Sunday, November 23, 2008

Midnight with Ima

Manakala Ayahnya Ara dan Bundanya Naila baru mengalami saat pertama nonton bioskop bersama si buah hati, gw justru sudah memasuki babak2 terakhir kisah itu ;-) Film yang ditonton boleh sama dengan pilihan Naila, tapi... kelihatan kan siapa yang senior dalam masalah parenthood ini ;-)?

Ya, gw justru sedang menikmati saat2 terakhir Ima menganggap nonton bioskop bersama ibunya itu sesuatu yang cool. Sejak kelas 6 SD, gw merasa nonton bareng ortu itu nggak cool, dan mengingat Ima sekarang kelas 4, do the math lah! Makanya, waktu Ima mencanangkan nonton High School Musical 3 sejak pertama melihat teaser-nya, gw langsung setuju. Dalam rangka menikmati saat2 masih dianggap fun-to-be-with.

Gw janjikan nonton bareng pada hari pertama diputarnya film ini, Rabu, 29 Oktober 2008, Namun, Sabtu sebelum tanggal yang dijanjikan, gw & Ima kelayapan di Setiabudi One. Iseng2 lihat bioskop, lho... pemutaran perdananya ada di situ! Jam 23:35, alias setengah jam sebelum tengah malam. Malem banget yaks?

Seumur2, gw belum pernah nonton tengah malem di bioskop. Dan sebenernya nggak niat juga menambah porto-folio gw dengan "berpengalaman" nonton tengah malem di bioskop. Menurut gw, itu penyiksaan diri yang nggak perlu. Bayangin, jam 11 malem mesti nyetir di tengah gelap dan sepinya malam, untuk kemudian terkantuk2 memaksa mata melek sampai jam 2 pagi. Tapi.... karena Ima pasang wajah sendu, yaaah... akhirnya terpaksa gw beli tiket juga.

Gw sadar banget bahwa film ini merupakan salah satu milestone penting bagi pergaulan Ima sejak penghujung tahun lalu, Dengan demikian, being the first to watch adalah sangat penting artinya buat anak gaul kronis semacam Ima ;-) Dan, suka nggak suka, kalau gw pingin dianggap fun-to-be-with oleh anak gw yang gaul kronis, konsekuensinya gw mesti mau nonton midnight.

Begitulah! Akhirnya, diiringi doa dari eyang dan bapaknya anak2 supaya aman di perjalanan, gw bersikap heroik mengantarkan putri tercinta nonton pemutaran perdana filmnya "anak gaul". Berangkat jam 22:45, nyetir pelan2 biar aman (secara, nggak sampai sebulan sebelumnya, bapaknya anak2 baru kena musibah: taksi yang ditumpanginya ditabrak preman mabok di Jembatan Jatinegara, dan nyaris saja taksi itu dibakar preman lainnya kalau nggak ada polisi lewat). Terkantuk2 di bioskop sepanjang film. Dan pulang bareng maling berangkat kerja, alias jam 2 pagi, tetap dengan nyetir pelan2.

Tapi semua itu terbayar dengan kegembiraannya Ima, yang tak putus berceloteh tentang betapa asyik filmnya... dan betapa dia akan jadi source of reference Senin nanti - sebagai orang pertama yang nonton film yang lagi happening banget itu ;-)

*yah... sebenernya dia berceloteh juga tentang betapa ganteng Troy di film itu, tapi kuping gw udah punya sensor. Begitu ada kata "Troy" disandingkan dengan kata "ganteng", langsung kuping gw berbunyi, 'TiiiiT'" ;-)*

Kalau nyontek salah satu lagu di HSM sih, pengalamannya malam itu adalah:

Big fun, on the night of nights
...
It's gonna be a night to remember
It's gonna be the night to last forever

***

Senin malam, gw tentu minta laporan pandangan mata atas hasil jerih payah gw Sabtu sebelumnya. Gw ingin tahu bagaimana kesan2 Ima menjadi sumber informasi mengenai film itu. Seperti diduga, memang Ima satu2nya yang sudah nonton. Nggak banyak memang ibu2 yang rela nonton midnight bareng anaknya... HAHAHAHA... She had a good time menceritakan jalannya film, dan menjawab pertanyaan teman2nya. Maklum, sebelumnya, sudah banyak beredar spekulasi dan gosip tentang jalan ceritanya.

