Wednesday, July 22, 2009

Dari Setengah Pangeran Menjadi Milyarder Gembel

*Spoiler Awaits*

Sambil menikmati late lunch seusai nonton Harry Potter & the Half-Blood Prince Sabtu lalu, Ima berkomentar begini:

"Bukannya Lavender Brown itu Gryffindor ya, Bu? Kenapa duduknya di meja lain?"


Ah, ya. Adegan Lavender memandang ketus Ron dan Hermione dari meja lain memang sempat membuat kening gw berkerut juga. Seingat gw juga memang hanya ada 4 meja untuk 4 asrama kan?

"Rasanya jadi nggak kayak seperti Harry Potter"


Touche! Komentar Ima tepat sekali mengungkapkan apa yang sempat terlintas di benak gw selama menonton. Membuat gw berharap David Yates tak akan kembali untuk menyutradarai film adaptasi dari buku terakhir.

Sungguh, gw mengerti bahwa adaptasi film nggak bisa persis2 banget dengan aslinya. Jadi gw nggak protes karena nggak ada adegan pemakaman Dumbledore. Gw setuju dengan sutradaranya; bahwa itu mungkin bakal jadi antiklimaks. Menurut gw malah cukup keren bahwa adegan menyalakan tongkat sihir bak lilin sebagai penghormatan terakhir itu dilakukan on the spot. Kena banget, karena rasa sedihnya melihat beliau meluncur jatuh dari menara masih ada.

Tapi.... bagian2 lain dair film ini sempat membuat gw mempertanyakan seberapa attached sang sutradara dengan bukunya? Sebab, dia membuat terlalu banyak perubahan yang tak perlu. "Perubahan yang tak perlu", ya, bukan sekedar terlalu banyak perubahan. Perubahan2 yang membuat filmnya jadi "nggak Harry Potter".

Dimulai dari adegan2 awal ketika Harry Potter kecentilan mau mengantar pulang si pelayan restoran. Is that necessary? Kalaupun mau menghilangkan the Dursleys dari film ini, menurut gw masih OK bahwa Harry tetap dijemput di rumah mereka. Kenapa harus dijemput di stasiun? Apalagi bercentil2 dengan si pelayan.

Kernyitan di dahi gw makin banyak ketika mereka turun dari Hogwarts Express dengan masih menggunakan baju biasa. Belum pakai jubah. Lho, sejak kapan aturan Hogwarts berubah? Bukannya Harry & Ron malah mendapat detensi di buku kedua karena datang tanpa jubah?

Tapi OK-lah, gw masih menganggap itu perubahan2 nggak perlu yang minor. Termasuk juga ketika yang membebaskan Harry dari Petricus Totalus adalah Luna Lovegood, bukan Nymphadora Tonks seperti dalam buku. Mungkin mereka nggak mau bayar pemeran Tonks dalam film ini, jadi diganti aja dengan Luna. Meskipun kernyitan di dahi gw berkuadrat ketika melihat Harry & Luna dengan enteng bisa masuk Hogwarts sebelum Profesor Flitwick menyegel gerbang - tanpa usaha berarti, sementara di depan mereka para Auror sedang memeriksa para murid.

Nah lho! Menurut gw ini sudah perubahan yang nggak pas banget dengan semangat saga ini. Ada pemeriksaan ketat, ada 2 murid terlambat, tapi mereka bisa masuk??? Lantas, apa gunanya pemeriksaan ketat diadakan??? Bukannya di saga ini ada yang namanya Polyjuice Potion, yang kalau diminum bisa membuat orang terlihat seperti orang lain???

Langsung terlintas di pikiran gw bahwa untunglah Hogwarts tidak di Indonesia. Kalau prosedur pemeriksaannya seperti itu, Hogwarts udah dari kemarin2 meledak :(

Seperti Ima, gw jadi berasa kayak bukan nonton Harry Potter. Cuma berasa kayak nonton tiruannya Harry Potter. Apalagi ketika ada adegan nggak penting Ginny mengikatkan tali sepatu Harry. MENGIKATKAN, bener2 seperti dalam Upacara Wijidadi, dimana Ginny bersimpuh di depan Harry yang berdiri untuk kemudian mengikatkan tali sepatunya. Nggak ngerti gw pentingnya adegan ini... hehehe... Apalagi kemudian disambung dengan adegan nggak penting lainnya bak sinetron Indonesia: Harry Potter lari keluar mengejar Bellatrix, kemudian Ginny ikut2an mengejar sang pujaan hati, terus Remus Lupin mengejar mereka berdua, dan terakhir Nymphadora Tonks keluar mengejar kekasih hati...

