Saturday, April 29, 2006

Seni Bertanya

Baca rubrik Bahasa di Kompas, 28 April 2006, halaman 15. Di rubrik itu dibahas tentang wawancara seorang reporter dengan Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi.

Wartawan muda yang tidak tahu bahasa Jawa itu (jelas dari lafalnya) menanyai sang tokoh macam-macam. Suatu saat dia bertanya; Apakah itu pakai ritual?. Tokoh berida itu memberondong sejumlah kata yang tidak menjawab pewarta. Keruan saja si muda bertanya lagi tentang ritual. Sampai tiba-tiba dia bertanya dengan nada kesal; Maksudnya rita.. yawal.. ritawiyal.. itu apa?

Heran, si pewarta tidak langsung menyebut Indonesianya. Malah tak jelas apa jawabnya. Dia pun tidak mintaa maar dan menyatakan sesalnya telah melontarkan kata yang tidak dimengerti si mbah terhormat.

Anak kota itu barangkali tampak pringas-pringis atau cengengesan terus. Dan gayanya bertanya mungkin terasa seperti memisit atau nyentrong, kata orang Jawa. Dia tidak pernah mengangguk sebentar sebagai tanda mengerti. Ini tentu tidak sopan. Singkatnya, pewarta itu boleh jadi terasa someng. Rupanya dia tidak ditatar dulu perihal cara menghadapi panutan rakyat ini. Memang dia orang gunung, orang dusun, orang kecil. Akan tetapi, dalam cara menemui para jelata, ada perlunya wartawan muda belajar dulu dari Peggy Melati Sukma adan Dimas Seto.

Kebetulan, gw juga nonton berita yang -tampaknya- dikomentari Pak Sudjoko (Guru Besar Emeritus FSRD-ITB) ini. Keterusikan gw juga kurang lebih sama: ini orang sebenernya udah siap disuruh mewawancarai orang belum sih? Hanya saja, Pak Sudjoko menekankan lebih pada bahasa yang dipakai, sementara gw lebih terganggu sama teknik wawancaranya. Setidaknya dia sudah melanggar 3 batasan teknik wawancara; menggunakan bahasa yang tidak sesuai, menunjukkan ekspresi yang tidak pas, plus tidak menunjukkan bahasa tubuh yang pas saat wawancara.

Sejak 11 tahun lalu, kerjaan gw mewawancarai orang. Mulai dari wawancara untuk pemeriksaan psikologis, untuk penelitian pemasaran, sampai untuk bikin iklan testimonial. Makin lama gw makin yakin bahwa mewawancarai orang itu adalah lebih dari sekedar melontarkan pertanyaan2 untuk mendapatkan jawaban, karena mewawancarai orang membutuhkan seni tersendiri.

Sebenarnya, mewawancara itu gampang. Hanya ada 2 hal yang perlu dibangun oleh si pewawancara: membuat orang yang diwawancarai itu merasa nyaman, dan membuat orang yang diwawancarai itu percaya bahwa dia bisa mengungkapkan segalanya pada si pewawancara. Kalau si pewawancara bisa menciptakan kedua hal ini, maka dijamin wawancara sukses. You will get whatever information you want.

Masalahnya, menciptakan dua kondisi ini yang butuh ketrampilan, bahkan seni, tersendiri. Mulai dari mengatur posisi duduk, bahasa tubuh, ekspresi muka, dan intonasi suara benar2 harus dimainkan dan integrasikan. Posisi duduk, misalnya, tingkat kenyamanannya berbeda antara duduk berhadapan dengan duduk dengan posisi membentuk siku. Beda lagi antara duduk di kursi kantoran, dengan di sofa nyaman. Ekspresi muka juga harus dimainkan. Kalau ceritanya menyedihkan, ya wajahnya harus menunjukkan simpati. Kalau orang yg diwawancara ngelawak, ya cobalah untuk tertawa (gak perduli bahwa lawakannya itu crunchy).

Soal bahasa tubuh juga menjadi hal yang amat sangat penting. Kontak mata, yang pasti, harus selalu terjaga. Gimana orang yg diwawancara merasa nyaman, kalau si pewancara gak melihat ke dia? Makanya, walaupun dibekali dengan pedoman wawancara, si pewawancara gak boleh sering2 ngintip panduannya. Terus, yang wajib diperhatikan lagi adalah bahasa2 tubuh sederhana yang membuat orang merasa didengarkan. Misalnya saja anggukan kepala, gumaman komentar seperti Oooh.. dan Ohya? merupakan juga salah satu bahasa tubuh untuk menunjukkan minat kita pada apa yg diceritakan.

Untuk tujuan wawancara yang berbeda, detil bahasa tubuhnya bisa berbeda. Dalam wawancara pemeriksaan psikologis gw diajarkan untuk mendengar aktif, dengan cara mengulang sebagian jawaban sang klien, untuk tanda bahwa kita memang mendengarkan dan merangkum omongannya. Tapi kalau di penelitian pemasaran, hal ini malah tidak disarankan, karena takut menjadi leading stimulus yang mengarahkan si responden pada jawaban2 tertentu. Kalau wawancaranya untuk iklan testimonial, mengeluarkan gumaman komentar pun bahkan tidak boleh. Maklum, di iklan testimonial itu kan wawancara langsung direkam dengan kamera supersensitif, dan nantinya dipotong2 jadi iklan. Bayangkan kalau ada moment yang bagus untuk jadi potongan iklan, tapi gak bisa diambil gara2 ada gumaman pewawancara yang mengganggu ;-).

Di atas itu baru kondisi2 umum. Ada kondisi2 khusus yang harus diikuti juga: be like the people we interview. Ya dengan cara berpakaian kita, cara bicara kita, bahasa yang kita gunakan, dan harus bisa bicara tentang hal2 yang nyambung sama mereka. Misalnya, kalau mewawancarai ibu2 istri tukang ojek, ya jangan pakai blazer. Bisa keder mereka.. ;-) Pakai aja busana muslim lengan panjang (walaupun gak pakai kerudung). Terus.. bicara kita juga ganti logatnya (tapi senatural mungkin lho ya!), plus pakai kata2 yg mereka biasa pakai. Kalau mereka pakai istilah kencing, ya jangan diganti jadi pipis atau buang air kecil, gak perduli betapa pun panas kuping loe mendengar istilah itu.. ;-) Tapi sebaliknya, kalo wawancara bapak2 tentang mobil mewah mereka, ya ganti penampilan. Yang elegan, plus gaya bahasanya lebih formal, dan pemilihan kata2 lebih halus. Kalo perlu nyalon dulu, biar penampilan lebih rapi.

Tak cukup hanya mengatur performance kita, kita juga harus pintar2 membaca ekspresi orang yg diwawancarai, kalau udah kelihatan bete, capek, atau nggak ngerti, kita juga musti banting stir untuk mengubah kondisi itu. Kalo kelihatan bete, ya mungkin kita kasih joke2 ringan, atau muter ke pertanyaan lain yg lebih ringan. Kalau kelihatan bingung, ya mungkin cara bertanya atau bahasanya harus diubah. Yang penting, jangan asal nyosor nanya aja.. ;-)

Nah.. kalau melihat wawancara di TV, atau mendengarkan wawancara di radio, gw merasa hal2 seperti ini yang dilupakan orang. Mewawancarai orang dianggap hanya sekedar tanya-jawab: melontarkan pertanyaan, dan menunggu jawaban. Pewawancara dianggap cukup kalo dia bisa baca/hafal pertanyaan yg akan diajukan. Padahal, untuk melontarkan pertanyaan yang bisa menimbulkan jawaban yg diinginkan, dibutuhkan sekian banyak persiapan. Otherwise, yang terjadi hanyalah proses wawancara semu, karena jawaban yg didapat hanyalah jawaban sopan, bukan jawaban sebenarnya.

Belum lagi kalo dengar kalimat yang dipakai untuk bertanya. Sering sekali pertanyaannya mengarahkan jawaban banget, seperti: Bapak suka tinggal di sini?. Kalau udah ditembak dengan kalimat kayak gini, biarpun dia gak suka, dia akan merasa wajib bilang suka toh? Beda dengan pertanyaan yang lebih netral seperti: Bagaimana perasaan bapak tinggal di sini?. Setidaknya itu membuka kemungkinan bagi orang yg diwawancarai untuk memberikan pendapat yang lebih sesuai dengan perasaannya dia. Tapi ini gw bahas kapan2 aja deh.. sekarang gw mau siap2 ke Yogya buat melakukan wawancara. Tapi yg jelas, bukan untuk mewawancarai Mbah Maridjan seperti si wartawan muda itu lho.. ;-)

Update:

Memperhatikan komentarnya Ana, gw jadi inget2 lagi apakah waktu itu yg wawancara bule & penterjemah atau reporter TV muda. Tapi setelah gw peras ingatan gw plus membaca lagi artikelnya, gw yakin itu reporter TV, bukan penterjemah. So.. mungkin aja Ana benar, gak bisa gw pastikan krn gw gak nonton si Peter itu di TV (lagian ngapain wawancara dia ditunjukkan di TV ya ;-)?) Tapi menilik artikelnya serta logika di baliknya, serta berdasarkan ingatan, saya kok yakin Pak Sudjoko nonton acara yg sama dgn saya, dan menyebut wartawan IHT itu sebagai referensi saja. Saya yakin Pak Guru Besar itu tidak sebodoh itu, mempermasalahkan ketepatan bahasa pada non-native ;-)

Tuesday, April 25, 2006

How much does life weigh?

