Friday, February 27, 2009

5 Langkah Mudah Kampanye Kreatif Caleg

Menerima forward-an email berisi gambar2 konyol spanduk kampanye caleg ini niat awal gw adalah menulis tentang Cesare Lombrosso. Memberi tips bagi calon pemilih untuk pemilu 9 April nanti ;-) Karena kita nggak kenal dengan calegnya, nggak pernah dengar visi, misi, bahkan suara dan kemampuannya menyampaikan ide, satu2nya atribut yang harus diperhatikan adalah wajahnya. Dan teori Lombrosso yang mendeskripsikan atavistic stigmata pada the born criminal adalah teori yang paling pas untuk digunakan ;-) Setidaknya, kita bisa menghindari mememilih orang2 tertentu yang memiliki karakteristik wajah seorang kriminal menurut Oom Cesare ;-)

Namun kemudian gw berubah pikiran. If some people misinterpret the concept of "creative campaign", don't laugh. Instead, let's show them how to be creative... tanpa harus berfoto bareng macan, sebelah2an sama Beckham atau Obama, atau malah belum apa2 udah bikin patung golok bertuliskan "Kabah Security" ;-) Biarkan mereka tertampar dengan sendirinya... atau paling enggak, kasih bahan orang lain untuk menampar mereka... HAHAHA...

*OOT: yang paling bikin gw ngakak adalah poster caleg dekat Plaza Arion - Rawamangun. Nggak apa2 sih kalau dia nulis gelar akademisnya komplit2 gitu. Tapiiiii...... perlu gitu ya, bahwa di belakang gelar akademisnya dikasih tulisan: (UI)??? Iya sih... gw tahu, UI masih jadi salah satu reputable university di Indonesia. Tapi tetap aja aneh... hehehe.... Ada kan cara2 yang lebih halus untuk menunjukkan "ke-UI-annya"? Nggak harus kasat mata gitu. Kalau mau dipakai jadi nilai jual, kenapa gak sekalian dia tulis lengkap2: "(UI, masuk lewat PMDK/UMPTN bukan jalur khusus, apalagi program ekstensi)" ;-)*

Maka, kemudian gw memiliki ide untuk merancang kampanya kreatif bagi diri gw sendiri, seandainya gw menjadi caleg ;-) Kampanye yang bener2 kreatif, gak cuma kreatif nempel2in foto orang ngetop aja, atau mencantum2kan almamater segala. Berikut 5 langkah mudahnya... hehehe...

Langkah 1: Say No to High Cost Campaign

Tujuan umum kampanye kreatif gw adalah membentuk citra bahwa diri gw adalah shoulder to cry on (halah! Tommy Page banget ;-)) bagi para calon pemilih. Dan untuk itu, doktrin pertama gw adalah: tidak ada kampanye jor-joran dengan mencetak banyak poster/spanduk buat ditempel dimana2, apalagi nge-cat ulang mobil/nyetak kaca film yang ada tampang gw segede gaban :-) Modal gw cukup fotokopian hitam-putih berisi visi, misi, dan sebaris-dua baris pendapat gw terhadap current affairs. Eh, ada fotonya juga sih, tapi keciiiiillll aja, kayak di curriculum vitae ;-)

Lho, kok pendapatnya cuma sebaris-dua baris? Mana orang ngerti?

Sabarrrr.... selebaran ini cuma teaser aja ;-) Gw mau memanfaatkan blog sebagai ujung tombak informasi! Jadi di bagian bawah teaser-nya ada alamat blog gw ;-)

Langkah 2: WWW... The Final Frontier

Blog yang gw kasih alamatnya bukan blog yang ini, melainkan blog baru yang khusus gw bikin untuk kampanye. Tapi... isinya nggak jauh2 dari blog ini. Malah, gw udah kepikir beberapa entry lama yang bakal gw ko-pas ke blog baru ini.

Entry lama yang dikopas tentunya yang berisi jatidiri gw sebagai mutant pencela tindakan2 para pemimpin negeri tercinta. Seperti ini, ini, ini, ini, dan ini. Oh, ketinggalan! Ini sekalian ;-) Tak lupa juga ide2 segar yang mudah2an kalau dijalankan akan "lebih banyak manfaatnya daripada mudharatnya" buat rakyat ;-) Seperti ini, ini, dan ini.

