Tuesday, August 21, 2007

The Very Lucky Person

Sabtu lalu kumpul2 keluarga besar di rumah salah satu oom gw. Ngobrol ngalor ngidul sambil nyomot makanan, sekalian ajang tukar cerita pengalaman terbaru. Selalu ada cerita menarik dari acara seperti ini, dan salah satu cerita menarik itu adalah musibah yang baru dialami salah satu tante gw: kehilangan sejumlah [besar] materi akibat kejahatan yang menggunakan metode hipnotis.

Ceritanya, beberapa minggu lalu, si Tante berkunjung ke ”Parijs van Java” (buat yang buta Bandung kayak gw: ini nama mall, dan kayaknya pernah jadi sumber keributan ;-)). Tujuannya hanya mau bayar setoran arisan, dan mau lanjut mengurus bisnis serta menyampaikan fund yang baru dicairkan ke institut tempat almarhum suaminya mengajar selama puluhan tahun. Almarhum Oom gw memang meninggal mendadak, serangan jantung, sehingga tidak sempat menyelesaian beberapa project penelitian plus belum sempat memindahtangankan sejumlah fund yang ditransferkan melalui rekening pribadi beliau (note: eh, ini bukan ajang pamer Oom lho, tapi kan katanya identitas harus jelas toh ;-)? Biar bisa dipertanggungjawabkan ceritanya ;-)).

Hal terakhir yang diingat oleh si Tante adalah melihat sebuah keluarga muda (bapak, ibu, dan anak usia balita) menuntun seekor anjing kecil yang lucu. Lantas ada seseorang, berlogat Melayu, berbisik di belakangnya, ”Cik, anjingnya lucu sekali ya?”. The next thing she knew, beliau sudah sampai ke restoran miliknya, dikerumuni para pegawai dan supirnya, sementara sejumlah [besar] mata uang sudah raib; baik fund yang akan diserahkan ke lembaga pendidikan itu, rupiah yang akan digunakan untuk menutup business deal hari itu, dan sejumlah [besar] nominal dari saving account-nya.

Rekonstruksi dengan beberapa saksi mata, serta cuplikan2 foggy memory, menggenapkan pemahaman tentang apa yang terjadi. Bahwa setelah melihat anjing yang lucu itu, Tante pergi naik Toyota Avanza perak bersama 3 laki2; satu duduk di belakangnya, satu duduk di depan samping supir (di depan Tante), dan satu duduk di samping Tante. Bahwa supirnya berkali2 menelepon tapi tidak ada yang mengangkat. Bahwa Tante sempat absent mindedly mengisi slip penarikan tunai dengan diikuti seorang laki2 tinggi besar yang terus menerus berbisik di dekatnya. Bahwa laki2 tinggi besar itu sempat ingin ikut masuk ke ruang Layanan Prima BNI’46. Bahwa CSO di Layanan Prima tersebut mencoba mencegah Tante mengambil jumlah yang amat sangat besar, dan Tante ngotot, sehingga akhirnya sepakat berhenti di nominal separuhnya. Bahwa para pegawai Tante heran melihat Tante turun dari sebuah Toyota Avanza perak – definitely not her car – lantas mobil itu kabur begitu saja setelah menurunkan Tante.

Materi yang hilang memang banyak, even buat ukuran beliau. Tapi setidaknya Tante masih bersyukur: bersyukur bahwa beliau tidak sadar saat masih berada di mobil itu. Coba bayangkan, jika pengaruh hipnotis itu hilang saat masih berada bersama para penjahat, siapa yang jamin bahwa beliau tidak dibunuh di tempat?

***
Yang nggak kalah menariknya dari cerita Tante adalah reaksi2 Oom & Tante gw lainnya. Beberapa Oom gw mulai menganalisa dan mengeluarkan pendapat (yes, everyone, unfortunately ”ngebahas serius segala hal” runs in the family ;-)). Selain menyabarkan si Tante, salah satu Oom gw mengingatkan kembali apakah kewajiban yang 2,5% tidak pernah alpa dibayarkan; karena kalau kita mengambil yang bukan hak kita ini, maka bisa saja yang bukan hak kita ini diambil dengan cara lain. Juga ada beberapa analisa serta petuah lainnya. Tapi.. yang paling menarik dan ”kena” di gw adalah ucapannya Oom gw yang nomor 7.

Paman ketujuh (hehehe.. gw tuh udah cocok jadi jagoan silat, pamannya banyak ;-)) mengutipkan Ali Imran QS 3: 153 untuk Tante gw ini, terutama bagian yang ini:
.. lalu Allah menimpakan kepadamu kesedihan atas kesedihan supaya kamu jangan bersedih hati (lagi) atas sesuatu yang luput dari kamu dan terhadap musibah yang menimpa kamu..
Nice touch! But how true!

Interpretasi paman ketujuh: kadang ketika kita grief over something, kita lupa bahwa it’s not the end of the world. Bahwa (kenikmatan) yang luput dari kita sebenarnya nggak seberapa, nggak perlu terlalu disesali. Dan untuk mengingatkan kita, seringkali kita diberi lagi kesedihan2 lain yang bertubi2, untuk mengingatkan kita bahwa ada yang lebih buruk dari apa yang sudah kita anggap terburuk.

I think he’s right. Kepergian Oom gw yang tiba2 itu jelas menimbulkan bolong besar buat Tante. Tanpa bermaksud menuduh, sampai pengajian 100 hari digelar awal Maret lalu, Tante belum benar2 get over it. Mungkin beliau diingatkan bahwa ada yang nggak kalah berharga di dunia ini; masih ada nikmat berupa kesehatan serta kemampuan fisik-material untuk terus menemani anak dan cucu. Seperti Tante gw bilang sendiri: uangnya bisa dicari lagi, tapi bagaimana kalau saat itu beliau dibunuh?

***
Melenceng jauh dari sasaran..

Beberapa minggu lalu, Papanya Naya iseng2 meramal gw berdasarkan sebuah primbon Cina yang baru dia dapatkan. Dia yang meramal, dia yang girang sendiri baca hasilnya.. hehehe.. karena dia menemukan bahwa I’m a very lucky person ;-) Menurut primbon itu, gw dilahirkan di bawah naungan 3 noble stars sekaligus; sesuatu yang amat istimewa karena rata2 orang hanya punya 1 noble star, dan bahkan banyak yang tidak punya sama sekali.

Waktu itu gw sih cengengesan aja. Gw malah sempat iseng nanya: jangan2 ketiga noble stars gw itu makan gaji buta, soalnya gw nggak ngerasa jadi a lucky person, apalagi a very lucky person.

Tapi, terbawa pengalaman Sabtu lalu, gw jadi having a 2nd thought: dengan atau tanpa noble stars, I am a very lucky person ;-).

At least I’m lucky karena gw masih bisa makan, masih bisa nyekolahin Ima. I’m lucky karena gw terselamatkan dari kemungkinan menjadi korban penipuan. Beberapa bulan lalu, Ibu jatuh di McDonald Thamrin hingga tangannya patah – partly karena mata tuanya Ibu nggak melihat genangan air bekas pel, but mostly karena si petugas alpa menaruh tanda kuning ”Wet Floor” di area itu. Harus operasi besar, dan McDonald nggak mau bayar ganti rugi sama sekali. But I’m lucky karena asuransi kesehatan Ibu masih jalan, full coverage. And I’m lucky karena toh Ibu akhirnya pulih seperti sedia kala; no complication, walaupun patah tulang di usia nyaris kepala 6 tuh biasanya bahaya banget.

Being a very lucky person, do I really have anything to complain ;-)?