Wednesday, November 30, 2005

Gw & Revolusi

Bermula dari perkenalan di suatu cyberworld dgn seseorang yg pakai ID dari sebuah buku terkenal karangan seorang mantan ta-pol. Ternyata bacaannya banyak juga, dan dengan cepat kami menjadi akrab. Sampai suatu hari dia bertanya via YM: Apa film favoritmu? Dengan fasihnya gw menyebut berbagai film yg gw suka: Dead Poets Society, Schindler’s List, Life is Beautiful, The House of the Spirits..

Nah! Di situlah masalah berawal ;-p.

“House of  Spirits? Film tentang revolusi Chile itu?”

“Iya, ceritanya di jaman naiknya Allende, yang didasarkan dari bukunya Isabel Allende,  walaupun nama Allende tidak pernah disebutkan di film itu. Kenapa?”

“Enggak, jarang aja ada orang yg nyebut House of the Spirits sebagai salah satu film favorit. Apalagi perempuan. Mudah2an bukan hanya karena ada Antonio Banderas di situ”

“Menghina banget sih loe! Kalo hanya ngejar Banderas doang mah gw seneng nonton Zorro, Desperado, ..  Banderas mah yg sexy di Zorro, di House of the Spirits kan sempat digebukin sampai bengep!”

Dari situlah dia bercerita, bagaimana House of the Spirits itu merupakan inspirasi baginya dan bagi teman2nya untuk memperbaiki kehidupan Indonesia. I spent the next one hour ooh-ing and aaah-ing to his story.  Bingung juga gw mau komentar apa ;-p, karena sebenernya gw suka film itu karena dinamika hidup dan perkembangan pribadi masing2 tokohnya, bukan karena ada keberhasilan revolusi radikal di situ. Gw lebih tertarik melihat bagaimana Esteban Trueba menjadi tokoh yg keras, bagaimana Clara menjadi penyeimbang antara suami dan anak, bagaimana anak haram Esteban Trueba sangat dendam (tapi sekaligus gak bisa benar2 mencelakai) si cantik Blanca. Pendeknya, gw lebih tertarik unsur psikologisnya, bukan unsur sejarah dan revolusinya, seperti anggapan teman gw itu.

Well, gimana ya? Gw sendiri sebenernya fine2 aja dengan pandangan2 seperti yang dimiliki teman gw itu: bahwa Indonesia bisa diperbaiki dengan revolusi. Tapi gw sendiri dari dulu lebih seneng dengan evolusi. Gw lebih percaya bahwa perubahan yg kecil2 in the long run akan lebih baik dari perubahan serentak yg buru2.

Temen gw itu mengajukan contoh sebuah revolusi: berhenti menerima bantuan dari IMF, ganti pemerintah, dan berikan kembali subsidi pada rakyat. Well, gw sih setuju dengan ide kembalikan subsidi kepada rakyat. Tapi digabungkan dgn menolak bantuan IMF dan mengganti pemerintah? Menurut gw itu akan create masalah baru.

Idealnya, hal itu emang bagus sih. Manusia kan memang punya kemampuan untuk beradaptasi, jadi sebenernya kalo kita bikin revolusi, akan terjadi kondisi yg menantang survival instinct kita. Even kalau pemerintah yang baru gak beres pun, kalau hidup kita tambah susah krn gak ada bantuan pun, the fittest will survive. Dan dengan para survivors itu mungkin kita akan bisa membangun Indonesia yang baru.

Tapi gw kok masih gak tega ya, memikirkan kemungkinan kenyataannya. Bayangkan, dengan menolak bantuan negara lain, sudah tentu kita harus berdiri di atas kaki sendiri. Itu saja (untuk saat ini) tampaknya akan susah, apalagi untuk mengembalikan subsidi ke rakyat? Bisa2 malah rakyat hidup tambah terbebani. Apalagi kalau pemerintah baru yg kita pilih salah, atau tidak bisa berbuat apa2 karena mau gak mau harus pakai orang2 lama juga untuk lapis kedua atau ketiga. Alih2 ngembaliin subsidi ke rakyat, malah makin banyak aja yg hilang dari rakyat. Atau anggaplah pemerintah yang baru ini baik, dan entah bagaimana akhirnya kita bisa mengembalikan subsidi ke rakyat. Nah.. kan gak serta merta begitu rakyat dikasih subsidi lantas mendadak sontak jadi pinter dan siap membangun? Masih butuh beberapa generasi lagi untuk bisa berada di tahap siap membangun.

Nah, selama perbaikan generasi itu, banyak hal yang bisa terjadi. Banyak hal yg nggak bisa kita prediksi. Bener gak sih?

Temen gw itu berkeras bahwa melakukan revolusi itu (walaupun resikonya besar banget) lebih baik daripada gak melakukan apa2. Sebenernya gw setuju bahwa tidak melakukan apa2 adalah kondisi yang terburuk. Tapi apakah benar bahwa melakukan revolusi tanpa sebuah perhitungan matang adalah lebih baik?

Kalau gw sih lebih setuju untuk melakukan evolusi. Memperbaiki kualitas orang per orang, menyiapkan orang per orang, sehingga kalaupun nanti akan ada revolusi, orang2nya udah siap. Nggak kemaruk dan aji mumpung sehingga merugikan orang lain. Nah.. sekarang, lha wong masih banyak dari kita yang nggak menghargai hak orang lain di ruang public (misalnya: merokok di dalam mikrolet dengan alasan ini tempat umum dan semua orang berhak sesukanya), apalagi kalo ada revolusi yang membuat segalanya sulit dikontrol. Apa gak semua lantas mau cari untung sendiri, dan akhirnya malah membuat masalah yang lebih besar?

Jadi, kalau gw sih setuju sama Mister Goodmorning: membuat dunia (sedikit demi sedikit) lebih baik dengan perbuatan2 kecil dari tangan kita sendiri. Gak perlu apologia dengan berbagai macam jenisnya. Right, sir?