Entry jenis pertama diperlukan untuk menunjukkan pada calon pemilih bahwa gw bisa berempati pada penderitaan mereka. Bisa memahami unmet needs mereka. Gw dan calon pemilih adalah KITA, sementara anggota legislatif lainnya adalah MEREKA ;-) Sementara, entry jenis kedua menunjukkan bahwa gw bukan cuma senasib sepenanggunan dengan calon pemilih. Bukan sekedar bagian dari "kita", melainkan bagian dari "kita" yang punya kemampuan dan keinginan untuk memperjuangkan nasib kita ;-)

Untuk melengkapinya, akan ada jenis entry ketiga: hasil penelitian tentang People Satisfaction Study, baik yang berisi penjelasan tentang taraf kepuasan mereka, unmet needs, maupun ide-ide baru tentang penyelesaiannya. Darimana gw dapat data? Yaaah.... gw akan memanfaatkan kemampuan gw sebagai marketing researcher dong ;-)

Langkah 3: Consumer Insight

Rakyat adalah pelanggan gw, kalau gw jadi caleg. Oleh karena itu, sebagai orang marketing research, gw sangat menyadari betapa pentingnya insight dari mereka.

Tadi kan gw udah bilang gak mau bikin spanduk/poster, apalagi ngecat mobil/bikin kaca film yang ada gambar gw-nya. Naaah... dananya akan gw pakai buat bikin penelitian dan public relation activity. Gw berencana mempekerjakan anak2 kuliahan untuk jadi pengumpul data sekaligus public relatin officer. Tugasnya: mereka mendatangi rumah calon pemilih satu per satu dan melakukan face-to-face interview tentang unmet needs-nya para rakyat ini.

Rakyat2 yang artikulatif dan pintar, penuh dengan ide2 segar akan diminta kesediaannya untuk mengikuti Focus Group Discussion. Yang memoderatori FGD-nya gw sendiri, atau beberapa promising junior moderator ;-) Kayaknya masih masuk kok dalam budget kampanye... hehehe... Di FGD ini akan diujikan konsep2 baru, serta menggali ide2 baru untuk meningkatkan kepuasan rakyat.

Naaah... hasil penelitiannya gw analisa sendiri, dan hasilnya gw tuliskan sendiri di blog kampanye gw ;-) Mosok blogger plus marketing researcher kayak gw mesti dibantuin orang ngerjain yang beginian doang ;-)?

Langkah 4: One Click Away

Yang namanya akses ke internet itu baru dimiliki sepersekian calon pemilih, mungkin. Oleh karena itu, kalau cuma sebar2 fotokopian lembaran kampanye, visi/misi/ide tidak tersampaikan ke masyarakat. Oleh karena itu, calon pemilih harus diperkenalkan dengan internet.

Gw sih terbayang untuk bikin lomba2 yang mengharuskan calon pemilih nge-browse blog kampanye gw. Kayaknya gak akan terlalu memakan biaya juga ya, kalau di tiap RW kita bikin lomba? Modalnya pinjam 10 laptop yang spesifikasinya nggak tinggi2 amat, tapi bisa browsing. Plus pre-paid unlimited broadband. Sekarang kan ada tuh yang kartu 100rb aja bisa browsing sampai muntah ;-)? Atau kalau ada internet provider yang mau sponsorin, itu lebih bagus lagi ;-) Yang punya akses internet sendiri juga boleh ikutan dengan modal sendiri ;-)

Lombanya bisa macem2. Dari lomba memberi komentar paling OK kayak yang dibikin Lajang Menikah baru2 ini. Atau lomba cerdas cermat seputar visi/misi/ide gw. Yang penting hadiahnya menarik dan sesuai keinginan mereka

*Hadiahnya apa, bisa jadi salah satu aspect to be covered di FGD mungkin ;-) Atau waktu face-to-face interview ;-)*

Too much effort? Mungkin juga sih. Tapi... setidaknya kalaupun mereka nggak milih gw, mereka mungkin akan mengingat gw sebagai orang yang memperkenalkan internet... HAHAHAHA... Lumayan kan, daripada cuma dikenal sebagai orang yang fotonya pernah nangkring di tiang listrik ;-)?

