Tuesday, July 29, 2008

Imunisasi Penyedot Dana [bukti] Ibu Sayang Pada Anak

... disingkat IPD - ISPA ;-)

Dalam dunia kesehatan balita, singkatan itu memang benar2 ada. Namun kepanjangannya tentu berbeda. IPD adalah singkatan dari Invasive Pneumococcal Disease. Sesuai berbagai artikel ini, IPD adalah sekelompok penyakit yang disebabkan oleh bakteri pneumokokus (Streptococcus pneumoniae). Serangan infeksinya sangat cepat masuk ke dalam sirkulasi darah dan merusak (invasive), serta dapat menimbulkan meningitis (radang otak), pneumonia (radang paru), hingga infeksi darah atau radang telinga akut.

Lho, meningitis? Pneumonia? Kalau begitu, apa bedanya dengan HiB, Haemophilus influenzae type b? Virusnya beda, walaupun akibatnya bisa sama dan sama2 masuk melalui saluran pernapasan atas.

Jadi, walaupun bayi sudah mendapat imunisasi HiB, tetap disarankan mendapatkan imunisasi IPD. Disarankan banget... karena IPD ini bisa muncul dalam bentuk simtom2 yg dianggap nggak berbahaya. Simtom Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) biasa, yaitu batuk, pilek, dll.

Jaman Ima bayi dulu, IPD ini belum happening ;-) Gw nggak punya pengalaman sam-sek dengan vaksin ini. Tapi, karena dokternya Nara juga dokter anak yang ngurusin Ima sejak lahir, gw sih percaya2 aja sama rekomendasinya. Ditanya mau nggak Nara divaksin IPD (yang notabene bukan vaksin wajib), gw sih hayoook aja. Nggak nanya lebih lanjut. Gw pasrah bongkokan pada Pak Dokter ini ;-)

Well.. vaksin ini memang mencegah ISPA pada bayi. Tapi.. ternyata ada "efek sampingnya". Efek sampingnya adalah: membikin ibunya kena ISPA temporer ;-) Yep! Gw langsung sesak nafas, tersedak, dan susah menelan begitu disuruh bayar ongkos imunisasi ;-)


Yak! Kesalahan bukan pada layar monitor Anda, Saudara-saudara ;-) WYSiWYG ;-) Vaksin 0.5ml itu harganya satu jeti lebih, bow! Di luar ongkos dokternya ;-)

Dan yang lebih bikin keselek lagi, bow, vaksinnya ini berulang 3x setiap 2 bulan sekali.. hehehe... Serta 1x lagi booster di usia sekitar 15 bulan ;-) Do your math!

Pffff... moral of the story, saudara-saudara, adalah: teliti sebelum membeli ;-) Terutama telitilah jumlah digit harganya ;-)

Setelah tersedak di depan kasir, gw sempat browsing ke RS-RS lain, sekalian ke internet. Takutnya, harga segitu cuma di rumah sakit tertentu aja. Tapi... ternyata, harganya juga beda2 tipis di mana pun.

*Gw mulai bertanya2... dulu tulisan di atas pintu kamar bayi di RS tuh apa ya? Beneran tulisannya "Nursery"? Atau... jangan2 Lasciate ogne speranza, voi ch'intrate, seperti di gerbang inferno ;-)*

Emang sih, vaksin ini nggak wajib. Baca di internet, banyak juga ibu2 yg nggak mau ambil imunisasi ini. Justifikasinya: penelitian tentang IPD ini kan di luar negeri, jadi kumannya belum tentu sama. Hmmm... bener juga sih. Tapi.. kalau gw sih ambil aman aja! Siapa yang jamin juga vaksin yang dikembangkan di sana tidak mempan buat vaksin di sini kan?

Jadi... yaaah... kesimpulannya: demi anak, samudera kusebrangi, gunung 'kan kudaki, apalagi cuma bayar imunisasi. Yang lain dipangkas lagi, buat bayar imunisasi. Bubye DVD bajakan, bubye buku2 yg harganya mahalan (hmm... gw jadi bertanya2: jangan2 nyebrangin samudera dan mendaki gunung lebih gampang ya ;-)).

***

Hehehe... beberapa hari lalu ada yang nyebut2 Goin' to the Bank ;-) Waktu pertama kali dengar, gw lupa lho bahwa itu salah satu lagunya grup lawas The Commodores ;-) Cuma ingat pernah ada lagu berjudul itu. Maklum, gw lebih suka Thank You, yang ternyata kalah ngetop sama Three Times a Lady ;-). Thank You itu lagu jaman gw bangeeeet... iya kan, Na ;-)?

Anyway... kayaknya lagu Goin' to the Bank itu cucok sekali untuk ilustrasi musik entry ini.. hehehe... Yang mau sing-along monggo lhooo... ;-)

Goin To The Bank - The Commodores

He knows I want him
He knows I need him

He knows he got my love.
But I'm apprehensive
He's so expensive, boy!

...

Goin' to the bank
He got me goin' to the bank.
He keeps me runnin' to the bank
He got me
Got me.

...
"Can I help you today?"
"Yeah, I'd like to make another withdrawal"
"Again?"
"Yeah, again"
"Well, as you know by now, there is a substantial penalty for early withdrawal"

Now I'm afraid to see what tomorrow brings.
...
If love is just a big charge account
Why'd it have to be mine?


Lirik asli ada di sini ya ;-)

So... jelas kan, kenapa gw harus kerja? HAHAHAHA... Kalau sekarang ada yang nanya, buat apa sih gw kerja? Jawabannya jelas: buat bayar biaya imunisasi anak ;-)

Tapi.. buat yang belum punya anak, atau malah yang belum nikah, jangan jadi jiper punya anak ya ;-) Parenthood bukan inferno cuma mirip purgatory aja kok. Kan tinggal dicanangkan saja sejak sekarang:

Bing, beng, bang, yuk, kita ke bank!
Bang, bing, bung, yuk, kita nabung.
Tang, ting, tung, hey, jangan dihitung
Tiap bulan tahu-tahu dapat untung

Dari kecil kita mulai menabung
Sudah dewasa hidup beruntung
Mau k'liling dunia ada uangnya
Atau untuk membuat istana
Atau BAYAR IMUNISASI-nya

Jaman Tante Titiek Puspa bikin lagu ini, harga2 belum mahal. Imunisasi juga paling BCG doang, kalee. Jadi.. nabung tuh buat bikin istana ;-). Kalau sekarang mau bikin istana sih kudu nabung sampai mati, reinkarnasi, nabung lagi, baruuuuu bisa bikin istana ;-)

Saturday, July 26, 2008

Homo Bloggerensis

Beberapa hari lalu, gw diberi "award" berikut ini oleh Omme QQ :)


Tersanjung sekali sebenarnya, tapi... dengan sangat menyesal, mesti berlaku bak penerima Piala Citra tahun lalu (atau 2 thn lalu ya?) yang mengembalikan pialanya. Bukan apa2, gw nggak sanggup dengan persyaratannya :)

Jadi, penerima "award" diberi syarat sebagai berikut:
1) Put the logo on your blog.
2) Add a link to the person who awarded you.
3) Nominate at least 7 other blogs.
4) Add links to those blogs on yours.
5) Leave a message for your nominees on their blogs.


