Saturday, November 24, 2007

Number of the Beast

Ngelanjutin soal misteri, sekarang ngomongin misteri angka ;-) Tepatnya angka setan: 666.

Dulu, pernah ada seorang teman kuliah yang ngeledekin gw dan anaknya mertua gw (anaknya mertua gw yang sekaligus mantunya ortu gw, maksud gw.. hehehe.. Soalnya, mertua gw punya anak banyak, tapi cuma satu yang jadi mantunya ortu gw ;-)). Katanya, kami berdua adalah Beast Couple ;-). Gw tentu saja nggak terima.. lha wong menurut gw kami itu adalah Beauty & the Beast kok, mosok dibilang Beast Couple ;-) Tapi memang bukan tanpa alasan julukan Beast Couple itu muncul. Tak lain tak bukan, karena angka keramat 666 di seputar hidup kami.

Yup! Angka 666, yang ngetop dengan julukan Number of the Beast, itu muncul di tanggal lahir kami ;-)

Gw lahir 180672, anaknya mertua yang jadi mantunya ortu gw itu lahir 181266. Ada unsur 6 di tanggal lahir, ada unsur 6 di bulan kelahiran, dan ada unsur 6 di tahun kelahiran.. ;-) Total jendral, 666 kan ;-) Belum lagi, antara bulan ke 6 dan bulan ke 12 itu jaraknya adalah 6 bulan ;-). Dan.. antara thn 66 ke thn 72 itu jaraknya juga 6 tahun.

Dan.. ohya, dari pertama kenal di thn 1991, sampai lamaran resmi di tahun 1997, itu jaraknya juga 6 thn.. HAHAHAHAHA.. Nggak salah juga kalau dibilang penuh dengan angka 6.

Sebenernya, gw nggak terlalu mikirin angka ini lho! Maksud gw, alasan gw pacaran sama anaknya mertua gw dulu juga bukan karena “kemiripan” tanggal lahir, apalagi karena pingin membangkitkan “Kerajaan Setan” di dunia ini (plis deh, walaupun gw suka berlagak jadi Devil’s Advocate, and so does my husband, nama suami gw BUKAN Damien Thorn, tokoh utama dalam film The Omen.. HAHAHAHA.. ).

Tapi.. emang dipikir2 lucu juga kebetulan yang muncul ini. Ini tandanya jodoh, kali ;-)?

Saking lucunya angka tanggal lahir yang bisa diutak-atik gathuk ini, gw sempat merencanakan menikah tanggal 180498 lho ;-). Biar aja tahun pernikahannya nggak mengacu pada angka 6 (soalnya kalau menunggu kelipatan 6, gw baru nikah thn 2002. Keburu lumutan dong ;-)), tapi kan tanggalnya 18 juga! Sayangnya, menurut Eyang Putri gw, tanggal itu jatuh di hari buruk untuk menikah. Jadi, nikahnya maju 2 minggu menjadi 040498 deh!

Lepas dari angka setan karena nggak jadi nikah di tanggal yang dipilih? Enggak juga.. hehehe.. Kalau di kepercayaan Cina dan Jepang, angka 4 itu angka sial. Kanjinya pun sama persis dengan kanji yang berarti “kematian”. Dan gw pakai tanggal Double-Four, kanji kematiannya dobel ;-) Jadi.. sebenernya, gw tetap saja tak pernah lepas dari “Kuasa Kegelapan”... hehehe..

Dan ternyata “Kuasa Kegelapan” nggak berhenti di hari pernikahan doang lho ;-) Masih mengikuti hingga lahirnya Ima ;-)

Pada awalnya, due date lahirnya Ima adalah 040699. Unsur 6 pada tanggal perkiraan lahirnya tidak separah bapak-ibunya ;-). Tapi.. ternyata Ima keenakan di dalam perut. Atau simply niru bapaknya yang suka prokrastinasi (ooops!). Jadi, dia nggak lahir2 sampai seminggu kemudian. Baru, setelah “dipaksa” lahir dengan induksi, akhirnya dia mau keluar dari perut: 120699. Ring a bell? Hehehe.. Iya, dong, lagi2 ada unsur 6 di tanggal lahirnya, unsur 6 di bulan lahirnya.. dan... tahun lahirnya adalah perfect symmetry dari 66 ;-)

Eh.. ada lagi yang lucu soal lahirnya Ima: waktu Ima lahir, bapaknya hampir berumur 33. Kalau dijumlah, 3 tambah 3 sama dengan 6 kan ;-)? Waktu itu bapaknya masih umur 32 sih, tapi.. 3 dikali 2, jadinya 6 juga kan.. HAHAHAHA.. Terus, umur gw 26, ada unsur 6-nya. Ima juga lahir tepat 6 hari sebelum ultah gw yang ke-27. Angka 2 dan 7 itu kalau dijumlahkan jadi 9, dan 9 kalau dibalik jadi 6 ;-)

Maksa ya? Tapi lucu.. ;-) Namanya juga utak-atik gathuk ;-)

Namun.. tradisi “Number of Beast” ini tampaknya akan berhenti di adiknya Ima. Due date-nya diperkirakan 230408. Nggak ada unsur 6-nya kan ;-)? Kecuali kalau lahirnya mundur sehari, jadi 240408, naaah.. baru deh ada unsur 6 di tanggal lahirnya ;-). Atau kalau lahirnya mundur 2 bulan, ke bulan 6.. hehehe.. Tapi yang kedua ini nggak mungkin, karena walaupun gw mungkin punya ingatan yang mirip gajah (iyaaa... dan ukuran tubuh juga sih ;-)), gw tidak berniat berguru kepada gajah dalam soal kehamilan. Gilaaa.. gajah tuh kalau hamil 22 bulan, bo! Lama beneeer yaks.. ;-)

