Tuesday, April 29, 2008

Sekolah Gratis: [Bukan] Pepesan Kosong

Kemarin di Kompas ada tulisan tentang sekolah gratis. Menurut penulisnya, sekolah gratis itu cuma pepesan kosong. Tadinya gw kira si penulis adalah penganut mazhab siletiyah yang berniat mencerca penerapan sekolah gratis yang carut-marut. Ternyata.. penulisnya menyilet KONSEP dari sekolah gratis itu sendiri.

Tulisannya penuh dengan argumen yang logis sih, lengkapnya bisa dibaca sendiri di sini. Tapi menurut gw mengarah ke logical fallacy. Beberapa bagian tulisannya yang gw garis bawahi adalah sebagai berikut:

Begitu mendengar kata gratis, rasa senang langsung menjalar, mata mengerjap berbinar sambil dibarengi sedikit keraguan. Benar gratis? Kata gratis banyak digunakan untuk memikat konsumen dalam iklan barang konsumsi dengan maksud pada kesempatan lain mereka akan teringat pada produk itu dan membelinya lagi.

Entah sejak kapan mentalitas ”gratisan” ada dan mendarah daging dalam masyarakat kita. Naik kereta api tanpa membeli karcis, bondo nekad (bonek) menjadi ikon gratisan; mau baca koran tetapi tak mau membeli/langganan.

Sekolah menjadi bermutu karena ditopang oleh peserta didik yang punya semangat belajar. Mereka mau belajar kalau ada tantangan, salah satunya tantangan biaya. ”Saya harus berhasil karena orangtua saya telah membayar mahal.” Sebaliknya, jika tanpa membayar sepeser pun, mereka bisa seenaknya, bahkan ”mundur tanpa berita” (muntaber)—”toh tidak rugi”. Bagaimana mau menjadi pejuang tangguh kalau tak membiasakan diri belajar secara cerdas?

Seorang rekan berseloroh, ”Kencing saja bayar Rp 1.000, sekolah kok gratis!” Masyarakat kita dengan senang hati membeli rokok Rp 7.500 per hari, membeli VCD bajakan Rp 5.000 per minggu, namun protes keras saat ditarik biaya Rp 300.000 untuk membeli buku pelajaran yang dipakai selama setahun pendidikan anaknya.

Seyogianya mental gratisan dikikis habis. Kerja keras, rendah hati, toleran, mampu beradaptasi, dan takwa, itulah yang harus ditumbuhkan agar generasi muda ini mampu bersaing di dunia internasional, mampu ambil bagian dalam percaturan dunia, bukan hanya menjadi bangsa pengagum, bangsa yang rakus mengonsumsi produk.

Ada memang bagian tulisannya yang bagus, seperti pendapat bahwa “program beasiswa lebih baik daripada sekolah gratis. Etos belajar siswa tinggi karena jika tak bisa mempertahankan prestasi, beasiswa dicabut. Perlu diperluas cakupan penerimanya”. Tapi secara keseluruhan, yang tertangkap adalah kesinisan terhadap konsep sekolah gratis yang dilihatnya lebih sebagai gimmick pemasaran [pemerintah] saja, serta bahwa masyarakat melihatnya sebagai “aji mumpung”.

Sudut pandang yang diambilnya itulah yang, menurut gw, menjadi pangkal logical fallacy. Entah sengaja atau tidak, si penulis lupa bahwa memang ada orang2 yang membutuhkan sekolah gratis buat anak2nya. Dan orang2 ini bukanlah kelompok yang “dengan senang hati membeli rokok Rp 7.500 per hari, membeli VCD bajakan Rp 5.000 per minggu”. Mereka bukan kelompok yang kalau mau buang air kecil masuk ke toilet umum dan membayar Rp 1,000 – melainkan mencari pohon atau sudut tersembunyi biar bisa gratis pipis ;-)

Baru beberapa saat lalu, sambil menimang Nara di balkon kamar, gw lihat seorang bapak setengah baya memasuki halaman rumah tetangga depan rumah. Salamnya sopan, hendak menawarkan bohlam. Tidak ada yang istimewa dari bohlam tersebut – lampu2 standar yang bisa kita temukan di swalayan maupun warung. Tapi si bapak itu menawarkan dari rumah ke rumah, dari pagi hingga petang. Bisa dibayangkan berapa untungnya per hari? Kalau bisa laku 10 buah, dan untungnya Rp 500 per bohlam saja, hanya Rp 5,000 yang dibawanya pulang. Sementara.. untuk membuat bohlamnya laku, diperlukan kombinasi antara adanya calon pembeli yang merasa butuh bohlam, atau mau men-stok bohlam. Berapa banyak orang yang akan tertarik membeli sesuatu yang tersedia di tiap kelokan jalan seperti ini?