Langkah 5: Managing Brand Equity

Satu hal lagi yang penting dalam marketing, katanya, adalah mempertahankan brand equity. Naah... untuk itu, salah satu yang gw butuhkan adalah sesuatu yang bisa diasosiasikan dengan gw. Terus terang, gw nggak mau pakai gimmick fisik seperti: "Coblos kumisnya" yang dilagukan dengan nada "Panjang Umurnya". Gw mau yang unik! Unik dan mencerminkan gw ;-)

Untuk itu, gw berencana mengadopsi lagu Ojo Nganggur ini menjadi mars gw... hehehe... Bukannya KKN, tapi.... emang nadanya enak, merakyat, beretnis Jawa seperti gw, dan syairnya pas dengan citra yang gw inginkan:

...
Lek males sopo wong sing gelem ngelirik
Isane mek malik tangan njaluk duwik
...

Ojo nganggur, nggur, nggur
Ojo nganggur
Ojo isin dodolan rujak cingur
Ojo nganggur, nggur, nggur
Ojo nganggur
Ojo wedi nyambi, dadi kondektur


Hehehe... sorry kalau ada salah2 nulis ya ;-) Maklum, dialek lagunya Suroboyoan, yang mana cukup asing di telinga Surakarta Hadiningrat gw ini ;-) Lihat aja, syairnya kan nyebut "Rujak Cingur". Padahal, kalau logatnya Solo, mestinya bersyair "Ojo isin dodolan tahu campur" ;-)

Dan sebagai bukti keseriusan gw mengadopsi lagu ini, RBT-nya udah gw tag sekalian ;-) Udah gw pakai, sebelum keduluan caleg lain ;-)

***

Jadi itu, lima langkah kampanye kreatif gw kalau gw jadi caleg ;-) Sayangnya, nggak ada partai yang menawarkan diri mengusung gw jadi caleg (berat kali yeee... kalau ngusung gw ;-)).

Atau mungkin ada, ya, partai yang "meminang" gw setelah baca entry ini ;-)? Yaaah... kalau ada, pastikan aja deh tunjangan kesehatannya gede... hehehe... secara gw udah memprediksi bakal sering dar-ting kalau jadi caleg; senewen dengan kinerja teman2 gw yang - what can I expect? - cara kampanyenya aja cuma bisa majang tampang dimana2 ;-)

Monday, February 23, 2009

Mengaudit Suami

Akhirnya, setelah berjibaku berasonialisasi bahwa gw nggak perlu bikin NPWP, gw terjebak juga dengan sistem ini ;-) Menjawab pertanyaan Cahyo hampir setahun lalu, iya, Yo, memang akhirnya gw bikin NPWP juga.

Bisa dibilang, Direktorat Jendral Pajak berhasil membuat gw bermetamorfosa jadi "tikus Skinner"; mengubah perilaku gw dengan teknik behavioristik pemberian reinforcement negatif ;-) Ya, ini adalah tindakan aversif! Gw akhirnya bikin NPWP setelah terkena ancaman bakal kena pajak 20% lebih besar, serta harus bayar fiskal 2,5 jeti. Gila bo, fiskal sejuta aja menurut gw udah pemerasan, eeeeh... ini hampir 3x lipat!

*Memang sih, sebenernya gw bisa nebeng bapaknyaimanara. Tapi... gw kan gak mau tergantung sama suami... hehehe... Bukan tipe yang swarga nunut, neraka katut sih ;-)*

Awal2nya sih, gw ngerasa nggak perlu belajar ngisi SPT. Kan kata Pak Manager GA & HR di kantor cukup tulis nihil2 aja, dan melampirkan bukti potong pajak dari kantor. Yaaah... gw haqqul yaqqin bahwa gw gak bodoh2 amat: pasti bisa mengikuti petunjuk pengisian. Kan gw bisa baca tulis, dan bisa berbahasa Indonesia.

