Bermula dari perkenalan di suatu cyberworld dgn seseorang yg pakai ID dari sebuah buku terkenal karangan seorang mantan ta-pol. Ternyata bacaannya banyak juga, dan dengan cepat kami menjadi akrab. Sampai suatu hari dia bertanya via YM: Apa film favoritmu? Dengan fasihnya gw menyebut berbagai film yg gw suka: Dead Poets Society, Schindler’s List, Life is Beautiful, The House of the Spirits..
Nah! Di situlah masalah berawal ;-p.
“House of Spirits? Film tentang revolusi
“Iya, ceritanya di jaman naiknya Allende, yang didasarkan dari bukunya Isabel Allende, walaupun nama Allende tidak pernah disebutkan di film itu. Kenapa?”
“Enggak, jarang aja ada orang yg nyebut House of the Spirits sebagai salah satu film favorit. Apalagi perempuan. Mudah2an bukan hanya karena ada Antonio Banderas di situ”
“Menghina banget sih loe! Kalo hanya ngejar Banderas doang mah gw seneng nonton Zorro, Desperado, .. Banderas mah yg sexy di Zorro, di House of the Spirits
Dari situlah dia bercerita, bagaimana House of the Spirits itu merupakan inspirasi baginya dan bagi teman2nya untuk memperbaiki kehidupan
Well, gimana ya? Gw sendiri sebenernya fine2 aja dengan pandangan2 seperti yang dimiliki teman gw itu: bahwa
Temen gw itu mengajukan contoh sebuah revolusi: berhenti menerima bantuan dari IMF, ganti pemerintah, dan berikan kembali subsidi pada rakyat. Well, gw sih setuju dengan ide kembalikan subsidi kepada rakyat. Tapi digabungkan dgn menolak bantuan IMF dan mengganti pemerintah? Menurut gw itu akan create masalah baru.
Idealnya, hal itu emang bagus sih. Manusia
Tapi gw kok masih gak tega ya, memikirkan kemungkinan kenyataannya. Bayangkan, dengan menolak bantuan negara lain, sudah tentu kita harus berdiri di atas kaki sendiri. Itu saja (untuk saat ini) tampaknya akan susah, apalagi untuk mengembalikan subsidi ke rakyat? Bisa2 malah rakyat hidup tambah terbebani. Apalagi kalau pemerintah baru yg kita pilih salah, atau tidak bisa berbuat apa2 karena mau gak mau harus pakai orang2 lama juga untuk lapis kedua atau ketiga. Alih2 ngembaliin subsidi ke rakyat, malah makin banyak aja yg hilang dari rakyat. Atau anggaplah pemerintah yang baru ini baik, dan entah bagaimana akhirnya kita bisa mengembalikan subsidi ke rakyat. Nah..
Nah, selama perbaikan generasi itu, banyak hal yang bisa terjadi. Banyak hal yg nggak bisa kita prediksi. Bener gak sih?
Temen gw itu berkeras bahwa melakukan revolusi itu (walaupun resikonya besar banget) lebih baik daripada gak melakukan apa2. Sebenernya gw setuju bahwa tidak melakukan apa2 adalah kondisi yang terburuk. Tapi apakah benar bahwa melakukan revolusi tanpa sebuah perhitungan matang adalah lebih baik?
Kalau gw sih lebih setuju untuk melakukan evolusi. Memperbaiki kualitas orang per orang, menyiapkan orang per orang, sehingga kalaupun nanti akan ada revolusi, orang2nya udah siap. Nggak kemaruk dan aji mumpung sehingga merugikan orang lain. Nah.. sekarang, lha wong masih banyak dari kita yang nggak menghargai hak orang lain di ruang public (misalnya: merokok di dalam mikrolet dengan alasan ini tempat umum dan semua orang berhak sesukanya), apalagi kalo ada revolusi yang membuat segalanya sulit dikontrol. Apa gak semua lantas mau cari untung sendiri, dan akhirnya malah membuat masalah yang lebih besar?
Jadi, kalau gw sih setuju sama Mister Goodmorning: membuat dunia (sedikit demi sedikit) lebih baik dengan perbuatan2 kecil dari tangan kita sendiri. Gak perlu apologia dengan berbagai macam jenisnya. Right, sir?
