Showing posts with label Cynical Comment. Show all posts
Showing posts with label Cynical Comment. Show all posts

Wednesday, May 04, 2011

Big Brother for Parliament

Beberapa hari lalu seorang teman lama (sebut saja namanya Ara Michi) mengomentari sistem permainan pada acara Big Brother Indonesia di status FB-nya:

Kalau Petir, pemirsa sms penghuni yg dia dukung, kalau Big Brother pemirsa sms penghuni yang mau mereka keluarin, di Petir ada PK di Big Brother nggak ada. Kalau diibaratkan demokrasi, Big Brother itu demokrasi langsung, Petir itu demokrasi perwakilan. Gw lebih suka demokrasi langsung lebih " keliatan" bahwa suara publik dihargai

Waktu itu sih gw nggak mau repot2 berdebat sama Ara tentang "beda demokrasi" ini. He's the expert, anyway, at least he's the more passionate about this topic... hehehe... Dan lagi, Ara itu comes with a warning di kemasannya. Bunyinya mirip2 dengan kemasan rokok: "Berdebat dengan Ara berbahaya bagi kesehatan"

Tapi itu termasuk status yang layak untuk di-like di Facebook. Dan seperti layaknya status2 "berkualitas" lainnya, status ini bisaaaa aja disangkutkan ke masalah yang lebih serius. Seperti kasus dialog ini ;-)

Rasanya gw udah bosen nyela2 anggota dewan di blog ini. Soalnya yang dicela juga nggak berubah2 sih ;-) Jadi, monggo aja klik tautan di atas bagi yang sekali lagi ingin membaca bagaimana LUAR BIASA-nya kualitas parlemen kita. Sangat dianjurkan bagi mereka yang menderita tekanan darah rendah... hehehe... Terutama di sesi tanya jawabnya ;-)

*Sumpah! Membaca jawaban2 di sesi tanya jawab itu pingin membuat gw menyuruh Ima berhenti sekolah! Ngapain dia sekolah tinggi2, wong sudah lebih pintar daripada mereka. Langsung aja ngelamar jadi anggota dewan ;-)*

Atau kalau mau versi LIVE-nya, boleh intip di YouTube ini . Dijamin "Keong Racun" dan "Briptu Norman" bakal malu karena kalah lucu ;-)

Anyway... gara2 tergeleng2 membaca dan mendengar jawaban2 itu, gw jadi mikir: apa lagi sih yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan sumber daya di parlemen ini? Apa yang harus dilakukan di pemilu berikutnya? Apa perlu kita semua ikutan GolPut, sehingga caleg cuma [kalau istilah jaman pemilihan Ketua Senat Mahasiswa dulu] "lawan kotak kosong"? Tapi... gw ingat kata suami tercinta, "Kalau loe nggak milih, kertas suara loe utuh, ntar diambil orang lain gimana?" atau, "Kalau loe nggak milih, jadi loe biarin sembarang caleg menang"

*Yeah, yeah.... in time like this, I usually have to resist the urge to choke my hubby to death... HAHAHAHA... Sumpah deh! Dia itu selalu bisa lihat sesuatu yang "bagus" pada sesuatu yang menurut gw udah super nyebelin ;-)*

Nah, di saat seperti inilah status "berkualitas" Ara melintas di kepala gw. Daripada tiap pemilu selalu harus sibuk kampanye anti golput, dan nantinya juga tetap dapat anggota parlemen yang gak berkualitas, kenapa juga negara nggak kita minta mengganti sistemnya menjadi seperti Big Brother Indonesia? Tetap Langsung-Umum-Bebas-Rahasia, tapiiiii..... yang dicoblos ataupun dicontreng adalah caleg yang TIDAK dikehendaki :)

Gw rasa ini menarik :-)

Dari satu sisi, kandidat jadi harus lebih hati2 berkampanye. Zero tolerance for stupidity, karena satu kebodohan bisa menyebabkan mereka mendapatkan tambahan pemilih. Otomatis rakyat juga diuntungkan dong, karena akhirnya kualitas caleg jadi lebih bagus ;-)

Dari sisi negara? Menguntungkan banget! Negara nggak perlu pusing2 kampanye anti GolPut. Gw setuju banget sama komentar Ara di statusnya itu:

penghuni nominasi 3 orang yg akan dikeluarin, yg keluar adalah yg smsnya paling banyak dari 3 orang itu. Kebayang donk orang sampai sms supaya org tersebut keluar berartikan hubungan emosionalnya tinggi banget

Gw yakin, GolPut2 yang ada sekarang bakal semangat banget ikut pemilu... hehehe... Kalau satu suara mereka bisa mengurangi jumlah orang2 tak berkualitas di parlemen, siapa yang mau buang2 suara?

Tapiiiii.... kan tetap aja, yang vote-nya sedikit akan berhasil masuk ke parlemen? Jadi, sedikit banyak parlemen akan diisi oleh orang2 yang "kurang disukai" juga dong?

Betul. Yang jadi anggota parlemen tetap bukan orang2 yang tidak mendapatkan vote sama sekali. Tapi... di sini justru sisi bagusnya! Karena saat disumpah menjadi anggota parlemen pun mereka sudah sadar bahwa mereka punya "sekian suara" yang tidak menghendaki mereka berada di parlemen. Semoga itu menjadi beban, sehingga mereka juga melangkah lebih hati2. Beda dengan kasus yang sekarang: bahwa kalau akhirnya terpilih menjadi anggota parlemen itu seolah2 adalah "kemenangan". Sehingga mereka boleh merayakan kemenangannya selama 5 tahun ke depan.

Prinsipnya, kita mengubah makna keberhasilan mereka mengalahkan lawan2nya dari "victory", menjadi "second chance". And I think everybody agrees that getting a second chance might make someone wiser ;-)

So, bagaimana Bapak2 dan Ibu2 yang berwenang mengubah sistem? Bisa dipertimbangkan?

As for the current members of parliament, yang kualitasnya bikin gw ngakak2 hari ini [dan hari2 sebelumnya], bisa kita kasih profesi baru aja. Mungkin mereka bisa gantiin Keong Racun, atau Briptu Norman, di iklan2 selanjutnya.

*dan gw mulai kinky ngebayangin mereka membintangi iklan ini. "Komisi sekian suka makan lala lala... jadi sehat, berprestasi.... enak sekali" ;-)*

Saturday, February 06, 2010

Tembus ke Samping

Ini posting yang sungguh tidak penting, tetapi harus gw tuliskan demi menghilangkan imaginary earworm yang mengganggu gw sejak tadi sore ;-)

Ada sebuah lelucon klasik mengenai tanda baca. Alkisah, seorang guru Bahasa Inggris masuk ke kelas dan menuliskan kalimat berikut ini di papan tulis:

woman without her man is nothing!


Murid2nya diminta menambahkan 2 tanda baca lagi untuk membuat kalimat tersebut lebih bermakna, dan.... jawaban murid2nya terbagi dua:

Woman. Without her, man is nothing!
Woman, without her man, is nothing!


Jawaban pertama tentunya diberikan oleh mereka2 yang percaya pada girl power ;-) Jawaban kedua, tentunya, diberikan oleh para male-chauvinist ;-)

Naaah... kayaknya, tadi sore gw menemukan satu padanan kisah tersebut dalam Bahasa Indonesia. Dari sebuah judul film yang menggegerkan khayalak Indonesia akhir2 ini:

Hantu Puncak Datang Bulan


Sumprit! Sesorean ini, gw penasaran dengan struktur kalimatnya ;-) Jelas sih kalimat ini bukan S-P-O-K sempurna, karena nggak ada P dan nggak ada O-nya. Cuma ada S dan K aja ;-) Dan jelas strukturnya adalah S-K. Tapi... yang jadi masalah, apa S-nya, dan apa K-nya, karena ada kata "Puncak" yang mengganggu.

Alternatif pertama, subyeknya adalah "Hantu", keterangan waktu/kondisi adalah "Datang Bulan", dan "Puncak" merupakan keterangan tentang intensitas dari waktu/kondisi tersebut.

Kita sudah tahu lah, artinya "datang bulan". Dan udah tahulah, bahwa dalam setiap siklus "datang bulan' pasti ada "puncaknya". Selanjutnya... buat yang pernah belajar biologi tentang sistem reproduksi perempuan, mestinya sudah tahu bahwa dalam kondisi puncak datang bulan, memang [buat beberapa perempuan] rasanya sama aja kayak ketemu hantu ;-)

Naaah... kalau pakai alternatif pertama ini, kalimatnya jadi masuk akal dan judulnya ilmiah... hehehe.... Ini sebuah film tentang "Hantu" yang dijumpai pada "Puncak Datang Bulan" ;-) Mungkin filmnya bakal jorok... banyak darah dimana2, tapi nggak beda jauh lah dengan Saw ;-)

Tetapi... kemudian gw menemukan alternatif kedua: subyeknya tetap "Hantu", dan "Datang Bulan" tetap keterangan waktu/keadaan, tapi.... "Puncak" adalah keterangan tempat. Berbeda dengan struktur pertama, dimana "Puncak" menjadi keterangan bagi keterangan waktu/kondisi, pada struktur kedua ini "Puncak" menjadi keterangan bagi subyek ;-)

Kalau pakai formula yang kedua ini, arti kalimatnya beda! Berarti di sini kita bicara tentang sesosok hantu yang ada di Puncak, dan sedang datang bulan. Naaaah.... ini yang bakal bikin filmnya lebih menarik... hehehe.... Kita kan tahu ada yang namanya PMS, kondisi yang biasanya bikin cewek2 lebih galak daripada hantu. Mungkinkah padanannya pada hantu disebut menstrual syndrome ;-)? Terus, perilakunya si hantu bakal gimana ya? Lebih galak daripada cewek yang lagi PMS kah ;-)?

Hmmmm.... ada yang bisa bantu menjelaskan? Sumpah nih, gw penasaran.. HAHAHAHAHA...

Tadi udah nanya orang2 ;-) Tapi kata JenJu, film ini [baik judul maupun isinya] nggak boleh dipikirin pakai otak :-(

*Ouch, JenJu, Anda tidak menghargai kreativitas anak bangsa... :-p*

Terus... kata Yanti alias Exchequer, struktur yang kedua aneh. Mosok udah jadi hantu masih datang bulan ;-)? Tapi... menurut gw, kita kan nggak pernah tahu. Hanya Tuhan dan Hantu yang tahu apakah hantu bisa datang bulan... :-p

Jadinya gw gugling2 deh... dan... menemukan nggak ada alternatif gw yang bener :-( Ternyata, menurut sinopsis ini, itu adalah hantu yang datang pada saat datang bulan. Jadi "puncak" di sini apa fungsinya??

Huh! Nggak asyik ah!

Padahal, gw udah berharap2 banget alternatif kedua yang benar. Kan... gw nantinya bisa mewawancara si hantu tentang pembalut apa yang paling nyaman buat dia kalau lagi datang bulan... hehehe....

Eh, tapi mungkin jawabannya obvious ya? Pembalut yang nyaman buat hantu yang lagi datang bulan adalah...... yang tembus ke samping ;-)

Lha, iya lah! Hantu kan emang harus nembus kemana2... hehehe... Kalau pembalutnya nggak tembus ke samping, si hantu susah bermanuver dong :-p

Thursday, January 28, 2010

Hotel California Roll

Kemarin, pemerintahan SBY ber-Boedi tepat 100 hari. Dan banyak demo menggoyang pemerintahan ini dimana2, gaungnya malah sampai ke Austria. Iya, Austria, bukan Australia yang di sepelemparan batu itu... Austria dan Australia jaraknya memang terpisah samudra, seperti sudah digambarkan oleh tambahan hurufnya: AustrALia. AL itu angkatan laut kan ;)?

Gw nggak ahli Feng Shui maupun primbon, tapi... gw mulai bertanya2, adakah hubungan antara hobi Pak Presiden menyanyi serta mencipta lagu dengan pemerintahannya, sehingga selalu digoyang dombret ;-)? Makanya toh, Pak, noblesse oblige. Kalau jadi presiden ya ditunda dulu keinginan menjadi pesindennya. Kalau dipaksakan bisa menjadi preseden buruk ;-)

Atau... mungkin juga demo 100 hari ini adalah pembuktian law of attraction ;-). Selamatan 100 hari itu biasanya dilakukan untuk mengenang almarhum seseorang. Dan karena menurut hukum ketertarikan ini pikiran mempengaruhi kejadian, maka nggak heran kalau pemerintahan ini jadi sulit berkembang. Diperlakukan seperti orang meninggal sih! Coba kalau evaluasinya dirancang untuk 7 bulan pemerintahan, seperti upacara mitoni atau 7 bulanan pada orang2 hamil. Mungkin bisa memberi energi positif... karena diperlakukan sebagai suatu cikal bakal kehidupan dan harapan ;-)

Anyway... gw nggak mau membahas tentang demo 100 hari. Juga nggak mau ngebahas Duo BC yang ramai diusung orang untuk jadi tema demo. Gw cuma mau menggunakan salah satu BC itu sebagai batu loncatan untuk menyelesaikan suatu draft tulisan yang udah agak basi ;-)

*Hehehe... harap maklum, sekarang2 ini banyak banget tulisan gw yang basi. Soalnya nggak kompak nih antara keinginan dan kesempatan untuk menuliskannya ;-)*

Draft basi gw ini sebenarnya bermula dari terkuaknya sel mewah Tante Ayin. Kasus itu kan sempat ramai ya, beberapa waktu lalu. Dan rata2 orang mempertanyakan efek jera si Tante, jika sel-nya mewah seperti itu. Semua orang ramai2 berpendapat bahwa si Tante (secara khusus) dan para pelaku tindak korupsi lainnya (secara umum) baru bisa jera kalau sudah ditaruh di sel sempit seperti penjahat2 lainnya.

