Sunday, November 28, 2010

Modus Perampasan: Titi DJ Perlu Tas

Kemarin, sepulang mengantar Nara dari kelompok bermainnya di Kuningan, gw terpaksa pulang memutar lewat jalur Menteng - Salemba - Pramuka. Sejak sebelum Hotel Manhattan hingga Terowongan Casablanca banjir, sehingga jalannya kendaraan pamer pen*s. Padat merayap pengen nangis :-p

Jalur yang gw lalui lancar. Bahkan jalan Pramuka lengang sekali. Tetapi nggak lama setelah gw melewati Hotel Sentral, gw menyadari mobil di depan gw jalannya lambat banget. Padahal gw jalan di jalur kanan, jalur yang mestinya paling cepat. Gw, tentu saja, memberi lampu dan klakson, sebelum akhirnya menyalip dari kiri.

Tetapi... beberapa menit kemudian, mobil bernomor DG 99xx FE itu menyalip gw kembali dan menghentikan mobilnya. Beruntung gw selalu menjaga jarak, sehingga gw menghentikan mobil tepat waktu - dengan jarak cukup besar di antara kami. Khawatir pengemudi di depan mengalami kesulitan, gw tidak langsung ambil ancang2 menyalip. Gw menunggu dulu.

Ternyata... menunggu itu adalah suatu kesalahan!

Pengemudi sedan itu, seorang laki2 kekar berwajah sangar, menggebrak2 mobil gw, menyuruh gw buka jendela dan turun dari mobil. Instinktif, gw hanya membuka sekitar 2cm kaca jendela gw; cukup untuk bercakap2, tetapi tidak cukup untuk tangannya masuk.

"Ada masalah apa klakson2 dari tadi, hah?"

"Nggak ada masalah, Pak. Hanya kan Bapak di sebelah kanan jalannya lambat, jadi saya klakson supaya lebih cepat, atau pindah ke kiri"

"Turun loe dari mobil, kalau berani! Gw tonjok loe!"

Sebenarnya gw cukup naik darah dengan kelakuan ini. Tapi, gw menyadari bahwa gw cuma bertiga dengan Nara dan Mbak-nya Nara. Secara fisik, kami bukan lawan yang setara buat laki-laki sangar tersebut. Dan bagaimana kalau ternyata laki2 ini mencelakai Nara, hanya sekedar buat made his point?

Oleh karenanya, alih2 berdebat atau gantian memaki, gw memilih melakukan sesuatu yang "nggak gw banget": minta maaf padahal gw tidak bersalah.

"Kalau begitu saya minta maaf sudah mengklakson Bapak. Maaf ya, Pak, saya nggak bisa turun. Saya sedang bawa anak saya, harus pulang cepat"

"Turun loe!! Kalau enggak, gw kempesin mobil loe!!"

"Saya sudah minta maaf, Pak. Kalau Bapak mau memperpanjang, mari kita bicarakan di kantor polisi saja. Tetapi saya tidak bisa turun di sini"

Naik darah gw mulai bercampur ngeri. Orang ini mabok, stres, atau simply gila sih??? Urusan klakson aja sampai panjang begini. Kalau dia memaki sih gw masih terima ya.... Tapi nyuruh gw turun, apa urusannya?

"Kalau gitu STNK mana! Kasih ke saya!"


Walaupun ngeri dan sulit berpikir jernih, untungnya intuisi gw masih berperan besar menunjukkan sesuatu yang nggak beres, dan membantu mulut memberikan alasan.

"Bapak kan bukan polisi, dan saya tidak melakukan pelanggaran lalu lintas. Bapak tidak berhak minta STNK saya. Kalau mau lihat STNK saya, saya berikan di depan polisi. Tidak di sini!"


Pria sangar itu makin marah2 dan menggebrak mobil. Sebelah tangannya mengambil dompet di saku belakang. Dan... untuk sesaat, demi membuka dompetnya dia mengeluarkan tangan yang selama ini diselipkan di kaca jendela gw.

It happened for only a second or so, but it was enough for me to close the window. Thank God, for providing me a good reflex.

Begitu gw berhasil menutup jendela, gw segera menyalip mobil itu dan melaju kencang. Tujuan gw hanya satu: kantor polisi! Gw ingat bahwa di perempatan by pass ada kantor polisi, tapi entah kenapa tujuan gw adalah kantor polisi yang agak jauh di Jalan Pemuda. Sambil jalan, gw sesekali melihat ke belakang apakah mobil tersebut mengikuti; tapi karena mobilnya sedan hitam, dan banyak sekali mobil hitam di belakang gw, amatan gw tak terlalu jelas. Mbak-nya Nara bilang mobil itu tampaknya belok kanan di perempatan by-pass, pas di depan kantor polisi, but I can't be really sure.

Sampai kantor polisi, gw parkir mobil gw. Lima menit berlalu, lantas nyaris seperempat jam. Mobil itu nggak datang-datang hingga akhirnya gw memutuskan untuk pulang. So much for intimidating me ;-)

***

Seperti biasa, gw berbagi kisah itu dalam status FB. Semacam curcol aja, maksudnya ;-) But it turns out into an eye-opener experience: tanggapan Zilko membuat gw sadar bahwa ini mungkin suatu upaya tindak kejahatan. Seperti kata Zilko, aneh banget bahwa yang diminta adalah STNK, bukan SIM :) Emangnya gw pelaku curanmor, dimintain STNK segala?

And everything starts falling into place. Plat nomor Maluku Utara yang akan lebih menyulitkan melacak pelaku, kemarahannya yang lebay "cuma" karena klakson mobil, paksaannya agar gw turun dari mobil walaupun gw sudah minta maaf dan menunjukkan bahwa kami hanya 2 perempuan plus 1 balita....

Justru, karena kami hanya 2 perempuan plus balita, orang ini cari gara2 dengan gw. Samar2 gw bahkan mulai ingat bahwa dia menyalip mobil gw sebelum berjalan pelan2 yang mengakibatkan gw membunyikan klakson. Dia memang seorang diri mengendarai mobil itu, tapi... who knows, setelah gw turun dari mobil, menyerahkan STNK, mobil gw akan direbut oleh komplotannya? Bukankah modus operansi yang mirip pernah gw alami juga?

Gw langsung googling, dan menemukan beberapa modus operandi yang mirip. Salah satunya di cerita ini. Korbannya juga perempuan.

Tak henti2nya gw mengucap syukur atas perlindungan-Nya. Hanya atas kuasa-Nya saja gw - yang selalu tegangan tinggi - tak terpancing marah saat itu. Hanya atas kuasa-Nya, intuisi dan refleks gw berjalan tepat saat dibutuhkan.

... dan setelah membaca cerita tertaut di atas, gw sadar ada satu hal lagi yang dapat gw syukuri: cuma atas perkenan-Nya, gw entah kenapa memilih kantor polisi yang jauh, dan memilih tidak turun sebelum mobilnya datang. Tanpa gw sadari, itu adalah keputusan yang tepat: karena membawa si pelaku keluar dari tempat permainannya.

Alhamdulillah, segala puji untuk Allah atas perlindungan-Nya kemarin.

And since everything happens for a reason, there must be a reason why this story happens to a blogger. It's meant that the blogger should tell the story to the world :-)

Inilah kisahnya... agar lebih banyak orang yang tahu bahwa kalau Titi Kamal Anti Cinta, maka Titi DJ Perlu Tas ;-) Hati-hati Di Jalan, Perempuan Berlalu-lintas! Banyak yang mengincar Anda. Bukan hanya malam hari, tetapi juga saat mentari masih bersinar terang.

Saturday, November 06, 2010

Bank Minta "Pulsa"

Di tengah2 kerja 2 hari lalu, tiba2 ada telepon dari nomor tak dikenal. Gw kira klien baru... hehehe... tetapi, ternyata begitu diangkat kata2nya kasar banget, "B*bi! Eh, Maya, b*bi! Suruh ibu loe bayar hutang!!" Wah... penipu yang gw ceritakan di status FB 24 September 2010, si Dina yang [katanya] dari Citibank dan menelepon dari nomor +628389704277 kumat lagi nih ;) Cuma sekarang pakai nomor beda: +622183702590

Berhubung ada hal2 yang lebih penting, gw cuekin teleponnya. Dan dia berhenti menelepon setelah 3x.

Tetapi rupanya mereka pantang menyerah. Besoknya, Jumat 5 November 2010 jam 14:11, ada lagi telepon dari +6288210724630. "Salam pembukanya" masih sama, dengan menyebut2 bangsanya si Napoleon dan Snowball di Animal Farm ;-) Tetapi sekali ini gw lebih siap. Siap untuk iseng dan merumitkan hal yang sepele maksudnya... HAHAHAHAHA...

Segera gw aktifkan fitur speaker phone, dan gw keluar ruangan kerja sambil bilang ke seluruh teman yang sedang berkumpul, "Ada yang mau dengar orang maki2 gw?" Oops, mendadak sontak, perempuan pemaki di telepon itu segera mematikan teleponnya.

Sebagai gantinya, pukul 14:24, ada telepon masuk lagi. Kali ini dari +6281382851128. Tetap dalam keadaan speaker phone aktif, gw terima teleponnya, dan dia berkata begini:

"Halo, Ibu Maya, saya Bintang. Saya anak buahnya Bu Dina. Tadi saya lewat ruangan Bu Dina, saya dengar boss saya sedang marah-marah pada Ibu. Itu kenapa ya, Bu?"

Gw nggak tahu penipu2 ini memang segitunya naifnya, atau just plainly stupid ;-) Normalnya sih, kalau kita lihat boss marah, anak buah akan tanya kepada boss-nya mengapa marah2. Bukan bertanya kepada orang yang ditelepon boss-nya ;-) Dan lagi... dari mana dia dapat nomor gw ya? Dalam hitungan detik, lagi! Is she a kind of psychic ;-)?

Setelah gw sarankan dia tanya saja pada boss-nya, telepon gw matikan. Nah! Setelah telepon mati inilah drama dimulai ;-)

Awalnya, gw terima SMS dari si Bintang ini dengan bunyi demikian:

----- SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 14:31

Ibu maya saya mau knfrmsi masalah htg krt kdt citibank ibu [NAMA NYOKAP GW] ttl tghn 6.8jt sampai tgl 15 ini byr kami bnt 3jt lunas silahkan dtg ke CB Jl gt subroto gdg menarajamsostek lt 5 ketemu atasanku pak henson atau pak wahyu no krtnya ibu 5421.7701.2021.[CENSORED].Tlg etika baiknya.Tks.Bintang.Balas

Hmmm... pertama2, setelah si Dina menelepon pada 24 September lalu, gw sudah sempat cek ke nyokap apakah beliau punya tunggakan kartu kredit. Dan... seperti telah gw duga, boro2 ada tunggakan, wong kartu kredit aja nyokap gw gak punya ;-) Beliau memang pernah punya kartu kredit Citibank, tetapi sudah ditutup tahun 1996.

Dan setelah 14 tahun dia mau memutihkan hutang 6.8jt menjadi 3jt? Hahaha... get real ;-)

Semakin yakin bahwa ini tipuan, gw jawab aja dengan santai, dan terjadilah percakapan berikut:

------ SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 14:32

Ibu saya tidak punya kartu Citibank sejak tahun 1996

------ SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 14:35

Siapa bilang ibu?Thn 92 buka krt thn 96 tdk byr2 kalau ga ada htg mana mgkn namanya diblklst di BI?Kalau ibu tdk keberatan kami undang ibu ke CB bsk bisa dtg?

Nah, ini lucu lagi ;-) Kalau yang dipermasalahkan adalah kartu kredit nyokap gw tahun 1996, apalagi yang dibikin tahun 1992, maka NGGAK MUNGKIN gw yang jadi "Emergency Contact"-nya nyokap ;-) Waktu itu alamat nyokap dan alamat gw masih SAMA. Jadi pasti aplikasinya bakal ditolak kalau beliau mencantumkan gw ;-)

Dan lagi, kalau nyokap bikin kartu itu tahun 1992, maka NGGAK MUNGKIN beliau mencantumkan nomor HP gw yang ini ;-) Tahun itu gw belum punya HP... hehehe... Bahkan nomor HP ini belum dibuat oleh providernya, wong providernya aja baru berdiri SETELAH 1996 kok ;-)

Jadi, dari mana dia tahu nomor HP gw ;-)?

