Thursday, December 01, 2005

Mimpi

Kalau menurut primbon2 kuno, yang namanya mimpi itu memang suatu pertanda. Kalau menurut para psikoanalist, mimpi itu memang refleksi dari sesuatu yang tidak disadari. Either way, ada kesepakatan antara yang ilmiah dan tidak ilmiah bahwa mimpi memang bukan sekedar kembangnya tidur yang tidak bermakna (well, tentu tidak semua mimpi punya makna ya :-p)

Gw sendiri kadang terpukau dengan mimpi2 gw. Banyak yg bilang gw percaya tahyul, tapi gw tetap ngerasa gak bisa gitu aja mengesampingkan mimpi.

Mimpi pertama yang gw ingat punya makna terjadi sekitar tahun 1979 - 1980. Waktu itu tante gw sedang hamil anak kedua. Semua orang yakin anak keduanya perempuan, USG pun katanya menunjukkan perempuan. Tapi suatu malam gw mimpi lihat pembantunya tante gw itu menggendong bayi sambil menggandeng anak pertama tante gw. Dua2nya punya tampang yang sama, memakai baju yang sama. Dari situ gw ngeyel bilang bahwa bayi yang akan lahir itu laki2. Dan benar, anak kedua tante gw laki-laki lagi. *ini emang gak penting, tapi gw ceritain krn merupakan ingatan paling dini tentang mimpi gw*

Tahun 1986, pas gw kelas II SMP, gw minta ijin untuk tidur di ruang sakit karena sakit kepala. Dalam tidur gw, gw mimpi melihat peti mati di aula sekolah, dengan setumpuk anggrek ungu di atas tutupnya, dan isinya adalah jenazah eyang kakung. Gelagapan gw bangun dan langsung hilang sakit kepala gw saking takutnya. Besoknya, gw gak masuk sekolah karena malam itu juga gw berangkat ke Solo untuk pemakaman eyang kakung gw. *dalam kenyataannya, akhirnya memang eyang kakung gw dibawa ke pemakaman dgn peti, bukan keranda. Entah waktu itu pertimbangannya apa.*

Mimpi gw yang punya makna paling dalam terjadi tahun 1992. Waktu itu sepupu gw baru aja meninggal karena kanker pankreas. Tahun 1992 tuh gw lagi marah2nya sama Tuhan. Gw lagi sampai ke persimpangan jalan antara percaya dan tidak percaya sama Tuhan. Boro2 baca Al Quran, shalat aja udah lama gw tinggal. Tapi lantas, sekitar 1 – 2 minggu sebelum 40 harian sepupu gw, gw mimpi bertemu dengan dia. Setting-nya adalah rumah sakit tempat dia dirawat, rambutnya masih botak akibat chemotherapy, dan badannya kurus kering dengan perut membuncit. Adegannya hanya satu: dia memberi gw sebuah buku tebal bersampul merah sambil berucap, “Tolong ya, dik, ini dibaca sampai selesai”

Mimpi itu berulang beberapa kali, sampai ada seseorang yang bilang sama gw (gw lupa siapa) bahwa mungkin itu Al Quran. So, mulailah gw membaca Al Quran seperti pinta sepupu gw itu. And you know what? Sehari setelah gw mengkhatamkan Al Quran itu, gw mimpi ketemu sepupu gw lagi! Sekali ini setting-nya di rumah dia. Dia pakai baju kotak2 flanel yang sering banget dipakai kuliah. Badannya udah sehat, rambutnya tebal, dan dia berucap, “Terima kasih ya, dik. Sekarang aku mau pamit pergi jauh”

Sepupu gw gak pernah muncul lagi di mimpi gw. Tapi membaca Al Quran buat dia telah membawa gw kembali menikmati hubungan dengan Tuhan. So, sampai sekarang gw masih merasa bahwa mimpi itu adalah benar2 suatu pertanda dari Yang di Atas.

Mimpi gw yang berkesan lagi terjadi sekitar thn 1995. Waktu itu salah satu senior gw meninggal dunia secara tiba2. Senior gw ini pernah sangat dekat dengan suami gw di tahun2 awal perkuliahan mereka. Tapi karena suatu kesalahpahaman yang berakhir dengan perbedaan pandangan, hubungan mereka menjadi kurang enak. Tepat di malam ke-39 kematiannya, tiba2 gw mimpi senior gw itu datang bertamu ke rumah gw. Senior gw itu berkata, “May, tolong sampaikan ke Japs, gw minta maaf ya. Semuanya salah gw. Gw minta maaf banget. Gw titip Japs ke eloe ya”. Pas gw cerita ke suami gw, dia langsung istighfar berkali2, dan baru kali itulah suami gw cerita tentang duduk permasalahan yang sebenarnya antara mereka berdua. Suatu cerita yang bikin gw berpikir, “Nggak heran Almarhum ngerasa perlu minta maaf walaupun sudah tinggal di alam lain”.

Lama gw gak pernah mimpi yang bermakna. Mungkin hidup gw tambah penuh dosa kali ya, sehingga pertanda pun malas datang menghampiri gw. Atau mungkin gw menjadi terlalu sibuk, sehingga kurang peka terhadap mimpi2 gw.

Gw baru punya mimpi2 yang bermakna lagi setelah bapak meninggal. Pertama, ketika gw lama sekali gak kirim doa buat bapak, tiba2 bapak muncul dalam mimpi gw dengan wajah yang sedih dan tubuh yang kurus. Setelah beberapa hari gw kirim doa, gantian ibu yang mimpi diajak bapak jalan2 ke sebuah tempat yang bersih dan lapang sekali. Waktu itu bapak tersenyum dan sudah kelihatan sangat sehat.

Mimpi terakhir yang gw anggap bermakna adalah beberapa hari sebelum adik gw melamar (calon) istrinya. Waktu itu gw sedang dirawat di rumah sakit karena demam berdarah. Antara sadar gak sadar, gw melihat bapak muncul dan berkata, “Terimakasih ya, Mbak, adikmu sekarang udah jadi orang”.

Well, mungkin semua mimpi gw itu juga hanya merupakan manifestasi dari alam bawah sadar gw. Kerinduan gw akan Tuhan yang gw ingkari mungkin membuat gw bermimpi tentang permintaan sepupu gw. Rasa bersalah gw karena lupa kirim doa ke bapak membuat gw memimpikan bapak yang sedih. Rasa lega gw berhasil menjalankan amanat bapak membuat gw bermimpi didatangi bapak di RS. Tapi mungkin juga memang ada Kuasa Besar yang mengirimkan tanda2 ke gw, agar gw kembali ingat akan apa yang gw lupakan. Mungkin juga itu adalah kebocoran2 gelombang dari parallel reality; yang membuat gw bisa mengintip sejenak ajal eyang gw di beberapa jam kemudian, atau memungkinkan gw untuk berkomunikasi sejenak dengan mereka yang sudah mendahului gw.

Apa pun maknanya, menurut gw dream is worth to listen to. What do you think?

Ohya.. sedikit tentang bagaimana Jung dan Freud menginterpretasikan mimpi dapat diintip di sini:  http://www2.arnes.si/~uljfdv15/library/art06.html