Friday, September 22, 2006

Aku [Nggak] Benci Bule

Beberapa waktu lalu gw baca beberapa blognya gang para ibu Indonesia yang bersuamikan pria asing yang tinggal di negara suaminya. Common theme saat itu adalah posting di sebuah blog berjudul Aku Benci Bule. Komentarnya semua seragam: si penulis menyamaratakan, si penulis sirik, si penulis berpikiran sempit, si penulis munafik, si penulis gila, si penulis tak berwawasan,.. sampai ada yang nanya: apa pantes.. ceramah ttg agama.. sekaligus menyakiti org banyak??

Gw jadi penasaran pingin baca, sayang artikel aslinya sudah di-delete oleh si empunya. Kebetulan gw mendapatkan fwd-an emailnya tadi pagi. Asli, setelah gw baca versi aslinya, lepas dari semua komentar orang terhadap artikel itu, gw jadi senyum2 sendiri. Sebagai orang luar (baca: ibu2 Indonesia, tinggal di Indonesia, menikah dengan orang Indonesia), gw jadi lebih bisa melihat at the brighter side. Ternyata ini masalah salah sambung: si penulis kurang bijak memilih kata2 dan membuat alur ceritanya, sementara para ibu2 [maaf] take it too personally karena merasa menjadi bagian dari kelompok yg dibicarakan itu

*seperti di posting lalu, logika yang harusnya absolut itu kerapkali terbatas ruang & waktu toh ;)?*

OK, gw kutipkan dulu artikel aslinya yang kontroversial itu:

Seringkali aku berkenalan dengan saudari-saudariku yang berada di belahan bumi Eropa, aku merasa senang dan gembira bisa bersilaturahmi dengan mereka. Namun ada satu hal yang aku belum bisa menerima itu semua, apa itu?? Baik akan kujelaskan; Sebelumnya aku mohon ma’af kepada mereka-mereka yang tersirat dalam tulisan tanganku ini, terus terang aku selalu diusik dengan hal yang sebetulnya kurang prinsipil seperti ini. Namun hal ini begitu membuatku sedikit mendidih dan merasa uncomfortable dalam menyikapi atau memantau kehidupan sesamaku di jagad ini.

Pertama kali aku berkenalan dengan saudari dari indo dan se-Iman adalah seseorang yang berdomisili di Sweden, setelah kutelisik beliau ini ikut suaminya menetap disana karena suaminya asli orang swedia (Bule). Yang kedua, aku berkenalan dengan seorang perempuan indonesia mirip dengan yang pertama se-Iman, namun bedanya yang satu ini belum berjilbab beliau tinggal di Prancis, setelah aku tanya ternyata sama saja, yaitu ikut dengan suami tercintanya yang berwarga negara Prancis. Kemudian yang selanjutnya juga sama tinggal di UK nikah dengan Bule, aduuh bete dah koq semuanya pada nikah ama Bule siih..

Ya begitulah, kalau saya tanya salah satu dari mereka katanya sudah ‘Taqdir’!. Iya emang betul juga sich, tapi perlu diingat bahwa taqdir itu setelah kita usaha. Bukannya belom usaha apa-apa udah bilang taqdir. Itu absolutely wrong. Aku kasi misal ni ya, dari mana kita tahu kalau kita lulus dan tidaknya kalau sebelum ujian..?? itu artinya kita berusaha dahulu mengukur kemampuan diri kita. Kalau sudah ikut ujian kemudian melihat hasilnya kita nggak lulus. Nah tuh dia baru yang namanya TAQDIR. Sebab Alloh yang nentuin setelah semua usaha kita lakukan.