Beberapa bulan lalu, gw menghadiri 2 kondangan di Manggala Wanabhakti. Kedua undangan itu berselang 3 minggu, tapi ada satu kesamaan: setiap kali gw pulang, di depan loket pembayaran tiket parkir ada seorang anak berjualan koran pagi. Harganya Rp 2,000/eksemplar. Harga yang dibanting, karena hari sudah malam. Kita bisa saja bilang bahwa anak itu mencari kesempatan, memanfaatkan perasaan kasihan orang, dengan menjual koran pagi di waktu malam. Belum tentu memang korannya nggak laku, bisa saja dia sengaja ngambil banyak untuk meraup untung yang lebih besar. Tapi.. apa pun alasannya, kalau dia sampai rela jualan malam2 yang paling untungnya Rp 300/eksemplar, berarti dia sangat membutuhkan uang. Jika tamu undangan itu ada 1,000, dan dia bisa mempengaruhi 10% saja, maka malam itu paling dia bawa uang tambahan Rp 30,000. Orang yang mengejar untung tambahan Rp 30,000/minggu tentu bukan orang yang dengan enak bisa membeli VCD bajakan Rp 5,000/minggu ;-)

So.. menurut gw, memang sudah pantas dan sewajarnya pemerintah merancang dan melaksanakan program Sekolah Gratis dengan benar. Konsep ini harus dimatangkan, bukan disilet2 ;-). Yang perlu disilet2 adalah kalau pemerintah kemudian tidak melaksanakannya dengan benar ;-)

Memang benar kata si penulis bahwa “Sekolah menjadi bermutu karena ditopang oleh peserta didik yang punya semangat belajar. Mereka mau belajar kalau ada tantangan, salah satunya tantangan biaya”. Benar juga bahwa “Program beasiswa lebih baik daripada sekolah gratis. Etos belajar siswa tinggi karena jika tak bisa mempertahankan prestasi, beasiswa dicabut”. Tapi, sebelum kita bicara tentang memberikan beasiswa, tentu kita harus menyaring mana orang2 yang etosnya tinggi dan pantas menerima beasiswa, bukan? Dan itu baru bisa dilakukan seleksinya jika setiap orang memiliki kesetaraan pendidikan dulu. Nah.. bagaimana jika kesempatan mendapatkan pendidikan sudah tidak setara karena ada kendala biaya? Biaya pendidikan itu seperti api; sampai batas [kemampuan] tertentu menjadi tantangan, tapi di atas batas [kemampuan] tertentu menjadi momok yang mengerikan.

Dengan adanya sekolah gratis, jika dikelola dengan benar, setidaknya akan mengurangi kemungkinan biaya pendidikan menjadi kendala pemerataan kesempatan belajar. Dari situ bisa kita seleksi siswa2 yang pantas mendapatkan beasiswa. Tentunya si penulis tidak berharap semua anak mendapatkan beasiswa kan ;-)? Sebab, jika mendapatkan beasiswa adalah semudah membalikkan telapak tangan, maka.. beasiswa itu tidak lagi menjadi sesuatu yang efektif untuk memacu etos belajar siswa. Mereka akan take it for granted, karena untuk mendapatkannya tidak perlu usaha. Kalau dicabut? Nothing to lose ;-)

Benar juga pendapat si penulis bahwa “guru sekolah gratisan mengalami keterbatasan mengembangkan diri dan akhirnya akan kesulitan memotivasi peserta didik sebab harus berpikir soal ‘bertahan hidup’”. Tapi.. sekali lagi, pada tahap pemerataan kesempatan belajar, kita memang belum bicara tentang mutu dulu. Yang penting pemerataan dulu, justru dari situ kita lihat mana siswa2 yang terpacu dan layak diikutsertakan dalam perebutan beasiswa. Sama2 mendapatkan guru yang kurang memotivasi, tapi.. akan terlihat mana anak2 yang mau belajar dan mana yang tidak.

Pendapat lain dari si penulis yang benar adalah “Tidak semua orang harus menjalani sekolah formal. Mereka perlu diarahkan memilih atau disalurkan ke pendidikan nonformal yang kontekstual.” Tapi, tampaknya si penulis sendiri lupa menempatkan pendapatnya pada konteks yang sesuai ;-). Sekolah gratis yang dijanjikan (dan seharusnya diadakan pemerintah) adalah pendidikan formal DASAR ;-) Semua orang perlu mendapatkan pendidikan formal dasar. Kita baru bicara pendidikan non-formal bagi orang2 yang sudah mendapatkan pendidikan formal DASAR ;-). Tentu si penulis tidak berharap bahwa anak usia 7 tahun langsung diberi pendidikan kejuruan saja, tidak perlu belajar ca-lis-tung ;-).

