Thursday, March 26, 2009

The Cart War

Sekitar sebulan lalu gw ngamuk [lagi!] di Carrefour Mall of Indonesia. Bukaaaan... yang sekali ini bukan gara2 one stop buying yang nggak one stop paying itu ;-) Kalau itu sih udah ada perbaikan: sekarang gw udah bisa bayar susu bayi di kasir depan, nggak harus berhimpit2an di kasir susu bayi yang tiap kali harus sprint ke kasir utama karena gak punya mesin gesek kartu kredit.

Mungkin mereka memperhatikan himbauan (baca: amukan) gw ya ;-) Meskipun proses belajarnya agak-agak gymanaaaa.... gitu: ada beberapa kali gw melewati masa dimana gw mesti bayar susu bayi di kasir susu, setelah itu si kasir melepaskan security tag-nya, kemudian SUSU DIMASUKKAN KE TAS MERAH DAN DIKASIH TAG BARU; dimana seorang petugas keamaan di kasir utama nantinya akan membuka security tag tersebut setelah sebelumnya meminta kita menunjukkan bukti pembayaran.

Tapi sudahlah... jangan diingat2 lagi. Sekarang para petugas keamanan itu sudah sadar dan insyaf mengenai betapa merepotkannya metode pembelian susu tersebut ;-) Atau sudah menyadari betapa "terhormat"-nya para konsumen di situ, sehingga tidak mencuri susu bayi ;-)

Dengan demikian, mereka sekarang perlu melatih "kekuasaan" mereka di bidang yang baru: bidang shopping cart ;-)

Yep! Sekali ini gw ngamuknya gara2 shopping cart ;-)

Jadi, di Carrefour MOI (nggak tahu ya Carrefour yang lain) kan ada shopping cart yang bisa dipakai untuk membawa anak dengan nyaman juga. Bentuknya ada dua macam: ada kereta belanja yang diatasnya dikasih semacam car seat buat bayi, serta kereta belanja yang di depannya dikasih mobil2an plastik ala Little Tikes itu.

Naah... sejak gw aktif belanja lagi, gw udah menggadang2 pingin bawa Nara belanja dan memasukkannya ke car seat tersebut. Keinginan tersebut terlaksana bulan lalu; waktu bapaknya tugas ke luar kota dan gw mesti belanja bulanan sendirian. Berperan sebagai "orang tua tunggal", rencana gw habis belanja ngajak Nara & Ima jalan2 ke Moiland, Dufan-wanna-be yang ada di atasnya Carrefour.

Sampai di Carrefour, gw langsung aja ngambil kereta belanja dengan car seat (atau cart seat ya ;-)?) di atasnya. Dan melengganglah gw masuk ke dalam Carrefour. Nggak pakai acara lapor2an segala, wong nggak ada pengumuman di tempat pengambilan kereta tentang kewajiban lapor. Pun, pas gw ngambil kereta, ada Mas-mas petugas yang baru ngembaliin troli dari lantai bawah. Si Mas itu dengan baik hati malah mengambilkan troli itu buat gw, tetap tanpa perintah lapor.

Dan maka dari itu, betapa terkejut dan malunya gw saat ada petugas keamanan yang meneriaki gw seperti maling!

"Hoi, Bu, Bu! Tinggalin KTP dulu kalau mau pakai kereta bayi!!"


Bujubuneng deh! Semua orang jadi ngeliatin gw, seolah2 gw itu mahluk tidak tahu aturan yang nyelonong gitu aja! Apalagi, kemudian si petugas keamanan itu menegur petugas informasi yang ada di dekatnya:

"Gitu ya! Kalau ada customer yang nggak ninggalin KTP, panggil! Kejar!"


Biarpun malu dan dongkol, sambil ninggalin KTP, gw masih berusaha sabar. Gw tanya kenapa nggak ada pengumumannya di tempat kereta mengenai tatacara peminjaman. Tapi si petugas keamanan masih nyolot dengan mengatakan bahwa peraturannya ada tertulis di sana. Katanya sejak dulu juga sudah ada peraturannya.

