Thursday, August 30, 2007

Program Unggulan: Jika Saya Pemda DKI

Gw punya ide gila jaman rame2nya Pilkada lalu tentang apa yang akan gw lakukan jika menjadi Gubernur DKI.

Kalau jadi Gubernur DKI, maka gw akan membuat kebijakan baru: menetapkan MOTOR sebagai satu2nya kendaraan pribadi resmi yang boleh beroperasi di jalan raya pada hari kerja. Mobil boleh lewat dengan ijin khusus. Yaah.. mirip2 di Cina yang menetapkan sepeda sebagai kendaraan operasional gitu deh ;)

Alasan gw ada dua. Yang pertama, motor2 itu sudah amat sangat sulit diatur! Sebagai ilustrasi, mobil gw udah 2x operasi bemper dan 1x ganti mud-guard gara2 diserempet motor. Tak terhitung berapa kali gw mesti ngeratain cat gara2 motor juga. Naaah.. kalau motor sudah gak bisa diatur, mendingan diresmikan aja kali ya? If you can’t fight it, embrace it ;-) Kalau gak ada mobil lagi, motor semua, mungkin keadaan jadi lebih baik.

Alasan yang nomor dua, tentu saja, masalah ekonomi. Tarif jalan tol naik, bo! Sekitar 20%, mengikuti laju inflasi! Biar kata kenaikan tarif ini penting demi penambahan jalur, tetap aja buat fakir receh seperti gw ini berasa banget ;-). Dan karena gw merasa diri gw [sedikit] lebih berbudaya daripada manusia yang mengatakan “Kalau tidak bisa membayar (jalan tol), tentu lewat jalan biasa aja”, maka gw mengajukan suatu alternatif pemecahan masalah: buat yang nggak mampu bayar tol tentu BELI MOTOR saja. Daripada harus bawa mobil lewat jalan bukan tol yang tentunya macet atau tidak terpelihara baik.

*Lagian, bukankah untuk itu tol diciptakan? Karena jalan yang bukan tol sudah tidak berfungsi dengan baik?*

So.. naik motor tampaknya merupakan solusi yang baik untuk jaman sekarang ini ;-)

Cumaaa.. ada sedikit masalah kecil!

Ketika gw mengajukan proposal pribadi tentang ingin berkendaraan motor, mendadak sontak semua orang terdekat melarang!

“Elo kan panikan, Mbak. Orang naik motor tuh nggak boleh panikan, nanti malah gampang kecelakaan!” kata adik gw

“Mbak mau naik motor? Boleh aja, kalau Mbak kepingin Ibu cepat mati” omel ibu gw.

Dan yang paling fenomenal tentunya pendapat bapaknyaima:

“Nggak ada sejarahnya dugong naik motor. Wong di laut luas aja berenang nabrak kapal melulu, kok mau naik motor kecil di jalan seruwet Jakarta. Bisa nyeruduk Metro Mini nanti!”

[nggosipin suami mode: ON – bapaknyaima dilarang baca!]

Oh, well, bapaknyaima emang orangnya gitu! Kalau ngatain gw gak pakai perasaan.. HAHAHAHA.. Yaah, partly mungkin dia merasa tertipu, karena waktu nikah dulu dia under the spell melihat gw sebagai Ariel the Little Mermaid. Tapi salahnya sendiri kan? Every fairy tale has an end.. dan.. yang namanya putri duyung itu hanya ada dalam dongeng. Aslinya? Cuma seekor ikan duyung a.k.a Dugong Dugon ;-) Salah sendiri, weeeksss.. udah gede kok percaya sama dongeng ;-)

[nggosipin suami mode: OFF – bapaknyaima boleh baca lagi ;-)]

Nah.. jadi gimana dong? Gw nggak bisa naik motor ke kantor nih.. hehehe.. Satu2nya yang bisa membantu gw mungkin cuma Bang Foke, si Gubernur terpilih. Iya, beliau bisa bantu gw dengan membuat promo2 menarik seputar jalan tol. Biar nggak ngerasa rugi2 amat bayar tarif tol yang naik.

Beberapa usulan promonya sebagai berikut:

  1. Bikin Ladies’ Day Program. Jadi tiap hari apa gitu kalo yang nyetir cewek bebas tarif tol (catatan: yang ini bukan ide original gw, denger di Suara Metro 107.8FM tadi pagi ;-))
  2. Point Reward. Misalnya, untuk tiap pembelanjaan tol sekian ribu, lantas dapat point yang bisa ditukarkan di akhir tahun. Hadiahnya apa aja deh.. mulai dari mug cantik, payung fantasi, sampai mobil molen juga nggak papa.
  3. Bayar 5 Gratis 1. Misalnya, kalau udah 5x lewat jalan tol, yang ke-6x nggak usah bayar lagi.
  4. Berhadiah langsung. Misalnya aja begitu bayar tol dapat Welcome Drink.
  5. ...
  6. ...

Ada yang mau menambahkan?

Siapa tahu dengan demikian orang merasa lebih semangat untuk masuk jalan tol. Dan lebih simpatik daripada ngomong, “Kalau tidak bisa membayar (jalan tol), tentu lewat jalan biasa aja”. *Ctuks! Dzigh! Bletagh!*

Bagaimana, Pemda DKI dan Pak Gubernur baru? Usul diterima? Hehehe..

UPDATE 1 September 2007:

Koreksian dari Jeng Erly bahwa di Cina sekarang udah pada nggak naik sepeda, tapi udah di-encourage beli mobil. Yaaah.. salah jaman deh gw, ketahuan nggak apdetnya.. hehehe.. Maksud gw di paragraf satu itu Cina jaman segini kali ya, pas orang2 pada masih naik sepeda kemana2 ;-). Thanks, Jeng, buat tambahan pengetahuannya ;-)

Tuesday, August 28, 2007

The V Monologues

Sebenarnya ini entry basbang. Draft sudah dibikin sejak pertama kali baca entry Cahyo habis pitulasan lalu. Tapi karena satu dan lain hal, ngendon aja di di Draft Box ;-) Biar basbang, sayang aja kalo dibuang ;-)

***

Hymenaios adalah Dewi Pernikahan Yunani. Dari namanyalah sebuah simbol ”keutuhan” perempuan diberi nama: hymen. Seperti bisa dibaca dalam tautan terkait, hymen ini sebenarnya nggak jelas fungsi anatomisnya apa; dia sekedar sebuah selaput tipis yang bisa rusak bila tertembus sesuatu. Makanya, dalam masyarakat tradisional, hymen ini diagungkan sebagai unbroken seal yang menandai keperawanan seorang gadis.

Melakukan tes keperawanan sebenarnya gampang2 aja. Nggak perlu dicobain satu2 kok, Tik, Yo.. hehehe.. ;-) Tinggal dilihat seal-nya aja. Kalau unbroken, ya besar kemungkinannya dia masih perawan. Dan lebih mudah lagi karena seal-nya ini berada di area luar vagi*a, jadi nggak perlu susah2 untuk lihat.

Yang gw khawatirkan: pejabat2 kita tahu nggak ya?

Positive thinking aja: mudah2an Bupati Indramayu cukup cerdas dan berwawasan luas untuk memiliki pengetahuan umum ini saat secara impulsif mencanangkan (eh, kata ”mencanangkan” ini kayaknya udah gak dipakai sejak jaman Orde Baru yaks?) tes keperawanan bagi siswi sekolah lanjutan ;-). Moga2 cara tes yang dimaksudkan memang seperti itu, sebuah mengacu pada Prima Nocta seperti di film Braveheart ;-).

Hehehe.. sebenarnya yang bikin gw geleng2 kepala bukan tes keperawanannya. Dengan cara yang tepat dan bijaksana (sekali lagi, baca: dengan cara yang TEPAT dan BIJAKSANA), ini malah bisa jadi semacam social control. Iya sih, sebenernya kalau ada cewek yang jadi nggak perawan, itu pasti ada yang memerawani, jadi bener juga kalo dibilang bahwa nggak fair kalau cuma cewek yang di-tes. Tapi, hey, bukankah secara tidak langsung social control ini jadi membatasi laki2 juga? Kalau cewek takut kehilangan keperawanan, dia lebih hati2 dalam berhubungan dengan cowok. Dan kalau cowoknya macam2, lebih berani untuk ”menghukum” si cowok; entah dengan lebih berani melaporkan si cowok kalau dipaksa berhubungan seksual (daripada rugi 2x: udah ketahuan nggak perawan, nggak ketahuan kalo diperkosa ;-)), atau mengambil tindakan yang lebih drastis seperti meng-kastrasi si cowok on the spot.

*Uhm.. tindakan yang kedua itu bisa jadi peluang bisnis baru. Gw mau bikin pelatihan aaaah.. tentang cara2 penggunaan cutter yang efektif ;-)*

Cumaaa.. seperti di masalah Regulasi Baru Pintu Bis, gw kok pusing mencari hubungan antara video porno dengan tes keperawanan, ya? Kok bisa sih mencoba mengurangi kemungkinan munculnya video2 porno dengan melakukan tes keperawanan? Bukannya masalah pembuatan dan penyebaran video porno itu masalah hukum ya? Asal sanksi pada si pelaku jelas, dan konsisten pelaksanaannya, masalah ini akan tertanggulangi dengan sendirinya. Nggak perlu ngurusin anak perempuan orang perawan apa enggak ;-)

Gw kadang2 heran sama pejabat2 ini. Suka nggak nyambung gitu deh antara permasalahan dan pemecahan masalahnya. Atau memang itu ya kriteria untuk bisa jadi pejabat ;-)?

