Wednesday, October 31, 2007

PeMerKosa Iklan

Lama nggak ng-update, sampai ditanyain beberapa orang via japri: ada apa ;-)? Jawabannya: nggak ada apa2, I’m fine, thank you. Memang sejak masuk tanggal 22 Oktober lalu langsung tancap gigi 5 (atau subsidernya dalam A/T), nggak pakai gigi 1 gigi 2 (atau subsidernya dalam A/T), lantaran semua project numpuk puk di minggu pertama sehabis cuti bersama. Untung kegiatan bernafas dilakukan oleh syaraf2 parasimpatis, sehingga nggak perlu mikir atau direncanakan. Kalau bernafas itu perlu mikir dulu, mungkin sekarang gw udah berhenti nafas karena nggak sempat planning kapan harus bernafas ;-)

Soal cerita yang bisa ditulis.. hmm.. sebenernya numpuk! Tapi karena nggak keburu ditulis, mood-nya ilang. Jadi sekarang mau nulis sesuatu yang kecil aja, yang pernah dijanjiin ke Aquino beberapa waktu lalu di kolom komentar ini: berbagi cerita tentang Ad Research ;-)

Ad Research itu salah satu jenis penelitian yang sering banget gw lakukan. Termasuk riset yang nggak susah2 amat pelaksanaannya, namun tricky banget saat analisa dan memberikan rekomendasi. Gampangnya pelaksanaan adalah karena elemen2 yang harus digali tuh relatif baku, pun penggalian pendapat respondent nggak sampai sedalam2nya motivational research, yang sampai kadang harus ngudek2 “sisi terdalam kepribadian” responden untuk memahami motivasinya. Seperti yang pernah gw ceritakan di sini itu lho.. tentang bagaimana nge-riset bumbu masak aja kami mesti sampai memahami the underlying motivation kenapa seseorang memasak; sampai menemukan bahwa memasak (bagi salah satu responden) adalah sarana untuk membuktikan bahwa dirinya masih berguna walaupun tidak kerja kantoran lagi ;-).

Nah.. kalau di Ad Research, elemen yang harus digali cukup jelas. Jokingly, kami biasa menyebut elemen-elemen yang harus terjawab ini dengan istilah PeMerKosa Iklan.

Catatan Sangat Penting:

Tentu saja nama asli analysis tool ini BUKAN “PeMerKosa Iklan”. Tapi.. berhubung harus menjaga rahasia perusahaan, nama aslinya tidak boleh disebutkan di blog pribadi yang bersifat publik seperti ini. Terpaksa diganti tanpa mengubah arti ;-)

Pe, adalah singkatan dari Perhatian. Ini adalah elemen pertama yang harus dijawab dalam sebuah Ad Research, yaitu tentang seberapa potensialnya iklan ini mendapatkan perhatian target market jika sudah tayang. Dan kita juga harus menjawab: perhatian seperti apa yang didapat dari iklan ini? Itu yang nanti harus dipertimbangkan dampaknya pada brand image secara keseluruhan. Kalau masih ingat, beberapa tahun lalu ada iklan dengan talent seorang aktivis perempuan yang mengeong. Ini contoh iklan yang aktif-negatif.. membuat orang kesal atas kesan “mesum” dan membicarakannya dimana2. Atensi terhadap iklan ini tinggi, dan mungkin mampu mendongkrak penjualan produk yang diiklankan tersebut. Namun.. kalau iklan seperti ini digunakan untuk produk yang sudah established, bisa2 malah back-fire menurunkan image produk tersebut.

Mer, alias Merk, adalah elemen yang menjawab seberapa cocok iklan tersebut dengan produk yang diiklankannya. Nggak ada gunanya juga punya iklan yang menarik perhatian, mudah di-recall oleh target market, tapi target marketnya nggak ingat produk apa yang diiklankan ;-) Bisa2 malah secara nggak langsung mengiklankan produk kompetitor.. hehehe.. Rugi bandar deh ;-) Seperti misalnya sebuah iklan Phone Banking yang [katanya] sering kali disalahasosiasikan penonton sebagai iklan kartu pra-bayar; lantaran adegannya berkutat pada pertukaran SMS dan didominasi warna tertentu ;-)

KoSa, alias Komunikasi dan Massa. Di sinilah baru detil2 komunikasi itu dibicarakan, dan dikaitkan secara langsung dengan penangkapan “massa”, yaitu the target market. Termasuk di antaranya tentang seberapa baik iklan ini menyampaikan pesan yang ingin disampaikan mengenai produknya, bagian mana yang menjadi key scene atau key appeal dari iklannya, bagian mana yang menjadi major concern, juga kredibilitas dan relevansi iklan tersebut dengan target marketnya. Jika Pe dan Mer lebih menekankan pada sisi kinerja iklan dalam mendapatkan awareness target market saat bersaing dengan iklan2 lainnya, maka KoSa adalah detil2 yang pengaruhnya paling besar pada pembentukan niat membeli. PeMer-nya bagus, kalau KoSa-nya nggak bagus.. ya orang cuma aware sama iklannya doang, tapi nggak tertarik cari informasi lebih, apalagi beli, barangnya ;-)

Pretty standard, eh? Terus terang, kalau cuma tes iklan, gw rasanya bisa ngerjain sambil merem.. HAHAHAHA.. Beda banget sama motivational research yang kadang2 bikin gw nangis darah plus garuk2 aspal ;-).

