Showing posts with label From the Bottom of My Heart. Show all posts
Showing posts with label From the Bottom of My Heart. Show all posts

Tuesday, July 24, 2018

"Nama Besar" Memang Jaminan Mutu

Selasa, 17 Juli, malam tiba-tiba bapaknya ImaNara telfon menanyakan STNK ada di mana. Dengan santai gw jawab, "Ya di dompet kunci mobil lah!", sambil mikir dalam hati: ini orang kenapa sih? Emangnya tuh STNK bakal jalan2 kemana??

Nggak lama anaknya mertua ini telfon lagi: "Yakin? Periksa dulu deh! Soalnya ini ada yang WA aku bilang dia habis nganterin STNK atas nama Bapak Praj ke rumah"

Masih sotoy gw menjawab bahwa gw yakin. Tapi sambil bersungut2 ya memeriksa juga apakah STNK nggak ada. Dalam hati sudah berniat bakal gw jejelin tuh foto STNK ke mukanya kalau ada :D Paling juga yang ngaku2 nganter itu penipu! Macam penipu yang suka bilang kita menang undian apaan itu.

Eeeh ... ternyata ... STNK TIDAK ADA DI TEMPATNYA!!!

Bersamaan itu gw ditelfon lagi: "Aku baru lihat fotonya. Benar itu STNK kamu! Pasti nggak ada kan di dompet? Katanya jatuh di pelataran Starbucks, ini yang nganterin pegawai Starbucks"

***

Setelah mendapat kepastian bahwa itu adalah STNK yang hilang dan ditemukan di pelataran Starbucks, pertanyaan gw adalah: Starbucks yang mana? Maklum ... ada 3 Starbucks yang menghiasi (tsah!) hari2 gw secara teratur: Starbucks Pasaraya Blok M depan kantor (tempat kalau pagi "meeting" sama barista dulu biar melek), Starbucks Rawamangun di Jl Paus (tempat kerja kalau hari Jumat, harinya work from home sebelum jemput anak lanang), dan akhir2 ini Starbucks Green Pramuka Square (di bawah apartemen sewaan tempat kami mengungsi 2 bulan selama rumah direnovasi).

Iyaa ... hidup gw emang complicated banget ... sampai Starbucks pun harus tiga :-))

Kalau dipikir2, logikanya sih itu STNK nggak mungkin jatuh di Starbucks Pasaraya ataupun Green Pramuka. Gw nggak pernah bawa mobil ke kantor, ya keleus bahwa STNK doang. Ke Green Pramuka sih beberapa kali bawa kunci mobil, tapi ... kan gak ada pelataran di sana? Jadi ... mestinya jatuh di Starbucks Rawamangun.

Tapi kapan ke Starbucks Rawamangunnya? Wong sudah beberapa minggu terakhir mengendap di Green Pramuka :D 

Namun ... laksana dapat aha! moment, gw ingat bahwa gw mengunjungi Starbucks Rawamangun pada Friday, the 13th of July 2018. Sesuai dengan namanya, hari itu memang sial banget bagi gw. Udah lift di Green Pramuka ke parkir di basement P2 mati (sehingga gw mesti jalan ke bawah 3 lantai!!), kena denda bayar parkir IDR 450.000 plus ongkos parkir 8 hari sebesar IDR 80.000 jadi totalnya IDR 530.000 lagi! 

(Iya ... di Green Pramuka City tenant yang nggak mengeluarkan mobil dari parkiran lebih dari 5 hari akan kena denda IDR 150.000 per 24 jam. Berhubung gw baru balik dari bertugas ke KL, itu mobil otomatis sudah ngendon di parkiran selama 8 hari.  Jadi ... yaaah ... kena denda 3 hari deh! Huhuhu .... rugi bandar!)

Karena a series of unfortunate events itu, gw memutuskan untuk menghilangkan kesedihan (halah!) dengan ngopi dulu di Starbucks Rawamangun sebelum menengok rumah yang direnovasi bersama anak2 gw. Lha ... kok ndilalah mobil menolak dinyalakan setelah gw selesai ngopi!! Jadi ... dengan kesedihan dan kegalauan yang bertambah, gw dan anak2 gw mencari bantuan mendorong mobil.

Pak Dodi yang sebelah kiri, bukan kanan
Mungkin di saat itulah STNK gw jatuh. Tapi gw nggak sadar. Dan nggak akan pernah sadar jika Pak Dodi "Backbone", security officer di Starbucks Rawamangun, nggak mengantarkan STNK itu ke rumah. Pakai harus "berdebat" dengan suami gw pulak ... lantaran gw haqqul yaqqin STNK-nya nggak hilang.

Jadi ... dengan rasa penuh terima kasih, gw sempatkan menemui Pak Dodi pada Jumat, 20 Juli. Sangat mudah bagi beliau untuk gak peduli ... atau setidaknya membiarkan STNK itu di Starbucks sampai saya sadar dan mencarinya (yang entah sampai kapan itu). Tetapi beliau dengan baik hati bersusah payah mengantarkannya ke rumah saya. 

Terima kasih, Pak Dodi, atas kebaikan dan kepedulian Bapak. 

Dan mengutip bapaknya ImaNara: "'Nama besar' itu memang jaminan mutu ya? Mereka punya standard agar konsumen puas. Sampai security officer pun ikut memastikan konsumen puas"

Jadi ... terima kasih Starbucks Indonesia! Kalian beruntung punya pegawai seperti Pak Dodi yang ikut serta memastikan kepuasan pelanggannya!

(Eh ... tapi jangan jadi alasan buat teman2 untuk menjatuhkan STNK di Starbucks ya. LOL)

Sunday, October 23, 2011

That's What FRIENDZ Are For

Pada Juni 2011, adik2 gw ini menikah. Dan sebagai kakak yang baik, gw membantu menyebarkan pengkabaran online-nya. Pada milis yang selama 7 tahun terakhir ini kami jaga kelestarian dan kemurniannya (iya, meskipun milisnya sudah gak aktif, tapi gw dan jurukunci lainnya masih galak: nge-ban member yang nge-post dagangan atau info gak nyambung lainnya). Serta pada Group FB yang dibuat ketika milis sudah gak happening, sementara FB masih membatasi Private Message hanya bisa dikirim ke 20 orang saja (sementara jaringan pertemanan kami sudah terbentuk sekitar hampir 40an saat itu).

Kabar pernikahan mereka menyebar dengan cepat. Dan sekonyong2, bermunculanlah orang2 tak kami kenal yang mengatakan bahwa mereka adalah penggemar kedua adik gw ini. Beberapa dari mereka mencoba mendekatkan diri dengan gw. Dengan beberapa teman yang juga aktif membantu kedua adik ini.

Tentu... kami senang mendapat teman baru. Gw senang mendapat teman baru. Namun... seiring dengan banyaknya message yang gw terima, gw mulai menyadari bahwa cara pandang kami berbeda.

Perbedaan cara pandang yang paling utama adalah mengenai SIAPA kedua adik gw itu :-)

Buat gw dan teman2 yang sudah bersama2 selama 7 tahun ini, pasangan pengantin ini adalah adik/teman tersayang. Kebetulan saja mereka pernah happening dalam skala nasional, tapi... intinya mereka adalah adik/teman yang sama dengan adik/teman kami lainnya :-) Namun teman2 baru kami masih melihat pasangan pengantin ini sebagai the living icons. Dua selebriti yang dipuja, dikagumi, dan diketahui detil kehidupan pribadinya

Maka bermunculannya pernyataan2 yang membuat dahi gw berkerut, seperti:

"kapan ya idola kita(nia & adit) bisa muncul bareng di tv lagi"

"Yang punya info ttg mereka tiap harinya ato paling ngak info terbaru dari mereka tolong di bagi2 ama kita di sini ya teman2....makasih"

Hal lain yang juga mengganjal adalah perbedaan pandangan tentang kedekatan kami. Buat gw dan teman2 yang sudah bersama2 selama 7 tahun terakhir, menjadi "dekat" dengan mereka adalah sesuatu yang alamiah. We're friends, of course we're close to each other ;-) Buat teman2 baru yang masih memandang mereka sebagai idola, ini adalah suatu aspirasi. Bahkan sumber iri. Seperti yang diungkapan salah satu mereka berikut ini:

"seneng y jd mbk maya bsa msuk daftar org spesial di hatinya mbk nia....*pinginn dee* tp syang mbk nia gk kenal ak :("

"wah seneng bgt mba bisa knal k'nia lbih dekat bgt jd iri,hehe.."

Dan komentar2 ini lah yang kemudian mendorong gw untuk menuliskan posting ini :-) Untuk meluruskan padangan2 di atas :-)

***

Apakah dekat dengan mereka adalah sesuatu yang membuat senang? Tentu saja :-) Nia is really a one sweet little creature. Depan/belakang kamera ya anaknya kayak gitu itu: polos, nggak pernah mikir buruk sama sekali, dan malah saking polosnya kadang2 naif :-) Adit? Di balik gayanya yang rame dan sok funky itu tersembunyi laki2 perasa... HAHAHAHA... Sangat intuitif :-) Juga sangat pintar :-) Nggak banyak orang yang bisa langsung "nangkap" penjelasan atau joke gw yang kadang (eh, seringnya ;-)) terlalu belibet. Adit gak pernah kesulitan menangkap langsung ke intinya :-) Personally, buat gw, adalah keasyikan tersendiri ketemu teman yang "nyambung" :-)

Tapi apakah kedekatan ini terbentuk dengan mudah? Semata2 karena kami punya akses dan gampang bertemu dengan mereka? NO! Sama sekali tidak ;-) Kedekatan yang terjalin antara kami semua ini adalah hasil kerja keras, usaha, dan penyesuaian diri selama 7 tahun :-)

Di masa awal2, ketika mereka masih jadi icon skala nasional, tak terhitung friksi antara kami. Seorang teman pernah sangat tersinggung karena Adit yang sedang moody tak sengaja menyepelekannya. Teman yang lain pernah sakit hati karena kepolosan dan tidak panjangnya pikiran Nia. Beberapa teman juga pernah agak sebal karena Nia & Adit tidak melayat ketika salah satu dari kami meninggal dunia. Atau ketika merasa tidak mendapat terima kasih yang pantas setelah apa yang dilakukannya di pesta kejutan untuk ulang tahun Adit.

Salah satu "drama" perseteruan kami pernah gw tulis di sini (ehmmm...)

Tapi seiring waktu kami semua - baik Nia& Adit maupun gw & teman2 lain - belajar menyesuaikan diri. Belajar menerima kelebihan dan kekurangan masing2. seiring waktu kami belajar melihat mereka sebagai bagian dari kami. Bukan sebagai sepasang icon yang terpisah dari kami. Belajar melihat mereka sebagai "teman". Belajar menerima bahwa berteman adalah [seperti gw tuliskan pada posting tertaut di atas] "accept and endure any pain for his/her friend". Berteman itu tidak menuntut, tidak berharap something in return... tapi simply... menerima dan ikut menjalani any pain for his/her friend. Termasuk sakit yang disebabkan si teman :-)

Dan waktu menguji segalanya :-)

Sedikit demi sedikit, tirai mulai tertutup bagi Nia & Adit. Mereka yang mengaku sebagai penggemar sedikit demi sedikit tak muncul lagi. Sibuk dengan icon-icon baru yang bermunculan. Sehingga akhirnya tersisa kumpulan yang bisa dibilang 4L: loe lagi, loe lagi :-)

Sebagai perbandingan: puluhan orang hadir di pesta ulang tahun kejutan untuk Adit 3 November 2004 di New York Cafe. Pada tahun 2006, ketika kami mengikuti Kuis Siapa Berani, mengumpulkan 18 orang untuk peserta aja sulitnya bukan main... hehehe... Dan ketika Nia dan Adit meluncurkan mini-albumnya tahun 2008, dengan band Friendz yang namanya masih Djawa dan susunan personilnya masih beda jauh dari Friendz sekarang, yang mau datang nggak sampai 18 orang :-) Itupun yang dua hasil culikannya Mbak Wiet, ya Mbak :-)?