... sebenernya ini film Harry Potter atau Kejarlah Daku Kau Kutangkap sih? HAHAHAHA.... Lagian, kalau ada pemain Nymphadora muncul di film ini, kenapa juga tadi harus Luna Lovegood yang membebaskan Harry? Emangnya pemain Nymphadora ini dibayarnya per adegan ya ;-)? Dan dananya cuma cukup untuk bayar dia satu adegan ;-)?

Oh well... gw cukup mengerti bahwa David Yates mungkin memang ingin memfokuskan film yang ini sebagai film cinta2an. Action2an disimpan untuk film berikutnya. Tapi.... plisss deeeeh, jangan lebay.... Too much love will kill you, tauk ;-)

Dan bener banget kata Queen. Too much love kills the spirit of HarPot 6 :-( Walaupun pengambilan gambarnya bagus, pemain2nya masih berakting sebaik sebelum2nya, jadi terasa ada yang hambar dari film ini. Setidaknya buat gw ya :-)

Kalau boleh milih, gw lebih senang adegan2 cinta2an itu dikurangi. Daripada kebanyakan adegan cinta2an, tapi kemudian ceritanya banyak yang hilang. Seperti detil cerita tentang kenapa Lord Voldemort memilih benda2 itu sebagai horcrux. Di film ini, semua detil cerita itu hilang. Ceritanya jadi enteng banget: ada seorang penyihir jahat yang ingin hidup selamanya sehingga membelah jiwanya menjadi tujuh.

Gw nggak tahu apa rencananya David Yates, mungkin tentang horcrux ini akan dibahas lebih dalam pada film selanjutnya. Kan Harry Potter & the Deathly Hallows bakal dipecah jadi 2 film kan? Mungkin bagian pertamanya adalah all about horcrux. Baru bagian keduanya tentang Battle of Hogwarts ;-)

Semoga aja ;-) Karena gw nggak pingin nonton sambil bete tahun depan ;-)

***

Mengadaptasi sesuatu itu memang nggak gampang. Di satu sisi, ada hal2 yang tidak dapat diterjemahkan secara langsung. Tapi... di pihak lain, ada tuntutan bahwa hasil adaptasi sedekat mungkin dengan aslinya.

Kalau menurut gw, yang paling penting dalam mengadaptasi adalah mengenali apa core-nya. Apa esensi mendasar dari karya itu. Memisahkan dulu antara esensi dan dekorasi. Dekorasi mudah diubah2, tapi... jangan sampai mengubah esensi, karena semuanya akan hilang.

Dan kemampuan menangkap esensi itu yang tampaknya sering tidak dimiliki adaptor.... eh, maksud gw si tukang adaptasi ;-) Sering gw lihat sebuah karya diterjemahkan begitu saja, sehingga esensinya hilang. Atau seperti di HarPot 6 ini: pokoknya masih banyak dekorasi yang tertampil, jadi OK2 aja ada perubahan. Tanpa menyadari bahwa yang diubah ternyata esensinya.

Contoh lain yang bikin gw geregetan adalah seri Twilight yang sedang dikhatamkan Ima. Terjemahan judul buku2nya, menurut gw, menunjukkan bahwa penterjemahnya nggak connected dengan buku itu. Hanya menterjemahkan dalam segi teknis bahasa.

Kalau connected dengan serial itu, maka keempat judul bukunya akan diterjemahkan sebagai Senja, Bulan Terbit, Gerhana, dan Fajar Merekah ;-) Bukan Twilight, Dua Cinta, Gerhana, dan Awal Yang Baru seperti sekarang ;-) Kenapa? Karena Stephanie Meyer sudah membuat metafora yang begitu indah untuk membingkai kisah cinta Bella Swan & Edward Cullen! Sebuah kisah cinta "terlarang", kisah cinta pada "sisi yang lain", kisah cinta di "gelapnya malam" yang dimetaforakan dengan fase bulan dalam semalam ;-)

Bukankan kisah malam dimulai dengan datangnya senja? Kemudian diterangi bulan? Di tengah malam, seringkali terjadi gerhana? Hingga semuanya berakhir ketika Fajar Merekah? Hehehe... sayang hal ini tidak ditangkap oleh [tim] penterjemahnya ;-)

