Wednesday, March 29, 2006

The Right Decision on the Wrong Situation

Saat ngobrolin tentang Abepura, seorang teman mengajukan keluhan menarik. Isinya kurang lebih begini:

Gw rasa ada yang salah di level komandan. Coba lo bayangkan menghadapi massa yang begitu banyak dan sudah siap dengan senjata. Harusnya sudah dikirim intelejen untuk melihat kondisinya seperti apa. Tapi persiapannya apa? Anak buah berangkat dilarang membawa peluru tajam, hanya dibekali peluru karet dan rotan.

Gw mengerti mungkin ada ketakutan dari komandan bahwa kasus ini akan seperti "Santa Cruz' kedua dan menjadi persoalan politik yang besar.  Akan tetapi keselamatan anak buah jauh lebih penting. Kamu tau nggak prajurit di lapangan tuh harus mengambil keputusan "kill or to be killed", yang artinya membunuh atau terbunuh. Memang cara persuasi adalah yang terbaik tapi kalau sudah kondisi "kill or to be killed" terpaksa dilakukan tindakan membela diri. Nah bagaimana mau membela diri kalau tidak dibekali dengan peluru tajam? Itu sama saja komandan memproduksi Janda dan anak yatim.

Kebiasaan berpikir worst case scenario (skenario yang terburuk) ini yang kurang di Indonesia kalau belum ada bencana selalu berpikir santai. Padahal dalam keamanan tidak ada istilah begitu .Berpikir haruslah yang terburuk .

Ini hanya keluh kesah keperihatinanku saja melihat kondisi yang ada di Papua.

 

Well.. gw sama prihatinnya dengan dia tentang kasus Abepura. Biarpun I’m not a big fan of the police corps, rasanya sedih juga melihat nyawa yang terbuang sia2. Tentang anak yatim dan janda2 baru yang ditinggalkan. Gw sendiri terbayang bagaimana ngerinya para almarhum polisi itu; tanpa senjata lengkap harus menghadapi massa yang mengamuk. Biar bagaimana pun, polisi juga manusia. Punya rasa takut yg sangat manusiawi. Tapi mereka gak bisa menolak tugas.

Namun, berbeda dengan teman gw itu, gw cenderung tidak menganggap kasus ini kesalahan komandan. Gw lebih melihatnya sebagai the right decision on the wrong situation.

Gw gak tahu banyak tentang militer atau kepolisian. Tapi gw percaya bahwa yang namanya top priority adalah keselamatan warga sipil. Demonstran di Abepura, biarpun bersenjata, adalah warga sipil. Oleh karena itu sudah sepantasnya komandan tidak memperbolehkan anak buahnya membawa peluru tajam. Jika teman gw bicara tentang memproduksi janda dan anak yatim baru, sebenarnya membawa peluru tajam pun tidak menghindarkan suatu keadaan buruk. Seperti teman gw bilang sendiri: membawa peluru tajam bisa menimbulkan “Santa Cruz” kedua.

So.. gw sangat setuju bahwa dalam menghadapi kasus ini komandan hanya mengizinkan membawa peluru karet dan rotan. Bagaimanapun, keselamatan warga sipil harus didahulukan. This is the right decision.

Tapi.. masalahnya… the right decision diaplikasikan pada the wrong situation. Warga sipil yang dihadapi bukan lagi warga sipil yang manis; mereka adalah kumpulan orang2 kecewa, orang2 frustrasi, orang2 yang tidak lagi dapat berpikir jernih. Dengan demikian, paradox lah yang terjadi: suatu keputusan yang benar, malah menimbulkan hasil yang tidak benar.

So.. kalau menurut gw, memang udah gak bisa quick solution lagi. Gak bisa lagi kita berpikir di tahap superficial seperti yang diajukan teman gw: berangkat dari titik bahwa serdadu selalu dihadapkan dalam situasi “kill or to be killed”, sehingga harus dibekali alat membela diri. Alat membela diri dan alat membunuh itu bedanya hanya segaris tipis. Senjata yang sama akan menjadi alat pembunuh atau alat pemberi hidup di tangan orang yg berbeda. Siapa yang jamin kalo dikasih senjata lantas mereka akan menggunakannya sebagai alat membela diri, bukan alat pembunuh?

Makanya… menurut gw kita harus mundur lagi ke belakang. Ke akar masalah ini. Kenapa massa bisa menjadi kecewa, frustrasi, dan beringas?

Gw pikir… memang sudah waktunya orang2 yang berwenang mengambil keputusan mempelajari hal yang paling mendasar: belajar “mendengar” dan “berempati”. Kalau saja keluhan mereka didengar, bahkan diantisipasi sejak jauh2 hari, mungkin sekali mereka tidak menjadi kecewa dan beringas. Jika mereka tidak menjadi kecewa dan beringas, polisi tidak perlu diturunkan untuk mengamankan keadaan. Dan jika polisi tidak perlu diturunkan untuk mengamankan keadaan, komandan tidak harus mengambil keputusan boleh/tidak boleh membawa peluru tajam. Everybody will be happy, and there would not be any victims.

Monday, March 27, 2006

Sewindu

Saat membuat ticket & allowance request untuk salah satu project gw tadi pagi, gw baru sadar bahwa beberapa hari lagi pernikahan kami memasuki usia 8 thn. Tepatnya tanggal 4 April nanti. Tapi nggak ada waktu untuk romantis2an, karena subuh tanggal 5 April gw dan si Mas bertolak ke kota yg berbeda untuk project masing2: gw ke Medan, si Mas ke Surabaya. So, sudah jelas bahwa malam sebelumnya kami bakal sibuk membereskan kopor masing2. Benar2 potret keluarga urban Jakarta ;-).

Kenapa waktu itu kami memilih hari Sabtu tanggal 4 bulan 4?

