Saturday, April 07, 2007

Ramayana di Tlatah Irak: Catatan yang Tertunda

Tadi pagi, sedang asyik2nya nonton sebuah dokumenter berjudul Inside Mecca di National Geographic, lha kok tiba2 ada adegan penyembelihan domba Idul Adha. Langsung dengan panik pencet tombol ganti saluran. Nemunya Discovery Channel yang sedang memutar dokumenter lain tentang Saddam Hussein. Jadi mood lagi deh menuliskan sesuatu terlambat ditulis sekitar hukuman mati sang mantan presiden.

Gw bukan penggemar Saddam Hussein. Bahkan, Saddam ini pernah jadi topik ketidaksepakatan gw dengan alm. Bapak - sesuatu yang, boleh dicatat, jarang sekali terjadi antara kami.. hehehe.. Waktu itu tahun 1990, Perang Teluk baru dimulai, dan Bapak yang tadinya membela Kuwait bareng gw, tiba2 ganti membela Irak dengan alasan, "Soalnya Bapak nggak suka Amerika mulai ikut2an".

Waktu itu gw menuduh ketidaksukaan Bapak pada [politik luar negeri] Amerika Serikat sudah cloud his judgment, sampai2 "cuma" gara2 Amerika membantu Kuwait (yang notabene diinvasi oleh Irak), Bapak putar haluan membela si aggressor.

Bapak, tentu saja tidak terima dibilang begitu. Beliau gantian menuduh gw sudah teracuni Amerika, sudah dijajah Amerika, sampai nggak bisa melihat bahwa "Kalaupun Kuwait itu Sugriwa, memangnya Presiden Amerika itu Sri Rama?"

Hehehe.. bingung ya, ngomongin Perang Teluk kok bisa nyambung ke Ramayana ;-)? That was the atmosphere between my dad and I, kami suka ngobrol panjang lebar dan nyambung kemana2.

Buat yang senang cerita wayang, mungkin sudah jelas arah dari analogi ini. Subali dan Sugriwa adalah dua monyet bersaudara. Alkisah, Sugriwa diperdaya oleh saudaranya, Subali, agar pergi jauh. Ketika Sugriwa pergi, Subali melakukan kudeta terhadap tahta Sugriwa sekaligus merebut istrinya, Dewi Tara. Ketika pulang, Sugriwa berusaha merebut haknya kembali, namun berhasil dikalahkan oleh Subali. Karena itulah Sugriwa, dengan bantuan Hanuman penasihatnya, minta bantuan kepada Sri Rama untuk mengalahkan Subali. Sri Rama membantu karena dia adalah titisan Wisnu yang memang tugasnya mengalahkan angkara. Dia tidak mendapatkan hadiah atau keuntungan apa2 dari membantu Sugriwa selain sebentuk kesetiaan dari teman2 barunya ini.

Ngerti kan sekarang? Kuwait [mungkin] memang seperti Sugriwa. Tapi.. apakah dia mendapatkan bantuan tulus dari seorang Sri Rama? Itu yang Bapak tidak percaya.

Bertahun2 kemudian, ketika terjadi "invasi" Amerika Serikat ke Irak yang diakhiri dengan hukuman mati dari pemerintah interim Irak, gw jadi teringat lagi perdebatan dengan Bapak tentang lakon Ramayana di tlatah Irak. Tokoh utamanya masih sama: Presiden USA yang memerintahkan invasi, serta Saddam Hussein yang menjadi pangkal angkara. Namun kali ini bukan episode Kiskindhakanda (= Subali Sugriwa) yang teringat oleh gw, melainkan bagian lain tentang Kumbakarna dan Gunawan Wibisana.

Rahwana, tokoh angkara sang penguasa Alengka, memiliki dua orang adik laki2. Satu adiknya berwujud raksasa tidak tampan bernama Kumbakarna, sementara si bungsu berwujud satria tampan bernama Gunawan Wibisana. Kedua adik ini sudah lama tidak setuju dengan keangkaraan Rahwana, namun keduanya memilih jalan yang berbeda. Kumbakarna, setelah memuntahkan semua yang pernah dia makan dari pemberian kakaknya, memilih menyepi dan bertapa. Tidak ikut dalam menjalankan pemerintahan. Tapi dia berjanji akan selalu siap jika negara (note: bukan kakaknya) membutuhkannya. Gunawan Wibisana memilih jalan yang berbeda: dia telan semua yang tidak disetujuinya, memilih tidak protes, dan terus berada di samping Rahwana.

