Monday, June 02, 2008

Dua 46

Salah satu novel dan film yang gw suka adalah The Godfather Trilogy. Selalu kesengsem dengan Don Corleone – dua2nya, baik Don Vito maupun Don Michael – karena they are everything I cannot be ;-) Ya, ya, gw suka dengan penggambaran karakter mereka yang cool, nggak pernah menunjukkan emosi sama sekali, tapi telengas ;-) Sementara gw cuma mirip telengasnya aja.. hehehe.. Gw selalu ngebayangin bahwa kalau gw jadi mafia, maka gw akan jadi Santino Corleone – the bad Don. Bukan bad karena jahat (aaah.. apa yang dilakukannya kan baik2 saja menurut ‘standar’ mafia ;-)), tapi .. seperti kata Don Vito, Santino adalah the bad Don karena dia nggak bisa cool ;-) Terlalu gampang menunjukkan perasaan. Makanya gampang terpancing dan cepat mati ;-)

Apa adegan yang paling berkesan buat gw dalam cerita ini? Ada banyaaaak banget. Tapi.. salah satunya yang paling2 berkesan adalah turning point-nya Michael; dari yang nggak mau terlibat menjadi paving the way to be the successor ;-) Yep! Yang paling berkesan adalah saat2 dia memutuskan, berencana, hingga akhirnya melaksanakan pembunuhan si bandar narkoba Virgil Sollozzo dan polisi korup Captain McCluskey. One giant leap, bukan saja buat Michael, tapi juga untuk the underworld. Seperti dituliskan pada paragraf yang mengakhiri buku pertama:

Later that day an emissary from the Families asked the Corleone Family if they were prepared to give up the murderer. They were told that the affair did not concern them. That night a bomb exploded in the Corleone Family mall in Long Beach, thrown from a car that pulled up to the chain, then roared away. That night also two button men of the Corleone Family were killed as they peaceably ate their dinner in a small Italian restaurant in Greenwich Village. The Five Families War of 1946 had begun.

(halaman 152)

Yang menarik dari cerita gangster seperti ini adalah: suatu kelompok gangster biasanya kehilangan kekuatan karena the war, bukan karena kekuatan hukum. Hukum negara (yang diwakili oleh - dalam hal ini - polisi) sudah tak berdaya menghadapinya. Satu “keluarga” hanya bisa dilawan oleh “keluarga” lain. Itu yang akan mengembalikan keseimbangan ;-)

Naaah.. menilik berita ini, ini dan ini, gw jadi teringat dengan cerita di atas. Gus Dur selamat dari amukan FPI, seperti Don Vito Corleone yang selamat dari upaya pembunuhan Virgil Sollozzo, yang menjadi cikal bakal the Five Families War di cerita tersebut. Apalagi kemudian ada berita bahwa GP Ansor tinggal tunggu perintah "go ahead" aja untuk membubarkan FPI kalau pemerintah nggak bisa menangani ini, dan ada yang berang mendengarnya ;)

Akankah kisah ini menjadi The Godfather, versi organisasi massa instead of versi gangster? Kita tunggu saja ;-)

Personally, gw sih setuju2 saja dengan Gus Dur – kalau Gus Dur benar2 mengucapkan seperti itu. Kadang, memang cuma “keluarga” yang lebih besar dan lebih kuat yang harus menghajar “little thugs” dari “keluarga” yang nggak mengikuti aturan main ;-).

Gus Dur takes it personal? Well.. nggak papa juga. Ini kutipan dari percakapan Michael Corleone dan Tom Hagen – the consigliere – yang ada di novelnya tapi dihilangkan oleh Coppola dalam filmnya:

“You should’t let that broken jaw influence you,” Hagen said. “McCluskey is a stupid man and it was business, not personal.”

For the second time he saw Michael Corleone’s face freeze into a mask that resembled uncannily the Don’s. “Tom, don’t let anybody kid you. It’s all personal, every bit of business. Every piece of shit every man has to eat every day of his life is personal. They call it business. OK. But it’s personal as hell. You know where I learned that from? The Don. My old man. The Godfather. If a bolt of lightning hit a friend of his the old man would take it personal.. That’s what makes him great. The Great Don. He takes everything personal..”

