! Nggak di sembarang tempat dan waktu dia bebas2 aja pakai rok mini dan tank top. Kalau harus naik angkot atau ke tempat2 umum terbuka lainnya, ya nggak pakai yang kayak gitu :-) Apalagi kalau perginya sendirian, tanpa ditemani ortunya.

***

Satu logika yang mungkin dilupakan oleh para pendemo ini :-) OK, mungkin korban perkosaan in question adalah orang yang berpakaian tertutup. Mungkin memang CUMA laki2 pemerkosanya aja yang bejat. Tapi... satu pertanyaan gw: how on earth are you sure that this rapist conducted his crime out of nowhere? How can you be so sure that this rapist is not a man who was aroused by a female with a "tempting" appearance, and the victim is just a victim of opportunity?
Nah, sudah siapkah Anda menjadi trigger? Menjadi faktor yang membuat orang lain nan malang menjadi victim of opportunity ;-)?

Cat will be cat. And in a way, laki2 bejat will always be laki2 bejat. Dan sampai sekarang.... gw masih curious dan merasa bersalah: berapa banyak tetangga gw yang pernah jadi victim of opportunity kucing2 gw ;-)?

Friday, August 26, 2011

Eclipse

Masih dalam rangka khataman nonton SYTYCD, rasanya ada yang kurang kalau nggak ngebahas yang satu ini. Terlebih karena dalam seminggu terakhir, this particular routine menjadi video yang paling sering gw putar baik di komputer maupun tablet.



Biasanya, tarian kontemporer nggak terlalu berkesan buat gw, karena genre ini cenderung membuat penari pria jadi kelihatan "melambai". Maklum, gw dibesarkan dalam tradisi tarian2 klasik dimana pembagian peran (dan gerakan) perempuan serta laki2 jelas ;-) Dalam tarian Jawa, misalnya, gerak perempuan dan laki2 memiliki pakem berbeda. Dalam ballet yang gerakannya kurang lebih sama pun, nuansa teknik untuk pria berbeda dengan perempuan.

Tarian kontemporer di atas menjadi berbeda dan berhasil memukau gw karena gerakan penari pria tetap maskulin. Dalam wawancara pra-tayang, koreografer Mandy Moore memang mengakui bahwa tarian ini dibuat extremely athletic untuk menggambarkan hi-and-low emotion yang terjadi. Tapi yang harus mendapatkan kredit juga di sini adalah si penari pria, Neil Haskell, yang berhasil menunjukkan keatletikan; yang biasanya tak lazim muncul pada penari kontemporer pria. Sebagai gymnast-turned-dancer, memang nggak heran kalau dia memiliki kualitas yang nggak biasa. Apalagi sebagai straight guy, jelas vibe-nya maskulin kan :-)

Kalau penari perempuannya nggak usah diomongin lagi deh... hehehe... Melanie Moore (yang kayaknya nggak ada hubungan saudara dengan Mandy Moore), memang dari awal jadi front-runner untuk musim ke-8 ini. Jadi nggak aneh kalau penampilannya ciamik juga :-) Wong akhirnya dia yang jadi juara ;-)

Fabulous choreography, fabulous dancers... is it too much to expect perfection? Ternyata enggak juga! Together, they make the perfect interpretation towards one of my all-time favorite song ;-)

Ah ya :-) Total Eclipse of the Heart adalah salah satu all-time favorite gw. Salah satu lagu yang selalu berhasil "nampol" dan mengaduk2 perasaan setiap kali gw dengar. Simply karena nada dan syairnya! Bukan karena gw asosiasikan dengan ingatan tertentu. Ini salah satu lagu yang gw intuitively feel dibuat dengan "jiwa" :-)

Lagunya, gw rasa semua yang pernah tahu syairnya pasti mengerti, bicara tentang patah hati. Tentang one-sided love; bertepuk sebelah tangan. Atau kalau syair2 awalnya yang bicara tentang "turn around" diartikan secara historikal, ini adalah kisah dimana seorang kekasih ditinggalkan orang yang dicintainya. Ini yg gw mengerti dari lagu ini, tapi nggak pernah benar2 bisa gw visualisasikan....

... sampai gw menemukan tarian ini di YouTube sekitar seminggu lalu.

Koreografi ini benar2 apik memvisualisasikan apa yang terjadi. Bagaimana di setiap bagian gerakan Neil dan Melanie bagaikan tarik-ulur dalam sebuah hubungan. Di satu bagian mereka menari bersama dengan sangat passionate, di bagian lain mereka bak bertarung satu sama lain. Love the part ketika mereka berdua menjatuhkan diri setelah half piroutte ke arah yang bertetangan.

[Background Sound: "And I need you now, tonight. And I need you more than ever..."]

