Sunday, April 29, 2007

Empathy and Sympathy

Empathy and Sympathy
Live together in perfect harmony
Side by side ..

(diplesetkan dari: Ebony & Ivory, Paul McCartney & Stevie Wonder)

***

Tampaknya, [waham kebesaran mode: ON] bahasan yang bikin gw tenar [waham kebesaran mode: OFF] karena membawa2 kata empati itu memang dahsyat ;-) Bahasannya macem2, mulai apakah formulanya Oprah applicable untuk bangsa Timur, apakah yang dari Barat (baca: misalnya Oprah) selalu lebih baik, sampai jangan2 bangsa Timur (baca: kita) punya cara sendiri untuk berempati yang berbeda dengan bangsa Barat.

Well.. tampaknya benang merah masalahnya jelas: konsep empati dan simpati belum dipahami dengan jelas, masih tumpang tindih, atau malah pemahamannya terbalik2. Wajar saja, like ebony and ivory, empathy and sympathy memang lives together side by side ;-)

Gw jadi pingin ngebahas sedikit tentang ebony and ivory, eh.. maksud gw empathy and sympathy ;-) Gw mulai dari beberapa definisi yang sempat gw kumpulkan:

Empathy is the "ability to understand the perspective and situation of another. When you are empathetic you are able to enter the emotional world of another. You take perspective and see the world through the eyes of that person." .. Empathy is a helpful emotion, but sympathy is not. .. When we feel sympathy we presume to understand how they feel and how they see their situation. .. So, basically sympathy and the sadness that may come with it are not useful; rather, it blocks understanding and "objectifies the person for whom you feel pity."

(dikutip dari sini)

If you think you feel just like another person, you are feeling empathy. If you just feel sorry for another person, you’re feeling sympathy

(dipinjam dari sini)

empathy is the imaginative putting of yourself in others’ shoes, being able to identify with their feelings; sympathy involves supporting or at least understanding the plight of others. You can be sympathetic without necessarily being empathetic; sympathy may require only pity, whereas empathy would require first your imagined identification with the sufferer and might not require sympathy as well

(ngambilnya dari sini)

Kayaknya penjabaran di atas cukup jelas ya? Dengan empati kita meletakkan diri pada perspektif dan situasi yang dialami orang lain, sementara pada simpati kita meletakkan perspektif dan situasi kita sebagai perspektif dan situasi yang dialami orang lain.

Secara teoretis sih memang gampang. Tapi dalam prakteknya, susah banget kita membedakan mana empati dan mana simpati. Untung ada rumus gampangnya ;-)

Dalam empati, kita lebih menekankan pada proses memahami dan mengidentifikasi pikiran serta perasaan orang lain. Dengan demikian kita harus meletakkan diri dalam kerangka berpikir dan merasanya. Susah memang, karena kita tidak akan mungkin memahami orang lain sedalam2nya. Tapi, kita akan semakin dekat dengan hal itu jika kita membuka kemungkinan sebanyak2nya tentang bagaimana target empati kita itu berpikir dan merasa.

Dan hopefully, ketika kita sedekat mungkin dengan perasaan dan pikiran si target empati, tanpa didominasi perasaan kasihan padanya, maka kita justru bisa ikut mencarikan solusi yang terbaik untuknya.

Simpati, di sisi lain, requires only pity. Hanya membutuhkan rasa kasihan. Kita tidak perlu mencoba melihat berbagai kemungkinan terhadap apa yang dipikirkan dan dirasakannya. Cukup lihat sekali, merasa kasihan, dan selanjutnya silakan beraksi. Aksi yang didasari pada rasa kasihan kita pada si korban. Aksi yang menurut kita terbaik untuk si korban, dan mungkin juga dianggap terbaik oleh si korban, namun belum tentu benar2 terbaik jika ditinjau dari gambar besarnya.

Ingat, penilaian si korban sendiri atas apa yang terbaik untuknya besar kemungkinan sudah terkacaukan oleh penderitaannya. Sangat alamiah jika orang yang menderita, teraniaya, lantas hanya punya satu pikiran: membalas dendam. Atau membunuh diri. Dalam pikirannya yang kalut setelah teraniaya, membalas dendam atau bunuh diri adalah solusi yang terbaik. Tapi.. apakah itu memang benar2 yang terbaik? Kalau kita berpikir jernih, gw yakin kita akan sampai pada kesimpulan bahwa itu bukan yang terbaik.

Dan kalau kita mendasari aksi kita pada simpati, pada rasa kasihan, pada presumption of how they feel and see their situation, maka kita juga tidak banyak membantu. Kita tidak mencarikan solusi terbaik, kita hanya mendukung korban mendapatkan solusi yang dia kira adalah terbaik. Worse, kita hanya mendapatkan solusi yang kita kira terbaik untuk korban.

Tapi, tidak dapat dipungkiri, simpati merupakan ciri khas masyarakat Indonesia secara umum (kalau tidak bisa dibilang sebagai ciri khas masyarakat Timur – gw baru baca sebuah buku bagus tentang kasus di Pakistan, terjemahan dari In the Name of Honor, nanti kapan2 gw share). Dan gw khawatir, hal inilah yang membuat masalah di negeri kita jarang [note: eufemisme dari kata tidak pernah] selesai. Penyelesaian masalah lebih sering didasari oleh simpati, oleh pity. Dengan demikian, begitu rasa kasihan mulai bisa dikuasai, otomatis secara tidak sadar kita menganggap masalah sudah selesai. Atau.. sebaliknya: mungkin setelah rasa kasihan mulai bisa dikuasai, kita sadar bahwa masalah belum selesai, namun kita sudah kehilangan momen untuk merancang penyelesaian yang matang. Penyelesaian yang sudah jalan setengah matang, tapi tidak bisa dimatangkan karena bolong di sana-sini. Kalau mesti dikonsep ulang, waktu sudah banyak terbuang.

Kalau kita mau menyelamatkan bangsa ini demi anak cucu kita *tsah! Bahasa gw!*, maka menurut gw, kita perlu belajar mengubah paradigma ini. Mungkin, kita harus mulai belajar berempati terhadap setiap masalah yang kita hadapi? Belajar mencari penyelesaian terbaik, bukan solusi cepat? Belajar bereaksi hanya ketika kita sudah memahami sesuatu dari segala sisi dengan mendahulukan rasio (walaupun tidak menafikan perasaan), bukan ketika perasaan sedang mendominasi kita (sehingga dengan sendirinya mengganggu rasio)?

Satu generasi mungkin terbuang sebelum ada hasil yang memuaskan, tapi gw percaya hal ini lebih baik daripada kebijakan tambal sulam yang selalu terjadi di negeri ini, atau yang selalu kita minta dari pemimpin negeri ini.

Bolehlah pemerintah jadi tukang ban yang hobinya kasih quick solution. Kita sebagai “konsumen”-nya pemerintah musti lebih cerdas daripada si tukang ban dalam menuntut apa2 ;-) Mesti lebih pintar menggunakan empathy daripada sympathy, walaupun mereka living side by side in perfect harmony ;-)

Friday, April 27, 2007

Pancasila

Konsep ”diri sebagai identitas naratif” berasal dari Paul Ricoeur, yang menegaskan bahwa manusia memahami identitas pribadinya seperti memahami identitas dari tokoh atau karakter dalam cerita. Orang bisa mengenali diri sendiri melalui kisah hidupnya. Begitu pula, orang dapat mengenali diri orang lain dari kisah hidup orang itu.