Gw sendiri punya pikiran yang agak beda. Menurut gw, efek jera itu bukan merupakan hasil dari perlakukan yang sama, melainkan karena perlakuan berjenjang yang setara. Jadi, efek dari sebuah perlakuan terhadap orang yang berbeda belum tentu sama, karena tergantung dari karakteristik orang per orang tersebut. Contohnya, buat gw yang suka menyendiri ini, dihukum nggak boleh keluar adalah heaven on earth buat gw... hehehe... Jadi, kalau gw dikurung di kamar, bisa jadi gw nggak akan jera. Tapi... coba deh terapkan hal yang sama pada anak2 gaul kronis. It would be a 7th degree inferno for them ;-)

Oleh karena itu, gw sendiri cukup yakin bahwa Tante Ayin akan cukup jera meskipun dikurung dalam kamar yang ukurannya kayak papan catur raksasa itu, 8x8m ;-) Kalau buat yang rumahnya tipe 4L, loe lagi loe lagi, alias cuma 3x7m atau 6x6m, papan caturnya Tante Ayin tuh emang lega banget. Bikin betah berlama2. Tapi... buat si Tante yang biasa melanglang kemana2, sarapan nasi lemak di KL, makan siangnya bakmi di Hong Kong, dan makan malamnya sashimi di Jepang, yang namanya papan catur raksasa ini sama efeknya dengan sel 2x3 buat kita :)

Mungkin beberapa orang akan bilang, "Aaah! Itu kan teori! Mewah adalah mewah, nggak akan bikin efek jera!" Mmm.... enggak juga kok. Sekitar tahun 1995 gw pernah praktek pelatihan di bagian Psikologi Pendidikan buat remaja2 cowok yang tertangkap tawuran. Waktu mau berangkat, gw udah membayangkan bakal ketemu cowok2 begajulan yang setengah mabok semua. Ternyata.... bayangan gw nggak sepenuhnya benar. Ada beberapa cowok yang [meskipun kelihatan dekil dan kurang terawat] tapi sangat santun. Pokoknya, nggak kebayang deh mereka berpartisipasi dalam sebuah tawuran... apalagi yang bertindak penuh kekerasan.

Setelah ngobrol2 panjang, penemuan kami sungguh mencengangkan: beberapa cowok tanggung tersebut memang tidak ikut tawuran, tetapi mereka sengaja membiarkan diri ikut ditangkap. Alasannya, "Kalau ikut pendidikan di sini, makan dan tidur terjamin. Pulangnya masih dikasih uang saku Rp 10.000, lumayan uangnya buat adik2 saya"

Kebayang nggak sih? Kalau buat gw yang anak manja gini, nggak bakalan gw mau membuang 3 minggu hidup gw dikarantina secara militer; bangun sebelum subuh, disuruh lari2 dan apel pagi. Itu penyiksaan namanya. Apalagi cuma dapat Rp 10.000! Gw pasti jera kalau ikut program ini. Tetapi... buat sebagian orang, boro2 ini adalah penyiksaan. Menurut mereka malah sesuatu yang worth it. Sesuatu yang bikin gw jera, ternyata buat orang lain maknanya berbeda.

So, that's it. Menurut gw, kita sih nggak perlu terlalu khawatir atas efek jeranya. Yang perlu kita khawatirkan adalah sikap para petinggi hukum terhadap hal2 ini. Menurut gw jawaban bahwa agar "hak perdata" Tante Ayin tidak terhambat adalah [maaf] suatu jawaban yang bodoh :-) Yang namanya narapidana itu ya sudah jelas kehilangan seluruh haknya! Kecuali hak azasinya ya ;-) Jadi... nggak ada dasarnya pertimbangan khusus ini. Ini hanya langkah ngeles saja, sebuah justifikasi yang konyol ;-)

Dan, menurut gw, pembelaan diri petinggi hukum inilah yang menurut gw lebih mengenaskan daripada bisa berfitness rianya si Tante di sel tahanan ;-) Komentar seperti ini hanya bisa muncul jika seseorang tidak tahu apa esensi dari hukuman penjara itu, dan bagaimana mekanisme timbulnya efek jera. Kalau hidupnya masih berjalan dengan lancar, cuma "pindah kantor" doang ke penjara, ya sebenarnya treatment yang diberikan kepada si Tante tidak signifikan. Ini yang akan bikin beliau tidak jera... bukan karena kamar mewahnya (yang sebenarnya tidak mewah untuk ukuran beliau) ;-)

Jika petinggi hukumnya sudah berpandangan begini... well, gw jadi ingat sebuah status FB teman gw baru2 ini, "Berdoa dan ikhtiar sudah. Sekarang tinggal tabah dan tawakal"... hehehe... Sudah susah untuk mengubah para petinggi hukum itu. Kita tinggal tabah dan tawakal menerima kenyataan mengenaskan ini, sambil sedapat mungkin mengubahnya menjadi sesuatu yang menguntungkan rakyat banyak. Dari situlah muncul konsep Hotel California Roll yang gw pikirkan ini :-)

Dari dulu kan penjara itu sudah disebut Hotel Prodeo ;-)? Dengan pemikiran yang senada, sebuah penjara di Vietnam disebut sebagai Hanoi Hilton. Ini adalah sebutan sarkastik: sebuah "hotel" yang tidak menawarkan kenyamanan, melainkan kesengsaraan. Naaah... di jaman para petinggi negara sudah menganggap bahwa narapidana hak perdatanya harus dijaga (*sigh! Padahal, yang namanya narapidana tuh hak pilih aja harusnya hilang lho!), konsep kesengsaraan ini tentunya tidak relevan lagi. Tapi.... yang namanya narapidana, kan tetap harus dibikin nggak nyaman supaya dapat efek jera? Kesenjangan inilah yang akan dijawab oleh Hotel California Roll ;-)

Di Hotel California Roll, semua narapidana yang berduit dan tidak tahan hidup menderita secara fisik, boleh bayar untuk mendapatkan kenyamanan fisik. Seperti di hotel, kita kasih saja daftar harga RESMI. Ada kelas2 di selnya, kalau perlu kita charge per meter persegi. Mau bawa alat fitness? Boleh... asal bayar. Mau perawatan kulit di sel? Boleh... asal bayar juga ;-)

Lho, kalau gitu, apa bedanya dengan yang sekarang?

Bedanya... di konsep ini, biayanya RESMI dan jadi pemasukan negara :-) Tidak masuk kantor orang per orang, atau kelompok per kelompok. Naaah.... uangnya kemudian dipakai untuk menyejahterakan rakyat banyak. Biar full circle: uang yang diambil dari rakyat, kembali ke rakyat ;-)

Treatment-nya nggak signifikan dong? Ntar nggak jera dong?

Naah... di sinilah kenapa nama yang dipilih adalah Hotel California Roll. Nama ini bisa dibaca dengan dua penekanan. Penekanan pertama, Hotel California Roll memang menunjukkan sisi fusion-nya: inovasi terhadap sesuatu yang tradisional, tanpa kehilangan ketradisionalannya. Dalam kasus ini, fusion-nya adalah mempertahankan sisi kesengsaraan, tapi tidak lagi melulu kesengsaraan fisik. Mempertahankan praktik bayar-kalau-mau-nikmat, tapi tidak masuk ke kantong pribadi ;-)

Cara pembacaan kedua adalah Hotel California Roll. Seperti kata lagu kesayangan gw yang pernah gw singgung2 di sini, penjara tetaplah tempat dimana narapidana tidak sepenuhnya bebas. You can check out anytime you like, but, you can never leave ;-)

Selalu ada pembatasan pada Hotel California. Dan.. dalam Hotel California Roll ini, pembatasannya JUSTRU pada hak perdata yang diagung2kan petinggi penjara tadi: ini penjara ya, Tante, Oom, bukan wall street. Jadi plis deh, forget your business. Boleh hidup nyaman sedikit di penjara ini kalau Tante dan Oom nggak tahan dengan penderitaan fisik, asal bayar ;-) Tapi... di luar penderitaan fisik, perlakuannya tetap sama dengan narapidana lainnya: no business life whatsoever.

*Enak aja mau bisnis dalam penjara! Kalau koruptor bisa bisnis dalam penjara, bandar narkoba juga boleh dong menjalankan bisnisnya di situ? Kan sama2 bisnis ;-)*

Jadi... setelah berpanjang lebar, apa hubungannya Tante Ayin dengan Demo 100 Hari? Ya nggak ada... hehehe... Cuma, gw inget bahwa Paman Anggodo, yang terkait dengan salah satu BC yang jadi tema demo kemarin, baru2 ini kan resmi jadi tersangka. Naaah... kalau nantinya beliau benar akan dijatuhi hukuman, beliau bisa jadi tamu pertama di Hotel California Roll ;-) Makanya, draft ini kudu dipublikasikan buru2... hehehe... Siapa tahu segera diolah menjadi konsep yang matang oleh para wakil rakyat ;-) Biar mereka ada kerjaannya! Daripada komputer canggihnya buat fesbukan doang... hehehe... Lagian, kan gaji mereka mau naik 20%? Meskipun setelah didemo ada yang buru2 menolak ;-)

Ayooo... para wakil rakyat... segera dikonsepkan yang matang! Kalau enggak, nanti bisa2 Anda2 lho, yang menginap di Hotel California Roll ;-)


Welcome to the
Hotel California Roll
Such a lovely place
Such a lovely face

Plenty of room at the
Hotel California Roll
Anytime of year
You can find it here


Boleh booking kapan saja ;-) Di Hotel California, dijamin selalu ada tempat. Nggak pernah penuh ;-)

Saturday, January 23, 2010

Teliti Membeli Blackberry

Beberapa pekan lalu, teman gw woro2 di FB mengenai PIN BB-nya yang mendadak aktif kembali. Padahal, BB itu telah tercopet beberapa waktu sebelumnya dan secara teoritis mestinya nggak bisa aktif kalau nomor yang dipakai bukan nomor yang terpasangkan dengan device tersebut. Pengusutan lebih lanjut menghasilkan temuan yang lebih mencengangkan: si pemilik PIN BB tersebut mengatakan membeli BB secara resmi di sebuah mall pada kawasan Kuningan yang kondyang sebagai sentra ponsel. Lengkap dengan kotak resmi Blackberry bersegel serta kartu garansi!!

Benar2 luar biasa sindikat pasar gelap ini ;-) Memang berlaku teori ekonomi: kalau demand besar, supplier juga bakal bisa bikin apa aja deh ;-) Dan relevan dengan yang diberitakan CNN ini, pangsa pasar Blackberry di Indonesia memang menggiurkan untuk industri pasar gelap ;-) Saingannya mungkin cuma pasar gelap organ tubuh deh... hehehehe.....

Dengan demikian, kalau mau beli Blackberry, memang harus ekstra hati2. Supaya nggak tertipu beli barang curian atau - ini yang sering juga terjadi - barang dengan PIN kloningan.

Tetapi.... ternyata.... hati2 terhadap penipuan saja nggak cukup. Dari pengalaman gw, kita juga mesti hati2 dan super teliti terhadap layanan purna jual toko tempat kita membeli Blackberry. Kalau tidak, nasibnya akan sebelas dua belas ;-)

Februari 2009 lalu gw membeli sebuah Blackberry Bold 9000 di sebuah toko besar yang ada dalam daftar rekanan Telkomsel untuk pengadaan Blackberry. Garansinya 1 tahun, dan gw nggak ambil pusing untuk menyelidiki layanan purna jualnya. Gw pikir, garansi 1 tahun itu toh standard dan... dari pengalaman selama ini, garansi 1 tahun HP itu nggak ada yang pernah gw manfaatkan. Semua HP gw berfungsi dengan baik sampai saatnya uzur atau saatnya gw bosen ;-) Seringnya sih sampai gw merasa teknologi sudah tertinggal dan ingin beli baru... hehehe... Salah satu HP gw, Siemen S57, malah sampai sekarang masih bisa berfungsi, meskipun garansinya sudah lama berlalu ;-)

Garansi 1 tahun itu baru gw lirik ketika awal Desember lalu BB gw bermasalah. Tiba2 nge-restart melulu. Gw pikir si BB jet lag, karena baru diajak jalan2 ke Perth beberapa hari sebelumnya ;-) Tetapi... karena jet lag-nya berlanjut, terpaksa gw bawa ke tokonya pada tanggal 8 Desember 2009. Toh masih garansi.

Oleh si toko dicoba untuk diperbaiki. Disuruh tinggal beberapa hari, up to one week. Tapi... 3 hari kemudian si toko telepon: tampaknya ada kerusakan hardware, mesinnya harus diganti, sehingga harus dikirim ke service center pusat. Kira2 akan makan waktu 1 - 2 minggu.

OK, I thought I could live without a Blackberry for 2 weeks. Toh gw juga ada HP lain, yang juga bisa push email. Dan gw memang survive dari 2 minggu mengerikan itu... meskipun dengan beberapa kerugian: boss gw dan beberapa klien terbiasa berkomunikasi dengan BB Messenger. Karena BB gw off, gw nggak terima beberapa pesan mereka, dan menimbulkan kekacauan pada beberapa pekerjaan.