Sudah seminggu ini gw sibuk edit-mengedit rekaman video hasil observasi ke rumah responden. Memang sengaja gw kerjakan sendiri; partly to please the client, tapi juga karena ini merupakan tantangan baru di pekerjaan gw, plus karena keterampilan ini gw anggap perlu dikuasai. Trade off-nya tentu saja jam kerja, apalagi karena gw mesti pinjam komputernya teknisi yang tentunya baru bisa gw jajah kalau mereka sudah berhenti kerja. Tapi gw gak nyesel, karena banyak yg gw dapatkan dari pengalaman ini.

Melalui kerjaan seminggu ini, gw jadi lebih bisa menghargai waktu – sesingkat apa pun – karena sadar bahwa di baliknya ada proses yang tak ternilai. Detil2 proses yg kecil, tapi gak bisa disepelekan begitu saja.

Sebelum ngerjain tugas ini, misalnya, gw anggap sedetik itu nggak banyak artinya. Apa sih yg bisa berubah dalam sekejap mata? Tapi sekarang gw bisa bilang bahwa sedetik itu sama dengan 30 frames, alias sama dengan 30 detil kecil gerakan, yang gak bisa disepelekan begitu aja. Salah memotong frames, bisa jadi film yg dibuat gak mulus lagi. Sambungannya buat adegan berikutnya jadi kasar dan patah2.

Lebih lanjut lagi, soal hasil akhir filmnya. Observasi yang gw edit ini panjang aslinya adalah sekitar 30 – 45 menit. Harus dipotong jadi film sependek 5 – 7 menit, paling banter 10 menit. Tapi untuk menghasilkan yang 5 – 7 menit itu prosesnya 2.5 – 3 jam! Pertama2 gw mesti menghabiskan waktu meng-capture bagian2 film yang ingin gw masukkan ke hasil final. Minimal waktunya ya sepanjang pemutaran film itu. Belum lagi kalo gw salah menekan tombol cut atau action, terpaksa deh film diulang sedikit dan peng-capture-an dilakukan dari awal. Nah.. setelah semua bagian yang mau dimasukkan ke film final itu ter-capture, gw mesti memasukkannya satu persatu ke timeframe. Tiap memasukkan 1 bagian harus gw putar (play), dan kalau ada bagian yang mengganggu di ujungnya harus gw potong. Setelah itu, sebelum memasukkan bagian berikutnya, gw mesti bikin subtitle yang menjelaskan adegan itu. Ya.. namanya juga laporan observasi, jadi harus ada penjelasannya di situ. Setelah semua bagian tersambung menjadi film utuh, dan semua subtitle masuk, maka film pendek itu harus gw render menjadi film utuh yg mulus. Ini aja makan waktu 15 – 30 menit. Habis itu, baru bisa di-burn untuk menjadi VCD; makan waktu sekitar 30 menit lagi.

Dan itu baru direct time consumption-nya lho! Belum lagi terhitung waktu yg gw pakai buat menekuni manual Adobe Premiere selama berhari2, trial & error di kompie rumah pakai Ulead Video Studio (krn gak punya program yg sama ama di kantor), nanya sama si Mas yang lebih jago soal ginian, trial & error lagi di kantor, terus kompie-nya ngadat, habis itu video player-nya yg ngadat.. ;-) Sungguh deh, gw acung jempol sama insan2 perfilman yang terlibat dalam proses editing. Kalau untuk 5 – 7 menit aja gw harus membuang 2.5 – 3 jam ++, berapa ya waktu yang dipakai buat meng-edit film panjang? Berhari2 pastinya. Atau malah berminggu2, berbulan2? Bener deh, Anda layak dapat bintang, untuk semua kesabaran dan ketelatenan itu.

Well.. hasil yang gw buat seminggu ini memang belum sempurna. Walaupun semua daya upaya sudah gw kerahkan ke situ, tetap aja bau amatirnya masih kecium ;-). Tapi gw bangga kok sama hasil kerja gw! Karena di balik 5 – 7 menit yang tidak sempurna itu, ada proses yang tidak ternilai buat gw; di situ ada jatuh bangunnya gw belajar hal baru, ada kerja keras gw untuk mengulang2 sesuatu untuk mencapai (setidaknya mendekati) titik yang memuaskan, ada kesungguhan gw untuk menyelesaikan tugas walaupun gak gampang.

Pendeknya, kalau hanya dilihat dari 5 – 7 menitnya saja, memang nggak ada apa2nya! Tapi kalau dihitung “jerih payah” yang ada di belakangnya, baru ada nilainya.

Proses seminggu ini mengingatkan gw pada penutup film 21 Grams:

How much does life weigh? They say we all lose 21 grams at the exact moment of our death... everyone. The weight of a stack of nickels. The weight of a chocolate bar. The weight of a hummingbird...

How much does love weigh? How much does revenge weigh? How much does guilt weigh?

Kalau dilihat dari berat massanya saja, 21 gram itu memang gak berarti apa2. Seringan tumpukan koin. Tapi kalau dilihat sebagai “nyawa”, maka artinya nilainya besar sekali. Nyawa yang hanya 21 gram itu yang membuat kita jadi “manusia”, menentukan langkah kita sebagai manusia; punya rasa bersalah, rasa cinta, kemarahan dan dendam… Menghilangkan yang 21 gram itu sama saja menghilangkan eksistensi manusia itu.

Begitulah yang gw rasakan terhadap 5 – 7 menit hasil kerja gw itu. Hilangkan 5 – 7 menit hasil yg gak sempurna itu, maka yg terhapus bukan saja “sekedar” film pendek, tapi seluruh proses jerih payah yg melandasinya. Atau.. seandainya waktu berputar ke masa lalu, dan sejarah menghendaki film pendek itu inexist? Maka yang harus terhapus dari sejarah bukan saja hasil yg 5 – 7 menit itu, tapi the whole experience sejak gw mulai ngerjain tugas itu harus terhapus.

So.. how much does life weigh? For me, it might be 5 – 7 minutes, as short as a commercial break ;-)

*tapi.. tentu saja gw gak bisa berharap semua orang melihat beyond the quantified measurement… melihat di balik 5 – 7 menit, atau di balik 21 gram.. ;-)*

Saturday, April 22, 2006

A La Wong Solo

Sumpah! Sebenernya gw ogah banget nulis tentang poligami. Udah banyak yg bahas, plus gw sendiri bukan orang yang bisa firmly menyebut diri anti-poligami. Ada kasus2 yang menurut gw sah2 aja untuk poligami, misalnya aja kasus seperti di sinetron Istri Untuk Suamiku: si istri (Inneke Koesherawati) mandul, sehingga dia mencarikan istri baru (Feby Febiola) untuk suaminya (Teddy Syach). Atau juga kasus seperti tetangga gw dulu: dia orang dari timur Indonesia sana, dengan nama keluarga yg gak lazim, karena memang laki2 bernama keluarga itu tinggal ada 2 orang di dunia: dia dan ayahnya. Nah.. kalau temen gw ini nantinya berpoligami, atas dasar memperbesar probabilitas menghasilkan penerus nama keluarga sebanyak2nya, rasanya gw harus setuju. Masa depan keluarga besar itu kan bertumpu pada dia.