Penterjemahan judul yang tidak tepat ini, menurut gw, membuat keempat buku itu terpencar menjadi hal yang tidak berkesinambungan. Ceritanya memang nyambung, tapi bingkainya hilang. Keindahannya hilang, dan... makna filosofisnya berkurang :-(

***

Masih dalam soal terjemahan ini, ada satu kisah lagi yang menurut gw menunjukkan kepiawaian teknis dalam menterjemahkan namun kurang menggunakan "rasa". Teka-teki Cinta Sang Pramusaji judulnya ;-)

Gw menemukan buku ini di Blitz Megaplex, dan.... kalau gw nggak iseng melototin baris demi baris sinopsisnya, gw nggak akan tahu bahwa ini adalah buku yang sudah berminggu2 gw cari. Coba deh, dengan tampilan di samping ini, plus judulnya yang ala 70-an banget, mana kepikir gw bahwa inilah terjemahan dari Q & A; cikal bakal pemenang 8 Piala Oscar, sekaligus Best Movie 2009: Slumdog Millionaire? Enggak banget kan ;-)? Wong judulnya mengingatkan gw pada film jadul Suci Sang Primadona... hehehe...

Hehehe... gw tahu bahwa buku ini pernah diterbitkan dengan judul Q&A, seperti judul aslinya. Dan tampaknya tidak cukup komersil di Indonesia. Makanya diterbitkan lagi dengan judul yang berbeda. Tapi..... "Teka-teki Cinta Sang Pramusaji"??? Plis deh... hehehe... Gw kira judul ini sama "enggak banget"-nya ;-)

Gw duga, sumbangan judul Q&A terhadap tingkat penjualan buku ini memang rendah karena - salah satunya - ini adalah judul yang sejauh2nya diasosiasikan dengan Lembar Kerja Siswa atau Kisi-kisi ;-) Siapa yang mau baca? Tapi mengubahnya menjadi TTCSP nggak banyak membantu juga, kaleeee .... ;-) Kedengarannya jadul, dan kayak TTS ;-)

Menterjemahkan Question sebagai Teka-teki saja menurut gw sudah menyalahi esensinya ;-) Walaupun question dan teka-teki sama2 merupakan sesuatu yang perlu dijawab, tapi bedanya beberapa tahun cahaya deh antar kedua istilah itu! Teka-teki mengacu kepada suatu misteri. Teka-teki harus dipecahkan dengan mengintegrasikan petunjuk2 yang ada. Question, alias pertanyaan, jauuuh lebih simpel. Tidak perlu dipecahkan, cukup dijawab sejauh yang diketahuinya. Memang ada unsur penalaran juga dalam menjawab pertanyaan, tetapi penalarannya tidak sekompleks memecahkan teka-teki. Gampangnya.... teka-teki itu mengandung pertanyaan, tetapi pertanyaan belum tentu teka-teki ;-)

Dan... dalam buku ini (setidaknya sekilas gw membaca serta hasil nonton filmnya yang adaptasinya longgar banget ;-)) bercerita tentang question, bukan teka-teki. Bercerita tentang suatu simplicity behind the grand thing. Itu kan esensi ceritanya? Kenapa jadi dirumit2kan menjadi "teka-teki" ;-)?

Gw pikir, Slumdog Millionaire memang justru merupakan interpretasi yang tepat terhadap kisahnya. As simple as that; bagaimana seorang gembel bisa menjadi milyarder.

Hehehe... nggak tahu juga sih, apakah kalau judulnya "Milyarder Gembel" akan berasa lebih tepat daripada "Teka-teki Cinta Sang Pramusaji". Nanti deh, gw baca dulu bukunya, terus gw resapi dalam2 setiap bagiannya, ... siapa tahu muncul insight judul yang tepat untuk terjemahan bahasa Indonesianya ;-)

Tuesday, July 14, 2009

*** Katakan Dengan Indah

Pada beberapa waktu terakhir ini, gw mengalami suatu turmoil yang membuat gw merasa terjebak dalam sebuah labirin tak berujung (halah, lebay!). Masalahnya sederhana, tapi dampaknya dahsyat, man! Salah satu dampak yang terasakan oleh gw adalah fluktuasi mood yang sangat intensif. Sedemikian fluktuatifnya, sehingga gw akhir2 ini sering tidak menyelesaikan draft posting yang gw buat ;-)

So... hitungan kasar aja, kalau tulisan di blog gw rata2 panjangnya 3 halaman, maka fluktuasi mood terjadi pada halaman ke 1 atau 1,5... hehehe....

