Sunday, October 23, 2011

That's What FRIENDZ Are For

Pada Juni 2011, adik2 gw ini menikah. Dan sebagai kakak yang baik, gw membantu menyebarkan pengkabaran online-nya. Pada milis yang selama 7 tahun terakhir ini kami jaga kelestarian dan kemurniannya (iya, meskipun milisnya sudah gak aktif, tapi gw dan jurukunci lainnya masih galak: nge-ban member yang nge-post dagangan atau info gak nyambung lainnya). Serta pada Group FB yang dibuat ketika milis sudah gak happening, sementara FB masih membatasi Private Message hanya bisa dikirim ke 20 orang saja (sementara jaringan pertemanan kami sudah terbentuk sekitar hampir 40an saat itu).

Kabar pernikahan mereka menyebar dengan cepat. Dan sekonyong2, bermunculanlah orang2 tak kami kenal yang mengatakan bahwa mereka adalah penggemar kedua adik gw ini. Beberapa dari mereka mencoba mendekatkan diri dengan gw. Dengan beberapa teman yang juga aktif membantu kedua adik ini.

Tentu... kami senang mendapat teman baru. Gw senang mendapat teman baru. Namun... seiring dengan banyaknya message yang gw terima, gw mulai menyadari bahwa cara pandang kami berbeda.

Perbedaan cara pandang yang paling utama adalah mengenai SIAPA kedua adik gw itu :-)

Buat gw dan teman2 yang sudah bersama2 selama 7 tahun ini, pasangan pengantin ini adalah adik/teman tersayang. Kebetulan saja mereka pernah happening dalam skala nasional, tapi... intinya mereka adalah adik/teman yang sama dengan adik/teman kami lainnya :-) Namun teman2 baru kami masih melihat pasangan pengantin ini sebagai the living icons. Dua selebriti yang dipuja, dikagumi, dan diketahui detil kehidupan pribadinya

Maka bermunculannya pernyataan2 yang membuat dahi gw berkerut, seperti:

"kapan ya idola kita(nia & adit) bisa muncul bareng di tv lagi"

"Yang punya info ttg mereka tiap harinya ato paling ngak info terbaru dari mereka tolong di bagi2 ama kita di sini ya teman2....makasih"

Hal lain yang juga mengganjal adalah perbedaan pandangan tentang kedekatan kami. Buat gw dan teman2 yang sudah bersama2 selama 7 tahun terakhir, menjadi "dekat" dengan mereka adalah sesuatu yang alamiah. We're friends, of course we're close to each other ;-) Buat teman2 baru yang masih memandang mereka sebagai idola, ini adalah suatu aspirasi. Bahkan sumber iri. Seperti yang diungkapan salah satu mereka berikut ini:

"seneng y jd mbk maya bsa msuk daftar org spesial di hatinya mbk nia....*pinginn dee* tp syang mbk nia gk kenal ak :("

"wah seneng bgt mba bisa knal k'nia lbih dekat bgt jd iri,hehe.."

Dan komentar2 ini lah yang kemudian mendorong gw untuk menuliskan posting ini :-) Untuk meluruskan padangan2 di atas :-)

***

Apakah dekat dengan mereka adalah sesuatu yang membuat senang? Tentu saja :-) Nia is really a one sweet little creature. Depan/belakang kamera ya anaknya kayak gitu itu: polos, nggak pernah mikir buruk sama sekali, dan malah saking polosnya kadang2 naif :-) Adit? Di balik gayanya yang rame dan sok funky itu tersembunyi laki2 perasa... HAHAHAHA... Sangat intuitif :-) Juga sangat pintar :-) Nggak banyak orang yang bisa langsung "nangkap" penjelasan atau joke gw yang kadang (eh, seringnya ;-)) terlalu belibet. Adit gak pernah kesulitan menangkap langsung ke intinya :-) Personally, buat gw, adalah keasyikan tersendiri ketemu teman yang "nyambung" :-)

