Friday, September 29, 2006

Are Not at Odds

Kalau gw kemarin2 sering mencela ceramah yang gak logis, untuk fair-nya gw mesti nunjukkin ceramah yang menurut gw layak dengar kan? Hehehe.. daripada nanti2 dituduh bahwa emang dasarnya aja gw gak suka dengerin ceramah, apa pun bentuknya ;-). Well.. pada dasarnya gw bukannya gak bisa dinasihati kok! Bukannya gak bisa dengar ceramah atau apa. Tapi memang cari gelombang yang cocok buat kuping gw tuh susah! Di antara yang bisa masuk kuping kanan gw (dan gak keluar lagi lewat kuping kiri) adalah ceramah2nya Dr M. Quraish Shihab.

Well.. sebenernya sih dari dulu omongan beliau termasuk yang gelombangnya cocok di kuping. Tapi baru setelah 6 hari ini rutin dengerin acara Tafsir Al Mishbah: Mengenal Surah Al Baqarah (setiap jam 3 pagi di MetroTV, selama Ramadhan), gw bisa menstrukturkan dengan jelas kenapa ceramahnya cocok di kuping gw.

Pertama, yang bikin cocok, adalah karena beliau sangat memperhatikan konteks. Bukan sekedar parade kutipan ayat2, tapi sangat diperhatikan konteksnya. Tiap ayat tidak dikunyah mentah2, tapi dianalisa secara logis dengan memperhatikan kapan ayat itu diturunkan, hubungannya dengan ayat dan hadis lain, dsb. Membuat bahasannya jadi logis dan jauh dari prejudice.

Ketika membicarakan ayat2 tentang Yahudi, misalnya, di mana Bani Israel sering digambarkan sebagai bangsa yang berperilaku buruk, beliau bisa dengan bijak mengembalikan kepada konteks bahwa contoh2 itu diberikan Tuhan karena merupakan yang paling dekat dengan kehidupan bangsa Arab saat turunnya ayat tersebut. Bukan pasti berarti bahwa Yahudi adalah bangsa yang buruk, dan semua yang dilakukan Yahudi dari masa ke masa adalah buruk.

Pun ketika beliau bicara tentang berbohong. Berbohong memang salah satu perilaku yang dilabeli dosa. Tapi tetap bukan sama sekali nggak boleh bohong karena harus lihat konteksnya. Berbohong bahkan diperbolehkan jika untuk mencegah peperangan, mendamaikan orang yang berseteru, atau sebagai bentuk pujian pada suami/istri. So.. semua kembali pada konteksnya.

Berkali2 beliau menekankan bahwa ayat2 itu harus dilihat konteksnya. Jangan sampai ayat yang diturunkan dalam keadaan perang lantas digunakan untuk justifikasi melakukan sesuatu dalam keadaan damai. Bisa berantakan semua, karena konteksnya berbeda.

Dan beliau menjelaskan juga bahwa sangat boleh mempertanyakan kenapa-begini-kenapa-begitu dari setiap ayat dan hadis. Boleh mempertanyakan alasan (rasional)-nya, boleh mempertanyakan interpretasi yang beredar luas.

*Kita percaya bahwa sesuatu itu benar, bukan berarti harus menelan mentah2 tanpa dikunyah. Makanan bergizi apa pun yang ditelan bulat2 akan bikin tersedak, atau sakit perut kan ;-)?*

Kedua, beliau juga sangat teliti mendedah semantik secara logis untuk menjelaskan the reason behind. Mengembalikan kata per kata itu pada konteks yang tepat. Contohnya ketika beliau mendedah ayat2 yang bicara tentang orang2 kafir. Dengan pengetahuan beliau yang luas, dan kemampuannya meletakkan pada konteks yang tepat, beliau tidak asal mendefinisikan kafir. Beliau mengajak lagi mendalami ayat2 yang menunjukkan bahwa kafir adalah mereka yang menutup diri sama sekali dari kebenaran. So.. kafir dan tidak kafir itu tidak ditentukan oleh percaya/tidak percaya pada agama tertentu, tapi oleh keterbukaannya menerima kebenaran. Dan menerima kebenaran itu jalannya bisa bermacam2 ;-)

Juga ketika beliau bicara tentang perbuatan merusak. Merusak adalah sebuah perbuatan yang mengurangi/menghilangkan fungsi dari sesuatu yang tadinya berjalan dengan baik. Bagaimana jika dalam upaya menegakkan sesuatu yang baik lantas kita mengurangi/menghilangkan fungsi dari sesuatu yang tadinya berjalan dengan baik juga? Ya namanya merusak juga ;-). Ya pelanggaran terhadap aturan yang sudah digariskan Tuhan juga.

*So.. berusaha menegakkan sesuatu yang baik bukan alasan untuk merusak sesuatu, if you know what I mean ;-). Perbuatan merusak memang bukan hak kita, walaupun untuk menegakkan yang benar ;-)*

Ketiga, beliau pandai memberikan analogi yang logis untuk menjelaskan maksudnya. Contohnya ketika muncul pertanyaan apakah bisa mengganti shalat dengan perbuatan baik/berpahala lainnya. Dengan tenang beliau memberikan perumpamaan tentang perangko dan uang. Perangko adalah benda yang disepakati sebagai pengganti uang, pengganti bea kirim, yang harus ditempelkan pada surat. Bisa nggak diganti perangko itu diganti dengan uang? Ya pasti nggak akan sampai di alamat tujuan, walaupun seandainya uang yang ditempelkan nominalnya lebih tinggi, lha wong sudah ditentukan bahwa kalau kirim surat harus ditempeli perangko. Begitu juga dengan shalat.. udah ditentukan bahwa harus shalat, ya gak bisa diganti dengan yang lain ;-).

Nah.. kalau ceramah2 yang kayak gini kan didengernya enak ;-) Masuk akal, gitu, bukan sekedar hafalan! Bener2 ngasih insight, bukannya bikin pingin nyela ;-)

Mendengarkan ceramah beliau membuat gw makin percaya bahwa science and religion are not at odds, science is simply too young to understand. Gw makin percaya bahwa yang namanya agama itu sangat boleh dipertanyakan secara ilmiah; pasti ada penjelasan ilmiahnya. Tugas kita (manusia) yang mencari penjelasannya. Kadang gampang dijumpai penjelasannya, kadang gak ketemu2, tapi gw percaya bahwa suatu hari pasti keduanya ketemu. Karena keduanya benar ;-)

Coba semua pemuka agama (dalam agama manapun) bisa melakukan hal seperti beliau ini ya! Mungkin istilah agnostik gak perlu ada ;-) Setidaknya kan si Jeng ini gak perlu mencari orgasme spiritual dimana2 ;-).

*Eh.. tapi kalau semua kayak beliau, gw mau nulis apaan dong di blog.. hehehe.. ;-)? Jadi ingat sama The Master and Margarita (M. Bulgakov); setan pun terpaksa turun ke Rusia untuk meyakinkan mereka bahwa Tuhan itu ada, sebab kalau orang sudah gak percaya sama Tuhan, maka setan pun out of the job ;-)*

Wednesday, September 27, 2006

Bye, Bye, Nicholas Saputra!

Masih ingat Bruce Willis the Laptop?

Alkisah, setelah menghiba2 ke GA Department, akhirnya gw dikasih form untuk cerai dari Bruce Willis. Layaknya form cerai, mesti ditandatangani oleh dua orang saksi: salah satunya tentu harus boss gw.

Boss gw, di luar dugaan, cepat sekali kasih tanda tangan. Mungkin lantaran beliau sudah pernah juga hidup dengan Bruce (note: Bruce itu lungsuran dari beliau juga), jadi sudah bisa empati dengan penderitaan gw. Nggak pakai ba-bi-bu, begitu beliau muncul di kantor, langsung deh surat cerai gw ditandatangani. Satu direktur lain juga dengan senang hati memberikan tanda tangannya, secara gw juga cukup tahu diri: minta tunjangan cerainya gak banyak2 amat. So.. tanggal 13 September, tepat sebulan setelah Bruce kena serangan jantung, akhirnya gw dapat juga surat cerai ;-) Tinggal tunggu masa idah, dapat deh gw pacar baru.

Dengan tunjangan cerai yang nggak seberapa, nggak mungkin lah gw memikat brondong2 high-end macam Ashton Kutcher. Tapi.. kalau brondong low-end sih masih bisa deh! Dan diantara brondong2 yang terjangkau, akhirnya dipilihlah Nicholas Saputra, dengan memory-nya ditambah jadi 512MB.

Selama dua hari setelah surat cerai di tangan, gw gak bisa tidur. Terbayang2 mau nge-date sama Nicholas Saputra. Memang, begitu surat cerai gw tunjukkan ke GA Department, mereka langsung kasak-kusuk cari manajernya Nico, nego harga kontrak. Sore itu juga gw dapat kabar Nicholas mau jadi date gw selanjutnya, tapi harus nunggu 2-3 hari lagi karena stok lagi abis.

Tapi apa lacur.. di hari seharusnya Nico datang, yang datang malah pemberitahuan dari GA:

Mbak, maaf, tampaknya harus ditunda hingga akhir bulan. Uangnya belum cair. Sabar dulu ya, Mbak, masih bisa nunggu kan?

