Saturday, January 28, 2006

Titipan itu bernama Vinnie

Sejak kematian ibu mertua gw setahun yang lalu, gw mulai lebih sadar makna retorika: Manusia hanya bisa berusaha, tapi Tuhan yg menentukan hasilnya. Bahwa kalau Gusti Allah menghendaki, maka apa pun yang kita lakukan, sesempurna apa pun rencana kita, Dia selalu punya hak veto. Kematian Mama, kendati pun akibat kecelakaan lalu lintas, terlihat sebagai kenikmatan yg diberikan Tuhan untuk Mama. Kapan2 gw ceritain tentang meninggalnya Mama. Sekarang gw mau cerita tentang meninggalnya seorang teman, yang membuat gw lebih sadar tentang artinya pasrah, bahwa semua yg ada pada kita ini cuma titipan.

Namanya Elizabeth Eko Tarminingsih. Panggilan resminya Eko, tapi gw lebih suka manggil dia Vinnie. Yahoo ID-nya memang iluv_vinnie. Dan lagi, nama Vinnie gw anggap lebih cocok dgn personality-nya yg ceria, rame, sedikit naif dan moody, tapi baik hati. Dan nama itu cocok banget dengan wajah imut cantik modern-nya. Waktu pertama kali kenal dia di sebuah komunitas virtual, gw sudah terkesan dengan keceriaannya. Saat perkenalan beranjak menjadi pertemanan, dan Vinnie berani meng-upload fotonya, kami semua terkesan dgn wajahnya. Make up ataupun make down, Vinnie sama cantiknya!

Vinnie sering cerita tentang orang tuanya yg sangat menjaga dia. Vinnie tidak boleh keluar terlalu malam, Vinnie bahkan tidak boleh kuliah (dan kemudian bekerja) terlalu jauh dari rumah. Mungkin itu yang bikin dia jomblo melulu. Mengingat perbedaan usia yg nyaris 1 dasawarsa, gw kadang jadi tante buat dia, yang menjelaskan bahwa kekhawatiran ibu-bapaknya pada dasarnya wajar. Yang namanya orang tua tentunya khawatir terhadap pergaulan anak (perempuan)-nya. Apalagi kalau tinggal di Jakarta, dan menyangkut anak perempuan sulung yg ayu seperti dia.

Umur Vinnie baru 23 ketika Tuhan memintanya kembali Rabu lalu. Sepulang kerja, Vinnie sesak nafas dan harus dilarikan ke RS. Namun pertolongan apa pun yg diberikan kepadanya tidak membawa hasil. Vinnie pergi. Serangan jantung yang baru pertama kali dialaminya telah merenggut si ceria dari keluarganya dalam usia begitu muda.

Tidak ada yg menduga Vinnie pergi secepat itu. Bahkan keluarganya pun begitu shock, sehingga tidak bisa menangis. Kami teman2nya pun setengah ragu2 mendengar kabar kepergiannya, khawatir ini hanyalah sebuah practical joke yang kelewatan, yang ditanggapi serius oleh orang yg lebih dewasa. Usia Vinnie begitu muda, hidupnya masih panjang, dia anak baik2 yang selalu dijaga dengan ketat oleh bapak ibunya. Siapa yang menyangka hidupnya begitu singkat? Toh, malaikat pencabut nyawa tetap menemukan jalan untuk mengambilnya di depan mata orang tuanya sendiri.

Menatap wajah Vinnie di petinya, dengan rok mini, blazer, dan sepatu putih, menimbulkan keharuan tersendiri. Gw kehilangan seorang teman, kehilangan seorang keponakan yg suka curhat. Dan sangat sedih melihat sesuatu yg begitu muda kehilangan daya hidupnya.

She was so young. Baru 2 thn lalu dia menyelesaikan pendidikan sekretarisnya dan mulai bekerja. Dia tumpuan harapan bapak ibunya. Setelah menemaninya wisuda, tentu harapan bapak ibunya adalah menikahkan dia, lantas menunggu kehadiran cucu2 di hari tua. Begitu banyak cinta yang sudah dicurahkan orang tuanya untuk dia. Begitu banyak perhatian dan kekhawatiran bapak ibunya untuk memastikan anaknya aman. Begitu banyak usaha orang tuanya untuk menyelesaikan tugas sebagai orang tua dengan baik. Hanya selangkah lagi tugas orang tuanya selesai: mengantarkan Vinnie ke tangan pria yang akan menjaganya. Dan Tuhan mengambil Vinnie tepat di saat itu.

Kalau dilihat dari usaha yang sudah dilakukannya, tentu rasanya Tuhan gak adil mengambil Vinnie di saat ini. Kalau dilihat dari cinta yg sudah dicurahkan oleh orang tuanya, tentunya Tuhan lebih tidak adil lagi memisahkan Vinnie dari orang2 yg mengasihinya. Tapi anak memang cuma titipan Tuhan. Kita diberi kesempatan untuk menjaga sebaik2nya, tapi kita tidak pernah benar2 punya kuasa penuh akan dirinya. Suatu hari, ketika si empunya menghendaki, kita harus siap menyerahkannya kembali. Tidak perduli betapa pun besarnya usaha kita melindungi dia, menghalangi datangnya nasib, kalau waktunya tiba, maka pulanglah dia memenuhi panggilan-Nya.

Dari dalam hati yang paling dalam, gw ikut berduka cita untuk kedua orang tua Vinnie. Sebagai ibu, gw ikut merasakan sakitnya kehilangan seorang anak. I've been there before, although God had mercy to spare me my daughter. Tapi percayalah bahwa kematian ini adalah berkah. Seperti yang orang tuanya inginkan, mereka akhirnya mengantarkan Vinnie ke kehidupan yg lebih baik. Mereka tidak menyerahkan anak gadisnya ke tangan pria yang akan berbagi hidup dengan Vinnie. Lebih dari itu, mereka menyerahkan Vinnie ke tangan Sang Pemberi Hidup itu sendiri.

Our death is our wedding with eternity.
What is the secret? "God is One."
The sunlight splits when entering the windows of the house.
This multiplicity exists in the cluster of grapes;
It is not in the juice made from the grapes.
For he who is living in the Light of God,
The death of the carnal soul is a blessing.

(Our Death, by Rumi)

Selamat jalan, ya Vin... Bahagialah di tempat barumu!

Thursday, January 26, 2006

Memoirs of a Geisha

Don’t judge a book by its movie
(A joke in Reader’s Digest, Asia edition, February 2006)

Biasanya gw juga akan menyarankan hal yang sama “literally”: jangan mengira2 isi buku berdasarkan filmnya. Film yg diangkat dari buku biasanya hanya menjadi rentetan gambar indah tanpa esensi dan nuansa. Tapi Memoirs of a Geisha jelas bukan film seperti itu. Film ini sebagus2nya film yg diangkat dari sebuah novel. Gak salah kalau sempat diulas bahwa film ini bisa menjadi film klasik seperti Gone with the Wind, The Godfather, atau Schindler’s List.

Buat yg belum tahu, film ini bercerita tentang lika-liku hidup seorang geisha bernama Nitta Sayuri. Lahir sebagai Chiyo anak nelayan miskin, dia dan kakak perempuannya (Tatsu) dijual oleh sang ayah kepada “pencari bakat”. Tatsu yg berwajah biasa lantas dijual ke rumah bordil, sementara Chiyo yg cantik diambil sebagai calon geisha di okiya (rumah geisha) kecil milik Nitta-san. Chiyo kecil mengalami masa yg buruk karena dicemburui dan dijahati Hatsumomo, primadona Nitta okiya. Padahal, dia membutuhkan Hatsumomo untuk bisa menjadi geisha: jika saat magang tiba, dia butuh “diperkenalkan” kepada masyarakat oleh “senior”nya. Hampir saja Chiyo menghabiskan seumur hidupnya sebagai pelayan di okiya itu, kalau saja seorang established geisha bernama Mameha tidak mengulurkan tangan. Dengan Mameha sebagai mentor, Chiyo berhasil menjadi geisha paling top dengan harga jual keperawanan yang sensasional.

Nah, apa yang bagus dari film ini? Seperti sudah diulas di banyak media, akting trio Zhang Ziyi (Sayuri aka Chiyo) – Michelle Yeoh (Mameha) – Gong Li (Hatsumomo) patut diacungi jempol! Penata artistiknya pun luar biasa dalam menyajikan gambar indah. Belum lagi tata kostumnya yg benar2 mendetil, seperti tampak pada perbedaan tatanan rambut dan kimono antara geisha magang (yg masih perawan), geisha penuh (setelah keperawanannya dijual), serta established geisha (yang sudah memiliki danda - penyandang dana atau bahasa gampangnya: udah jadi selir seseorang).