Klimaksnya adalah leap of faith yang dilakukan Melanie, literally, dari jarak sekian meter ke pelukan Neil. And he caught her with perfect accuracy without losing any momentum!

[Background Sound: "I really need you tonight... forever's gonna start tonight..."]

Exquisite! Totally exquisite!

Bagian kesukaan gw?

Hmmm... justru bagian yang paling gw sukai ada pada momen2 setelah leap of faith yang mengesankan semua orang itu :-) Tepatnya di penghujung tarian, ketika Neil melepaskan diri dari pelukan Melanie. Melepaskan diri dari keintiman yang akhirnya berhasil mereka bangun. He says sorry with his eyes,.. while she looks longingly, heart brokenly, at him.

[Background Sound: "Once upon a time I was falling in love, now I'm only falling apart...
There's nothing I can do.. a total eclipse of the heart..."]

So painful, yet exquisite. Painfully exquisite!

Huffff.... nggak heran kalau gw can't get enough of this dance. Gw putar lagi, lagi, dan lagi. Dan yang menarik adalah: begitu terpukaunya gw pada tarian ini hingga luput memperhatikan betapa yummy-nya the shirtless Neil... HAHAHAHA... Mungkin itu efek gerhana total ya ;-)?

*oops, bagian terakhir kayaknya nggak cocok dengan mood keseluruhan tulisan ini ;-)? Yaah... maaf, kalau ada brondong manis gak dibahas, ntar mubazir dong :-p*

Wednesday, August 17, 2011

Simple

Terinspirasi oleh seseorang yang lagi senang2nya dengan yang simple, atau simply, hari ini mau nge-post tentang sesuatu yang simple juga ah ;-)

Pertama2, yuk, lihat video tari yang simple ini dulu. Judulnya "Peace". Dikoreografikan oleh Wade Robson, dengan lagu "Waiting for the World to Change" dari John Mayer. Video ini sudah lama, terbitan tahun 2007 kalau nggak salah, sebagai bagian dari acara So You Think You Can Dance musim ketiga. Saking lamanya, sekarang acara itu sudah selesai dengan musim ke-8 ;-)


Pas ditampilkan pertama kali, koreografi ini sempat jadi kontroversi, karena dianggap memprogandakan anti perang padahal Amerika Serikat baru menyerang Iraq. Well... mungkin benar sih, but even if it was... I don't mind. I even agreed with them ;-)

Lho... kontroversi. Propaganda. World to Change. This post has all the wrong keywords for something simple ya... hehehe... Jadi, simple-nya dimana dong?

Hmm... pertama2, koreografinya simple banget. Nggak banyak macem2. Bajunya juga simple banget. Kaos-celana putih dengan sablonan logo peace di depan dan satu kata di belakang. Sablonannya juga dari cat semprot hitam biasa.

Koreografi yang sama ini ditarikan sebagai solo oleh Top 10 Finalist. Masing2 cuma "mengusung" satu kata di kaosnya. Dan... walaupun koreografinya sama persis, latar belakang masing2 finalis yang berbeda membuat detilnya berbeda. Pasha, misalnya, membuat beberapa gerakan agak kaku dengan kaki yang perfectly straights - sesuai latar belakangnya sebagai penari ballroom. Lauren lain lagi: nuansanya agak hip-hop. Neil, membuatnya benar2 kontemporer... dan... the b-boy Dominic Sandoval menutup pose akhir dengan gerakan menyentuh dadanya yang [menurut gw] membuatnya berbau tarian anak gank banget :-)

Gabungkan hal2 di atas dengan judul lagunya: Waiting for the World to Change.... dan di situlah letak simple-nya :-) Change the world could be as simple as that: just do what you have to do with the best purpose in mind. With peace. With honesty. With patience, understanding, trust, hope, and love. Support it with good communication. And don't forget to always have humility. Hasilnya beda2? Nggak apaaa... kalau digabungkan bagus juga kok ;-)

Simple kan ;-)? Se-simple mengatakan, "Wade Robson, I heart you for this!" ;-)

***

Dan karena hari ini negeri tercinta ulang tahun, ke-simple-an ini mungkin juga berlaku untuk "mengubah" Indonesia tercinta ;-)

Me and all my friends
We're all misunderstood
They say we stand for nothing and
There's no way we ever could

Now we see everything that's going wrong
With the world country and those who lead it
We just feel like we don't have the means
To rise above and beat it

So we keep waiting
Waiting on the world country to change
We keep on waiting
Waiting on the world country to change

It's hard to beat the system
When we're standing at a distance
So we keep waiting
Waiting on the world country to change
...