Makin yakin ini praktek penipuan, ya gw santai aja meneruskan percakapan dengan:

----- SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 14:38

Ya sudah di-blacklist kan? Masalah selesai dong :) Lagian, mana ada bank baru nagih 14 thn kemudian ;)? Aneh2 aja orang mau nipu :) Lagipula saya sudah konfirmasi ke Citibank, tidak ada itu Henson/Wahyu! Apa jabatannya? Lagipula, kalau masalah hutang piutang, kenapa gak lapor polisi aja? Kenapa mau bantu dan 3jt lunas? ;)?

As I predicted, mereka mulai back-off setelah dengar kata2 "polisi". Seperti terlihat pada percakapan berikut, they did whatever they could to avoid "the police":

----- SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 14:41

Ingat bu sampai matipun akan tetap ditagih kalau saya mau nipu knp ibu saya undang keCB?dan semua saya tau data2nya?Buat apa saya menipu?Justru saya mau bantu

------ SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 14:43

Kalau soal bank mah bukan urusan hidup mati! Urusan hukum ;) Laporkan polisi saja ibu saya :) Ngapain mau bantu2 segala ;)?

------ SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 14:45

Mrk manager collection citibank silahkan ibu telp citibank 021.52909223 atau 021.52909256 knp dpt 3jt?Karna kami niat n tulus membantu biar masalah ibu cpt selesai dan merupakan tugas kami jd kami harap ibu ada respon baik

Huh? Tulus membantu ya? Baru tahu gw ada orang yang mau membantu tapi mulai dengan memaki2 yang akan dibantu ;-) Bukankah kalau menurut Al Baqarah QS 2:263 "perkataan yang baik dan pemberian ma'af lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan sipenerima)" ;-)? Tetapi mungkin si Bintang ini bukan Muslim, jadi nggak baca Al Quran ;-)

So, dengan santun gw ucapkan terima kasih. Tetapi tetap gw nggak mau terperdaya untuk bayar 3jt :-) Kecuali kalau memang ada bukti gw WAJIB membayar :-)

------ SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 14:48

Oh, terima kasih kalau tulus mau bantu. Cuma saya heran mau bantu kok pakai memaki2 segala :) Tapi tdk usah dibantu deh, tuntut secara resmi saja. Kita selesaikan di pengadilan :)

Dan seperti gw duga, jawaban ini membuat mereka menjadi kasar... HAHAHAHA... Simak percakapan berikut ini:

------ SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 14:56

Perlu ibu tau ini ga ada hbgnnya ama polisi yg teramat penting adalah hukum moral apalg ibu anda sdh berumur anda selaku anak dimana bakti anda?Banyak nasabah saya ga menutup kemungkinan keluarga ya byr kalau memang ibu tdk mau ksh no hp ibu anda jgn menghindar krn thn 06 ibu anda pernah minta diskon setelah deal tdk ada pmbyrn sampai sekarang tlg anda seret ibu anda ke citibank tunjukkan moral manusianya masa mau coba pinjan uang ga akan bisa ibu

------ SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 14:59

Hahaha.. Urusan hutang piutang itu masuk hukum perdata, Mas!
Silakan perkarakan saja deh, ini urusan hukum, bukan moral. Perlu saya kutipkan pasal UU Perdatanya ;)? Lagian, mana bisa Citibank besar kalau manajemennya manajemen moral :) Emangnya bank-nya Mohamad Yunus? Bank syariah aja gak main moral2an. Hutang ya masalah hukum. Ok?

------ SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 15:06

Kasihan saya jd liat anda blg aja ibu anda kalau ga ada uang jgn sok org kaya dan team khusus akan tagih kermh susah bicara dgn manusia tdk bermoral

Yah, mau dibilang nggak bermoral juga gw nggak masalah kok ;-) Gw kan nggak pernah peduli kata2 orang ;-) Kalau cuma dikatain dan difitnah, gw udah kenyang ;-)

Lagipula, gw lebih gak suka dikenang sebagai orang BODOH yang bayar 3jt pada orang nggak jelas, daripada disebut "tidak bermoral" ;-)

Dan lihat bagian SMS si Bintang ini yang gw bold ;-) Aneh banget gak sih ;-)?

Kalau memang benar nyokap gw berhutang, mestinya si Bintang ini punya data2 lengkap nyokap gw dong! Termasuk nomor HP dan rumah nyokap gw ;-) Wong data nasabah pasti tercatat dan diverifikasi oleh bank sebelum mendapatkan persetujuan kartu kredit ;-) Lha, kok malah dia nggak tahu nomor HP nasabah yang dia kejar? Malah tahu2nya nomor HP gw yang providernya aja belum berdiri saat nyokap gw bikin kartu kredit itu! Aneh banget gak sih ;-)?

Makin yakin gw bahwa gw berurusan dengan sekelompok penipu ;-) Makanya malah makin gw mainkan jurus Devil's Advocate gw. Pingin tahu sejauh mana logika dan persiapannya :p

------ SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 15:07

Ya sudah. Anggap saya tidak bermoral. Saya nggak keberatan kok ;)

Ohya, kalau mau datang ke rumah bilang2 ya, nanti saya siapkan suguhan :) Suka donat :)?

Lagipula, ngapain Anda kejar2 saya? Memangnya “Emergency Contact” SINONIM dari “Penanggung Jawab” :p?

Dan jawabannya, seperti sudah gw duga, makin melantur tur tur... ;-)

------ SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 15:30

Itu khan ibu anda?Bkn mslh ec tp itu ibu anda yg lahir dari rahimnya?Blg jgn menghindar kayak maling

Deuh! Apa hubungannya hutang kartu kredit dengan lahir dari rahim siapa ;-) Ganti jurus nih ye... jurus "moral" ;-) Either too naive, or plainly too stupid to differentiate between "law" and "morality" ;-) Makanya dengan "tulus iklas dan siap membantu", gw coba ajarkan batasan yang TEPAT ;-)

------ SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 15:43
Subject: Ya masalah, dong!

Ya masalah, dong! Secara hukum, Anda sudah bisa saya tuntut melakukan hal tidak menyenangkan karena memaki2 saya pdhl saya gak punya salah. Semua orang dimata hukum bertanggung jawab atas dirinya sendiri! Emangnya bisa, kalau Anda melanggar hukum lantas Ibu/Bapak Anda yang dituntut :p?

------ SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 15:55

Hukum apa?Ini hukum moral dimana moral ibu anda?Itu saja sgr bayar


HUAHAHAHAHA... Hukum moral? Apaan tuh? *mata ngedip sebelah*

Kayaknya mesti gw kasih tautan ke tulisan gw yang ini ;-) Bahwa "moral" bukan "hukum". Hukum itu jelas aturan benar-salahnya, sementara moral itu acuannya prinsip/kepercayaan. Sesuatu yang tergantung pada norma, dan tidak secara jelas dituangkan dalam bentuk aturan baku seperti hukum.

Lha, kalau "hukum moral" kayak apaan tuh? HAHAHAHA...

Lightly, I tried to put some sense in her 486-class processor brain:

------ SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 15:56

Anda ini Citibank atau FPI sih? Klo FPI sih emang urusannya moral. Kalau Citibank, sebuah perusahaan berbadan HUKUM, mestinya sih ngomongin hukum ya :p?

------ SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 16:05

Anda tau?Hukum kartu kredit hukum moral paham?

HUAHAHAHA... masih nggak ngerti kesalahan terminologinya dia ;-) Terpaksa disentil lebih keras:

------ SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 16:08

Hahaha… Semua yang berkaitan dgn badan HUKUM adalah hokum. Bukan moral :p Lagian mana ada “hukum moral” ck ck ck…
Moral tuh, ya, misalnya ketika memaki2 orang yg tidak bersalah ketika kesal :) Secara hukum tidak salah, tetapi secara MORAL tidak tepat. Ngerti ;)?

Dan... TOUCHE! Sentilan gw nembus! BULL'S EYE!

From then on, this grifter became more and more aggressive ;-) Simak percakapan berikut:

------ SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 16:16

Lw bgo y, cm sgtu pngertian moral bg lw. Gw ksi tau lg moral tu ap?Moral apabila seseorang mlakukan yg tdk bnar dmata hukum n agama prbuatan yg tdk bs dpertanggungjawabkan,ya spt kamu dan ibumu
Agar ibu loe tenang kalau mati jgn sampai htg dibawa mati

------ SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 16:21

Oooh, gitu ya ;)? Lha, kalau yang Anda lakukan ini, pura2 "membantu" agar dapat 3jt, namanya apa ;)

Moral itu kaitannya dengan "baik-buruk", kalau dengan "benar-salah" namanya hukum :) Kalau di Islam, moral kaitannya dgn aqidah, hukum dgn syariah. Tuh, kan, beda :p

------ SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 17:20

Ya dg pngertian lw ma ibu lw itu tmasukda mlanggar aqidah n syariah. Kn lw bdua da pake n nikmati dana dr citibank (wktu itu ibu lw mhon2 pinjam dana k cb),klu ga lw ma ibu lw balikin ntu namany ap?Da lha jgn bnyk ngmong kyna omongn lw mo mnghindar aj dr aqidah n syariah

HAHAHA.. tuh, kan, Bintang ini pasti nggak paham apa yang gw omongkan;) Nggak bisa bedakan antara syariah dan aqidah rupanya ;-)

Nggak heran sih ;) Sejak dia bawa2 moral di atas memang sudah aneh. Kalau dia paham, mestinya dia tahu bahwa kewajiban gw membayar hutang ortu gw adalah jika beliau sudah meninggal. Hutang itu termasuk warisan kan ;)? Tetapi selama ibu gw masih hidup, ya ibu gw bertanggung jawab atas diri sendiri. Perkara nanti ibu gw perlu bantuan gw untuk menutup hutang, itu urusan ibu gw dengan gw. Bukan urusan pemilik piutang ;)

OK, sudah melantur tuh orang. Waktunya kembali ke fokus awal :) Mau dibayar? Buktikan bahwa gw memang WAJIB membayar ;-)

------ SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 18:20

Saya patuh pada hukum negara Indonesia kok. Kalau pengadilan bilang saya harus bayar, ya saya bayar. Nggak usah pakai korting2an segala seperti yg Anda tawarkan :p Tapi kalau yg nagih cuma tukang maki2 .. "Sorry, sorry, sorry, Jek" :p Jelas ;)? Ditunggu langkah hukumnya :)

As clear as the blue sky, kan ;)? Gw sudah tawarkan win-win solution. Harusnya sih dia terima hal ini, KALAU BENAR dia dari Citibank dan nyokap punya hutang di sana. Tinggal Citibank gugat aja, serahkan buktinya, dan nyokap gw akan terpaksa membayar.

Tetapi kalau dia penipu, ya akan mencoba menghindar sedapat mungkin. Seperti yang ia lakukan berikut:


------ SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 18:29
Subject: Klu lw patuh ma hukum indonesia...

Klu lw patuh ma hukum indonesia hrsny lw bayar hutang ibu lw k citibank ga usa lw pduli ma gw klu mang niat byar hutang!! N ga plu msti pngadilan yg suru lw byar hutang, masa lw lbi patu ma pngadilan drpd ma Tuhan.Plu lw tau hukumny hutang BAYAR!

