Saturday, June 30, 2007

Toilet Orchestra

Credit Title:

Tulisan ini diilhami dari komentar2 my dinda Aramichi di sini, sini, dan sini. Thanks, dinda, for stimulating the muse in my brain ;-).

Istilah Toilet Orchestra dipinjam dari sebuah band mahasiswa FPsi UI yang muncul jauuuuh sebelum Cozy Street Corner naik daun. Kalau nggak salah, nama Toilet Orchestra ini adalah plesetan dari Twilight Orchestra. Temen2 gw emang jago plesetan semua dah!

***

Gara2 komentar bertubi2nya Ara yang panjangnya ampun2an (dan udah bikin gw alpa merespons komentar ipra & zilko.. hehehe.. sorry, guys, nasib sial kalian komentar sebelum komentar panjangnya Ara ;-)), gw jadi punya ide tulisan baru. Tentang feasibility study dan customer satisfaction study.

Kebetulan emang kantor gw bergerak di bidang riset, dan dua jenis riset itu tergolong sering juga kami lakukan. Feasibility study itu dilakukan kalau seorang klien mau meluncurkan suatu produk baru, tapi masih meraba2 apakah konsepnya dapat diterima oleh masyarakat. Termasuk di antaranya menilai apakah atribut2 yang ditawarkan sudah sesuai, baik jenis ataupun pembobotannya, dengan harapan konsumen. Sementara kalau customer satisfaction study tuh dilakukannya setelah sebuah produk muncul, dan dilihat jenis atribut dan pembobotan yang dilakukan sudah memuaskan konsumen.

Baik dalam feasibility study maupun customer satisfaction study, yang dilakukan kurang lebih sama: tentukan batasan masalahnya, tentukan atribut2nya, tentukan target marketnya. Baru setelah itu didesain penelitiannya; sel analisanya apa saja, berapa jumlah sample yang dibutuhkan (N=total, dan N=per sel analisa), di kota mana saja, dan yang nggak kalah penting: sample criteria-nya diambil dari mana.

Seringnya, feasibility study maupun customer satisfaction study ini dilakukan dengan dua tahap: tahap kualitatif untuk mengeksplorasi segala atribut yang dianggap penting oleh konsumen, lantas dilanjutkan dengan tahap kuantitatif untuk mendapatkan pembobotan atribut. Maklum, dari tahap kualitatif biasanya didapat buanyaaaaakkkk sekali atribut. Masing2 orang kan punya sudut pandang sendiri, punya skala prioritas sendiri tentang mana yang dianggap penting dan mana yang dianggap kurang penting. Naaah.. dalam tahap kuantitatif barulah atribut yang banyak ini disaring. Dari angka statistik yang didapat, baik yang sifatnya frekuensi maupun korelasi, maka bisa ditentukan atribut mana yang merupakan main (key) attribute, secondary attribute, atau bahkan added value.

Biasanya juga, hasil pada tahap kuantitatif seiring sejalan dengan indikasi yang didapat dari tahap kualitatif. Kalau penentuan sample-nya bener, ngerjainnya bener, jarang kok hasilnya nggak seiring sejalan. Kalau nggak seiring sejalan researcher-nya pusing.. hehehe.. dan buntut2nya kita harus baca data lagi dari ulang.

Nah.. dalam tahap kualitatif untuk kedua studi di atas, kita akan mulai dengan mengeksplorasi peran yang dimainkan produk tersebut pada kehidupan konsumennya, dan basic motivation konsumen untuk menggunakan produk tersebut. Dari situ kita dapat need and expectation untuk produk tersebut, yang kemudian kita ujikan untuk mendapatkan indikasi mana yang menjadi concern utama dan mana yang menjadi secondary concern. Tekniknya macem2, tapi yang jelas mencakup juga pada menyajikan product positioning (dari sudut pandang produsen) dan melihat reaksi konsumen terhadap product positioning tersebut.

Sekarang kita masuk ke kasus yang diberikan Ara: pentingnya WC pada sebuah restoran.

Well.. sebagai qualitative researcher gw akan mulai dengan pertanyaan sebagai berikut:

1. Rumah makan apa saja yang sering dikunjungi?

2. Kapan biasanya mengunjungi masing2 rumah makan tersebut?

3. Kenapa (apa pertimbangannya) memilih mengunjungi masing2 rumah makan tersebut pada saat itu?

4. Apa kelebihan/kekurangan dari masing2 rumah makan tersebut?

5. Jika diberi kesempatan membuat masing2 jenis rumah makan tersebut secara ideal, apa saja atribut yang harus ada?

6. Bagaimana skala prioritas untuk atribut ideal tersebut?

Dari situlah gw akan mendapatkan gambaran tentang apa saja key attribute untuk rumah makan secara umum, dan apa saja key attribute untuk tipe rumah makan tertentu.

Key attribute untuk rumah makan secara umum biasanya akan lebih sedikit dan lebih general daripada key attribute untuk rumah makan tertentu. Iya dong, key attribute untuk rumah makan secara umum kan akan merupakan irisan dari key attributes untuk food court, warung tegal, rumah makan yang menyajikan masakan Indonesia, rumah makan yang menyajikan masakan Eropa, Asia, Jepang, dll. Jadi.. bisa saja buat rumah makan seperti Oasis tuh privacy penting, sementara buat warteg malah kasualitas itu penting. Di food court variasi makanan penting, sementara di Sushi Tei tidak.

Sekarang.. pentingkah kebersihan sebuah WC pada suatu rumah makan, seperti yang ditanyakan Ara?

Mengacu pada pengalaman melakukan feasibility study dan customer satisfaction study untuk beberapa klien (di antaranya ada beberapa rumah makan juga), gw confident untuk menjawab bahwa: WC adalah sesuatu yang penting, tapi bukan yang paling penting, dalam rumah makan secara umum.

Alasannya apa? Yaa.. balik ke pertanyaan nomor 3: apa alasannya orang memilih mengunjungi rumah makan tertentu. Rata2 orang masuk rumah makan tertentu adalah untuk mengisi perut yang kosong. Atau.. di beberapa restoran yang lebih classy, biasanya digunakan untuk bertemu dengan orang. Jarang (kalau tidak bisa dikatakan tidak ada) orang yang masuk rumah makan dengan alasan utama untuk mengosongkan perut, alias numpang ke WC ;-) Malah, biasanya restoran gak kasih ijin orang untuk cuma numpang ke WC ;-) WC dikhususkan untuk pengunjung restoran, a.k.a yang membeli makanan di restoran tersebut.

Kalau kemudian Ara mencontohkan penumpang bus malam antar kota yang biasanya hanya numpang pipis di restoran sepanjang jalur Pantura, well.. itu sesuatu yang memang benar. Mungkin itu yang akan gw sarankan juga pada klien yang ingin membuat restoran Padang di sepanjang jalur Pantura dan membuat deal supir bus malam tertentu singgah di sana: makanan seadanya aja, tapi WC penting sekali. Kenapa? Karena penumpang2 bus yang turun dan masuk rumah makan itu MOTIVASI UTAMA-nya bukan makan. Mereka bahkan mungkin tidak punya motivasi apa2 untuk masuk ke rumah makan tersebut. Keputusan itu diambil oleh supir bus, dan penumpang hanya memanfaatkan situasi saja.

Pada restoran2 lain, kebersihan WC hanya akan menjadi prioritas nomor sekian. Apalagi kalau untuk Duck King atau Sushi Tei yang membuka gerai di Senayan City; gw malah nggak akan menyarankan adanya WC dalam atributnya. Kenapa? Di Sen-Ci banyak WC, ngapain juga harus bikin WC lagi? Ngerubah struktur gedung atau menyediakan portable toilet. Pengunjung di sana bukan datang untuk numpang ngosongin perut.. tapi untuk menikmati makanan.

Jadi.. hal terpenting yang bisa ditarik di sini adalah: walaupun WC merupakan hal yang sangat penting di jenis2 rumah makan tertentu, WC tidak dapat dikatakan sebagai faktor utama yang harus ada di setiap rumah makan. Bukan berarti tidak penting, dan tidak perlu diperhatikan, namun.. di banyak rumah makan tidak perlu menjadi prioritas utama.

Dalam komentar terakhirnya soal WC, Dinda Ara udah mulai menangkap maksud gw (walaupun dia tidak sadar, kayaknya ;-)), bahwa: intinya adalah URUTAN PRIORITAS PENANGANAN. WC harus mendapat prioritas utama di sejumlah rumah makan, tapi bisa mendapatkan prioritas nomor sekian pada jenis yg lain. Kembali lagi kita harus fokus pada kategori rumah makan yang sedang dibicarakan ;) Nggak bisa main hantam kromo, apalagi berdasarkan masukan satu dua orang yang tidak familiar dengan rumah makan tersebut ;-)

Setuju, Dinda, ini masalah urutan prioritas penanganan. Dan dengan sendirinya, yang prioritasnya terendah, penanganannya juga paling sedikit, dan kemungkinan salahnya paling besar ;-). Tapi.. kalau ada kesalahan, bukan berarti nggak ada penanganan sama sekali kan ;-)? Ini hanya akibat yang wajar dari penanganan yang paling sedikit ;-) Jangan menilai segala sesuatu dari hasil akhirnya... tapi fokuslah pada gambar besarnya ;-)

Lalu.. menjawab lagi pertanyaan Dinda Ara sebelumnya:

Yang menentukan key attribute dan added value itu siapa, produsen atau konsumen? Karena yg menjadi objek itu konsumen seharusnya pendapat konsumen yg lebih diperhatikan dalam menentukan apakah suatu faktor itu key attribute atau added value.