Hmm.. sebenarnya tanggal incaran gw adalah Sabtu, 18 April 1998. Kami berdua ingin menikah di hari Sabtu, supaya urusan akad nikah hingga resepsi bisa dilakukan pada 1 hari libur; tidak menyulitkan tamu undangan dengan kemacetan dan ketergesa2an seperti jika dilakukan di hari kerja, tapi juga tidak harus merampok “hari keluarga” seperti jika kami mengundang di hari Minggu. Secara khusus ingin tanggal 18 April karena baik si Mas maupun gw lahir pada tanggal 18. It would be nice to add another 18 to our memory. Secara penanggalan Jawa, tanggal ini jatuh pada Sabtu Pon, hari pasaran yang ‘just right’ untuk gw & si Mas.

Bagi orang Jawa, setiap hari dan pasaran memiliki nilai sendiri. Dan salah satu cara menentukan “hari baik” adalah dengan menjumlahkan nilai hari/pasaran kedua mempelai serta nilai hari/pasaran tanggal pernikahan, untuk kemudian dibagi 3. Jika hasilnya bersisa 1, disebut SRI (hari baik). Jika hasilnya bersisa 2, disebut LARA (hari yang kurang baik). Dan jika hasilnya habis dibagi 3, maka disebut PATI (hari buruk). Jumlah hari/pasaran gw & si Mas adalah 21, jumlah yg habis dibagi 3. Oleh karenanya, hari baik bagi kami adalah hari2 yang jumlah nilai hari/pasarnnya bersisa 1 jika dibagi 3. Sabtu Pon (jumlahnya 16), Sabtu Wage (jumlahya 13), serta Minggu Legi (jumlahnya 10) adalah beberapa “pilihan terbatas” kami. So.. betapa sempurnanya tanggal 18 April itu kan? Sayangnya, walaupun secara jumlah hari/pasaran sangat baik, salah satu klausul yg harus diperhitungkan dalam memilih hari baik menetapkan bahwa Sabtu Pon termasuk dalam “11 hari terburuk untuk membuat keputusan besar”. Dengan demikian, tentu saja keluarga besar gw – yang sangat Jawa itu – tidak mengijinkan gw menikah di tanggal tersebut. Alternatifnya, kami memilih Sabtu Wage, 4 April 1998 sebagai tanggal pernikahan.

Well.. ada untungnya juga sih menikah di tanggal itu. Waktu gw menikah, gw belum genap 1 thn bekerja di kantor pertama gw. Belum punya jatah cuti, jadi harus hemat2 advance cuti. Selain jatah cuti menikah sebanyak 3 hari, gw hanya boleh advance cuti tambahan selama 3 hari. Untungnya Selasa, 7 April adalah libur Idul Adha, sementara Jumat, 10 April adalah Jumat Agung (wafat Isa Almasih). Dengan demikian, walaupun secara de jure hanya cuti 6 hari sejak tanggal 1 April, secara de facto gw punya 12 hari libur: 3 hari sebelum menikah, dan sisanya setelah menikah.

Menikah di usia muda, masih pegawai baru (fresh grad lagi ;-)), menimbulkan permasalahan urban lainnya. Sampai hari terakhir sebelum cuti, gw masih “disiksa” untuk “memperkaya perusahaan” (oops ;-)!). Cuti tanggal 1 April, tanggal 31 Maret gw masih menjalankan sebuah proyek penelitian di Yogya. Boro2 sempat luluran, facial, atau merawat tubuh layaknya calon pengantin lain. Entah seperti apa tampang gw waktu menikah dulu, mungkin kusut masai kali ya.. ;-) Boro2 juga dipingit seperti layaknya calon ratu sehari. Lha wong tanggal 3 April sudah upacara Siraman dan Midodareni, tanggal 2 April MALAM gw & si Mas masih kelayapan di Arion Plaza untuk… BELI GELAS… ! Iya, saking hebohnya menyiapkan “yang besar2”, lepas maghrib baru gw sadar bahwa belum ada yang mempersiapkan gelas untuk upacara Dodol Dhawet (=jual cendol). Padahal semua orang sudah sibuk dgn tugas masing2. Jadilah gw & si Mas lari sendiri ke mal terdekat untuk beli gelas.

Tapi.. lepas dari unsur superstitious-nya, memang benar lho kata orang2 tua bahwa sebaiknya calon pengantin tidak saling bertemu (alias dipingit). Kata orang tua, ora ilok kalo calon pengantin saling bertemu, bisa2 malah nggak jadi menikah. Hal itu kejadian juga antara gw & si Mas tgl 2 April itu. Udah tinggal selangkah ke pelaminan, kami justru bertengkar hebat di depan Arion Plaza. Pasalnya sederhana, salah satu mikrolet M02 yang mbencekno itu menyerempet mobil gw. Entah gimana mulainya, akhirnya gw & si Mas saling salah menyalahkan. Hampir aja gak jadi menikah! Untung cepat sadar ;-).

Kalo dipikir2 lagi, memang tekanan psikologis pada calon mempelai berbanding lurus dengan kecepatan mendekati hari H. Semua pengantin tentu ingin perhelatannya sempurna. Setelah sibuk mempersiapkan segala sesuatu, memastikan segalanya sempurna, tentu saja fisik dan mental sudah lelah. Dan kalau orang sudah lelah, tentunya lebih mudah menimbulkan percikan2 emosi, yang akhirnya menimbulkan pertengkaran.

