Thursday, August 28, 2008

Teach Me How to Dream

*Sebuah catatan terlambat yang sebaiknya buru2 dipublikasikan sebelum filmnya tayang ;-)*

Dalam membaca novel, ada 2 hal yang selalu gw pentingkan: kekuatan karakter dan logika cerita. Dua hal itu yang membuat ada sentuhan fakta dalam fiksi, alias membuat fiksi itu menjadi bukan fiksi sembarangan. Inspiring Fiction, atau Insightful Fiction, begitu gw menyebutnya ;-) Makanya, riviu gw terhadap buku bisa digolongkan pada 2 arus besar: penuh kekaguman seperti di sini dan di sini, atau penuh penyiletan sadis seperti di sini ;-)

Tapi… seperti dalam statistik, sesuatu yang sahih pun menyisakan ruang untuk toleransi. Dan… masuk dalam ke dalam ruang ini adalah tetralogi Andrea Hirata (atau tepatnya dua bagian pertama dari tetralogi itu ya… hehehe… karena bagian ketiganya nggak akan gw bahas. Lagipula, toh tetraloginya masih jadi trilogi. Kidung Pamungkasnya belum terbit ;-))

Ya, pada Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, gw bersedia bertoleransi.

Gw bertoleransi pada majas hiperbola Andrea Hirata, yang membuat kening gw berkerut2. Gw tutup mata pada beberapa inkonsistensi pada alur cerita Andrea Hirata, yang melambai2 minta gw silet2. Dan… gw pura2 nggak tahu ketika Andrea Hirata bolak-balik menggunakan kata Obsesif Kompulsif untuk sesuatu yang sebenarnya hanya bentuk Obsesif (tanpa Kompulsif). Padahal, salah kaprah konsep psikologi begini biasanya bisa menghasilkan satu tulisan tersendiri.. hehehe…

Di sini gw bahas sedikit saja deh: ketergila2an tokoh Jimbron pada kuda lebih tepat disebut obsesif saja, bukan obsesif-kompulsif, karena tidak disertai dengan repetitive behavior. Memang, Jimbron terus menerus bicara tentang kuda, tapi apa yang dibicarakannya berbeda. Kadang ngomonging kuda Libya, kadang kuda Australia, kadang kuda Sumbawa... cuma kuda lumping aja yang nggak pernah diomongin ;-) Ini berarti bukan kompulsif, karena yang dimaksud dengan kompulsif adalah perilaku berulang yang SAMA PERSIS ;-) Andrea salah istilah ;-) Tidak semua obsesi diikuti dengan perilaku kompulsif ;-)

*OOT: soal salah istilah ini, gw sempat mikir... jangan2 judul novel keempatnya juga salah istilah? Sebab, setahu gw, nama keluarga perempuan Rusia selalu berakhiran A. Ditambah A dari nama keluarga muhrimnya. Istrinya Tuan Karenin, namanya Anna Karenina, bukan Anna Karenin. Istrinya Mikhail Gorbachev, malah namanya Raisa Gorbachyova. Lha, kenapa judulnya bukan Maryamah Karpova ;-)?*

Majas hiperbola yang mengganggu logika cerita, menurut gw, adalah kejeniusan Lintang dan Mahar. Hmmm… gw percaya tokoh Lintang pada aslinya adalah anak pintar. Paling pintar. Luar biasa pintar. Tapi jenius? Bisa menyelesaikan perhitungan rumit dalam 7 detik? I doubt it ;-) Mungkin Lintang memang masuk kategori very superior pada distribusi Skor IQ. Tapi genius seperti Einstein? Hmmm... jika memang ada anak seperti ini, dan sudah ter-exposed dalam lomba cerdas cermat, agak sulit membayangkan tidak ada pihak yang mengenalinya sama sekali – menawarkan beasiswa atau mengusahakan beasiswa untuknya. Apakah semua orang di sana begitu bebalnya, tidak mengenali keluarbiasaan ini?

Lagipula... seorang jenius sejati biasanya tidak sejak kecil serta merta jadi straight A student ;-) Justru karena kejeniusan mereka, mereka agak terlihat gak fokus bagi mata awam. Tapi... kalau tingkat intelegensinya superior atau very superior sih mungkin ;-)

Makanya, kutipan peristiwa ini gw anggap gaya hiperbola Andrea Hirata saja ;-) Sama seperti gaya hiperbola menggambarkan kejeniusan berseni Mahar ;-)

Bolong yang mengganggu dalam alur cerita Andrea Hirata adalah munculnya tokoh Arai dalam Sang Pemimpi. Diceritakan bahwa Arai diangkat keluarga Ikal saat berusia sekitar 6 tahun. Logikanya, karena orangtua Ikal bukan orang berada, Arai tentu akan disekolahkan di sekolah yang sama dengan Ikal: sekolah kampung berbiaya rendah yang nyaris ditutup kalau saja tidak memiliki 10 murid tahun ajaran itu. Kesepuluh murid yang semuanya menjadi anggota Laskar Pelangi.

Tapi... kenapa Arai tidak pernah diceritakan dalam Laskar Pelangi? Tidak masuk akal bahwa dia masuk sekolah yang sama, sekelas dengan para anggota Laskar Pelangi, tapi tidak disebut sama sekali. Kalau tidak bersekolah di sekolah yang sama, juga tidak masuk akal. Kemana dia, ketika anak keluarga angkatnya saja dimasukkan pada sekolah yang paling murah?

Dan... hey, tengoklah cerita ketika Ikal dan Arai pertama kali mengadu nasib ke Jakarta. Ikal dan Arai, berdua saja, naik kapal ternak Bintang Laut Selatan untuk ke Jakarta. Berdua saja. Bukankah ini bertentangan dengan apa yang diceritakan pada halaman 492 buku Laskar Pelangi? Dengan narator Syahdan Noor Aziz bin Syahari Noor Aziz, salah satu anggota Laskar Pelangi, tertuliskan kalimat:

Setelah tamat SMA, aku, Ikal, Trapani, dan Kucai memutuskan untuk merantau mengadu nasib ke Jawa. Hari itu kami berjanji berangkat dengan kapal barang dari Dermaga Olivir. Tapi sampai sore Trapani tak datang. Karena kapal barang hanya berangkat sebulan sekali, maka terpaksa kami berangkat tanpa dia.


Inkonsisten, bukan, dengan kisah pada Sang Pemimpi halaman 220? Di sini, dengan Ikal sebagai narator, diceritakan:

Aku dan Arai memeluk celengan kuda dan berdiri di haluan waktu kapal menarik sauh. Pelan-pelan kapal hanyut meninggalkan dermaga. Kulihat dari jauh los kontrakan kami, bioskop, pasar ikan, Toko Sinar Harapan, pabrik cincau, dan orang-orang yang tak berhenti melambai kami: ayah-ibuku, sahabat-sahabat SD-ku para anggota Laskar Pelangi...


Hmmm... kecuali jika Ikal ini bisa membelah diri, sehingga bisa berada pada saat yang sama pada 2 tampat berbeda, maka gw nggak bisa menjelaskan inkonsistensi ini ;-) Jadi sebenarnya Ikal berangkat sama Arai (diiringi lambaian para Laskar Pelangi), atau berangkat dengan Syahdan dan Kucai (yang anggota Laskar Pelangi) sih ;-)?