One day our generation
Is gonna rule the population
So we keep on waiting
Waiting on the world country to change

Selamat ulang tahun, Indonesia ;-)

Sunday, July 31, 2011

On Love and Consequence - Part 2

Yup! Seperti Harry Potter and Deathly Hallows, "On Love and Consequences" juga ada 2 bagian... hehehe.... In fact, tulisan bagian pertama itu appetizer doang ;-)  Soalnya gw pingin nulis yang ini... tapi kok kayaknya ada yang kurang kalau tentang Harry Potter gak ditulis :p After all, setelah baca dan nonton saga fenomenal ini, gitu loh!

Anyway... tulisan kedua ini juga tentang pertanyaan seputar "konsekuensi cinta" (halah!).

Jadi, alkisah, di waktu lengang gw suka baca twitnya mereka ini. To satisfy my curiousity about their point of view. "They" dalam kelompok besar ya, bukan hanya mereka berdua ;-) Tapi gw melihat mereka memposisikan diri sebagai "penyambung lidah rakyat kaumnya"

Jika homophobia attitude scale itu ada, gw rasa gw akan ter-cluster-kan sebagai "kaum moderat" :-) Artinya, gw sejuk2 saja (baca I'm cool, gitu deh) punya teman2 yang orientasi seksualnya sejenis. Gw tidak akan menghajar, menista2kan, menghujat, apalagi mem-bully mereka. Tetapi.... gw juga tidak akan mendukung jika mereka minta gw ikut menandatangani petisi agar gay pride parade atau semacam PFLAG dilegalkan di Indonesia. If that's what they ask, then I'm ready to sacrifice our friendship.Sikap gw masih seperti di tulisan ini ;-)

Anyway... bahasan gw kali ini bukan tentang sikap gw kok ... hehehe... Seperti gw katakan tadi di awal, ini tentang "pertanyaan" gw.  Pertanyaan ini muncul setelah gw membaca tautan ke artikel ini di twitter tertaut di atas.

Artikel di atas memberikan argumen tentang "kebaikan" gay marriage. Ini artikel kesekian yang pernah gw baca tertaut di twit mereka. Gw nggak mau membahas argumennya ya. Namanya juga orang promosi... tentunya semua kebaikan diangkat lah ;-)  Yang mau gw bahas adalah: why do they bother to get married?

Ini yang sampai saat ini belum gw mengerti dan terasa sebagai paradoks buat gw ;-) If they want to deconstruct the so-called "puritan" belief about marriage, then why do they bother to get the right to marry each other?

Dalam salah satu sesi tanya-jawab yang kemudian mereka berdua dokumentasikan di blog, yang gw tahu hubungan dua sejenis ini tidak sama seperti di hubungan pernikahan lawan jenis. Dalam soal hubungan seksual, misalnya, dua2nya cowok atau dua2nya cewek. Bukan salah satu jadi perempuan dan lainnya jadi laki2. So, why bother with the marriage?

Kalau tujuannya adalah "pengakuan di mata hukum", seperti yang gw duga dari jawaban yang terdokumentasikan di blog itu, kenapa harus berbentuk "pernikahan"? Can't they think of a different form? Sehingga hukum2 dan aturannya juga nggak akan sama dengan "pernikahan tradisional"? Apalah bentuknya, "persekutuan" kek, "penyatuan kasih" kek, atau apa gitu. Sehingga punya aturan2 sendiri, kebijakan2 sendiri, hukum2 sendiri yang sama sekali berbeda dengan "pernikahan".

I'm sorry, I just don't understand at all. Mengapa memaksakan seluruh masyarakat untuk mengubah paradigma, sehingga mereka bisa "masuk" ke institusi yang sudah ada? Mengapa tidak menuntut pembentukan jenis "institusi baru", kalau tujuannya adalah untuk melindungi their so-called human right? Kenapa jadi kayaknya mereka yang memegang kebenaran, dan boleh menentukan bagaimana seharusnya sebuah institusi ya... sementara the rest of the society hanyalah sekumpulan orang2 "bodoh" dan "terbelakang" yang harus mengubah paradigmanya? How can a stupid and underdeveloped society have an institution good enough for you, then?

Hehehe... tulisan ini mungkin akan mengundang beberapa reaksi keras, bahkan dari teman2 gw sendiri ;-) That's OK ;-) I'm not trying to attack each of you personally... but if you see it that way, then... you know me: I won't try to change your perception ;-)

Saturday, July 30, 2011

On Love and Consequence - Part 1

Akhirnya, setelah hanya bisa nonton versi bajakannya yang suram-gelap-gulita hasil unduhan bapaknya anak2, hari ini kesampaian juga nonton Harry Potter and The Deathly Hallows Part 2 di layar lebar. Seperti dua film terakhirnya, versi pamuncak ini juga gw tonton bareng Ima di Blitz Megaplex. Puas sudah rasanya :-)

Sumber kepuasan gw ada dua: pertama, ya karena akhirnya nggak perlu nunggu terlalu lama untuk bisa menikmati film ini. Rasanya kan gimana yaa... setelah 7 film semuanya gw tonton di bioskop, mosok versi terakhirnya nggak bisa ditonton? Kentang dong :-) Yang kedua... ya karena filmnya memang sesuai harapan gw. Tidak seperti film keenam yang adaptasinya enggak banget, film penutup ini sangat memuaskan lah! Kayaknya David Yates sudah bisa connected sama ceritanya... hehehe...