(halaman 146)

Ayo, Don Gus Dur, maju terus.. hehehe.. lanjut dengan rencana pembubarannya ;-)

Hmm.. kalau Gus Dur jadi Don Vito, lantas siapa yang mengisi peran Don Michael ya? Hehehe.. Moga2 sama gantengnya seperti Al Pacino ;-)

Catatan Penting Banget:

Sebelum ada yang tersinggung, gw menyamakan kasus ini dengan cerita The Godfather adalah karena kesamaan atribut mengenai adanya pertentangan antar organisasi2 yang mengusung dasar yang sama, yaitu Islam. BUKAN mengatakan bahwa organisasi2 ini adalah mafia ;-)

***

Ternyata cerita gw belum habis tentang 46.. ;-) Sekali ini, ceritanya tentang “layanan empat enam”

Ceritanya, akhir Maret lalu, Ibu menemukan bahwa saldo di salah satu rekening bank-nya surplus dua juta rupiah. Ibu tidak curiga, karena tahu bahwa anak2nya kadang melakukan transfer ke rekening ini tanpa bilang2. Jadi, dengan cuek Ibu menggunakan uang tersebut membayar berbagai keperluan rumah tangga.

Namun.. beberapa hari kemudian, Ibu mendapatkan telepon dari bank tersebut. Katanya terjadi salah transfer dan Ibu diminta mengembalikan uang itu secepatnya. Kata petugas bank, jika hingga akhir bulan uang belum dikembalikan, maka gaji Ibu yang ditransfer ke rekening itu akan LANGSUNG DIPOTONG untuk membayarnya.

Waduhh... emangnya bank bisa seenak jidat memotong uang nasabah? Bank model apa tuh? Terus, tanda terimanya apa? Gimana kalau terjadi kesalahan teknis dan rekening terpotong lebih dari sekali? Kemana kami harus mengadu? Mengingat pengalaman dengan bank lainnya ini, terus terang jadi skeptis bahwa kesalahan teknis bisa cepat diselesaikan.

Kebetulan ada suami keponakannya Bapak yang kerja di bank tersebut. Jadi kami lalu minta Mas B, suaminya Jeng T, untuk menjadi consigliere ;-) Dari Mas B kami mendapat saran berikut:

“Dalam kondisi apa pun, bank tidak berhak memotong langsung dari rekening Budhe. Jika ada dispute seperti ini, bank akan meneliti terlebih dulu. Jika kesalahan ada di pihak teller dalam memasukkan nomor rekening, itu menjadi tanggung jawab teller untuk mengembalikan uang pada pihak yang melakukan transfer. Kalau Budhe mau kembalikan, itu bagus dan kami berterima kasih, tapi Budhe tidak wajib melakukannya. Jika kesalahan ada di pihak yang melakukan transfer, maka bank akan mengeluarkan surat permohonan resmi kepada pihak yang menerima transfer (dalam hal ini: Budhe) untuk mengembalikan uang tersebut. Ketika Budhe mengembalikan uang, akan diberi tanda terima resmi juga.

Saran saya, Budhe jangan mengembalikan uang sebelum menerima surat permohonan resmi dan tanpa menerima tanda terima resmi. Kita bermain sesuai prosedur, supaya tidak ada pihak yang dirugikan”

Saran Mas B masuk akal, dan kami pun memberitahukan kepada pihak bank bahwa Ibu bersedia mengembalikan uang segera setelah mendapatkan surat permohonan resmi.

Sampai Jumat, 30 Mei, Ibu tidak pernah menerima surat permohonan tersebut ;-) Maka.. jangan salahkan bila life goes on as usual. Kami kira masalah sudah selesai, bahwa kesalahan ada di pihak dan sudah ditanggung oleh teller ;-)

Namun.. tiba2.. tanggal 30 Mei itu Ibu menerima SMS dari nomor tak dikenal! Isi SMS itu mencacimaki Ibu dengan kata2 kasar, yang intinya “bertobatlah-atau-azab-Tuhan-akan-jatuh-padamu”.. hehehe.. Kurang lebih (nggak verbatim), bunyinya:

Biarlah Allah SWT yang membalas jika Ibu tidak mau mengembalikan uang tersebut. Itu uang anak yatim. Tidak mengembalikan uang itu berarti Ibu mencuri dari anak yatim.. -- yadda-yadda-blablabla --

Mendengar itu, reaksi gw udah persis seperti Santino Corleone saat mendengar adiknya digebuki suaminya.. hehehe.. salah satu adegan fenomenal dalam novel The Godfather; dimana Santino terpancing untuk ngamuk, dan ternyata itu adalah strategi perang the other families untuk membunuhnya ;-) Beruntung, adik gw bisa bersikap seperti Michael Corleone. Jadi mainnya lebih taktis dan dapat informasi kenapa si pengirim SMS itu marah2.

Jadi, pokok persoalannya, bank menjanjikan pada si pengirim SMS (yang juga pelaku transfer itu) bahwa dalam sebulan uang akan dikembalikan, dipotong langsung dari rekening Ibu. Sebulan kemudian, ketika si pelaku transfer belum menerima kembali uangnya, bank dengan enak mengatakan bahwa Ibu menolak mengembalikan uang, dan lantas memberikan nomor HP Ibu serta mempersilakan pelaku transfer untuk “mengurusnya sendiri dengan Ibu”.

Huh? Berapa law of conduct yang dilanggar oleh bank itu ya? Sudah memfitnah Ibu, membocorkan data nasabah lagi! Padahal, bukannya bank TIDAK BOLEH MEMBOCORKAN DATA NASABAH dalam keadaan apa pun? Lha, nama dan nomor telepon (apalagi nomor HP) kan termasuk data nasabah, toh ;-)? Terus, siapa yang jamin data2 lain yang rahasia (password, nomor PIN, dll) tidak dibocorkan juga?

Yaah.. begitulah pelayanan BNI 46 ;-) Dulu gw kira angka 46 itu dipasang karena bank itu berdiri sejak tahun 1946 ;-) Nggak tahunya.. untuk menunjukkan bahwa “servis”-nya sekelas “empat enam” toh ;-)

Apa maksudnya servis BNI sekelas 46?

Bisa diartikan dua: yaitu.. nilainya cuma berkisar 4 – 6 skala 10 (alias dapat nilai merah atau paling tinggi nilai pas2an ;-)), atau.. servisnya memang, “Rapat, rapat, empat enam empat enam.. itu anaknya bayar nggak, Bu? Kalau nggak bayar dipangku aja!”

Maksudnya?

Yaa.. pelayanannya memang ala mikrolet dan angkot: yang penting penumpang nasabah masuk dan dia dapat duit, perkara penumpang nasabah nyaman sih entar dulu. Nyampe ke tujuan juga belum tentu, kalo angkotnya mau putar balik ;-)

Suntingan 17 Juni 2008:

Sampai tanggal 16 Juni kemarin, masiiiih saja si pemilik uang bolak-balik SMS Ibu minta uangnya ditransfer balik dan Ibu masiiiih saja harus telepon BNI minta surat resmi yang tak kunjung tiba. Padahal, menurut si pemilik uang yang ada di Aceh itu, masalah sudah jelas: teller SALAH memindahkan nomor rekening dari lembar transfer ke komputer, sehingga uang masuk ke rekening Ibu. Untuk tahu uang itu masuk ke rekening siapa, BNI Aceh sampai harus menelepon BNI Pusat di Jakarta. Dari BNI Pusat-lah diketahui data nama dan nomor HP Ibu.

Profesional sekali cara kerja BNI, bukan? Apa gunanya nama pemilik rekening di Jakarta tidak online hingga ke Aceh, jika kemudian pusat dengan gampang memberikan data itu? Bukankah harusnya BNI Pusat - sebagai pemegang data nasabah yg dirahasiakan itu - yang menghubungi Ibu? Jadi, pemilik uang hanya berhubungan dgn BNI Aceh, BNI Aceh hanya berhubungan dengan BNI Pusat, dan yang berhubungan dengan Ibu hanya BNI Pusat? Kok jadi di-bypass gini sih?

Kesalahan oknum? I don't think so.. ;-)