(B. Takwin, 2007, Psikologi Naratif: Membaca Manusia sebagai Kisah, hal. 2)

***

Komentar memanjang-melebar-meluas tentang kasus Cho kemarin membuat gw pingin nulis tentang Pancasila. Kok Pancasila? Iya.. Pancasila, 5 dasar. Tapi bukan Pancasila hasil wangsit Bung Karno di bawah pohon sukun, melainkan pancasila-nya DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder) ;-)

Hehehe.. memang bukan cuma Indonesia yang punya 5 dasar. Mendiagnosa gangguan mental pun menggunakan pendekatan multi-dimensi. Dasar pemikirannya adalah: jarang sekali ada faktor dalam kehidupan manusia yang tidak berpengaruh terhadap kesehatan mentalnya. Pengaruh dari masing2 faktor itu bisa kecil, bisa besar, tapi jarang sekali tidak memiliki pengaruh apa2. Ini yang dinyatakan dalam DSM secara gamblang, dan sekaligus juga gw tangkap sebagai dasar Psikologi Naratif yang memandang manusia sebagai sebuah jalinan kisah hidup.

Nah.. pancasila dalam DSM ini terdiri dari:

Aksis I: Sindroma/Diagnosa Klinis

Aksis II: Gangguan Perkembangan dan Kepribadian

Aksis III: Kondisi Fisik

Aksis IV: Tingkat Stressor Psikososial

Aksis V: Fungsi Level Tertinggi

Penjelasan komplit tentang definisi masing2 lihat di sini. Yang mau gw sampaikan adalah: pada prinsipnya Aksis II – IV itu merupakan hal2 yang harus ditelaah untuk menentukan diagnosa di Aksis I, sedangkan Aksis V merupakan prognosa untuk subyek tersebut. Atau kalau dianalogikan dengan pengadilan: aksis I adalah ”vonisnya”, aksis V adalah ”kemungkinan bebas bersyaratnya”, dan aksis II – IV adalah ”proses pengadilannya”. Integrasi dari aksis II - IV itu yang akan menentukan "vonis"nya.

Mungkin karena gw terlalu menghayati masa2 kuliah gw, atau karena gak kesampaian jadi psikolog klinis, gw tetap kekeuh memakai kelima dasar tersebut dalam melihat kasus yang terjadi sehari2. Memang tujuannya bukan untuk memberikan diagnosa klinis yg dulu gw cita2kan, bukan pula untuk memberikan prognosa kepada klien yg gw hadapi.. tapi.. now and then gw merasa lebih terbantu untuk memahami sebuah kasus/orang dengan menerapkan kelima dasar di atas.

So.. itulah yg gw lakukan tiap kali gw menemukan sebuah kasus/orang yg menarik untuk gw. Gw selalu berusaha melihat aksis II, III, dan IV untuk memahami apa yang terjadi pada orang tersebut. Hasilnya biasanya gw tuangkan ke dalam sebuah tulisan sebagai hasil analisa gw.

Itu yang terjadi pada saat gw membahas Cho di topik lalu. Dengan segala keterbatasan data, gw mencoba melihat aksis II, III, dan IV yang terjadi padanya.

Untuk aksis II, gw mencari hal2 yang terjadi selama perkembangan dirinya, seperti dugaan kecenderungan autisme dan masalah gangguan wicara. Pendiam, pemalu, dan solitary-nya. Untuk aksis IV, gw mencari apa saja yang terjadi pada kehidupan sosial Cho. Kejadian2 apa dalam hidupnya yang bisa menyumbang pada tindakannya. Seperti yang mungkin sudah diduga, gw menemukan bullying sebagai stresor psikososial. Dari aksis III, gw tidak menemukan kondisi fisik yg biasanya berkorelasi dengan agresivitas. Apa yang gw baca dari tautan tulus tentang Cho yang menyewa penari telanjang, tampak lebih merupakan penyelesaian dorongan seksual normal untuk pria seusianya dibandingkan dengan fantasi seksual berlebihan seperti yang dijelaskan pakar komunikasi Dr Judith Reisman. After all, secara umum mengajak penari telanjang berhubungan seksual mungkin memang merupakan indikasi fantasi seks berlebihan. Tapi nggak tahu ya.. apakah hal yg sama bisa diterapkan pada seseorang seperti Cho.

So.. menjawab Ara, that’s why analisa gw tidak ke arah ”motivasi sebagai seseorang suci yang bertugas menumpas dan membunuh orang orang yang bejat dan jahat”, tidak ke arah ”Letnan Dua Kopassus yang menewaskan komandan detasemen dan rekan2nya sendiri, 81 Kopassus”, atau "orang suci yang ingin membersihkan dunia". Tidak juga ke arah ”pelaku bom bunuh diri” atau ”praja2 IPDN yang membantai junior2nya”. Dari data terbatas yg gw baca, kisah hidupnya tidak mendorong ke arah sana ;-)

Tentu, selalu ada kemungkinan gw over-analyze the case. Bisa jadi kejadiannya seperti yang diasumsikan Ara. Atau mungkin kejadiannya sesederhana yang dibilang bapaknyaima & Intan: gun control. Tapi untuk saat ini, tidak ada data yang bisa mengarahkan gw ke jalur itu; sementara data yang gw dapatkan serta integrasi antar data tersebut mampu mengarahkan ke jalur yang gw ceritakan.

Dan menurut gw, kalau integrasi antar data2nya sudah jelas ke satu arah, kecil kemungkinannya bahwa ada arah lain yang lebih sesuai ;-)

Sulit kita pakai argumentasi bahwa "yang di-bully banyak tapi yg sampai membunuh cuma Cho, dengan demikian apa benar penyebabnya adalah karena dia korban bully?" atau argumen "Yang membunuh teman2nya bukan cuma Cho, ada Letda Kopassus juga, apa kemudian mereka semua juga korban bully?". Well.. kesamaan satu elemen kisah belum tentu menghasilkan kesamaan perbuatan tertentu. Demikian pula, kesamaan perbuatan tertentu belum tentu diakibatkan punya elemen kisah yang sama. Integrasi antara elemen2 kisah itu yang menentukan hasil akhir yang berbeda tiap orang. Ini yang disebut kisah hidup, dan tidak ada satu pun orang di dunia ini yang kisah hidupnya persis sama :-)

***

Anyway.. seperti yang gw tulis di atas, Pancasila gak cuma gw terapkan dalam kasus Cho yang [notabene] ada bau2 gangguan mental yg kental. Pancasila yang sama juga gw terapkan dalam semua yang gw bahas: mulai dari tokoh2 fiktif di novel Cinta Pertama-nya Okke, nikah laginya Aa Gym, mengkritisi petisi anak bangsa.. hehehe.. practically, in every topic I pay attention to, I try to build the context of the ”actors” using the integration of axis II – IV.

Karena kasus yang menarik perhatian gw tidak selalu merupakan indikasi gangguan mental, maka aksis II-nya sering gw modifikasi menjadi perkembangan elemen2 kepribadian si aktor – contohnya cara pikir dan sistem nilai. Psikososial stressor (aksis IV) juga sering gw modifikasi untuk melihat kondisi psikososial yang melingkupi si aktor, yang akan berperan dalam perilakunya.

Itu sebabnya dalam berdiskusi gw selalu menganggap penting untuk mengenali siapa lawan bicara gw. Bukan cuma pendapatnya saja yang penting, tapi landasan bagaimana dia bisa mencapai pendapat itu. Hehehe.. ini yang sering membuat gw menuai kritik bahwa gw terlalu personal dan ngurusin hal2 yang nggak penting/nggak relevan dengan topik ;-). Tapi.. gimana ya? Gw emang setuju dengan Ricoeur sih ;-). Jadi.. mohon maaf buat beberapa teman yang jadi ”korban” gw.. hehehe.. yang dengan sadar atau tidak sadar masuk jebakan batman gw untuk cerita banyak tentang dirinya ;-)

Gara2 gw suka bikin biografi orang secara gak resmi, biasanya amunisi gw buat nyilet2 [halah! Gerwani style banget ;-)] pendapat orang lain jadi banyak.. hehehe.. walaupun, swear, tujuan utama gw bikin biografi bukan buat cari amunisi. Out of pure curiosity ;-)

Monday, April 23, 2007

Cho: The Killer and The Victim

Bahasan soal IPDN gw sudahi setelah sequel kemarin. Nggak perlu jadi trilogi karena all is clear, sebagian besar sudah tercakup dalam posting maupun respons2 gw terhadap komentar yg masuk ;-) Hal2 yang berkaitan dengan diskusi lebih lanjut diselenggarakan secara seksama dan dalam media japri saja – tidak dijamin dalam tempo yang sesingkat2nya ;-) Kalau mau ngintip sesi terakhirnya yg untuk umum ada di blognya Arief ini.