Doooh... ini persyaratan yang amat sangat berat buat gw... hehehe... karena secara tidak langsung disyaratkan untuk MEMBUAT SEBUAH BLOG ENTRY, dimana terdapat tautan pada blog si pemberi penghargaan dan 7 blog lainnya yang gw nominasikan. Berat, karena gw kalau nulis selalu nunggu mood. Nggak bisa dikasih tema harus nulis ini-itu.

Maafkan dakyu, ya Jeng. Nothing personal,.. hehehe.. ini bukan kali pertama gw menolak sebuah rantai tulisan. Sebelumnya, Bapaknya Advaya pernah mengulurkan matarantai yg senada... dan gw tolak juga ;-)

Yaah... gw memang bukan blogger gaul ;-)

Blogger Gaul adalah salah satu dari 4 sub-spesies dari Homo Bloggerensis yang gw temukan di dunia maya. Mungkin masih ada sub-spesies yang lain, tapi belum ketemu ;-)

Menurut yang gw amati, motivasi dasar seseorang untuk nge-blog itu dapat dibagi dalam 4 kuadran. Kuadran ini terbentuk berdasarkan aspek interaksi blogger dengan orang lain, serta fungsi tulisan sebagai bentuk penyaluran diri si blogger.



Kuadran pertama adalah blog sebagai sarana menyalurkan ide2 kreatif. Di sinilah berkumpulnya para penulis kreatif, yang produktif menghasilkan karya2 asli yang enak dibaca dan perlu. Mereka menggunakan blog sebagai media menampung ide2 yang berdesakkan di kepala. Bahwa kemudian blognya dibaca banyak orang, itu adalah efek samping yang menyenangkan, bukan tujuan membuat blog itu sendiri.

Kuadran kedua adalah blog sebagai sarana untuk "bergaul". Di sini, blog digunakan sebagai "tempat bertukar cerita" antar teman. Jadi tujuannya memang lebih sebagai tempat berkabar tentang ada apa hari ini. Cerita ringan sehari-hari yang deskriptif, tapi akrab. Biasanya ada fasilitas khusus semacam shoutbox yang memungkinkan blogger saling menyapa tanpa harus buka comment box. Blogger lain datang bukan melulu karena ingin baca tulisan, tapi karena akrab. Dan sebagai salah satu bentuk keakraban, sering kali antar blogger bikin tema yang sama, untuk saling tahu tentang masing2.

Di kutub yang paling ekstrim dari sub-spesies ini adalah mereka2 yang bikin blog karena menganggap blog itu lagi happening ;-) Jadi, kalau mau gaul, ya harus punya blog! Nggak penting isinya apa.. kalau perlu ngopy-paste dari orang2 yang tulisannya keren biar "nilai diri" di mata lingkup sosial makin tinggi ;-) Neng d14na yang blognya sudah diblokir wordpress ini mungkin masuk kategori ini ;-)

Pada kutub ekstrim yang lebih positif, Blogger Gaul ini hobinya kopdar ;-) Bikin blog buat ketemu orang2 baru yang bisa diajak kopdar: ngebahas lebih rinci aspek kehidupan yang belum terbahas di blog, mungkin ;-)?

Kuadran ketiga adalah blog sebagai tempat menampung isi hati atau pikiran. Catatan pribadi yang dipublikkan, gitu menurut istilah seorang teman ;-). Contohnya nggak banyak, dan gw gak tega untuk memampangkan tautannya di sini. Silakan cari sendiri saja.. hehehe... ada kok blogger2 yang sampai "daleman2"nya dipampangkan di blog tanpa tedeng aling2. Bahkan yang seleb juga ada!

Pernah gw sampai mengernyitkan dahi dan gak tahan untuk nulis komentar, "Apa perlu kronologis pra & pasca perceraian Anda dengan istri Anda dipampangkan sedetil2nya di blog publik seperti ini? Apakah ini sejalan dengan niatan Anda yang menginginkan yang terbaik buat putra Anda?" Komentar gw nggak dijawab sih... hehehe... dan gw juga nggak butuh jawaban. Gw kan emang opinionated aja orangnya ;-)

Tapi di antara blogger yang gw kategorikan curhaters ini ada yang kreatif juga! Catatan hariannya nggak dibikin gamblang, meskipun publik. Dia bikin kode2 tersendiri yang nggak bakal terpecahkan kalau kita nggak punya buku kodenya ;-) Blogger ini menginspirasi gw untuk menulis tentang Navajo Code beberapa waktu lalu. Kalau diperhatikan bagan yang gw buat di atas, maka orang2 seperti ini adalah yang berada di kutub kiri golongan Curhaters. Mereka yang bikin blog karena menulis merupakan indulgence bagi mereka, tapi bukan untuk mendapatkan simpati dari kelompok sosial.

Naaah... kuadran keempat, isinya adalah The Misfits. Orang2 yang tidak menggunakan blog sebagai sarana sosial, tapi juga bukan sebagai sarana menghasilkan karya kreatif. Lebih merupakan sarana menuangkan unek2 diri yang sulit dikeluarkan dalam percakapan nyata, karena berpotensi untuk membuat yang mendengar berteriak, "What the f*ck are you talking about?" Saking anehnya pendapatnya. Atau saking sinisnya pendapatnya. Atau... simply karena terlalu panjang, berliku2, atau apa pun yg membuat pendengar males dengernya... hehehe...

Hehehe... The Misfits kan bukan berarti mengidap Antisocial Personality Disorder ;-) Jadi, nggak mau nyusahin orang2 dengan omongan/pendapat/curhat/pikiran/perasaan kami yang mungkin bikin muntah.. hehehe... Tapi, berhubung semua itu mesti dikeluarkan biar gak jadi jerawat, makanya ditulis aja di blog.

Dan gw rasa... gw termasuk dalam kategori The Misfits ini. Makanya blog gw cocok buat mengembangkan mazhab siletiyah... hehehe... Gak ada tanda2 kegaulan sedikit pun pada blog gw ;-)

Mengapa gw menjadi misfit? Well... ini pastinya merupakan hasil interaksi antara faktor herediter dan lingkungan sekitar gw ;-) Tapi... dari herediternya, hal ini berkaitan dengan tipe kepribadian dan area kecerdasan berkembang/kurang berkembang pada diri gw ;-)

Click to view my Personality Profile page



Ngomongin area kecerdasan, Howard Gardner mengemukakan sebuah teori bahwa kecerdasan manusia itu beragam. Ada 8 ranah kecerdasan pada diri manusia. Di antara 8 ranah itu, ada yang perkembangannya sangat bagus, ada yang kurang bagus atau biasa2 saja.

Kalau dibaca dari hasil tes iseng2 di MyPersonality.Info di atas, terlihat bahwa ranah kecerdasan gw yang paling berkembang adalah "kecerdasan bahasa". Dan.. ranah kecerdasan yang paling tidak berkembang (di luar Bodily Kinesthetic yang entah kenapa gak masuk pada bagan), adalah: "kecerdasan interpersonal". Artinya: gw emang susah gaul.. hehehe... kemampuan gw untuk membina hubungan interpersonal kurang berkembang. Tapi kecerdasan berbahasa gw tinggi. Makanya, gw suka nulis blog, tapi gak terlalu suka ngobrol sama orang ;-)

Lihat ke sisi kiri pada bagan yang sama, tergambar hasil tes tipe kepribadian gw. Naah.. kalau tipe kepribadian ini dasarnya adalah teori kepribadian Carl Gustav Jung. Teori ini mendasarkan tipologi pada preference terhadap 4 aspek kehidupan. Hasilnya, seperti terungkap di atas, gw adalah INTJ, the Strategist. Ciri utamanya memang instrospektif, analitis, dan hobinya memformulasikan ide.