*hmm… tapi sejauh yg gw denger, sampai sekarang istrinya baru satu dan sudah punya 2 anak laki2 yg sehat, plus satu putri cantik. Moga2 si 2 jagoan ini nantinya punya jagoan2 baru, sehingga gak perlu poligami.. ;-)*

Tapi pertahanan gw untuk gak nyerempet2 ngomongin poligami bobol juga. Gara2nya bertandang ke rumah ibu, dan di sana baca majalah Pesona edisi bulan ini. Ada wawancara dengan Puspowardoyo, si pendiri Ayam Bakar Wong Solo (yg asalnya malah dari Medan, bukan dari Solo… ;-)). Argumennya lucu juga (baca: logis juga!), walaupun gak sejalan sama logika gw. Jenis argumen yang bikin gw terusik buat berdebat imajiner sama dia. Kira2 gini deh obrolan antara Puspowardoyo (PW) dengan Maya Notodisurjo (MN):

*Note: Ohya, omongannya PW tuh gw kutip mentah2 dari halaman 40, kalau omongan gw sih emang imajiner, kan reporternya bukan gw… ;)*

PW:      Bagi saya, poligami adalah hak dan kebutuhan wanita, bukan pria. Wanita yang belum menikah, berhak menikah dengan pria beristri, karena jumlah wanita lebih banyak daripada pria. Karena itu, wanita tak bisa memonopoli seorang pria. Bila semua pria hanya beristri satu, banyak wanita yang tidak mendapatkan suami.

MN:      Argumen Bapak betul! Tapi, kalau boleh saya menyitir bahasa anak muda sekarang, “Naik pesawat ke Gorontalo, so what gitu lho?” Emangnya kenapa kalau banyak wanita yang tidak bersuami? Saya rasa tidak ada urgensi untuk membuat semua wanita menikah. Toh, alam juga sudah mengaturnya dengan cukup adil. Secara biologis (saya lupa hasil penelitian siapa dan dimana), wanita lebih mudah menahan dan menyembunyikan nafsu birahi. Sudah adil bukan, bahwa yang diciptakan lebih banyak adalah wanita? Coba kalo yang diciptakan lebih banyak adalah pria! Dengan produksi sperma yang 1x24 jam (kayak tamu harap lapor di RT/RW), gimana kalo ada pria2 yang gak kebagian istri? Kalo populasi wanita lebih sedikit daripada laki2, kan PSK juga gak ada, karena semua perempuan sudah di-claim oleh satu laki2? Nah.. saya rasa kalau kasusnya seperti ini, baru kita bisa bilang ada urgensi terhadap poliandri.

PW:      Dalam mengelola rumah tangga, istri pertama juga perlu dibantu oleh wanita lain. Selain mengurus suami, istri pertama kan punya banyak urusan lain, misalnya mengasuh anak-anak. Untuk meringankan bebannya, laki-laki yang sayang pada istrinya harus berbagi.

MN:      Setuju bahwa istri memang perlu dibantu wanita lain untuk meringankan bebannya. Ngurus anak dan suami, plus household chores, dan apalagi kalau bekerja di kantor juga, emang gak gampang, Pak! Memang butuh bantuan. Makanya, Pak, ada yang namanya Pembantu Rumah Tangga alias Pramuwisma. Ada juga baby sitter alias Pramusiwi. Plus alat2 elektronik seperti mesin cuci, vacuum cleaner, dll. Harganya cukup murah kok, Pak, apalagi dibandingkan membiayai rumah tangga baru. Kalau ada bapak2 yang kelebihan duit, lebih murah beli mesin cuci sama nggaji pembantu/baby sitter beberapa orang daripada punya istri kedua. Nah.. kalau udah gaji pembantu dan beli peralatan, tuh istri suruh melayani bapak aja. Kan bisa?

            Kalau suaminya gak punya duit buat beli alat elektronik dan nggaji pembantu? Walaaah.. membiayai istri baru duit darimana? Buat suami2 yg gini, kalo memang sayang istri, bisa juga kok meringankan bebannya. Misalnya, dengan tidak minta diurus istri banyak2.. sukur2 malah bantuin urusan istri. Bikin minum sendiri, milih pakaian sendiri, itu termasuk meringankan beban istri lho, Pak! Kalau ada yg minat menempuh jalur ini, boleh minta tentoring gratis sama suami saya.. ;-) Dia jagonya lho!

PW:      Karena poligami adalah hak dan kebutuhan wanita, pria wajib memenuhinya.

MN:      Bapak jangan mengalihkan pembicaran dong! Kan tadi belum ada konklusi tentang 1) urgensi poligami, serta 2) meringankan beban istri hanya dengan memberinya madu. Jadi gak bisa disimpulkan pria wajib berpoligami. Selesaikan dulu topik yang di atas, baru kita bicara tentang kewajiban.. ;-)

PW:      Dalam agama, pria berpoligami harus adil. Bagi saya, adil bukan syarat, tapi anjuran untuk mendapatkan pahala. Bila pria tak punya ‘tantangan’, dia tak bisa berlaku adil. Artinya, jika pria hanya beristri satu, bagaimana dia membuktikan bahwa dia bisa adil? Makin banyak tantangan, tanggung jawab makin besar. Tapi kalau si pria berhasil, dia akan berprestasi di depan Tuhan. Pria yang hanya beristri satu, berarti tak mau berusaha untuk adil.

MN:      Setuju bahwa dalam agama pria berpoligami harus adil. Tapi menurut saya premis ini tidak bisa dibalik menjadi: pria adil harus berpoligami. Atau kalau pinjam bahasa Bapak: pria yang hanya beristri satu berarti tidak berusaha untuk adil. Menurut saya, ada banyak jenis tantangan bagi pria untuk bisa berlaku adil, tantangan nggak harus berupa berpoligami.

            Pernah dengar cerita tentang Raja Sulaiman yang menyelesaikan perseteruan antara dua ibu yang berebut bayi? Itu tantangannya cukup berat, tanggung jawabnya berat, tapi toh dia bisa bersikap adil dengan mengatakan “Bagi bayi itu menjadi dua!”, dan menyerahkan si bayi pada ibu yang pertama merelakannya?

            Atau pernah dengar legenda wayang tentang Yudhistira yang menolak masuk ke Swargaloka karena anjing yang menyertai perjalanannya mendaki Mahameru tidak diperkenankan masuk? Yudhistira berkata, “Jika saudara2 hamba yang tidak mampu menyelesaikan tugas mendaki Mahameru pun boleh masuk surga, mengapa anjing ini yang sudah menyelesaikan tugasnya tidak boleh?”. Jawaban itu yang membuat Yudhistira boleh masuk ke surga walaupun dia pernah berbuat salah menggadaikan istri, saudara2, serta kerajaannya, dalam permainan kartu. Karena Yudhistira berlaku adil.

            Jadi, sekarang pertanyaan mendasar saya, masalah Bapak sebenarnya apa ya, dengan isyu poligami ini? Ingin berprestasi di depan Tuhan, atau ingin mengatakan bahwa poligami itu penting? Kalau masalahnya adalah ingin berprestasi di depan Tuhan, maka banyak jenis tantangan di luar sana yang menuntut tanggung jawab dan keadilan. Tidak harus berpoligami... ;-) Tapi kalau Bapak ingin mengatakan bahwa poligami itu penting, yang pertama2 harus Bapak tegakkan adalah argumen bahwa ada urgensi poligami.

            Either way, sejauh ini menurut saya Bapak belum memberikan argumen yang cukup kuat.. ;-)

Demikianlah debat imajiner saya bersama Bapak Pelindung Poligami ini. Anyway, Pak, peace yo! Saya gak anti-poligami kok! Tapi.. kalo poligaminya sekedar dengan alasan a la yang Bapak jabarkan, well.. ini sih namanya mengusik macan tidur. Pernah berdebat sama macan yang ini, Pak? Saya tahan lho berdebat berbulan2 ngomongin topik yang sama, sampai yang baca/dengar (dan yg berdebat) bosen sen sen.. ;-)

Friday, April 21, 2006

Bermain2 dengan Tia

*Sambil nunggu giliran boleh pakai kompie buat ng-edit video hasil home observation minggu lalu, gw mau nulis yg ringan2 dulu*

Tia, sebuah buku tulisan Kembangmanggis, bukan salah satu novel favorit gw.

Gw memang pernah membacanya sebagai serial bersambung di majalah Hai waktu masih SD akhir. Gw juga masih ingat garis besar ceritanya: cewek SMA yang patah hati dan kemudian menemukan kedewasaannya karena pengalaman patah hati itu. Tapi gw gak ingat detilnya. Mungkin pada jaman Tia ngetop, gw lagi kesengsem sama Mira W dan Marga T, sehingga cerita Tia gak terlalu berkesan buat gw.

Tapi toh, di umur gw yg udah gak remaja lagi, tiba2 gw punya dorongan untuk ngublek2 toko buku mencari buku tua ini. Semuanya karena kebetulan yang beruntun.

Kebetulan pertama terjadi beberapa minggu lalu, ketika di Gramedia Matraman gw menemukan setumpuk buku Tia itu. Cetak ulang. Gw sempat buka2 buku itu, dan speed reading. Tapi gw belum tertarik untuk beli. Ntar2 aja belinya, toh gak masuk dalam daftar collectible item gw.

