"It seems that outlawing violent thought does not make the needs towards it automatically disappears.
And it seems that you have a more serious problem than having random thoughts of the aliens"
smrita (Sansekerta) = dikenang; charita (Sansekerta) = cerita; smrita + charita = cerita untuk dikenang ... karena gajah selalu ingat!
Saturday, December 31, 2005
Random Thought
Friday, December 30, 2005
Naif: Tahu yang Kenyal
Masyarakat Sendiri yang Suka Formalin
Jangan salahkan produsen jika mereka menggunakan formalin. Sebab, masyarakat sendiri yang suka mengkonsumsi makanan yang mengandung formalin. Sebagai contoh, ketika membeli tahu pada siang hari konsumen ingin tahu yang tidak bau, tidak mudah hancur, dan sedikit kenyal. Padahal tidak mungkin tahu bisa bertahan lebih dari 12 jam tanpa pengawet.
“Karena itu, kami terpaksa memberi beberapa tetes formalin untuk memuaskan konsumen,” kata seorang pengusaha di
(Kompas, 30 Desember 2005, hal. 1)
------------------------------------------
Ealaaaaah… ini untuk kesekian kalinya gw tergiur untuk komentar setelah baca Kompas. Quo vadis, Kompas? Dulu kayaknya ini harian paling aspiratif deh! Kok sekarang jadi harian yg bikin gw tergelitik untuk protes ya?
Mengenai artikel di atas, gw cukup geram karena reporter harian sekelas Kompas tidak bisa membedakan antara needs & expectation dan acceptance. Apa yang dia sebut sebagai “tidak bau, tidak mudah hancur, dan sedikit kenyal” itu adalah needs & expectation konsumen. Itu yg diinginkan oleh konsumen. Tapi seberapa penting atribut tersebut bagi konsumen, dan demi memperoleh atribut itu trade off apa yang bersedia dibayarkan oleh konsumen, itu masih harus dikaji silang dengan consumers acceptance terhadap formalin. Jadi, gak bisa potong kompas jump to conclusion bahwa konsumen sendiri yang suka formalin hanya karena konsumen punya needs & expectation di atas ;-p. Mosok sih reporter Kompas senaif ini… ;-p?
Kesenjangan persepsi antara konsumen dan produsen ini memang masalah klasik. In fact, ini penyebab kenapa muncul bidang marketing research. Sebagai yang punya produk, tentu aja produsen itu yg paling kenal sama produknya; paling tahu boundar produknya, apa yg bisa dan tidak bisa. Tapi, sebagai sekedar pengguna produk, konsumen gak punya pengetahuan ini. Mereka cuma ngerti hasilnya kalo pakai produk itu seperti apa; memuaskan atau tidak. Dan dari pengalaman itu wajar aja kalo konsumen punya harapan dan kebutuhan sendiri.
Nah… kerjaan gw tiap hari mencoba menjembatani maunya konsumen dgn pengetahuan produsen. Mencarikan win-win solution gitu deh! Mencarikan titik temu sejauh apa keinginan konsumen bisa dipenuhi berdasarkan pengetahuan yg dimiliki produsen. Dan kalo titik temu-nya gak ketemu (eh… kalo gak ketemu namanya bukan titik temu ya? Tapi titik tidakketemu… ;-p *gak penting dot com*), maka tugas gw mensiasati bagaiman mengubah needs & expectation konsumen.
Buat gw, dosa besar tuh kalo bikin kesimpulan yg berbunyi seperti artikel Kompas di atas!
Kasus di atas
Nah, perkara tahu lokal itu beda karakteristik sama tofu,
Kalau industri tahu ini adalah klien gw, maka pertama kali yg gw sarankan adalah untuk mengeksplorasi dulu apa kesulitan konsumen dgn tahu yg mudah hancur. Mungkin di situ kita bisa nemu celah bagaimana konsumen tetap bisa enjoy memasak dan mengkonsumsi tahu yang mudah hancur. Sekaligus kita check juga seberapa penting sih kesolidan tahu itu bagi mereka? Kira2, kalau mereka mau tahu yg gak gampang hancur, atribut mana yg siap mereka korbankan: harganya, kesehatannya, atau apa?
Seperti dibilang oleh Kompas, sebenernya ada kok cara lain untuk membuat tahu kenyal dan tidak mudah hancur: dengan bahan kimia bernama minatrid. Kesulitannya, minatrid ini sulit dicari dan harganya pun mahal. Konsekuensinya, tahu yang ber-minatrid ini pasti harganya mahal. Tapi yg jelas lebih sehat daripada kalau pakai formalin. Nah.. kalau konsumen bersedia mengorbankan harga (bukan kesehatan), bukankah mereka tidak keberatan memakai minatrid? Jadi.. gak ada alasan dong untuk bilang bahwa konsumen memang suka tahu berformalin? Apalagi untuk menutup artikel dengan:
Tak ada pilihan lain, produsen pun akhirnya menggunakan formalin
(Kompas, 30 Desember 2005, hal. 15 – lanjutan dari hal. 1)
Siapa bilang gak ada pilihan lain? Paling tidak ada 2 pilihan lain: membuat tahu yg mahal dgn minatrid, atau membuat tahu yg seperti sekarang. Kalimat penutup itu hanya berlaku kalau sudah dipastikan bahwa masyarakat bersedia mengorbankan kesehatan sebagai trade off untuk mendapatkan tahu yang kenyal!
Nah, karena industri tahu bukanlah industri besar yang consumer research-minded, maka gak mungkin jadi klien gw atau jadi kliennya advertising agency. Gak mungkin mereka menganggarkan budget untuk mensosialisasikan (istilah yg biasa kami pakai: consumer education) tentang hal ini. Oleh karenanya, tugas ini sudah seharusnya diemban oleh yayasan2 nirlaba yg peduli konsumen (YLKI, maybe?) dan media
Yup! Ini tugasnya media
Hal itu yang menurut gw lebih tepat ditulis oleh Kompas dalam artikelnya, bukan malah ujug2 menyalahkan konsumen, seolah2 konsumen yang minta seperti itu. Lha wong produsennya yang jump to conclusion kok! Tugasnya Kompas memperbaiki kesenjangan persepsi ini, bukannya justru memihak pada pembelaan diri yang dilakukan produsen… ;-)
*Buseeeet… gara2 tahu aja tulisan gw segini panjang… ;-) Uhm… tulisan gw sekali ini bitchy banget gak sih? Bodo ah! Emang gw bitchy! Tapi ngomong2, kalo tulisan ini gw forward ke Kompas, gw bakalan dikasih honor gak ya? ;-p*
Tuesday, December 27, 2005
Milik Publik... artinya?