Setahu gw sih, produsen selalu mulai dengan suatu konsep tentang produk yang ditawarkan. Itu disebut product positioning. Seperti gw jabarkan di atas, product positioning itu yang diuji dalam sebuah feasibility study atau customer satisfaction study. Jika kemudian product positioning itu tidak sejalan dengan harapan atau keinginan konsumen tentang produk tersebut, maka produsen punya dua alternatif jalan keluar: 1) mengubah product positioning supaya lebih dekat dengan harapan dan keinginan konsumen, atau 2) mendidik konsumen untuk menerima product positioning yang sudah ditetapkan oleh produsen. Dalam kasus yang melatarbelakangi tulisan ini, gw memilih jalan yang kedua, makanya menurunkan sequel yang menjelaskan positioning yang gw inginkan ;-)

Benar bahwa konsumen adalah raja, dan bahwa kita harus memperhatikan pendapat konsumen. Tapi jangan lupa juga.. konsumen adalah pengguna. Dia tidak tahu secara detil tentang pembuatan produk itu; tentang apa yang mungkin dan tidak mungkin diterapkan pada produk itu. Dan jangan lupa.. konsumen itu luaaasss sekali. Konsumen yang biasanya masuk restoran hanya kalau bus malamnya singgah di jalur Pantura, misalnya, beda dengan konsumen yang makan siangnya di Duck King ;-). Dua2nya mungkin punya patokan dan kriteria yang berbeda jika harus menilai Warung Tegal yang ideal ;-). Oleh karena itu, tetap kita tidak bisa mengikuti segala kata konsumen, apalagi ketika menentukan key attributes dan added value yang mau kita tawarkan. Lha, kalau kita ngikut semua kata konsumen, yang bisa berubah2 tiap waktu, dan variasinya banyaaaak banget, nanti produk kita brand identity-nya nggak jelas dong ;-)?

BTW, judul awalnya Toilet Orchestra, kok akhirnya jadi kuliah tentang positioning ya? Nggak nyambung ya? Well.. emang sengaja kok ;-) Kan tetap ada nyambung2nya sama toilet, karena yg dibahas WC.. hehehe... walaupun sudah di-orkestra-i sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah tulisan tentang marketing ;-)

Paket Combo Reality Show

Nonton Mamamia, pada awalnya, seperti melihat reality show dalam paket combo. Ada Dian HP yang jadi penata musiknya, ada Steny Agustaf yang jadi host-nya, ada.. coklat, keju, almond, tiramisu.. eh, nggak deh! Yang terakhir ini adanya di J.Co. Nggak ada di reality show, kecuali kalau nanti2nya J.Co beminat jadi sponsor seperti wafer Tango ;-)

Aransemennya Mbak Dian masih seperti mengiringi AFI dulu: hanya bermain di nada tanpa mengubah genre lagu. To be honest, that’s what I like about her. Aransemennya Andi Rianto yang suka mengubah genre lagu itu bagus, dan secara musikal enak didengar, tapi.. kurang cocok aja sama gw yang seneng segala sesuatu itu sesuai pakem ;-) Steny Agustaf juga masih seperti waktu jadi pembawa acara Penghuni Terakhir dulu: crunchy dan sering ngomong yang nggak penting. Kayaknya dia sering lupa bahwa jadi pembawa acara di TV beda dengan jadi penyiar radio, jadi perlu juga mendengar lawan bicaranya ngomong – bukan satu arah kayak di radio. Atau.. nggak tau juga ya, mungkin dia termasuk pengidap auditory narcism (bukan istilah ilmiah, tapi kira2 maksud gw adalah orang yang cinta banget denger suaranya sendiri ;-))

Waktu sempat ngintip babak penyisihan, tampaknya banyak kontestan memiliki suara bagus. Potensial untuk dikembangkan sebagai penyanyi. Yang lolos juga yang terbaik di tiap grup, karena sistem penjuriannya menggunakan 100 juri, bukan banyak2an SMS. Satu orang hanya bisa memilih seorang kontestan 1x saja, dengan demikian angkanya lebih proporsional. Kalau si kontestan dapat 96 suara, misalnya, itu berarti memang dipilih oleh 3x lipat pemilih daripada kontestan yang cuma capat 32 suara.

Yang bikin gw gregetan pas nonton penyisihan justru peran mama-mamanya. Para mama ini resminya berperan sebagai manajer. Tapi.. dalam kenyataannya.. job desc-nya nggak jelas; antara jadi manajer, jadi dancer, jadi MC yang memperkenalkan artis, atau jadi backing vocal, hehehe.. Kayaknya semua peran itu campur baur pada si mama. Padahal, yang namanya manajer artis, bukannya kerja di belakang layar ya? Bagian cari job dan negosiasi kontrak?

Gregetannya lagi, para Mama ini sering nggak bisa membedakan antara memperkenalkan artis, menjadi juru kampanye, memberikan kata sambutan, atau meminta2 sumbangan di bis kota. Campur baur dah! Tahu nggak bedanya, hehehe..? Kalo memperkenalkan artis kan seperlunya aja bacain resumenya, dengan penekanan pada kelebihannya. Kalau jadi juru kampanye, pokoknya menggebu2 si artis paling hebat wae lah! Biar kata suaranya fals abis, dibilang suaranya paling merdu. Kalau memberikan kata sambutan.. segala “Puji Syukur” dan “Kepada Yth” aja udah semenit sendiri.. hehehe..  Yang paling parah (menurut gw) adalah satu Mama yang “jualan” ke-single-parent-annya dan ke-yatim-an anaknya. Bener2 seperti cari sumbangan di bis kota.

Well.. sebenarnya sih sah2 aja kalo itu caranya berjualan. Tapi.. ya jadi nggak efektif ketika di ajang itu ada seorang pengamen jalanan yang bersuara bagus dan luwes koreografi, serta seorang tuna netra yang biarpun gak bisa koreografi  tapi suaranya dahsyat. Apalagi ketika ternyata suara dan teknik bernyanyi si anak tidak sebaik kedua teman yang juga punya kisah sedih di hari Minggu ini ;-)

Untungnya, memasuki babak Show, kayaknya para Mama ini mulai belajar. Mungkin juga karena waktu promosinya dibatasi 30 detik, sehingga nggak mungkin mendayu2 lagi. Sayangnya, si MC masih juga nggak belajar.. hehehe.. teteup aja ngomong gak penting ;-) Dan.. yang heran banget, bintang tamu yang diundang suaranya lebih parah dari kontestannya. Please deh! Siapa sih yang punya ide mengundang Melani Putria dan siapa-ya-yang-namanya-mirip-anakonda itu? Nyanyi lagu Kumpul Bocah lagi, yang rentang nadanya lebar! Gw rasa Vina Panduwinata menangis dengan sukses mendengar mereka berdua menyanyikan lagu ini.. hiks.. hiks..

*eh, kayaknya sampai di sini tulisan gw bitchy abis ya, udah mirip sama blog yang baru bangkit kembali ini.. hehehe... ;-)*

Anyway...   gw suka komentar2 para Dewan Eksekutor. Dhani, seperti biasa, punya kuping bagus dalam menilai penyanyi. Arzetti Bilbina, yang tugasnya menilai kostum dan penampilan, banyak memberikan tips yang bagus. Gw baru tahu dari komentar2nya dia bahwa kalung dan anting, biarpun datang dari seri yang sama, nggak selalu perlu dipakai dua2nya. Atau bahwa ada cara lain untuk memasang corsage dan bros. Gw juga suka tips yang dia berikan buat Fiersha, si tuna netra bersuara dahsyat itu. Sejak awal gw lihat, kelemahan Fiersha adalah pada bajunya yang terlalu kasual untuk sebuah pertunjukan. Padahal, biarpun dia nggak bisa melihat, dan biarpun suaranya bagus, kan tetap yang namanya penampilan di TV itu harus menarik dipandang.

Helmy Yahya, yang tugasnya mengomentari promosi manajer, banyak juga memberikan arahan marketing dalam showbiz. Termasuk mengkritik seorang Mama yang outshine artisnya, dan membuat si artis malah nggak pede. Gw suka nih saran2 seperti ini.. benar2 sebuah arahan bagus buat mereka2 yang belajar bisnis pertunjukkan.