Kebetulan kedua, beberapa hari kemudian, teman gw nulis di blog tentang dua buku masa kecil yang sangat dia sukai. Yup! Yang satunya Noni (karangan Bung Smas), dan yang satunya tentu saja Tia (Kembangmanggis). Waktu itu gw cuma ketawa geli.. kebetulan banget, baru aja beberapa hari lalu gw lihat cetak ulangnya. Waktu itu gw malah dgn riangnya menulis komentar buat dia: kalau mau cari cetak ulangnya, masih ada ombyokan di Gramed Matraman.

Gw nggak ketawa lagi ketika beberapa hari kemudian, saat blog-walking, baca lamentation seorang cowok tentang putus cintanya bertahun2 lalu. Sebagai ilustrasi, si cowok ini mengutipkan paragraf2 dari Tia. Tiga kebetulan berturutan… hmm… it doesn’t sound right to me! Kenapa berbagai peristiwa menyebut2 Tia pada saat yg bersamaan?

Dan puncaknya… beberapa hari kemudian, gw baru tahu bahwa anak teman gw yang sehari2 dipanggil Tiara (or Ara for short), bernama lengkap Tiara Kesuma. What a coincidence! Saat gw buka2 cetak ulang itu di Gramedia, salah satu halaman yg gw baca adalah yang memuat nama panjang si tokoh: Tiara Kusuma. Isn’t that too good to be a mere coincidence? Dari sekian ratus halaman, dan yg gw baca (serta ingat) adalah bagian itu!

Well… gw tuh bukan orang yang percaya bahwa kebetulan adalah sekedar kebetulan. Gw termasuk yang setuju pada teori yg dipakai di Celestine Prophecy:

We humans can project our energy by focusing our attention in the desired direction...where attention goes, energy flows...influencing other energy systems and increasing the pace of coincidences in our lives

Kebetulan terjadi karena energi yang sinkron saling tarik menarik. Dengan demikian, kalau gw berkali2 terbentur dengan kebetulan yg bermuara ke Tia, berarti itu pengaruh energi lain yg sinkron. Dan konon.. kalo ngikutin teorinya James Redfield itu, artinya gw harus mengikuti kebetulan ini: buy and read the book.

Ternyata mencarinya gak mudah. Di Gramedia, yang tadinya ada setumpuk, kabarnya ditarik semua. Tinggal bersisa 1 copy yg sudah tidak layak jual, sehingga si penjaga toko gak mau menjualnya pada gw. Jadi tambah inget sama Celestine Prophecy, karena katanya kalo mau mengikuti kebetulan tuh ada aja obstacle-nya, yg menjanjikan sesuatu yg lebih manis kalo gak putus asa.  Untungnya, di www.inibuku.com masih ada. Lebih murah, karena dapat korting 15%. Bener kan, dapat sesuatu yg lebih manis, alias harga lebih murah.. ;-) Diantar sampai ke kantor lagi!

Dan mulailah gw membaca novel remaja itu. And I’m amazed!

Membaca buku itu seperti bercermin ke masa lalu. Tia yang agak2 manja, keras kepala, always has her own way, hobby memancing perdebatan, dan kadang2 suka melancarkan perang bisu-tuli (yg tahan berminggu2) … cerminan masa lalu gw banget! Well… sebenernya sih sekarang juga masih kayak Tia, tapi gw keluar gaya “ke-Tia2-an”-nya gak lagi untuk urusan seremeh temeh itu.

*eh, gak tahu ya kalo urusan yg gw anggap gak remeh-temeh itu ternyata sepele buat orang lain. Itu kan menurut gw gak sepele… ;)*

Terus… Tia juga dijuluki penjajah, gara2 kengeyelan dan kengototannya has her own way. Jadi inget dulu ada satu temen yg terus menerus ngatain gw tukang jajah, apalagi pas tahu bahwa gw seneng tim sepakbola Jerman, cerita klasik Rusia, dan kebudayaan Jepang. Katanya, bakal lebih cocok lagi kalo Rusia gw ganti jadi Italia, biar kumplit ada Fascist, Nazi, dan pencetus Perang Pacific. Tapi belakangan dia bilang boleh juga kok kalo suka Rusia, kan di Rusia ada Lenin dan Stalin yg beda2 tipis… ;) Well.. teman itu pasti bakal tambah yakin gw penjajah kalo gw bilang bahwa salah satu ras favorit gw di Star Trek adalah Borg… ;-). Tahu kalimat pertamanya Borg kalau ketemu mahluk lain yang menarik perhatiannya? “We are Borg. You will be assimilated. Resistance is futile” ;-)

*eh.. tapi gw suka Borg lebih karena their efficiency, logic, and quest for perfection, bukan karena suka mengasimilasi ;-)*

Well.. back to Tia. Berhubung bukunya tipis, ceritanya mengalir ringan, dan karakternya kayak bayangan cermin gw, jadi bacanya cepet deh! Malah udah sempat khatam 2-3x nih… hehehe… Asyik juga ngebaca cerita remaja gitu. Jadi inget jaman remaja dulu.. ;-)

Nah, udah gw ikutin tuh semua kebetulan yang ada. Sekarang apa lagi ya? Ya… status quo dulu deh! Better stay here kali ya? Nunggu guidance berikutnya dalam bermain2 dengan Tia… ;)

Hehehe… diterusin enggak ya, main Celestine Prophecy-nya? Kalo diterusin, sekarang udah sampai insight ke-7:  Knowing our personal mission further enhances the flow of mysterious coincidences as we are guided toward our destinies. Waduh… emang perlu mengkaji ulang personal mission gw nih… ;-) Soalnya kalo gak nemu misi pribadinya, susah ngelanjutin insight ke-8: We can increase the frequency of guiding coincidences by uplifting every person that comes into our lives.

Wednesday, April 19, 2006

Rumus Hidup

Setelah memposting entry yang ini, saya menerima banyak e-mail yang tidak setuju bahwa sumber masalah adalah pikiran plus tuduhan bahwa saya 'menyerang' kaum atau pihak tertentu.

(update si sepatumerah untuk postingan ini)

***

Gw gak mau ngomentarin postingnya si sepatu, juga gak mau ikut2an ngomongin topik yg diomongin dia. Tapi komentar di atas bikin gw ingat pernah mau ngomentarin salah satu email di milis almamater gw. Salah satu elderly sorority sister gw beberapa waktu lalu minta sumbang saran untuk pilihan kuliah anak sulungnya.

*jangan heran, milis gw yang itu emang kayak hypermarket; segala macem ada! Dari sharing tentang teknik menanam seledri yang baik dan benar, sampai diskusi njelimet tentang Immanuel Kant ada ;-)*

Nah, di antara berbagai reply, ada satu yang menarik perhatian gw:

Dibalik kejelimetan penjelasan tentang TK di website2 ataupun yg ada di textbook, inti pelajaran di TK hanya:

IN + PROSES = OUT atau IN = OUT - PROSES atau PROSES = OUT - IN.

Kesederhanaan itulah yg membuat lulusan TK bisa bekerja di bidang apa saja yg menganut formula di atas.

Kesederhanaan yang sama pernah gw dengar di sebuah tempat yang lain. Tempat yang berbeda. Istilahnya juga berbeda, tapi intinya sama. Dan karena yang ini tentang manusia, maka makin ditekankan betapa pentingnya proses yg terjadi itu:

Dalam proses belajar ada 3 elemen utama: stimulus, organisme, dan response. Stimulus adalah segala sesuatu yang menimbulkan aktivitas tertentu. Stimulus bisa berupa kejadian, kondisi, sinyal, tanda2. Organisme adalah si individu tersebut. Response adalah reaksi yang terjadi sebagai hasil pemrosesan organisme terhadap stimulus itu. Prinsipnya sederhana: S-O-R, kalau kita tahu S-nya, cukup mengenal O-nya, maka bisa kita prediksikan R-nya. Juga demikian, dari R yang kita lihat, dan S yang kita tahu, bisa kita analisa O-nya seperti apa. Tapi karena organisme berbeda2, maka sulit dikatakan bahwa stimulus tertentu menghasilkan response tertentu. Response sangat tergantung dari bagaimana organisme tersebut memproses stimulus.

See what I mean?

Hidup ini memang sederhana rumusnya. Ada input/stimulus, kemudian diproses (oleh manusianya), dan menghasilkan output/response. Dalam kasus apapun, hal apa pun, rumus ini pasti terpakai.

Tapi jangan coba2 mendakwa bahwa response/outputnya pasti begini kalo hanya tahu input/stimulusnya, karena pemrosesan oleh organisme itu bukan konstanta ;-). Input/stimulus yg sama, diproses oleh organisme yang berbeda, response/outputnya bisa beda juga. Atau seperti dibilang oleh si sepatumerah di atas: sumber masalah adalah pikiran. (well, bukan pikiran aja, tapi the whole value system in the organism, tapi dalam kasus ini bisa deh disederhanakan jadi pikiran).