Tapi ini adalah seleksi alam. Survival of the fittest. Atau tepatnya survival of the strongest loyalty :-) Pada akhirnya yang tersisa adalah kumpulan kecil yang mau ikut susah dengan Nia dan Adit :-) Bukan yang cuma mau menunjukkan kepada dunia bahwa dia pernah dekat dengan Pasangan Favorit AFI-2 :-)

Kami yang tersisa ini yang ikut susah payah mengumpulkan tanda tangan ketika Nia & Adit mencoba peruntungannya di Fourth Monkey, dengan janji akan rekaman jika bisa mengumpulkan 1000 pendukung. Kami yang jumlahnya tidak sampai 18 ini mencoba segala cara untuk mengumpulkan yang mau dicatatkan sebagai pendukung. Hema dari Bengkulu sampai membujuk semua teman sekantornya untuk vote :-) Kalau mereka malas vote sendiri, Hema meminjam password email mereka saja, agar bisa vote :-)

*Pada masa itu, jika Hema diculik oleh hacker, dijamin bubar dunia... HAHAHAHA... Berapa password aja tuh ada di tangan dia ;-)*

FourthMonkey memang belum jadi rejeki Nia & Adit. Tapi kami membukukan sukses, karena dalam kurun waktu singkat melakukan the impossible: dari posisi ke sekian puluh, melejit ke posisi kedua di bawah Barry Likumahua :-) Pada akhirnya hanya Barry yang diproduseri, tapi... kami mendapatkan sesuatu yang tak kalah baiknya: PERSAHABATAN.

***

So, jika sekarang ada teman2 baru yang mengatakan betapa irinya mereka pada kami, atau betapa beruntungnya kami bisa "dekat" dengan kedua "idola" ini, gw hanya ingin mengatakan sesuatu: we EARN it :-) We earn this FRIENDSHIP :-)

Ingin seperti kami? Caranya mudah... :-) EARN it :-) Jangan cuma muncul saat mereka tenar, saat mereka diingat orang. Tapi beradalah di samping mereka setiap saat. Dalam suka dan sedih :-) Dalam tenar dan redup :-)

Dan saat berada di samping mereka, stop treating them like idols. Treat them like friends :-) Berhenti berharap mendapatkan "sesuatu" dari/tentang mereka. Tapi berilah sesuatu pada mereka :-)

In good times or bad times,
I'll be on your side forever more
That's what FRIENDZ are for
;-)

Friday, October 07, 2011

Cinta

Gw punya sebuah pertanyaan hipotetis, yang baru jadi perbincangan dengan beberapa teman kantor. Pertanyaannya begini:

Bayangkan kamu seorang perempuan, lajang, usia nyaris 35 tahun. Kamu sudah berpacaran selama 10 tahun dengan pria yang membuatmu tergila2. Pokoknya cinta mati deh! Tapi... hubungan ini nggak ada tanda2 untuk berlanjut ke jenjang yang lebih tinggi. Si laki2 hanya selalu bilang, "We're soulmate. We'll grow old together, trust me".

Lantas... suatu hari kamu bertemu dengan seorang laki-laki lain. Dia tidak membuatmu tergila2, tetapi juga tidak membuatmu uncomfortable di dekatnya. Dia menawarkan cinta, pernikahan, dan kemapanan.

Manakah yang akan kamu pilih? Menikah dengannya dan belajar mencintainya? Atau ... tetap bertahan pada hubungan yang entah mau dibawa kemana?

Hehehe... ini sebuah pertanyaan hipotetis. Atau tepatnya analogi ;-) Bukan gw mau kawin lagi... HAHAHAHA... But I really want to hear any opinion from you, along with the reason ;-)

Thank you ;-)

Friday, August 26, 2011

Eclipse

Masih dalam rangka khataman nonton SYTYCD, rasanya ada yang kurang kalau nggak ngebahas yang satu ini. Terlebih karena dalam seminggu terakhir, this particular routine menjadi video yang paling sering gw putar baik di komputer maupun tablet.



Biasanya, tarian kontemporer nggak terlalu berkesan buat gw, karena genre ini cenderung membuat penari pria jadi kelihatan "melambai". Maklum, gw dibesarkan dalam tradisi tarian2 klasik dimana pembagian peran (dan gerakan) perempuan serta laki2 jelas ;-) Dalam tarian Jawa, misalnya, gerak perempuan dan laki2 memiliki pakem berbeda. Dalam ballet yang gerakannya kurang lebih sama pun, nuansa teknik untuk pria berbeda dengan perempuan.

Tarian kontemporer di atas menjadi berbeda dan berhasil memukau gw karena gerakan penari pria tetap maskulin. Dalam wawancara pra-tayang, koreografer Mandy Moore memang mengakui bahwa tarian ini dibuat extremely athletic untuk menggambarkan hi-and-low emotion yang terjadi. Tapi yang harus mendapatkan kredit juga di sini adalah si penari pria, Neil Haskell, yang berhasil menunjukkan keatletikan; yang biasanya tak lazim muncul pada penari kontemporer pria. Sebagai gymnast-turned-dancer, memang nggak heran kalau dia memiliki kualitas yang nggak biasa. Apalagi sebagai straight guy, jelas vibe-nya maskulin kan :-)

Kalau penari perempuannya nggak usah diomongin lagi deh... hehehe... Melanie Moore (yang kayaknya nggak ada hubungan saudara dengan Mandy Moore), memang dari awal jadi front-runner untuk musim ke-8 ini. Jadi nggak aneh kalau penampilannya ciamik juga :-) Wong akhirnya dia yang jadi juara ;-)

Fabulous choreography, fabulous dancers... is it too much to expect perfection? Ternyata enggak juga! Together, they make the perfect interpretation towards one of my all-time favorite song ;-)

Ah ya :-) Total Eclipse of the Heart adalah salah satu all-time favorite gw. Salah satu lagu yang selalu berhasil "nampol" dan mengaduk2 perasaan setiap kali gw dengar. Simply karena nada dan syairnya! Bukan karena gw asosiasikan dengan ingatan tertentu. Ini salah satu lagu yang gw intuitively feel dibuat dengan "jiwa" :-)

Lagunya, gw rasa semua yang pernah tahu syairnya pasti mengerti, bicara tentang patah hati. Tentang one-sided love; bertepuk sebelah tangan. Atau kalau syair2 awalnya yang bicara tentang "turn around" diartikan secara historikal, ini adalah kisah dimana seorang kekasih ditinggalkan orang yang dicintainya. Ini yg gw mengerti dari lagu ini, tapi nggak pernah benar2 bisa gw visualisasikan....

... sampai gw menemukan tarian ini di YouTube sekitar seminggu lalu.

Koreografi ini benar2 apik memvisualisasikan apa yang terjadi. Bagaimana di setiap bagian gerakan Neil dan Melanie bagaikan tarik-ulur dalam sebuah hubungan. Di satu bagian mereka menari bersama dengan sangat passionate, di bagian lain mereka bak bertarung satu sama lain. Love the part ketika mereka berdua menjatuhkan diri setelah half piroutte ke arah yang bertetangan.

[Background Sound: "And I need you now, tonight. And I need you more than ever..."]

Klimaksnya adalah leap of faith yang dilakukan Melanie, literally, dari jarak sekian meter ke pelukan Neil. And he caught her with perfect accuracy without losing any momentum!

[Background Sound: "I really need you tonight... forever's gonna start tonight..."]

Exquisite! Totally exquisite!

Bagian kesukaan gw?

Hmmm... justru bagian yang paling gw sukai ada pada momen2 setelah leap of faith yang mengesankan semua orang itu :-) Tepatnya di penghujung tarian, ketika Neil melepaskan diri dari pelukan Melanie. Melepaskan diri dari keintiman yang akhirnya berhasil mereka bangun. He says sorry with his eyes,.. while she looks longingly, heart brokenly, at him.

[Background Sound: "Once upon a time I was falling in love, now I'm only falling apart...
There's nothing I can do.. a total eclipse of the heart..."]

So painful, yet exquisite. Painfully exquisite!

Huffff.... nggak heran kalau gw can't get enough of this dance. Gw putar lagi, lagi, dan lagi. Dan yang menarik adalah: begitu terpukaunya gw pada tarian ini hingga luput memperhatikan betapa yummy-nya the shirtless Neil... HAHAHAHA... Mungkin itu efek gerhana total ya ;-)?

*oops, bagian terakhir kayaknya nggak cocok dengan mood keseluruhan tulisan ini ;-)? Yaah... maaf, kalau ada brondong manis gak dibahas, ntar mubazir dong :-p*

Thursday, September 09, 2010

9/10

Right after I received this tweet from Newsweek, I began browsing for Terry Jones and his Dove World Outreach Center. Well, as a Moslem and a part of the universe, I wasn't really worried about his intention to set the holy Quran ablaze. It seemed that he didn't get a lot of support anyway. But as usual I couldn't resist the temptation to analyze his personality; what kind of person he was, what logic he had behind the "Burn the Koran Day". And as usual, I was intrigued to leave some cynical, or sarcastic, message on their website.

I found their website without any difficulty. But I didn't leave any comment there. Instead, I had a good laugh reading their articles. Geez! I was amazed by their delusion :-) Their rants and rambles were - in my not-so-humble opinion - too bizarre to convince any people who could keep their head cool :-)

Take a look at the article called 10 Reasons to Burn a Koran. Anyone could see that all they have is accusation and prejudice - without any logical evident to support. Here are some examples of their accusation, and how easy it is to show their logical fallacy :)

One

The Koran teaches that Jesus Christ, the Crucified, Risen Son of God, King of Kings and Lord of Lords was NOT the Son of God, nor was he crucified (a well documented historical fact that ONLY Islam denies). This teaching removes the possibility of salvation and eternal life in heaven for all Islam's believers. They face eternal damnation in hell if they do not repent.


There is a huge difference between denying the occurence of crucifixion and denying the identity of those who were crucified. If only they read the Koran carefully, at least An Nisa QS 4: 157 - 159 part, they will realize that Islam only denies that Jesus Christ was the Son of God :-) Islam never denies the "well documented historical fact" that there was a crucifixion :-)

It is said: That they said (in boast), "We killed Christ Jesus the son of Mary, the Messenger of God";- but they killed him not, nor crucified him, but so it was made to appear to them, and those who differ therein are full of doubts, with no (certain) knowledge, but only conjecture to follow, for of a surety they killed him not:-

See? There is no denial towards the "well documented historical fact" of crucifixion :-) We just deny the identity of the person they crucified ;-) Since we put that person - who you believe as Son of God - as something extra-ordinary. Someone God love so much to save and raise up :-) Nay, God raised him up unto Himself; and God is Exalted in Power, Wise;-, the Koran says.