Tapi.. ya seperti gw bilang di atas, proses analisa dan rekomendasi Ad Research ini tergolong tricky. Terutama sekali kalau Ad Research ini sifatnya Pre-test, alias iklannya masih berupa konsep dan belum ditayangkan. Boro2 ditayangkan, kadang2 konsepnya saja masih berupa storyboard, alias rangkaian sketsa yang menggambarkan adegan demi adegan. Biasanya pre-test ini dilakukan untuk menguji beberapa alternatif yang diajukan biro iklannya, dan mencari satu yang paling potensial dikembangkan. Atau.. bisa saja biro iklan dan brand management-nya sudah punya satu konsep, namun ingin memastikan dulu apakah konsep itu dapat diterima oleh target market (khususnya) dan masyarakat (umumnya). Daripada sudah keluar biaya besaaar untuk produksi iklannya.. eeeh.. baru tayang sekali dua kali udah didemo, kan mendingan dievaluasi awal dulu.

Nah.. dalam membuat keputusan seperti inilah letak ke-tricky-an analisa dan rekomendasinya.

Pertama2, yang bikin tricky, adalah stimulus yang belum sesuai aslinya. Bisa jadi imajinasi orang terhadap konsepnya bagus karena tiap adegan diceritakan secara detil. Namun, ketika iklan itu sudah jadi, dengan adegan2 yang rapat dan cepat, maka penangkapan orang tidak sejalan dengan hasil tes-nya. Antara konsep dan eksekusi itu seringkali ada kesenjangan yang membuat hasil tes dan hasil tayang iklan berbeda. Makanya.. biasanya, selain ada pre-test, biasanya studi yang komplit melibatkan juga post-test setelah iklan itu tayang. Atau kadang2 pre-testnya beberapa tahap; ada tahap storyboard, tahap animatic, tahap sebelum tayang (tapi iklannya sudah jadi). Yah, tergantung kebutuhan klien dan value product-nya buat perusahaan aja deh ;-).

Yang kedua, yang bikin tricky, biasanya kita melakukan Ad Research pada target market yang kita inginkan. Target market ini spesifik dari segi demografis dan psikografis. Nggak mungkin juga kita bikin riset mencakup seluruh komponen bangsa.. hehehe.. nggak efektif dari segi waktu, effort, dan biaya. Masalahnya.. walaupun iklan ini nantinya ditujukan untuk target market tertentu, iklan ini juga akan ditonton oleh yang bukan target marketnya. Dan jika terjadi kesenjangan harapan dan persepsi yang ekstrim antara target market dan non-target market, well.. bisa saja target marketnya beli, tapi iklannya didemo oleh yang bukan target market ;-)

Contoh kesenjangan harapan dan persepsi itu salah satunya begini: beberapa tahun lalu gw bikin penelitian tentang produk anti ketombe yang ditargetkan untuk remaja. Pada saat diujikan di kelompok remaja, baik remaja putri, remaja putra, remaja gaul, remaja nggak gaul, dan variasi2 remaja lainnya, maka hasilnya bagus. Pesan diterima dengan jelas, touch their emotional button. Saat iklan itu tayang, almarhum Bapak mendengus dan berkata,

“Itu iklan yang kamu cek kemarin? Iklan kok kayak gitu! Berlebihan ah! Mosok masalah ketombe aja kayak masalah hidup dan mati. Mbok bikin iklan itu yang mendidik, jangan malah remaja2 diajari untuk melihat seolah2 ketombe itu masalah hidup dan mati! Banyak yang lebih penting daripada urusan ketombe! Iklan sih iklan, tapi nggak usah mengada-ada begitu!”

Lho? Hehehe..

Waktu itu gw hanya cengar-cengir aja. Habis, mau ngomong apa coba? Bilang bahwa buat Bapak (saat itu in his 50s) bahwa buat remaja memang urusan ketombe adalah urusan hidup mati? Bahwa gara2 ketombe cowok/cewek yang ditaksir bisa kabur? Eh.. temen gw jaman SMA ada lho.. yang diputusin sama cowoknya gara2 ketombean ;-) Ya kalau Bapak tidak melihatnya seperti itu, itu karena Bapak sudah makan asam-garamnya hidup dan melihat bahwa ada banyak hal yang lebih penting daripada ketombe.. hehehe..

Itu contoh kesenjangan harapan dan persepsi, yang kebetulan nggak sampai pada level bahaya. Cuma bikin Bapak ngomel dan menganggap iklan itu mengada2. Contoh yang kesenjangannya besar juga ada, yaitu iklan Pro-XL versi Perempuan Berkaus Rp 1,-/detik ;-) Di kasus ini Mediawatch sampai mengajukan surat keberatan atas tayangan iklan itu dan.. kalau ditilik dari komentar2nya Aquino, iklan ini dilihat sebagian orang sebagai “ketidakpekaan terhadap ketertindasan perempuan [terutama secara seksual]” karena “menjual daya tarik perempuan” ;-)

Duh, “menjual daya tarik perempuan” memang gw setuju. Itu sebabnya yang dipajang adalah Shareen (?) yang cantik, plus di iklan TV-nya ada 2 perempuan cantik juga. Wajar, kalau yang ditargetkan adalah laki2, sosok perempuan cantik memang salah satu hal yang menarik perhatian saat melihat sebuah iklan. Namun.. apakah itu lantas “menjual” dalam arti harafiah bahwa harganya murah, terutama di bagian2 yang terkena angka harga tersebut? Hmm.. rasanya agak terlalu jauh kesimpulannya. Apalagi disimpulkan sebagai “ketidakpekaan ketertindasan perempuan [terutama secara seksual]”.