Ya suds, dengan menjerang2kan kesabaran gw yang sudah tipiiiiiisss banget kayak kain kassa, gw ngalah. Gw bilang mungkin gw nggak lihat. Jarang2 banget lho, gw ngalah... hehehe... Ini juga ngalah demi Nara. Gw nggak mau pengalaman belanja pertamanya membuat trauma karena ibunya membantai orang ;-)

Tetapi... sehabis belanja dan Nara sudah berada di Food Court bareng Ima dan pengasuhnya, it's time for revenge ;-) Sengaja tuh gw kembali ke tempat pengambilan troli untuk memastikan apakah gw yang salah nggak baca aturan, atau si petugas keamanan yang as-bun. Dan ternyata... memang si petugas yang asbun! Tidak ada aturan tertulis di situ.

Dengan demikian, pas ngambil KTP, gw labrak tuh si petugas. Gw bilang bahwa peraturannya nggak tertulis di sana, sehingga dia nggak boleh meneriaki konsumen seperti maling kalau konsumen tidak tahu. Beda ya, kalau aturannya udah ada dan konsumennya ngeyel atau lalai membaca.

Tapi si petugas keamanan masih kekeuh bahwa peraturan itu DULU sudah pernah dipasang. Konsumen seharusnya sudah tahu. Lha, emangnya gw paranormal, gitu, bisa tahu peraturan yang DULU pernah dibuat? Hehehe.... FYI, I'm a psychologist, not a psychic deh ;-)

Dan meledaklah si petugas waktu gw dengan sarkastik bilang mudah2an semua konsumen Carrefour adalah paranormal, atau setidaknya bisa telepati, sehingga tahu peraturan yang sudah tidak dicantumkan ;-) Dengan keras, si petugas keamanan itu membentak gw:

"Kalau gitu, lapor sana sama manajemen!! Bukan urusan saya kalau manajemen nggak pasang pengumuman!!"


OK, that's it. That's war... HAHAHAHA...

Nggak pakai ba-bi-bu, gw langsung lapor ke Manager-in-Duty, yang segera memanggil Security Leader. Rupanya memang petugas keamanan ini adalah third party, bukan pegawai Carrefour. Makanya kebijakannya sering nggak terintegrasi gitu. Pokoknya si Carrefour hanya mau tahu barang2nya aman, nggak ada kecolongan, terserah penyedia jasa keamanan mau gimana cara mengamankannya. Dengan tuntutan seperti itu, nggak heran jika kemudian penyedia jasa keamanan punya cara aneh2 untuk memastikan keamanan tanpa koordinasi menyeluruh dengan pihak manajemen Carrefour.

Penggunaan security tag berganda pada susu bayi, serta aturan meninggalkan KTP untuk meminjam troli ber-cart seat adalah inovasi brilian dari penyedia jasa keamanan. Dua benda ini memang tergolong sering hilang, padahal jumlah troli ber-cart seat memang sedikit. Mungkin emang makin banyak orang males bawa kereta, jadi pinjem troli ber-cart seat aja untuk jalan2 seputaran MOI (habis... mau buat apa lagi? Mosok buat cart race kayak di salah satu episode CSI: NY ini ;-)?)

Yaah... gw sih nggak keberatan dengan aturan harus meninggalkan KTP. Tapi harusnya kan aturan itu disosialisasikan dengan jelas. Tulis aturan peminjaman cart pool. Nggak usah yang segede baliho, cukup satu papan tulis aja. Jadi konsumen bisa menghindari dikejar2 seperti maling HANYA karena dia bukan paranormal yang tahu peraturan yang tidak tertulis ;-)

Sebagai contoh gw kasih informasi tentang aturan peminjaman kereta bayi dan kursi roda di Mal Kelapa Gading. Di situ kereta bayi dan kursi roda dikandangkan, sehingga tidak bisa diambil oleh pelanggan. Kalau kita mau meminjam, kita harus mengisi buku peminjaman yang ada di situ. Meninggalkan KTP dan nomor HP. Kemudian si petugas nge-cek dulu HP kita bisa dihubungi atau tidak. Baru kereta atau kursinya dipinjamkan. Itu pun setiap 2 jam kita akan ditelfon, dicek keberadaannya.