Bagian yang paling gw sukai, seperti sudah gw tuliskan di Facebook beberapa waktu lalu, bukanlah bagian Lord Voldemort kalah. Itu mah gw terima sebagai layak dan seharusnya... hehehe... Yang paling "kena" buat gw justru sekitar menit 83.

*kalau ada yang heran kenapa gw hafal menitnya, itu karena gw udah nonton bajakannya ;-) Di bajakan, itu menit ke 82 sekian detik. Tapi di bajakan ternyata ada bagian depan yang terpotong, jadi kira2 ada beda beberapa detik - 1.5 menit lah ;-)*

Bagian yang paling menyentuh gw adalah bagian ketika Snape merapalkan Expecto Patronum, dan memunculkan patronusnya: seekor kijang betina.

Ya, yang baca bukunya pasti ingat bagian ketika Harry Potter masuk ke dalam kenangan yang diberikan Snape menjelang kematiannya. Kenangan tentang perintah Dumbledore untuk memberitahu Harry bahwa ia memang harus mati di tangan Voldemort. For the greater good, eh ;-)?

Saat itu Dumbledore bertanya, apakah setelah sekian tahun berlalu akhirnya Snape memiliki rasa sayang pada Harry. Snape hanya membalas dengan memunculkan patronus kijang betina. "After all these years?" tanya Dumbledore. "Always," jawabnya. Singkat, tapi sarat makna. Bahwa setelah sekian tahun berlalu, Snape tetap mencintai Lily Potter (nee Evans), ibu Harry. Dan bahwa ia melakukan semua ini demi Lily.

Dan di situ tiba2 gw sadar: the whole story is actually about Severus Snape's redemption, although Harry Potter gets all the credit ;- ) Bahkan, mungkin Snape hanya mendapat kredit nomor sekian, setelah Dumbledore dan Voldemort :-)

Kalau Snape tidak menyampaikan kepada Voldemort ramalan tentang anak yg lahir di akhir Juli, kisah ini tak akan ada. Voldemort tidak akan mengejar Harry. Lily tidak akan mati. Harry Potter mungkin akan tumbuh jadi sekedar penyihir medioker (dia gak jago2 amat, ingat ;-)). Dan mungkin akan ada pahlawan lain yang mengakhiri kuasa Pangeran Kegelapan.

Kisah ini ada, dan terjadi, gara2 aduan Snape. Dan kisah ini berakhir seperti ini, karena Snape menjaga Harry. Agar - meminjam percakapan mereka - the boy could die at the proper moment.

See? Saga ini seperti lagu dangdut. Snape yang mulai, Snape yang mengakhiri. Atau versi Inggrisnya: Snape's the one who started out, and Snape's the one to make it stop. Uhmmm... in my opinion, this whole story should be called the "The Redemption of Severus Snape", bukan "Harry Potter Saga" :-)

***

Tapi OK-lah :-) Kisah sudah bergulir, dan sudah usai.  Dalam hidup memang tidak semua yang berjasa dapat kredit yang memadai. Dalam kerjasama kan ada pembagian tugas: ada yang dapat kerjanya, ada yang dapat samanya... HAHAHAHA.... Lagian, kayaknya kurang menjual ya, kalau Severus Snape dijadikan judul :p Anggaplah ketiadaan kredit baginya adalah salah satu lagi "konsekuensi kasih tak sampai"-nya pada Lily. Deal ;-)?

Buat gw, setelah saga ini berakhir, hanya satu pertanyaan yang tersisa. Pertanyaannya, apa yang akan dikatakan Lily Evans pada Severus Snape saat mereka bertemu di alam sana? I mean... mereka akan bertemu di alam yang sama kan? Dua2nya akan... let's say... masuk surga karena dua2nya baik kan? Lantas, jika mereka bertemu, Lily akan bilang apa pada pada pria yang mencintainya sekaligus secara tidak langsung membunuhnya? Pada pria yang menyengsarakan anaknya, sekaligus melindunginya? Will "thank you" do? Or will she say "sorry" too?

Ada yang punya prediksi ;-)?