Gw lebih setuju pada apa yang dikatakan Intan dalam kolom komentar yang sama. Di dunia ini ada struktur belief umum yang menempatkan perempuan sebagai sesuatu yang menarik untuk dilihat, dan si produsen memanfaatkannya belief ini. That’s it. Mereka memanfaatkan kemenarikan si model to win the “Pe” aspect pada PeMerKosa Iklan ;-) Tapi untuk mengatakan bahwa elemen pesan yang ingin disampaikan pada aspek “KoSa” di PeMerKosa Iklan adalah “harga perempuan itu murah”, that’s a very long shot ;-) Itu masalah kesenjangan persepsi dan harapan saja ;-) Seperti Bapak yang hidupnya sudah penuh asam garam sehingga tidak melihat ketombe sebagai masalah hidup mati, mungkin sebagian orang yang sudah sangat concern terhadap tingginya angka “ketertindasan [seksual] perempuan” kurang dapat melihat bahwa kita bisa “menjual daya tarik perempuan” tanpa harus berkonotasi seksual ;-). Kesenjangan yang mengakibatkan pesan yang disampaikan tidak sesuai dengan pesan yang ditangkap, yang seharusnya diperhatikan oleh pihak pembuatnya, seperti kata Mappesona dalam kolom komentar yang sama ;-)

So.. this is the tricky part of analysing and writing recommendation for an Ad Research ;-) Kita mesti memperhatikan juga kemungkinan penerimaan orang2 di luar target market. Researcher yang cermat dan kenal betul karakteristik konsumen Indonesia mestinya sudah dapat mengantisipasi kemungkinan mispersepsi seperti ini saat pre-test ;-) Dan biasanya sih akan menawarkan sel analisa tambahan untuk mengujikan konsep iklan pada kelompok2 yang mungkin akan menunjukkan reaksi vokal keras. Setidaknya akan memperhitungkan ini dalam rekomendasinya.

Jadi.. entah ada kesalahan dalam segi risetnya (atau jangan2 nggak diriset ;-)?), atau risetnya sudah tepat namun pengambilan keputusannya tidak memperhatikan rekomendasi (bagaimanapun, riset cenderung memberikan rekomendasi yang bersifat ideal, yang seringkali tidak sejalan dengan pertimbangan bisnis atau pembuatan iklan), yang jelas terlalu jauh untuk menuduhkan pelecehan, ketidakpekaan atas ketertindasan, atau tuduhan2 heboh lainnya ;-). Keberatan sih boleh2 saja.. semua orang punya hak untuk berkeberatan atas segala sesuatu ;-). Tapi.. jangan mengatasnamakan keberatan kita untuk mengatakan bahwa yang tidak keberatan adalah tidak peka ;-) There is always possibility that we are the one who are overreacted ;-)

Yaw udah, sebagai penutup, pesan sponsor aja deh buat Pro-XL.. lain kali kerjasama dengan PeMerKosa Iklan yang nulis blog ini aja.. hehehe.. Ntar saya kasih introductory rate deh.. HAHAHAHA..

Monday, October 22, 2007

Kisah Sengsara

Cerita lagi tentang “sengsara” selama libur.. ;-)

Ada satu hal positif yang, kalau pelakunya adalah gw, terpaksa diklasifikasikan sebagai “lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya”. Kegiatan positif itu adalah... MEMASAK ;-)

Iya, gw tuh kalau disuruh memasak, mudharatnya sudah pasti: dapur jadi kotor, gw jadi senewen mau naruh buku resep dimana dan peralatan di mana, cucian piring jadi banyak. Sementara manfaatnya belum pasti ada, karena seringkali makanan yang gw masak itu tidak layak makan ;-) Terutama kalau gw masak daging2an ya.. nggak tahu gimana, seringkali bumbunya nggak meresap, atau dagingnya ternyata masih setengah mentah (Sumanto-style ;-)), .. pokoknya nggak layak makan aja! Kalau masak sayur2an berkuah, terutama yang bening, masakan gw masih lumayan sih. Bikin Sop Kacang Merah alias Brennebon (tulisan aslinya Bruinebonen, kata Jeng Tiwi. Thanx Jeng ;-))uga masih layak makan deh. Tapi.. kalau udah ayam goreng, empal, atau daging2an lain, I’m a pathetic cook ;-). Lha wong nggoreng chicken nugget aja sering gosong kok, atau sebaliknya: tengahnya kurang matang, sampai2 Ima nggak mau lagi gw gorengkan nugget ;-)