I had a good laugh reading this first reason, because they have served their logical fallacy right from the beginning ;-) See the first sentence? They mix up the "well documented historical fact" with their own belief :-) The "well documented historical fact" only proves that the crucifixion happened. It does not prove the identity of the condemned. It is their belief that links the "well documented historical fact" with the identity of that person. And now they think they hold the truth ;-)? What a logical fallacy :-) From the way I see it, the same "well documented historical fact" supports BOTH Islamic and Christianity's belief :-)

Two

The Koran does not have an eternal origin. It is not recorded in heaven. The Almighty God, Creator of the World, is NOT it's source. It is not holy. It's writings are human in origin, a concoction of old and new teachings. This has been stated and restated for centuries by scholars since Islam's beginnings, both Moslem and non-Moslem.


This so-called 2nd reason made me laugh even more :-) They are so sure to say Koran is not this, Koran is not that. But.... anyone notice that they fail to mention even ONE single argument to convince others ;-)? Who the scholars that made the statement? What statement did they make?

I don't know how others will take it. But I always look for a convincing proof before accepting something as a truth ;-)

***

I won't bother to criticize or comment the rest of the articles ;-) At the end of the day, I realize that this congregation does not need any comment from me. They are not a bunch of Islam-haters; they are just a bunch of people who are so lost in their own delusion. It's not prejudice towards Islam they have; it's delusion. So deluded they are, that they even think that the best way to fight Islam is by doing what is forbidden by their own religion: committing violence.

This phenomenon gives us a very important learning: no matter how GOOD the teaching of your religion is, fanatism will always lead us to BAD act. That fanatism and the not willingness to listen objectively to what others believe in are the root of all prejudice and violence.

John Lennon once sang that the brotherhood of man might come when there is no possession, no countries, no religion. Well... I don't share the same belief with him. I think the brotherhood of man depends on how we learn to practice our empathic skill towards diversity. We don't have to extinguish all the difference; we just need to learn to accept them.

... and let God be your judge of what the Truth is ;-)

As in Al Maaidah QS 5: 48 says, we mortals never know what the Truth is ;-) It's the prerogative of God. If God had so willed, He would have made you a single people, but (His plan is) to test you in what He hath given you: so strive as in a race in all virtues. The goal of you all is to God; it is He that will show you the truth of the matters in which ye dispute

Happy Eid Mubarak, September 10. Nine years ago, 9/11 was a tragedy. Let's make 9/10 event a remedy for that.

Friday, August 27, 2010

Menunggu Perot

Mencermati kasus terkini pertikaian antara Indonesia dan Malaysia, pikiran gw melayang pada posting gw beberapa bulan yang lalu. Unus pro omnibus. Mungkin sudah waktunya ada karya baru: "Menunggu Perot" ;-)

Perot adalah tokoh dalam posting gw beberapa bulan lalu ini. Si Unus yang melakukan segalanya untuk para Omnibus. Tetap dengan jalur hukum yang formal, tetapi juga menyiapkan sebagai clandestine operation sebagai Plan B. Jadi tidak cuma melulu mengirim surat keberatan ke Kemlu. Dan clandestine operation-nya tetap taktis, terencana dengan baik, tidak terpengaru ide bizarre dari orang lain seperti menggunakan TKI sebagai amunisi. Terus terang, menarik pulang TKI sebagai bentuk protes terhadap Malaysia adalah ide yang menurut gw konyol. Eh, nggak malu apa, mau pakai TKI sebagai senjata? Setelah selama ini kalau TKI diperas sana-sini kalau pulang ke Indonesia, dan bantuan lama banget datangnya kalau ada TKI yang bermasalah?

Perot juga gw pilih karena berima dengan Godot. Itu membuat "Menunggu Perot" tambah cocok menjadi parodi dari "Menunggu Godot". Sebuah cerita tentang penantian terhadap si Perot, tokoh penyelamat yang akan membebaskan kita dari semena2an tetangga yang ngeselin. Penantian yang sia2, karena dari hari ke hari tak kunjung muncul. Atau lebih tepat dari kasus ke kasus tak kunjung muncul. Sementara para Vladimir dan para Estragon masih tetap menunggu entah sampai kapan

VLADIMIR: We'll hang ourselves tomorrow. (Pause.) Unless Godot comes
("Waiting for Godot" - Act 2)

Perot, juga merupakan metafora yang pas untuk mengingatkan mengenai apa yang akan terjadi pada kita jika cerita terus bergulir bak "Menunggu Godot", hingga tirai pertunjukkan tertutup kembali.

VLADIMIR: Well? Shall we go?
ESTRAGON:
Yes, let's go.

They do not move.
("Waiting for Godot" - Act 2)

Jangan tergesa berpikir bahwa jika mereka tak bergerak, maka semua OK. Tak bergerak, bisa jadi karena mereka tak bisa bergerak. Apalagi jika mulutnya perot, bisa jadi itu adalah gejala stroke.

Dan stroke dapat terjadi akibat menahan geram yang terlalu lama.

[Kata Jamil Ayahnya Ara di Facebooknya, mari kita kirim teroris ke sana. Tapi kata istrinya, teroris di sini mah belajarnya juga di sana... ntar malah bisa2 jadi reunian. Atau kopdar. Atau bukber. Tapi kalau gw masih mau menunggu cerita bergulir. Bersikap seperti Vladimir dan Estragon. Semoga memiliki akhir cerita yang lebih baik. Mari kita menunggu Perot :-)]

Tuesday, July 27, 2010

Nisfu Syaaban

Hingga pukul 14:00 tadi, total uang tunai sebesar Rp 29.000 sudah gw habiskan. Dimulai dengan membeli sarapan di kantor bapaknya ImaNara; sepiring ketoprak dan segelas teh manis hangat senilai Rp 7.000. Lantas siangnya, sebesar Rp 16.000 bertukar tempat dengan sepiring nasi goreng ikan asin dan segelas es kelapa muda. Ditutup dengan Rp 6.000 yang menjelma menjadi sekeping DVD bajakan beberapa menit jelang pukul 14:00.

Uang senilai Rp 29.000 bukanlah pengeluaran luar biasa buat gw. Bahkan bisa dibilang cukup hemat; karena jumlah itu bisa berlipat jika gw sedang 'sedikit' borju dengan makan siang di mal terdekat. Oleh karenanya, jumlah Rp 29.000 itu nggak biasanya terlalu gw pikirkan.

Namun ada yang berbeda siang ini...

Menuju kantor dari deretan warung makan, gw melihat seorang bapak tua. Di lehernya tergantung kotak asongan penuh berisi pernak-pernik yang entah apa. Dari jauh gw melihat tangannya menggapai, mencoba menawarkan sekantong kecil jualannya pada setiap orang yang lewat. Belasan orang lewat, dan tidak ada satu pun yang membeli. Berhenti untuk melihat pun tidak.

Bapak itu menjual peniti serta pernak-pernik jahit lainnya. Satu kantong kecil peniti, maupun sekantong kecil berisi 2 jarum dan 2 gulung benang jahit, dijualnya seharga Rp 1.000 saja. Murah benar ya? Oleh karenanya, gw memutuskan membeli sekantong peniti dan sekantong benang-jarum. Buat jaga2 di kantor... karena kecerobohan gw dalam berpakaian sering kali membuat gw tiba2 butuh menjahit darurat. Atau setidaknya merekatkan pakaian dengan peniti.

Total pembelian gw "cuma" Rp 7.000, setelah gw tambahkan gunting kuku ke dalam daftar. Tidak banyak, dan tidak sebanding dengan jumlah uang cemilan yang sudah gw keluarkan hari ini. Tetapi... si bapak tua mengucapkan "Alhamdulillah" berkali2. Dan mengucapkan terima kasih berkali2. Seolah2 gw baru saja membelanjakan semilyar di lapaknya.

Kalau dihitung2, berapa sih rejeki yang dia dapat dari pembelian gw? Mungkin hanya 10% - 20%nya. Atau paling banyak 50%-nya. Tetap bukan jumlah yang besar. Jangankan untuk makan siang, untuk menutup ongkos perjalanan pulang-perginya pun mungkin tak cukup. Tetapi itu tidak mengurangi rasa syukurnya atas rejeki yang ia terima.

Dalam sisa perjalanan gw menuju gedung kantor, gw tercenung. Rasa haru terhadap nasib si bapak tua terganti dengan rasa kagum atas "syukur tak bersyarat" yang telah ditunjukkannya. Dan perlahan... rasa kagum itu berganti dengan rasa malu. Malu karena gw belum mampu seperti si bapak tua itu.

Malam ini adalah malam nisfu syaaban. Jika ada amalan yang dibawa malaikat ke atas sana, maka niscaya amalan bapak tua itu terbawa di dalamnya. Amalan atas "syukur tak bersyarat"-nya... dan atas "peringatan" yang diberikannya kepada orang2 yang melihat keikhlasannya.

Alhamdulillah, gw diberi kesempatan untuk mendapatan peringatan itu hari ini :)

Wednesday, April 22, 2009

N Cut is The Shallowest

Lama gw nggak nulis di blog :-) Nulis sih masih sering, tapi medianya beda... hehehe... Sekarang lebih sering microblogging aja di statusnya FB. Serius ;-) Status FB gw seringnya panjang2 (malah kadang harus gw revisi karena kotaknya nggak muat, kebanyakan huruf), lantaran gw perlakukan seperti blog ;-) Kadang pakai Twitter, kadang langsung di Facebook. Tergantung keperluan aja. Tapi nggak pernah pakai Plurk. Soalnya aplikasi Plurk terlalu berat untuk jaringan internet kantor; yang sudah kelebihan beban karena semua karyawan mainan FB. Ini juga serius ;-) Bahkan para karyawan di Field Department aja sekarang suka rebutan kompie di resepsionis buat buka FB.

Yaaah... alasan kenapa gw nggak nulis2 sih klasik: semangat menulis dan bercerita masih menggebu2, apa daya waktu tak sampai. Bukan tangan tak sampai lho ya... karena ngetik cerita - baik blogging maupun microblogging - tetap persyaratan utamanya adalah tangan sampai ke papan ketik. Jadi lebay deh kalau bilang tangan tak sampai, emangnya nge-blog pakai telepati :-p

Itu alasan yang pertama. Alasan kedua: gw lagi mencoba mendefinisikan kembali makna blogging buat gw. Gw selalu bilang bahwa my conscious will to blog adalah karena gw suka menulis, dan menulis adalah remedy buat gw; cara buat gw melepaskan kejenuhan. Tapi... seperti dijelaskan dalam bahasan the individuation of action pada tautan itu, sebenarnya kan conscious will tidak mencakup keseluruhan aksi. Bahkan mungkin yang namanya conscious will itu adalah hasil dari rasionalisasi gw - meskipun conscious will itu benar2 ada, bukan hasil ilusi.

Setelah gw telaah2 lagi, mungkin salah satu unconscious will gw tidaklah secanggih yang gw tuliskan... HAHAHAHA... Mungkin gw cuma nge-blog buat ngomel doang. Ngomel with style, begitu ;-) Karena gw yakin gw belum jadi psikopat berperilaku antisosial, yang bisa ngomel dimana saja kapan saja. Gw baru jadi neurotik aja... HAHAHA...