Yaah.. gw juga nggak mau nggege mongso. Gw ngerti kesulitannya. Jadi ya gw dengan sabar mengiyakan. Setelah nunggu sebulan, apa salahnya nunggu 2 minggu lagi? Lagian, semua yang keburu2 gak bakal baik hasilnya kan?

So.. manajernya Nicholas Saputra langsung ditelfon sama staff GA, Nicholas di-booked dulu sampai akhir bulan.

Sampai tadi pagi, gw masih menghitung hari, menggadang2 bahwa minggu depan gw udah bisa nge-date sama Nicholas. Tapi tadi tiba2 saja muncul email resmi ini:

From: --deleted--
Sent: Wednesday, September 27, 2006 2:39 PM
To: Maya Notodisurjo
Cc:
Subject: Re: Laptop

Dear Maya:

Dengan sangat berat hati saya minta kesabaran Maya untuk menunggu beberapa minggu lagi. Untuk sementara keuangan diprioritaskan untuk kebutuhan proyek yang akan berjalan dalam beberapa hari ini.

Terima kasih atas pengertiannya.

Huaaa.. langsung porak poranda deh kencan impian gw.. hehehe..

Dengan berat hati juga, terpaksa deh manajernya si Nico ditelfon untuk membatalkan booking-an. Dengan ramahnya si manajer bilang nggak apa-apa. Nico sementara dijual ke orang lain dulu, kebetulan kemarin sudah ada yang nanyain tapi ditahan demi gw. Nanti kalau gw udah pasti mau nge-date sama dia, gw bisa bikin janji ulang.

Langsung deh suasana hati gw jadi mellow yellow, dan terngiang2 lagu Everly Brothers:



Bye bye, love
Bye bye, happiness
Hello, loneliness
I think I'm-a gonna cry

Bye bye, love
Bye bye, sweet caress
Hello, emptiness
I feel like I could die

Bye bye, my love, goodbye

There goes my baby
With-a someone new

He sure looks happy
I sure am blue

He was my baby
Til she stepped in
Goodbye to romance
That might have been

Bye, bye, Nicholas Saputra! Bye, bye romance that might have been! Semoga masih ada brondong yang akan lewat ;-) Dan semoga lewatnya sebelum gw keburu menopause.. hehehe..

Kata bapaknyaima, gw mesti sabar ;-). Siapa tahu kalau nunggu beberapa minggu bukan cuma dapat Nicholas Saputra, tapi bisa dapat Nicholas Cage. Deeuh.. mimpi kali yeee! Bisa2 malah turun kasta dapat Nico Siahaan yang udah gak brondong lagi.. ;-)

*tapi amiiin.. moga2 memang dapat Nicholas Cage ;-) Moga2 ini memang cara Yang di Atas menunjukkan bahwa Nicholas Saputra bukan yang terbaik ;-)*

UPDATE 28 Sept 2006

Nemu clip-nya Bye Bye Love di YouTube. Terlampir di atas buat yang belum tahu lagunya ;-). Lagu manis itu juga dikirimkan untuk PapanyaNaya; makasih untuk sumbang saran dan susah payahnya ikut nyariin brondong yang terjangkau, terutama untuk konsultasinya tentang kompie pas BapaknyaIma unreachable di Makassar ;-)

Tuesday, September 26, 2006

Jatuh Cinta

Beberapa waktu lalu seorang sahabat minta tolong gw membaca dan mengeditkan calon novel perdananya. Dua bab pertama gw bantai abis.. hehehe.. gak jelas si ibu itu bikin novel atau lagi curhat di buku harian ;-). Tapi di bab ketiga gw terpana waktu tokoh utamanya jatuh cinta sama orang yang enggak banget. Dalam keadaan biasa, rasanya nggak mungkin tuh cewek jatuh cinta sama cowok itu. Tapi toh, akhirnya si cewek jatuh cinta juga simply because of the right place, the right time, and the right moment.

*gak bisa cerita mendetil, tunggu aja novelnya terbit ya ;-) Moga2 si penulis gak krisis pede dan memutuskan gak jadi cari penerbit ;-)*

And lastly, there are those couples that marry for their parents, for money, or play it safe and marry a friend. These are the most unfortunate ones in the world… and they don’t even know it.

Until one day, riding the fast train of life they run into their soulmate; and are faced with the hardest question of all: What do you do when you meet the love of your life and you are married to someone else?

Director’s Note

Jadi inget beberapa hari lalu akhirnya bisa juga nonton Kabhi Alvida Naa Kehna, walaupun kualitas DVD bajakannya gak jelas mau bikin film B&W atau sepia ;-). Mana frame-nya miring2 gak karuan lagi! Yah, namanya juga barang bajakan, mana bisa sebagus aslinya ;-)? Itu juga udah untung bisa dapat filmnya di pinggir jalan; lha wong gw beberapa kali nanya ke penjual langganan, mereka malah bengong dan menatap gw dengan pandangan tak percaya. Nggak biasa2nya ada pelanggan nanya film India kali ya.. hehehe..

Sebenernya gw juga gak banyak referensi film India. Seumur hidup gw baru satu kali nonton film Bollywood full dari awal sampai akhir: Kuch Kuch Hota Hai. Itu pun nontonnya di VCD yang dibeliin bapaknyaima buat Ima gara2 Ima kesengsem sama Anjali kecil. Tapi.. gara2 baca review-nya Neng Yanti, sungguh mati aku jadi penasaran nonton K-A-N-K. Sampai ngublek2 websitenya 21Cineplex dan kecewa ketika ternyata film itu cuma diputar di Cineplex yg jauhnya antah berantah dari daerah jajahan gw, dan.. ketika akhirnya gw sempat mau nonton di akhir pekan: FILMNYA TINGGAL DIPUTAR DI MEDAN, CIREBON, DAN MENADO!

Apa sih yang bikin gw penasaran banget sama K-A-N-K ini? Tak lain tak bukan tema ceritanya yang ambigu banget. What will you do if your true love comes after you are married to someone?

Setiap orang dengar alasan gw pingin nonton K-A-N-K pasti komentarnya: oooh, film tentang perselingkuhan ya? Susah buat orang menerima bahwa film ini bukan tentang bosan pada pasangannya, bukan tentang icip2 daun muda yang lebih segar, tapi tentang jodoh yang baru datang setelah masing2 dari mereka menikah.

Oh.. well, mungkin kata jodoh kelewat berlebih, kali ya? Bagaimana pun kita nggak pernah tahu jodoh kita siapa. Pandangan umum sih kalau seseorang menikah itu berarti memang jodoh. Tapi.. kalau menikah itu berarti jodoh, kalau cerai artinya apa? Kalau baru menikah lantas meninggal, berarti apa? Jodohnya pendek, begitu? Atau bukan jodoh? Dan kalau sampai menikah lagi, artinya apa? Jodohnya ada dua, gitu? Atau yang pertama nggak jodoh? Hehehe.. Kalau gitu gak usah bicara soal jodoh deh, kedengarannya sok tahu banget. Bicara soal jatuh cinta aja ;-)

Pada intinya, menurut gw, selalu ada kemungkinan bahwa kita ketemu orang lain walaupun kita sudah menikah. Dan selalu ada kemungkinan untuk jatuh cinta, walaupun tidak diniatkan sama sekali. Bahkan, mungkin sekali kita ketemu dan jatuh cinta pada orang yang kalau dipikir2 gak ada lebih2nya daripada pasangan kita. Jatuh cinta memang bukan selalu tentang finding Mr or Miss Right, tapi masalah meet someone at the right time, the right place, and the right moment.

Seperti Maya (Rani Mukherjee) dan Dev (Shahrukh Khan) di film ini. Walaupun gak banyak digambarkan adegan2 saat bertemu suami/istri masing2, jelas bahwa mereka nggak ujug2 menikah. Pasti ada cinta di antara mereka. Kalau kemudian Maya & Dev bertemu, lantas jatuh cinta, lebih terlihat sebagai hasil dari the right place, the right time, and the right moment. Perasaan senasib, saling bertukar saran, ketika dua2nya sedang terpuruk, itulah yang menyatukan mereka. Entah boleh disebut berjodoh atau tidak, tapi yang jelas cinta itu tidak datang karena iseng atau icip2 kan? Beda lah sama jatuh cintanya seseorang pada cewek yang lebih seksi/cantik daripada istrinya, atau pada cowok yang lebih gagah/kaya daripada suaminya ;).

Salahkah mereka? Menurut gw sih prosesnya nggak salah. It is the natural result for the right combination of place, time, and moment. Yang salah adalah jika mereka mengejar cinta itu dan melanggar komitmen yang sudah dibuat dalam pernikahan. Salahnya bukan karena jatuh cinta, tapi karena melanggar komitmen.

Kalau gw jadi sutradaranya, film ini berakhir ketika Maya & Dev memutuskan untuk mengakhiri semuanya, dan kembali ke pasangan masing2. Atau berhenti ketika Rhea & Rishi memutuskan bahwa mereka tidak bisa menerima itu, dan mengakhiri pernikahan dengan Maya & Dev. Atau ketika Maya & Dev memutuskan untuk berbohong kepada yang lainnya, mengatakan bahwa pernikahan mereka baik2 saja, karena tidak ingin merusak rumah tangga yang lainnya.

