Saturday, April 29, 2006

Seni Bertanya

Baca rubrik Bahasa di Kompas, 28 April 2006, halaman 15. Di rubrik itu dibahas tentang wawancara seorang reporter dengan Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi.

Wartawan muda yang tidak tahu bahasa Jawa itu (jelas dari lafalnya) menanyai sang tokoh macam-macam. Suatu saat dia bertanya; Apakah itu pakai ritual?. Tokoh berida itu memberondong sejumlah kata yang tidak menjawab pewarta. Keruan saja si muda bertanya lagi tentang ritual. Sampai tiba-tiba dia bertanya dengan nada kesal; Maksudnya rita.. yawal.. ritawiyal.. itu apa?

Heran, si pewarta tidak langsung menyebut Indonesianya. Malah tak jelas apa jawabnya. Dia pun tidak mintaa maar dan menyatakan sesalnya telah melontarkan kata yang tidak dimengerti si mbah terhormat.

Anak kota itu barangkali tampak pringas-pringis atau cengengesan terus. Dan gayanya bertanya mungkin terasa seperti memisit atau nyentrong, kata orang Jawa. Dia tidak pernah mengangguk sebentar sebagai tanda mengerti. Ini tentu tidak sopan. Singkatnya, pewarta itu boleh jadi terasa someng. Rupanya dia tidak ditatar dulu perihal cara menghadapi panutan rakyat ini. Memang dia orang gunung, orang dusun, orang kecil. Akan tetapi, dalam cara menemui para jelata, ada perlunya wartawan muda belajar dulu dari Peggy Melati Sukma adan Dimas Seto.

Kebetulan, gw juga nonton berita yang -tampaknya- dikomentari Pak Sudjoko (Guru Besar Emeritus FSRD-ITB) ini. Keterusikan gw juga kurang lebih sama: ini orang sebenernya udah siap disuruh mewawancarai orang belum sih? Hanya saja, Pak Sudjoko menekankan lebih pada bahasa yang dipakai, sementara gw lebih terganggu sama teknik wawancaranya. Setidaknya dia sudah melanggar 3 batasan teknik wawancara; menggunakan bahasa yang tidak sesuai, menunjukkan ekspresi yang tidak pas, plus tidak menunjukkan bahasa tubuh yang pas saat wawancara.

Sejak 11 tahun lalu, kerjaan gw mewawancarai orang. Mulai dari wawancara untuk pemeriksaan psikologis, untuk penelitian pemasaran, sampai untuk bikin iklan testimonial. Makin lama gw makin yakin bahwa mewawancarai orang itu adalah lebih dari sekedar melontarkan pertanyaan2 untuk mendapatkan jawaban, karena mewawancarai orang membutuhkan seni tersendiri.

Sebenarnya, mewawancara itu gampang. Hanya ada 2 hal yang perlu dibangun oleh si pewawancara: membuat orang yang diwawancarai itu merasa nyaman, dan membuat orang yang diwawancarai itu percaya bahwa dia bisa mengungkapkan segalanya pada si pewawancara. Kalau si pewawancara bisa menciptakan kedua hal ini, maka dijamin wawancara sukses. You will get whatever information you want.

Masalahnya, menciptakan dua kondisi ini yang butuh ketrampilan, bahkan seni, tersendiri. Mulai dari mengatur posisi duduk, bahasa tubuh, ekspresi muka, dan intonasi suara benar2 harus dimainkan dan integrasikan. Posisi duduk, misalnya, tingkat kenyamanannya berbeda antara duduk berhadapan dengan duduk dengan posisi membentuk siku. Beda lagi antara duduk di kursi kantoran, dengan di sofa nyaman. Ekspresi muka juga harus dimainkan. Kalau ceritanya menyedihkan, ya wajahnya harus menunjukkan simpati. Kalau orang yg diwawancara ngelawak, ya cobalah untuk tertawa (gak perduli bahwa lawakannya itu crunchy).

Soal bahasa tubuh juga menjadi hal yang amat sangat penting. Kontak mata, yang pasti, harus selalu terjaga. Gimana orang yg diwawancara merasa nyaman, kalau si pewancara gak melihat ke dia? Makanya, walaupun dibekali dengan pedoman wawancara, si pewawancara gak boleh sering2 ngintip panduannya. Terus, yang wajib diperhatikan lagi adalah bahasa2 tubuh sederhana yang membuat orang merasa didengarkan. Misalnya saja anggukan kepala, gumaman komentar seperti Oooh.. dan Ohya? merupakan juga salah satu bahasa tubuh untuk menunjukkan minat kita pada apa yg diceritakan.