Mungkin juga sih, di sini terjadi teori relativitas Einstein yang kerap disebut2 Andrea dalam novelnya ;-) Tepatnya relativity of simultaneity; dua cerita yang menurut gw terjadi secara simultan, ternyata tidak simultan menurut Andrea... hehehe.... Mungkin Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi terjadi pada realitas yang berbeda; semacam parallel reality seperti di film Sliders gitu ;-)

***

Tapi seperti gw bilang di atas, sekali ini gw tutup mata ;-) Sekali ini gw tetap menganggap Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi adalah insightful fiction, walaupun ada inkonsistensi dan ketidaklogisan di sana-sini. Dan semua itu karena satu hal: these novels teach me how to dream ;-)

Teach Me How To Dream - Robbie McAuley



Walaupun gw nggak percaya bahwa Lintang itu jenius, gw percaya tokoh Lintang adalah personifikasi sahabat masa kecil Andrea Hirata yang pintar. Sangat pintar, bahkan mungkin yang terpintar di bumi Belitong ;-) Itu sebabnya Lintang terlihat jenius di mata Andrea kecil, alias si Ikal ;-)

Dan oleh sebab itu, gw ikut merasakan tragisnya nasib Lintang, ketika ia terpaksa keluar dari sekolah hanya 4 bulan sebelum lulus SMP. Bukan hanya karena nggak punya biaya – kalau hanya itu masalahnya, mungkin guru dan teman2nya (atau setidaknya Flo si kaya itu) bisa mengusahakan beasiswa. Tapi terpaksa berhenti sekolah karena dia adalah anak laki2 tertua dengan banyak beban:

Seorang anak laki-laki tertua keluarga pesisir miskin yang ditinggal mati ayah, harus menanggung nafkah ibu, banyak adik, kakek-nenek, dan paman-paman yang tak berdaya, Lintang tak punya peluang sedikit pun untuk melanjutkan sekolah. Ia sekarang harus mengambil alih menanggung nafkah paling tidak empat belas orang, karena ayahnya, pria kurus berwajah lembut itu telah mati. Jasadnya dimakamkan bersama harapan besarnya terhadap anak lelaki satu-satunya dan justru kematiannya ikut membunuh cita-cita agung anaknya.

(Laskar Pelangi, halaman 430)

Sungguh, mata gw berkaca2 membaca paragraf ini. Dan makin berkaca2 lagi setelah tahu kelanjutan nasib Lintang berikutnya:

Pria yang kemarin menyapaku, yang menyetir tronton itu, salah satu dari puluhan sopir truk yang tinggal di bedeng ini, duduk di atas dipan, dekat tungku, berhadap-hadapan denganku. Ia kotor, miskin, hidup membujang, dan kurang gizi. Ia adalah Lintang. Aku tak berkata apa-apa.

Terlihat jelas ia kelelahan melawan nasib...

(Laskar Pelangi, halaman 468)

Benar2 tidak adil dunia ini. Anak secermelang Lintang terpaksa diputus sekolahnya. Sementara anak yang ”biasa-biasa saja”, bukan yang terpintar (walaupun juga tidak bodoh), seperti Ikal bisa melanglang buana bersekolah. Bayangkan jika Lintang dan Ikal mendapat kesempatan yang sama, akankah Ikal yang berangkat dan Lintang yang terpuruk?

Dalam skala yang berbeda, Lintang mengingatkan gw pada diri gw sendiri. Tentu, gw tidak sepintar Lintang. Dan tentu saja, nasib gw tidak semalang Lintang. Tapi... dalam skala yang berbeda, gw dan Lintang sama2 harus puas karena kesempatan [pendidikan] tidak berpihak pada kami. Lintang dan gw sama2 bisa kabur dari ”kewajiban”, kalau kami mau egois mengejar mimpi kami. Namun tidak. Kami tidak lari, sehingga kami terperangkap di sini.

Sesekali kami melihat orang2 yang mendapat kesempatan yang tidak kami dapatkan. Mereka ini banyak macamnya ;-) Ada yang seperti Ikal, yang not the best, tapi dia juga sudah berusaha luar biasa untuk mendapatkan kesempatan ini. Somehow orang2 seperti ini membuat kami ikut bangga, karena melihat bahwa kesempatan yang tidak kami dapatkan akhirnya didapatkan oleh orang yang [di mata kami] tepat.

Tapi dunia memang tidak pernah adil, bukan ;-)? Ada juga orang2 yang mendapatkan kesempatan ini sebagai default. Yang bahkan mungkin jauuuuuuh sekali dari kategori ”garda depan” (= istilah dalam Sang Pemimpi untuk peringkat2 terbaik). Dan seringkali, mereka2 yang mendapatkan kesempatan sebagai default ini tidak memanfaatkan apa yang tidak mampu kami dapatkan ini dengan baik. Mereka2 inilah yang membuat hati terluka (deuh... kayak lagunya Betharia Sonata, euy ;-)). Orang2 yang menimbulkan Sindroma Terang Aja ;-)

Yang mengerikan sebenarnya bukan Sindroma Terang Aja, karena sindroma ini seringkali diidap oleh mereka yang juga sebenarnya bukan garda depan. Dengan demikian, sindroma ini lebih merupakan excuse bagi kegagalan mereka. Buat garda depan seperti Ikal, yang muncul seringkali bukan sindroma ini, melainkan patah semangat.

Kini aku sadar setelah menamatkan SMA nasibku akan sama saja dengan nasib kedua sahabatku waktu SMP: Lintang dan Mahar. Sungguh tak adil dunia ini; seorang siswa garda depan sekaligus pelari gesit berambut mayang akan berakhir sebagai tukang cuci piring di restoran mie rebus. Berada dalam pergaulan remaja Melayu yang seharian membanting tulang, mendengar pandangan mereka tentang masa depan, dan melihat bagaimana mereka satu per satu berakhir, lambat laun mempengaruhiku untuk menilai situasiku secara realistis.

Sekarang, setiap kali Pak Balia membuai kami dengan puisi-puisi indah Prancis, aku hanya menunduk; menghitung hari yang tersisa untuk memikul ikan dan menabung. Bagi kami, harapan sekolah ke Prancis tak ubahnya pungguk merindukan dipeluk purnama. Altar suci Sorbonne, hanyalah muslihat untuk menipu tubuh yang kelelahan agar tegar bangun pukul dua pagi untuk memikul ikan.

(Sang Pemimpi, halaman 143 – 144)

Bukan jarang, gw pun punya pikiran yang sama. Mimpi2 gw, apalah artinya? Hanya untuk menipu tubuh agar giat berangkat bekerja dan menyelesaikan pekerjaan. If you want to hear God laughs, tell Him your dreams… kadang kutipan ini gw rasakan sebagai benar juga ;-)

Dan di sinilah kalimat Arai membuat gw tersentuh:

“Biar kau tahu, Kal, orang seperti kita tak punya apa-apa kecuali semangat dan mimpi-mimpi, dan kita akan bertempur habis-habisan demi mimpi-mimpi itu! Tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati. Mungkin setelah tamat SMA kita hanya akan mendulang timah atau menjadi kuli, tapi di sini Kal, di sekolah ini, kita tak akan pernah mendahului nasib kita”

(Sang Pemimpi, halaman 153)

Very insightful, indeed. Mimpi, mungkin adalah satu2nya yang kami punya. Tapi mimpi bukanlah sesuatu yang tidak mungkin kita capai. Kita tak akan mendahului nasib. Karena pada akhirnya apa yang dikatakan Tolstoy sebagai judul cerita pendeknya benar: God sees the truth, but waits ;-)

Ngomong2 soal mimpi, bukankah Martin Luther King juga hanya punya mimpi? Bukankah Ibu Kita Kartini juga hanya punya mimpi? So… teach me how to dream. Or to be precise: teach me how to hang on to my dream ;-)

Saturday, August 23, 2008

Dirgahayu Pavlovian!