Oleh karena itu, I said hallelujah ketika 23 Desember lalu dikabari bahwa BB sudah bisa diambil. Dan di malam Natal penuh kemuliaan, 24 Desember, gw giring suami dan anak2 menjemput BB tercinta. Langsung connect dan terima 324 surat elektronik dari 2 minggu sebelumnya ;-)

Karena BB kembali dalam keadaan "kosong", tanpa aplikasi sama sekali, maka malam itu pula gw langsung install aplikasi2 yang gw butuhkan. Tapi.... lhoooo....kok? Blackberry-nya malah nge-hang total! Nge-blank aja layarnya, putih total!

Terpaksalah, di hari Natal yang [harusnya] ceria karena long weekend, gw terpaksa mengembalikan si BB ke tokonya. It turns out ternyata mesinnya nggak diganti seperti yang dijanjikan. Deuh, janji surga! Buat apa gw sabar menunggu 2 minggu kalau toh nggak diganti?

Dan yang bikin gw lebih murka adalah: si toko bilang BB harus ditinggal 2 minggu lagi untuk ganti mesin. WTF????? Why didn't you replace it in the first place? Dan kenapa untuk keputusan mereka yang salah, gw harus rugi 2 minggu lagi?

Gw, as you might've predicted, tentu saja ngamuk. Gw minta BB pengganti! Either mereka kasih gw BB Bold baru, tukar tambah dengan BB Onyx, atau.... gw dipinjami BB pengganti selama diperbaiki. The frontman said they couldn't.

Melalui negosiasi yang alot, akhirnya gw bisa "memaksa" bicara dengan Area Sales Manager. Gw bilang pada beliau bahwa gw nggak peduli mereka mau telepon ke atasanya, atasannya, atasannya lagi... all the way back to RIM in Canada, yang penting gw pulang bawa Blackberry! Kalau enggak, gw nggak mau keluar dari toko itu! And I meant it! Setelah gw bicara pada si Area Sales Manager, gw duduk ngejegrek dengan konfrontatif; memasang iPod di kuping dan baca novel ;-)

Setengah jam kemudian, gw diberi kabar baik: gw boleh pinjam sebuah BB Gemini selama Bold gw diperbaiki :-)

Well... I'm gonna miss my Bold. Tetapi... I could live with Gemini for a while. Dan untuk menunjukkan that I'm a bitch with some heart (halah!), that I'm able to compromise, gw terima tawaran itu.

Sejak 25 Desember 2009, gw hidup bersama si Gemini. Tiada hari dimana gw nggak kangen sama BB Bold gw... hehehe... tetapi gw sabar menanti. Gw nggak nagging nanya2 setiap hari kabarnya. Baru pada tanggal 12 Januari 2010 gw telepon untuk menanyakan kemajuan perbaikan. Katanya, mesin sudah diputuskan diganti dan sudah dipesan ke Canada tanggal 30 Desember 2009. Total butuh 2 - 3 minggu untuk menyelesaikan.

OK, that's fine. Gw nggak telfon2 lagi hingga seminggu kemudian, 19 Januari 2010. Kabar yang gw terima semakin baik: mesin sudah datang dan sudah dipasang, sekarang sedang di-QC. Hari Kamis, 21 Januari 2010, siap diambil.

Dan begitulah.... tanggal 21 Januari 2010, gw benar2 menerima telepon dari service center-nya bahwa BB gw sudah baik kembali. Body boleh lama, tapi board-nya baru. Gw pun merasa lega, serta merasa nggak harus buru2 ngambil. Nunggu hari Sabtu, 23 Januari 2010, pas bapaknya anak2 libur.

*Hey, they could've QC-ed the product, but I'm entitled to bring my own expert dong ;-)*

Sabtu, 23 Januari 2010, gw bangun dengan ceria - meskipun sehari sebelumnya sempat migren parah sampai nggak bisa bangun dari tempat tidur. Soalnya mau ngambil Blackberry tercinta ;-) Bapaknya anak2 gw cerewetin supaya cepat mandi dan mengantar nyonya ngambil harta berharganya... hehehe... Tetapi dasar bapaknya anak2 nggak bisa diperintah, akhirnya jam 4 sore kita baru sampai di toko.

Awal2nya, Blackberry berjalan mulus. Kendalanya cuma satu: low batt. Masuk akal sih, karena batereinya kan sejak 25 Desember 2009 nggak di-charge. Jadi, gw coba download dan install aplikasi2 yang gw butuhkan sambil nge-charge di toko itu. Gw nggak mau ambil resiko udah bawa pulang si BB dan nge-hang lagi begitu di-install di rumah deh! Nggak peduli bapaknya anak2 mengatakan it will take a too long time. Lagian, pertimbangan gw, kalau gw udah bawa pulang si BB, maka Gemini 'sitaan' gw kan harus dikembalikan. Lha, ntar kalau besok rusak lagi, mosok gw mesti otot2an sama Area Sales Manager lagi untuk ngemis minjem Gemini?

And it turns out to be a wise choice ;-) Karena, selama proses donlot dan install, bapaknya anak2 menemukan satu masalah: batereinya nggak ngisi!! Walaupun charger-nya diganti, lantas dicoba ganti pakai baterei lain, tetap aja tuh BB bergeming. Aliran listrik nggak masuk sama sekali. Lha??? Gimana toh???

Gw nggak tahu deh, bagaimana cara si service center itu menangani masalah. Dan gw nggak ngerti deh, apa gunanya sesi QC kalau hasilnya tetap begini. What quality did they control? Dan gw benar2 murka saat disuruh meninggalkan BB gw kembali. Whatttt???? Another 2 weeks??? Even the Gemini is not a good enough solution this time! Mereka benar2 belum pernah diterkam macan betina ngamuk, rupanya ;-)

Sekali lagi gw minta bicara langsung dengan Area Sales Manager-nya. Gw udah mau nerkam dia, eeeeh... ternyata.... per Januari 2010 Area Sales Manager-nya ganti!! Dan... si orang baru ini nggak ngerti duduk perkaranya! Nggak tahu deh gimana proses serah terima jabatannya.

Si Area Sales Manager yang baru ini memakai jurus lama yang sama dengan Area Sales Manager sebelumnya: nanti hari Senin saya urus dan berikan solusi terbaik. Hihihi... ya gw jawab saja dengan sinis: saya tidak tertarik mendengarkan lagunya Quincy Jones dan James Ingram yang gw bahas di sini ;-) You might say that you did your best, but your best clearly wasn't good enough for me ;-)

This time I demand for a replacement! Dan tetap gw nggak peduli apakah dia harus telepon atasannya, atasannya, atasannya lagi... all the way back to Canada. Kalau dia mau nyanyi lagu di atas, coba jangan fokus ke bait awal, tapi ke refrain:

Just once...
Can't you figure out what you keep doin' wrong
Why it never lasts for very long
What are you doin' wrong

Just once...
Can't you find a way to finally make it right
To make Blackberry lasts for more than just one night


*eh, gw beneran ngomong gini sambil ngamuk lho! Bukan buat bercandaan ;-)*

Dan... akhirnya, setelah negosiasi yang sama alotnya dengan yang pertama, yang berlangsung sejak jam 18:30 hingga 19:50, gw berhasil mendapatkan selembar surat pernyataan: bahwa hari Senin, 25 Januari 2010, Blackberry Bold gw akan diganti dengan satu unit Blackberry Bold baru.

Surat pernyataannya ditulis pakai tulisan tangan sih... dan nggak pakai materai, apalagi kop surat. Tapi... gw nggak takut kok. Gw kan udah belajar grafologi ;-) Kalau perlu, ntar gw minta jasa grafolog profesional untuk bersaksi bahwa tulisan itu benar2 tulisan si manager ;-)

*In fact, tulisan tangan si manajer udah gw analisa secara amatiran barusan ;-)*

So, salah satu janji gw pada service center-nya adalah bahwa gw akan memberi mereka one more chance. Oleh karena itu, gw akan sabar sampai hari Senin untuk mendapatkan brand new Blackberry Bold unit. Kalau sekali lagi gw dikecewakan... well, I'll start with publishing the shop's name on this blog ;-) We'll go public, and believe me... I can write better than Prita Mulyasari ;-)

Jadi... gw putarkan sebuah lagu manis buat service center tersebut:, untuk memotivasi mereka memberikan layanan purnajual terbaiknya, beyond any service they've ever made:



You say it`s over
I say we`ve just begun
`Coz it ain`t forever
Until our lives are done


Jangan berani2 bertanya:


What must I do to make you want to stay
And take the hurt away
And leave it all to yesterday?


You perfectly know what you should do ;-) I'll give you "one more chance for one last time." Kalau masih belum ada ke-pasti-an juga... ke laut aja deh loe ;-)

Suntingan 27 Januari 2010:

Buat pembaca yang terang2an maupun yang diam2 menunggu akhir kisah ini... maaf, akhirnya anti klimaks... HAHAHAHA... Pada Senin, 25 Januari 2010, pukul 15:16 toko yang bersangkutan sudah mengabarkan bahwa unit Blackberry Bold 9000 pengganti siap diambil. Unit tersebut sudah diambil dengan selamat pada Selasa, 26 Januari 2010, pukul 19:00.

Dengan demikian, nama toko tidak jadi dipublikasikan di tulisan ini... hehehe.... Dan semoga nggak perlu sampai dipublikasikan di waktu mendatang, karena hal itu hanya akan terjadi kalau unit pengganti ini rusak lagi ;)

Thursday, December 17, 2009

Luna Lovejoke

Para penggemar Harry Potter tentu masih ingat cerita di buku ke-5. Saat2 muram ketika Harry Potter dibikin sengsara hidupnya oleh Rita Skeeter dari Daily Prophet; reporter yang tulisannya - menurut kata Dumbledore - "enchantingly nasty" ;-)? Di buku ini juga Harry pertama kali bertemu dengan Luna Lovegood.

Nggak disangka, nggak dinyana, di realitas paralel (huh? Realitas?) ada plesetannya. Tapi bukan Harry yang bentrok sama Rita, melainkan Luna ;-).

Habis bentrok. Luna ngomel lewat tweet. Kira2 ngomelnya begini deh:


"Infotemnt derajatnya lebih HINA dr pd PELACUR, PEMBUNUH!!!may ur soul burn in hell,"


Naaah.... tentu saja yang didamprat marah. Cuma nggak tahu sebabnya apakah yang didamprat itu marah karena - seperti Rita Skeeter - merasa pekerjaannya "terhormat" (meskipun - sekali lagi kata Dumbledore lho, yaaa... - tulisannya enchantingly nasty ;-)), atau ... karena nggak bisa mencerna isi pesan dengan baik ;-) Kalau ditilik isi argumen2 berikutnya, kayaknya kemungkinan alasan kedua lebih besar. Bayangin, masak argumennya seperti ini:


"...Kalau lihat pernyataan Luna akan banyak orang yang tersakiti. Maaf, pelacur-pelacur bisa demo, lho,” katanya.


Uhhmmm.... call me stupid. Tapi gw nggak ngerti dasar logika pada argumen ini ;-) Kenapa ya, dia pikir pelacur bisa demo mendengar kata2 Luna? Bukannya si Luna, menurut rekonstruksi dari sejumlah berita online bunyinya seperti terkutip di atas?

So, kenapa pelacur bakal demo? Karena bersaing posisi "terhina" dengan infotainment, gitu? Hehehe.... Bukannya pelacur malah bakal senang, karena ada yang dianggap "lebih hina"? Berarti profesi mereka naik kelas kan ;-)?

Gw sih tahu bahwa ada yang namanya Ig Nobel, yaitu penghargaan [yang awalnya adalah] plesetan dari Nobel; dan diberikan pada penelitian2 yang paling improbable, aneh, ridiculous, atau apalah yang anti-tesis dari Nobel ;-) Tapi gw nggak tahu bahwa dalam masalah dikotomi hormat-hina juga ada persaingan sehingga para pelacur harus merasa tersaingi karena ada yang dikatai lebih hina darinya... hehehe...

Atau... pelacur2 akan demo karena dikatakan hina? Deuh... setahu gw, sejak jaman Nabi Musa menerima Ten Commandment, profesi ini sudah dianggap hina, bukan? Berprofesi menjual sesuatu yang jelas2 melanggar larangan Tuhan, apa bukan sesuatu yang hina?

Swear deh, gw rasanya jadi ingin memberi pencerahan berupa kursus logika... HAHAHAHA...

Tapi... rupanya realitas paralel dari Order of Phoenix ini emang sepanjang buku aslinya. Nggak puas mempermalukan diri dengan argumen "lucu" itu, besoknya, muncul headline yang lebih lucu lagi seperti ini

Luna Maya Lecehkan Profesi Wartawan


Asli, sekarang gw benar2 ingin bertanya: waktu kuliah [jurnalistik?] ada pelajaran logika, nggak sih? Pernah nggak belajar bahwa logika berikut ini adalah contoh logika yang salah:


Premis 1: Semua monyet makan pisang
Premis 2: Luna makan pisang
Kesimpulan: Luna adalah monyet


Kan jelas2 subyek pada tweet Luna adalah "infotainment"? Kenapa bisa jump to conclusion bahwa Luna melecehkan wartawan? Emangnya "infotainment" adalah bagian dari himpunan wartawan? Setahu gw sih infotainment itu adalah himpunan yang BERIRISAN dengan wartawan, bukan bagian ;-) Kenapa? Karena dalam infotainment itu ada wartawannya, tapi bukan hanya terdiri dari wartawan. Ada juga produser, kameramen, penulis skrip, dll.