Untungg.. bapaknyaima tuh bukan model suami yang mengharuskan istrinya bisa masak. Biarpun masak-memasak itu bukan termasuk salah satu bagian dari multiple-intelligence, bapaknyaima tuh amat sangat sadar bahwa skor gw rendah banget di sini. Jadi dia nggak pernah maksa2 gw masak, walaupun jaman awal2 pacaran dulu sering disuruh masak sayur asem dan tempe/tahu bacem ;-). Dan nggak pernah juga dihakimi dengan kata2 bahwa gw ”kurang sepenuh hati” belajar masak, atau ”kurang all out”, atau labeling2 lain yang bikin sakit hati. Mungkin karena dia psikolog juga, kali ya.. jadi selalu melihat orang sebagai pribadi yang unik, nggak gampang2 melabel orang berdasarkan satu aspek saja ;-)

Naah.. karena I’m a hopeless cook, biasanya saat lebaran gini gw bungkus2 makanan dari rumah mertua atau rumah ibu. My mom cooks the best oxtail soup! Signature dish-nya ibu memang sop buntut, yang menurut gw jauh lebih enak daripada sop buntut di restoran2 mana pun yang pernah gw coba. Jadi, selain Opor Ayam dan Sambel Goreng Hati, Sop Buntut selalu tersedia sebagai hidangan lebaran. Biasanya, jauh2 hari gw sengaja supply buntut berkilo2 biar dimasak sekalian oleh ibu, terus.. pas lebaran, sengaja deh bawa Tupperware yang bessaaaaar buat ngangkut hasilnya ;-). Kalau mendiang ibu mertua gw memang suka dan cukup jago memasak. Self-actualization beliau memang di situ ;-) Makanya, waktu beliau masih ada, beliau senang sekali kalau gw ”mengangkuti” masakannya saat lebaran.

Yang jadi masalah.. lebaran tahun ini sedikit berbeda :-(

Gw nggak bisa mengangkut Sop Buntut karena buntut sapi (yang sangat berlemak itu ;-)) merupakan salah satu sumber peningkat tekanan darah yang harus gw hindari. Dari rumah mertua gw juga nggak ada yang bisa diangkut sejak Mama meninggal :-(

Jadilah.. liburan lebaran ini menjadi hari2 yang sangat menyiksa gw. Mau masak sayur, tukang sayur belum pada jualan. Mau masak daging? Ya itu tadi.. yang lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya kan lebih baik dihindari ;-) Terpaksalah menu gw berkisar pada telur rebus, telur mata sapi, telur dadar, scramble egg.. paling ganti jadi tempe goreng atau tahu goreng. Sayur2an juga paling menggerogoti tomat segar atau merebus fresh vegetables yang dijual plastikan itu. Yang lain2 gw nggak berani makan, apalagi processed food yang pasti sudah mengandung garam dan seringkali juga vetsin.

Setelah beberapa hari, mual juga gw lihat makanan2 ini. Maka gw mulai males makan, yang mengakibatkan mual2 gw tambah parah.. hehehe..

Di saat gw udah putus asa, makan-segan-lapar-tak-mau, kebetulan bapaknyaima dapat referensi sebuah restoran vegetarian yang lokasinya nggak seberapa jauh dari rumah. Namanya Te He Restaurant, di dekat Gading Food City. Di restoran ini, karena melayani kebutuhan vegetarian, sama sekali nggak ada produk hewani yang digunakan. Bapaknyaima sempat ke sana untuk memesan beberapa menu dengan membawa garam diet andalan gw.

*OOT dulu: Yup! Sekarang gw udah kayak Timun Mas, kemana2 bawa ”segenggam garam”. Fungsi utamanya sih untuk pesan ketoprak atau gado-gado, tapi mungkin bisa juga sebagai senjata kalau ketemu Buto Ijo. Tinggal dilempar, nanti terbentang laut yang menenggelamkan Buto Ijo ;-)*

Eh... ternyata, the beauty of this vegetarian restaurant adalah: mereka juga nggak pakai garam serta vetsin sama sekali! Jadi.. garam diet gw nggak diperlukan, karena semua masakan diracik secara alami. Gw nggak tahu apakah hanya Te He yang nggak pakai garam, atau ini prosedur standar di semua restoran vegetarian; seingat gw sih tahun 1999-2000 waktu sering membelikan almarhum bapak masakan vegetarian, garam bukanlah sesuatu yang dihindari.

Well.. dari segi rasa masakannya sendiri sih lumayan. Bebeknya ya rasa bebek, ayamnya ya mirip ayam, dan.. kambingnya ya mirip kambing ;-). Gw pesen satu porsi Kambing Guling, dan rasaya memang persis seperti di kondangan2 ;-). Cuma.. jangan berharap banyak dari tekstur dan tampilannya ya! Tampilannya mirip dendeng semua, cuma rasanya aja yang beda2. Hal ini berbeda dengan apa yang gw beli untuk almarhum bapak dulu (di restoran vegetarian di Sunter yang sekarang kayaknya udah tutup): dimana ikannya dibentuk mirip ikan, ayamnya mirip ayam, dll.

Nggak papa deh, penampilan kan bukan segalanya.. hehehe.. Lagian, dengan penampilan yang standard seperti itu, gw malah bisa main StarTrek2an ;-) Kan.. kalau di Star Trek, sekian bulan di luar angkasa nggak bisa bawa ayam beneran. Semuanya artifisial seperti menu2 ini. Dengan rasanya yang mirip daging beneran, setidaknya rasa kangen gw terhadap makanan enak sedikit terobati ;-) Gw nggak harus nunggu April 2008 untuk bisa menikmati daging kambing atau sambal.