Sudah berkali2 hal ini dibahas dimana2. Seingat gw, sejak gw SD saja gw sudah melihat koreksi tentang ini pada acara asuhan Pak Yus Badudu di TV (apa dulu nama acaranya ya?). Dan barusan browsing, ternyata sudah banyak juga yang membahasnya di blog.

Tapi... mengapa, oh mengapa, masih saja salah?
Karena, eh karena, masih banyak yang nggak peduli... :)

Jadi, ijinkan saya sekali lagi membahas tentang kata yang lagi happening bulan ini, sebelum bulan ini berakhir: DIRGAHAYU :)

Oh, well, kalau baca di blog2 tertaut di atas, yang rata2 menyitir KBBI, maka sudah jelas bahwa DIRGAHAYU dalam khasanah Bahasa Indonesia baku kurang lebih berarti "panjanglah umurnya". Gw tidak akan menyitir KBBI lagi. Gw mengulas bentukan katanya saja deh ;-)

DIRGAHAYU merupakan kata serapan dalam Bahasa Indonesia yang berasal dari Bahasa Kawi (aka Bahasa Jawa Kuno). Bahasa Kawi sendiri merupakan bentuk asimilasi bangsa Jawa terhadap Bahasa Sansekerta. Kata ini merupakan merger dari dua buah kata: dirga dan hayu.

Dirga, atau dalam bahasa aslinya dituliskan sebagai Dirgha, berarti "besar", "jaya", "hebat", "panjang", "tinggi". Dalam Dirga terkandung segala atribut kekuatan maskulin. Segala kualitas "keagungan" dalam dunia yang male-oriented ini.

Hayu... nah... ini yang menarik. Sejauh ini gw belum pernah nemu kata "Hayu" dalam kamus Sansekerta. Tapi... kata ini sangat akrab di teks2 Kawi (aka Jawa Kuno). Hayu dapat diartikan sebagai "indah", atau merupakan bentuk singkat dari rahayu yang berarti "lestari/abadi/senantiasa". Bahkan dalam Hamemayu Hayuning Bawono yang jadi landasan filosofis masyarakat Jawa (khususnya Yogyakarta), dapat juga diartikan sebagai "menciptakan", "mengayomi", atau "memperindah".

Ya, Hamemayu Hayuning Bawono artinya adalah "mengayomi dunia yang indah", atau "memperindah dunia yang indah". Karena Bawono berarti "dunia", hayuning (hayu + ning) berarti "indahnya" (kata sifat yang menerangkan "dunia). Dengan sendirinya, Hamemayu, yang merupakan bentukan kata Hayu dengan sisipan, dapat juga diartikan "ayom", "cipta", atau seperti arti aslinya: indah.

Dengan demikian... ketika kata DIRGA dan HAYU disatukan, kurang lebih artinya adalah: "menjaga keagungan". Disingkat menjadi satu kata: "JAYALAH"

Dirgahayu Indonesia = Jayalah Indonesia


Jadi, katakan padaku hai tukang kayu, bagaimana kata ini bisa diartikan sebagai "SELAMAT ULANG TAHUN" ;)?

Pergeseran arti ini, gw tengarai, karena "kegenitan" segelintir orang beberapa generasi di atas kita ;-) Mulanya digunakan kata "Dirgahayu Republik Indonesia" sebagai bentuk semangat patriotisme. Setiap tanggal 17 Agustus, slogan Dirgahayu Indonesia didengungkan. Orang baru ingat semangat patriotisme, baru ingat menyerukan "Jayalah Republik Indonesia", pada kitaran 17 Agustus doang. Di saat lainnya tidak... hehehe...

Dengan demikian, terjadilah Pavlovian Conditioning. Tanggal 17 Agustus berfungsi sebagai bel, semangat patriotisme berfungsi sebagai makanan, dan slogan "Dirgahayu Republik Indonesia" adalah air liur si anjing yang muncul karena melihat makanan. Setelah beberapa generasi, maka cukup diberikan stimulus berupa tanggal 17 Agustus untuk membuat orang2 berteriak "Dirgahayu Republik Indonesia!", tanpa perlu tahu apa arti sesungguhnya. Dikiranya artinya adalah "Selamat Ulang Tahun"

Persis pada anjing di percobaan Pavlov yang - setelah beberapa kali bel muncul bersama makanan - akhirnya meneteskan air liur setiap mendengar bunyi bel ;-) Nggak perlu lihat makanannya lagi, karena dikiranya makanan pasti ada ;-)

Dan... ehmmm... karena kita [mestinya] lebih pintar daripada anjing Pavlov, makanya ada segelintir orang yang berpikir, "Mosok ngucapin selamat ulang tahun nggak nyebut angkanya sih? Nggak afdol, dong!".

Jadilah! Sejak saat itu muncul salah kaprah dalam bentuk "Dirgahayu Republik Indonesia ke 63".. hehehe...

*Padahal, kalau kita mengucapkan demikian, artinya kita mengucapkan selamat dan mengelu2kan (bukan menggue2kan ;-)) Republik Indonesia yang ke-63. Waduh... apa nggak hancur bumi ini punya 63 RI? Satu RI aja korupsinya gede.. HAHAHA...*

Begitulah ceritanya ;-)

Jadi, kapan kita mau mulai menggunakan kata "Dirgahayu Republik Indonesia" dalam arti yang benar? Atau... memang jangan2 semua orang sudah tahu arti sebenarnya, tapi sengaja menggunakannya dalam konteks yang salah? Karena bukan konteksnya yang salah, melainkan jaman yang sudah berubah... hehehe...

Mungkin, awalnya orang memang mau mengucapkan "Jayalah Republik Indonesia!". Namun, seiring dengan lunturnya semangat persatuan Indonesia, meningkatnya semangat primordialisme dan keinginan melepaskan diri, maka memang rakyat Indonesia berlomba menggunakan kata "Jayalah Republik Indonesia ke-63" ;-) Karena mereka mengimpikan provinsi, kabupaten, atau bahkan kecamatannya menjadi Republik Indonesia yang ke-63 ;-)

Wuiiih... kalau begitu, yang terjadi bukan Pavlovian Conditioning, dong? Melainkan defense mechanism. Slip of the tongue, kayaknya. Atau sublimation? Hehehe...

Anyway... buat yang tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama di masa depan, gw pinjamkan jembatan keledai gw jaman SD dulu. Yang gw buat setelah menonton acara Pak Yus Badudu itu. Kebetulan waktu itu gw lagi seneng2nya denger koleksi lagu perjuangan tua, semacam lagunya Ismail Marzuki dkk, di kaset koleksinya Bapak. Naaah... ada satu lagu perjuangan ciptaan Titiek Puspa yang bisa jadi jembatan keledai: Pantang Mundur.

Pantang Mundur - Titiek Puspa


"Sembah sujud ananda
Dirgahayulah Kakanda
Jayalah dikau, Pahlawan,
Terus maju,
Pantang Mundur"

Itu lagu mengingatkan gw, karena kata "Kakanda" dan "Pahlawan" di syair itu tentunya mengacu pada orang yang sama: yaitu orang yang disembahsujudi ananda dan didirgahayui adinda :-) Dengan demikian berarti dirgahayu = jayalah ;-)

Thursday, August 21, 2008

Robohnya Estate ke-Empat

Tadi pagi, niatnya mau nulis sesuatu yang menjadikannya trilogi bersama tulisan ini dan ini. Tapi sebelum buka blogspot, periksa japri dulu. Nemu email dari Iwan. Ya suds, trilogi ditunda dulu

*hehehe... mau nyaingin Maryamah Karpov yang nggak terbit2 juga ;-)*

Email Iwan panjang banget, tapi gw potong dan edit semena2 bagi konsumsi publik ;-) Jadinya kurang lebihnya seperti di bawah ini:

--- In niaditterz@yahoogroups.com, Ikhwan wrote:

Hari Selasa (19/08) malam, Nia bersama Mas Wied, manajernya, bertemu dengan klien yang mengaku orang Pertamina di Pondok Indah Mall (PIM). Tepatnya di American Grill. Mereka katanya akan mengadakan acara pada tanggal 24/08 dengan pengisi acara Nia, Luri, Arjuna & Elvy Kondang-in (yang juga hadir dalam pertemuan ini). Adit sekali ini nggak ikut, karena sedang ada acara lain di Bandung.