Gw mau ngebahas hal lain aja, yang udah dari kemarin2 dikompor2in Zilko di beberapa komentar. Telat ya? Emang, sengaja, gw sering baru nulis setelah topiknya nggak hangat lagi. Itu akibat [menyitir kata Dodol Surodol di testimonial FS gw] gw kalo nge-blog niat banget, diriset dulu.. hehehe.. Yah, nggak segitunya, kaleee. Gw cuma pingin semua karya gw bisa gw pertanggungjawabkan. Biarpun ”cuma” di blog doang yang gak ada editornya, jangan sampai kelihatannya gw as-bun, eh.. as-tul ;-)

Karena Zilko nggak mau bahas sisi analitisnya, gw ambil deh angle itu.. hehehe..

Cho Seung-Hui dan the Virginia Tech massacre mengingatkan gw pada dua buah film: Ekskul dan The Assasination of Richard Nixon.

Saat nonton Ekskul, kening gw tak henti2nya berkerut karena menganggap ceritanya out of context banget dengan Indonesia. Gw sempat dengan sarkastik bilang bahwa tagline-nya Ekskul tuh kurang lengkap. Harusnya bukan sekedar “diilhami dari kejadian nyata”, melainkan “diilhami dari kejadian nyata di Amerika Serikat”. Kenapa? Karena menurut gw ceritanya tidak sesuai dengan kondisi Indonesia. Pelajar Indonesia itu esprit de corps-nya kuat; entah karena pengaruh budaya Indonesia yang kolektif, atau karena faktor adanya seragam sekolah yang membuat orang merasa menjadi anggota kelompok tertentu. Yang jelas, dalam perilaku bully, hal ini juga terlihat: pelajar Indonesia tidak mem-bully individu, mereka mem-bully kelompok yg dianggap lebih inferior. Itu sebabnya senior menggencet junior, pelajar SMU X tawuran dengan pelajar SMU Y. Bukan terhadap individu yg inferior. Individu sih dikerjain, diisengin. Tapi bukan di-bully.

Kecenderungan ini beda dengan apa yang gw dengar dan baca tentang Amerika Serikat. Kalau baca di situs No Bully ini, setiap harinya sekitar 160,000 pelajar di-bully di sana. Di sana yang di-bully adalah individu. Jurang antara the popular dan the unpopular besar sekali. Kenapa? Gw belum nemu data yang pasti, tapi gw berasumsi hal ini karena di sana lebih individualistik. Satuannya adalah individu, bukan kelompok. Jadi.. kalau satu individu kelihatan berbeda, itu sudah cukup alasan buat yg lain untuk mem-bully. Beda dengan di Indonesia, dimana pelajar lebih peduli dengan siapa kawananku dan siapa kawananmu, kalau kau berkawan dengan kawanan yg dimusuhi kawananku, maka kau musuhku.

Hal ini yang gw kira terjadi pada Cho. Sebagai imigran Korea di Amerika Serikat, yang bahasa Inggrisnya tidak lancar2, dengan kecenderungan autisme yang dalam budaya Korea tidak perlu dicarikan penanganan profesional, menjadikan Cho kandidat yang cocok untuk di-bully. Apalagi, kalau memang benar ada kecenderungan autisme, maka sangat masuk akal jika dia “terobsesi” dengan beberapa orang dan “mengejar2 mereka”. Ini adalah ciri2 standard seorang penderita autisme, tapi di mata orang “normal” akan tampak sebagai stalking.

Memang gw gak punya data bahwa Cho benar2 di-bully, tapi apa yang gw temukan di Wiki ini mungkin bisa menjadi indikasi:

The whole class started laughing and pointing and saying, ‘Go back to China.’" Another classmate, Stephanie Roberts, stated that "There were just some people who were really mean to him, and they would push him down and laugh at him. He didn't speak English really well, and they would really make fun of him

Selanjutnya yang mungkin terjadi adalah dinamika yang sama dengan Samuel Bicke dalam The Assasination of Richard Nixon. Seseorang yang ditekan, ditekan, ditekan terus menerus pada suatu saat pertahanannya akan bobol. Dia bisa mengambil tindakan drastis yang out of mind.

Pada kasus Sam Bicke the last straw adalah gugatan cerai dari istrinya. Selama ini Bicke bertahan karena masih punya harapan dapat kembali bersama istrinya, sehingga ketika harapan itu pun terenggut, he has nothing to lose anymore. Pada kasus Cho, gw nggak tahu pasti apa yang menjadi the last straw, tapi surat terakhirnya yang mengatakan You caused me to do this terdengar sama dengan rekaman terakhir Sam Bicke mengenai alasannya ingin membunuh Richard Nixon: karena Richard Nixon, dengan propaganda kapitalismenya, dianggap bertanggung jawab atas segala kesempatan yang hilang dari hidupnya

Zilko menempatkan Cho pada posisi yang sama dengan pelaku2 massacre lainnya, seperti bom Bali, bom Kuningan, .. the action caused by hatred. Hmm.. mungkin memang ada benci di hati Cho, tapi gw tidak melihatnya sebagai sama dengan pelaku pemboman di Indonesia. Bom di Indonesia, baik di Bali, Kuningan, JW Mariott, dilakukan seseorang/sekelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu. Memperjuangkan prinsipnya dengan cara yang dia anggap (catat: dia anggap) benar. Cho dan Sam Bicke bukan melakukannya demi mencapai tujuan tertentu. Cho, seperti Sam Bicke, melakukannya sebagai “keinginan terakhir” untuk balas dendam sebelum dia mengakhiri penderitaannya dengan sekeping peluru di kepala.

Dari segi perbuatannya, Cho memang seorang pembunuh.

Tapi.. kalau kronologi gw di atas benar, maka Cho juga seorang korban. Korban bully yang sudah terdesak hingga point of no return.

Lingkaran setan, viscious circle, dimana korban adalah pembunuh, dan pembunuh adalah korban. Dikutuk, sekaligus dikasihani. Hmm.. nothing in this world is purely black or purely white, right? Everything concerning human being comes in the shade of grey.

UPDATE 25 April dini hari:

Eh! Tadi siang dapat insight menarik dari komentarnya Okke: bahwa ternyata gw lebih tuwir dari yang [rela] gw pikirkan ;-). Terus.. kata ipra bahasannya kurang dalem, kurang "sakti", jadi didalemin di comment box. Mau gw pindahin isinya ke sini kok panjang ya.. hehehe.. jadi, simak ndiri aja deh sequel tidak resminya di kotak komentar ini ;-)

Saturday, April 21, 2007

Petition - the Oprah Way

Gara2 petisi online Pembubaran IPDN, gw jadi baca petisi2 online lainnya. Salah satunya petisi online tentang kasus the Virginia Tech Massacre yang bunyinya seperti ini:

To: The George Mason Community

The Virginia Tech Community was victim of one of the most devastating tragedies to date and the George Mason Community has been deeply affected by the tragic loss of life.

The students of George Mason have been paying their respects to, and acknowledging of the strength of, the Virginia Tech Community and we continue to support though this troubling time.

Together, we the undersigned, support the Virginia Tech community in conjunction with the Student Government of George Mason University.