Hahaha... lucu juga baca argumennya ;-) Setelah maki2 gw, dia bawa2 nama Tuhan sebagai dasar? Pakai merasa bahwa dirinya "instrumen" Tuhan lagi! Penyampai "wahyu" dari Tuhan ;) Makanya kalau gw memilih pengadilan, instead of bayar dia langsung, artinya gw "lebih patuh pada pengadilan daripada Tuhan" :)

*eh, tapi gw rasa, penulis SMS yang ini beda dgn yang awal. Lihat perbedaan bahasanya. Bukan cuma beda intonasi persuasif jadi agresif, tetapi yang terakhir ini gaya nulisnya rada alay. "Ada" jadi "da", "patuh" jadi "patu", dan "loe" jadi "lw"... hehehe... Alay banget gak sih ;)?*

Sambil kasih argumen balasan, gw jadikan dia hiburan siang. Sekaligus memvalidasi kata2 sebelumnya di awaaaal tadi bahwa kantornya di Menara Jamsostek ;)

------ SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 18:43
Subject: Saya kan nggak berhutang?

Saya kan nggak berhutang? Jadi nggak ada hukumnya saya harus bayar :p. Eh, si Dina kok gak nelfon dari nomor +622183702590 lagi? Takut ketahuan itu bukan nomor daerah Menara Jamsostek ya? :*

Dan... HAHAHAHA... some people just don't know when to surrender ;-)

------ SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 18:49
Subject: Eh lw itu bhutang moral ma ibu lw.

Eh lw itu bhutang moral ma ibu lw. Ibu lw kn mnghndar dr citibank jd ga sala klu gw tagi k lw.Asal lw tau lw bsar scara tdk lnsung dr citibank.Jd klu lw ga mrasa bhutang jambak ibu lw k cb tuk bayar ap yg dia pake.

HAHAHA.. makin lucu aja ;-) Gw dibilang berhutang moral sama nyokap, TETAPI dalam satu tarikan napas yang sama gw disuruh "jambak" ibu gw dan dibawa ke Citibank? Gimana caranya gw menunaikan the so-called "hutang moral" dengan cara yang "tidak bermoral" ;)?

Makanya makin gw tanggapi dengan santai orang ini. Gw biarkan dia berputar2 dengan argumen "moral"-nya, sambil gw ajak bermain matematika. Mencongak hutang bunga-berbunga selama 14 tahun: kalau hasil akhirnya 6.8jt, padahal bunga sekitar 3.5% per bulan, maka hutang pokoknya berapa ya ;)?

Ini catatan percakapan selanjutnya. Nggak terlalu penting gw bahas, tapi boleh aja kalau mau dibaca. Paling yang mau gw highlight SMS yang terakhir di kutipan ini:

------ SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 18:52

Haha.. Besar karena Citibank ;)? Get real :) Mosok biaya membesarkan saya cuma 6.8jt :p

------ SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 19:03

Itu kn sisa tagihany bkan pmakaiany,bgo lw y. Blang ma ibu lw citibank da bgtu baik n tugu lm kdatangnny jg ga sabar dia byar hutangny!! O Ya bkn dina lg yg hndle ibu lw tp skr gw!

------ SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 19:08
Subject: Ngapain jg Citibank susah2 nagih...

Haja.. Kalau sisa tagihan PLUS bunga selama 14 thn cuma 6.8jt, berarti hutangnya gak banyak dong :p
Ngapain jg Citibank susah2 nagih stlh 14 thn cuma buat recehan ;)? Get real :)

------ SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 19:13

Besar n receh ttp aj yg namany utang ya utang jd lw yg mstiny GET REAL. Nah lw da sadar kan, skr cpatlah antar ibu mu k cb tuk slsaikan hutgny.

------ SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 19:21

Lho, saya sdh get real dari tadi ;) Asal ada keputusan hukum yg sahih, saya bayar. Klo cuma tukang maki2 yg nagih sih no way :p Apa susahnya sih Citibank nuntut ke pengadilan :p?

------ SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 19:25

Duh dulu waktu ibu lw pake dana citibank aliaz msi aktiv ga libatkan pngadilan ko da nunggak skr libatkn pngadilan. Dmn get real lw??

------ SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 19:31

Haha, dimana2 kalau ada dispute ya ujungnya pengadilan. Bukan cuma kirim tukang maki2 :) Yang heran kenapa Anda susah banget ya diajak ke pengadilan :p?

------ SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 19:42

Lw ga malu y tuk byar 6,8 jt hrz pake k pngadilan.Kcil bgt hrga diri n nyali lw. Sbnarny ni ga plu dispute klu ibu lw ga susa tuk slsaikn hutangny n sdar klu dia btanggung jwb dg yg dia nikmati aplgi dulu pinjamny baik2.

------ SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 19:47

Gak, saya tidak malu :) Itu sesuai prosedur. Jadi jika Anda ingin dibayar, lakukan sesuai prosedur hukum. OK? Case closed.

------ SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 20:06

Hey, lw bukn byar k gw tp k citibank omongan lw gayany tnggi tp otak lw bgo.Case iz closed klo your mom pay hutang k cb!!

------ SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 20:07

In that case, mari kita ke pengadilan :) Jangan cuma berbalas SMS :)

------ SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 20:13

No, in this case no need to use the law but u need to pay your mom crdit card billing or let me tell n speak to ur mom.

Deuh, Neng, Neng :) Dari awal juga siapaaaaaa yang melarang situ ngomong ama nyak gw???? Kagak ade, Neng, kagak ade!

Dari awal pan aye udah bilang: perkarain aja nyak gw ke polisi, ke pengadilan. Situ kan punya datanye ;)?

Nah, kalo ente sekarang minta disambungin ama nyak aye, aye pan nyang bingung: situ nagih nyak gw tapi kagak punye nomor HP-nye. Malah punyanye nomor HP aye yang PASTINYE kagak ade di formulir aplikasi nyak aye ;)? Pigimane sih, Neng?

POKUS, Neng, POKUS ;) Nih, aye bantuin ye:

------ SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 20:18

Go ahead! Talk to her! But I stand my ground: payment will only be made upon a court's order! We'll not gonna pay just because an unknown individual harrassed us. So go ahead! Sue my mom!


And as I've predicted, here came the final answer. The kind of answer that made me smugly smiled:

------ SMS ------
From: +6281382851128
Received: Nov 5, 2010 20:25

Okay, I can not sue ur mom but trust me God will sue ur mom in the hell!!

You can't sue my mom, eh? I've thought so ;-) Because you're nothing but a bunch of grifters :)

Dan sebagai kata akhir, gw sampaikan jawaban berikut ini:

------ SMS ------
To: +6281382851128
Sent: Nov 5, 2010 20:27

Why can't you sue my mom ;)? Not enough proof :p? As for the afterlife, let God be our judge :)

Untuk sementara, mereka diam. Tapi gw yakin mereka mirip dengan Arnold Schwartzenegger di "The Terminator". They'll be back ;-) Mungkin lusaaaa, atau di lain hari ;-)

*eh, yang terakhir itu mah Koes Plus ya ;-)?*

***
Apa analisa gw tentang kejadian ini?

Hmmm.... ada beberapa kemungkinan. Salah satu kemungkinan yang hendak gw bagi di sini adalah: ini sejenis penipuan gaya baru. Versi lebih canggih daripada "Mama Minta Pulsa" ;-)

Kemungkinan, terjadi kebocoran data dari salah satu formulir aplikasi kartu kredit gw; entah dari bank yang mana. Bahkan belum tentu juga aplikasi gw yang di Citibank. Di aplikasi kartu kredit, kita kan harus menuliskan nama ibu kandung DAN nomor HP kita yang aktif toh? Hal ini menjelaskan bagaimana dia mendapatkan nomor HP gw yang TIDAK MUNGKIN ada di aplikasi kartu kredit nyokap gw tahun 1992 ;)

Begitu tahu nama ibu kandung gw, mereka tinggal pura2 aja ibu gw berhutang. Gebrak dengan makian supaya gw panik dan bayar. Atau supaya gw jengkel dan bayar.

Menentukan angka berapa yang mereka minta untuk "menganggap lunas" hutang? Gw rasa dari data tentang limit kartu kredit yang gw dapatkan. Dasar dari dugaan ini adalah karena beberapa waktu yang lalu seorang teman di kantor pernah juga "kena" modus operandi seperti ini: ada yang telepon, ngakunya dari bank-nya, dan mau membantu memutihkan hutang dengan "cukup" bayar Rp 500.000. Uangnya dibayarkan tunai oleh teman gw di kantor, dan... tetap saja hutangnya nggak diputihkan ;-)

Lho, data nasabah kan terjamin kerahasiaannya? Hmmm... memang. Tetapi kan juga ada batas penyimpanan formulir yang sifatnya fisik. Anggaplah formulir fisik harus dimusnahkan setelah data di-entry ke dalam sistem, atau setelah kurun waktu tertentu. Nah, siapa yang jamin tidak ada data tercecer? Atau dicecerkan oleh oknum? Seperti yang dialami oleh kupon undian hipermarket di cerita gw ini.

So, cerita ini gw bagikan kepada publik agar publik semakin berhati2 ;-) Dan supaya bank2 di Indonesia, terutama Citibank yang namanya dicatut di sini, lebih berhati2 dengan data nasabah.

Dan in case para penipu itu baca blog gw (which is QUITE possible, since they seem to know my tendency of speaking fully in English whenever I want to make a point), coba beli DVD bajakannya Leverage sana! Belajar jadi grifter yang baik :p

______
NB: Terima kasih pada fitur "Forward as Email" dari Blackberry, yang memungkinkan gw langsung co-pas isi SMS tanpa harus ketik ulang ;-)

Thursday, September 09, 2010

9/10

Right after I received this tweet from Newsweek, I began browsing for Terry Jones and his Dove World Outreach Center. Well, as a Moslem and a part of the universe, I wasn't really worried about his intention to set the holy Quran ablaze. It seemed that he didn't get a lot of support anyway. But as usual I couldn't resist the temptation to analyze his personality; what kind of person he was, what logic he had behind the "Burn the Koran Day". And as usual, I was intrigued to leave some cynical, or sarcastic, message on their website.

I found their website without any difficulty. But I didn't leave any comment there. Instead, I had a good laugh reading their articles. Geez! I was amazed by their delusion :-) Their rants and rambles were - in my not-so-humble opinion - too bizarre to convince any people who could keep their head cool :-)

Take a look at the article called 10 Reasons to Burn a Koran. Anyone could see that all they have is accusation and prejudice - without any logical evident to support. Here are some examples of their accusation, and how easy it is to show their logical fallacy :)

One

The Koran teaches that Jesus Christ, the Crucified, Risen Son of God, King of Kings and Lord of Lords was NOT the Son of God, nor was he crucified (a well documented historical fact that ONLY Islam denies). This teaching removes the possibility of salvation and eternal life in heaven for all Islam's believers. They face eternal damnation in hell if they do not repent.


There is a huge difference between denying the occurence of crucifixion and denying the identity of those who were crucified. If only they read the Koran carefully, at least An Nisa QS 4: 157 - 159 part, they will realize that Islam only denies that Jesus Christ was the Son of God :-) Islam never denies the "well documented historical fact" that there was a crucifixion :-)

It is said: That they said (in boast), "We killed Christ Jesus the son of Mary, the Messenger of God";- but they killed him not, nor crucified him, but so it was made to appear to them, and those who differ therein are full of doubts, with no (certain) knowledge, but only conjecture to follow, for of a surety they killed him not:-

See? There is no denial towards the "well documented historical fact" of crucifixion :-) We just deny the identity of the person they crucified ;-) Since we put that person - who you believe as Son of God - as something extra-ordinary. Someone God love so much to save and raise up :-) Nay, God raised him up unto Himself; and God is Exalted in Power, Wise;-, the Koran says.

I had a good laugh reading this first reason, because they have served their logical fallacy right from the beginning ;-) See the first sentence? They mix up the "well documented historical fact" with their own belief :-) The "well documented historical fact" only proves that the crucifixion happened. It does not prove the identity of the condemned. It is their belief that links the "well documented historical fact" with the identity of that person. And now they think they hold the truth ;-)? What a logical fallacy :-) From the way I see it, the same "well documented historical fact" supports BOTH Islamic and Christianity's belief :-)

Two

The Koran does not have an eternal origin. It is not recorded in heaven. The Almighty God, Creator of the World, is NOT it's source. It is not holy. It's writings are human in origin, a concoction of old and new teachings. This has been stated and restated for centuries by scholars since Islam's beginnings, both Moslem and non-Moslem.