Contoh kasus nih! Kebetulan kemarin di Mustang FM Bedu & Rico Ceper menggunakan kasus Sungai Buaya. Ini adalah cerita yang sering dipakai di kampus gw dulu untuk games sebelum bicara tentang sistem nilai manusia:

Tono dan Tini adalah sepasang kekasih. Tono sudah lama merantau ke daratan besar tanpa kabar berita, sementara Tini masih tinggal di pulau kecil kampung halaman mereka. Suatu hari Tini berniat menyusul Tono. Untuk ke daratan besar, dia harus menyeberangi sungai penuh buaya. Nggak ada jembatan, satu2nya sarana adalah perahu milik Tino. Tino bersedia menyeberangkan Tini, asalkan Tini mau tidur dengannya. Singkat cerita, Tini mengabulkan syarat Tino, dan berhasil menyeberang untuk bertemu Tono.

Setelah melepas kangen, Tini bercerita tentang bagaimana dia bisa menyusul Tono. Tono marah karena Tini tidur dengan Tino. Tono lalu mengusir Tini. Tini menangis, dan kemudian bertemu Toni. Mendengar cerita Tini, Toni bersimpati. Toni kemudian menghajar Tono hingga babak belur.

Menurut Anda, siapakah yang paling bersalah dalam kasus ini?

Dari pengalaman sih, jawabannya bisa macem2. Ada yang menyalahkan Tini, ada yang menyalahkan Tono, menyalahkan Tino, menyalahkan Toni.. Untuk yang sama2 menyalahkan Tini saja ada 2 macam jawaban yang berbeda: menyalahkan Tini karena berselingkuh dgn Tino (padahal siapa yg bilang Tini masih perawan ting-ting ;-)?), atau menyalahkan Tini karena menceritakan itu ke Tono. Yang nyalahin Tono juga macem2 alasannya: kenapa dia gak kirim kabar sama Tini sampai Tini nekad nyusul dia dengan menghalalkan segala cara (padahal siapa yg bilang Tono gak pernah kirim kabar? Bisa aja kirimannya gak sampai ;-)). Ada juga yang menyalahkan karena gak bisa menerima pengorbanan yang sudah dilakukan Tini untuk menemui dia. Ada yang nyalahin Tono karena mengusir Tini. Ada yang nyalahin Tino karena ngambil kesempatan dalam kesempitan, berpamrih, dll. Sampai ada yang nyalahin Toni karena ikut campur urusan rumah tangga orang lain.

See? Semua orang mendapatkan stimulus/input yang sama: cerita Sungai Buaya. Tapi karena setiap orang berbeda pengalaman dan cara berpikirnya, maka response/outputnya terhadap pertanyaan yg sama pun berbeda2. Nggak ada input yang pasti menghasilkan output tertentu, atau stimulus yang pasti menghasilkan response tertentu. Makanya juga, gw setuju bahwa sumber masalah itu ya adanya di diri masing2, bukan di input/stimulusnya.

Itu aja sih yg pingin gw tulis hari ini ;-)

Tapi, ngomong2, kalau menurut Anda2 semua, siapa yg paling bersalah di cerita Sungai Buaya itu? Jawaban orisinil lho ya, jangan nyontek, tapi juga jangan asal jeplak ;-) Yang jawabannya paling orisinil dapat senyum manis menawan dari gw (boleh nambah kalo satu kurang) ;-)

Update:

Makasih buat Tino si tukang perah(u) yang bolak-balik ngunjungin posting ini. Cuma gw heran banget baca komentar loe yg ini (terkutip):

horeeee R saya ternyata tercapai. counter comments sudah
mencapai angka dua puluhan, yg berarti rekor baru.selamat!salah satu bukti bahwa R ternyata juga bisa dikendalikan. Jika O diketahui dengan cukup baik, maka S-nya bisa diatur agar dapat dicapai R yg diharapkan.

Maksudnya apa ya??? Dari dulu memang R bisa dikendalikan.. ;) Kan udah dibahas bahwa kalo S-nya tahu, O-nya dikenal dgn baik, maka kita bisa memprediksi R-nya, atau bahkan membuat suatu R muncul... ;). Dan yang dimaksud R apa ya? Sekedar jumlah comments yg mencapai 20-an? Hmm... Ti, Ti (sengaja kutulis Ti karena itu yg ada di nama resmimu kan.. ;)?) Dari dulu kok ya masih sibuk sama hasil akhir.. ;). So what kalo jumlah komentarnya lebih banyak dari posting lain? Aku gak bangga... lha wong 20-an isinya orang nge-junk (termasuk gw sih... ;)). Jumlah 1-2 komentar bermutu lebih berharga daripada rekor yg dihitung dari sekedar "jumlah"... ;). Jadi... buat kamu aja deh ucapan selamatnya... ;)

Monday, April 17, 2006

Shinobi

Tokohnya, Gennosuke dan Oboro, memang sepasang kekasih dari clan yang bermusuhan. Tapi salah besar kalau dikira film ini hanya sekedar Romeo & Juliet versi Jepang klasik buatan non-Hollywood. Sinopsis dan komentar lain bisa didapat di sini.

***

Kouga Manjitani dan Iga Tsubagakure adalah dua “Shinobi clan”: clan penghasil ninja (shinobi sendiri berarti “yang bergerak penuh rahasia”). Mereka menghasilkan ninja2 yang terbaik selama beratus tahun karena seni bertarungnya sudah mencapai taraf superhuman. Ketika Jepang disatukan di bawah pemerintahan Tokugawa Ieyashu, kedua clan ini dianggap mengancam stabilitas pemerintah. Kalau mereka memutuskan untuk memberontak, apalagi kalau memberontak bersama2, siapa yang bisa menanggulanginya? Oleh karena itu dirancanglah suatu politik adu-domba untuk menghancurkan mereka: diturunkan dekrit bahwa masing2 clan harus memilih 5 anggota termahir yang harus bertempur hingga hanya tersisa satu orang saja. Dari clan mana orang yang tersisa itulah menentukan siapa shogun berikutnya. Sebuah kompetisi berdarah yang disengaja untuk melumpuhkan ancaman.

Sampai sini cerita masih bisa ditebak. Kouga no Gennosuke dan Iga no Oboro adalah pemimpin pertempuran dari masing2 clan. Dipenuhi oleh rasa cinta dan keinginan mewujudkan perdamaian, baik Gennosuke maupun Oboro berusaha mencari win-win solution. Di situ pangkal masalahnya. Baik anak buah Gennosuke maupun Oboro sama2 menolak keinginan pemimpinnya mencari jalan damai.

“We live to fight. If you take the fight away, our lives have no purpose anymore”

“We are the weapon. If we cannot serve the purpose, then we are useless”

Buat mereka, it’s an honor to fight and die. It would be the ultimate honor to fight, win, and live. Dengan demikian satu persatu keempat pejuang dari kedua clan mulai saling membunuh. HIngga tersisa Gennosuke dan Oboro.

“So, after all… we have to fight here?”

“After so many deaths, there is no turning point. I told you our love can only join in a dream”

Tapi toh Oboro, si pemilik jurus Eyes of Destruction, yang pancaran matanya dapat merontokkan organ dalam musuh yang menatapnya, tak kuasa membunuh sang kekasih. Dan ketika dia mengambil badik, menyerang sang kekasih dengan separuh hati, Gennosuke memilih diam membiarkan badik menembus jantungnya. Gennosuke, yang “bergerak lebih cepat daripada bayangannya sendiri” dan pancaran matanya memiliki kemampuan telekinesis membalikkan senjata lawan, memilih mati di tangan pujaan hatinya.

Dan sang pemenang, Oboro, hanya punya satu permintaan kepada sang penguasa: please leave our clans in peace. Permintaan yang tidak dikabulkan karena ketakutan penguasa, membuatnya membutakan kedua biji matanya sendiri – senjata utama jurusnya – untuk menegaskan niat tak akan pernah menggunakan ke-superhuman-an mereka menentang pemerintah.

***

Now, what’s so beautiful in this movie for me?

Yang pertama, film ini gak tipikal Hollywood yang selalu happy-ending itu (apalagi kalo udah soal cinta2an ;-)). Film ini benar2 menunjukkan budaya Jepang, atau Asia pada umumnya; love is not everything, above love there is honor, and obligation. Hidup kita di tengah masyarakat kolektif yang harus patuh pada kebutuhan dan kepentingan orang banyak. The need of the many exceeds the need of the individual. Cinta bukan segalanya, karena cinta itu milik individu. Kehormatan adalah segalanya, karena kehormatan itu milik kolektif. Dan pengabdian pada negara adalah sesuatu yang tidak dapat ditawar2.