Sincerely,

Selain itu, ada juga petisi yang menghimbau dihentikannya pembantaian lumba-lumba dan ikan paus di Taiji, yang berbunyi:

To: Prime Minister of Japan

We are outraged by the annual brutal slaughter of dolphins and whales that takes place in Japan . The images of bloody red water clearly show the world that Japan has little respect for the state of the world’s oceans and for the conservation of the marine resources it claims to support.

Many scientific studies show that the oceans are in decline. We must take whatever actions are necessary to stop their over-exploitation and to protect the creatures that live in them. These dolphins do not belong to Japan . The status of the species of dolphins and whales that you kill are either endangered, threatened, or unknown. It is an unthinkable waste that they will likely end up as a meat product or deceptively sold as whale meat, polluted with toxic levels of mercury and cadmium, killing people that eat it. It is tragic and unacceptable that the remaining dolphins that are not killed will end up destined for death in an aquarium, water park, or "swim with dolphins" program.

In addition, the methods used to kill these animals are cruel. Corralling the dolphins into bays, then making them suffer a long and painful death by spears, hooks, and drowning is an inhumane way of fishing. This action is disgraceful and has caused much disappointment in the international community.
We demand that Japan permanently and immediately renounce and stop this slaughter. We will work diligently to bring this issue to international light until you have ceased your reprehensible violence.

Sincerely,

Apa yang bisa diambil dari kedua contoh di atas?

Pertama, kedua petisi bernada empatik. Fokusnya adalah penjabaran keprihatinan mereka, bagaimana sebuah fenomena menyentuh hati mereka. Mereka mengajak pembacanya untuk ikut merasakan apa yang mereka rasakan melalui penjabaran itu.

Kedua, kedua petisi itu bernada persuasif. Mereka tidak menuntut, tidak mendikte. Mereka menghimbau. Tone-nya mengajak. “Let us..” bukan “You should..” Kesannya sederhana ya? Tapi impact psikologisnya besar ;-) Itu yang ditekankan oleh para workleader dari Censydiam bertahun2 lalu ketika mengajarkan Projective Technique kepada gw & teman2. Saat kita bilang “You should..”, kita menempatkan diri berbeda dengan orang yang kita ajak bicara. You create distance, dan distance memperbesar kemungkinan resistence. Saat kita mengajak dengan “Let’s..”, kita memperkecil jarak dan memperkecil kemungkinan resistence.

Ketiga, kedua petisi itu fokus pada masalah dan jelas apa yang diinginkan. Pada petisi pertama jelas masalahnya adalah kasus Virginia Tech, dan yang diinginkan adalah sama2 mendukung Virginia Tech dalam menghadapi masa2 sulit ini – bagaimana cara Virginia Tech menyelesaikan masa sulit, itu terserah pada Virginia Tech sendiri, George Mason tidak mendiktenya. Pada petisi kedua, jelas masalahnya adalah pembantaian lumba2 dan ikan paus, dan yang diinginkan adalah pemerintah Jepang menghentikan pembantaian yg kejam tersebut – caranya bagaimana, itu terserah pada pada pemerintah Jepang, the undersigned tidak mendiktenya.

Nah.. sekarang kita bandingkan dengan Petisi Anak Bangsa Menuntut Pembubaran IPDN yang berbunyi:

To: Yth Presiden Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono

PETISI ANAK BANGSA

(TUNTUTAN PEMBUBARAN IPDN)

1. Bubarkan IPDN.

2. Usut tuntas segala bentuk kekerasan di STPDN/IPDN sejak pertama berdiri, tegakkan hukum tanpa basa basi.

3. Stop anggaran khusus dan ikatan dinas bagi siswa IPDN. Siswa yang masih tersisa saat ini diberi kesempatan melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi negeri di daerah asal masing-masing.

4. Hapuskan segala bentuk kekerasan dan manipulasi dalam dunia pendidikan di Indonesia.

DUKUNG PENDIDIKAN TANPA KEKERASAN DAN INTIMIDASI !!!

Sincerely,

Pertama, petisinya tidak empatik sekali. Ujug2 ada tuntutan untuk membubarkan IPDN. Lha, background-nya apa? Kalau mau nuntut sesuatu, jelaskan dong. Jangan menganggap semua orang tahu. Biarpun semua tahu, tetap yakinkan pembaca untuk menandatangani petisi.

Kedua, bahasanya sama sekali tidak persuasif. Tahu2 mendikte presiden dengan jalan keluar yang dimauinya ;-)

Ketiga, mohon maaf, menurut gw nggak fokus pada masalah dan nggak jelas apa yang diinginkan. Jadi masalahnya sebenarnya apa? Pembantaian praja di IPDN? Kalau gitu, kenapa poin ke-4 yang bawa2 dunia pendidikan Indonesia in general? Kalau masalahnya adalah kekerasan dan manipulasi dalam dunia pendidikan di Indonesia, kenapa petisinya dinamai “Petisi Anak Bangsa Menuntut Pembubaran IPDN”?

Dengan ketiga perbedaan tersebut, mohon maaf, menurut gw Petisi Anak Bangsa ini jadi terdengar sekedar lonjakan emosi belaka. Memang, lantas orang [kecuali para junkers] menandatanganinya karena terketuk hatinya oleh kasus IPDN. Tapi.. justru di situ masalahnya! Mendengarkan hati nurani tuh dekat sekali dengan emosi. Kadang, antara emotion dan conscience dekat sekali. Bedanya, conscience itu lebih berpegang pada kebenaran, sementara emotion lebih terdorong atas suasana hati dan likes/dislikes.

Dalam kasus Petisi Pembubaran IPDN, mohon maaf, menurut gw faktor emosi tampaknya lebih berperan. Simpati pada nasib Cliff Muntu dkk lebih berperan daripada conscience. Why? Karena kalau dasarnya adalah conscience, maka yang dituntut pertama kali adalah poin-4: Hapuskan segala bentuk kekerasan dan manipulasi dalam pendidikan Indonesia. Judulnya adalah: Petisi Anak Bangsa untuk Penghapusan Kekerasan dan Manipulasi Pendidikan di Indonesia. Di mana fungsi kasus IPDN? Kasus IPDN menjadi background dalam argumentasi empatik yang menggiring dan meyakinkan calon penanda tangan bahwa kekerasan dan manipulasi pendidikan di Indonesia sudah sedemikian parah sehingga menimbulkan korban jiwa. Dan lebih parah lagi, sudah ada gerakan tutup mulut terorganisir. IPDN menjadi background yg meyakinkan, bukan fokus utama.

Indikasi lain bahwa emosi lebih berperan daripada conscience adalah: tidak adanya penyaringan dalam petisi. Terus terang, gw teryakinkan oleh petisi penghentian pembantaian lumba-lumba dan ikan paus. Gw ikut tanda tangan sebagai bukti bahwa gw mendukung gerakan tersebut. Dengan nama asli dan email asli. Apa yang terjadi? Tanda tangan gw harus menunggu approval dari penulis petisi.

See the difference?

Si penulis petisi Lumba-lumba & Ikan Paus bukan saja mencari tanda tangan sebanyak2nya, melainkan mencari tanda tangan dukungan serius sebanyak2nya. Dia tidak sekedar bikin petisi, dan puas karena merasa “yang penting sudah melakukan sesuatu”. Ia bertanggung jawab atas pengumpulan petisi tersebut. Level of achievement-nya bukan sekedar “yang penting gw udah bikin sesuatu”, tapi lebih tinggi lagi: bagaimana membuat sesuatu itu seberguna mungkin.

Belum tentu bahwa setelah tanda tangan terkumpul, dikirim ke PM Jepang, lantas ada perubahan. Namun.. setidaknya, ketika dia datang ke PM Jepang, petisi yang dibawanya sudah bersih dari data kotor. Setidaknya itu membuat petisinya [moga2] lebih diperhitungkan, karena di sini jumlah tanda tangan benar2 menunjukkan jumlah dukungan serius yg bisa dipertanggungjawabkan. Orang2 yang menandatangan lebih besar kemungkinannya punya persepsi yang sama tentang keprihatinan yg dijabarkan dalam argumentasi petisi, bukan sekedar punya tuntutan yang sama.