***

BTW, gw beruntuuuung banget lho, Gubernur DKI Jakarta jaman gw SMP-SMA dulu nggak punya ide impulsif kayak Bupati Indramayu ;-) Umur segitu tuh gw masih suka2nya ballet, malah masih berkhayal bisa jadi prima ballerina suatu hari kelak, seperti my idol Dame Margot Fonteyn de Arias. Biar kata hymen itu nggak gampang2 rusak karena olahraga, dengan segala center split, grand jeté, arabesque, dan gerakan2 absurd lainnya, gw sih nggak yakin I would’ve passed the test ;-)

Naaah.. bayangin dong kalau tiba2 gw di-tes, dan.. ortu gw dipanggil ke sekolah karena.. vonisnya adalah gw tidak perawan ;-) Secara sekolah gw itu isinya betina semua (kecuali beberapa guru, satpam, dan tukang kebon), dan gw belum pernah pacaran (well, kalo cuma ngecengin anak CC sih waktu itu kegiatan sehari2 ;-)), pasti terjadi kehebohan luar biasa! Jangan2 tuh bapak2 guru dan tukang kebon di-line up di kepolisian buat penyidikan lebih lanjut.. hehehe..

Atau malah yang terjadi sebaliknya ya? Kalau gw terbukti emang perawan, lantas gw dijadikan orang suci. Beatified. Dijadikan simbol atau pelindung gadis2 yang kena sanksi sosial atas apa yang tidak mereka lakukan, mungkin? Hehehe..

***

Anyway.. beberapa tahun lalu pernah ngobrol2 dengan seseorang tentang the biggest fear membesarkan anak perempuan. Menurutnya, the biggest fear bukanlah mendapatkan suatu hari putrinya pulang dalam keadaan hamil tanpa suami. Kalau itu sih namanya anak perempuannya [maaf] es-ti-yu-pi-ai-di, dan nggak bisa menyalahkan atau menyesali anak yang memang kurang mampu berpikir. Yang jadi the biggest fear adalah: mendapatkan anak perempuannya menyimpan kond*m.. apalagi menemukan kond*m yang sudah dipakai di antara barang2 anak perempuannya ;-).

Kenapa? Yaah.. karena dengan demikian berarti si anak perempuan memiliki pilihan sendiri; pilihan yang tidak di-encourage, tapi tetap dipilih, bahkan telah diperhitungkan masak2 upaya penangulangan dampak negatifnya. That’s the biggest fear: menerima kenyataan bahwa pilihan yang sudah dibuat oleh si anak ternyata pilihan yang bertentangan dengan apa yang kita harapkan. Berarti ada yang kurang tepat dalam proses pendidikannya atau transfer nilai pada si anak. Entah karena kurang mampu menginternalisasikan nilai2 yang dipegang oleh orang tuanya pada si anak, atau telah terlalu berhasil mendidik si anak supaya punya pilihan sendiri (yang konsekuensinya adalah memilih yang bertentangan denan pilihan orang tuanya).

Ini posisi yang paling susah, dan paling dilematis ;-)

Dan menurut gw, posisi ini yang lebih cocok digunakan sebagai sudut pandang sang Bupati dalam menanggapi kasus maraknya VCD porno. Kalau video porno menjadi marak, berarti kan ada yang salah dengan sistem pendidikan dan pentransferan nilai2 luhur (tsah!) bangsa ;-). Mestinya sang Bupati bertanya seperti ini saja pada diri sendiri:

Astaga!
Apa yang sedang terjadi?
Oh oh astaga!
Hendak kemana semua ini?
Bila kaum muda sudah tak mau lagi perduli
Mudah putus asa dan
Kehilangan arah

(Astaga!, dipopulerkan oleh Ruth Sahanaya)

***

Balik ke masalah Tes Keperawanan yang sempat dicanangkan oleh Bupati Indramayu..

Kabar terakhir yang sempat gw baca sih udah dibatalkan ;-) Pembatalannya sih bagus2 aja, cumaaa... duh, alasannya kok naif banget:

”Kalau banyak yang menolak, ya tidak dilaksanakan,” kata Irianto di Indramayu pada Jumat (17/8).

(dikutip dari sini)

Duh! Gimana sih? Mosok alasan tidak dilaksanakannya hanya karena banyak yang menolak? Konyol banget kan? Berarti memang pencanangannya dulu tidak dipikirkan matang2. Nggak tahu deh mana yang lebih bikin gw jengkel; karena ide absurd tentang tes keperawanan, atau karena pejabat berwenang mengeluarkan ide tanpa pemikiran matang2 ;-)

----------------------

Credit Title:

Judul entry yang nggak nyambung sama bahasannya ini diambil dari The Vagina Monologues, yang sudah pernah pula dipentaskan di Indonesia.

Thursday, August 23, 2007

Believe It or Not, I'm Walking on Air

Tadi pagi, selepas mengantar bapaknyaima ke kantor, gw ngerasa ada yang aneh dengan kacamata gw. Rasanya kok nggak steady gitu. Buru2 berhenti di pinggir jalan, dan.. benar! Sekrup kecil di bingkai lensa sebelah kiri lepas. Untung sekrupnya masih di tempat, jadi masih bisa diperbaiki dengan obeng di kantor nanti. Masalahnya, kacamata itu lantas tidak bisa dipakai, karena pasti lensanya jatuh.

Biasanya gw selalu bawa kacamata cadangan, tapi.. gw baru ingat: kacamata cadangan itu kemarin gw masukkan ke tas untuk presentasi dan lupa gw kembalikan ke tas sehari2! Waduh! Padahal gak mungkin minta bapaknyaima nyusul untuk mengantarkan ke kantor; dia mau memberikan pelatihan outbond, dan rombongannya berangkat jam 8:00! Mau minta tolong supir kantor jemput? Yeah, that’s the wisest thing.. kalau saja gw nggak ingat bahwa kemarin sudah ada perebutan supir untuk presentasi pagi ini

*Catatan: Uhmm.. orang2 kantor gw emang kerjaannya berantem melulu; kalo nggak rebutan supir, rebutan ruangan diskusi, rebutan supervisor, rebutan teknisi, rebutan transfer VCD.. hehehe.. Tapi intensitas rebutan kan menunjukkan jumlah project yang ada toh ;-)? So it’s a good thing ;-)*

Sempat terlintas mau titip mobil aja di gedung terdekat, ntar sore diambil. Tapi di dompet tinggal Rp 15,000, nggak cukup juga untuk bayar taksi ke kantor. Kemarin lupa ke ATM gara2 terjebak macet total. Coba ya, itu orang2 pada demo di Kedubes Malaysia! Yang didemo Malaysia kok yang susah rakyat Indonesia.. hehehe.. Mbok ya kalau demo tuh jangan sampai jam 16:00 ke atas! Kalau bisa pagi2 aja, jam 6:00 biar gw nggak usah ngantor sekalian!

Oops.. ngelantur. Nyolong curhat tepatnya ;-)

So.. akhirnya, dengan mengucap bismilahirahmanirrahim, gw putuskan untuk nyetir aja ke kantor. Pelan2 tentunya, karena gw separuh buta tanpa kacamata ;-) Mata kiri gw minus 5 sekian ditambah silindris 3! Sangat tidak memungkinkan untuk melihat obyek di depan gw dengan jelas! Mata kanan sih nggak parah2 amat.. hanya minus 2 sekian ditambah silindris 1. Tapi.. ketidakseimbangan kerusakan mata ini menimbulkan kesulitan tersendiri: kalau dipaksa memandang sebuah obyek dengan mata yang nggak stereo gini, udah pasti migren gw kumat.

Demikianlah, perjalanan bak The Greatest American Hero dimulai ;-) Seperti Ralph Hanley (d/h Hinkley) yang mesti bersusah payah mengendalikan superhero power-nya, gw juga mesti bersusah payah mengendarai mobil dengan mata separuh buta. Banyak pakai kira2 aja, kalau mobil depan nge-rem, gw ikut nge-rem.. hehehe.. Untung, walaupun mobil di depan gw tuh nggak jelas bentuknya apa, tapi gw masih cukup bisa menangkap kecepatan geraknya.

Dan untungnya.. walaupun gw coincidentally pakai blus merah (seperti kostumnya si Ralph ;-)), ternyata nasib gw nggak sesial dia. Nggak pakai nabrak tembok, pintu, atau jendela. Nggak pakai nabrak mobil di depan gw. Meski harus diakui bahwa gw mengalami kesulitan amat sangat untuk.. PARKIR! Gw baru nyadar lho bahwa gedung parkir kantor gw tuh penerangannya remang2 banget. Udah gitu garis pembatas parkirnya nggak jelas. Terpaksa deh gw harus cari tempat parkir yang masih nggak banyak mobilnya. Udah nggak mungkin aja gw parkir di antara 2 mobil. Pasti nyerempet salah satu atau kedua2nya.. hehehe.. kombinasi dari the poor eyesight, faktor gelap, dan garis cat putih yang udah nggak jelas.

