Saturday, December 17, 2005

Behind the Romantic Movies

Asli, ini posting yang sama sekali (gak) penting! Gara2 temen gw nyebut Serendipity, gw jadi nginget2 film2 romantis apa yg gw suka. Well, itu bukan genre favorit gw, tapi ada juga yg berkesan dari beberapa film.

Serendipity, Love Affairs, dan L'Appartment bisa dibilang masuk kategori yang bikin gw terpana. Serendipity dan Love Affairs (sebenernya ini adjusted re-make dari film jadul An Affair to Remember) bercerita tentang sepasang manusia yg jatuh cinta karena adanya suatu kebetulan, tapi mereka tidak percaya pada perasaan itu, dan memutuskan untuk menantang takdir. Serendipity mengakhiri kisahnya dgn rangkaian kebetulan yg indah. Ini kisah yang lebih menunjukkan the beauty of playing with your fate; dengan membuat orang gemas akan kebetulan2 kecil yg terlewatkan. Sementara Love Affairs, seperti juga L'Appartment menunjukkan betapa bahayanya menantang takdir, karena sebuah kecelakaan kecil bisa saja terjadi dan harga yang dibayar untuk salah membaca kecelakaan itu sangatlah mahal. Kealpaan  mempertimbangkan pentingnya menyampaikan sendiri sebuah pesan penting di L'Appartment membuat Max & Lisa kehilangan cintanya. Keterburu2an memaknai mengapa sang kekasih tidak muncul di Empire State Building pada waktu yang ditentukan pun berakibat sama.

Atau mungkin, bukan menantang nasibnya yang berbahaya. Tapi tidak percaya pada kata hati-lah yang membuat munculnya bahaya. Bukankan jika mereka percaya pada orang tersebut, maka bagaimana mereka memaknai ketidakhadirannya juga menjadi berbeda? Kalau mereka berangkat dari berkata: aku percaya dia mencintai saya, apa halangan yg membuat dia tidak hadir?, tentu mereka akan mencari si pasangan karena khawatir ada yg buruk terjadi padanya. Bukan meninggalkan tempat itu dgn persepsi bahwa dia kehilangan cinta.

*jadi inget satu kalimatnya Viktor Frankl dalam Man's Search for Meaning: Their question was, "Will we survive the camp? For, if not all this suffering has no meaning". The question which beset me was, "Has all this suffering, this dying around us, a meaning? For, if not, then ultimately there is no meaning to survival"  Kadang kita kehilangan kesempatan membaca tanda2 yg ada, karena salah menentukan titik berat masalahnya*

OK.. back to topic. All-time-favorite gw masih Pretty Woman. Gw sampai bela2in beli DVD-nya dan nonton berulang2 (padahal pas diputer di bioskop, gw udah nonton 4x). Dan teteup, selalu gw ikut nangis di bagian Julia Roberts meninggalkan Richard Gere diiringi lagu It Must've Been Love.  Actingnya Julia Roberts di situ bener2 bagus: kelihatan banget approach - avoidance conflict nya. Meninggalkan Edward (Richard Gere) adalah the least she wanna do, tapi menjadi cewek simpanan-nya Edward juga sesuatu yg sangat berat bagi dia karena dia bener2 sudah jatuh cinta pada Edward. Entah apakah ini bisa dibilang menantang takdir juga, tapi kalo gw sih memang tertarik dgn bagaimana keputusan yg berat itu diambil. Ketika kita mengambil pilihan, kita tak pernah tahu kemana pilihan itu akan membawa kita. Tapi toh tetap kita harus memilih, menjalani, dan tidak menyesali keputusan tersebut. Kalau kita beruntung, the prince will come, seperti di film ini. Tapi jangan berharap semuanya akan berakhir seindah ini.

Apa lagi ya? Oh ya! Shall We Dance?   Film ini gw suka karena memberi arti lain bagi jatuh cinta setelah menikah. Selama ini norma2 masyarakat mengajarkan bahwa kalau kita sudah menikah, maka kita harus tutup mata terhadap orang2 lain. Gak boleh jatuh cinta sama orang lain (hehe.. gw pernah berdebat panjang sama seseorang tentang hal ini.. ;)). Tapi film ini menunjukkan sisi lain, bahwa kadang 'main mata' itu perlu untuk menyelamatkan perkawinan. Seperti Richard Gere yang justru menyadari betapa dalam cintanya pada Susan Sarandon, setelah berlatih menari dengan cewek semenarik Jennifer Lopez. Coba kalau dia tidak belajar menari, seumur2 dia trapped di rasa keharusan mencintai istrinya. Bermain2 dgn J-Lo, asal tetap dalam koridor, justru menimbulkan percik baru bagi suami istri ini.

* Gw jadi inget seorang teman yg bilang gini ke gw, "Perkawinan itu ibaratnya paket McDonald: dua ayam, satu nasi, segelas Cocacola. Jangan ngeyel minta Pepsi, krn mereka gak jual itu. Kita gak harus suka Cocacola, dan gak harus minum Cocacola-nya sampai habis. Sah2 aja kalo ntar keluar dari McDonald beli Pepsi di pinggir jalan. Yang penting jangan membawa makanan atau minuman dari luar ke dalam McD. Atau kalau emang gak suka Cocacola sama sekali, paketnya take away aja, atau pindah makan di KFC aja" *

Hehe.. kebiasaan gw mulai lagi ya? Ngebahas serius hal sepele. Padahal mungkin juga sutradaranya nggak mikir se-njelimet ini tentang filmnya. Secara ini harusnya jadi film ringan, gitu lowh! Tapi.. what can I say? Selalu ada yang bisa dipelajari dari hal sesederhana apa pun. Dan kalaupun tulisan ini pakai konteks romantic movie, bukan berarti apa yg gw pelajari dari film2 ini hanya bisa diterapkan di kisah cinta. Pilihan untuk percaya pada seseorang, pilihan untuk cut the vicious circle, pilihan untuk melakukan sesuatu yg secara kasat mata buruk padahal penting buat mendapatkan hal yg lebih baik.. semua itu adalah hal2 universal yang kita temui dalam hidup ini.