“Yang penting gw udah bikin sesuatu”.. well, ini mungkin yg menjadi kata kunci. Lebih ke arah menghilangkan guilty feeling kita, menghilangkan rasa tidak nyaman kita. Bukan untuk mengurangi [atau bahkan menghilangkan] ketidakidealan yang terjadi. Nggak heran ketika suatu misi tidak diformulasikan serius untuk menghasilkan aksi, melainkan yg penting aksi duluan visi dan misi nanti disesuaikan ;-).

Itu kali ya, ciri khas bangsa kita? Act first, think later, if ever ;-). Nggak heran masalah2 di Indonesia selalu menguap tak jelas akhirnya. Wong aksi2nya tidak pernah sistematis, “yang penting sudah melakukan sesuatu”.. ;-) Yang penting kompak dulu. Kumpulkan orang sebanyak2nya ;-) Kira2 itu yg gw tangkap dari komentar Mas Arif ini, CMIIW ;-)

------------------------

UPDATE: 22 Maret 2007

Berhubung penulisnya keberatan kalimatnya dimutilasi, maka kalimat komplitnya gw tayangkan ulang: "Yang penting, kita telah berbuat sesuatu untuk mencegah pelayan-pelayan rakyat kita diisi dengan tangan-tangan berlumuran darah." Mutilasi kalimat memang dilakukan secara sengaja dengan pertimbangan tidak mengubah arti (dari sisi pandang gw). Catatan tambahan juga: komentar itu memang komentar pribadi penulisnya, namun gw ambil sebagai highlight karena gw melihat pola komentar yang senada dengan komentar pribadi itu di berbagai blog.

--------------------

Well.. sekedar saran aja sih. Coba ikuti formula Oprah Winfrey untuk membuat petisi: empathy, analyze, work through. Empathy dengan orang2 yang terlibat pada fenomena itu (bukan simpati, lho ya ;-)), analyze problem sesungguhnya dari fenomena itu, dan work through problem itu untuk mencari jalan keluar yang terbaik. Baru.. setelah itu dituangkan dalam bentuk petisi.

It’s time for us to win each vote by convincing the voters, not just by manipulating the same emotion ;-)

-------------------------------

UPDATE: 28 April 2007

Eh, ternyata topik ini membuat gw jadi tenar *waham ketenaran dot com*.. hehehe.. dibahas di berbagai blog ;-) Berhubung trackback-nya nggak pada nongol di sini (uhmm.. karena beda provider, atau karena gw gak sengaja nge-delete command di template waktu ngutak-atik dulu ya? Whatever ;-)), maka gw bikinin trackback manual:

  1. Rame2 Mencerca IPDN (prequel entry ini)
  2. Kang Kombor menggugat
  3. Manusiasuper bergosip

Enjoy! Ohya, kalau ada yang belum tercantum, just let me know. Thank you for your appreciation ;-)

Wednesday, April 18, 2007

Rame-rame Mencerca IPDN

UPDATE 20 April 2007:

Setelah mencermati komentar teman2 di topik ini, plus merenungkan kembali emotional push-nya Nirwana, gw punya usulan petisi baru. Urutan poin menunjukkan prioritas.

  1. Usut tuntas segala bentuk kekerasan di STPDN/IPDN sejak pertama berdiri, sekaligus dengan jaringannya dalam pemerintahan. Tegakkan hukum tanpa basa basi. Ini poin paling penting, dan kalau sudah dipenuhi, nomor 2 dan nomor 3 boleh dinego ;-)
  2. Tetapkan UU bahwa pemerintahan sipil berbeda dari militer, sehingga tidak ada alasan bahwa calon PNS harus mengikuti pendidikan dasar/pelatihan dasar semi-militer atau bahkan mengangkat mantan militer sebagai pegawai negeri sipil. Dengan demikian tidak ada alasan mengangkat bintara atau tamtama sebagai camat ;-)
  3. Bolehlah bubarkan IPDN. Tapi, supaya efektif, sekaligus nyatakan IPDN sebagai institusi terlarang, dan tandai KTP semua alumninya dengan Eks IPDN yang membuat mereka tidak bisa jadi Pegawai Negeri. Dengan demikian semua sumber budaya kekerasan terbasmi.

Semoga lebih efektif daripada sekedar menutup IPDN ;-) Ada yg berminat menandatangani ;-)? Tapi bentar, mau nanya Dodol Surodol dulu caranya bikin online petition yang datanya bisa di-clean up. Supaya vote dari orang2 yang tulus mendukung nggak bercampur baur dengan junkers, dan kalau bisa sih satu orang satu vote saja.

BTW, poin 1 & poin 3 pada petisi asli tuh redundant atau kontradiktif ya? Bukannya kalo poin 1 (Bubarkan IPDN) sudah dipenuhi, berarti poin 3 (Stop anggaran khusus dan ikatan dinas bagi siswa IPDN) sudah tidak perlu lagi? Wong sekolah udah bubar, murid mana lagi yg mesti dikasih anggaran khusus & ikatan dinas ;-)?

------------------

Dari kemarin2 gw memang tidak membahas IPDN. Udah banyak yang ngebahas, di tiap blog ada, gak ada perlunya juga gw nulis kecuali kalo gw bisa nemu angle yang beda ;-). Lagipula, emotional push gw tidak ke situ. Memang, belasungkawa dan simpati gw ada terhadap para orang tua almarhum praja yang kehilangan buah hatinya. Tapi.. gw sih juga nggak ikut euforia untuk rame2 menandatangani petisi pembubaran IPDN.

Wadehel mengajukan 5 alternatif alasan orang tidak mau menandatangani petisi pembubaran. Katanya: Demi Indonesia kok dibilang konyol! Rame2, yang lain juga memberikan pendapat serupa. Kalimatnya macem2, tapi semua senada: kalau punya hati, perasaan, dan kepedulian, maka akan ikut tanda tangan. Demi Indonesia. Agar tidak ada lagi kampus yang mendiamkan kekerasan.

Hmm.. pendapat mereka nggak salah sih. Kalau punya hati, perasaan, dan kepedulian, memang salah satu alternatifnya adalah ikut tanda tangan petisi. Tapi akan jadi gak pas ketika logikanya dibalik: kalau tidak ikut tanda tangan, berarti tidak punya hati, perasaan, dan kepedulian ;-)

Kebetulan, gw termasuk yang mempertanyakan apakah hati, perasaan, dan kepedulian harus ditunjukkan dengan menandatangani petisi. Lebih jauh lagi gw mempertanyakan: apakah menandatangani petisi pembubaran IPDN adalah demi Indonesia dan demi nyawa anak bangsa.

Alasan gw?

Gw sangsi bahwa IPDN itu adalah inti masalah. Menurut gw, IPDN hanyalah sebuah simtom. Dan.. ibarat penyakit, kita harus menyembuhkan penyebabnya. Bukan sekedar menghilangkan simtomnya. Kalau cuma menghilangkan simtom sih, nggak akan menyembuhkan. Nah, kalau kita peduli pada seseorang yang sakit, mana yang lebih kita utamakan: menghilangkan simtom atau mengobatinya tuntas? Ribut supaya simtomnya segera hilang, atau take time untuk menelaah lebih lanjut supaya pengobatannya lebih tepat guna?

Nah.. sekarang sih gw juga belum punya obat mujarab untuk menyembuhkan penyakit bangsa. Tapi setidaknya gw sudah mendiagnosa hal sebagai berikut: pertama, apakah pendidikan militer yang (pastinya keras) salah? Kedua, apa perlunya sebuah sekolah yang mencetak PNS (pegawai negeri sipil) dididik dengan cara militer? Menurut gw, dua hal ini yang lebih penting untuk kita telaah demi Indonesia, daripada ribut mendukung petisi pembubaran IPDN.