Bahkan Sophia Latjuba, yang biasanya nggak pernah gw lirik, ternyata masukannya terhadap stage act bagus juga. Gw suka dengan seleranya yang [menurut gw] simple but elegant. Dia banyak mengkritik kontestan yang serba diberi penari latar. Katanya: biarkan ekspresi dan suara yang lebih banyak berperan, atau gerak tubuh si penyanyi sendiri. Nggak perlu semua2nya divisualisasikan. Good point, Sophie! Tapi.. boleh tanya nggak, kenapa sih bahasa Indonesia kamu jadi tambah kurang lancar gitu ;-)?

Satu yang gw gak tahu: di Mamamia ini, anak dan Mama itu mendapat pendidikan seperti di AFI nggak ya? Sejauh yang gw lihat sih enggak. Padahal, mungkin akan lebih bagus lho, kalau si Mama itu dapat pelajaran dasar2 komunikasi massa, manajerial, atau bahkan koreografi dan tata busana. Sementara buat anak2nya, diajar teknik bernyanyi juga nggak ada ruginya. Tapi.. mungkin dananya kegedean kali ya.. hehehe..

***

Sudah kadung ngomongin reality show, sekalian aja ngebahas reality show yang satunya: Indonesian Idol. Biar tulisan ini jadi paket combo tentang reality show juga.. ;-)

Rating-nya sih masih tinggi, dengan share penonton 20% (beda tipis dengan Mamamia yang punya share 19%, menurut yang gw baca di Kompas hari Minggu lalu). Cumaa.. ada yang nyadar nggak sih, bahwa Indonesian Idol sedang bertransformasi menjadi AFI? Hehehe.. Gw gak cuma bicara tentang koreografinya yang tambah mirip AFI (tentu aja... lha wong koreografernya Ari Tulang ;-)), atau banyaknya cuplikan drama pada saat sebelum kontestan bernyanyi (yang tadinya trade mark AFI). Tapi gw juga bicara tentang warna suara kontestan dan sisi emosional kontestan.

Awal2nya, Indonesian Idol lebih mirip kontes Il-Divo-wanna-be. Kontestannya punya warna suara seragam, penuh vibra. Indonesian Idol 2007 ini mendapatkan kontestan dengan warna suara yang beragam, kalau nggak bisa dibilang bahwa yang model Il Divo malah nggak ada ;-). Metamorfosa untuk memenuhi selera pasar yang lebih luas kah ;-)? Mulai sadar bahwa Indonesian Idol sulit menjadi idola Indonesia kalau hanya memenuhi selera remaja kota besar ;-)?

Terus.. dari segi emosional, gw juga melihat emotional attachment antara kontestan juga tambah erat. Bukan sekali dua kali gw lihat kontestan menangis ketika temannya tereliminasi. Sesuatu yang jarang sekali (hampir nggak ada?) di Indonesian Idol sebelum2nya. Gw ingat pernah nulis di bagian terakhir entry ini bahwa nangis2an adalah bukti adanya kedekatan emosional, bukan sekedar cengeng dan dramatis. Kedekatan emosional ini terbentuk karena sekelompok orang dikondisikan untuk berada dalam satu tempat dan saling bahu membahu. Menjadi “saudara”. Dan bahwa tidak adanya tangis2an di Indonesian Idol bukan karena acaranya lebih berkelas, lebih karena kontestannya tidak dikondisikan untuk saling dekat. Terbukti sekarang.. setelah Indonesian Idol menggunakan sistem karantina juga, maka tangis2an menjadi sesuatu yang lazim ;-)

Anyway.. ada juga yang berubah dari cara juri memberikan komentar. Terutama Indra Lesmana.. hehehe.. Dulu2 dia lebih mirip Simon-Cowell-wanna-be, sekarang dia udah mulai bicara tentang penghayatan, tentang gerakan harusnya gimana. Padahal, gw inget dulu dia selalu berpatokan bahwa dalam menyanyi tuh yang penting suara. Gerakan sih ntar2 aja... hehehe...

Well.. sebenernya gw sih seneng dengan “gaya membumi” seperti yang mulai ditunjukkan Indonesian Idol ini. Tapi.. gw juga nggak tahu deh, apakah memang ini arah yang mau diambil Indonesian Idol? Secara mereka selalu bilang “beda” gitu lho.. hehehe..

Yang terakhir, konon kabarnya lagu kemenangan Indonesian Idol 2007 nanti diambil dari pemenang lomba cipta lagu (bukan karangan musisi kawakan seperti sebelum2nya). Mau request aja, semoga lagu kemenangannya nggak seperti lagunya Joy & Delon dulu, yang gosipnya bisa dibikin jingle iklan:

Dan bila aku berdiri
Tegak sampai hari ini
Bukan karena kuat dan hebatku

Hehehe.. kata temen gw, lagu ini bisa dipakai untuk jingle iklan Viagra. Dasar!

BTW busway, tadi malem Rini di dua terendah ya? Salah milih lagu, menurut gw. Lagu Sheilla Madjid mah terlalu gampang buat dia! Biarpun penghayatannya kena, tetap aja suatu penurunan prestasi setelah berhasil menyanyikan lagu2 berfaktor kesulitan tinggi seperti Matahari (dari Badai Pasti Berlalu), dan Conga ;-)

Wednesday, June 27, 2007

Arjuna Belajar Memanah

Entry kemarin memang gak bikin gw tenar seperti entry Petisi Pembubaran IPDN lalu. Tapi.. yang membuat entry ini istimewa adalah: for the first time, I received hate letters. Yippiii! Setelah selama ini cuma dengar pengalaman Jeng yang hari ini meluncurkan novel adaptasi terbarunya di Citos jam 12:00, akhirnya gw dapat juga my own hate mails ;-) Such a new experience is precious, indeed ;-)

Yang juga menarik dari entry kemarin adalah komentar2 yang masuk. Kenapa menarik? Sabar.. sabar.., kita akan sampai ke sana ;-)

Sebenarnya, tema dasar dari Durjana itu sama persis dengan Virtue yang gw tulis 3 Oktober 2005. Dalam Virtue, gw bicara tentang rekoleksi gw terhadap kata2 bijak Cak Nun: bahwa jika suatu kesulitan (=kemalangan?) terjadi pada kita, lihatlah sebagai kesempatan untuk instrospeksi diri.. apa yang belum kita lakukan dengan baik sehingga kita mendapatkan kesulitan (=kemalangan?) ini. Tapi.. jika kesulitan (=kemalangan?) itu terjadi pada orang lain, seberapa jahatnya pun dia, lihatlah hal itu sebagai ujian buat orang tersebut, kesempatan agar orang itu menjadi lebih baik. Lihatlah itu sebagai kemalangan atau kesulitan, jangan mengumpat dan ”nyukurin” karena dia mendapat balasan yang setimpal.

Dalam Durjana, gw simply mengolah kembali hal itu ketika seorang kenalan ”nyukurin” keluarga Abu Dujana yang ditimpa kemalangan. Gw kembali ke proposisi awal dalam Virtue: pantaskah kita ”nyukurin” mereka dan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang sudah selayaknya diterima? Atau.. seperti kata Cak Nun, kita mesti melihat lagi bahwa ini adalah kemalangan, ujian, kesulitan, yang diterima seseorang? Just because he did something wrong, it does not mean that we are better than him, or he is worse than us. It does not give us any right to strip him his rights ;-)

Intinya.. It’s never about him or them, it’s about us.. What we decide to do to him/them, not what he has or they have done to us.

***

Nggak bisa disalahin juga sih kalo orang2 banyak yang [meminjam istilahnya ipra] ”ketipu” baca entry kali ini. Mungkin nggak banyak yg pernah baca Virtue. Dari yang baca, nggak semuanya ingat. Dari yang ingat, belum tentu sepenuhnya ngerti kalo keduanya berkaitan. Lha wong gw terserang jamais vu kok, waktu menulis Durjana. Merasanya belum pernah nulis yg sejenis ;-) Baru tiba2 deja vecu gitu, waktu nulis komentar. Kayaknya pernah menggunakan argumen yang sama.. dimanaaa gitu ;-) Setelah diinget2, ketemu deh entry jadul itu.

Fakta bahwa tokoh dalam Durjana ini tergolong the object of negative affection adalah distorsi lain yang bikin orang lebih gampang ”ketipu” ;-) Seperti pernah ditulis di sini, logika itu nggak absolut ;-) Mudah sekali untuk kehilangan kemampuan merangkaikan data secara logis ketika menghadapi kasus dengan muatan emosional tinggi.

Hehehe.. memang sulit untuk memanah tepat sasaran. Dari seratus lima murid Resi Dorna, hanya Arjuna yang bisa melakukannya. Padahal sasarannya sama: ayam2an yang digantung di sebuah dahan pohon. Jarak yang ditentukan untuk merentangkan busur pun sama. Bedanya, hanya Arjuna yang bisa melihat fokus pada ayam2an tersebut; tidak melihat dahan, ranting, daun, awan biru di sekitar ayam2an.. atau malah seperti Dursasana yang melihat makanan lezat di dahan pohon ;-)

*note: Dursasana melihat makanan lezat itu ada di komik Mahabharata versi RA Kosasih*

Kelebihannya Arjuna memang di situ: dia lebih bisa fokus terhadap target yang harus dipanahnya. Dia sanggup mem-blur-kan, atau bahkan menghilangkan sama sekali, background dan asesoris di sekitar target panahan tersebut. Makanya, dia berhasil menjadi ahli panah yang handal. Sesuatu yang kebanyakan orang memang nggak bisa.