Dengan kata lain... paling jauh, Luna Maya dapat dikatakan melecehkan PELAKU BISNIS INFOTAINMENT. Bukan wartawan ;-) Enak aja mengatasnamakan wartawan. Itu namanya libel. Fitnah ;-)

Himpunan wartawan sendiri adalah himpunan yang besar. Mencakup wartawan model2 wartawan infotainment yang ngejar2 gosip dan punya kecenderungan [thanks buat Radityadika yang mengingatkan kembali istilah yang pertama kali gw dengar di Cold Case ini] Schadenfreude, hingga wartawan2 senior berdedikasi tinggi seperti Bapak Rosihan Anwar, serta penerima2 Pulitzer Prize for Reporting. Menurut gw sih lebay ya, menggeneralisasikan makian terhadap [wartawan] infotainment sebagai pelecehan terhadap profesi wartawan ;-)?

Tadi, pas gw baca headline ini di perempatan, gw kira ini cuma judul heboh buat naikin oplah doang. Isinya nggak akan mengandung logical fallacy betulan ;-) Tetapi ternyata dugaan gw salah, karena isinya, seperti tersimak di sini mengatakan:

Gara-gara kesal kepada wartawan infotainment, artis Luna Maya memaki-maki wartawan dengan menyebut derajat wartawan lebih rendah dari pelacur, pembunuh.


Oh, well. Rupanya bukan cuma pelaku bisnis infotainment aja yang diragukan kemampuan logikanya... HAHAHAHA... Apa enaknya gw bikin kursus buat mereka aja ya ;-)?

***

Ngomong2 soal bikin kursus, selain pingin ngursusin orang2 di atas, gw sebenernya pingin kasih kursus buat Luna Maya juga sih ;-) Tapi kalau kursus buat Luna Maya sih bukan tentang logika, melainkan tentang, "How to say a harsh word... and get away with it" ;-)

Ya, menurut gw Luna Maya melakukan kesalahan fatal ;-) Bukan fatal dengan pemilihan kata2nya... hehehe... Kata2 Luna Maya itu sangat tidak nice, tetapi... sebagai sesama temprawati, gw sangat mengerti kenapa kata2 tidak nice itu keluar. Bahkan sesungguhnya para pelaku infotainment itu harus bersyukur bahwa yang keluar dari Luna "cuma" segitu doang... hehehe... Gw jamin, kalau gw jadi seleb, pasti kata2 yang keluar dari mulut gw akan "lebih colorful" ;-) Mejikuhibiniu ;-)

Yang salah fatal, menurut gw, adalah menghapus bukti kata2nya di Twitter ;-) Dengan ditutupnya rekening Jeng Luna, maka itu sekarang menjadi their words against her words. Dan dengan kecenderungan kekuranglogisan argumen yang berbanding lurus dengan esprit de corps membabi buta (seperti terlihat dari argumen2 yang gw kutip di atas PLUS re-tweet dari Ndoro Kakung bahwa tidak ada laporan jurnalistik yang mengupas tuntas penyebabnya), the future for her is not so nice.

Mungkin akan berbeda keadaannya jika Jeng Luna tidak menghapus buktinya. Ia akan bisa membuktikan bahwa dia mengatakan "infotainment", bukan "wartawan", dan bahwa kesimpulan telah terjadi "pelecehan terhadap wartawan" adalah kesimpulan yang lebay. Nggak usah ngebahas sebabnya juga nggak apa2 deh... udah kelihatan kok lebay-nya ;-)

Next time, Luna, don't compromise the evidence. Let them start a joke, which starts the whole world laughing. Only then, we'll see that the joke is on them ;-)

***
NB: ohya, buat yang terganggu dengan kata2 "enchantingly nasty", sekali lagi, itu kata Albus Dumbledore lho ya... bukan kata gw... HAHAHAHA... Kalau mau menuntut hukuman 6 thn penjara, monggo langsung ke Hogwarts aja :p



Suntingan 22 Desember:
Ternyata Twitter yang dikasih oleh Omme QQ itu cuma kloningan. Thanks Pops, JJ :) Sebagai gantinya, gw kasih tautan seru aja ya, dari JJ tentang seruan PWI Pusat bahwa kalo gak tersinggung sebaiknya berhenti jadi wartawan. Untuk seruan ini, ada background sound yang cocok untuk didengarkan:




Plis deh, jangan lebaaaaay.... Sibuk ngurusin rasa tersinggungnya, sampai2 artikelnya berantakan :) Satu paragraf bilang kalau wartawan nggak tersinggung, berhenti aja jadi wartawan. Eeeh... paragraf berikutnya bilang diragukan kepekaannya kalau tersinggung :) Jadi maksudnya gimana sih? Saking tersinggungnya, jadi bingung mau nulis apa, gitu? Itulah kalau jadi wartawan tapi "pendek sumbu" :) Jadi nggak bisa nulis dengan pikiran jernih toh ;-)?

*tapi untung mereka "cuma" jadi wartawan. Jadi "cuma" salah nulis doang. Coba kalau jadi tentara dengan sumbu sependek ini. Kan berabe kalau salah nembak orang ;-)*

Sunday, October 11, 2009

The Princess and the Plea

There was once a prince, and he wanted a princess, but then she must be a real Princess.

(dari kisah The Princess and the Pea)

***

Pernah baca cerita itu? Tentang "putri sejati" yang kesejatiannya ditentukan oleh sebutir kacang polong. Judul di seri Pustaka Dunia jaman gw kecil dulu "Putri dan Kacang Polong", bukan "Ibu Kita Kartini" - meskipun yang terakhir itu juga disebut "putri sejati, putri Indonesia, harum namanya" ;-)

Entah apakah dongeng ini sudah kelewat jadul, kayaknya Putri Indonesia kita kayaknya belum sempat baca. Padahal dia kuliahnya di jurusan Sastra .. hehehe... Atau mungkin pernah baca juga sih, tapi tidak dicamkan baik2 di benaknya. Makanya, dia nggak tahu bahwa untuk menjadi "putri sejati" itu tidak identik dengan memenangkan kontes Putri Indonesia ;-)

Oh, nggak, gw nggak akan mulai berkhotbah tentang betapa terkutuknya dia karena membuka "aurat"-nya demi memenangkan kontes ini ;-) Gw mau ngomentarin the aftermath-nya yang dimuat di Kompas, 25 Oktober 2009, halaman 25 ini aja:

"Saya grogi waktu itu, jadi salah menjawab. Maksud saya mau bilang, saya bukan melepas jilbab, tetap memang dari kecil saya tidak pernah pakai jilbab," jelas Qory dalam percakapannya dengan Kompas pekan lalu.

"Yang saya jilbabi adalah perilaku dan kepribadian saya. Saya memiliki hak azasi, termasuk dalam beragama," tambah Qory sama seriusnya.


OK, girl, I agree with you ;-)

Gw juga nggak berjilbab, dan mungkin masih jauuuuuuhhhh perjalanan gw untuk sampai teryakinkan bahwa gw hanya boleh menunjukkan raut wajah serta telapak tangan. Buat gw, berjilbab itu arahnya harus dari dalam ke luar, bukan dari luar ke dalam ;-) Makanya gw memfokuskan dulu pada perilaku dan kepribadian gw, baru kalau sudah beres kita bicarakan lagi gw perlu menutup rambut atau enggak. Kan nggak lucu, kalau sekarang2 gw berjilbab [fisik], tapi masih hobi nyilet2 orang... hehehe... ;-)

Tapi satu hal signifikan yang membedakan gw dan Qory: gw tidak menjadi finalis Putri Indonesia mewakili NAD, daerah istimewa yang disebut Serambi Mekah serta sudah menerapkan syariah Islam. Gw adalah pribadi yang berdiri sendiri, menyuarakan sikap dan pendapat gw sendiri. Dan sebagai individu, gw boleh2 saja bersikap demikian. Gw mau misfit, mau teralienasi dari masyarakat, itu urusan gw sendiri. Asal gw siap dengan konsekuensinya, ya monggo dilanjut.

Sebaliknya, Qory kehilangan [sebagian] identitasnya sebagai individu ketika dia melangkah ke ajang pemilihan putri2an itu. Menyebut diri sebagai Wakil Aceh, membuat dia punya kewajiban menampilkan nilai2 yang umum dianut oleh masyarakat tersebut. Dia tidak bisa lagi memakai batasan nilai2nya sendiri, karena dia adalah wakil Aceh. Bagian dari Aceh.

Keadaan akan beda jika misalnya si Qory ini mewakili DKI Jakarta. Atau mewakili Jawa Barat, propinsi asal ayahnya. Haqqul yaqqin, pasti nggak akan ada yang mempermasalahkan rambutnya yang bak mayang terurai itu. Sebab, dengan mewakili DKI Jakarta atau Jawa Barat, ketidakberjibabannya ini tidak bertentangan dengan nilai2 masyarakat yang diwakilinya. She can be Qory, and she can be the representative of one of those province altogether, since there is no conflicting values between them. Tapi begitu mewakili NAD, ketidakberjibabanya menimbulkan sebuah konflik. Sebuah disonansi kognitif yang harus diselesaikan dengan mengubah sikap terhadap salah satu unsur, atau mengubah perilaku.

Ah ya! Disonansi kognitif ;-) Bahasa "dewa" kita kali ini... hehehe....

Disonansi kognitif adalah sebuah konsep yang diajukan oleh Leon Festinger. Secara umum, definisinya adalah: kondisi tertekan akibat adanya konflik dua pikiran yang bertentangan di dalam kepala kita. Konfliknya bisa berbentuk approach - avoidance (pilihan menyenangkan vs. konsekuensi tidak menyenangkan), approach-approach (dua pilihan yang sama-sama menyenangkan), maupun avoidance-avoidance (dua pilihan yang sama tak menyenangkannya). Dalam bahasa awam, disonansi kognitif ini disebut dilema. Sesuatu yang salah kaprah, karena dilema sebenarnya mengacu pada konfliknya, bukan pada kondisi psikisnya.

Dalam kasus Qory ini, gw membayangkan bahwa dia mengalami suatu disonansi kognitif berkaitan dengan perilaku yang akan dilakukannya: mengikuti pemilihan Putri Indonesia sebagai Wakil Aceh. Di satu sisi udah ngebet banget ingin ikut pemilihan Putri Indonesia, tapi di satu sisi lain kesempatannya kesempatan yang muncul adalah dengan menjadi Wakil NAD, daerah asal ibunya yang menerapkan syariah Islam. Antara ngebet jadi Putri Indonesia (approach) dengan harus menutup rambut indahnya dengan jilbab (avoidance).

Seperti kasus2 disonansi kognitif lainnya, Qory juga memiliki 3 alternatif escape route dari dilemanya ini:

  • Pertama, menyesuaikan perilaku dengan pilihan perilaku lain yang dapat mengurangi konflik tersebut.
  • Kedua, menjustifikasi perilaku yang memang ingin diambil dengan mengubah salah satu paradigma yang menyebabkan konflik tersebut.
  • Ketiga, menambahkan satu elemen kognisi untuk menjustifikasi perilaku yang memang akan kita ambil.

Alternatif pertama jelas tidak diambil oleh Qory, karena sudah jelas kita melihatnya maju sebagai Wakil NAD dengan segala pelanggarannya terhadap nilai yang dianut oleh daerah istimewa tersebut. Kalau dia mengambil alternatif pertama, dia akan meninggalkan kesempatan menjadi Wakil NAD dan mencari peruntungan di provinsi lain. Mencoba jadi wakil DKI Jakarta, atau Ja-Bar, misalnya.

*OOT: Tentang mengapa Qory tidak mengambil alternatif pertama ini, Neng Jen-Ju punya teori menarik: lha wong rebutan peran di Ketika Cinta Bertasbih 2 aja kalah dari Alice Norin, gimana dia mau jadi wakil Jakarta? HAHAHA... ;-) Tapi, Jen, Alice Norin kan juga nggak ikutan pemilihan Putri Indonesia, jadi kesempatan menang masih ada :p*

Alternatif ke-3, menambahkan elemen kognisi baru yang menjustifikasi perilaku, tampaknya merupakan solusi awal yang diambil Qory. Elemen yang ditambahkannya itu adalah "dosa" favorite sang iblis di sini... hehehe... vanity ;-) Dia menambahkan elemen kognisi bahwa rambut adalah keindahan wanita yang harus ditunjukkan, sehingga menutupnya dalam kontes ini adalah dosa besar! Elemen kognisi ini membuat ia mantap meninggalkan budaya daerah istimewa yang diwakilinya ;-)

So, sorry to say, girl, what you claimed as "jawaban yang salah karena grogi" looks perfectly like a simple slip of the tongue ;-)

Sekali menabur angin, maka akan selalu menuai badai. Demikian juga slip of the tongue ;-) Tertempa badai kritik, Neng Qory pun semakin piawai menambahkan elemen kognisi baru. Mungkin karena sudah sempat konsultasi dengan para ahli ;-)? Elemen kognisi baru yang ditambahkannya, seperti terlihat pada wawancara di Kompas, adalah: hak azasi manusia ;-)

Bukan main ;-)!