*Ingatkan gw untuk mengajukan keluhan ke pengelola gedung ya ;-)*

Akhirnya.. sekitar satu jam dari tragedi lepasnya sekrup kacamata gw, berhasil juga gw masuk kantor. Kurang lebih 2,5x lipat lamanya dari biasanya. Cukup puas gw dengan usaha dan pencapaian gw hari ini ;-) Jadi.. udah boleh nyanyi kan? Lagunya Believe It or Not, the original theme song of The Greatest American Hero, to fit the experience:

Look at what's happened to me,
I can't believe it myself.
Suddenly I'm up on top of the world,
It should've been somebody else.

Reff:

Believe it or not,
I'm walking on air.
I never thought I could feel so free-.
Flying away on a wing and a prayer.
Who could it be?
Believe it or not it's just me.

It's like a light of a new day-,
It came from out of the blue.
Breaking me out of the spell I was in,
Making all of my wishes come true-

Reff:

(Music by: M.Post, Lyric by: S. Geyer, Performed by: J. Scarbury)

Buat yang belum tahu lagunya, atau filmnya, bisa ngintip video clip di bawah ini. Lucu kok, filmnya, biarpun lama2 ngebosenin karena jagoannya kok gak ada pembelajarannya ;-)



Anyway, biarpun gak sesial si Ralph, kayaknya gw tetap sekonyol dia deh.. hehehe.. Saking sibuknya nyoba parkir di tempat segelap itu, gw gak memperhatikan tadi gw parkir di lantai berapa. Alamat pulangnya gw mesti menyusuri gedung parkir dari atas ke bawah nih! Lumayan tuh, 8 lantai masing2 ada A & B ;) Sayang mobil gw bukan mobilnya Knight Rider yang bisa datang sendiri kalau disuitin ;-)

BTW, pas tadi buka2 Wiki buat cari tautan ke The Greatest American Hero (ya, ya, gw paham kok banyak di antara teman2 gw yang belum lahir saat film seri ini ditayangkan ;-)), gw nemu info bahwa di akhir seri sempat direncanakan sebuah seri baru berjudul The Greatest American Heroine. Tokohnya seorang perempuan yang suka kucing dan menghabiskan waktunya mencari kucing2 yang hilang. Hmmm.. gw suka kucing sih.

Jangan2 superheroine-nya.. gw??? HAHAHAHAHA..

*Banyak jalan untuk menunjukkan delusion of grandeur. Merasa jadi superheroine adalah salah satunya ;-) Cara lain mencakup.. uhmm.. merasa menemukan bait ke-4 dari lagu kebangsaan Indonesia Raya ;-)*

Tuesday, August 21, 2007

The Very Lucky Person

Sabtu lalu kumpul2 keluarga besar di rumah salah satu oom gw. Ngobrol ngalor ngidul sambil nyomot makanan, sekalian ajang tukar cerita pengalaman terbaru. Selalu ada cerita menarik dari acara seperti ini, dan salah satu cerita menarik itu adalah musibah yang baru dialami salah satu tante gw: kehilangan sejumlah [besar] materi akibat kejahatan yang menggunakan metode hipnotis.

Ceritanya, beberapa minggu lalu, si Tante berkunjung ke ”Parijs van Java” (buat yang buta Bandung kayak gw: ini nama mall, dan kayaknya pernah jadi sumber keributan ;-)). Tujuannya hanya mau bayar setoran arisan, dan mau lanjut mengurus bisnis serta menyampaikan fund yang baru dicairkan ke institut tempat almarhum suaminya mengajar selama puluhan tahun. Almarhum Oom gw memang meninggal mendadak, serangan jantung, sehingga tidak sempat menyelesaian beberapa project penelitian plus belum sempat memindahtangankan sejumlah fund yang ditransferkan melalui rekening pribadi beliau (note: eh, ini bukan ajang pamer Oom lho, tapi kan katanya identitas harus jelas toh ;-)? Biar bisa dipertanggungjawabkan ceritanya ;-)).

Hal terakhir yang diingat oleh si Tante adalah melihat sebuah keluarga muda (bapak, ibu, dan anak usia balita) menuntun seekor anjing kecil yang lucu. Lantas ada seseorang, berlogat Melayu, berbisik di belakangnya, ”Cik, anjingnya lucu sekali ya?”. The next thing she knew, beliau sudah sampai ke restoran miliknya, dikerumuni para pegawai dan supirnya, sementara sejumlah [besar] mata uang sudah raib; baik fund yang akan diserahkan ke lembaga pendidikan itu, rupiah yang akan digunakan untuk menutup business deal hari itu, dan sejumlah [besar] nominal dari saving account-nya.

Rekonstruksi dengan beberapa saksi mata, serta cuplikan2 foggy memory, menggenapkan pemahaman tentang apa yang terjadi. Bahwa setelah melihat anjing yang lucu itu, Tante pergi naik Toyota Avanza perak bersama 3 laki2; satu duduk di belakangnya, satu duduk di depan samping supir (di depan Tante), dan satu duduk di samping Tante. Bahwa supirnya berkali2 menelepon tapi tidak ada yang mengangkat. Bahwa Tante sempat absent mindedly mengisi slip penarikan tunai dengan diikuti seorang laki2 tinggi besar yang terus menerus berbisik di dekatnya. Bahwa laki2 tinggi besar itu sempat ingin ikut masuk ke ruang Layanan Prima BNI’46. Bahwa CSO di Layanan Prima tersebut mencoba mencegah Tante mengambil jumlah yang amat sangat besar, dan Tante ngotot, sehingga akhirnya sepakat berhenti di nominal separuhnya. Bahwa para pegawai Tante heran melihat Tante turun dari sebuah Toyota Avanza perak – definitely not her car – lantas mobil itu kabur begitu saja setelah menurunkan Tante.

Materi yang hilang memang banyak, even buat ukuran beliau. Tapi setidaknya Tante masih bersyukur: bersyukur bahwa beliau tidak sadar saat masih berada di mobil itu. Coba bayangkan, jika pengaruh hipnotis itu hilang saat masih berada bersama para penjahat, siapa yang jamin bahwa beliau tidak dibunuh di tempat?

***
Yang nggak kalah menariknya dari cerita Tante adalah reaksi2 Oom & Tante gw lainnya. Beberapa Oom gw mulai menganalisa dan mengeluarkan pendapat (yes, everyone, unfortunately ”ngebahas serius segala hal” runs in the family ;-)). Selain menyabarkan si Tante, salah satu Oom gw mengingatkan kembali apakah kewajiban yang 2,5% tidak pernah alpa dibayarkan; karena kalau kita mengambil yang bukan hak kita ini, maka bisa saja yang bukan hak kita ini diambil dengan cara lain. Juga ada beberapa analisa serta petuah lainnya. Tapi.. yang paling menarik dan ”kena” di gw adalah ucapannya Oom gw yang nomor 7.

Paman ketujuh (hehehe.. gw tuh udah cocok jadi jagoan silat, pamannya banyak ;-)) mengutipkan Ali Imran QS 3: 153 untuk Tante gw ini, terutama bagian yang ini:
.. lalu Allah menimpakan kepadamu kesedihan atas kesedihan supaya kamu jangan bersedih hati (lagi) atas sesuatu yang luput dari kamu dan terhadap musibah yang menimpa kamu..
Nice touch! But how true!

Interpretasi paman ketujuh: kadang ketika kita grief over something, kita lupa bahwa it’s not the end of the world. Bahwa (kenikmatan) yang luput dari kita sebenarnya nggak seberapa, nggak perlu terlalu disesali. Dan untuk mengingatkan kita, seringkali kita diberi lagi kesedihan2 lain yang bertubi2, untuk mengingatkan kita bahwa ada yang lebih buruk dari apa yang sudah kita anggap terburuk.

I think he’s right. Kepergian Oom gw yang tiba2 itu jelas menimbulkan bolong besar buat Tante. Tanpa bermaksud menuduh, sampai pengajian 100 hari digelar awal Maret lalu, Tante belum benar2 get over it. Mungkin beliau diingatkan bahwa ada yang nggak kalah berharga di dunia ini; masih ada nikmat berupa kesehatan serta kemampuan fisik-material untuk terus menemani anak dan cucu. Seperti Tante gw bilang sendiri: uangnya bisa dicari lagi, tapi bagaimana kalau saat itu beliau dibunuh?

***
Melenceng jauh dari sasaran..

Beberapa minggu lalu, Papanya Naya iseng2 meramal gw berdasarkan sebuah primbon Cina yang baru dia dapatkan. Dia yang meramal, dia yang girang sendiri baca hasilnya.. hehehe.. karena dia menemukan bahwa I’m a very lucky person ;-) Menurut primbon itu, gw dilahirkan di bawah naungan 3 noble stars sekaligus; sesuatu yang amat istimewa karena rata2 orang hanya punya 1 noble star, dan bahkan banyak yang tidak punya sama sekali.

Waktu itu gw sih cengengesan aja. Gw malah sempat iseng nanya: jangan2 ketiga noble stars gw itu makan gaji buta, soalnya gw nggak ngerasa jadi a lucky person, apalagi a very lucky person.