Setelah berbincang sesaat, salah satu klien mengajak Nia, Luri, dan Elvy ke counter Aigner di lantai bawah. Gaya bicara klien yang mengajak ke bawah ini sangat meyakinkan. Sambil turun mereka terus berbincang-bincang, antara lain tentang cerita-cerita jaman karantina AFI dulu. Si klien katanya mengagumi suaranya Nia, terutama saat bernyanyi "Pelangi di Matamu" bersama Adi awal AFI dulu.

Klien ini mengatakan bahwa counter Aigner tersebut franchise-nya dipegang oleh bosnya yang Boss di Pertamina itu. Oleh karenanya, Nia dkk dipersilakan memilih2 barang seperti jam, tas, dll. Nia sebenarnya sungkan, tetapi dibujuk terus, sehingga akhirnya melihat2 juga.

Nggak lama kemudian, HP Nia berbunyi; ada panggilan masuk dari klien yang masih di American Grill. Katanya ia kesulitan menghubungi temannya. Tanpa curiga, Nia mengangsurkan HP ke klien yang ada di sebelahnya. Selintas, terdengar pembicaraan seakan mereka sedang deal2an mengenai harga show. Si klien lantas berpindah ke bagian depan toko, seolah mencari privasi. Sedetik Nia lengah, orang ini sudah hilang dari depan toko.

Nia dkk masih yakin orang ini akan kembali, karena kunci mobil & dompetnya ditinggal di meja counter Aigner. Tapi setelah sekitar 15 menit, Nia mulai cemas dan mengecek dompetnya. Ternyata isinya plastik serta kuncinya kunci mainan!

Spontan Nia dkk menghubungi Mas Wied. Ternyata klien yang mengaku orang Pertamina itu sedang toilet, tapi dompet dan buku cheque-nya ditinggal. Setelah diperiksa, dompet ini juga kosong, dan buku cheque-nya palsu. Baru mereka sadar bahwa telah tertipu.

Yang gawat, ternyata selain HP Nia, 2 buah jam Aigner juga raib dari meja counter!

Nia dkk sempat di tahan di counter tersebut oleh encik pemilik, karena dikira anggota komplotan. Setelah dijelaskan duduk perkaranya, baru mereka ramai-ramai (pemilik toko, pelayan toko, Nia dkk) ke kantor polisi. Ternyata, orang itu sebelumnya sudah datang ke counter Aigner dan bilang pada penjaga toko bahwa dia akan datang sebentar lagi bersama keponakannya, Nia AFI.

Nia dkk sempat di interogasi oleh polisi. ...

...

Isi emailnya masih panjang, tapi nggak penting untuk dijabarkan di sini... hehehe...

Awalnya gw mau ngebahas kasus ini ringan2 saja. Simply review tentang adanya modus operandi baru penipuan. Ngomongin bahwa ternyata ada lowongan untuk jadi researcher di underworld... hehehe...

Iya, pasti kedua penipu ini riset dulu sebelum menipu. Dari riset lagi tentang kejadian2 di Diari AFI dulu, sampai siapa pernah nyanyi apa, dll. Mencari informasi tentang pihak manajemen mana yang harus dihubungi. Pasti mereka juga riset tentang kebiasaan pihak sekuriti PIM merekam dengan CCTV, menilik cerita Nia berikut ini:

--- In niaditterz@yahoogroups.com, "nia*******" wrote:

Kita juga sempet pas habis kejadian rame2 ke bagian cctv mall. Ama encik nya yg punya Aigner dan ngecek CCTV PIM yg menghadap escalator dimana aku ama tmn2 ama indra (si penipu memakai nama Indra Nugraha - red) turun ke bawah ke butik Aigner.. tapi pas diputer mulai jam 18.00-20.00 (kejadian jam 19.00) itu gak keliatan sama sekali kita turun di escalator..kok bisa gitu ya..??

CCTV di AG juga mati..begitu juga CCTV di aigner..dan anehnya alarm Aigner juga gak berfungsi..utk toko yg menjual barang mahal begitu..knp keamanannya cuman seperti itu..


Hehehe.. pinter bener itu penipu milih saat2 dimana sekuriti kira2 nggak ngerekam. Jadi mikir..., yang diputer sebagai bukti itu rekaman tanggal berapa yaks ;-)? Untung Grissom dkk kerjanya di Las Vegas, kalau kerja di Jakarta udah bunuh diri dia ketemu CCTV yang bisa menghilangkan orang seperti ini... hehehe... CSI langsung tutup buku, karena all evidence has been compromised ;-)

Ide nulis ringan dan lucu langsung berbelok setelah baca bagian emailnya Nia yang ini:

--- In niaditterz@yahoogroups.com, "nia*******" wrote:

Mb Maya.. utk mslh crita ke media.. aku ama mamaku juga sempet berpikiran gtu. Tp gak tau juga ttg pertimbangan pihak Kiss ato Gaul..apakah mrk menganggap hal ini penting ato gak? Soalnya Hera AFI juga pernah di tipu duit..dan si penipu juga sms ke tmn2 Hera lainnya mengatasnamakan Hera dgn nomer baru..termasuk sms ke aku.. Dia bilang klo mo pinjem duit krn bokap nya sakit, tp ak yakin itu bkn Hera krn gaya bahasanya lain di sms.. Setelah smuanya terungkap dan Hera terlanjur tertipu, dia crita ke media..dan tnyata crita ini tdk di blow up kok..jadi yg tau hanya tmn2 sesama AFI yg pernah di sms Hera palsu itu..


Huh? WTF?

Jadi... kejadian ini sudah berulang kali ya? Dan infotainment nggak semangat menayangkan? Karena nilai jualnya nggak setinggi berita perselingkuhan, mungkin. Atau.. karena merasa berita penipuan itu urusannya Patroli, dan Buser? Hehehe...

Atau... mungkin mereka memang sengaja nggak mau menayangkan ya? Nunggu eskalasi tindak kejahatan ini. Kan seru kalau nanti2 ada masyarakat umum/mantan klien yang cerita di koran bahwa dia telah ditipu oleh "seorang seleb" berinisial "N" jebolan sebuah reality show di stasiun "I" (hal yang sangat mungkin terjadi, mengingat HP yang hilang penuh berisi semua kontak Nia - baik teman, keluarga, penggemar, sampai klien). Kalau ini udah kejadian, baru deh infotainment ngejar2 cari berita. Dengan alasan klarifikasi *sigh!* Kan nilai jual beritanya lebih tinggi ;-)

Gw jadi ingat kasus Honda Jazz Semalam dulu. Waktu itu gw juga minta pada pihak Carrefour untuk membuat pemberitahuan resmi bahwa telah terjadi pencurian kupon undian. Tujuannya jelas: memang nasi sudah jadi bubur, gw sudah sempat dihubungi penipu. Tapi... kita masih bisa menyelamatkan banyak orang dengan membuat pengumuman resmi. Termasuk orang2 di rumah gw, yang bisa jadi didatangi untuk dirampok saat kami tidak di rumah (hal juga yang sangat mungkin terjadi, mengingat alamat rumah beserta RT/RW, kelurahan, kecamatan terpampang dengan manis di kupon undian itu).