By the way kalau saya amati kenapa yang dinikahi / yang menikah dengan Bule itu kebanyakan perempuan (indonesia). Misalnya yang diatas tadi itu lho. Tapi kenapa bukan laki-laki (indonesia) yang menikah dengan Bule (perempuan). Ini jelas tidak fair donk. Aku sebagai laki-laki merasa tidak terima dengan semua ini.Aneh kan, kalo kata mereka;‘ mungkin kalau laki-lakinya kurang pede kali??’ Aku jawab; nggak juga buktinya aku pede-pede aja tuh. Trus kata mereka lagi; ‘atau karena beda agama??’ Aku jawab; ‘ah nggak juga, laki-laki Muslim kan boleh menikah dengan perempuan Ahli kitab( kristen&yahudi). kemudian kalau kita amati lagi, tentunya anda semua udah tau donk, kalau Artis-Artis indonesia (perempuannya) suka banget menikah dengan yang namanya bule. Misalnya Maudy kosnaedy, Ulfa diyanty (suami yg dulu), Ayu Azhari, Sarah Azhary..dll alasannya mungkin, karena pengen memperbaiki keturunan (biasa alasan klise).ya begitulah bangsa indonesiamu, asalkan mau masuk islam (ga peduli dulunya bejat or kagak kayak suaminya Ayu azhari yaitu vokalis band Rock White Lion), kemudian punya cukup harta, mata biru, Jadi dech nikah ma cewe indonesia.

Mereka ga peduli dia itu sefikroh (satu visi) atau nggak, bahkan dulunya udah pernah free sex dengan puluhan cewe atau nggak, bodo amat yang penting bule. Lebih spesifiknya bule yang tinggal di negara maju kayak Eropa atau Amerika. Mungkin alasan laennya kebanyakan cewe indo yang menikah dengan BULE adalah; kan kalo nikah sama bule bisa keliatan Kereeen, strata sosial Naik. Kemudian bisa diajak tinggal dinegaranya yang waah itu. Daripada tinggal diindonesia yang mana tidak ada jaminan untuk hidup lebih makmur (luxury) Padahal untuk memilih pasangan itu kita perlu mencari yang baik agar nanti anak kita menjadi bibit yang baik pula, tentunya kitanya harus baik dulu donk.

Yang bikin saya kesel disini adalah, cara berfikir mereka (cewe indonesia) yang sangat instant, dengan alasan tidak ada jaminan hidup makmur lah, banyak orang yang tidak bermoral lah diindonesia. Eiits nanti dulu donk.

Bukannya di Eropa itu gudangnya orang-orang bermasalah?? Misal; Lesbian, Homosex, Free sex dari mana asalnya kalau bukan dari mereka? Yang suka membikin umat Islam sengsara siapa? Seperti di Iraq,Afghanistan,Libanon?? Yang suka membuat kebijakan politik untuk menindas dan mencekik dunia ketiga seperti indonesia Siapa kalau bukan Bule-bule itu ??

Tapi emang pada dasarnya tipikal cewe indonesia kali yang suka jual murah, mentang-mentang menjadi bangsa yang Inferior trus semaunya aja dinikahin ama bangsa-bangsa yang superior. Lihat saja misalnya TKW yaang dikirim ke Timur Tengah, mereka itu kebanyakan emang genit, urakan dan penggoda. Ini berdasarkan pengalaman saya sendiri ketika transit di Emirat barengan dengan mereka yang mau pulang ke Indonesia.

Jadi jangan heran kalau anda semua sering dengar berita di tv atau media masa elektronik lainnya yang memeberitakan kalau perempuan asal indonesia suka di perkosa dan dianiaya. Itu dikarenakan ulah mereka sendiri. Itulah peroblemnya, coba kalau mereka mengerti Islam secara baik, mereka ga bakalan ninggalin negrinya atau bepergian sendiri tanpa ada mahrom. Dan lebih tragisnya lagi kebanyakan TKW itu mutazawwijah (udah maried Jack).

Mau marah, jengkel dengan semua kenyataan ini. Silahkan ini waqi’iyah (realita). Makanya wahai kaum laki-laki indonesia mari kita Nikahi wanita-wanita bule. Biar ga cewe indonesia aja yang dinikahin mereka. Kita juga bisa, toh sama-sama manusianya! So why Not? Lets get it.