Yang kedua, betapa sulitnya menjadi pemimpin. Lebih sulit lagi kalau dia harus mengubah sesuatu yang sudah mendarah daging. Membawa pembaharuan yang lebih baik itu tidak mudah, meskipun kita jadi pemimpin, jika materi yang kita punya sebagian besar masih terikat pada pola2 lama. Pemimpin bukan tukang sihir yang bisa mengayunkan tongkat ajaibnya membawa perubahan. Bagaimana pun bersihnya mereka, bagaimana pun tulusnya niat mereka membawa perubahan, tidak akan bisa berbuat banyak jika materi lama belum siap untuk mengubah diri. Tapi toh, di sela2 sulitnya menjadi pemimpin itu masih tersisa suatu harapan: keadaan masih bisa menjadi lebih baik jika sang pemimpin mau mengorbankan diri. Seperti Oboro yang membutakan diri demi pencabutan dekrit itu. Memang dia gak bisa mendapatkan hasil ideal seperti yang direncanakannya bersama Gennosuke: perdamaian kedua clan. Namun setidaknya pengorbanan itu membawa the second best alternative: kedua clan tidak dipaksa untuk saling bertempur.

Yang ketiga, yang menakjubkan gw, adalah ucapan si immortal dari clan Iga yang menjawab pertanyaan Gennosuke tentang mengapa penguasa menyuruh mereka berperang. “Our time has passed,” demikian katanya. Sekarang jaman Jepang yang bersatu, jaman “kerajaan2 kecil” yang membutuhkan pasokan ninja sudah berakhir, dan berakhir pulalah tugas Shinobi dalam sejarah Jepang. Dan dengan kesadaran itulah si immortal tetap mengikuti dekrit itu walaupun tahu banget itu sekedar tipudaya untuk menghabisi kaumnya. Dengan kesadaran itu juga dia menghimbau Gennosuke untuk pasrah, tidak lagi mempertanyakan dan memprotes keputusan yang dirasanya nggak adil itu. Sebuah hal yang sangat menakjubkan buat gw yang selalu aja sibuk dengan “why” dan “should”; mungkin memang ada hal2 yang gak bisa – dan gak perlu – dipertanyakan… :-)

Friday, April 14, 2006

The Definition of Moral

Libur long weekend gini emang enaknya nonton TV sampai tepar. Nah… di acara gosip2 artis dan berita2 TV, salah satu berita yang rame tuh seputar razia majalah Playboy Indonesia. Di acara gosip2 artis ada Andhara Early yang diwawancarai. Ada juga Inul Daratista yang kabarnya rumahnya baru didemo seputar niatnya tampil di majalah khusus pria dewasa itu, plus adanya ancaman demo susulan.

*komentar iseng: ternyata demo sama gempa bumi beda2 tipis ya, ada susulannya.. ;-p*

Nah… kalo di berita yang lebih serius ada liputan2 kelompok mahasiswa me-razia lapak2 koran, salon, dan entah apa lagi gw lupa. Ada adegan mereka mau menyita paksa tabloid dan majalah yang gambarnya gadis berbaju mini.

Dari sekian demo baik yang di infotainment maupun yang di berita serius, slogan2nya sama: Playboy merusak moral bangsa. Dan ini yang bikin gw tertarik. Moral? Apa sih moral itu?

Gw coba cari definisinya di kamus, dan kata Oxford Dictionary adalah sebagai berikut:

Moral (adj):

Concerning principles of right and wrong; good and virtous; able to understand the difference between right and wrong; teaching or illustrating good behavior;  conncected with the sense of what is right and just

Moral (n):

That which of a story; Standard of behavior, principles of right or wrong

Morality (n):

Standard, principles of good behavior; particular system of moral

 

Hmmm… dari semua definisi di atas, yang gw tangkap adalah satu hal: moral atau moralitas itu adalah patokan untuk berperilaku yang benar. Dan bicara tentang perilaku, maka cakupannya jadi luas sekali, karena setiap hal yang kita lakukan adalah perilaku. Makanya gw pikir yang namanya moral atau moralitas itu patokannya mencakup seluruh aspek kehidupan, bukan hanya sebagian kecil dari aspek kehidupan aja. “Benar” yang dibicarakan di sini adalah integrasi dari semua perilaku yang benar. Bukan satu perilaku yang benar saja sementara perilaku yang lainnya salah. Tapi itu pendapat gw pribadi lho..!

Gak puas dengan pendapat gw sendiri, gw buka2 Wikipedia, dan nemu acuan ke moralitas. Lengkapnya bisa dibaca di sini, tapi sedikit kutipannya adalah:

Morality can thus also be seen as the collection of beliefs as to what constitutes a good life. Since throughout most of human history, religions have provided both visions and regulations for an ideal life (through such beliefs characterized by 'the god(s) know what's best for us') morality is often confused with religious precepts. In secular situations morality can now be used in reference to such things as lifestyle choices, as these tend to represent an individual's conception of a good life, and the individual usually conforms to a set of beliefs within the lifestyle's community of like-minded people.

 

Hmm.. yang dari Wikipedia ini ternyata mendukung pendapat pribadi gw. Collection of beliefs as to what constitutes a good life. Kumpulan belief2 yang berintegrasi untuk mewujudkan hidup yang baik. Hidup yang baik ini – allow me to interpret – tentunya didapat dari melakukan kumpulan perilaku2 yang benar dan mengarah pada baik.

Terus.. hubungannya apa dengan pembukaan posting gw kali ini, tentang majalah Playboy? Well.. nggak ada hubungannya sama majalah Playboy atau isyu pornografi sih. Hubungannya lebih ke masalah tulisan di poster2 yang mengatakan bahwa Playboy “Merusak Moral Bangsa”.

Ya, ya.. gw tahu bahwa buat sebagian orang yang namanya gambar2 seperti di majalah itu bisa menggoda iman. Bisa menggoda mereka untuk melakukan perilaku (seksual) yang tidak benar. Dan sesuai dengan definisi di atas, perilaku (seksual) yang tidak benar berarti melanggar moral atau moralitas. Tapi masalahnya.. apakah benar kita bisa mengatakan bahwa semua itu merusak moral?

Kalau kita bicara moral dan moralitas sebagai integrasi perilaku2 yang benar, maka yang namanya moral dan moralitas itu lebih luas daripada sekedar aspek seksual. Moral dan moralitas itu mencakup juga perilaku2 lain: perilaku menyampaikan pendapat, perilaku menyampaikan keberatan, perilaku terhadap hak2 orang lain (sekalipun orang lain tersebut dianggap telah melakukan kesalahan kalau ditinjau dari sudut pandang tertentu). Artinya: seseorang (khususnya) atau suatu bangsa (umumnya) bisa dikatakan mempunyai suatu moral/moralitas jika dia punya kumpulan perilaku2 baik. Implikasinya: sesuatu dapat dikatakan merusak moral bangsa jika sesuatu itu bisa menyebabkan disintegrasinya kumpulan2 perilaku yang baik ini.

Tentunya pertanyaan selanjutnya adalah: bisakah sesuatu dikatakan merusak moral seseorang (khususnya) atau bangsa (umumnya) jika orang/bangsa itu sendiri sudah tidak memiliki integrasi perilaku2 yang baik, alias orang/bangsa itu sendiri sudah mengalami disintegrasi moral?

Ini suatu pertanyaan yang ingin gw ajukan pada teman2 yang dengan kekuatan massa menjurus kepada kekerasan dan vandalisme berteriak lantang atas nama moral/moralitas. Masih dapatkah kita berteriak menuduh sesuatu merusak moral, sementara perilaku yang kita tunjukkan sudah membuat orang ragu apakah masih ada moral tersisa pada diri kita? Perilaku seksual yang mungkin dirusak oleh majalah ini memang bagian dari moral bangsa. Tapi.. dengan melanggar semua tabu dalam “musyawarah dan mufakat” dan identitas bangsa sebagai “bangsa yang ramah tamah dan cinta damai”, tidakkah kita sudah menunjukkan kemerosotan moral yang lebih parah?

Well.. menurut gw sih jawabannya: bisa, tapi ada syaratnya. Syaratnya adalah kita mesti menuntut dulu perubahan arti kata moral/moralitas.. ;-) Moral/moralitas harus diubah dulu menjadi sinonim dari perilaku seksual yang benar. Barulah setelah itu kita bisa melegalkan semua gerakan yang dilakukan oleh sembarang orang (baca: bukan aparat yang berwenang) melarang artis mengisi majalah Playboy, tindakan sweeping dan menyita paksa dagangan di lapak2 koran, dan segala bentuk vandalisme lainnya.