Tapi yang menurut gw indah banget adalah kemampuan film ini bercerita dan meluruskan salah kaprah tentang geisha… :-)

Seorang teman berubah persepsinya setelah menonton film ini. Sebelumnya, dia punya persepsi salah kaprah; he mixed it up between geisha and jugun ianfu. Kami sempat eyel2an, karena gw bilang geisha itu bukan pelacur yg bakal tidur dengan sembarang orang atau sekedar pemuas laki2 yang harus mau tidur dengan siapa saja. It’s true bahwa geisha memang bukan perempuan yg hanya punya satu laki2 dalam hidupnya, tapi bukan berarti gampangan dan asal melayani laki2 hidung belang berduit.

Itu kesalahkaprahan yang lazim sih.. ;-) Partly terjadi karena social breakdown dalam perang dunia II, dimana tentara asing yang awam terhadap budaya Jepang mencampuradukkan geisha dengan pelacur. “Now, anyone wearing kimono and painting her face can claim to be a geisha,” demikian keluh Sayuri ketika perang berakhir, dilatari adegan perempuan2 Jepang berkimono yg tengah party-party dengan tentara2 asing.

Film ini menjabarkan dengan indah, tapi mudah dimengerti, tentang filosofi geisha yang telah direduksi menjadi sekedar atribut kasat mata ini. The delicacy of life seorang geisha digambarkan secara jelas melalui adegan, dialog, maupun gabungan keduanya.

Being a geisha is to be a living object of art,” demikian nasihat Mameha pada Chiyo remaja. Nasihat itu dilanjutkan dengan adegan2 Chiyo belajar menari, main musik, menuangkan sake dengan hanya membiarkan pergelangan tangannya yg bergerak dan terlihat oleh tamu.

Pain and beauty live side by side,”  lanjut Mameha, sambil menata taburan garam di bawah bantal kayu. Seorang geisha harus bisa tidur dengan anggun, tidak bergerak sedikitpun, sehingga taburan garam itu utuh hingga pagi. Seorang geisha harus bisa berjalan dengan anggun, dengan langkah yg bagaikan aliran air, walaupun mereka mengenakan bakiak yang tidak simetris. Pendeknya; seorang geisha tidak boleh clumsy, harus punya keseimbangan badan yang baik. Dan keseimbangan badan yg baik itu dipengaruhi oleh pikiran yg tenang, kan? That’s the core philosophy of being geisha!

“You are a successful geisha, if the men cannot take their eyes off you,”  kata Mameha sambil mencontohkan bagaimana ketika mereka berjalan di pasar, pria2 meleng sampai jatuh atau nabrak. “Touch their thigh a little when you pour the sake,” lanjutnya, “always by coincidence, of course.” Hmm… menjadi geisha adalah belajar bagaimana menggoda pria tanpa membiarkan mereka melahap kita mentah2. Jadi bukan untuk menjual diri kepada siapa pun yg punya uang untuk membayar. It’s true bahwa ujian terakhir untuk naik kelas dari geisha magang menjadi geisha penuh adalah dengan melelang keperawanannya. Tapi justru karena keperawanan itu akan dilelang, mereka harus ekstra hati2 menjaganya.

*dipikir2, geisha rada mirip pemain sepak bola professional ya? Reputasinya ditentukan oleh nilai transfer ;-p*

Memang, geisha itu tak ubahnya seperti gadis2 lain juga. Mereka bukan penjaja cinta. Mereka juga punya cinta, punya pria idaman. Tapi cita dan cinta itu harus disimpan di sudut tersembunyi, karena mereka harus menjadi professional wife.

We are the wife of the night, we cannot expect to be the wife of the day”, demikian kata Sayuri, yang tentunya tidak berarti harafiah.  Lebih untuk diartikan sebagai selir, seseorang yang harus selalu siap melayani tuannya, tanpa boleh berharap apa2. Tempatnya tersembunyi di balik tabir rahasia, dengan kewajiban yg sama dgn para istri namun hanya boleh bergantung pada kemurahan hati tuannya. Selalu harus siap jika suatu hari tuannya sudah tidak berkenan lagi, dan mengusir dia pergi.

“We don’t become geisha so we can pursue what we want in our life. We become geisha because we have to,” demikian kata Mameha, yang tentunya juga bukan untuk diartikan harafiah. Lebih sebagai bentuk kepasrahan dan penyerahan diri. Menjadi geisha memang bukan masalah pilihan sesaat; bukan jalan pintas atau batu loncatan untuk mengejar sesuatu yg lain. Menjadi geisha adalah suatu “takdir” yang harus dijalani. Mungkin bukan takdir Tuhan, karena “pencari bakat” sangat berperan di sini… tapi setelah bertahun2 hanya dilatih untuk menjadi geisha – mentally, cognitively, and physically – tetap saja ini harus dijalani dengan kepasrahan yg sama.

Adegan paling mengharukan buat gw adalah ketika Sayuri berusaha untuk tidak pasrah pada nasibnya, namun usahanya malah jadi backfire. Alih2 dia mempertahankan impiannya, malah dia kehilangan segalanya. Cari aja adegan itu di filmnya ya, kalo diceritain semua ntar gak seru ;-)

Kompas pernah mengulas bahwa film ini adalah kisah Cinderella. Well, kalau menurut gw sih ini lebih dari sekedar fairy tale, atau romantic movie. Ini lebih mirip film filosofis dengan begitu banyak hal yg bisa direnungkan.

Akhir kata Selamat menonton deh! Mudah2an Anda keluar bioskop dengan kepuasan yg sama seperti saya… ;-)

*posting ini khusus ditulis untuk si movie-freak  yg gak sabar nungguin film ini diputar di kotanya ;-) Semoga bisa jadi pelipur lara ;-)*

Tuesday, January 24, 2006

Hujan Bulan Juni

Udah siap2 pulang, tapi tiba2 hujan turun dengan derasnya di Kuningan. Asli berkabut, gelap, pastinya dingin… dan gak nyaman banget nyetir kendaraan di tengah banjir lokal akibat pembangunan monorail depan kantor. Ya suds… nongkrong aja di kantor.

Ngomong2 soal hujan, gw jadi mellow. Dan gara2 tadi ngebaca bahasan puisinya beberapa teman (yup, para “Jeng” anggota  Stepford Wives.. ;-) That’s you I’m talking about … ;-p), gw jadi ingat salah satu puisi favorit gw: Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

(Sapardi Djoko Damono, 1989)

Puisi2 Pak Sapardi memang dahsyat! Kata2nya sederhana, tapi begitu mengena. Metafora2nya mudah dimengerti, sekaligus begitu indah. Siapa sih yg nggak trenyuh membayangkan si hujan yang setabah itu menyembunyikan rintik rindunya? Bahkan dengan bijaknya dia menghapus jejak-jejak kakinya yg ragu-ragu supaya si pohon bunga itu nggak tahu. Dan yang paling dahsyat, dia membiarkan diri terserap oleh akar pohon bunga itu. Memberi hidup pada si pohon berbunga.

So romantic, yet so deep!

Entah apa yg menyebabkan si hujan melangkah dengan ragu2, dan memilih merahasiakan rintik rindunya. Mungkin karena merasa dirinya tak pantas bagi si pohon berbunga. Atau karena merasa di pohon berbunga membutuhkan pohon berbunga lainnya. Atau karena si hujan sadar bahwa pada hakikatnya dia harus terus melengkapi hidup dengan menjadi aliran sungai, untuk kemudian menguap, dan turun lagi sebagai hujan, sehingga tidak bisa menemani si pohon berbunga? Kita gak pernah tahu kenapa si hujan memilih itu.  Kita bahkan tidak pernah tahu kenapa hujan merindukan pohon berbunga, bukan sungai atau laut yg lebih dekat dengan daur hidupnya. Yang kita tahu, dia memberikan yang terbaik untuk si pohon berbunga; merelakan dirinya untuk diserap sebagai bahan kehidupan si pohon berbunga. When the rain cannot stands by the tree, it gives its second best thing.

Dalam Kiamat Sudah Dekat, Deddy Mizwar menghabiskan hampir dua jam untuk menjelaskan ilmu ikhlas melalui tokoh yg diperankan Andre Stinky. Dalam puisi yg singkat ini, Pak Sapardi menyampaikan pesan yg hampir sama: ketika rindu datang padanya, si hujan tidak memaksa si pohon berbunga. Dia hanya memberi apa yg dia bisa pada pohon berbunga yg dirindukannya itu. Ikhlas.