Tapi... lihat preferensi pertamanya: introverted, yang lebih suka sendirian, nggak bergaul, private, dan dengan sendirinya cenderung nggak banyak teman. Apalagi... seperti digambarkan dalam penjelasannya, orang2 INTJ punya kepercayaan diri yang tinggi sekali. Over PD.. hehehe... sehingga sering terlihat dari luar sebagai arogansi ;-) Terutama jika sudah menyangkut hal2 yang berkaitan dengan kompetensi dan formulasi ide. Nggak heran jika banyak orang yang mengatakan gw punya arogansi intelektual, dan membuat makin males aja main sama gw ;-)

Dan susahnya... karena gw pada dasarnya menikmati kesendirian, maka gw juga nggak terbeban dengan "tuduhan" arogansi itu.. hehehe... Gw santai2 aja, sedikit merasa senang malah, karena bisa lebih menikmati kesendirian gw.

Lha, jadi, kalau orangnya nggak suka bergaul, kenapa kelihatannya rame abis? Well... jangan salah ;-) Dulu ada yang bilang bahwa gw itu seperti syair lagu Monalisa.

Mona Lisa - Nat King Cole



"Do you smile to tempt a lover, Mona Lisa?
Or is this your way to hide a broken heart?"


Hehehe... jangan tertipu dengan angka awal ;-) Keramaian gw mungkin sebuah jalan supaya orang terkesima, merasa sudah tahu banyak tentang gw, sehingga tidak lagi bertanya2 dan masuk ke kehidupan gw terlalu dalam ;-)

So... sekali lagi, mohon maaaaaaaf banget kalau gw nggak bergaul ;-) Bukan yang congkak, bukan yang sombong... tapi... yaaa... beginilah gw apa adanya ;-) Ajaklah gw berpolemik di blog, tapi.. jangan suruh gw meneruskan matarantai kegaulan ;-)

Monday, July 21, 2008

13-0-1

Mula membaca, gw terkesima dengan tokoh Yuda. Si tokoh utama yang sok-tahu-segala, hingga memandang sebelah mata pada Parang Jati - "anak bawang" yang dianggapnya terlalu naif menginginkan clean climbing. Whoa! Bahkan clean climbing dianggap Yuda tak cocok untuk menggambarkan idealisme Parang Jati - lebih cocok dikatakan sacred climbing, karena ingin memanjat tebing batu dengan nyaris tanpa pengaman ;-)

Toh, dengan kalem si mata-polos-nyaris-bidadari Parang Jati justru melucuti Yuda dari segala yang dibanggakannya. Tanpa gontok2an, si sok-tahu-segala ini "dipaksa" mengakui bahwa - bukan saja dia tidak tahu segala - ia bahkan tidak tahu apa yang selama ini ia pikir ia tahu ;-) Apa yang dianggap Yuda sebuah kecintaan terhadap alam, ditunjukkan Parang Jati sebagai pemerkosaan terhadap alam. Keberhasilan memanjat gunung dan tebing yang selama ini dimaknai sebagai bukti kemachoan, bukti kelelakian, ditunjukkan Parang Jati sebagai dorongan Oedipal yang muncul dalam konteks modern; suatu insecurity, bukan achievement ;-)

Itu bagian2 awal yang membuat mata gw tak lepas membaca baris demi baris
Bilangan Fu, novel terbaru Ayu Utami. Selain - tentunya - adalah kekhasan Ayu yang sudah muncul sejak Saman, novel pertamanya: komposisi cerita yang menarik, kosa kata yang lama dilupakan (atau bahkan tidak banyak diketahui?) oleh bangsa Indonesia sendiri, dan "kenakalan" ala Gerakan Syahwat Merdeka.. hehehe..

Sejauh ini, memang baru Ayu Utami yang gw lihat mampu menggunakan gaya vulgar metaforis; menyampaikan sesuatu secara vulgar, namun juga metaforis ;-) Simak saja kenakalannya menggambarkan persekelaminan. Dengan cerdik, Ayu memetakan perempuan sebagai semang monster ubur2 bertangan tipis melambai yang purpose of life-nya hanyalah menggelembungkan diri untuk menguleni "boneka" - calon semang yang kita sebut bayi - baru. Dan celakanya, laki2 pun hanya merupakan alat monster tolol marsupial berambut jarang, yang mudah sekali berubah jadi anjing gila yang harus membentur2kan kepalanya - supaya otak kempal yang membuatnya gila keluar dari tubuh. Otak kempal yang, celaka sekali, merupakan formula paten untuk membentuk calon semang baru itu. Dan begitulah.. "Ia sangat pintar, si ubur gelembung ini. Ia tahu tabiat si hewan moluska yang secara periodik terserang rabies internal. Maka ia membangun sebuah liang jebakan yang berakhir di mulutnya!" (hal. 30 - 31)

Arti dari bilangan Fu itu sendiri? Aaah... judul buku itu sudah tidak menggoda. Toh.. pada halaman 23 dari novel setebal 531 halaman ini sudah ada definisinya:

1 : @ = 1 x @ = 1, dan @ tidak sama dengan 1
@ adalah Fu

*catatan: sebenernya simbol Fu seperti obat nyamuk bakar. Tapi.. karena susah, gw ganti jadi @ aja ya... hehehe... yang penting kan simbolnya berpusat di tengah dan melingkar ke luar, serta merupakan kurva terbuka ;-)*

***

Tapi rupanya gw terjebak dalam modernisme, satu dari tiga musuh utama post-modernisme. Modernisme, konsep yang dapat kita katakan berbasis pada angka 1, karena mengacu pada kepastian. Kepastian cara pandang, bahkan kepastian kebenaran dan jawaban tunggal. Sementara, semangat buku ini adalah spiritualisme kritis, sebentuk postmodernisme yang tidak terikat pada satu kebenaran tunggal. Bukankah sedemikian tidak terikatnya konsep postmodernisme, sehingga untuk menjelaskannya pun tidak mungkin berdiri sendiri terlepas dari modernisme?

*tentang postmodernisme ini, gw menemukan sebuah tulisan deskriptif bersahaja namun bagus tentang "akidah"-nya ;-)*

Dan... dengan cerdik Ayu mengingatkan kembali tentang ketidakpastian. Bahwa dalam sebuah siklus, jawaban adalah pertanyaan. Akhir adalah mula. Dan tahu adalah tidak tahu. Semua dirangkai dalam bilangan Hu yang menjadi metafora.

Bilangan Hu adalah pengingat akan adanya sistem perhitungan lain yang hampir tidak diingat oleh manusia2 modern. Sistem perhitungan berbasis 12, yaitu sistem perhitungan yang digunakan (atau ditemukan berdasarkan) alam. Ayu mengingatkan pada Pranata Mangsa, perhitungan berbasis 12 yg digunakan petani karena tanaman berproduksi dalam siklus 12 bulanan. Dan bahwa siklus pergantian hari adalah 12 jam siang + 12 jam malam. Perhitungan yang menghilang seiring dengan "nggak happening"-nya menjadi petani. Dengan "nggak happening"-nya menyatu dengan alam. Seiring dengan dilupakannya alam, dengan menjadi modern, perhitungan ini pun terlupakan. Terpinggirkan.