Tapi, terbawa pengalaman Sabtu lalu, gw jadi having a 2nd thought: dengan atau tanpa noble stars, I am a very lucky person ;-).

At least I’m lucky karena gw masih bisa makan, masih bisa nyekolahin Ima. I’m lucky karena gw terselamatkan dari kemungkinan menjadi korban penipuan. Beberapa bulan lalu, Ibu jatuh di McDonald Thamrin hingga tangannya patah – partly karena mata tuanya Ibu nggak melihat genangan air bekas pel, but mostly karena si petugas alpa menaruh tanda kuning ”Wet Floor” di area itu. Harus operasi besar, dan McDonald nggak mau bayar ganti rugi sama sekali. But I’m lucky karena asuransi kesehatan Ibu masih jalan, full coverage. And I’m lucky karena toh Ibu akhirnya pulih seperti sedia kala; no complication, walaupun patah tulang di usia nyaris kepala 6 tuh biasanya bahaya banget.

Being a very lucky person, do I really have anything to complain ;-)?

Saturday, August 18, 2007

Misteri Koh-e-Noor

Rupanya, ke-mellow-an gw tertangkap oleh para pembaca. Hihihi.. Nggak ada yang percaya ya, bahwa gw capable of being in a mellow state? Padahal kan gw emang sering manic-depressive gitu ;-) Anggap aja ini salah satu episode depressive gw ;) But, anyway, thanks for all the concern, guys and gals!

I owe everyone an explanation kayaknya ;-)

Kemellowan gw seminggu terakhir ini diakibatkan sebuah project besar. Project ini gw kasih nama sandi: Koh-e-Noor, seperti nama berlian terbesar yang legendaris itu. Project ini awalnya terlihat sangat susah, almost mission impossible, tapi nggak bisa gw tolak ;-). Kan kata boss gw nggak boleh nolak klien.. hehehe.. sekali kita nolak klien, besok2 tuh klien nggak mau lagi ngontrak kita, bisa2 kita nggak gajian ;-) Dan berhubung gw tuh mungkin tergolong yang disebut Michael Connelly sebagai the empath, jenis detektif yang difficult to let the cases go, gw jadi kepikiran oleh project ini night and day ;-).

Ceritanya, klien gw ini menginginkan Koh-e-Noor, dan dia meng-hire gw untuk mendapatkan itu. We both know who the current owner(s) of Koh-e-Noor; siapa2 aja yang punya kunci ke ruangan yang menyimpan Koh-e-Noor itu. Masalahnya.. akses ke para pemegang kunci itu bisa dibilang putus total. Ibarat Friendster connection, gw cuma terhubung secara langsung dengan salah satu pemegang kunci, tapi hubungan pertemanan itu belum sampai pada level gw bisa “pinjam” kunci ke ruang pusaka.

Gw sempat pusing, the clock is ticking ;-) Kredibilitas gw dipertaruhkan, as well as my client’s trust on me. Tahu kan, ada pepatah yang bilang: it takes years to build up trust, and it only takes suspicion – not even proof – to destroy it? Gw menterjemahkannya sebagai: kalau gw sampai gagal, nggak perlu segala bukti bahwa gw sudah usaha ke sana ke mari. A mere suspicion from my client that I didn’t put enough effort might end the hard-earned trust ;-) Itu yang mengilhami munculnya entry mellow perdana: Indifference (070815) ;-) I really want to ignore the case (and the client as well), but I can't ;-)

To cut the long story short, I built up the courage.

Gw mencoba menghubungi the casual friend yang kebetulan punya kunci ke ruang pusaka itu. Satu2nya direct link yang gw miliki. Walaupun gw pesimis dia mau kasih pinjam kuncinya, dan malah takut bahwa setelah itu dia nggak akan mau kenal gw lagi, tapi setidaknya gw coba lah! I put my possible friendship relationship with her at stake, for the greater good ;-)

Gagal! Si casual friend tidak menjawab SMS gw! Arrgggh!

Terpaksa cari jalan lain.. hehehe.. Di situlah pengalaman sebagai mantan pembaca Trio Detektif terpakai sekali. Hubungan Hantu ke Hantu! Metodenya Jupiter-Pete-Bob untuk mencari informasi dengan cara menelepon 5 orang teman. Kalau dari 5 orang teman itu nggak ada yang tahu, mereka diminta menelepon 5 teman lainnya. Begitu seterusnya hingga mendapatkan informasi.

So, that’s what I did. Gw kontak satu seorang “hantu”, yang punya akses ke salah satu pemegang kunci. Si Hantu dengan baik hati bersedia mengontak si pemegang kunci. Tapi dia nggak terlalu optimis sih. Dia bilang: Caveat Emptor, let the buyer beware. Beware bahwa si pemegang kunci ini bukan jenis orang yang hobi bales2 SMS cepat. It may take some time for an answer, if there will be any answer at all.

Gw sudah pesimis dan pasrah, sebenarnya. It seems that the universe is all against me. Makanya keluar entry mellow yang kedua: Teman-teman Maya (070817) ;-) Udah kayak mau mati aja tuh gw.. hehehe.. dengan segala thank you itu ;-)

*note: Dodol! How dare you accused me of middle age crisis! I’m not that old, lageee... HAHAHAHA... *

Tapi, seperti gw bilang di sini, the universe indeed has a way to recourse its destination ;-) Tiba2 saja semua berbalik. Semua yang tertutup menjadi terbuka :-)

Dimulai dengan si pemegang kunci yang terhubung langsung dengan gw itu tiba2 menjawab SMS dan mempersilakan gw untuk menanyakan apa saja. After 24 hours of waiting! (thanks dear, for your kindness ;-)). Lantas.. tak diduga tak dikira, si Hantu juga mendapatkan jawaban dari si pemegang kunci yang dihubunginya! And.. even much better, si pemegang kunci yang koneksinya si Hantu ini ternyata merupakan salah satu pemegang kunci utama!

Dari nggak ada jalan sama sekali, tiba2 ada dua jalan terbentang di hadapan gw ;-)

Phiewww.. sekarang gw bisa bernafas sedikit lega. Tinggal bikin appointment dengan si pemegang kunci. Mungkin gw akan ambil rute si Hantu karena satu dan lain hal, walaupun gw berterima kasih banget pada si pemegang kunci yang kebetulan my casual friend. Semoga nanti2 kita bisa jadi lebih dari sekedar kenal di dunia maya ya, Jeng ;-)

Jalan memang masih panjang dan berliku. Skenario yang tepat untuk bisa membawa si klien memandang langsung Koh-e-Noor masih harus disusun. Dan.. kalaupun si klien sudah memandang langsung Koh-e-Noor, belum tentu juga dia jadi beli. After all, you know, Koh-e-Noor has a kind of bloody legend. Dan.. si klien ini punya kecenderungan masochist, alias sering sekali berakhir dengan kondisi bak Bloody Baron ;-)

Tapi setidaknya gw sudah berusaha, dan gw sudah membuktikan bahwa I walk the extra miles to finish the project.

Dan membuktikan bahwa sesudah kesulitan selalu ada kemudahan (QS 94: 5-6) ;-)

Dua hal itu yang paling penting buat gw sebagai the supplier ;-)

Caveat Venditor!

Friday, August 17, 2007

Teman-teman Maya

Tadinya hendak dijuduli “Teman-teman Maya di Dunia Maya” dengan singkatan “TTM/DM” atau “TM/DDM” (tergantung mana yang lebih dipentingkan: kata ulang “teman-teman” atau kata sambung “di” ;-)). Tapi kok dibaca2 jadi mirip dengan DI/TII ya.. hehehe.. Nggak jadi deh ;-) Diambil singkatnya aja: Teman-teman Maya.

Sesuai judul yang nggak jadi, cerita ini memang berkisar pada teman2 gw di dunia maya ;-)

Karena satu dan lain hal, kemarin gw baca2 lagi semua testimonial di Friendster gw. Dan gw menemukan dua hal yang menarik. Pertama, teman2 gw ternyata punya penggambaran yang konsisten tentang gw: manic depressive (alias bisa riang banget dan bisa mendadak sensitif banget, dengan panikan sebagai highlight), suka banget ikut campur kehidupan orang (yaah.. berhubung ini adalah testimonial, mereka sih menggunakan kata2 seperti: “thanks banget atas support-nya selama ini”, “makasih udah jadi teman curhat”, atau “gw baru tahu loe orang yang care sama teman”.. tapi benang merahnya ikut campur urusan orang toh ;-)?). Yang kedua... kebanyakan dari teman2 gw yang berbaik hati memberikan testimonial adalah orang2 yang awalnya gw kenal di dunia maya. In fact, teman2 gw yang awalnya kenal tidak dari dunia maya malah nggak banyak yang gw add di Friendster.. hehehe..

Gw jadi sadar.. selama ini memang lebih banyak teman2 terbaik gw yang gw kenal dari dunia maya. Setelah kenal di dunia maya, email2an, lanjut SMS-an, dan akhirnya ketemuan, dan.. tiba2 saja mereka menjadi teman baik.