This so-called 2nd reason made me laugh even more :-) They are so sure to say Koran is not this, Koran is not that. But.... anyone notice that they fail to mention even ONE single argument to convince others ;-)? Who the scholars that made the statement? What statement did they make?

I don't know how others will take it. But I always look for a convincing proof before accepting something as a truth ;-)

***

I won't bother to criticize or comment the rest of the articles ;-) At the end of the day, I realize that this congregation does not need any comment from me. They are not a bunch of Islam-haters; they are just a bunch of people who are so lost in their own delusion. It's not prejudice towards Islam they have; it's delusion. So deluded they are, that they even think that the best way to fight Islam is by doing what is forbidden by their own religion: committing violence.

This phenomenon gives us a very important learning: no matter how GOOD the teaching of your religion is, fanatism will always lead us to BAD act. That fanatism and the not willingness to listen objectively to what others believe in are the root of all prejudice and violence.

John Lennon once sang that the brotherhood of man might come when there is no possession, no countries, no religion. Well... I don't share the same belief with him. I think the brotherhood of man depends on how we learn to practice our empathic skill towards diversity. We don't have to extinguish all the difference; we just need to learn to accept them.

... and let God be your judge of what the Truth is ;-)

As in Al Maaidah QS 5: 48 says, we mortals never know what the Truth is ;-) It's the prerogative of God. If God had so willed, He would have made you a single people, but (His plan is) to test you in what He hath given you: so strive as in a race in all virtues. The goal of you all is to God; it is He that will show you the truth of the matters in which ye dispute

Happy Eid Mubarak, September 10. Nine years ago, 9/11 was a tragedy. Let's make 9/10 event a remedy for that.

Tuesday, August 31, 2010

Rumah Ibadah dan Hal-hal yang Tak Selesai

Hari ini baca twit-nya @NitaSellya yang mengutip @barijoe: "soal Ahmadiyah menteri agama turun tangan. soal konflik mengenai rumah ibadah agama lain bungkam". Tadinya sih cuma iseng merespons bahwa Ahmadiyah memang urusannya Menteri Agama, sementara konflik rumah ibadah - meskipun obyeknya berkaitan dgn agama - lebih merupakan urusan Dinas Tata Kota. Tetapi... setelah keisengan itu, gw jadi browsing2 tentang konflik rumah ibadah ini. Dan menemukan emotional push buat nulis entry baru setelah baca blog ini ;-)

Tahu kan, gw paling alergi kalau baca argumen yang cacat pikir, yang seolah2 logis padahal penuh prasangka dan/atau dilandasi dasar pengetahuan yang tidak memadai? Argumen asal jeplak! Dan posting, maupun komentar2 di comsys-nya, menurut gw termasuk argumen seperti itu. Dimulai dari argumen pembukanya:

Apa mereka tidak sadar ya, kalau masjid mau tidak pakai ijin, mau lebih dari enam di satu RT, tidak ada yang segel. Kalau alasannya berisik, apa ada yang protes kalau corong speaker Toa setel kaset sampai subuh? Kalau alasannya kristenisasi, apa ada yg nuduh islamisasi kalau masjidnya ada 10 di satu RT? Apa ada yang protes kalau syiar dan dakwah terang -terangan mulai dari bagi-bagi daging kurban sampai wakaf Quran, tidak ada yang marah.

Entah sampai kapan penganut agama yang mengaku damai dan toleran ini sadar? Apa sampai Tuhan memberikan gempa dan tsunami lagi supaya tidak ada satupun rumah ibadah berdiri?


Hehehe... gw gak akan bahas deh, kalimat penutupnya yang tendensius itu ;-). Gw juga nggak akan bahas juga ceracauan tentang syiar/dakwah terang2an dengan Wakaf Al Quran ;-) Gw anggap saja itu ketidaktahuan seorang rekan non-Muslim, bahwa ada syarat2 yang harus dipenuhi untuk menjadi penerima wakaf. Dan khususnya tentang Wakaf Al Quran, seperti disitir di situs ini, target penerima wakaf Al-Quran ini adalah yayasan-yayasan Islam, Masjid dan Mushola, Majlis Taklim yang memang layak untuk menerimanya. Jadi dijamin nggak ada islamisasi di sini... hehehe... Al Quran ini nggak dibagi2 kepada mereka yang non-muslim kok ;-) Jangan takut ;-)

Gw lebih tertarik ngebahas sisi statistiknya aja, yang dijabarkan di kalimat pembuka ;-)

Uhmmm... gw belum pernah dengar sih ada mesjid sampai 6 di satu RT, apalagi sampai 10. Tetapi anggaplah si penulis blog memang punya datanya, dan bukan asal jeplak secara emosional. Pertanyaan gw: so what? Jika ijin diberikan kepada mereka, sementara ijin yang sama tidak diberikan untuk membangun SATU gereja saja, apakah itu berarti diskriminasi?

Hmmm... kalau kita berpegang pada Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9/2006 atau 8/2006 sih sah2 aja. Dalam Pasal 14 ayat 2, jelas dikatakan kok bahwa syarat pendirian rumah ibadah adalah (a) Daftar nama dan KTP pengguna rumah ibadah paling sedikit 90 orang yang disahkan oleh pejabat setempat sesuai dengan tingkat batas wilayah, dan (b) Dukungan masyarakat setempat paling sedikit 60 orang yang disahkan lurah/kepala desa.

Dengan fakta bahwa penduduk Indonesia mayoritas muslim, apalagi di Pulau Jawa yang kepadatan penduduknya tinggi, mendapatkan 45 keluarga batih yang akan menggunakan mesjid di satu RT bukan hal yang susah. Apalagi kalau keluarga itu bukan keluarga batih; ada bapak/ibu/mertua/tante/oom/anak/mantu yang juga sudah punya KTP. Kuota KTP 90 orang pengguna rumah ibadah mungkin hanya butuh 15 - 20 keluarga saja :) Masih dengan fakta mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim, dukungan 60 orang juga menjadi lebih mudah didapat.

Hal ini menjadi sulit bagi umat beragama lain, contohnya Kristen atau Katholik. Mereka butuh wilayah cakupan yang lebih besar untuk berhasil mengumpulkan 90 orang pengguna. Menjadi lebih sulit lagi karena aliran dalam Kristen itu banyak. Masing2 aliran punya detail ritual ibadah yang berbeda, sehingga butuh gereja sendiri2. Nggak bisa berbagi gereja secara permanen.

Akibatnya, jika di satu RW bisa nemu 100 keluarga Muslim (yang berarti punya 200 - 600 KTP calon pengguna mesjid, dan bisa bikin 2 - 7 mesjid), mungkin baru bisa nemu 20 keluarga Kristen di satu kelurahan. Harus menggalang KTP dari lokasi yang lebih luas lagi, mungkin kecamatan atau kotamadya, untuk mendapatkan 90 KTP calon pengguna gereja.

Lebih repot lagi ketika dari 20 keluarga itu yang 5 keluarga gerejanya HKBP, yang 7 Gereja Baptis, yang 4 Gereja Kristen Jawa, dan sisanya gereja2 lain. Tentunya akan butuh radius yang lebih luas lagi sekedar untuk membuat satu gereja.

Dan di sinilah potensi konflik muncul ;-)

Ingat kan, ada Pasal 14 Ayat 2 bagian B? Tentang harus mendapatkan dukungan dari minimal 60 penduduk sekitar? Dengan sebaran umat di radius yang sangat luas, berarti akan sulit menemukan radius kecil yang bersedia "ketempatan" suatu bangunan yang tidak akan mereka pergunakan. Sulit menemukan masyarakat yang OK saja daerahnya akan didatangi ratusan orang2 setidaknya 1 hari seminggu.

Memang, orang Indonesia adalah masyarakat toleran; yang dengan gampangnya nutup jalan kalau ada perkawinan/kematian. Tapi jangan lupa: orang Indonesia ini adalah masyarakat yang sama dengan mereka yang memasang penghalang jalan di kompleksnya agar mobil2 yang tidak dikenal tidak merusak aspal mereka ;-) So... adalah sesuatu yang wajar (dan tidak sepenuhnya rasis) ketika masyarakat tidak mendukung berdirinya sebuah rumah ibadah yang akan digunakan oleh orang2 tak dikenal di tempat mereka.

Sampai di sini, gw masih melihat bahwa penolakan terhadap pendirian gereja sebagai reaksi yang normal (dan tidak sepenuhnya rasis). Dan masih bisa mengerti - meskipun tidak ikut mendukung apalagi berperan serta aktif - dalam aksi penutupan gereja.

Nah, kalau begitu, apa dong win-win solution yang bisa ditawarkan? Apakah kalau begitu biarin aja umat non-Muslim keleleran dimana2 tanpa rumah ibadah? Apakah kita harus menghalangi mereka beribadah, hanya karena mereka tersebar di kantong2 pemukiman?

Gw terpikir satu solusi yang mungkin bizarre, tetapi bukan tak mungkin terjadi - jika pemerintah mau menjalankan tugasnya sesuai Pasal 14 ayat 3: dalam hal persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat 2 huruf a terpenuhi sedangkan persyaratan huruf b belum terpenuhi, pemerintah daerah berkewajiban memfasilitasi tersedianya lokasi pembangunan rumah ibadah. Semacam ide lebih sederhana, dan lebih prakmatis, daripada jabaran opini ini.

Konsep bizarre ini gw namanya: Church Center ;-)

Iya, gw tahu bahwa kalau masing2 aliran dalam Kristen/Katholik mau bikin gerejanya sendiri2, maka pemenuhan syarat Pasal 14 ayat 2 huruf a itu sulit sekali. Apalagi Pasal 14 ayat 2 huruf b! Tetapi... jika mereka mau bersatu padu menggalang dukungan untuk membuat satu gereja saja, maka kesulitan itu dapat dikurangi (dan mudah2an berkurang secara signifikan).

Lho??? Gimana caranya bikin satu gereja??? Kan ritual ibadahnya lain2!!!

Ntar dulu... :-)

Kita bikin gedung gerejanya satu saja, tapiiiiiii....... tingkat lantainya banyak! Jadi konsepnya kayak gedung kantoran gitu. Masing2 kongregasi/aliran bisa dapat beberapa lantai. Kalau kita bisa bikin satu Church Center segede Pacific Place, atau Mal Taman Anggrek, atau Grand Indonesia, di setiap kotamadya, mosok sih problem tidak teratasi?

Lho, nanti jadinya lebih gampang dong nge-bom gereja, kalau semuanya di Church Center??

Gw pikir malah lebih sulit dong! Karena malah akan lebih mudah menjaga keamanan di satu lokasi besar daripada di beberapa lokasi terpisah. Jadi, dari segi keamanan, Church Center lebih aman.

Lha, emangnya gampang dapat tanah segede Grand Indonesia?

Yaaah... enggak sih ;-) Susah! Tanah mahal... hehehe.... Tapi, di situlah peran serta pemerintah sesuai Pasal 14 ayat 3 diperlukan. Tugas merekalah menentukan dan memfasilitasi berdirinya Church Center. Dan gw yakin pemerintah bisa melakukannya, kalau mereka mau. Kan tinggal konversi peruntukan tanah aja! Daripada tanah2 semua jadi mal, mendingan sebagian didedikasikan untuk rumah ibadah kan?

Tapiiii... kalau satu kotamadya cuma ada satu Church Center, sebagian umat akan kesulitan dong mencapainya?

Yaaah... itu memang satu masalah sih. Tapi... let's face it. Kita2 ini kalau mau ke mal, seberapa jauh juga dijabanin. Yakin bahwa umat tidak akan melakukan hal yang sama demi beribadah? Gw sih yakin, kalau keimanannya kuat, hal ini akan dilakukan. Jadi, kalau mereka tidak melakukannya, itu masalah keimanan yang gak kuat ;-)

Masih ada yang keberatan dengan usul ini?