Tapi nggak usah kecil hati kok buat yang belum berhasil memanah dengan baik. Mungkin bukan salah bunda mengandung.. hehehe.. Maksud gw, mungkin kalian sebenarnya adalah Arjuna yang berbakat memanah, cumaaaa... sayangnya... kalian adalah Arjuna dengan sebuah disadvantage: pohon tempat ayam2an itu digantung hobinya bergerak2, menutupi ayam2an dengan dedaunan.. hehehe.. Kan memanah akan jauh lebih susah kalau sasarannya adalah moving target. Apalagi kalau sasarannya adalah camouflaged target ;-)

BTW, kalau selama ini gw sering juga salah sasaran tembak, itu karena gw bukan Arjuna atau karena sasarannya gerak2 mulu ya? Hehehe.. Yang jelas, gw emang nggak bisa jadi Arjuna, kaleee.. Keterbatasan gender, hehehe.. Paling top juga gw bisa jadi Srikandi, yang [sayangnya] belajar memanah dari Arjuna.. ;-)

Friday, June 22, 2007

Durjana

“If, tonight, the most beautiful prostitute in the village came in here, would you be able to see her as neither beautiful nor seductive?”

“No, but I would be able to control myself,” the saint replied.

“And if I offered you a pile of gold coins to leave your cave in the mountain and come and join us, would you be able to look on that gold and see only pebbles?”

“No, but I would be able to control myself.”

“And if you were sought by two brothers, one of whom hated you, and the other who saw you as a saint, would you be able to feel the same towards them both?”

“It would be very hard, but I would be able to control myself sufficiently to treat them both the same”

(P. Coelho, The Devil and Miss Prym, p. 196)

Itu adalah percakapan dua tokoh rekaan Coelho, Ahab dan Saint Savin. Ahab ini, seperti juga Kapten Ahab dalam Moby Dick, adalah juga seorang kapiten. Bedanya, Ahab dalam cerita Coelho adalah seorang pemimpin perampok yang percaya bahwa pada dasarnya semua manusia itu jahat, dan satu2nya cara untuk membuat mereka tetap baik adalah dengan menakuti2. Itu sebabnya Ahab mendirikan sebuah tiang gantungan di alun-alun, sebagai peringatan bahwa kejahatan sekecil apa pun bisa membuat hidup mereka berakhir di sana (Eh, sampai sini sounds familiar, everyone? Tentang menakut2i manusia dengan hukuman, maksud gw ;-))

Tapi itu kejadian sebelum Ahab bercakap-cakap dengan Santo Savin, dan belajar bahwa tidak ada manusia yang sepenuhnya buruk atau sepenuhnya baik. Menjadi orang baik tidak berarti tanpa sisi buruk sama sekali. Tidak berarti kalau disodori pelacur cantik-seksi-menggairahkan lantas melihatnya sebagai nenek-tua-ompong-peot. Tidak berarti kalau diberi emas yang terlihat adalah kerikil. Menjadi orang baik, cukup dengan tidak tergoda oleh keseksian si pelacur, atau emas yang ditawarkan. Dan yang terpenting, seorang yang baik bukannya tidak boleh punya rasa sebal atau preference terhadap orang2 tertentu; cukuplah bahwa dia tidak membiarkan rasa itu menguasai tingkah laku dan keputusannya.

Cerita itu teringat kembali gara2 komentar seorang kenalan usai membaca berita bertajuk Bapak Disuruh Jongkok, Terus Ditembak. Usai membaca bagian tentang istri Yusron yang yakin bahwa suaminya bukan Abu Dujana, teman itu berkomentar kurang lebih begini:

”Tuh, kan, giliran kejadian sama dirinya sendiri, suaminya dibunuh di tempat, ribut. Bilangnya kenal betul lah, suaminya nggak mungkin seperti itu lah. Suaminya nggak bersalah lah. Nyalahin petugas lah.. Waktu suami dan teman-temannya ngebom bunuh diri, kepikir nggak bahwa mereka membunuh orang nggak bersalah? Jangan baru ribut sekarang kalau udah kejadian sama dirinya. Hidup ini resiprokal kok, jangan lakukan pada orang lain yang tidak ingin dilakukan pada dirimu sendiri”

OK, gw setuju bagian terakhir dari komentarnya. Jangan lakukan pada orang lain apa yang tidak ingin kita rasakan dilakukan orang lain pada diri kita. Cumaaa.. ketika kalimat ini digunakan untuk mencela istri Yusron, kok kayaknya rada nggak empatik ya ;-).

Gw gak mau mempersoalkan apakah Yusron itu Abu Dujana, atau bukan. Toh beritanya aja simpang siur. Gw juga gak mau mempersoalkan apakah ia ditembak dari jarak dekat atau jarak jauh. Toh jauh-dekat sama saja; sama2 tidak bisa membuktikan apakah ia memang lari atau disuruh berlari. Kecuali kalau gw anggota CSI: Jakarta yang ditugasi memproses crime scene yang belum being compromised ;-) Gw bahkan juga tidak menampik bahwa testimonial dari seorang istri itu bisa jadi sangat subyektif, sehingga kalau seorang istri yakin bahwa suaminya tidak bersalah, bukan berarti suaminya gak bersalah.

Yang gw permasalahkan di sini: kalaupun Yusron aka Abu Dujana ini benar2 bertanggung jawab atas terorisme, lantas dibenarkan untuk menyuruhnya turun dari motor dan langsung menembaknya di depan anak2nya?

Ohya, seperti kenalan gw itu bilang, hidup ini resiprokal. Setiap apa yang kita lakukan, akan ada balasannya. Kalau kamu suka mencederai orang tak bersalah, maka bisa jadi nanti pun kamu dicederai tanpa punya kesalahan. Ini yang namanya karma, kan ;-)?

Tapi.. yang gw pertanyakan: yang berhak menentukan karma itu siapa? Apakah semua manusia juga boleh? Boleh bertindak apa aja terhadap seseorang dengan alasan: salahnya sendiri, dulu juga dia sering gitu? Di mana sih, batas antara menjadi instrumen Tuhan (baca: menjadi karma) dengan menciptakan suatu kejahatan baru yang akan menimbulkan balasan setimpal?

Seandainya benar berita bahwa Yusron diminta turun dari motor, disuruh jongkok, dan kemudian ditembak dari jarak dekat, apakah si polisi ini menjadi instrumen yang menjalankan karma? Atau justru menjadi si durjana baru yang kelak akan mendapatkan balasan setimpal?

Boleh2 saja sebagian orang berpikir bahwa nasib Yusron ini adalah sekedar karma yang diterimanya. Bahwa wajar2 saja seorang polisi menembak seorang teroris, mengingat apa yang sudah dilakukan si teroris itu sebelumnya. Tapi.. kalau menurut gw, kita nggak bisa memakai ”karma seorang teroris” untuk menjustifikasi kekejaman yang kita lakukan terhadapnya.

Savin and Ahab have the same instincts. Good and Evil struggled in both of them, just as they did in every soul on the face of the earth. When Ahab realized that Savin was the same as him, he realized too that he was the same as Savin. It was all a matter of control. And choice. Nothing more and nothing less. Demikian kata penutup Coelho.

Dalam kasus di atas, seandainya berita itu benar, I think the policeman simply failed to control the Evil in him. He chose badly.

SUNTINGAN 24 Juni 2007:

Kata dibunuh dalam entry ini gw ganti dengan kata dicederai atas saran seseorang (sayang sekali) tidak memberikan namanya ;-). Dengan ini juga gw koreksi kemungkinan kesalahan penangkapan sebagian pembaca bahwa ada yg terbunuh. Namun sayang sekali, kata dibunuh yang terdapat pada kutipan dialog dari seorang teman tidak bisa dikoreksi, karena hal itu merupakan kutipan.