Jadi.. untuk sementara, gw ikutin kata dokter aja bahwa due date-nya tanggal 230408. Bertepatan dengan Hari Buku & Hak Cipta Dunia, jadi mudah2an the baby juga jadi tukang baca yang rajin. Dan untuk sementara the baby dikasih nama sandi yang sesuai kelahirannya: DJI SAM SOE ;-)

Kenapa Dji Sam Soe? Yaaa.. soalnya perkiraan lahirnya 234, tanggal 23 bulan 4 ;-) Dji Sam Soe itu artinya 234 kan? Utak-atik gathuk lagi ;-) Lagian, gw juga yakin (setidaknya berharap) bahwa the baby ini bakal jadi anak “kualitas eksport” seperti merek Dji Sam Soe

Uhm.. tapi ngomong2 soal Dji Sam Soe, 234 itu kalau dijumlahkan jadi 9 ya? Sembilan? Sem-bi-lan? Bukannya 9 itu perfect symmetry dari 6? HAHAHAHAHA.. Haiyah! Enam lagi, enam lagi!

Tapi biarin deh, toh.. angka 666 kalau diutak-atik gathuk dengan cara lain, bisa mengacu pada kebaikan ;-) Seperti yang dituangkan di situs ini ;-).

So.. Hakuna Matata, deh ;-)

Thursday, November 22, 2007

Unbreakable

Judul di atas tentunya tidak mengacu pada judul lagu terbaru andalan Shanty yang jadi jingle iklan sebuah produk pencuci rambut ;-)

Nope! Judul itu berkaitan dengan unbreakable code, lantaran gw tiba2 mikirin kode2 rahasia.. hehehe.. Well, nggak tiba2 juga sih, semua berawal dari pembicaraan dengan seorang teman yang menanyakan ”Dimana kemampuan analisa yang kamu bangga2kan itu?”, gara2 gw nggak bisa memecahkan kode yang dia berikan ;-).

Dan tiba2 saja gw jadi inget The Navajo Code. Sandi rahasia yang even the best cryptographer failed to break.

Navajo Code ini adalah sandi yang digunakan Amerika Serikat dalam Perang Dunia II. Rasanya nggak berlebihan jika dikatakan bahwa Navajo Code ini merupakan salah satu titik krusial yang membuat Amerika Serikat (dan sekutu) memenangkan perang dunia. The unbreakable code that even the best cryptographer failed to break.

Kenapa Navajo Code ini sulit sekali untuk dipecahkan, padahal para Jepang itu nggak kalah pintar dalam soal memecahkan kode?

Ternyata bukan lantaran kode ini rumit banget lho! Melainkan karena alasan2 yang sangat sederhana: tidak lebih dari 30 orang non-Navajo di dunia (pada saat itu) yang mengerti, apalagi dapat bicara menggunakan, bahasa salah satu suku Indian ini. Menurut Wikipedia, struktur tata bahasanya juga tidak biasa, sehingga menambah kesulitan bagi mereka2 yang cukup pintar untuk mengenali pola tata bahasa. Jadi.. semakin kecil kemungkinan untuk para kriptografer memecahkan kode ini, atau meniru kode ini untuk mengirimkan sandi palsu.

On top of that, sebagai pemanis, kode itu dikembangkan hanya dalam kelompok kecil. Hanya 29 orang dari suku Navajo yang direkrut, untuk kemudian diminta membuat sandi dari bahasa tersebut. So.. hanya 29 orang ini yang tahu seluk beluknya sandi; bahwa kuncinya adalah kata2 tertentu harus diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, dan kemudian diambil huruf pertamanya. Komplitnya baca di Navajo Code Talker’s Dictionary ini deh ;-)

Dengan demikian, tanpa kamus, apalagi tanpa salah satu dari 29 orang ini, adalah hil yang mustahal untuk memecahkan kode.

Jangan dikira nggak ada yang berusaha memecahkan lho! Masih menurut Wikipedia, Hitler sendiri bahkan menugaskan beberapa antropolog untuk mempelajari bahasa Navajo ini. He has analyzed that much, sampai ke tahap mengenalinya sebagai bahasa Navajo. Tapi karena memang bahasanya susah, para antropolog itu gagal belajar dalam waktu yang ditetapkan. Jepang malah lebih hebat lagi! Mereka berhasil menangkap seorang serdadu Navajo, yang kemudian ”dipaksa” untuk mengartikan kode2 itu. They have analyzed that much, bahwa kode itu hanya bisa dipecahkan oleh mereka yang menguasai bahasa tersebut.

Toh.. semuanya gagal, karena untuk memecahkan kode kali ini bukan saja kecerdasan yang dibutuhkan, melainkan .. code book ;-)! Sebenarnya malah dengan kecerdasan rata2 saja, kode ini bisa dipecahkan. Asal saja pegang buku kodenya ;-).

Dipikir2, memang sebenarnya sandi itu bisa digolongkan jadi dua kelompok besar ya? Sandi yang terstruktur dan terpola, serta sandi yang sederhana tapi sangat spesifik. Sandi yang terstruktur dan terpola itu yang jadi ”mainannya” kriptografer. Sandi2 yang bisa dipikirin, dianalisa, diputar balik, dicari polanya, dan.. dipecahkan dengan kemampuan intelektual semata. Sementara yang satunya, sandi sederhana yang spesifik, baru baru bisa dipecahkan kalau kita punya kunci jawabannya ;-)

Kalau di cerita2 detektif, biasanya yang lebih menonjol adalah sandi terstruktur dan terpola ini. Lihat aja buku2nya Dan Brown, isinya selalu tentang sandi yang terstruktur dan terpola. Nggak usah jauh2 ke Dan Brown deh, kita lihat saja ke Alfred Hitchcock yang mungkin seangkatan bapaknya Dan Brown. Ingat nggak, ada salah satu buku "Trio Detektif" yang sandinya begini:

Take one lily, and kill my friend eli
Positively number one
Take a broom and sweep a bee
..