Yang timbul malah pikiran iseng: kalau masakan daging babi di restoran ini kira2 hukumnya halal atau haram ya? Kan nggak mengandung babi beneran.. HAHAHAHAHA.. Sayang, keusilan gw tidak bisa terjawab karena toh restoran ini cukup ”santun” untuk tidak menghidangkan daging babi. Biarpun cuma babi2an vegetarian ;-)

*Catatan: mertua gw melotot waktu dengar ide iseng gw. Katanya.. biarpun babinya nggak mengandung babi, kalau niatnya nyobain daging babi, yang halal itu jadi haram ;-) Semua bermula dari niat ;-)*

Tapi.. ada kurangnya juga sih restoran ini. Kekurangan pertama adalah: nasi uduk yang dihidangkan (saat gw makan di sana) ternyata kurang matang. Entah karena memang biasanya begini, atau human error karena kekurangan staf. Moga2 aja karena faktor yang terakhir itu ;-)

Dan.. kekurangan kedua: restoran ini belum punya menu sashimi! Padahal, dari sekian jenis makanan hewani, yang paling gw kangeni adalah sashimi ;-). Setidaknya nigiri ;-) Moga2 kalau ntar gw kesana lagi, mereka sudah menemukan teknologi untuk membuat rasa ikan mentah ;-)

Duuh.. kangen sashimi dan nigiri ;-)

Saturday, October 20, 2007

Heroes Return

SPOILER WARNING:

Entry ini terlarang bagi mereka yang masih sabar nggak mau berburu Heroes season 2 yang baru keluar 4 episode ;-)

Baru beberapa jam lalu selesai nonton episode ke-4 Heroes season 2. Ceritanya masih seru, karena banyak action-nya ;-) Dan action-nya nggak gebug2an kayak film2nya Jean-Claude van Damme; lebih mirip sci-fi walaupun dengan goofs di sana-sini ;-).

Dari segi physical attraction.. hmm.. di season 2 ini Peter Petrelli kelihatan lebih sexy.. hehehe.. Yaah, udah agak deket lah sama Ricky Martin waktu nyanyi La Copa de la Vida yang selama ini jadi referensi gw tentang cowok sexy ;-). Milo Ventimiglia, pemerannya, pasti menghabiskan masa rehat antar season di gym. Work out, all out, untuk mengubah tampilan dari si kurus-begeng-tidak-tinggi menjadi si seksi-berisi-walaupun-masih-nggak-tinggi ;-) Atau bisa juga sih work out-nya nggak all out, tapi karena metabolismenya bagus, makanya hasilnya bagus juga ;-)

Uuuh.. enough talking about the hunky boy ;-) Kalau diterusin, bisa2 blog gw disomasi karena melakukan pelecehan terhadap pria.. hehehe..

Ngomongin ceritanya aja deh.. ;-) Season 2 ini berlatar belakang Four Months Later. Sebagian heroes yang kita kenal di season sebelumnya sedang playing low, seperti the Bennets dan Nikki. Sebagian lagi terlempar dalam situasi yang nggak memungkinkan mereka berbuat banyak; entah karena terlempar ke tahun 1600-an seperti the chubby Hiro Nakamura, atau amnesia seperti Peter Petrelli.

TAKEZO KENSEI = MIYAMOTO MUSASHI?

Berbeda dengan season 1 yang ceritanya tergolong orisinil, di season 2 ini gw merasa mereka banyak mengadopsi cerita dari superhero lainnya. Seperti kisah Hiro yang bertemu Takezo Kensei, jagoannya dari masa silam. Tadinya gw nggak ngeh siapa Takezo ini, tapi.. search engine di kepala gw mulai mengaduk2 laci ingatan setelah adegan di Desa Otsu. Then everything falls into place; Takezo adalah nama asli Miyamoto Musashi saat masih jadi bandit. Dalam legenda, Takezo mengubah namanya menjadi Musashi (yang sebenarnya memiliki Kanji serupa dengan Takezo), setelah mendapatkan pencerahan. Otsu, dalam cerita Musashi (tulisan Yoshikawa Eiji), bukannya sebuah desa, namun nama gadis yang bikin Musashi cinta mati ;-)

Bukan hanya nama saja yang diadopsi dari legenda Musashi, melainkan juga cerita. At least, gw sih ngerasa bagian cerita tentang Takezo Kensei melawan 90 angry ronins itu mengingatkan gw pada adegan Musashi menantang tarung di Perguruan Yoshioka. Bahkan, pemilihan tahun 1600-an pun mengadopsi apa yang dipercayai tentang masa hidup Miyamoto Musashi: 1584 – 1645 ;-) Kalau gw gak salah ingat, Hiro terlempar ke tahun 1641, tepat di masa hidup Musashi ;-)

Yang lucu, Takezo Kensei digambarkan sebagai seorang Inggris yang terdampar di Jepang. Mengingatkan gw pada si Anjin-San (siapa ya, nama aslinya si kapten ini?) dalam novel Shogun karya James Clavell. Lucu banget, karena:

Musashi seakan merupakan jawaban Jepang terhadap Shogun yang dalam beberapa hal memang sengaja memanipulir sejarah

(Yoshikawa, 2003, MUSASHI, edisi Bahasa Indonesia, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, halaman ix)

Jadi.. setelah Jepang mengembalikan sejarahnya yang sedikit dipelintir dalam Shogun, sekarang the American strikes back dengan mengembalikannya lagi ke jalur Shogun ;-) What a parody ;-)

WEST = SUPERMAN?