Kemarin gw antri ATM BCA sekitar jam 12:30. Dalam booth yang kebetulan cukup besar itu ada 3 mesin ATM: satu non-tunai, satu sedang bermasalah sehingga gak bisa dipakai tarik tunai, dan satu mesin tarik tunai lagi berfungsi sempurna. Gw udah antri sekitar 5 menit, dan yg lagi pakai satu2nya mesin tunai itu masih dgn cueknya gonta-ganti kartu narik duit (kalo gw gak salah hitung, dia punya 7 Paspor BCA, ada yg warna kuning, silver, dan kecoklatan). Antrian di belakang gw makin panjang, dan hitungan terakhir gw mencakup 12 menit zonder 8 pengantri (secara ini jam makan siang, gitu bro!), tapi orang yg lagi pakai satu2nya mesin tunai yg berfungsi itu cuek aja.
Nah, tahu aja
“Pak, kalau masih banyak, tolong dong gantian. Bapak antri lagi. Yang nunggu sudah banyak, bapak udah lebih dari 10 menit di ATM”
Pikir gw tampang dandy begitu (plus Nokia Communicator 9500 mengintip di gesper, kaos Tommy Hilfiger yang gw yakin bukan produksi abal2, dan aroma Truth-nya Calvin Klein) si bapak ini cukup terpelajar untuk menerima kritik dan himbauan orang lain. Eh.. ternyata gw salah.
“Nggak sabar amat sih? Ya terserah saya dong mau berapa lama! Ini
Masih dengan “bijak mode ON”, gw mencoba menjelaskan sekali lagi:
“Bukan masalah uangnya, Pak. Masalah antriannya. Bapak sudah lebih dari 10 menit di sini, dari tadi saya lihat bapak bolak-balik ganti kartu. Kasihan orang lain yang nunggu, orang lain
“Terserah saya dong! Saya punya banyak kartu, mau saya pakai semua, terserah saya! Urusan saya belum selesai kok! Ibu tunggu dong sampai urusan saya selesai. Ini
Nah! Sampai sini si bapak itu harusnya bersyukur bahwa gw bukan Powerpuff Girl. Soalnya, kalau gw Blossom atau Buttercup (sorry, Bubble kayaknya enggak gw banget deh.. ;-p), gw jamin si bapak itu udah gw bawa terbang dan gw jatuhkan di Samudera Hindia. Berhubung gw hanya manusia biasa, gw masih mencoba menjelaskan sekali lagi:
“Justru karena milik umum, Pak. Makanya pemakaian juga seharusnya memperhatikan kepentingan orang2 lain juga. Jangan dimonopoli sendiri, karena orang lain juga berhak pakai”
Tapi si bapak itu makin mencak2, sampai akhirnya ditarik Satpam untuk keluar (dadah bapak! Jangan marah2 di luar ya.. ! Ntar kalo marah2 mobilnya nabrak lho!)
Hehehe… pas kejadian itu gw memang mangkel luar biasa. Kok ada ya, orang yang segitu nggak peduli sama orang lain. Kok bisa ya, membiarkan orang lain menunggu sementara dia menikmati sendirian sesuatu yang hak-nya juga dipegang oleh orang2 lain yg sedang menunggu itu. Padahal, kalau kita menghargai hak orang lain,
1. Ke ATM pada saat jam2 sepi, sehingga gak bikin orang lain nunggu lama. Jaman gw belum punya Key BCA, gw kalo bayar2 via ATM tuh selalu jam 6:00 pagi atau jam 21:00. Gw bisa nongkrongin ATM sepuasnya tanpa harus bikin orang lain nunggu lama2.
2. Mengambil uang via teller. Toh, ngambil uang gak harus lewat ATM. Kalo ngambil dari banyak rekening dan sempatnya hanya jam makan siang, ya sekalian aja pakai formulir tarik tunai di teller. Nggak susah, antrinya juga reasonable, dan yg pasti: nggak ngerepotin orang lain.
Tapi balik lagi, mungkin kesalahan utamanya memang di persepsi, kali ya? Kesalahkaprahan memandang bahwa “milik publik berarti tidak ada yang lebih berhak atas benda itu, sehingga masing2 boleh pakai sesuka2nya”. Padahal, kalau menurut gw, yang namanya milik publik itu harus diartikan sebagai “tidak ada yang lebih berhak atas benda itu, sehingga tidak pada tempatnya kita menggunakannya hingga merugikan orang lain (yg juga berhak)”.
See? Publik (menurut gw) harusnya diartikan sebagai social control yang membatasi hak2 kita. Tapi bagi sekelompok orang lain (contohnya ya si bapak itu) , publik diartikan sebagai source of anomie, suatu justifikasi untuk menafikan aturan2 yg tidak tertulis.
Asli, gw tadinya udah pingin nyolot sama si bapak itu. Lha wong ditegur baik2, diingetin salahnya, kok malah marah2 dan nyalahin orang lain. Tapi something’s telling me not to, karena sebenernya peristiwa ini merupakan insight buat gw. Si bapak ini tidak sendirian. Orang serupa bapak ini bisa kita temui dimana2: orang yg dgn cueknya merokok di mikrolet penuh penumpang, orang2 yg nyebrang jalan padahal ada zebra cross atau jembatan penyeberangan di dekatnya, pengendara motor yg dgn seenaknya melaju ke arah berlawanan dari arah jalan, metromini yg seenaknya ngetem di jalan sempit, dll. Semua merasa karena mereka berhak menggunakan sesuatu, maka orang lain harus maklum dan tidak boleh protes.