Karenanya, psychological gratification gw dapat bukan melalui "bisa membagikan cerita" dan "menginspirasi orang lain melalui cerita". Itu hal yang terlalu mulia buat gw ;-) Psychological gratification gw mungkin sederhana sekali: bisa meluapkan emosi yang kalau ditahan2 bisa jadi jerawat, dengan cara yang nggak antisosial2 amat ;-)

Daaaan.... sesuai teori, psychological gratification ini sifatnya seperti salah satu lagunya Cat Steven a.k.a Yusuf Islam: first cut is the deepest

Ya, irisan pertama yang paling dalam, yang paling menyakitkan, sekaligus yang paling memberikan psychological gratification buat si pengiris. Yang selanjutnya sih mekanistis aja. Kepuasan psikologis yang didapatkan tidak lagi sama. Level of psychological gratification yang sama baru akan didapatkan kalau ada irisan di "tempat baru". Atau kalau kaitannya dengan nge-blog: kalau ada hal baru yang menggairahkan untuk ditulis.

Itulah masalahnya!

Evolusi gw dalam menulis ternyata lebih cepat daripada dunia berubah... hehehe.... Sehingga, setelah nge-blog sejak tahun 2005, sekarang gw bingung: apa lagi yang bisa gw tulis ;-)? Gw semakin sering mendapati diri gw ingin nulis dan komentar, tapi kemudian ingat: kan tulisan sejenis udah pernah gw buat? Atau... mosok gw mesti mencela subyek yang sama lagi sih??? Itu kan udah pernah??? Dualima-jigo-dualima-jigo... CEPEK DEEEY...

Contohnya aja, pas pemilu kemarin gw udah pingin nulis tentang betapa nggak efektif dan efisiennya konsep Daftar Pemilih Tetap dan Kartu Pemilih itu. Jauuuuhhh... sebelum ada keluhan tentang betapa banyaknya orang yang tidak terdaftar sebagai pemilih, gw udah skeptis terhadap cara KPU ini. Gimana caranya mendata JUTAAN orang secara akurat dalam waktu singkat??? Kalau emang ada cara seperti itu, yang namanya sensus penduduk dilakukan tiap tahun lageeee.... bukan beberapa tahun ;-)

Akhirnya bener kan ;-)? Kisruh kan? Banyak yang nggak terdaftar kan ;-)? Udah gitu yang disalahin rakyat, lagi, karena nggak mendaftarkan diri. Yeeee.... pengalaman gw jadi koordinator mata kuliah Faal 1 sampai Faal 4 sih: meminta satu angkatan yang nggak sampai 100 orang untuk mendaftarkan diri siapa yang mau fotokopian bahan aja susahnya minta ampun! Nggak pernah akurat. Selalu ada aja yang nggak daftar, tapi di menit2 terakhir minta fotokopian. Naah... gimana berharap JUTAAN orang bakal rajin mendaftarkan diri untuk mengikuti sesuatu yang mereka sebenernya nggak butuh? Ini mah seperti lagunya ABBA:


Knowing me, knowing you
There is nothing we can do
Knowing me, knowing you,
We just have to face it


Iya... face it. Yang butuh pemilu itu kan negara dan pemerintah, biar pemerintahnya bisa ngaku bahwa mereka adalah pemerintahan yang sah ;-) Kalau buat rakyat sih siapa aja "rajanya", rasanya sama aja ;-)

Sebenernya kan daftar-mendaftar ini nggak perlu toh? Menurut gw sih pemilu itu cuma butuh KTP dan tinta yang nggak gampang hilang kalau dicuci ;-) Asal orang punya KTP, dia bisa datang ke TPS terdekat dan ikut milih. Nggak perlu Kartu Pemilih segala.

Kalau punya KTP dua atau lebih?

Lah, kan udah ada tintanya? Biarin aja dia punya KTP dua atau lebih, tapi kelingking tangan kirinya tetap cuma satu toh? Kalau udah dicelupkan ke tinta, ya dia nggak bisa milih lagi. Gitu aja kok repot!

Kalau mau nyetak kertas suara pas, ya bikin aturan aja bahwa orang harus memilih di kelurahan tempat KTP-nya dikeluarkan. Kan di kelurahan bisa langsung diketahui jumlah pemilih tanpa harus mendata. Tinggal petugas kelurahannya aja suruh ngitung berapa jumlah KTP yang dikeluarkan oleh kelurahan tersebut, dikurangi jumlah laporan kematian dari pemilu terakhir. Toh semua pemegang KTP cuma bisa mati sekali ;-)

Gampang toh? Nggak pakai repot mendata2 segala. Dan nggak perlu nyetak2 kartu pemilih segala. Kertas mahal, bo! Lagian go green dong, save our planet! Daripada pohon ditebang untuk bikin kertas yang akan jadi Kartu Pemilih buat jutaan orang, mendingan dananya dipakai untuk beli tinta jari kualitas unggul! Jangan yang 10 menit dan "sedikit gosokan mesra" aja udah hilang kayak tinta kemarin... hehehe... Batal deh gw dapat kopi gratis karena tinta di jari udah hilang ;-)

Bagaimana mengatasi daerah pemukiman dengan densitas tinggi, dimana tidak semua orang punya KTP daerah itu tapi tinggal di situ? Daerah kos2an, misalnya. Aaah.. itu gampang! Mereka yang nggak punya KTP di situ dapat prioritas rendah sebagai pemilih. Semacam cadangan, atau ikut gelombang kedua, gitu! Jadi... pemilu gelombang I dicanangkan jam 7 - 11 pagi, misalnya. Gelombang kedua jam 11 - 12 siang. Dan bisa/nggak ikut gelombang kedua di TPS tersebut adalah berdasarkan sistem waiting list. Tergantung kesediaan sisa kertas suara. Kalau nggak sisa, ya silakan kunjungi TPS berikutnya.

Masuk akal kan, cara gw ;-)? Efektif, efisien, dan nggak butuh peralatan canggih apalagi dana besar. Emang sih, tadinya gw mau ngusulin hi-tech vote machine. Mesin yang pakai fingerprint scan untuk memilih. Pencet tombol, gak mencoblos, apalagi mencontreng ;-) Tapi... seperti cerita di film ini, mesin pemilu pun tak luput dari kekhilafan ;-) Nggak jadi deh gw mengusulkan ;-) Lagian, kalau mesti pakai komputer, ntar membuka peluang bisnis lagi dong... ada yang menang tender komputer pemilu, bukan hanya tender komputer KPU ;-) Iya kalau menang tendernya melulu karena good value for money. Kalau karena alasan lain ;-)? Dan kalau pakai komputer, terbuka kemungkinan penyalahgunaan lagi. Ntar komputernya dipakai main game ;-)

Tapi dipikir2, gw kan udah sering mencela keputusan pemerintah di blog ini ya? Mosok nyela lagi? Dan psychological gratification-nya udah gak sama, karena yang harus dicela itu lagi - itu lagi. Nggak ada perkembangan yang berarti, dan nggak ada hal baru yang bisa gw cela... hehehe...

Oleh karenanya gw jadi rada males ngebahasnya di blog ;-) Dan kalaupun akhirnya gw bahas di sini, itu lebih untuk menyampaikan suatu hal. Masih di film yang tadi, pada akhir cerita, Tom Dobbs bilang begini:

Today I was in the oval office for a preparatory meeting and I sat behind the President's desk and I had a reality check. I sat there and I went 'Wait a minute, I'm a Jester. A Jester doesn't rule the kingdom; He makes fun of the king'


Hehehe... si Tom Dobbs emang Jester, makanya dia cuma peduli pada making fun of the king. Psychological gratification-nya memang dari making fun, regardless bahannya daur ulang atau baru.

Naah... gw bukan jester! Kalau gw making fun, itu artinya gw mencela dan menuntut perubahan. Psychological gratification gw hanyalah kalau gw bisa membuat first cut over dan over again. Kalau udah cut ke sekian, itu pastinya udah nggak the deepest. Malah mungkin the shallowest. Kepuasannya nggak ada... hehehe...

Makanya, berubah dong! Give me something new to cut ;-)

Friday, April 10, 2009

Around the World in 80 Clicks

Pernah nggak mendapatkan sesuatu yang sangat diinginkan, pada saat merasa bahwa keciiiiilll sekali kemungkinan untuk mendapatkannya? Semacam against all odd gitu? Pernah? Rasanya gimana? Thrilled, excited, bungah, nggak terlukiskan... ya kan? Itulah yang kemarin gw rasakan. Saking senangnya, gw sampai teriak! Padahal udah jam 11 malam ;) Dan padahal juga suara gw udah keras banget walaupun nggak pakai teriak... hehehe...

Kegembiraan gw itu datang hanya karena "salah klik". Sebuah kecelakaan yang bukannya tidak membahagiakan ;-)

Bermula dari awal very long weekend kemarin. Setelah baca Wall sepupu gw yang cantik di London, dari tante gw yang nggak kalah ayu di Jakarta, tentang "jelajah maya"-nya si tante melalui satelit, gw akhirnya meng-install Google Earth. Kebetulan koneksi internet - walaupun libur - lagi okey dokey, jadi gak lama kemudian udah bisa "terbang" berkunjung. Tempat pertama yang gw kunjungi - tentunya - adalah tempat sebagian kenangan masa kecil gw tertinggal: Albany, CA. Tempat yang gw kira nggak akan gw kunjungi lagi sepanjang sisa hidup gw ;-)

Kangen gw lumayan terobati melihat foto satelit kota itu. Mungkin karena gw suka peta ya, sehingga "peta satelit" itu pun sudah cukup buat gw. Melihat nama2 jalannya, dan bentuk2 atapnya (yes, dear, peta satelitnya 3D ;-)), gw bisa membayangkan tempatnya. Gw bisa menemukan lagi rumah tempat dimana gw pernah tidur, gw bisa napak tilas dari atas jalan2 yang gw lalui (two blocks north, two blocks west untuk naik BART; one block west, two blocks south kalau mau ke kantor pos, dan four blocks east to the high school ;-)). Thrilled, gw print screen gambar2 itu, dan gw masukkan ke sebuah folder khusus di Facebook.

Tapi... ternyata setelah diubah jadi JPG, kualitas gambarnya menurun drastis. Warnanya jadi gelap banget, kayak nonton Albany dari udara saat gerhana... hehehe... Dan pas gw mau ulang buka lagi, ternyata programnya nge-hang melulu. Untung bapaknya anak2 punya solusi jitu,

"Pakai Google Maps kan juga bisa. Sama aja kok, malah nggak perlu install program segala"

OK. Jadinya gw mencoba Google Maps. Pertama agak sangsi, karena tampilannya search engine banget. Nggak flashy centil dengan gambar bumi bulat bundar kayak Google Earth. Tapi ternyata.... petanya sama juga. Lebih eye friendly malah, karena warnanya lebih segar daripada Google Earth. Dan gw dengan cepat menemukan "rumah" gw. Klik tombol Satellite, dan.... tertampillah foto satelit yang sama: atap2 rumah di Albany, dengan warna yang lebih cerah ;-)

Dan kecelakaan pun terjadi :)

Gw salah klik! Nggak sadar bahwa "si penyumpah" (baca: cursor, maksudnya ;-)) masih di sudut kiri atas, gw main klik aja. Panik ringan, gw segera klik rumah yang gw cari. Tiba2 layar monitor mati sesaat daaaaaaannnnnn.......