Dia tidak menyadari bahwa omongannya tentang hak azasi ini sebenarnya terlihat double standard. Dia bicara tentang hak azasinya memilih berjilbab atau tidak berjilbab. Tapi... apakah dia sadar bahwa ia melanggar hak azasi banyak warga/keturunan Aceh yang pro-syariat Islam? Apa dia sadar bahwa ia mempermalukan warga/keturunan Aceh yang bertahun2 memperjuangkan diperbolehkannya menerapkan syariat Islam di daerah istimewa mereka? Thanks to Qory dan hak azasinya, bukan tidak mungkin sekarang banyak orang akan mencemooh NAD ;-) Nilai2 yang diperjuangkan di NAD toh dilecehkan oleh wakilnya sendiri dengan alasan hak azasi ;-)

Dan... bicara tentang hak azasi, memangnya siapa yang meminta Qory jadi Wakil NAD? Apakah NAD nggak punya calon lain selain Qory? Atau NAD merasa harus ikut kontes itu sehingga mau diwakili siapa pun? Sebenarnya yang butuh ikut kontes Putri Indonesia itu Qory atau NAD sih? Hehehe... Kok jadi kayaknya Qory itu berbaik hati sekali mewakili NAD, sehingga NAD harus terima apa pun syaratnya supaya Qory "berkenan" mewakili ;-)

So, bicara tentang "salah menjawab", menurut gw klarifikasinya si Qory ini juga masih merupakan bentuk "jawaban yang salah" ;-) Wong memang nggak ada yang mempermasalahkan dia [sebagai individu] pakai jilbab atau enggak. Yang dipermasalahkan adalah karena dia tidak mengenakan jilbab saat mewakili NAD ;-)

I guess the Aceh's clerics have their point saying "Miss Indonesia Shames Us All". Bukan karena mereka mau memaksakan bahwa semua perempuan [keturunan] Aceh harus pakai jilbab dan menerapkan syariat Islam dimana pun. Toh, si Nova Eliza itu juga dari Aceh kan? Dan gw nggak pernah dengar ulama Aceh meributkan ketiaknya Nova Eliza yang kelihatan dimana2, dan boobs-nya yang selalu tercetak jelas dalam balutan kaus ketat... hehehe... Soalnya Nova Eliza tidak menyebut diri Wakil NAD, apalagi menggunakan keacehannya untuk mencapai tujuan pribadi ;-)

***

Dan hal inilah yang membuat gw teringat pada dongeng HC Andersen di atas. Menurut gw, orang yang menghalalkan segala cara untuk kesenangannya pribadi, adalah orang yang nggak punya integritas ;-) Dan dalam kasus ini, sorry to say, menurut gw Qory adalah orang seperti itu. The princess by title, indeed, but not the princess who cannot sleep when there is a pea under her piles of twenty matresses ;-) Not the real princess ;-)

Dalam lomba yang berbeda, skala yang berbeda, gw pernah melihat pameran integritas yang bertolak belakang dengan apa yang dilakukan Qory. Persis dengan Qory, dalam lomba yang "cuma" rebutan rumah seharga 1M seorang teman dihadapkan pada tantangan yang berat bagi dirinya. Tantangannya adalah mencari koin dalam daging sapi yang sudah disembelih. Tantangan yang biasa2 aja kan? Tapi coba letakkan dalam sistem nilai umat Hindu dan wakil provinsi Bali yang rata2 masyarakatnya menganut agama Hindu ;-)

Well, sampai sekarang gw juga nggak yakin bahwa si teman ini beragama Hindu... hehehe... Tapi yang jelas dia mewakili Bali. Dan dengan mantapnya saat itu dia mundur dari tantangan itu, karena, "... tidak mau menyakiti masyarakat Bali yang saya wakili". Padahal, tanpa memenangkan tantangan tersebut, kelanjutannya dalam lomba ini berada di ujung tanduk!

Now, that's what I call an integrity ;-) Tetap berada di jalan yang "benar", tidak membenar2kan apa yang nggak benar... hehehe.... Ini yang dibutuhkan dari seorang "putri Indonesia sejati", menurut gw ;-)

***

Well, in her defense, menurut gw Qory bukan satu2nya yang bersalah dalam kasus ini. After all, she's just 18. Orang dewasa di sekitarnya ikut andil bersalah.

Pembesar yang memberi ijin baginya untuk mewakili NAD tanpa pakaian tertutup jelas salah. Pembesar tersebut berarti tidak cukup peka terhadap nilai2 masyarakat yang dipimpinnya sendiri.

Tapi Yayasan Putri Indonesia juga salah. Malah salahnya jauh lebih besar. Mestinya, kalau mereka lebih peka terhadap hal2 seperti ini, udah nggak perlu lagi lah bikin kuota bahwa finalis harus mewakili provinsi2 tertentu. Tetapkan aja jumlah finalisnya berapa, lantas semua orang boleh memperebutkan jumlah kursi tersebut.

Ide bahwa seorang finalis bisa mewakili provinsi tertentu berdasarkan garis darah semenda, tempat lahir, atau tempat dibesarkan, sudah cukup bagus. Tapi harus dites lagi apakah benar2 menghayati nilai yang dianut provinsi yang akan diwakilinya tersebut. Apakah benar2 mengerti, paham, dan "dekat" secara emosional dengan provinsi tersebut. Pendeknya, harus dipastikan apakah ia akan mewakili suatu provinsi karena kecintaannya pada provinsi tersebut, atau sekedar mau menunggangi provinsi tersebut agar tercapai cita2nya jadi cewek ngetop... hehehe...

Dan... dengan tidak membuat kuota, gw rasa akan memicu putri2 daerah untuk lebih tampil bersaing. Nggak seperti sekarang, rata2 yang bersaing ya anak2 Jakarta juga - cuma ditempeli selempang provinsi yang berbeda2 :)

Sistemnya harus lebih mirip Miss Universe: negara apa pun bisa tampil, asal mau mengikuti peraturan (yang salah satunya adalah mengikuti kontes baju renang). Nggak pakai kuota bahwa harus ada wakil dari seluruh negara di dunia. Siapa yang merasa nggak cocok dengan aturannya, nggak harus ikut. Toh, Miss Universe nggak sok main kuota2an dengan mengharuskan ada Miss Afghanistan atau Miss Iran di kontesnya kan ;-)?

So... that's my first plea for the next Pemilihan Putri Indonesia ;-) Jangan ada lagi kuota2an yang kesannya keadilan sama rata sama rasa, tapi malah membuat keadilan semu itu. Biarkan saja semua putri berlomba, ambil 33 yang terbaik, regardless provinsinya. Jangan membuka kesempatan orang2 untuk mewakili provinsi yang tidak ia junjung nilai2nya.

And the 2nd plea regarding the princess.... nasi memang sudah jadi bubur. Tapi bubur biar enak bisa ditambah cakwe dan suwiran ayam kan ;-)? Nah, supaya bubur ini lebih enak, dengarkan keberatan NAD ini, dan tunjukkan empati dengan tidak mengikutsertakan Qory di ajang Miss Universe. Tamparan terhadap budaya Aceh akan lebih besar lagi jika si Nona tampil setengah telanjang di ajang itu... hehehe... Runner up-nya bisa menggantikan Qory, kalau boleh oleh panitia MU. Tapi kalau enggak.... well, nggak ikutan satu pemilihan toh nggak apa2 ;-) Masih ada tahun2 depan, toh?

Wednesday, August 26, 2009

Tetangga

Rumah yang gw tinggali sekarang dulunya merupakan rumah almarhum Bapak. Gw sudah tinggal di rumah itu sejak tahun 1976. Kami merupakan salah satu orang pertama yang mendiami kompleks itu. Ketika pertama kali pindah ke sana, daerah itu belum terjamah listrik. Jalan raya yang sekarang dilalulalangi berbagai bis kota pun dulu masih terdiri dari 1 jalur tak beraspal. Boro2 menjadi total 4 lajur seperti sekarang.

Tetangga sekitar rumah kami pun hingga sekarang masih banyak terdiri dari "fosil2" angkatan 70an akhir atau 80an awal. Beberapa di antaranya malah generasi kedua dari penduduk awal; yang membeli rumah di dekat rumah orang tuanya. Yaaah... semacam gw lah, yang tinggal bersebelahan dengan adik dan Ibu gw ;-) Jadi, jangan ditanya mengenai keguyuban antar tetangga ;-) Hubungan kami umumnya sangat harmonis, penuh dengan tepa selira. Karena rata2 dari kami sudah kenal sebanyak 2 - 3 generasi, maka dapat dikatakan kami tumbuh besar dalam sistem nilai yang sama.

Comfort zone ini mulai berubah ketika rumah di seberang rumah kami dibeli oleh "pendatang" baru. Sejak awal ia membangun rumahnya, kami sudah bertanya2 seperti apa orangnya ;-) Rumah yang dibangunnya persis rumah2an Barbie, dengan warna krem mencolok ;-) Dan ketika akhirnya keluarga baru itu muncul, tak ayal kami sering membatin, "Ooooh... pantesan".

Ya, tetangga baru gw itu memang tajir mampus. Seorang pedagang kain di sentra perdagangan kain Jakarta yang omzetnya berkisar pada angka yang cukup fantastis. Secara finansial, jelas kelas sosialnya di atas sebagian besar dari kami - yang umumnya bekerja sebagai PNS atau pegawai swasta.

... tetapi milieu-nya jelas berbeda ;-)

Satu hal yang mencolok dan bikin banyak tetangga geleng2 kepala, misalnya, adalah kebiasaannya membunyikan klakson pukul 23:30 malam! Ya, tetangga gw ini memang sering pulang malam. Pada saat itu, biasanya para pembantu rumah tangga mereka sudah terlelap di lantai 3. Padahal rumahnya yang berwarna pastel mencolok itu - tidak seperti rata2 rumah di lingkungan kami - selalu tergembok di balik pagar tingginya. Dan..... yang gw nggak ngerti sampai sekarang, mereka tidak punya bel!!!

Nah, bayangkan saja berapa banyak beauty sleep gw yang terbuang lantaran gw tiba2 terbangun mendengar klakson bertalu2 menjelang tengah malam ;-) Soalnya kamar gw menghadap ke jalan raya. Jelaaas, kalau klakson berbunyi, gw lebih dulu dengar daripada pembantu rumah tangga mereka... hehehe...

Awal2nya gw suka nyolot kalau mereka mulai konser jelang tengah malam gitu ;-) Gw suka keluar ke balkon dan memandang mereka dengan judes. Sambil sekali2 mengasah ketajaman lidah gw sambil pura2 bertanya, "Mau saya tolong telfonkan biar pembantunya dengar?" ;-)

Tetapi, lama2 gw males juga menjudesi mereka. Pernah gw bener2 nyolot dan ngelabrak mereka, eeeeh... bukannya berubah malah mereka gantian marah2 ;-) Mereka yang nggak bisa ngerti kenapa mereka nggak boleh mengklakson di depan rumah mereka sendiri ;-)

Yaah... akhirnya gw mengamini kata bapaknyaimanara: nggak semua bisa diubah... hehehe... Ini masalah milieu. Kalau dari kecil mereka sudah tidak dididik seperti kami, yaaa... mereka nggak ngerti kenapa harus berlaku seperti kami. Dan sebagai social climber, besar kemungkinan mereka memang tidak mendapatkan didikan yang sama dengan kami ;-) Justru itu sebabnya mereka pindah ke lingkungan kami, toh ;-)? Untuk berusaha "menjadi" kami ;-)

Tapi... tentu saja, sebuah "tiruan" akan selalu akan mengalami lack of philosophical depth. Mereka tidak akan pernah "menjadi" kami karena tidak memiliki dasar2 yang kami miliki. Mereka hanya akan menjadi "tiruan" kami. Alamat mereka memang sama dengan kami, rumah mereka bahkan lebih megah daripada kami, tapi.... in their soul, mereka tetap individu yang tidak seperti kami ;-)

Sekarang, kalau mereka bikin konser jelang tengah malam, paling2 gw membatin, "Dasar! Kam*****n!", sambil membenahi bantal dan guling gw untuk pindah ke kamar lain.

***

Dalam skala yang berbeda, gw rasa negara tercinta Indonesia ini juga mengalami hal yang sama: punya tetangga yang milieu-nya enggak banget. Tetangga yang nggak ngerti bagaimana menjaga silaturahmi serta tepa selira. Tetangga yang "bukan kita", tapi berusaha keras untuk "menjadi kita" dengan meniru identitas2 kita. Semacam tetangga gw yang social climber itu ;-)

Dan mungkin, in a way, tetangganya Indonesia ini memang social climber ;-) Setidaknya kalau menurut logika almarhum Bapak ;-)

Bapak selalu mengatakan bahwa menjadi koloni dari penjajah amatir seperti Belanda membuat kita lebih beruntung dari bekas koloni penjajah profesional seperti Inggris. Penjajah amatir belum ngerti benar bagaimana menghancurkan jatidiri bangsa jajahannya... hehehe... Mottonya saja devide et impera; pecah belah dan kuasai ;-) Artinya, mereka membuat jatidiri masing2 suku menjadi signifikan supaya terjadi perpecahan dan mudah dikuasai. Ditinjau dari sisi baiknya, hal ini membuat budaya masing2 kelompok etnis tetap bertahan.