Bilangan Hu, bilangan ketiga belas. Mengakhiri 12 yang menjadi basis, sebelum siklus kembali kepada 1. Kasunyatan, ketiadaan, yang ketika posisi numerisasi belum ditemukan dilambangkan sebagai shunya-kha (spasi kosong), shunya-bindi (titik), atau shunya-cakra (lingkaran, 0).

Kasunyatan ini ada ketika rumusan bilangan nol sebagai titik absolut belum ditemukan. Dengan demikian, bilangan 1 yang terumuskan juga tidak bermakna sama dengan bilangan 1 yang dikenal masyarakat modern sekarang. Karena pada sistem berbasis 12 ini bilangan 1 juga memiliki sifat2 bilangan nol.

Ketika membaca bagian ini, "otak modern" gw lantas ingat pada skala statistik: nominal, ordinal, interval, dan rasio. Bukankah apa yang dijabarkan Ayu ini sejalan dengan skala statistik? Perhitungan matematis yang benar2 absolut, yang benar2 pasti, adalah pada skala rasio dimana ada titik nol yang absolut. Perhitungan2 pada skala sebelumnya lebih bermakna ganda. Kita bisa bicara tentang lebih besar, lebih banyak, lebih tinggi,.. tapi tidak bisa mengatakan 2x lebih besar, 3x lebih besar, .. sesuatu yang pasti dan absolut.

Numerisasi modern, berbasis 10, dimana bilangan 0 digunakan sebagai penanda kelipatan 10, adalah skala rasio. Perhitungan berbasis 12 yang digunakan alam, yang di dalamnya terdapat bilangan Hu, adalah skala sebelum rasio. Bisa skala interval, ordinal, atau bahkan yang paling mendasar: nominal. Get it ;-)?

Dan begitulah... bilangan Hu ini digunakan sebagai metafora yang mengantar kita kembali lebih dekat kepada alam. Kembali melihat dan mendekat kepada alam seperti yang sudah dilupakan oleh masyarakat modern. Melihat kemungkinan2 lain di balik yang [tampaknya] absolut.

Ayu kemudian merangkaikan bahwa bukan hanya modernisme yang terjebak pada bilangan 0 absolut (dan dengan sendirinya menggunakan bilangan 1 yang absolut juga, bukan bilangan 1 yang bersifat bilangan 0). Monoteisme dan militerisme juga memiliki sifat ini.

Dan tibalah kita pada bagian yang paling sensitif: jika modernisme dikritik Ayu karena keabsolutan bilangan 1-nya, dan monoteisme (serta militerisme) memiliki sifat serupa, burukkah monoteisme? Di sini gw benar2 angkat topi buat Ayu ;-) Dengan cerdik Ayu menghindar dari kesensitivan ini dengan: tidak buruk, namun hal ini membuat monoteisme (dan militerisme), seperti juga modernisme, rentan. Rentan terhadap penyalahgunaan - baik yang disengaja maupun tidak. Karena "kebenaran yang menjelma hari ini, [dapat] menjelma kekuasaan".

"Hanya kebaikan yang boleh mewujud hari ini. Kebenaran harus kau pikul agar jangan jatuh ke tanah dan menyentuh bumi, menjelma, hari ini. Sebab, jika kebenaran menjelma hari ini, ia menjelma kekuasaan. Tapi kau juga tidak boleh membuang kebenaran dari pundakmu seperti benda tak berharga. Sebab, jika demikian, maka engkaulah si congkak berhati degil itu"

(hal 408)


Kekuasaanlah yang buruk. Dan kebenaran yang dipaksakan menjadi sesuatu yang berwujud nyata, adalah sangat dekat - dan dapat menjadi - alat kekuasaan.

*Sampai di sini, gw tersentak, karena menemukan tema yang sama dengan apa yang gw baca pada novel sebelumnya: Blakanis, tulisan Arswendo Atmowiloto. Dengan bahasa yang lain, tema yang sama diungkapkan: kalau [gerakan] ini membesar dan dianggap sebagai tanda, kita mengulangi lagi kesalahan*

Dan itulah yang disampaikan melalui jalinan kisah ini. Percaya, sekaligus kritis. Percaya bahwa agama membawa kebenaran, sekaligus kritis agar tidak terjebak pada suatu bentuk kebenaran yang banal - yang sebenarnya mereduksi kebenaran itu sendiri. Terbuka pada kemungkinan lain, karena yang paling penting menjelma hari ini adalah kebaikan. Kebenaran biarlah menjadi milik sang Ilahi.

"Sebutkan agama apa pun yang melarang orang membayar pajak atau upeti kepada raja atau penguasa suatu daerah. Sebut satu saja, ya, agama yang melarang pajak di masa damai... Kita di masa modern ini pun membayar bea jika mau masuk wilayah negara lain.. Kalau jin dan siluman itu memang ada, apa salahnya membayar sejenis pajak kepada mereka ketika kita memasuki wilayah mereka? Sejauh pajak itu cuma sesajen bunga-bungaa, buah-buahan, sejumput makanan, apa salahnya?"

"Kalau kita bayar pajak pada pemerintah, itu kan tidak berarti kita menyembah pemerintah. Apa pula mempersekutukannya dengan Tuhan.."

"Jangan salah logika: hanya karena sajen dipersembahkan pada yang tidak terlihat, dan kita juga tak bisa melihat Tuhan, maka kita sendiri menyimpulkan bahwa sajen itu diberikan pada yang dianggap sebagai tuhan, yakni berhala. Itu kesimpulan kacamata kuda namanya. Orang yang menghaturkan sajen bisa saja menghayati perbuatannya dengan cara yang sama sekali lain. Mereka mempersembahkan sajen itu kepada yang mereka percaya telah menunggu alam ini sejak lebih dulu."

(hal. 316 - 317)


Hehehe... gw langsung soja rangkap dua pada untaian kalimat ini. Ayu memberikan sudut pandang yang sama sekali lain ;-) Sama sekali baru ;-) Sajen sebagai pajak, ha!

Tapi intinya bukan di sajen itu penyembahan berhala atau bukan. Dengan menarik Ayu menyampaikan bahwa sajen itu (yang dipercayai oleh kaum monoteisme sebagai "tidak benar") membawa kebaikannya sendiri. Dengan "takut" kepada alam, manusia lebih hati2 menambang kekayaan alam. "Takut" alam murka. Dengan demikian keseimbangan alam terjaga.

Dan itulah "agama baru" yang akhirnya dirumuskan oleh Parang Jati. Agama yang berbasis kebenaran ala monoteisme, tapi sinkretis dengan budaya lokal. Tidak membuang kebenaran, tapi mengutamakan kebaikan. Dengan melihat sisi2 baik pada setiap hal, termasuk pada takhayul lokal ;-) Karena.. dalam takhayul, bukan takhayulnya yang penting benar2 terjadi atau tidak. Melainkan kenyataan bahwa orang percaya padanya ;-)


Begitulah... novel ini mengajak kembali kepada bilangan Hu. Kepada menghormati alam, sehingga kita tidak lagi menyia-nyiakannya. Karena itulah yang utama bagi kebaikan menjelma di masa ini. Dan oleh karenanya muncul percakapan ini:

"Masihkah kamu beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa? Masih kamu beriman kepada Tuhan yang satu?" Suara itu mulai menghardik.