Nb; ini hanya sebuah opini pribadi saya, bagi yang kurang berkenan saya mohon maaf dari lubuk hati yang paling dalam. Bagi yang ngasi komen monggo silahkan kita bisa diskusi di forum ini. Bagi yang setuju mari kita teliti lagi masalah2 sosial disekitar kita.

OK, mari kita analisa kasus ini.. HAHAHAHA.. Menurut gw sih kronologinya begini:

Menilik isi blognya, gw mendapat kesimpulan bahwa si penulis menganggap bangsa Barat (that is, the whole people, not just the government) adalah bangsa yang tidak baik. Suka melakukan penyimpangan seks. Memusuhi Islam dan dunia ketiga dengan kebijakan2 politiknya. He actually has a point here.. ;-). Politik pemerintah negara2 Barat memang agak timpang kalau ditinjau dengan logika (walaupun gw skeptis kalau dibilang bahwa ketimpangan ini karena masalah agama, kecuali kalau perekonomian dianggap agama dan uang adalah tuhan.. hehehe.. ). Soal lebih bebas dalam urusan seksual, well.. menurut gw juga si penulis has a point here. Setahu gw di Belanda sudah disahkan pernikahan gay ataupun lesbian. Adult shop di sana juga bebas. Pelacur pun dianggap sebagai pekerja yang dipungut pajak.

Tolong dicatat ya.. gw tidak membenarkan si penulis menggeneralisasikan kebijakan pemerintah kepada masing2 individu di negara itu. Yang mau gw garisbawahi: dengan pandangan seperti ini, adalah sesuatu hal yang logis jika si penulis menganggap menikah dengan bangsa Barat adalah suatu keputusan yang perlu dipertanyakan. Oleh karena itu dia bertanya: why?

Dan.. karena kedua temannya (yang di Swedia dan Prancis) menggunakan takdir sebagai argumentasi, tampaknya sisi intelektual si penulis jadi terusik. Sama seperti gw terusik ketika mendengar alasan jodoh itu di tangan Tuhan untuk bolak-balik kawin ;-). Gara2 jawaban ini, dia malah tambah getol mempertanyakan: mosok iya, melakukan sesuatu yang [menurut dia] salah itu adalah karena takdir Tuhan?

Maka.. si penulis lantas membuat hipotesa2 lain tentang kemungkinan lain, kemungkinan yang lebih manusiawi, untuk melakukan perbuatan yang [menurut dia] salah itu. Dan kalau perbuatannya [menurut dia] salah, tentu alasan manusiawi untuk melakukannya juga bukan sesuatu yang baik toh? Makanya, yang dia jabarkan adalah segala alasan manusiawi yang buruk2.

Menurut gw sih begitu ya, kronologinya. So.. IMAO (=in my arrogant opinion.. hehehe.. habis kalo gw bilang humble pasti banyak yg gak percaya ;)), tujuan dia menulis bukan untuk propaganda atau provokasi. IMAO, alasannya menulis benar2 segamblang yang dikemukakan di akhir tulisannya: Bagi yang ngasi komen monggo silahkan kita bisa diskusi di forum ini. Bagi yang setuju mari kita teliti lagi masalah2 sosial disekitar kita. Alasan utamanya memang ingin mendapat argumen yang lebih membumi tapi bisa meyakinkannya bahwa menikah dengan pria berkebangsaan Eropa/Amerika itu tidak perlu dicurigai macam2. Bahwa alasannya sama saja dengan menikah dengan pria sebangsa setanah air atau pria2 dari bangsa yang [menurut dia] lebih baik.

Sayang.. semua orang sudah keburu sensi, fokus pada kata per kata yang dituliskannya, bukan lagi mencoba melihat big picture-nya. IMAO, itu yang menyebabkan dia menghapus tulisannya. He did not mean it to turn out this way, and he regrets it ;-).