Beda dengan penjajah profesional seperti Inggris, yang lurking their colony into believing that they are part of "them" ;-) Koloni dirangkul dan dibuat lumayan bahagia, sampai saatnya mereka tidak dibutuhkan lagi dan "dihadiahi" kemerdekaan. By that time, koloni sudah terlalu jauh dari jatidiri mereka sendiri. Mangga yang habis manis sepah dibuang, tidak akan menjadi mangga lagi kan ;-)? Bahkan mungkin sudah lupa kalau dia mangga ;-) Beda dengan pohon mangga yang tumbuh liar meskipun sudah dilarang2 - sampai kapan pun mereka akan tetap jadi mangga ;-) Apalagi mangga yang memang dipupuk biar beda dengan pisang, jambu, dan jeruk ;-)

Dan itulah yang terjadi ketika mangga yang sudah sepah itu berusaha bangkit menjadi perkebunan baru. Lupa bahwa dirinya mangga, mulailah mereka mengadopsi sifat2 buah di kebun sebelah ;-) Padahal kebon sebelah isinya duren dan pepaya... hehehe... tapi di-klaim sebagai "mangga". Jadi deh, ada mangga berkulit duri dan berbiji banyak ;-)

Enak? Yaaaaah... gw sih belum pernah ngerasain. Tapi kalo menurut gw sih mangga asli lebih enak. Biar aja mereka mau klaim diri sebagai "truly tropical fruit", dan mengadopsi sifat2 berbagai buah2an tropis, tapi..... mereka akan jadi fruit punch, bukan mangga, seperti yang mereka idam2kan ;-)

So, itu yang membuat gw nggak terlalu ribut dengan ulah tetangga sebelah yang mengklaim beberapa budaya. Mulai dari batik, lagu Rasa Sayange, Reog Ponorogo, dan sekarang Tari Pendet ;-) Gw sangat percaya bahwa mereka hanya akan mampu mencontek tampilan fisiknya, tidak soul-nya ;-)

Itu sudah terbukti saat kunjungan gw ke rumah tetangga itu ;-) Pemandu wisatanya sempat membawa kami ke sentra batik. Dan.... sebagai orang yang pernah belajar membatik dan cukup akrab dengan filosofi corak2 batik, gw segera melihat bahwa batik tetangga itu lack of philosophical depth. Coraknya memang bagus, tetapi hanya bagus di corak saja. Tidak seperti batik Mataraman (Solo/Yogya) yang setiap coraknya mengandung filosofi tertentu seperti Wahyu Tumurun, Truntum, Sidomukti, dll. Dalam budaya turunan Mataraman Jawa, penggunaan corak kain untuk setiap acara pun tidak dapat sembarangan. Harus cocok filosofinya. Naah, apakah negara tetangga kita memiliki itu? Kelihatannya tidak ;-)

[OOT mode: ON]

Uhmmm... ajang ini juga ingin gw pergunakan untuk mengomentari sebuah komentar di sini, yang menggunakan kalimat " Sekarang tolong deh jawab batik itu yang bener dari Solo, Yogya, atau Pekalongan atau mana? Itu yang internal... " sebagai argumen bahwa Malaysia juga berhak mengklaim batik karena memiliki corak berbeda ;-) Hehehe... menurut gw ini argumen yang lemah, karena sebenarnya Solo, Yogya, dan Pekalongan dulunya memang merupakan bagian dari Kesultanan Mataram.

So, hypothetically, kalau batik berasal dari Kesultanan Mataram, itu menjelaskan mengapa Solo, Yogya, dan Pekalongan memiliki tradisi batik yang kuat. Bahkan menjelaskan mengapa Madura memiliki tradisi batik yang unik, meskipun sudah terpisah pulau, karena Pangeran Prasena - yang kemudian bergelar Tjakraningrat I ketika menjadi raja Madura - adalah putra angkat Sultan Agung dari Mataram.

Ini sekaligus menjelaskan mengapa Jawa Timur, yang sebenarnya lebih dekat dari Jawa Tengah daripada Madura, tidak memiliki tradisi batik yang kuat. Karena mereka bukan bagian dari Mataram ;-)

Dan kalau dicermati, hanya daerah2 yang menjadi bagian dari Kesultanan Mataram yang memiliki tradisi batik kuat. Sumatera tradisinya songket, sementara di Nusa Tenggara Timur corak kainnya beda.

[OOT mode: OFF]

Back to topic... ;-)

So, gw tidak terlalu khawatir pula dengan pengklaiman Tari Pendet sekarang. Mereka mungkin bisa mengklaim Tari Pendet, tapi.... satu kunjungan ke Bali, atau exposure terhadap satu tarian Bali lainnya, akan membuat siapa pun sadar bahwa Tari Pendet itu dari Bali ;-) Sebab benang merah antara Tari Pendet dengan tarian2 Bali lainnya lebih jelas dan lebih kuat daripada benang merah antara tari tersebut dengan budaya Malaysia lainnya ;-)

***

Jadi... inilah usul gw untuk seluruh bangsa Indonesia: biarkan saja Malaysia mengklaim budaya kita ;-) Biarkan mereka menikmati lagu Rasa Sayange, Tari Pendet, batik, bahkan Reog Ponorogo di Malaysia.

Jika turis mancanegara itu sudah tertarik dan mengagumi, baru kita beri selebaran:

Do you enjoy the dance/song/printing? That's just the preview.
Get the complete version in Indonesia

Sama tetangga harus simbiosis mutualisme dong.... ;-) Kita "pinjamkan" budaya kita pada mereka, tapi kemudian kita manfaatkan promo pariwisata mereka for our own advantage ;-)

*Sst... itu juga yang gw lakukan terhadap tetangga gw ;-) Gw biarkan aja dia yang mengaspal seluruh jalanan depan rumah gw... hehehe... Jalanan mulus, itung2 ganti ruginya terhadap beauty sleep gw yang hilang ;-)*

Wednesday, April 22, 2009

N Cut is The Shallowest

Lama gw nggak nulis di blog :-) Nulis sih masih sering, tapi medianya beda... hehehe... Sekarang lebih sering microblogging aja di statusnya FB. Serius ;-) Status FB gw seringnya panjang2 (malah kadang harus gw revisi karena kotaknya nggak muat, kebanyakan huruf), lantaran gw perlakukan seperti blog ;-) Kadang pakai Twitter, kadang langsung di Facebook. Tergantung keperluan aja. Tapi nggak pernah pakai Plurk. Soalnya aplikasi Plurk terlalu berat untuk jaringan internet kantor; yang sudah kelebihan beban karena semua karyawan mainan FB. Ini juga serius ;-) Bahkan para karyawan di Field Department aja sekarang suka rebutan kompie di resepsionis buat buka FB.

Yaaah... alasan kenapa gw nggak nulis2 sih klasik: semangat menulis dan bercerita masih menggebu2, apa daya waktu tak sampai. Bukan tangan tak sampai lho ya... karena ngetik cerita - baik blogging maupun microblogging - tetap persyaratan utamanya adalah tangan sampai ke papan ketik. Jadi lebay deh kalau bilang tangan tak sampai, emangnya nge-blog pakai telepati :-p

Itu alasan yang pertama. Alasan kedua: gw lagi mencoba mendefinisikan kembali makna blogging buat gw. Gw selalu bilang bahwa my conscious will to blog adalah karena gw suka menulis, dan menulis adalah remedy buat gw; cara buat gw melepaskan kejenuhan. Tapi... seperti dijelaskan dalam bahasan the individuation of action pada tautan itu, sebenarnya kan conscious will tidak mencakup keseluruhan aksi. Bahkan mungkin yang namanya conscious will itu adalah hasil dari rasionalisasi gw - meskipun conscious will itu benar2 ada, bukan hasil ilusi.

Setelah gw telaah2 lagi, mungkin salah satu unconscious will gw tidaklah secanggih yang gw tuliskan... HAHAHAHA... Mungkin gw cuma nge-blog buat ngomel doang. Ngomel with style, begitu ;-) Karena gw yakin gw belum jadi psikopat berperilaku antisosial, yang bisa ngomel dimana saja kapan saja. Gw baru jadi neurotik aja... HAHAHA...

Karenanya, psychological gratification gw dapat bukan melalui "bisa membagikan cerita" dan "menginspirasi orang lain melalui cerita". Itu hal yang terlalu mulia buat gw ;-) Psychological gratification gw mungkin sederhana sekali: bisa meluapkan emosi yang kalau ditahan2 bisa jadi jerawat, dengan cara yang nggak antisosial2 amat ;-)

Daaaan.... sesuai teori, psychological gratification ini sifatnya seperti salah satu lagunya Cat Steven a.k.a Yusuf Islam: first cut is the deepest

Ya, irisan pertama yang paling dalam, yang paling menyakitkan, sekaligus yang paling memberikan psychological gratification buat si pengiris. Yang selanjutnya sih mekanistis aja. Kepuasan psikologis yang didapatkan tidak lagi sama. Level of psychological gratification yang sama baru akan didapatkan kalau ada irisan di "tempat baru". Atau kalau kaitannya dengan nge-blog: kalau ada hal baru yang menggairahkan untuk ditulis.

Itulah masalahnya!

Evolusi gw dalam menulis ternyata lebih cepat daripada dunia berubah... hehehe.... Sehingga, setelah nge-blog sejak tahun 2005, sekarang gw bingung: apa lagi yang bisa gw tulis ;-)? Gw semakin sering mendapati diri gw ingin nulis dan komentar, tapi kemudian ingat: kan tulisan sejenis udah pernah gw buat? Atau... mosok gw mesti mencela subyek yang sama lagi sih??? Itu kan udah pernah??? Dualima-jigo-dualima-jigo... CEPEK DEEEY...

Contohnya aja, pas pemilu kemarin gw udah pingin nulis tentang betapa nggak efektif dan efisiennya konsep Daftar Pemilih Tetap dan Kartu Pemilih itu. Jauuuuhhh... sebelum ada keluhan tentang betapa banyaknya orang yang tidak terdaftar sebagai pemilih, gw udah skeptis terhadap cara KPU ini. Gimana caranya mendata JUTAAN orang secara akurat dalam waktu singkat??? Kalau emang ada cara seperti itu, yang namanya sensus penduduk dilakukan tiap tahun lageeee.... bukan beberapa tahun ;-)

Akhirnya bener kan ;-)? Kisruh kan? Banyak yang nggak terdaftar kan ;-)? Udah gitu yang disalahin rakyat, lagi, karena nggak mendaftarkan diri. Yeeee.... pengalaman gw jadi koordinator mata kuliah Faal 1 sampai Faal 4 sih: meminta satu angkatan yang nggak sampai 100 orang untuk mendaftarkan diri siapa yang mau fotokopian bahan aja susahnya minta ampun! Nggak pernah akurat. Selalu ada aja yang nggak daftar, tapi di menit2 terakhir minta fotokopian. Naah... gimana berharap JUTAAN orang bakal rajin mendaftarkan diri untuk mengikuti sesuatu yang mereka sebenernya nggak butuh? Ini mah seperti lagunya ABBA:


Knowing me, knowing you
There is nothing we can do
Knowing me, knowing you,
We just have to face it


Iya... face it. Yang butuh pemilu itu kan negara dan pemerintah, biar pemerintahnya bisa ngaku bahwa mereka adalah pemerintahan yang sah ;-) Kalau buat rakyat sih siapa aja "rajanya", rasanya sama aja ;-)

Sebenernya kan daftar-mendaftar ini nggak perlu toh? Menurut gw sih pemilu itu cuma butuh KTP dan tinta yang nggak gampang hilang kalau dicuci ;-) Asal orang punya KTP, dia bisa datang ke TPS terdekat dan ikut milih. Nggak perlu Kartu Pemilih segala.

Kalau punya KTP dua atau lebih?

Lah, kan udah ada tintanya? Biarin aja dia punya KTP dua atau lebih, tapi kelingking tangan kirinya tetap cuma satu toh? Kalau udah dicelupkan ke tinta, ya dia nggak bisa milih lagi. Gitu aja kok repot!

Kalau mau nyetak kertas suara pas, ya bikin aturan aja bahwa orang harus memilih di kelurahan tempat KTP-nya dikeluarkan. Kan di kelurahan bisa langsung diketahui jumlah pemilih tanpa harus mendata. Tinggal petugas kelurahannya aja suruh ngitung berapa jumlah KTP yang dikeluarkan oleh kelurahan tersebut, dikurangi jumlah laporan kematian dari pemilu terakhir. Toh semua pemegang KTP cuma bisa mati sekali ;-)

Gampang toh? Nggak pakai repot mendata2 segala. Dan nggak perlu nyetak2 kartu pemilih segala. Kertas mahal, bo! Lagian go green dong, save our planet! Daripada pohon ditebang untuk bikin kertas yang akan jadi Kartu Pemilih buat jutaan orang, mendingan dananya dipakai untuk beli tinta jari kualitas unggul! Jangan yang 10 menit dan "sedikit gosokan mesra" aja udah hilang kayak tinta kemarin... hehehe... Batal deh gw dapat kopi gratis karena tinta di jari udah hilang ;-)

Bagaimana mengatasi daerah pemukiman dengan densitas tinggi, dimana tidak semua orang punya KTP daerah itu tapi tinggal di situ? Daerah kos2an, misalnya. Aaah.. itu gampang! Mereka yang nggak punya KTP di situ dapat prioritas rendah sebagai pemilih. Semacam cadangan, atau ikut gelombang kedua, gitu! Jadi... pemilu gelombang I dicanangkan jam 7 - 11 pagi, misalnya. Gelombang kedua jam 11 - 12 siang. Dan bisa/nggak ikut gelombang kedua di TPS tersebut adalah berdasarkan sistem waiting list. Tergantung kesediaan sisa kertas suara. Kalau nggak sisa, ya silakan kunjungi TPS berikutnya.