Parang Jati menjawab dengan perih di mulutnya.

"Tidak dengan bilangan satu yang kamu bayangkan"

(hal. 503)


***

Sebelum menulis entry ini, gw sempat browsing blogosphere. Menemukan beberapa resensi yang mengatakan novel ini "tidak sekuat" Saman atau Larung - dua novel Ayu Utami sebelumnya. Well.. gw tidak setuju dengan hal itu. Novel ini menurut gw justru yang terbaik, termatang. Saman dan Larung, meskipun kritis, tidaklah sulit dipahami. Bahasannya masih masalah sehari2 dan diurai dengan pendekatan sehari2. Bilangan Fu lebih dalam dari itu. Tak salah jika Ayu menyebutnya sebagai bernafaskan "spiritualisme kritis".

Membaca novel ini, gw bagaikan melihat lakon Bima dan Dewa Ruci dengan kisah yang berbeda. Yuda adalah Bima, dan Parang Jati adalah Dewa Ruci. Suatu dialog dalam diri yang meningkatkan kualitas spiritual seseorang.

Memang, mungkin terlalu ribet bagi mereka yang membeli novel ini karena nama besar Ayu Utami. Apalagi karena bayang2 Saman dan Larung. Tapi... sebagai kisah, buku ini membuat gw bersoja rangkap dua.. hehehe...

***

Catatan tambahan bagi mereka yang memperhatikan bahwa tulisan ini bergeser dari Bilangan Fu menjadi Bilangan Hu. Tidak, gw tidaklah salah ketik ;-) Setelah Bilangan Fu diberikan definisinya di halaman 23, selanjutnya yang dibahas memang Bilangan Hu ;-) Bilangan yang memiliki properti bilangan nol, sekaligus bilangan satu. Kasunyatan, sebelum siklus berulang.

Bilangan Fu tetap pada definisinya semula: sebuah bilangan yang jika dikalikan atau dibagi dengan bilangan 1 akan menghasilkan bilangan 1. Dan itu baru diungkapkan dengan gamblang pada halaman 524:

"Fu adalah dengan siapa Hu sebelumnya mengikatkan diri"

Hu adalah kondisi terberi untuk memulai kembali sebuah siklus. Fu adalah accelerator yang akan mengembalikan kepada hitungan satu ;-)

Itu baru terungkap pada halaman 524, alias 501 halaman setelah gw merasa tahu apa itu Fu, dan tergelincir untuk mengira Hu = Fu ;-) Dengan kata lain: setelah gw sekali lagi terbukti sebagai orang modern yang mencari kepastian jawaban.

Dengan demikian, gw mendapatkan pengalaman tangan pertama bahwa gw pun perlu kembali belajar tentang kasunyatan ;-)

Saturday, July 12, 2008

Velociraptor Senayan

Kemarin gw dan Ima nonton Dinosaurs Walk Again di Gelora Bung Karno. Ima pingin lihat Eema, dinosaurus baik hati yang lafal namanya sama dengan dia ;-) Sebenarnya Eema ini adalah tokoh di film Dinosaur, bukan di Jurassic Park yang robotnya dipamerkan di acara ini. Tapi... di Jurassic Park juga ada triceratops yang oleh Ima digeneralisasikan sebagai Eema ;-)

Robotnya sendiri cukup memuaskan. Gerakannya memang tidak seperti di film yang sudah pakai animatic effect itu, tapi... asyik juga melihat T-Rex dalam ukuran "asli"-nya :-) Tempat pamerannya juga sepi.. partly karena liburan sudah hampir usai. Atau.. karena harga karcisnya ya? Rp 150,000 per kepala memang lumayan wajar. Pasti kan membawa dinosaurus segitu banyak dari Universal Studio butuh biaya banyak. Tapi.. nominal sebesar itu mungkin cukup berat untuk masa susah duit seperti sekarang. Ditambah lagi, nominal sebesar itu setara dengan karcis 7 jam di Kidzania (yang masih happening itu) atau beli karcis terusan untuk seharian di Dufan ;-) Nggak heran kalau yang memilih ke sini gak banyak ;-)

Kalau di dalam ruang pamerannya cukup sepi, tidak demikian dengan di luar! Di luar tenda putih besar yang jadi kandangnya para dino, banyak berkeliaran velociraptor mencari mangsa. Buat yang males buka tautan terberi, dan belum pernah nonton filmnya (apalagi baca novelnya ;-)), velociraptor adalah dinosaurus kecil pemakan daging yang - kalau di filmnya - suka "kerja kelompok" menghabisi mangsanya ;-)

Naah.. di Gelora Bung Karno ini, velociraptor muncul dalam bentuk calo karcis ;-)

Belum juga mobil gw parkir sempurnya, para velociraptor sudah dengan ganas mengetuk2 kaca jendela. Menawarkan karcis. Bikin gw serem sendiri... ya serem karena dikejar2 (maklum, bukan seleb.. hehehe...), ya serem karena takut karcis di ticket box resmi sudah habis. Yaaa.. dalam bayangan gw, kalau calonya aja sebanyak ini, tentunya karcis resmi habis dong?

Sempat ngintip harga karcis yang disodor2kan ke gw. Dooh! Kalau harga resminya Rp 150.000, di tangan calo bisa harga berapa? Padahal, Rp 150.000 itu udah plafon atas banget... secara tadinya gw pikir harga tiketnya seratus ribuan doang. Males aja kalau harus bayar Rp 300.000 di calo!

Tapi... lho, kok, calonya ngomongnya aneh? Sambil ngejar2 gw, mereka bilang:

"Beli karcis di sini aja, Bu, daripada di dalam. Di dalam mahal, Rp 150.000, kalau di saya cuma Rp 125.000, boleh nawar"

Hmmm... terus terang, gw heran. Kok calo bisa kasih korting? Gimana caranya? Setahu gw sih calo tuh menjual karcis harganya lebih mahal. Mereka memanfaatkan ketidakberhasilan orang2 beli tiket yang sudah mereka borong itu.

Pas udah di ticket box gw baru tahu dari Mbak cantik penjaganya yang langsung jutek dan nilai pada skala kecantikannya berkurang setelah gw tanyai tentang tiket di tangan calo:

"Nggak tahu tuh, Bu! Tiketnya juga bukan dari kita, kok!!!"

Gw perhatikan tiket di tangan gw... (yang asli itu ;-)), dan gw bandingkan dengan ingatan gw tentang tiket di tangan calo. TERNYATA HAMPIR SAMA! Warnanya sama2 biru muda, dengan harga tiket di sudut kanan atas dan gambar dinosaurus besar di kiri. Mungkin, kalaupun ada bedanya, adalah pada ketiadaan hologram di karcis para calo. Serta... kalau nggak salah ingat, gambar dinosaurus besar di kiri karcis serupa dengan gambar di logo kanan atas.

TIKET PALSU!!