Aiih.. kenapa gw jadi mellow gini ya? Hehehe… Yang jelas, imajinasi gw sering membayangkan, bagaimana perasaan sang hujan ketika rintik2nya menyentuh daun dan batang si pohon, sebelum lebur selamanya di dalam tanah untuk diserap akar. Bagaimana perasaan si pohon ketika daun dan batangnya terusap oleh hujan itu? Tahukah dia atas apa yg tidak terucapkan? Apa yg akan diucapkannya kepada si hujan jika dia sadar tentang rintik rindu si hujan? Berterima kasihkah dia? Atau justru murka karena menganggap si hujan melakukan kesalahan?

Anyway… it’s not so important, rite? Even the rain never demands the answer from the tree… :-)

Hehehe… hujan sudah berhenti, jadi mellow2an selesai… ;-p

Friday, January 20, 2006

Vaya Con Dios, Bapak!

19 Januari 2000, 3:14 AM

Siemens C35 Ringtone: Anak Gembala

Caller ID: si Mas

“May, siap2, tapi nggak usah buru2, nggak usah panik. Pravi pulang dari RS 10 menit lalu. Kalau dia sampai,  mobil nggak usah masuk garasi.  Segera ke rumah sakit sama kamu. Bapak sudah dipanggil sekitar 3 menit lalu.”

Saat itu gw merasa langit runtuh di atas kepala gw.

***

Sejak kecil, semua orang bilang gw anak bapak. We have that kind of special bond bahkan sejak gw belum lahir. Bapak sering cerita dengan bangga tentang pengalamannya membeli perlengkapan bayi. Kebetulan waktu itu Bapak ikut short course di Jepang selama 2 bulan, dan menghabiskan seluruh uang sakunya untuk perlengkapan bayi perempuan. Petugas toko yang ramah menanyakan berapa usia gw, dan bapak menjawab bahwa gw belum lahir.

“Bagaimana Anda tahu bayi Anda perempuan, kalau lahir pun belum?” (note: jaman gw bayi, USG masih jarang, bo!)

“Tentu saja saya tahu,” kata Bapak dengan bangga, “saya kan bapaknya!”

The special, almost telepathic, bond berlanjut hingga gw dewasa. Pernah, waktu gw SMP, bapak tiba2 telepon dari tempat tugasnya yang jauh hanya untuk bertanya apakah gw baik2 saja. Kata bapak, tiba2 waktu rapat perasaannya bilang sesuatu yg buruk terjadi pada gw. Secara kebetulan, memang saat itu gw sakit radang tenggorokan, demam hingga di atas 40 derajat, dan hampir dilarikan ke RS. Dan percaya atau tidak, waktu gw melahirkan Ima, bapak yang merasakan sakitnya. Ibu sempat jengkel pada bapak karena gak muncul2 padahal sudah diberi tahu cucunya akan lahir. Waktu akhirnya bapak datang, Ima sudah dibawa ke kamar bayi. Alasan bapak, “Aku sudah mau berangkat. Tiba2 punggung dan perutku sakit sekali, sehingga aku nggak bisa berdiri”. Dihitung2, bapak mulai merasa sakit ketika proses persalinan dimulai, dan berhenti ketika Ima lahir. Amazingly, saat melahirkan Ima gw justru tidak terlalu kesakitan.

Gw dan bapak sering berjam2 nongkrong di Gunung Agung Kwitang (toko buku terbesar jaman gw TK/SD), dan pulang dengan setumpuk buku. Kadang2 kita nongkrong di Duta Suara Jl. Sabang (toko kaset ngetop jaman gw kecil), dan pulang dengan beberapa kaset. Connie Francis, Petula Clark, Astrud Gilberto, dan teman2 sama akrabnya bagi gw seperti Chicha Koeswoyo dan Adi Bing Slamet. Saat temen2 gw masih nyanyi Helly, gw punya lagu How Much is that Doggy in the Window yang ada guk guk guk-nya juga ;-)

Selain ‘menggonggong’ bersama, kami juga sering nonton kegiatan2 seni bareng. Jaman gw kecil, TVRI masih menyiarkan wayang kulit setiap malam Minggu. Gw & bapak suka nonton sampai tengah malam. Bapak cerita banyak tentang wayang dan filosofinya. Kadang, di masa remaja gw, kami malam mingguan dengan nonton Wayang Orang di GKJ atau Senen. Kalau ada resital piano atau pertunjukan ballet dari luar negeri bapak juga selalu ngajak nonton. Yang paling tidak terlupakan adalah nonton opera Miss Saigon. Pemesanan tiket ini harusnya 6 bulan di muka, tapi kebetulan temannya bude ada yang tiba2 tidak jadi nonton. Itu pertama dan hingga kini satu2nya kesempatan gw nonton opera ala Broadway. Thanks to my dad!

Bapak juga membekali gw dengan banyak pengetahuan. Selain selalu melibatkan gw dalam diskusi tentang masalah sehari2, ngobrolin buku bacaan dari Winnetou hingga Doctor Zhivago, bapak juga mengajari banyak manner (yang buat banyak orang seumur gw gak penting). Setiap kegiatan bisa jadi bahan pembelajaran buat gw. Gw ingat bapak sangat concern terhadap table manner. Sebelum gw lulus SD, gw udah tahu gimana caranya makan steak yang benar gaya Amerika maupun gaya Inggris, hehehe… Tata cara menelepon pun sangat menjadi perhatian bapak. Pernah suatu hari gw diceramahi panjang lebar karena menelepon teman gw di atas jam 21:00. Menurut bapak itu adalah perbuatan yang sangat tidak sopan, mengganggu jam istirahat orang. Dan pernah juga gw ditegur karena ikut2an gaya temen2 gw menelepon dengan, “Halo, si X ada?”… hehehe… Buat bapak, menelepon orang yang sopan itu harus berbunyi, “Halo, selamat pagi/siang/sore/malam. Bisa bicara dengan si X?” dengan intonasi sehalus dan sesopan mungkin.

Hehehe… bapak memang selalu bilang bahwa beliau tidak bisa meninggalkan warisan uang yang banyak untuk kami. Tapi sedapat mungkin bapak ingin memberikan kami bekal hidup dalam bentuk lain. Dan bentuk yang dipilihnya adalah ilmu pengetahuan.

Tanpa sadar, gw selalu menggunakan bapak sebagai benchmark untuk cowok2 yang ngedeketin gw. Saat gw mulai pacaran serius dengan si Mas, ibu pernah tertawa terbahak2,

“Oalah, Mbak, kamu itu cari pacar aja kok ya persis bapakmu!”

Dan bener lho! Ternyata semua teman dekat pria gw (tsah! Bahasa gw angkatan pujangga baru banget yaks ;-p?) memang punya irisan himpunan dgn bapak. Dan si Mas memang yang paling mirip, baik dari segi sifat, cara pandang, maupun caranya menghadapi gw. Ternyata… bukan cuma gadis2 yang kehilangan figur ayah yang mencari ayah di pasangannya ;-p

*tips buat cowok2 yg belum nemu pasangan: kalau ngincer cewek, find out about her father first. It might help to win her heart ;-p*

Ketika gw menikah, gw sibuk dengan hidup gw yang baru. Apalagi ketika gw sudah punya Ima, hampir gak ada waktu untuk mengulang the good old days dengan bapak. Mungkin itu saat2 paling lonely buat bapak, dan lonely itu ikut membuat kankernya berkembang. Saat Ima usia 4 bulan, bapak berangkat ke Surabaya. Dokter yang merawat beliau di Jakarta menemukan penyumbatan pada pancreas yang menyebabkan enzim tidak bisa masuk ke usus, dan menyarankan operasi by-pass. Bapak yang selalu pernickety dengan bedside manner para dokter memilih untuk dioperasi sahabatnya, seorang dokter di RS Darmo. Kebetulan ada paman gw yang bertugas di Gresik, dan bisa bertindak sebagai pengambil keputusan

Dua hari setelah operasi, gw disodori tiket oleh utusan paman gw. Pesan paman gw jelas: Sabtu pagi Maya sekeluarga harus berangkat ke Surabaya menengok bapak. That’s an order! Tadinya gw pikir itu hanya nice gesture paman gw; supaya pasien merasa lebih tenang dalam proses pemulihan, karena ditemani anggota keluarga terdekat. Ternyata panggilan itu adalah sebuah vonis: penyumbatan itu bukan penyebab sakitnya bapak, tapi merupakan simtom dari penyakit yang lebih serius. Saat pankreas dibuka untuk di by-pass ke usus, ditemukan kanker stadium 4 tepat di tengahnya. Letaknya begitu tersembunyi, hingga scan di Jakarta maupun Surabaya pun tidak berhasil menunjukkan keberadaannya.