Tetapi, saudara2! Ngisi SPT itu ibarat berenang. Nggak cukup cuma teori ambil-nafas-dari-mulut-keluarkan-dalam-air-dari-hidung ;-) Gw jiper juga begitu melihat penampakan keempat lembar yang harus gw isi! Gimana nggak jiper, udah hurufnya sekecil2 kutu beras, item2-nya berulang di sana-sini. Coba, bayangin betapa bingungnya gw menemukan kata "bunga" di form 1770 S-I, kemudian ketemu lagi di form 1770 S-II. Lha, ini surat pajak atau taman bunga sih? Banyak bener bunganya... hehehe... Udah gitu, ternyata format copy paste dari form 1721 A1 ke form 1770 S tidak sesederhana yang gw bayangkan.

*Iya, gw emang bisa nanya juga sama suami gimana caranya ngisi SPT, secara dia udah bertahun2 punya NPWP. Tapi... sekali lagi, gw kan gak suka tergantung sama suami kecuali dalam soal komputer dan peralatan elektronik lainnya ;-)*

Untung, kantor gw bikin workshop setengah hari tentang mengisi SPT Tahunan. Kami dijelaskan, sambil berlatih mengisinya. Jadi tercerahkan deh mengenai berbagai hal seputar pajak ;-)

Yang jelas sih gw nambah informasi bahwa termin "bunga" di 1770 S-I itu berbeda dengan "bunga deposito, tabungan, dan diskonto SBI" di 1770 S-II. Yang di S-II itu adalah bunga simpanan kita, yaitu penghasilan yang dikenai PPh Final, alias sudah pasti jumlah dan waktunya. Sementara yang di S-I itu adalah yang tidak pasti, atau dikatakan tidak dikenai PPh Final. Contohnya kalau gw kerja jadi rentenir, membungakan uang, maka penghasilan gw dari membungakan uang itu dikenai pajak juga.

*Dipikir2, prinsip "bunga" dari 1770 S-I ini mirip teknik Robin Hood :-) Iya dong, kan mengambil [untuk kepentingan rakyat] sejumlah uang dari mereka yang memanipulasi sebagian kecil rakyat ;-)*

Selain dapat pengetahuan yang berkaitan dengan teknis pengisian, gw juga jadi tahu beberapa hal lain yang bikin gw bersyukur.

Syukur gw yang pertama adalah: untuuuuunggg.... gw udah nggak kerja honorer lagi ;-) Jaman tahun 2001 dulu, gw sempat berhenti kerja karena punya angan2 impulsif ngurus anak ;-) Gw kerja freelance biar punya waktu banyak buat Ima. Project-based. Naah, syukurlah gw insyaf dan kembali ke jalan yang benar... HAHAHA... sebab, kalau tidak, gw bakalan pusiiiiingg dan dar-ting ngurusin PPh gw ;-)

Iya, gw baru tahu kenapa kantor gw mengenakan 5% potongan pajak pada supplier kami (freelance moderator/translator). Ternyata, itu berkaitan dengan skala pajak yang dikenakan. Hingga tahun pajak 2008, penghasilan di bawah 25jt dikenai 5% pajak (sejak 2009 yang kena 5% adalah jumlah di bawah 50jt). Nah, namanya freelancer di bidang kami, honor per jasanya nggak mencapai 25jt, jadi dipotong 5% saja. Tapiiii..... coba kalau setahun dapat sekian project, kan jumlah penghasilan tahunannya bisa saja mencapai skala yang harusnya kena 25% pajak, ya toh?

Naah.... sakit hati kan, kalau setelah kerja setahun merasa sudah bayar pajak, ternyata... oh, oh, oh, kita dinyatakan kurang bayar! Karena 5% kali total jumlah penghasilan tahun itu tentu di bawah jumlah pajak berjenjang, kalau penghasilan kita sudah kena yang 10% - 35% ;)

Syukur gw yang kedua adalah: harta gw nggak banyak... hehehe... Di form 1770 S-II cuma disediakan 6 baris untuk mencatatkan harta. Gw bersyukur harta yang harus gw catatkan nggak sampai 6 item. Coba kalau gw kaya raya, pasti gw harus sibuk fotokopi atau bikin tabel baru untuk mencatatkan harta gw. Atau setidaknya menuliskannya di Post It ... hehehe....