Apakah gw keberatan dengan cara seperti itu? Enggak. Gw merasa cara ini malah lebih enak. Fair, dari awal kita sudah tahu terms & conditions-nya. Kalau nggak mau dipermalukan, ya ikuti cara mainnya. Kalau nggak ikut tatacara, baru siap dipermalukan. Yang jelas: tidak ujug2 diteriaki dan dibentak2 seperti maling.

Minggu lalu gw belanja ke Carrefour MOI lagi. Nggak bawa Nara, karena gw yang trauma diteriakin kayak maling... HAHAHAHA... Daripada tensi gw naik gara2 petugas keamanan, mendingan Nara disimpan di rumah ;-) Ntar aja kalau Nara sudah bisa jalan sendiri baru ikut belanja lagi. Sekarang kan baru tetah dengan satu tangan.

Tapi ternyata sudah ada "sedikit" perbaikan dalam tatacara peminjaman. Memang, di cart pool tetap tidak ada tatacara peminjaman yang tertulis segede gaban, tapi..... agak jauh sebelum pintu masuk, ada pengumuman kecil mengenai tatacara peminjaman yang dijaga seorang petugas keamanan. Jadi... pelanggan nggak dikejar2 dan diteriaki lagi; melainkan sebelum masuk Carrefour sudah ditegur dengan sopan dan ditunjukkan pengumuman kecil itu. Mungkin emang susah ya, meyakinkan manajemen Carrefour mengenai pentingnya pengumuman?

Senang himbauan gw didengarkan... hehehe.... Mungkin mereka trauma juga ya, dengar complaint gw ;-)?

Saturday, March 21, 2009

Feel like an H

Sejak lahir, sudah terlihat tanda2 yang jelas bahwa Nara bakal jadi anak yang keras kepala ;-) Pengalamannya berdisko ala John Travolta membuktikan itu ;-) Kami sudah siap2 bahwa semakin gede akan semakin besar kemungkinannya dia "susah diatur", dan akan ada masa harus mendisiplinkan Nara. Yang nggak disangka, ternyata temper tantrum-nya muncul lebih cepat. Nggak sampai nunggu setahun dua tahun, di usia 11 bulan Nara sudah bereskalasi mencapai 'target" tersebut.

Ya, akhir2 ini memang Nara makin suka head bang. Kalau dulu hanya pada saat sakit dan dipaksa minum obat saja, sekarang setiap ada kesempatan dia menunjukkan kebolehannya. Nggak suka disuruh duduk manis, head bang. Minta digendong Mbak-nya, head bang. Nggak boleh ikut eyangnya, head bang. Pokoknya, dia harus dapat apa yang dia mau dengan cara menunjukkan kebolehannya sebagai headbanger sampai bikin orang ngeri ;-)

Sebagai ortu, kami sih melihatnya sudah mulai tanda2 nggak sehat, nih! Bocah ini harus mulai belajar untuk "mau diatur" bukan "ngatur". Dan mulailah dicanangkan bahwa akan ada waktu dimana dia didisiplinkan kalau menunjukkan aksi head bang.

Kesempatan mendisiplinkan itu datang tadi malam. Gara2 tidur terlalu sore dari pukul 5 sampai 9, Nara segar bugar jam 10 malam. Lha, kami semua kan mau tidur. Dan mulailah Nara pasang aksi karena ditinggal main sendiri nggak mau, tapi tidur juga nggak mau.