Apa yang terjadi ketika Alengka diserang pasukan Rama?

Kumbakarna bangun dari tidurnya. Melihat negerinya diserang, hampir runtuh, rakyatnya menderita, dia ndepani bumi wutah getih (=membela jengkal demi jengkal tanah airnya dengan pertumpahan darah). Bukan dia tidak tahu bahwa kakaknya, Rahwana sang angkara, adalah penyebab semua itu. Bukan dia setuju dengan tingkah kakaknya merebut istri pangeran Ayodya. Namun.. apa pun yang terjadi, tidak dibiarkannya orang asing menginjak dan meluluhlantakkan tanah airnya, menjadi "tuan" di negaranya. Mereka - orang Alengka - yang berhak mengatur dan menentukan apa yang terbaik bagi dirinya. Pun untuk menentukan bagaimana menjatuhkan sanksi pada rajanya. Bukan orang asing, walaupun orang asing itu adalah titisan Dewa Wisnu sendiri.

Gunawan Wibisana? Ia memilih bergabung dengan Sri Rama dan pasukan Ayodya. Dia ikut menghancurkan Alengka, menggulingkan dan menghancurkan sang angkara. Dan.. dengan tarikan gandewa(=busur)nya, dia yang menghabisi nyawa kakaknya yang bukan sumber angkara: Kumbakarna.

Dalam kisah Ramayana, baik Gunawan Wibisana maupun Kumbakarna dianggap sebagai tokoh protagonis. Dua2nya punya sisi baik dan sisi buruk. Orang yang menjunjung tinggi kesetiaan dan kemandirian menentukan jalan sendiri, misalnya, lebih menyukai Kumbakarna yang dianggap fair, setia, dan bisa memilah antara rakyat/tanah Alengka dari rajanya yang angkara. Tak jarang para pemuja Kumbakarna kurang menyukai Gunawan Wibisana yang dianggap kurang setia pada tanah air. Tapi.. Gunawan Wibisana sendiri tidak salah kan? Dia dihadapkan pada pilihan yang sulit: kalau dia ingin menolong negara, maka Rahwana harus mati, dan untuk mematikan Rahwana dia butuh bantuan. Dan.. pilihannya sebenarnya tidak salah; karena dia akhirnya berkongsi dengan Sri Rama yang merupakan pengejawantahan dari kebaikan itu sendiri.

Well.. gw nggak mau ngebahas mana yang lebih baik antara Kumbakarna dan Gunawan Wibisana. Gw cuma mau melanjutkan kisah Ramayana di tlatah Irak ini ;-)
Rasanya kita semua akan sepakat bahwa Saddam Hussein bisa dianalogikan dengan Rahwana, si tokoh angkara. Mungkin kita juga akan sepakat bahwa pemerintah interim Irak bisa dianalogikan dengan Gunawan Wibisana. Tapi.. dimana posisi George W Bush yang menjadi "kepala" dari invasi ini? Apakah bisa ditempatkan sebagai Sri Rama?

One thing for sure, dalam epos edisi tlatah Irak ini "Rahwana" tidak menculik Sita ;-). And another thing for sure, dari cara invasi dan cara memperlakukan "Rahwana" yang tertangkap, it hardly represents the act of Vishnu ;-). Titisan Wisnu sejati tidak akan mempermalukan tawanannya dengan membuatnya diperiksa di depan televisi. After all, he was once a president. Di luar segala kesalahannya, ada hal2 yang sudah dilakukan untuk negerinya. Setidaknya, dari apa yang sudah diraihnya, he is entitled to some privacy and respect - walaupun sudah didakwa sebagai tawanan perang.

Pertanyaannya: jika aksi Gunawan Wibisana dibenarkan karena yang menolongnya adalah titisan Wisnu, lantas.. apakah aksi "Gunawan Wibisana" di tlatah Irak juga setara, ketika yang membantunya bukan pengejawantahan dari kebenaran ;-) It's for you to judge .. hehehe.. as for me, I'm always the big fan of Kumbakarna. Sebagian karena prinsipnya yang cool, sebagian lagi karena dia raksasa tidak tampan.. HAHAHAHA.. (uhm.. no offense terhadap pria2 tampan, gw kurang tertarik dengan tampang ;-))