Bagian lain yang tampak merupakan adaptasi adalah the new hero West, pacar Claire Bennet di season 2. West punya kemampuan terbang, dan terbangnya seperti Superman. Well, maksud gw, di season 1 kan juga banyak tuh yang bisa terbang, ada Nathan & Peter Petrelli, ada the Invisible Man yang gw lupa namanya.. tapi semuanya terbangnya dalam posisi tubuh vertikal. Beda dengan West yang terbangnya dalam posisi tubuh horisontal.

Waktu West menggendong Claire dan membawanya terbang, adegannya persiiiis banget seperti Superman muda di Smallville menggendong Lana. Udah gitu, tampang pemeran West juga sebelas dua belas dengan Clark Kent remaja di film itu.

Well.. kita tunggu aja kemiripan2 selanjutnya, dengan Musashi, Superman, atau superhero lain ;-) Siapa tahu berikutnya tampil hero baru yang mengingatkan kita pada Si Buta dari Gua Hantu, Gundala Putra Petir, atau Dana Anak Ajaib ;-)

*Buat yang nggak kenal nama2 ini, coba tanya papanya tentang jagoan2 lokal tahun 70-an ;-)*

***

Walaupun gw nggak berharap menemukan points to ponder dalam film seri ini, ternyata ada beberapa kutipan yang berkesan buat gw. Kutipan2 yang mau nggak mau bikin gw merenung.. hehehe.. Well, mungkin kutipannya biasa2 aja sih, tapi karena suit my mood, jadinya rrruar biasa ;-) Nempeeeelll terus di kepala gw ;-)

Yang pertama kutipan percakapan Sylar & Candice. Ohya, it turns out bahwa bukan kecoak yang menyelamatkan Sylar di season 1, melainkan Candice. Tapi nggak tahu juga ya, kalau si Candice itu menyamar jadi kecoak saat menyelamatkan Sylar.. hehehe.. kan Candice bisa morphing menjadi apa saja ;-). Percakapannya terjadi saat Sylar menyadari seluruh kekuatannya hilang:

Candice: Don’t worry, we’ll get your power back. I’ll help you.

Sylar: How can you help me? By frying me more eggs?

Candice: By making it easier

[Candice berubah wujud menjadi manusia apa pun yang bisa lurking calon korban Sylar into trap]

Hehehe.. ngerti sih, mungkin standard dan definisi membantu antara Sylar dan Candice berbeda. Buat Sylar, nggak mungkin Candice bisa bantu apa2, wong si korban harus dibunuh sendiri oleh Sylar. Cuma bisa lurking the prey? Itu sih buat Sylar namanya nggak all out ;-)

Makanya, gw seneng banget ketika adegan berlanjut demikian:

Sylar: Yes, you’re right. I’ll get my power back. Starting with yours.

[Sylar membunuh Candice, dan – tidak seperti biasanya – kekuatan Candice tidak berpindah ke dirinya]

Yaah.. Sylar, memang ada banyak cara membantu. Tidak semua2nya harus sesuai dengan apa yang ada dalam pikiranmu. Nggak bisa membantu mengembalikan kekuatanmu, bukan berarti satu2nya cara dia membantu adalah dengan menjadi korban. Everything has its own purpose, and strength as well as weaknesses, yang mungkin nggak terpikir oleh kita sekarang ;-). Jadi, lain kali, kalau ada yang bilang mau membantu kamu, jangan buru2 dianggap satu2nya kemungkinan lain adalah untuk dijadikan korban. Itu namanya prejudice ;-)

Kutipan kedua yang gw sukaaaa banget adalah ketika West & Claire pacaran di atas tulisan Hollywood. Waktu itu West minta Claire meloncat ke bawah, seperti apa yang sering dilakukan Claire dulu ketika mencoba menghilangkan kemampuannya beregenerasi. Claire, tentu saja heran dan ragu2 menuruti.

West: You can share it with me, but I can’t help you if you don’t trust me.

[Akhirnya Claire meloncat, dan sebelum tubuhnya mencapai tanah, West menangkap dan membawanya terbang. Superman-style ;-)]

Claire: You catch me?

West: Of course I do. I know you can regenerate, but I don’t want to see you hurting yourself

Lepas dari sisi romantisnya, I can’t help thinking: untuuunggg yang nyuruh loncat adalah West, yang kekuatannya adalah bisa terbang seperti Superman. Coba kalau yang di puncak bersama Claire itu Isaac Mendez! Apa nggak si Claire ini jatuh sampai tanah dan harus regenerasi sendiri ;-)?

Terus.. gw jadi mikir juga: in that case, kalau yang nyuruh Claire loncat adalah Isaac Mendez, si pelukis yang bisa melihat masa depan itu, apakah itu artinya Isaac Mendez untrustworthy? Karena Isaac nggak bisa menangkap Claire seperti West? Karena kekuatannya Isaac adalah mampu melihat bahwa walaupun Claire jatuh, di bawah itu cukup aman baginya untuk melakukan regenerasi, sehingga cukup aman bagi Claire untuk jatuh tanpa harus mati?