Huaaaahhhh.... I know that house! I spent my days in there once! Warnanya memang sempat mengecoh gw, karena dulu catnya hijau tua. Tapi gw ingat bahwa terakhir kali Bapak mengunjunginya (beberapa bulan sebelum Bapak meninggal), Bapak cerita bahwa akhirnya rumah itu ganti warna menjadi krem. Setelah sejak thn 60an warnanya selalu hijau.

I never thought I'd live to see that house again! I thought seeing it from the sky is the best thing I could have. So... imagine how thrilled I was when the actual picture was displayed on my monitor ;-)

Menyadari bahwa tiba2 ada gambar orang2an oranye di peta, gw menyadari bahwa orang2an itulah membuat rumah terlihat dari bumi. Gw geser2 orang2annya, lantas memanfaatkan tombol arah buat memutar2 pandangan si orang, dan.... I'm amazed. So close, so real.

Karena letaknya di pengkolan jalan, apalagi bangunannya tinggi karena basement-nya ada di atas tanah (yup! We called it basement, even though it is not underground), dengan mudah gw melihat bagian samping dan belakang rumah. Kamar tidur gw terletak di pojok kiri belakang rumah, dengan dua jendela: di samping dan di belakang. Betapa senangnya bisa melihat kamar gw lagi, after all these years! Bener2 melihat rumah dan kamar itu setelah gw tinggalkan, bukan hanya melihat foto2 semasa gw di sana ;-)


Sepanjang malam, sampai pagi, dan malam lagi (yaaah... terseling ikutan Pemilu sih ;-)) gw asyik bermain2 dengan Google Maps. Mengunjungi tempat2 yang pernah gw kunjungi. Semua tempat yang gw kunjungi di Amerika Serikat sejauh ini dapat dilihat dari daratan seperti ini.

United Kingdom rata2 nggak bisa sampai ke depan rumah, hanya bisa dari udara. Ende, Flores, juga :-) Walaupun gw mengenali atap hotel tempat gw menginap (yang pantes aja tiap pesawat datang dan pergi kedengaran karena sejajar dengan landasan pacu), gw gak bisa lihat dari depannya. Jangankan Ende yang nun jauh di Flores, lha wong daerah Kuningan, Jakarta, yang merupakan segitiga emas bisnis pun hanya bisa dari udara kok... hehehe... Udah gitu, ada yang ngaco nge-tag Carrefour di sebelahnya Grand Melia. Helloooooo..... kalau maksudnya Carrefour yang dulu ada di Pas-Fes, harusnya sebelah utara Jl Casablanca, bukan sebelah selatan ;-) Gimana sih? Kalau nggak bisa baca peta, jangan nge-tag deh! Bikin tersesat aja ;-)

Di New Zealand fifty-fifty. Rumah Budhe, sepupu2 gw, dan Kedubes Indonesia di 72 Glen Rd bisa di-zoom dan terlihat bangunan aslinya. Tapi... itu mungkin karena letaknya di Wellington. Sementara Bucket Tree Lodge, yang terletak agak di luar Wellington, tidak terlalu jelas. Makanya gw tunjukkan foto udaranya aja ke bapaknya anak2, untuk menunjukkan tempat telepon umum dimana gw dulu menelepon dia... hehehe...




Google Maps membuat gw merasa seperti Phileas Fogg dalam Around the World in 80 Days :) Hanya saja, gw tidak perlu 80 hari, cukup 80 klik saja ;-) Ini adalah sisi yang lebih positif dari Google Maps, karena dari sisi negatif Google Maps membuat gw merasa menjadi The Big Brother dalam 1984, like what my cousin suggested upon seeing the satellite picture of her house displayed in my Facebook album ;-)

Yaaah... double edge of technology lah itu ;-)

Seperti Phileas Fogg yang memulai perjalanannya dari London, dan kembali ke London, gw memulai perjalanan gw dari Albany, CA, dan kembali ke Albany, CA. Dan sebelum menutup Google Maps yang sudah membawa gw jalan2, sekali lagi gw memandang dari kejauhan the house I left part of my heart in ;-)



Dan samar2 terdengar senandung Tony Bennett:

I left my heart in San Francisco
High on a hill, it calls to me.
To be where little cable cars
Climb halfway to the stars!
The morning fog may chill the air
I don't care!

My love waits there in San Francisco
Above the blue and windy sea
When I come home to you, San Francisco,
Your golden sun will shine for me!

Yes, I left my heart in San Francisco eastern Bay Area ;-)

Sunday, March 08, 2009

Love, Berry, and Future Love Story

Jaman gw kecil dulu, gw senang sekali main boneka kertas. Kira2 barangnya seperti yang gambar yang gw pinjam dari sini ini: selembar kertas berisi gambar orang berbaju dalam dan beberapa baju yang harus kita gunting menjadi potongan2 terpisah. Setelah terpisah, baru bisa main mix-n-match.

Mainan seperti ini dulu umumnya dijual oleh abang2 pedagang mainan anak2. Harganya murah, terjangkau dengan uang saku anak2. Dulu koleksi boneka kertas gw banyaaaaakkk banget, dan gw masukkan ke dalam kaleng biskuit.


Jaman Ima masih senang main boneka, mainan ini udah nggak muncul lagi. Versinya jadi lebih canggih: magnetic dress up. Ima punya beberapa koleksi Barbie magnetic dress up. Ada yang Barbie-nya juga bermagnet sehingga harus dimainkan di badan kulkas (disebut Barbie Fridge Magnet Album) Tapi ada juga yang bentuknya buku. Bentuknya seperti buku cerita biasa, ada ceritanya juga, tapi disertai dengan satu box berisi kostum2 yang dipakai si Barbie dalam kisah itu. Nanti, tiap kali membalik halaman, si anak bisa memasangkan kostum yang sesuai.

Gw pribadi sih lebih senang model buku seperti ini. Setidaknya ada cerita yang bisa dibaca deh, nggak main doang ;-) Tapi tetap saja, sebenernya gw tidak terlalu menyukai kedua bentuk evolusi boneka kertas ini, karena kurang melatih motorik halus anak. Kalau harus menggunting boneka dan bajunya sendiri, anak kan terlatih motorik halusnya. Sementara dengan metode plug-and-play begini, nggak ada unsur latihannya sama sekali.

Tapi, setidaknya, model buku ini lebih baik daripada model fridge magnet, karena tetap ada cerita yang bisa dibaca. Tetap ada unsur belajarnya, meskipun jadi kognitif, bukan motorik. Yang di kulkas juga bisa belajar berimajinasi sih... tapi.... kan kalau ada ceritanya, imajinasi lebih berkembang ;) Nggak ngalor ngidul kemana-mana. Iya kalau kemampuan imajinasinya udah bagus sehingga bisa membuat cerita yang komprehensif. Kalau enggak? Ya mendingan imajinasinya dibantu dengan cerita dari buku ;-)

Gw kira buku dan fridge magnet ini adalah evolusi puncak dari mainan doll-grooming ini. Ternyata.... gw salah! The sky is the limit! Masih ada evolusi baru yang ditemukan oleh Sega ;-)

Evolusi terbaru ini bernama Love and Berry, dan lagi happening banget di seantero cewek2 pra-ABG di ibu kota.

Ada dua tokoh yang bisa didandani dalam permainan ini, yaitu [tentu saja] si Love, dan si Berry. Dua2nya perempuan, dua2nya fashionista, namun berbeda sifat dan penampilan. Love berambut coklat, sedikit kelihatan lebih feminin dan manis. Sementara Berry berambut biru, kelihatan lebih sporty dan tough. Pemain bebas memilih tokoh mana yang ingin didandani dalam setiap permainan.

Setelah memilih tokoh yang mana yang akan didandani, serta area bermain (ada 5 area bermain atau stage, yaitu: Idol Stage, Ball, Street Court, Fashion Street, dan Seaside Stage), maka mulailah si pemain mendandani tokohnya. Cara mendadaninya? Yaah... namanya juga teknologi canggih! Tinggal gesek kartu, bajunya berubah. Gesek kartu lagi, tatanan rambutnya berubah. Gesek kartu lagi, sepatunya berubah.

Gesek kartu??

Iyalah, namanya juga permainan "canggih". Jadi, alih2 sebuah baju dapat dipasangkan secara harafiah pada bonekanya seperti generasi doll-grooming terdahulu, sekarang bajunya cukup virtual aja ;-) Berupa kode dalam sebuah kartu ber-barcode.

Satu kartu hanya memuat satu perlengkapan fashion; entah baju, tatanan rambut, maupun sepatu. Dan biar si Love dan Berry nggak sal-tum, maka untuk tiap stage tersedia berbagai pilihan mode.

Bisa dibayangkan, kan, berapa banyak kartu Love & Berry yang ada? Makanya, salah satu hal yang bikin permainan ini digemari oleh anak2 ABG adalah koleksi dan tukar-menukar kartu.

So, apa langkah selanjutnya kalau si Love atau Berry sudah didandani? Ya permainan bisa dimulai ;-)


Nah, kalau tadinya gw fine-fine aja dengan hobby barunya Ima main dan mengoleksi kartu Love and Berry karena melihatnya sebagai evolusi terkini dari boneka kertas, gw mulai iritasi melihat cara bermainnya ;-)

Ternyata, yang berevolusi hanyalah kecanggihan teknologinya dan tampilannya saja. Dalam segi manfaat permainan, justru terjadi degradasi ;-) Karena ternyata memainkan gampang banget; tidak membutuhkan analytical ability, tidak membutuhkan ketrampilan motorik halus maupun kasar, dan sama sekali nggak membutuhkan kemampuan apa2 selain kuping yang bisa mendengar dan tangan yang bisa diperintah oleh otak ;-)

Ya, permainannya sendiri ternyata "cuma" gitu2 doang! Menabuh dua tombol di mesin mengikuti irama musik. Mau di stage apa aja, mainnya ya cuma begitu ;-)

Oh, don't give me s*** about exercising the kid's rhytmical ability, please ;-) Kalau cuma buat latihan kemampuan ritmis sih ada acara yang lebih mudah. Menari, main musik, denger musik... itu kan melatih kemampuan ritmis. Atau kalau mau "pakai modal", bisa main Wii atau mainan yang nari2 itu di game center. Lebih jelas hasilnya daripada sekedar menabuh2 dua tombol di mesin tanpa ada kesulitan berarti.

Dan yang lebih menjengkelkan lagi: permainan Love and Berry ini jatuhnya mahal bener, bo! Sekali main di Amazone Mal Artha Gading, dibutuhkan 4 koin. Satu koin harganya Rp 1,250. Jadi... satu kali main harganya Rp 5,000.

Memang sih, ada tokennya. Kalau menang, maka bisa main sekali lagi GRATIS! Jadi prinsipnya "Win One Get One Free" ;-) Dan kalau kalah pun nggak perlu kecewa: mesin akan mengeluarkan satu fashion magic card baru - yang bisa dikoleksi atau ditukar dengan sesama penggemar.

Dari sudut marketing, Sega perlu diacungi jempol atas strateginya ini. Benar2 berhasil membentuk community dengan metodenya ini. Besar kemungkinan anak2 gak cepat bosan main game ini karena ada unsur komunitas tadi. Mereka bakal rela ngantri bermenit2 menunggu mesin Love & Berry kosong, sambil asyik bertukar kartu (dan bertukar teknik/cerita) tentang masing2 fashion card.