Bapak divonis punya harapan hidup 3 bulan saja. Dokter di Surabaya angkat tangan, dan bapak dipindahkan ke Dharmais Jakarta. We did hope for miracles, dengan sangat menjaga standard hidup yang digariskan dokter. No more dairy products at all! Bapak yang biasa hidup ala Jawa Timur dengan segala jerohan sapi, sekarang tidak boleh makan produk hewani sama sekali. Kami mencoba mencari solusinya dengan membeli daging buatan khusus untuk vegetarian (sama sekali gak mengandung unsur hewani, karena dibuat untuk para pendeta Buddha) di dekat sebuah wihara di Sunter. But my daddy hated it! Rasanya gak pernah sama dengan daging yang dikenalnya, biarpun mirip.

Bapak bertahan hidup dengan satu impian: bapak pingin mengantar Ima ke sekolah di hari pertama. Impian itu membawa bapak hidup 1 bulan lebih lama dari vonis dokter. Tanggal 8 Januari 2000, kami berlebaran di Dharmais. Keadaan bapak sudah payah, tiap jam harus disuntik morfin yang dosisnya pun makin lama makin tinggi. Sebelas hari kemudian Sang Pencipta memanggil bapak kembali.

Bapak dimakamkan di cemetery plot yang dimintanya sejak bertahun2 lalu: Astana Bibisluhur, Surakarta, satu lajur di bawah makam kedua orang tuanya. Alhamdulillah, segalanya dilancarkan oleh Allah SWT. Bapak berpulang pukul 3:14 pagi, dan ada yang membantu menguruskan pesawat jam 14:00. Saat disemayamkan di rumah, ratusan orang datang dan mendoakannya. Parkir mobil berderet hingga lebih dari 1 km. Tiba di Solo, pelayat pun sudah memenuhi rumah masa kecil bapak.

Bapak masuk ke tempat peristirahatan terakhirnya tak lama sebelum adzan Maghrib berbunyi. Diantar adzan putra tunggalnya di telinga kanan, bapak berangkat ke perjalanan abadinya. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.

Now the Haciendas dark,
The town is sleeping,
Now the time has come to part,
The time for weeping,
Vaya Con Dios my darling,
Vaya Con Dios my love...

Now the mission bells
Are softly ringing,
If you listen with your heart
You'll hear them singing..
Vaya Con Dios my darling,
Vaya Con Dios my love...

Wherever you may be
I'll be beside you,
Although you're many million
Dreams away,
Each night I'll say a prayer,
A prayer to guide you,
To master every lonely hour
Of every lonely day...

Now the dawn is breaking through
A gray tomorrow,
But the memories that we share
Are there to borrow...
Vaya Con Dios my darling,
Vaya Con Dios my love...
Vaya Con Dios my love

Vaya Con Dios, Bapak! Go with God!

*in memoriam Bambang J Notodisurjo; my beloved father, whose love and guidance has made me who I am*

Wednesday, January 18, 2006

The Temptation

Kemarin ada teman gw ultah. Kantor membelikannya tiramisu dari sebuah toko kue enak yang buesaaaaar banget! Pas untuk dibagi jadi 36 potongan besar (note: ini memang ultahnya yang ke 36).  Alkisah, potongan2 besar tiramisu yang menggiurkan itu telah menimbulkan godaan buat salah seorang teman yang lain. Dia ini CPP (= Calon Pengantin Pria) yang mau menikah April depan. Sejak sekarang dia udah ancang2 untuk tampil ganteng di pelaminan, salah satunya dengan diet ketat. Nah, tiramisu itu jelas2 di luar daftar dietnya. Makanya dia maju-mundur terus mau ngambil potongan besar itu. Dasar temen2nya (termasuk gw kali yeee… ;-p) termasuk kategori setan2 bergentayangan, akhirnya luluhlah pertahanan dia. Satu potong besar kue ini pun bersarang di perutnya.

*Tenang aja, Dri, tanpa diet ketat loe juga udah ganteng kok, kayak gantengan kunci ;-p Jorle gitu loch ;-p*

Ngomong2 soal temptation, ada satu temptation yang menurut gw sensasional banget! Adanya di film, atau buku, The Last Temptation of the Christ (note: sorry, gak bermaksud SARA, hanya merasa ini analogi yg paling tepat). Temptation-nya sih biasa banget: the right illusion at the right time, menunjukkan ilusi indah pada saat calon korbannya sudah terpuruk. Tapi temptation carrier-nya sangat tidak biasa: seorang malaikat kecil.

Nah… selama ini malaikat selalu diasosiasikan sebagai pembawa pesan baik. Jadi, kalau dalam saat terpuruk, lantas seorang malaikat kecil yang manis datang mengatakan pada kita bahwa penderitaan kita ini hanyalah cobaan, dan kita sudah lulus dari cobaan itu, tinggal mengikuti dia untuk mengambil reward-nya, siapa yg gak luluh? Siapa yang bakal susah2 mikir dan curiga bahwa iming2 reward dari si malaikat kecil itulah temptation yang sebenarnya? Si pembawa kabar begitu kukuh kredibilitasnya sebagai bagian dari kebaikan, kan?

Jangankan kalau malaikat itu sampai ngomong dan membujuk, lihat tampangnya aja bisa2 meluluhkan hati. Seperti yang sering gw alami dengan Ima. Temptation berat gw adalah kalau harus mendisiplinkan Ima. Mencabut privilege-nya Ima sebagai konsekuensi dari inappropriate behavior, hmm… itu tugas yang paling berat! Gw selalu gak tega kalo lihat tampang penyesalan Ima. Pernah suatu hari Ima dicabut privilege-nya untuk makan di luar selama 1 bulan gara2 “lapar mata” ketika ikut kami ke suatu pusat perbelanjaan. Swear, gw gak tega banget kalau Ima nanya kapan periode 1 bulan itu berakhir! Tiap kali dapat jatah makan malam di kantor pas lembur (biasanya HokBen, McD, atau GM, yang kebetulan semuanya favorit Ima), gw jadi inget Ima dan susah banget menelan makanan itu. Sampai2 gw mencari celah untuk justifikasi bahwa “membawakan jatah makan malam dari kantor” itu berbeda dari “pencabutan hak mengkonsumsi makanan restoran” ;-p. Padahal kan esensinya sama ya? Dan kalau Ima gw bawakan jatah makan gw, dia tidak belajar apa2 dari pengalaman ini ;-p.  Makanya si Mas pernah bilang, bahwa kalau udah menyangkut Ima, gw tak ubahnya drop out-an SMA kelas jauh bersubsidi petang di pelosok nusantara ;-p. Hehehe… gw ngaku deh: semua pengetahuan psikologi gw lenyap, dan semua disiplin spartan godogan Santa Ursula gak berbekas lagi, kalau udah menyangkut Ima. Untung udah nemu solusinya: sekarang si Mas harus jadi back up kalau2 gw mulai menunjukkan tanda2 nyaris tergoda sama wajah memelasnya si Nona Kecil. Kayak bulutangkis ganda campuran deh, kalau gw mulai keteteran staminanya, pemain kedua yang maju ;-p.

Well… back to topic. Yang susah adalah kalau gw mesti bermain tunggal seperti tokoh yang diperankan Willem Dafoe dalam film di atas. Mau minta back up sama siapa? Tempted banget kan, lihat malaikat innocent yang showing me another path.  Kalau malaikat yang bilang, mana berani gw sok tahu bahwa jalan yang sekarang udah benar? Mana berani gw curiga bahwa omongannya adalah the real temptation, bukan sebuah reward? Mana berani gw mempertanyakan, kalau selama ini si malaikat kecil itu yang senantiasa menunjukkan di mana arus yang deras dan di mana arus yang tenang, sehingga gw bisa berenang dengan bebas?

Di film itu, si tokoh sadar bahwa dirinya terperdaya oleh setan dalam wujud malaikat saat di kehidupan paralelnya dia nyaris meninggal. Dia sadar ketika waktunya sudah hampir habis, ketika pilihan (tak perduli benar atau salah) tidak akan mungkin dibalik lagi. Waktu dan alam membantunya menjawab, walaupun harus menunggu hingga detik2 terakhir.

Mungkin, seperti tokoh itu, gw juga harus menunggu bantuan dari father time dan mother nature kali ya? Tak perduli betapa pun tergodanya gw untuk percaya pada si malaikat kecil,  always keep my options open ;-). Jaga2, jangan sampai terperdaya memilih sesuatu yang bisa disesali. Apalagi kalau pilihan itu bisa mempengaruhi hidup orang lain ke arah yang negatif. Dengan demikian di saat terakhir gw  akan tetap bisa berkata dengan tenang: it is accomplished ;-p

Monday, January 16, 2006

MLM-nya Tuhan

Apakah kita semua, benar-benar tulus menyembah padaNya?
Atau mungkin kita hanya, takut pada neraka, dan inginkan surga?

(Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada – Chrisye, dalam Senyawa)

Jumat kemarin, gw sempat takjub baca data (kuantitatif, random sampling) sebuah project berjalan: persentase orangtua yang menganjurkan anak2nya nonton sinetron ‘religius’ cukup tinggi. Yup! Gw bicara tentang sinetron religius yang terjemahan bebasnya ‘the story of God’s wrath unto the sinners’: Pintu Hidayah, Rahasia Ilahi, Sakratul Maut, dll. Dan yup! Gw bicara tentang menganjurkan a.k.a encouraging, bukan sekedar membiarkan/mengijinkan a.k.a allow or give permission.  Hasil open-ended question menunjukkan bahwa menurut orang2 ini sinetron tersebut cukup baik untuk mengajarkan kepada anak2 tentang agama. Supaya mereka beragama dengan baik.

Hmm… beragama dengan baik? Apa sih beragama dengan baik itu? Apakah cukup dengan menjalankan ritual2 keagamaan dari hari ke hari hanya karena takut? Seperti kerbau, kuda, lembu, yang terus menghela beban karena jika berhenti akan dicambuk oleh sang sais? Seperti kerbau, kuda, lembu, yang terus bekerja karena menginginkan sepalungan rumput di akhir hari yang melelahkan?

Kalau patokan kita adalah jawaban para responden di atas, maka memang jelas bahwa beragama dengan baik itu sekedar menjalankan ritual, supaya gak dipecut oleh Tuhan. Kita ini ibaratnya binatang yg harus mengerjakan sesuatu supaya tidak terjadi hal buruk pada kita. Bukan karena kita ingin, bukan karena kita tahu alasannya, tapi hanya demi kelangsungan hidup. Kalau pinjam istilahnya si penyihir jahat dalam The Chronicles of Narnia, “Your life is your reward”.

Tapi apa iya sih, Tuhan berharap kita jadi kerbau? Apakah Tuhan puas jika kita hanya menjadi kerbau? Emangnya Tuhan itu sais?

Well… kalaupun kita mau mengajarkan agama dengan konsep bahwa God is the Boss, kayaknya lebih pas kalo Tuhan diposisikan sebagai up-line (atau bahkan the founder), dan kita menjadi down-line. Gw yakin Dia gak pingin kita2 jadi kerbau. Dia gak pingin buang2 waktu mencambuki kita. Dia pingin kita jadi valuable human resources. Menjadi responsible adult yang menjalankan ritual keseharian dengan pemahaman bahwa hal itu menguntungkan buat kita sendiri in the long run, bukan karena mereka takut pada suatu hukuman. Bahasa psikologinya: Tuhan ingin kita melakukan sesuatu karena mengharapkan positive reinforcement, bukan karena menghindari punishment.

Ada seorang teman bilang bahwa Tuhan memang suka hitung2an. Makanya Dia punya malaikat yang tugasnya melakukan pembukuan atas kebaikan dan keburukan yang kita lakukan. Dan makanya juga, ntar di akhir hayat bakal ada malaikat yang berperan sebagai petugas audit terhadap pembukuan amal kita. Gw pikir pendapatnya ini masuk akal banget. Apalagi gw menemukan bahwa untuk memotivasi kita agar punya balance sheet yang positif, Tuhan memberikan hitung2an ala MLM yang benar2 menggiurkan. Gw kasih salah satu contoh dari situs ini (sorry, tidak bermaksud SARA. Feel free to pick up another example more relevant to you):

1.       Barang siapa yang berniat melakukan kebaikan, tetapi tidak jadi mengerjakannya, maka Allah mencatat niat itu sebagai satu kebaikan penuh di sisi-Nya.

2.      Jika ia meniatkan perbuatan baik dan mengerjakannya, maka Allah mencatat di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat hingga kelipatan yang sangat banyak.

3.      Kalau ia berniat melakukan perbuatan jelek, tetapi tidak jadi melakukannya, maka Allah mencatat hal itu sebagai satu kebaikan yang sempurna di sisi-Nya.

4.      Jika ia meniatkan perbuatan jelek itu, lalu melaksanakannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu kejelekan

Bener2 seperti MLM ya? Sekedar berniat saja sudah dapat 1 poin. Kalau niat yang baik dilaksanakan, poin-nya digandakan berkali2 lipat. Kalau niatnya jelek, tapi tidak melakukannya, tetap dapat 1 poin. Baru, kalau melaksanakan niat yang jelek dapat penalti.

Nah, kalau ada hitung2an seperti ini, siapa sih yg nggak kepingin menggandakan poin? Siapa sih yang nggak terbuai untuk cepet2 jadi Diamond Director or whatever the title is? Dan siapa sih yang gak jatuh cinta sama Tuhan for creating such a great, profitable system?

Gw rasa ini cara mengajarkan agama yang menyenangkan. Dan gw yakin akan lebih efektif in the long run, karena orang jadi bisa menentukan sendiri goal-nya apa. Bisa memilih mau mendapatkan apa dan rencananya gimana. Orang jadi lebih enjoy menjalani, tidak penuh dengan ketakutan dan prejudice.

Coba bayangkan kalau orang sekedar menjalankan sesuatu karena takut, karena terpaksa, bukan karena mengerti. Bisa2 jadi hostile ketika melihat yang lain mendapatkan perlakuan yg berbeda. Coba aja kerbau dikasih kemampuan berpikir seperti kita, apa si kerbau gak cemburu melihat ayam2 potong yang enak2an makan di kandang sementara dia harus bekerja keras? Bisa2 si kerbau ngamuk karena ayam2 itu tidak dicambuki, karena mereka tidak tahu bahwa ayam2 itu memang digemukkan.

So, daripada menjadi laskar yang memamerkan kekuatan2 dan kemampuan2 Tuhan, mendingan gabung aja di MLM-nya Tuhan. Hari gini gitu loh! Yang berkuasa bukan Jendral lagi, tapi successful businessman. Apalagi successful businessman yang penuh pengertian pada anak buahnya, wuiiiih… pasti bakal dicintai banget dan mendapatkan ultimate devotion ;-)

Friday, January 13, 2006

Apakah Kita Binatang?

Ada tiga hal yang menjadi milestone sejarah manusia:
Pertama, ketika Charles Darwin mengatakan bahwa nenek moyang kita binatang
Kedua, ketika Sigmund Freud mengatakan bahwa hidup kita dipengaruhi oleh instink-instink kebinatangan
Dan ketiga, ketika Ivan Pavlov mengatakan bahwa kita memang binatang

---------------------------------

Witty joke di atas gw dengar di kantin Psiko-UI bertahun2 yang lalu. Sebuah olok2 tentang ‘kemanusiaan’ kita, melalui benang merah antara teori evolusi Darwin, teori Freud tentang dorongan2 bawah sadar, serta teori2 behavioristik yang berkisar antara rangkaian sederhana stimulus dan respons. Keinget lagi gara2 dapat forward-an tulisan ini:

Bagaimana Merek Pengaruhi Otak Anda?

Tergila-gila pada merek suatu barang? Jika ya, mungkin ada bagian dari otak Anda yang sudah dijajah olehnya. Para peneliti menunjukkan bagaimana mekanisme otak bekerja saat kita mencoba suatu produk dan dihujani informasi serta iming-iming iklan.

Sebelumnya telah diketahui bahwa manusia dan hewan dapat belajar menghubungkan rangsangan tertentu dengan pengalaman positif yang dialaminya, misalnya bunyi bel dengan makanan untuk melatih anjing. Dari rekam otak yang dipelajari menunjukkan bahwa latihan tersebut mempengaruhi bagian dasar otak yang disebut ventral striatum dan ventral midbrain.

Sedangkan penelitian yang dilakukan John O’Doherty dari Caltech, Pasadena menunjukkan bahwa keputusan untuk memilih diatur oleh otak di bagian ini. "Makna dari penelitian ini adalah kita mampu memanfaatkan sinyal-sinyal tertentu untuk mempengaruhi bagian ini saat mengambil keputusan, misalnya saat memilih membeli sabun baru di toko tanpa harus mencobanya langsung," kata Doherty yang melakukan penelitian tersebut di University College London, Inggris.

Sumber: NewScientist.com

(Artikel aslinya, dalam bahasa Inggris, dapat diperoleh di sini. Gw sarankan baca aslinya, karena terjemahannya bener2 menyedihkan ;-p)

Well, basically gw gak mempertanyakan kesahihan hasil penelitian Pak Doherty dan kawan-kawan tentang aktivitas otak yang terjadi. Dan di banyak kasus, teori ini bisa diterapkan dengan baik. Misalnya saja, hal ini bisa digunakan untuk menjelaskan kenapa ada cowok2 yang nggak bisa tahan diri hanya karena melihat Inul bergoyang… ;-p. Tapi sebagai marketing researcher gw kontan tempra baca paragraph di atas. Hareee geneee melihat purchase habit dan brand determination sebagai keputusan fungsional murni??? Bahwa yang dipentingkan hanya product category, bukannya brand perception??? Ini sih jamannya merek2 yg sekarang udah jadi generic brand masih belajar jualan!