Di lain pihak, di luar segala kebahagiaan yg ditawarkannya, pernikahan itu kan sebenarnya point of no return. Sekali janji diucapkan di depan Tuhan, maka tidak ada jalan untuk berputar. The show must go on. In sickness and health, in poor and wealth. Semakin dekat titik itu, tentu semakin cemas seseorang; benarkah keputusan yang saya ambil? Benarkah he/she is the one? Dan sadar tak sadar, sengaja tak sengaja, sang calon pengantin mulai lebih titi-teliti memperhatikan pasangannya untuk mencari justifikasi bahwa keputusannya memang benar. Hal2 kecil yang selama ini terlewatkan olehnya mulai diperhatikan secara lebih serius. Tak heran kalau semakin dekat hari, semakin banyak rasanya kita menemukan ketidaksempurnaan pasangan kita.

Makanya, memang semakin dekat hari pernikahan, semakin rentan hubungan kedua calon mempelai. Bener kata orang2 tua: jangan ketemu menjelang hari pernikahan! Kalo gak ketemu, gak sempat titi-teliti memperhatikan kekurangannya kan? Gak sempat menimbulkan gesekan emosi karena sama2 capek kan?

Anyway.. perjalanan dari tanggal 2 April (semalam sebelum upacara pertama) hingga resepsi selesai 4 April malam, gw bagaikan terbang di awang2. Bukan! Bukan karena kegirangan! Tapi karena itu puncak2nya pikiran gw. Sepanjang upacara, gw sibuk mikir apakah semuanya beres. Gw sempat deg2an ketika penghulu sudah datang sementara kain batik si Mas belum selesai dijahit (hehehe.. bapaknya Ima itu tinggi banget, sehingga kainnya harus disambung ;-)). Hingga di pelaminan pun, saat gw menyalami sekian banyak tamu, pikiran gw juga terbagi2 dengan apakah para penjaga buku tamu menjalankan tugas dgn baik, apakah makanannya cukup, apakah mobil pengantin siap, dll, dll. Jangan tanya siapa aja yg hadir atau tidak hadir di resepsi, gw gak inget! Pikiran gw gak di sana.. hehehe.. dan sayangnya nggak mikirin malam pertama juga.. ;-).

Gw baru akhirnya merasa lega setelah tamu resepsi mulai pulang. Dan baru benar2 lega adalah ketika sudah sampai di rumah kembali. Asli, saking sibuknya, gw & si Mas gak sempat mencicipi hidangan di resepsi kami sendiri.. hehehe.. Kami baru makan setelah di rumah, ketika sisa katering yang dibawa pulang sudah mencapai rumah.

***

Looking back after 8 years, gw hanya merasa senang bahwa kami sudah mencapai titik ini. Waktu pertama menikah, semuanya tampak indah dan ideal. Kemudian satu persatu masalah mulai bermunculan. Biarpun kami sudah lama berteman dan berpacaran, ternyata hidup bersama tetap membutuhkan penyesuaian diri yang tidak sedikit. Jangan dikira pernikahan kami adem ayem tentrem gemah ripah loh jinawi… ;-) We have our shares of marital arguments. Seperti pasangan2 yang lain, kami sering lupa bahwa yang penting bukan saja “who decides”, tapi juga “decide who decides”.  Kami bertengkar untuk triffling matters; untuk setiap kejudesan yg muncul di kala lelah, setiap kecuekan yang muncul tanpa disengaja, pintu yang lupa ditutup setelah masuk, sepatu yang tidak dibuka padahal lantai baru dipel, …

Tapi toh kami melewati 7 tahun pertama yang sering disebut sebagai tahun2 rawan. Di awal2 kami melewati dengan tertatih2, tapi makin lama our feet grown stronger. Dan moga2, semuanya nggak berhenti sampai di sini. Moga2 kaki kami akan semakin kuat dan saling menopang.

Well, it’s not an easy journey, but it’s not an impossible one!

Tuesday, March 21, 2006

40-year-old Virgin: A Movie

Mulanya gara2 ngomongin RUU APP dengan seorang teman (nun di seberang lautan sana ;-)), dan beranjak ke pertanyaannya: “Kalo film 40-year-old Virgin itu bisa kena jerat UU APP gak ya?” Kata teman gw itu, film ini sukses banget di belahan dunianya. Berhubung belum nonton, gw gak bisa kasih komentar. Jadinya cari2 dulu deh di lapak2 bajakan, dan akhirnya nemu juga minggu lalu.

Sebelum nonton, udah sempat lihat resensinya di IMDB, dan agak2 takjub juga ketika ada peringatan: Expect to blush, as well as having a good laugh! Gila, emang sevulgar apa sih, sampai si pembuat review (yang notabene hidup di masyarakat yang lebih terbuka soal beginian) aja blushing? Well.. ternyata filmnya emang vulgar abis. Lucu sih, tapi vulgar! Gw cukup sakit kuping mendengar the F-word diulang2 secara eksesif di film ini, belum lagi dengan adegan2 bangun tidurnya Andy (dan semua ritual yang harus dijalaninya begitu bangun – don’t ask, you know what I mean ;-) tapi kalo pembuat RUU APP fair, harusnya ini dikategorikan pornografi juga, biarpun pelakunya cowok ;-)).  Still, kelihatannya film ini cukup realistis. Mungkin emang begitulah hidupnya para cowok2.. gw belum pernah jadi cowok sih ;-)

Separuh pertama film-nya, gw mulai bosan. Bolak-balik muter2 di soal keperjakaan Andy, dan teman2nya yg sibuk mencoba memperkenalkan Andy dengan berbagai perempuan menarik. Gw baru mulai suka ketika Andy bertemu dengan Trish.

Trish ini adalah single mom dengan 3 anak. Usianya udah gak muda lagi, around 40, sebaya dengan Andy. Tentunya bukan pilihan utama untuk Andy (I mean.. kalo bisa dapat yang lebih muda dan kinyis2, ngapain buang2 waktu dengan ibu beranak tiga yg pastinya udah butuh re-modeling ;-)) Ternyata justru Trish ini yang paling bisa dekat dengan Andy, sehingga akhirnya mereka mulai berkencan.

