Wednesday, August 13, 2008

Huruf-huruf Merah Menyala

The Scarlet Letter, novel karya Nathaniel Hawthorne (yang terakhir difilmkan thn 1995 dengan judul sama) menceritakan tentang sanksi sosial yang dikenakan pada Hester Prynne. Karena terbukti hamil dan melahirkan padahal suaminya sudah lama menghilang, dia dihukum mengenakan huruf A besaaaaaaar di dada. Huruf A itu adalah singkatan dari "Adultery", alias "perzinahan". Huruf ini merupakan the badge of shame yang diberikan masyarakat sebagai hukuman yang diharapkan membawa efek jera. Karena tentunya sangat memalukan memakai stempel ini kemana2; semua orang jadi tahu aib yang pernah dilakukan. Tidak hanya itu, orang pun jadi menghindarinya.

Pada masa Orde Baru, para eks-tapol dan keluarganya memiliki KTP bertanda "ET" di sudutnya. Itu juga the badge of shame, diberikan sebagai hukuman yang membawa sanksi sosial. Efek jera? Gw yakin ada. Karena hidup mereka menjadi tidak enak sampai beberapa turunan. Dianggap "tidak bersih lingkungan" sehingga sering ditolak di lingkungan. Ditolak secara nyata maupun secara halus (misalnya dengan karir yg nggak naik2).

Dalam kedua kasus itu, apa yang sebenarnya membuat efek jera? Dari mana rasa malu/tidak nyaman itu muncul? Apakah dari the badge of shame-nya?

Menurut gw sih baik huruf A besar maupun huruf ET kecil itu hanya penghantar. Huruf itu hanya penanda bahwa si individu berbeda dari orang2 lain di sekitarnya. Dia adalah anomali dalam himpunan manusia yang disebut lingkungan itu. Setitik nila dalam susu sebelanga ;-)

Huruf A besar itu nggak bakal jadi masalah buat Hester Prynne kalau dia tidak tinggal di tengah [dan harus berinteraksi aktif dengan] masyarakat puritan Boston. Dan pada kenyataannya memang Hawthorne merancang cerita bahwa Hester berencana lari ke Eropa; tempat dimana ia bisa memulai hidup baru tanpa stigma bersama anak dan kekasih gelapnya. Kurang jelas juga nanti bagaimana nasib huruf A besar itu kalau Hester jadi kabur ke Eropa. Mungkin bakal disimpan sebagai memento. Bahkan mungkin jadi collectible item di sana.. hehehe...

Huruf ET kecil itu nggak akan berarti banyak jika si penyandang bisa pindah ke luar Indonesia. Hidup di tengah masyarakat yang nggak tahu sejarah Indonesia, nggak kenal [apalagi takut] pada penguasa Orde Baru, dia tidak akan ditolak2 dgn alasan "tidak bersih lingkungan". Apalagi kalau pindahnya ke tempat yang berbeda haluan politik dengan Indonesia. Kan.. perjanjian ekstradisi hanya untuk pelaku kriminal, bukan untuk alasan politik. Kecuali kalau karena alasan politik sudah melakukan tindak kriminal ya... ;-) Jadi... paling apes, dia harus berurusan dengan KBRI setiap beberapa waktu sekali. Mengatasinya pun gampang aja: kalau udah nggak tahan diperlakukan diskriminatif, ya tinggal ganti kewarganegaraan kayak Jeng Anggun ;-)

So, it's not the badge that matters. It's the attachment with the society. Badge itu baru bisa berfungsi kalau si pemakai adalah individu yang terdampar di tengah individu2 yang menganut sistem nilai yang berbeda. Baru di situ timbul efek malu, yang kemudian bisa berkembang menjadi efek jera. Malu [dan kemudian jera] karena dia "berbeda".

Itulah yang gw pertanyakan tentang dasar pikiran munculnya wacana memberikan baju seragam koruptor. Pendapat dari sayap yang pro sih supaya para koruptor itu malu. Dan kalau malu, nanti mestinya jadi jera.

Pertanyaannya: gimana bisa malu, kalau mereka tidak menjadi bagian dari komunitas pemberi badge of shame itu?

Sepanjang yang gw lihat, para pelaku korupsi itu berada dalam komunitas yang berbeda dengan rakyat jelata. Gampangnya, masyarakat Indonesia terbagi dua: komunitas yang punya akses korupsi, dan komunitas yang nggak punya akses korupsi alias jadi bahan untuk dikenai korupsi. Yang pertama adalah calon2 pemakai baju seragam itu, sementara yang kedua adalah kita para rakyat jelata ini.

Yang teriak2 supaya mereka dipermalukan adalah kita, para rakyat jelata. Usulan tentang baju seragam itu adalah juga berdasarkan sistem nilai kita: karena kalau kita yang diperlakukan begitu, maka kita akan malu.

Tapi... apakah para koruptor itu juga akan mendapatkan efek demikian? Apakah ada efeknya, jika mereka hidup di komunitas dimana korupsi sama gampangnya [dan sama wajarnya juga, kali ;-)] dengan bernafas?