Kasihan juga ya, Isaac Mendez, kalau trustworthiness-nya ditentukan oleh Claire dari apa yang bisa dilakukan orang lain. Bukan ditentukan oleh apa yang bisa dilakukan Isaac Mendez ;-) Tapi nggak papa juga sih.. itu sepenuhnya hak Claire toh ;-)? Ya kalau Isaac Mendez nggak suka, nggak ada kok yang maksa dia dekat2 Claire. Daripada pusing kepala dan bikin hipertensi ;-)

***

Wuiiih.. jadi panjang juga ya? Padahal hanya berdasarkan 4 episode lho.. HAHAHAHA.. Belum berdasarkan the whole season ;-) Ya udah, karena udah puaaanjang, pembahasan tentang bonus di DVD-nya (unaired pilot episode) nggak gw bahas ;-) Kapan2 aja .. kalau dapat mood-nya ;-) Dengan catatan: nggak janji deeeeh ;-)

Thursday, October 18, 2007

Sistem Kalender

Catatan:

Entry ini bukan membahas alat KB, walaupun judulnya mirip2, dan as you know, gw lagi hamil. Jakarta-Oslo deh dari alat KB, biarpun kalau mau dipaksain, bisa juga sih kali, dijadiin alat pencegahan kehamilan ;-)

Ini screen-saver mode: ON (baca: hiatus) gw yang terlama, kayaknya. Bahkan sebelum hiatus nggak sempat nulis posting selamat lebaran, lantaran sampai detik2 terakhir Kamis sore, 11 Oktober 2007, masih “dipacu dan didera”. Ada klien yang ngotot mau nge-brief discussion guide hari itu (padahal projectnya baru jalan tanggal 25 Oktober ;-)), ada klien yang tiba2 minta product test yang sudah dirancang jalan tanggal 22 Oktober (hari pertama masuk setelah bencana nasional cuti bersama!), tiba2 minta mundur. Alasannya memprihatinkan: produk yang mau di-tes, yang dikirim dari negeri antah-berantah, tertahan di bea cukai sampai habis lebaran. Kayaknya pegawai bea cukai pada cuti lebih awal.. hehehe.. Yaaah.. dari awal memang sudah nggak terlalu yakin product test-nya bisa jalan tanggal 22 Oktober. Terlalu banyak faktor tak terduga menjelang lebaran gini. Tapi.. karena klien minta tanggal segitu, ya we had to do our best toh? Giving 120% effort to the client ;-)

Akhirnya, setelah segala hiruk pikuk itu, jadi juga gw libur lebaran. Lebarannya ikut yang hari Jumat, 12 Oktober. Bukannya ikutan Muhammadiyah, tapi ikutan bapaknyaima.. hehehe.. kan katanya suami itu imam keluarga toh ;-)?

*Menjawab pertanyaan yang belum [tentu] ditanyakan: ya, ya, gw tahu. Kalimat terakhir itu kedengarannya bokis banget kalau keluar dari mulut gw.. HAHAHAHA.. Tapi kalimatnya keren toh, jadi diem aja ya.. jangan pada protes :-p *

Naah.. bapaknyaima emang selalu ngambil lebaran yang duluan, nggak perduli yang duluan itu Muhammadiyah atau NU. Beda dengan mertua gw yang selalu ikut apa kata NU, nggak perduli lebarannya duluan atau belakangan ;-) Soalnya bapaknyaima pakai dalil bahwa puasa di hari Idul Fitri itu haram. Jadi.. kalau ada yang yakin hari itu sudah lebaran, mendingan ikut lebaran. Kan daripada puasa hari terakhirnya haram, mendingan puasa Ramadhannya dihitung kurang sehari. Toh bisa diganti di hari lain kalau lebaran yang lebih awal itu nantinya terbukti tidak valid ;-)

Ngomong2 soal lebaran yang beda2 hari gini, buat gw sih nggak masalah. Yang satu pakai perhitungan matematis, yang satunya lagi berdasarkan bukti otentik.. dua2nya sah saja. Kalau terjadi dispute.. lha, ya memang perhitungan matematis itu nggak selalu seiring sejalan dengan bukti otentik. Toh, perhitungan statistik selalu menyisakan tempat buat error kan ;-)?

Yang lebih mengganggu the so called scientific mind gw adalah pertanyaan si Mbot beberapa hari menjelang lebaran: kalau rukyah dan hisab beda, kenap-nap 1 Muharram bisa kompak? Titik konversinya dimana?

Waktu pertama kali membaca entry-nya si Mbot, gw sempat mau sok pintar berkomentar: soalnya bulan Ramadhan itu kayak Februari di penanggalan Gregorian, bisa 29 hari atau 30 hari, nggak pasti. Tapi untung gw gak sempat komentar.. hehehe.. soalnya gw keburu nyadar bahwa itu nggak menjawab pertanyaan ;-)

Dan sejak itulah gw terobsesi mencari jawabannya.. hehehe.. Pertanyaan itu terngiang2 di kepala gw sepanjang bencana nasional cuti bersama libur lebaran.

Kalau di kalender Gregorian, kan jelas tuh bahwa ada perbedaan ¼ hari setiap tahunnya. Supaya nggak mengganggu hari, dan tahun baru dirayakan tengah malam setiap tahunnya (gak tahun ini jam 12 malam, tahun depan jam 6 pagi, tahun depannya lagi jam 12 siang, tahun depannya lagi jam 6 sore), makanya diputuskan ada tahun Kabisat, dimana 4 thn sekali 4 x ¼ hari ekstra itu digabung menjadi tanggal 29 Februari. Jadi, titik konversinya adalah tanggal 29 Februari pada tahun Kabisat.