Wednesday, May 04, 2011

Big Brother for Parliament

Beberapa hari lalu seorang teman lama (sebut saja namanya Ara Michi) mengomentari sistem permainan pada acara Big Brother Indonesia di status FB-nya:

Kalau Petir, pemirsa sms penghuni yg dia dukung, kalau Big Brother pemirsa sms penghuni yang mau mereka keluarin, di Petir ada PK di Big Brother nggak ada. Kalau diibaratkan demokrasi, Big Brother itu demokrasi langsung, Petir itu demokrasi perwakilan. Gw lebih suka demokrasi langsung lebih " keliatan" bahwa suara publik dihargai

Waktu itu sih gw nggak mau repot2 berdebat sama Ara tentang "beda demokrasi" ini. He's the expert, anyway, at least he's the more passionate about this topic... hehehe... Dan lagi, Ara itu comes with a warning di kemasannya. Bunyinya mirip2 dengan kemasan rokok: "Berdebat dengan Ara berbahaya bagi kesehatan"

Tapi itu termasuk status yang layak untuk di-like di Facebook. Dan seperti layaknya status2 "berkualitas" lainnya, status ini bisaaaa aja disangkutkan ke masalah yang lebih serius. Seperti kasus dialog ini ;-)

Rasanya gw udah bosen nyela2 anggota dewan di blog ini. Soalnya yang dicela juga nggak berubah2 sih ;-) Jadi, monggo aja klik tautan di atas bagi yang sekali lagi ingin membaca bagaimana LUAR BIASA-nya kualitas parlemen kita. Sangat dianjurkan bagi mereka yang menderita tekanan darah rendah... hehehe... Terutama di sesi tanya jawabnya ;-)

*Sumpah! Membaca jawaban2 di sesi tanya jawab itu pingin membuat gw menyuruh Ima berhenti sekolah! Ngapain dia sekolah tinggi2, wong sudah lebih pintar daripada mereka. Langsung aja ngelamar jadi anggota dewan ;-)*

Atau kalau mau versi LIVE-nya, boleh intip di YouTube ini . Dijamin "Keong Racun" dan "Briptu Norman" bakal malu karena kalah lucu ;-)

Anyway... gara2 tergeleng2 membaca dan mendengar jawaban2 itu, gw jadi mikir: apa lagi sih yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan sumber daya di parlemen ini? Apa yang harus dilakukan di pemilu berikutnya? Apa perlu kita semua ikutan GolPut, sehingga caleg cuma [kalau istilah jaman pemilihan Ketua Senat Mahasiswa dulu] "lawan kotak kosong"? Tapi... gw ingat kata suami tercinta, "Kalau loe nggak milih, kertas suara loe utuh, ntar diambil orang lain gimana?" atau, "Kalau loe nggak milih, jadi loe biarin sembarang caleg menang"

*Yeah, yeah.... in time like this, I usually have to resist the urge to choke my hubby to death... HAHAHAHA... Sumpah deh! Dia itu selalu bisa lihat sesuatu yang "bagus" pada sesuatu yang menurut gw udah super nyebelin ;-)*

Nah, di saat seperti inilah status "berkualitas" Ara melintas di kepala gw. Daripada tiap pemilu selalu harus sibuk kampanye anti golput, dan nantinya juga tetap dapat anggota parlemen yang gak berkualitas, kenapa juga negara nggak kita minta mengganti sistemnya menjadi seperti Big Brother Indonesia? Tetap Langsung-Umum-Bebas-Rahasia, tapiiiii..... yang dicoblos ataupun dicontreng adalah caleg yang TIDAK dikehendaki :)

Gw rasa ini menarik :-)

Dari satu sisi, kandidat jadi harus lebih hati2 berkampanye. Zero tolerance for stupidity, karena satu kebodohan bisa menyebabkan mereka mendapatkan tambahan pemilih. Otomatis rakyat juga diuntungkan dong, karena akhirnya kualitas caleg jadi lebih bagus ;-)

Dari sisi negara? Menguntungkan banget! Negara nggak perlu pusing2 kampanye anti GolPut. Gw setuju banget sama komentar Ara di statusnya itu:

penghuni nominasi 3 orang yg akan dikeluarin, yg keluar adalah yg smsnya paling banyak dari 3 orang itu. Kebayang donk orang sampai sms supaya org tersebut keluar berartikan hubungan emosionalnya tinggi banget

Gw yakin, GolPut2 yang ada sekarang bakal semangat banget ikut pemilu... hehehe... Kalau satu suara mereka bisa mengurangi jumlah orang2 tak berkualitas di parlemen, siapa yang mau buang2 suara?

Tapiiiii.... kan tetap aja, yang vote-nya sedikit akan berhasil masuk ke parlemen? Jadi, sedikit banyak parlemen akan diisi oleh orang2 yang "kurang disukai" juga dong?