Di situ mestinya film ini bisa berkembang dgn lebih baik. Banyak hal yang bisa dieksplorasi dari hubungan Andy – Trish. Andy si bujangan yang gamang dengan tugas2 dan tanggung jawab Trish sebagai ibu. Si bujangan yang tiba2 mendapati dirinya diharapkan ikut berperan sebagai ayah bagi ketiga anak Trish, at least sebagai teman berbagi perasaan dgn si ibu yang sedang mengalami masa2 bad relationship with her teenage daughter.. Lantas juga bagaimana Andy mendapati bahwa living together means some compromises, gak bisa lagi sebebas2nya yg dia suka, ketika Trish mau menjualkan beberapa koleksi miniature superhero-nya untuk modal kerja Andy.

Well, film ini sebenarnya bisa menjadi film komedi yang cerdas dengan mengeksplorasi kelucuan dan kecanggungan antara dua manusia yang saling berusaha menyesuaikan diri. Atau bisa menjadi film drama yang bagus, tentang bagaimana cinta bisa hinggap di mana pun, pada tokoh2 yang tak terduga sekalipun, serta bagaimana mereka menyelesaikan perbedaan antara mereka.

Sayangnya, film ini cukup puas dengan menjadi komedi ringan tentang keperjakaan seseorang, sehingga gak memanfaatkan aspek2 menarik yang ada. But it’s okay, sebagai film komedi, idenya lumayan segar. And I did have several good laughs, as well as some blushing moments!

 

Wednesday, March 15, 2006

A Wedding and a Funeral

Masih teringat pembicaraan sekitar 3 bulan lalu. Dia memang sengaja gw panggil ke ruangan untuk mengkonfirmasi desas-desus keputusan tiba2nya untuk menikah dalam waktu kurang dari 1 bulan ke depan.

“Apa loe yakin sama keputusan loe? Bener2 mau nikah sama dia? Jadi istri tuh beda lho dengan jadi pacar. Gak bisa gampang2 putus-sambung”

Kisah kasihnya dengan pria itu memang tak pernah mulus. Selama 2 tahun pacaran, entah berapa kali mereka putus-sambung. Alasannya selalu sama: si pria pencemburu ini tidak suka gadisnya yang ceria beramahtamah (atau bahkan sekedar berdekatan) dengan pria lain. Padahal, sebagai salah satu interviewer andalan, si gadis sering sekali harus bertemu dan bekerja sama dengan pria.

Pernah gw pun terkena imbas masalah cemburu ini. Si pria, yang saat itu masih berstatus supporting staff kantor kami, tiba2 mencemberuti gw berminggu2. Ternyata alasannya adalah karena gadisnya gw tempatkan selama 1.5 bulan di Batam. Saat pulang, si gadis sempat membisikkan, “Dia cemburu berat, Mbak! Tiap 3 hari sekali nelfon, nanyain kapan pulang. Dan dia selalu marah kalau aku ceritain aku habis wawancara bapak2”

Dan sekarang dengan pria yang berkali2 membuatnya tidak tahan inilah dia memutuskan untuk menikah. 

Well?”

“Yakin deh, Mbak!” katanya riang, “yakin gak yakin, gw harus yakin, Mbak”

“Gw pingin mama senang, Mbak,” ujarnya sejenak kemudian, “sakit mama sudah makin parah. Mungkin tinggal tunggu waktu. Satu2nya yang mama khawatirkan adalah meninggal sebelum ada yang menjaga gw”

Ah, ya! Mamanya!

Ini adalah salah satu faktor lain yang membuat gw begitu concern atas keputusannya. Hidupnya sudah cukup sulit untuk tidak ditambahi lagi dengan menjadi istri seorang lelaki yang mengawasi seluruh gerak-geriknya; dan cemburu terhadap sapaan pria lain yg paling biasa sekalipun.

Sebagai putri tunggal seorang janda, hidupnya sudah cukup sulit. Almarhum ayahnya tidak meninggalkan banyak uang, sehingga ibunya membuka sebuah kantin kecil untuk menghidupi dan menyekolahkannya. Menjelang kelulusan si gadis, ibunya terjangkit terminal illness yang membuat beliau tidak lagi mampu bekerja. Dia yang kemudian mengambil alih tugas sebagai tulang punggung keluarga dengan bekerja honorer di kantor kami. Dua kakak laki2nya dari pernikahan pertama ibunya sama sekali tidak membantu. Entahlah, mungkin karena kehidupan mereka benar2 sudah sangat susah seperti yg dikatakan si adik ini. Tapi mungkin juga karena sebab lain; karena menjenguk bundanya yang sakit pun kakak2nya nyaris tak pernah.

Si gadis lah yang mengerjakan semuanya. Mereka hanya tinggal berdua, tanpa pembantu, di sudut terpencil di luar Jakarta. Tiap pagi dia membersihkan pembaringan si ibu yang penuh urin dan feces. Dia lantas menyiapkan seluruh obat dan makanan si ibu di meja kecil samping tempat tidur sebelum berangkat bekerja. Bila pulang, tak lupa dia membeli makanan untuk dimakan berdua dengan sang ibu.

“Ya, gw tahu. Tapi apakah loe siap membuang seluruh hidup loe hanya karena mengejar waktu? OK lah, mungkin mama senang akhirnya loe menikah. Tapi what next? Jika nanti beliau sudah tidak ada, loe tetap harus menjalani seumur hidup loe dengan dia. OK, manusia bisa berubah. Tapi siapa yg menjamin perubahannya ke arah yg lebih baik? Bagaimana jika keadaan malah lebih buruk? Setidaknya, bagaimana jika keadaannya sama dengan sekarang?”

“Memang manusia hanya bisa berusaha, jodoh tetap di tangan Tuhan. Tapi apa loe gak ingin memastikan dulu, sepasti2nya yg loe bisa, sebelum mengambil keputusan yang pengaruhnya seumur hidup?”