Ya, kita memang masih tinggal di masyarakat yang masih harus diatur. Masyarakat yang belum bisa mengatur dirinya sendiri. Dengan kata lain: masyarakat yang gamang terhadap kebebasan mutlak, ketidakadaan tokoh otoriter, atau hilangnya aturan. Terus.. apa jadinya kalau kita berikan mereka kebebasan sekarang? Chaos. Mungkin beberapa orang akan survive dan membuat dunia lebih baik, tapi success rate-nya berapa? So, jangan menuntut kebebasan mutlak dulu deh! Kebebasan bertahap aja dulu, sambil pelan2 menunjukkan bahwa kita bisa bertanggung jawab atas sedikit-demi-sedikit kebebasan yg kita dapatkan itu.
Aih.. what a precious learning that guy gave me! Makanya, sekarang gw lumayan nyesel juga bahwa di akhir kejadian kemarin, gw sempet “sarkastik mode ON”. Sambil si satpam membawa bapak itu keluar booth, gw tersenyum manis (atau sinis? Hehehe… feel free to interpret ;-p) seraya berucap:
“Langsung mengajukan permohonan pemasangan ATM di rumah bapak sekalian ya, Pak! Jadi bapak bisa ngambil duit sepuasnya tanpa bikin orang lain nunggu lama2”
*ya maap deh.. Maya juga manusia, punya rasa punya hati, jangan samakan dengan pisau belati.. ;-p*
Friday, December 23, 2005
Friendship
He is not my best friend anymore. He has changed. A true friend should never let his friend down. A true friend will treat his friend with respect
Look at yourself. Do you act as a true friend? A true friend never expect anything from his friend. A true friend will only give. And when he does not receive anything in return, a true friend will never use it as a reason to end the friendship
Monday, December 19, 2005
Sepatu buat si Mas
Tanggal 18 Desember kemarin suami gw ultah. Dan seperti tahun2 lalu, beberapa minggu sebelumnya urusan heboh mencari kado udah dimulai. Tahun lalu kadonya computer backpack. Maklum, sebenernya gw itu
Seumur2 gw gak pernah beliin dia baju, sepatu, atau outfit2 untuk kerja lain tanpa bawa orangnya.
*hehehe.. jadi inget pas menikah dulu. Batik yang akan dipakai si Mas untuk akad nikah kependekan sehingga harus disambung dengan kain tambahan. Beberapa menit sebelum akad nikah ternyata jahitan sambungannya jebol, sehingga harus dijelujur ulang. Pokoknya sempet bikin semua orang deg2an, karena jam akad nikah itu sudah dihitung dgn cermat berdasarkan primbon, dan kalo meleset 10 menit udah masuk ke jam yang buruk.. ;-)*
Back to topic, membeli sepatu buat kado suami gw. Suami gw tuh nomor sepatunya 44 – 45. Gw pikir berbekal nomor sepatu itu, plus plan B dan plan C (baca: seutas tali raffia yg gw ukur sepanjang sepatu kerjanya dan selembar kertas bergambar pola sepatunya –
Pertama masuk sebuah toko sepatu, gw udah seneng lihat ada sale akhir tahun. Setelah pilih
“Wah.. ini nomor paling gedenya 43”
“Jadi mana yang ada nomor 45-nya?”
“Nggak ada”
OK deh.. baru satu toko! Jadi gw masuk ke toko lain. Beberapa toko gw tinggal karena jelas harganya gak masuk budget. Beberapa toko lagi gw tinggal karena gak ada kesesuaian model dan/atau ukuran. Sampai akhirnya di toko kesekian (yang paling gede) kayaknya nggak mungkin kalo gw gak dapat yg gw mau. Pilah-pilih dari segala model, akhirnya nemu satu model yg bagus. Klasik dan konservatif, favorit suami gw untuk kerja. So gw nanya ke si Mbak penjaga yang nomor 45. Sayang jawabannya masih seperti yang dulu: nggak ada nomor 45. Adanya nomor 43 paling gede. Ya udah, gw minta aja yg nomor 43, siapa tahu jodoh, karena si Mbak penjaga bilang nomor sepatu standardnya suka beda2.
Begitu nomor 43 datang, ternyata kalau diukur pakai tali panjangnya sama. Tapi diukur pakai pola sepatu di kertas kok rada beda, karena bentuknya gak identik. Nah lho! Padahal udah jatuh cinta sama modelnya nih! Si Mbak penjaga, plus Store Manager-nya yg ikutan muncul, gak bisa memastikan suami gw bakal cukup atau enggak pakai sepatu itu. Tapi mereka memperbolehkan sepatu itu ditukar tanggal 18 Desember (lewat dari seminggu kemudian) kalo suami gw ternyata gak cukup. Masalahnya satu aja:
“Nukernya harus dengan merek dan model yang sama, Bu. Nggak boleh ganti model, apalagi merek”
“Lha, tapi ini udah nomor paling gede ya? Lha kalo suami saya kekecilan, terus nukernya gimana dong, kalo gak boleh sama model yang lain?”
“Ya, gimana ya, Bu?”
Lha, ditanya kok malah nanya! Hehehe.. Jadi safe is safe, terpaksa gw ganti haluan aja: yang tersedia sampai nomor di atas 45 model yang mana aja sih? Si Mbak menunjukkan satu rak sepatu. Hanya di rak itu tersedia nomor komplit dari 41 – 48. Modelnya gak banyak, dan gak sebagus yg mau gw beli itu. Tapi ya gimana? Pilihannya hanya ini. Daripada gw beliin model bagus tapi habis itu suami gw meringis kesakitan kalo pakai?
Akhirnya gw pilih model yg terbagus dari alternatif yg ada. Nomor 45. Dicocokkan dgn tali dan gambar pola juga gak beda jauh. Plus masih ada garansi boleh tuker tanggal 18 Desember siang kalo gak muat, dan masih ada nomor di atasnya. Sepatu langsung gw bawa ke rumah adik gw, yg nomor sepatunya 43 – 44. Gw suruh coba, dan dikira2 cukup gak kalo suami gw yg pakai. Adik gw bilang cukup. Bikin lumayan tenang deh!
Tapi.. ternyata seminggu lebih itu gw bener2 deg2an. Tiap pagi lihat kotak sepatu itu di rak sepatu (tempat paling gampang nyembunyiin sepatu
Minggu dini hari, setelah lewat tengah malam memasuki 18 Desember, gw mengendap2 ke rak sepatu buat bungkus kado. Last temptation nih! Hampir aja gw tergoda untuk membangunkan suami gw untuk mencoba pakai (tapi udah janji sama Ima mau kasih kado barengan, dan gw tidak mau merusak kepercayaannya Ima). Sempat terpikir untuk mencobakan ke kaki the sleeping birthday guy. Tapi sayang ya.. tinggal beberapa jam lagi. Akhirnya gw bungkus tuh kado sambil tetep deg2 plas: cukup gak ya?