Lepas dari sesat pikirnya, tulisan ini perlu diacungi jempol. Setidaknya, cukup baik bahwa seorang anak SMA bisa menulis sebaik ini. Kalau masih ada kurang di sana-sini, yaaah.. namanya juga masih SMA. Mungkin punya pacar aja belum.. hehehe.. apalagi kepikir susahnya menyekolahkan anak. Apalagi, kalau dilihat dari sekolahnya, ada indikasi si penulis hidupnya nggak susah2 amat – kalau tidak bisa dibilang hidup enak ;-). Dapat dimaklumi jika kurang dapat berempati dengan kelompok yang harus jungkir balik cari uang. Dan.. kalau seorang anak masuk Kolese Kanisius seperti si penulis ini, sangat dimaklumi jika kepalanya dipenuhi ide2 tentang kualitas sekolah. “Sekedar bisa bersekolah” sudah bukan isyu utama baginya ;-).

Jadi kepikir.. kalau gw baca tulisan itu dua puluh tahun silam, sebagai sesama anak SMA, bukan sebagai ibu2 beranak dua seperti sekarang, apakah gw tidak akan berpikiran seperti dia ya? Hehehe.. Yaah, dengan berjalannya waktu, mudah2an dua puluh tahun yang akan datang si penulis juga sudah tidak berpikiran sesederhana ini ;-)

Suntingan 10 Desember 2008

Menindaklanjuti komentar dari Mas/Bapak Julius Arden, dengan ini saya sampaikan bahwa N Widi Cahyono bukan murid, melainkan guru SMA Kolese Kanisius. Mohon maaf kalau selama ini Pak Widi disangka murid :-)

Untuk isi tulisannya sendiri, mohon maaf, tidak dapat saya koreksi. Karena justru saya merasa lebih sedih mengetahui bahwa pendapat seperti ini muncul dari seorang guru. Saya lebih dapat memakluminya jika pendapat itu muncul dari seorang siswa yang berpikirnya masih linier :-)

Friday, April 25, 2008

A Little Prince called Nara

Beginilah kalau punya anak yang sudah lebih seperti best buddy dan bergaul dengan orang2 yang sama. Niat hati ingin bikin surprise dengan nggak bilang2 akan melahirkan lebih cepat. Apa daya, the excited big sister langsung cerita ke Mbak Nia, yang menyampaikan ke Tante Linda, kemudian Tante Linda SMS Oom Iwan, dan... dari Korea Selatan Oom Iwan menceritakan to the rest of the world ;-). Hancur Mina deh, surprise gw.. hehehe.. padahal di posting sebelumnya sudah hati2 sekali nggak menyebut tanggal induksi.

Yup, memang sejak sehari sebelum cuti, gw udah tahu harus melahirkan lebih cepat. Pada kontrol terakhir, ternyata pre-eklamsia gw sudah tidak terkendali. Obat penurun tekanan darah yang diberikan sudah tidak mempan, walaupun dibarengi dengan istirahat cukup. So, dokter mengambil keputusan untuk melakukan induksi hari Minggu pagi, 20 April. Melalui induksi diharapkan si bayi lahir normal Minggu siang atau sore, paling lambat Senin pagi.

Tapi rupanya gw emang badak banget. Diinduksi sejak jam 8 pagi, sampai jam 3 sore mules pun nggak ada. Boro2 ada pembukaan! Persis kayak Gunung Merapi aja, yang status siaganya nggak naik2 ;-) Yang ada malah tensi gw makin tinggi karena gw mulai cemas dengan tidak adanya kepastian (tsah!). Akhirnya, jam 4 sore diputuskan untuk bedah cesar, karena tensi gw sudah semakin tinggi, sementara detak jantung bayi mulai melemah akibat kurang oksigen.

Operasinya sendiri, alhamdulillah, berjalan lancar. Meskipun tensi gw sempat melonjak makin tinggi menjelang detik2 operasi. Dari cuma 150/110 saat diputuskan operasi, jadi 160/110 pas nunggu kamar disiapkan, dan jadi 170/120 saat mau dibius. Maklum, ngebayangin perut gw disilet2 aja udah efektif menaikkan tekanan darah.. hehehe.. apalagi langsung ingat adegan di Braveheart dan cerita tentang operasi cesar tanpa pembiusan di A Thousand Splendid Suns ;-)

Ohya, setelah dibius setengah badan (hanya dari perut ke kaki), gw sempat delirium dan mengalami "halusinasi". Gw agak disorientasi, antara berada di kamar operasi atau di Bukit Golgotta. Sebab, setelah kepala gw "dimahkotai" topi operasi, kaki gw dilumpuhkan, lantas... kedua tangan gw DIRENTANGKAN DAN DIIKAT seperti layaknya penyaliban! Gw udah takut aja bahwa berikutnya meja operasi itu akan diberdirikan.. hehehe.. sampai gw melirik ke kiri dan kekanan, mencoba memastikan gw disalib di sebelah kiri atau di sebelah kanan salib utama ;-)

Ternyata, nggak separah itu juga sih. Gw tidak dihukum mati dengan cara disalib. Cuma diperlakukan bagaikan terpidana mati dengan lethal injection. Sebab, setelah tangan gw direntangkan, kemudian tangan kiri gw disuntik sejenis obat. Belakangan gw baru tahu bahwa itu adalah suntikan morfin, yang bikin gw "fly" sampai hampir 20 jam. Hmm.. setelah merasakan morfin, gw heran kenapa junkies senang nyuntik.. hehehe.. wong gw disuntik sekali aja kapok dengan hangover-nya ;-)

Anyway.. jam 5 sore gw masuk ruang operasi, 9 menit berselang dengan bangga kami persembahkan:

Nararya Wimatsara Moertadho (Nara)
3170gram/50cm
RS Medistra, 20 April 2008, 17:09

Nama Nara diambil dari bahasa Sansekerta seluruhnya.