Dia diam. Hanya senyam-senyum saja sambil terlihat berpikir. Tapi kemudian dia menjawab:

“Mungkin keputusan gw salah, Mbak. Mungkin gw harus menanggung resikonya seumur hidup. Tapi gw sayang mama. Kalau gw bisa menyenangkan mama untuk terakhir kalinya, akan gw lakukan walaupun harus gw bayar seumur hidup”

***

Tanggal 30 Maret nanti genap 2 bulan pernikahan mereka. Dan kemarin sebuah kabar datang: ibundanya meninggal lepas subuh. Hanya kurang lebih 45 hari setelah pernikahannya, dia kehilangan sang bunda.

Mungkin benar bahwa pernikahan putri tunggalnya adalah hal yang memberatkan almarhumah. Mungkin benar bahwa sang putri tunggal sudah membahagiakan ibunya dengan segera menikah. Kita tak pernah tahu. Yang jelas: ibunya kini tiada, dan sang dara harus menjalani sisa hidupnya dengan pria yang sempat berulang kali membuatnya berpikir apakah mereka bisa hidup bersama selamanya.

Saat menyalami suaminya ketika akan pulang, gw sempat berpesan untuk menjaga dia. Pesan yang mungkin tidak perlu, karena suaminya memang benar2 mencintai dia. Pesan yang mungkin tidak perlu, karena toh di seluruh sudut ruangan tempat kami melayat gw selalu mendengar bisik2 yang sama:

“Alhamdulillah, almarhumah sudah sempat melihat putrinya menikah”

“Alhamdulillah, putrinya sudah ada yang jaga. Sudah selesai tugasnya sebagai orang tua”

Mungkin, seperti yang dikatakannya hampir 3 bulan lalu, the risk is worth to take (dan dia sudah mendapatkan ganjaran dengan seuntai senyum di wajah ibunda, ketika beliau menyongsong ajal dalam dekapannya)

*dedicated to D.A.R.A; my deepest condolence on your loss – and my wish for all the best thing you deserve*

Monday, March 13, 2006

Menjadi Orang Baik

Rupanya, setelah bosan menggambarkan the God’s wrath unto the sinners, para produser acara di TV mengganti pendekatannya. Udah beberapa waktu ini, kalo gw ngintip tontonan mbak2nya Ima, gw tidak lagi melihat segala macam mayat bernanah, berdarah, ditolak bumi, etc, etc. Sebagai gantinya, gw melihat orang yang super baik melawan orang yang super jahat. Contohnya ya kayak tadi malam, ada sinetron berjudul (kalo gak salah) Jalan Kebenaran. Gak nonton dari awal sih.. hanya tiba2 nengok gara2 Ima teriak, “Ibunya kejam banget sih? Anaknya minta dijemput ibunya gak mau, malah main kartu!”. Gw lihat seorang ibu2 cantik (yg main Firdha Kussler d/h Firdha Razak… ;)) lagi main kartu ditemani brondong sambil ngomelin anaknya via handphone.

Adegan berikutnya: seorang copet menelfon ustad yang pernah dicopetnya, minta tolong diberikan uang tebusan supaya tidak dipenjara. Alasannya: kedua anaknya masih kecil, istrinya sudah meninggal, siapa yg akan jaga anaknya kalo dia dipenjara? Dengan telfon itu si ustad langsung mengumpulkan duitnya yg tidak seberapa, against his wife’s will, untuk menebus di pencopet. Kata Pak Ustad, “Kalau kita bisa membantu, bantulah. Toh selama ini kita tidak pernah sampai kelaparan”.

Adegan kemudian berlanjut dengan temannya Jeng Firdha, sesama ibu2 kartu, yang gak sengaja dengar ceramah Pak Ustad yg bertema Al Isra 17:7, yaitu “Jika kamu berbuat kebaikan, kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat kejahatan, maka akibatnya bagi dirimu sendiri”. Dengan Malaysian dress pengganti kaus kutungnya, si Mbak cantik datang lagi ke mesjid hari berikutnya untuk minta dicatatkan ayat tersebut oleh Pak Ustad. Dan apa yg dilakukan Pak Ustad? Beliau mengambil Al Quran, dan mengatakan, “Tidak usah saya catatkan, karena Al Quran ini untuk Mbak”. Dan si mbak cantik itu langsung klepek2 terharu dengan kebaikan hati Pak Ustad; langsung mengaji saban malam.

Rentetan adegan berikutnya adalah Jeng Firdha yg jengkel karena si teman lebih senang ngaji daripada dugem/main kartu memutuskan untuk meracuni si mbak cantik yg “kembali ke jalan yg benar” ini. Tapi akhirnya yang mati adalah anak sendiri, yang tidak sengaja makan kue tersebut.

*heran, what is the logic of poisoning the friend? Isn’t it enough that you find another friend?*

Nah.. cerita ini memang sepintas lebih tenang dan baik dibandingkan pendahulunya. Setidaknya, orang lebih diajak untuk berbuat baik, bukan ditakut2i dengan segala azab dan sengsara. Tapi.. tetap aja gw gak sreg dengan acara ini. Menurut gw, tetap aja ceritanya kelewat hitam putih, hingga2 menjurus ke arah bahwa kalo mau jadi orang baik itu berbatas tipis dengan menjadi orang bodoh.