Jangan salah, banyak sudah upaya yang gw lakukan untuk menanggulanginya. Salah satunya dengan membakar berbotol2 aromatherapy wangi melati yang biasanya OK banget untuk menyeimbangkan mood gw. Udah berlibur juga seminggu sama anak2 gw, tetapi... setelah liburan usai, ya kembali lagi berfluktuasi ;-)

Gw tahu, semua cara ini nggak berhasil karena core problem-nya tidak dapat diselesaikan dengan cara2 itu. Cara2 yang gw lakukan hanya menghilangkan simtom, tapi tidak problemnya. Ada memang, satu cara yang gw tahu untuk menyelesaikan core problem-nya. Tapiii.... setelah ditimbang2 lagi, penyelesaian cara seperti itu akan bertentangan dengan slogan pemilik iklan ini: karena yang akan terjadi adalah penyelesaian masalah dengan masalah baru... ;-)

So there I was. Merasa terjebak, putus asa. Merpatinya Skinner masih lumayan, punya tombol untuk dipatuk... hehehe... Lah, buat gw, tombolnya aja nggak ada. Jadi gw seperti hamster yang muter2 di rodanya tanpa jelas kapan sampai tujuan ;-)

Sampai kemudian gw baca tulisan Jeng Rima di FB ini. Tentang sebuah lagu dari Peterpan yang gw kenal dan gw suka juga. Gw emang suka dengan banyak lagu2nya Peterpan karena metaforanya "dalem". Tapi... untuk lagu ini, baru gw ngeh bisa diinterpretasikan sejauh yang Jeng Rima buat. Entah mana yang lebih hebat: Jeng Rima-nya, atau Peterpan... hehehe...
















Ku Katakan Dengan Indah - PeterPan

Eniwei... berikut potongan lagunya. Komplitnya di sini ;-)


Kau beri rasa yang berbeda
Mungkin kusalah mengartikannya
Yang kurasa cinta

Tetapi hatiku
Selalu meninggikan-Mu
Terlalu meninggikan-Mu
Selalu meninggikan-Mu

Kau hancurkan hatiku, hancurkan lagi
Kau hancurkan hatiku tuk melihat-Mu

Kau terangi jiwaku
Kau redupkan lagi
Kau hancurkan hatiku tuk melihat-Mu

Membuatku terjatuh dan terjatuh lagi
Membuatku merasakan yang tlah terjadi
Semua yang terbaik dan yang terlewati
Semua yang terhenti tanpa kuakhiri


So true :-)

Lagu ini dapat dibaca sebagai sebentuk komunikasi dengan Dia. Betapa kita sering salah mengartikan "cinta". Kita selalu mengira bahwa "cinta" berarti memberikan kenyamanan dan kebahagiaan, tapi kadang "cinta" datang dengan rasa yang berbeda. Rasa yang mungkin salah kita artikan

*walaupun kembali lagi sih bisa dipertanyakan apakah kita salah mengartikan rasa cinta, atau emang dari awal definisi kita tentang cinta sudah salah... halah! Dibahas! HAHAHAHA...*

Dan karena itu, kalau Jeng Rima kemudian mengaitkan lagu ini dengan QS 33: 43, pada Dia yang mengeluarkan dari kegelapan, gw malah lebih teringat pada hal yang berbeda ;-) Pada bagaimana Dia sering membuat kita terjatuh, dan terjatuh, dan terjatuh, dan terjatuh lagi supaya kita kuat.

Setelah segala upaya yang gagal, I feel a lot better listening to the song with the new interpretation. Karena gw sekarang melihat labirin yang gw jalani, rasa yang gw alami, sebagai "cinta".


Membuatku terjatuh dan terjatuh lagi
Membuatku merasakan yang tlah terjadi
Semua yang terbaik dan yang terlewati
Semua yang terhenti tanpa kuakhiri


Karena "cinta" tidak selalu berarti mendapatkan apa yang kita inginkan. Seringkali, "cinta" adalah mendapatkan apa yang tidak kita inginkan, tetapi kita butuhkan ;-) That which does not kill us makes us stronger, seperti kata Nietzsche ;-)

Thanks Rim, for the beautiful writing... and the beautiful insight ;-)

Wednesday, July 08, 2009

Jangan Pernah Memilih

Judulnya memang provokatif. Dan momen penayangannya paaasss... banget dengan the so-called Pesta Demokrasi hari ini. Tapi.... janji deh, posting ini bukan kampanye golput. Berkaitan dengan pemilu aja enggak ;-)