Pagi jam 7:30, gw & Ima akhirnya kasih kado itu ke si Mas. Si Mas seneng banget terima kado dari kami berdua. Dan begitu dicoba.. ternyata.. CUKUP! Alhamdulillah! Gak perlu nukerin kado, gak perlu lihat orang susah payah nyoba pakai kado itu dan tersenyum padahal kadonya harus ditukar. Deg2an 10 hari terbayar sudah.
*Dan yang bikin gw senang: sekali ini gw gak tergoda untuk mencari tahu jawabannya sebelum waktunya benar2 tiba… ;-)*
Happy 39th Birthday, Sweetheart!
Saturday, December 17, 2005
Behind the Romantic Movies
Asli, ini posting yang sama sekali (gak) penting! Gara2 temen gw nyebut Serendipity, gw jadi nginget2 film2 romantis apa yg gw suka. Well, itu bukan genre favorit gw, tapi ada juga yg berkesan dari beberapa film.
Serendipity, Love Affairs, dan L'Appartment bisa dibilang masuk kategori yang bikin gw terpana. Serendipity dan Love Affairs (sebenernya ini adjusted re-make dari film jadul An Affair to Remember) bercerita tentang sepasang manusia yg jatuh cinta karena adanya suatu kebetulan, tapi mereka tidak percaya pada perasaan itu, dan memutuskan untuk menantang takdir. Serendipity mengakhiri kisahnya dgn rangkaian kebetulan yg indah. Ini kisah yang lebih menunjukkan the beauty of playing with your fate; dengan membuat orang gemas akan kebetulan2 kecil yg terlewatkan. Sementara Love Affairs, seperti juga L'Appartment menunjukkan betapa bahayanya menantang takdir, karena sebuah kecelakaan kecil bisa saja terjadi dan harga yang dibayar untuk salah membaca kecelakaan itu sangatlah mahal. Kealpaan mempertimbangkan pentingnya menyampaikan sendiri sebuah pesan penting di L'Appartment membuat Max & Lisa kehilangan cintanya. Keterburu2an memaknai mengapa sang kekasih tidak muncul di Empire State Building pada waktu yang ditentukan pun berakibat sama.
Atau mungkin, bukan menantang nasibnya yang berbahaya. Tapi tidak percaya pada kata hati-lah yang membuat munculnya bahaya. Bukankan jika mereka percaya pada orang tersebut, maka bagaimana mereka memaknai ketidakhadirannya juga menjadi berbeda? Kalau mereka berangkat dari berkata: aku percaya dia mencintai saya, apa halangan yg membuat dia tidak hadir?, tentu mereka akan mencari si pasangan karena khawatir ada yg buruk terjadi padanya. Bukan meninggalkan tempat itu dgn persepsi bahwa dia kehilangan cinta.
*jadi inget satu kalimatnya Viktor Frankl dalam Man's Search for Meaning: Their question was, "Will we survive the camp? For, if not all this suffering has no meaning". The question which beset me was, "Has all this suffering, this dying around us, a meaning? For, if not, then ultimately there is no meaning to survival" Kadang kita kehilangan kesempatan membaca tanda2 yg ada, karena salah menentukan titik berat masalahnya*
OK.. back to topic. All-time-favorite gw masih Pretty Woman. Gw sampai bela2in beli DVD-nya dan nonton berulang2 (padahal pas diputer di bioskop, gw udah nonton 4x). Dan teteup, selalu gw ikut nangis di bagian Julia Roberts meninggalkan Richard Gere diiringi lagu It Must've Been Love. Actingnya Julia Roberts di situ bener2 bagus: kelihatan banget approach - avoidance conflict nya. Meninggalkan Edward (Richard Gere) adalah the least she wanna do, tapi menjadi cewek simpanan-nya Edward juga sesuatu yg sangat berat bagi dia karena dia bener2 sudah jatuh cinta pada Edward. Entah apakah ini bisa dibilang menantang takdir juga, tapi kalo gw sih memang tertarik dgn bagaimana keputusan yg berat itu diambil. Ketika kita mengambil pilihan, kita tak pernah tahu kemana pilihan itu akan membawa kita. Tapi toh tetap kita harus memilih, menjalani, dan tidak menyesali keputusan tersebut. Kalau kita beruntung, the prince will come, seperti di film ini. Tapi jangan berharap semuanya akan berakhir seindah ini.
Apa lagi ya? Oh ya! Shall We Dance? Film ini gw suka karena memberi arti lain bagi jatuh cinta setelah menikah. Selama ini norma2 masyarakat mengajarkan bahwa kalau kita sudah menikah, maka kita harus tutup mata terhadap orang2 lain. Gak boleh jatuh cinta sama orang lain (hehe.. gw pernah berdebat panjang sama seseorang tentang hal ini.. ;)). Tapi film ini menunjukkan sisi lain, bahwa kadang 'main mata' itu perlu untuk menyelamatkan perkawinan. Seperti Richard Gere yang justru menyadari betapa dalam cintanya pada Susan Sarandon, setelah berlatih menari dengan cewek semenarik Jennifer Lopez. Coba kalau dia tidak belajar menari, seumur2 dia trapped di rasa keharusan mencintai istrinya. Bermain2 dgn J-Lo, asal tetap dalam koridor, justru menimbulkan percik baru bagi suami istri ini.
