Monday, January 16, 2006

MLM-nya Tuhan

Apakah kita semua, benar-benar tulus menyembah padaNya?
Atau mungkin kita hanya, takut pada neraka, dan inginkan surga?

(Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada – Chrisye, dalam Senyawa)

Jumat kemarin, gw sempat takjub baca data (kuantitatif, random sampling) sebuah project berjalan: persentase orangtua yang menganjurkan anak2nya nonton sinetron ‘religius’ cukup tinggi. Yup! Gw bicara tentang sinetron religius yang terjemahan bebasnya ‘the story of God’s wrath unto the sinners’: Pintu Hidayah, Rahasia Ilahi, Sakratul Maut, dll. Dan yup! Gw bicara tentang menganjurkan a.k.a encouraging, bukan sekedar membiarkan/mengijinkan a.k.a allow or give permission.  Hasil open-ended question menunjukkan bahwa menurut orang2 ini sinetron tersebut cukup baik untuk mengajarkan kepada anak2 tentang agama. Supaya mereka beragama dengan baik.

Hmm… beragama dengan baik? Apa sih beragama dengan baik itu? Apakah cukup dengan menjalankan ritual2 keagamaan dari hari ke hari hanya karena takut? Seperti kerbau, kuda, lembu, yang terus menghela beban karena jika berhenti akan dicambuk oleh sang sais? Seperti kerbau, kuda, lembu, yang terus bekerja karena menginginkan sepalungan rumput di akhir hari yang melelahkan?

Kalau patokan kita adalah jawaban para responden di atas, maka memang jelas bahwa beragama dengan baik itu sekedar menjalankan ritual, supaya gak dipecut oleh Tuhan. Kita ini ibaratnya binatang yg harus mengerjakan sesuatu supaya tidak terjadi hal buruk pada kita. Bukan karena kita ingin, bukan karena kita tahu alasannya, tapi hanya demi kelangsungan hidup. Kalau pinjam istilahnya si penyihir jahat dalam The Chronicles of Narnia, “Your life is your reward”.

Tapi apa iya sih, Tuhan berharap kita jadi kerbau? Apakah Tuhan puas jika kita hanya menjadi kerbau? Emangnya Tuhan itu sais?

Well… kalaupun kita mau mengajarkan agama dengan konsep bahwa God is the Boss, kayaknya lebih pas kalo Tuhan diposisikan sebagai up-line (atau bahkan the founder), dan kita menjadi down-line. Gw yakin Dia gak pingin kita2 jadi kerbau. Dia gak pingin buang2 waktu mencambuki kita. Dia pingin kita jadi valuable human resources. Menjadi responsible adult yang menjalankan ritual keseharian dengan pemahaman bahwa hal itu menguntungkan buat kita sendiri in the long run, bukan karena mereka takut pada suatu hukuman. Bahasa psikologinya: Tuhan ingin kita melakukan sesuatu karena mengharapkan positive reinforcement, bukan karena menghindari punishment.

Ada seorang teman bilang bahwa Tuhan memang suka hitung2an. Makanya Dia punya malaikat yang tugasnya melakukan pembukuan atas kebaikan dan keburukan yang kita lakukan. Dan makanya juga, ntar di akhir hayat bakal ada malaikat yang berperan sebagai petugas audit terhadap pembukuan amal kita. Gw pikir pendapatnya ini masuk akal banget. Apalagi gw menemukan bahwa untuk memotivasi kita agar punya balance sheet yang positif, Tuhan memberikan hitung2an ala MLM yang benar2 menggiurkan. Gw kasih salah satu contoh dari situs ini (sorry, tidak bermaksud SARA. Feel free to pick up another example more relevant to you):

1.       Barang siapa yang berniat melakukan kebaikan, tetapi tidak jadi mengerjakannya, maka Allah mencatat niat itu sebagai satu kebaikan penuh di sisi-Nya.

2.      Jika ia meniatkan perbuatan baik dan mengerjakannya, maka Allah mencatat di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat hingga kelipatan yang sangat banyak.

3.      Kalau ia berniat melakukan perbuatan jelek, tetapi tidak jadi melakukannya, maka Allah mencatat hal itu sebagai satu kebaikan yang sempurna di sisi-Nya.

4.      Jika ia meniatkan perbuatan jelek itu, lalu melaksanakannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu kejelekan

Bener2 seperti MLM ya? Sekedar berniat saja sudah dapat 1 poin. Kalau niat yang baik dilaksanakan, poin-nya digandakan berkali2 lipat. Kalau niatnya jelek, tapi tidak melakukannya, tetap dapat 1 poin. Baru, kalau melaksanakan niat yang jelek dapat penalti.

Nah, kalau ada hitung2an seperti ini, siapa sih yg nggak kepingin menggandakan poin? Siapa sih yang nggak terbuai untuk cepet2 jadi Diamond Director or whatever the title is? Dan siapa sih yang gak jatuh cinta sama Tuhan for creating such a great, profitable system?

Gw rasa ini cara mengajarkan agama yang menyenangkan. Dan gw yakin akan lebih efektif in the long run, karena orang jadi bisa menentukan sendiri goal-nya apa. Bisa memilih mau mendapatkan apa dan rencananya gimana. Orang jadi lebih enjoy menjalani, tidak penuh dengan ketakutan dan prejudice.

Coba bayangkan kalau orang sekedar menjalankan sesuatu karena takut, karena terpaksa, bukan karena mengerti. Bisa2 jadi hostile ketika melihat yang lain mendapatkan perlakuan yg berbeda. Coba aja kerbau dikasih kemampuan berpikir seperti kita, apa si kerbau gak cemburu melihat ayam2 potong yang enak2an makan di kandang sementara dia harus bekerja keras? Bisa2 si kerbau ngamuk karena ayam2 itu tidak dicambuki, karena mereka tidak tahu bahwa ayam2 itu memang digemukkan.

So, daripada menjadi laskar yang memamerkan kekuatan2 dan kemampuan2 Tuhan, mendingan gabung aja di MLM-nya Tuhan. Hari gini gitu loh! Yang berkuasa bukan Jendral lagi, tapi successful businessman. Apalagi successful businessman yang penuh pengertian pada anak buahnya, wuiiiih… pasti bakal dicintai banget dan mendapatkan ultimate devotion ;-)