Permintaan gw itu juga tidak digubris. Tidak dianggap penting. Atau... setidaknya tidak sepenting "nama baik" Carrefour. Hingga baru beberapa bulan kemudian Carrefour membuat pengumuman resmi. Itu pun hanya mengkomunikasikan agar "masyarakat berhati2 terhadap penipuan mengatasnamakan Carrefour". Sama sekali tidak ada penyebutan tentang kupon undian yang tercuri; hal yang sangat bisa mengecoh calon korban.

***

Media massa dijuluki The Fourth Estate. Memang istilah ini mengacu pada kedudukan media massa dalam politik dan penegakan demokrasi, dimana media massa adalah penyeimbang dari ketiga estates yang lain. Mereka bisa menjadi penyeimbang, the most important of them all, karena merekalah yang punya kebebasan mengungkapkan fakta. Hingga masyarakat dapat mengetahui duduk persoalan secara persis.

Gw rasa, akhirnya, kebebasan mengungkapkan fakta itu juga menjadi kewajiban media massa. Bukan hanya haknya. Dalam konteks apa pun, lepas dari politik dan penegakan demokrasi sekalipun, media massa harus menjadi "juru bisik" rakyat.

Jadi... ketika media massa sudah tidak berpihak pada rakyat, sudah memilih2 mana yang menguntungkan untuk dibisikkan pada masyarakat dan mana yang tidak, rasanya satu pilar telah roboh :)

Dan kalau untuk hal yang "muatan duit"-nya nggak banyak (hehehe... gw gak kebayang bahwa para penipu ini nyogok media massa biar berita2 seperti ini gak dimuat ;-)), maka... rasanya nggak berlebihan jika gw bertanya: apa kabar berita2 yang "muatan duit"-nya banyak ;-)? Seberapa banyak yang berita yang "ditimbun", nggak diberitakan kepada masyarakat?

Tapi nggak apa deh... estate ke-4 roboh, mari kita bangun estate ke-5: BLOG... hehehe... Sebagai media massa non-formal, blog sudah terbukti bisa bikin geger toh? Pemerintah Cina saja sampai ketar-ketir dibuatnya. Baca di Time Magazine beberapa bulan lalu (atau malah tahun ya?), pemerintah Cina sampai2 membuat peraturan superketat bagi dunia per-blog-an di negaranya. Nggak nemu berita online-nya, tapi bisa dibaca juga di artikel lama ini.

Makanya, blog jangan dipakai curhat dan lempar2an PR doang ya... hehehe... Manfaatkan potensinya sebagai "penyambung lidah rakyat" ;-)

Wednesday, August 13, 2008

Huruf-huruf Merah Menyala

The Scarlet Letter, novel karya Nathaniel Hawthorne (yang terakhir difilmkan thn 1995 dengan judul sama) menceritakan tentang sanksi sosial yang dikenakan pada Hester Prynne. Karena terbukti hamil dan melahirkan padahal suaminya sudah lama menghilang, dia dihukum mengenakan huruf A besaaaaaaar di dada. Huruf A itu adalah singkatan dari "Adultery", alias "perzinahan". Huruf ini merupakan the badge of shame yang diberikan masyarakat sebagai hukuman yang diharapkan membawa efek jera. Karena tentunya sangat memalukan memakai stempel ini kemana2; semua orang jadi tahu aib yang pernah dilakukan. Tidak hanya itu, orang pun jadi menghindarinya.

Pada masa Orde Baru, para eks-tapol dan keluarganya memiliki KTP bertanda "ET" di sudutnya. Itu juga the badge of shame, diberikan sebagai hukuman yang membawa sanksi sosial. Efek jera? Gw yakin ada. Karena hidup mereka menjadi tidak enak sampai beberapa turunan. Dianggap "tidak bersih lingkungan" sehingga sering ditolak di lingkungan. Ditolak secara nyata maupun secara halus (misalnya dengan karir yg nggak naik2).

Dalam kedua kasus itu, apa yang sebenarnya membuat efek jera? Dari mana rasa malu/tidak nyaman itu muncul? Apakah dari the badge of shame-nya?

Menurut gw sih baik huruf A besar maupun huruf ET kecil itu hanya penghantar. Huruf itu hanya penanda bahwa si individu berbeda dari orang2 lain di sekitarnya. Dia adalah anomali dalam himpunan manusia yang disebut lingkungan itu. Setitik nila dalam susu sebelanga ;-)

Huruf A besar itu nggak bakal jadi masalah buat Hester Prynne kalau dia tidak tinggal di tengah [dan harus berinteraksi aktif dengan] masyarakat puritan Boston. Dan pada kenyataannya memang Hawthorne merancang cerita bahwa Hester berencana lari ke Eropa; tempat dimana ia bisa memulai hidup baru tanpa stigma bersama anak dan kekasih gelapnya. Kurang jelas juga nanti bagaimana nasib huruf A besar itu kalau Hester jadi kabur ke Eropa. Mungkin bakal disimpan sebagai memento. Bahkan mungkin jadi collectible item di sana.. hehehe...

Huruf ET kecil itu nggak akan berarti banyak jika si penyandang bisa pindah ke luar Indonesia. Hidup di tengah masyarakat yang nggak tahu sejarah Indonesia, nggak kenal [apalagi takut] pada penguasa Orde Baru, dia tidak akan ditolak2 dgn alasan "tidak bersih lingkungan". Apalagi kalau pindahnya ke tempat yang berbeda haluan politik dengan Indonesia. Kan.. perjanjian ekstradisi hanya untuk pelaku kriminal, bukan untuk alasan politik. Kecuali kalau karena alasan politik sudah melakukan tindak kriminal ya... ;-) Jadi... paling apes, dia harus berurusan dengan KBRI setiap beberapa waktu sekali. Mengatasinya pun gampang aja: kalau udah nggak tahan diperlakukan diskriminatif, ya tinggal ganti kewarganegaraan kayak Jeng Anggun ;-)

So, it's not the badge that matters. It's the attachment with the society. Badge itu baru bisa berfungsi kalau si pemakai adalah individu yang terdampar di tengah individu2 yang menganut sistem nilai yang berbeda. Baru di situ timbul efek malu, yang kemudian bisa berkembang menjadi efek jera. Malu [dan kemudian jera] karena dia "berbeda".

Itulah yang gw pertanyakan tentang dasar pikiran munculnya wacana memberikan baju seragam koruptor. Pendapat dari sayap yang pro sih supaya para koruptor itu malu. Dan kalau malu, nanti mestinya jadi jera.

Pertanyaannya: gimana bisa malu, kalau mereka tidak menjadi bagian dari komunitas pemberi badge of shame itu?

Sepanjang yang gw lihat, para pelaku korupsi itu berada dalam komunitas yang berbeda dengan rakyat jelata. Gampangnya, masyarakat Indonesia terbagi dua: komunitas yang punya akses korupsi, dan komunitas yang nggak punya akses korupsi alias jadi bahan untuk dikenai korupsi. Yang pertama adalah calon2 pemakai baju seragam itu, sementara yang kedua adalah kita para rakyat jelata ini.

Yang teriak2 supaya mereka dipermalukan adalah kita, para rakyat jelata. Usulan tentang baju seragam itu adalah juga berdasarkan sistem nilai kita: karena kalau kita yang diperlakukan begitu, maka kita akan malu.

Tapi... apakah para koruptor itu juga akan mendapatkan efek demikian? Apakah ada efeknya, jika mereka hidup di komunitas dimana korupsi sama gampangnya [dan sama wajarnya juga, kali ;-)] dengan bernafas?