Posting ini timbul gara2 kemarin sore, di tengah kemacetan pulang, mobil gw terjebak di belakang bis segede gaban. Daaaan... ada yang aneh di bagian belakang bis itu: yaitu iklan bergambar perempuan2 yang di atas/di dadanya ada tulisan2. Teruuusss.... di bawahnya, ada tulisan penegasan: Banyak Pilihan untuk Anda dari Kerabat

Langsung dong, keluarkan hape berkamera untuk memotret untuk di blog ;-) Persisnya iklannya seperti ini deh:




Hihihi... gw jadi ingat ribut2 beberapa waktu lalu tentang iklan sebuah provider komunikasi. Waktu itu, iklan tersebut menimbulkan keberatan sebagian aktivis perempuan karena dianggap melecehkan ;-) Seolah2 perempuan ada harganya, dan harganya murah ;-)

Kira-kira iklan yang ini akan dipermasalahkan juga nggak ya ;-)? Kalau menurut gw, harusnya sih iya ;-) Ini kan juga bisa diinterpretasikan sebagai pelecehan, walaupun nggak dilabeli harga. Dasar pemikirannya adalah menempatkan perempuan sebagai "barang pilihan" ;-) Seolah2 perempuan itu bisa dijejer di etalase kaca, siap untuk dipilih ;-)

Emang harus ya, pakai model2 perempuan untuk menyimbolkan alternatif pilihan dalam sebuah iklan ;-)? Hayooo... ditunggu komentar2 dari para pembela harkat kewanitaan ;-)

Jadi inget lagunya Iwan Fals ;-)

Jangan pernah memilih
Aku bukan pilihan

Tak perlu memilihku
Aku lelaki perempuan bukan 'tuk dipilih!

Eh... kalimat terakhir yang dimodifikasi itu bukan sebentuk kampanye anti kandidat tertentu lho... hehehe...

***

Bicara soal iklan dan model, yang di bawah ini bukan buat dipilih ;-) Cuma buat dipamerkan. Seperti lagunya Ellya Khadam boneka cantik dari India; boleh dilirik, tak boleh dibawa... hehehe....

My New Zealander niece and nephew recently became models for the paediatric nurses career choice on the Careers website. Below are Ciara and Tiernan in action ;-)




Both pictures are by courtesy of Andrew Woodsworth - Hospital Nurse page
(click here for slow connection)


Cantik dan ganteng ya... keponakan2 gw ;-)

I suggest my cousin to ship them to Indonesia in the near future... to become movie stars... HAHAHAHA.... Kan di Indonesia tampang2 indo laku keras ;-) Siapa tahu hokkie gw jadi manager mereka ;-)

Thursday, July 02, 2009

Disonansi

Ini jangka waktu terlama blog gw nggak dimutakhirkan. Beberapa kali bikin draft, tetapi selalu dorongan emosionalnya menguap sebelum tulisan usai. Padahal ide berdatangan dari mana saja. Seperti Tante JJ yang nggak capek2nya ngomporin gw untuk nulis tentang KCB ;-) Tapi, biarpun sampai berbusa si Tante ngomporin gw, tetap aja gw bergeming. Habis gimana dong? Gw mendapatkan dorongan emosional untuk baca novelnya aja enggak, apalagi nonton filmnya... hehehe...

*Hehehe... jadi ingat Jeng Linda yang pernah getol banget minta gw nge-riviu AKAA, sampai bela2in beliin gw DVD-nya... yang tetap belum gw tonton sampai sekarang... Ampuuun, Lind, DVD-nya mau gw balikin aja nggak ;-)?*

Well... buat gw emang nulis blog itu seperti buang angin atau buang air - besar maupun kecil ;-) Kalau nggak kebelet, biar pun dipaksa2 ya nggak bisa. Tapi... kalau udah kebelet, ditahan2 juga nggak bisa ;-) Dan ternyata... setelah selama nyaris 3 minggu mengalami "sembelit blog", akhirnya gw kebelet nulis juga. Gara2 berita ini ;-)