Untuk tujuan wawancara yang berbeda, detil bahasa tubuhnya bisa berbeda. Dalam wawancara pemeriksaan psikologis gw diajarkan untuk mendengar aktif, dengan cara mengulang sebagian jawaban sang klien, untuk tanda bahwa kita memang mendengarkan dan merangkum omongannya. Tapi kalau di penelitian pemasaran, hal ini malah tidak disarankan, karena takut menjadi leading stimulus yang mengarahkan si responden pada jawaban2 tertentu. Kalau wawancaranya untuk iklan testimonial, mengeluarkan gumaman komentar pun bahkan tidak boleh. Maklum, di iklan testimonial itu kan wawancara langsung direkam dengan kamera supersensitif, dan nantinya dipotong2 jadi iklan. Bayangkan kalau ada moment yang bagus untuk jadi potongan iklan, tapi gak bisa diambil gara2 ada gumaman pewawancara yang mengganggu ;-).

Di atas itu baru kondisi2 umum. Ada kondisi2 khusus yang harus diikuti juga: be like the people we interview. Ya dengan cara berpakaian kita, cara bicara kita, bahasa yang kita gunakan, dan harus bisa bicara tentang hal2 yang nyambung sama mereka. Misalnya, kalau mewawancarai ibu2 istri tukang ojek, ya jangan pakai blazer. Bisa keder mereka.. ;-) Pakai aja busana muslim lengan panjang (walaupun gak pakai kerudung). Terus.. bicara kita juga ganti logatnya (tapi senatural mungkin lho ya!), plus pakai kata2 yg mereka biasa pakai. Kalau mereka pakai istilah kencing, ya jangan diganti jadi pipis atau buang air kecil, gak perduli betapa pun panas kuping loe mendengar istilah itu.. ;-) Tapi sebaliknya, kalo wawancara bapak2 tentang mobil mewah mereka, ya ganti penampilan. Yang elegan, plus gaya bahasanya lebih formal, dan pemilihan kata2 lebih halus. Kalo perlu nyalon dulu, biar penampilan lebih rapi.

Tak cukup hanya mengatur performance kita, kita juga harus pintar2 membaca ekspresi orang yg diwawancarai, kalau udah kelihatan bete, capek, atau nggak ngerti, kita juga musti banting stir untuk mengubah kondisi itu. Kalo kelihatan bete, ya mungkin kita kasih joke2 ringan, atau muter ke pertanyaan lain yg lebih ringan. Kalau kelihatan bingung, ya mungkin cara bertanya atau bahasanya harus diubah. Yang penting, jangan asal nyosor nanya aja.. ;-)

Nah.. kalau melihat wawancara di TV, atau mendengarkan wawancara di radio, gw merasa hal2 seperti ini yang dilupakan orang. Mewawancarai orang dianggap hanya sekedar tanya-jawab: melontarkan pertanyaan, dan menunggu jawaban. Pewawancara dianggap cukup kalo dia bisa baca/hafal pertanyaan yg akan diajukan. Padahal, untuk melontarkan pertanyaan yang bisa menimbulkan jawaban yg diinginkan, dibutuhkan sekian banyak persiapan. Otherwise, yang terjadi hanyalah proses wawancara semu, karena jawaban yg didapat hanyalah jawaban sopan, bukan jawaban sebenarnya.

Belum lagi kalo dengar kalimat yang dipakai untuk bertanya. Sering sekali pertanyaannya mengarahkan jawaban banget, seperti: Bapak suka tinggal di sini?. Kalau udah ditembak dengan kalimat kayak gini, biarpun dia gak suka, dia akan merasa wajib bilang suka toh? Beda dengan pertanyaan yang lebih netral seperti: Bagaimana perasaan bapak tinggal di sini?. Setidaknya itu membuka kemungkinan bagi orang yg diwawancarai untuk memberikan pendapat yang lebih sesuai dengan perasaannya dia. Tapi ini gw bahas kapan2 aja deh.. sekarang gw mau siap2 ke Yogya buat melakukan wawancara. Tapi yg jelas, bukan untuk mewawancarai Mbah Maridjan seperti si wartawan muda itu lho.. ;-)

Update:

Memperhatikan komentarnya Ana, gw jadi inget2 lagi apakah waktu itu yg wawancara bule & penterjemah atau reporter TV muda. Tapi setelah gw peras ingatan gw plus membaca lagi artikelnya, gw yakin itu reporter TV, bukan penterjemah. So.. mungkin aja Ana benar, gak bisa gw pastikan krn gw gak nonton si Peter itu di TV (lagian ngapain wawancara dia ditunjukkan di TV ya ;-)?) Tapi menilik artikelnya serta logika di baliknya, serta berdasarkan ingatan, saya kok yakin Pak Sudjoko nonton acara yg sama dgn saya, dan menyebut wartawan IHT itu sebagai referensi saja. Saya yakin Pak Guru Besar itu tidak sebodoh itu, mempermasalahkan ketepatan bahasa pada non-native ;-)