Hhhhh... gw langsung trenyuh setelah menyadari bahwa para calo itu menjual tiket palsu. Bukan nominalnya yang gw khawatirkan... jika pun ada pengunjung yang cukup tolol untuk membeli tiket di calo sebelum memastikan tiket resmi masih ada, maka kerugian materialnya nggak seberapa. Kerugian materialnya tetap sama dengan seandainya dia beli tiket resmi di calo: yaitu selisih harga antara tiket resmi dan "keuntungan" si calo.

Tapi... yang bikin gw trenyuh adalah apa yang sering disebut dalam Criminal Minds sebagai escalating crime. Bahwa sampai ke titik tertentu kriminal tidak lagi puas dengan tindakan kriminalnya, sehingga harus meningkatkan menjadi perbuatan yang lebih jahat.

Pada awalnya, calo itu masih ada unsur baiknya: mereka memborong tiket resmi sehingga pengunjung nggak kebagian. Pengunjung terpaksa membeli tiket pada mereka untuk bisa masuk. Tapi... paling enggak, para calo itu mengeluarkan MODAL BESAR untuk melakukan pekerjaannya, dan MEMBERIKAN TIKET ASLI pada pelanggannya. Tidak ada penipuan di sini... yang ada hanya prinsip monopoli dan sedikit kelicikan bisnis.

Bedakan dengan membuat tiket palsu! Cukup dengan beli satu tiket saja, mereka bisa langsung membajaknya. Modal untuk mencetak tiket palsu tentunya tidak sebesar modal untuk memborong tiket asli. Dengan demikian, margin keuntungan jika tiket itu laku terjual juga lebih besar. Dan... yang paling bahaya... mereka TIDAK MEMBERIKAN TIKET ASLI. Artinya, jika seseorang membeli tiket pada mereka, kerugiannya dua kali lipat: sudah rugi harus memberi "profit" pada si calo, masih harus repot antri beli tiket resmi pula :)

Mengerikaaan... melihat para calo ini sudah meningkatkan kejahatan dari monopoli menjadi penipuan :-) Akan meningkat menjadi apa lagi?

Gw ingat beberapa bulan lalu pernah menjawab suatu pertanyaan di sebuah milis tentang acara di Police Beat. Waktu itu, seseorang bertanya mengapa "menyiksa binatang" dianggap sebagai kejahatan dan ada hukuman penjara untuk itu. Dan gw menjawabnya dengan: bukan menyiksa binatang pada saat itunya yang merupakan fokus utama, melainkan kemungkinan escalating crime-nya. Jadi.. menghukum penyiksa binatang adalah semacam teknik yang digunakan dalam film Minority Report untuk mencegah kejahatan (yang lebih besar).

Gw ajukan potongan artikel tanya jawab ini sebagai acuan:

Here's the test. All answers are True or False:

2. There are patterns or behavioral clues that can be early warning signs of violent criminal behavior.

We'll post the answers and Dr. Brothers' explanations tomorrow

(dicuplik dari sini )

Here are the answers to the Dr. Joyce Brothers criminal test from the other day:

2. TRUE. Those at high risk of violence later often were unable or unwilling to play as a child. Frequently they were victims of brutal behavior in childhood. When children themselves are cruel and torture animals or other children, this is a warning sign of serious trouble ahead, and such a child should get immediate treatment.

(dicuplik dari sini)

Jadi, kalau sekarang sudah meningkat.. bagaimana dengan 10 tahun lagi?

Tapi... mungkin, ini juga merupakan tanda2 akan sembuhnya masyarakat kita :-) Kalau penderita terminal illness seringkali menunjukkan remisi sebelum akhirnya malah menjadi lebih buruk dan meninggal, maka kejadian ini mungkin sebaliknya. Seperti kejadian dalam menghilangkan temper tantrum pada anak: pada titik tertentu sebelum terapinya berhasil, si anak malah makin menjadi2 tingkahnya. Mereka mencari jalan lain, meningkatkan tantrum-nya, agar lebih efektif. Inilah proses menuju klimaks, karena setelah krisis berlalu, si anak menjadi lebih gampang diatur dan tidak suka temper tantrum lagi :-)

Yaah.. terserah pemerintah aja deh, bagaimana memastikan bahwa ini proses terapi yang menuju keberhasilan. Bukan malah proses escalating crime yang lebih mengerikan :-) Kan serem, kalau sekarang jadi velociraptor, entar mutant-nya apa? Velociraptor segede T-Rex ;-)?

Wednesday, July 09, 2008

Blaka a.k.a Blak-blakan Belaka

Belaka. Artinya kurang lebih adalah: hanya. Atau cuma.

Nafsu belaka, artinya cuma nafsu atau nafsu doang. Bohong belaka, artinya cuma bohong atau bohong doang. Mainan belaka, tentu artinya mainan doang atau cuma mainan. Seperti dilantunkan dalam lagu dari Pengantar Minum Racun yang ngajakin maen cium-ciuman ini ;-)

*Catatan nggak penting: Pengantar Minum Racun nggak ada hubungannya dengan lagu Racun Dunia dari The Changcuters ;-)!*

Blakanis. Itu judul novel terbaru karya Arswendo Atmowiloto yang terbit Juni 2008. Menceritakan tentang tentang sekumpulan manusia yang hidup blaka. Hidup dengan kejujuran. Ke-blaka-an. Dimana hidup berarti bicara apa adanya. Bicara seadanya belaka, bukan bicara ada apanya (alias berpamrih ;-)).

Awalnya, blaka gw kira adalah bentuk penulisan alternatif dari kata "belaka". Karena e-nya e pepet, makanya dihilangkan sekalian biar gaya ;-) Atau malah akan dikaitkan oleh penulisnya menjadi "blak-blakan". Karena toh memang kejujuran intinya mencakup kedua hal itu: blak-blakan belaka ;-) Baru setelah baca riviu Paman Tyo ini gw menepuk jidat: owalahhh... yok opo kok lali! Blaka kuwi kudu diwoco "bloko"... ;-) Blaka itu harus dibaca bloko; cablaka (baca: cabloko), atau blakasuta (baca: blokosuto).. semua itu berarti terus terang apa adanya.

Dan itulah tema yang diusung oleh Arswendo dalam novel ini; suatu "ajakan" hidup jujur, meskipun - seperti dituliskan dalam resensi ini - Arswendo cukup jujur untuk mengakui bahwa kejujuran "mutlak" bukan puncak kebaikan yang membawa kita mewujudkan utopia dunia ideal ;-)

"Karena yang terjadi adalah keluarga yang baik-baik, yang saling menyimpan perkara dalam hati, memuntahkannya. Yang terjadi adalah keretakan, permusuhan, kecurigaan" (hal. 105)

Bersikap jujur hanyalah pilihan pribadi, yang tidak membuat kita menjadi sakti, menjadi kebal atas dosa, apalagi menjadi sumber ampunan bagi segala dosa yang pernah kita perbuat, atau memberi grasi bagi semua akibat kesalahan di masa lampau ;-) Hanya membuat hidup lebih nyaman dan enak dijalani.

"Dengan blaka, tidak membuat saya meninggalkan kursi roda segera. Tapi saya merasa saya tidak cacat" (hal. 60)

Itu kata salah satu tokoh, Jamil Akamid si mantan menteri korup, yang awalnya datang ke Desa Blakan untuk minta "disembuhkan", karena percaya Ki Blaka - sang tokoh utama - punya kekuatan menyembuhkan.

