Monday, April 23, 2007

Cho: The Killer and The Victim

Bahasan soal IPDN gw sudahi setelah sequel kemarin. Nggak perlu jadi trilogi karena all is clear, sebagian besar sudah tercakup dalam posting maupun respons2 gw terhadap komentar yg masuk ;-) Hal2 yang berkaitan dengan diskusi lebih lanjut diselenggarakan secara seksama dan dalam media japri saja – tidak dijamin dalam tempo yang sesingkat2nya ;-) Kalau mau ngintip sesi terakhirnya yg untuk umum ada di blognya Arief ini.

Gw mau ngebahas hal lain aja, yang udah dari kemarin2 dikompor2in Zilko di beberapa komentar. Telat ya? Emang, sengaja, gw sering baru nulis setelah topiknya nggak hangat lagi. Itu akibat [menyitir kata Dodol Surodol di testimonial FS gw] gw kalo nge-blog niat banget, diriset dulu.. hehehe.. Yah, nggak segitunya, kaleee. Gw cuma pingin semua karya gw bisa gw pertanggungjawabkan. Biarpun ”cuma” di blog doang yang gak ada editornya, jangan sampai kelihatannya gw as-bun, eh.. as-tul ;-)

Karena Zilko nggak mau bahas sisi analitisnya, gw ambil deh angle itu.. hehehe..

Cho Seung-Hui dan the Virginia Tech massacre mengingatkan gw pada dua buah film: Ekskul dan The Assasination of Richard Nixon.

Saat nonton Ekskul, kening gw tak henti2nya berkerut karena menganggap ceritanya out of context banget dengan Indonesia. Gw sempat dengan sarkastik bilang bahwa tagline-nya Ekskul tuh kurang lengkap. Harusnya bukan sekedar “diilhami dari kejadian nyata”, melainkan “diilhami dari kejadian nyata di Amerika Serikat”. Kenapa? Karena menurut gw ceritanya tidak sesuai dengan kondisi Indonesia. Pelajar Indonesia itu esprit de corps-nya kuat; entah karena pengaruh budaya Indonesia yang kolektif, atau karena faktor adanya seragam sekolah yang membuat orang merasa menjadi anggota kelompok tertentu. Yang jelas, dalam perilaku bully, hal ini juga terlihat: pelajar Indonesia tidak mem-bully individu, mereka mem-bully kelompok yg dianggap lebih inferior. Itu sebabnya senior menggencet junior, pelajar SMU X tawuran dengan pelajar SMU Y. Bukan terhadap individu yg inferior. Individu sih dikerjain, diisengin. Tapi bukan di-bully.

Kecenderungan ini beda dengan apa yang gw dengar dan baca tentang Amerika Serikat. Kalau baca di situs No Bully ini, setiap harinya sekitar 160,000 pelajar di-bully di sana. Di sana yang di-bully adalah individu. Jurang antara the popular dan the unpopular besar sekali. Kenapa? Gw belum nemu data yang pasti, tapi gw berasumsi hal ini karena di sana lebih individualistik. Satuannya adalah individu, bukan kelompok. Jadi.. kalau satu individu kelihatan berbeda, itu sudah cukup alasan buat yg lain untuk mem-bully. Beda dengan di Indonesia, dimana pelajar lebih peduli dengan siapa kawananku dan siapa kawananmu, kalau kau berkawan dengan kawanan yg dimusuhi kawananku, maka kau musuhku.

Hal ini yang gw kira terjadi pada Cho. Sebagai imigran Korea di Amerika Serikat, yang bahasa Inggrisnya tidak lancar2, dengan kecenderungan autisme yang dalam budaya Korea tidak perlu dicarikan penanganan profesional, menjadikan Cho kandidat yang cocok untuk di-bully. Apalagi, kalau memang benar ada kecenderungan autisme, maka sangat masuk akal jika dia “terobsesi” dengan beberapa orang dan “mengejar2 mereka”. Ini adalah ciri2 standard seorang penderita autisme, tapi di mata orang “normal” akan tampak sebagai stalking.

Memang gw gak punya data bahwa Cho benar2 di-bully, tapi apa yang gw temukan di Wiki ini mungkin bisa menjadi indikasi:

The whole class started laughing and pointing and saying, ‘Go back to China.’" Another classmate, Stephanie Roberts, stated that "There were just some people who were really mean to him, and they would push him down and laugh at him. He didn't speak English really well, and they would really make fun of him

Selanjutnya yang mungkin terjadi adalah dinamika yang sama dengan Samuel Bicke dalam The Assasination of Richard Nixon. Seseorang yang ditekan, ditekan, ditekan terus menerus pada suatu saat pertahanannya akan bobol. Dia bisa mengambil tindakan drastis yang out of mind.

Pada kasus Sam Bicke the last straw adalah gugatan cerai dari istrinya. Selama ini Bicke bertahan karena masih punya harapan dapat kembali bersama istrinya, sehingga ketika harapan itu pun terenggut, he has nothing to lose anymore. Pada kasus Cho, gw nggak tahu pasti apa yang menjadi the last straw, tapi surat terakhirnya yang mengatakan You caused me to do this terdengar sama dengan rekaman terakhir Sam Bicke mengenai alasannya ingin membunuh Richard Nixon: karena Richard Nixon, dengan propaganda kapitalismenya, dianggap bertanggung jawab atas segala kesempatan yang hilang dari hidupnya

Zilko menempatkan Cho pada posisi yang sama dengan pelaku2 massacre lainnya, seperti bom Bali, bom Kuningan, .. the action caused by hatred. Hmm.. mungkin memang ada benci di hati Cho, tapi gw tidak melihatnya sebagai sama dengan pelaku pemboman di Indonesia. Bom di Indonesia, baik di Bali, Kuningan, JW Mariott, dilakukan seseorang/sekelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu. Memperjuangkan prinsipnya dengan cara yang dia anggap (catat: dia anggap) benar. Cho dan Sam Bicke bukan melakukannya demi mencapai tujuan tertentu. Cho, seperti Sam Bicke, melakukannya sebagai “keinginan terakhir” untuk balas dendam sebelum dia mengakhiri penderitaannya dengan sekeping peluru di kepala.

Dari segi perbuatannya, Cho memang seorang pembunuh.

Tapi.. kalau kronologi gw di atas benar, maka Cho juga seorang korban. Korban bully yang sudah terdesak hingga point of no return.

Lingkaran setan, viscious circle, dimana korban adalah pembunuh, dan pembunuh adalah korban. Dikutuk, sekaligus dikasihani. Hmm.. nothing in this world is purely black or purely white, right? Everything concerning human being comes in the shade of grey.

UPDATE 25 April dini hari:

Eh! Tadi siang dapat insight menarik dari komentarnya Okke: bahwa ternyata gw lebih tuwir dari yang [rela] gw pikirkan ;-). Terus.. kata ipra bahasannya kurang dalem, kurang "sakti", jadi didalemin di comment box. Mau gw pindahin isinya ke sini kok panjang ya.. hehehe.. jadi, simak ndiri aja deh sequel tidak resminya di kotak komentar ini ;-)