Tapi apakah kedekatan ini terbentuk dengan mudah? Semata2 karena kami punya akses dan gampang bertemu dengan mereka? NO! Sama sekali tidak ;-) Kedekatan yang terjalin antara kami semua ini adalah hasil kerja keras, usaha, dan penyesuaian diri selama 7 tahun :-)

Di masa awal2, ketika mereka masih jadi icon skala nasional, tak terhitung friksi antara kami. Seorang teman pernah sangat tersinggung karena Adit yang sedang moody tak sengaja menyepelekannya. Teman yang lain pernah sakit hati karena kepolosan dan tidak panjangnya pikiran Nia. Beberapa teman juga pernah agak sebal karena Nia & Adit tidak melayat ketika salah satu dari kami meninggal dunia. Atau ketika merasa tidak mendapat terima kasih yang pantas setelah apa yang dilakukannya di pesta kejutan untuk ulang tahun Adit.

Salah satu "drama" perseteruan kami pernah gw tulis di sini (ehmmm...)

Tapi seiring waktu kami semua - baik Nia& Adit maupun gw & teman2 lain - belajar menyesuaikan diri. Belajar menerima kelebihan dan kekurangan masing2. seiring waktu kami belajar melihat mereka sebagai bagian dari kami. Bukan sebagai sepasang icon yang terpisah dari kami. Belajar melihat mereka sebagai "teman". Belajar menerima bahwa berteman adalah [seperti gw tuliskan pada posting tertaut di atas] "accept and endure any pain for his/her friend". Berteman itu tidak menuntut, tidak berharap something in return... tapi simply... menerima dan ikut menjalani any pain for his/her friend. Termasuk sakit yang disebabkan si teman :-)

Dan waktu menguji segalanya :-)

Sedikit demi sedikit, tirai mulai tertutup bagi Nia & Adit. Mereka yang mengaku sebagai penggemar sedikit demi sedikit tak muncul lagi. Sibuk dengan icon-icon baru yang bermunculan. Sehingga akhirnya tersisa kumpulan yang bisa dibilang 4L: loe lagi, loe lagi :-)

Sebagai perbandingan: puluhan orang hadir di pesta ulang tahun kejutan untuk Adit 3 November 2004 di New York Cafe. Pada tahun 2006, ketika kami mengikuti Kuis Siapa Berani, mengumpulkan 18 orang untuk peserta aja sulitnya bukan main... hehehe... Dan ketika Nia dan Adit meluncurkan mini-albumnya tahun 2008, dengan band Friendz yang namanya masih Djawa dan susunan personilnya masih beda jauh dari Friendz sekarang, yang mau datang nggak sampai 18 orang :-) Itupun yang dua hasil culikannya Mbak Wiet, ya Mbak :-)?

Tapi ini adalah seleksi alam. Survival of the fittest. Atau tepatnya survival of the strongest loyalty :-) Pada akhirnya yang tersisa adalah kumpulan kecil yang mau ikut susah dengan Nia dan Adit :-) Bukan yang cuma mau menunjukkan kepada dunia bahwa dia pernah dekat dengan Pasangan Favorit AFI-2 :-)

Kami yang tersisa ini yang ikut susah payah mengumpulkan tanda tangan ketika Nia & Adit mencoba peruntungannya di Fourth Monkey, dengan janji akan rekaman jika bisa mengumpulkan 1000 pendukung. Kami yang jumlahnya tidak sampai 18 ini mencoba segala cara untuk mengumpulkan yang mau dicatatkan sebagai pendukung. Hema dari Bengkulu sampai membujuk semua teman sekantornya untuk vote :-) Kalau mereka malas vote sendiri, Hema meminjam password email mereka saja, agar bisa vote :-)

*Pada masa itu, jika Hema diculik oleh hacker, dijamin bubar dunia... HAHAHAHA... Berapa password aja tuh ada di tangan dia ;-)*

FourthMonkey memang belum jadi rejeki Nia & Adit. Tapi kami membukukan sukses, karena dalam kurun waktu singkat melakukan the impossible: dari posisi ke sekian puluh, melejit ke posisi kedua di bawah Barry Likumahua :-) Pada akhirnya hanya Barry yang diproduseri, tapi... kami mendapatkan sesuatu yang tak kalah baiknya: PERSAHABATAN.

