Thursday, December 08, 2005

Orang Inggris di New York

Englishman in New York adalah salah satu lagu kesukaan gw. Gw suka liriknya. Gw selalu ngebayangin betapa lonely-nya si Englishman ini. Sekilas harusnya dia gak punya masalah. Dia berada di kota yang berbahasa sama dengan dia. Kalau dilihat kasat mata harusnya gak ada kendala komunikasi. Dan kalau nggak ada kendala komunikasi, everything should be all right, or at least we can make it all right.

 

I don't drink coffee I take tea my dear
I like my toast done on the side
And you can hear it in my accent when I talk
I'm an Englishman in New York

See me walking down Fifth Avenue
A walking cane here at my side
I take it everywhere I walk
I'm an Englishman in New York

I'm an alien
I'm a legal alien
I'm an Englishman in New York
I'm an alien
I'm a legal alien
I'm an Englishman in New York

If "manners maketh man" as someone said
Then he's the hero of the day
It takes a man to suffer ignorance and smile
Be yourself no matter what they say

I'm an alien
I'm a legal alien
I'm an Englishman in New York
I'm an alien
I'm a legal alien
I'm an Englishman in New York

Modesty, propriety can lead to notoriety
You could end up as the only one
Gentleness, sobriety are rare in this society
At night a candle's brighter than the sun

Takes more than combat gear to make a man
Takes more than license for a gun
Confront your enemies, avoid them when you can
A gentleman will walk but never run

If "manners maketh man" as someone said
Then he's the hero of the day
It takes a man to suffer ignorance and smile
Be yourself no matter what they say

(Englishman in New York – Sting)

 

Tapi dalam habitat yang harusnya tidak begitu asing buat dia, dia sebenernya benar2 sendirian. Sendirian dalam pikiran, sendirian dalam rasa, sendirian dalam jiwa. I don’t drink coffee, I take tea, I like my toast done on the side. Sekilas hanya perbedaan selera, seremeh perbedaan aksen. Tapi itu hanyalah puncak gunung es dari perbedaan yang mendasar, karena preference terhadap teh (daripada kopi) dan bagaimana toast harus disajikan terbentuk dari proses panjang pembiasaan dan budaya? Sebuah proses panjang yang mendarahdaging membentuk kepribadiannya.

Ketika kau memilih teh, mungkin karena jantungmu tidak kuat menahan kafein kopi. Tapi mungkin juga karena teh mengingatkanmu pada kebersamaan di keluarga besarmu (seperti yang diiklankan oleh sebuah produk teh.. ;-)). Sehingga, ketika kau duduk di kedai kopi untuk menikmati secangkir teh, sebenarnya yang kau cari adalah suasana menyenangkan di masa lalu, bukan sekedar minuman fungsional yang membuatmu terjaga, yang diminum tergesa2. So, bayangkan ketika si Englishman dan temannya yg New Yorker masuk ke kedai kopi bersama2: si Englishman yang ingin duduk santai berlama2 sambil minum teh merasa jengkel karena si New Yorker maunya buru2 aja, dan sebaliknya si New Yorker tidak bisa mengerti kenapa untuk minum aja si Englishman lelet banget.

Itu baru soal kopi dan teh. Belum lagi ketika menyangkut hal2 yang lebih mendasar. Modesty, propriety can lead to notoriety. Karena ukuran yang mereka pakai berbeda, apa yang dianggap baik dan benar oleh si Englishman bisa jadi bertolak belakang dengan norma2 di sekitarnya. Apakah berarti si Englishman salah? Menurut gw sih enggak. Mereka hanya berbeda. Tapi lepas dari salah/tidak salahnya si Englishman, dia end up as the only one. Sendirian. Lonely.

Mungkin gw senang banget sama lagu ini karena gw merasa senasib dengan si Englishman. Gw kadang merasa sendirian dalam pikiran, perasaan, dan rasa.  Cara gw melihat sesuatu seringkali dianggap aneh oleh orang di sekitar gw. Dari julukan yang paling halus “suka banget ngebahas serius hal sepele” sampai yang menuduh gw selalu mencari pembenaran atau bahkan yang paling ekstrim menganggap gw tidak jujur pernah gw dapatkan.

Padahal gw sendiri tidak berusaha mencari pembenaran. Gw hanya merasa melihat sesuatu itu dengan berbeda. Seperti Englishman yang melihat segala sesuatunya dari proses panjang pembelajarannya di Inggris, yang sangat berbeda dengan proses panjang pembelajaran New Yorkers di kotanya. It’s a matter of perception. Kita gak bisa bilang hanya salah satu yang benar, atau yang satu lebih benar dari yang lainnya, kecuali kalau bisa kita buktikan bahwa sudut pandang yg itu sama sekali tidak mungkin terjadi.

Bagaimana jika si New Yorker itu pernah tinggal di Inggris? Bisakah dia yg menentukan batas antara propriety dan notoriety? Uhm.. kalau menurut gw sih tetap belum tentu bisa. After all, kalau dia masih menilai Englishman dari ukuran New Yorkers, berarti mungkin dia tidak cukup lama tinggal di Inggris atau tidak cukup menyatu dgn kehidupan para Englishmen untuk memahami persepsi mereka.

Yang namanya persepsi itu memang greatest source of problem of all. Makanya selalu timbul pertanyaan klasik: What is reality? Is it in your head or in your eyes?

Tapi soal persepsi ini kita bahas aja lagi kapan2. Sekarang gw pingin ngomentarin aja: apa yg mesti dilakukan oleh si Englishman di tengah New Yorkers? Haruskah dia berubah menjadi New Yorkers supaya bebas dari kesepiannya?

Well, kalau si Englishman yakin tidak bersalah, menurut gw sih lagu ini sudah menyediakan jalan yang terbaik: It takes a man to suffer ignorance and smile, be yourself no matter what they say.

Yup! You could end up as the only one. (But don’t forget) A gentleman will walk but never run. Confront your enemies; (however) avoid them when you can.