Well.. gw pingin kasih komentar di blognya. Sayang, tulisan itu sudah gak ada. Jadi.. komentar gw untuk si penulis dimasukkan di sini aja ya:

1. Sebaiknya si penulis belajar membedakan kebijakan pemerintah, gaya hidup masyarakat, dan individu. Ketiganya bisa sangat jauh berbeda. Jadi.. jangan menilai individu dari kebijakan pemerintah atau gaya hidup masyarakatnya. Bisa jaka sembung main gitar, kagak nyambung jreng jreng jreng.. ;-)

2. Sebaiknya si penulis belajar lebih arif memilih kata2 untuk disampaikan di depan umum. Belajarlah dari pengalaman Paus Benedictus XVI dan pidato kontroversialnya; bahwa kalau orang sudah terpaku pada yang kutipan tersurat, maka belum tentu dia bisa memahami pertanyaan akademis yang tersirat ;-) (update 29 Sept 2006: lihat posting sebelumnya)

3. Sebaiknya buat kerangka penulisan yang jelas jika ini memposting sesuatu yang punya potensi menjadi sensitif. Menyelipkan humor itu baik (seperti lelucon tentang menikahi perempuan bule itu ;)), tapi.. kalau letaknya gak tepat, scattered, maka bisa ditangkap sebagai sindiran atau hinaan buat orang lain.

Truss.. gw juga punya komentar sih buat mereka yang meninggalkan komentar2 gak enak di blognya maupun di blog sendiri:

1. Memang membaca tulisan seperti ini bikin naik darah, tapi.. ada baiknya coba dilihat big picture-nya dulu sebelum marah2 dan menuduh yang enggak2.

2. Kalau sudah menyelami tulisannya dan masih naik darah, ya monggo2 aja. Tapi.. kalau meninggalkan cacimaki di blognya, ataupun di blog Anda sendiri, lantas apa bedanya Anda dan dia? Hehehe.. Cobalah untuk marah with style. Marah with style itu kalau di tulisan lebih mudah kok, daripada kalau di kehidupan nyata. Kan kalau di tulisan kita sempat mikir dan ng-edit dulu ;). Jangan sampai kita ngatain orang gak berpendidikan, tapi mulut kita kotor juga ;)

OK deh.. gitu aja komentar gw hari ini. Sorry dory memory kalau ada yg gak berkenan ya ;-) Ini sekedar tulisan gw; orang yang gak benci bule, masih cinta mati sama Juergen Klinsmann walaupun ngefans sama Mahmoud Ahmadinejad, gak benci [bangsa] Amerika, tapi emang kebetulan gak gitu suka sama kebijakan2nya George W Bush ;-)

PS: selamat menjalankan ibadah puasa, dan buat semuanya gw mohon maaf atas segala yang tidak baik yang pernah terpikirkan, terkatakan, dan terlakukan oleh gw.

UPDATE 29 Sept 2006:

Terima kasih, Elsa, atas pertanyaan kritisnya ;-). Saya mengacu pada bahasan saya sebelumnya, Logika: Absolut?, ketika bicara tentang belajar dari pengalaman Paus Benedictus XVI. Ya, saya setuju bahwa pidato Paus itu akademis; yang sayangnya tidak semua orang sampai pada tahap memahami yg tersirat karena sudah keburu tersinggung pada detil tersurat. Itu sebenernya yang saya ingin tekankan: hati2 menulis yang tersurat, kalau yang tersurat sudah bikin sensi, boro2 bisa nangkap yang tersirat ;-)

Yang saya lupa: tidak semua orang membaca posting saya sebelumnya, sehingga kalimat di point ke-2 itu bisa menimbulkan penafsiran lain seperti yang Elsa tulis. Harusnya memang saya beri link ke tulisan saya itu sehingga orang memahami konteksnya. Terima kasih sudah mengingatkan saya ;-).