***

So, jika sekarang ada teman2 baru yang mengatakan betapa irinya mereka pada kami, atau betapa beruntungnya kami bisa "dekat" dengan kedua "idola" ini, gw hanya ingin mengatakan sesuatu: we EARN it :-) We earn this FRIENDSHIP :-)

Ingin seperti kami? Caranya mudah... :-) EARN it :-) Jangan cuma muncul saat mereka tenar, saat mereka diingat orang. Tapi beradalah di samping mereka setiap saat. Dalam suka dan sedih :-) Dalam tenar dan redup :-)

Dan saat berada di samping mereka, stop treating them like idols. Treat them like friends :-) Berhenti berharap mendapatkan "sesuatu" dari/tentang mereka. Tapi berilah sesuatu pada mereka :-)

In good times or bad times,
I'll be on your side forever more
That's what FRIENDZ are for
;-)

Thursday, October 20, 2011

Ferris Wheel of Love

Bulan Oktober 2011, bukan hanya satu pasang teman saja yang gw rayakan pernikahannya. Setelah pernikahan "Kemanusiaan dan Alam" pasangan ini pada Non-Violence Day, dua minggu kemudian tibalah resepsi pernikahan pasangan ini :-).

Konsep pernikahan mereka memang tidak spektakular seperti pasangan sebelumnya. Namun, setelah gw menemukan waktu untuk bertapa, gw menemukan bahwa it's not so much different from the previous wedding after all ... :-)

Begini ceritanya......

Januari lalu kami mendapat kabar bahwa mereka berdua akhirnya menentukan tanggal pernikahan. Ditetapkan tanggal 17 Juni 2011 sebagai Akad Nikah, dan 25 Juni 2011 sebagai resepsinya. Resepsinya nggak bisa dilaksanakan 18 Juni 2011 bukan karena mereka benci sama gw dan nggak mau berbagi tanggal perayaan yang sama dengan ultah gw... hehehe... Tapi karena masalah klasik calon pengantin: gak kebagian gedung :-p

Gw memutuskan untuk hadir ;-) Tentunya! Karena mereka adalah dua orang yang sangat berarti buat gw :-) Bukan saja gw sangat menikmati penampilan mereka (termasuk exposure terhadap cinlok mereka ;-)) sepanjang sebuah reality show di tahun 2004, tapi ... setelah 7 tahun berteman mereka sudah seperti adik2 gw sendiri. Dan lagi... secara tidak langsung mereka berdua telah menjadi perantara yang membuat gw menemukan beberapa teman terbaik. Baik yang gw kenal dari menongkrongi milis/forum acara tersebut seperti Jeng ini, ini, ini, maupun Bro ini. Atau si seleb-blog yang membuat gw rajin menulis lagi. Dan tak lupa "teman berantem" gw yang tautannya sebaiknya tidak diberikan :-p

Tapi ada satu masalah kecil: 25 Juni 2011 bertepatan dengan hari kelulusan Ima dari SD. Nggak mungkin kan gw nggak hadir di acara kelulusan anak gw sendiri ;-)? Dan gak mungkin kan, Ima nggak hadir di acara kelulusannya sendiri ;-)?

So, gw memutuskan datang pada Akad Nikah-nya saja. Meskipun dengan resiko gw akan mati gaya ;-) Yaaah... nggak akan semati gaya di Bali sih, kan gw datangnya bareng Ima. Lagipula masih ada beberapa teman yang gw kenal di acara yang pastinya lebih banyak dihadiri keluarga besar itu. Dan Surabaya mah gw kenal... ;-) Nggak bakal bingung mau ngapain di sana.