Sesuai saran orang tersebut pula, gw berikan tautan dari Antara tentang Polemik Penangkapan Abu Dujana, agar (meminjam kata2 orang tersebut) pembaca bisa memilih sendiri versi yang dipercayainya: versi polisi atau versi (meminjam istilahnya dalam komentar) "cerita si anak yg keberpihakan sangat nyata". Sekali lagi, seperti gw katakan di atas, gw gak tahu mana yang benar, karena toh gw bukan CSI: Jakarta yang ditugasi untuk memproses crime scene ;-)

Itu buat yang concern sama kasus Abu Dujana ;-). Kalau buat pembaca2 gw yang lain, mungkin sudah tahu ya.. gw lebih tertarik membahas insight dari apa yang gw temui sehari2. Dan dalam entry ini, gw sih lebih tertarik untuk membahas insight dari Coelho yg teringat kembali setelah membaca sebuah berita DAN mendengar komentar seorang kenalan tentang berita tersebut ;-) Karena insight tersebut datangnya dari situ, maka ya mau nggak mau "cerita si anak yang keberpihakan sangat nyata" terpaksa gw cantumkan ;-)

SUNTINGAN 7 Agustus 2007:

Senang sekali Bapak Guest mau mampir lagi. Mengenai mem-print artikel ini, mari kita bicarakan melalui email pribadi saya (klik di sini). Ada beberapa syarat dan kondisi yang saya ingin Bapak setujui lebih dahulu. Tentu Bapak mengerti betapa sulit memberikan persetujuan jika saya tidak mengetahui siapa yang saya beri persetujuan :)

BTW, sambil menunggu email Bapak, ada baiknya Bapak baca juga polemik di kotak komentar artikel ini serta artikel terkait lainnya: Arjuna Belajar Memanah dan Virtue. Komentar, dan kedua artikel terkait tersebut, tak bisa dilepaskan dari artikel ini :)

Ditunggu emailnya, Pak :)

Wednesday, June 20, 2007

Beliung Baru

Ada suami2 yang kalau punya duit sedikit lantas membelikan istrinya mobil baru, rumah mewah, atau segenggam berlian. Well, untungnya (atau apesnya?).. bapaknyaima jelas bukan suami model itu. Dia model yang patuh pada pepatah: ”Berilah ikan, dia akan makan hari ini. Berilah kail, dia akan mendapatkan makanan sepanjang hidupnya” ;-)

Yup! Daripada memberi gw segenggam berlian, bapaknyaima lebih suka ngasih gw gadget baru. Gadget yang bisa mendukung pekerjaan gw, biar gw bisa cari berlian sendiri.. hehehehe.. Mungkin secara dia sadar istrinya gak suka pakai berlian, kali ya.. hehehe.. atau dipikirnya istrinya lebih puas kalau bisa cari berlian sendiri ;-) Tapi juga nggak tahu sih... jangan2 ini upaya menghindar terselubung biar gak bisa disalahin kalau istrinya tak kunjung dapat berlian ;-)

Salah satu
beliung (eh, kalau cari berlian pakai beliung kan? Di film Snow White sih gitu ;-)) terbaru pilihan bapaknyaima adalah: Wireless Notebook Presenter Mouse 8000

Mouse ini bukan sembarang mouse. Bukan juga sekedar wireless mouse biar gw nggak direpoti dengan kabel2 tak perlu. Mouse ini adalah smart mouse, mouse double action, atau mouse kamasutra, or whatever you want to call it, karena bisa beraksi berbeda pada posisi yang berbeda ;-) Telungkup bisa, telentang juga hayo aja.. sama2 memuaskan.. HAHAHAHA..

Kalau telungkup, maka dia berfungsi sebagai mouse pada umumnya. Tapi.. kalau ditelentangkan, maka fungsinya beda: jadi presentation gadget yang OK banget. Ada laser pointer-nya, ada tombol2 yang compatible dengan MSPowerPoint, ada kaca pembesar virtualnya (untuk memperjelas huruf/gambar yang terlalu kecil dalam presentasi gw), dan.. yang belum gw temukan di gadget2 lain: ada virtual ink yang memungkinkan gw mencoret, melingkari, menggarisbawahi aspek2 penting dalam sebuah presentasi. Baca sendiri deh, di product specification pada tautan di atas. Jangan malas ;-)

Nilai plus lainnya: mouse ini hadir dengan casing bening yang tailor-made. Maksud gw, bentuk dan ukurannya pas dengan si mouse dan Bluetooth USB-nya. Cantik banget, nyimpennya nggak bulky serta enak dipandang mata.

Pokoknya, kalau kata bapaknyaima, seandainya mouse itu mobil, maka mouse ini adalah BWM seri terbaru ;-) Dan.. iya sih, kayaknya presentasi bakal jadi kegiatan yang menyenangkan. Setidaknya, kalau hasil penelitian gw kurang asoy geboy, mudah2an perhatian klien teralih dengan kecanggihan teknologinya.. hehehe...

*oops, moga2 gak ada klien gw yang baca. Kalau ada, ya terima kasih atas maklumnya ;-)*

Atau, kalau gw panik menghadapi klien yang demanding, setidaknya gw punya mainan buat bikin ketegangan berkurang ;-) Jadi gak sabar pingin presentasi nih.. HAHAHAHA..

Dipikir2, kalau dilihat effort yang dikeluarkan, sebetulnya lebih gampang buat bapaknyaima mampir di Frank & Co beli berlian. Setidaknya Frank & Co ada di mana2, gitu deh. Sementara, buat cari si Tikus Pithi ini, dia mesti keliling Jakarta. Kalau menurut informasi sih mouse ini hanya masuk 5 buah di Jakarta. Limited Edition, seperti yang tertulis pada kemasannya. Untuk mendapatkan tikus kecil ini bapaknyaima mesti mengerahkan segala daya upaya, plus kontak penjual2 komputer langganannya dari Ratu Plaza sampai Mangga Dua, dan jemput sendiri barangnya nun jauh di sana.

Tapi.. yang begini nih yang bikin terharu.. :) Emang kalau bicara tentang harga barang, selalu ada barang yang lebih mahal. Tapi.. kalo udah masalah usaha keras, naaah.. kagak ada matinye ;-) It's the most precious in itself ;-) It's what we call quality, not just quantity ;-).

Ngomongin kualitas-kuantitas, gw jadi inget satu kutipan. "The beauty of being pessimist is we always have a nice surprise". Kayaknya itu bisa diterapkan ke masalah di atas ya: "The beauty of quality is we can never get too much of it" ;-) Eh, iya kan? Kita nggak pernah bisa bilang kualitasnya terlalu tinggi? Hehehe.. Kalaupun ada istilah over-qualified, atau dibilang usahanya terlalu keras, biasanya hal itu adalah penilaian berdasarkan belief system tertentu. Berdasarkan standar subyektif atau sektoral tertentu. Beda dengan kalau ngitung jumlah orang di lift, misalnya, yang sudah pasti: bisa memuat up to 8 orang, atau up to 100kg. Begitu mencapai jumlah yang ditentukan itu, langsung.. tettooot... lift-nya gak gerak ;-) Mau di Hong Kong atau di London, yang naik manusia atau kucing, .. hasilnya sama: lift gak gerak karena kuantitasnya terlalu banyak.

Haiyaah.. seperti biasa melantur ;-). Anyway, busway, makasih ya,
Inspector Gadget, atas kadonya ;-) Battery included, lagi! Cumaa... tuh baterainya nyomot dimana sih, kok baru 3 hari dipakai langsung low-batt.. hehehe... ;-) Waduh.. kalau baterainya cepat habis gini, bisa2 berliannya nggak pernah ngumpul.. habis buat beli baterai mulu.. ;-)

------------

Nambah setelah dipublikasikan:

Entry ini harap dibaca sebagai ajang pamer suami ya.. bukan pamer gadget.. HAHAHAHA... *berjaga2 supaya gak [tambah] dibilang congkak dan sombong ;-)*

Saturday, June 16, 2007

Lagu Kanak-kanak

Barusan nonton acara Fifi si Ikan Terbang di Indosiar: acara lagu anak2 yang dibawakan dua alumni AFI, Adit & Tiwi, bareng bintang2 tamunya. Good choice, Indos, dari dulu dua anak AFI ini gayanya emang enak dilihat, dan tidak canggung di depan kamera, biarpun soal suara [harus diakui] masih banyak yang lebih bagus ;-)

Aaanyway, nggak mau ngomongin soal pembawa acaranya, ataupun acaranya itu sendiri. Gw lebih pingin ngomongin lagu anak2nya.. hehehe..