*Pemutakhiran 26 Desember 2008: arti namanya terpaksa gw hapus untuk menghindari calon orang tua nggak kreatif yang suka copy-paste nama dari internet ;-) Jangan sampai Nara mengalami nasib seperti kakaknya :-(*

Nama Nararya dipilih karena sejak dari awal Nara benar2 beat the odds. Wimatsara itu nama pilihan bapaknya dari beberapa alternatif yang gw sodorkan. Bapaknya memang senang dengan nama2 yang berbau perdamaian begitu (maklum, temperamennya NF, idealis pencinta damai, bukan gerwani kayak gw ;-)).

Karena nama adalah doa, semoga Nara benar2 menjadi seperti yang digambarkan namanya. Selalu berada di jalan kebenaran ya, Nak ;-).

***

Soal nama ini sempat bikin eyang kakungnya agak kecewa. Habis.. namanya kurang Islami, menurut beliau. Nggak ada satu kata pun yang diambil dari Al-Quran. Tapi.. gw punya alasan buat ngeles ;-) Biarpun namanya tidak berbau Arab, kan artinya mencerminkan nilai2 Islam. Jadi nggak bisa dibilang kurang Islami dong.. hehehe.. Daripada namanya tercantum di banyak surat, tapi kemudian melakukan hal2 yang bertentangan dengan nilai Islam seperti menerima uang sogokan dan sebangsanya. Mencuri hak milik orang lain. Itu kan malah mencemarkan agama, agama cuma dijadikan identitas sebatas nama saja.

Hayooo.. pilih mana, Pa, buat cucunya ;-)?

Lagipula, raja pertama Majapahit, penerus kejayaan Singosari, juga bernama Nararya. Nararya Sanggramawijaya, tepatnya, yang kemudian lebih terkenal sebagai Raden Wijaya. Kan cocok dengan statusnya Nara yang eyang kakungnya asal Singosari juga.. hehehe.. Penerus "kejayaan" Singosari di Jakarta ;-)

*Kalo ngeles, gw memang jagonya.. HAHAHAHA.. *

***

Meskipun nggak jadi lahir tanggal 234, tapi tanggal 20 April nggak kalah bagusnya. Masih "nomor cantik", dan bisa dijadikan tebak-cermat ;-). Urutannya kan 2042008, jadi bisa dijadikan soal matematika: berikan tanda matematika yang sesuai pada urutan angka berikut ini sehingga menghasilkan persamaan matematika yang benar. Hayo, tebak.. hehehe.. paling tidak ada 2 persamaan yang bisa dibentuk dari deretan tersebut ;-)

Menurut Wikipedia, Nabi Muhammad SAW juga [mungkin] lahir pada 20 April 570, walaupun diimbuhi catatan bahwa tanggal tersebut masih diperdebatkan. Yaah.. mungkin perdebatan klasik aja, bisa 20 April atau 19 April, tergantung Muhammadiah atau NU.. hehehe.. Lepas dari perdebatannya, it's an honor for Nara to share the [possible] birthdate with Him ;-)

Yang pasti, menurut catatan Wiki juga, Adolf Hitler juga lahir 20 April 1889. Naah.. kalau yang ini, kayaknya nggak ada hubungannya dengan kecintaan gw terhadap Juergen Klinsmann, Michael Ballack, Der Kaizer, dan tim nasional sepakbola Jerman. Tapi gara2 selama hamil, tepatnya sejak November 2007 - 1 April 2008, gw rada2 jengkel kronis dengan Adolf *hitler ;-)

***

Aaaanyway.. itu tadi sedikit berbagi cerita tentang Nara. Menyambut antusiasme dan ucapan selamat dari teman2 sekalian di posting sebelumnya ;-)

Entah kapan bisa disambung lagi ceritanya ya.. hehehe.. niat nge-blog sih selalu ada, tapi kayaknya beberapa minggu ke depan gw bakalan jadi a slavery victim deh ;-) Kudu devoted to Prince Nara. Kalau lihat angka awal 5 hari pertama ini, Nara is a very demanding baby. Temperamennya persis kayak gw yang ngeyel dan never take no for an answer ;-) Beda banget dengan Ima yang easy baby.

