Monday, October 08, 2007

The Complexes

Dalam tulisan terbarunya, Fertob mentahbiskan gw sebagai “penganut” mazhab baru: Mazhab Siletiyah ;-) Duuuh.. tersanjung deh, selama ini gw kira gw hanya berjalan mengikuti jejak para psikoanalis kondyang. Ternyata.. bukan saja diakui sebagai penerus mereka, eeeh.. malah diterima sebagai mazhab baru ;-)

Kenapa gw merasa berjalan di jalur psikoanalisa? Well.. salah satu alasannya adalah: karena dalam 1 tahun terakhir ini gw menemukan beberapa complex yang mungkin bisa melengkapi complex-complex lain yang sudah ditemukan oleh pakar2 tersebut.

Complex, kalau bisa diterjemahkan dengan bahasa sederhana seperti pada tautan Wikipedia di atas, adalah ”sekumpulan dorongan bawah sadar yang kuat yang mendasari tindakan2 seseorang yang tidak bisa dijelaskan”. Opa Freud, misalnya, pernah bicara tentang Oedipus Complex: suatu tahap perkembangan psikoseksual dimana seorang anak melihat ayah sebagai saingan dalam mendapatkan cinta ibunya. Kakek Jung kemudian membedakan oedipus complex (yang terjadi pada anak laki2) dengan Electra Complex yang terjadi pada anak perempuan. Dalam perkembangan selanjutnya, Oom Adler mengemukakan Inferiority Complex, atau dikenal juga dengan Short Man Syndrome, yang menggunakan tingkah polah Napoleon sebagai patokan. Napoleon, Kaisar Perancis yang semampai ini, konon kabarnya bisa jadi overachiever begini karena rendah diri terhadap tinggi badannya.

Di masa yang lebih modern sedikit.. ada juga sebutan Cinderella Complex. Yang ini sebenernya gw nggak yakin masih bisa dibilang bagian dari psikoanalisa atau simply psikologi populer, but I like the concept ;-). Complex ini menjelaskan fear of success pada [sebagian wanita] yang disebabkan karena, unconsciously, mereka menunggu “diselamatkan” oleh pangeran. Lagu kebangsaannya: someday my prince will come, someday I’ll find the love, and away to his castle we’ll go to be happy forever..

*Catatan: itu lagu dari Snow White and the Seven Dwarfs, sih.. tapi nggak papa deh. Cinderella dan Snow White kan sebelas dua belas ;-)*

Anyway.. itu tadi sekedar pembukaan nggak penting ;-) Yang penting adalah beberapa complex yang gw temukan dalam 1 tahun terakhir ini ;-)

Ada tiga complex baru yang gw temukan: Hiro Nakamura complex, Sangkuriang complex, dan yang terakhir Roro Jonggrang complex.

Hiro Nakamura Complex dinamai berdasarkan salah satu tokoh dalam serial televisi Heroes. Dalam serial itu, Hiro Nakamura adalah seorang pria tidak tampan yang punya kemampuan untuk menghentikan waktu. Naah.. seseorang dapat didiagnosa menderita Hiro Nakamura Complex jika melakukan hal2 yang menyebabkan terhentinya waktu. Misalnya saja: memiliki dorongan tak terkendalikan untuk menyekat jalur jalan2 di Jakarta untuk jalur busway, sehingga setiap pengendara mobil mengalami terhentinya waktu untuk beberapa saat (baca: jam) manakala melintas di jalan raya.

..jangan heran kalau JORR mengalami macet parah akibat disekat untuk koridor ke sembilan ratus sekian..

Sangkuriang Complex dinamai berdasarkan tokoh dalam legenda nusantara yang terkenal. Meskipun Sangkuriang kerap disebut sebagai Oedipus versi Indonesia, Sangkuriang Complex ini jauhnya Jakarta – Beijing dengan Oedipus Complex. Gejala yang muncul untuk gangguan ini adalah: keinginan tak terkendali untuk menciptakan danau dalam sehari semalam. Contohnya saja: mengubah Jakarta menjadi danau hanya dalam waktu satu malam.

Gangguan ini bisa saja berdiri terpisah dari Hiro Nakamura Complex, namun.. bisa jadi juga berkaitan erat. Kalau berdasarkan satu2nya subyek yang diamati dalam satu tahun terakhir, tampaknya ada hubungan erat antara kedua complex ini; walaupun masih harus diuji lebih lanjut apakah hubungannya bersifat korelasi atau sebab-akibat ;-).