OK, that's it, boy! You're gonna learn who the boss is ;-)

Jam 10:30 malam, setelah dia nggak tidur2 juga walaupun sudah menghabiskan 2 botol susu dan digendong Mbak-nya, dia langsung gw "kandangkan" di baby box-nya. Tidak ada juru selamat! Mbak-nya gw usir dari kamar, dan pintu kamar gw kunci. Gw mau kuat2an sama anak gw... hehehe... He's gonna stay in the box until he stops crying. Nggak diam, nggak gendong. Simple policy ;-)

Pengalaman dengan Ima dulu, biasanya cukup 10 menit untuk mendisiplinkan Ima. Paling molor jadi 15 menit. Jadi, gw perkirakan Nara butuh 30 - 45 menit untuk disiplin.

Ternyata?

Sampai 60 menit, Nara belum nyerah juga! Padahal suaranya sudah sampai serak lantaran teriak2 on the top of his lungs dan kakinya pasti pegal karena mencoba memanjat dan menendang box-nya. Terakhir2 dia malah sudah sampai gumoh, setelah tersedak air liurnya sendiri.

Melihat gumohannya, dan mendengar teriakannya yang memilukan (not to mention that it was 11:30pm... half hour to midnight!), rasanya gw udah mau nyerah. Gw ngebayangin tetangga2 di sekitar rumah udah siap2 mau nelfon polisi dengan tuduhan penyiksaan anak... HAHAHAHA... Tapi, gw nggak bisa nyerah! Kalau gw nyerah, dia merasa menang, dan akan mengulangi perilakunya lagi. Worse, kalau gw nyerah, Nara akan mendapatkan pelajaran bahwa dia bisa ngambek untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

Dalam hati, gw udah memohon2, "Please dong, Nak, nyerah dong! Berhenti nangis, Nak! Jangan sampai muntah"

Tapi Nara memang anak gw ;-) Keras kepalanya sama persis dengan gw! Gw juga kalau udah punya mau, nggak bisa dibilang enggak. Maju terus pantang mundur, rawe2 rantas malang2 putung ;-) Jadilah, malam itu menjadi pertarungan panjang.

Sambil "kuat2an" sama Nara, satu hal yang terlintas di kepala gw: oooh... gini ya, rasanya orang kalau udah eyel2an sama gw ;-) Mendingan nyerah, daripada babak bundhas (= luka parah) dan belum tentu menang juga.

Akhirnya, gimana caranya gw menang lawan Nara?

Well... I didn't ;-) Akhirnya Nara berhasil "dijinakkan" hanya setelah dikeroyok dua orang.. hehehe... Pada menit ke-75, bapaknya masuk ke kamar and playing the good parent. Luluhlah Nara menerima "negosiasi' dari bapaknya ;-) Jam 00:10 akhirnya Nara menerima tawaran damai, gw gendong, dan tertidur di pundak gw. The bad parent turns into a shoulder to sleep on ;-)

Siang tadi, Nara menunjukkan tanda2 hampir head bang lagi. Begitu melihat gw, dia mengurungkan niatnya. Moga2 selamanya pun demikian, sehingga gw nggak perlu menyiksa dia lagi ;-)

Sebab... satu hal yang membuat gw merasa bersalah jika harus mendisiplinkannya: bagaimana gw harus mendisiplinkan, desensitize a bad action, yang gw tahu banget menurun dari gw ;-)?

Hhhh.... setelah Ima berhasil membuat gw feel like an H, sekarang giliran adiknya yang membikin gw feel like an H ;-) Bedanya, Ima membuat gw feel like a hippopotamus, sementara adiknya membuat gw feel like a hypocrite ;-)

Susah ya, jadi orang tua ;-)?