(jangan tanya judulnya, gw lupa ;-))

Nah.. ini model sandi yang bisa dipecahkan dengan logika. Seperti the chubby Jupiter Jones yang menemukan bahwa artinya adalah: “one lily A broom..” alias dibaca “Only a Room..”.

*Catatan iseng: Hitchcock itu memang kira2 seumur mbah-nya JK Rowling. Makanya, jaman dia, nomor 1 tuh asosiasinya masih nilai A. Makanya masih pada bangga sama nilai A atau jadi nomor 1. Apalagi kalau bisa ngumpulin banyak.. bangsa 3 atau 4 gitu.. hehehe.. Dia nggak tahu bahwa di Harry Potter, A (acceptable) itu cuma angka pas2an buat lulus. Nilai tertingginya O (outstanding), dan nilai keduanya E (exceed expectation).. HAHAHAHA.. ;-) *

Sementara kalau novel yang ngomongin sandi sederhana-tapi-butuh-kunci-jawaban, sejauh gw baca baru The Key to Rebecca (Ken Follett) doang. Di cerita itu, sandinya mengacu pada kata2 tertentu dalam novel tulisan Daphne du Maurier yang berjudul Rebecca. Novel ini begitu sederhana, nggak menarik perhatian, hingga nggak ada yang menyangka bahwa di situlah kunci dari sandi yang tak terpecahkan. Nggak ada yang nyangka seorang sipil kucel yang membawa novel kucel ini dalam tas-nya adalah the code talker.

Eh.. gw salah! Ada lagi ding yang menceritakan tentang sandi seperti ini! Episode terakhir "Criminal Minds" di season 1 (yang bersambung ke episode pertama di season 2). Di situ sandi yang diberikan the unsub memang harus dipecahkan dengan membaca kata di halaman/paragraf/baris tertentu dari buku karangan John Fowles. Bukunya berjudul The Collector, dan harus yang cetakan tahun 1963. Jadi.. biar sepintar apa pun, kalau nggak punya that specific copy, nggak mungkin berhasil memecahkan kodenya ;-) Mau diutak-atik kayak apa pun nggak bakal gathuk (= nyambung)

Mana yang lebih baik?

Hmm.. kalau buat dipakai mainan, gw lebih suka pakai yang pertama. Terstuktur dan terpola. It will be a triumph to be able to decode it. Makanya, kecenderungan gw juga selalu mencari2 the similar code di semua hal yang gw lihat.. hehehe.. Emang setelan gw gitu kali, ya ;-)

Tapi kalau gw mesti menjaga suatu rahasia, apalagi demi bangsa dan negara (tsah!), mungkin yang kedua lebih efektif. Tanpa pola dan struktur yang jelas, tentu lebih sulit buat musuh untuk mengetahuinya. Apalagi kalau yang tahu dan punya kunci jawabannya hanya orang2 tertentu. Maximum security.. hehehe.. The Navajo Code sudah membuktikannya kan ;-)? Nggak heran sandi rahasia ini baru di-deklasifikasi akhir 90-an, hampir 50 thn setelah pembuatannya. Malah.. sandi yang sama sempat digunakan lagi di Perang Korea dan Perang Vietnam.

Nggak heran juga, kalau di film ini diceritakan bahwa setiap code talker punya seorang guardian; tentara yang tugasnya menjaga supaya the code talker tidak jatuh ke tangan musuh. Dan jika perlu.. tugas tentara ini adalah untuk membunuh si code talker daripada jatuh ke tangan musuh.

*Ya, ya.. kalimat terakhir ini nggak pernah diakui oleh Amerika Serikat. Cuma rumor doang. Lagian, Amerika Serikat kan pembela hak azasi manusia nomor wahid, nggak mungkin lah memerintahkan membunuh bangsa sendiri, biarpun cuma Indian doang ;-)*

Aaaanyway.. ngomongin The Navajo Code, gw jadi kepikiran bahwa bangsa kita tuh berpotensi besar untuk memiliki our own Navajo code ;-) Pernah ngitung nggak, berapa jumlah bahasa dan dialek di negeri berpulau lebih dari 13,000 ini? Pas gw ke Ende, Flores, awal tahun lalu, gw sih menemukan bahwa beda desa di Flores aja orang bisa saling nggak bisa ngerti bahasa masing2. Jadi.. bayangkan berapa varian sandi yang bisa kita ciptakan ;-)

Kalau kita punya unbreakable code, mau ngajak perang negara lain juga lebih afdol gitu! Biar kata persenjataan kita kalah OK, kalau strateginya bagus, dan didukung dengan kode tak terpecahkan gini, kan peluang menang masih ada. Bukannya bangsa kita selalu membanggakan masa lalu: berhasil ”mengusir” Belanda dengan senjata bambu runcing ;-)? Hehehe.. Apa susahnya ngganyang negara yang suka mencuri kebudayaan kita ;-)?

Dan mungkin negara2 lain juga lebih hati2 mau nyolong lagu daerah, alat musik tradisional, atau seni batik ;-) Nggak berani macem2 sama kita, karena takut dihajar balik.. hehehe..