Masuk akal kan, cara gw ;-)? Efektif, efisien, dan nggak butuh peralatan canggih apalagi dana besar. Emang sih, tadinya gw mau ngusulin hi-tech vote machine. Mesin yang pakai fingerprint scan untuk memilih. Pencet tombol, gak mencoblos, apalagi mencontreng ;-) Tapi... seperti cerita di film ini, mesin pemilu pun tak luput dari kekhilafan ;-) Nggak jadi deh gw mengusulkan ;-) Lagian, kalau mesti pakai komputer, ntar membuka peluang bisnis lagi dong... ada yang menang tender komputer pemilu, bukan hanya tender komputer KPU ;-) Iya kalau menang tendernya melulu karena good value for money. Kalau karena alasan lain ;-)? Dan kalau pakai komputer, terbuka kemungkinan penyalahgunaan lagi. Ntar komputernya dipakai main game ;-)

Tapi dipikir2, gw kan udah sering mencela keputusan pemerintah di blog ini ya? Mosok nyela lagi? Dan psychological gratification-nya udah gak sama, karena yang harus dicela itu lagi - itu lagi. Nggak ada perkembangan yang berarti, dan nggak ada hal baru yang bisa gw cela... hehehe...

Oleh karenanya gw jadi rada males ngebahasnya di blog ;-) Dan kalaupun akhirnya gw bahas di sini, itu lebih untuk menyampaikan suatu hal. Masih di film yang tadi, pada akhir cerita, Tom Dobbs bilang begini:

Today I was in the oval office for a preparatory meeting and I sat behind the President's desk and I had a reality check. I sat there and I went 'Wait a minute, I'm a Jester. A Jester doesn't rule the kingdom; He makes fun of the king'


Hehehe... si Tom Dobbs emang Jester, makanya dia cuma peduli pada making fun of the king. Psychological gratification-nya memang dari making fun, regardless bahannya daur ulang atau baru.

Naah... gw bukan jester! Kalau gw making fun, itu artinya gw mencela dan menuntut perubahan. Psychological gratification gw hanyalah kalau gw bisa membuat first cut over dan over again. Kalau udah cut ke sekian, itu pastinya udah nggak the deepest. Malah mungkin the shallowest. Kepuasannya nggak ada... hehehe...

Makanya, berubah dong! Give me something new to cut ;-)

Friday, February 27, 2009

5 Langkah Mudah Kampanye Kreatif Caleg

Menerima forward-an email berisi gambar2 konyol spanduk kampanye caleg ini niat awal gw adalah menulis tentang Cesare Lombrosso. Memberi tips bagi calon pemilih untuk pemilu 9 April nanti ;-) Karena kita nggak kenal dengan calegnya, nggak pernah dengar visi, misi, bahkan suara dan kemampuannya menyampaikan ide, satu2nya atribut yang harus diperhatikan adalah wajahnya. Dan teori Lombrosso yang mendeskripsikan atavistic stigmata pada the born criminal adalah teori yang paling pas untuk digunakan ;-) Setidaknya, kita bisa menghindari mememilih orang2 tertentu yang memiliki karakteristik wajah seorang kriminal menurut Oom Cesare ;-)

Namun kemudian gw berubah pikiran. If some people misinterpret the concept of "creative campaign", don't laugh. Instead, let's show them how to be creative... tanpa harus berfoto bareng macan, sebelah2an sama Beckham atau Obama, atau malah belum apa2 udah bikin patung golok bertuliskan "Kabah Security" ;-) Biarkan mereka tertampar dengan sendirinya... atau paling enggak, kasih bahan orang lain untuk menampar mereka... HAHAHA...

*OOT: yang paling bikin gw ngakak adalah poster caleg dekat Plaza Arion - Rawamangun. Nggak apa2 sih kalau dia nulis gelar akademisnya komplit2 gitu. Tapiiiii...... perlu gitu ya, bahwa di belakang gelar akademisnya dikasih tulisan: (UI)??? Iya sih... gw tahu, UI masih jadi salah satu reputable university di Indonesia. Tapi tetap aja aneh... hehehe.... Ada kan cara2 yang lebih halus untuk menunjukkan "ke-UI-annya"? Nggak harus kasat mata gitu. Kalau mau dipakai jadi nilai jual, kenapa gak sekalian dia tulis lengkap2: "(UI, masuk lewat PMDK/UMPTN bukan jalur khusus, apalagi program ekstensi)" ;-)*

Maka, kemudian gw memiliki ide untuk merancang kampanya kreatif bagi diri gw sendiri, seandainya gw menjadi caleg ;-) Kampanye yang bener2 kreatif, gak cuma kreatif nempel2in foto orang ngetop aja, atau mencantum2kan almamater segala. Berikut 5 langkah mudahnya... hehehe...

Langkah 1: Say No to High Cost Campaign

Tujuan umum kampanye kreatif gw adalah membentuk citra bahwa diri gw adalah shoulder to cry on (halah! Tommy Page banget ;-)) bagi para calon pemilih. Dan untuk itu, doktrin pertama gw adalah: tidak ada kampanye jor-joran dengan mencetak banyak poster/spanduk buat ditempel dimana2, apalagi nge-cat ulang mobil/nyetak kaca film yang ada tampang gw segede gaban :-) Modal gw cukup fotokopian hitam-putih berisi visi, misi, dan sebaris-dua baris pendapat gw terhadap current affairs. Eh, ada fotonya juga sih, tapi keciiiiillll aja, kayak di curriculum vitae ;-)

Lho, kok pendapatnya cuma sebaris-dua baris? Mana orang ngerti?

Sabarrrr.... selebaran ini cuma teaser aja ;-) Gw mau memanfaatkan blog sebagai ujung tombak informasi! Jadi di bagian bawah teaser-nya ada alamat blog gw ;-)

Langkah 2: WWW... The Final Frontier

Blog yang gw kasih alamatnya bukan blog yang ini, melainkan blog baru yang khusus gw bikin untuk kampanye. Tapi... isinya nggak jauh2 dari blog ini. Malah, gw udah kepikir beberapa entry lama yang bakal gw ko-pas ke blog baru ini.

Entry lama yang dikopas tentunya yang berisi jatidiri gw sebagai mutant pencela tindakan2 para pemimpin negeri tercinta. Seperti ini, ini, ini, ini, dan ini. Oh, ketinggalan! Ini sekalian ;-) Tak lupa juga ide2 segar yang mudah2an kalau dijalankan akan "lebih banyak manfaatnya daripada mudharatnya" buat rakyat ;-) Seperti ini, ini, dan ini.

Entry jenis pertama diperlukan untuk menunjukkan pada calon pemilih bahwa gw bisa berempati pada penderitaan mereka. Bisa memahami unmet needs mereka. Gw dan calon pemilih adalah KITA, sementara anggota legislatif lainnya adalah MEREKA ;-) Sementara, entry jenis kedua menunjukkan bahwa gw bukan cuma senasib sepenanggunan dengan calon pemilih. Bukan sekedar bagian dari "kita", melainkan bagian dari "kita" yang punya kemampuan dan keinginan untuk memperjuangkan nasib kita ;-)

Untuk melengkapinya, akan ada jenis entry ketiga: hasil penelitian tentang People Satisfaction Study, baik yang berisi penjelasan tentang taraf kepuasan mereka, unmet needs, maupun ide-ide baru tentang penyelesaiannya. Darimana gw dapat data? Yaaah.... gw akan memanfaatkan kemampuan gw sebagai marketing researcher dong ;-)

Langkah 3: Consumer Insight

Rakyat adalah pelanggan gw, kalau gw jadi caleg. Oleh karena itu, sebagai orang marketing research, gw sangat menyadari betapa pentingnya insight dari mereka.

Tadi kan gw udah bilang gak mau bikin spanduk/poster, apalagi ngecat mobil/bikin kaca film yang ada gambar gw-nya. Naaah... dananya akan gw pakai buat bikin penelitian dan public relation activity. Gw berencana mempekerjakan anak2 kuliahan untuk jadi pengumpul data sekaligus public relatin officer. Tugasnya: mereka mendatangi rumah calon pemilih satu per satu dan melakukan face-to-face interview tentang unmet needs-nya para rakyat ini.

Rakyat2 yang artikulatif dan pintar, penuh dengan ide2 segar akan diminta kesediaannya untuk mengikuti Focus Group Discussion. Yang memoderatori FGD-nya gw sendiri, atau beberapa promising junior moderator ;-) Kayaknya masih masuk kok dalam budget kampanye... hehehe... Di FGD ini akan diujikan konsep2 baru, serta menggali ide2 baru untuk meningkatkan kepuasan rakyat.

Naaah... hasil penelitiannya gw analisa sendiri, dan hasilnya gw tuliskan sendiri di blog kampanye gw ;-) Mosok blogger plus marketing researcher kayak gw mesti dibantuin orang ngerjain yang beginian doang ;-)?

Langkah 4: One Click Away

Yang namanya akses ke internet itu baru dimiliki sepersekian calon pemilih, mungkin. Oleh karena itu, kalau cuma sebar2 fotokopian lembaran kampanye, visi/misi/ide tidak tersampaikan ke masyarakat. Oleh karena itu, calon pemilih harus diperkenalkan dengan internet.

Gw sih terbayang untuk bikin lomba2 yang mengharuskan calon pemilih nge-browse blog kampanye gw. Kayaknya gak akan terlalu memakan biaya juga ya, kalau di tiap RW kita bikin lomba? Modalnya pinjam 10 laptop yang spesifikasinya nggak tinggi2 amat, tapi bisa browsing. Plus pre-paid unlimited broadband. Sekarang kan ada tuh yang kartu 100rb aja bisa browsing sampai muntah ;-)? Atau kalau ada internet provider yang mau sponsorin, itu lebih bagus lagi ;-) Yang punya akses internet sendiri juga boleh ikutan dengan modal sendiri ;-)

Lombanya bisa macem2. Dari lomba memberi komentar paling OK kayak yang dibikin Lajang Menikah baru2 ini. Atau lomba cerdas cermat seputar visi/misi/ide gw. Yang penting hadiahnya menarik dan sesuai keinginan mereka

*Hadiahnya apa, bisa jadi salah satu aspect to be covered di FGD mungkin ;-) Atau waktu face-to-face interview ;-)*

Too much effort? Mungkin juga sih. Tapi... setidaknya kalaupun mereka nggak milih gw, mereka mungkin akan mengingat gw sebagai orang yang memperkenalkan internet... HAHAHAHA... Lumayan kan, daripada cuma dikenal sebagai orang yang fotonya pernah nangkring di tiang listrik ;-)?

Langkah 5: Managing Brand Equity

Satu hal lagi yang penting dalam marketing, katanya, adalah mempertahankan brand equity. Naah... untuk itu, salah satu yang gw butuhkan adalah sesuatu yang bisa diasosiasikan dengan gw. Terus terang, gw nggak mau pakai gimmick fisik seperti: "Coblos kumisnya" yang dilagukan dengan nada "Panjang Umurnya". Gw mau yang unik! Unik dan mencerminkan gw ;-)

Untuk itu, gw berencana mengadopsi lagu Ojo Nganggur ini menjadi mars gw... hehehe... Bukannya KKN, tapi.... emang nadanya enak, merakyat, beretnis Jawa seperti gw, dan syairnya pas dengan citra yang gw inginkan:

...
Lek males sopo wong sing gelem ngelirik
Isane mek malik tangan njaluk duwik
...

Ojo nganggur, nggur, nggur
Ojo nganggur
Ojo isin dodolan rujak cingur
Ojo nganggur, nggur, nggur
Ojo nganggur
Ojo wedi nyambi, dadi kondektur


Hehehe... sorry kalau ada salah2 nulis ya ;-) Maklum, dialek lagunya Suroboyoan, yang mana cukup asing di telinga Surakarta Hadiningrat gw ini ;-) Lihat aja, syairnya kan nyebut "Rujak Cingur". Padahal, kalau logatnya Solo, mestinya bersyair "Ojo isin dodolan tahu campur" ;-)

Dan sebagai bukti keseriusan gw mengadopsi lagu ini, RBT-nya udah gw tag sekalian ;-) Udah gw pakai, sebelum keduluan caleg lain ;-)

***

Jadi itu, lima langkah kampanye kreatif gw kalau gw jadi caleg ;-) Sayangnya, nggak ada partai yang menawarkan diri mengusung gw jadi caleg (berat kali yeee... kalau ngusung gw ;-)).

Atau mungkin ada, ya, partai yang "meminang" gw setelah baca entry ini ;-)? Yaaah... kalau ada, pastikan aja deh tunjangan kesehatannya gede... hehehe... secara gw udah memprediksi bakal sering dar-ting kalau jadi caleg; senewen dengan kinerja teman2 gw yang - what can I expect? - cara kampanyenya aja cuma bisa majang tampang dimana2 ;-)

Tuesday, January 20, 2009

Perempuan Berkalung Selimut Perca

Buat gw, menulis entry di blog itu laksana merajut. We start with a design, and figure out how to bring it into realization. Mana benang yang harus dirajut dulu, kapan harus ganti benang, dll. Kadang2 perhitungannya meleset, dan harus dibongkar sedikit supaya desain tetap terwujud. Atau kadang2, kalau salah perhitungannya nggak fatal, ya biarin aja menjadi aksentuasi dari rajutan itu.

