Wednesday, August 15, 2007

Indifference

“The opposite of love is not hate, it's indifference. The opposite of art is not ugliness, it's indifference. The opposite of faith is not heresy, it's indifference. And the opposite of life is not death, it's indifference.”

(Elie Wiesel)

***

Hans pernah menjuluki gw “babi hutan” yang suka banget ngebahas serius masalah sepele. Dasarnya adalah avatar gw pada masa itu: Pumbaa, si babi hutan dalam film Lion King. Ngebahas serius masalah sepele tentu diambil dari kelakuan gw sehari2: bibi titi teliti yang nggak bisa ngebiarin masalah kecil aja nggak terselesaikan. Yup, gw nggak bisa cuek, nggak bisa being indifference, pada hal2 yang paling sepele sekalipun.

Dulu2 sih gw ketawa2 aja dengan julukan ini. Agak bangga malah. Setidaknya, gw jadi “berkarakter”.. ada pembeda antara gw dengan orang2 lain ;-)

Tapi.. seminggu ini gw nyadar lho bahwa julukan ini punya makna mendalam.. hehehe.. bahwa I’m both blessed and cursed by the inability to become indifference.

Yup! Gw baru nyadar bahwa Elie Wiesel bener banget. The opposite of everything is indifference. The rest is just the nuances.

Di satu sisi, yang namanya inability to become indifference ini merupakan berkah. Itu menunjukkan bahwa gw masih punya rasa. Rasa cinta, rasa benci, rasa seni.. Masih punya kepercayaan, masih punya harapan.. Semua itu adalah elemen2 yang membentuk manusia kan? Itu yang membedakan manusia dari robot, atau android ;-)

Tapi.. di sisi lain, inability to be indifference ini adalah sebuah kutukan ;-) Kenapa kutukan? Yah, yang paling gampang kita contohkan dengan love and hate aja ya.. sebagai ranah emosi yang paling dasar ;-)

Mencintai itu mudah. Ketika kita bertemu object of affection yang tepat, ketika waktunya tepat, dan saatnya tepat, maka cinta itu muncul dengan sendirinya. Membenci mungkin lebih mudah lagi. Tinggal kita ingat2 hal2 yang negatif dari the object, dan perasaan itu muncul. Tapi bagaimana ketika kita mau menghilangkan semua rasa dan being indifferent?

Kata orang, cinta dan benci itu hanya dipisahkan segaris tipis. I agree. Cinta dan benci adalah bentuk perasaan yang sama intens-nya. Dua titik dikotomi dari perasaan. Dan namanya titik dikotomi, pasti ada garis tipis yang memisahkan daerahnya cinta dan daerahnya benci. Just cross the line, and you’ll land in a totally different area of feeling.

Tapi bagaimana jika you cannot love something, since it will be very dangerous. But.. on the other hand you cannot hate it, as it would not bring any good. You have to become indifferent, rite?

Mengubah cinta jadi benci hanya masalah mengubah titik di ranah rasa. Tapi bagaimana caranya menghilangkan rasa yang ada supaya menjadi indifferent?

And that’s when I realize.. it hurts the most when you love something you shouldn’t, perhaps you love it enough to hate it, .. but you don’t have the ability to become indifferent. Otak bilang: tinggalkan, jangan indahkan.. sementara, pada saat yang bersamaan, you can’t bear to ignore it :-)

Yeah! Perih, bow! Kayak habis disilet gerwani terus dikasih ramuan garam campur jeruk nipis ;-)

Ngomong2 soal indifferent, kebetulan tadi salah satu kontestan Mamamia Show, Mytha, menyanyikan lagu bertema ini. Penampilannya bikin dia tidak aman.. padahal dia kontestan bagus ;-) Gw jadi ingat bahwa jaman AFI 2005, seorang kontestan bagus juga nyanyi lagu ini. Namanya Arjuna, dan dia tereliminasi hari itu.

Mungkin, lagu itu, seperti juga temanya, is a cursed thing ;-)

Pernah berpikir ‘tuk pergi
Dan terlintas tinggalkan kau sendiri
Sempat ingin sudahi sampai di sini
Coba lari dari kenyataan
Tapi ku tak bisa jauh jauh darimu
Ku tak bisa jauh jauh darimu

(Ku Tak Bisa – SLANK)

Lagunya perih ya? Hehehe.. Dan apa yang bikin perih? Tak lain tak bukan karena si tokoh tidak memiliki kemampuan untuk being indifferent. Nggak punya kemampuan untuk pergi, walaupun ingin sekali dan sudah mencoba.

*duh.. gw jadi mellow.. coba, Nona Mellow Gumellow, Tante minta tissue segulung.. hehehe.. *

UPDATE 16 Agustus 2007:

Dapat sumbangan sebuah lagu manis dari Mas Iman. Cocok banget buat alternatif background music tulisan ini. Makaciiih, Mas ;-)

Buat generasi yang lahir tahun 80 ke atas, syairnya begini:

I hate myself for loving you
Can't break free from the things that you do
I wanna walk but I run back to you
That's why I hate myself for loving you

I think of you every night and day
You took my heart and my pride away

Tapi jangan tertipu, ya... musiknya nggak se-mellow syairnya ;)