*Jadi ingat ceramahnya Pak Quraish Shihab di Metro TV hari kedua puasa, tentang kebohongan yang diperbolehkan. Salah satunya adalah untuk mencegah terjadinya peperangan. Kalau bohongnya Maya & Dev ini bisa dimasukkan ke kategori itu gak ya? Berbohong supaya yang lain tidak ribut dengan pasangannya ;-)?*

Sayang gw bukan sutradaranya.. hehehe.. Dan tujuannya si sutradara lebih ingin menunjukkan cinta sejati yang muncul setelah menikah. Jadinya.. ya dibikin happy ending deh ;-)

Friday, September 22, 2006

Aku [Nggak] Benci Bule

Beberapa waktu lalu gw baca beberapa blognya gang para ibu Indonesia yang bersuamikan pria asing yang tinggal di negara suaminya. Common theme saat itu adalah posting di sebuah blog berjudul Aku Benci Bule. Komentarnya semua seragam: si penulis menyamaratakan, si penulis sirik, si penulis berpikiran sempit, si penulis munafik, si penulis gila, si penulis tak berwawasan,.. sampai ada yang nanya: apa pantes.. ceramah ttg agama.. sekaligus menyakiti org banyak??

Gw jadi penasaran pingin baca, sayang artikel aslinya sudah di-delete oleh si empunya. Kebetulan gw mendapatkan fwd-an emailnya tadi pagi. Asli, setelah gw baca versi aslinya, lepas dari semua komentar orang terhadap artikel itu, gw jadi senyum2 sendiri. Sebagai orang luar (baca: ibu2 Indonesia, tinggal di Indonesia, menikah dengan orang Indonesia), gw jadi lebih bisa melihat at the brighter side. Ternyata ini masalah salah sambung: si penulis kurang bijak memilih kata2 dan membuat alur ceritanya, sementara para ibu2 [maaf] take it too personally karena merasa menjadi bagian dari kelompok yg dibicarakan itu

*seperti di posting lalu, logika yang harusnya absolut itu kerapkali terbatas ruang & waktu toh ;)?*

OK, gw kutipkan dulu artikel aslinya yang kontroversial itu:

Seringkali aku berkenalan dengan saudari-saudariku yang berada di belahan bumi Eropa, aku merasa senang dan gembira bisa bersilaturahmi dengan mereka. Namun ada satu hal yang aku belum bisa menerima itu semua, apa itu?? Baik akan kujelaskan; Sebelumnya aku mohon ma’af kepada mereka-mereka yang tersirat dalam tulisan tanganku ini, terus terang aku selalu diusik dengan hal yang sebetulnya kurang prinsipil seperti ini. Namun hal ini begitu membuatku sedikit mendidih dan merasa uncomfortable dalam menyikapi atau memantau kehidupan sesamaku di jagad ini.

Pertama kali aku berkenalan dengan saudari dari indo dan se-Iman adalah seseorang yang berdomisili di Sweden, setelah kutelisik beliau ini ikut suaminya menetap disana karena suaminya asli orang swedia (Bule). Yang kedua, aku berkenalan dengan seorang perempuan indonesia mirip dengan yang pertama se-Iman, namun bedanya yang satu ini belum berjilbab beliau tinggal di Prancis, setelah aku tanya ternyata sama saja, yaitu ikut dengan suami tercintanya yang berwarga negara Prancis. Kemudian yang selanjutnya juga sama tinggal di UK nikah dengan Bule, aduuh bete dah koq semuanya pada nikah ama Bule siih..

Ya begitulah, kalau saya tanya salah satu dari mereka katanya sudah ‘Taqdir’!. Iya emang betul juga sich, tapi perlu diingat bahwa taqdir itu setelah kita usaha. Bukannya belom usaha apa-apa udah bilang taqdir. Itu absolutely wrong. Aku kasi misal ni ya, dari mana kita tahu kalau kita lulus dan tidaknya kalau sebelum ujian..?? itu artinya kita berusaha dahulu mengukur kemampuan diri kita. Kalau sudah ikut ujian kemudian melihat hasilnya kita nggak lulus. Nah tuh dia baru yang namanya TAQDIR. Sebab Alloh yang nentuin setelah semua usaha kita lakukan.

By the way kalau saya amati kenapa yang dinikahi / yang menikah dengan Bule itu kebanyakan perempuan (indonesia). Misalnya yang diatas tadi itu lho. Tapi kenapa bukan laki-laki (indonesia) yang menikah dengan Bule (perempuan). Ini jelas tidak fair donk. Aku sebagai laki-laki merasa tidak terima dengan semua ini.Aneh kan, kalo kata mereka;‘ mungkin kalau laki-lakinya kurang pede kali??’ Aku jawab; nggak juga buktinya aku pede-pede aja tuh. Trus kata mereka lagi; ‘atau karena beda agama??’ Aku jawab; ‘ah nggak juga, laki-laki Muslim kan boleh menikah dengan perempuan Ahli kitab( kristen&yahudi). kemudian kalau kita amati lagi, tentunya anda semua udah tau donk, kalau Artis-Artis indonesia (perempuannya) suka banget menikah dengan yang namanya bule. Misalnya Maudy kosnaedy, Ulfa diyanty (suami yg dulu), Ayu Azhari, Sarah Azhary..dll alasannya mungkin, karena pengen memperbaiki keturunan (biasa alasan klise).ya begitulah bangsa indonesiamu, asalkan mau masuk islam (ga peduli dulunya bejat or kagak kayak suaminya Ayu azhari yaitu vokalis band Rock White Lion), kemudian punya cukup harta, mata biru, Jadi dech nikah ma cewe indonesia.

Mereka ga peduli dia itu sefikroh (satu visi) atau nggak, bahkan dulunya udah pernah free sex dengan puluhan cewe atau nggak, bodo amat yang penting bule. Lebih spesifiknya bule yang tinggal di negara maju kayak Eropa atau Amerika. Mungkin alasan laennya kebanyakan cewe indo yang menikah dengan BULE adalah; kan kalo nikah sama bule bisa keliatan Kereeen, strata sosial Naik. Kemudian bisa diajak tinggal dinegaranya yang waah itu. Daripada tinggal diindonesia yang mana tidak ada jaminan untuk hidup lebih makmur (luxury) Padahal untuk memilih pasangan itu kita perlu mencari yang baik agar nanti anak kita menjadi bibit yang baik pula, tentunya kitanya harus baik dulu donk.

Yang bikin saya kesel disini adalah, cara berfikir mereka (cewe indonesia) yang sangat instant, dengan alasan tidak ada jaminan hidup makmur lah, banyak orang yang tidak bermoral lah diindonesia. Eiits nanti dulu donk.

Bukannya di Eropa itu gudangnya orang-orang bermasalah?? Misal; Lesbian, Homosex, Free sex dari mana asalnya kalau bukan dari mereka? Yang suka membikin umat Islam sengsara siapa? Seperti di Iraq,Afghanistan,Libanon?? Yang suka membuat kebijakan politik untuk menindas dan mencekik dunia ketiga seperti indonesia Siapa kalau bukan Bule-bule itu ??

Tapi emang pada dasarnya tipikal cewe indonesia kali yang suka jual murah, mentang-mentang menjadi bangsa yang Inferior trus semaunya aja dinikahin ama bangsa-bangsa yang superior. Lihat saja misalnya TKW yaang dikirim ke Timur Tengah, mereka itu kebanyakan emang genit, urakan dan penggoda. Ini berdasarkan pengalaman saya sendiri ketika transit di Emirat barengan dengan mereka yang mau pulang ke Indonesia.

Jadi jangan heran kalau anda semua sering dengar berita di tv atau media masa elektronik lainnya yang memeberitakan kalau perempuan asal indonesia suka di perkosa dan dianiaya. Itu dikarenakan ulah mereka sendiri. Itulah peroblemnya, coba kalau mereka mengerti Islam secara baik, mereka ga bakalan ninggalin negrinya atau bepergian sendiri tanpa ada mahrom. Dan lebih tragisnya lagi kebanyakan TKW itu mutazawwijah (udah maried Jack).

Mau marah, jengkel dengan semua kenyataan ini. Silahkan ini waqi’iyah (realita). Makanya wahai kaum laki-laki indonesia mari kita Nikahi wanita-wanita bule. Biar ga cewe indonesia aja yang dinikahin mereka. Kita juga bisa, toh sama-sama manusianya! So why Not? Lets get it.

Nb; ini hanya sebuah opini pribadi saya, bagi yang kurang berkenan saya mohon maaf dari lubuk hati yang paling dalam. Bagi yang ngasi komen monggo silahkan kita bisa diskusi di forum ini. Bagi yang setuju mari kita teliti lagi masalah2 sosial disekitar kita.