Atau.. kalau negara kita ini mau mempertahankan citranya yang ”cinta damai”, trained code talker ini bisa kita sewakan ke negara2 lain yang doyan perang. Jadi kan kita nggak cuma bisa memasok TKW atau TKI doang, tapi juga yang lebih ”bergengsi dikit”: well-trained military code expert ;-) Negara2 lain yang mau nggebukin TKI/TKW asal Indonesia juga mikir seribu kali.. hehehe.. takut sama ”tentara bayaran” Indonesia. Apalagi kalau negaranya pernah pakai servis ini.. hehehe.. tambah takut lagi karena ada ”tentara profesional” Indonesia yang sedikit2 ngerti isi perut negaranya ;-)

Tentu.. mereka yang berwenang mengatur penyewaan code expert ini kudu hati2 menyusun surat kontrak. Jangan sampai senjata makan tuan.. negara2 yang habis menyewa jasa kita malah kemudian berbalik menyerang kita.. hehehe.. Tapi, coba deh dipikirkan baik2. Siapa tahu bisa menjadi sumber devisa baru buat Indonesia ;-)

Gimana? Ada yang tertarik mengembangkan usul gw? HAHAHAHA..

---

PS: BTW busway, sebelum ada yang nulis di comment box gw tentang Criminal Minds gara2 salah satu alinea di atas.. Iyaaa, gw udah tahu season 3 udah keluar, dan Jason Gideon (Mandy Patinkin) diganti sama David Rossi (Joe Mantegna). Tapi menurut gw sih asyik2 aja.. sama menariknya ;-)

---

FUN TRIVIA: Ada Apa dengan Rebecca?

Eh.. gw baru ngeh bahwa nama Rebecca muncul di tiga tautan yang gw berikan. Selain buku "The Key to Rebecca", ternyata korban di "Criminal Minds" episode itu juga bernama Rebecca Bryant. Dan.. salah satu filmnya Alfred Hitchcock juga berjudul Rebecca.

Jadi.. ada apa dengan Rebecca? HAHAHA..

Friday, November 16, 2007

Piramida Maslow: True or False?

Maslow, seperti juga Freud, mungkin merupakan dua tokoh psikologi yang paling nge-pop. Paling banyak disitir dan dikutip di berbagai tulisan. Dan mungkin teorinya paling banyak dikebiri oleh para penyitirnya; teori Freud direduksi sekedar menjadi ”manusia digerakkan oleh instink kebinatangan”, sementara teori Maslow direduksi menjadi sekedar ”piramida kebutuhan”. Padahal teori mereka jauh lebih luas daripada bagian ini.

Belum lama ini gw ketemu lagi dengan seorang lawan bicara, yang kurang lebihnya menulis begini:



Kesimpulannya pencerahan bisa dicapai oleh setiap orang melalui pendidikan (digambarkan sebagai kerbau dengan kepala putih) dan latihan terus menerus pada gambar berikutnya sehingga seluruh tubuh kerbau menjadi putih dan gembalanya bisa tidur nyenyak membiarkan si kerbau merumput seperti dilukiskan dalam 6 tahap melatih kerbau.


Orang seperti Bill Gates, Muhammad Yunus, Norman Bourlaugh sedang dalam tahap menuju ke arah ini. Dia memberikan semua milik, keahliannya untuk menjaga dunia, bukan seperti puncak hirarkhi A.Maslow yang mencari pengakuan recoqnation.


(note: memang beliau menuliskannya sebagai recoqnation, bukan recognition seperti seharusnya. Typo bukan kesalahan gw ;-))



Mengingat beliau sudah cukup sepuh (usianya hampir 65 thn), pun belajar psikologi secara otodidak (karena pernah jadi Kepala Divisi HR di sebuah perusahaan besar), gw cukup maklum dengan keterbatasan dan ketertinggalan jaman beliau tentang teori Maslow. Makanya, dengan lemah-lembut dan baik hati gw mengingatkan bahwa puncak hirarki Maslow bukan recognition, melainkan self-actualization. Dan antara recognition dengan self-actualization itu jauhnya JakartaNew York.

Tapi ternyata beliau nggak sadar (atau nggak mau terima ya?) diingatkan oleh anak kemarin sore yang separuh umurnya. Jadi malah tambah jauh ngelanturnya tentang “kelemahan mendasar” pada pendidikan psikologi:



Yang satu mengatakan self dalam kondisi eternal becoming (spt juga Fuad Hassan) dan yang lain sebagai atom, misalnya Maslow dalam hirarkhi kebutuhan. Muaranya selalu perlu adanya penjelasan soal Self Recoqnation atau Actualization .


(note: sekali lagi, typo bukan kesalahan gw ya ;-))



Wah.. wah.. ternyata ngawurnya parah banget.. hehehe.. Gw sih juga nggak ingat Pak Fuad persisnya ngomong apa di buku yang beliau sebut itu. Tapi.. gw ingat bahwa konsepnya Pak Fuad tentang eternal becoming itu erat kaitannya dengan trancendental need. Dan gw juga tahu bahwa trancendental need itu merupakan puncak hirarki pada piramida Maslow. Jadi.. mempertentangkan pendapat Pak Fuad dengan hirarki kebutuhan Maslow.. hmmm.. someone has a skewed knowledge about Maslow here ;-)

Anyway.. setelah ngobrol panjang lebar, akhirnya lumayan bisa ”mengembalikan beliau ke jalan yang benar” (hehehe.. udah lumutan kali ya, makanya susah ;-)?). Belum sempurna sih, namun setidaknya gw mendapatkan pencerahan tentang pangkal masalah kenapa teori Maslow sering disalahpahami, dan bagaimana cara mudah untuk memahami Maslow. Apa yang benar dan apa yang tidak tepat, gw coba tuangkan di sini ;-)


Gambar dipinjam dari sini


FALSE: Piramida Maslow adalah Tangga Kebutuhan

Secara khusus mengenai Maslow, orang cenderung salah mengartikan bahwa Maslow ”sekedar” membuat tangga kebutuhan. Bahwa Maslow berteori mengenai kebutuhan yang lebih tinggi baru bisa muncul kalau kebutuhan yang lebih rendah terpenuhi. Bahwa Safety & Security Need baru muncul jika Physiological Need sudah terpenuhi, bahwa Love & Belonging Need baru muncul setelah Safety & Security Need sudah terpenuhi, dan seterusnya. Itu sebabnya orang sering mengatakan bahwa teori Maslow salah, dengan argumen bahwa ada orang miskin yang kekurangan pangan pun bisa merasakan cinta.