Tapiiii.... dari segi orang tua yang mesti menjadi penyandang dana, bener deh, permainan ini mengesalkan sekali... hehehe... Bayangin aja, sekali main kan paling enggak 10x? Sayang bener duit sekian puluh ribu melayang cuma buat nepuk2 tombol yang nggak bikin anak gw tambah pintar ;-) Jadi... sekarang gw memberlakukan peraturan baru: Ima hanya boleh main Love & Berry sebulan sekali. Itu pun nggak boleh lebih dari 10x main. Kalau mau main lebih dari 10x, berusahalah untuk memenangkan setiap permainan biar dapat gratisan ;-)

Udah kan? Gw pikir masalah teratasi. Namun... ternyata... si Love & Berry masih menyimpan satu "kejutan" mengesalkan buat gw: ALBUM LOVE & BERRY!

Yak! Betul sekali! Kartu2 fashion berkode batang itu tentunya nggak bisa disimpan sembarangan dong? Dan... karena ukurannya lebih besar dari ukuran kartu nama yang standard, kartu2 itu nggak bisa disimpan di name card holder. Gw sempat mengakalinya dengan membelikan Ima album untuk foto berukuran 2R yang paaaaasss banget untuk kartu2 fashion-nya. Harganya cuma Rp 5,000/album isi 24. Murah meriah kan?

Masalahnyaaaaa..... gara2 bergaul dengan komunitas anak2 penggila Love & Berry itu, Ima jadi tahu bahwa Love & Berry mengeluarkan album khusus untuk menyimpan kartu2nya. Album khusus itu dijual di game2 center atau toko mainan. Harganya? Untuk yang isi 200 kartu sekitar Rp 150,000 - Rp 175,000!

Deuh... kalau pakai album ukuran 2R yang gw belikan, kan cuma 25 ribuan ya, buat 200 kartu :(

Gw sempat mencoba taktis menghalangi niat Ima membeli album ini. Gw bilang: gw nggak mau belikan, kalau dia benar2 berminat, ya nabung aja sendiri. Harapan gw dia akan back off, karena untuk menabung Rp 150,000 dia butuh sekitar 30 hari.

Berhasil? Ya enggak ;-) Si Ima kan anak gaul kronis... hehehe... dia mendingan kelaparan sebulan daripada nggak punya album Love & Berry. Persis kayak pengalaman ini ;-)?

So, here I am... sekarang kan gw nggak bisa menjilat ludah gw sendiri... hehehe... Terpaksa, walaupun gw "sayang banget" melihat duit sebesar itu cuma buat beli album, gw harus memenuhi janji menemani si anak gaul beli album Love & Berry. Mau ngelarang gimana? Kalau dia menganggap bahwa album itu cukup berharga buat ditukar dengan sekian minggu uang jajannya, apa lagi alasan gw?

Tapi... yang lebih bikin gw panik sih bukan album Love & Berry-nya ya, melainkan prognosis beberapa tahun ke depan. Imagine one day she introduces a boyfriend I don't like.. gimana gw ngelarangnya ya? Kalau dibilang terang2an gw nggak setuju, ntar berantem dan bisa lebih buruk keadaannya. Lha... kalau gw "persulit" seperti masalah album Love & Berry ini, dan dia berhasil menyelesaikan tantangannya, mosok iya terpaksa gw setujui pacarnya ;-)?

Haduuuuh.... pusingggg ;-) I dread to think of the years to come ;-) Kayaknya mesti gw indoktrinasi dari sekarang nih, biar pacarnya ntar sesuai dengan maunya gw... hehehe... Either that, atau gw mesti sudah mulai belajar menerima bahwa Ima adalah entitas tersendiri yang punya prioritas berbeda dengan gw :-) Duuuh... sedih ya, jadi orang tua :-)

Saturday, February 21, 2009

Fix

Ada satu rasa yang berbeda ketika menonton episode Desperate Housewives ini. I got hooked, dan mata gw dengan mudah berkaca2. Rasanya cerita itu begitu "kena" di hati gw.

Ceritanya memang cukup menyentuh. Tentang seorang handyman, Eli Scruggs, yang meninggal mendadak di Wisteria Lane. Walaupun Eli Scruggs memang seorang tukang handal - there is nothing Eli could not fix, begitu kata pembuka episode tersebut - ternyata bukan hanya kepiawaiannya yang akan membuat mereka kehilangan. Since Eli has affected their lives more than just fixing a broken vase.

Melalui flashback, digambarkan bagaimana Eli - sebagai seorang tukang - kerapkali menjadi saksi kegundahan si nyonya rumah. Gaby, si mantan top model, yang kesepian di pinggiran kota. Bree, si nyonya rumah berpotensi yang dijadikan "burung penghias sangkar" oleh suaminya. Lynette, si wanita karir yang torn between two choices; antara jadi ibu rumah tangga dan kembali berkarir. Dan tentu saja tak lupa si pengejar cinta Susan yang bolak-balik putus cinta.

Eli digambarkan sebagai tokoh yang mempengaruhi hidup mereka dengan cara yang sederhana. Dia menyimpankan draft resep Bree yang dibuang karena sang suami tak ingin Bree sibuk mengejar mimpi menulis buku. Dia menyelamatkan bayi Lynette dari dehidrasi setelah tertinggal di mobil lantaran ibunya sibuk bertelepon dengan seorang boss perusahaan yang merekrutnya. Dia yang memperkenalkan Gaby pada "ibu2 sederhana di kampung itu" dan mengingatkannya ketika Gaby made the wrong first impression.

Untuk segala apa yang diperbuatnya itu, kematian Eli menjadi sangat berarti bagi para desperate housewives. Semua ingin menyumbang sesuatu, semampunya, untuk Eli. Dan... karenanya... meskipun Eli sebatang kara, pemakamannya sangat indah dan dihadiri banyak sekali orang.

Seperti kata Bree di penghujung episode ketika merapikan karangan bunga di peti mati Eli sebelum diturunkan, "I want to fix something for Eli. For a change."

Dan tentu saja, "fix something" di sini memiliki makna yang dalam.

And then I realized why I got hooked with this episode. Once, there was another "Eli" in my life.

***


Namanya Moeljatmo. Dulu gw memanggilnya Oom Moel, namun kemudian berganti menjadi Yang Mo setelah Ima lahir. Sejak gw kecil, Yang Mo ini sering tiba2 muncul di rumah. Menginap beberapa hari, lantas menghilang lagi. Baru muncul berbulan2 kemudian, atau malah pernah beberapa tahun kemudian saat beliau melanglang bekerja di Kalimantan dan Bali.

Gw hanya tahu bahwa Yang Mo ini sahabat almarhum Bapak ketika SMA dulu. Seorang ahli keuangan dan procurement hotel, yang pernah menangani beberapa hotel besar. Penggila bola, penikmat rokok Gudang Garam Surya, dan tidak pernah minum cairan selain kopi Kapal Api Spesial yang diseduh dengan air mendidih. Dapat dikatakan sebatang kara setelah kehilangan istri dan anak perempuannya. Selebihnya gelap. Partly karena gw memang nggak ngorek2, but mainly karena beliau memang nggak mau cerita panjang.

Proyek hotelnya yang terakhir di Bali hancur karena imbas krisis ekonomi 1997. A blessing in disguise, karena kejadian itu memungkinkannya kembali ke Jakarta untuk menghadiri pernikahan gw, anak sahabatnya. Having nothing to do and nowhere to live, Bapak kemudian menyediakan kamar untuknya. Plus kemudian menjadi teman diskusi soal keuangan perusahaan, dan membantu menjalankan kantor Bapak. Saat itu memang Bapak sudah mulai sakit, dan Bapak butuh teman lain untuk berdiskusi setelah gw sibuk menata hidup baru :-)

The blessing in disguise continued ketika sakit Bapak semakin parah. Kehadiran Yang Mo sangat membantu kami. He took charge, mengatakan bahwa kami - gw & bapaknyaimanara - fokus saja bekerja, sementara adik gw fokus saja menyelesaikan skripsi. Tak perlu bingung membagi tugas siapa yang harus menjaga Bapak di RS. It really helped, karena sebagai pegawai junior yang belum genap 2 thn bekerja - apalagi gw punya bayi yang harus diurus - I have already had more than enough things to juggle.

Ketika Bapak meninggal, kami kira ia akan pergi juga dari rumah. Toh, sahabatnya berbagi cerita sudah tidak ada. Apalagi sudah mulai ada beberapa tawaran dari sahabat2nya yang lain untuk tinggal di rumah mereka. Tapi ternyata tidak. Beliau tetap tinggal di rumah kami. Di kemudian hari, setelah beliau meninggal, gw baru tahu dari teman2nya bahwa beliau selalu kangen Ima kalau pergi lama.

Lambat laun, kami pun menganggapnya sebagai keluarga sendiri. Bukan hanya sebagai temannya almarhum Bapak yang tinggal bareng kami. Memang tak susah menganggapnya demikian, karena beliau juga berusaha became the part of our family. Beliau yang mengangkat dirinya sendiri sebagai juru bayar PLN, juru bayar PBB, juru cuci mobil, dan bertukang kecil2an - ngecat dinding, memperbaiki pipa bocor, dll.

Tiap pekerjaan itu pun dilakukannya dengan serius. Untuk bayar PLN, misalnya, tiap tanggal 2 beliau sudah menyodori gw perkiraan biaya listrik bulan itu berdasarkan catatan dari meteran. Perhitungannya pun akurat; plafon atas yang paling banyak berselisih Rp 10,000. Kalau ada barang yang perlu diperbaiki pun beliau selalu survei dulu bagaimana dan biaya perbaikannya, untuk kemudian menyodori gw perhitungan akuratnya. Imbalannya? Tidak ada. Cukup dengan "boleh" menjadi "Eyangnya Ima" saja.

Ya. "Eyangnya Ima". Demikian gw menjawab pertanyaan orang2 tentang siapa beliau. Dan memang beliau begitu sayang pada Ima, meskipun tidak ada pertalian darah antara mereka. Tak segan2 beliau memarahi gw ataupun bapaknyaima, kalau ada cara pengasuhan yang tidak berkenan di hatinya :)

Dan semakin lama, ia makin menjadi bagian dari keluarga kami. Tak terhitung berapa kali ia menjadi penengah kalau gw dan bapaknyaimanara sedang tak sependapat. Atau menjadi penengah kalau antara gw dan ibu gw ribut2an soal pola pengasuhan. Tanpa diminta, dan kadang2 komentarnya bikin gw pingin nyolot. Bahkan, tak jarang kami akhirnya adu mulut... hehehe... Tapi... kalau sudah dipikir dengan tenang, seringkali komentarnya ada benarnya juga :)

Kamis petang, 30 Oktober 2008, beliau berpulang secara tiba2. Beliau, yang tak pernah sakit, yang dalam usia 70 thn lebih masih kuat mengangkat spring bed ke lantai dua sendirian, yang baru 1 jam sebelumnya menjemput Ima dari les Inggris tanpa keluhan apa2, tiba2 merasa sesak nafas. Begitu tipis batas antara hidup dan mati, hingga jarak 500m antara rumah kami dan UGD pun tak sanggup dilaluinya. Beliau meninggal tepat ketika kendaraan memasuki pintu gerbang RS.