Tapi ada satu pertanyaan khusus yang membuat gw tergerak menuliskannya di sini:

"Tadi si Nesia [bukan nama sebenarnya] tanya, di HSM-3 ada ciumannya apa nggak. Ya aku jawab ada, kan Troy sama Gabriela ciuman, habis dansa. Terus dia jadi sedih, karena berarti dia nggak akan boleh nonton HSM-3 sama mamanya. Mamanya galak, dia nggak boleh nonton film yang ada ciumannya"

Hahaha... kalau nonton film yang ada ciumannya aja nggak boleh, gw nggak kebayang reaksi ibu temannya Ima ini kalau tiba2 anaknya nanya bedanya Lip Lock dan Tongue Tango ;-) Bisa disuwir2 kali, anaknya itu setelah sebelumnya dikuliti, dikasih bumbu, sembari direbus hidup2 ;-)

Hareee geneeee... masa dimana informasi terbuka seluas2nya, sampai kadang terlalu luas, masih pakai pola lama "membatasi" dan "menabukan" apa yang boleh dilihat atau tidak dilihat anak? Hmm... itu menimbulkan bahaya laten. Anak bisa dengan gampang cari info lewat jalan belakang, yang malah nggak bisa kita antisipasi hasilnya. Gw sih terus terang malah ngeri beberapa tahun lagi si anak malah nggak terkendali, karena terlalu banyak dikekang sekarang.

Pola pengasuhan model authoritarian seperti ini ternyata memang masih banyak. Di sekolahnya Ima, gw masih sering banget menemukan orang tua seperti ini. Orang tua yang punya sederet aturan detil bagi anak2nya. Dan orang tua si Nesia ini salah satunya.

Di satu sisi, memang akhirnya Nes ini jadi anak berprestasi. Walaupun gw yakin bahwa kecerdasannya hanya rata2 normal (well, sisa2 kemampuan gw mendeteksi tingkat intelegensi orang masih ada... hehehe... meskipun gak praktek jadi tukang psikolog ;-)), tapi selalu masuk 3 Besar di kelas. Mengalahkan banyak anak2 yang gw tengarai memiliki tingkat intelegensi lebih tinggi... termasuk Ima yang peringkatnya cuma di kisaran 10 Besar.

Ya gimana si Nes ini tidak berprestasi [akademik] tinggi? Wong di-drill dengan ketat oleh ortunya. Pulang sekolah, sederet les sudah menanti. Les mata pelajaran. Nonton TV hanya boleh 1 jam setiap hari. Sisanya belajar. Apalagi kalau musim ulangan! Dan kalau nilai ulangannya di bawah SKBM (= standar kecakapan belajar mengajar), maka hukuman sudah menanti.

Kok gw bisa tahu? Lha, ortunya sendiri yang pernah cerita sama gw ;-) Waktu itu kami sedang ngobrol tentang bagaimana anak belajar di rumah. Obrolan yang bikin mulut gw mengatup dengan rapat... hehehe... Bukan karena gw minder, tapi daripada gw nyolot dan nyilet2 pola authoritarian mereka ;-)

Gw sendiri berusaha menerapkan authoritative parenting, walaupun terkadang terpeleset juga jadi permissive parenting ;-) Gw berusaha membebaskan anak gw, tapi juga bukannya nggak punya aturan. Konsekuensinya, Ima dengan enteng pernah khataman baca Detektif Conan walaupun besoknya ulangan umum. Hasil ulangannya? Nggak mengecewakan sih, tapi gw yakin dia bisa dapat nilai lebih tinggi kalau malamnya belajar lebih tekun ;-)

Prestasi akademis yang lebih rendah daripada kemampuannya, itu [salah satu] harga yang mesti gw bayar dalam upaya jadi ortu yang otoritatif ini. Kadang bikin deg2an juga, karena takut Ima ini tergolong underachiever.

Namun, akhirnya gw makin mantap berada di jalur ini setelah terbukti bahwa prestasi akademis Ima yang nggak luar biasa tergantikan dengan prestasi di bidang lain. Ima jelas bukan underachiever seperti yang gw khawatirkan; hanya saja minatnya bukan melulu di bidang akademis. Dia mencoba banyak hal, berhasil di banyak hal. Tidak menjadi si kuper yang hanya tahu mencetak nilai 10 di sekolah, tapi nggak tahu apa2 di luar textbook.

Salah satu prestasi luar sekolah Ima baru2 ini adalah.... memenangkan sebuah antioxidant water maker! Benar, bahwa kemenangannya ini "cuma" karena dia menjawab benar selembar kuis dari produsen antioxidant water maker tersebut. Benar juga, bahwa lantaran ini bukan lomba sains serius, maka nggak semua ortu teman sekelasnya serius meng-encourage anaknya untuk mengisi dengan akurat. Tapi.... ada satu hal yang harus dicatat: Ima menjawab SEMUA pertanyaan dengan tepat. Dan yang harus dicatat pula: Ima mendapatkan pengetahuan mengenai anti-oxidant itu HANYA dari ikutan ngintip gw bikin report.