Berniat datang ke pesta, siap kamikaze mati gaya? Hmmm... sounds similar to the other wedding, eh ;-)? Dan kemiripan berlanjut, ketika ternyata gw nggak jadi mati gaya. Bukan dengan menemukan teman2 baru... melainkan karena teman2 lama yang tadinya berniat menghadiri resepsi berbondong2 rescheduled ke Akad Nikah :-)

Pindah jadwal itu terpaksa dilakukan karena sebuah kabar duka. Tanggal 25 April 2011, setelah semua persiapan untuk perhelatan dijalankan, tiba2 ibu mempelai pria meninggal dunia. Serangan jantung. Sebuah hal yang mengubah segalanya...

Sebagai bakti terakhir seorang putra pada almarhumah ibunya, kedua mempelai memutuskan mempercepat pernikahan. Mereka menikah di hadapan jenazah sebelum ibunda dikebumikan. Perhelatan yang rencananya dirayakan 25 Juni 2011 pun dibatalkan. Tak pantas rasanya membuat suatu perhelatan ketika ibunda baru 60 hari dikebumikan. Dan tak pantas pula rasanya membicarakan kapan resepsi akan diadakan, jikapun akan ada resepsi, sebelum duka benar2 berlalu.

Namun Akad Nikah di depan penghulu dari KUA tentu harus tetap dilaksanakan. Karena pernikahan di hadapan jenazah adalah pernikahan siri; pernikahan yang sah menurut Islam, namun tidak mendapatkan surat nikah dari negara karena tidak dihadiri oleh penghulu sebagai saksi dari pihak negara.

Dan itulah yang membuat teman2 berbondong2 mengubah jadwal pesawat untuk menghadiri Akad Nikah.

Menikah di hadapan jenazah ibunda? Mengorbankan kemungkinan pesta meriah demi sebuah Akad Nikah sederhana dalam suasana duka? That's another similarity with the previous wedding: bahwa pernikahan adalah bukan untuk diri sendiri. Walaupun itu sebentuk persatuan antara dua individu, di dalamnya ada bakti kepada orang tua. Karena dalam budaya kita, "menikahkan anak" adalah sebentuk pencapaian bagi orang tua. So it's worth to change all the plan.

***

Pada hari yang direncanakan, Akad Nikah di hadapan KUA berjalan dengan lancar. Kabut duka mulai terangkat, setelah lebih dari 40 hari ibunda berpulang. Kami sangat menikmati pesta sederhana di rumah mempelai putri tersebut. Sebuah pesta yang akrab, dengan sajian hiburan organ tunggal dan the singin' newlyweds ;-) Emang beda ya, kalau suami-istri penyanyi... hehehe... Nggak tahan nggak nyanyi kalau lihat mic :-p

Kabar bahagia pun kami terima. Bahwa setelah masa berkabung usai, kedua pihak keluarga sudah mampu memutuskan bahwa resepsi akan tetap diadakan. Tanggal 15 Oktober 2011 dipilih sebagai tanggal resepsi yang baru. Tanggal dimana mereka akan membagikan kebahagiaan ini kepada lebih banyak lagi orang.

Gw tidak yakin bisa hadir pada tanggal tersebut. Bulan Oktober adalah masa2 penuh pekerjaan buat gw. Oleh karenanya sebuah hadiah kecil dan sebentuk doa yang menyertainya gw sampaikan pada perhelatan Akad Nikah saja. Sebuah bingkai foto berbentuk "Bianglala". Ferris Wheel.