Gw hafal buanyaaaak banget lagu anak2. Ini mungkin merupakan efek samping karena terlalu lama duduk di taman kanak2. Bayangkan, umur 2.5 tahun gw udah masuk playgroup. Tapi, gw musti nunggu sampai berumur 6.5 tahun supaya bisa masuk SD, karena ibu ngotot memasukkan gw ke SD swasta yang ketat sekali peraturannya. Apesnya, pada saat gw mau masuk SD itu, terjadi perubahan tahun ajaran (dari Januari – Desember menjadi Juli – Juni) sehingga gw kena perpanjangan setengah tahun di TK. Total, 4.5 tahun gw habiskan di kelas sebelum SD.. hehehe.. Berasa jenderal banget gak sih ;-)? Bintang 4.5 ;-)

*Jadi, kalau gw suka agak kekanak2an, yaaa.. dimaklumi ya? What do you expect? Gw terlalu lama di TK.. hehehe... *

Kembali ke topik.. gw hafal banyak lagu TK. Selain lagu yang bervariasi, gw hafal juga bait kedua dan ketiga beberapa lagu yang biasanya orang nggak hafal. Bahkan nggak tahu kalau bait kedua dan/atau ketiga itu exist ;-). Lagu2 ini buanyak banget gunanya waktu Ima bayi. Agar dia tidak terlalu sering minta digendong, sekaligus untuk menstimulasi indera pendengaran, dan menambah kosakata, gw sering menyanyikan buat Ima lagu anak2. Jangan salah, lagu2 ciptaan AT Mahmud atau Ibu Soed itu banyak sekali kosakata yang tidak lazim dalam percakapan sehari2, contohnya: penat, elok, jemu, sunyi, dll

Contohnya aja lagu “Tik, Tik, Tik Bunyi Hujan” ini. Hayooo... ada yang ingat bait kedua dan ketiganya nggak? Hehehe... Ini bait beneran lho, bukan karangan gw. Gw baca di salah satu buku lagu2:

Teks Umum

Tik, tik, tik
Bunyi hujan di atas genteng
Airnya turun tidak terkira
Cobalah tengok dahan dan ranting
Pohon dan kebun basah semua

Bait 2:

Tik, tik, tik
Hujan turun bagai bernyanyi
Saya dengarkan tidaklah jemu
Kebun dan jalan semua sunyi
Tidak seorang berani lalu

Bait 3:

Tik, tik, tik,
Hujan turun dalam selokan
Tempatnya itik berenang-renang
Menari-nari, menyelam-nyelam
Karena hujan bersenang-senang

Ada lagi lagu yang gw suka waktu kecil, “Malam Tiba”. Gw emang dari kecil suka lagu mellow goeslow, jadi jangan heran kalo suka lagu kalem ini ;-) Setiap kali gw nyanyi ini, jarang banget orang yang inget. Apalagi inget bait keduanya ;-)

Teks Umum:

Hari sudah senja,
Alam mulai sunyi
Burung-burung semua
T’lah berhenti bernyanyi
Anak gembala kerbau
Menghalau ternaknya
Pulang menuju dangau
Jauh di tepi lembah

Bait 2:

Matahari silam,
Sunyi senyap di desa
Alam menjadi tenang
Bintang-bintang bercahya
Jangkrik ramai bergurau
Dalam rumput hijau
Tanda bersuka ria
Karena malam tiba

Mau lagu apa lagi? Hehehe... Lagu kesukaannya Ima waktu kecil ya.. “Bunga Mawar”. Coba, ada yang inget nggak lagunya ;-)

Lihat kembangku sekuntum mawar
Mekar kelopaknya bagai mahkota
Merah, merona warnanya
Segar menghiasi tamanku indah

Kumbang dan kupu-kupu ramai datang ke sana
Riang menyambut bunga mawar merah
Kumbang dan kupu-kupu ramai datang kesana
Riang menyambut mawar merah

Kalimat terakhir nggak salah. Memang coda-nya nggak menyertakan kata “bunga” lagi, langsung mawar merah.

BTW, Ima memang suka kupu2 sejak kecil, makanya salah satu lagu kesayangan lainnya adalah “Kupu-kupu”. Ini juga ada bait keduanya lho.. yang rata-rata orang nggak ingat ;-)

Teks Umum:

Kupu-kupu yang lucu
Kemana engkau terbang?
Hilir mudik mencari
Bunga-bunga yang kembang
Berayun-ayun
Pada tangkai yang lemah
Tidakkah sayapmu
Merasa lelah?

Bait 2:

Kupu-kupu yang elok
Bolehkah saya serta?
Mencium bunga-bunga
Yang semerbak baunya
Sambil bersenda
Semua kuhampiri
Bolehkah ku turut
Bersama pergi?

Tuh, ada satu kata lagi yang nggak lazim dalam percakapan sehari-hari: bersenda. Maksudnya senda-gurau, alias bercanda-canda.

BTW, Ima dulu senang sekali lagu ini, selain karena kupu-kupu, juga karena banyak kata “bunga-bunga” di sini. Maklum, salah satu teman imajiner-nya, yang menurut dia adalah anak perempuan berusia sekitar 5 tahun, bernama Mbak Bunga-bunga.

Hehehe.. masih banyak lagi lagu anak2 yang tersimpan di kepala gw. Tapi kali ini cukup segini dulu ya. Dihafalin aja dulu, nanti kalau mau lagi boleh tambah ;-)

Buat yang punya anak bayi, boleh dicoba untuk menyanyikan si kecil. Bayi tuh senang sekali dininabobokan dengan nyanyian, dan bagus juga untuk perkembangan otaknya. Yaah.. ini sih disebutnya Mozart Effect, tapi kata Mozart di sini tidak harus diartikan secara harafiah sebagai Wolfgang A Mozart lho ;-)

Cuma.. gw mesti kasih warning dulu mengenai efek sampingnya untuk orang tua yang mau mencoba2 ;-).

Yang pertama, kebiasaan menyanyikan lagu anak2 ini bisa menimbulkan konflik dengan ibu guru TK kelak. Waktu Ima di TK, gw “berantem” sama gurunya tentang syair yang benar, karena syair yang diajarkan ibu guru sering salah2.. ;-) Ima udah gw ajarin versi aslinya, malah dirusak sama ibu gurunya.. ;) Dan si ibu guru ini gak hafal bait keduanya... grrrrhhhhh... ;-)

Efek samping kedua: kalau si ibu/ayah suaranya jelek, fals, bisa jadi anaknya nanti ikut fals. Sampai sekarang gw juga nggak tahu apakah suara fals itu genetik atau hasil stimulasi lingkungan, tapi.. kalau Ima nyanyinya agak off key, gw suka merasa bersalah. Jangan2, gara2 gw sering nyanyi dengan suara mirip Astrud Gilberto ini (maksudnya agak2 off key tapi teteup, enak didengar), pengenalan nada Ima jadi salah kaprah ;-)

--------

Tambahan 19 Juni 2007:

Setelah baca komentar Popsie tentang salah nada ini, gw jadi ingat satu lagu lagi yang wajib untuk ditulis di sini:

Nenek moyangku orang pelaut
Gemar mengarung luas samudra
Menerjang ombak tiada takut
Menembus badai sudah biasa

Angin bertiup, layar terkembang
Ombak berdebur di tepi pantai
Pemuda b'rani, bangkit sekarang
Ke laut kita beramai-ramai

Aku tukang pos rajin sekali
Surat kubawa naik sepeda
Siapa saja aku datangi
Tidak kupilih, miskin dan kaya

Oh, well, bait terakhir sih sebenernya bukan bagian dari lagu yang sama. Tapi, swear! Nadanya sama persis.. hehehe..

Tuesday, June 12, 2007

Debt Diet

Entry terbaru Neng Yanti mengingatkan gw pada Debt Diet yang sempat pingin gw tulis beberapa bulan lalu. Topik yang – seperti banyak topik lainnya – terpaksa ngendon di lobus frontalis sampai munculnya mood yang tepat lagi untuk menuliskannya.

Debt Diet ini gw dapatkan waktu nonton salah satu episode Oprah Winfrey Show. Waktu itu salah satu tamunya adalah pakar2 yang memberikan patokan agar uang yang kita kumpulkan dengan susah payah nggak terhambur2kan dan hilang tanpa sisa. Pie chart yang diberikannya adalah: 35% untuk housing, 15% untuk transport, 15% untuk debt, 25% untuk others, dan 10% untuk saving.

Menurut sang pakar keuangan rumah tangga itu, housing itu mencakup segala pengeluaran rumah tangga; seperti belanja harian, belanja bulanan, listrik, telepon, internet, air, koran, dan gas. Gw tambahkan gaji pembantu juga di pos ini sebagai ‘sentuhan khusus’ ;-). Transport itu mencakup semua pengeluaran transportasi, baik iuran antar jemput, ongkos si Mbak belanja ke pasar, ongkos bajaj Ima les, bensin, dan ongkos parkir. Debt, naaah.. ini yang lucu. Dalam Debt ini dimasukkan semua jenis cicilan, termasuk premi asuransi, pajak rumah/mobil, dan... BIAYA PENDIDIKAN ANAK. That’s cool! Ini bagian yang waktu itu bikin gw setuju banget sampai ngangguk2 ;-) Memang, yang namanya biaya pendidikan anak itu kan hutang kita kepada makhluk yang sudah kita hadirkan di dunia ini ;-).

Saving, sesuai namanya, adalah sejumlah uang yang kita kumpulkan untuk ditabung. Sementara others mencakup semua pengeluaran yang tidak bisa dimasukkan ke dalam salah satu pos lainnya. Jadi.. mulai dari makan siang gw di kantor, belanja-belanji yang sifatnya personal seperti buku, DVD, baju, bedak, foya2 di Starbucks, sampai ngasih cepekan ke Pak Ogah dan sumbangan atau sedekah campur baur di sini.