Ada dua hal aneh pada penerapan penelitian yang diajukan Pak Doherty ini, yaitu:

1. Pavlovian Conditioning yang digunakan untuk menjelaskan hubungan antara hal2 yg belum dipasangkan sebelumnya

2. Menggeneralisasikan hubungan sebab – akibat antara data C dan data B berdasarkan perhitungan korelasi data A dan B

Pavlovian Conditioning

Pavlovian Conditioning itu dilakukan dengan memasangkan dua stimulus yang sama berulang2 untuk menimbulkan generalisasi respons. Dalam penelitiannya, Pavlov membunyikan bel dan kemudian memberikan makanan pada si anjing. Dengan demikian, anjing tersebut mengasosiasikan bel dengan makanan. Dengan sendirinya timbul respon fisiologis mengeluarkan air liur karena mengingat makanan tersebut. Respons ini sudah terbentuk, sehingga ketika Pavlov menghentikan pemberian makanan, si anjing tetap saja mengeluarkan air liur.

Dalam contoh penerapan yang diberikan Pak Doherty, memang kedua stimulus adalah sup*** kalengan, tapi dengan perkembangan teknik pemasaran, periklanan, dan komunikasi massa bukan berarti keduanya adalah sama persis di mata konsumen. Konsumen sudah cukup terpengaruh dengan brand positioning (yang biasanya berbeda) dari masing2 produk. Oleh karena itu, kalau sebuah sup kalengan tertentu bikin konsumen ngiler, belum tentu sup kalengan dari merek lain bikin konsumen ngiler juga! Antara sup kalengan merek X dan sup kalengan merek Y tidak terjadi asosiasi seperti antara bel & makanan anjing pada penelitian Pavlov.

Ini terbukti banget dalam penggunaan rokok. Coba aja orang yang ngerokok Dji Sam Soe dikasih Djarum Coklat atau Gudang Garam Merah. Dijamin mereka gak bakal ngiler, sama nggak ngilernya dengan dikasih A Mild atau Marlbor. Walaupun ketiganya sama2 kretek, masing2 punya positioning dan image tersendiri yang tidak tergantikan.

Perhitungan Korelasi

Uhm… gw gak tahu perhitungan statistik apa yang dilakukan Pak Doherty (karena tidak dijelaskan). Tapi, kalau dia bicara tentang korelasi, maka ada kemungkinan bahwa hasil perhitungannya hanya menunjukkan hubungan, bukan sebab-akibat. Dan kalaupun dia menggunakan perhitungan yg membuktikan adanya hubungan sebab-akibat, beliau terlalu gegabah untuk menggeneralisasikannya pada area yang totally different.

Dalam penelitiannya, Pak Doherty melakukan conditioning antara beberapa macam jus (data A) dan mengamati aktivitas otak yang terjadi (data B). Dia menemukan data bahwa aktivitas otak lebih tinggi untuk jus2 tertentu. OK, ini cukup valid menunjukkan bahwa ada hubungan antara A & B. Tapi untuk mengatakan bahwa B menyebabkan A, well, it’s a challenge in itself! Apalagi jika kemudian Pak Doherty dengan berani menyimpulkan bahwa karena A disebabkan oleh B, maka B akan menyebabkan juga brand determination (data C).

Sampai bolak-balik juga gak gw temuin logikanya! Dan sejauh yang gw baca, satu2nya argument Pak Doherty adalah:

“This is because we can make use of our prior experiences of items through which we fashioned subjective preferences – do I like it or not? The next time we come to make a decision we use those preferences”

Lha, piye to Pak? Dari 10x Bapak beli bakso (data A), 10x juga Bapak pakai baju merah (data B). Nah… apakah nanti besok2 Bapak bisa bilang bahwa Bapak beli siomay (data C) karena Bapak pakai baju merah?

Lompat ya lompat, Pak, tapi mbok ya nggak kejauhan. Bapak ini kan orang Caltech, berani bikin penelitian seperti ini juga pastinya jagoan neuro. Tapi apakah Bapak mengerti tentang marketing dan consumer behavior?

---------------------------------

So, kembali ke pertanyaan awal: apakah kita binatang?

When it comes to brand determination and purchase habit, gw harus menentang premis yang diajukan oleh Pak Doherty dan teman2. Gw lebih percaya bahwa keputusan itu dipengaruhi oleh persepsi masing2 individu atau sesuai premis archetype yang dibahas dalam The Naked Consumers ataupun The Hero and The Outlaw (both are great books! Read them!). Bukan sebuah proses behavioristik.

Tapi gw juga gak menafikan bahwa ada segi2 lain dari diri manusia yang binatang. Seperti gw sebut tadi, classical conditioning Pavlov ini cocok untuk menjelaskan fenomena cowok2 yang gak bisa tahan diri kalo lihat Inul bergoyang. Well, yang namanya anatomi tubuh manusia itu kan sama aja dimana2. Mau Cindy Crawford ataupun Inul, letak (forgive my language) dada dan pantatnya ya memang di situ! Anggaplah Cindy Crawford itu makanan yang disajikan Pavlov (iya lah, cowok mana yg nggak ngiler lihat Cindy ;-p) dan Inul itu bel-nya. Tanpa harus dipasangkan secara ilmiah pun, sudah terjadi paired stimulus antara Cindy dan Inul. Gak heran kalo ada cowok2 yang langsung ambil peran jadi anjingnya Pavlov ;-p Nontonnya Inul, tapi yg kebayang Cindy… hehehe… langsung deh laperrrrr… ;-)




Catatan:
*** Di artikel aslinya memang disebut sebagai soup dan mengacu pada without sampling the food themselves. Tapi di terjemahan tak bertanggung jawab di atas diganti menjadi SABUN. Entah untuk menggampangkan supaya lebih sesuai dengan pasar Indonesia, atau karena si penterjemah gak bisa membedakan kata SOUP dan SOAP… ;-p Either way, ini salah satu bukti agar kita sebisa mungkin jangan baca artikel/buku terjemahan. Bisa menyesatkan ;-p

Monday, January 09, 2006

Lost in the Desert

Gw sering sekali menulis tentang pilihan. Bahwa life is a matter of choice. Tentang kemampuan yg diberikan pada masing2 orang untuk memilih dan menentukan jalannya sendiri. Saking banyaknya gw gak perlu kasih link di tulisan yg ini kali ya? You’ll find the theme in every bend of the road. Tapi gara2 baca tulisan seorang teman di blog-nya (yang sorry, tanpa ijin beliau terpaksa tidak bisa ditampilkan url-nya di sini), tiba2 gw mikir bahwa ada yang harus di-reinterpret sedikit, atau mungkin di-restructure sedikit, dengan mundur ke saat kita harus memilih.

Selama ini gw bicara tentang suatu titik dimana manusia harus memilih dari sekian alternatif yg ada, dan lalu menjalani pilihan itu berikut konsekuensinya. Sekarang gw sadar satu hal yg selama ini luput: what if the orientation, let alone the options, is not clear?

Gw membayangkan diri gw tersesat di padang pasir, tanpa kompas, tanpa air minum yang memadai. Sejauh mata memandang, kemana pun kita berpaling, yang tampak hanyalah pasir, pasir, dan pasir saja. Panas menyengat luar biasa, menimbulkan dehidrasi yang mempengaruhi kesadaran kita. Boro2 untuk melihat matahari, untuk menentukan arah mata angin, untuk menahan panasnya dengan tubuh kita pun nyaris tak sanggup. Mungkin untuk mengingat2 kota terdekat di arah mata angin yang mana pun kesadaran kita sudah tak mampu. Tahu sendiri kan, bagaimana manusia yang tersesat di padang pasir kerap melihat fatamorgana?

Bisakah kita memilih ketika kita tak tahu pilihan apa yang tersedia untuk kita?

Jika kita menghadapi jalan bercabang, kita memang harus berani memilih salah satu jalan. Kita memang belum tahu keberhasilan atau kegagalan yang menanti kita di jalan yang kita pilih itu. Tapi setidaknya kita bisa bertimbang lebih dahulu berdasarkan tampilan jalan, preview pemandangan, brosur… Kita bisa bertimbang tentang tempat yang ingin kita tuju, dan berdasarkan pengetahuan tentang the destination kita bisa mengira2 jalan mana yang paling tepat. Gak ada yang bisa memastikan hasilnya sih, resiko tetap ada, dan kita juga tetap harus siap dengan segala konsekuensi kita. Tapi setidaknya kita punya dasar pertimbangan, tidak sekedar tebak2 buah manggis.