* Gw jadi inget seorang teman yg bilang gini ke gw, "Perkawinan itu ibaratnya paket McDonald: dua ayam, satu nasi, segelas Cocacola. Jangan ngeyel minta Pepsi, krn mereka gak jual itu. Kita gak harus suka Cocacola, dan gak harus minum Cocacola-nya sampai habis. Sah2 aja kalo ntar keluar dari McDonald beli Pepsi di pinggir jalan. Yang penting jangan membawa makanan atau minuman dari luar ke dalam McD. Atau kalau emang gak suka Cocacola sama sekali, paketnya take away aja, atau pindah makan di KFC aja" *
Hehe.. kebiasaan gw mulai lagi ya? Ngebahas serius hal sepele. Padahal mungkin juga sutradaranya nggak mikir se-njelimet ini tentang filmnya. Secara ini harusnya jadi film ringan, gitu lowh! Tapi.. what can I say? Selalu ada yang bisa dipelajari dari hal sesederhana apa pun. Dan kalaupun tulisan ini pakai konteks romantic movie, bukan berarti apa yg gw pelajari dari film2 ini hanya bisa diterapkan di kisah cinta. Pilihan untuk percaya pada seseorang, pilihan untuk cut the vicious circle, pilihan untuk melakukan sesuatu yg secara kasat mata buruk padahal penting buat mendapatkan hal yg lebih baik.. semua itu adalah hal2 universal yang kita temui dalam hidup ini.
Monday, December 12, 2005
Dibuang Sayang: (masih) Revolusi
Sebenernya gw mau nulis topik lain, tapi ternyata ada komentar yang sayang kalo gak dibagi ke orang2 lain. Jadi gw tulis dulu yg ini, baru ntar gw susul dgn topik lain.
| Intan: Hai Mbak Maya. Sebenernya, kalau aku pikir, persoalan revolusi vs. evolusi adalah sesuatu yg ruwet. |
Hahaha, I must admit that this is the BEST comment I’ve ever had in this blog so far!
Yup! Rasanya gw mesti mengakui bahwa penggunaan kata evolusi sebagai lawan kata revolusi di tulisan gw yg lalu itu salah. Harusnya term yang tepat adalah Revolusi Militan vs. Revolusi Budaya seperti komentar Intan di atas.
Posting Gw & Revolusi sebenernya suatu curhat hasil obrolan gw dgn seorang teman yg ternyata sangat pro-revolusi militan. Sementara gw sendiri gak percaya bahwa kita siap dengan revolusi militan. Ya seperti dibilang Intan di atas: gak ada (atau paling tidak: sedikit sekali) aktivis yg professional! Kalau kita paksakan revolusi militan, maka yg terjadi adalah kekacauan yg lebih besar. Hanya pergantian rezim, karena yg tadinya ngaku radikal, begitu di atas ya kompromi juga. Itu yg gak gw setujui dari temen gw: emangnya kalo kita ganti pemerintah sekarang, putuskan bantuan dari negara lain, lantas akan beres? Lha, siapa yg jamin pemerintah baru itu cukup professional, gak kompromi begitu sudah sampai di atas?
Uhm.. kalau Intan mendefinisikan revolusi budaya sebagai: mengkritik diri sendiri, berani mendekonstruksi dan membuka diri terhadap ide2 lain, dan belajar dari orang lain, maka I can’t be more agree with her. Ini yg sebenernya gw maksud dgn lebih setuju pada evolusi. Gw lebih senang membiarkan alam menjalankan jadwal evolusinya sendiri, namun kita membantu memastikan keberhasilannya dgn meningkatkan kualitas diri masing2 dari kita. Dan apa sih kualitas diri yg baik itu? Gw sih menganggap bahwa seseorang itu memiliki kualitas diri yg baik jika berani bertanggung jawab atas segala tindakan dan perbuatannya. Locus of control-nya internal, bukan eksternal. Dan itu baru bisa didapat jika orang sudah berani mengkritik diri sendiri. Dan bisa mengkritik diri sendiri baru terjadi kalo kita mau senantiasa belajar dan membuka diri terhadap ide2 lain.
Mungkin, beda antara gw & Intan hanya satu (CMIIW[1], ya Ntan!) : Intan percaya ada cara untuk merealisasikan hal ini secara menyeluruh dalam waktu yg relatif cepat. Sementara gw sejauh ini masih belum benar2 yakin bahwa ada cara seperti itu. Gw masih meyakini bahwa ini adalah personal project: sesuatu yg harus ditularkan dari orang ke orang lain secara personal sepanjang evolusi yg panjang ini.. ;)
Sejauh ini gw belum nemu cara membuat sejumlah besar orang mau menerima bahwa dirinya sendirilah yg harus dikritik. Boro2 sejumlah besar orang, lha wong project pribadi gw aja gak semuanya berhasil.. hehehe.. Beberapa teman diskusi yg tadinya gw pikir bakal sampai pada tahap seperti ini, akhirnya terpaksa diaborsi dari daftar calon ;)
But of course, it would be interesting to listen and learn more from Intan about the method in her mind. Bisa jadi keyakinan gw yg salah, bahwa ternyata cara seperti itu memang ada (dan kita tidak harus bergerak bersama evolusi). After all, kalau gw gagal terus, mungkin memang karena gw yg kurang convincing atau kurang persuasif.. ;)
Anyway, thanks for the precious comment, Ntan!
Friday, December 09, 2005
Every Little Thing is Magic
Beberapa hari lalu gw makan siang sama dua orang teman, sebut saja namanya Mas Boy dan Kelly. Asal muasalnya, si Kelly bermaksud konsultasi sama Mas Boy yg kebetulan memang termasuk orang yang peka terhadap alam sekitar (baca: dianggap punya sixth sense, kalo bahasa awamnya). Obrolan berlangsung ngalor ngidul kesana kemari sampai 3 jam, tapi gw gak jelas sebenernya apa yang mau dikonsultasikan oleh si Kelly. Esok harinya Kelly baru ngaku ke gw tentang agenda konsultasinya dia yang sebenernya: let’s say Kelly sudah melakukan more than enough effort to ensure something dan sekarang pingin si Mas Boy (dengan kepekaannya) membantu melihat apakah it’s worth.
Frankly, I’m amazed to hear that!