Betul. Yang jadi anggota parlemen tetap bukan orang2 yang tidak mendapatkan vote sama sekali. Tapi... di sini justru sisi bagusnya! Karena saat disumpah menjadi anggota parlemen pun mereka sudah sadar bahwa mereka punya "sekian suara" yang tidak menghendaki mereka berada di parlemen. Semoga itu menjadi beban, sehingga mereka juga melangkah lebih hati2. Beda dengan kasus yang sekarang: bahwa kalau akhirnya terpilih menjadi anggota parlemen itu seolah2 adalah "kemenangan". Sehingga mereka boleh merayakan kemenangannya selama 5 tahun ke depan.

Prinsipnya, kita mengubah makna keberhasilan mereka mengalahkan lawan2nya dari "victory", menjadi "second chance". And I think everybody agrees that getting a second chance might make someone wiser ;-)

So, bagaimana Bapak2 dan Ibu2 yang berwenang mengubah sistem? Bisa dipertimbangkan?

As for the current members of parliament, yang kualitasnya bikin gw ngakak2 hari ini [dan hari2 sebelumnya], bisa kita kasih profesi baru aja. Mungkin mereka bisa gantiin Keong Racun, atau Briptu Norman, di iklan2 selanjutnya.

*dan gw mulai kinky ngebayangin mereka membintangi iklan ini. "Komisi sekian suka makan lala lala... jadi sehat, berprestasi.... enak sekali" ;-)*

Sunday, April 17, 2011

Pluralisme Periferal

I love Hanung Bramantyo's movies!

Beberapa di antaranya, seperti Jomblo, memang benar2 gw nikmati. Sisanya? Selalu bisa membangkitkan gairah gw untuk mengulasnya ;-)

Lantas, film "?" bagaimana?

Hmm... film ini juga hebat lah! Buktinya, bisa membuat gw kembali menulis setelah membiarkan blog ini mati suri selama hampir setengah tahun ;-)

Tidak seperti film terakhirnya yang gw ulas ini, setidaknya "?" tidak bikin gw ngantuk. Pencahayaan dan pengambilan gambarnya juga cukup gw nikmati. Tapi... secara keseluruhan... terpaksa gw cuma kasih nilai 3 dari skala 0 - 10. 

Ada dua hal yang membuat kantuk tak sempat mampir di mata gw selama film berlangsung. Yang pertama adalah karena sepanjang film sikap gw berganti2 antara menolak, memahami, mendukung, menolak lagi, memahami lagi, mendukung lagi penfatwaan haram ;-)

Di awal2 cerita, sikap gw adalah menganggap film ini cukup aman. Kalau yang dikhawatirkan adalah degradasi keimanan [Muslim] akibat nonton film ini, rasanya agak jauh. Karakter Rika yang pindah agama menjadi Katholik itu menurut gw sama sekali nggak kuat dan gak inspiratif untuk memotivasi pindah agama. Alasannya pindah agama, tampaknya, cuma karena suaminya kawin lagi. Menghindari poligami dengan masuk ke agama yang mengharamkan poligami (dan perceraian), as stupid simple as that meskipun alasan resminya adalah karena, ".. Tuhan akan menyembuhkan aku".  Nggak perlu lah, film ini diharamkan... hehehe... Cukup bikin sekuelnya aja: tokoh Rika ini menikah kembali dengan seorang pria dan merasa "aman" karena tidak akan pernah dipoligami lagi. Tapi ternyata pria ini pelaku KDRT, dan pembatalan pernikahan yang ditunggu tak kunjung datang.

Plot sekuel yang bodoh? Yaaah... untuk menangkis inspirasi "bodoh" pindah agama gara2 masalah suami-istri, ya ciptakan counter-inspirasi yang sama "bodoh"-nya saja ;-) Gitu aja kok repot ;-)

Sikap gw menjadi cenderung ke pro fatwa haram ketika adegan beranjak ke nasihat si Ustad bahwa it's OK bagi Surya masuk gereja dan berperan menjadi Yesus dalam acara "sakral" umat Katholik: Ibadah Jalan Salib. Hmmm... semasa 13 tahun sekolah di sekolah Katholik, gw juga keluar masuk gereja - meskipun gw Muslim.  I have nothing against the idea of a Moslem entering a church. Tapi... entering a church as the Christ during this devotion is more complicated than that, isn't it? Bagi umat Katholik, Ibadah Jalan Salib itu adalah devosi. Prosesi renungan sengsara Yesus sejak ditangkap hingga wafat di kayu salib. Entering this sacred procession is totally intrusive... and pointless, if you talk about pluralism!

Betuuul... seperti kata Dedi Soetomo yang berperan sebagai Pastor di film itu, "Apa ada keimanan yang runtuh hanya karena sebuah drama?". Tapi pertanyaan saya, Romo, adalah, "Apakah benar Ibadah Jalan Salib itu hanya sebuah drama?"