OK, gw menghargai niat baik Pak Ustad di cerita itu untuk membantu si pencopet. Beliau tidak dendam pada orang yg pernah berbuat salah padanya, malah bersedia membantu. Tapi.. yang gw herankan, kenapa membantu itu harus diterjemahkan menjadi “sekedar” mengikuti permintaan si pencopet menyediakan uang tebusan? Inti masalahnya apa sih? Kan intinya bahwa kedua anak si pencopet itu tidak ada yg mengurus jika bapaknya dipenjara. Lha, berarti kalo Pak Ustad mau bantu, bisa saja dia membantu dengan mengayomi kedua anak piatu itu selama bapaknya dipenjara kan? Pak Ustad tetap bisa berbuat baik tanpa harus menafikan kesalahan di pencopet; menghindarkan dia dari konsekuensi perbuatannya sendiri.

Soal adegan berikutnya, gw juga heran banget. Si mbakyu cantik itu kan datang bagaikan anak domba yang hilang. Dia datang karena tertarik mendengar ceramah, penjabaran Pak Ustad tentang ayat tersebut. Penjabarannya yang membuat si mbakyu “kembali ke jalan yg benar”. Lha, kok reaksinya Pak Ustad cuma begitu doang? Cuma memberikan Al Quran supaya si mbak bisa baca sendiri? Hey, Pak, si mbak ini butuh bimbingan, bukan butuh dikasih sedekah berupa buku. Bukunya sih dia bisa beli sendiri, bacanya bisa sendiri, tapi penjelasannya itu yang dibutuhkan. Bimbingannya yg dibutuhkan. Emangnya “kembali ke jalan yang benar” itu cukup dengan hanya baca Al Quran aja? Apa gunanya dibaca, kalo gak dimengerti dan diamalkan? Salah2 malah pengamalannya jauh panggang daripada api, alias gak sesuai dgn inti ajarannya.. ;)

Soal menjadi orang baik yang direduksi menjadi sekedar atribut ini juga pernah gw jumpai di sinetron lain yg gak sengaja gw tonton. Gw gak tahu judulnya apa, gw hanya ngintip gara2 adegan Derry Drajat lagi marah2 di depan pintu pagar, gak bisa masuk rumah selama 15 menit, karena SEMUA pembantunya (pembantunya 5 orang, bo!) sedang shalat berjamaah. Di situ Derry Drajat digambarkan sebagai majikan yang jahat banget, memarahi pembantunya yang “berada di jalan yang benar”. Yang di-highlight adalah marah2nya si majikan terhadap “perbuatan baik” (shalat berjamaah) yang dilakukan oleh pembantunya. Sama sekali tidak ada highlight tentang pembantu yang “meninggalkan tanggung jawab” sehingga membuat boss-nya marah.

Padahal, kalau dipikir2, apakah Tuhan pernah bilang bahwa manusia boleh mengabaikan tanggung jawabnya untuk alasan melakukan perintah Tuhan? Bukankah tanggung jawab kita (pada manusia lain) juga harus sejalan dengan hubungan kita dgn Tuhan? Di kasus ini, misalnya, kan nggak harus pembantu yang jumlahnya 5 orang itu shalat jamaah bersamaan? Kalo pun mau mengejar pahala shalat berjamaah, kan shalatnya bisa dibagi 2 shift? Dengan demikian semua dapat pahala, tapi juga si boss tidak terlantar? Rasanya perintah untuk menyegerakan shalat tidak harus diartikan segitu harafiahnya, sehingga memberikan legitimasi untuk meninggalkan tanggung jawab.

Well.. kalau lihat cerita2 sinetron seperti ini, maka gw komentar gw: alangkah mudahnya menjadi orang baik! Just be dumb and do all the literal things associated with being good. Jangan pernah berpikir kritis, karena berpikir kritis itu bisa bikin curiga (sebuah bentuk ketidakbaikan). Jangan pernah memikirkan tanggung jawab kita kalo tanggung jawab itu mengurangi waktu kita dgn Tuhan.

*hopefully, masih banyak orang yg sadar bahwa menjadi orang baik itu lebih dalam daripada perilaku superficial saja ;-)*

Friday, March 10, 2006

"Saya s**si, Bapak e***si..."

"Lah Ibu itu harusnya sadar, Ibu telah melakukan pornoaksi dengan memperlihatkan tonjolan Ibu itu, oleh karenanya Ibu kena denda"

"Tonjolan ini maksud Bapak? Atau tonjolan di celana Bapak itu? Harusnya Bapak kena denda juga tuch... masak memperlihatkan tonjolan itu ke depan saya dan di tempat umum begini. Itu kan pornoaksi juga Pak!"

"Ibu benar-benar sudah keter...."

"Aaaaacchhh jangan banyak alasan pak. Saya seksi, bapak ereksi... jadi impas kan??? Gak usah saling nyusahin deh.  Bapak denda saya, nanti saya tuntut juga loh Bapak..."

(dikutip dari posting Hans yang ini, kalo mau baca jang ketinggalan sequelnya ya!)

***

Ribut2 RUU APP bikin gw pingin ketawa ngakak. Mau ngebahas serius, gw udah kalah set sama para pakar yg sudah pada turun gunung itu. Bayangin aja, di Kompas kemarin ada tulisan pakar yang mengangkat isyu male chauvinism, ada lagi pakar yang bicara tentang the finest essence of moral… ;-) Untuk ngebahas secara haha-hihi pun gw gak punya gigi. Lihat dong kutipan di atas.. teman gw Hans sudah membahasnya dengan lucu-tapi-nendang-abis ;-)

Sebenarnya gw gak punya masalah dengan RUU APP. Gw emang masih dalam tahap mencari draft komplitnya, jadi gak bisa komentar banyak, tapi… dari potongan2 pasal berikut ini, gw (pribadi) merasa nggak punya masalah dengan esensinya.

Sebagian Pasal pada RUU APP

Pasal 1: pornografi adalah substansi dalam media atau alat komunikasi yang dibuat untuk menyampaikan gagasan-gagasan yang mengeksploitasi seksual, kecabulan, dan/atau erotika.

Pasal 2: pornoaksi adalah perbuatan mengeksploitasi seksual, kecabulan, dan/atau erotika di muka umum.