Mungkin buat sebagian orang konyol ya? Di dunia maya, everyone could be anyone. Terlalu banyak ketidakjujuran di dunia maya. Terlalu banyak yang bisa ditutupi dengan pertemanan yang tidak face to face. Banyak yang pesimis dengan pertemanan dari dunia maya. Pertemanan macam apa yang bisa digali dari tengah segala ketidakpastian itu?

Well, suatu waktu dulu, pas jaman kuliah, gw pernah baca literatur tentang terbentuknya persahabatan. Terus terang gw lupa judul bukunya, gw lupa detilnya, tapi gw ingat bahwa beberapa hal yang bisa membentuk persahabatan adalah: kesamaan lokasi, kesamaan nasib, dan kesamaan minat.

Kebanyakan persahabatan dimulai dengan kesamaan lokasi. Kesamaan lokasi inilah yang memberi kita teman2 sekolah, teman2 kuliah, teman2 kerja, .. Sebuah pertemanan yang dimulai dengan menjalani hidup bersama2, yang kemudian direkatkan dengan nasib yang sama dan/atau minat yang sama melalui interaksi terus-menerus. Menjadi dekat karena proximity dan interaction. Atau bahasa Jawanya: witing tresna jalaran saka kulina ;-)

Kebanyakan persahabatan memang dimulai dari situ, tapi bukan tidak mungkin dimulai dari kesamaan minat atau kesamaan nasib, yang kemudian – seperti juga dalam persahabatan yang dimulai dengan kedekatan lokasi – direkatkan melalui interaksi. Interaksi yang jujur dan saling percaya.

And that’s how I met most of my dearest friends. Dari sebuah semesta besar bernama dunia maya. Sebuah semesta besar yang tidak dibatasi proximity; dimulai dengan kesamaan minat dan/atau nasib, kemudian sepenuhnya bertumpu pada kejujuran diri dan kepercayaan pada orang lain. Sebuah hubungan pertemanan yang [buat sebagian orang] dipertanyakan kekuatannya. Siapa yang bisa jujur di dunia maya, kalau di dunia nyata saja bisa nggak jujur? Siapa yang bisa percaya pada orang di dunia maya, kalau di dunia nyata pun kepercayaan kita sering dikhianati?

Tapi alhamdulillah, yang begitu tidak terjadi pada gw selama ini. Pertemuan, biasanya, hanya menegaskan apa yang gw percayai dari dunia maya. Kalau chemistry-nya udah pas di dunia maya, di dunia nyata the connection only grows stronger.

Mungkin kuncinya adalah karena gw lebih “kejam” di dunia maya daripada di dunia nyata. Hehehe.. itu sih kesan yang gw tangkap dari testimonial teman2 (ex) maya gw ;-) Kalau di dunia maya, gw hobby banget nyilet2 orang secara telengas (walaupun kata2nya, mudah2an, masih terbilang sopan ;-)). Dengan demikian, begitu ketemu versi nyata yang lebih cerah-ceria, mereka seolah2 mendapatkan kejutan yang manis.. hehehe..

Buat gw pribadi, pertemanan dunia maya memang lebih cocok, barangkali. Gw tuh awkward banget kalau dalam dunia nyata. Gw mendiagnosa diri gw sendiri sebagai penderita agoraphobia (walaupun mungkin masih dalam taraf yang amat, sangat ringan ;-)); yaitu panic disorder yang diasosiasikan dengan kerumunan/gerombolan orang. Teman2 SMP – kuliah gw benar, gw memang panikan, apalagi kalau berada di kerumunan orang.. hehehe..

Karena agoraphobia ini, kegiatan2 pertemanan dunia nyata juga banyak yang nggak cocok sama gw. Misalnya aja: shopping bareng. Temen2 sekantor gw aja sekarang jarang ngajak2 mall-ing.. hehehe.. Secara kalau mereka hunting Mango yang lagi sale, gw malah nongkrong di toko buku. Nggak funky banget kan, gw? Hehehe.. Lha wong my aspired ideal vacation adalah: duduk santai di sebuah tempat teduh di pinggir pantai, dengan setumpuk buku, membaca sambil dihembus angin semilir dan diiringi debur ombak sebagai musiknya. Very lonely idea ;-) Lagian, kalau gw beli baju tuh karena gw butuh baju baru, bukan karena ada sale ;-)

Dan masih berhubungan dengan agoraphobia itu juga, gw lebih suka berteman satu lawan satu, tidak bergerombol. Mungkin itu juga yang bikin gw lebih cocok mulai pertemanan dalam dunia maya. Email2an pribadi, SMS-an, adalah bentuk pertemanan satu lawan satu, where we can know each other better, where we can measure how deep we can trust each other better. Gw selalu merasa yang begini nih menguatkan emotional bond lho.. hehehe.. dan [buat gw] lebih efektif serta lebih intensif daripada harus menghabiskan waktu berjam2 nongkrong bareng atau shopping bareng.

Tapi tentunya tiap orang punya pendapat sendiri2, kali ya.. Punya cara sendiri2 buat berteman. Dan karena itu.. gw hanya bisa berterima kasih pada teman-teman maya gw, who have trusted me enough to be your friend. Terima kasih untuk persahabatan yang terjalin, terima kasih untuk kepercayaan yang diberikan sejak dalam pertemanan maya, terima kasih atas kepercayaan yang lebih besar ketika kita sudah bertemu di dunia nyata. Dan yang jelas: terima kasih untuk tidak menghindar ketika akhirnya tahu bahwa gw tidak secantik yang [mungkin] kalian bayangkan, tidak sebijak yang [mungkin] kalian bayangkan, tidak setenang yang [mungkin] kalian bayangkan, serta yang pasti tidak sepintar yang [mungkin] kalian bayangkan.

Thanks for confiding in me and being my friends, even when you haven’t met me in person :-)

Wednesday, August 15, 2007

Indifference

“The opposite of love is not hate, it's indifference. The opposite of art is not ugliness, it's indifference. The opposite of faith is not heresy, it's indifference. And the opposite of life is not death, it's indifference.”

(Elie Wiesel)

***

Hans pernah menjuluki gw “babi hutan” yang suka banget ngebahas serius masalah sepele. Dasarnya adalah avatar gw pada masa itu: Pumbaa, si babi hutan dalam film Lion King. Ngebahas serius masalah sepele tentu diambil dari kelakuan gw sehari2: bibi titi teliti yang nggak bisa ngebiarin masalah kecil aja nggak terselesaikan. Yup, gw nggak bisa cuek, nggak bisa being indifference, pada hal2 yang paling sepele sekalipun.

Dulu2 sih gw ketawa2 aja dengan julukan ini. Agak bangga malah. Setidaknya, gw jadi “berkarakter”.. ada pembeda antara gw dengan orang2 lain ;-)

Tapi.. seminggu ini gw nyadar lho bahwa julukan ini punya makna mendalam.. hehehe.. bahwa I’m both blessed and cursed by the inability to become indifference.

Yup! Gw baru nyadar bahwa Elie Wiesel bener banget. The opposite of everything is indifference. The rest is just the nuances.

Di satu sisi, yang namanya inability to become indifference ini merupakan berkah. Itu menunjukkan bahwa gw masih punya rasa. Rasa cinta, rasa benci, rasa seni.. Masih punya kepercayaan, masih punya harapan.. Semua itu adalah elemen2 yang membentuk manusia kan? Itu yang membedakan manusia dari robot, atau android ;-)

Tapi.. di sisi lain, inability to be indifference ini adalah sebuah kutukan ;-) Kenapa kutukan? Yah, yang paling gampang kita contohkan dengan love and hate aja ya.. sebagai ranah emosi yang paling dasar ;-)

Mencintai itu mudah. Ketika kita bertemu object of affection yang tepat, ketika waktunya tepat, dan saatnya tepat, maka cinta itu muncul dengan sendirinya. Membenci mungkin lebih mudah lagi. Tinggal kita ingat2 hal2 yang negatif dari the object, dan perasaan itu muncul. Tapi bagaimana ketika kita mau menghilangkan semua rasa dan being indifferent?

Kata orang, cinta dan benci itu hanya dipisahkan segaris tipis. I agree. Cinta dan benci adalah bentuk perasaan yang sama intens-nya. Dua titik dikotomi dari perasaan. Dan namanya titik dikotomi, pasti ada garis tipis yang memisahkan daerahnya cinta dan daerahnya benci. Just cross the line, and you’ll land in a totally different area of feeling.

Tapi bagaimana jika you cannot love something, since it will be very dangerous. But.. on the other hand you cannot hate it, as it would not bring any good. You have to become indifferent, rite?

Mengubah cinta jadi benci hanya masalah mengubah titik di ranah rasa. Tapi bagaimana caranya menghilangkan rasa yang ada supaya menjadi indifferent?

And that’s when I realize.. it hurts the most when you love something you shouldn’t, perhaps you love it enough to hate it, .. but you don’t have the ability to become indifferent. Otak bilang: tinggalkan, jangan indahkan.. sementara, pada saat yang bersamaan, you can’t bear to ignore it :-)

Yeah! Perih, bow! Kayak habis disilet gerwani terus dikasih ramuan garam campur jeruk nipis ;-)

Ngomong2 soal indifferent, kebetulan tadi salah satu kontestan Mamamia Show, Mytha, menyanyikan lagu bertema ini. Penampilannya bikin dia tidak aman.. padahal dia kontestan bagus ;-) Gw jadi ingat bahwa jaman AFI 2005, seorang kontestan bagus juga nyanyi lagu ini. Namanya Arjuna, dan dia tereliminasi hari itu.