OK, mari kita analisa kasus ini.. HAHAHAHA.. Menurut gw sih kronologinya begini:

Menilik isi blognya, gw mendapat kesimpulan bahwa si penulis menganggap bangsa Barat (that is, the whole people, not just the government) adalah bangsa yang tidak baik. Suka melakukan penyimpangan seks. Memusuhi Islam dan dunia ketiga dengan kebijakan2 politiknya. He actually has a point here.. ;-). Politik pemerintah negara2 Barat memang agak timpang kalau ditinjau dengan logika (walaupun gw skeptis kalau dibilang bahwa ketimpangan ini karena masalah agama, kecuali kalau perekonomian dianggap agama dan uang adalah tuhan.. hehehe.. ). Soal lebih bebas dalam urusan seksual, well.. menurut gw juga si penulis has a point here. Setahu gw di Belanda sudah disahkan pernikahan gay ataupun lesbian. Adult shop di sana juga bebas. Pelacur pun dianggap sebagai pekerja yang dipungut pajak.

Tolong dicatat ya.. gw tidak membenarkan si penulis menggeneralisasikan kebijakan pemerintah kepada masing2 individu di negara itu. Yang mau gw garisbawahi: dengan pandangan seperti ini, adalah sesuatu hal yang logis jika si penulis menganggap menikah dengan bangsa Barat adalah suatu keputusan yang perlu dipertanyakan. Oleh karena itu dia bertanya: why?

Dan.. karena kedua temannya (yang di Swedia dan Prancis) menggunakan takdir sebagai argumentasi, tampaknya sisi intelektual si penulis jadi terusik. Sama seperti gw terusik ketika mendengar alasan jodoh itu di tangan Tuhan untuk bolak-balik kawin ;-). Gara2 jawaban ini, dia malah tambah getol mempertanyakan: mosok iya, melakukan sesuatu yang [menurut dia] salah itu adalah karena takdir Tuhan?

Maka.. si penulis lantas membuat hipotesa2 lain tentang kemungkinan lain, kemungkinan yang lebih manusiawi, untuk melakukan perbuatan yang [menurut dia] salah itu. Dan kalau perbuatannya [menurut dia] salah, tentu alasan manusiawi untuk melakukannya juga bukan sesuatu yang baik toh? Makanya, yang dia jabarkan adalah segala alasan manusiawi yang buruk2.

Menurut gw sih begitu ya, kronologinya. So.. IMAO (=in my arrogant opinion.. hehehe.. habis kalo gw bilang humble pasti banyak yg gak percaya ;)), tujuan dia menulis bukan untuk propaganda atau provokasi. IMAO, alasannya menulis benar2 segamblang yang dikemukakan di akhir tulisannya: Bagi yang ngasi komen monggo silahkan kita bisa diskusi di forum ini. Bagi yang setuju mari kita teliti lagi masalah2 sosial disekitar kita. Alasan utamanya memang ingin mendapat argumen yang lebih membumi tapi bisa meyakinkannya bahwa menikah dengan pria berkebangsaan Eropa/Amerika itu tidak perlu dicurigai macam2. Bahwa alasannya sama saja dengan menikah dengan pria sebangsa setanah air atau pria2 dari bangsa yang [menurut dia] lebih baik.

Sayang.. semua orang sudah keburu sensi, fokus pada kata per kata yang dituliskannya, bukan lagi mencoba melihat big picture-nya. IMAO, itu yang menyebabkan dia menghapus tulisannya. He did not mean it to turn out this way, and he regrets it ;-).

Well.. gw pingin kasih komentar di blognya. Sayang, tulisan itu sudah gak ada. Jadi.. komentar gw untuk si penulis dimasukkan di sini aja ya:

1. Sebaiknya si penulis belajar membedakan kebijakan pemerintah, gaya hidup masyarakat, dan individu. Ketiganya bisa sangat jauh berbeda. Jadi.. jangan menilai individu dari kebijakan pemerintah atau gaya hidup masyarakatnya. Bisa jaka sembung main gitar, kagak nyambung jreng jreng jreng.. ;-)

2. Sebaiknya si penulis belajar lebih arif memilih kata2 untuk disampaikan di depan umum. Belajarlah dari pengalaman Paus Benedictus XVI dan pidato kontroversialnya; bahwa kalau orang sudah terpaku pada yang kutipan tersurat, maka belum tentu dia bisa memahami pertanyaan akademis yang tersirat ;-) (update 29 Sept 2006: lihat posting sebelumnya)

3. Sebaiknya buat kerangka penulisan yang jelas jika ini memposting sesuatu yang punya potensi menjadi sensitif. Menyelipkan humor itu baik (seperti lelucon tentang menikahi perempuan bule itu ;)), tapi.. kalau letaknya gak tepat, scattered, maka bisa ditangkap sebagai sindiran atau hinaan buat orang lain.

Truss.. gw juga punya komentar sih buat mereka yang meninggalkan komentar2 gak enak di blognya maupun di blog sendiri:

1. Memang membaca tulisan seperti ini bikin naik darah, tapi.. ada baiknya coba dilihat big picture-nya dulu sebelum marah2 dan menuduh yang enggak2.

2. Kalau sudah menyelami tulisannya dan masih naik darah, ya monggo2 aja. Tapi.. kalau meninggalkan cacimaki di blognya, ataupun di blog Anda sendiri, lantas apa bedanya Anda dan dia? Hehehe.. Cobalah untuk marah with style. Marah with style itu kalau di tulisan lebih mudah kok, daripada kalau di kehidupan nyata. Kan kalau di tulisan kita sempat mikir dan ng-edit dulu ;). Jangan sampai kita ngatain orang gak berpendidikan, tapi mulut kita kotor juga ;)

OK deh.. gitu aja komentar gw hari ini. Sorry dory memory kalau ada yg gak berkenan ya ;-) Ini sekedar tulisan gw; orang yang gak benci bule, masih cinta mati sama Juergen Klinsmann walaupun ngefans sama Mahmoud Ahmadinejad, gak benci [bangsa] Amerika, tapi emang kebetulan gak gitu suka sama kebijakan2nya George W Bush ;-)

PS: selamat menjalankan ibadah puasa, dan buat semuanya gw mohon maaf atas segala yang tidak baik yang pernah terpikirkan, terkatakan, dan terlakukan oleh gw.

UPDATE 29 Sept 2006:

Terima kasih, Elsa, atas pertanyaan kritisnya ;-). Saya mengacu pada bahasan saya sebelumnya, Logika: Absolut?, ketika bicara tentang belajar dari pengalaman Paus Benedictus XVI. Ya, saya setuju bahwa pidato Paus itu akademis; yang sayangnya tidak semua orang sampai pada tahap memahami yg tersirat karena sudah keburu tersinggung pada detil tersurat. Itu sebenernya yang saya ingin tekankan: hati2 menulis yang tersurat, kalau yang tersurat sudah bikin sensi, boro2 bisa nangkap yang tersirat ;-)

Yang saya lupa: tidak semua orang membaca posting saya sebelumnya, sehingga kalimat di point ke-2 itu bisa menimbulkan penafsiran lain seperti yang Elsa tulis. Harusnya memang saya beri link ke tulisan saya itu sehingga orang memahami konteksnya. Terima kasih sudah mengingatkan saya ;-).

Wednesday, September 20, 2006

Logika: Absolut?

Lantaran macet, gw kemarin nongkrong di Setiabudi One. Kemana lagi tempat tongkrongan gw kalau enggak toko majalah? Di sana nemu Time terbaru, yang bintang sampulnya Ahmadinejad. Tentu aja gw beli, secara gw ngefans sama cara berpikir beliau. Eh.. kebetulan, secondary topic-nya adalah pidato kontroversialnya Benedictus XVI.

Tadinya gw sudah asumtif bahwa bahasan di Time ini gak bakal jauh beda dari artikel yg memojokkan Islam ini, secara Time majalah terbitan Amerika gitu loh! Ternyata gw salah lho! Artikel ini yang paling logis di antara artikel yang gw baca seminggu ini. Artikel yang memancing either komentar memojokkan Islam atau komentar yang memojokkan Paus (sayang komentar2 di sini sudah di-delete. Atau mungkin gw yg gak paham cara lihat komentarnya ya?). Simak beberapa kutipannya:

Benedict said Islam teaches the God’s will is not bound up with any of our categories, even that of rationality. The risk he sees implicit in this concept of the divine is that the irrationality of violence might thereby appear to be justified to someone who believes in God’s will. The essential question, he said, was this: Is the conviction that acting unreasonably contradicts God’s nature.. always and intrinsically true?.. His questions were not reserved only for the Islamic world. As he has done before, Benedict spoke about the need for the West, especially Europe, to reverse its tendency towards godless secularism. He believes that the gift of reason that he cherishes in Christianity has been warped by the West into an absolutist doctrine. (p.25)

Perhaps his erudite mind does not quite yet grasp how to transform his beloved scholarly explorations into effective papal politics.. As a good professor might, he quoted a 14th century Byzantine Emperor.. Perhaps the 79-year-old Pontiff hoped his remarks at the German university would spark a pointed discussion of Christian-Muslim relations and the rise of faith-based terrorism (p. 9)

Well.. waktu Joseph Ratzinger terpilih sebagai Paus, gw sudah dengar bahwa beliau adalah salah satu the most rigorous and traditionalist Catholic theologians. Jadi nggak heran juga kalau bakal ada kata2 yang bikin orang nyolot kayak gini. Still, gw agak ragu juga tentang motivasinya mengutip kalimat itu. Searogan2nya, sebagai seorang tokoh dunia, logically dia akan lebih diplomatis. Dan sebagai ahli teologi, dia tentu tahu bahwa kalimat itu diucapkan Kaisar Bizantium dengan marah ketika berperang dengan tentara Islam. Hanya orang [maaf] bodoh yang akan mengutip kata2 emosional seseorang terhadap musuhnya dan menggunakannya sebagai suatu fakta. Gw yakin The Pope tidak sebodoh yang dituduhkan orang.