Dukanya, gw jadi nggak punya waktu buat diri sendiri. Sukanya, well.. gw jadi dapat pengalaman yang komplit dengan dua anak yang bertolak belakang ini. Ibarat penelitian, sample-nya kecil tapi representatif sebagai case study.. hehehe.. Satu bayi perempuan, satu bayi laki2. Satu easy baby, satu temperamental baby. Satu lahir normal (biarpun pakai induksi dulu), satu lahir cesar (juga pakai induksi dulu). Satu bayi tertib yang tidur jam 9 malem bangun jam 5 pagi, satu bayi yang bangun jam 7 malem dan tidur jam 3 pagi.

Jadi, nggak ada alasan buat nambah lagi, kan ;-)? Udah punya "an angel called Ima", dan sekarang punya "a little prince called Nara". Kalau pun perlu nambah satu lagi, gw bakal cari ikan mas koki aja, terus dinamain Wanda.

Sampai jumpa.. dan.. jangan ditanya kemana aku pergi ;-)

Friday, April 18, 2008

To Dream with a Z

Setelah seminggu bedrest, lantas disambung ngudak kerjaan yang terbengkalai, akhirnya.... hari ini gw resmi cuti ;-)

Yup, dari Rabu pekan lalu, 9 April, gw memang sempat jadi tawanan rumah. Malah 3 hari pertama sempat jadi “tawanan ranjang”, karena nggak boleh turun dari tempat tidur sam-sek kecuali untuk makan, pipis, dan mandi. Nggak boleh ngapa2in, bahkan nggak boleh mikir! Gara2nya tekanan darah gw melonjak ke titik membahayakan, 180/110, dan gw didiagnosa pre-eklamsia ringan. Kalau kontrolnya dengan dokter lain, mestinya gw langsung menjalani C-section. Tapi.. berhubung Pak Dokter ini pro-natural birth banget, dokter yang benar2 melihat bedah cesar sebagai emergency exit, beliau cuma menjadikan gw tawanan rumah. Sambil nunggu diinduksi beberapa hari lagi. Mohon doanya, semoga bisa lahir normal tanpa perut dibelah2, karena gw masih pingin pakai hipster habis melahirkan nanti ;-)

Saat jadi tawanan ranjang yang berpikir pun tak boleh, gw pun terpaksa melakukan kegiatan kontra-produktif, yaitu mencet2 tombol remote control TV. Habis.. mau nonton Cold Case yang masih ada 2 season lagi takut kebanyakan mikir. Jadi terpaksa cari tontonan komedi ringan aja, yang bisa buat ketawa2. Dan.. selancar maya gw membawa pada sebuah film: American Dreamz.

Awalnya tertarik karena kelucuannya menyilet2 American Idol. Ada tokoh Martin Tweed (Hugh Grant) yang ah-so-Simon-Cowell, baik dari komentarnya maupun gaya berpakaiannya. Tapi, lama2, setelah melihat tokoh Presiden-nya, gw jadi tambah ngakak karena ternyata George W Bush juga disilet2 dalam film ini. Seperti waktu adegan Presiden Staton menjamu tamu negara dari Cina, dimana dia nggak bisa membedakan Cina dari Korea, sampai2 penterjemahnya harus berimprovisasi. Mengingatkan gw pada lelucon pasca 9/11 tentang George W Bush yang bilang Korea ada di Timur Tengah or something like that.

Sampai setengah film, gw masih menganggap film ini adalah sekedar parodi. Tapi.. lama2, baru menangkap bahwa film ini adalah satir, bukan sekedar parodi. Bedanya apa? Hmm.. kalau menurut bahasa gw, parodi adalah sebuah fiksi yang memodifikasi fakta (biasanya dimodifikasi sekonyol mungkin) untuk membuat orang tertawa. Sebaliknya, satir adalah sebuah fiksi yang menyampaikan fakta dengan pendekatan yang lucu (atau konyol) untuk membuat orang menyadari ironi dari fakta tersebut. Jadi.. dua2nya sama2 mengandung berangkat dari fakta dan memiliki unsur humor; bedanya dalam parodi humor itu adalah tujuan akhir (dan memodifikasi fakta sebagai cara mencapainya), sementara dalam satir tujuan utamanya adalah menyampaikan [ironi] sebuah fakta dengan pendekatan yang humoris. Definisi persisnya dibaca sendiri deh di sini dan di sini ;-)

Kesatiran film ini mulai terasa kalau melihat tokoh2nya (dan kejadian yang mereka alami) lebih dalam. Misalnya saja, tokoh Sally Kendoo, salah satu kontestan yang menghalalkan segala cara untuk menang. Termasuk dengan berpura2 cinta pada seorang veteran Perang Iraq untuk meningkatkan hasil voting. American loves heroes, dan tentunya akan terkesan dengan seorang gadis yang merelakan kekasihnya membela negara. Lantas, ada tokoh Omer Obeidi, satu kontestan lain yang dimanipulasi Martin Tweed untuk meningkatkan (setidaknya mempertahankan) rating. Martin Tweed memberikan komentar2 bagus atas setiap penampilannya (yang sebenernya nggak bagus2 amat) supaya Amerika tetap memilihnya, dan menempatkan pada posisi Grand Finalist.