Lha.. memang bisa saja kok ;-). Karena memang teori Maslow nggak harus dibaca sebagai tangga, yang baru bisa naik kalau sudah meninggalkan yang dibawahnya.


TRUE #1: Piramida Maslow berkonsep 4 Sehat 5 Sempurna

Cara paling sederhana memahami teori Maslow adalah dengan menganalogikan konsep 4 Sehat 5 Sempurna ;-)

Kok? Iya, seperti juga 4 Sehat 5 Sempurna, bukan berarti kalau kita minum susu lantas nggak punya kebutuhan untuk makan yang 4 sehat (nasi, lauk, buah, sayur). Kalau kita sudah makan yang 4 sehat, minum susu memang bisa membuatnya sempurna. But not the other way around ;-).

Demikian juga dengan Maslow. Kalau kita sudah mencapai tahap Self-Actualization, misalnya, bukan berarti kita tidak lagi merasakan haus & lapar (physiological need), tidak lagi butuh ”tatih tayang” (love & belonging needs). Kita tetap butuh hal itu, tapi kebutuhan itu tidak lagi menggila dan menjadi fokus utama kita. Putus cinta, kelaparan sangat, masih bisa mengganggu tahap kebutuhan kita saat ini, namun hanya jika taraf defisiensinya parah sekali :-)


TRUE #2: Piramida Maslow berstruktur sama dengan Borobudur

Di pelajaran sejarah, kita diajari bahwa struktur Candi Borobudur tuh terbagi 3, yang masing2 terdiri dari beberapa tingkat. Bagian kakinya disebut Kamadhatu, melambangkan dunia yang masih dikuasai kama (kama lho ya, bukan karma ;-)), alias nafsu rendah. Bagian kedua yang terdiri dari 4 lantai disebut Rupadhatu, melambangkan dunia yang sudah melepaskan diri dari nafsu, tapi masih dikuasai rupa dan bentuk. Bagian ketiga, lantai 5 – 7, disebut Arupadhatu, melambangkan manusia yang sudah lepas dari nafsu, rupa, dan bentuk, namun belum mampu mencapai nirwana.

Seperti inilah juga struktur yang terdapa pada Piramida Maslow. Bagian terbawah disebut sebagai D-Needs (singkatan dari Deficiency Needs). Disebut demikian karena defisiensi pada salah satu dari 4 kebutuhan mendasar ini akan menghambat perkembangan kita pada tahap selanjutnya (G-Need atau Growth Need). Empat kebutuhan mendasar ini terdiri atas physiological needs, safety & security needs, love & belonging needs, dan self-esteem need (recognition need)

Jika tidak ada defisiensi pada 4 kebutuhan mendasar ini, atau setidaknya defisiensinya tidak parah, maka kita bisa masuk ke level selanjutnya: G-Need atau Growth Need. Ada dua kebutuhan di sini: Need to Know and Understand, serta Aesthetic Need. Di sinilah digeber kehausan kita akan pengetahuan serta seni. Kebutuhan ini baru muncul jika 4 kebutuhan dasar sudah cukup terpuaskan (tidak defisiensi/defisiensinya tidak parah). Sebaliknya, sekali kita sudah berada di level ini, kita juga sanggup menangani jika ada sedikit defisiensi pada D-Needs.

G-Needs ini disebut Maslow semacam tahap persiapan mencapai B-Needs (being need). B-Need adalah tingkatan tertinggi dalam perkembangan manusia, karena berkaitan dengan menjadi bijak. Ada dua hal yang tercakup dalam B-Needs, yaitu: Self-Actualization (to find self-fulfillment and realize one's potential) dan Self-Transcendence (to connect to something beyond the ego or to help others find self-fulfillment and realize their potential).

Untuk mencapai tahap ini, pemenuhan G-Need mutlak diperlukan. Iya dong, untuk menjadi bijaksana kan kita perlu memaknai pengalaman2 kita baik berdasarkan pengetahuan kognitif (yang dipenuhi lewat need to know & understand) maupun olah rasa (yang dipenuhi lewat aesthetic need). Namun, yang perlu dicatat: tidak semua orang yang terpenuhi G-Needsnya otomatis bisa mencapai B-Needs serta menjadi bijak. Masih diperlukan lagi satu kondisi: peak experience. Makanya, kalau meminjam istilah seorang teman: orang pintar itu banyak di dunia, tapi yang bijak sedikit ;-). Soalnya, banyak orang berhenti di G-Needs serta gagal mencapai B-Needs ;-)

***

So, that’s my insight for today (eh.. this week ya? Secara gw udah seminggu nggak ng-update ;-)). Moga2 berguna buat yang suka pakai teorinya Maslow.. hehehe.. denger2 di bidang manajemen sering banget nih Maslow dipakai ;-)

Pokoknya diingat2 aja ya.. jangan melihat teori Maslow sebagai 5 tingkat kebutuhan (seperti aslinya teori Maslow tahun 1954), atau 8 tingkat kebutuhan (seperti teori Maslow yang sudah direvisi tahun 1998). Tapi lihatlah sebagai 3 struktur yang masing2 terdiri dari beberapa tingkat, seperti Candi Borobudur ;-) Perhatikan prasyarat untuk naik ke struktur berikutnya saja; bahwa deficiency menghambat growth, tapi.. sudah berhasil grown belum tentu bisa being ;-)