I’m amazed karena obrolan kita yang panjang lebar ngalor ngidul gak jelas itu sebenernya sudah menjawab pertanyaan Kelly yang tidak sempat terucapkan! Isn’t it magic? Jawaban itu sudah tersedia di depan mata, hanya saja Kelly (mungkin) gak menyadarinya karena itu bukan jawaban yg ingin didengarnya. Kelly ingin jawaban pasti: yes or no. Sementara Mas Boy memberikan jawaban beyond that, karena intinya semua hal itu bisa dijawab yes, it’s worth that effort.
| Bacalah ayat-ayatku (Bagus Takwin, Januari 1992) |
Sepanjang makan siang itu gw & Mas Boy berkali2 bilang dan ngobrol bahwa semua yang terjadi di sekitar kita adalah ujian buat kita. Tidak ada kejadian yang buruk. Yang ada mungkin hanyalah jalan berliku untuk mendapatkan yang lebih baik. Berkali2 kita bicara tentang: yang penting usaha, tapi kalau udah diusahain seperti apa pun gak berhasil, berarti itu memang sudah diatur begitu. Jadi gak usah mikirin usaha kita worth atau tidak. Yang penting usaha aja, dan bersiap diri kalau tidak berhasil, karena ketidakberhasilan itu sebenernya adalah keberhasilan dalam bentuk lain.
Yang bikin gw amazed lagi, Mas Boy sempat kasih joke tentang orang yg protes ke Tuhan karena (merasa) doanya tidak pernah dijawab oleh Tuhan. Tuhan menjawab complaint itu dengan, “Sebenarnya semua doamu selalu Aku jawab. Tapi kebanyakan jawaban atas doamu adalah ‘TIDAK’”. Hehe.., jadi sebenernya orang itu aja yang gak sadar bahwa doanya sudah dijawab oleh Tuhan karena jawaban Tuhan tidak sama apa yang dia tunggu2.
Hmm.. magic! Every little thing around us is magic! Semua di sekitar kita itu sebenernya terlalu penting untuk diabaikan. Semuanya adalah jawaban. Semuanya adalah tanda yg bisa dibaca. Yang jadi masalah adalah bagaimana kita membacanya? Sering kali kita gak bisa membaca dgn tepat karena kita malas latihan membaca, atau justru karena kita kelewat sibuk mencari kata2 tertentu sebagai jawaban. Padahal, the answer is always there, it’s a matter how to read and interpret.
Puisi yang gw kutip ini ditulis oleh seorang teman long long time ago. Gw suka banget sejak baca puisi ini di majalah kampus, walaupun gak sepenuhnya ngerti artinya apa. Tapi moga2 si penulis gak keberatan bahwa hari ini gw menggunakan puisinya sebagai rangkuman tulisan hari ini: bahwa semua hal di dunia ini saling terkait, semua hal di sekitar kita membawa sebuah tanda, sebuah huruf, yang kuncinya ada pada kita. Sekarang terserah kita bagaimana mengumpulkan huruf demi huruf itu, dan membacanya sebagai suatu kalimat yg utuh.
*dan untuk seorang teman di luar
Thursday, December 08, 2005
Orang Inggris di New York
Englishman in New York adalah salah satu lagu kesukaan gw. Gw suka liriknya. Gw selalu ngebayangin betapa lonely-nya si Englishman ini. Sekilas harusnya dia gak punya masalah. Dia berada di
| I don't drink coffee I take tea my dear See me walking down Fifth Avenue I'm an alien If "manners maketh man" as someone said ‘I'm an alien Modesty, propriety can lead to notoriety Takes more than combat gear to make a man If "manners maketh man" as someone said (Englishman in |
Tapi dalam habitat yang harusnya tidak begitu asing buat dia, dia sebenernya benar2 sendirian. Sendirian dalam pikiran, sendirian dalam rasa, sendirian dalam jiwa. I don’t drink coffee, I take tea, I like my toast done on the side. Sekilas hanya perbedaan selera, seremeh perbedaan aksen. Tapi itu hanyalah puncak gunung es dari perbedaan yang mendasar, karena preference terhadap teh (daripada kopi) dan bagaimana toast harus disajikan terbentuk dari proses panjang pembiasaan dan budaya? Sebuah proses panjang yang mendarahdaging membentuk kepribadiannya.
Ketika kau memilih teh, mungkin karena jantungmu tidak kuat menahan kafein kopi. Tapi mungkin juga karena teh mengingatkanmu pada kebersamaan di keluarga besarmu (seperti yang diiklankan oleh sebuah produk teh.. ;-)). Sehingga, ketika kau duduk di kedai kopi untuk menikmati secangkir teh, sebenarnya yang kau cari adalah suasana menyenangkan di masa lalu, bukan sekedar minuman fungsional yang membuatmu terjaga, yang diminum tergesa2. So, bayangkan ketika si Englishman dan temannya yg New Yorker masuk ke kedai kopi bersama2: si Englishman yang ingin duduk santai berlama2 sambil minum teh merasa jengkel karena si New Yorker maunya buru2 aja, dan sebaliknya si New Yorker tidak bisa mengerti kenapa untuk minum aja si Englishman lelet banget.
Itu baru soal kopi dan teh. Belum lagi ketika menyangkut hal2 yang lebih mendasar. Modesty, propriety can lead to notoriety. Karena ukuran yang mereka pakai berbeda, apa yang dianggap baik dan benar oleh si Englishman bisa jadi bertolak belakang dengan norma2 di sekitarnya. Apakah berarti si Englishman salah? Menurut gw sih enggak. Mereka hanya berbeda. Tapi lepas dari salah/tidak salahnya si Englishman, dia end up as the only one. Sendirian. Lonely.
Mungkin gw senang banget sama lagu ini karena gw merasa senasib dengan si Englishman. Gw kadang merasa sendirian dalam pikiran, perasaan, dan rasa. Cara gw melihat sesuatu seringkali dianggap aneh oleh orang di sekitar gw. Dari julukan yang paling halus “suka banget ngebahas serius hal sepele” sampai yang menuduh gw selalu mencari pembenaran atau bahkan yang paling ekstrim menganggap gw tidak jujur pernah gw dapatkan.
Padahal gw sendiri tidak berusaha mencari pembenaran. Gw hanya merasa melihat sesuatu itu dengan berbeda. Seperti Englishman yang melihat segala sesuatunya dari proses panjang pembelajarannya di Inggris, yang sangat berbeda dengan proses panjang pembelajaran New Yorkers di kotanya. It’s a matter of perception. Kita gak bisa bilang hanya salah satu yang benar, atau yang satu lebih benar dari yang lainnya, kecuali kalau bisa kita buktikan bahwa sudut pandang yg itu sama sekali tidak mungkin terjadi.