Satir-nya dimana? Ya di situ.. hehehe.. Benar2 menunjukkan bahwa setiap reality show itu sebenarnya nggak murni reality ;-). Walaupun nggak scripted adegan per adegan, tapi banyak faktor2 yang dimainkan dalam sebuah reality show untuk memperbesar kemungkinan terjadinya hasil yang diinginkan produser.

Tapi yang paling satir adalah adegan2 terakhir film ini.

AWAS SPOILER!

Dimulai ketika William Williams, “kekasih” Sally, menangkap basah Sally & Tweed selingkuh sesaat sebelum grand final. William yang polos dan naif seperti Forrest Gump ini lantas mengkonfrontasi Sally dan Tweed di depan kamera, dalam tayangan langsung. Parahnya, dia sudah menemukan dan mengenakan bom bunuh diri yang urung dipakai oleh Omer (rekrutan Al Qaeda yang merasa meledakkan Presiden Amerika bertentangan dengan kata hatinya).

Adegan2 terakhir ini sungguh satir yang menarik, dimulai dengan si presiden yang sepanjang film kelihatan tulalit tiba2 melepaskan diri dari perlindungan Secret Services untuk menghadapi Williams:

President Staton: Williams, I’m the President of the United States of America. Now as your commander-in-chief, I'm gonna have to order you not to blow yourself up.

Kutipannya sih biasa2 aja, tapi berkesan buat gw. Soalnya, sejak awal kan presiden ini digambarkan sebagai sosok yang kalau ngomong blunder melulu. Untuk sesaat, yang terpikir pasti, “Kok bisa ya, orang seperti ini kepilih jadi presiden?”. Sering kita nggak ingat bahwa dengan segala blunder itu, pasti ada suatu kualitas tersendiri yang membuat dia pernah terpilih. Seperti si presiden konyol ini, yang ternyata kelebihannya adalah nggak takut bahaya, bisa ngambil keputusan cepat di saat2 darurat.

Kemudian ada adegan ketika seluruh yang ada di putaran panggung, termasuk kameramen, kabur karena William punya bom. Menarik bahwa ternyata si Cowell-wanna-be ini benar2 entertainer, atau malah punya instink bisnis pertunjukkan sejati. Di saat semua kabur, dia justru memegang kamera dan terus menyorot William yang nyanyi theme song American Dreamz. The show must go on.. biarpun sampai bom meledak.

Puncaknya adalah ending film ini. Dikisahkan sebagai epilog 6 bulan kemudian bagaimana para penonton berduyun2 kirim SMS untuk William, yang sama sekali bukan kontestan, karena terpikat oleh “kisah sedih”-nya dikhianati pacar. Ironis, tapi menggambarkan kenyataan banget. Seringkali orang menang karena kisah sedihnya, bukan karena kualitasnya kan ;-)? Dan Sally? Hmm.. karena dia punya “nilai jual”, dengan gampangnya dunia hiburan “melupakan” skandal dalam malam final, dimana Sally dikonfrontasi pacarnya karena berkhianat. Conveniently, William disebutkan sebagai mengalami halusinasi dan depresi akibat pengalamannya semasa perang, dan si cantik Sally menggantikan posisi Tweed sebagai pembawa acara sekaligus juri tunggal American Dreamz.

Satu lagi ironi yang menggambarkan kenyataan banget ;-). Sudah konsumsi publik sehari2 kan, dimana yang benar belum tentu menang ;-)? Kadang yang kebenaran dipelintir, tergantung mana yang lebih menguntungkan ;-)

SPOILER SELESAI

***

Aaaanyway.. gara2 nonton American Dreamz, gw jadi kepikir: lucu juga ya, kalau kita bikin versi Indonesianya ;-)? Indonesian Dreamz ;-)

Ceritanya boleh mirip2, tentang reality show menyanyi juga, tapi jangan copy paste kayak Buku Harian Nayla. Harus disesuaikan dengan budaya dan kenyataan di Indonesia, biar “dekat” dengan penonton.. hehehe..

Misalnya aja, ceritanya adalah tentang dua gadis peserta reality show nyanyi. Yang satu punya pendukung banyak dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Yang satu lagi penyanyi cafe cantik yang sedang ditaksir oleh anggota dewan yang terhormat oknum kaya raya karena sering terima uang suap. Waktu grand final, dua grand finalists ini menyanyikan lagu ciptaan presiden. Maklum, mungkin saking capeknya ngurus negara, jadinya presiden banting setir menjadi pencipta lagu ;-). Bintang tamunya grup musik nge-top bernama Slenge’an, yang menyanyikan lagu Obrolan Pengkolan, yang isinya tentang korupsi ;-).