Kenapa Ferris Wheel? Yaaah... karena gw kan orangnya sok simbolis... HAHAHAHAHA....  Gw merasa ferris wheel adalah suatu simbol pernikahan yang tepat sekali. Seperti gw tuliskan di kartu ucapannya:

Dear Nia & Adit,
Pernikahan sejatinya adalah sebuah permainan bianglala.
Kadang di atas, kadang di bawah,
Kadang deg-degan, takut ketinggian dan diterpa angin
Kadang bete karena putarannya berjalan lambat.
Tapi... ketika akhirnya permainan berhenti, hanya satu rasa yang tersisa: BAHAGIA
Selamat menempuh hidup baru!
Semoga tetap sakinah, mawaddah, warrahmah
Enjoy your Ferris wheel ride of love!

*Note: naaah... ini bedanya pernikahan pasangan yang ini dengan pasangan di posting sebelumnya... hehehe... Kalau yang di sebelumnya, gw kan yang tercerahkan dengan kata2 bijak sang mempelai. Kalau di sini, gw yang sok gaya mengeluarkan kata2 mutiara dan analogi... ;-)*

Ada 12 tempat untuk foto di Ferris Wheel itu. Mereka dapat mengisinya dengan foto2 perjalanan cinta mereka. Dimulai dari ketika mereka bertemu di sebuah reality show, menjalani kebimbangan untuk menjadi pasangan, jatuh bangun meniti karir, akhirnya tiba di pelaminan, dan kebahagiaan2 selanjutnya yang akan menggenapi perjalanan cinta mereka.... (punya anak pertama ;-)?)

Once again... enjoy your ride, darlings ;-) Duka cita yang mewarnai awal langkah kalian ke pelaminan semoga menjadi sesuatu yang menguatkan untuk ke depannya :-)

----
Credit title: foto bingkai berbentuk bianglala dipinjam dari sini. Bingkainya mirip siiih... cuma yang dari gw gak seharga sekian poundsterling :-p

Saturday, October 08, 2011

A Very Give-away Wedding

Ketika mendapatkan kabar bahwa mereka akan menikah, gw langsung memutuskan untuk hadir. Bahkan sebelum gw melihat konsep acara yang luar biasa ini. Sebagai individu, meskipun belum kenal mereka secara pribadi dulu, they've already got me from hello :-) Dan gw sudah dengan sotoy-nya percaya mereka adalah pasangan yang cocok, seperti apa yang gw tulis di milis ini 21 Februari 2005:


Ketika akhirnya kenal dan menjadi teman di dunia nyata, gw makin kesengsem sama mereka. Gw memang belum pernah ketemu Tika di dunia nyata, tapi... setiap kali ketemu, ngobrol dengan, atau baca bukunya Gobind rasanya kematangan spiritual gw meningkat beberapa derajat ;-) Dan karena gw tahu bahwa peran Tika untuk Gobind itu persis seperti Kasturba terhadap Gandhi... ya gw tentunya kesengsem dengan mereka sebagai pasangan juga ;-)

So, atas nama pertemanan dan terima kasih gw atas "pencerahan" yang gw dapatkan selama ini (meskipun pencerahan itu sering kabur lagi akibat terlalu ramainya lalu lintas pikiran gw ;-)), gw HARUS berpartisipasi. Sebisa2nya. Termasuk HARUS datang :-)

Baru, setelah gw memutuskan untuk datang, gw bingung sendiri ... ;-)

Gw nggak kenal Bali! Terakhir kali gw ke Bali untuk senang2 adalah.... tahun 1987 ;-) Setelah itu gw beberapa kali kerja ke Bali, tapi ya nggak sempat ngapa2in juga. So, gw harus ngapain di Bali? Apalagi Sanur yang gw gak pernah injak sama sekali.

Masalah kedua: gw nggak kenal teman2nya Gobind dan Tika :-) Teman mereka kan buaaaaanyaaaakkk banget dari berbagai organisasi sosial dan kemasyarakatan. Sementara, gw ini teman di luar kumpulan itu. Nanti gw sama siapa di sana?  Mati gaya aja lah, kalau gw luntang-lantung gak ada teman :-)

Tapi... walau dengan kegalauan seperti ini, gw memutuskan untuk datang. Berharap Mas Boy (satu2nya teman mutual gw dan Gobind) bersedia hadir ke Bali. Atau... berharap bisa membajak Bayik yang emang kerjanya bolak-balik Jakarta dan BAli.

