Sunday, April 29, 2007

Empathy and Sympathy

Empathy and Sympathy
Live together in perfect harmony
Side by side ..

(diplesetkan dari: Ebony & Ivory, Paul McCartney & Stevie Wonder)

***

Tampaknya, [waham kebesaran mode: ON] bahasan yang bikin gw tenar [waham kebesaran mode: OFF] karena membawa2 kata empati itu memang dahsyat ;-) Bahasannya macem2, mulai apakah formulanya Oprah applicable untuk bangsa Timur, apakah yang dari Barat (baca: misalnya Oprah) selalu lebih baik, sampai jangan2 bangsa Timur (baca: kita) punya cara sendiri untuk berempati yang berbeda dengan bangsa Barat.

Well.. tampaknya benang merah masalahnya jelas: konsep empati dan simpati belum dipahami dengan jelas, masih tumpang tindih, atau malah pemahamannya terbalik2. Wajar saja, like ebony and ivory, empathy and sympathy memang lives together side by side ;-)

Gw jadi pingin ngebahas sedikit tentang ebony and ivory, eh.. maksud gw empathy and sympathy ;-) Gw mulai dari beberapa definisi yang sempat gw kumpulkan:

Empathy is the "ability to understand the perspective and situation of another. When you are empathetic you are able to enter the emotional world of another. You take perspective and see the world through the eyes of that person." .. Empathy is a helpful emotion, but sympathy is not. .. When we feel sympathy we presume to understand how they feel and how they see their situation. .. So, basically sympathy and the sadness that may come with it are not useful; rather, it blocks understanding and "objectifies the person for whom you feel pity."

(dikutip dari sini)

If you think you feel just like another person, you are feeling empathy. If you just feel sorry for another person, you’re feeling sympathy

(dipinjam dari sini)

empathy is the imaginative putting of yourself in others’ shoes, being able to identify with their feelings; sympathy involves supporting or at least understanding the plight of others. You can be sympathetic without necessarily being empathetic; sympathy may require only pity, whereas empathy would require first your imagined identification with the sufferer and might not require sympathy as well

(ngambilnya dari sini)

Kayaknya penjabaran di atas cukup jelas ya? Dengan empati kita meletakkan diri pada perspektif dan situasi yang dialami orang lain, sementara pada simpati kita meletakkan perspektif dan situasi kita sebagai perspektif dan situasi yang dialami orang lain.

Secara teoretis sih memang gampang. Tapi dalam prakteknya, susah banget kita membedakan mana empati dan mana simpati. Untung ada rumus gampangnya ;-)

Dalam empati, kita lebih menekankan pada proses memahami dan mengidentifikasi pikiran serta perasaan orang lain. Dengan demikian kita harus meletakkan diri dalam kerangka berpikir dan merasanya. Susah memang, karena kita tidak akan mungkin memahami orang lain sedalam2nya. Tapi, kita akan semakin dekat dengan hal itu jika kita membuka kemungkinan sebanyak2nya tentang bagaimana target empati kita itu berpikir dan merasa.

Dan hopefully, ketika kita sedekat mungkin dengan perasaan dan pikiran si target empati, tanpa didominasi perasaan kasihan padanya, maka kita justru bisa ikut mencarikan solusi yang terbaik untuknya.

Simpati, di sisi lain, requires only pity. Hanya membutuhkan rasa kasihan. Kita tidak perlu mencoba melihat berbagai kemungkinan terhadap apa yang dipikirkan dan dirasakannya. Cukup lihat sekali, merasa kasihan, dan selanjutnya silakan beraksi. Aksi yang didasari pada rasa kasihan kita pada si korban. Aksi yang menurut kita terbaik untuk si korban, dan mungkin juga dianggap terbaik oleh si korban, namun belum tentu benar2 terbaik jika ditinjau dari gambar besarnya.

Ingat, penilaian si korban sendiri atas apa yang terbaik untuknya besar kemungkinan sudah terkacaukan oleh penderitaannya. Sangat alamiah jika orang yang menderita, teraniaya, lantas hanya punya satu pikiran: membalas dendam. Atau membunuh diri. Dalam pikirannya yang kalut setelah teraniaya, membalas dendam atau bunuh diri adalah solusi yang terbaik. Tapi.. apakah itu memang benar2 yang terbaik? Kalau kita berpikir jernih, gw yakin kita akan sampai pada kesimpulan bahwa itu bukan yang terbaik.

Dan kalau kita mendasari aksi kita pada simpati, pada rasa kasihan, pada presumption of how they feel and see their situation, maka kita juga tidak banyak membantu. Kita tidak mencarikan solusi terbaik, kita hanya mendukung korban mendapatkan solusi yang dia kira adalah terbaik. Worse, kita hanya mendapatkan solusi yang kita kira terbaik untuk korban.

Tapi, tidak dapat dipungkiri, simpati merupakan ciri khas masyarakat Indonesia secara umum (kalau tidak bisa dibilang sebagai ciri khas masyarakat Timur – gw baru baca sebuah buku bagus tentang kasus di Pakistan, terjemahan dari In the Name of Honor, nanti kapan2 gw share). Dan gw khawatir, hal inilah yang membuat masalah di negeri kita jarang [note: eufemisme dari kata tidak pernah] selesai. Penyelesaian masalah lebih sering didasari oleh simpati, oleh pity. Dengan demikian, begitu rasa kasihan mulai bisa dikuasai, otomatis secara tidak sadar kita menganggap masalah sudah selesai. Atau.. sebaliknya: mungkin setelah rasa kasihan mulai bisa dikuasai, kita sadar bahwa masalah belum selesai, namun kita sudah kehilangan momen untuk merancang penyelesaian yang matang. Penyelesaian yang sudah jalan setengah matang, tapi tidak bisa dimatangkan karena bolong di sana-sini. Kalau mesti dikonsep ulang, waktu sudah banyak terbuang.

Kalau kita mau menyelamatkan bangsa ini demi anak cucu kita *tsah! Bahasa gw!*, maka menurut gw, kita perlu belajar mengubah paradigma ini. Mungkin, kita harus mulai belajar berempati terhadap setiap masalah yang kita hadapi? Belajar mencari penyelesaian terbaik, bukan solusi cepat? Belajar bereaksi hanya ketika kita sudah memahami sesuatu dari segala sisi dengan mendahulukan rasio (walaupun tidak menafikan perasaan), bukan ketika perasaan sedang mendominasi kita (sehingga dengan sendirinya mengganggu rasio)?

Satu generasi mungkin terbuang sebelum ada hasil yang memuaskan, tapi gw percaya hal ini lebih baik daripada kebijakan tambal sulam yang selalu terjadi di negeri ini, atau yang selalu kita minta dari pemimpin negeri ini.

Bolehlah pemerintah jadi tukang ban yang hobinya kasih quick solution. Kita sebagai “konsumen”-nya pemerintah musti lebih cerdas daripada si tukang ban dalam menuntut apa2 ;-) Mesti lebih pintar menggunakan empathy daripada sympathy, walaupun mereka living side by side in perfect harmony ;-)