Yang pertama, apakah pendidikan militer yang keras (secara fisik) salah? Ya, pendidikan itu salah jika dilihat dari sudut pedagogik. Tapi.. kalau dilihat dari sudut militer, nggak sepenuhnya salah. Tentara itu kan tugas utamanya berperang membela negara. Dia harus siap secara fisik berperang dan ditangkap musuh. Supaya bisa berperang dan lolos dari musuh, dia harus tangkas dan punya endurance tinggi. Kalau terpaksa ditangkap musuh, dia harus tahan disiksa untuk tidak ”buka mulut” pada kesempatan pertama. Memang ada aturan2 perang yang sudah disepakati dalam Konvensi Jenewa. Tapi.. let’s face it! Konvensi Jenewa disepakati dalam keadaan damai, in our realm. Sementara perang.. war has their own realm, which we might consider it as a twilight zone. Bahkan Penjara Guantanamo Bay saja membuktikan bahwa dalam realisme perang tuh human right adalah a fancy fantasy. Dalam keadaan damai bisa teriak2 human right, tapi dalam keadaan perang, itu cuma jadi kenangan terindah doang ;-)

Dalam realisme ketentaraan, memang harus ada komando yang pasti. They have to follow the order, not question it. Bahaya banget kalo ada anak buah yang punya kreativitas dan inisiatif tinggi. Militer bukan advertising agency, man! Satu orang saja tidak padu, rusak seluruh strategi perang. Mereka tidak harus suka, tidak harus hormat pada komandan. Mereka harus patuh. Titik.

Kalau kemudian ada casualty of [playing] war seperti di IPDN ini, well, hal ini memang tidak benar. Harus dikecam. Harus diberi sanksi. Dan seperti dalam ketentaraan, yang dikenai hukuman adalah seluruh jajaran dari komandan sampai anak buah yang paling kroco. Tapi membubarkan IPDN? Well.. itu berkaitan dengan pertanyaan kedua ;-)

Pertanyaan kedua, seperti gw tulis di atas, adalah: apa perlunya sebuah sekolah yang mencetak PNS dididik dengan cara militer?

So.. boleh2 saja sih, IPDN sekarang dibubarkan. Namun, kalau inti masalahnya tidak diperbaiki, ya sami mawon. Kalau tetap ada aturan (langsung atau tidak langsung) bahwa negara ini harus diatur dengan cara militer, maka biarpun IPDN ditutup nantinya kita tetap akan mendapatkan Camat2 yang ”lulusan pendidikan ala militer”.

Menurut gw, tidak pada tempatnya sekolah sipil dididik secara militer. Sipil itu tugasnya beda dengan militer. Mereka tidak dididik untuk menghadapi perang. Jadi, kenyataan bahwa ada sekolah ala militer bagi calon PNS saja [harusnya] sudah bikin alis naik 2 cm. Apa perlunya, nanti tugasnya administratif kok dididik militer? Emangnya kalau nanti ngetik data penduduk sampai lumutan perlu daya tahan menghadapi siksaan fisik? Perlu daya tahan menghadapi gebukan dan tendangan? Hehehe.. memang kantor Camat di Indonesia seperti tempat tinggal fakir2 India di kartun2 ya? Yang kursinya pakai paku2 ;-)?

So.. boleh2 saja sih, IPDN sekarang dibubarkan. Namun, kalau inti masalahnya tidak diperbaiki, ya sami mawon. Kalau tetap ada aturan (langsung atau tidak langsung) bahwa negara ini harus diatur dengan cara militer, maka biarpun IPDN ditutup nantinya kita tetap akan mendapatkan Camat2 yang ”lulusan pendidikan ala militer”. Cumaa.. kalau dulu mereka lulusan IPDN, mungkin sekarang Camat2nya adalah pensiunan Bintara atau Tamtama (eh.. nggak harus jadi Perwira kan ya? Kalo udah Perwira jatahnya jadi Walikota atau jadi Gubernur dong, bukan sekedar Camat?).

Nggak selesai juga masalahnya, kan? Malah sekarang mungkin tambah parah: mereka mendapatkan pendidikan militer yang (menurut gw) tidak kalah kerasnya DAN punya akses terhadap senjata ;-) Tinggal nunggu kesempatan yang tepat, akan bermunculan oknum2 yang menekan rakyat ;-) Semakin rendah posisi seseorang, setahu gw, akan semakin besar kemungkinannya untuk melakukan pecking order lho ;-)

Nah.. mau menutup IPDN? Monggo saja ;-) Mungkin memang aksi simpati dibutuhkan untuk menunjukkan belasungkawa kita kepada para almarhum praja dan keluarga yang ditinggalkannya.

Tapi menutup IPDN dengan alasan demi Indonesia, demi anak bangsa, .. think twice ;-)

Gw sih lebih setuju IPDN direstrukturisasi total, lha wong untuk jadi Camat gak perlu "tahan banting" (note: "banting" di sini tolong dibaca secara harafiah ya) kok ;-) Lagian.. nggak usah ditutup ntar IPDN juga gulung tikar sendiri kalo udah terkenal jadi kampus horor ;-) Dan yang begini nih urusan antara Menteri Pendidikan dan .. nggak tahu, IPDN ini dibawah kementrian apa sih? Hankam? Atau apa? .. Yang jelas, kayaknya nggak perlu deh Presiden yg dibawa2. Kalo semua2 harus ditangani Presiden, ngapain dia punya segitu banyak asisten di kabinetnya ;-)?

- Written with my deepest condolence towards the departed young souls and their family. May they become the martyrs who let us see the chronic problem in this country -

Sunday, April 15, 2007

Ini Bukan tentang Poligami

Tadi malam nonton Fear Factor: Psycho. The original Psycho merupakan salah satu film favorit gw, namun yang menarik di episode semalam bukan sekedar setting dan tantangannya yang Psycho abis ;-) Yang lebih menarik buat gw adalah menonton sepasang kontestannya, the recently divorced couple: Dave & Jennifer. Kurang jelas juga bagaimana mereka bisa nyasar di situ: apakah daftar antri peserta segitu panjangnya sehingga waktu daftar masih nikah tapi ikutnya setelah cerai, atau memang Fear Factor sengaja merekrut pasangan yang baru bercerai. Yang jelas, karena merupakan tematik Psycho, maka mereka harus menginap di Bates Motel – Fear Factor style: tidur seranjang kecil berdua di motel yang kotor, kumuh, dan berantakan.

Menarik sekali komentar Jennifer, the recently divorced lady, ketika ditanya kesan2nya ikut acara ini bersama sang mantan suami. Concern-nya bukan karena harus tidur seranjang dengan mantan suami, melainkan.. “I’ve been accustomed not to sleep with him for a year now”. Aku sudah terbiasa untuk tidak tidur dengan dia setahun ini. Sekedar masalah kebiasaan, bukan masalah boleh/tidaknya, baik/buruknya, haram/halalnya. Berbagi ranjangnya sih biasa2 aja buat dia.. hehehe.. lha wong dalam tantangan2 berikutnya dia malah harus setengah telanjang di depan mantan suami, dan dia fine2 aja dengan itu ;-)

Yang seperti ini tidak lazim di Indonesia, bukan? Ya, karena memang mungkin ada perbedaan budaya dalam memandang perkawinan (dan perceraian). Gw tidak tahu bagaimana budaya mereka memandang perkawinan dan perceraian, mungkin mereka lebih menekankan pada titik hukum negara daripada norma sosial atau hukum agama. Bahwa dengan perceraian, she/he is out of my legal life, but not necessarily out of my life. You might still have sex with your ex, nothing has changed, tapi sekarang loe gak bisa menuntut kewajiban2 pasangan loe. Beda lah, dengan di Indonesia ;-) Kalo loe ketahuan berbagi ranjang dengan mantan suami, sekampung bakal geger.. hehehe.. Baik geger terselubung (baca: bisik2 bergosip), atau geger nyata FPI-style ;-)

Memang, beda budaya beda norma. Makanya, it’s a big no-no untuk meng-copy paste sebuah teori atau aturan di budaya tertentu untuk menilai atau memahami budaya lain.