Beberapa tahun lalu sempat nyolong baca skripsi mahasiswa/i bapaknya anak2 :). Ada satu skripsi tentang korupsi, kalau nggak salah tulisan Jeng Dos ini. Salah satu temuan sampingan yang menarik adalah: pelaku korupsi itu sendiri seringkali tidak merasa mereka melakukan korupsi. Buat mereka hal itu adalah sesuatu yang wajar. Dan wajarnya bukan hanya karena orang sekitar melakukannya, tapi karena mereka sudah punya rasionalisasi tersendiri yang mengkristal menjadi belief system. Mereka percaya bahwa apa yang dilakukannya adalah BENAR, tidak bertentangan dengan kebaikan, dan belief system ini diamini oleh sesama "penganutnya" :)

Dalam kasus nyata, lihat saja itu Ar dan Ur (sensor gak niat... ;-)). Apa sudah mulai ada efek malu (apalagi jera) pada Ar setelah tertangkap? Kelihatannya enggak tuh. Yang muncul adalah efek gak mau mengalami hidup kurang nyaman di penjara aja. Makanya dengan enteng pakai japri buat menghubungi Ur. Bikin deal selanjutnya ;-)

Kayaknya buat Ar, Ur, dan their fellows, yang namanya korupsi itu baik dan benar. Hanya saja mereka benar2 warga Indonesia teladan yang mengamalkan Bhinneka Tunggal Ika ;-) Mereka menghargai perbedaan. Jadi... jangan sampai mereka tertangkap dan ketahuan korupsi karena itu akan menyakiti hati komunitas yang berbeda: komunitas rakyat jelata yang tidak punya akses korupsi... hehehe...

Jadi, terus terang sih gw nggak melihat baju seragam koruptor ini akan punya efek positif terhadap tingkat tindak korupsi. Memberi baju seragam ke mereka sama saja memberi huruf A besar pada Hester Prynne setelah dia pindah ke Eropa. Atau memberi tanda ET pada paspor RI setelah si eks-tapol ada di Republik Ceko. Meskipun jumlah hurufnya 7x lebih banyak dari The Scarlet Letter, dan 3,5x lebih dari kode ET, tetap nggak ada gunanya! Nggak bikin malu!

Salah2, malah baju ini menimbulkan masalah baru: anggota komunitas ini berlomba2 korupsi untuk mendapatkan baju koruptor model terbaru :) Baju koruptor dianggap sebagai collectible item. Simbol status: dimana semakin banyak punya serinya, semakin tinggi statusnya. Semakin mumpuni :)

Baju bertuliskan huruf-huruf merah menyala K-O-R-U-P-T-O-R itu hanya akan memberikan keuntungan pada satu kelompok: kelompok penerima tender pengadaan baju korupsi... hehehe...

Tindak korupsi yang sudah kronis ini, menurut gw, sudah seperti keadaan Prancis jaman Marie Antoinette. Jaman dimana rakyat susah makan, sementara kaum borjuis menggunakan tepung sebagai pupur. Dengan demikian solusinya bukan dengan mempermalukan kaum ini, melainkan dengan guillotine ;-)

Atau... kalau guillotine terlampau keras, kita bisa coba hukuman 'khas' Indonesia: silet badannya, lantas kasih topping jeruk nipis atau garam... HAHAHA... Kalau perlu boleh diiringi lagu rakyat Banyuwangi ini biar tambah semangat ;-)

genjer - bing slamet

*Catatan buat Fakir Benwit: Musiknya pakai imeem kok, jadi loading-nya nggak seberat youtube ;-)*

Tapi.... apa berani ya, pemerintah menerapkan hukuman seberat ini pada para koruptor? Secara... para perangkat hukumnya pun beririsan cukup besar dengan komunitas koruptor ini. Nggak percaya? Lihat kasus Ar dan Ur di atas ;-) Bisa dibilang, "Jeruk kok makan jeruk?" dong kalau kasih hukuman terlalu berat ;-)

***

Balik dikit ke Ar dan Ur. Sebuah manuver yang berani dari Ar untuk menghubungi partnernya. Mungkin Ar punya kenangan khusus pada film Titanic. Bukan pada adegan fenomenal "I am the King of the World!", tapi pada bagian "You Jump, I Jump"... hehehe... Bagian romantis tersebut kalau di film Tarzan bunyinya jadi, "Me Tarzan, You Jane" ;-)

Kurang jelas juga kenapa Ur mau2nya terima telepon dari Ar. Padahal kalau dia ignore aja telfonnya Ar, dan hapus nomornya dari phonebook, kan gak akan muncul transkrip perbincangan itu. Biarin aja Ar ngomong sak karepe di pengadilan, it's her words against his words, kan ;-)? Kemungkinan selamat masih 50:50

Mungkin karena Urip mengharapkan deal tambahan ;-)? Atau mungkin karena Ur bukan jenis yang suka tiba2 sok dapat insight bahwa perkenalan harus dihentikan sementara ;-) Yang jelas ini menunjukkan bahwa mereka nggak terlalu malu2 kalau ketahuan punya "bisnis" korupsi ;-)

Yang terlihat jelas juga: dalam bisnis, aturannya pasti. Siapa punya penawaran, dia yang menghubungi via japri ;-) Jadi... nggak ada ceritanya Ur menghubungi Ar duluan ;-)