Di padang pasir, ketika jalan pun tak tampak (boro2 cari titik persilangannya dimana, jalannya aja gak jelas.. ;-p) bisakah kita memilih? Dalam keadaan panas yang menyengat, bisakah kita mempercayai ingatan kita bahwa kota terdekat ada di selatan? Dan dalam dehidrasi, beranikah kita berjalan ke arah (yang kita perkirakan sebagai) selatan? Beranikah kita berjalan ke arah dimana kita merasa melihat sebuah oase?

Gw rasa, pilihan yang paling bijaksana adalah membangun istana pasir untuk berteduh. Jika malam tiba, dan bintang bersinar di langit, mungkin kita bisa menengadah dan memastikan arah dari gugusan Gubuk Penceng. Langit malam akan lebih bersahabat untuk mata, dan sinar bintang tak seganas matahari. Kita bisa puas membaca bintang sebelum memutuskan memilih arah.

Ya, jika keadaannya seperti ini, lebih baik kita memilih mempertaruhkan ketidaksanggupan tubuh menahan dingin malamnya gurun, daripada tersesat oleh fatamorgana. This time, choice is not about the eagerness to experience the life-time process. It is not about how the end result will be.  It’s about survival.

Friday, January 06, 2006

Cerita Garing

Ini joke dari temen gw. Garing abizzz! Tapi gw bener2 ngakak karena kebetulan cocok banget buat merangkum dua posting gw: yaitu tentang tahu formalin dan tentang ibunya Kiki Fatmala. Udah gw rapi2kan sedikit biar enak dibaca tanpa mengurangi isi (paling sebel kalo ada orang kirim sesuatu pakai plain text. Gak cantik deh.. ;-p). Enjoy!

----------------------------------------------------------

From: xxx [mailto:xxx@p...]
Sent: Friday, January 06, 2006 2:49 PM
To: ‘Maya Noto’
Subject: FW: Korban Formalin

ASAL-USUL PENGGUNAAN FORMALIN

Akhir-akhir ini di media massa beredar kabar tentang penggunaan formalin sebagai bahan pengawet makanan. Bahan kimia yang lazim digunakan untuk mengawetkan mayat ini membuat beberapa jenis bahan makanan lebih sesuai dengan keinginan konsumen. Tahu yang menggunakan formalin dikatakan lebih kenyal, tidak mudah hancur, dan tahan hingga beberapa hari. Ikan asin pun menjadi tidak berbau dan terlihat lebih bersih.

Umumnya masyarakat terkejut ketika mendengar temuan ini. Omzet penjualan bahan-bahan makanan tersebut pun turun drastis. Berita ini telah menimbulkan keresahan masyarakat. Walaupun belum jelas akibatnya bagi manusia yang mengkonsumsi bahan pengawet ini, rata-rata konsumen memutuskan untuk berhenti mengkonsumsinya untuk sementara waktu.

Padahal praktek penggunaan formalin untuk bahan makanan ini sudah berlangsung sejak puluhan, bahkan mungkin ratusan tahun lalu. Baru-baru ini wartawan kami menemukan bukti nyata penggunaan formalin tersebut di masa lampau, serta akibatnya bagi orang yang mengkonsumsinya.

Korban pertama konsumsi bahan pengawet ini ditemukan di Sumatera Barat. Seorang bocah lelaki diduga mengkonsumsi bahan pengawet ini ketika ia sedang merantau ke sebuah negeri di Eropa. Beberapa tahun setelah merantau, bocah yang telah menjelma menjadi pria muda ini pulang ke rumah ibunya dengan kapal laut. Sepanjang perjalanan menuju kampung halamannya, pria ini mulai merasa badannya perlahan-lahan menjadi kaku. Puncaknya, beberapa kilometer sebelum mencapai Teluk Bayur, pria ini berubah menjadi batu.

Legenda setempat mempercayai bahwa pria ini menjadi batu karena telah berlaku durhaka kepada bundanya. Namun temuan terakhir menyebutkan bahwa dalam bangkai kapal yang ditumpangi pria malang itu ditemukan sebuah botol obat keras produksi suatu perusahaan obat terkenal di London, UK. Obat itu diduga hanya dapat dibeli dengan resep dokter, karena pada kemasannya terdapat label berbunyi:

For Malin
Daily
 2 x 2 teaspoon

----------------------------------------------------------

Kalo di lenong, ini saatnya ada yg ngebunyiin simbal: Duk cesss!

Thank you for sharing me the joke, Nyes! Makasih juga buat yg sudah kreatif bikin cerita ini whoever you are.

Thursday, January 05, 2006

Ibu si Malin

Rasanya semua orang tahu akhir cerita si Malin Kundang. Anak durhaka ini dikutuk menjadi batu, dan batu legenda itu masih bisa dilihat hingga saat ini.

Tapi gw rasa gak banyak orang yang cukup curious untuk mempertanyakan: apa yang terjadi pada ibu si Malin setelah itu? Bagaimana perasaannya setelah emosinya mereda dan melihat bahwa kutuknya telah didengar Tuhan? Puaskah dia? Atau justru penyesalan yang mendera seumur hidupnya?

Gw sendiri pernah sangat curious tentang kelangsungan hidup ibu si Malin. Bagaimanapun, kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggalan. Tak ada ibu yang tega menyakiti anaknya dengan sengaja. Dan mengutuk anaknya menjadi batu, membuang kehidupan dari anaknya, adalah sama dengan menyakiti anaknya. Tak perduli betapa pun durhakanya si anak, bisakah si ibu merasa puas akan apa yang dilakukannya?

Kemarin gw ngikutin obrolan teman2 tentang kasus Kiki Fatmala vs. ibunya. Sempat juga nonton di infotainment Sabtu lalu yang menayangkan si ibu menista2kan anaknya di depan televisi, membeberkan semua kesalahan Kiki, mengeluarkan sumpah serapah dan murka untuk si buah hati. Dan sejak Sabtu itu, komentar gw hanya satu:

Please stop it, Bu, sebelum Dia mengabulkan harapan2 burukmu tentang anakmu. Apa pun yg terjadi pada anakmu, itu akan menjadi lukamu juga. Can you live with the guilty feeling for the rest of your life?

Waktu gw baru masuk SD, ada anak tetangga bernama Bang Tiar. Anaknya rada begajulan, tapi hormat banget sama bapak. Dia sering nongkrong di rumah gw untuk ngobrol sama bapak. Bapak selalu bilang bahwa Bang Tiar itu pada dasarnya baik, hanya saja dia butuh orang untuk mengarahkan. Suatu hari Bang Tiar datang ke rumah dengan sumringah untuk memberi tahu bapak bahwa dia berhasil diterima di SMA Negeri favorit. Bang Tiar datang untuk mengucapkan terima kasih atas bimbingan bapak, sekaligus untuk pamit berlibur ke Cirebon dengan teman2nya.

Itu terakhir kalinya Bang Tiar datang ke rumah. Dua hari kemudian, Bang Tiar kembali ke rumahnya dalam keranda. Rupanya dia tidak mendapatkan karcis, dan nekat naik di atas atap kereta. Dia alpa menunduk ketika kereta memasuki terowongan. Kontan kepalanya terpenggal.

Yang sampai sekarang gw ingat adalah raungan ibu Bang Tiar di atas keranda anaknya:

“Mak minta maaf, Nak. Mak nggak mau bunuh kamu, Nak! Bangun, Nak! Mak minta maaf. Jangan tinggalin Mak seperti ini. Allah, ampun, Allah”

Bang Tiar mencuri sejumlah uang dari lemari ibunya untuk berlibur. Dalam murka, si ibu yang janda ini mengumpat

“Dasar anak nggak tahu diuntung! Berani2nya mencuri uang emak sendiri. Mati saja loe! Nggak papa deh gue kehilangan anak satu! Anak nggak berguna!”

Yah, memang lahir, jodoh, dan mati itu hanya Tuhan yang tahu. Tapi kalau kejadiannya seperti ini, bisakah kita sebagai manusia lepas dari rasa bersalah? Bisakah kita sebagai ibu menghindari rasa menyesal karena merasa telah (dengan tidak sengaja) menyebabkan kematian anaknya?

Gw percaya seorang ibu tetaplah seorang ibu. Ikatan batin dengan si anak sangatlah kuat. Luka si anak adalah luka si ibu juga. Dan karena itu gw percaya bahwa at the end of the day cerita tetap berakhir tragis bagi ibu si Malin: dia harus hidup dengan penyesalannya karena membuat si buah hati menjadi batu. Sebagai anak kita bisa mengambil hikmah agar jangan durhaka terhadap ibu dari cerita ini. Tapi sebagai ibu, harusnya kita tidak berhenti di level ini. Kita harus goes the extra miles dengan berempati terhadap perasaan ibu si Malin setelah emosinya reda dan anaknya terlanjur jadi batu.  