Berita ini, menurut gw lucu banget! Tapi nggak tahu mana yang lebih lucu: si Bujang yang menginterpretasikan secara bebas lagu lawas ini sebagai "Jangan Ada Dusta [Password FB] di Antara Kita", si Parah yang segitu kepo-nya buka2 FB pacarnya, atau pihak2 yang bersedia memproses aduan si F-girl yang merasa dicemarkan nama baiknya. Tapi.... menurut gw, melaporkan sebuah tulisan di FB-nya dengan tuduhan pencemaran nama baik aja udah lucu. Apalagi kalau tulisan di wall itu bunyinya seperti ini:

Hai...Lu ngga usah ikut campur. Gendut, kaye tante2, ngga bs gaya. Emang lu siapa. Urus aja diri lu kaya... So cantik, ga bs gaya. Belagu. Nyokap lu ngga sanggup beliin baju buat gaya ya, makanya lu punya gaya gendut, besar lu, kaya lu yg bagus aja. Emang lu siapanya UJ. Hai gendut


Bentar... sebelum gw diadukan ke polisi dengan tuduhan menyebarluaskan sebuah pencemaran nama baik, gw mau bilang dulu bahwa menurut gw kalimat ini nggak bisa dikategorikan sebagai pencemaran nama baik. Dikatakan sebagai menghina sih boleh, tapi... pencemaran nama baik?? It's a long shot, dude ;-)

Gw sih nggak ngerti2 amat hukum, apalagi hukum di Indonesia ya. Tapi... kalau menurut tata bahasa Indonesia, paling tidak dari dua referensi berikut, pencemaran nama baik itu adalah: mengeluarkan pernyataan yang tidak benar baik secara lisan (slander) maupun tertulis (libel).

Perhatikan obyek pada kalimat tersebut, yang jelas2 mengatkan: pernyataan yang tidak benar. Jadi, inti dari pencemaran nama baik adalah adanya suatu pernyataan yang [dapat diperdebatkan] kebenarannya.

Selanjutnya, pada Pasal 310 KUHP ayat 1 (bisa dilihat di tautan ini), malah sudah dikerucutkan lagi sebagai berikut:

(1) Barangsiapa sengaja merusak kehormatan atau nama baik seseorang dengan jalan menuduh dia melakukan sesuatu perbuatan dengan maksud yang nyata akan tersiarnya tuduhan itu, dihukum karena menista, dengan hukuman penjara selama-lamanya sembilan bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp 4.500,-.


Perhatikan lagi inti dari Pasal 310 ayat 1 tersebut secara tata bahasa Indonesia: merusak kehormatan/nama baik dengan menuduh melakukan sesuatu perbuatan dengan maksud yang nyata akan tersiarnya tuduhan itu.

Coba endapkan definisi2 hukum tersebut, lantas bandingkan dengan kata2 di wall FB yang dijadikan dasar pelaporan. Sekarang, coba jawab pertanyaan gw berikut ini: bagian mana dari tulisan itu yang berupa tuduhan yang dimaksudkan untuk tersiar kemana2?

Benar, memang Wall FB itu bisa dibaca khayalak ramai. Tapi pada dasarnya Wall FB itu adalah komunikasi interaktif antara si empunya dan "teman2nya". Wall FB adalah komunikasi personal yang [meminjam istilah seorang teman] dipublikkan. Jadi, kalau si A mengata2i si B di wall FB-nya B sendiri, it's just a direct [written] communication. It's hardly intended as a bad campaign for B, even when it contains harsh and angry words. Beda ya... kalau si A mengata2in si C di wall-nya si B ;-) Naaah... kalau itu, baru deh bisa dikatakan sebagai bad campaign. Tapi... ini kan murni sebentuk makian dari pihak pertama kepada pihak kedua, yang kebetulan dilakukan di ruang semi publik? Susaaaah dibuktikan sebagai dimaksudkan untuk menyiarkan suatu tuduhan ;-)

Beda jauuuh lah, dengan kasus Mbak Prita ;-) Di kasus Mbak Prita, curhatnya sudah dimulai dengan mengatakan , "Jangan sampai kejadian saya ini menimpa ke nyawa manusia lainnya". Dengan pembukaan seperti ini, cukup kuat dasarnya untuk mengatakan bahwa tulisan ini dimaksudkan untuk menyiarkan cerita kepada pihak ketiga. Dengan demikian, ketika di paragraf2 berikutnya Prita mengeluarkan label2 seperti kata "tidak profesional" tanpa didukung data yang detil, ini dapat dikatakan sebagai tuduhan. Digabungkan dengan kalimat pembukanya, maka ini bisa dianggap sebagai black campaign.