Jangan terlalu dihafalkan urutan tangganya ;-) The structure is more important than the steps in this theory ;-)

Friday, November 09, 2007

Calon Pasien Lobotomy Keren dari Betawi

Beberapa hari terakhir ini gw lagi khusyuk membaca laporan utama Tempo edisi 5 – 11 November 2007. Yang jadi bahan kajian gw apalagi kalau bukan seputar Rasul Keren dari Betawi. Eh, gw mau cerita nih: awal2nya gw kira yang ngaku2 ”si keren dari Betawi” ini Pak F*** lho, secara gambar karikatur di sampulnya mirip.. HAHAHAHA.. Eh, nggak tahunya bukan. Cuma kumisnya rada2 mirip ;-)

*Catatan: F*** memang F-word, tapi bukan F-word yang itu lho ;-)*

Baca2 seluruh ceritanya, ada bagian yang gw setujui ada juga yang enggak. Bagian yang gw setujui adalah fatwa MUI bahwa Al Qiyadah adalah aliran sesat. Kenapa gw setuju? Yaah.. gw setuju lah! Soalnya.. menurut gw, nggak kreatif banget ngaku2 menemukan sesuatu baru kalau cuma memodifikasi yang lama. Itu namanya plagiat, dan plagiat harus dinyatakan sebagai musuh masyarakat. Udah cuma bisa memodifikasi punya orang lain, eeeeh.. ngaku2 barang baru lagi! Sesat!

Bagian lain yang gw setujui adalah komentar Pak Rektor yang nyantai abis tentang cara menghadapi aliran seperti ini, ”Diketawain saja, entar kan bubar sendiri”.

Atau komentar seseorang yang tidak disebutkan namaya dalam artikel yang sama, ”Gampang, konfirmasikan saja kepada Lia Aminuddin yang mengaku sebagai Jibril, apakah ia telah menurunkan wahyu kepada Mushaddeq”.

Hehehe.. kenapa gw setuju sama komentar ini? Yaah.. ini tidak jauh dari komentar ser-san (serius tapi santai, tauk!) dari seorang teman, sang psikolog kondyang, saat menghadapi kasus yang mirip:

”Ngapain repot2 diskusi rodho intelek sama yang udah jelas psikotik? Diketawain aja! Langsung tembak aja suruh minum obat, kalau perlu obatnya disuntikkan ke pembuluh darah biar efeknya langsung berasa. Masih nggak ngefek? Kasih ECT! Nggak ngefek juga? Ya kita lobotomy aja”

Iya, psikotik itu gangguan jiwa berat yang salah satu ciri utamanya adalah kehilangan kontak dengan realitas. Mengalami halusinasi dan delusi. Jenisnya ada macem2 sih, salah satunya skizofrenia. Tapi ciri utamanya sama: kontak sama realitasnya sudah putus. Jadi.. ngapain dimarahin dan dikenai norma2 yang berlaku? Langsung dikasih treatment aja: terapi obat (dipaksa minum obat penenang, seperti Halle Berry di Gothika), terapi kejut listrik (kayak Jack Nicholson di One Flew Over the Cuckoo’s Nest), atau sekalian diambil sebagian otaknya biar nggak menimbulkan masalah lagi (kayak yang dilakukan oleh Sir Anthony Hopkins dalam Hannibal).. hehehe..

Atau.. kalau mau pakai ”cara Melayu”, langsung aja orang2 gini dipasung, seperti Perempuan Dalam Pasungan ;-) Biar keren dikit, pasungnya boleh pakai kayu ukir dari Jepara ;-)

Hehehe.. back to topic.

Kalau buat gw sih fatwa bahwa Al Qiyadah merupakan aliran sesat itu sudah cukup sebagai sanksi sosial. Toh, dengan pernyataan bahwa hal ini adalah sesat dan terlarang, maka geraknya sudah dibatasi. Artinya, nggak boleh lagi disebarkan toh? Kalau ngeyel menyebarkan sesuatu yang sudah dilarang, maka dapat dikenai pasal2 kriminal. Kalau ketahuan mencoba merekrut anggota baru, maka langsung dikenai hukum negara yang berlaku.

Tapi nggak perlu sampai membakar rumahnya, dan memburu jemaatnya. Terserah2 aja kalau mereka mau percaya pada omongan dan doktrin nggak logis; mungkin mereka memang tidak cukup cerdas untuk menyadari bahwa ajaran itu banyak bolongnya ;-) Mosok kita mau menghukum orang karena mereka kurang cerdas sih? Jahat bener ;-)

Bukti bolongnya logika sang rasul [yang merasa dirinya] keren itu salah satunya tergambar pada wawancara yang dimuat dalam artikel ”Kapal Muhammad Sudah Hancur” (hal 105):

Apa yang membuat Anda yakin telah dipilih Allah sebagai rasul?

Saya bertahanut selama 40 hari 40 malam di vila saya di gunung Bunder, Bogor. Saya bermimpi, pas pukul 12 malam, didatangi seseorang dan dibawa ke pantai. Di sana ada kapal besar terdampar. Ribuan orang sedang mencari jalan keluar tapi tidak ketemu...

Bukankah itu cuma mimpi, bagaimana Anda yakin itu wahyu?

Mimpi tentang kapal itu tamsil, yaitu ada kapal yang akan tenggelam dengan banyak penumpang. Siapa mereka, yaitu kaum agamis yang masih bersyahadat pada Muhammad...