Beberapa tahun lalu sempat nyolong baca skripsi mahasiswa/i bapaknya anak2 :). Ada satu skripsi tentang korupsi, kalau nggak salah tulisan Jeng Dos ini. Salah satu temuan sampingan yang menarik adalah: pelaku korupsi itu sendiri seringkali tidak merasa mereka melakukan korupsi. Buat mereka hal itu adalah sesuatu yang wajar. Dan wajarnya bukan hanya karena orang sekitar melakukannya, tapi karena mereka sudah punya rasionalisasi tersendiri yang mengkristal menjadi belief system. Mereka percaya bahwa apa yang dilakukannya adalah BENAR, tidak bertentangan dengan kebaikan, dan belief system ini diamini oleh sesama "penganutnya" :)

Dalam kasus nyata, lihat saja itu Ar dan Ur (sensor gak niat... ;-)). Apa sudah mulai ada efek malu (apalagi jera) pada Ar setelah tertangkap? Kelihatannya enggak tuh. Yang muncul adalah efek gak mau mengalami hidup kurang nyaman di penjara aja. Makanya dengan enteng pakai japri buat menghubungi Ur. Bikin deal selanjutnya ;-)

Kayaknya buat Ar, Ur, dan their fellows, yang namanya korupsi itu baik dan benar. Hanya saja mereka benar2 warga Indonesia teladan yang mengamalkan Bhinneka Tunggal Ika ;-) Mereka menghargai perbedaan. Jadi... jangan sampai mereka tertangkap dan ketahuan korupsi karena itu akan menyakiti hati komunitas yang berbeda: komunitas rakyat jelata yang tidak punya akses korupsi... hehehe...

Jadi, terus terang sih gw nggak melihat baju seragam koruptor ini akan punya efek positif terhadap tingkat tindak korupsi. Memberi baju seragam ke mereka sama saja memberi huruf A besar pada Hester Prynne setelah dia pindah ke Eropa. Atau memberi tanda ET pada paspor RI setelah si eks-tapol ada di Republik Ceko. Meskipun jumlah hurufnya 7x lebih banyak dari The Scarlet Letter, dan 3,5x lebih dari kode ET, tetap nggak ada gunanya! Nggak bikin malu!

Salah2, malah baju ini menimbulkan masalah baru: anggota komunitas ini berlomba2 korupsi untuk mendapatkan baju koruptor model terbaru :) Baju koruptor dianggap sebagai collectible item. Simbol status: dimana semakin banyak punya serinya, semakin tinggi statusnya. Semakin mumpuni :)

Baju bertuliskan huruf-huruf merah menyala K-O-R-U-P-T-O-R itu hanya akan memberikan keuntungan pada satu kelompok: kelompok penerima tender pengadaan baju korupsi... hehehe...

Tindak korupsi yang sudah kronis ini, menurut gw, sudah seperti keadaan Prancis jaman Marie Antoinette. Jaman dimana rakyat susah makan, sementara kaum borjuis menggunakan tepung sebagai pupur. Dengan demikian solusinya bukan dengan mempermalukan kaum ini, melainkan dengan guillotine ;-)

Atau... kalau guillotine terlampau keras, kita bisa coba hukuman 'khas' Indonesia: silet badannya, lantas kasih topping jeruk nipis atau garam... HAHAHA... Kalau perlu boleh diiringi lagu rakyat Banyuwangi ini biar tambah semangat ;-)

genjer - bing slamet

*Catatan buat Fakir Benwit: Musiknya pakai imeem kok, jadi loading-nya nggak seberat youtube ;-)*

Tapi.... apa berani ya, pemerintah menerapkan hukuman seberat ini pada para koruptor? Secara... para perangkat hukumnya pun beririsan cukup besar dengan komunitas koruptor ini. Nggak percaya? Lihat kasus Ar dan Ur di atas ;-) Bisa dibilang, "Jeruk kok makan jeruk?" dong kalau kasih hukuman terlalu berat ;-)

***

Balik dikit ke Ar dan Ur. Sebuah manuver yang berani dari Ar untuk menghubungi partnernya. Mungkin Ar punya kenangan khusus pada film Titanic. Bukan pada adegan fenomenal "I am the King of the World!", tapi pada bagian "You Jump, I Jump"... hehehe... Bagian romantis tersebut kalau di film Tarzan bunyinya jadi, "Me Tarzan, You Jane" ;-)

Kurang jelas juga kenapa Ur mau2nya terima telepon dari Ar. Padahal kalau dia ignore aja telfonnya Ar, dan hapus nomornya dari phonebook, kan gak akan muncul transkrip perbincangan itu. Biarin aja Ar ngomong sak karepe di pengadilan, it's her words against his words, kan ;-)? Kemungkinan selamat masih 50:50

Mungkin karena Urip mengharapkan deal tambahan ;-)? Atau mungkin karena Ur bukan jenis yang suka tiba2 sok dapat insight bahwa perkenalan harus dihentikan sementara ;-) Yang jelas ini menunjukkan bahwa mereka nggak terlalu malu2 kalau ketahuan punya "bisnis" korupsi ;-)

Yang terlihat jelas juga: dalam bisnis, aturannya pasti. Siapa punya penawaran, dia yang menghubungi via japri ;-) Jadi... nggak ada ceritanya Ur menghubungi Ar duluan ;-)

Saturday, August 09, 2008

Cuma Sasaran Empuk

Berawal dari Linda yang memberikan tautan ini: entry ledekan tentang FTV Indosiar yang dibintangi anak2 AFI. Tulisan yang bikin gw ngakak terbahak2, tapi bikin Ommenya QQ miris.

Kemirisan Omme QQ beralasan. Sinopsis yang dituliskan di situ memang ngarang abis dan dibesar2kan ala Drama Queen :) Hiperbola! Dan sangat jauh berbeda dengan
sinopsis aslinya, terutama untuk yg berjudul Funny Feeling. Kebetulan Omme QQ kenal dengan Dilla Rosa, pengarang chicklit yang dijadikan skenario FTV tersebut. Omme yang baik hati dan selalu memperhatikan perasaan orang lain ini kasihan pada Dilla, yang udah jatuh bangun berjuang, tiba2 karyanya cuma dilecehkan dan dinistakan orang lain.

Pada awalnya, gw sempat ikut arus menganggap ini pemfitnahan... hehehe... Karya orang dibikinkan sinopsis "palsu" untuk ditertawakan. Tapi... kemudian gw membaca entry blogger tersebut satu persatu. Entry lain menunjukkan bahwa ia penganut mazhab siletiyah belaka, bukan tukang fitnah. Pun.. ada kutipan seperti ini pada entry in question:

.. dan resensi ini cuma gue tulis cuma dari hasil Terawangan gue dibantu Mama Laurent.. makasi mamaaa... :)

So, he's quite fair :) Dia sudah bilang dari awal bahwa ini cuma imajinasinya. Bukan pemfitnahan, hanya penyiletan ;-)

***

Jadi, apa motivasinya menulis sinopsis rekaan seperti itu? Menjelek2kan? Memfitnah? Sirik? Hehehe... hipotesa gw malah menjadi ke arah sebaliknya: ini sebentuk
displacement. Nothing really personal towards the object in questions :)

Displacement itu salah satu bentuk mekanisme pertahanan diri. Bentuknya dengan mengubah sasaran emosi dari yang tak tersentuh atau tak boleh tersentuh dengan yang ada di sekitar. Semacam barter obyek aja, cari yang lebih menguntungkan daripada yg asli (dan pasti lebih menguntungkan, secara obyek yang asli kan nggak bisa diapa2in ;-)). Kurang lebih penjelasannya begini:

Displacement is the shifting of actions from a desired target to a substitute target when there is some reason why the first target is not permitted or not available.