Gw rasa cukuplah menunjukkan pluralisme dengan kesediaan si Menuk-yang-namanya-Jawa-tapi-logatnya-gak-Jawa-babar-blas itu mengurusi katering di gereja. Gadis berjilbab mengurus katering di gereja, itu sudah suatu bentuk pluralisme. Pun sudah dengan ada Banser NU yang menjaganya. Gak perlu kebablasan dengan menjadikan seorang Muslim berperan sebagai Kristus pada suatu ritual ibadah.

Swear, gw melihatnya ini malah sebagai penghinaan terhadap umat Katholik lho! Mosok sampai untuk ibadah pun mereka harus diintrusi oleh orang lain? Memangnya nggak ada umat Katholik yang bisa berperan jadi Kristus? Memangnya umat Katholik sedangkal itu, hingga harus bayar aktor demi berperan menjadi Tuhannya dalam perayaan mereka sendiri - agar dramanya "bagus"?

*Uhmm... lagian, sejak kapan sih untuk drama di gereja itu pakai casting dan terima orang luar? Setahu gw, ini selalu jadi acara internal deh!*

Gw jadi semakin memahami jika MUI mau mengharamkan film ini ketika adegan Soleh dkk menyerbu restoran tempat Menuk bekerja. Soleh, yang anggota Banser NU, memprovokasi orang2 untuk menyerbu restoran HANYA karena mereka buka di hari lebaran kedua? Hadooooh... Hanung, what a stupid plot! Gw tahu sih ada ormas yang mudah diprovokasi untuk sweeping rumah makan saat Ramadhan, tapi... itu nggak pas ditaruh di konteks lebaran kedua, Mas!

Sweeping saat Ramadhan adalah karena mereka percaya bahwa tidak puasa di bulan Ramadhan adalah dosa. Stupid, maybe, but it is not groundless. Lha, kalau restoran buka di hari lebaran kedua, salahnya apa? Lebaran kedua, lho, Mas, tanggal 2 Syawal. Nggak ada kewajiban kita untuk mengistimewakan hari itu dengan libur/tutup. Tanggal 2 Syawal itu semua sudah kembali ke semula lagi.... malah puasa Syawal aja udah boleh mulai kok! Masalah silaturahmi bisa dilakukan hingga sebulan ke depan. Nggak perlu lebaran kedua libur ;-)

Bener deh! Sengaja atau tidak, Hanung malah mendegradasi any dignity left in Moslem dengan adegan ini. Muslim tidak saja digambarkan sebagai suka kekerasan, melainkan juga "goblok to the max" ;-) Mau2nya diajak nyerbu restoran cuma karena seorang laki2 cemburu, padahal nggak ada dalil/dasarnya dalam agama :-)

***
Hehehe... cukup untuk menjabarkan alasan pertama kenapa gw tetap terjaga selama film. Sekarang kita masuk ke alasan kedua ;-)

Alasan gw yang kedua adalah: selama film gw pingiiiinnn sekali menarik Hanung Bramantyo ke sebuah ruangan kecil, mendudukkannya di kursi, dan.... melakukan tes MBTI kepadanya ;-) Asumsi gw: dia perceiving characteristic-nya [S]ensing banget, nggak ada i[N]tuiting-nya ;-)

Asumsi ini terbangun lantaran filmnya ini jauh panggang daripada api ;-) Maksudnya, pluralisme itu kan isyu yang "dalem". Agar film ini bisa menyentuh hati, menurut gw sih mestinya penggambarannya depth banget. Nggak perlu banyak plot, tapi masing2 plot-nya "dalam". Masih inget film Children of Heaven? Film ini bisa menyentuh justru karena bermain2 dengan konflik dan emosi pemerannya, bukan karena banyak plotnya. Atau contoh lain adalah Paradise Now. Setidaknya, kalau mau bikin film yang plotnya berjejalan kayak pasar, coba seperti Crash. Setidaknya seperti Identity. Atau kalau mau versi Indonesianya, Daun di Atas Bantal

Ah... ya. "Crash". Seharusnya ini jadi referensi yang baik saat membuat film "?". Isyunya pun mirip sebenarnya, antara rasis dan pluralisme. Sayang, alih2 membuat gw keluar gedung bioskop dengan insight baru seperti film peraih Oscar itu, "?" malah membuat gw merasa habis nonton sinetron yang dipadatkan: plotnya kebanyakan, karakter dan plotnya nggak mendalam, dan detil2nya banyak yang mengganggu logika ;-)

Beberapa detil yang mengganggu logika, selain ketika Rika menawari Surya ikut casting drama Paskah, adalah ketika Menuk melarang Surya makan sebelum Jalan Salib selesai, karena, "... Mas, masih puasa!". Sumpah, pingin ngakak gw... HAHAHAHA... Soalnya, setahu gw, puasa pra-paskah itu dilakukan dengan berpantang sesuatu (biasanya daging) pada hari2 tertentu. Jadi, lucu aja kalau ada orang yang dilarang makan, bolehnya nanti kalau sudah selesai acara, karena masih "puasa". Emang loe kira puasa Ramadhan, kalau udah bedug boleh buka? HAHAHAHA...