Nah.. gw yakin sih, orang2 dengan kemampuan logika minimum pun akan menyadari hal yang aneh di sini ;-)

OK, si [sok] rasul [yang merasa dirinya] keren ini mimpi. Tapi darimana reliabilitas interpretasi bahwa mimpi itu adalah tentang kaum agamis yang masih bersyahadat pada Muhammad? Jaka sembung naik kerbau, nggak nyambung, bow ;-)

Kalau ada orang2 yang percaya, bahkan kemudian mengamini dan terimami oleh orang yang ngomongnya inkoheren begini, berarti ada yang salah dengan sistem pendidikan umum kita. Bagaimana bisa, kok ada banyak orang yang nggak menyadari ketidaknyambungan logika si rasul-wannabe, sehingga nurut aja dicocok hidungnya ;-)?

Atau mungkin.. ada yang salah dengan sistem pendidikan keagamaan kita, sehingga sebagian orang mudah tergoda imannya; udah tahu bahwa agamanya mengatakan bahwa tidak ada rasul yang akan turun lagi, udah tahu agamanya bilang bahwa agamanya adalah agama penutup, kok masih percaya kata2 orang lain? Orang yang logikanya nggak nyambung lagi! Bukankah itu menunjukkan ada yang salah dengan keimanan?

Gw tertarik dengan kalimat pembuka dalam bagian lain dari laporan utama Tempo itu, yaitu artikel yang berjudul “Hikayat Pisang Ambon dan Satu Rukun”. Kalimat pembukanya berbunyi:

”Korting syariat merupakan salah satu daya tarik munculnya aliran sesat”

Aliran2 baru itu konon selalu menawarkan ”korting syariat” sebagai salah satu daya tariknya. Al-Qiyadah menawarkan kebelumwajiban shalat, zakat, puasa, dan haji (it means.. 80% discount, bow! Empat dari lima Rukun Islam dihapuskan! Kalah deh year end big sale di Metro atau Sogo ;-)). Negara Islam Indonesia menawarkan program member-get-member seperti kartu kredit: kalau bisa bawa anggota baru, maka kewajiban shalat dihapuskan bagi dirinya ;-) Aliran lain seperti Wetu Telu hanya mensyaratkan shalat tiga waktu (korting shalat.. korting shalat.. ;-)). Aliran2 lain tidak secara khusus memberikan discount, tapi tetap memberikan penawaran menarik semacam eksklusivitas keanggotaan, seperti Komunitas Eden yang punya kitab suci sendiri, Islam Jamaah yang tidak mau shalat bersama umat Islam lain bahkan pakaian/peralatan yang terkena umat Islam lain pun harus disucikan.

Sesuatu itu kan menjadi menarik jika sesuai kebutuhan pihak yang tertarik. Jadi.. kalau orang2 ini tertarik, berarti mereka merasa syariat yang ada sekarang terlalu membebani? In that case, pasti ada sesuatu yang salah dalam internalisasi keagamaan mereka, sehingga sesuatu yang pada hakikatnya merupakan hal yang diterima dengan suka cita dan rela, malah diterima sebagai beban belaka?

Makanya, kalau menurut gw sih, daripada MUI repot ngurusin yang beginian, mendingan upaya difokuskan pada bagaimana memperbaiki sistem pendidikan keagamaan. Supaya semakin banyak pemeluknya yang menerima dan menjalankan syariat dengan sadar dan rela. Bukan sekedar sebagai ritual dan keharusan. Kalau internalisasi nilai2 keagamaannya benar, mestinya resiko tergoda pada ”penawaran menarik” aliran sesat itu berkurang dengan sendirinya. Wong yang ditawarkan menjadi tidak menarik buat mereka ;-)

Gw setuju dengan Pak Rektor bahwa MUI terlalu peka terhadap urusan akidah, ”Sedangkan kalau ada sabotase rel kereta api mereka diam saja.”

Well, in a way memang kelihatannya komentar ini Jaka Sembung ya ;-)? Rel kereta api kan urusan PT Kereta Api Indonesia ;-). Tapi.. coba ditelaah lagi: yang menyabotase rel kereta api itu kan masyarakat umum, sebagian beragama Islam juga. Dan kalau si penyabot ini beragama Islam, serta tidak merasa bersalah/melanggar ajaran Islam dengan perbuatannya, berarti kan nilai2 Islam tidak terinternalisasi dengan baik ya? Wong jelas dalam Islam dikatakan bahwa:

Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi. Mereka menjawab: Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.

(Al Baqarah QS. 2:11)

Terus, kalau sabotase rel kereta api tuh bukan merusak, gitu? Bukan pelanggaran terhadap ajaran Islam, gitu? Mbok yao sekalian juga MUI mem-fatwa-haram-kan perbuatan2 yang begini.. hehehe.. Sabotase rel kereta api dampaknya lebih luas lho! Dan ini dilakukan oleh orang2 yang mestinya masih masuk populasi normal (baca: bukan kasus psikotik) karena demi alasan ekonomi belaka. Mendingan ngurusin orang2 yang masih bisa ”diselamatkan” begini kan, daripada sekumpulan orang tidak cerdas yang ikut aja kata2 rasul-wannabe yang jalan pikirannya nggak logis ;-)? Orang2 yang menunjukkan gejala halusinasi/delusi sih diketawain aja. Kalau perlu diadu sama orang lain yang menunjukkan gejala yang sama.. hehehe.. Ngaku rasul? Ya tanya sama yang ngaku Jibril ;-) Terus biarin aja mereka berantem.. hehehe..

Tapi kalau ngeyel harus dihukum, ya.. mari kita lakukan lobotomy pada mereka ;-). Lumayan, mendukung industri kecil di Indonesia. Kan hasil lobotomy-nya bisa dijual ke rumah makan Padang untuk dibikin Gulai Otak. Nyam.. nyam.. nyam..