***

Ngomong2 soal feel like an H, ternyata memang karma selalu menemukan jalannya ya ;-)? Bukan saja Nara yang sukses membuat gw merasa begitu, melainkan juga sebuah baliho yang gw temui di depan Al Azhar Bumi Serpong Damai tadi pagi ;-)

Inget celaan gw pada poster2nya caleg di sini ;-)? Well, setelah mencela2, ternyata......


... paman gw sendiri juga memajang pas fotonya yang segede gaban di BSD! Duh, jadi nggak enak... HAHAHAHAHA....

Eniwei... pemasangan foto beliau di sini cuma buat menunjukkan betapa karma selalu mengejar ;-) Gw nggak bertanggung jawab kalau ternyata ada pemilih yang berdomisili di BSD kemudian mencontreng nama beliau gara2 baca posting ini ;-) Secara gw sendiri juga gak nyontreng beliau ;-)

Sunday, March 08, 2009

Love, Berry, and Future Love Story

Jaman gw kecil dulu, gw senang sekali main boneka kertas. Kira2 barangnya seperti yang gambar yang gw pinjam dari sini ini: selembar kertas berisi gambar orang berbaju dalam dan beberapa baju yang harus kita gunting menjadi potongan2 terpisah. Setelah terpisah, baru bisa main mix-n-match.

Mainan seperti ini dulu umumnya dijual oleh abang2 pedagang mainan anak2. Harganya murah, terjangkau dengan uang saku anak2. Dulu koleksi boneka kertas gw banyaaaaakkk banget, dan gw masukkan ke dalam kaleng biskuit.


Jaman Ima masih senang main boneka, mainan ini udah nggak muncul lagi. Versinya jadi lebih canggih: magnetic dress up. Ima punya beberapa koleksi Barbie magnetic dress up. Ada yang Barbie-nya juga bermagnet sehingga harus dimainkan di badan kulkas (disebut Barbie Fridge Magnet Album) Tapi ada juga yang bentuknya buku. Bentuknya seperti buku cerita biasa, ada ceritanya juga, tapi disertai dengan satu box berisi kostum2 yang dipakai si Barbie dalam kisah itu. Nanti, tiap kali membalik halaman, si anak bisa memasangkan kostum yang sesuai.

Gw pribadi sih lebih senang model buku seperti ini. Setidaknya ada cerita yang bisa dibaca deh, nggak main doang ;-) Tapi tetap saja, sebenernya gw tidak terlalu menyukai kedua bentuk evolusi boneka kertas ini, karena kurang melatih motorik halus anak. Kalau harus menggunting boneka dan bajunya sendiri, anak kan terlatih motorik halusnya. Sementara dengan metode plug-and-play begini, nggak ada unsur latihannya sama sekali.

Tapi, setidaknya, model buku ini lebih baik daripada model fridge magnet, karena tetap ada cerita yang bisa dibaca. Tetap ada unsur belajarnya, meskipun jadi kognitif, bukan motorik. Yang di kulkas juga bisa belajar berimajinasi sih... tapi.... kan kalau ada ceritanya, imajinasi lebih berkembang ;) Nggak ngalor ngidul kemana-mana. Iya kalau kemampuan imajinasinya udah bagus sehingga bisa membuat cerita yang komprehensif. Kalau enggak? Ya mendingan imajinasinya dibantu dengan cerita dari buku ;-)

Gw kira buku dan fridge magnet ini adalah evolusi puncak dari mainan doll-grooming ini. Ternyata.... gw salah! The sky is the limit! Masih ada evolusi baru yang ditemukan oleh Sega ;-)

Evolusi terbaru ini bernama Love and Berry, dan lagi happening banget di seantero cewek2 pra-ABG di ibu kota.

Ada dua tokoh yang bisa didandani dalam permainan ini, yaitu [tentu saja] si Love, dan si Berry. Dua2nya perempuan, dua2nya fashionista, namun berbeda sifat dan penampilan. Love berambut coklat, sedikit kelihatan lebih feminin dan manis. Sementara Berry berambut biru, kelihatan lebih sporty dan tough. Pemain bebas memilih tokoh mana yang ingin didandani dalam setiap permainan.