Iseng2, gw ikutan ngitung pengeluaran gw sebulan2nya, dan.. inilah hasil perhitungan gw:

1. Housing: 40%

2. Transport: tergantung harga Pertamax, tapi rata2 16% - 18%

3. Debt: 10% (untuk sekolah & les2nya Ima doang), dan bisa jadi 15% kalau jaman2 bayar PBB atau memperpanjang STNK

4. Others: tergantung lagi boros atau enggak, tapi kisarannya adalah 19% - 23%, walaupun pernah juga nyampai 30%

5. Saving: sisa pendapatan setelah dikurangi keempat pos di atas, dan kisarannya adalah 12 - 18%, tergantung Pertamax lagi mahal atau enggak, dan gw lagi boros atau enggak.

Hmm.. not bad ya?

Yang nyata2 jauh melenceng dari target tuh housing, dan transport yang mengikuti harga minyak dunia ;-) Debt dan Others malah di bawah margin. Dan untuk Saving, jatuhnya malah bagus banget (biarpun.. trust me, bagusnya tuh kalau dilihat dari persentase aja, kalau dilihat nominalnya sih nggak sebagus2 itu ;-))

Keberhasilan “diet” ini sedikit banyak adalah karena sisa2 belajar akuntansi dan ikut ngurusin Koperasi Kredit di sekolah dulu. Gw jadi punya kebiasaan bikin catatan pengeluaran yang rapi dan penyimpanan bon yang rapi pula. Pokoknya gw udah kayak perusahaan deh, kalau cuma nyari arsip bon pengeluaran 2 tahun lalu sih masih gw simpan.. hehehe.. Catatan pengeluaran gw ditulis sebagai soft copy di MSExcel pada handheld gw, dan di-set up untuk menampilkan total pengeluaran setiap kali gw memasukkan data pengeluaran baru. Dengan demikian, gw jadi tahu sudah berapa rupiah yang gw keluarkan saat ini, dan bisa langsung tahu kapan harus nge-rem pengeluaran. Hehehe.. kalau pengeluaran udah masuk lampu kuning, langsung deh gw bikin gerakan penghematan menyeluruh di seluruh komponen rumah tangga ;-)

Yang juga membantu banget adalah kebiasaan gw mengurutkan uang kertas dari yang terbesar hingga yang terkecil di dompet. Lagi2.. ini kebiasaan saat ngurus KopDit dan sering jadi Bendahara di kepanitiaan2 Senat Mahasiswa dulu. Kesannya memang sepele, malah seorang teman dulu pernah bilang bahwa ini adalah kebiasaan tak berguna, karena biar diurutin gimana pun juga, yang seribu perak gak bakal berubah jadi seratus ribu perak.. hehehe.. Tapi, menurut gw, hal ini ngebantu sekali. Dengan uang yang diurutkan, kita jadi tahu pasti berapa jumlah uang yang tersisa di dompet kita. Dengan tahu berapa jumlah yang tersisa, kita juga langsung tahu berapa sisanya kalau kita tergoda membeli barang di depan mata. Psychologically, kita jadi lebih nge-rem pengeluaran karena langsung sadar bahwa ada konsekuensi bahwa kita harus segera “mindahin duit” dari ATM ke dompet kalau belanja-belanji lagi. Beda deh.. sama kalau kita belanja dulu baru kemudian sadar ternyata duit kita berkurangnya cepat ;-)

Selain itu, yang ngebantu banget adalah biaya Others gw yang [gw yakin seyakin2nya umat] lebih rendah dari rata2 cewek. Lho, kok bisa? Well.. yaa, karena gw ini cewek yang gak suka dandan.. hehehe.. Jadi ongkos nyalon dan fashion bisa dicoret dari daftar. Paling pengeluaran personal gw berkisar di beli buku dan DVD, bayar karcis berenang (yang lumayan murah karena berenang di sekolahnya Ima ;-)), atau sesekali pijat refleksi kalo udah capek banget. Itupun sudah gw tentukan budgetnya nggak boleh lebih dari nominal sekian setiap bulan. Dan.. untuk menyiasati, biasanya gw baru kasih treat ke diri gw sendiri kalau pengeluaran bulan ini sudah masuk kategori aman terkendali. Dengan demikian nggak kejadian bahwa Others gw bengkak sementara housing, debt, atau transport belum tertangani dengan baik.

Walaupun “diet” gw udah lumayan berhasil, gw masih ketar-ketir tuh melihat angka housing yang tinggi. Padahal, gw udah sehemat mungkin tuh ngatur duit belanja. Dan lagi.. yang namanya housing itu kan udah bagi2 dengan bapaknyaima, tapi kok masih tinggi juga ya? Apa ini masalah bias budaya ya, hehehe.. bahwa kalo di Indonesia sebagian besar pendapatan kita harus “terserap” ke Housing ;-)?

Anyway.. kalau mau kiat2 diet pengeluaran, coba tekuni aja di sini. Step by step-nya lengkap. Tapi.. jangan lupa berikan ‘sentuhan2 khusus’, karena nggak semua langkah dan kiat yang diberikan sesuai dengan yang kita alami. Bahkan dari judul pertamanya saja, Chart your Debt, mungkin nggak sesuai dengan keadaan kita di Indonesia. Kalau di Amerika sana debt diet menjadi isyu karena hutang kartu kredit yang menumpuk, maka di sini mungkin trigger dari diet kita adalah besarnya pengeluaran yang tidak bisa dihindari dibandingkan dengan pendapatan yang kita miliki.

Saturday, June 09, 2007

Legenda Cinta

Waktu umur gw 9 – 10 tahun, Bapak dan gw menemukan sebuah buku tua di rumah eyang. Sebuah buku tebal yang sudah menguning dan ujungnya dimakan rayap. Sampulnya karton tebal biasa, dibungkus kertas bergambar seadanya sebagai hiasan sampul. Sama sekali nggak menggairahkan untuk dibaca.. hehehe... apalagi dengan bahasa Indonesia yang masih menggunakan ejaan Suwandi.

Toh Bapak menyarankan gw membacanya. Don’t judge the book by its cover (and its page condition, and its spelling ;-)) dalam arti yang harafiah.. hehehe.. karena isi bukunya adalah biografi seorang perempuan hebat. Perempuan pertama yang mendapatkan Penghargaan Nobel, dan dalam bidang yang tidak tanggung2 pada masa itu: fisika. Well, memang sih dia menemukan radium bareng suami dan satu teman lagi, jadi bukan dia sendiri yang hebat. But still.. dia perempuan pertama ;-)

Jujur aja, pas baca buku itu, banyak istilah yang gw gak paham. Radium, polonium, dan segala-um-um-lainnya selalu membuat gw sulit maklum, malah berpusing2 bak pendulum ;-) Tapi.. gw termehek2 baca kisah cintanya Marie Curie dan Pierre Curie dalam biografi itu ;-) It sounds so romantic to me.. bahwa mereka bukan saja cinta2an, tapi menghasilkan sesuatu dari kolaborasi cinta mereka.

Marie dan Pierre Curie adalah legenda cinta gw yang pertama. The scientific love legend ;-)

Bertahun2 kemudian gw nemu kisah cinta lain yang tidak seaneh dan seilmiah pasangan Curie. Jauh lebih romantis dan lebih touchy. Biarpun demikian, inti ceritanya tetap sama: kolaborasi cintanya menghasilkan sesuatu buat dunia.

My romantic love legend adalah Kahlil Gibran dan May Ziadah.

Kahlil Gibran dan May Ziadah hanya bertemu dan berkomunikasi lewat surat. Perhaps their love life was just not to be, sehingga mereka tidak pernah bertemu. Atau.. perhaps their love life was to be that way, supaya rindu dendam dan kasih tak sampai menimbulkan ide2 kreatif dan karya2 yang indah. Either way, berbagai karya indah muncul karena cinta Kahlil Gibran kepada May Ziadah, dan menjadi bukti sebuah kolaborasi cinta yang indah. Pernah baca Love Letters? Baca deh.. atau setidaknya, baca Broken Wings (Sayap-sayap Patah). Di situ cinta mereka terabadikan lewat kata2 yang memperkaya dunia.

Satu lagi legenda cinta gw datang dari ranah eksistensialisme dan feminisme. Yaks! Betul sekali! Jean-Paul Sartre dan Simone de Beauvoir ;-) Salah satu hal yang pingin gw tahu adalah bagaimana kalau Sartre dan de Beauvoir sedang berkencan.. hehehe.. ngomongin apa aja yaks? Secara dua2nya kayaknya serius banget. Kalau Marie & Pierre Curie, gw selalu membayangkan pacaran di laboratorium sambil ngurusin radium. Kalau Sartre dan de Beauvoir.. hmm... intriguing ;-)

Anyway.. Sartre & de Beauvoir tidak menikah seperti Marie & Pierre Curie. Tapi hubungan mereka pun tidak terhalang ruang, waktu, dan keadaan seperti Gibran & May Ziadah. Mereka berdua simply inseparable. Still.. the common theme exists here: the love and collaboration of these two great people contributes something to the world. Memang, hasil kolaborasinya nggak sejelas pertukaran surat cinta Gibran & May, atau segamblang radium yang ditemukan Marie & Pierre Curie, tapi.. de Beauvoir punya andil (yang mungkin tak terlihat) pada karya2 Sartre, seperti juga Sartre punya andil (yang mungkin tak terlihat) pada karya2 de Beauvoir.