*kangen makan di RM Garuda – Medan ;-) Sambel Cabe Ijo-nya enaaaaak.. *

Sunday, November 04, 2007

The Devil's Advocate

Beberapa teman gw yang sopan (baca: terlalu takut untuk menyinggung perasaan gw dan gw jadikan bahan siletan ;-)?) menjuluki gw ‘Perempuan di Titik Nol’. Tentu saja, julukan ini tidak ada hubungannya dengan Woman at Point Zero karya Nawal el Saadawi ;-). Julukan ini lebih menggambarkan pandangan mereka tentang gw: suka nontonin perdebatan/keributan yang seru tanpa ngambil sikap lebih dahulu, tapi siap untuk meloncat ke salah satu pihak dan ikut berdebat habis2an sampai pihak yang tadinya di atas angin terpaksa mengakui bahwa “Bener juga ya, bisa dilihat seperti itu?”

Hehehe.. julukan Perempuan di Titik Nol memang bagus (and it’s a good book, by the way, A must read book ;-)). Tapi gw lebih suka julukan lain: The Devil's Advocate ;-) Bukan karena filmnya dimainkan oleh Mas Nunu yang ganteng, dan ada Oom Pacino yang tetap ganteng lho.. tapi.. it suits my personality better.. HAHAHAHA.. karena gw lebih merasa mirip “devil” daripada “perempuan” ;-)

Devil’s Advocate, mengacu pada tautan wikipedia tadi, diterjemahkan sebagai:

“.. someone who takes a position for the sake of argument; to test the quality of the original argument and identify weaknesses in its structure.”

Atau seperti yang digambarkan oleh Dan Brown dalam Angels & Demons:

“.. could argue two sides of Moebius Strip(p. 109)

Yaah.. kira2 memang begitulah peran yang suka gw mainkan.. hehehe.. seperti gw tulis beberapa kali di blog ini, gw nggak terlalu tertarik menuliskan suatu tema yang lagi “hot” di blogosphere, kecuali kalau gw menemukan angle baru yang “beda”. Beda dengan pandangan umum dan membuka peluang diskusi lebih lanjut. Bahasa awamnya: gw hobby nyilet2 pandangan umum.. HAHAHAHA..

Tak terhitung berapa kali gw melakukan itu. Mulai dari menyilet2 reaksi orang2 (yang cenderung senada) tentang kenapa Aa Gym yang Nikah Lagi, menyilet2 suara baru Indonesia (baca: anak bangsa) yang rame2 bikin petisi Pembubaran IPDN, sampai yang terakhir: menyilet2 masalah Iklan Pro-XL ;-).

Tapi.. gw nggak sekedar nyilet2 biar kelihatan "beda" lho! Karena gw biasanya baru terjun kalau sudah mengamati berbagai pendapat, sudah melihat landasan dan kelemahan berbagai pendapat, biasanya gw juga sudah sangat yakin bahwa gw terjun dengan argumentasi yang tepat. Menjadi sangat sulit untuk meyakinkan gw the other way around, karena gw sudah terbayang jurus2 yang akan dimainkan (plus udah ngebayangin jurus2 penangkalnya juga.. HAHAHAHA..) Tapi gw selalu hormat kok kalau ada yang berhasil meyakinkan gw the other way around ;-) It means that person is really that good ;-)

Like the devil himself.. I usually do it for fun ;-). Tapi.. hati2 mendefiniskan fun di sini ;-) Fun di sini belum tentu berarti gw seorang sadis yang senang melihat korbannya pulang dengan berdarah2 hasil siletan gw.. hehehe.. I’m not that sadistic, yet, although I might be one of the dominatrix.. ;-)

Fun buat gw adalah: ketika berhasil membuktikan, atau setidaknya membuat orang mulai berpikir, bahwa segala sesuatu itu sebenarnya tergantung bagaimana kita melihatnya aja. Showing them the quality of the original argument, or the weaknesses in its structure. Gw selalu percaya bahwa sebagian besar hal di dunia ini hanyalah Moebius Strip: sesuatu yang seolah2 punya dua sisi, tapi sebenarnya adalah satu bangun saja. Sesuatu yang bisa diperdebatkan bahwa satu sisi inilah yang benar, dan sisi yang lainnya salah, sampai kemudian mereka menyadari bahwa kedua sisi itu tidak dapat dipisahkan. Seolah2 dua, tapi sebenarnya satu ;-) And that their original argument is pointless ;-).

So.. that’s the world according to me (lagi2, frase ini dipinjam dari sebuah buku yang bagus: The World According to Garp ;-)) dan blog ini adalah the version of my personal world.. uhmm.. or should I say: hell ;-)

Ngomong2 mengenai devil’s advocate, dan neraka tempatnya bertahta, ada beberapa kutipan menarik dari filmnya. Kayaknya cocok banget buat ditulis di topik ini:

Kevin Lomax: Is this a test?
Pam: Isn't everything?

John Milton: Are we negotiating?
Kevin Lomax: Always.

Welcome to my hell ;-) Enjoy your stay ;-) Ini sebuah lagu manis kesukaan gw, dipersembahkan khusus sebagai welcome song:

[Hotel California mode: ON]

You can check out anytime you like
But you can never leave

[Hotel California mode: OFF]

Hehehe.. anyway, Oscar Wilde pernah berkata begini:

I choose my friends for their good looks, my acquaintances for their good characters, and my enemies for their good intellects.

Maka.. terberkahilah mereka yang pernah disilet2.. hehehe.. karena berarti the devil choose you for your good intellects.. HAHAHAHA.. Setidaknya, itulah Sabda sang Devil’s Advocate.. hehehe.. ;-)