Bagaimana jika si New Yorker itu pernah tinggal di Inggris? Bisakah dia yg menentukan batas antara propriety dan notoriety? Uhm.. kalau menurut gw sih tetap belum tentu bisa. After all, kalau dia masih menilai Englishman dari ukuran New Yorkers, berarti mungkin dia tidak cukup lama tinggal di Inggris atau tidak cukup menyatu dgn kehidupan para Englishmen untuk memahami persepsi mereka.
Yang namanya persepsi itu memang greatest source of problem of all. Makanya selalu timbul pertanyaan klasik: What is reality? Is it in your head or in your eyes?
Tapi soal persepsi ini kita bahas aja lagi kapan2. Sekarang gw pingin ngomentarin aja: apa yg mesti dilakukan oleh si Englishman di tengah New Yorkers? Haruskah dia berubah menjadi New Yorkers supaya bebas dari kesepiannya?
Well, kalau si Englishman yakin tidak bersalah, menurut gw sih lagu ini sudah menyediakan jalan yang terbaik: It takes a man to suffer ignorance and smile, be yourself no matter what they say.
Yup! You could end up as the only one. (But don’t forget) A gentleman will walk but never run. Confront your enemies; (however) avoid them when you can.
Thursday, December 01, 2005
Mimpi
Kalau menurut primbon2 kuno, yang namanya mimpi itu memang suatu pertanda. Kalau menurut para psikoanalist, mimpi itu memang refleksi dari sesuatu yang tidak disadari. Either way, ada kesepakatan antara yang ilmiah dan tidak ilmiah bahwa mimpi memang bukan sekedar kembangnya tidur yang tidak bermakna (well, tentu tidak semua mimpi punya makna ya :-p)
Gw sendiri kadang terpukau dengan mimpi2 gw. Banyak yg bilang gw percaya tahyul, tapi gw tetap ngerasa gak bisa gitu aja mengesampingkan mimpi.
Mimpi pertama yang gw ingat punya makna terjadi sekitar tahun 1979 - 1980. Waktu itu tante gw sedang hamil anak kedua. Semua orang yakin anak keduanya perempuan, USG pun katanya menunjukkan perempuan. Tapi suatu malam gw mimpi lihat pembantunya tante gw itu menggendong bayi sambil menggandeng anak pertama tante gw. Dua2nya punya tampang yang sama, memakai baju yang sama. Dari situ gw ngeyel bilang bahwa bayi yang akan lahir itu laki2. Dan benar, anak kedua tante gw laki-laki lagi. *ini emang gak penting, tapi gw ceritain krn merupakan ingatan paling dini tentang mimpi gw*
Tahun 1986, pas gw kelas II SMP, gw minta ijin untuk tidur di ruang sakit karena sakit kepala. Dalam tidur gw, gw mimpi melihat peti mati di aula sekolah, dengan setumpuk anggrek ungu di atas tutupnya, dan isinya adalah jenazah eyang kakung. Gelagapan gw bangun dan langsung hilang sakit kepala gw saking takutnya. Besoknya, gw gak masuk sekolah karena malam itu juga gw berangkat ke Solo untuk pemakaman eyang kakung gw. *dalam kenyataannya, akhirnya memang eyang kakung gw dibawa ke pemakaman dgn peti, bukan keranda. Entah waktu itu pertimbangannya apa.*
Mimpi gw yang punya makna paling dalam terjadi tahun 1992. Waktu itu sepupu gw baru aja meninggal karena kanker pankreas. Tahun 1992 tuh gw lagi marah2nya sama Tuhan. Gw lagi sampai ke persimpangan jalan antara percaya dan tidak percaya sama Tuhan. Boro2 baca Al Quran, shalat aja udah lama gw tinggal. Tapi lantas, sekitar 1 – 2 minggu sebelum 40 harian sepupu gw, gw mimpi bertemu dengan dia. Setting-nya adalah rumah sakit tempat dia dirawat, rambutnya masih botak akibat chemotherapy, dan badannya kurus kering dengan perut membuncit. Adegannya hanya satu: dia memberi gw sebuah buku tebal bersampul merah sambil berucap, “Tolong ya, dik, ini dibaca sampai selesai”
Mimpi itu berulang beberapa kali, sampai ada seseorang yang bilang sama gw (gw lupa siapa) bahwa mungkin itu Al Quran. So, mulailah gw membaca Al Quran seperti pinta sepupu gw itu. And you know what? Sehari setelah gw mengkhatamkan Al Quran itu, gw mimpi ketemu sepupu gw lagi! Sekali ini setting-nya di rumah dia. Dia pakai baju kotak2 flanel yang sering banget dipakai kuliah. Badannya udah sehat, rambutnya tebal, dan dia berucap, “Terima kasih ya, dik. Sekarang aku mau pamit pergi jauh”
Sepupu gw gak pernah muncul lagi di mimpi gw. Tapi membaca Al Quran buat dia telah membawa gw kembali menikmati hubungan dengan Tuhan. So, sampai sekarang gw masih merasa bahwa mimpi itu adalah benar2 suatu pertanda dari Yang di Atas.
Mimpi gw yang berkesan lagi terjadi sekitar thn 1995. Waktu itu salah satu senior gw meninggal dunia secara tiba2. Senior gw ini pernah sangat dekat dengan suami gw di tahun2 awal perkuliahan mereka. Tapi karena suatu kesalahpahaman yang berakhir dengan perbedaan pandangan, hubungan mereka menjadi kurang enak. Tepat di malam ke-39 kematiannya, tiba2 gw mimpi senior gw itu datang bertamu ke rumah gw. Senior gw itu berkata, “May, tolong sampaikan ke Japs, gw minta maaf ya. Semuanya salah gw. Gw minta maaf banget. Gw titip Japs ke eloe ya”. Pas gw cerita ke suami gw, dia langsung istighfar berkali2, dan baru kali itulah suami gw cerita tentang duduk permasalahan yang sebenarnya antara mereka berdua. Suatu cerita yang bikin gw berpikir, “Nggak heran Almarhum ngerasa perlu minta maaf walaupun sudah tinggal di alam lain”.
Lama gw gak pernah mimpi yang bermakna. Mungkin hidup gw tambah penuh dosa kali ya, sehingga pertanda pun malas datang menghampiri gw. Atau mungkin gw menjadi terlalu sibuk, sehingga kurang peka terhadap mimpi2 gw.