Hmmm... mungkin ada yang mikir bahwa ini bentuk lain dari diskriminasi terhadap minoritas. Nggak adil, karena kalau Muslim bisa bikin mesjid dimana2, sementara kaum minoritas harus berada di satu lokasi. Mirip seperti ghetto jaman holocaust dulu!

Well... untuk yang ini, gw terpaksa bilang bahwa keadilan itu juga harusnya proporsional. Tidak sama rata sama rasa ;-) Gw rasa jabaran mengenai keberatan masyarakat "ketempatan" gedung yang tidak akan dipakainya juga merupakan sebentuk ketidakadilan. Sudah dibayangkan bahwa jalanan di lokasi pemukiman mereka akan lebih cepat rusak karena setidaknya seminggu sekali didatangi ratusan orang dari tempat lain?

Sebagai catatan, di negeri2 yang muslimnya bukan mayoritas, bikin mesjid juga sama susahnya kok. Bahkan di beberapa negara yang gw kunjungi, mesjid terdekat bisa jadi adanya di kota lain. Masih ingat kan, belum lama ini Hamburg menyegel sebuah mesjid? Alasan resminya sih karena dicurigai itu tempat rekrutmen Al Qaeda, tapi... kalau menurut gw sih, tangkap saja rekruternya. Nggak perlu nutup mesjidnya juga kan ;-)?

So, apa yang gw ajukan ini mungkin memang bukan yang ideal, tetapi bukan berarti diskriminasi :-) Ini sebentuk keadilan yang proporsional.

***

Konsep ini adalah konsep tatakota kedua yang gw jabarkan di blog ini. Sebelumnya, gw pernah menyinggung tentang ide bahwa motor harus dilarang atau dijadikan satu2nya transportasi ;-) Emang sih, di situ singgungannya bernada nyindir... tetapi.... setidaknya itu beberapa langkah lebih maju daripada pemerintah Jakarta yang baru sekarang2 mikirin pembatasan motor.

Kalau konsep Church Center atau derivat2nya kelak dikembangkan juga oleh pemerintah... hmmm... kayaknya gw layak ya, jadi ahli tata kota? HAHAHAHA....

---------
Credit Title:
Judul posting dimodifikasi dari bukunya Goenawan Mohammad yang berjudul "Tuhan dan Hal-hal yang Tidak Selesai". Gw merasa judulnya pas banget untuk dipinjam... karena posting ini membahas hal-hal tidak selesai yang berkaitan dengan beribadat kepada Tuhan ;-)

Friday, August 27, 2010

Menunggu Perot

Mencermati kasus terkini pertikaian antara Indonesia dan Malaysia, pikiran gw melayang pada posting gw beberapa bulan yang lalu. Unus pro omnibus. Mungkin sudah waktunya ada karya baru: "Menunggu Perot" ;-)

Perot adalah tokoh dalam posting gw beberapa bulan lalu ini. Si Unus yang melakukan segalanya untuk para Omnibus. Tetap dengan jalur hukum yang formal, tetapi juga menyiapkan sebagai clandestine operation sebagai Plan B. Jadi tidak cuma melulu mengirim surat keberatan ke Kemlu. Dan clandestine operation-nya tetap taktis, terencana dengan baik, tidak terpengaru ide bizarre dari orang lain seperti menggunakan TKI sebagai amunisi. Terus terang, menarik pulang TKI sebagai bentuk protes terhadap Malaysia adalah ide yang menurut gw konyol. Eh, nggak malu apa, mau pakai TKI sebagai senjata? Setelah selama ini kalau TKI diperas sana-sini kalau pulang ke Indonesia, dan bantuan lama banget datangnya kalau ada TKI yang bermasalah?

Perot juga gw pilih karena berima dengan Godot. Itu membuat "Menunggu Perot" tambah cocok menjadi parodi dari "Menunggu Godot". Sebuah cerita tentang penantian terhadap si Perot, tokoh penyelamat yang akan membebaskan kita dari semena2an tetangga yang ngeselin. Penantian yang sia2, karena dari hari ke hari tak kunjung muncul. Atau lebih tepat dari kasus ke kasus tak kunjung muncul. Sementara para Vladimir dan para Estragon masih tetap menunggu entah sampai kapan

VLADIMIR: We'll hang ourselves tomorrow. (Pause.) Unless Godot comes
("Waiting for Godot" - Act 2)

Perot, juga merupakan metafora yang pas untuk mengingatkan mengenai apa yang akan terjadi pada kita jika cerita terus bergulir bak "Menunggu Godot", hingga tirai pertunjukkan tertutup kembali.

VLADIMIR: Well? Shall we go?
ESTRAGON:
Yes, let's go.

They do not move.
("Waiting for Godot" - Act 2)

Jangan tergesa berpikir bahwa jika mereka tak bergerak, maka semua OK. Tak bergerak, bisa jadi karena mereka tak bisa bergerak. Apalagi jika mulutnya perot, bisa jadi itu adalah gejala stroke.

Dan stroke dapat terjadi akibat menahan geram yang terlalu lama.

[Kata Jamil Ayahnya Ara di Facebooknya, mari kita kirim teroris ke sana. Tapi kata istrinya, teroris di sini mah belajarnya juga di sana... ntar malah bisa2 jadi reunian. Atau kopdar. Atau bukber. Tapi kalau gw masih mau menunggu cerita bergulir. Bersikap seperti Vladimir dan Estragon. Semoga memiliki akhir cerita yang lebih baik. Mari kita menunggu Perot :-)]

Tuesday, August 17, 2010

Kasturba

Salah satu fragmen dalam film pemenang 8 Oscar, Gandhi, menggambarkan istri Gandhi menangis meratap di hadapan suaminya. Kala itu Gandhi, yang baru berusia pertengahan 30-an, sudah menjalankan prinsip Brahmacharya; sebagai konsekuensinya ia hidup selibat, menahan dorongan2 seksual agar dapat lebih mencintai orang lain secara murni. Kasturba, istri yang dinikahi Gandhi dengan perjodohan khas India, tentu menangis karena sekarang bukan saja nafkah lahirnya yang diingkari, melainkan juga nafkah batin.

Jika saja Kasturba muslim, menikah di KUA, tentu ini adalah alasan yang tepat untuk menceraikan suaminya. Dulu salah satu pasal yang ditandatangani suaminya saat ijab kabul adalah janji bahwa kalau 6 bulan lamanya istri tidak digauli, otomatis si istri bisa mendapatkan talak satu kan ;)? Tetapi Kasturba bukan muslim. Dan gw nggak tahu apakah dalam pernikahan Hindu India tersedia pilihan seperti itu juga. Yang jelas, Kasturba tetap mendampingi suaminya... hingga akhirnya meninggal dalam pelukan suaminya. Meski tanpa nafkah lahir batin lagi.

Buat gw, Kasturba ini contoh perempuan yang kuat :) Boleh saja ia tetap mendampingi suaminya hingga akhir hayat karena tidak punya pilihan untuk bercerai. Namun... gw percaya bahwa dia punya keikhlasan luar biasa terhadap nasib. Dan keikhlasannya itu yang membuat ia bisa bertahan hingga 38 tahun kemudian mendampingi suaminya - bukan saja sebagai istri, melainkan sebagai rekan perjuangan. Kasturba meninggal di pelukan suaminya ketika mereka berdua sama2 dipenjara.

Kasturba memiliki keikhlasan luar biasa yang membuatnya mampu MEMILIH untuk berdamai dengan nasibnya bersuamikan pejuang kemanusiaan seperti Gandhi yang menempatkan segalanya - termasuk keluarga - di bawah kepentingan orang banyak, dan malah menyesuaikan diri sebaik2nya dengan peran itu. Padahal, jelas... Gandhi yang didampingi hingga akhir hayatnya adalah Gandhi yang berbeda dari suami yang dinikahinya.

Gw jadi pingin menulis tentang Kasturba, perempuan kuat yang terhalang oleh bayang2 Gandhi, setelah seorang teman kuliah, Yen, membuka polemik di status FB-nya :-)

*eh, sebenarnya Yen gak bikin polemik sih... hehehehe... Cuma karena gw baca, jadilah polemik. Gw kan punya kemampuan menggolakkan percakapan damai menjadi sebuah polemik... HAHAHAHA...*

Pada awalnya Yen menceritakan sebagai berikut:

Br mengenal sekelumit kehidupan seorg aktivis besar di negeri ini...demi org byk hrs mengabaikan anak semata wayangnya...."pilihan hidup sy adlh mengurus org byk..." katanya. What's on your mind about it??

Yang kemudian, setelah gw keluarkan jurus2 mazhab siletiyah gw, diperjelasnya menjadi berikut:

@ Maya...hrsnya kata mengabaikan itu, gw kasi tanda kutip dulu kali yee...Tp seneng bgt ada ulasan darimu :)). Blh kita bahas lagi ya.....Gw kasi verbatim aja ya...

Anak:" sy pengen ayah saya py wkt sedikit aja buat saya. Ayah sy baik buat... org byk tp tdk baik buat keluarganya. Sy nanti py suami tdk mau spt ayah saya"...

Istr:i" sy udah capek berdebat dgn suami sy, lbh baik beliau sy wakafkan aja buat org byk drpd sy stress & sakit2an trs menerus"...

Suami: "sy terlahir& digariskan Allah buat org byk. & sy memang lbh memilih hidup utk org byk ..mslh anak biar urusan istri sy aja." .

Sang Mertua prnh menampar si aktivis itu, saat istrinya sakit berat & hrs dirawat dirs selama 1 thn. anaknya sempat diurus di suatu lembaga sosial sblm diambil alih oleh keluarga besar istrinya. Anak br tau si aktivis itu ayahnya saat duduk di bangku SD krn jarang pulang & wktnya lbh byk di lapangan memimpin Demo & keluar negeri cari dukungan utk perjuangannya. Tdk akan nelpon kalo bukan anak atau istrinya yg nelpon. Saat si istri sakit, dokter memvonis usia beliau hy tinggal bbrp bulan saja krn smpt dirawat di ICU hampir 3 bln dgn bobot badan hampir sama dgn anak usia 6 thn. Kejadian itu 2 thn yg lalu...

Alhamdulillah sang istri msh sehat & bs melangsungkan kehidupannya kyk semula & bs menjalankan bisnisnya utk menafkahi keluarga & membiayai perjuangan suaminya. Sempat minta cerai, tp krn pertimbangan anak beliau cabut gugatannya. Tp istrinya mengakui "saya bs sembuh & tetap hidup hingga saat ini, krn banyaknya doa dr org2 yg hidupnya diperjuangkan suami saya "... he..he...jd panjang dech..

Hehehe... tanggapan atas status Yen ini seragam: menistakan si aktivis yang menterlantarkan amanah Tuhan terbesar. Beberapa mengimbuhinya dengan tuduhan bahwa kesilapan atas ketenaran dan uang adalah alasan hingga si aktivis berbuat seperti itu. Semua seragam, kecuali - seperti biasa - tanggapan gw ;-)

Pada awalnya, gw berargumen bahwa semua orang punya pilihan. Demikian pula si aktivis, demikian pula anak dan istrinya. Seperti kata Leo Tolstoy dalam kalimat pertama Anna Karenina, "Happy families are all alike, every unhappy family is unhappy in their own way". Gw melihat bahwa as a part of one big happy family, we don't have the right to judge the unhappiness of one unhappy family. Because we don't understand their unique unhappiness.