Thursday, April 13, 2006

Peta

Ada 2 hobby aneh gw yang sering bikin orang sekitar gw (terutama si Mas) irritated: baca kamus dan baca peta. Iya, kalo kehabisan bacaan, gw emang suka baca dua benda ini. Bener2 dibaca sebagaimana membaca buku, bukan seperti layaknya membaca kamus atau peta sekedar untuk mencari referensi ;-).

Tapi kali ini yang mau gw ceritain adalah hobby baca peta gw ya.. ;-)

Gw memang maniak peta. Di rumah gw ada satu rak buku yang isinya berbagai peta. Petanya macem2; dari peta yang berbentuk buku (ada yg seperti falkplan, tapi setiap halaman hanya memuat 1 kota di Indonesia, ada juga yg sebuku isinya satu kota, seperti peta Bandung & Surabaya yg dilengkapi juga dgn nomor2 bis & angkot), peta turis sederhana yang sering ditaruh di meja2 resepsionis hotel (ada yang sekedar fotokopian seperti yang gw comot di Hotel Quality Solo, atau yang dicetak dengan warna-warni menarik plus cerita tentang tempat2 tertentu di kota itu seperti yang gw ambil dari Novotel Yogya dan Novotel Surabaya), sampai peta yg gw print dari website atau email karena gak ada menemukan versi cetaknya (masuk dalam kategori ini adalah peta Garut dan peta Nganjuk.. buset, yang namanya Nganjuk itu jalan besarnya cuma satu, jadi males kali orang bikin peta khusus buat kota ini.. ;-) Ohya, ada juga peta kota Kirchdorf hasil gambaran Ibunya Gunito waktu Gunito ultah… ;-))

Sejujurnya gw lupa sejak kapan gw punya hobby mengumpulkan peta seperti ini. Memori paling awal gw adalah sekitar pertengahan 80-an, ngambil peta gratisan Singapura di Bandara Changi. Gw ingat betapa gampangnya menemukan lokasi MRT terdekat dari buku kecil itu, plus bisa membayangkan alur2 MRT dari garis yg berwarna-warni. Sedangkan peta pertama yang gw beli pakai uang sendiri adalah falkplan Jakarta keluaran tahun 1994 (edisi 11 atau 12 ya?), harganya kalo gak salah Rp 58,000.

Pertama beli peta falkplan itu adalah karena gw mulai masuk kepaniteraan mahasiswa (= kerja praktek semacam ko-as di fakultas gw). Waktu itu mobilitas gw tinggi dan seringkali harus merambah daerah2 yg asing buat gw; terutama untuk Kunjungan Rumah Klien (salah satu prosedur wajib kalo mendapat klien di jurusan Psi Anak, Psi Klinis, dan Psi Pendidikan) dan menyerahkan laporan dan/atau pembicaraan di rumah dosen pembimbing. Pas pertama kali beli peta itu gw dicela abis sama orang2 rumah; dibilang mau jadi supir taksi.. hehe.. tapi gw cuek aja. Mendingan dicela daripada kesasar, kan ;-)?

Sejak itu gw gak pernah absen beli revisi falkplan Jakarta. Tiap ada edisi baru, pasti gw beli! Senang aja melihat jalan2 baru, walaupun gw sempat agak ilfeel sama si pembuat falkplan gara2 nama jalan rumah gw salah ketik… ;-). Bikin gw susah menjelaskan lokasi rumah gw, harus selalu bilang gini, “Di falkplan edisi 2004, rumah gw ada di halaman [xx], matrix [yy], yang nama jalannya [xxxx]. Tapi sebenernya nama jalannya [yyyy], falkplan salah ketik, padahal di edisi sebelumnya bener”

*hehehe… gak penting ya?*

Ketergila2an gw sama peta juga bukan hanya menyangkut peta jalan kota2 yang akan/sudah gw kunjungi. Di mall pun hobby gw mencari denah mall dan melihat dimana titik “You are Here”.  Waktu sahabat pena gw dari Surabaya baru merasakan kejamnya ibukota untuk pertama kali, gw sempat mengantarkan dia dari Matraman (Jak-Pus) ke Mal Puri Indah (Jak-Bar). Seumur2 gw belum pernah ke Mal Puri Indah yang letaknya sekian ribu tahun cahaya dari rumah gw, tapi toh gw dengan pede-nya menjanjikan dia sampai ke tempat dengan selamat. Modal gw: peta falkplan disambung denah mall! Gw ingat dia bilang, “Wah.. kamu memang nggak bisa jauh2 dari peta ya, May?” Entah itu komentar kagum atas kenekadan gw atau komentar nyindir atas obsesi gw terhadap peta… ;-)

 Kenapa ya, gw suka beli peta? Nah.. ini yang menarik! Gw pernah mencoba menganalisa diri gw sendiri, dan kesimpulan gw adalah sebagai berikut:

1.       Spatial ability gw buruk banget. Gw itu gampang tersesat. Nggak seperti adik gw yang dilepas di gunung aja bisa nemu jalan pulang, gw tuh kalo rutenya ganti dikit aja bisa kesasar. Susah buat gw membayangkan lor-kidule jagad (utara selatannya dunia). Dulu Bapak bilang gw itu seperti pinguin; pinguin tuh rutenya selalu sama, dan kalau ada anjing laut yang duduk di rutenya pinguin bakal nunggu sampai anjing laut itu minggir, bukan menghindari si anjing laut itu.

2.      Gw tuh pencemas. Nggak suka sama ketidakpastian. Sesuatu yang tidak pasti membuat gw tidak nyaman. Makanya kalo mau ke tempat asing harus tahu pasti lokasinya dimana. Gw gak mau mengandalkan diri pada peribahasa “malu bertanya sesat di jalan”, soalnya gw gak yakin ada tempat bertanya kala gw tersesat.  Lagipula, belum tentu orang2 itu bisa jawab pertanyaan gw kan?

3.      Gw independent menjurus ke solitary person. Gw gak nyaman harus mengantungkan diri dan nasib pada orang lain, semua2nya harus hasil usaha gw sendiri. Mungkin karena gw hanya percaya sama diri gw sendiri… ;-) Nah.. kalau soal ini Ibu sering protes karena gw suka menghentikan mobil di pinggir jalan to consult my map, padahal di dekat situ ada warung atau tukang ojek nongkrong yang bisa ditanyai. Ibu gw itu orangnya sociable  sekali, hobinya ngomong, dan “petanya” mulut (alias di mana2 selalu bertanya).

So… ternyata, buat gw peta itu lebih dari sekedar sumber informasi. Peta itu sudah menjadi semacam safety blanket yang memberikan peace of mind buat gw. Lucu ya, ternyata betapa besar makna peta itu buat gw… ;-).

Habis menganalisa diri gw sendiri, gw jadi makin takjub sama hal2 kecil dalam kehidupan manusia. Lucu sekali bagaimana sebuah perilaku nyata kita itu hanyalah sebuah manifestasi dari dorongan2 bawah sadar yang kita miliki. Ya seperti peta itu! Ternyata itu bukan sekedar benda koleksi gw, tapi garansi gw tentang suatu kepastian saat masuk ke tempat yang nggak familiar buat gw. Cuma dengan memikirkan kenapa gw ngumpulin peta, and here it is… my whole trait is exposed.

Hmm.. gw takjub betapa mengenali alasan suatu perilaku itu ternyata membuka cakrawala baru dalam memahami seorang manusia. Bayangkan betapa banyak yg bisa kita pelajari dari mengamati perilaku2 orang di sekitar kita. Betapa sebenarnya manusia itu telanjang dan sangat mudah dipahami kalo kita mau memperhatikan apa perilakunya dan kenapa dia berperilaku begitu.. ;-) Sisi buruknya: betapa sulitnya menyembunyikan rahasia diri kita jika semua orang mau sibuk2 mengamati kita… ;-)

Hehehe… omongan gw psikolog banget yaks? Anyway… gara2 gw bawa peta kemana2, gw dapat gelar kehormatan dari anak2 Prompt di luar Jakarta: Kakak Dora. Iya, katanya gw kayak Dora the Explorer karena kemana2 pakai ransel dan bawa peta… ;-).

Well… kalo gw jadi Dora, siapa bersedia jadi Boots.. ;-)?

