Saturday, February 06, 2010

Tembus ke Samping

Ini posting yang sungguh tidak penting, tetapi harus gw tuliskan demi menghilangkan imaginary earworm yang mengganggu gw sejak tadi sore ;-)

Ada sebuah lelucon klasik mengenai tanda baca. Alkisah, seorang guru Bahasa Inggris masuk ke kelas dan menuliskan kalimat berikut ini di papan tulis:

woman without her man is nothing!


Murid2nya diminta menambahkan 2 tanda baca lagi untuk membuat kalimat tersebut lebih bermakna, dan.... jawaban murid2nya terbagi dua:

Woman. Without her, man is nothing!
Woman, without her man, is nothing!


Jawaban pertama tentunya diberikan oleh mereka2 yang percaya pada girl power ;-) Jawaban kedua, tentunya, diberikan oleh para male-chauvinist ;-)

Naaah... kayaknya, tadi sore gw menemukan satu padanan kisah tersebut dalam Bahasa Indonesia. Dari sebuah judul film yang menggegerkan khayalak Indonesia akhir2 ini:

Hantu Puncak Datang Bulan


Sumprit! Sesorean ini, gw penasaran dengan struktur kalimatnya ;-) Jelas sih kalimat ini bukan S-P-O-K sempurna, karena nggak ada P dan nggak ada O-nya. Cuma ada S dan K aja ;-) Dan jelas strukturnya adalah S-K. Tapi... yang jadi masalah, apa S-nya, dan apa K-nya, karena ada kata "Puncak" yang mengganggu.

Alternatif pertama, subyeknya adalah "Hantu", keterangan waktu/kondisi adalah "Datang Bulan", dan "Puncak" merupakan keterangan tentang intensitas dari waktu/kondisi tersebut.

Kita sudah tahu lah, artinya "datang bulan". Dan udah tahulah, bahwa dalam setiap siklus "datang bulan' pasti ada "puncaknya". Selanjutnya... buat yang pernah belajar biologi tentang sistem reproduksi perempuan, mestinya sudah tahu bahwa dalam kondisi puncak datang bulan, memang [buat beberapa perempuan] rasanya sama aja kayak ketemu hantu ;-)

Naaah... kalau pakai alternatif pertama ini, kalimatnya jadi masuk akal dan judulnya ilmiah... hehehe.... Ini sebuah film tentang "Hantu" yang dijumpai pada "Puncak Datang Bulan" ;-) Mungkin filmnya bakal jorok... banyak darah dimana2, tapi nggak beda jauh lah dengan Saw ;-)

Tetapi... kemudian gw menemukan alternatif kedua: subyeknya tetap "Hantu", dan "Datang Bulan" tetap keterangan waktu/keadaan, tapi.... "Puncak" adalah keterangan tempat. Berbeda dengan struktur pertama, dimana "Puncak" menjadi keterangan bagi keterangan waktu/kondisi, pada struktur kedua ini "Puncak" menjadi keterangan bagi subyek ;-)

Kalau pakai formula yang kedua ini, arti kalimatnya beda! Berarti di sini kita bicara tentang sesosok hantu yang ada di Puncak, dan sedang datang bulan. Naaaah.... ini yang bakal bikin filmnya lebih menarik... hehehe.... Kita kan tahu ada yang namanya PMS, kondisi yang biasanya bikin cewek2 lebih galak daripada hantu. Mungkinkah padanannya pada hantu disebut menstrual syndrome ;-)? Terus, perilakunya si hantu bakal gimana ya? Lebih galak daripada cewek yang lagi PMS kah ;-)?

Hmmmm.... ada yang bisa bantu menjelaskan? Sumpah nih, gw penasaran.. HAHAHAHAHA...

Tadi udah nanya orang2 ;-) Tapi kata JenJu, film ini [baik judul maupun isinya] nggak boleh dipikirin pakai otak :-(

*Ouch, JenJu, Anda tidak menghargai kreativitas anak bangsa... :-p*

Terus... kata Yanti alias Exchequer, struktur yang kedua aneh. Mosok udah jadi hantu masih datang bulan ;-)? Tapi... menurut gw, kita kan nggak pernah tahu. Hanya Tuhan dan Hantu yang tahu apakah hantu bisa datang bulan... :-p

Jadinya gw gugling2 deh... dan... menemukan nggak ada alternatif gw yang bener :-( Ternyata, menurut sinopsis ini, itu adalah hantu yang datang pada saat datang bulan. Jadi "puncak" di sini apa fungsinya??

Huh! Nggak asyik ah!

Padahal, gw udah berharap2 banget alternatif kedua yang benar. Kan... gw nantinya bisa mewawancara si hantu tentang pembalut apa yang paling nyaman buat dia kalau lagi datang bulan... hehehe....

Eh, tapi mungkin jawabannya obvious ya? Pembalut yang nyaman buat hantu yang lagi datang bulan adalah...... yang tembus ke samping ;-)

Lha, iya lah! Hantu kan emang harus nembus kemana2... hehehe... Kalau pembalutnya nggak tembus ke samping, si hantu susah bermanuver dong :-p