Pada awalnya, masalah tampak teratasi. Bayik bilang dia ada di Bali tanggal segitu. Dan Mas Boy bilang dia ingin sekali datang. Tapi.... pada H-2, kagetlah awak! Bayik tertahan di Jakarta karena boss besarnya datang. Sementara Mas Boy nggak bisa pesan pesawat karena satu dan lain hal. Mampus gw!! Rasanya malang benar gw ;-)

Tapi mosok gw harus membatalkan niat baik cuma karena gak ada teman? Nggak gw banget ;-)  Cemen ;-) Akhirnya gw tetap berangkat sesuai rencana. Meskipun siap mental untuk mati gaya ;-)

Dan di situlah baru gw menyadari betapa sebuah keikhlasan, sebuah niat baik yang no expectation, akan dimudahkan oleh Yang di Atas dan membawa keberuntungannya sendiri  :-)

Dimulai ketika gw sampai di Bali. Pada awalnya, Bayik merekomendasikan Werdhapura sebagai tempat menginap. Katanya dekat, 10 menit naik taksi dari tempat acara. Tapi.. karena Werdhapura nggak punya kamar dengan double bed, gw memilih memesan kamar di Abian Kokoro. Hotel ini rekomendasi kedua dari Bayik, katanya sedikit lebih jauh - sekitar 15 menit naik taksi ke tempat acara.

Ternyata... justru peristiwa ini adalah pangkal dari rangkaian "kemudahan" dan "keberuntungan" yang gw dapatkan :-)

Saat check in di Abian Kokoro, gw menemukan kejutan membahagiakan: perhitungan jarak Bayik tidak akurat :-) Alih2 lebih jauh dari tempat pesta, jaraknya malah sepelemparan batu :-) Menurut GPS gw, jarak garis lurus hanya 900m dari lokasi pesta! Total jalan yang dilalui jika menyusur pantai sekitar 1,2 km saja. Bisa ditempuh dengan jalan kaki. Jika ingin lebih nyaman, bisa pinjam fasilitas sepeda dari hotel ini. Gratis!

So, gw nggak perlu repot2 pesan taksi pagi2 buta, dan bingung cari taksi untuk kembali ke hotel setelah acara. Cukup bersepeda mini saja :-)

Kemudahan, atau keberuntungan, kedua yang gw dapat adalah ketika mengembalikan sepeda pinjaman setelah jalan2 sore. Biasa... gw survei dulu untuk tahu letak pestanya, dan ngukur kekuatan kaki untuk bike to wedding besoknya ;-). Di front desk sederhana, dimana nama tamu di ke-18 kamar hotel dituliskan di white board besar, mata gw menangkap bahwa 3 dari 6 kamar di lantai gw adalah "booked by Mr. Gobind". Nah lho? Could it be....?

Segera gw SMS sang calon mempelai, dan ... jawabannya merupakan kejutan yang menyenangkan:

"Hahaha... memang saya pesan untuk teman-teman yang membantu acara besok"

Yiiihaaa! Berarti gw gak akan sendirian! Gw bisa kenalan malam ini dengan beberapa orang sehotel. Setidaknya, besok gw gak jadi orang yang benar2 "asing" di pesta itu. Sukur2 gw bisa minta ikut dilibatkan, membantu apa pun yang bisa gw bantu, supaya gw gak mati gaya.

Gw sebutkan nomor kamar gw kepada sang mempelai, dengan tawaran silakan mengetuk pintu kapan pun malam ini jika temannya butuh bantuan. Meskipun gw nggak yakin teman2nya akan melakukan itu.

