Thursday, January 05, 2006

Ibu si Malin

Rasanya semua orang tahu akhir cerita si Malin Kundang. Anak durhaka ini dikutuk menjadi batu, dan batu legenda itu masih bisa dilihat hingga saat ini.

Tapi gw rasa gak banyak orang yang cukup curious untuk mempertanyakan: apa yang terjadi pada ibu si Malin setelah itu? Bagaimana perasaannya setelah emosinya mereda dan melihat bahwa kutuknya telah didengar Tuhan? Puaskah dia? Atau justru penyesalan yang mendera seumur hidupnya?

Gw sendiri pernah sangat curious tentang kelangsungan hidup ibu si Malin. Bagaimanapun, kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggalan. Tak ada ibu yang tega menyakiti anaknya dengan sengaja. Dan mengutuk anaknya menjadi batu, membuang kehidupan dari anaknya, adalah sama dengan menyakiti anaknya. Tak perduli betapa pun durhakanya si anak, bisakah si ibu merasa puas akan apa yang dilakukannya?

Kemarin gw ngikutin obrolan teman2 tentang kasus Kiki Fatmala vs. ibunya. Sempat juga nonton di infotainment Sabtu lalu yang menayangkan si ibu menista2kan anaknya di depan televisi, membeberkan semua kesalahan Kiki, mengeluarkan sumpah serapah dan murka untuk si buah hati. Dan sejak Sabtu itu, komentar gw hanya satu:

Please stop it, Bu, sebelum Dia mengabulkan harapan2 burukmu tentang anakmu. Apa pun yg terjadi pada anakmu, itu akan menjadi lukamu juga. Can you live with the guilty feeling for the rest of your life?

Waktu gw baru masuk SD, ada anak tetangga bernama Bang Tiar. Anaknya rada begajulan, tapi hormat banget sama bapak. Dia sering nongkrong di rumah gw untuk ngobrol sama bapak. Bapak selalu bilang bahwa Bang Tiar itu pada dasarnya baik, hanya saja dia butuh orang untuk mengarahkan. Suatu hari Bang Tiar datang ke rumah dengan sumringah untuk memberi tahu bapak bahwa dia berhasil diterima di SMA Negeri favorit. Bang Tiar datang untuk mengucapkan terima kasih atas bimbingan bapak, sekaligus untuk pamit berlibur ke Cirebon dengan teman2nya.

Itu terakhir kalinya Bang Tiar datang ke rumah. Dua hari kemudian, Bang Tiar kembali ke rumahnya dalam keranda. Rupanya dia tidak mendapatkan karcis, dan nekat naik di atas atap kereta. Dia alpa menunduk ketika kereta memasuki terowongan. Kontan kepalanya terpenggal.

Yang sampai sekarang gw ingat adalah raungan ibu Bang Tiar di atas keranda anaknya:

“Mak minta maaf, Nak. Mak nggak mau bunuh kamu, Nak! Bangun, Nak! Mak minta maaf. Jangan tinggalin Mak seperti ini. Allah, ampun, Allah”

Bang Tiar mencuri sejumlah uang dari lemari ibunya untuk berlibur. Dalam murka, si ibu yang janda ini mengumpat

“Dasar anak nggak tahu diuntung! Berani2nya mencuri uang emak sendiri. Mati saja loe! Nggak papa deh gue kehilangan anak satu! Anak nggak berguna!”

Yah, memang lahir, jodoh, dan mati itu hanya Tuhan yang tahu. Tapi kalau kejadiannya seperti ini, bisakah kita sebagai manusia lepas dari rasa bersalah? Bisakah kita sebagai ibu menghindari rasa menyesal karena merasa telah (dengan tidak sengaja) menyebabkan kematian anaknya?

Gw percaya seorang ibu tetaplah seorang ibu. Ikatan batin dengan si anak sangatlah kuat. Luka si anak adalah luka si ibu juga. Dan karena itu gw percaya bahwa at the end of the day cerita tetap berakhir tragis bagi ibu si Malin: dia harus hidup dengan penyesalannya karena membuat si buah hati menjadi batu. Sebagai anak kita bisa mengambil hikmah agar jangan durhaka terhadap ibu dari cerita ini. Tapi sebagai ibu, harusnya kita tidak berhenti di level ini. Kita harus goes the extra miles dengan berempati terhadap perasaan ibu si Malin setelah emosinya reda dan anaknya terlanjur jadi batu.  

Gw sangat percaya, kata2 ibu itu sakti. Makanya sebagai anak kita sudah sepantasnya mendengarkan dan menuruti kata2 ibu. Tapi.. seorang ibu yang bijak juga tidak akan take advantage atas kesaktian ini. Seorang ibu yang bijak justru akan memaknai ini sebagai tanggung jawab yang berat: karena berarti dia harus menjaga kata2nya terhadap anaknya. Ibu yang bijak tidak menggunakan kondisi ini sebagai power untuk memaksa anak2nya menuruti apa pun kata2nya; dia justru akan menggunakan hal ini sebagai pembatas kemarahannya. Dan di situlah letak kemuliaan seorang ibu: bagaimana dia bisa menghindarkan anaknya dari kedurhakaan tanpa harus menggunakan power-nya, dan bagaimana dia deal with kedurhakaan anaknya tanpa harus menjatuhkan murka yang akan disesalinya kemudian.