Yup! Kebetulan sekali, seminggu sebelumnya gw membuat laporan penelitian yang sedikit banyak menyinggung mengenai anti-oxidant. Seperti biasa, Ima kadang2 ikut duduk di samping gw dan tanya ini-itu. Dan seperti biasa, gw jawab sambil lalu. Tak disangka, jawaban sambil lalu gw itu terpateri di benak Ima dan membantunya memenangkan produk tersebut.

Tak habis2 gw bayangkan: jika gw menggunakan pola authoritarian, apa jadinya Ima sekarang? Pasti dia tidak mungkin dengan enteng tanya ini-itu. Mungkin dia jadi juara kelas, jadi juara umum, atau malah jadi bintang pelajar se-kelurahan ;-) Tapi dia nggak akan tahu apa2 tentang anti-oxidant.

Kembali ke soal High School Musical 3. Sekarang memang gw nggak tahu apa gunanya Ima nonton film ini, sampai bela2in nonton pemutaran perdananya. Tapi... gw yakin semua hal itu berkaitan. Seperti efek kupu-kupu lah! Hal kecil yang gw lakukan dan izinkan saat ini, pasti ada gunanya di masa depan.

Sama seperti gw nggak pernah tahu apa yang bikin Ima hobby nongkrongin gw bikin report dan tanya ini-itu. Gw nggak pernah merencanakan itu, hanya berusaha sebaik2nya menjadi best-buddy. Tapi ternyata toh itu membuat Ima berani tanya. Dan pada akhirnya, tanya-jawab sambil lalu mengenai anti-oxidant itu, yang nggak ada kaitannya sama sekali dengan pelajaran sekolah itu, ternyata beberapa minggu kemudian terbukti membantu Ima meraih prestasi yang lain ;-)

So, biarin aja deh... anak2 tuh terbuka minatnya ;-) Dukung aja, jangan banyak aturan ini-itu. Saat ini mungkin nggak kelihatan gunanya, tapi.... bukan berarti nggak ada gunanya ;-)

Sunday, November 16, 2008

How to Read UUP... without Getting Mad about It

OK, ternyata UUP masih happening. Tempo edisi 10 November 2008 masih membahasnya. Kirain udah basi, tergulung berita tentang kemenangan Obama dan eksekusi mati Amrozy cs ;-) Dan karena masih happening, gw publikasikan deh draft yang sempat gw bikin tentang ini.

Gw termasuk nggak terlalu peduli UUP disahkan atau tidak. Gw nggak akan mati2an membela kalau ada yang ingin membatalkan pengesahannya, dan kemudian menggantinya dengan UUP yang lebih baik, karena gw melihat UUP ini belum sempurna. Tapi gw juga nggak akan mati2an ikut berjuang minta pengesahannya dibatalkan, karena gw melihat UUP ini (dengan segala ketidaksempurnaannya) sebagai langkah pertama yang bagus.

Ya, karena cara gw membaca dan meletakkan UUP ini [mungkin] berbeda dengan banyak orang, maka gw nggak melihat UUP ini sebagai ancaman terhadap keberagaman budaya. Gw bahkan melihatnya sebagai semacam garansi keamanan dalam berbudaya dan bermasyarakat. Pasal2nya multi-tafsir? Nggak juga tuh. Pasal2 itu menjadi multi-tafsir jika kita membaca UUP seperti soal matematika: urut dari depan ke belakang... hehehe... Dimana bagian pertama menjadi bagian yang paling penting, dan kalau nggak jelas harus berhenti di sana ;-)

Emang gimana sih gw membacanya?

Hmm... yang jelas, gw meletakkan UUP ini dalam konteks kegunaannya. Jadi, gw selalu melihat UUP ini sebagai instrumen untuk menyelesaikan perbedaan nilai budaya masyarakat - dimana nilai2 itu berpotensi menimbulkan benturan2 budaya, sehingga memperbesar potensi konflik. Itu hal mendasar yang selalu gw camkan di kepala gw.

Jika pornografi adalah delik aduan (= dapat diproses secara hukum jika ada pengaduan dari yang merasa dirugikan), maka gw akan mulai membaca UUP ini dari Pasal 22. Kenapa? Karena Pasal 22 ini adalah pembatasan hak dan wewenang seorang penggugat. Secara spesifik Pasal 22 sudah menyebutkan bahwa hak dan wewenang masyarakat hanya melaporkan/menggugat suatu tindak yang dianggapnya pornografi, atau menyosialisasikan UUP/melakukan pembinaan terhadap bahaya dan dampak pornografi. Malah, pada Pasal 22 ayat 2, lebih ditegaskan lagi bahwa sosialisasi dan pembinaan itu harus dilakukan secara bertanggung jawab.