But we're talking about people who live to serve and help other human being here.... Orang2 yang nggak ragu ngetuk pintu kamar orang tengah malam jika itu untuk kebaikan. Dan itulah kemudahan (atau keberuntungan) ketiga yang gw dapatkan.

Jelang tengah malam, ketika gw sudah tak sengaja tertidur, pintu gw diketuk. Salah satu teman Gobind, Mbak Catur, datang dan mengajak gw membantu merapikan suvenir. Sejumlah 1.000 kalender abadi untuk suvenir baru datang malam itu, beserta kotak tempatnya. Keseribu suvenir itu harus masuk kotak sebelum fajar menyingsing kalau nggak kami akan dikutuk jadi candi :-). Jadilah, Mbak Catur mengumpulkan tenaga bantuan sebanyak2nya.

Tugas Sangkuriang itu dapat kami selesaikan sebelum tengah malam. Kerja yang menyenangkan, karena diisi obrolan akrab dan canda tawa. Padahal, gw baru kenal dengan teman2 Gobind ini. Sungguh kumpulan orang yang ramah dan menyenangkan :-)

Paginya, mereka menawari berangkat bersama2. Pagi2 buta :-) Tadinya sempat ragu menerima; bakal bengang-bengong nunggu acara nih... secara panitia pasti semua sudah punya kerjaan. Tapi gw putuskan ikut! Siapa tahu ada yang bisa dibantu lagi di sana. Lagian, bukankah gw sudah siap mental untuk bengang-bengong mati gaya?

Dan itulah kemudahan (atau keberuntungan) ketiga yang gw dapatkan.

Gw datang pagi2 bertepatan dengan kedatangan pohon2 kecil yang akan dijadikan suvenir. Pohon2 itu tentu harus ditata supaya mudah diambil tamu. Bayangkan... menata 1.000 pohon untuk suvenir!!! Butuh tenaga banyak :-) Apalagi di tiap pohon harus dikalungi nama pohonnya :-) Langsunglah gw ikut terlibat mengangkat2 pohon. Meski dengan rok panjang :-)

Daaaan.... kisah berakhir dengan bahagia. Pesta berjalan dengan lancar. Gw nggak jadi bengang-bengong mati gaya, karena sudah kenal beberapa orang panitia. Gw juga merasa lebih puas hadir di acara, karena bisa ikut "nyumbang tenaga". Ikut terlibat langsung untuk perayaan kebahagiaan sepasang teman. Nggak cuma datang sebagai tamu dan pengamat :-)

Sebuah nikmat yang tak terbayangkan bahkan hingga gw mendarat di Bali. Alhamdulillah yach... sesuatu banget *Syahrini mode: ON* ;-)

***

Dalam perjalanan pulang, gw merefleksikan pengalaman ini. Betapa semua menjadi begitu mudah, justru ketika gw melepaskan segala harapan. No expectation. Yang penting gw datang untuk berpartisipasi pada perayaan kebahagiaan teman.  The power of ikhlas... kekuatan dari berani melepaskan... seperti yang selalu coba Gobind sampaikan dalam setiap obrolannya (dan selalu gw lupakan tak lama setelah berpisah dari dirinya ;-)). Kebahagian bisa didapat dengan cara melepaskan. Melepaskan ikanan dari harapan terhadap hasil yang kita inginkan. Itu isi awareness insight di kalender abadi yang menjadi suvenir, untuk tanggal 1 Mei.