Konon kabarnya, menurut peraturan, sampai berapa gram emas yang kita punya aja harus dicatatkan sebagai harta. Naaah... gw kan cuma punya 2 emas: Mas Japro sama Mas Nara... hehehe... udah gw tulis dua2nya aja lembar harta itu masih lowong ;-)

Tapiiii... selain ada pengetahuan yang membuat gw bersyukur, ada juga informasi yang bikin gw mengumpat dalam hati ;-) Umpatan yang pertama adalah: Damn! I wish I were a surgeon! Atau paling enggak: damn! Coba gw dulu jadi lawyer seperti anjuran Bapak! Kan jadinya gw termasuk tenaga ahli yang PPh atas pekerjaannya adalah flat rate 7,5% ;-) Nggak kena pajak berjenjang seperti sekarang ;-)

*Suntingan 24 Februari: eh, tapi kalau kata Rudy, pada akhirnya tetap kena aturan pajak yang bertingkat2 itu ding! Dan menurut kata iklan, kan, "Benar apa yang dikatakan Rudy!", jadi nggak ada alasan buat iri ;-)*

Dan satu lagi yang bikin gw mengumpat dalam hati adalah bias gender dalam sistem perpajakan ini! Damn! Ternyata PTKP suami gw lebih besar daripada PTKP gw! Soalnya gw sebagai perempuan, biarpun berbuntut berapa pun, tetap dianggap "tidak kawin", alias cuma dapat PTKP pribadi. Sementara bapaknyaimanara dapat PTKP berkali2 lipat karena menikah dengan 2 anak. Curang! Kan persetujuan pembagian biaya rumah tangga diperhitungkan berdasarkan perkiraan penghasilan bersih :-) Lha, ternyata, selama ini penghasilan bersih tahunannya lebih besar daripada yang "dilaporkan" kepada gw :-)

Hmmm... kayaknya suami gw perlu gw audit nih! Lumayan kan, 11 thn menikah, 10 thn menikah dengan 1 anak. Hitung aja berapa jumlah "pendapatan tidak dilaporkan"-nya yang nggak gw kenai "pajak"... hehehe... Kalau gw tagih sekarang, mungkin bisa dapat satu Blackberry Bold ya ;)? Atau... seapes2nya bisa dapat sebatang lipstik lah ;-)

So, if you excuse me, I'll go auditing my husband now ;-) He can run from the tax system, but he cannot hide from me ;-)

Saturday, February 21, 2009

Fix

Ada satu rasa yang berbeda ketika menonton episode Desperate Housewives ini. I got hooked, dan mata gw dengan mudah berkaca2. Rasanya cerita itu begitu "kena" di hati gw.

Ceritanya memang cukup menyentuh. Tentang seorang handyman, Eli Scruggs, yang meninggal mendadak di Wisteria Lane. Walaupun Eli Scruggs memang seorang tukang handal - there is nothing Eli could not fix, begitu kata pembuka episode tersebut - ternyata bukan hanya kepiawaiannya yang akan membuat mereka kehilangan. Since Eli has affected their lives more than just fixing a broken vase.

Melalui flashback, digambarkan bagaimana Eli - sebagai seorang tukang - kerapkali menjadi saksi kegundahan si nyonya rumah. Gaby, si mantan top model, yang kesepian di pinggiran kota. Bree, si nyonya rumah berpotensi yang dijadikan "burung penghias sangkar" oleh suaminya. Lynette, si wanita karir yang torn between two choices; antara jadi ibu rumah tangga dan kembali berkarir. Dan tentu saja tak lupa si pengejar cinta Susan yang bolak-balik putus cinta.