Pemakaman beliau sederhana saja. Tidak penuh dengan karangan bunga, atau kemeriahan lainnya. Pemakaman Yang Mo hanya sebuah lahan sederhana di TPU dekat rumah, dengan sejumlah kecil pelayat - tetangga dekat, teman2 SMAnya yang berhasil kami hubungi, dan [miraculously] beberapa kerabat yang akhirnya kami temukan. Namun pemakaman itu penuh cinta, karena kami benar2 merasa kehilangan keluarga. Gw bukan hanya kehilangan seorang juru bayar, seorang kepercayaan untuk menjemput Ima les, seorang teman nonton sepakbola, tapi... gw juga kehilangan "orang tua". Orang yang memberi nasihat saat gw butuh - tak peduli gw tertarik atau tidak. Orang yang berani mengingatkan kalau gw salah - meskipun beresiko adu mulut dengan gw.

Ya, he has become a part of our family, as he has fixed so many things for us. And we - in return - wants to fix something for him. For a change.

Friday, December 26, 2008

I Google Analytics Myself Every Morning!

Sudah 15 bulan gw pasang Google Analytics, dan masih setia membaca datanya secara berkala. Selain karena gw tergila2 data, gw juga takjub dengan beberapa temuan menarik yang gw dapatkan dari perangkat ini.

Salah satu temuan menarik yang gw dapatkan adalah top keywords yang mengantarkan orang menuju blog gw. Bayangkan! Di puncak klasemen, dengan total nilai 82 dari 1,290 kunjungan melalui mesin pencari sebulan terakhir (= 6,36%), adalah kata "smritacharita".

Buat gw data ini aneh. Smritacharita adalah kata yang nggak lazim, karena gw pakai bertapa dulu untuk membuatnya... hehehe... Selain nggak lazim, ejaannya belibet khas Bahasa Sansekerta. Lha, yang gw heran, kalau orang bisa mengingat ejaan belibet ini, kok ya nggak mengingat bahwa blog gw adanya di blogspot, sehingga harus bolak-balik memasukkan kata belibet ini ke dalam mesin pencari? Gw yakin, menjejalkan informasi bahwa blog gw ada di blogspot itu jauuuuuh lebih mudah daripada mengingat ejaan "smritacharita" ;-)

Iseng2, gw ikutan gugling kata "smritacharita", dan... kayaknya gw tahu kenapa nama blog ini jadi top keyword: ada ABG yang nyontek nama blog gw! Langsung terbayang percakapan yang melatarbelakangi munculnya top keyword tersebut:

"Main-main dong ke blog gw, jangan lupa kasih komentar ya!"
"Emang blog loe alamatnya apa?"
"Smritacharita. Alamatnya di http://xxx.blog.friendster.com/"

-- besoknya pas si teman mau mengunjungi blog, bingung sendiri. Ejaan alamatnya gimana ya? Pakai EYD, Van Ophuysen, atau Suwandi? Ah, gugling aja deh nama smritacharita --

Jadi deh... nyasar di blog gw semuanya ;-)

Yaaah... antara tersanjung dan dongkol juga sih gw ;-) Tersanjung karena nama yang gw pilih dengan susah payah ini dianggap cukup keren buat ditiru. Tapi.... dongkol juga deh! Secara gw sengaja milih yang unik, pakai bertapa segala, biar nggak ada yang nyamain! Lagian, kan nama blog ini dipertimbangkan dengan filosofi yang panjang, mosok tiba2 dicomot gitu aja :-(

*Pemutakhiran 29 Desember 2008: Makasih buat si empunya blog yang sudah menghapus nama SmritaCharita dari blognya. Karena udah dihapus, masalah tidak diperpanjang. Lain kali jangan diulangi lagi ya, Dik ;-)*

Soal nama karangan gw dicomot dengan semena-mena tuh bukan pertama kali. Nama anak gw, Swastinika, juga dicomot dengan semena2. Gw yakin banget, pas pertama kali ngasih nama Swastinika, di internet nggak ada yang bernama sama. Swastika sih memang banyak. Nika juga banyak. Tapi... untuk menggabungkan Swasti dan Nika, gw bertapa dulu! Dan googling dulu untuk memastikan bahwa nama itu "nggak pasaran".

Naas... setelah gw menceritakan asal dan arti Swastinika di blog, tiba2 aja orang pada nyontek! Diawali dengan alumni Planologi ITB yang memberi nama anaknya Raya Swastinika (nomor 79) ini. Buset deeh! Baru juga 18 Januari 2007 gw publikasikan, akhir Februari 2007 udah ada yang nyontek! Kelihatan banget kan, orang tuanya nggak menyiapkan nama dari jauh2 hari? Mana habis itu dia nggak tahu artinya lagi! Menyebalkan!

Setahun kemudian, tepatnya 28 Januari 2008, nama Swastinika juga dicontek untuk perusahaan. Buseeet... orang2 kenapa nggak kreatif amat sih? Buka kamus Sansekerta kenapa? Yang online juga ada! Kalau namanya mau keren, KREATIF dong! Jangan cuma nyontek!

Yang paling parah adalah bayi ini. Namanya Swastinika Naima Suga. Nyontek abis deh! Gw ngerti kalau orang tua ingin nama anaknya istimewa. Mungkin biar namanya nggak pasaran kayak bapaknya. Kalau mau istimewa, ya cari sendiri dong! Jangan nyontek sampai ke titik komanya :-( Sekarang, arti nama Ima di sini terpaksa gw hapus. Gw kan merangkai nama itu biar anak gw punya nama yang nggak pasaran. Gw bagi ceritanya untuk menginspirasi orang agar semangat mencari nama. Bukan menyediakan bahan contekan!

Hhhh.... padahal, nama Swastinika Naima adalah sesuatu yang gw banggakan sebagai orisinil, setelah teman bapaknyaimanara juga memberi nama anak lelakinya Nara sebulan setelah my Nara lahir. Ketahuan bener tuh teman bapaknyaimanara ikut2an, wong pas pertama kali lahir namanya nggak pakai Nara, kok setelah pulang namanya jadi ada Nara-nya. Plenty of names, kenapa harus pakai nama Nara sih buat menggenapi nama anaknya? Nggak mungkin dia nggak tahu anak gw namanya Nara, karena papa si Nara Aksen itu sekantor dengan bapaknya Nara.

Sekarang gw tinggal berharap nggak ada yang nyontek nama Wimatsara ;-) Nama Nararya memang agak umum, banyak yang pakai. Tapi "Wimatsara" itu nggak umum. Gw jungkir balik cari nama itu ;-) Sejauh ini, gw gugling, belum ada yang pakai nama "Wimatsara". Tapi kita lihat aja beberapa tahun lagi... hehehe.... Sebagai antisipasi, arti nama Nara sudah gw hapus dari blog ini ;-)

Soal nama Ima yang dicontek ini memang terlambat gw antisipasi. Mestinya gw sudah menghapus artinya saat posting Tatami & Bento ini secara konstan berada dalam top 20 landing pages. Untuk bulan ini, posting tersebut menempati urutan ke-15, dari total 340 posting. Cukup istimewa, mengingat posting ini adalah hasil karya gw 23 bulan yang lalu :-) Harga yang harus gw bayar karena terlalu pede bahwa karya gw akan menginspirasi orang mencari nama buat anaknya, bukan mencontek mentah2 ;-)

Niwei, enuff about the plagiarism ;-) Kalau ada orang tua yang senang kasih nama contekan buat anaknya, ya what can I say? Gw cuma bisa melindungi nama anak2 gw dari pencontekan lebih lanjut ;-) Dan bilang pada Ima & Nara: bersyukurlah, Nak, ibumu tidak suka memberikan barang contekan sebagai identitas kalian... HAHAHAHA...

Kembali ke cerita tentang Google Analytics. Yang bikin gw curious juga adalah data tentang visitors. Sebagian besar pengunjung blog gw datang dari Indonesia, tentunya. Tapi, yang bikin gw takjub, banyak kunjungan dari negeri2 yang gw merasa tidak punya kenalan di sana. Kalau USA berada di urutan kedua, gw nggak heran. Teman gw banyak yang berada di sana; meskipun gw bukan termasuk mereka2 yang sempat ngambil S2 di sana (ehm!). Singapore di urutan ketiga juga gak heran. Ada Dodol dan teman2nya. Netherlands, Malaysia, Switzerland, Germany... juga nggak bikin gw heran. Apalagi sejak Ulfah hengkang ke tempatnya Onkel Klinsmann ;-) UK, urutan selanjutnya, juga tidak aneh. Ada sepupu gw nan cantik yang sedang studi di sana ;-) Australia di tempat ke-10, apalagi! Teman gw banyak yang hidup di sana. South Korea, ada Iwan. Bahkan, di Niger pun ada teman SD gw yang sekarang tugas di sana.

Tapi negeri-negeri seperti Canada, Japan, Hong Kong, dan UAE mencengangkan gw. I don't recall having friends there. Padahal, mereka termasuk pembaca yang tekun. Data sebulan terakhir, dari Canada ada 4 kunjungan, dengan rata2 membaca adalah 2 halaman/kunjungan, dan waktu rata2 4 menit 14 detik. Berarti penduduk Canada ini benar2 membaca, karena 4 menit tuh cukup untuk baca satu posting ;-) Dan ini udah lumayan turun, karena beberapa bulan lalu, Canada ini mencetak rata2 13 halaman/kunjungan ;-) Dan pasti orang dari Canada ini pengunjung tetap, karena untuk wilayah Canada ini New Visit (alias orang yang baru pertama kali ke blog gw) cuma 25% ;-)

Bulan ini, dari UAE ada 7 kunjungan, dengan rata2 2,29 halaman/kunjungan dan 9 menit 9 detik/kunjungan. Berarti kemampuan membacanya agak lebih rendah dari yang di Canada... hehehe... Yang jelas, kemungkinan besar yang di UAE ini juga orangnya itu2 juga, karena New Visit UAE adalah 42%

Well.. yang dari Canada ini sih gw bisa menduga. Kemungkinan ia adalah sang feminis yang jadi lawan gw nge-discuss UUP di luar blog belum lama ini ;-) Teman yang salah satu komentarnya gw kutip di tulisan itu. Yo opo ora... HAHAHAHA...

Kalau yang dari UAE ini masih gelap ;-) Demikian pula yang dari Norway dan Poland, yang tampaknya juga orang yang itu2 juga ;-)

Niwei, gabungan dari kedua temuan menarik inilah salah satu alasan kenapa gw jarang menulis akhir2 ini. Gw masih melihat2 perkembangannya sebelum lebih banyak lagi berbagi ide dan pengalaman. Memang, gw sempat mempertimbangkan bikin blog ini jadi private. Tapi.... gw masih ragu2 dengan ide itu, karena bertentangan dengan kenapa gw bikin blog ini pada awalnya.

Berawal dari nongkrongin milisnya anak2 AFI tahun 2004 lalu dan membuat kesimpulan tentang karakteristik pendukung masing2 akademia. Kesimpulan itu gw ceritakan berapi2 pada bapaknyaimanara, yang kemudian berkata, "Mestinya itu loe jadikan tulisan. Jadi nggak hilang begitu aja, dan banyak orang jadi tahu". Niat itu kemudian terbengkalai karena gw malah asyik jadi penulis tamu di blog afilovers buatannya yang kini udah almarhum.

Sampai kemudian seorang teman berpolemik, sebut saja namanya Tino si Tukang Perahu, memberikan saran yang sama, "Kamu harusnya nulis blog. Kamu itu cocok jadi komentator. Orang bisa belajar dari tulisanmu."