Lagi, ketika si Menuk nangis2 karena suaminya minta cerai ;-) Ya ampyuuuuunnnn.... yang bisa menjatuhkan cerai suami, bukan? Istri punya hak untuk minta talak cerai karena nggak ridha suaminya sudah menyalahi taklik talak, tapi kalau gak mau cerai juga gak apa2. Jadi... ngapain istrinya jerit2 histeris cuma karena suaminya "minta" cerai? Kalau emang suaminya mau menceraikan, gak perlu suami yang "minta", lageee ;-) Aneh!

Dan yang membuat jidat gw berkerut sepanjang acara adalah: mosok iya, ada restoran sekecil itu punya standar kualitas yang sedemikian tinggi? Memisahkan perlengkapan dan peralatan buat babi dan non-babi sedetil itu kan sama aja seperti punya 2 restoran. Lha, emang restoran ini omzetnya berapa sih sehari, sampai mampu membiayainya? Lagian, dari sisi bisnis, apa iya worth it untuk punya 2 business line yang bertentangan begitu? Emang berapa banyak dalam sehari Muslim taat yang masuk ke restoran itu, sampai dibela2in ada peralatan/perlengkapan khusus?

***
Jadi, jelas kan kenapa gw hanya kasih nilai 3 dari skala 0 - 10? Ide ceritanya menarik, mau menyorot dan mengkampanyekan pluralisme. Tapi eksekusinya benar2 payah-to-the-max deh! Plotnya kebanyakan, penggambarannya lebay.

Terus terang, menurut gw film ini gagal total menggambarkan pluralisme. Film ini cuma menempelkan peristiwa2 fanatisme dan menambahkan peristiwa2 yang bertentangan dengannya. Seolah2 pluralisme adalah antonim dari fanatisme ;-)

Menurut pemahaman gw, pluralisme justru bukan antonim fanatisme. Pluralisme adalah bukti bahwa kita telah melewati batas fanatisme. Ketika seseorang belajar agama, sampai pada penghayatan tertentu dia mungkin menjadi fanatik. IMHO, ini adalah "godaan" dalam belajar agama. Jika orang menyerah dan lantas tutup mata gak mau belajar lagi, maka dia akan menjadi fanatik buta. Tapi kalau dia mau belajar, mau membuka mata, maka tahap selanjutnya akan membuat dia melihat bahwa semua perbedaan itu fana. Bahwa keimanannya menembus perbedaan2 yang ada.

Pesan ini yang gagal ditampilkan oleh Hanung dalam film "?", karena tempelan peristiwa2nya justru menggambarkan orang2 yang belum benar2 mengerti agama. Mereka menafikan perbedaan karena mereka tidak menilai tinggi agama. Bukan karena menunjukkan pluralisme.

Contoh yang paling gamblang adalah tokoh Rika. Jika ia memang memahami agama, jika dia memang mengakui Tuhan itu tak dibatasi agama, dia tidak perlu pindah agama. Dia cukup mendalami agamanya, dan menemukan penyembuhan dalam agama yang dianutnya. Karena semua agama sama ;-) Kalau dia sampai pindah agama, itu justru menunjukkan bahwa dia masih belum bisa melihat bahwa semua agama itu sama ;-) Implikasinya: dia hanya tidak menunjukkan fanatisme, tapi belum tentu sampai pada level pluralisme.

Selama ini Gus Dur selalu disebut2 sebagai tokoh Pluralisme. Gw setuju dengan itu. Menurut gw Gus Dur sudah tahu begitu banyak sehingga sampai pada titik mampu menunjukkan pluralisme. Tetapi even seorang Gus Dur gw yakin tidak akan bertindak sejauh Romo yang menjadikan Surya pemeran Kristus, atau Ustad yang mengijinkan Surya menjadi bagian dari ritual ibadah ;-). Kalau Gus Dur masih hidup, gw gak yakin beliau akan mengijinkan non-Muslim menyembelih kambing/sapi qurban pada saat Idul Adha - meskipun mereka mampu dan mau menyembelih sesuai syariat Islam. Karena... dalam penyembelihan itu ada kandungan ibadahnya. Bukan cuma sekedar menyembelih tanpa makna.

Dan itu yang membedakan sebuah pluralisme dari pluralisme periferal