Gw berargumen juga bahwa Gandhi mengalami hal yang sama: perjuangan kemanusiaannya juga dibangun atas "penderitaan" keluarganya. Bahwa dulu Gandhi juga punya pilihan antara tetap menjadi suami/ayah yang baik serta menafikan kesewenangan di sekitarnya, atau mengutamakan rakyat banyak dengan menomorsekiankan keluarganya. Gandhi memilih yang kedua, dan ternyata trade-off yang dia bayarkan terbayar lunas dengan perubahan yang ia buat. Kalau dulu Gandhi memilih yang pertama, Kasturba dan anak2nya akan memiliki ayah dan suami yang baik.... namun dunia akan kehilangan tokoh sebesar Gandhi :-)

Tetapi seiring perjalanan polemik, fokus gw bergulir. Ini bukan tentang Gandhi. Ini tentang Kasturba. Tentang kemampuan perempuan sebagai istri dan ibu untuk memilih :-)

Apakah si aktivis ini punya idealisme yang sama seperti Gandhi? Bisa ya, bisa tidak. Tetapi yang jelas si istri punya posisi yang sama dengan Kasturba, dan jelas mengambil pilihan yang berbeda :-) Kasturba memilih untuk ikhlas menerima Gandhi yang sudah berubah, dan sebagai konsekuensinya ia menyesuaikan diri dengan peran sebagai istri new Gandhi. Istri sang aktivis? Ia tidak berani memilih :-) Ia ingin mendapatkan semuanya; tetap ingin keluarganya "utuh" dengan nggak berani bercerai, tapi nggak bisa ikhlas menerima peran sebagai istri aktivis yang dinomorduakan. Maunya suaminya tetap seperti suami2 pada umumnya yang mendahulukan keluarga. Jengkel dengan kegiatan suaminya yang menomorsekiankan keluarga, namun menjustifikasi kesembuhannya berkat doa orang2 yang ditolong suaminya.

Menurut gw, si istri sama bersalahnya dengan si aktivis yang menjadi suaminya dalam kasus ini. Sama menterlantarkan anaknya ;-) Hanya saja, sang suami mentelantarkan anak secara fisik, sementara si istri menterlantarkan anak secara mental dengan ketidakberaniannya memilih. Kalau dia berani memilih untuk mengakhiri pernikahannya sejak dulu, si anak mungkin tidak pernah harus diurus lembaga sosial. Kalau si istri berani mengambil keputusan untuk ikhlas menjalani peran sebagai istri dari pria yang "tidak biasa", mungkin tidak harus ada perdebatan panjang, tidak harus makan hati hingga masuk RS karena sakit berat, dan sudah bisa fokus membiayai anak dengan usahanya sendiri sejak dulu.

There. I said it. Si istri sama bersalahnya dengan si aktivis terhadap si anak :-)

Seorang komentator di status FB Yen menanyakan pada gw: apakah kita rela jika suami/istri kita berlaku seperti si aktivis?

Well, sebenarnya pertanyaan ini menurut gw out-of-context... hehehe... Toh ini adalah pembicaraan tentang si aktivis dan keluarganya, lepas dari nilai2 pribadi kita. Namun, akhirnya tetap gw jawab juga dengan: kalau suami gw berlaku seperti itu, sudah dari kemarin2 gw usir dari rumah ;-) And I mean it! Wong kemarin dia ngeyel ke luar kota padahal Nara dirawat di RS aja gw omel2in kok! Apalagi kalau macem2... hehehe... Untungnya bapaknya Nara masih sadar diri untuk memangkas perjalanan dinasnya dan gantian jaga anak di RS ;-)

Gw bukan perempuan sekuat Kasturba yang memiliki kemampuan luar biasa untuk beradaptasi, se-absurd apa pun pilihan hidup suaminya ;-) Tetapi gw juga bukan perempuan seperti istri si aktivis yang nggak berani mengambil resiko, namun tetap menggantang asap suaminya berubah. I know for sure that life is not a fairy tale, babe ;-) Pada suatu titik kita harus berani untuk memilih.

Dan ketika kita tidak berani untuk memilih, maka kita punya andil kesalahan terhadap dampak yang terjadi :-) So, jangan "Milli Vanilli mode: ON" ;-) [Don't] blame it on the rain ;-)

Tuesday, July 27, 2010

Nisfu Syaaban

Hingga pukul 14:00 tadi, total uang tunai sebesar Rp 29.000 sudah gw habiskan. Dimulai dengan membeli sarapan di kantor bapaknya ImaNara; sepiring ketoprak dan segelas teh manis hangat senilai Rp 7.000. Lantas siangnya, sebesar Rp 16.000 bertukar tempat dengan sepiring nasi goreng ikan asin dan segelas es kelapa muda. Ditutup dengan Rp 6.000 yang menjelma menjadi sekeping DVD bajakan beberapa menit jelang pukul 14:00.

Uang senilai Rp 29.000 bukanlah pengeluaran luar biasa buat gw. Bahkan bisa dibilang cukup hemat; karena jumlah itu bisa berlipat jika gw sedang 'sedikit' borju dengan makan siang di mal terdekat. Oleh karenanya, jumlah Rp 29.000 itu nggak biasanya terlalu gw pikirkan.

Namun ada yang berbeda siang ini...

Menuju kantor dari deretan warung makan, gw melihat seorang bapak tua. Di lehernya tergantung kotak asongan penuh berisi pernak-pernik yang entah apa. Dari jauh gw melihat tangannya menggapai, mencoba menawarkan sekantong kecil jualannya pada setiap orang yang lewat. Belasan orang lewat, dan tidak ada satu pun yang membeli. Berhenti untuk melihat pun tidak.

Bapak itu menjual peniti serta pernak-pernik jahit lainnya. Satu kantong kecil peniti, maupun sekantong kecil berisi 2 jarum dan 2 gulung benang jahit, dijualnya seharga Rp 1.000 saja. Murah benar ya? Oleh karenanya, gw memutuskan membeli sekantong peniti dan sekantong benang-jarum. Buat jaga2 di kantor... karena kecerobohan gw dalam berpakaian sering kali membuat gw tiba2 butuh menjahit darurat. Atau setidaknya merekatkan pakaian dengan peniti.

Total pembelian gw "cuma" Rp 7.000, setelah gw tambahkan gunting kuku ke dalam daftar. Tidak banyak, dan tidak sebanding dengan jumlah uang cemilan yang sudah gw keluarkan hari ini. Tetapi... si bapak tua mengucapkan "Alhamdulillah" berkali2. Dan mengucapkan terima kasih berkali2. Seolah2 gw baru saja membelanjakan semilyar di lapaknya.

Kalau dihitung2, berapa sih rejeki yang dia dapat dari pembelian gw? Mungkin hanya 10% - 20%nya. Atau paling banyak 50%-nya. Tetap bukan jumlah yang besar. Jangankan untuk makan siang, untuk menutup ongkos perjalanan pulang-perginya pun mungkin tak cukup. Tetapi itu tidak mengurangi rasa syukurnya atas rejeki yang ia terima.

Dalam sisa perjalanan gw menuju gedung kantor, gw tercenung. Rasa haru terhadap nasib si bapak tua terganti dengan rasa kagum atas "syukur tak bersyarat" yang telah ditunjukkannya. Dan perlahan... rasa kagum itu berganti dengan rasa malu. Malu karena gw belum mampu seperti si bapak tua itu.

Malam ini adalah malam nisfu syaaban. Jika ada amalan yang dibawa malaikat ke atas sana, maka niscaya amalan bapak tua itu terbawa di dalamnya. Amalan atas "syukur tak bersyarat"-nya... dan atas "peringatan" yang diberikannya kepada orang2 yang melihat keikhlasannya.

Alhamdulillah, gw diberi kesempatan untuk mendapatan peringatan itu hari ini :)

Sunday, June 06, 2010

Malaikat Juga Bingung

Al Quran. City of Angels. Kau Memanggilku Malaikat.

Apa benang merah yang mengaitkan antara kitab suci bagi umat Islam, sebuah film Hollywood, dan sebuah novel karangan Arswendo Atmowiloto? Tidak banyak, tentu, tetapi... setidaknya ada sebagian jabaran sifat malaikat pada film dan novel itu yang seiring sejalan dengan sifat2 malaikat dalam Al Quran: bahwa malaikat adalah mahluk Tuhan yang mengabdi total pada-Nya. Tidak seperti manusia yang diberi akal budi dan kemampuan merasa, malaikat mah lempeng aja gitu.... nggak pakai ragu, nggak pakai nanya, nggak pakai membangkang. Nurut senurutnya... karena mereka memang nggak punya kemampuan untuk berpikir ataupun merasa, apalagi berinisiatif.

*Well, setidaknya dalam City of Angels, si malaikat nggak punya kemampuan untuk merasa .. meskipun digambarkan memiliki curiousity"

Hehehe... dalam pikiran liar gw, gw suka membayangkan betapa kacaunya organisasi akhirat jika malaikat ini punya kemampuan berpikir, merasa, dan berinisiatif. Bayangkan betapa merepotkannya jika malaikat itu punya sifat seperti.... ehm.... gw yang hobi protes ;-) Bisa2 para malaikat demo karena merasa pembagian tugasnya nggak adil. Bayangkan, ada malaikat yang sekarang nggak ngapa2in, karena tugasnya cuma meniup sangkakala di hari akhir. Cuma itu doang! Ada juga yang cuma nungguin pintu surga/neraka. Sementara, ada malaikat2 yang job desc-nya banyak banget: ada yang tugasnya mencabut nyawa atau membagikan rejeki ke setiap manusia di dunia. Bayangin! Berapa banyak manusia di dunia ini???

Tetapi, yang paling repot adalah malaikat yang tugasnya mencatat perbuatan baik dan buruk setiap manusia. Kalau malaikat itu seperti manusia, maka bayangkan betapa kerja rodinya mereka :) Tiap sepersekian detik ada perbuatan baru yang harus dicatat dari setiap individu! Nah lho! Kapan istirahatnya? Lha, kalau malaikat yang membagikan rejeki, setidaknya masih ada jeda nunggu batas usaha si manusia. Terus... rejeki dirapel belakangan juga nggak apa2. Tapi, kalau harus mencatat niat - pikiran - perbuatan dari setiap manusia? Halah... betapa repotnya! Apalagi kalau manusia2nya plin-plan... hehehe... bolak-balik catatan harus di-tip ex ;-)

Tuh, kan? Untung malaikatnya nggak kayak gw? Hehehe... Kalau kayak gw, pasti gw mempertanyakan apakah malaikat nggak bisa multi-tasking ;-)

Sebenarnya, itu cuma pikiran liar gw aja sih.... :) Makanya gw simpan diam2 aja, nggak diobrolin sama orang2. Tetapi... hari ini tergoda untuk menuliskan setelah membaca berita tentang dana aspirasi 15M, tepatnya berita yang ini.

Sebab, lantaran salah satu bagian dari berita itu, gw jadi punya ide liar baru tentang mengapa malaikat memang seharusnya tidak punya pikiran, perasaan, dan inisiatif. Alasannya: biar mereka terhindar dari neraka jahanam kebingungan ;-)

Potongan berita yang gw maksud adalah yang ini:

"Kalau itu dianggap melakukan kejahatan ya saya tidak apa-apa melakukan kejahatan demi kepentingan rakyat," tegas Harry.

Tuh, kan.... benar ;-) Untung malaikat nggak punya kemampuan berpikir ;-) Makanya mereka nggak perlu bingung2 mikir kelakuan para pencetus ide "15M untuk Dapil" ini harus dicatatkan di mana: kebaikan atau keburukan ;-) Mereka cukup mengikuti flow chart standar:

Seandainya seseorang berniat melakukan perbuatan baik dan ia tidak melakukannya, maka Allah akan menuliskan untuknya satu (pahala) kebaikan; dan seandainya ia berniat melakukan perbuatan baik dan melaksanakannya, maka Allah akan menuliskan untuknya (pahala) sepuluh hingga tujuh ratus kali lebih banyak. Dan seandainya seseorang berniat melakukan perbuatan buruk dan ia tidak melaksanakannya, maka Allah akan menuliskannya sebagai satu kebaikan penuh; dan seandainya seseorang berniat melakukan perbuatan buruk dan melaksanakannya maka Allah akan menuliskannya sebagai satu dosa. (HR. Bukhari)

(dikutip dari sini)

Mereka nggak perlu pusing2 mikirin apakah sebuah 'kejahatan' (atau setidaknya: kebodohan kronis) yang diklaim sebagai didasarkan pada niat baik demi rakyat ini harus dicatat dimana: sebagai kebaikan, atau keburukan. Lha, katanya niatnya baik, tapi yang dilakukan buruk ;-)

Kalau sekarang kan mereka tinggal nunggu: kalau memang terjadi, ya dicatatkan sebagai keburukan. Kalau tidak terjadi, ya nggak dicatat sebagai keburukan. Bukankah flow chart-nya gitu? Kalau belum menjadi tindakan, ya kita intention-oriented: kalau niatnya baik ya dicatat sebagai kebaikan, kalau niatnya jelek ya nggak usah dicatat. Toh belum kejadian. Tapi... kalau sudah jadi tindakan, ya behavior-oriented. Niat tidak penting lagi... :) Tinggal tindakannya baik atau buruk... hehehe... Jadi gak terjebak dengan mumbo-jumbo tindakan yang buruk-tapi-katanya-niatnya-baik ;-)

Bayangkan jika malaikat bisa mikir! Bentar lagi akan beredar sebuah single yang dinyanyikan oleh Raqib dan Atid. Judulnya: Malaikat Juga Tahu Bingung

Malaikat juga bingung
Mau dicatatkan s'bagai apa...