Dan oleh sebab itulah blaka tidak perlu menjadi gerakan masal. Apalagi terorganisir. Dan... lebih nggak pas lagi ketika dijadikan organisasi besar. Karena.. kalau [gerakan] ini membesar dan dianggap sebagai tanda, kita mengulangi lagi kesalahan (hal. 114)

"Ketika kita menjadi organisasi, atau dianggap sebagai organisasi, kita mudah
dihabisi dengan tata nilai keorganisasian..." (hal. 137 - 138)

Ya, biarkan sesuatu yang pribadi menjadi urusan pribadi. Jangan diorganisasikan. Karena.. kalau diorganisasikan, karena maknanya bisa bergeser. Seperti dikatakan Le Bon (catatan: Gustave it is, not Simon ;-)) dalam Crowd Theory:

by the mere fact that he forms part of an organised crowd, a man descends several rungs in the ladder of civilization. Isolated, he may be a cultivated individual; in a crowd he is a barbarian - that is, a creature acting by instinct

Dengan menjadi bagian dari kumpulan massa, seorang manusia turun beberapa tingkat menjadi lebih barbar ;-)

***

Bagian terakhir pada tulisan di atas mengantar gw pada struktur kritikan yang ingin gw sampaikan terhadap artikel bertajuk Sikap Adil Kepada FPI: Pasca Kasus Kerusuhan di Monas yang gw temukan di blog Mas Nasir ini. Sejak pertama membacanya, gw ingin sekali berkomentar, tapi belum nemu angle yang pas ;-)

Yang jelas, Abu Muhammad Waskito, penulis artikel yang dibantusebarkan oleh Mas Nasir ini, mengemukakan 6 argumen bahwa tuntutan pembubaran FPI itu tidak adil. Enam argumen yang, ironisnya, menurut gw kurang mencerminkan bahwa beliau mampu menjalankan nasihatnya sendiri untuk bersikap adil ;-)

Argumennya yang gw garisbawahi adalah berikut:

  • Anda bisa bayangkan, meneriakkan dukungan keras-keras untuk Ahmadiyyah di dekat telinga aktivis FPI. Itu bisa dianggap oleh mereka sebagai nantangin perang. Saya melihat, para pemuda FPI lebih tepat disebut terprovokasi
  • Jika disana terjadi kasus-kasus pemukulan, tendangan, cacian, atau perusakan fasilitas, apakah lalu mata kita buta untuk melihat bahwa disana juga ada upaya-upaya mendamaikan hati para pemuda yang sudah terbakar emosinya itu?
  • Tindakan kekerasan di Monas dilakukan oleh –sebut saja- oknum aktivis FPI. Pelanggaran oleh oknum, tidak bisa di-gebyah uyah untuk menghancurkan sistem sebuah organisasi. Contoh, kasus kekerasan oleh oknum polisi di Universitas Nasional (Unas) Jakarta. Ia dianggap kasus kekerasan oleh oknum polisi, sehingga tidak perlu ada tuntutan untuk membubarkan lembaga Polri

Uhmm... jika pun kasus ini terjadi lantaran AKKBB (secara sengaja atau tidak) memprovokasi FPI, dan yang melakukannya hanya "oknum", apakah lantas FPI layak dipertahankan sebagai organisasi ;-)? Organisasi, asal katanya adalah to organize, alias put into working order, atawa membuat [sekumpulan orang] teratur. Lha.. kalau sebuah organisasi gagal mengatur anggotanya sehingga cukup banyak oknum yang "keluar jalur", lantas apa gunanya organisasi itu ada ;-)?

Ini bukan masalah menutup mata pada upaya pendamaian yang dilakukan pembesar FPI, atau hukum yang berat sebelah, melainkan pemikiran logis saja terhadap apa itu organisasi ;-) Sesuai dengan teori Le Bon di atas, kumpulan orang secara alamiah akan mengalami penurunan tangga moral. Jadi, memang harus diorganisir supaya tidak terjadi perilaku barbar yang diramalkan Le Bon. Dan.. jika suatu organisasi sudah terbukti gagal mengorganisir, tentu tidak adil kalau terus-menerus diberi kesempatan ;-)

Selanjutnya... tidak pas juga untuk meng-gebyah uyah (= menyamaratakan) organisasi massa dengan Polri ;-) Kalau ada yang ngomong begitu, pasti nggak pernah belajar Tata Negara.. HAHAHAHA.. Organisasi massa adalah badan hukum, sementara angkatan kepolisian adalah perangkat negara yang merupakan salah satu syarat berdirinya negara. Artinya, organisasi massa dibubarkan, sementara membubarkan perangkat negara sama artinya dengan membubarkan negara ;-) Kalau ada yang nggak setuju dengan tindakan perangkat negara, jalannya adalah MEREBUT KEKUASAAN a.k.a kudeta ;-)

Lihat tuh di Myanmar ;-) Apa bisa junta militer dibubarkan ;-)? Kan enggak. Bisanya ya dikudeta ;-)

Intinya, jika sudah menjadi organisasi, maka bersiaplah mengikuti tata nilai organisasi. Termasuk siap dituntut pembubarannya ;-) Jika tidak siap mengikuti tata nilai organisasi, ya jangan jadi organisasi. Tetaplah jadi pilihan individu, bukan gerakan, apalagi massal ;-) Beberapa hal tertentu memang lebih baik menjadi pilihan individu yang tidak perlu dijadikan organisasi kok ;-)

***

Satu lagi argumen Abu Muhammad yang ingin gw soroti adalah berikut ini:

    Kalau massa AKKBB itu merasa sakit, kecewa, marah, atau sedih, apalah artinya penderitaan mereka dibandingkan penderitaan yang menimpa Rasulullah Saw. dan para Shahabat ketika mendakwahkan Islam?

Uhm... ini suatu argumen yang menurut gw "sangat tidak tepat sekali banget" untuk diutarakan ;-) Jika kita mempunyai seorang panutan, maka kitalah yang harus mengikuti teladan panutan kita itu. Bukan orang lain yang kita suruh mengikuti teladannya ;-)

Gw agak heran kenapa justru AKKBB yang diminta menerima saja penderitaan yang diakibatkan kekerasan FPI. Kenapa bukan FPI yang diserukan untuk menerima sakit, sedih, kecewa, dan marah yang diakibatkan oleh adanya kumpulan (bukan organisasi badan hukum) Ahmadiyah sebagaimana Rasulullah dan para sahabat dulu menerima hujatan terhadap Islam?

Dan kenapa bukan FPI aja yang diseru supaya mengikuti teladan Rasulullah, yang menyebarkan ajaran Islam dengan damai; tidak main hajar sana-sini, apalagi menggebuki perempuan dan anak2 ;-)? Bukankah dulu Islam di jaman Rasulullah menjadi "organisasi" yang besar karena tindakan yang elegan ini ;-)?