Jadi, tidak seperti banyak orang lainnya, gw tidak nyolot dengan Pasal 22 ini - apalagi menganggapnya membuka kemungkinan sweeping ;-) Justru, menurut gw, pasal ini memberikan kepastian hukum bahwa yang sewenang2 melakukan tindakan sweeping dapat kita mintai pertanggungjawaban secara hukum.

Lha, kalau memberi kepastian hukum, kenapa yang dibilang harus dilaksanakan dengan bertanggung jawab hanya menyosialisasikan UUP dan membina terhadap dampak/bahaya pornografi saja? Kenapa menggugat dan melaporkannya tidak? Ini adalah pertanyaan yang diajukan oleh seorang teman untuk "menyadarkan" gw bahwa gw buta kalau tidak melihat UUP ini sebagai kesewenang2an ;-) Bukannya melek, gw malah ngetawain dia... hehehe... Sebab, menurut gw pertanyaan ini konyol! Melaporkan dan menggugat itu sudah pasti dilakukan dengan bertanggung jawab ;-) Kalau si A merasa si B melakukan pornografi, dan dia melaporkan/menggugatnya, pasti laporan/gugatan si A itu diajukan pada pihak ketiga yang berwenang. Tidak ada interaksi antara si A dengan si B secara langsung yang dapat menimbulkan tindakan tidak bertanggung jawab, kan ;-)?

Beda dengan jika si A berusaha menyosialisasikan UUP kepada si B, atau berusaha membina si B tentang bahaya/dampak pornografi. Dalam membina/menyosialisasikan, si A pasti berinteraksi langsung dengan si B, dan itu rentan terhadap tindakan tidak bertanggung jawab. Si A bisa saja terprovokasi (meskipun si B tidak bermaksud memprovokasi), dan menjadi gelap mata. Makanya harus ditekankan bahwa tindakan itu harus dilakukan secara bertanggung jawab. Get it ;-)?

Jadi jangan dibaca sebagai terbalik, bahwa pemerintah sengaja hanya menekankan tanggung jawab pada sebagian pasal. Sengaja membuka peluang tindakan anarki ;-)

***

Karena di kepala gw sudah tercamkan bahwa UUP ini adalah instrumen untuk menyelesaikan benturan kebudayaan, yang terbayang oleh gw adalah UUP ini muncul saat ada dua atau lebih orang/kelompok berserikat dan berkumpul berbeda pendapat tentang perilaku seseorang/sekelompok orang. Kita sebut saja si B sering melakukan suatu perilaku yang bisa dianggap pornografi oleh sebagian orang.

Naaah... siapa pun yang pernah melihat si B berperilaku seperti ini, dan merasa berkeberatan, berhak untuk melaporkan si B kepada pihak yang berwajib. Dasar pelaporannya adalah Pasal 5 - 12. Boleh pilih pasalnya yang mana, yang penting bisa menjelaskan kenapa menganggap tindakan itu adalah pornografi. Darimana batasan pornografinya? Ya gunakan Pasal 1 dan Pasal 4.

The infamous Pasal 1 butir 1 itu kan bunyinya jelas:

Pornografi adalah materi seksualitas yang dibuat oleh manusia dalam bentuk gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, syair, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan komunikasi lain melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang dapat membangkitkan hasrat seksual dan/atau melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat.

Banyak yang bilang bahwa Pasal 1 butir 1 ini nggak jelas. Menurut gw, ini sudah terang benderang seperti bintang di langit gelap ;-). Kita bahas ya ;-)

Mereka yang nggak setuju dengan UUP mengatakan bahwa kata "dapat membangkitkan hasrat seksual" itu ambigu. Apa yang dapat membangkitkan hasrat seksual pada tiap orang berbeda. Pendapat mereka betul ;-) Tapi tidak tepat dijadikan argumen ;-) Sebab, kalau kita menggugat seseorang dengan dasar "materi seksual yang dapat membangkitkan hasrat seksual", maka kita harus membuktikan bahwa materi itulah yang membangkitkan hasrat seksual. Kita harus dapat membuktikan bahwa bukan manusianya yang mudah terbangkitkan.