Mungkin, lagu itu, seperti juga temanya, is a cursed thing ;-)

Pernah berpikir ‘tuk pergi
Dan terlintas tinggalkan kau sendiri
Sempat ingin sudahi sampai di sini
Coba lari dari kenyataan
Tapi ku tak bisa jauh jauh darimu
Ku tak bisa jauh jauh darimu

(Ku Tak Bisa – SLANK)

Lagunya perih ya? Hehehe.. Dan apa yang bikin perih? Tak lain tak bukan karena si tokoh tidak memiliki kemampuan untuk being indifferent. Nggak punya kemampuan untuk pergi, walaupun ingin sekali dan sudah mencoba.

*duh.. gw jadi mellow.. coba, Nona Mellow Gumellow, Tante minta tissue segulung.. hehehe.. *

UPDATE 16 Agustus 2007:

Dapat sumbangan sebuah lagu manis dari Mas Iman. Cocok banget buat alternatif background music tulisan ini. Makaciiih, Mas ;-)

Buat generasi yang lahir tahun 80 ke atas, syairnya begini:

I hate myself for loving you
Can't break free from the things that you do
I wanna walk but I run back to you
That's why I hate myself for loving you

I think of you every night and day
You took my heart and my pride away

Tapi jangan tertipu, ya... musiknya nggak se-mellow syairnya ;)

Monday, August 13, 2007

Monggo Pinarak

Gara2 pada nanyain tentang gambar yang gw pajang di comment box, semangat ke-Jawa-an gw muncul deh ;-) Jadi pingin nulis sesuatu yang berbau2 [huruf] Jawa ;-)

Seperti udah dijawab oleh AJ’s ya, Zil, kalimat itu berbunyi “Monggo Pinarak”. Artinya harafiahnya kurang lebih “Silakan Mampir”, tapi seringnya sih diterjemahkan sebagai “Selamat Datang”. Memang lazimnya diucapkan kalau ada tamu datang sebagai sambutan. Gambar itu gw bikin beberapa tahun lalu, niat awalnya mau dijadikan banner di blog, tapi karena satu dan lain hal nggak jadi. Baru ingat masih nyimpen waktu buka2 photobucket hari Sabtu lalu, dan iseng2 gw pasang di Haloscan. Malah nggak kepikir bahwa pemasangan perdana itu sesuai dengan topik yang sedang tayang ;-)

Hari ini gw nggak mau ngebahas soal asal usul, falsafah, legenda, yang ada di balik aksara Jawa. Udah banyak yang nulis dimana2, googling aja dengan keyword “Aksara Jawa” atau “Huruf Jawa”. Hari ini mau bernostalgia dengan huruf Jawa aja ;-)

***

Gw belajar aksara Jawa secara kebetulan. Waktu itu gw sedang berlibur di Solo, dan bener2 bete ketika sepupu2 gw mengadakan permainan adu cepat membaca kalimat beraksara Jawa dalam majalah Panjebar Semangat. I thought it wasn’t fair, karena sebagai anak metropolitan gw nggak pernah dapat pelajaran Bahasa Jawa seperti mereka. Tapi sepupu2 gw nggak perduli, I was left out. Jadi gw ngambek deh ;-)

Melihat gw ngambek dan membik2 mau nangis, Eyang Kakung lantas menuliskan aksara Jawa di selembar kertas bekas pembungkus Cap Menjangan (obat nyamuk bakar ngetop jaman itu ;-)). Biar gw bisa belajar dan ikutan main. Kertasnya masih gw simpan, nanti kalau sempat fotonya gw upload deh ;-)

Well, tetap aja hari itu gw nggak bisa ikutan main (kan gw perlu waktu buat mempelajari catatan itu ;-)). Dan tetap aja gw kalah telak ketika permainan itu diulang beberapa hari kemudian (iya lah, modal gw cuma beberapa hari belajar, sementara sepupu2 gw punya beberapa Catur Wulan ;-)).

Tapi yang pasti gw dapat ilmu baru.. ;-)

Sampai di Jakarta, gw masih suka iseng2 mempraktekkan nulis dengan aksara Jawa. Biasanya untuk nulis sesuatu yang rahasia, yang pingin banget gw tulis tapi nggak pingin ketahuan orang lain. Curahan perasaannya dalam Bahasa Indonesia sih, tapi dituliskan dengan aksara Jawa. Gw suka berkhayal bahwa tulisan2 gw itu suatu hari akan ditemukan orang (well.. try a few century after I wrote it ;-)) dan orang2 sibuk untuk men-decode artinya. Siapa tahu ntar ada yang merasa menemukan stanza ke-4 dari lagu kebangsaan kita gara2 tulisan gw itu .. HAHAHAHA..

*Oops, sorry, kalimat gw yang terakhir ini tentunya bukan dikhayalkan pada saat gw SD ;-)*

Anyway.. aksara Jawa ini pernah bikin gw happy campur malu berat. Pada suatu ketika, kemampuan gw membaca aksara Jawa menyebabkan kelas gw ditraktir Bakso Charles, kedai bakso di pinggir jalan yang nge-top jaman itu. Tapi makan2 gratis itu ditukar dengan “harga diri” gw.. HAHAHA..

Gara2nya, seorang guru baru di kelas 5 SD, yang baru lulus dari sebuah IKIP di Jawa Tengah, secara sembrono mengatakan bahwa anak2 Jakarta tuh nggak kenal budaya asli (uhm.. baca: Jawa ;-)). Sambil menggoreskan dua bentuk aksara Jawa di papan tulis, beliau berkata,

“Coba, banyak orang Jawa kan di sini? Tapi mana ada anak Jakarta yang bisa baca ini”

Hurufnya “sa” dan “pa”. Dengan ”wulu” di atas huruf ”pa”. Dibaca: sapi ;-)

Si Bapak Guru kaget, tapi mengatakan soal itu mungkin terlalu mudah. Beliau lantas menuliskan sebuah kata lagi. Huruf ’ma” dengan ”cecak” di atasnya, diikuti ”ka” yang diapit ”taling tarung”, diakhiri sebuah ”ka” yang di-”paten”. Still a piece of cake for me.. walaupun sudah disertai bermacam pelengkap huruf. Dibaca: mangkok.

Kayaknya gw sukses bikin panas si Pak Guru baru ;-) Dia bilang mau kasih satu soal lagi, lebih panjang dan berbentuk kalimat. Tapi kalau gw masih bisa baca dengan benar, satu kelas akan ditraktir Bakso Charles jam olahraga berikutnya.

Kalimat itu berbunyi:

Pak X guruku sing ganteng dhewe

Well, gw terlambat menyadari bahwa gw sedang ”dikerjain”.. hehehe.. Jadi, triumphantly, kalimat itu gw baca keras2 di depan seluruh kelas ;-)

Gw jadi bahan tertawaan anak2, sekaligus sejak itu sering diledek sebagai ”pacarnya” Pak X. Padahal ya, yang namanya Pak X itu nggak ada ganteng2nya sama sekali: bulet buntek dengan raut wajah seperti teddy bear kejepit pintu ;-)

Tapi nggak papa deh, setidaknya ”harga diri” gw dibayar dengan hampir 40 mangkok bakso plus es teh manis ;-) Lumayan untuk ukuran anak SD jaman itu ;-)

PERINGATAN:

Don’t let the above story inspire you, unless you want to pay the price ;-) Harga diri gw udah naik beberapa ratus kali lipat sejak jaman SD.. HAHAHAHA..

Ohya, referensi tentang wulu, cecak, taling tarung, paten, dan hanacaraka, bisa dilihat di sini.

Dan.. nggak, Pak X tidak secentil kesan hari itu. The rest of the year dia baik2 aja kok, nggak pernah kecentilan sama gw atau murid2 cewek lainnya :) He was a good teacher, cuma suka ngerjain orang aja ;-)

Akan halnya Bakso Charles, sampai sekarang masih berdiri di Rawamangun. Sekarang gedungnya udah mentereng, dua tingkat, tapi.. buat gw sih rasanya nggak se-fenomenal jaman SD dulu. Mungkin syaraf2 sensor rasa gw udah berubah.. atau.. gara2 sekarang gak gratis ya ;-)?