Yang terakhir adalah Roro Jonggrang Complex. Seperti juga Roro Jonggrang yang minta dibuatkan 1,000 candi dalam waktu sehari semalam, penderita gangguan ini terobsesi untuk dibuatkan 1,000 bangunan dalam kurun waktu tertentu. Contoh yang paling gres: minta dibangunkan sekian koridor busway sebelum masa kepemimpinannya berakhir. Oleh karena itu, biarpun suksesornya sudah terpilih, beliau ngotot surotot untuk menyelesaikan sekian banyak koridor lagi.

Penderita gangguan ini disarankan untuk tidak dibawa melewati jalan tol, karena dikhawatirkan akan merasa tertekan melihat jalan tol yang belum disekat untuk menjadi koridor tambahan. Jadi.. jangan heran kalau dalam beberapa bulan ke depan JORR, Tol Cipularang, Tol Jagorawi, dan tol2 lainnya mengalami macet parah akibat disekat untuk koridor ke sembilan ratus sekian.

..atas nama ilmu pengetahuan, rasanya nggak sabar menunggu subyek memenangkan pemilihan menjadi pucuk pimpinan tertinggi.. kita akan segera melihat kemunculan Gajah Mada Complex..

Menilik gejalanya, Roro Jonggrang Complex adalah bentuk yang lebih parah dari Hiro Nakamura Complex, dengan atau tanpa disertai Sangkuriang Complex. Gw menduga masih akan ada stadium berikutnya ;-) Oleh karena itu, atas nama ilmu pengetahuan, rasanya nggak sabar menunggu subyek pada case study gw ini memenangkan pemilihan menjadi pucuk pimpinan tertinggi. Demi ilmu pengetahuan, gw pingin tahu hipotesa mana yang akan diterima. Apakah dengan kemenangan tersebut seluruh complex akan hilang karena sudah mencapai yang diidamkan? (hehehe.. Kan ada asumsi bahwa kalau Napoleon sempat ikut ortopedi, mungkin inferiority complex-nya hilang ;-)). Atau.. justru, seperti kasus2 di serial televisi yang ini, the unsub will crave for more until someone stops him ;-)?

Naah.. kalau memang hipotesa kedua yang terbukti, gw menduga kita akan segera melihat kemunculan Gajah Mada Complex. Mohon diingat, Gajah Mada itu nama manusia lho ya, bukan sejenis gajah, apalagi yang warna pink. Gajah Mada Complex tidak mengacu pada kompleks ruko di bilangan Tebet atau di Jalan Gajah Mada ;-). Gajah Mada Complex mengacu pada keinginan yang tak terkendalikan untuk mempersatukan nusantara ;-) Dan karena complex ini adalah bentuk eskalasi dari Roro Jonggrang Complex, jangan heran kalau nanti ada koridor busway Jakarta – Jayapura, atau Jakarta – Lhoksemauwe ;-)

Dipikir2.. lucu juga ya, kalau udah ada koridor Jakarta – Jayapura? Kan lumayan bisa dolan ke Jayapura cuma bermodal Rp 3,500 saja ;-). Biarpun [meminjam kata temen gw] sampai Jayapura mungkin dengkulnya udah copot gara2 kelamaan berdiri.. hehehe.. Kan jalur segitu nggak perlu digeber sekali jalan, bisa keluar di Halte Kupang ;-)

Hehehe.. ya sudah, sambil menunggu pembuktian yang masih 2 tahun lagi, ada baiknya kita main tebak2an dulu aja. Sekalian mengisi waktu daripada tertekan kemacetan lalu lintas. Pertanyaannya: hayooo.. tebak.. dimana letak koridor busway 9 ¾ jurusan Jakarta – Hogwarts ;-)? Yang berhasil nebak dapat free ride busway seumur hidup ;-).

-------

Credit Title: ide tentang koridor di jalan tol dan koridor Jakarta – Jayapura didapat dari sebuah obrolan buka puasa di kantor, bersama my dear colleagues, sambil dengan putus asa menatap kemacetan Jl HR Rasuna Said yang makin parah setelah ada pembangunan koridor di Pancoran. Kalau koridor 9 ¾ sih taunya dari bapaknyaima ;-)