Displacement may involve retaining the action and simply shifting the target of that action. Where this is not feasible, the action itself may also change. Where possible the second target will resemble the original target in some way.

Nah... hipotesa gw, si blogger ini udah kadung antipati sama sinetron/FTV atau apa pun acara TV Indonesia yang "begitu2 aja". Ceritanya aneh dan gak logis, pemainnya asal cantik/ganteng despite kemampuan aktingnya yang seringkali di bawah rata2, dan komersialisme parah bintang yang lagi laku. Cumaa... kemarahan terhadap hal2 yang seperti ini kan susah juga disalurkan kemana. Obyeknya nggak nyata. Mau marah ke siapa juga udah bingung.. hehehe... Jadilah, kemarahan tinggal kemarahan. Tersimpan di dada. Paling juga kalau keluar jadi jerawat ;-)

Kebetulan, si blogger menemukan VCD FTV yang merepresentasikan semua hal itu. Jadilah, obyek ini yang menjadi sasaran empuk. Dijadikan bahan cemooh dan dinista2kan. Apa yang selama ini terpendam, dikeluarkan ke dalam obyek ini.

Makanya dia menulis dengan majas hiperbola :) Mulai dari kaos Cindy AFI dengan gambar Cindy segede gaban sedang menunjuk kedua pipinya (trust me, kalau ada anak AFI berpose ala Maissy begini, namanya pasti BUKAN Cindy... HAHAHAHA...), dan puncaknya adalah hiperbola sinopsis rekaan. Sinopsis rekaan itu dibuat sekonyol2nya: sebentuk hiperbola pada rata2 cerita FTV/sinetron kita yang memang konyol :)

Salah kalau orang sakit hati terhadap tulisannya? Yaaah... enggak juga sih :) Emang tulisannya nyilet abis :) Tapi kalau gw sih lebih tertarik pada fenomena di belakangnya... hehehe...

***

Masalah displacement ini sebenernya sudah sempat mau gw tulis beberapa bulan lalu. Tepatnya ketika ringtone "Udah ujyan, betchek, nggak ada ojyek" lagi booming. Terkait juga dengan tulisan orang Sorong
tentang Cinta Laura ini (BTW, di Sorong nggak ada warnet ya ;-)? Lama banget nggak nulis, sejak leaving for Sorong... hehehe...)

Saya tidak pernah menertawakan fenomena berbahasa model Cinta Laura. Saya justru menganggap bahwa Cinta Laura sama dengan fenomena “orang-orang asing” yang terbiasa memakai bahasa asing dan kemudian harus terpatah-patah dan jungkir balik ketika menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi.

Bagi saya, Cinta Laura atau banyak orang-orang Indonesia lain yang lahir dan besar di luar negeri dan terbiasa berbahasa asing adalah SAMA DENGAN orang-orang asing ASLI yang memang mempunyai bahasa ibu bukan bahasa Indonesia tetapi mencoba untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan usaha yang lebih berat daripada kita.

Oww... berbeda dengan Fertob, saya termasuk yang selalu mentertawakan gaya berbahasa Neng Cincha ;-)

Tapi... alasan gw berbeda dengan beberapa orang yang [katanya] mentertawakan Neng Cinta karena menganggap Neng Cinta "kebarat2an" ;-) Sama seperti Fertob, gw tidak menganggap Cinta Laura kebarat2an. Cinta Laura MEMANG orang Barat ;-) Anak Jerman yang lahir dan lama tinggal di Eropa, selalu sekolah di sekolah internasional berbahasa Inggris, dan baru2 ini saja belajar bahasa Indonesia ;-) Kebetulan aja ibunya orang Indonesia.

Lalu, kenapa gw mentertawakan Cinta Laura? Hmmm.... consciously, gw akan jawab bahwa: ya karena omongannya lucu aja. Enak buat diketawain... hehehe... Tapi, on deeper exploration, gw akan sampai pada pengungkapan kesadaran bahwa ini sebentuk displacement.

Cinta Laura menjadi sasaran tembak gw atas segala yang ingin gw nistakan dari dunia persinetronan Indonesia ;-) Cerita yang dangkal, penulis skrip yang sok menggunakan bahasa baku tapi kelihatan gak ngerti kaidah bahasa Indonesia ...

*Catatan nyelip mumpung ingat: Perhatikan deh... dalam sinetron orang selalu bilang, "Ini salah aku..", "Ini pacar aku...", atau "Anak aku..". Plis deh! Apakah nggak ada orang yang tahu bahwa kata "Aku" itu dipakai hanya untuk orang pertama tunggal sebagai subyek? Sedangkan jika sebagai penunjuk kepemilikan, maka digunakan bentuk singkat "-ku". Jadi, kata yang benar adalah: SalahKU, PacarKU, atau AnakKU :-). Mbok yao kalau mau pakai bahasa Indonesia baku pelajari dulu kaidahnya!*

... pemilihan pemain yang pokoknya cantik/ganteng/indo tanpa perduli mereka bisa akting atau enggak, bisa mengucapkan dialog dengan meyakinkan atau enggak.

Dan Cinta pun menjadi obyek empuk (eh.. empuk? Bukannya anak begeng itu tulang semua? HAHAHAHA...). Dia pemain sinetron, pemeran utama di sinetron yang ceritanya "enggak banget", terpilih karena cantik indo, aktingnya ala kadarnya, bahkan logatnya di sinetron pun gak bagus. Jadilah! Begitu ada sesuatu yang bisa ditertawakan dari dia, I use it to the maximum... ;-) Buat nunjukkin: niih! Kualitas sinetron kita! Sinetron Indonesia, berbahasa Indonesia, tapi nggak ada Indonesia2-nya sama sekali kecuali lokasi syutingnya ;-)

Gw yakin gw tidak sendiri ;-) Pasti banyak yang secara tidak sadar mengalami mekanisme ini dalam dirinya.

Dan buat mereka2 yang meng-klaim mentertawakan Cinta Laura karena dia kebarat2an, apa kabar? Apa kalian yakin alasan kalian mentertawakannya adalah karena logat anehnya yang kebarat2an? Kalau begitu... mestinya kalian mentertawakan Arie Wibowo juga dong? Sampai sekarang logatnya masih nggak bener tuh... hehehe... Mentertawakan Larasati Gading juga dong? Waktu jadi bintang iklan vitamin anak tuh dia kelihatan hafalan banget ngomongnya :-)

Tapi gw yakin Arie dan Larasati tidak ditertawakan seperti Cinta. Kenapa? Karena mungkin penertawaan terhadap Cinta berakar pada masalah yang lebih dalam.

Tuduhan bahwa Cinta kebarat2an, apakah tidak mungkin merupakan displacement kemarahan terhadap diri sendiri? Diri sendiri yang kebarat2an, yang suka sinetron that we cannot relate to karena nggak bernafaskan Indonesia sama sekali. Sejak kapan di Indonesia menikah itu segampang kentut? Mempelai perempuan bisa datang sendiri ke tempat upacara, nggak ada pengiringnya, sampai2 di jalan gaun putihnya kotor karena "sengaja dicipratin" genangan air oleh anak bos calon suaminya yang ngebet banget pingin nikah sama cowok itu?

*Catatan nyelip lagi: Adegan itu benar2 ada. Tapi gw lupa judul sinetronnya, karena gw bukan pemerhati sinetron ;-). Kalau nggak salah itu sinetron dimana Meriam Belina jadi emak2 yg kalau ngomong selalu pakai "I" dan "You" deh ;-)*

Marah kepada diri sendiri yang menganggap apa2 yg berbau lokal Indonesia itu kuno, sampai2 nggak banyak lagi anak Indonesia yang bisa main angklung, bisa membatik, menari tradisional.. sampai2 bangsa tetangga berkesempatan "mencuri" kekayaan kita ;-).