***

Masih urusan huruf Jawa, dan masih urusan cowok, gw juga pernah punya pengalaman mengesankan lainnya. Ceritanya, pas di kelas 6, ada dua teman main gw yang pingiiiin banget tahu who the boy at school I had my [first] crush on. Yaah, sebenernya sih gw curang: mereka udah curhat panjang lebar ke gw tentang siapa yang mereka taksir, while I sealed my lips and refused to give any name in return ;-) So, to set the score, gw putuskan aja untuk menuliskan namanya pada selembar kertas yang kemudian gw berikan pada dua teman gw itu. Ditulis dengan aksara Jawa, tentu saja ;-)

Dalam perhitungan gw, kedua teman main gw itu nggak akan bisa baca. Yang satu orang Batak, yang satunya Chinese yang orang tuanya asal Bandung. Apalagi dengan pengalaman fenomenal gw membuat seisi kelas ditraktir, rasanya nggak mungkin ada yang nebak. Paling enggak, mereka berdua butuh waktu lama untuk decode the writing. Waktu yang cukup sampai gw lulus SD dan the whole thing is forgotten ;-)

Sayang.. gw lupa bahwa salah satu teman main gw itu selalu diantar jemput oleh si Mbok, pembantunya yang Jawa banget dan selalu berkain kebaya. Si Mbok cuma perlu 3 detik untuk menterjemahkan tulisan gw ;-)

Hehehe.. emang sombong itu tak boleh ya ;-) Sepandai2nya tupai meloncat, suatu saat dia akan jatuh juga. Dan jangan percaya angka awal, karena selalu ada yang siap nyalip di tikungan. Berantakan deh rencana gw gara2 nggak ingat dua hal ini ;-)

***

BTW.. tadi gw nemu situs program Pallawa; program untuk mengubah tulisan dalam huruf latin menjadi aksara Jawa. Hmm.. kayaknya menarik juga! Gw pingin beli deh! Lucu juga kali ya, kalau tiba2 blog gw ditulis dengan aksara Jawa ;-)

Saturday, August 11, 2007

Bahasa Menunjukkan Bangsa

Bukan, entry ini bukan suatu sambutan atas HUT RI ke-62 pekan depan, walaupun memang cocok dengan semangat patriotisme seluruh komponen bangsa yang [mestinya] tengah menggelora.

*Cieeh.. menggelora Soemantri Brodjonegoro, bow! Bahasa gw orasional banget ya ;-))*

Entry ini muncul dikarenakan sebuah paragraf pada buku yang gw baca; paragraf yang sebenarnya nggak penting2 banget untuk keseluruhan cerita, tapi membuat gw terperangah karena jadi terpikir hal lain yang juga nggak berhubungan dengan cerita ;-)

Kalimat itu ada di bagian2 awal buku yang sedang gw baca, The Judges. Dalam buku itu, di halaman 22, Elie Wiesel menulis begini:

The pilot is an optimist. Does he not know the old saying, “Man proposes and God disposes”? In Yiddish they say, “Man acts and God laughs”.

Eh, gw juga nggak tahu ada old saying seperti itu, sih. Lebih nggak tahu lagi bahwa saudara2 kita the Jews punya kalimat bijak yang itu ;-). Tapi.. gw pernah dengar suatu pepatah yang mirip dalam bahasa ibu: manusia berencana, namun Tuhan jua yang menentukan.

Setali tiga uang kan? Artinya kurang lebih sama: bahwa manusia nggak selalu mendapatkan apa yang diinginkan, karena Tuhan punya hak veto.

Cuma.. ada perbedaan signifikan pada kata yang digunakan. “Berencana”, “mengajukan usulan” (=propose), dan “beraksi” (=act), bukanlah tiga kata yang setara. Di sisi yang lain, kata2 “menentukan”, “menyingkirkan (=dispose)”, dan “tertawa (=laugh)” adalah juga berbeda arti.

Pada saat dua kelompok kata2 kerja tersebut dipasangkan dalam kalimat seperti di atas, lebih terasa lagi perbedaan nuansanya. Pada “Man propose and God disposes”, kesan yang muncul adalah kesetaraan antara man dan God. Hubungan profesional: yang satu bisa mengajukan, sementara yang lainnya berhak menolak. Pada “Man acts and God laughs”, kesan yang muncul tentang hubungan antara man dan God adalah.. entahlah, mungkin lawan, atau tokoh pemberontak versus tokoh otoriter, karena yang satu beraksi sementara yang satunya tertawa (mentertawakan?) aksi tersebut.

Bagaimana hubungan manusia dan Tuhan pada “manusia berencana, Tuhan menentukan”?

Menurut gw, kesan yang paling kental adalah the protege and the caregiver. Tuhan adalah pelindung, penyayang, penentu.. sementara manusia adalah pihak [lemah?] yang dilindungi, disayangi, dikasihani. Hubungannya tidak setara seperti “man propose and God disposes”, atau mencoba saling menaklukkan seperti “man acts and God laughs”, melainkan lebih mencerminkan ketergantungan. Menunjukkan ketidaksetaraan, seperti pada “man acts and God laughs”, tapi dalam konteks yang lebih harmonis.

Lantas gw teringat pada sebuah peribahasa lama: bahasa menunjukkan bangsa.

Selama bertahun2, sejak SD, gw menggunakan interpretasi baku untuk peribahasa tersebut, yaitu: bagaimana kita bertutur mencerminkan tingkat ke-adiluhung-an bangsa kita. Decent language, decent nation. Indecent language, indecent nation. Dengan kata lain: “Mulut kalian, Harimau Kalian” (baca: “Mulutmu Harimaumu” dalam bentuk jamak ;-)).

Namun, setelah membaca paragraf nggak penting dari Elie Wiesel itu, gw jadi mikir: jangan2 artinya nggak seharafiah interpretasi baku itu ya? Sebuah bangsa tidak ditunjukkan hanya dengan seberapa “manis budi bahasanya”, melainkan juga dengan kata2 apa yang dipilih/digunakan untuk merepresentasikan idenya. Buktinya, untuk suatu ide yang sama, tiga bangsa yang berbeda menggunakan terminologi yang amat sangat berbeda.

Gw jadi mikir lebih lanjut: sisi apa pada bangsa Indonesia yang dicerminkan oleh pilihan kata “manusia berencana, namun Tuhan jua menentukan”?

Dalam sisi positif, gw bisa menemukan kemungkinan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang santun, yang menghormati Tuhan, yang percaya pada Tuhan, yang memposisikan dirinya terhadap Tuhan sebagai totally Yours (= istilah kerennya: Totus Tuus. Pinjem ya, Oom, itung2 hadiah perpisahan.. atau boleh juga dianggap sebagai sanksi sosial atas ke-drama-king-an loe ;-))

Tapi.. di sisi lain, gw juga khawatir bahwa sisi yang dicerminkan adalah sisi ketidakmandirian, ketergantungan, ketidakberanian. Menunjukkan bahwa kita cenderung mencari tokoh lain yang bisa disalahkan, atau dijadikan kambing hitam, untuk menutupi ketidakberhasilan atau kekurangseriusan kita dalam berusaha.

Tidak seperti bangsa yang mengucap “man proposes and God disposes”, yang tentunya merasa memiliki kemampuan serta usaha yang cukup untuk mengajukan proposal. Tidak juga seperti bangsa yang mengucap “man acts and God laughs”, yang begitu berani melakukan sesuatu (bukan sekedar “berencana” dan sudah lebih dari sekedar “mengajukan”), meskipun aksi itu [mungkin] cuma jadi tertawaan Tuhan.

Semoga, yaaah.. semoga, peribahasa itu tidak mencerminkan bahwa bangsa kita hanya berani “berencana”, belum tentu berani “mengajukan rencana” tersebut apalagi “menjalankannya” (karena takut rencananya “disingkirkan” atau “ditertawakan” ;-)?)

Iiih.. ini gw lagi ngomongin apaan sih? Belibet gini.. hehehe..

Balik ke bukunya aja deh! Currently I’m still reading that book. Masih ada beberapa bab lagi yang belum selesai. Tapi.. dari apa yang gw baca, it is a very good book about the meaning of life. Seperti biasa, Wiesel mengangkat tema2 kehidupan yang nggak terpikir sebelumnya, seperti Paulo Coelho, tapi dengan gaya yang lebih depresif dan sendu ;-)

Personally, gw merasa tulisan2 Wiesel lebih matang daripada Coelho. Mungkin karena Wiesel lebih tua ya? Atau karena Wiesel adalah holocaust survivor, yang udah lebih merasakan pahit getirnya dunia daripada Coelho - yang walaupun merupakan pemikir hebat, namun hidupnya lebih mulus ;-)

Waduh.. kalau memang alasannya seperti di atas, terbukti lagi dong bahwa "bahasa menunjukkan si penulis".. hehehe.. (baca: bentuk tunggal dari "bahasa menunjukkan bangsa" ;-))

Thursday, August 09, 2007

Indonesia Tinggal Airnya

Topik teranyar di milis SMA angkatan gw adalah: burung Garuda itu sebenernya ada atau enggak sih?

Awalnya dari email ibu ini, yang merasa kenangan masa remajanya luluh lantak gara2 berita ini. Soalnya dia yakin bener pernah berfoto bareng gw di depan sangkar burung (dengan burung hidup di dalamnya) di TMII, yang disebut oleh si pemandu wisata sebagai: burung Garuda lambang negara kita. Gw sih nggak inget episode berpotret ria itu. Kebetulan burung garuda bukan jenis burung favorit gw, dan kalaupun gw punya fantasi masa remaja yang menyangkut burung, itu pasti tentang burung yang lain.. HAHAHAHA..