Itu satu hal yang menurut gw meruntuhkan dasar tuduhan ;-)

Hal kedua, masih berkaitan dengan tata bahasa, gw agak kesulitan menemukan tuduhan mana yang dipermasalahkan. Sepemahaman gw pada definisi di atas, pencemaran nama baik itu hanya terjadi jika ada tuduhan tidak benar yang dapat mengarahkan pada pembentukan persepsi buruk yang tidak tepat. Dalam kasus Prita, gw ngerti kalau RS terkait kebakaran jenggot dengan kata2 semacam "dokter yang tidak profesional". Sebab, itu dapat menimbulkan persepsi buruk bahwa RS ini servisnya nggak becus.

Lha, di kasus wall FB ini, tuduhan mana yang akan memberikan dampak sedemikian dahsyatnya pada citra seseorang? Emang seberapa dahsyatnya sih dampak kalau teman2 loe melihat loe dituduh sebagai "suka ikut campur"? Atau "sok cantik"? Atau "nggak bisa gaya"? Atau "belagu"? Even kalau tuduhan yang dipermasalahkan adalah "nyokap loe gak sanggup beliin baju buat gaya", so what? Apa kerugian yang akan loe alami kecuali rugi harga diri ;-)?

Beda lho ya, kalau dengan tuduhan "tidak profesional" ;-) Tuduhan semacam ini dampaknya dahsyat, karena bisa membuat loe kehilangan klien ;-).

Kalau label2 seperti "gendut" dan "kayak tante2", gw sih nggak bahas ya ;-) Itu kan tuduhan fisik yang sangat dapat dibuktikan dengan sekali pandang ;-) Gw sih nggak tahu tampilan fisiknya si F-girl ini kayak apa. Tapi... kalau emang overweight, dikatain gendut ya berarti fakta dong? HAHAHAHA....

*Gw sih nggak kebayang seorang cewek akan mengata2i cewek lain yang potongannya Twiggy sebagai "gendut". Typical women might not be able to read maps, but they can judge the body of other women accurately ;-)*

So, menurut gw, seluruh berita ini sangat lucu ;-) Sebenernya nggak perlu mendengarkan saksi untuk drop the case ;-) Cukup camkan definisi2 hukum tentang pencemaran nama baik di atas, serta sedikit logika ;-)

***

On a more serious mode, menurut gw kasus ini menarik karena merupakan contoh mengenai Disonansi Kognitif. Disonansi ini terjadi manakala seseorang memiliki dua thoughts (baik berupa ide, maupun perasaan, maupun kepercayaan) yang berkonflik satu sama lain pada saat bersamaan. Disonansi akan menguat saat thought itu berkaitan dengan sesuatu yang penting bagi seseorang.

Maka, gw membayangkan si pelapor adalah seorang gadis yang punya masalah dengan penampilan fisik. Hinaan berupa kata2 bahwa dia "gendut, kayak tante2, belagu, gak bisa gaya" merupakan suatu hal yang menyakitkan. Kalau dalam keadaan biasa, mungkin akan terjadi catfight di FB ;-) Tetapi... gw bayangkan pula, si pelapor sudah terpengaruh opini publik mengenai case of the year: bagaimana Prita Mulyasari diadukan dan terpaksa menderita karena tulisan di internet. Mungkin saja ia termasuk tipikal pengguna internet Indonesia yang saat ini menjadi lebih hati2 menulis (atau bahkan tidak mau menulis sama sekali) lantaran takut "kena kasus".

Dan disonansi kognitif hanya dapat diselesaikan dengan 3 alternatif: mengubah perilaku, menjustifikasi perilaku dengan mengubah pandangan terhadap salah satu aspek yang berkonflik, atau menjustifikasi perilaku dengan menambahkan elemen kognisi baru.

Di antara ketiga alternatif tension release, menurut gw si pelapor mengambil cara ketiga: menjustifikasi perilaku dengan menambahkan elemen kognisi baru. Ia tidak mengubah keinginannya untuk membalaskan harga dirinya yang remuk redam, namun ia menambahkan satu elemen kognisi baru: daripada catfight, mendingan dia gw bikin menderita seperti Prita! Adukan saja atas pencemaran nama baik.

***

Bicara tentang disonansi kognitif, ada satu kasus lagi yang "dikomporin" oleh seorang teman untuk gw bahas. Kasus perseteruan seorang pemegang waralaba besar di Indonesia dengan pusat waralaba yang dimilikinya ;-) Kisruh bermula setelah pusat waralaba itu menjual aset tanpa ngobrol2 dengan si pemegang waralaba. Padahal si pemegang waralaba ini punya saham 10% di situ.