Kurang lebih setahun lalu, gw seperti deja vu melihat sepasang kekasih di dunia nyata. Kolaborasi mereka mengingatkan gw pada Sartre dan de Beauvoir, dalam arti mereka tampak saling mendukung, saling mempengaruhi tanpa kehilangan jati diri masing2. Dua entitas yang berbeda, namun jelas saling terkait di belakangnya. Dan yang jelas: membawa banyak hal pada dunia sekitarnya :-)

I was so sure I found my 4th legend of love: the real time love legend ;-)

Sayangnya, tidak seperti Marie & Pierre Curie, atau Gibran & May Ziadah, atau Sartre & de Beauvoir, kolaborasi ini berakhir dini. End of my year-long fantasy ;-). Tapi nggak papa deh, walaupun kalian menjadi entitas yang terpisah kini, semoga tetap bisa saling mendukung dan tetap berkontribusi pada dunia sekitar sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad :-). What doesn’t work between lovers, hopefully it will work between best friends ;-).

Dan.. bagaimanapun, mestinya kalian bangga sih, bahwa kalian menggoreskan akhir kisah cinta yang berbeda dari tiga legenda cinta gw sebelumnya.. hehehe.. Memang, empat adalah angka yang istimewa ;-) Three Musketeers aja yang pakai angka 3, sebenarnya ceritanya berempat dgn D’Artagnan. Empat sehat lima sempurna, udah cukup sehat dengan 4 elemen pertama ;-). Moga2 prestasi ini bisa sedikit mengobati hati yang luka ya ;-)

----------------

Dedicated to the two dearest friends, the legend of love in the real time.

“Two roads diverged in a wood, and you – You took the one less traveled by. And that has made all the difference” (modified from R. Frost’s The Road Not Taken)

PS: Maaf, sekali ini sengaja gak dikasih tautan untuk kenyamanan semua pihak. Dan kalau ada yang berhasil nebak2, PLEASE SHOW YOUR RESPECT BY NOT MENTIONING ANY SPECIFIC CLUE. Thanks ;-)

Tuesday, June 05, 2007

Istri Durhaka Lantaran Bayar Pajak

Ngelanjutin cerita ini ;-)

Jadi, seperti kantor bapaknya Advaya, kantor gw juga menawarkan bikin NPWP kolektif. Syaratnya cuma ngasih KTP doang. Ini juga lebih merupakan good will kantor untuk karyawan2 tercinta (aiyaah!), karena ditengarai ngurus NPWP secara pribadi ke kantor pelayanan pajak itu lebih rumit dan sulit (yaaah.. kira2 mirip dengan ngurus paspor sendiri, ngurus SIM sendiri, dan ngurus2 yang lain sendiri di [bukan] republik mimpi ini).

Naah.. dengan semangat patriotik, gw ngasih fotokopian KTP dong ;-) Tapi gw juga nanya: sebenernya mana yang lebih menguntungkan, NPWP pribadi atau digabung aja sama suami, secara suami gw udah punya NPWP. Lha, jawabannya malah gini (dikutip mentah2 dari penjelasan GA & HR Manager kantor gw):

1. Dalam satu Rumah Tangga hanya boleh 1 NPWP dan di Indonesia NPWP mengikuti NPWP suami. Dalam pelaporannya bila istri pajaknya sudah dipotong oleh pemberi kerja (perusahaan) maka perhitungan pajak istri hanya jadi lampiran dari laporan pajak suami. Jadi tidak digabung karena kalau digabung pasti kurang bayar karena Penghasilan Tidak Kena Pajaknya (PTKP) berkurang dari 2 jadi 1. Laporan pajak istri hanya menyerahkan bukti potong yang dapat diminta dari perusahaan setiap tahunnya. Akan tetapi bila pendapatan isteri bukan dari pemberi kerja atau dengan kata lain wiraswasta maka pendapatannya akan digabung dengan pendapatan suami.

2. Kalau mau pihak isteri bisa saja punya NPWP sendiri dan melaporkan pajaknya sendiri tanpa ikut suami dengan syarat harus membuat surat pisah harta antara suami dan isteri. Kalau tanpa itu dan alamat KTP suami dan isteri sama kemungkinannya menurut saya NPWP isteri tidak akan keluar karena mereka based on KTP.

3. Surat pisah harta tersebut harus dinotariatkan, biar ada kekuatan hukumnya.

OK, penjelasan poin pertama cukup menenangkan hati. Setidaknya, kalau pendapatan tidak digabung, dan PTKP gw (sebagai pekerja wanita menikah) tidak dihilangkan, maka itung2an masih bisa bagus lah! Nggak menyedihkan amat kena pajak progresifnya. Apalagi Pak GAHRM ini juga bilang bahwa "punya NPWP sendiri itu menyulitkan" hanya rumor tak pasti. Katanya, kecil kemungkinan terjadi segala kesulitan itu (note: gw belum nge-probe tentang seberapa besar kemungkinan terjadi yang lebih menyulitkan daripada itu ;-))

Tapi.. gw dan beberapa teman (yang sama2 wanita, sudah menikah) rada2 gak happy nih dengan peraturan pajak yang swarga nunut neraka katut (= konsep di Jawa bahwa istri itu hanya ”ke surga nebeng, ke neraka terbawa” oleh suaminya.. seolah2 perempuan nggak bisa apa2 tanpa suaminya ;-)). Jadi, kami2 ini bertanya, gimana kalau istri pingin juga punya NPWP. Nggak mengharapkan yang tidak2 sih, tapiii.. kalau emang kejadian kenapa2, setidaknya nggak harus susah2 bikin NPWP baru.

Dan.. jawabannya adalah seperti di poin ke-2 dan ke-3. Bisa aja istri punya sendiri, tapi harus ngurus surat pisah harta yang diakta-notariskan. Atau.. cara lain: pakai KTP yang alamat suami istri beda.

Hmmm... *tanduk muncul di kepala*.. cara yang kedua tuh lucu juga kayaknya ;-)

Gw cek KTP gw, status pernikahan masih tercatat sebagai BELUM MENIKAH. Emang, sejak menikah 9 tahun lalu, gw nggak ng-update KTP. Dan dengan manisnya, KTP baru gw selalu sudah siap di kelurahan setiap kali jangka waktunya habis. Jadi.. tetaplah gw tercatat sebagai perawan (eh, maksud gw, lajang. Kalau keperawanan kan sulit dibuktikan dgn KTP ;-))

Teruuusss.. gw lihat alamat KTP gw dan bapaknyaima beda. Gw masih pakai alamat rumah almarhum bapak yang ada di sebelah rumah gw sekarang ;-). Selama ini nggak pernah ada kesulitan, dan gw gak terlalu pingin ganti, karena toh rumah bapak sekarang masih jadi milik adik gw. Ntar2 aja kalo adik gw mau jual tuh rumah baru gw ganti alamat ;-). Sementara, bapaknyaima udah pakai alamat rumah kami sekarang.

Beda alamat, biarpun sebelah2an, boleh punya NPWP beda kan ;-)? Apalagi nama keluarga kami beda.. hehehe.. Nama keluarga yang gw pakai tetap my maiden name. Jadi, asal nggak disuruh kasih fotokopi surat kawin dan/atau kartu keluarga, di atas kertas nggak terbukti bahwa gw & bapaknyaima suami istri.. hehehe..

Cumaaa.. gw jadi mikir: kalau gw akalin seperti ini, kesannya jadi kayak episode2 di sinetron Hidayah atau sejenisnya ya? Hehehe.. Bisa dijudulin: Istri Tidak Mengakui Suami Lantaran Pajak ;-) Atau lebih dramatis lagi: Istri Durhaka Lantaran Pajak ;-) Eh.. ada yang lebih tragis lagi judulnya: Istri Ingin Bijak Malah Durhaka ;-) Maksudnya, kan orang bijak taat pajak, istri yang ingin punya NPWP itu ingin jadi orang bijak (yang taat pajak), tapi malah jadi durhaka nggak ngakuin suami kan ;-)?

Nah lho! Quo vadis Direktorat Jendral Pajak ;-)? Situ mau nanggung dosanya nggak? Nggak harus licik2an pakai ngakalin KTP pun aturannya situ udah bikin perkara lho.. mosok masih nikah baik2 udah disuruh bagi harta gono-gini demi sepucuk NPWP ;-)?

SUNTINGAN 9 Juni 2007:

Berhubung ada beberapa teman yang menghubungi gw via japri tentang pajak (ceceileee.. berasa konsultan pajak deh gw ;-)), gw mau kasih tautan ke FAQ Perhitungan PPh Pasal 21 ini, atau sekalian ikuti Petunjuk Pemotongan PPh Pasal 21 di situs resmi Dirjen Pajak ini. Monggo, silakeun dipelajari sendiri ;-)