Penjabaran Time di atas lebih masuk akal buat gw. The Pope yang konservatif, asli Jerman, dan sangat akademis ini mungkin sekedar berlaku bak professor. Dia mengutip sesuatu untuk memancing rasa ingin tahu pendengarnya. Melontarkan sesuatu yang akan menimbulkan pro dan kontra yang akan memperkaya pengetahuan.. ;-) Sebuah sikap yang bagus.. hanya saja kurang taktis karena sebagai tokoh dunia semua ucapannya bukan lagi milik sekelompok audience di hadapannya. Beliau harus lebih hati2, lebih taktis, lebih diplomatis, karena seluruh ucapannya akan tersiar ke seluruh penjuru dunia.

Yah.. kita memang tidak bisa berharap semua orang akan bisa berpikir logis. Boro2 berpikir logis; bahkan kita tidak bisa berharap semua orang akan mendengarkan/membaca pendapat kita sampai selesai. Kebanyakan orang terpaku pada beberapa kalimat dan menilainya dari situ. Penilaiannya bisa beda2; karena kemampuan berpikir dan pengalaman tiap orang tidak sama.

Itu yang bikin kita harus ekstra hati2 kalau ngomong di depan publik. Kalaupun mau mengutip sesuatu yang cerdas, atau sesuatu yang bisa bikin sensi, gak bisa sembarangan. Bisa2 orang fokus di kutipan itu dan keburu marah. Sementara orang2 lain keburu fokus sama kemarahan sekelompok orang tersebut, sehingga juga lupa lihat konteks dan big picture dari kata2 itu. Hasilnya? Bukannya menjembatani  munculnya diskusi cerdas, malah tidak sengaja memprovokasi orang untuk berantem ;-).

Ya kayak yang dilakukan The Pope ini: orang sedunia bukannya mikirin pertanyaan cerdasnya tentang apakah tindakan-gak-logis-yang-menentang-kehendak-Tuhan itu pasti benar karena kehendak Tuhan tidak dibatasi oleh rasio, eeeh.. malah pada ribut sendiri ngomentarin kutipannya DAN dampak yang ditimbulkan oleh kutipan tersebut ;-).

Salut deh buat wartawan Time, Jeff Israely, yang membahas pidato Paus dengan begitu logis. Tapi.. on the other hand, gw heran kenapa wartawan Time yang satunya gak bisa mengikuti jejak Oom Jeff ya? Dalam edisi yg sama, Sean MacLeod gak bisa selogis itu menganalisa pikiran, ucapan, dan tindakan Ahmadinejad:

Ahmadinejad is a skilled, if slippery, debater. In his press conferences, he has shown himself to be a natural politician, gifted in the art of spin and misdirection.. Over the course of the 45-minute interview, he was serious, smiling, and cocky; evidenced of self-assurance that borders to arrogance.. He waved a hand dismissively when I could not grasp his logic in questioning the Holocaust. Ask to defend his claim that the Holocaust was a myth, he went on a rambling rant.. (p. 15-16)

Hmm.. apakah standard penerimaan karyawan di Time beda2 ya, sehingga kualitasnya beda2? Hehehe..

Atau.. mungkin memang logika itu tidak absolut. Logika itu dibatasi oleh ruang dan waktu, sehingga sulit berpikir logis jika kita menjadi bagian dari sebuah konflik ;-). Berpikir logis tentang Paus dan komentarnya tentang Islam mungkin mudah bagi seorang yang bukan Islam dan bukan Katholik juga. Tapi.. berpikir logis tentang persengketaan Iran-Amerika akan menjadi lebih sulit jika kau seorang Amerika atau seorang Iran ;-).

Ah.. sudahlah! Sudah terlalu panjang tulisan ini.. HAHAHAHA.. Entar nasibnya sama lagi sama pidatonya Paus: orang kelewat pusing untuk baca semuanya, dan fokus pada kutipan2 gak penting ;-).

Saturday, September 16, 2006

Kembang Kertas

Jaman bapaknyaima masih jadi mahasiswa, di kampus kami ada kebiasaan: setiap mahasiswa yang baru saja lulus sarjana akan disiram dengan air kotor. Bisa air cucian kantin, bisa campuran sisa minuman, bahkan.. pernah ada yang disiram dengan septic tank. Semua elemen air kotor itu sudah dikumpulkan beberapa hari, sehingga baunya nggak ketulungan.

Rekan2 seangkatan gw, memberikan sentuhan modern di tradisi itu: menyiram sarjana baru dengan minuman yang bersih. So.. dari septic tank, berubah menjadi Fanta, Cocacola, teh, kopi, atau.. es cincau. Semua minuman segar, alias belum diminum setegukpun, karena teman2 gw tak tega mengguyur temannya dengan air kotor.

Gw nggak pernah ikutan tradisi modern angkatan gw tersebut. Selain karena yg lulus sebelum gw cuma dua orang, gw ngerasa tidak sepantasnya kami menggunakan minuman segar untuk mengguyur mereka. Mubazir, dan betapa tidak tepa selira-nya kami melakukan itu jika masih banyak orang di sekitar kami yang nggak mampu membelinya.

Saat pertama kali ada teman seangkatan yang lulus sidang, gw memang nyaris ikutan ngguyur. Tapi nggak jadi; karena sesaat sebelum gw mengambil segelas cincau yang sudah diborong salah seorang teman untuk kepentingan ini, gw dengar si penjual bergumam:

Sayang ya, minuman dibuang2 seperti itu. Mubazir. Sementara di Margonda tadi ada bapak2 tua yang kehausan, tapi nggak mampu beli. Kalau dia beli, sisa duitnya nggak cukup buat naik bis. Daripada buat ngguyur orang mendingan mbeliin orang yang nggak bisa minum.


Kontan gelas itu gw taruh. Gw bener2 merasa malu! Betapa nggak sensitifnya kami membuang2 minuman, sementara di sekeliling kami masih banyak orang yang nggak mampu membelinya. Biarpun minuman itu kami bayar, tetap saja it does not feel right for me. Gw nggak bisa menghilangkan bayangan bahwa gw gak beda dari Marie Antoinette yang memakai tepung roti sebagai pupur sementara rakyat Prancis kelaparan.

Peristiwa itu teringat kembali hari ini ketika nonton tayangan pernikahan antara seorang bintang film dengan putra tokoh terkenal di republik ini. Gw melihat lagi kemubaziran dipertontonkan secara tidak tepa selira. Kali ini bentuknya bukan cincau yang diguyurkan, melainkan rangkaian kembang kertas yang dibagikan kepada tetamu sebagai tanda terima kasih.

Kertas itu bukan sekedar kertas. Kertas yang membentuk kelopak2 kembang mawar itu adalah lembaran uang Rp 10,000 yang sudah dilipat, digulung, ditekuk sedemikian rupa. Memang cantik sekali! Dan tentunya mahal sekali ;-) Setangkai mawar kurang lebih terdiri atas 10 lembar uang Rp 10,000. Do your math, honey! Anggaplah mereka menyediakan hanya 200 tangkai mawar, maka total dibutuhkan 2,000 lembar uang alias 4 rim untuk kepentingan ini. Phiew!

Well.. gw bener2 mengurut dada ketika melihat bunga2 kertas itu. Bukan nominal harga tanda matanya yang gw permasalahkan. Menilik siapa orang tua sang mempelai lelaki, siapa tamu2 yang diundang, I can tolerate a 100-thousand-rupiah-a-piece souvenir. Gak pantes juga buat mereka memberikan tanda terimakasih masal produksi Mang-Du (= mangga dua) yang harganya cuma Rp 2,000 kan ;-)? Bukannya hemat, malah kelihatan pelit dan nggak menghargai tamu ;-)

Tapi.. seperti si pedagang cincau di kampus gw dulu, gw merasa trenyuh melihat ada orang2 yang secara gamblang menghambur2kan sesuatu yang bagi jutaan orang lain sangat berharga, dicari dengan susah payah, dan dihemat sedemikian rupa. Memang, uang itu uang mereka sendiri. Memang, hak mereka sepenuhnya untuk melakukan apa saja dengan uangnya. Memang, buat mereka, bisa jadi lembaran Rp 10,000 itu cuma menuh2in dompet doang dan gak berguna. Tapi jangan lupa, jutaan orang di luar sana jungkir balik mengumpulkan lembaran2 itu. Lembaran2 yang cuma menuh2in dompet itu bisa jadi menyelamatkan nyawa orang di luar sana.