Pernah baca peringatan di bungkus rokok? Bunyinya "Merokok dapat menyebabkan impotensi, gangguan kehamilan, dan janin". Kenapa peringatan itu ada di tiap bungkus rokok? Jawabannya: ya karena sudah terbukti secara signifikan bahwa rokok dapat membuat si perokok impoten. Apakah semua yang merokok jadi impoten? Tentu tidak, karena banyak faktor yang bisa membuat seseorang tidak impoten walaupun merokok. Apakah semua yang tidak merokok pasti tidak impoten? Nggak juga, karena ada faktor2 lain yang menyebabkan impotensi. Tapi yang jelas, kalau sekelompok orang kondisinya disamakan, maka terbukti secara signifikan bahwa resiko impotensinya berbanding lurus dengan jumlah rokok yang diisap.

Jadi, menurut gw, argumen bahwa "dapat membangkitkan hasrat seksual" ini ambigu adalah argumen yang lemah. Kalau ada yang menggugat bahwa perilaku si B (atau si B ditangkap karena dituduh perilakunya) dapat membangkitkan hasrat seksual, maka harus ada pembuktiannya toh ;-)? Tinggal diujikan laboratoris aja, apakah perilaku yang dipermasalahkan ini memang secara signifikan dapat membangkitkan hasrat seksual ;-)

Gimana ngukurnya? Hmmm.... kalau untuk cowok, salah satu alternatifnya adalah menggunakan Erection Hardness Scale ;-) Gampang toh ;-)? Tentu samplingnya harus bener ya! Jangan sampai pakai EHS, tapi sample-nya penderita impotensi ;-)

Tapi gw rasa kecil kemungkinannya kita harus melakukan pengukuran untuk membuktikannya. Karena, dalam Pasal 4 sudah dengan jelas dipersempit mengenai hal2 apa yang dianggap pornografi (=dapat membangkitkan hasrat seksual dan/atau melanggar nilai2 kesusilaan). Di luar hal2 yang disebutkan itulah yang lantas menjadi dispute.

Ada seorang teman yang memberikan pertanyaan kritis: kalau misalnya gw bikin kalender gambar cewek cantik seksi dan cowok macho seksi berpakaian lengkap, tapi posisinya kurang anonoh, bisa dituduh pornografi nggak? Kan nggak termasuk yang disebut di Pasal 4.

Hehehe... kalau menurut gw sih, kalau yang mau digugat itu sudah jelas tercantum di Pasal 4, berarti dasar gugatan kita sudah kuat. Tapi kalau nggak tercantum di Pasal 4, kita masih bisa pakai batasan di Pasal 1. Seperti contoh kalender porno ini. Walaupun tidak tercantum dalam hal yang jelas dilarang dalam Pasal 4, tapi masih terbuka kemungkinan untuk membuktikan bahwa kalender ini dapat membangkitkan hasrat seksual dan/atau melanggar nilai2 kesusilaan.

Menurut gw emang nggak mungkin mencantumkan SEMUA hal yang dapat membangkitkan hasrat seksual dan/atau melanggar nilai2 kesusilaan di Pasal 4. Nanti malah jadi terlalu spesifik. Biarlah agak terbuka seperti ini, sehingga membuka ruang untuk pembuktian dan pembelaan. Kita baru belajar mengatur pornografi. Kalau pornografi ini diletakkan dalam Johari Window, maka posisinya masih di daerah gelap (unknown - not known to self, not known to others). Jalan masih panjang untuk berada di daerah terbuka (arena - known to self, known to others). Apalagi karena pornografi tidak senyata pembunuhan, tentu butuh waktu untuk kita sama2 belajar.

Undang-undang itu bukan harga mati kan? Selalu bisa dikeluarkan undang-undang baru untuk merevisinya.

***

Bagian kedua dari the infamous Pasal 1 yang sering dipermasalahkan adalah kata "melanggar nilai2 kesusilaan dalam masyarakat". Umumnya orang mempertanyakan: nilai kesusilaan masyarakat yang mana yang mau dipakai di Indonesia? Bukankah ini ambigu, memecah belah, karena masing2 masyarakat punya nilai susila yang berbeda?

Hmmm... karena gw melihat UUP ini sebagai instrumen peredam konflik, maka gw melihatnya adalah: nilai kesusilaan yang dipakai adalah nilai kesusilaan dalam masyarakat tempat terjadinya gugatan tersebut. Jadi... UUP ini tidak menggunakan nilai masyarakat tertentu sebagai benchmark nasional (seperti yang dituduhkan padanya), melainkan mengembalikan suatu dispute pada nilai masyarakat tempat terjadinya.

So, buat gw, UUP ini berguna untuk menyelesaikan gugatan [misalnya] seorang Aceh jika ada seorang rekan perempuan Bali berkemben di Lhoksemauwe sana. Di daerah istimewa Serambi Mekah yang kuat menjunjung nilai2 syariah Islam, terlihat rambutnya saja sudah dapat dikatakan melanggar nilai2 kesusilaan. Apalagi kalau bagian dada, kan? Nah... apa orang sepropinsi nggak boleh protes, nggak boleh merasa tidak nyaman, dengan alasan kebhinnekaan?