Terus terang sih gw bingung masalahnya dimana. Maklum, gw kan awam dalam bisnis. Sebagai orang awam, gw mengira pemegang controlling stake bisa melakukan apa aja. Setidaknya hasil baca2 novel dan nonton film sih gitu. Jadi, nggak salah juga kalau si Bapak itu tidak diminta pertimbangan.

Tergelitik, gw googling berita ini. Tapi malah tambah bingung membaca berita di sini. Tambah pusing lagi baca berita di sini, bahwa beliau tidak pernah untung sepeser pun. Lho, kok bisa belasan tahun nggak untung sepeser pun tapi tetap berkarya di situ?

Dan... karena semua sekarang tersedia di FB, gw pun mencari grup atau apa di FB tentang ini. Nemu Fan Page-nya, yang lumayan susah dicari karena memakai nama julukan (heran... kenapa nggak pakai nama asli sih? Biar lebih gampang dicari! Mungkin itu sebabnya fans-nya baru 15 orang... hehehe...)

Tapi... alih2 menemukan kejelasan, gw malah gatel berkomentar di kolom diskusinya... hehehe... Bukan apa2, tiga paragraf kisahnya malah berkutat pada bagaimana perjuangannya mendapatkan waralaba tersebut. Sementara jabaran tentang awal mula kisruhnya malah hanya dibahas sekilas dan ambigu ;-). Lho, gimana sih?

Dari tanggapan yang gw dapatkan atas tanggapan gw, katanya sih begini:

...pada awalnya kenapa disimpulkan "ruang gerak mulai dipersempit" yang dipakai, karena banyak hal menyangkut kebijakan2 internal perusahaan yang tidak etis untuk diungkapkan, sehingga rentetan kejadian demi kejadian yang ada dibungkus menjadi istilah tersebut diatas :)


OK, gw bisa mengerti bahwa ada hal2 yang tidak etis untuk diungkapkan ke publik. Tapi... tetap, menurut gw sih, kalau membuka diskusi bertajuk "Haruskah Perjalanan Bapak McD Indonesia Berakhir di Sini?", mau nggak mau memang harus menyajikan data yang bisa menggiring pembaca untuk mengatakan: TIDAK, tidak boleh berhenti sampai di sini.

Dan data itu terletak pada bagaimana sepak terjang dan jatuh bangunnya dalam menjalankan waralaba hingga kekisruhan terjadi. Bukan pada bagaimana usahanya mendapatkan waralaba tersebut. Ibaratnya, kalau terjadi dispute karena seorang pegawai di-PHK, maka data yang harus disajikan adalah mengenai bagaimana ia bekerja. Bukan tentang bagaimana perjuangannya lolos tes dan probation ;-)

We have to create the cognitive dissonance, that will lead the readers into changing their thought towards that person. Dan sebenarnya mungkin tidak perlu harus bicara tentang kebijakan2 perusahaan yang tidak etis untuk dipublikkan. Lebih ke arah memainkan emosi masyarakat tentang apa yang akan hilang dari kehidupan mereka jika mereka membiarkan perjalanan itu berhenti. Di pengadilan, biarkan pengacara bicara dengan bahasa hukum. Di fan page, gunakan bahasa dan sudut pandang yang lebih awam. Jangan bicara tentang - misalnya - bagaiman penjualan aset aktif itu akan mempengaruhi operasi. Pasar nggak akan mengerti itu! Tapi coba bicara tentang dampaknya jika aset itu dijual. Harga akan naik, mungkin, karena harus investasi beli aset baru ;-)? Menu2 tertentu akan hilang, mungkin, karena perubahan kepemilikan ;-)? Atau apa?

In a way, disonansi kognitif seperti ini yang membuat Prita Mulyasari mendapatkan dukungan luar biasa di dunia maya ;-) Karena yang di-blowup adalah cerita bahwa "curhat online saja kok dilaporkan ke polisi". Hal itu sukses membuat pengguna internet ketakutan akan kesejahteraan tulisan mereka sendiri, sehingga mendukung Prita. Pengguna internet mengidentifikasikan dirinya dengan Prita, sehingga alpa mempertimbangkan tentang bagaimana curhat itu dituliskan. Alpa mempertimbangkan bahwa bukan curhatnya yang dipermasalahkan, melainkan cara menuliskannya ;-)