Sambil nonton Fear Factor: Psycho, gw jadi ingat sebuah buku yang urung gw beli beberapa bulan lalu. Buku itu berjudul Poligami itu Selingkuh!, ditulis oleh Dono Baswardono yang [kalau gak salah] seorang psikolog atau ilmuwan psikologi (baca: sarjana psikologi atau magister psikologi yang S1-nya bukan psikologi).

Buku itu sempat gw lirik sekitar rame2nya Aa Gym nikah lagi. Gw pingin tahu dasar berpikirnya kenapa dia bilang poligami itu selingkuh. Tapi.. gak jadi gw beli karena gw gak cocok dengan cara Dono membahasnya. Speed reading dari sebuah edisi yang sudah terbuka segelnya, gw langsung memperhatikan bahwa kebanyakan landasan teori yang dipakai adalah literatur Barat. Teori2 Barat tentang pernikahan. Sekilas pandang pada daftar pustaka di akhir cerita mengkonfirmasi hal ini. Inilah yang membuat gw tidak cocok dengan bahasannya.

Gw tidak bilang literatur Barat buruk. Gw sendiri suka menggunakan berbagai teori dari Barat, berbagai jurnal dari Barat, untuk menjelaskan kasus2 yang gw alami di Indonesia ini. Tapiii.. kalau untuk membahas kasus yang kental nilai budayanya, dan memakai literatur sepenuhnya dari budaya lain, kok menurut gw tidak pas ya? Bisa2 terjadi logical fallacy, premis2nya benar, tapi kesimpulannya salah karena “sangkutannya” kurang pas.

Dan ini yang gw rasa terjadi pada bahasan Dono Baswardono, terutama pada bagian yang menggarisbawahi bahwa poligami itu adalah selingkuh. Dono mengatakan bahwa tidak ada poligami yang tidak diawali dengan perselingkuhan. Argumen Dono, seperti dijabarkan dalam blog ini, adalah:

"dalam proses bercinta, orang akan melewati proses sensasi psikologis, hingga sampai ke tataran obsesi. Jadi untuk memutuskan menikahi seseorang, proses ini akan selalu dilewati. Jadi mungkinkah seorang berpolygami hanya semata-mata alasan untuk membantu janda-janda terlantar? Bisakah seorang pria memperistri janda-janda tua yang kotor dan lusuh, demi hanya untuk membantunya?"

Ini titik pangkal ketidakcocokan gw. Kalau mengacu pada semua literatur yang diberikan Dono, tentang bagaimana seorang pria dan seorang wanita memulai hubungan yang berujung ke pernikahan, maka jalan berpikir Dono memang benar. Semua hubungan antara pria dan wanita memang dimulai dengan sensasi psikologis. Lihat, naksir, pedekate, pacaran, menikah. Jadi.. kalau sampai melakukan poligami, berarti proses yang sama diulang setelah seorang pria menikah.

Teori2 tentang persepsi dan proses berpikir manusia adalah teori yang netral, karena memahami bagaimana seseorang memaknai fenomena2 budaya di sekitarnya... daripada menjelaskan suatu fenomena budaya berdasarkan literatur dari budaya lain, dan kemudian menggeneralisasikan proses berpikir yang ada

Masalahnya, apakah proses ini universal? Free of cultural differences?

Gw pikir memang proses ini nyaris universal. Terjadi pada kebanyakan pasangan, termasuk di Indonesia. Terjadi pada pasangan yang melihat monogami sebagai kewajiban dan poligami sebagai a big no-no atau paling jauh sebagai emergency exit.

Tapi.. apakah lantas tidak ada kelompok yang tidak melalui proses ini? Lantas.. bagaimana dengan kelompok yang pasrah bongkokan (= pasrah sepenuhnya) untuk dicarikan istri? Kelompok orang2 yang kalau merasa sudah siap menikah akan mendatangi “orang yang dituakan” dan minta dicarikan istri? Yang pertimbangannya lebih ke arah seberapa baik wanita itu akan menjadi istri dan ibu, dan mengenai wajah atau badan sih “asal gak bikin mual, nggak menimbulkan sensasi psikologis pun tidak apa2”.

Well.. gw juga nggak ngerti banyak tentang kelompok ini. Tapi, kalau mereka bisa menikah tanpa melalui proses yang dijabarkan oleh literatur Barat tersebut, maka selalu ada kemungkinan [yang gw yakin tidak kecil] bahwa poligami mereka tidak dimulai dengan perselingkuhan seperti yang dijabarkan Dono ;-)

Don’t get me wrong.. ;-) Gw tidak sepenuhnya menentang bahasan Dono. Ada bagian2 yang gw anggap cocok, seperti ketika Dono mengatakan bahwa dalam prakteknya poligami lebih banyak menggambarkan ketaatan perempuan (= istri) dan anak2 ketimbang keadilan laki2. Bagian ini gw setuju banget ;-) Still, gw ngerasa tidak pas ketika angle yang diambil untuk mempropagandakan “pelencengan dalam praktek poligami” ini adalah: poligami = selingkuh, dengan rentetan literatur Barat tentang perkawinan untuk menegakkan argumennya.

Mungkin gw akan lebih cocok dengan buku ini jika angle yang diambil bukan bagaimana proses poligami terjadi menurut literatur Barat, melainkan bagaimana proses terjadinya penyimpangan persepsi dari sesuatu yang merupakan “emergency exit” menjadi sesuatu yang dianggap sebagai “boleh kapan saja” atau bahkan sebagai “sunnah”. Alih2 memberikan label haram pada sesuatu yang tidak diharamkan (walaupun tidak diwajibkan) berdasarkan teori yang tidak cocok dengan belief system pada budaya yang dibahas, kita menganalisa tentang proses terjadinya kesalahan pemahaman dan bagaimana mengatasinya?

Teori2 tentang persepsi dan proses berpikir manusia adalah teori yang netral, karena pada dasarnya kita mencoba memahami bagaimana seseorang memaknai fenomena2 budaya di sekitarnya. Inner process terhadap hal2 yang khusus terjadi di sekitarnya. Ini lebih netral daripada kita mencoba menjelaskan suatu fenomena budaya berdasarkan literatur dari budaya lain, dan kemudian menggeneralisasikan proses berpikir yang ada di setiap pelaku budaya ;-)

Bukankah sebagai psikolog/ilmuwan psikologi, hal ini yang harus kita lakukan, Don? Memahami dinamika yang berbeda2 antar tiap manusia untuk membantu mencarikan solusi? Kita bukan antropolog yang mencoba memahami budaya sekelompok manusia. Bukan juga seorang sosiolog, yang fokusnya lebih arah norma/aturan dalam sekelompok masyarakat. Dalam kedua disiplin yang menjadi “saudara” kita itu memang proses manusia per manusia bukan yang terpenting, mereka lebih dilihat sebagai pelaku budaya/norma/aturan tertentu. Tapi.. kalau kita menjuduli buku kita sebagai “Tinjauan Psikologis”, maka.. sayang sekali bahwa fokusnya adalah generalisasi, bukan memahami terjadinya suatu perilaku tertentu yang dinamikanya bisa berbeda2 ;-)

Monday, April 09, 2007

Never Something Simple

Setelah dua minggu penuh hanya mampir di kantor kalau sempat, diikuti seminggu penuh ngebut bikin debrief sekian puluh sesi penelitian, dan workshop 2 hari, akhirnya gw bisa bernafas sedikit lega. Memang, beginilah kalau pakai metode etnografi; metode yang intinya adalah melakukan observasi dalam situasi sealamiah mungkin untuk mendapatkan the moment of truth dari sebuah kebiasaan. Biarpun etnografinya sudah dimodifikasi di sana-sini demi menyeimbangkan dengan tuntutan bisnis, tetap saja memakan banyak waktu dan menyebabkan kami [para researcher in charge] kelayapan jauh dari meja dan internet *sigh!*

As hard and time consuming as it is, gw seneng2 aja melakukan penelitian seperti ini. Panas setahun selalu dihapuskan hujan sehari.. hehehe.. jam2 panjang yang membutuhkan konsentrasi penuh (baik saat observasi ataupun dalam wawancara yang menyertainya) selalu terbayar dengan the moment of truth [yang biasanya] berdurasi hanya beberapa detik.

