Wednesday, November 16, 2005

Laki2 di Kedai Kopi

He was a kind of hero in my teenage life. Enam tahun lebih tua dari gw, dia tempat gw belajar berbagai hal: dari akademis sampai tentang kehidupan. Si sanguinis yang pintar ini! Dulu gw senang sekali berada di dekatnya, karena dia adalah everything I cannot be.

Sudah 10 tahun lebih gw nggak ketemu dengan dia, sejak dia pindah ke Sorong (Papua) untuk mencari jati dirinya: mencoba hidup dengan kedua tangannya saja, tanpa embel2 ahli madya sastra Inggris yang lulus cum laude ataupun sarjana psikologi. Sebelumnya, dengan heroik dia membakar kedua ijazah yang dia peroleh dari the-so-called reputable university itu sebagai bentuk protes terhadap segala (meminjam bahasanya) kemunafikan di dunia akademis.

Dan karena kangen pada sosok inilah gw bener2 berniat mencari dia di Medan pas beberapa bulan lalu. Susah payah gw telusuri nomor teleponnya, dan ketika nyambung, minta ijin berkunjung ke rumah dan nanya alamat rumahnya, jawaban si abang ini adalah:

“Rumah aku dekat Erik Travel. Pokoknya kau naik taksi atau bemo, semua orang di Medan ini tahu Erik Travel di mana. Nah, di depan Erik Travel itu ada kedai kopi. Kau tanyalah di kedai kopi itu rumahku yang mana. Semua orang tahu rumah aku.”

(Jawaban yg bikin gw ngakak abis ;-p! Masih si abang yang dulu juga, gak pernah mau repot2 dalam segala hal, apalagi dalam memberikan informasi. Saking gak mau repot, dulu dia gak mau makan udang dan segala macam buah karena males ngupas ;-p)

Dengan diantar salah satu anak kantor Medan, Soritua, naik kereta (= sepeda motor, bahasanya anak Medan), akhirnya gw nemu juga Erik Travel jam 21:00. Ada kedai kopi kecil di depannya. Dan sosok seseorang yg gw kenal membelakangi arah jalan. Lebih kurus dari 10 tahun lalu.

“Permisi, Bang?”

Sosok itu menoleh. Dan gw terkejut! Abang gw yang gagah, si macan pecinta alam itu, sama sekali tidak seperti bayangan gw. Waktu 10 tahun seolah berlipat ganda. Tapi senyumnya masih senyum abang gw yang dulu, dan matanya masih tajam, walaupun kini lebih teduh dan tenang.

Kami berbincang hingga jauh malam di rumahnya. Dan jam2 yang berlalu itu membuka tabir mengapa laki2 di kedai kopi itu sungguh berbeda dengan si sahabat lama di masa silam. Waktu dan pengalaman melembutkannya. Masih ada banyak yang yang tersisa dari heroisme dan idealisme masa muda, tapi sekarang dia sudah bisa membedakannya dari kekonyolan dan kekeraskepalaan yang tak perlu.

“Gw nggak perlu bakar ijazah untuk menunjukkan sikap gw, May! Mungkin, suara gw justru akan lebih terdengar lantang kalau gw pakai ijazah itu dengan cara lain. Kalau kita mau mem-brainwash orang, suara yang monotone-but-steady akan lebih berhasil dari ledakan keras yang hanya sekali.”

Ketika gw pamit, satu hal yg dia pesankan: “Everything changes, May, people changes. Jangan pernah menyesali perubahan yg terjadi pada kita, dan segala konsekuensinya. Besok telfon gw sebelum pulang ke Jakarta ya, May, siapa tahu gw belum berangkat narik angkot!”

Well, Bang, you were my hero because you bravely stated your opinion. Now, you are my hero because of the way you live the consequences of your action.