Monday, April 10, 2006

"Izinkan Aku Menjadi Pelacur"

Baru saja selesai melahap sebuah buku yang gw temukan di Deli Plaza dua hari lalu. Pengarangnya Muhidin M Dahlan. Gw tertarik beli karena judulnya memang sangat kontroversial: Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur: Memoar Luka Seorang Muslimah. Kebetulan sinopsis di cover belakangnya juga sangat menarik:

Dia seorang muslimah yang taat. Tubuhnya dihijabi oleh jubah dan jilbab besar. Hampir semua waktunya dihabiskan untuk shalat, baca Al Quran, dan berzikir… Tapi di tengah jalan ia diterpa badai kekecewaan. Organisasi garis keras yang mencita-citakan tegaknya syariat Islam di Indonesia yang diidealkannya bisa mengantarkannya ber-Islam secara kaffah, ternyata malah merampas nalar kritis sekaligus imannya. Setiap tanya yang dia ajukan dijawab dengan dogma yang tertutup…

Baca sinopsis itu, gw membayangkan tokoh cerita ini adalah seperti salah seorang teman gw: yang taat beragama hingga awal masa perkuliahan, namun sekarang dengan bangga memproklamirkan diri sebagai atheis, kendati masih menyimpan fotonya yang dalam balutan jilbab di dompet. Ternyata jalan ceritanya memang mirip, walaupun sumber kekecewaannya berbeda arah.

Well.. separuh pertama ceritanya sangat kuat. Tentang seorang gadis, Nidah Kirani, yang mengamalkan agama lebih sebagai rangkaian ritual. Memang, sebuah kebiasaan yang dilakukan berulang2 itu akhirnya menimbulkan kerinduan untuk memperdalam agama. Kerinduan itu mengantarnya pada seorang teman diskusi yang fasih mengutipkan dan menjelaskan ayat untuk menjawab keingintahuannya. Karena memang konsep kehidupan beragama si tokoh adalah sebatas ritual, maka dia tak benar2 kritis untuk menyadari bahwa ayat2 dan hadis2 itu kerap kali (maaf) “diputarbalikkan” untuk membenarkan tujuan organisasi garis keras tempat si teman diskusi bergabung. Kiran pun akhirnya bergabung dengan organisasi itu, dan ternyata kemudian menyadari bahwa preview yang dia dapatkan lebih indah dari warna aslinya.

*Seperti joke lama di kalangan HR Consultant tentang bedanya keadaan saat proses seleksi dengan setelah benar2 jadi karyawan: yesterday was better because we were recruiting you. Now you’re one of us, you have to embrace the reality.. ;-)*

Cerita ini sudah cukup kuat untuk menggambarkan suatu pergulatan batin seseorang yang kecewa. Dan cerita ini juga sangat masuk akal. Ketika seseorang mendapatkan bahwa apa yang diharapkannya hanyalah sebuah ilusi, maka dia akan menjadi sangat kecewa, dan konsekuensinya adalah melakukan perubahan yang drastis. Bukankah manusia selalu membutuhkan pegangan dalam keadaan seperti ini? Dan jika suatu titik membuat kita kecewa, tidakkah secara instinctive kita akan “lari” ke titik yang berlawanan? Fenomena yang sama kerap terjadi pula pada suatu kasus yang berkebalikan: seseorang yang tadinya kehidupan beragamanya biasa2 saja atau malah tidak perduli sama sekali dengan agama, ketika sampai pada suatu titik yang sangat mengecewakan, bisa berbalik menjadi sangat religius bahkan mengarah pada fanatik.

Cerita menjadi agak bertele2 dan terlalu panjang ketika dalam paruh kedua si penulis sibuk menceritakan proses keterpurukan Kiran hingga memutuskan untuk menjadi pelacur. Entahlah, mungkin si penulis keburu terpaku pada judulnya, sehingga harus menuntaskan cerita hingga keluar tekad si tokoh untuk melacurkan diri. Padahal, jika saja si penulis berkonsentrasi di paruh pertama ceritanya, dan meniadakan paruh kedua, maka dia akan punya lebih banyak kesempatan untuk mengeksplorasi kepribadian Kiran serta dinamika terjadinya kekecewaan itu secara lebih mendalam. Banyak hal yang bisa dieksplorasi lebih lanjut, seperti kutipan2 di bawah ini:

Kucoba bertanya banyak hal, tapi selalu tidak terjawab. Begitu sedikitnya wawasan ikhwan ini. Tiap minggu yang dia kasih cuma ceramah yang itu-itu saja yang sangat membosankan, “Dakwah ya. Kalian itu disuruh berdakwah. Berdakwahlah.” Ketika kutanya apa sasarannya ke depan, jawaban yang ia berikan berputar di situ lagi. Aku jadi berpikir, jangan-jangan orang ini sama juga denganku, sama-sama udim politik dan wacana pergerakan. Dalam tubuh Jemaah hanya segelintir orang yang tahu mau ke mana Jemaah ini hendak dibawa (hal. 85)

Kekagumanku pada Mbak Auliah pun perlahan memudar. Ternyata ia bukan seorang ukhti yang kuidealkan. Perhatiannya yang menyejukkan, penuh persaudaraan, dan sungguh-sungguh kepadaku, ternyata tidak dibarengi dengan keluasan wawasan dan kedalaman pikir untuk mengajarkan ilmu kepada yang lain (hal. 62 – 63)

Hal-hal seperti ini akan lebih menarik untuk dibahas: bagaimana di lapis bawah suatu organisasi mungkin terdiri dari orang2 yang hanya bermodalkan kepercayaan, bukan pemahaman, sehingga begitu mudahnya mereka dimanipulasi oleh lapis atas yang lebih pintar. Dan sulitnya, karena mereka percaya, mereka dengan rela hati mengikuti semua perintah yang diberikan tanpa mau (atau tanpa mampu?) mengkritisi sebab dan tujuannya. Juga bisa dibahas dinamika tentang bagaimana frustrasinya seorang cerdas yang bersemangat untuk berbuat suatu kebaikan, dan kemudian menjadi demotivated karena hal2 yang tampaknya sepele bagi kebanyakan orang.

Ah sudahlah.. niat gw bukan cerita panjang lebar tentang isinya. This book is recommended to read, and it is you to judge the story. Gw justru pingin berkomentar tentang Surat Untuk Pembaca yang dilampirkan di akhir buku.

Selain pujian, si penulis menerima banyak kutukan dan makian untuk bukunya ini. Dari tuduhan bahwa dia kafir, Marxis, benci agama, berusaha merusak akidah dengan kecanggihan tulisannya, hingga prasangka tentang “siapa” di balik penerbitan buku ini. Bukunya dikatakan sampah yang tak layak dibaca, wajib ditarik karena mencemarkan nama baik agama. Penulis diminta untuk bertanggung jawab atas akibat sosial: merusak iman remaja dan akhlak bangsa.

Tapi gw suka cara si penulis menjawab cacimaki ini:

Iman yang tak digoncangkan, sepengetahuan saya, adalah iman yang rapuh. Iman yang menipu. Hati-hati! (hal. 260)

Toh, seandainya saja ada yang tersesat setelah membaca buku ini, jangan melulu menyalahkan buku ini. Yang kita pertanyakan justru iman pembaca yang bersangkutan: betapa tipisnya iman mereka yang tersesat hanya dengan isi buku kecil ini. (hal. 259)

Penulis itu, dalam keyakinan saya, mirip dengan tukang besi pembuat pisau. Tentu saja pembuat besi tidak bisa dimintai pertanggungjawaban sekiranya pisau buatannya disalahgunakan oleh seseorang untuk membunuh… Tapi pun kalau dimintai pertanggungjawaban, maka bentuknya yang paling mungkin adalah dengan menghadiri diskusi buku yang bersangkutan. Maaf, saya seorang penulis, dan tugas saya adalah menulis dan mengungkapkan kebenaran yang menurut saya benar. (hal. 257)

Yup! Setuju! Tersesat.. itu hanya bagi orang yang buta-tuli-sekaligus bisu dan/atau gak punya peta.. ;-). Dan soal goncangan,.. siapa takut tergoncang kalo tidak rapuh? Bukankah hanya benda2 fragile yang kotaknya diberi peringatan: “handle with care”? Menurut gw, untuk itulah Tuhan memberi kita kemampuan berpikir: supaya gak gampang2 tersesat atau tergoncang hanya karena sebuah buku berkata “beda” dari apa yang kita percayai. Supaya kita bisa mengkaji segala macam informasi yang membombardir kita; informasi yang kadang menggunakan belief kita sebagai kuda Troya.

Balik lagi ke segala cacimaki itu..  I wonder.. is it really because they care, or is it just the reflection of their own insecurity? Betapa mudahnya menyalahkan suatu pihak, atas nama kepedulian terhadap masyarakat yang lebih luas, jika kita gak percaya sama kemampuan diri kita sendiri untuk menghadapi sesuatu… ;-)