Itu refleksi tingkat pertama ;-) Masih self-oriented ;-)

Refleksi tingkat kedua terjadi setelah gw mulai berpikir tentang orang lain ;-) Dalam hal ini, gw mulai berpikir tentang kedua mempelai. Kedua mempelai yang mengabdikan hidupnya untuk perbaikan dunia. Yang bahkan begitu selfless dalam pernikahannya: alih2 menjadi raja dan ratu sehari di pesta, mereka justru memanfaatkan momen ini untuk memberi lebih kepada manusia2 lain. Dengan mengadakan donor darah di pesta pernikahannya. Dengan mengajak tamu beryoga. Dengan hanya menggunakan makanan/minuman/peralatan yang dapat didaurulang di pesta ini supaya tidak membebani bumi. Dengan mencanangkan satu suvenir kalender hanya dapat diambil jika tamu bersedia juga menanam sebatang pohon, karena kalender dibuat dari mengorbankan pohon. Dengan hanya menyediakan makanan vegetarian dan semua yang berasal dari tetumbuhan.

Dan gw berpikir.... jangan2 segala kemudahan dan keberuntungan ini bukan semata karena keikhlasan gw ;-) Tapi justru sebuah kemudahan bagi kedua mempelai yang sudah begitu ikhlas. Karena keikhlasan mereka, mereka mendapatkan satu lagi tenaga yang siap membantu. Satu teman lagi yang "percaya" dan akan berusaha menjadi lebih baik.

Atau... ini adalah kemudahan untuk kedua mempelai to give away another thing. Dengan gak sengaja gw nginap di hotel yang sama dengan panitia, itu memudahkan kedua mempelai memberikan gw "teman". Memudahkan mereka mengingatkan lagi pada gw tentang pentingnya ikhlas.

Jika demikian halnya, maka semua kemudahan gw di pesta lalu bukanlah apa yang gw dapatkan. Tetapi sebuah awal. Sebuah awal yang akan kembali lagi ke pelaku dalam bentuk yang berkat yang besar. Tangan yang memberi, adalah tangan yang memanen.. demikian awareness insight pada kalender abadi di tanggal 25 April :-)

Ah, how can I not admire them so much? Dalam pernikahan mereka pun, justru gw yang mendapatkan "kado" berupa teman2 baru dan diingatkan kembali akan keikhlasan. Manusia memang tidak akan pernah kehilangan apa-apa, karena manusia memang tidak pernah memiliki apa-apa.

Thank you for the beautiful gift, Gobind & Tika :-) Banyak berkat untuk kalian :-) Teruslah berusaha mengajak orang2 menjadikan dunia lebih baik. I rooted for the two of you during 'that game'... and I'm still rooting for the two of you in this even bigger game: LIFE.

***
Dan sebagai penutup, gw tadi bongkar2 arsip lama di milis tertaut di atas. Gw menemukan bahasan gw sendiri tentang bagaimana gw melihat kolaborasi mereka berdua, even when I haven't known that they'll be one entity :-)


That's the trust I have in them :-) And I think my trust will be the perfect gift for the couple who has given me so much :-)

Friday, October 07, 2011

Cinta

Gw punya sebuah pertanyaan hipotetis, yang baru jadi perbincangan dengan beberapa teman kantor. Pertanyaannya begini:

Bayangkan kamu seorang perempuan, lajang, usia nyaris 35 tahun. Kamu sudah berpacaran selama 10 tahun dengan pria yang membuatmu tergila2. Pokoknya cinta mati deh! Tapi... hubungan ini nggak ada tanda2 untuk berlanjut ke jenjang yang lebih tinggi. Si laki2 hanya selalu bilang, "We're soulmate. We'll grow old together, trust me".

Lantas... suatu hari kamu bertemu dengan seorang laki-laki lain. Dia tidak membuatmu tergila2, tetapi juga tidak membuatmu uncomfortable di dekatnya. Dia menawarkan cinta, pernikahan, dan kemapanan.

Manakah yang akan kamu pilih? Menikah dengannya dan belajar mencintainya? Atau ... tetap bertahan pada hubungan yang entah mau dibawa kemana?

Hehehe... ini sebuah pertanyaan hipotetis. Atau tepatnya analogi ;-) Bukan gw mau kawin lagi... HAHAHAHA... But I really want to hear any opinion from you, along with the reason ;-)

Thank you ;-)