Gw tidak pernah menulis entry di blog dengan metode membuat selimut perca ;-) Mengumpulkan perca dan kemudian menjadi bagian per bagian yang kelihatannya cocok - tanpa punya bayangan hasil akhirnya seperti apa. I do not appreciate - let alone aspire - surprising result.. hehehe... Lagipula, menurut gw, metode ini berbahaya untuk suatu karya tulis. Nanti bisa2 apa yang disampaikan melenceng jauh dari rencana.

Makanya, gw sangat gemas kalau melihat sebuah buku yang kelihatan seperti selimut perca ;-) Langsung gw bergairah untuk mengomentari. Seperti buku Perempuan Berkalung Sorban ini ;-) Fragment demi fragment kehidupan Annisa (sang tokoh utama) terajut, tapi jadinya aneh dan saling bertolak belakang - ditinjau dari segi penokohan. Menimbulkan kesan bahwa sang penulis, Abidah el Khalieqy, memaksakan cerita dari orang2 yang berbeda untuk disatukan di satu tokoh. Abidah tidak mulai dengan membuat penokohan untuk Annisa, tapi hanya menggunakan Annisa sebagai kapstok - tempat segala hal bisa disangkutkan.

Kegemasan gw muncul sejak awal cerita. Tepatnya di bagian cerita ketika si kecil Annisa yang duduk di kelas 5, mengajukan pertanyaan sebagai berikut:

Perempuan yang sedang menstruasi juga dilarang masuk masjid. Padahal Wak Tompel, yang setiap malam minum tuak dan berjudi di kedai Yu Sri, tidak dilarang untuk tidur menggelosor di dalam mesjid dan tak seorangpun mengatakan itu haram. Demikian pula Wak Burik, blantik sapi yang membuka praktek rentenir itu, sering juga datang dan ngorok dengan mulut berbusa di mesjid. Tak satu orang pun berani mengatakan bahwa tubuh-tubuh mereka jauh lebih kotor dari perempuan yang tengah menstruasi. (hal 73 - 74)


Inilah hal yang pertama membuat gw merasa Abidah cuma menempel2kan cerita ke tokoh Annisa, tanpa mempedulikan penokohan ;-) Psychologically speaking, gw ragu ada anak kelas 5 SD, yang bahkan di bagian2 sebelumnya dari buku itu diceritakan sebagai tidak tahu apa2 tentang the facts of life, akan mengajukan suatu komparasi abstrak seperti ini: membandingkan "kotornya" tubuh perempuan yang tengah menstruasi dengan laki2 yang melanggar aturan agama.

Anak kelas 5 SD, gw tengarai masih dalam level berpikir concrete operational. Akan berbeda jika tokoh Annisa mempertanyakan kotornya perempuan yang sedang menstruasi dengan busa liur Wak Blantik. Tapi... membandingkan kekotoran fisik tubuh perempuan yang mengeluarkan najis berupa darah dengan kekotoran abstrak laki2 rentenir? Hmmm.... ini lebih mirip cara berpikir perempuan dewasa yang dijejalkan ke tokoh kelas 5 SD tanpa memperhatikan penokohan ;-)

Untuk soal darah ini, gw sendiri punya pengalaman yang mirip waktu kelas 3 SD. Gw jatuh dan lutut gw berdarah saat berangkat mengaji. Oleh Mbak Ita, teman mengaji yang anaknya Pak Haji Toha, gw disuruh pulang. Nggak boleh ikut mengaji. Alasannya, "Kan kakinya luka, berdarah. Nanti darahnya menetes di mesjid, jadinya najis". Di kepala kecil gw, omongan ini masuk akal. Mesjid tempat sholat, yang bahkan sudah bersih badan pun harus wudhu dulu. Lha... kalau sajadahnya ketetesan darah, orang nggak bisa sholat di situ dong?

Dan... dalam bayangan gw saat ini, seorang anak kelas 5 SD lebih mungkin mengaitkan larangan masuk mesjid bagi perempuan yang sedang haid dengan kekotoran fisik - daripada berpikir kritis dan membuat komparasi abstrak tentang kekotoran abstrak seorang rentenir. Anak kelas 5 SD dimana pun kecil kemungkinannya berpikir abstrak seperti ini, apalagi tokoh yang diceritakan masih agak naif seperti Annisa ini ;-)

*Even di usia gw yang udah 30 lebih ini pun, gw masih heran ada yang mempertanyakan larangan masuk mesjid - apalagi sholat dan melakukan ibadah lain - bagi perempuan yang sedang menstruasi. It's all about something physical, kan? Segala sesuatu yang keluar dari dubur maupun alat kelamin itu hitungannya najis kan? Lha... emang darah haid keluarnya dari mana? Dari ujung jempol? HAHAHAHA...*

Fragment itu, walaupun sepele, menyisakan pertanyaan di kepala gw. Mengapa Abidah harus menjejalkan fragment ini di usia Annisa yang masih sangat muda, dan membuat ceritanya aneh? Kenapa pertanyaan ini tidak disimpan hingga Annisa lebih dewasa?

Dan... seiring dengan lebih banyaknya gw membaca halaman buku itu, pertanyaan gw terjawab dengan sendirinya. Abidah terpaksa menjejalkan fragment ini di usia muda, karena.... Annisa dewasa akan difokuskan pada cerita tentang [meminjam istilahnya Tante Okke di sini] "aktivitas penyerbukan"... HAHAHAHA...

Iya, bener deh! Sejak Annisa dinikahkan hingga akhir novel, isinya didominasi oleh aktivitas penyerbukan ;-) Baik berupa perkosaan dalam rumah tangga yang dialami Annisa, asyik masyuk bersama Khudori si suami kedua, sampai obrolan dengan madunya dan/atau istri pamannya. Sampai2 gw ingin mengkategorikan novel ini sebagai X-rated dan memanfaatkan Pasal 22 UUP ;-). Gaya bahasanya memang metafora, tapi.... dari foreplay sampai orgasme mah dijabarkan dengan detil. Jadi sami mawon dengan buku2 stensilan ala Nick Carter ;-) Simak bagian yang berikut ini:

Kurasakan ada sesuatu yang merembes, meleleh dari dalam kehangatan yang tersembunyi. Tanpa bisa kutahan, aku mendesah. Merasai semua dan ingin terus berada dalam situasi itu untuk mencapai sesuatu yang entah apa, aku tak tahu. Dengan refleks yang spontan, kuarahkan tangan Mas Khudori untuk menyentuhkan jarinya pada pipi mawar yang sedang mekar di bagian tubuhku. Dan ia pun tahu, apa yang kumaksudkan. Mengusapnya dengan pelan. Kurasakan jemarinya basah oleh cairan hangat yang keluar dari kedalaman rasa. (hal 223)


Nenek2 disko juga tahu deh, bahwa ini adalah penggambaran acara belah duren ;-) Dan tahu apa yang dimetaforakan dengan istilah pipi mawar yang sedang mekar itu ;-)

Oh, well, I'm not a hypocrite. Gw sih nggak keberatan baca adegan aktivitas penyerbukan. Nggak perlu dimetaforakan dengan "pipi mawar" pun nggak apa2 ;-) Tapi... fakta bahwa buku ini banyak bicara tentang adab dalam agama, gw jadi mempertanyakan perlunya menjabarkan aktivitas penyerbukan sevulgar ini.

OK-lah, kalau dikatakan penggambaran aktivitas penyerbukan itu perlu sejelas2nya untuk memberikan gambaran kepada muslimah2 muda tentang what to expect dalam kehidupan seksual rumah tangga. Tapi... dengan penjabaran laksana "Step-by-Step Sexual Intercourse for Dummies" begini, siapa yang jamin nggak akan ada yang menggunakannya untuk membayang2kan "pipi mawar", baik "pipi mawar" orang lain ataupun "pipi mawar" dirinya sendiri ;-)?

*Swear, "pipi mawar" adalah the funniest idiom of the year... no, perhaps that is the funniest idiom of the decade ;-)*

Belum lagi penjabaran vulgar lainnya seperti berikut ini:

"Nisa, mimpikan aku nggak semalam?
"Nggak tuh! Pasti Lek Khudori yang mimpikan aku"
"Kau benar. Semalam aku mimpi basah bersamamu"
(hal 166 - 167)


Hmmm... gw bukan ahli agama sih. Tapi... coba deh gw dicerahkan: hadis atau ayat Al Quran yang mana yang dapat dijadikan dalil untuk membenarkan seorang laki2 dengan bebas menceritakan pada perempuan yang bukan muhrimnya bahwa semalam ia mimpi basah tentang perempuan itu ;-)?

Even tanpa dihubungkan dengan nilai2 agama, menurut gw improper banget lho, ada laki2 cerita ke seorang perempuan yang bukan apa2nya dengan begitu gamblang bahwa semalam ia memimpikan si perempuan dalam konotasi seksual. Kalau gw jadi Annisa sih si Khudori gw gampar... hehehe... Soalnya "menjadi obyek kenikmatan seksual" kan bukan suatu kebanggaan buat gw. Gw akan merasa dimanfaatkan! Mending kalau gw dapat royalty ;-)

Dan bukan sekali itu saja ada adegan [yang setahu gw dalam Islam dianggap] anonoh antara Nisa dan "cinta sejatinya", Khudori. Ada bagian lain yang membuat gw mengucek2 mata, yaitu pertemuan kembali Nisa dan Khudori - saat Khudori pulang dari belajar agama di Berlin dan Nisa masih menjadi istri Samsudin

... aku pamit mengundurkan diri menuju kamar tidur, sesaat kulihat Lek Khudori agaknya juga sudah tak tahan dengan sambutan yang mengharu-biru dirinya. Seakan ada kesepakatan atau hati kami yang sama-sama digempur kerinduan. Dan ketika hanya berdua di ruang makan, kami berpelukan untuk yang kedua kali. Ia membanjiri ciuman di pipi dan mengecup keningku dengan tekanan khusus. Darahku mendesir-desir dan detak jantungku mejadi labil
(hal 147 - 148)


Coba deh, gw dicerahkan ;-) Hadis dan ayat Al Quran mana yang dapat membenarkan bahwa seorang laki2 boleh menciumi pipi dan kening istri orang atas nama cinta sejati? Tak peduli sebrengsek apa pun laki2 yang menjadi suami Annisa, statusnya kan istri orang? Apa hak Khudori menciumi seperti itu? Dengan nafsu pula! Bohong aja kalau ciumannya nggak pakai nafsu... wong sampai "membanjiri pipi dan kening dengan tekanan khusus" ;-)

Kalau Khudori emang benar2 pria baik2, dari dulu dia sudah melamar Annisa dari orang tuanya. Sebelum Annisa dinikahkan dengan orang lain ;-) Bukan jadi slonong boy seperti ini ;-)

***

So tell me, apa yang ada di kepala si penulis saat mengelaborasikan aktivitas penyerbukan berkali2. Masihkah dia mengingat desain utama bahwa buku ini adalah tentang bagaimana Islam memandang hak reproduksi perempuan seperti yang banyak disebut di setiap halamannya? Atau jangan2 memang ia sedang menjahit selimut perca, dan melihat perca berupa aktivitas penyerbukan adalah sebuah perca yang indah, sehingga harus digunakan sebanyak2nya?

Atau jangan2 memang tidak pernah ada desain utama berupa syiar tentang bagaimana Islam memandang hak reproduksi perempuan. Itu hanya perca lain yang ditempelkan dalam selimutnya. Buktinya, dengan gamblang, ia pun menafikan hak bayi untuk mendapatkan ASI seperti di bawah ini:

"Jika ibunya berkenan menyusui, apakah seorang ibu punya pilihan lain untuk tidak menyusui anak kandungnya sendiri?"

"Tentu saja, Sayang, adalah hak seorang ibu untuk mau menyusui atau tidak terhadap bayinya. Ibulah yang berwenang untuk menentukan apakah ia mau memberikan ASI-nya ataukah ia lebih senang jika orang lain menyusuinya, atau diganti dengan susu kaleng, misalnya. Bukankah Rasulullah juga disusukan pada Halimah Sa'diah dan bukan ibunya sendiri yang menyusui?"
(hal 252)


Hihihi... bagian ini, gw yakin, bakal menuai protes dari AIMI ;-) Disusui kan hak bayi juga, bukan wewenang mutlak ibu ;-) Tapi biar AIMI aja deh yang protes, gw fokus pada masalah utama: gw jadi pingin tahu Khudori ini anak pesantren mana... hehehe... Gw nggak pernah masuk pesantren sih. Tapi.... gw kok ragu ya bahwa alasan Rasulullah disusukan pada orang lain adalah karena ibunya memilih untuk tidak menyusui ;-) Emang ibunya Rasulullah kenapa nggak mau menyusui anaknya, menurut si Khudori itu? Karena nggak dapat maternity leave dari kantornyakah ;-)?

Dengan makin banyaknya kejanggalan2 tentang perilaku "tidak Islami" ini, salah nggak sih kalau gw kemudian mempertanyakan misi penulisan buku ini. Sebenarnya apa yang ingin disampaikan melalui buku ini? Apa fungsi penggunaan latar belakang Islam dalam buku ini?

Dan gw khawatir bahwa - sadar atau tidak - bahwa latar belakang Islam hanyalah perca yang kebetulan dipunyai oleh si penulis dan dianggap bagus untuk menyelesaikan selimut percanya ;-)

Suntingan: 21 Feb 2009:

Entry ini hanya membahas bukunya. Untuk bahasan filmnya ada di sini, sementara yang di sini adalah bahasan alur ideal buat novel ini