Perlukah menunjukkan bahwa mereka punya sekian ribu (atau bahkan sekian ratus ribu?) lembar uang Rp 10,000 yang bisa mereka bentuk sesuka2nya? Perlukah menunjukkan pada masyarakat umum bahwa lembaran Rp 10,000 itu nggak bermakna apa2 buat mereka; cuma sekedar bahan baku untuk prakarya? Padahal, di belahan lain negeri ini mungkin ada seorang ibu yang sedang menangis karena tidak memiliki lembaran2 itu untuk membelikan makanan anaknya yang kelaparan. Tidak jauh dari kita mungkin ada orang tua yang sedang meregang nyawa karena anaknya tidak memiliki lembaran2 itu untuk menebus obat.

Gw nggak nyuruh mereka menyumbangkan uang itu pada mereka2 yang kelaparan atau kesusahan. Tapi.. gw berharap setidaknya mereka cukup peka untuk tidak menunjukkan bahwa mereka punya lembaran2 itu; apalagi menunjukkan bahwa lembaran itu bisa mereka perlakukan seenaknya.

Hhhh.. entah juga ya, mungkin gw memang berpikir terlalu jauh tentang kembang kertas ini. Mungkin mereka nggak bermaksud pamer. Mungkin mereka nggak bermaksud merendahkan nilai uang. Yang jelas, gw merasa cukup lega bahwa yang menikah ini adalah putra bungsu dari si tokoh tersebut. Gw nggak kebayang kalau si mempelai masih punya adik yang belum menikah. Mungkin, on the next wedding, ortunya bakal memakai lembaran Rp 10,000 sebagai karpet kali ya ;-)?

UPDATE 18 SEPT 2006:

Penggunaan uang kertas yang tidak semestinya ini termasuk pelanggaran Pasal 246 & Pasal 247 KUHP nggak ya? Kan dengan sengaja merusak serta mengurangi nilai uang? Coba.. uang yg diselotip itu kan belum tentu bisa dicopot tanpa cacat.

Wednesday, September 13, 2006

Ketika Ibu [tidak] Bekerja

Apa jadinya tatanan masyarakat jika setiap ibu enggan mengasuh anak demi mengejar karier di luar rumah? Kita sebagai orangtua seketika terkesiap menyaksikan bila narkoba telah dijajakan seperti permen di pekarangan sekolah SD. Kita menjadi panik dan menyesalkan anak yang tumbuh kembang liar tanpa memahami hulu keliaran itu berasal dari perigi ambisi pribadi.

Maka seorang ibu, dengan air mata bersisa di pipi, tersenyum teduh. Di puncak malam yang sunyi, ia telah menemukan keyakinan: Anak adalah amanah Tuhan. Jabatan hanya amanah manusia. Sayangnya, banyak ibu melupakan amanah mulia, ketika mendapatkan amanah yang lebih rendah. Seseorang dalam kisah ini, tersenyum teduh, ketika menatap wajah kedua bidadarinya yang terlelap. Tak kubiarkan engkau, bidadariku, menjadi setan bergentayangan, gumamnya di tengah malam yang hening.

(potongan artikel Tak Kubiarkan Bidadariku Menjadi Setan; polemik di PanekukSanur)

Gw cuma punya pertanyaan kecil: apakah mengejar karir berbanding terbalik dengan keberhasilan mengasuh anak? Apakah bekerja di luar rumah disinonimkan dengan melupakan amanah mulia mengasuh anak? Apakah bekerja di luar rumah hanya bisa menghasilkan uang lebih; tidak bisa membantu seorang ibu menjalankan fungsinya dengan lebih baik?

Let me tell you a story then..

Once upon a time, hiduplah seorang ibu yang baru melahirkan putri pertama. She had a very demanding job, dan tanpa Brucie the Laptie di sisinya, ibu ini masuk ke kategori P13 (pergi-pagi-pulang-petang-penghasilan-pas2an masih pangkas-pajak-potong-pinjaman dan bikin pinggang-pinggul-pegal2). Nggak ada yang bikin dia betah bekerja; wajah putri kecilnya yang lucu terbayang2 dari jam 7 pagi sampai jam 8-9 malam. Belum lagi tekanan sosial dari pihak keluarga besar yang menganut paham ibu yang baik adalah ibu yang berada di rumah sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad.

Nah.. pada saat si putri berusia hampir 2 tahun, harapan si ibu itu terpenuhi. Dia bisa berhenti bekerja. Uang? Tidak perlu khawatir2 amat. Dengan bekerja part-time 4-6 hari seminggu, honornya sebelas-duabelas dengan gaji lamanya. Tidak cukup besar untuk membuat dia bisa meni-pedi dan ngukur mall saban hari, tapi juga nggak terlalu kecil untuk bikin dia khawatir apakah dapur besok masih bisa ngebul.

Kebebasan waktu untuk bermain bersama anak dan menjalani hobi, dipadu dengan keamanan finansial.. sampailah kita di akhir kisah: and they live happily ever after.

Yeah! Right! Happily ever after.. kalau kata ever after mengacu pada kurun 4 bulan saja ;-)

Memang, 4 bulan pertama si ibu itu menjalani hari2nya dengan riang gembira. Bangun tidur nonton kartun sama putri tercinta, jam 8:00 pagi nonton Kuis Siapa Berani, jam 9:00 mandi. Di saat anak bangun bisa bercanda2 sama anak, membacakan cerita buat anak, mengajari anak bernyanyi, dll. Saat si anak tidur siang, si ibu bisa internetan, baca buku, nulis cerpen.. segala hal yang hanya menjadi luxury buatnya sejak lulus kuliah-kerja-nikah-punya anak.

Tapi setelah 4 bulan, si ibu itu mulai mengkaji ulang hidupnya. Ketika episode Teletubbies yang sama diulang untuk kesekian kalinya dalam kurun waktu yang sebentar, dan si putri kecil masih saja tertawa terbahak2 seolah baru menontonnya untuk pertama kali, that became a real problem for her ;-). Waktu bekerja dulu, dia nggak mengikuti Teletubbies secara teratur. Hanya sesekali dia menonton, dan karena dia tidak tahu itu adalah re-run untuk kesekian kalinya, dia bisa ikut tertawa tulus bersama si putri kecil. Tawanya saat bekerja dulu adalah tawa yang mengasyikan. Tawa yang berkualitas. Bukan tawa basa-basi untuk menyenangkan putri kecilnya yang masih antusias menonton episode ulangan itu (dan yang akan merasa kecewa kalau ibunya nggak ikut tertawa).

Ya, si ibu mulai kehilangan makna hidup. Waktu bersama anak, yang dulu ditunggu2 sebagai sesuatu yang sangat berharga di akhir hari dan di akhir minggu, dianggap sebagai reward atas lelahnya bekerja, kini tersedia kapan saja dan dimana saja. Akhir pekan yang ditunggu2 sebagai sesuatu yang istimewa, sekarang hanya berbeda di acara TV yang ditonton saja. Dan seperti hukum ekonomi: ketika supply lebih besar daripada demand, maka hal itu menjadi tidak bermakna.

Dulu.. si ibu selalu merencanakan dengan baik apa yang akan dilakukan dengan anaknya. Waktunya hanya sedikit, dan itu harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Sekarang.. liat aja entar ah! Nyantai aja deh, masih banyak waktu kok! Toh kerjaan gw cuma nemenin anak.

Dulu.. si ibu akan menghentikan apa pun pekerjaan yang sedang dihadapinya, dan memilih resiko dimarahi boss, kalau si anak sudah minta disuapi. Jarang2 dia punya kesempatan ngurus anak; so she would have seized every opportunity. Sekarang? Minta disuapi? Tunggu dulu ya? Nggak harus sekarang kan? Bisa mundur sejam lagi kan? Ibu lagi asyik baca nih!

Ya! Justru karena tidak bekerja, secara tidak sadar si ibu sudah take these moments for granted. Secara kuantitas memang dia lebih sering bersama anaknya. Tapi kualitas kebersamaannya bersama si anak jauh menurun. Si anak sendiri menjadi tidak nyaman bersama ibunya; tidak senyaman ketika dulu ibunya selalu di kantor dan hanya punya waktu yang sangat terbatas untuk dirinya.

Tiga bulan kemudian si ibu itu kembali bekerja. Kembali menjalani kehidupan rutin. Kembali menyumpah2 tiap hari karena jadi anggota P13. Kembali punya ibu yang tidak punya banyak waktu untuk anaknya. Tapi.. setiap waktu menjadi lebih bermakna. Setiap pengalaman menjadi mengesankan. Berenang bersama, googling bareng, ngarang cerita bareng, nonton Disney Princess bareng, main Barbie, nge-fans sama kontestan reality show bareng..