Tapi kita nggak bisa marah pada diri sendiri, bukan ;-)? Oleh karena itu kemarahan kita arahkan pada obyek yang tersedia ;-) Barter obyek, kalau menguntungkan.. kenapa tidak ;-)?

Sunday, August 03, 2008

Gajah di Matamu

Sebenarnya ingin mengganti gambar cewek di header blog ini sudah sejak dulu. Sejak pertama kali pasang template bertajuk Girl in the Wind ini. Alasannya sederhana: ini template gratis, pasti banyak yang juga pakai, sementara gw nggak pingin tampilan blog gw "pasaran". Idealnya memang gw bikin tampilan sendiri aja, yang unik. Tapi.. sayangnya, ilmu gw belum cukup. Baca buku tentang CSS dan XML aja gak kelar2. Apalagi, belajar beginian kan kudu praktek, nggak bisa teori doang ;-).

Sementara itu, gw juga udah kadung jatuh cinta sama paduan warna hijau dan kuning kehijauan ini. Gw nggak yakin kalau bikin gambar sendiri bakal seindah ini komposisi warnanya. Pelajaran Seni Rupa (yang waktu SD - SMA dulu hampir selalu berarti Seni Lukis) adalah salah satu pelajaran dimana gw dapat nilai 7 aja udah bagus ;-)

Jadilah... akhirnya gw putuskan untuk memodifikasi sedikit template-nya. Tetap pakai template cantik ini, tapi gw kasih sedikit "sentuhan" personal ;-)

Daaaan... terima kasih kepada cuti panjang ini, gw akhirnya sempat ngutak-atik dengan
Adobe Photoshop Element ;-)

Pertama2, gambar si gadis pada template asli gw hapus dulu:




Lantas... gw tambahkan gambar gajah yang latar belakang gambarnya sudah gw buat transparan di tempat si gadis itu. Gambar gajah aslinya gw pinjam dari artikel ini.




Jadi deh, template baru gw yang cantik tapi "gw banget"... hehehe... Memang, hasilnya nggak rapi2 amat. Ada "cacat" berupa garis tipis putih membelah antara gambar yg gw modifikasi dengan bagian berikutnya. Tapi gw cukup bangga dengan hasil kerja gw. Secara gw bukan keluaran Fasilkom kayak bapak ini, dan bukan computer geek kayak bapaknyaimanara ;-) Jam terbang gw dalam nge-sop kalah jauuuuhhh sama bapak2 ini ;-)

Untuk merealisasikan template idaman gw, butuh waktu sekitar 4 jam. Nyari gambar gajahnya aja setengah mampus. Bukan susah cari gambar gajah, tapi gambar gajah yang sesuai. Tadinya sempat mencoba gambar induk gajah dengan seekor anaknya. Tapi... latar belakangnya sejenis lumbung; gw kesulitan menjadikannya transparan karena warnanya terlalu dekat dengan gajahnya. Lagipula, kata bapaknyaimanara, gw nggak adil! Mosok induk gajahnya cuma punya 1 anak.. hehehe..

Akhirnya gw memilih gambar gajah yg ini. Gambar ini cocok buat menggambarkan gw, karena dia gajah yang loner ;-) Nge-sop-nya juga enak, karena latar belakangnya hijau royo2 :) Hand friendly buat gw yg jam terbangnya gak tinggi ini.

Ngutak-atik gambarnya sendiri sih nggak lama. Nggak sampai 1 jam, udah termasuk Photoshop-nya nge-hang segala ;-) Tapi... ternyata... kesulitan utama bukan pada utak-atik gambar. Melainkan pada mencari image hosting ;-)

Selama ini gw pakai
Photobucket sebagai image hosting favorit. Tapi.. begitu gw edit html tampilan blog dengan gambar dari photobucket, lhooo... kok amburadul? Gajahnya termutilasi... hehehe... Persis seperti gambar di atas: ada jarak antara gambar 1 & 2. Untung, bapaknyaimanara comes to the rescue ;-) Dia yang mengingatkan bahwa ukuran gambar dalam pixel gw melewati kuota photobucket, jadi pasti di-resize.

Jadilah gw cari2 free image hosting baru dulu. Ternyata, itu proses yang lama. Nggak semua hosting memperkenankan direct link, ternyata. Kalaupun memperkenankan, banyak yang kuota pixelnya nggak sesuai kebutuhan. Jadilah... hampir 2 jam sendiri gw browsing, baca FAQ, nyoba, sampai akhirnya menemukan hosting yg pas dgn kebutuhan:
ImageShack.

***

Nah... kenapa gw pilih gambar gajah sebagai pengganti gambar gadis manis pada tampilan blog gw? Hmmm... idenya dari komentar
PJ dan Mela pada saat tayang perdana tampilan blog Girl in the Wind lalu: tentang kenapa nggak pakai foto gw aja ;-)

Deuuuh! Kayaknya gw belum senarsis itu untuk pajang foto diri di blog terbuka seperti ini ;-) Tapi... gw pikir2 bagus juga usulnya untuk pakai gambar yang mencirikan gw. Jadi, kenapa nggak pakai ikon aja? Toh... foto di profil gw juga pakai ikon yang menggambarkan diri gw: kucing yang menatap cermin dan melihat singa di sana ;-) Karena what matters most is how you perceive yourself ;-)

Pilihan gw jatuh ke gajah, karena binatang ini punya keterikatan dengan gw ;-) Bukan hanya karena
bentuk tubuh yang sama, atau karena dulu ada gajah bernama Maya di film, tapi juga karena gajah selalu ingat ;-)

Menurut
temuan terbaru, salah satu hal yang membuat ingatan gajah begitu tajam adalah penciumannya. Gajah dapat mengenali kerabatnya, bahkan yang sudah meninggal, melalui penciuman. Penciuman gajah adalah indera yang sensitif.

Ya, ya, gajah memang binatang yg pantas dijadikan ikon. Binatang istimewa dengan tingkat kecerdasan tinggi ;-) Bisa diajarin apa aja. Dari membantu manusia membuka lahan garapan, mengangkat barang berat, hingga main sepakbola. Yang mungkin nggak bisa dilakukan oleh gajah hanya
pergi ke bank. Soalnya dia nggak punya tangan, jadi nggak bisa tanda tangan slip penarikan ataupun setoran ;-) Entar kalau salah transaksi masalahnya panjang lagi ;-)

Kalau sekedar narik duit dari ATM aja sih mungkin gajah masih bisa diajarin ya? Asal ATM-nya di pinggir jalan, bukan di dalam mall. Bukan apa2... gajah nggak boleh masuk mall ;-) Soal mencet2 PIN, kan bisa pakai belalainya.

Tapi... ngapain juga minta tolong gajah ke bank? Kan prosedur ke bank sudah sangat jelas toh? Instruksi juga dikasih secara tertulis waktu pertama kali buka rekening. Nggak boleh manja ah, minta tolong hal2 yang bisa dilakukan sendiri :-)

Iiih.. jadi ngelantur ;-) Yang jelas, posting ini dibuat sebagai bukti bahwa gw nggak nyolong karya orang ;-) Gw emang pinjem template-nya dari situs gratisan, dan gambar gajahnya dari situs yang lain. Tapi gw sebut sumbernya. Jadi.. jangan pada protes ya! Nikmati aja gambar gajah segede gajah (haiah!) di header blog itu.. hehehe...

Kalau ada yang protes, ingat saja pepatah lama tentang mata yang bagus: kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata apa lagi ;-) Atau boleh juga ingat
lagunya Jamrud (kemana ya tuh band sekarang?): ada gajah di bola matamu ;-)