Lha, tapi ... jadinya kasihan dong si perempuan Bali itu? Dianggap sebagai kriminal? Bisa dipenjarakan?

Belum tentu! Alasan pertama, berkemben kan tidak termasuk materi seksualitas buatan manusia? Meskipun dapat dianggap melanggar nilai2 kesusilaan [masyarakat Aceh], tapi belum bisa dianggap pornografi karena hanya memenuhi sebagian syarat. Alasan kedua, kalaupun (ingat: KALAUPUN) dianggap sebagai pornografi, masih ada Pasal 14 yang menjamin bahwa penggunaan material seksualitas diperbolehkan untuk hal yang berkaitan dengan seni/budaya, adat istiadat, dan ritual tradisional.

Dengan demikian, meskipun di Aceh, kalau orang Bali mau ke pura dengan baju tradisional yang [mungkin] kurang sesuai dengan nilai kesusilaan Aceh pun, orang Aceh nggak bisa protes. Apalagi kalau di Bali sendiri ;-) Kecuali kalau orang Bali itu nggak bisa menunjukkan bahwa hal itu penting bagi ritual keagamaan/adatnya ya :-) Kalau alasannya cuma karena biasanya juga dandan begitu di rumahnya, yaaah... kita kembali ke peribahasa: di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung, kan ;-)?

Jadi, alasan penolakannya apa sih? Alasan ketersinggungannya dimana?

Seorang teman dengan gegap gempitanya mengajukan argumen: kalau gitu, orang Bali juga boleh protes dong, kalau ada orang Aceh datang ke Kuta pakai jilbab? Hmmm... menurut gw, ini argumen konyol dan kekanak2an ;-) Menampakkan bagian dada adalah pelanggaran kesusilaan di Aceh, tapi... apakah mengenakan pakaian tertutup adalah pelanggaran kesusilaan di Bali ;-)? Jika ya, OK, boleh2 aja masyarakat Bali menggugat turis yang berhijab. Tapi... setahu gw, di Bali sih berpakaian tertutup tuh bukan pelanggaran kesusilaan ya ;-) Dan cuma anak kecil yang kalau dilarang sesuatu lantas cukup naif membalas dengan melarang juga - tanpa peduli konteksnya ;-)

***

Setelah gw bolak-balik baca UUP ini, lantas membaca tebaran posting di blogosphere, gw sampai pada kesimpulan berikut mengenai alasan2 penolakan UUP:
  • Satu, karena punya trust issue dengan sistem peradilan Indonesia dan DPR, sehingga undang-undang ini dilihat sebagai bahan baru untuk pungli dan korupsi - atau setidaknya merupakan upaya kompromi dengan sekelompok masyarakat tertentu
  • Dua, karena punya kecurigaan bahwa UUP ini adalah upaya pemaksaan ideologis sekelompok masyarakat pada skala nasional
  • Tiga, karena punya ketakutan terhadap sekelompok massa tertentu yang senang bertindak sebagai polisi moral. Bahkan ketakutannya sudah meningkat menjadi ketakutan bahwa sekelompok massa ini adalah bala tentara untuk pemaksaan ideologis berskala nasional ;-)
  • Empat, karena kurang mampu membaca dokumen panjang tertulis secara holistik, apalagi dengan bahasa hukum ;-) Sehingga sering jump to conclusion atas kata2 yang ada di beberapa pasal ;-)

Keempat hal ini yang menurut gw adalah sumber utama penolakan terhadap UUP. Bukan isi UUP-nya itu sendiri ;-) Buktinya, gw bisa menerima UUP sebagai sesuatu yang baik tanpa harus menjadi bagian dari "sekelompok masyarakat" yang "dituduh" ingin melakukan "pemaksaan ideologis" (duh!). Isi UUP-nya masih dapat gw terima dengan nalar ;-)

Dan kalau gw sendiri sih lebih khawatir dengan trust issue, anxiety, serta jump to conclusion ini. Bukan dengan isi UUP-nya sendiri ;-) Kalau kita sudah hidup dengan saling curiga, apalagi diimbuhi dengan ketidakmampuan membaca secara holistik, maka... perpecahan kebhinnekaan justru lebih mungkin terjadi.