Gw sangat percaya, kata2 ibu itu sakti. Makanya sebagai anak kita sudah sepantasnya mendengarkan dan menuruti kata2 ibu. Tapi.. seorang ibu yang bijak juga tidak akan take advantage atas kesaktian ini. Seorang ibu yang bijak justru akan memaknai ini sebagai tanggung jawab yang berat: karena berarti dia harus menjaga kata2nya terhadap anaknya. Ibu yang bijak tidak menggunakan kondisi ini sebagai power untuk memaksa anak2nya menuruti apa pun kata2nya; dia justru akan menggunakan hal ini sebagai pembatas kemarahannya. Dan di situlah letak kemuliaan seorang ibu: bagaimana dia bisa menghindarkan anaknya dari kedurhakaan tanpa harus menggunakan power-nya, dan bagaimana dia deal with kedurhakaan anaknya tanpa harus menjatuhkan murka yang akan disesalinya kemudian.

Wednesday, January 04, 2006

My Daughter the Writer

Waktu gw pacaran sama si Mas, bisa dibilang gw said goodbye sama dunia tulis menulis. Si Mas sebenernya gak melarang, he was always very supportive then, tapi gw sendiri yang mengalami kesulitan menulis. Gw merasa mengalami semi-permanent writer’s block. Dunia si Mas jauh berbeda, dan masuk ke dunia si Mas, membuat gw kehilangan bahan tulisan… ;-) Soalnya gak asyik banget kalo harus nulis tentang software, hardware… dan apa sih romantisnya nulis dengan setting pusat perdagangan komputer di Glodok yang kumuh itu? (sorry guys, admiring Dostoyevsky and Tolstoy does not mean that I’d like to write in their gloomy tone ;-p). Lambat laun gw makin terasimilasi dengan hidup gw yang baru, dan menulis hanya sebagai hobby di personal blog atau beberapa komunitas pertemanan.

Di tahun2 awal perkembangannya, gw & si Mas melihat Ima lebih mirip bapaknya. Ima tidak menunjukkan minat pada tarian atau musik seperti pada saat gw seusianya; Ima lebih tertarik lihat komputer bapaknya. Walaupun linguistic ability-nya Ima berkembang baik, logical-mathematical ability­-nya mencengangkan! Waktu teman2nya masih susah payah menggunakan jari tangan & kaki untuk menghitung penjumlahan antara 10 dan 20, Ima sudah fasih berhitung tambah2an bilangan satuan dgn puluhan hingga mencapai 99. Cukup sekali gw mengajarkan bahwa untuk menghitung 57 + 9 kita bisa menyimpan 57 di kepala dan mengembangkan 9 buah jari, lalu membilang sambil menutup jari satu persatu urutan bilangan sesudah 57 (eh, penjelasan gw belibet gak?) Padahal dia sama sekali tidak gw ikutkan kursus2 aritmatika. Maklum, gw anti les pelajaran… hehehe… anak2 biar main lah! Buat anak kecil kan belajar itu melalui bermain!

So, merupakan ketakjuban tersendiri melihat Ima ternyata mulai senang menulis…

Dimulai setahun yang lalu. Gw punya project yang menuntut gw untuk menganalisa karangan 500 anak SD. Nah, iseng2, Ima yang masih TK gw jadikan “percobaan”. Yah, anggap saja pilot test deh! Gw beri soal untuk anak kelas 1 – 2 SD: mengarang tentang petualanganku. Di luar dugaan, karangannya bagus sekali untuk anak TK. Logikanya runtut, bahasanya baik, dan tetap diimbuhi imajinasi walaupun ceritanya sederhana sekali (note: tanda koma gw yg nambahin):

Pada jaman dahulu kala, di sebuah istana tinggallah seorang putri. Namanya Princess Aurora. Princess Aurora tinggal bersama ibu tirinya. Setiap hari Princess Aurora harus bekerja. Dia memasak, mencuci piring, dan menyapu lantai. Pada suatu hari ibu tirinya marah. Kenapa? Bersambung.

Itu bagian pertama dari tulisannya. Gw pikir itu sudah cukup untuk anak TK; bisa membuat pendahuluan dan mencapai konflik. Tapi ternyata, Ima benar2 menyelesaikan tulisannya beberapa hari kemudian:

Ibu tiri marah karena Princess Aurora memecahkan piring. Itu piring kesayanganku, katanya. Princess Aurora menangis dan minta maaf. Ibu tiri lalu memaafkan dia. Tamat.

Untuk ukuran anak TK, this is amazing! Bukan saja dia membuat cerita yang runtut dan logis, tapi dia bisa kembali menyelesaikan apa yang sudah dimulai beberapa hari sebelumnya. Artinya, dia sudah meninggalkan tahap bahwa hidup ini sekedar here and now, tapi juga berkaitan dengan past and future.

Cerita kedua dituliskan oleh Ima di “buku harian”nya. Berisi unek2 yang baru dia tunjukkan kepada gw beberapa hari setelah ditulis:

Aku senang sekali ibu menyekolahkan aku di sini. Aku sudah punya sahabat. Namanya Rara dan Talita. Ibu gurunya baik dan selalu sayang aku. Tapi sekarang aku sedih. Ada teman-teman yang maunya ngatur saja. Aku jadi tidak betah. Aku mau bilang ibu guru. Tapi kalau aku bilang nanti namanya ngadu. Jadi aku harus gimana? Ah, aku harus bertahan demi orang tuaku.

We had a mom-daughter talk about the content of the story. Tapi yang mau gw highlight di sini: sekali lagi, di sini Ima menulis dengan alur yang jelas. Mengingat hasil penelitian gw tentang karangan anak2 SD, tulisan Ima ini tergolong bagus untuk anak kelas 1.

Cerita ketiga juga dia tuliskan di buku hariannya. Isinya riang dan (seperti biasa) enak dibaca. Sekarang malah dia menulis dengan judul segala:

Pohon Anggurku

Oleh: Swastinika Naima Moertadho (Ima)

Aku punya sebuah pohon anggur di rumahku. Pohonnya tinggi. Aku bisa menyentuhnya kalau aku memanjat atap. Buahnya hijau dan manis. Aku suka memetiknya. Suatu hari ada tikus di rumahku. Dia memanjat atap dan naik ke pohon anggurku. Dia mencuri anggurku. Aku berteriak mengusirnya tapi dia tidak mau pergi. Lalu aku berteriak minta tolong, tolong tolong anggurku dicuri tikus. Lalu Tiko datang. Ada apa Ima? Aku bilang anggurku dicuri tikus. Tiko lalu mengambil kayu. Tiko memukul tikus itu. Tikus itu lari dan anggurku tidak jadi dicuri. Terima kasih Tiko. Tamat.

Lihat kan? Tulisannya semakin panjang? Konflik dan penyelesaiannya pun semakin terelaborasi. Kalau di cerita pertama dia menyelesaikan konflik hanya dengan “menangis dan minta maaf”, di cerita yang terakhir ini penyelesaian konflik mendapat porsi yang besar. Tulisan Ima benar2 imajinasi. Kami memang punya pohon anggur yang merambat di dekat atap. Buahnya memang hijau dan manis, tapi Ima tidak pernah mau memakannya. Tiko adalah sahabat karibnya sejak play group, jadi di sini dia mulai memasukkan unsur persahabatan dan pertemanan, dan bagaimana sahabatnya play hero for her.

*hehehe… gw rada gak setuju sih sama isi tulisannya yang berkesan kurang girl power, tapi ya suds. Mungkin lebih baik daripada jadi seperti ibunya yg gak jelas berjenis pria atau waria ini… ;-p*

Tulisan terakhir Ima didedikasikan untuk gw, dan diberikan tanggal 22 Desember lalu bersama setangkai mawar merah yg dipetik dari halaman:

Untuk Ibu

Ibu,
Selamat hari ibu. Aku sangat menyayangimu.
Kau bagaikan bidadari untukku.
Apakah kau juga menyayangiku?
Di hari ibu ini aku ingin sekali aku memberimu bunga
Aku ingin sekali terbang bersamamu
Dengan sayap warna-warnimu
Ke surga

With Love,
Ima

(note: overlap kata “aku” di baris ke-5 memang asli dari Ima)

 Aiiiih… di awal2, gw sangat senang karena ternyata air cucuran jatuhnya ke pelimbahan juga (bukan terjadi seperti di peribahasa tandingan: pesawat terbang seringkali jatuh jauh dari landasannya ;-p).  Tapi membaca tulisannya yang terakhir ini gw terharu. She has achieved more than I could expect. Ima bukan saja tertarik dan mulai belajar menulis dengan baik; dia menulis dengan cinta.

Of course I love you too, my lovely daughter! I love you more than anything in this world!

And I thank God for blessing me with such an amazing daughter.