Terus.. seperti biasa, kemenangan ditentukan dengan jumlah terbanyak SMS premium dan premium call yang masuk. Naah.. ditunjukkan deh bagaimana pendukung grand finalist pertama yang dari kalangan ekonomi menengah ke bawah itu rebutan kirim SMS. Ada yang pakai HP pinjeman, ada yang jual tabung gas pembagian pemerintah untuk beli pulsa (maklum, biarpun tabung gas hijau itu diperuntukkan kalangan menengah bawah, banyak kalangan selapis di atasnya yang memanfaatkan juga kesempatan beli gas jenis ini), dan berbagai cara lain. Mendukung kontestan pujaan sambil berharap dapat mobil atau motor ;-). Tapi... apalah daya jumlah SMS dari seluruh rakyat Indonesia yang tidak kaya, jika kontestan yang satunya punya backing anggota dewan yang terhormat oknum kaya raya? Yang sekali main mata mengubah status hutan lindung bisa dapat komisi hampir 300jt rupiah ;-)? Jumlah SMS premium-nya orang miskin se-Indonesia juga nggak sebanding lah dengan satu kali si bapak main mata ;-).

Jadilah.. si kontestan kedua, yang lagi dijatuhicinta oleh anggota dewan yang terhormat oknum kaya raya itu yang menang. Orang2 mulai nggosip kanan-kiri, kasak-kusuk bahwa, “Jelas aja dia yang menang, backing-nya kuat”. Dan teman2 si anggota dewan yang terhormat oknum kaya raya karena sering terima uang suap jadi gerah. Jadilah grup musik Slenge’an diperkarakan, dianggap “mencemarkan nama baik” dan “mempengaruhi masyarakat”. Buntutnya.. grup Slenge’an dicekal, nggak boleh tampil, albumnya ditarik dari peredaran, dan situs2 internet yang memuat lagu2nya di-banned. Maksud hati sih cuma nge-ban akses ke lagu2nya Slenge’an, tapi.. karena petugas pelaksananya (atau pembuat peraturannya?) rada gaptek, nggak bisa membedakan URL dengan SITUS, makanya ... yaaa.. gitu deh ;-)

Sementara si kontestan dan oknum kaya raya itu? Live happily ever after, sambil terus menjuali petak per petak kekayaan alam Indonesia ;-)

Hehehe.. kira2 rating-nya bakal bagus gak ya, kalau bikin Indonesian Dreamz ;-)? Atau jangan2 keburu dicekal dan dilarang beredar ;-)? Maklum, sekarang jamannya cekal-mencekal marak lagi, kayaknya. Bahkan, kalau lagi apes, bikin Surat Pembaca aja bisa dituntut ke pengadilan ;-)

Saturday, April 05, 2008

Balada si Roy S

Sebenernya gw nggak tertarik membahas komentar asbun-nya Roy Suryo yang bikin [banyak] blogger tersinggung dan sampai minta dialog segala. Buat gw, Roy Suryo ngomong seenak udelnya sendiri sih udah biasa.. hehehe.. emang orangnya gitu, what can we expect ;-)? Dan lagi, gw pribadi sih nggak tersinggung kalo dia “menyejajarkan” blogger dengan hacker. Actually, I’m a little bit flattered, karena secara tidak langsung merasa diakui punya kemampuan setingkat hacker. Bisa membobol situs Depkominfo segala! Waduh, itu kan berarti punya keahlian tingkat tinggi ;-) Padahal, ngganti template blog aja [setahu gw] banyak blogger yang belum bisa... hehehe.. ;-)

So, saat blogosphere penuh dengan posting surat terbuka buat Roy, posting sarkas-yang-disebut-sebagai-satire-oleh-si-penulis tentang komentar si Roy (padahal, sarkas itu kan belum tentu satire ya ;-)? Sementara satire memang mengandung sarkasme to some degree), gw sih tenang2 aja. Nggak ambil pusing ;-)

Cuma waktu Mas Iman memposting saran2nya berkaitan dengan kesediaan si Roy berdialog menanggapi para “pengunjuk rasa” aja gw ikutan berkomentar. Bukan apa2.. jalan pikiran gw sejalan dengan Mas Iman:

Mestinya moment ini ditangkap para ‘ delegasi ‘blogger dengan pemikiran yang sistimatis dan tidak membabi buta datang tanpa konsep. Kalau tidak, dialog ini hanya membuat rating Roy Suryo tambah naik.

Yup! Gw setuju banget dengan saran itu. Menurut gw, maju tanpa konsep yang matang, itu namanya kamikaze.. hehehe.. Dan bercermin pada kisah tentang Petisi Pembubaran IPDN, menurut gw kekhawatiran gw [dan Mas Iman] beralasan ;-)

Waktu itu, blogger juga maju dengan konsep yang kurang matang. Poin-poin yang dituliskan dalam petisinya [menurut gw] kurang kuat. Itu baru menurut gw, apalagi menurut politisi2 yang punya 1.000 jam terbang ;-). Apalagi dalam menetapkan targetnya; dipatok untuk mendapatkan 10.000 tandatangan, yang sampai sekarang baru terpenuhi 2001 saja. Itu pun tidak seluruhnya berisi dukungan; banyak juga yang nge-junk dan berantem di situ.