Eli digambarkan sebagai tokoh yang mempengaruhi hidup mereka dengan cara yang sederhana. Dia menyimpankan draft resep Bree yang dibuang karena sang suami tak ingin Bree sibuk mengejar mimpi menulis buku. Dia menyelamatkan bayi Lynette dari dehidrasi setelah tertinggal di mobil lantaran ibunya sibuk bertelepon dengan seorang boss perusahaan yang merekrutnya. Dia yang memperkenalkan Gaby pada "ibu2 sederhana di kampung itu" dan mengingatkannya ketika Gaby made the wrong first impression.

Untuk segala apa yang diperbuatnya itu, kematian Eli menjadi sangat berarti bagi para desperate housewives. Semua ingin menyumbang sesuatu, semampunya, untuk Eli. Dan... karenanya... meskipun Eli sebatang kara, pemakamannya sangat indah dan dihadiri banyak sekali orang.

Seperti kata Bree di penghujung episode ketika merapikan karangan bunga di peti mati Eli sebelum diturunkan, "I want to fix something for Eli. For a change."

Dan tentu saja, "fix something" di sini memiliki makna yang dalam.

And then I realized why I got hooked with this episode. Once, there was another "Eli" in my life.

***


Namanya Moeljatmo. Dulu gw memanggilnya Oom Moel, namun kemudian berganti menjadi Yang Mo setelah Ima lahir. Sejak gw kecil, Yang Mo ini sering tiba2 muncul di rumah. Menginap beberapa hari, lantas menghilang lagi. Baru muncul berbulan2 kemudian, atau malah pernah beberapa tahun kemudian saat beliau melanglang bekerja di Kalimantan dan Bali.

Gw hanya tahu bahwa Yang Mo ini sahabat almarhum Bapak ketika SMA dulu. Seorang ahli keuangan dan procurement hotel, yang pernah menangani beberapa hotel besar. Penggila bola, penikmat rokok Gudang Garam Surya, dan tidak pernah minum cairan selain kopi Kapal Api Spesial yang diseduh dengan air mendidih. Dapat dikatakan sebatang kara setelah kehilangan istri dan anak perempuannya. Selebihnya gelap. Partly karena gw memang nggak ngorek2, but mainly karena beliau memang nggak mau cerita panjang.

Proyek hotelnya yang terakhir di Bali hancur karena imbas krisis ekonomi 1997. A blessing in disguise, karena kejadian itu memungkinkannya kembali ke Jakarta untuk menghadiri pernikahan gw, anak sahabatnya. Having nothing to do and nowhere to live, Bapak kemudian menyediakan kamar untuknya. Plus kemudian menjadi teman diskusi soal keuangan perusahaan, dan membantu menjalankan kantor Bapak. Saat itu memang Bapak sudah mulai sakit, dan Bapak butuh teman lain untuk berdiskusi setelah gw sibuk menata hidup baru :-)

The blessing in disguise continued ketika sakit Bapak semakin parah. Kehadiran Yang Mo sangat membantu kami. He took charge, mengatakan bahwa kami - gw & bapaknyaimanara - fokus saja bekerja, sementara adik gw fokus saja menyelesaikan skripsi. Tak perlu bingung membagi tugas siapa yang harus menjaga Bapak di RS. It really helped, karena sebagai pegawai junior yang belum genap 2 thn bekerja - apalagi gw punya bayi yang harus diurus - I have already had more than enough things to juggle.

Ketika Bapak meninggal, kami kira ia akan pergi juga dari rumah. Toh, sahabatnya berbagi cerita sudah tidak ada. Apalagi sudah mulai ada beberapa tawaran dari sahabat2nya yang lain untuk tinggal di rumah mereka. Tapi ternyata tidak. Beliau tetap tinggal di rumah kami. Di kemudian hari, setelah beliau meninggal, gw baru tahu dari teman2nya bahwa beliau selalu kangen Ima kalau pergi lama.

Lambat laun, kami pun menganggapnya sebagai keluarga sendiri. Bukan hanya sebagai temannya almarhum Bapak yang tinggal bareng kami. Memang tak susah menganggapnya demikian, karena beliau juga berusaha became the part of our family. Beliau yang mengangkat dirinya sendiri sebagai juru bayar PLN, juru bayar PBB, juru cuci mobil, dan bertukang kecil2an - ngecat dinding, memperbaiki pipa bocor, dll.