Yup! Karena gw bekerja, gw lebih dekat sama Ima, lebih perduli sama Ima. Gw nggak kebayang, kalau dulu gw tetap berhenti bekerja, mungkin gw & Ima malah menjadi semakin jauh. Jauh secara emosional, karena masing2 take it for granted dengan keberadaan yang lain. So, gw lebih bisa menjalankan fungsi gw sebagai ibu karena gw bekerja. Mudah2an ini terbawa sampai Ima remaja ya ;-)

Dan satu lagi! Karena gw bekerja, gak bisa menemani Ima setiap waktu, gw terpaksa memperlakukan dia sebagai responsible adult. Terpaksa membuat dia belajar hal2 yang [mungkin] dianggap belum waktunya oleh ibu teman2nya, karena gw harus bisa melepas Ima dengan kepercayaan penuh. Saat ibu2 yang lain tidak memberi uang jajan karena takut anaknya belum bisa membedakan jajanan yang baik, gw terpaksa mengajari Ima membedakan jajanan mana yg boleh dan tidak boleh dibeli. Gw gak bisa mengawasi dan membelikan jajanan buat Ima setiap saat, maka gw harus yakin Ima bisa dipercaya membelanjakan uangnya untuk kepentingan yang benar. Gw nggak bisa mengawasi Ima pergi dan pulang sekolah, yang bisa gw ajarkan adalah mengenali dan menghindari kemungkinan pelecehan seksual, penculikan, dan tindak kejahatan lainnya.

Yup! Ima menjadi lebih mandiri daripada banyak teman sebayanya karena gw bekerja. Kalau pakai patokan di artikel tadi, gw juga sudah mencegah bidadariku menjadi setan kan ;-)?

***

Well.. mungkin orang akan bilang bahwa ini adalah pembenaran dari seorang ibu yang bekerja di luar rumah. Tapi, mari kembali ke pertanyaan mendasar di atas: apakah mengejar karir berbanding terbalik dengan keberhasilan mengasuh anak? Gw yakin tulisan ini cukup untuk menunjukkan bahwa mengejar karir tidak berbanding terbalik dengan keberhasilan mengasuh anak.

Dan kalau mau lebih dalam lagi: bekerja juga bisa membantu seseorang menjalankan fungsinya sebagai ibu dengan lebih baik. It is a matter of being a happy mom that makes her a good mom, regardless being a working mom or a full time housewife ;-)

UPDATE 14 Sept 2006:

Kemarin2 gw cari artikel aslinya nggak ada. Eeh.. hari ini muncul di daftar teratas Google. Link-nya udah gw tambahkan di kutipan atas, jadi bisa pd baca aslinya. Kalo versi yg di PanekukSanur sih sudah dihilangkan segala link dan landasan teori si penulis ;-)

Monday, September 11, 2006

Keynote and Context

Gw baru tahu bahwa selain Maha Esa, Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha segala-galanya, ternyata Tuhan juga Maha Prosedural dan Maha Prejudice ;-)

Tunggu! Sebelum mereka yang menyebut dirinya kaum beriman murka, gw tegaskan dulu bahwa gw tidak sedang memperolok Tuhan. Tapi dengan ke-cetek-an ilmu agama gw, dipadu dengan kesoktahuan dan kesoklogisan gw yang agak berlebih, maka itulah kesimpulan yang gw dapat saat mendengar khotbah seorang dai kondang cantik tadi malam.

Tante Dai ini tadi malam bertugas memberikan rangkuman terhadap sebuah episode the so-called sinetron religius. Untuk menegaskan bahwa perbuatan haram layak dijauhi, Tante Dai berkata:

Anak diberi makan haram, lantas dimasukkan ke dalam pesantren, jadi ahli agama. Tetap tidak bisa! Anak ini berbuat baik karena jadi ahli agama, setelah meninggal, di pintu surga dia diusir oleh malaikat. Kamu tidak bisa masuk surga karena kamu makan barang haram, malaikat akan berkata begitu. Anak itu akan berkata: Saya? Makan barang haram? Tidak pernah! Saya selalu berusaha melakukan kebaikan. Tapi malaikat itu akan mencubit tangan si anak: walaupun kamu berbuat baik, tapi dagingmu tumbuh dari makanan haram, karena kamu diberi makan yang haram oleh bapakmu.

Huh? WTF?

Gw kira Tuhan Maha Pengampun. Orang berdosa pun akan diampuni bila sudah bertobat. Orang yang berbuat dosa tanpa sengaja ataupun karena terdesak pun masih mungkin mendapat ampunan-Nya. Lha, disini kok Tuhan digambarkan berbuat semena2. Orang yg sudah berbuat kebaikan tetap dinafikan kebaikannya hanya karena dosa orang tuanya.

Memangnya Tuhan itu petugas sub-bag akad di universitas ya? Yang kalau ada mahasiswa belum lulus matakuliah prasyarat, lantas nggak boleh ngambil matakuliah lanjutannya? Yang bakal menganulir nilai A si mahasiswa di matakuliah lanjutan, hanya karena matakuliah prasyaratnya belum lulus? Who do you think God is, Tante? Birokrat yg lebih perduli sama prosedur daripada keunikan individu?

Atau mungkin.. menurut Tante, Tuhan itu tergolong pejabat di masa lalu ya? Yang suka ngasih tanda di KTP anak2 yang bapaknya ex-tapol? Yang bikin anak2 itu susah dapat kerja, biarpun anak itu pintar dan baik?

Yang gini2 termasuk kategori mencemarkan nama baik Tuhan nggak sih? Kalau menurut gw sih iya. Dan karena itu, gw pikir si Tante beruntung karena Tuhan Maha Pengampun; Dia pasti mengampuni karena Tante tidak tahu apa yang Tante perbuat ;-). Dan Tante beruntung, karena Tuhan bukan manusia yang bakal mengajukan somasi ;-)

Hehehe.. jadi perangkum sesuatu itu memang nggak mudah, Tante! Keynote speaker selalu dipilih karena dianggap punya kemampuan lebih. Omongannya yang selalu paling didengarkan. Memang membanggakan, tapi di situ terletak tanggung jawab yg besar juga: kita harus bisa memastikan bahwa omongan kita sahih. Salah ngomong dikit, dampaknya bukan hanya ke diri kita sendiri, tapi juga ke konsep yg kita bicarakan dan ke seluruh populasi yang kita wakili.

Ohya, tentunya sebagai profesional, Tante sudah melakukan telaah sumber untuk memastikan dasar2 ucapan Tante. Termasuk dasar2 untuk khotbah di atas. Tapi.. mungkin Tante bisa lebih meresapi lagi dalil Gil Grissom, the lead investigator di CSI: evidence does not lie [but] evidence without context is not evidence ;-). Yup, Tante, mungkin Tante menemukan suatu ayat atau hadis atau apa pun yg mendukung khotbah Tante. Namun, tetap, ada baiknya untuk memperhatikan konteksnya, karena sesuatu yg benar bisa jadi salah kalau konteksnya gak pas. Sebaliknya, sesuatu yg salah, jadi seolah2 benar, karena konteks yang tidak tepat juga.

It is a matter of gestalt, kata salah satu anak buahnya Grissom, the whole of pattern is greater that the sum of its parts. Jangan pernah bicara tentang the whole pattern hanya berdasarkan beberapa parts. Kumpulkan dulu sebanyak2nya parts sampai kita bisa merekonstruksi pola yang [kita yakini] paling dekat dengan the whole pattern. Itu pun belum tentu polanya benar, karena biarpun seluruh parts bisa kita susun, the whole pattern is still greater ;-). Ya itu! Karena ada konteks itu tadi!

Well.. itu memang dasar dari berpikir ilmiah, Tante. Tapi.. untuk agama pun dasar ini bisa dipakai kok. Mengerti tentang Tuhan kan bukan merupakan titik dikotomi yg bertentangan dari berpikir ilmiah ;-).

*Dan buat kamu yang sedang baca: dasar ini bisa dipakai untuk semua hal juga kan ;-)?*

Friday, September 08, 2006

Buruan Prospek Gue!

Saat seorang teman ngajak ketemuan, katanya ingin minta pendapat tentang sesuatu, gw sudah menduga pasti ada hidden agenda. Dugaan makin kuat ketika dia bersedia memundurkan waktu pertemuan karena gw lagi padat acara. Tapi dasar gw tuh orangnya MTA (=mau tauuuu aja.. ;-)), tetap aja gw jabanin ketemuan. Pingin tahu juga apakah ada yg baru dari strategi mereka.

Seperti yg gw duga, pertemuan kali ini tak lain tak bukan adalah untuk memprospek gw ikutan MLM. Teman ini adalah orang ke-4 yang memprospek gw dalam 2 tahun terakhir. Seperti ketiga pendahulunya, teman gw masih menerapkan modus operandi yang sama: Pertama ngobrolin kabar. Lalu ngobrolin keinginan/rencana dalam 2-5 thn terakhir, sambil casually nanya: loe gak pernah kepikir mau berhenti kerja? Habis itu nunjukkin quadrant bekerja-untuk-uang vs. uang-bekerja-untuk-kita. Dilanjutkan dengan menggambarkan deret ukur keuntungan yang menggiurkan dari the so-called-teamwork ini. Trus.. mulailah penjabaran produk2 dengan segala kelebihannya, dan presentasi ditutup dengan cerita tentang betapa gampangnya melakukan itu semua. Cukup dengan langkah2 mudah: tentukan cita2/alasan untuk memotivasi, buat daftar nama orang yg potensial, buat janji dengan orang itu, presentasi, dapatkan member yg aktif, dan.. voila! Anda nggak harus kerja keras lagi karena uang yg bekerja untuk Anda.