Nah... kalau sekarang blog gw jadi private blog, ya sama aja dong sama nggak nulis sama sekali?

So, sampai hari ini gw masih belum tahu apa yang akan gw lakukan selanjutnya. Ada ide, anyone ;-)?

***

On second thought, kayaknya posting ini lebih cocok dikasih judul berdasarkan quote-nya Gene Simmons di Ugly Betty dengan sedikit revisi:

I Google Analytics myself every morning ;-)

Jadi, judul lama "Some Readers, Some Copycats" yang nggak catchy itu gw hapus ;-)

Monday, October 27, 2008

Necessity is the Mother of Invention

*Sebangsa leftover dari Lebaran lalu ;-)*

Ketika tahu gw akan "sendirian" tanpa staf garda belakang selama libur Lebaran, gw sempat ngeri. Tugas2 domestik kerumahtanggaan sih nggak seberapa bikin bingung, tapi... punya bayi umur 5 bulan? Belum pernah! Di kasus Ima lebaran pertamanya jatuh saat dia sudah 7 bulan. Sudah lepas ASI, sudah makan bubur, dan sudah bisa duduk sendiri. Itupun gw tidak completely alone, karena yang pulang hanya pengasuhnya saja. Tetap ada PRT yang bantu2 mencuci tumpukan celana Ima.

Naaah... sekarang? Gw mesti berlaku bak Betari Durga bertangan 6.. hehehe.. karena harus mencuci tumpukan celana bekas ompol, menggendong bayi yang belum bisa duduk sendiri, sekaligus menjadi pemasok tunggal ASI. Dan... did I mention bahwa Nara ini bayi caper? Yang kalau nggak digendong sebentaaarrr aja, bakal nangis keras2? Dan tangisannya lebih keras daripada lampornya Nyi Roro Kidul? Dan.. ohya, selain caper, Nara juga punya bakat jadi satpam! Pokoknya, sebelum ayam jantan berkokok, pantang buatnya untuk tidur ;-)

Tapi the show must go on. Maka, akhirnya tibalah hari yang ditakutkan: hari dimana tidak satu pun orang tersisa (halah! hiperbola!) untuk membantu gw.

Hari pertama, bangun jam 10 pagi, setelah semalam nemenin Nara bergadang, langsung angkut2 pakaian kotor buat dicuci. Belum juga mulai kerja, baru sampai di service area, gw sudah mati ucap! Alih2 menemukan botol2 dengan merek pelembut, pembersih lantai, dll, gw malah menemukan sederet botol plastik BEKAS minuman. Tidak ada satupun tanda2 botol mana berisi produk apa! Pun, nggak ada kertas petunjuk!

Ah, tapi gw kan tahu baunya! Tinggal dicium kan? Maka mulailah gw menggunakan penciuman untuk melacak masing2 produk ;-) Ada 4 botol yang terlihat, dan gw tengarai sebagai 4 macam produk: pembersih lantai, pelembut pakaian, deterjen cair (yang dipakai untuk baju2 tertentu), dan karbol.

Botol pertama, terkonfirmasi sebagai pembersih lantai. Botol kedua, tidak diragukan lagi, pasti karbol. Botol ketiga, teridentifikasi sebagai deterjen cair. Maka... gw tidak repot2 lagi mencium botol keempat. Pasti pelembut pakaian toh ;-)?

Dengan riang gw mencuci baju, menguceknya, dan kemudian membilasnya beberapa kali. Tolong dicatat, setiap kali membilas tentunya membutuhkan tenaga tak sedikit untuk memeras sisa air di baju. Lega banget ketika akhirnya tiba pada bilasan terakhir. Tinggal menambahkan pelembut, dan... jemur! Tapi... lho, lho... kok pelembutnya berbusa? Bukannya pelembut itu dipakai di bilasan terakhir dan tidak perlu dibilas lagi? Logikanya nggak berbusa dong?

Penuh kecurigaan, gw mencium isi botol keempat itu. Bener kok, wanginya lembut. Mirip wangi bayi. Mirip dengan produk pencuci botol bayi yang selalu gw pakai. Jadi ini pelembut kan?

Eh.. bentar. Balik ke kalimat sebelumnya. Mirip dengan PRODUK PENCUCI BOTOL BAYI. Dan merek yang sama mengeluarkan produk deterjen cair. Dan gw pernah beli produk itu buat coba2. Jadi.... WAAAAAKSSSS, ini deterjen cair juga, tapi khusus untuk baju bayi!!!

Terpaksa deh, ulang dari awal mencucinya... hehehe....

Hari pertama penuh bencana itu belum berakhir, rupanya. Sorenya, gw mau mensterilkan botol2 Nara. Semua botol yang sudah gw cuci masuk dalam panci besaaaar yang kemudian direbus sampai mendidih. Di tengah proses, gw ingat bahwa teething ring Nara udah beberapa hari gak gw minta sterilkan. Jadi... tanpa pikir panjang, gw cemplungkan saja teething ring itu di panci, nyalain kompor, dan... gw tinggal rebusan itu untuk ngurusin Nara.

Sepuluh menit berlalu... botol2 gw angkat dari panci, dan..... teething ring berbentuk buah ceri yang indah itu sudah jadi kismis... HAHAHAHAHA... alias meleleh :-( Oh, oh, oh... ternyata, teething ring itu cuma boleh DICELUP ke air hangat, atau dicuci dengan produk khusus untuk mensterilisasi :-( It's a big no-no to boil the toy!

*Tapi gw udah beliin yang baru kok, buat menebus fuilty geeling gw ;-) Tuh, yang bentuknya es krim*

Bercermin dari kegagalan hari pertama, hari berikutnya bapaknya anak2 yang mencuci baju. Kalau gw orangnya sedikit perfeksionis, ngeyel mau mencuci manual, maka bapaknya lebih praktis: memanfaatkan mesin cuci. Tapi... saking praktisnya, dia main menuangkan aja seluruh isi keranjang baju kotor Nara ke mesin cuci.

Hasilnya? Di tengah mencuci dia bingung sendiri: kok banyak kapas2 ya, yang ngambang di mesin cuci? Tapi kebingungannya nggak lama, karena... sebentar kemudian sebuah disposable diapers menyembul bak lumba2 ;-)

Makanya toh, Pak, kalau mau nyuci lihat2 dulu isinya. Jangan main cemplungin... hehehe... Untung disposable diaper yang ada feces-nya langsung masuk keranjang sampah, nggak pernah mampir ke keranjang pakaian kotor ;-)

Dan bencana demi bencana terus berdatangan, sebagian karena ada mom's helper yang berniat baik membantu semua pekerjaan ibunya. Tapi... seperti layaknya other 9-year-old helper, kerjanya harus mendapat finishing touch (= eufemisme dari dikerjakan ulang) dari orang tuanya ;-)

*Makanya bener banget tuh kalau anak kecil gak boleh dipekerjakan. Kasihan yang mempekerjakan juga... HAHAHAHA... Damn Erik Haerik Erikson dengan Psychosocial Development Theory-nya! Pasti waktu menelurkan teori mengenai Industry vs Inferiority pada anak usia sekolah, dia nggak memperhatikan dampaknya pada si ibu ;-)!

***

Tapi, walaupun hari2 pertama penuh dengan bencana, dari hari ke hari ada juga proses belajarnya. Dan... beruntunglah kami, karena dianugerahi kemampuan berpikir, sehingga semua necessity yang muncul dari kesulitan2 tugas domestik ini benar2 menjadi the mother of invention ;-)

Temuan pertama terjadi pada hari keempat lebaran. Eyangnya Ima & Nara sudah berangkat ke Solo untuk pertemuan keluarga tahunan. Tapi, sebelum berangkat, beliau berbaik hati memasakkan nasi sebanyak2nya dalam magic jar di rumah kami.

Benar2 "sebanyak2nya" dalam arti harafiah... karena... jadi lebih banyak daripada yang mampu kami makan, dan besoknya nyaris basi!

Rasanya pingin nangiiiis deh melihat nasi sebanyak itu nyaris tak termakan. Dibuang kok sayang, sementara banyak orang nggak bisa makan. Tapi... mau dimakan kok juga udah benyek2 gimanaaaaa gitu.

Gw sudah hampir membuang nasi2 itu, ketika tiba2 mendapat pencerahan. Aha! Kenapa nggak digoreng aja? Kan tahan lebih lama?

Berhubung nggak punya bumbu nasi goreng, terpaksa deh mengarang bebas. Beruntung, beberapa tahun lalu sempat dapat tugas mewawancarai dan mengobservasi ibu2 masak nasi goreng. Jadilah, gw buka2 laci memori mengingat bumbunya apa saja. Yang penting bawang putih (rada banyak), bawang merah, cabe, dan... sisanya gw tuangin aja kecap ikan dan kecap asin.

Eh, jadinya enak juga lho! Setidaknya, bisa dimakan tanpa rasa terpaksa... hehehe... Ini temuan #1: bahwa ternyata gw bisa memasak kalau terpaksa ;-) Mengingat biasanya gw nggoreng nugget aja gosong ;-)

Temuan kedua juga masih berkaitan dengan makanan ;-) Berhubung gw tetap nggak jago masak (meskipun bisa berimprovisasi masak nasi goreng ;-)), akhirnya kami lebih banyak makan di luar. Kendalanya - selain dana membengkak - adalah mengatur posisi Nara ;-) Dia kan belum bisa duduk sendiri, jadi nggak bisa ditaruh di kursi makan anak2. Ditaruh di kereta? Coba aja! Pasti ada yang mengira lampor datang ;-). Jadi, kami harus bergantian menggendong Nara.

*Catatan: kami di sini artinya gw & bapaknya ya! Ima kan belum bisa. Eh, bisa sih, tapi kalau Ima nggendong, harus ada yang ngawasin juga, jadi sama aja lah!*

Dan temuan baru dari bapaknya anak2 adalah: makan sambil tetap menggendong Nara ;-) Seperti di gambar samping ini: Nara digendong dengan kantong kangguru, lalu kepalanya ditutupi tisyu, naaah... bisa deh makan tanpa kepalanya Nara kejatuhan makanan ;-)

Tapi temuan baru ini hanya bisa digunakan oleh bapaknya ;-) Soalnya gw kurang tinggi... HAHAHAHA... Atau mungkin gw cukup tinggi, tapi Nara yang terlalu tinggi untuk ukuran bayi ;-) Soalnya, kalau gw pakai posisi seperti itu, maka kepalanya Nara akan tepat berada di depan bibir gw. Dengan demikian... percuma juga kepalanya Nara ditutupin tisyu. Kalau mau nggak kotor, Nara mesti pakai jas hujan ;-) Belum lagi, tetap aja sendok susah masuk ke mulut gw ;-)

***

Dengan pengalaman ini, gw jadi benar2 membuktikan bahwa necessity is the mother of invention ;-) Mungkin, kalau para garda belakang ini pulangnya lebih dari 10 hari, bakal lebih banyak lagi temuan2 yang kami dapatkan ;-)

Tapi... mendingan nggak jadi penemu deh, daripada hidup jungkir balik kayak kemarin... hehehe... Makanya, ketika si Mbak balik dari kampung, langsung kami sambut dengan hangat. She's our savior.. HAHAHAHA...

Rescue me before I lose control
Rescue me from this fire in my soul
There's only you who can stop me from falling
I need a saviour, need my saviour


(Savior - dipopulerkan oleh Anggun)