Bukan UUP-nya yang akan memecah kebhinnekaan, melainkan kesalingcurigaan kita ;-)

------
Catatan Penting: Aceh dan Bali gw ambil sebagai contoh, karena menunjukkan benturan budaya yang cukup besar. Semoga tidak ada yang merasa terserang ;-)

Thursday, November 13, 2008

Wednesday Night Fever

Sejak kecil gw memang keras kepala dan bikin orang tua susah. Nggak heran, seringkali Ibu mengeluarkan "kutukan" sebangsa kata2, "Titenono nek kowe wis nduwe anak! Nek ora kewales awakmu!" yang kurang lebih berarti "Lihat saja nanti kalau kamu punya anak, pasti terbalas semua [perbuatanmu]"

Sembilan tahun menjadi ibu, gw masih bisa jumawa mengatakan bahwa kutukan Ibu tidak terbukti ;-) Ima, my sweet little girl, nggak pernah macem2. Nggak keras kepala seperti gw, atau tepatnya tidak sekeras kepala gw. Masih nurut deh dijajah sama ibunya ;-) Mungkin karena temperamennya Ima lebih kalem, kayak bapaknya ya? Makanya nurut sama gw. Lha, biangnya aja (baca: bapaknya) nurut sama gw, apalagi cindilnya ;-)

But the day Nara was born, I knew my karma has come... ;-)

Belum genap 4 jam umurnya, Nara sudah menunjukkan kekeraskepalaannya dengan memancing keributan di kamar bayi. Nara menangis sekeras2nya, dan menolak untuk diam apa pun upaya yang dilakukan si suster penjaga, sehingga semua bayi kaget dan ikut menangis. Solusinya? Nara buru2 dilarikan ke kamar gw!

Itu cerita di balik layar mengapa suster memaksa gw menyusui Nara jam 12 malam! Padahal, gw masih setengah sadar setelah dioperasi, dan lazimnya bayi bisa survive beberapa hari tanpa ASI karena masih menyimpan sisa makanan dari plasenta. Rupanya ada lobster di balik mashed potato... hehehe...

Makin hari, keras kepalanya Nara makin kelihatan. Dan puncaknya adalah pekan lalu, tepatnya Rabu malam Kamis. Gw menyebutnya Wednesday Night Fever ;-)

Disebut begitu, karena Rabu malam Kamis itu Nara memang kena demam. Malam sebelumnya dia memang sudah nggak bisa tidur karena tidak enak badan. Badannya sumeng, alias hangat. Tetap gw tinggal ke kantor karena tidak parah, setelah memberi instruksi memberikan obat penurun panas. Tapi... jam 6 sore Eyangnya telepon dengan panik karena kini panas Nara mencapai 39 derajat Celcius, dan beberapa kali muntah.

Malamnya, setelah mendapat obat dari Pak Dokter, gw jadi sedikit lebih tenang. Bukan karena panasnya turun, tapi karena gw jadi tahu kenapa seharian Nara muntah. Tampaknya bukan karena mual seperti yang gw khawatirkan (catatan: panas dan mual adalah gejala yang selalu gw rasakan selama 3x kena demam berdarah ;-)). Ternyata... muntahnya Nara adalah karena... keras kepala nggak mau menelan obat! Setiap kali diberi obat, Nara langsung melancarkan aksi head banger! Kepala dibanting ke atas ke bawah sekuat tenaga. Jelas aja langsung muntah... hehehe...

Jadi, cocok kan, kalau dibilang Wednesday Night Fever? Sebab, selain emang kena fever, aksinya Nara juga bak John Travolta di Saturday Night Fever... hehehe... Cuma kalau John Travolta musiknya disko, Nara musiknya techno ;-)

Besoknya, Mbak Pengasuhnya yang mati akal, direstui oleh ibunya Nara yang gak kalah mati akal karena semalaman obat tetap nggak berhasil masuk, mengambil langkah pemaksaan. Mulutnya Nara dipaksa terbuka, obat dimasukkan melalui sendok, dan rahangnya dikatupkan secara paksa juga dengan posisi setengah tengadah. Cara ini duluuuuu berhasil untuk Ima.

Buat Nara? Ya nggak berhasil! Dengan keras kepala dia menahan obat di mulutnya, untuk disemburkan setelah rahang tak lagi terkatup! Percobaan kedua, dengan menahan rahang lebih lama, juga nggak berhasil ;-) Memang percobaan kedua itu berhasil membuat Nara terpaksa menelan obatnya, tapi.... dasar keras kepala, dia langsung memaksa tenggorokannya memuntahkan lagi obat yang masuk.

Dengan putus asa, gw menatap lemari obat. Eeeeh... untung, gw ingat masih menyimpan sebuah medicine dispenser. Yang soft tip, tapi soft tip-nya sudah gw buang karena leleh. Iyaaaa.... lelehnya juga karena inkompetensi gw mengurus barang2 bayi... hehehe... karena medicine dispenser ini gw rebus dalam rangka sterilisasi ;-) Barangnya persiiis seperti di bawah ini, cuma beda warna aja. Punya Nara warnanya biru muda, bukan hijau-kuning-ungu begini.