Pasal 4: Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan /atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik bagian tubuh tertentu yang sensual dari orang dewasa.

Pasal 25 (1): setiap orang dewasa dilarang mempertontonkan bagian tubuh tertentu yang sensual.

Penjelasan Pasal 4: Yang dimaksud dengan bagian tubuh tertentu yang sensual antara lain adalah alat kelamin, paha, pinggul, pantat, pusar, dan payudara perempuan, baik terlihat sebagian maupun seluruhnya.

(dipinjam dari artikel ini)

 

Esensi dari pasal2 yang terkutip di kotak sebelah ini, misalnya, sangat bisa gw mengerti. Memang ini menghalangi kebebasan berekspresi orang2 yg suka seni tertentu. Tapi.. OK lah, kalo ada orang2 yg nggak nyaman dgn ekspresi seni yg seperti itu, I think we can compromise a little. I’m sure these people can live without foto Anjasmara telanjang dada, gambar Sophie Navita pakai lingerie, goyang Inul dan Annisa Bahar, Playboy magazine, situs2 free erotica stories… ;-) 

Ini kan prinsipnya seperti gambar kartun Nabi Muhammad SAW itu. Hak seseorang di ruang publik dibatasi oleh hak orang2 lainnya. Jadi.. biarpun itu hak loe, kebebasan berekpresi loe, kalau itu membuat orang lain di sekitarnya menjadi tidak nyaman, ada baiknya loe tidak melakukannya… ;) Setidaknya tidak melakukan secara terbuka di tempat orang2 yg merasa tidak nyaman itu berada.

Untuk beberapa pasal yang katanya juga melecehkan perempuan, yang mengatur tentang pakaian perempuan, gw pun tidak merasa masalah. Ya.. mungkin emang gw gak credible buat ngomentarin ini ya; lengan baju gw selalu setidaknya mencapai siku (even kalau pesta dengan spaghetti strap gown pun gw selalu menutupi dgn selendang – gak PD dengan bahu gw yg lebar) dan kalo pakai rok minimal mencapai lutut (thanks to Santa Ursula yg membiasakan rok murid2 minimal 10cm di bawah lutut.. ;)).

Tapi.. apa yg gw khawatirkan dan juga dikhawatirkan oleh para penolak RUU APP adalah aplikasi dari peraturan ini.

Esensinya memang benar, bahwa jangan melakukannya di muka umum. Tapi batasan umum itu apa? Foto Anjasmara & Isabel dulu juga hanya dipertontonkan di museum. Menurut gw sih itu udah niche, small audience, bukan public lagi. Sudah kelompok, bukan umum. Tapi toh tetap diprotes kan?

Esensinya juga memang benar, bahwa gak boleh berbuat cabul di depan umum. Tapi aplikasinya gimana? Umum itu apa? Jaman gw kecil dulu, gw sering dengar tentang “tenda goyang”.. dan setelah gedean dikit denger tentang “mobil goyang”. Nah.. kalo itu gw setuju dikategorikan sebagai berbuat cabul di depan umum. Itu kan pantai! Semua orang yg lewat bisa lihat tendanya, atau mobilnya, goyang. Tentu hal ini berbeda dengan bapak2 yang berkencan di kamar hotel bintang 3 toh? Kan dilakukannya di dalam kamar, tertutup, terkunci. Hanya si bapak, teman kencan, serta Tuhan yg tahu kan? Tapi toh ada orang yg menganggap ini tempat publik, bagian dari umum, sehingga menjustifikasi tindakan untuk sweeping ke kamar2 hotel yang tertutup, terkunci, dan tidak terlihat isinya oleh umum.

Gw belum baca pasal2 yang lain.. tapi kalo menurut desas-desus ada juga aturan gak boleh ciuman di muka umum. Well, sekali lagi gw sih gak keberatan dgn esensinya. Gw juga risih kok kalo lihat orang ciuman – di bibir, apalagi kalo passionate French kiss ya! – di tempat ramai. Tapi balik lagi.. gimana ntar aplikasinya? Jangan2 ntar gw & si Mas ditangkap juga gara2 kalo nge-drop dia di kantor selalu berpisah dengan sedikit kecupan? Lha.. mencium suami/istri sendiri kan legal toh? Tapi kalo menurut UU ini, apa gak dikategorikan sebagai pornoaksi ya ;-p? Dikategorikan sebagai ekploitasi seksual ya? Kan.. gak semua orang pakai metode “Wham! Bam! Thank you, Ma’am!” ;-p

Yaa… jadi gitu deh! Gw sih masih bisa terima kalo ada UU ini, kalau itu dianggap membuat dunia lebih nyaman. Tapi.. pemerintah udah mikirin belum infrastrukturnya? Udah dibayangin belum gimana menjalankannya? Bagaimana menentukan batasannya yg jelas di kehidupan nyata? Jangan sampai ntar kejadiannya kayak tulisan Hans di atas: “Saya s**si, bapak e***si”… ;) Alias aplikasinya didasarkan pada reaksi2 hormonal (tsah!) “polisi moral”nya saja, yang tentunya amat sangat subyektif ;-)

*Kan gawat kalo besok2 gw diproses di kantor polisi hanya gara2 ada orang yg udah 3 bulan gak ketemu istrinya ikut nafsu lihat pipi gw dicium suami… ;-) Eh.. sungguh! PIPI gw SENSUAL lho… ;-) Chubby, bener2 kissing material ;-) Apakah berarti besok2 gw harus menutupi pipi gw… ;-)?*

Friday, March 03, 2006

Titi Kamal minum Beras Kencur

Kemarin si Mas ngobrolin berita yang baru dibacanya di harian Kompas: seorang istri guru ditangkap saat sedang menunggu angkot karena dicurigai menjadi PSK. Hanya gara2 dia berada di tempat dekat banyak PSK berkeliaran, lantas ditangkap dan diproses juga. Padahal dia sudah berkali2 bilang bahwa dia bukan PSK, dan minta pinjam telepon untuk menghubungi suaminya (biar jadi saksi). Tapi itu pun dipersulit, dan apesnya, ketika berhasil menghubungi si suami, suaminya itu lagi kumat darah tingginya. Alhasil, si suami baru datang beberapa hari kemudian dan dianggap mengada2. Si suami diharuskan membayar 300rb untuk membebaskan istrinya.