Syukurlah mereka bukan kaum yang berpikir... hehehe...

***
Tapi ngomong2, sebenarnya gw agak ngiri juga dengan "kreativitas" anggota dewan ini. Bayangkan, bisa2nya memikirkan harus ada dana 15M rupiah untuk dana aspirasi. Demn! Kenapa sih "kreativitas" seperti ini nggak ada di industri gw? Secara setiap hari kerjaan gw menyuarakan aspirasi konsumen gitu lho, kalau ada dana aspirasi kan sekarang gw udah kaya... HAHAHAHAHA....

Kemarin, baru saja Abang ini nge-tag gw di bahasannya tentang Pemanfaatan Pendekatan Psikologi untuk Mencapai Visi Ekonomi Kreatif Indonesia 2025. Mungkin "kreativitas ekonomi" para anggota dewan ini merupakan langkah awal ya? Hehehe...

Monday, May 17, 2010

Unus pro Omnibus, Omnes pro Uno

Belum lama ini gw mendengar seorang anak buah berkata pada atasan langsungnya, "Aku bersyukur banget Mbak nggak cuma tahu beres. Masih mau, gitu, ngurusin bantuin hal2 yang printilan kayak gini"

Kalau menurut gw, yang dilakukan si atasan langsung itu sih biasa2 aja. Dan gw tahu bahwa si atasan langsung itu mengerjakan printilan itu for the sake of the project, bukan karena emang baik hati sama anak buahnya ;-) Tetapi... tetap aja potongan percakapan itu menjadi entry point yang bagus untuk suatu buku yang bikin gw terkesan minggu lalu.

Bukunya buku lama. Terbitan tahun 1983. Gw nemunya di toko buku bekas dalam kondisi yang sudah nggak sepenuhnya bagus. Tetapi toh tetap gw beli karena buku itu adalah satu satu dari novel2 awal Ken Follett dan yang kebetulan belum pernah gw baca: On Wings of Eagles.

Sebenarnya, waktu pertama kali baca sinopsisnya, gw agak khawatir buku ini bakal membosankan. On Wings of Eagles is the true story of an incredible rescue by a Green Berret colonel and a group of corporate executives hastily trained into fighting team. Apa? True Story? Deeuhhh... gw langsung ngebayangin ceritanya bakal berat, lambat berlarut-larut, dan membosankan.

*dan belakangan gw baca di situsnya bahwa penulisnya sendiri pun sempat berpikiran (dan bahkan benar2 mengalami kesulitan yang) sama: I made the decision early on that I would write a completely true book; I wouldn't change the story in any way. That created a technical problem because, in real life adventures, there are long periods where nothing happens... ;-)"

Beberapa lembar pertama buku itu gw baca, dan gw menemukan bahwa kekhawatiran gw tak beralasan. Follett tetap tampil prima sebagai penulis.. dan buku itu sama nikmatnya untuk dibaca seperti buku2nya yang lain. Tentu, plot alami yang ada memang sangat membantu; plotnya kuat, penuh ketegangan dan kepahlawanan. Tetapi... menurut gw, Follett tetap kunci utama yang membuat cerita ini enak dibaca dengan rekonstruksi percakapannya yang membuat buku ini punya kenikmatan bak fiksi.

Tetapi yang membuat gw berkesan bukan karena enak dibaca atau alur ceritanya saja. Satu hal yang membuat gw terkesan adalah karena buku ini, seperti Neraka di Guantanamo, membuat gw bisa lihat "keborokan2"nya [pemerintah] Amerika Serikat ;-) Bahwa mereka tidak seheroik dan all-for-one-one-for-all dengan rakyatnya seperti yang digambarkan dalam film2 Hollywood ;-) When shits happen, they are ready to sacrifice their own people ;-)

... Dan yang lebih membuat gw terkesan adalah inspiring leadership yang digambarkan dalam cerita ini. Menemukan all for one, one for all dalam entitas yang berbeda: si pemimpin perusahaan, serta si pemimpin rescue team.

Oh, well, mungkin cara terbaik untuk menjabarkan poin gw adalah dengan menjelaskan plotnya dulu ya... ;-)

Buku ini mengangkat kisah nyata Operation HotFoot, alias Help Our Two Friends out of Tehran. Pada saat2 menjelang kejatuhan Shah Iran dan naiknya Ayatullah Khomeini, sebuah perusahaan Amerika Serikat, EDS (sekarang HP Enterprise Services), bak pelanduk mati di tengah2.

*quite ironic, eh, suatu entitas yang mewakili negara adidaya jadi pelanduk di antara dua gajah ;-)? But shits happen ;-) Jadi ingat ramalan Jayabaya dalam ura-ura ibu gw untuk Ima dan Nara: Gajah meta jinancang in sida puri, mati dicekeri ayam... yang artinya kira2: Gajah besar terikat di pohon kecil, mati dicakari ayam.... ooops, melantur... back to topic deh*

EDS ini punya kontrak untuk membuat semacam computerized jaringan kesejahteraan sosial masyarakat Iran dengan Departemen Kesehatan Iran. DepKes Iran menunggak pembayaran (karena rezim lama sudah mulai ditangkapi), EDS menghentikan layanan, rezim baru menginterpretasikannya sebagai kong-kalikong yang kotor, dan..... ditangkaplah dua pucuk pimpinan EDS: Paul Chiapparone dan Bill Gaylord.

Kalau boleh jujur, ditangkapnya dua pucuk pimpinan itu juga gara2 blunder yang dilakukan Kedubes AS. Mereka yang menyarankan kedua pimpinan itu datang memenuhi panggilan kejaksaan tanpa pengacara, karena yakin itu adalah sebuah formalitas belaka. Jebulane perhitungan mereka salah; Paul dan Bill malah disandera. Ditahan tanpa tuduhan jelas, dan hanya dapat dibebaskan dengan uang jaminan hampir US$ 13,000,000

Yup. Kalau pakai kurs sekarang, jaminannya hampir sebesar Rp 130.000.000.000 :) Banyak ya? Seratus tiga puluh milyar.... duh, kalau beli cendol bisa buat merendam Jakarta kali yaks?

Bukannya memperjuangkan nasib the American itu, Kedubes AS malah angkat tangan. Mereka bergeming ketika sang Boss meminta bantuan; alasannya sih menganggap itu adalah masalah internal perusahaan... tapi, bukan tidak mungkin karena situasi politik yang tidak jelas itu. Maklum, semangat anti-Amerika sedang menggelora saat itu. AS, tentunya, ingin tetap bisa diterima Iran oleh rezim baru... dan ngeyel memperjuangkan 2 warganya jelas akan mempersulit kedudukan mereka.

Untuuuungggg, Paul dan Bill bekerja untuk orang yang nggak mudah menyerah. Menurut tulisan Follett di halaman 339:

He might, after all, have left Paul and Bill to take their chances in Tehran. Nobody would have blamed him: it was the Government;s job to rescue them. [But] No, [he] could not leave his men to take their chances - it was not his way. Paul and Bill were his responsibility - he did not need his mother to tell him that.


Begitulah. Sang Boss sigap merancang strategi pembebasan. Plan A, menempuh jalur hukum. Plan B, membayar uang jaminan. Plan C, membentuk rescue team.

Melakukan Plan B ternyata sulit. Meskipun si Boss siap mencairkan aset perusahaan untuk memenuhi jumlah fantastis itu, nggak ada bank di Iran yang berani terima uang sebesar itu. Lha iya, bisa2 mereka dituduh pro-Amerika kalau terima uang segitu besar. Dituduh disuap. Maka, Plan C terlihat sebagai upaya yang paling memungkinkan.

Siapa rescue team?

The Boss meminta bantuan seorang veteran perang Vietnam, anggota Green Berret, yang melegenda karena kepiawaiannya dalam menyerbu tempat tawanan perang serta selalu membawa pulang seluruh anggota pasukannya hidup2. Col. Arthur D "Bull" Simons. Anggotanya? Para manajer dan eksekutif papan atas EDS.

Dana dicurahkan untuk melatih dan membiayai perlengkapan tim penyelamat ini. Dan pada akhirnya, memang tim inilah yang berhasil menyelamatkan Paul dan Bill... dengan perjalanan panjang yang heroik dan mencekam melintasi separuh Iran menuju Turki.

***

Tentu, pertanyaan pertama yang mungkin muncul: how the hell could he make the managers and top executives fight in a battle like this? Dengan ancaman? Dengan paksaan bahwa ini akan mempengaruhi appraisal dan gaji? Tidak. Dia melakukannya dengan cara mirip2 The Godfather: he made them an offer they cannot refuse. He offered them friendship ;-) Dengan konsep one for all, all for one ;-)

Seluruh anggota tim penyelamat itu memiliki kisahnya sendiri2. Tapi benang merahnya sama: mereka merasa harus melakukan itu karena apa yang sudah si Boss lakukan bagi mereka di masa lalu. Seperti yang dikatakan oleh Jay Coburn, second-in-command operasi penyelamatan ini:

He would never forget it as long as he lived.

It happened in 1971. Coburn had been with EDS less than two years. Scott was born that year at a little Catholic hospital. The day after he was born, Coburn went to see the day-old Scott and had a terrible schock. The baby was in an oxygen tent, gasping for air, and as blue as a pair of denim jeans. The doctors were in consultation about him.

Coburn become distraught. He called Dallas and asked for his boss, Gary Griggs. "Gary, I don't know why I'm calling you, but I don't know what to do". And he explained.

"Hold the phone," said Griggs.

A moment later there was an unfamiliar voice on the line...

...

"Hold on a minute, Jay," There was a short silence. "I'm going to connect you with Doctor Urschel, a close friend of mine and a leading cardiac surgeon here in Dallas."

...

And Scott survived.

(hal. 98 - 100)

Bukan hanya anak buah saja yang merasa berhutang dan dengan sukarela melakukan hal ini. Sang veteran pun merasa demikian.

Simons went to the White House to receive the Distinguished Service Cross for 'extraordinary heroism' from President Nixon. The rest of the raiders were to be decorated by Defence Secretary Laird. Simons was enraged to learn that over half of his men were to get nothing more than the Army Commendation Ribbon, only slightly better than a Good Conduct Ribbon, and known to soldiers as a Green Weenie.

The press and the public saw the raid as failure and yet another intelligence foul-up.

The disappointment rankled with him for years - until one weekend [the Boss] threw a mammoth party in San Francisco, persuaded the Army to round up the Son Tay Raiders from all over the world, and introduced them to the prisoners they had tried to rescue. That weekend, Simons felt, his raiders had at last got the thanks they deserved.

(hal. 278 - 279)

And that's it. Itulah yang gw sebut inspiring leadership. Karena cerita ini mengajarkan kepada gw dua hal yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin: be there for the people you are responsible for dan give the acknowledgment they deserve, no matter what the result is.

... Seperti potongan percakapan yang gw dengar tadi: betapa bersyukurnya seorang anak buah yang "tidak cuma disuruh2" oleh boss-nya ;-). Jika seorang anak buah merasa didukung, dan diakui, you'd be surprised about what they'll do for you. All for one, one for all... karena si anak buah merasa bagian dari boss-nya.