Well, sebenernya gw gak anti sama MLM. Gw menerimanya sebagai salah satu bentuk pemasaran kok! Dan gw juga gak sebel2 amat karena diprospek sama temen. Gw sih seneng2 aja karena diprospek biasanya sama dengan ditraktir.. hehehe.. Tapi.. sejauh ini emang segala presentasi MLM-ers itu belum bisa meyakinkan gw tentang kelebihan MLM. Jadi.. boro2 gw tertarik ikutan, yang ada gw pingin ngajak berdebat melulu.

Apa sih yg bikin presentasinya MLM belum bisa meyakinkan gw?

Yang pertama dari materi presentasinya itu sendiri. Menurut gw terlalu banyak logika yg bolong. Seolah2 semuanya mudah; bikin daftar, bikin janji, dapat member, lalu member itu cari member lagi, teruuusss begitu, sehingga kita bisa ongkang-ongkang kaki. Padahal, berapa sih probabilitas keberhasilannya? Berapa probabilitas berhasil bikin janji? Dari keberhasilan bikin janji, berapa probabilitas dapat member? Dari keberhasilan dapat member, berapa probabilitas dapat member yg aktif cari downline baru? Dari member yang aktif, berapa probabilitas bahwa mereka nggak akan burn-out atau angin2an? Gw hitung2.. probabilitas keberhasilannya kecil banget. Tapi.. di presentasi digambarkan seolah2 probabilitas keberhasilannya besar sekali; bahwa yg gagal hanya karena mereka kurang ulet. Well, gw gak suka diberi presentasi yg too good to be true. Gw ngerasa [maaf] di-bego-in dengan diberi data yg seperti ini.

*sorry dory memory, gw bukan jenis orang yg bakal percaya aja bahwa angka kemiskinan di Indonesia menurun kalo gw belum yakin data itu benar. Apalagi kalo data itu jelas2 bisa diragukan ;-)*

Yang kedua, gw nggak sreg dengan jawaban semua pemrospek atas segala pertanyaan gw tentang angka probabilitas ini. Tiap kali gw mempertanyakan hal itu, selalu jawaban yg gw terima adalah: semuanya tergantung orangnya. Kalau rajin, pasti bisa berhasil. Yang penting memperbesar peluang dengan terus menerus bikin janji, bikin presentasi. Ini bisnis yg bisa dilakukan semua orang kok. Nggak semua orang pintar yang titelnya tumpuk2 bisa berhasil di bisnis ini, tapi sebaliknya nggak semua ibu rumah tangga yg gak pernah bisnis bakal gagal di bisnis ini. Well, jawaban ini bener2 menohok sisi ke-psikolog-an gw.. hehehe.. WOOOIII, setiap orang adalah unik, nggak ada kerjaan yg bisa dilakukan oleh siapa aja dengan sama bagusnya. Konsepnya the right man in the right place [position], rite? Nggak pernah ada konsep anybody with the right effort buat sebuah posisi.

Bokis banget ah! Jelas2 kerjaan sebagai MLM-ers itu membutuhkan interpersonal skill dan communication skill (terutama persuasive skill) yang tinggi. Mana bisa the loner yg saklek seperti gw akan berhasil? Mana bisa gw yg selalu bersikap take it or leave it kalo udah berhubungan sama orang lain ini diharapkan membujuk2 dengan sabar?

Yup, tentu saja gw bisa belajar. Tapi.. plis deh ah! Untuk setiap keberhasilan gw, akan banyak natural players yg lebih berhasil. And you told me that I have the same chance with them to reach the top? Ah.. bercanda! Yang ada gw cuma bakal jadi anak tangga para natural players itu.

Yang ketiga, gw gemes banget dengan strategi pemasaran MLM yang tidak pernah berubah. Dari masa ke masa, pendekatan mereka gak beda dari slogan Teh Botol Sosro: siapapun orang yg diprospek, cara memprospeknya begini. Well.. ini benar2 melecehkan sisi marketing researcher gw.. HAHAHA.. Duuuh, tiap hari gw mencari sesuap nasi dengan ngurusin klien2 gw memastikan strategi pemasaran mana yg paling berhasil. Entah packaging mana yg paling OK, format produk mana yg paling sip, iklan mana yg paling potensial.. Satu hal yg gw pelajari dari kerjaan gw: setiap kelompok manusia membutuhkan pendekatan yg berbeda. Kalau kita mau orang beli produk kita, kita harus tahu kebutuhan mereka apa, dan berusaha membuat produk kita bisa membangkitkan sisi tersebut.

Hehehe.. yang gw amati dari MLM ini adalah: mereka memang diajar untuk jadi sales promotion person. Metodenya masih nggak jauh2 dari carrot and stick; dengan iming2 tahap uang-bekerja-untuk-kita sebagai carrotnya. Pingin makan wortel? Ya kerja rodi sana.. hehehe.. Mereka tidak diajar untuk menjadi brand/marketing manager; tidak diajar dan dimodali untuk mengenali target marketnya sehingga bisa menyusun strategi pemasaran yg tepat. Lihat saja dari video sesi2 sharing mereka; selalu hanya penuh dengan kisah2 sukses, kisah2 yg bisa memotivasi, tapi.. minim pengetahuan marketing.

*well.. setidaknya itulah yg gw lihat dari sekilas beberapa VCD yg dipinjamkan teman gw. Lagi2 ngomongin pipa dan ember. Lupa kali ye, bahwa sebelum bisa memutuskan bikin pipa atau pakai ember, yang terpenting adalah MENGENALI SUMBER AIR.. hehehe.. Mau jago bikin pipa, kalo bikinnya di padang pasir, tetap aja nggak dapat air.. ;-)*

Yang terakhir, sejauh ini semua pemrospek gw itu masih nggak bisa menjawab pertanyaan gw yg paling mendasar: kenapa MLM enak diikuti dan perlu?

Kalau gw tanya begitu, jawabannya masih klise. Mulai dari janji atas kebebasan finansial dan kebebasan waktu, bisa belajar banyak dari MLM, sampai jawaban yang agak filosofis:

Gw nggak bisa jawab, karena yang bisa jawab loe sendiri. Gw cuma bisa nyaranin loe datang ke malam sharing dengan pikiran yang terbuka, jangan dipenuhi prejudice dulu terhadap bisnis ini. Pasti ada yg bisa loe pelajari dari sini.

Hmm.. kalau gw belum kenal bisnis ini dan tidak mengenal karakteristik kepribadian gw, philosophic-answer-wanna-be ini tentu cukup menarik buat gw. Tapi sayangnya, gw sudah cukup lama mengamati bisnis ini, sudah sering diprospek, dan sudah mengenal karakteristik diri gw yg gak cocok sama bisnis ini. Gw butuh sesuatu yg lebih greng buat bikin gw tertarik ;-)

Akan halnya tentang kebebasan finansial dan kebebasan waktu.. well.. bukannya gw nggak pingin kaya. Uang memang tidak dapat membeli segalanya, tapi bisa membeli 99% dari segalanya, ya kan ;-)? Tapi.. semakin dipikir2, gw semakin nggak yakin bahwa gw menginginkan hal itu. Gw malah takut gw bakal bingung dan kehilangan makna hidup kalau segenggam berlian sudah di tangan tanpa gw harus mengais2 sesuap nasi.. hehehe.. Apa fun-nya hidup, kalau problem terbesar yang harus gw putuskan adalah (mengutip Intan di Fenomena Literatur Anak Ayam): mendingan pakai stiletto dan jeans CK, atau rok midi suede Prada dipadu dengan boots kulit selutut ;-)? Biarpun tiap hari gw nyumpah2, kayaknya hidup gw lebih bermakna karena I am just a desperate housewife living on the hysteria line ;-).

Well.. anyway, seperti gw bilang tadi, gw gak anti-MLM. Jadi.. kalau ada yg mau memprospek gw sih silakan aja. Tapi, kalau boleh saran: mendingan enggak deh.. ;-) Even jika ada yg bisa memberi gw jawaban telak atas 4 pertanyaan di atas, gw belum tentu mau menurunkan kualitas hubungan pertemanan menjadi hubungan bisnis. Gw tipe orang yg gak suka bisnis sama teman. Klien dan rekan bisnis boleh jadi teman, tapi kalau sudah jadi teman.. ngapain gw pertaruhkan hubungan demi bisnis?

---

PS: buat kamu.. *iya kamu.. yang Rabu kemarin nraktir gw secangkir espresso dan segelas fresh lime squash* terima kasih atas tekadnya untuk menjadikan gw benchmark kesulitan tingkat tinggi dalam memprospek ;-) Tulisan ini sengaja diposting untuk menjadi referensi tentang bolong2 yang masih harus dibenahi dari bisnismu. Semoga sukses ya ;-) Jangan mau cuma jadi kaum di dasar piramida; kelompok orang yg cuma caos dahar (=memberi upeti) untuk orang2 di level yang lebih tinggi ;-)