Padahal si istri sedang hamil, dan si suami sudah membawa surat nikah sebagai bukti!

Penangkapan ini terjadi karena pemberlakuan Perda no. 8/2005 Kota Tangerang tentang Pelarangan Pelacuran. Dalam perda itu diatur bahwa seorang perempuan yang dicurigai (sekali lagi: dicurigai) melakukan praktek pelacuran dapat ditangkap dan diadili. Jadi, tidak perlu ada bukti bahwa dia melakukan pelacuran. Cukup dengan dicurigai saja.. ;-) Kutipan pasal adalah sebagai berikut (diambil dari artikel ini):

Setiap orang yang sikap atau perilakunya mencurigakan, sehingga menimbulkan suatu anggapan bahwa ia/mereka pelacur dilarang berada di jalan-jalan umum

(Pasal 4 ayat 1 Perda no. 8/2005)

Kalau di Extravaganza, pasti udah dibilang: peraturan yang aneh!

Apa ya batasannya “sikap atau perilaku mencurigakan” yang “menimbulkan suatu anggapan bahwa ia/mereka pelacur”? Apakah harus menyapa setiap pria yang lewat? Atau cukup dengan menggunakan baju tertentu? Baju yang seperti apa? Seperti Julia Roberts di Pretty Woman? Yang pakai garter belt dan rok mini itu? Padahal, gak semua pelacur pinggir jalan berpakaian seksi lho! Nggak percaya? Coba aja lewat jembatan Jatinegara sekitar jam 10 malem, mereka hanya pakai celana jeans dan blus. Blus-nya juga gak semua ketat. Ada yang pakai blus biasa aja, tapi udah cukup menunjukkan lika-liku tubuh karena kebetulan penampangnya toge pasar (=toket gede pantat besar).

Kata “mencurigakan” ini kan multi-interpretasi sekali! Tergantung sensitivitas masing2. Kalo pemerintah kota Tangerang isinya kayak gw semua, yg hobinya curiga sama hal2 kecil sekalipun, apa gak semua2 orang dicurigai? Lha, masih untung kalo pemerintahnya kayak gw, biar curigaan gw tuh orangnya safe player, indecisive, nggak berani ambil keputusan sebelum dipikir panjaaaaaaaaaaang banget (kadang2 malah mikirnya kelamaan sampai masalahnya udah basi pun belum ambil keputusan ;-)). Lha, kalo pemerintahnya cuma gampang curiga aja, tapi hobinya beraksi cepat? Kan bisa2 semua perempuan di sana ditangkapi ;-). Apalagi sudah ada justifikasi dengan kata2 “menimbulkan anggapan”. See? Anggapan! Perception! Jadi gak perlu bukti, gak perlu fakta, cukup dengan persepsi!

Dan kemungkinan, memang akhirnya yg terjadi adalah yg terakhir: orang2 yg berwenang gampang curiga, tapi gak (mau/bisa) mikir panjang, akhirnya rely on perception sebagai dasarnya. Akibatnya, semua perempuan yang ada di daerah yg dirazia langsung ditangkap tanpa pandang bulu. Termasuk orang2 seperti Ceu Lilis ini. Ceu Lilis ini kerja di sebuah restoran, dan pulangnya malam. Sekitar jam 22:00 baru sampai rumah setelah berganti2 angkutan umum. Pada saat nunggu angkutan umum itulah dia ditangkap, hanya karena kebetulan dia perempuan dan berada di tempat razia. Buat sebagian orang, berada di tempat yang razia aja sudah dianggap sebagai perilaku mencurigakan dan menimbulkan anggapan bahwa dia melacurkan diri.

Si Mas bilangnya ini adalah produk chauvinisme laki2. Mungkin juga sih, mengingat yang bikin perda (harusnya) juga kebanyakan laki2. Tapi bisa jadi juga sekedar kekurangmampuan berpikir panjang. Melihat segala sesuatunya secara partial, bukan dihubungkan dengan big picture-nya. Atau mungkin hanya masalah ketidaksensitivan terhadap bahasa; sehingga gak tahu bahwa penggunaan kata “dicurigai” itu mempunyai perbedaan yang amat sangat signifikan dengan kata “terbukti” dan bahwa kata “anggapan” itu berlawanan arti dengan “fakta”. Just two words, but they make all the differences.

Well, apa pun sebabnya, gw setuju dengan kata2 sang pakar hukum pada artikel tadi: perda tersebut tidak sesuai KUHP, harus direvisi, dan masyarakat bisa mengajukan gugatan class action. Kita tunggu aja apakah pemerintah kota Tangerang cukup berbesar hati mengakui kesalahannya.

Meanwhile, gw punya pantun nasihat yang mungkin berguna bagi Anda2 yang rumahnya sekitar Tangerang, kantornya dekat Tangerang, atau harus ke Tangerang karena punya suatu urusan:

Titi Kamal sarapan kerang
Minumannya es beras kencur
Hati-hati kalau malam jalan2 di Tangerang
Bisa2 dicurigai dan dianggap pelacur

(Bayangin betapa mualnya Titi Kamal pagi2 makan kerang yg rada2 amis terus minumnya jamu spicy begitu. Sama memualkannya kali ya, dengan pemberlakuan perda tsb ;-))