Pelajaran tak berhenti di situ saja. Selain si Boss, sang kolonel pun memberikan pelajaran berharga tentang apa itu bekerja.

Simons bent down and spoke, "Remember you offered to pay me?"

"I sure do"

"See this?" said Simons, inclining his head. Paul was walking towards them, carrying Ann Marie in his arms.

Simon said: "I just got paid"

(hal. 466)

Uang bukan segalanya dalam bekerja. Dan dalam kasus Simons, demikianlah juga pangkat :-)

He had been colonel for ten years, and if the Son Tay Raid could not get him promoted to general, nothing would. The truth was, he did not fit in the General's Club: he had always been a reserve officer, he had never been to a top military school such as West Point, his methods were unconventional, and he was not good at going to Washington cocktail parties and kissing ass. He knew he was a goddam fine soldier, and that was not good enough...

(hal. 106)

Thanks for reminding me of the importance of passion in doing your job, Colonel!

***

Ngomong2, siapa sih si Boss yang disebut2 dalam buku ini?

Namanya Ross Perot; seorang milyarder dari Texas. Generasi 80-90an mungkin pernah mendengarnya sebagai salah satu kandidat presiden AS, meski tidak sampai puncak. Beliau memang pernah mencalonkan diri 2x, tahun 1992 dan 1996.

Seperti diceritakan Follett di kata penutup, Perot sendiri yang memintanya menulis buku ini. Nggak heran, jika kemudian banyak yang berspekulasi bahwa Perot digambarkan segitu heroiknya karena dia "membayar" Follett, meski dalam situsnya Follett menyangkal. "My publishers paid me as with any other book," gitu katanya, ;-)

Well... soal bayar membayar ini, gw nggak terlalu mikirin juga :-) Fakta atau fiksi, menurut gw sih kisah ini cukup inspiratif. Inspiring leadership :-)

Tapi gw sendiri cenderung percaya kata2 Follett, karena menemukan artikel menarik tentang pensiunnya Paul Chiapparone pada tahun 2003 ini. Jika dia bukan boss yang baik, tentu Paul tidak akan bekerja baginya sampai 24 tahun kemudian ;-)

Oleh karenanya, gw lebih percaya bahwa meminta Ken Follett menuliskan kisah ini adalah salah satu langkah cerdik khas Perot yang sesuai gambaran ini:

He did just one thing superbly well: pick the right man, give him the resources, motivate him, then leave him to do the job.

(hal. 63)

Now, isn't that another characteristic a good boss should have ;-)?

Saturday, May 01, 2010

I Want to Ride My Bicycle...

Bulan April lalu gw sibuk banget! Selain sibuk kerjaan, gw juga sibuk mencari kado spesial buat Nara yang ultah kedua. Kado spesialnya: sepeda berbentuk mobil ;-) And believe me... it's a kind of "finding the needle in the haystack' task ;-)

Yup! Gw tidak mencarikannya mobil2an tenaga aki yang banyak dijual di berbagai sentra sepeda maupun mal itu. As usual, selera gw kan vintage... hehehe.... Selalu mencari barang2 yang nggak ada di pasaran ;-)

Ada beberapa alasan kenapa gw ngotot cari sepeda berbentuk mobil. Alasan pertamanya melankolis abis: supaya Nara punya kenangan masa kecil yang manis dengan sepedanya seperti gw :-) Sepeda masa kecil gw dulu juga unik, dan membuat gw banyak berimajinasi. Bentuknya kapal terbang. Ada kursi kecil di atas kabinnnya, dengan roda di bawah kokpit serta belakang sayap. Kalau sudah naik sepeda kapal terbang, gw berimajinasi terbang kemana2. It feels like being on top of the world!

Alasan kedua lebih ilmiah... hehehe... gw dan bapaknya sama2 nggak highly value mobil2an tenaga aki. Itu bukan mainan anak2 pilihan kami ;-) Bukaaaan... bukan karena harganya! Toh sekarang mobil2an aki itu harganya nggak jauh beda dengan sepeda biasa. Di Pasar Gembrong dan Pasar Rumput, mobil aki dan sepeda harganya bersaing.

Bukan juga karena faktor keamanan yang menghalangi kami. Mobil2an beraki tersebut sekarang tersedia dengan remote control. Harganya cuma beda 100rb-an kalau pakai remote control ;-) Dengan bisa dikendalikan oleh orang dewasa, tentu keamanan si anak cukup terjamin. Juga terjaminlah nasib mobil2 tetangga yang suka parkir sembarangan di pinggir jalan.

*hmmm... untuk yang kedua ini, gw agak menyesalkan, sebenarnya. Kan jadi nggak ada alasan buat bikin lecet mobil tetangga yang ngeselin... hehehe... oops... ;-)*

Yang jadi pertimbangan kami adalah manfaatnya buat anak. Dengan dikendalikan remote control, dan kakinya nggak harus nggenjot, lantas anak belajar apa? Beda banget dengan sepeda, yang mengasah motorik kasar anak .... selama dibiarkan nggenjot, dan nggak didorong2 doang seperti kebiasaan orang tua sekarang ;-)

Kami makin enggan membelikan mobil2an aki karena Nara sejak kecil punya kaki yang kuat. Dan dia sudah cukup pintar menggenjot sepeda roda tiga warisan kakaknya (yang sekarang udah mulai kekecilan buat dia). Jadi... sayang banget kalau potensi kakinya yang kuat ini lantas dilemahkan dengan mainan "malas" macam ini :-) Siapa tahu kan, kaki Nara bakal jadi mahal seperti kakinya Lionel Messi ;-)

Dengan keputusan mantap bahwa kami ingin membelikan sepeda mobil2an untuk hadiah ultahnya, dimulailah perburuan gw. Gw menyusuri tempat2 berjualan sepeda - baik dalam arti kiasan maupun harafiah ;-) Kiasan, dalam arti menyusuri kanal maya. Harafiah, dengan kelayapan di Pasar Rumput, Pasar Gembrong, dan ITC Kuningan di sela2 waktu istirahat mak-si.

Hasilnya?

Nihil di perburuan harafiah ;-) Gw malah diketawain para penjual di Pasar Rumput dan Pasar Gembrong... hehehe.... Katanya mobil kayak gitu udah nggak jaman ;-) Well, di Pasar Gembrong sih sebenarnya gw nemu mobil2an genjot seperti ini. Harganya juga murah, cuma 150rb dan masih bisa ditawar. Tapi.... bukan sepeda impian gw :-) Nggak cocok buat melatih kaki calon pengganti Messi... hehehe.... Lagian, nggak bisa dipakai di jalanan, karena rodanya plastik :-(

Di Pasar Rumput, ada satu pedagang yang bilang dia punya. Tapi barangnya nggak ada, mesti diambil dulu di gudangnya. Dia mencontohkan sebuah go-kart aki seperti ini, dan mengatakan bahwa sepeda go-kartnya persiiis sama. Cuma beda bermesin vs. tidak bermesin. Tapi... gw buru2 pergi deh! Selain dia tidak bisa menunjukkan barangnya, buka harganya juga nggak masuk akal menurut gw! Mosok, kata dia sepeda go-kart itu harganya cuma 100rb lebih murah daripada yang aki! Katanya, karena body dan bahannya sama, cuma beda di mesin dan bukan mesin doang! Lha, bukannya yang bikin mahal mesinnya ya? Kalau bermesin harganya bisa nyaris 2x lipat? Gw langsung yakin dia nggetok harga.

Lagian, gw kurang naksir sama go-kartnya itu! Rodanya plastik abis, dan cuma ada lapisan karet di tengahnya yang nggak sampai 2cm lebarnya. Udah gitu, lapisan karetnya tipis pula! Deuh, kalau dipakai di jalan raya, roda plastiknya bakal cepat rusak kena aspal!

Jelajah kanal maya lebih membuahkan hasil. Di website-nya Sarana Sepeda, gw nemu go-kart ini. Letaknya di Jatinegara. Gw berniat mau nelepon, tapi bapaknya Nara punya ide lebih cemerlang: dia datang langsung ke tokonya ;-)

Itu go-kart impian, dan... rodanya dilapis karet lumayan tebal dan lebar! Tapi..... stoknya habis! Dan entah kapan bakal masuk lagi :-(

Kata Pak Pedagangnya, kalau minat, silakan mencari di kota2 kecil ;-) Mainan ini nggak banyak masuk di Jakarta, banyaknya di...... Karawang, Cikampek, dan kota2 satelit lainnya :-(

Huh! Hampir tuh dijabanin oleh bapaknya ke Cikampek... hehehe... Untung, salah satu mahasiswa bapaknya kasih tahu bahwa ada mobil sejenis di Pasar Suryakencana, Bogor. Sedikit lebih dekat lah, daripada Cikampek ;-)

*Say thanks dulu buat Retha yang menemukan sepeda ini. Kamu kayak Bartolomeus Diaz deh, menemukan Tanjung Harapan ;-) Hadiahnya senyum manis aja ya ;-)?*

Hari Sabtu lalu, akhirnya bapaknya Nara berkelana ke Bogor mencari mobil impian. Dan dasar jodoh, di situ tinggal ada 2 mobil tersisa :-) Satu langsung diboyong bapaknya Nara ke rumah.

Rodanya memang dari plastik, tapi... lapisan karetnya lumayan lebar, dan tebal. Kurang lebih lebarnya 6cm, dan tebalnya 8mm. Lumayan, jadi kalau berkendara di jalan nggak gampang merusak roda. Karena karetnya kena aspal duluan. Yaaah... sebenarnya sih gw berharap dapat go-kart yang rodanya karet mati, seperti punya adik gw jaman kecil dulu. Tapi.... this is the best I can have. Daripada yang di Pasar Rumput kemarin, kan?

Dan... lihatlah tongkrongannya ;-) Nggak tahu mana yang lebih keren: go-kartnya atau my little boy ;-) Isn't he adorable? He looks like a future F1 Champion to me... hehehe... Sementara ibunya sih F10 Champion aja deh, alias sebentar2 mencet F10 kalau lagi pegang kompie... hehehe...

Puas dengan hasil pencarian ini, baru gw mulai berpikir: kenapa ya, di Jakarta susah cari mobil2an seperti ini? Demand-nya kurang? Kenapa kurang? Karena nggenjot sepeda kelihatannya kurang keren dibandingkan mobil2an aki? Mobil genjot dianggap kuno, sementara mobil2an aki modern?

Duuuuh.... kalau saja orang2 tua Jakarta tahu betapa berharganya menggenjot sepeda itu. Betapa ada hal2 yang tak tergantikan oleh mobil2an aki pada mobil2an manual seperti ini. Yang jelas, kekuatan kaki dan motorik kasar secara umum lebih terasah dengan mobil2an manual seperti ini. Koordinasi tangan - kaki - mata juga lebih terasah, daripada kalau pakai remote control.

Apa yang ditawarkan oleh mobil2an aki? Fantasi? Imajinasi? Trust me, fantasi dan imajinasi itu juga ada di mobil2an manual ini ;-)

***

Ngomongin sepeda, membuat gw ingin mengutip lagunya Queen: Bicyle Race ;-)


I want to ride my bicycle
I want to ride my bike
I want to ride my bicycle
I want to ride it where I like

You say black I say white
You say bark I say bite
You say shark I say hey man
Jaws was never my scene
And I don't like Star Wars
You say Rolls I say Royce
You say God give me a choice
...

In a deeper sense, riding "something" should be like what Queen has described in this song: brave enough to speak his opinion. Dan menurut gw, itu didapat kalau si anak biasa belajar bahwa dirinya "in control"

Lha, kalau naik mobil2an aja udah "disetir" orang lain yang bawa remote control, gimana dia bisa belajar bersikap ;-)? Gimana bisa belajar mandiri ;-)?

And so, that's the other reason why we chose this product: to give our son an obstacle, a hurdle, he must master ;-)

There's a lot behind something your kid rides on. Masih mau memilih mobil2an aki ;-)?