Setelah memilih tokoh yang mana yang akan didandani, serta area bermain (ada 5 area bermain atau stage, yaitu: Idol Stage, Ball, Street Court, Fashion Street, dan Seaside Stage), maka mulailah si pemain mendandani tokohnya. Cara mendadaninya? Yaah... namanya juga teknologi canggih! Tinggal gesek kartu, bajunya berubah. Gesek kartu lagi, tatanan rambutnya berubah. Gesek kartu lagi, sepatunya berubah.

Gesek kartu??

Iyalah, namanya juga permainan "canggih". Jadi, alih2 sebuah baju dapat dipasangkan secara harafiah pada bonekanya seperti generasi doll-grooming terdahulu, sekarang bajunya cukup virtual aja ;-) Berupa kode dalam sebuah kartu ber-barcode.

Satu kartu hanya memuat satu perlengkapan fashion; entah baju, tatanan rambut, maupun sepatu. Dan biar si Love dan Berry nggak sal-tum, maka untuk tiap stage tersedia berbagai pilihan mode.

Bisa dibayangkan, kan, berapa banyak kartu Love & Berry yang ada? Makanya, salah satu hal yang bikin permainan ini digemari oleh anak2 ABG adalah koleksi dan tukar-menukar kartu.

So, apa langkah selanjutnya kalau si Love atau Berry sudah didandani? Ya permainan bisa dimulai ;-)


Nah, kalau tadinya gw fine-fine aja dengan hobby barunya Ima main dan mengoleksi kartu Love and Berry karena melihatnya sebagai evolusi terkini dari boneka kertas, gw mulai iritasi melihat cara bermainnya ;-)

Ternyata, yang berevolusi hanyalah kecanggihan teknologinya dan tampilannya saja. Dalam segi manfaat permainan, justru terjadi degradasi ;-) Karena ternyata memainkan gampang banget; tidak membutuhkan analytical ability, tidak membutuhkan ketrampilan motorik halus maupun kasar, dan sama sekali nggak membutuhkan kemampuan apa2 selain kuping yang bisa mendengar dan tangan yang bisa diperintah oleh otak ;-)

Ya, permainannya sendiri ternyata "cuma" gitu2 doang! Menabuh dua tombol di mesin mengikuti irama musik. Mau di stage apa aja, mainnya ya cuma begitu ;-)

Oh, don't give me s*** about exercising the kid's rhytmical ability, please ;-) Kalau cuma buat latihan kemampuan ritmis sih ada acara yang lebih mudah. Menari, main musik, denger musik... itu kan melatih kemampuan ritmis. Atau kalau mau "pakai modal", bisa main Wii atau mainan yang nari2 itu di game center. Lebih jelas hasilnya daripada sekedar menabuh2 dua tombol di mesin tanpa ada kesulitan berarti.

Dan yang lebih menjengkelkan lagi: permainan Love and Berry ini jatuhnya mahal bener, bo! Sekali main di Amazone Mal Artha Gading, dibutuhkan 4 koin. Satu koin harganya Rp 1,250. Jadi... satu kali main harganya Rp 5,000.

Memang sih, ada tokennya. Kalau menang, maka bisa main sekali lagi GRATIS! Jadi prinsipnya "Win One Get One Free" ;-) Dan kalau kalah pun nggak perlu kecewa: mesin akan mengeluarkan satu fashion magic card baru - yang bisa dikoleksi atau ditukar dengan sesama penggemar.

Dari sudut marketing, Sega perlu diacungi jempol atas strateginya ini. Benar2 berhasil membentuk community dengan metodenya ini. Besar kemungkinan anak2 gak cepat bosan main game ini karena ada unsur komunitas tadi. Mereka bakal rela ngantri bermenit2 menunggu mesin Love & Berry kosong, sambil asyik bertukar kartu (dan bertukar teknik/cerita) tentang masing2 fashion card.

