Tuesday, December 05, 2006

Ketika Aa Gym Kawin Lagi

Sebenarnya mau gw kasih judul: Ketika Aa Gym Kawin Lagi dan Siti Nurhaliza Dinikahi Duda Kaya. Tapi kayaknya kepanjangan deh! Makanya gw pilih yang paling aktual aja deh ;-) Ntar gw ceritain kenapa Aa Gym gw sandingkan dengan Encik Siti, bukan sama anggota DPR yang baru melansir MPEG Porno atau menteri yang juga baru kawin lagi.

Uhm.. gw nggak pingin ngebahas poligami. Bosen! Kan udah pernah gw bahas ;-) Gw lebih tertarik ngebahas reaksi orang2 terhadap perkawinan kedua Aa Gym yang bombastis. Baca aja berita di sini. Ada ibu2 yang sampai nangis gara2 nggak rela; sampai si Aa bertanya apakah kalau Teh Nini (istri pertamanya) rela, maka si ibu jadi lebih rela?

UPDATE 6 Desember 2006, SMS dari ibu2 forward-an teman gw, Agnes, menambah daftar petisi anti perkawinan kedua si Aa:

Msh byk jln mcari pahala. Tdk perlu dgn bpoligami, krn pasti ada yg tsakiti. Dan adil hny milik Allah & para nabi. Hilang sdh teladan suami yg baik dimata ibu2. Mshkah kita mau mdengar ceramahnya ttg kel sakinah?? (dr ibu2 sel. Ind yg kecewa)

Intinya semua menyayangkan tindakan Aa Gym. Menyayangkan, marah, nggak rela.. bukan seperti reaksi ketika mendengar Pak Menteri kawin lagi atau Puspowardoyo buka cabang baru (baca: punya istri baru), yang umumnya sekedar mencela: dasar laki2!, atau malah bikin lelucon tentang perkawinan baru itu.

Kenapa giliran Aa Gym kawin lagi, reaksinya beda?

Well.. karena Aa Gym sudah jadi tokoh panutan buat sebagian orang. Dan jika seorang tokoh panutan melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan gambaran ideal yang ada di benak masing2 orang, maka emotional blow-nya akan lebih terasa. Kalau kita menjumpai ketidaksempurnaan pada sesuatu yang kita anggap sempurna, maka kita cenderung lebih kaget dan sedih daripada menjumpai cacat pada sesuatu yang memang kita anggap barang apkiran ;-).

Gw nggak berhasil nemu literatur online tentang proses pembentukan idol. Tapi di salah satu buku kuliah gw dulu pernah dijelaskan bahwa idola terbentuk ketika kita menganggap seseorang ideal karena menunjukkan satu/sekelompok atribut yang sesuai dengan atribut ideal yang kita miliki. Ini masalah persepsi, bukan kenyataan bahwa seseorang itu ideal. Kita hanya menganggapnya ideal.

Masalahnya, kita selalu lupa bahwa keidealan seorang idola itu hanya ada di persepsi kita. Itu hanya persepsi kita berdasarkan satu/sekelompok atribut ideal versi kita yang kita lihat ada padanya. Dalam kenyataannya, dia hanya orang biasa yang punya pikiran, perasaan, dan sistem nilai sendiri yang membuat versinya tentang keidealan berbeda dengan versi kita. Dengan demikian ada suatu titik dimana mau nggak mau perbedaan ini terlihat. Sesuatu yang wajar, sebenarnya, karena memang sejak awal si idola adalah dirinya sendiri, bukan representasi dari sosok ideal yang ada di benak kita. Tapi.. lantaran kita sudah menganggap si idola ini kongruen, sama dan sebangun, dengan sosok ideal di benak kita, jadinya kita terkaget2 melihat ketidakidealannya.

Ini yang terjadi pada Aa Gym. Terlanjur terlalu banyak orang yang lupa bahwa dia adalah Aa Gym dengan segala pikiran, perasaan, dan sistem nilai pribadinya. Terlalu banyak orang yang sudah menganggap Aa Gym adalah representasi dari sosok ideal di benaknya. Entah dilihat sebagai sosok manusia ideal, sebagai sosok suami ideal, sosok laki2 ideal.. they see him as anything ideal ;-) Tak heran mereka merasa sedih, marah, dan dikhianati ketika ternyata si idola hanyalah manusia biasa yang punya cara pandang berbeda ;-).

IMAO, bukan Aa Gym yang mereka tangisi atau sesali, tapi diri mereka sendiri.. atau tepatnya kematian sosok ideal yang ada di benak mereka ;-) Persis kata ibu2 di SMS tadi: Hilang sudah teladan suami yang baik di mata ibu2 ;-) The death of god would [always] lead to unparalled despair and panic, demikian kata Karen Armstrong dalam A History of God.

*note: kata god gw tulis dengan huruf kecil, mengacu pada dewa dan idola yang sering disebut sebagai god, untuk menghindari kerancuan dengan kata Tuhan ;-) Gw cuma meminjam konsep dan kutipannya Armstrong, bukan isi buku Armstrong secara keseluruhan yang memang membicarakan Tuhan*

Itu sebabnya, reaksi terhadap Aa Gym lebih heboh dan emosional daripada terhadap kasus poligami lainnya. Lebih mirip dengan reaksi sekelompok masyarakat beberapa bulan lalu ketika Siti Nurhaliza dinikahi Datuk K ;-). Banyak cowok2 yang ngakunya patah hati, termasuk adik ipar gw, ketika pilihan hati Siti tidak sesuai dengan bayangannya tentang pilihan hati seorang gadis yang ideal ;-).

Siti, bagi sekelompok orang, adalah sosok entertainer ideal. Gadis yang menekuni bidang entertainment dengan baju yang selalu tertutup. Tidak seperti banyak bintang kita yang suka jualan KFC (baca: mau paha atau dada ;-)). Siti tidak dilihat lagi sebagai Siti, seorang dara Malaysia yang dibesarkan dalam budaya Melayu yang kental; dimana berbusana tertutup adalah default, bukan option. Dengan demikian Siti bukanlah entertainer yang ideal, bukan manusia ideal atau gadis ideal, melainkan sekedar gadis manis yang mengikuti arus budayanya dan kebetulan menjadi entertainer ;-). Dan sebagai gadis manis penurut, apa anehnya jika pilihannya terhadap suami adalah pilihan yang merupakan cermin mantu ideal (baca: punya bibit, bebet, bobot yang bisa dibanggakan keluarga besar), bukan pilihan wanita pada umumnya tentang suami ideal ;-)?

Well.. at the end of the day, yang paling tepat memang seperti apa yang dikatakan Aa Gym di sini:

Dengan episode ini ada yang menganggap Aa tak tepat jadi panutan lagi semoga bisa mencari dan menemukan panutan. Aa mohon maaf sekali jika ada hal yang tak berkenan.

Panutan, idola, memang sekedar ada di benak kita. Boleh2 saja cari tokoh panutan, cari idola.. tapi tetap ingat bahwa dia bukan representasi dari sosok ideal kita. Mereka hanya manusia dengan pikiran, perasaan, dan sistem nilainya sendiri. Jadi jangan kaget atau menyalahkan jika sosok idola kita melakukan hal2 yang menurut kita tidak tepat ;-). Kondisi mereka berbeda dengan kita, pertimbangan mereka berbeda dengan kita. Dan yang paling penting: apa yang mereka anggap benar dan ideal mungkin berbeda jauh dengan kita.

*Udah ah, gw mau makan siang. Jam makan siang hampir habis gara2 nge-blog ;-)*