Tuesday, July 14, 2009

*** Katakan Dengan Indah

Pada beberapa waktu terakhir ini, gw mengalami suatu turmoil yang membuat gw merasa terjebak dalam sebuah labirin tak berujung (halah, lebay!). Masalahnya sederhana, tapi dampaknya dahsyat, man! Salah satu dampak yang terasakan oleh gw adalah fluktuasi mood yang sangat intensif. Sedemikian fluktuatifnya, sehingga gw akhir2 ini sering tidak menyelesaikan draft posting yang gw buat ;-)

So... hitungan kasar aja, kalau tulisan di blog gw rata2 panjangnya 3 halaman, maka fluktuasi mood terjadi pada halaman ke 1 atau 1,5... hehehe....

Jangan salah, banyak sudah upaya yang gw lakukan untuk menanggulanginya. Salah satunya dengan membakar berbotol2 aromatherapy wangi melati yang biasanya OK banget untuk menyeimbangkan mood gw. Udah berlibur juga seminggu sama anak2 gw, tetapi... setelah liburan usai, ya kembali lagi berfluktuasi ;-)

Gw tahu, semua cara ini nggak berhasil karena core problem-nya tidak dapat diselesaikan dengan cara2 itu. Cara2 yang gw lakukan hanya menghilangkan simtom, tapi tidak problemnya. Ada memang, satu cara yang gw tahu untuk menyelesaikan core problem-nya. Tapiii.... setelah ditimbang2 lagi, penyelesaian cara seperti itu akan bertentangan dengan slogan pemilik iklan ini: karena yang akan terjadi adalah penyelesaian masalah dengan masalah baru... ;-)

So there I was. Merasa terjebak, putus asa. Merpatinya Skinner masih lumayan, punya tombol untuk dipatuk... hehehe... Lah, buat gw, tombolnya aja nggak ada. Jadi gw seperti hamster yang muter2 di rodanya tanpa jelas kapan sampai tujuan ;-)

Sampai kemudian gw baca tulisan Jeng Rima di FB ini. Tentang sebuah lagu dari Peterpan yang gw kenal dan gw suka juga. Gw emang suka dengan banyak lagu2nya Peterpan karena metaforanya "dalem". Tapi... untuk lagu ini, baru gw ngeh bisa diinterpretasikan sejauh yang Jeng Rima buat. Entah mana yang lebih hebat: Jeng Rima-nya, atau Peterpan... hehehe...
















Ku Katakan Dengan Indah - PeterPan

Eniwei... berikut potongan lagunya. Komplitnya di sini ;-)


Kau beri rasa yang berbeda
Mungkin kusalah mengartikannya
Yang kurasa cinta

Tetapi hatiku
Selalu meninggikan-Mu
Terlalu meninggikan-Mu
Selalu meninggikan-Mu

Kau hancurkan hatiku, hancurkan lagi
Kau hancurkan hatiku tuk melihat-Mu

Kau terangi jiwaku
Kau redupkan lagi
Kau hancurkan hatiku tuk melihat-Mu

Membuatku terjatuh dan terjatuh lagi
Membuatku merasakan yang tlah terjadi
Semua yang terbaik dan yang terlewati
Semua yang terhenti tanpa kuakhiri


So true :-)

Lagu ini dapat dibaca sebagai sebentuk komunikasi dengan Dia. Betapa kita sering salah mengartikan "cinta". Kita selalu mengira bahwa "cinta" berarti memberikan kenyamanan dan kebahagiaan, tapi kadang "cinta" datang dengan rasa yang berbeda. Rasa yang mungkin salah kita artikan

*walaupun kembali lagi sih bisa dipertanyakan apakah kita salah mengartikan rasa cinta, atau emang dari awal definisi kita tentang cinta sudah salah... halah! Dibahas! HAHAHAHA...*

Dan karena itu, kalau Jeng Rima kemudian mengaitkan lagu ini dengan QS 33: 43, pada Dia yang mengeluarkan dari kegelapan, gw malah lebih teringat pada hal yang berbeda ;-) Pada bagaimana Dia sering membuat kita terjatuh, dan terjatuh, dan terjatuh, dan terjatuh lagi supaya kita kuat.

Setelah segala upaya yang gagal, I feel a lot better listening to the song with the new interpretation. Karena gw sekarang melihat labirin yang gw jalani, rasa yang gw alami, sebagai "cinta".


Membuatku terjatuh dan terjatuh lagi
Membuatku merasakan yang tlah terjadi
Semua yang terbaik dan yang terlewati
Semua yang terhenti tanpa kuakhiri


Karena "cinta" tidak selalu berarti mendapatkan apa yang kita inginkan. Seringkali, "cinta" adalah mendapatkan apa yang tidak kita inginkan, tetapi kita butuhkan ;-) That which does not kill us makes us stronger, seperti kata Nietzsche ;-)

Thanks Rim, for the beautiful writing... and the beautiful insight ;-)