Gambar dipinjam dari sini

Gw coba memberikan obat melalui medicine dispenser ini. Disemprot sedikit ke arah pipi seperti petunjuknya. Eh! Berhasil! Karena cuma sedikit, ternyata Nara mau saja menelannya. Nggak terlalu sakit hati, rupanya, karena nggak dipaksa2 mengatupkan rahang ;-)

Karena soft tipnya sudah gw buang, gw gak tega menggunakan medicine dispenser ini lagi. Jadi, begitu gw melihat respons positifnya Nara, gw buru2 ke toko bayi beli medicine dispenser baru. Yang model soft tip nggak ada, adanya yang seperti di bawah ini.

Kalau yang ini gambarnya dari sini

Tadinya gw agak ragu beli yang model ini. Selain bentuknya sama dengan medicine dispenser yang dipakai Ibu buat kucing2nya (agak nggak terima gw, Nara pakai barang yang sama dengan kucing... hehehe...), gw juga khawatir melihat ujungnya yang besar dan tidak lembut. Apa nggak susah memasukkan benda sebesar dan sekeras ini ke mulut Nara dan berharap dia tidak berontak? Apalagi, instruksinya menyebutkan bahwa fungsi bidang datar itu untuk menekan lidah. Walah! Bisa ada sequel dari Wednesday Night Fever nih!

Tapi karena nggak punya alternatif lain, terpaksa gw beli deh. Coba2. Ternyata.... hasilnya menggembirakan! Nara mengira medicine dispenser ini adalah teething ring. Jadi dia nggak masalah lidahnya ditekan sedikit, malah dengan semangat menggigit2nya. Menggigit medicine dispenser-nya, bukan menggigit lidah ;-) Alhasil, dengan masuknya obat, besoknya Nara sudah sembuh.

Hehehe... ternyata, masih bisa juga gw "memaksakan kehendak" pada bayi keras kepala ini. Thanks to the best innovation for the entire human race bernama medicine dispenser ini ;-) Dan secara khusus mengenai produk yang ini, gw senang karena bisa direbus tanpa jadi leleh ;-) Biar deh bentuknya sama dengan yang dipakai kucingnya Ibu, tapi keuntungannya banyak ;-)

*OOT buat teman yang nanyain cara ngasih obat ke binatang kesayangannya: yang sudah terbukti sih medicine dispenser ini berhasil dipakai untuk kucing. Jadi mestinya untuk anjing juga bisa. Tapi kalau untuk binatang yang lebih besar, sapi misalnya, apalagi gajah, nggak tahu juga ya apakah bisa berhasil ;-)*

Satu masalah teratasi. Satu "hukum karma" terlewati. Tapi... tetap saja gw jadi was-was. Mulai deh gw menghitung daftar dosa yang pernah gw lakukan sebagai anak kecil dulu... hehehe.... Dan bersiap2 melihat history repeats itself pada Nara. Hmmm.... let's see what's in store for me:

  1. Umur 3 thn, nyemplung ke kolam kotor di Senayan, gara2 pingin jalan di air seperti bebek.
  2. Umur 4 thn, mendeklarasikan diri mau berhenti sekolah karena bosan pelajarannya cuma nyanyi dan main2 melulu (padahal gw udah lancar membaca sejak umur 3,5 thn). Perlu beberapa hari bagi Bapak & Ibu, serta seorang Budhe yang Psikolog Anak, untuk membujuk gw kembali ke sekolah ;-)
  3. Umur 8 thn, kelas 2 SD, gw kabur dari rumah naik sepeda gara2 dimarahin Ibu. Niat gw mau berkelana.. hehehe... Ulah gw sempat bikin semua orang panik, Ibu naik becak sesorean mencari gw, dan Bapak mencari gw dengan mobil ;-)
  4. Umur 9 thn, gw lari2 di atap rumah tetangga mengejar layangan putus. Rumah gw kan kompleks tuh, jadi atapnya saling bersinggungan. Dari atap rumah gw, gw bebas lompat ke atap tetangga, dan dengan asyiknya gw ngejar layangan putus dari atap ke atap. Tak kurang dari 10 rumah gw injak atapnya, dan Bapak kerepotan menerima protes tetangga.

Itu dulu ya, daftarnya... hehehe... Empat aja gw udah keburu ngeri... HAHAHA... Kayaknya kudu sungkem minta ampun sama Ibu & Bapak deh... hehehe...