Tapiiii.... dari segi orang tua yang mesti menjadi penyandang dana, bener deh, permainan ini mengesalkan sekali... hehehe... Bayangin aja, sekali main kan paling enggak 10x? Sayang bener duit sekian puluh ribu melayang cuma buat nepuk2 tombol yang nggak bikin anak gw tambah pintar ;-) Jadi... sekarang gw memberlakukan peraturan baru: Ima hanya boleh main Love & Berry sebulan sekali. Itu pun nggak boleh lebih dari 10x main. Kalau mau main lebih dari 10x, berusahalah untuk memenangkan setiap permainan biar dapat gratisan ;-)

Udah kan? Gw pikir masalah teratasi. Namun... ternyata... si Love & Berry masih menyimpan satu "kejutan" mengesalkan buat gw: ALBUM LOVE & BERRY!

Yak! Betul sekali! Kartu2 fashion berkode batang itu tentunya nggak bisa disimpan sembarangan dong? Dan... karena ukurannya lebih besar dari ukuran kartu nama yang standard, kartu2 itu nggak bisa disimpan di name card holder. Gw sempat mengakalinya dengan membelikan Ima album untuk foto berukuran 2R yang paaaaasss banget untuk kartu2 fashion-nya. Harganya cuma Rp 5,000/album isi 24. Murah meriah kan?

Masalahnyaaaaa..... gara2 bergaul dengan komunitas anak2 penggila Love & Berry itu, Ima jadi tahu bahwa Love & Berry mengeluarkan album khusus untuk menyimpan kartu2nya. Album khusus itu dijual di game2 center atau toko mainan. Harganya? Untuk yang isi 200 kartu sekitar Rp 150,000 - Rp 175,000!

Deuh... kalau pakai album ukuran 2R yang gw belikan, kan cuma 25 ribuan ya, buat 200 kartu :(

Gw sempat mencoba taktis menghalangi niat Ima membeli album ini. Gw bilang: gw nggak mau belikan, kalau dia benar2 berminat, ya nabung aja sendiri. Harapan gw dia akan back off, karena untuk menabung Rp 150,000 dia butuh sekitar 30 hari.

Berhasil? Ya enggak ;-) Si Ima kan anak gaul kronis... hehehe... dia mendingan kelaparan sebulan daripada nggak punya album Love & Berry. Persis kayak pengalaman ini ;-)?

So, here I am... sekarang kan gw nggak bisa menjilat ludah gw sendiri... hehehe... Terpaksa, walaupun gw "sayang banget" melihat duit sebesar itu cuma buat beli album, gw harus memenuhi janji menemani si anak gaul beli album Love & Berry. Mau ngelarang gimana? Kalau dia menganggap bahwa album itu cukup berharga buat ditukar dengan sekian minggu uang jajannya, apa lagi alasan gw?

Tapi... yang lebih bikin gw panik sih bukan album Love & Berry-nya ya, melainkan prognosis beberapa tahun ke depan. Imagine one day she introduces a boyfriend I don't like.. gimana gw ngelarangnya ya? Kalau dibilang terang2an gw nggak setuju, ntar berantem dan bisa lebih buruk keadaannya. Lha... kalau gw "persulit" seperti masalah album Love & Berry ini, dan dia berhasil menyelesaikan tantangannya, mosok iya terpaksa gw setujui pacarnya ;-)?

Haduuuuh.... pusingggg ;-) I dread to think of the years to come ;-) Kayaknya mesti gw indoktrinasi dari sekarang nih, biar pacarnya ntar sesuai dengan maunya gw... hehehe... Either that, atau gw mesti sudah mulai belajar menerima bahwa Ima adalah entitas tersendiri yang punya prioritas berbeda dengan gw :-) Duuuh... sedih ya, jadi orang tua :-)