Gw baru punya mimpi2 yang bermakna lagi setelah bapak meninggal. Pertama, ketika gw lama sekali gak kirim doa buat bapak, tiba2 bapak muncul dalam mimpi gw dengan wajah yang sedih dan tubuh yang kurus. Setelah beberapa hari gw kirim doa, gantian ibu yang mimpi diajak bapak jalan2 ke sebuah tempat yang bersih dan lapang sekali. Waktu itu bapak tersenyum dan sudah kelihatan sangat sehat.
Mimpi terakhir yang gw anggap bermakna adalah beberapa hari sebelum adik gw melamar (calon) istrinya. Waktu itu gw sedang dirawat di rumah sakit karena demam berdarah. Antara sadar gak sadar, gw melihat bapak muncul dan berkata, “Terimakasih ya, Mbak, adikmu sekarang udah jadi orang”.
Well, mungkin semua mimpi gw itu juga hanya merupakan manifestasi dari alam bawah sadar gw. Kerinduan gw akan Tuhan yang gw ingkari mungkin membuat gw bermimpi tentang permintaan sepupu gw. Rasa bersalah gw karena lupa kirim doa ke bapak membuat gw memimpikan bapak yang sedih. Rasa lega gw berhasil menjalankan amanat bapak membuat gw bermimpi didatangi bapak di RS. Tapi mungkin juga memang ada Kuasa Besar yang mengirimkan tanda2 ke gw, agar gw kembali ingat akan apa yang gw lupakan. Mungkin juga itu adalah kebocoran2 gelombang dari parallel reality; yang membuat gw bisa mengintip sejenak ajal eyang gw di beberapa jam kemudian, atau memungkinkan gw untuk berkomunikasi sejenak dengan mereka yang sudah mendahului gw.
Apa pun maknanya, menurut gw dream is worth to listen to. What do you think?
Ohya.. sedikit tentang bagaimana Jung dan Freud menginterpretasikan mimpi dapat diintip di sini: http://www2.arnes.si/~uljfdv15/library/art06.html
Wednesday, November 30, 2005
Gw & Revolusi
Bermula dari perkenalan di suatu cyberworld dgn seseorang yg pakai ID dari sebuah buku terkenal karangan seorang mantan ta-pol. Ternyata bacaannya banyak juga, dan dengan cepat kami menjadi akrab. Sampai suatu hari dia bertanya via YM: Apa film favoritmu? Dengan fasihnya gw menyebut berbagai film yg gw suka: Dead Poets Society, Schindler’s List, Life is Beautiful, The House of the Spirits..
Nah! Di situlah masalah berawal ;-p.
“House of Spirits? Film tentang revolusi
“Iya, ceritanya di jaman naiknya Allende, yang didasarkan dari bukunya Isabel Allende, walaupun nama Allende tidak pernah disebutkan di film itu. Kenapa?”
“Enggak, jarang aja ada orang yg nyebut House of the Spirits sebagai salah satu film favorit. Apalagi perempuan. Mudah2an bukan hanya karena ada Antonio Banderas di situ”
“Menghina banget sih loe! Kalo hanya ngejar Banderas doang mah gw seneng nonton Zorro, Desperado, .. Banderas mah yg sexy di Zorro, di House of the Spirits
Dari situlah dia bercerita, bagaimana House of the Spirits itu merupakan inspirasi baginya dan bagi teman2nya untuk memperbaiki kehidupan
Well, gimana ya? Gw sendiri sebenernya fine2 aja dengan pandangan2 seperti yang dimiliki teman gw itu: bahwa
Temen gw itu mengajukan contoh sebuah revolusi: berhenti menerima bantuan dari IMF, ganti pemerintah, dan berikan kembali subsidi pada rakyat. Well, gw sih setuju dengan ide kembalikan subsidi kepada rakyat. Tapi digabungkan dgn menolak bantuan IMF dan mengganti pemerintah? Menurut gw itu akan create masalah baru.
Idealnya, hal itu emang bagus sih. Manusia
Tapi gw kok masih gak tega ya, memikirkan kemungkinan kenyataannya. Bayangkan, dengan menolak bantuan negara lain, sudah tentu kita harus berdiri di atas kaki sendiri. Itu saja (untuk saat ini) tampaknya akan susah, apalagi untuk mengembalikan subsidi ke rakyat? Bisa2 malah rakyat hidup tambah terbebani. Apalagi kalau pemerintah baru yg kita pilih salah, atau tidak bisa berbuat apa2 karena mau gak mau harus pakai orang2 lama juga untuk lapis kedua atau ketiga. Alih2 ngembaliin subsidi ke rakyat, malah makin banyak aja yg hilang dari rakyat. Atau anggaplah pemerintah yang baru ini baik, dan entah bagaimana akhirnya kita bisa mengembalikan subsidi ke rakyat. Nah..
Nah, selama perbaikan generasi itu, banyak hal yang bisa terjadi. Banyak hal yg nggak bisa kita prediksi. Bener gak sih?
Temen gw itu berkeras bahwa melakukan revolusi itu (walaupun resikonya besar banget) lebih baik daripada gak melakukan apa2. Sebenernya gw setuju bahwa tidak melakukan apa2 adalah kondisi yang terburuk. Tapi apakah benar bahwa melakukan revolusi tanpa sebuah perhitungan matang adalah lebih baik?
Kalau gw sih lebih setuju untuk melakukan evolusi. Memperbaiki kualitas orang per orang, menyiapkan orang per orang, sehingga kalaupun nanti akan ada revolusi, orang2nya udah siap. Nggak kemaruk dan aji mumpung sehingga merugikan orang lain. Nah.. sekarang, lha wong masih banyak dari kita yang nggak menghargai hak orang lain di ruang public (misalnya: merokok di dalam mikrolet dengan alasan ini tempat umum dan semua orang berhak sesukanya), apalagi kalo ada revolusi yang membuat segalanya sulit dikontrol. Apa gak semua lantas mau cari untung sendiri, dan akhirnya malah membuat masalah yang lebih besar?
Jadi, kalau gw sih setuju sama Mister Goodmorning: membuat dunia (sedikit demi sedikit) lebih baik dengan perbuatan2 kecil dari tangan kita sendiri. Gak perlu apologia dengan berbagai macam jenisnya. Right, sir?