Baca seruan Abu Muhammad itu gw jadi heran: jadi sebenarnya yang panutannya adalah Nabi Muhammad SAW itu siapa? FPI, AKKBB, atau Ahmadiyah? Kok malah AKKBB dan/atau Ahmadiyah yang dihimbau mengikuti teladan Rasulullah & para sahabat ;-)

Thursday, July 03, 2008

Mata Pelajaran: Berciuman

Inilah cerita tentang kenapa gw pingin sekali menaruh situs Game Online ini dalam daftar Parents Carefree di kompienya Ima ;-)

Selama liburan ini, Ima jadi rajin nongkrongin situs itu. Biasanya kan situs itu cuma boleh diakses 15 - 30 menit, selain karena Ima sekolah sampai sore, komputernya juga mesti gantian. Lagipula, gw males bayar biaya dial up cuma buat main game ;-) Tapi, lantaran sekarang liburan sekolah, punya akses internet sendiri, dan ibunya nggak bisa ngajak dia kemana2, Ima jadi main terus.

Situs itu, walaupun berakhiran co.id yang berarti "lokal Indonesia", muatannya nggak lokal. Tetap mirip dengan sinetron2 kita yang "minum kopi sambil makan pasta" (baca: copy paste!) dari luar Indonesia. Jadi jangan heran kalau permainannya pun nggak sesuai dengan - meminjam bahasanya P4 - "budaya Indonesia yang adiluhung". Misalnya ada permainan
Beefbash ini. Kejam sekejam2nya umat, bow! Mosok sapinya disetrum sampai pingsan, digantung pada gantungan daging, BARU DISEMBELIH sampai sapinya kejet2 dan darahnya bercucuran kemana2! Kan dagingnya jadi haram kalau disembelih dengan menyiksa begitu.. hehehe...

Untung Ima gak suka main game ini, kecuali kalau lagi pingin bikin ibunya teriak2 ngeri yang sayangnya seriiiing sekali terjadi ;-)

Nah, permainan favorit-nya Ima yang sukses bikin gw kejet2 kayak sapi disembelih adalah game lain yang juga tak "bermuatan lokal" ;-) Namanya
Kiss-Off. Dalam permainan ini, kita harus menghindari berciuman dengan perokok. Kalau sampai mencium perokok, maka nilai yang sudah kita kumpulkan berkurang - bahkan bisa habis dan game over.

Lho? Malah bagus dong? Mengajarkan Ima supaya nggak ciuman sama perokok. Dan kalau ciuman aja nggak boleh, apalagi jadi perokok ;-) Ntar dulu, Neng! Moral of the story-nya bukan itu! Anda mesti melihat REWARD apa yang didapat jika berhasil menghindari berciuman dengan perokok: sebuah ciuman ;-)

Dan bukan sekedar ciuman, karena semakin tinggi level yang dicapai, semakin "panas" ciumannya ;-) Di level 1, cuma dapat Lip Lock. Di level berikutnya, dapat Tongue Tango. Dan.. di level 3 atau tertinggi, dapat Double Dipper ;-)

Nah! Sekarang boleh dibayangkan bagaimana rona muka gw waktu Ima, di tengah2 permainannya, tiba2 menoleh ke gw dan bertanya,

"Bu, lip lock, tongue tango, sama double dipper itu artinya apa sih?"

Kaboom! Pingsan gw.. hehehe...

Dengan mengusung semangat bahwa anak adalah bentuk sederhana dari orang dewasa, sehingga dapat menggunakan
analisa transaksional dewasa ke dewasa, termasuk dalam masalah pendidikan seksual, maka terpaksa pertanyaan itu tidak boleh diacuhkan begitu saja. Harus dihadapi dan dijawab ;-) Lagipula, kalau nggak dijawab, atau dibilang nggak boleh nanya yang beginian, nanti2 dia malah cari informasi sendiri dari sumber yang nggak jelas dengan metode yang belum tentu dapat dipercaya ;-)

Masalahnya, walaupun gw tahu apa dan bagaimananya lip lock serta tongue tango, I have no idea at all about double dipper ;-) Jadi gw mesti jawab apa?? Nge-browse internet, nemunya malah
definisi kiasan yang jauh hubungannya ini:

"The practice of drawing two incomes from the government"

Serta nemu arti aslinya:

"Dipping the same chip into a bowl of dip more than once"

Apa hubungannya sama ciuman???

Saking penasarannya, gw jadi main game itu, dengan tujuan mencapai level tertinggi dan mendapatkan penjelasan tentang what the hell is Double Dipping Kiss? Akhirnya.. setelah beberapa kali main, sampai juga gw ke level tertinggi serta mendapatkan "visualisasi" (plus text box) yang menjelaskannya ;-) Ternyata, sepenangkapan gw, artinya nggak beda2 jauh sama definisi2 di atas, yaitu: berciuman dengan lebih dari satu orang ;-) Satu bibir rame2, gitu deh kira2 ;-)

Yaaah... maaf deh, nggak tahu ;-) Dulu nggak ngambil mata kuliah berciuman sih, belajar otodidak aja... HAHAHAHA.. Selama ini gw kira tongue tango itu udah yang paling top ;-)

Eh, kalau sekarang baru ngambil kuliah berciuman, udah telat belum ya ;-)? Ada kursusnya nggak? Siapa tahu ada level yang lebih tinggi lagi daripada double dipping ;-)

***

Bektutofik..

Jadi, apa yang terjadi setelah Ima mengajukan pertanyaan yang bikin muka gw merah merona kayak mawar merah ;-)?

Bapaknya sih menyarankan untuk mendemonstrasikan aja di depan Ima, biar nggak bingung menjawab. Dia bersedia kok jadi obyek penderita, katanya.. hehehe... Tapi, dengan santun terpaksa gw tolak ;-) Bukannya apa2... gw takut nilai gw berkurang terus, game over melulu, karena bapaknya kan perokok berats ;-) Entar rugi di gw dong.. cium2 melulu, tapi level gak naik2. Mentok di lip lock terus ;-)

*OOT.. oh, shoot! Jangan2 itu yang bikin gw di kehidupan nyata pun nggak tahu eksistensinya double dipping kiss ya? Gara2 menikah dengan perokok, level gw nggak naik2.. hehehe... *

Jadi, dengan santun gw jawab aja seperti ini, disesuaikan dengan kemampuan berpikirnya dan menghilangkan detil2 yang nggak perlu:

"Lip Lock itu ciuman yang bibirnya nempeeeeeellll terus, nggak lepas2. Tongue Tango itu ciuman, yang lidahnya kena sama lidah orang yang diciumnya. Kalau Double Dipper Ibu nggak tahu, entar Ibu cari dulu artinya"

Fiuuuh... sebenernya, habis jawab gitu, gw deg2an. Takut Ima kasih pertanyaan lanjutan tentang, "Emang apa enaknya lidahnya kena, kok level-nya lebih tinggi daripada Lip Lock?"

Untuuuung... dia masih polos dan tahap berpikirnya masih concrete operational. Jadi.. dia nggak mengajukan pertanyaan lanjutan secanggih itu. Cuma berkerut aja jidatnya sedikit sambil menggumam,

"Bibirnya nempel terus? Emangnya nggak capek, ya? Kan bernapasnya jadi susah!"

Hehehe... lega ;-) Jadi anak gw ternyata masih polos ;-)

SUNTINGAN CEPAT, 12:05 hari yang sama:

Browsing lanjutan membawa gw pada definisi double dipping dalam konteks ciuman. Ternyata bukan satu bibir rame2 ;-) Lengkapnya baca di Urban Dictionary aja ya ;-)