Seperti penelitian kali ini, misalnya, yang mengharuskan kami mengamati kegiatan responden selama setengah hari; terutama saat si responden memasak her signature dish. Selain jadi lebih gape membedakan lengkuas dari jahe, ketumbar dari lada, dan pala dari kemiri *trust me, I’m that bad in cooking ;-)*, gw juga jadi lebih memahami berbagai peran kegiatan memasak dalam kehidupan seorang ibu rumah tangga.

Selama ini, fungsi memasak bagi seorang ibu rumah tangga cuma gw bagi dua: suatu kegiatan yang dinikmati sebagai aktualisasi diri, atau sebuah kegiatan yang dilakukan karena dianggap kewajiban. Namun ternyata sekarang gw melihat fungsinya banyak dan personal sekali – berbeda antar satu ibu dan lainnya.

Dimulai dari sebuah keunikan yang kami temukan saat seorang responden overdoing every step. Lazimnya, kalau ada 5 siung bawang putih dan 3 butir bawang merah yang harus diulek, maka mereka akan diulek bersama2. Bisa ditambah garam sedikit untuk mempermudah dan memperhalus. Atau kalau malas ya sekalian diblender aja. Kalau lebih malas lagi ya beli bawang giling aja di pasar ;-) Yang unik dari si ibu ini adalah: dia mengulek satu per satu siung hingga super halus, baru memasukkan siung berikutnya! Alhasil, untuk ngulek 5 siung bawang putih dan 3 butir bawang merah saja butuh waktu hampir setengah jam ;-) Belum lagi saat memasak, si ibu terus menerus mengaduk masakannya hingga tidak segera matang. Sesuatu yang tidak perlu dilakukan, mengingat sifat masakan itu adalah diungkep (= direbus hingga airnya menguap tak bersisa).

Kami langsung tertarik dengan fenomena ini, tapi baru menemukan jawabannya secara tidak langsung ketika melakukan wawancara lanjutan. Somewhere in the interview, kami menemukan makna memasak bagi dirinya: suatu ”penebusan dosa” karena merasa dirinya tidak berguna.

Setiap manusia memiliki kisahnya sendiri, alasannya sendiri, dan itu yang menjadi inti dari segalanya. Itu yang tercermin dan membedakan mereka ketika mereka melakukan kegiatan yang sama, yang tampaknya ”sederhana” saja.

 

Ya, si ibu ini dibesarkan untuk menjadi wanita karir. Dia memiliki 2 gelar sarjana plus satu gelar magister, dan sempat meniti karir yang [gw anggap] cukup cemerlang selama 12 tahun. Namun, setelah keuangan keluarga membaik, dan suaminya mencapai kedudukan eselon atas, maka si istri diminta untuk berhenti bekerja. Ngurus rumah tangga, sambil ”mendukung karir suami” lewat organisasi. She is not happy, but she accepts her fate. Dan begitulah.. tanpa disadari kegiatan memasak menjadi sebuah defense mechanism baginya. Dia mencurahkan seluruh waktu untuk memasak. Proses memasak membuat hidupnya lebih bermakna, karena, “Kalau nggak masak, saya mau ngapain lagi? Mosok baca koran sama nonton TV terus-terusan?”

Lain lagi adalah seorang ibu yang sejak awal hingga akhir tampak sangat tidak nyaman. Serba takut salah dengan caranya memasak. Tampak panik jika ditanya. Dengan tidak bermaksud menuduh, I felt her insecurity. Wawancara mendalam yang mengikuti sesi wawancara membuka hal yang menarik. Si ibu yang berasal dari sebuah dusun di pelosok Jawa Timur, meningkat status sosial ekonominya ketika dipersunting suaminya. But somehow there is indication that she still feels misfit with this society. Tapi.. tinggal di rumah dinas suaminya, di antara keluarga rekan2 kerja suaminya, there is no place to hide. Rumah menjadi semacam sanctuary untuknya, suami dan anak2 menjadi “hidupnya”. Dan.. akhirnya, memasak menjadi jalan baginya untuk “mempertahankan hidupnya”. Dia memasak apa pun yang diminta suami dan anak2nya, bahkan jika hal itu membuatnya harus memasak 5x sehari dalam porsi mini. Anything to make her husband and kids happy, and to maintain the equilibrium of her safe haven.

Tentu.. tidak semua kegiatan memasak merupakan defense mechanism seperti kedua hal di atas. Ada juga ibu2 yang menggunakan kegiatan memasak untuk menancapkan pengaruh pada keluarganya, membuat keluarganya tergantung pada dirinya. Ada yang memasak sebagai bentuk kecintaan pada keluarga; tanpa pamrih apa2. Ada yang justru memasak untuk sebagai sarana menunjukkan kepiawaiannya... My point is: begitu banyak alasan di balik sebuah kegiatan yang sederhana. Setiap manusia memiliki kisahnya sendiri, alasannya sendiri, dan itu yang menjadi inti dari segalanya. Itu yang tercermin dan membedakan mereka ketika mereka melakukan kegiatan yang sama, yang tampaknya ”sederhana” saja.

Memang, pada akhirnya, tujuan dari penelitian ini adalah membuat strategi pemasaran. Bukan konseling psikologis.. hehehe.. So, gw tidak bisa datang kepada klien dengan sekian puluh individual story yang berbeda. Tidak bisa datang dengan keunikan dari masing2 responden. Gw harus menemukan irisan2nya, mengklasifikasikannya, dan memberikan sumbang saran tentang soft spot mana yang bisa digunakan untuk komunikasi pemasaran. Dan memang, dalam workshop dua hari penuh di penghujung penelitian, kami akhirnya bisa mengklasifikasikan keunikan2 personal story ini menjadi sebuah segmentasi konsumen yang [moga-moga] berguna bagi pengembangan produk.

Gw jadi ingin mengutip Horatio Caine dalam episode ini:

“Prosecuting a crime is not just evidence. It is context. And in order to create your context, you have to do research.. on your victim”

Gak nyambung ya? Oh, well, coba ganti kata “crime” dengan “marketing strategy” dan “victim” dengan “consumers”, it will fit today’s topic perfectly ;-). Atau.. coba ganti kata “crime” dengan “phenomenon”, dan “victim” dengan “the human involved”.. maka ini jadi prinsip yang bisa diandalkan untuk memahami orang lain.

Kenalilah masing2 keunikan, bangun konteks dari irisan2 keunikannya (dalam hal ini berbentuk segmentasi psikografis), baru setelah itu seluruh fakta yang ada bisa diletakkan dengan tepat dan kita bisa mengambil keputusan yang tepat.

Never something simple, as we have to go back and forth from simplicity to complexity and back ;-)

-------

PS: Jeng Sur, ternyata lama2 Horatio Caine asyik juga ;-) Walaupun keasyikannya berbeda dengan Gil Grissom ;-) Satu tipe scientist, satu lagi tipe Godfather.. HAHAHAHA..