Dan apa hasil dari niat yang baik ini?

None ;-)

Itu sebabnya, gw menuliskan komentar begini:

Setuju sama Mas Iman. Saran saya, blogger jangan mengulangi langkah saat membuat petisi anak bangsa di kasus IPDN. Berani maju dan bertindak itu bagus. Tapi.. maju & bertindak tanpa konsep yang matang itu hitungannya kamikaze :)

Rupanya tanggapan gw disalahartikan oleh Mas Arief, aka Kang Kombor, salah satu pencetus Petisi Pembubaran IPDN ;-). Mas Arief, yang juga menyumbangkan banyak komentar di entry ini, menanggapi gw demikian:

Petisi anak bangsa menuntut pembubaran IPDN bukannya tanpa konsep. Konsepnya ada tapi memang ada kekurangan dalam menuangkan konsep itu dulu. Kalau mau menelusuri blog para pengusung petisi itu, ada kok yang menuangkan konsep.

Huh? Emangnya gw bilang “tanpa konsep”, gitu ;-)? Sampai gw pelototin tulisan gw sebelumnya, ternyata gw nulisnya “tanpa konsep yang matang”, bukan bilang “tanpa konsep” deh ;-) Kan beda jauh antara “tanpa konsep” dan “tanpa konsep yang matang” ;-)

Gw nggak tahu apakah salah tangkap ini akibat Mas Arief kurang memperhatikan “nuansa” dalam kalimat yang gw tuliskan, atau karena merasa buah karyanya diserang [lagi] ;-) Mesti diakui, gw memang suka menggunakan kalimat bersayap yang kalau nggak hati2 dibaca bisa berpotensi membuat orang tersinggung ;-).

Tapi... lepas dari apa yang mendasari komentar atas komentar itu.. terus terang fenomena ini membuat gw lebih khawatir tentang dialog blogger itu ;-) Gw khawatir jika “delegasi” blogger yang dipilih juga memiliki kecenderungan yang sama dengan Mas Arief.

Bayangkan.. kalau membaca tulisan gw yang bersayap aja masih mengalami kesulitan (entah karena kesulitan menangkap atau karena kesulitan menguasai sensitivitas diri), bagaimana bisa mengatasi Roy Suryo dalam suatu dialog terbuka ;-)? This guy might be a pain in the ass, but.. I bet he’s quite good in this area. At least he’s been playing this game longer than the bloggers. Surely he’s got some expertise ;-)

Dialog terbuka adalah permainan kata2 dan strategi dalam menggunakan kata2 itu. Jebakan Batman-nya banyak ;-) Dan untuk menghindar dari jebakan Batman, memang harus hati2 sekali menangkap maksud dan membalikkan serangan. Mestinya, dalam setiap dialog terbuka, Miranda’s Warning juga dibacakan:

You have the right to remain silent. Anything you say can and will be used against you.

Oleh karenanya, harus hati2 sekali menangkap nuansa kalimat2 lawan, dan membalikkannya dengan argumen yang kuat. Jangan sampai buru2 membalikkan, dan ternyata bukan itu yang dimaksud lawannya ;-). Itu akan merugikan diri sendiri, karena di mata penonton akan menimbulkan kesan bahwa si penyanggah tidak bisa menangkap dengan baik suatu konsep. Lebih jauh lagi: si penyanggah akan terlihat kurang menguasai bahan, terlalu sensitif, atau bahkan defensif. Either way, it kills our character, karena dengan mudah lawan akan membalikkan keadaan dengan: jika menangkap yang begini aja salah, apa iya sebenarnya ada isyu untuk didialogkan? Jangan2 ini hanya kesalahan tangkap lainnya yang tidak perlu dibesarkan ;-)

Atau.. kalau pakai bahasa Mas Iman: dialog ini hanya akan membuat rating Roy Suryo tambah naik ;-)

Naaaah.. sekarang gw tanya sama para blogger yang mau maju: mau nggak sampeyan2 ini jadi batu pijakan menaikkan rating-nya si Roy ;-)? Kalau nggak mau, ya monggo menyusun konsep dengan matang dulu.

Well.. moga2 tulisan ini dilihat sebagai dukungan atas niat baiknya blogger memperjuangkan nama baik ya.. hehehe.. Moga2 berhasil deh dengan misinya, bukan malah membuat parodi bagi novel nge-top tahun 80-an: Balada si Roy (uuuh... gw sempat kesengsem berat sama bad boy jagoan rekaan Gola Gong ini ;-) Pleasee.. don’t make a parody of this story ;-)).

Gw nggak ikut2an deh dalam kasus “Balada si Roy S” ini.. hehehe.. Tapi ntar kalau ada seri Balada si Dhani, mungkin gw lebih tertarik. He’s more my type of guy.. HAHAHAHA.. Sesuai dengan motto gw: sombong boleh, asal emang ada yang bisa disombongin ;-)