Di penanggalan Jawa, yang pakai sistem lunar, titik konversinya juga jelas. Jelas, walaupun njelimet ngitungnya.. hehehe.. Titik konversi ini muncul 8 tahun sekali, makanya 8 tahun atau sewindu itu penting bagi masyarakat Jawa. Pada akhir tahun ke-8, tanggal, hari, dan pasaran yang sama bertemu lagi untuk pertama kalinya, setelah melewati 2835 hari, alias 81 x 35 hari, alias 81 x 7 hari x 5 pasaran. Jadi kalau tanggal 1 Sura jatuh hari Minggu Pon, maka 8 tahun lagi baru tanggal 1 Sura itu jatuh pada Minggu Pon.

Persisnya, kalender Jawa menggunakan tabel seperti berikut ini. Nggak usah sok heroik mau menghafalkan ya.. bisa pusing ;-) Wong gw juga nggak ngapalin kok, cuma nyalin dari buku warisan eyang putri gw ;-)

Bulan

Tahun

Alip

Ehe

Jimawal

Je

Dal

Be

Wawu

Jimakir

Sura

30

30

30

30

30

30

30

30

Sapar

29

29

29

29

30

29

29

29

Mulud

30

30

30

30

29

30

30

30

Bakda Mulud

29

29

29

29

29

29

29

29

Jumadilawal

30

30

30

30

29

30

30

30

Jumadilakhir

29

29

29

29

29

29

29

29

Rejeb

30

30

30

30

30

30

30

30

Ruwah

29

29

29

29

29

29

29

29

Pasa

30

30

30

30

30

30

30

30

Sawal

29

29

29

29

29

29

29

29

Sela

30

30

30

30

30

30

30

30

Besar

29

30

29

30

30

29

29

30

1 Windu

Jumlah Total

354

355

354

355

354

354

354

355

2835

Nah.. kalau kalender Hijriyah, titik konversinya dimana ya? Masih belum terjawab nih.. walaupun gw udah browsing kemana2.. hehehe.. Browsing ke sini, ternyata nggak terjawab. Waktu googling dengan kata kunci “1 Muharram sama 1 Syawal beda”, gw dapat 505 tautan yang tidak satupun menjawab secara memuaskan (well, setidaknya dari sekian yang gw baca secara random nggak memberi penjelasan memuaskan)

Ada yang tahu nggak? Ini pertanyaan serius!

Jawaban yang paling dekat sih seperti komentar dennybaonk di entry-nya Mbot:

Mungkin teknisnya gini : Kalau M menetapkan ramadhan 29 hari, (1 Syawal katakan jatuh 12 Okt), maka bulan berikutnya, Dzulkaidah diset 30 hari, sementara si N yang menetapkan ramadhan 30 hari (1 syawal 13 Okt), maka bulan Dzulkaidah diset cuma 29 hari. Atau kalau enggak ya dibulan Dzulhidjah-nya. Yang penting 1 Muharram jadi klop :D

Tapi, buat pastinya, ada yang bisa kasih jawaban nggak? Plus alasannya, kenapa Dzulkaidah atau Dzulhidjah yang di-set satu hari lebih lama? Rumusnya apa? Menentukan Dzulkaidah atau Dzulhidjah yang ditambah harinya gimana?

Itu pertanyaan pertama dan utama yang harus dijawab ;-)

Pertanyaan bonusnya kalau mau dapat nilai lebih tinggi juga ada, yaitu berkaitan dengan sistem kalender Cina. Dari dulu gw pingin tahu: kenapa kalender Cina, yang menggunakan perhitungan lunar, kok Imlek selalu jatuh di sekitar Februari pada penanggalan Gregorian? Mestinya, kalau konsisten dengan sistem lunar, kan Imleknya bisa ganti2 bulan seperti lebaran toh?

Tadinya ada pertanyaan bonus kedua, tapi nggak jadi gw tanyain karena keburu dapat jawabannya. Pertanyaannya: kenapa Rabu Abu, Kamis Putih, Jumat Agung, dan Minggu Paskah itu tanggalnya beda2 setiap tahun, sementara Natal selalu sama? Tapi kayaknya gw udah tahu jawabannya: sebab nggak mungkin dong Rabu Abu jatuhnya hari Kamis. Inkoheren ;-) Jadi untuk perayaan Paskah memang yang dipentingkan adalah harinya, bukan tanggal persisnya ;-)

Anyway.. sekedar pertanyaan iseng nggak penting yang baru terpikir gara2 nulis catatan di awal entry: gimana ya, kalau ber-KB sistem kalender, tapi kalender yang dipakai adalah salah satu penanggalan lunar? Hehehe.. Kira2 faktor kegagalan dan keberhasilannya berapa ya? HAHAHAHA..

Pertanyaan terakhir nggak usah dijawab! Kurang kerjaan banget kalau iseng2 njawab ;-) Yang penting, sekarang gw mau mengucapkan apa yang nggak sempat terucapkan sebelum libur:

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H

Mohon dimaafkan segala kesalahan yang pernah terpikirkan, terkatakan, dan terlakukan