*maksud gw: gw pilih berfantasi tentang Burung Bulbul yang konon bersuara merdu, Burung Phoenix yang katanya lahir dari api, atau Burung Cendrawasih yang udah pasti cantik bulunya... hayo, siapa yang udah keburu punya bayangan porno gara2 kalimat terakhir tadi ;-)? Ngaku!*

Yang gw ingat, gw pernah baca di suatu tempat dan guru Sejarah juga pernah bilang bahwa Garuda itu adalah burung mitos yang dipilih sebagai lambang negara karena keperkasaannya. Kalau nggak salah idenya diambil dari Jatayu, burung garuda yang punya andil besar menyelamatkan Dewi Sinta dari cengkeraman Rahwana. Naah.. jadi rame deh perdebatan ;-)

Tapi akhirnya gw mengakhiri perdebatan dengan menyajikan dua tautan tentang asal-usul burung garuda – satu dari Bang Enda, satu lagi tentang sejarah rancangan lambang negara. Yang gw tangkap dari kedua artikel itu adalah: lambang negara kita memang dirancang berdasarkan mitos tentang seekor burung perkasa. Tapiii.. dalam kehidupan setelah itu, ditemukan sejenis spesies burung yang mirip dengan penggambaran kita tentang burung garuda. Spesies itu yang kemudian dinamakan sebagai ”Burung Garuda”, berdasarkan kemiripannya dengan lambang negara kita, dan salah satu anak keturunannya disangkarkan di TMII untuk menjadi obyek berfoto bersama.

So.. lambang negara yang memberi nama pada spesies tersebut, not the other way around.

Tentang mengapa si pemandu wisata tampaknya haqqul yaqin menjelaskan pada kami bahwa ini adalah burung Garuda lambang negara, well.. gw pikir itu masalah keterbatasan pengetahuan aja. Nggak bermaksud menipu. Memang lebih mudah mengambil kesimpulan bahwa sebuah lambang negara diilhami dari spesies yang nyata2 ada, daripada menerima bahwa sebuah spesies diilhami dari ide tertentu. Yang kedua itu terdengar kurang realistis dan mengada2; hanya orang2 sok mau tahu dan sok mempertanyakan segala sesuatu yang bakal iseng2 mikirin kemungkinan tersebut ;-)

***

Waktu beberapa hari lalu menerima email lain dari milis yang berbeda, tentang ”ditemukannya” teks kuno lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan 3 "stanza", gw sempat mikir, ”Apa anehnya?”. Jaman SD, waktu pelajaran seni musik, gw diwajibkan beli buku Lagu-Lagu Wajib untuk Sekolah Dasar dan Lanjutan (Muchlis, BA dan Azmy, BA). Gw ingat banget bahwa di halaman pertama buku itu, Indonesia Raya terdiri dari 3 bait. Malah gw sempat pingin nyela karena fwd-an email itu tidak mencantumkan reff yang berbeda untuk bait kedua dan ketiga. Yang kedua tuh harusnya reff-nya berbunyi: “Indonesia Raya, Mulia, Mulia”. Bukan “Indonesia Raya, Merdeka, Merdeka” seperti di bait pertama. Atau.. kalau yang gw baca di buku biografi tentang WR Soepratman dulu (sayang bukunya juga nggak ketemu, gw bacanya jaman SD), teks aslinya malah bukan “Indonesia Raya”, melainkan “Indones, Indones”.

Kalau bunyi bait ketiga, terus terang gw juga lupa ;-) Tapi gw nggak lupa bahwa ada 3 bait yang berbeda, karena waktu SD gw sering songong nyanyi pakai bait kedua biar beda ama temen2 gw.. HAHAHAHA..

Gw pikir itu hanya euphoria sebagian orang yang nggak tahu ada bait kedua dan ketiga. Gw berencana mencarikan buku lagu2 itu, memotretnya sebagai bukti otentik, dan mengirimkannya pada si teman. Sayangnya yang ketemu cuma yang jilid II, lagu daerah, jadi niatnya belum terlaksana.

Kemarin gw udah hampir lupa masalah ribut2 lagu kebangsaan ini, lhaaa... kok, di infotainment dibahas besar2an! Gw jadi penasaran dan nge-browse deh ;-) Dan.. hasil browsing-nya bikin gw agak tempra.

Yang paling bikin gw tempra adalah kata2 dari kantor berita nasional kita ini:

"Rekaman itu banyak sekali unsur Jepangnya, jadi di situ ada unsur propaganda Jepang,"

Satu lagi, masih dari kantor berita yang sama, adalah yang ini:

"Peringatan 17-an merupakan momentum yang baik untuk keputusan itu, apakah kita memakai lagu kebangsaan dalam versi asli atau lagu kebangsaan seperti yang selama ini dipakai,"

Uhm.. dengan tidak mengurangi rasa hormat ya, Pak, memangnya kedua versi itu berbeda? Bukannya sama aja? Hanya saja, yang selama ini dipakai dimana2 adalah bait pertamanya saja? Kok jadi harus nunggu keputusan pemerintah sih? Seolah2 dua versi ini adalah versi yang berbeda ;-)

Kalau perkara bahwa dalam proklamasi kemerdekaan hanya digunakan 1 bait, menurut gw pertimbangan yang wajar dari Bung Karno & Bung Hatta. Lha wong proklamasinya juga nyolong2 waktu saat Jepang lengah, what’s the point to sing the whole text? Satu bait aja udah panjang ampun2an.. kalau 3 bait dinyanyikan sekaligus, bisa2 sebelum proklamator turun podium, Jepang keburu datang ;-)

*OOT: hehehe.. gw ingat banget adegan ketika Susi Susanti memenangkan medali emas olimpiade untuk pertama kali. Lagu kebangsaan kita (yang sudah satu bait doang itu) dipotong oleh orkes simponinya. Dan itupun tetap bikin pengibar bendera kelabakan: sang saka sempat naik turun di ujung tiang bendera lantaran lagunya nggak selesai2.. hehehe.. *

***

Ketika mengobrolkan masalah burung garuda, kesalahan si pemandu wisata gw anggap sebagai masalah kecil. Bukannya gw merendahkannya, tapi.. to err is human, dan menurut gw sih kesalahan yang dia lakukan sangat wajar, mengingat logika yang gw ajukan di bagian atas entry ini.

Menjadi masalah yang berbeda ketika seorang pucuk pimpinan negeri ini melakukan hal yang mirip dengan si pemandu wisata. Bahwa dia tidak tahu ada bait kedua dan ketiga pada versi asli lagu kebangsaan, sesuatu yang sudah ada di buku2 sejarah terdahulu, menurut gw, sudah suatu kesalahan tersendiri. It looks like he didn’t do his homework properly before taking his assignment.

Menuduh bahwa rekaman itu berunsur propaganda Jepang, menurut gw, adalah kesalahan yang lebih fatal lagi. Kalau rekaman itu dibuat ketika versi asli baru diperdengarkan di tahun 1928, maka itu bukan berunsur Jepang. Jepang belum jadi apa2 tahun segitu ;-). Kita masih dijajah Belanda, ingat? Kalau rekaman itu ber-setting tahun 1945, ya wajar aja kalau banyak bau Jepangnya, wong kita sedang dijajah Jepang? Jangan2 beliau lupa, lagi (atau malah nggak tahu?), bahwa naskah proklamasi disusun di rumah Laksamana Maeda? Apa mau dibilang bahwa kemerdekaan kita juga merupakan propaganda Jepang, karena ada bau2nya Maeda-sama ;-)?

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya.. siapa dulu ya, yang bilang begini? Bung Karno? Kalau memang Bung Karno yang bilang begini, gw rasa beliau sedang menangis di alamnya sana karena kita2, rakyat Indonesia (bahkan pimpinannya! Can you believe it?), begitu mudah melupakan sejarah. Hingga teks asli lagu kebangsaan kita sendiri pun disimpan oleh bangsa lain, dan ketika kita melihatnya malah mencurigai itu adalah propaganda Jepang.

Gw bayangkan, dengan sedihnya, para pahlawan di alam sana sedang membuat versi lain dari lagu kebangsaan kita:

Indonesia, tinggal airnya
Tanahnya punya swasta
Sejarahnya banyak yang lupa
Rakyat banyak merana
..
Eh, kalau kayak gini, gw bisa kena pasal subversif nggak ya? Moga2 nggak.. kan gw tidak bermaksud menghina lagu kebangsaan. Hanya mengkritisi sedikit keadaan sekarang. Harap maklum ya, Pak Penegak Hukum dimana pun Anda berada ;-) Saya bangga kok dengan lagu kebangsaan kita.. buktinya sampai ingat bahwa dulu ada 3 "stanza" sementara yang lain lupa ;-)

Ngomong2 sebagai bangsa yang lupa pada sejarahnya.. mungkin itu juga sebabnya mengapa tiba2 buah sawo naik pamor. Banyak yang tiba2 suka makan sawo tanggal 8 Agustus 2007 kemarin. Apa mungkin sebaiknya sawo ini dijadikan buah nasional aja ya? Kita belum punya buah nasional kan? Hehehe..

----

PS: barusan dengerin rekaman di YouTube. Ternyata reff-nya dibikin sama untuk semua bait. Nggak tahu kenapa, padahal seingat gw nggak sama. Entah gw yang halusinasi dalam mengingat, atau dalam rekaman itu diubah for the sake of simplicity ;-) Anyway.. enjoy the music below ya ;-)