Tiap pekerjaan itu pun dilakukannya dengan serius. Untuk bayar PLN, misalnya, tiap tanggal 2 beliau sudah menyodori gw perkiraan biaya listrik bulan itu berdasarkan catatan dari meteran. Perhitungannya pun akurat; plafon atas yang paling banyak berselisih Rp 10,000. Kalau ada barang yang perlu diperbaiki pun beliau selalu survei dulu bagaimana dan biaya perbaikannya, untuk kemudian menyodori gw perhitungan akuratnya. Imbalannya? Tidak ada. Cukup dengan "boleh" menjadi "Eyangnya Ima" saja.

Ya. "Eyangnya Ima". Demikian gw menjawab pertanyaan orang2 tentang siapa beliau. Dan memang beliau begitu sayang pada Ima, meskipun tidak ada pertalian darah antara mereka. Tak segan2 beliau memarahi gw ataupun bapaknyaima, kalau ada cara pengasuhan yang tidak berkenan di hatinya :)

Dan semakin lama, ia makin menjadi bagian dari keluarga kami. Tak terhitung berapa kali ia menjadi penengah kalau gw dan bapaknyaimanara sedang tak sependapat. Atau menjadi penengah kalau antara gw dan ibu gw ribut2an soal pola pengasuhan. Tanpa diminta, dan kadang2 komentarnya bikin gw pingin nyolot. Bahkan, tak jarang kami akhirnya adu mulut... hehehe... Tapi... kalau sudah dipikir dengan tenang, seringkali komentarnya ada benarnya juga :)

Kamis petang, 30 Oktober 2008, beliau berpulang secara tiba2. Beliau, yang tak pernah sakit, yang dalam usia 70 thn lebih masih kuat mengangkat spring bed ke lantai dua sendirian, yang baru 1 jam sebelumnya menjemput Ima dari les Inggris tanpa keluhan apa2, tiba2 merasa sesak nafas. Begitu tipis batas antara hidup dan mati, hingga jarak 500m antara rumah kami dan UGD pun tak sanggup dilaluinya. Beliau meninggal tepat ketika kendaraan memasuki pintu gerbang RS.

Pemakaman beliau sederhana saja. Tidak penuh dengan karangan bunga, atau kemeriahan lainnya. Pemakaman Yang Mo hanya sebuah lahan sederhana di TPU dekat rumah, dengan sejumlah kecil pelayat - tetangga dekat, teman2 SMAnya yang berhasil kami hubungi, dan [miraculously] beberapa kerabat yang akhirnya kami temukan. Namun pemakaman itu penuh cinta, karena kami benar2 merasa kehilangan keluarga. Gw bukan hanya kehilangan seorang juru bayar, seorang kepercayaan untuk menjemput Ima les, seorang teman nonton sepakbola, tapi... gw juga kehilangan "orang tua". Orang yang memberi nasihat saat gw butuh - tak peduli gw tertarik atau tidak. Orang yang berani mengingatkan kalau gw salah - meskipun beresiko adu mulut dengan gw.

Ya, he has become a part of our family, as he has fixed so many things for us. And we - in return - wants to fix something for him. For a change.

Wednesday, February 11, 2009

2K Pangkat Tiga

Beberapa hari terakhir ini lagi asyik main xylophone sama Nara. Itu lho... instrumen musik mainan buat bayi yang berbentuk bilah-bilah logam; yang kalau dipukul bunyinya berisik minta ampun (gambar dari sini) :-) Nara kan sekarang lagi asyik2nya shaking and banging, alias semua barang digoncang2 dan dibentur2kan. Daripada piring dan gelas yang digoncang-benturkan, mendingan gw beliin xylophone :-)

Ternyata lumayan susah ngajarin Nara memukul dengan benar :-) Pangkal kesulitannya ada dua: koordinasi motorik yang belum baik dan oral stage yang membuatnya hobi banget memasukkan segala benda ke mulut. Alhasil, bukannya dipukul2, malah stick-nya bolak-balik masuk mulut. Dikira permen loli, kali.. hehehe...

Tapi dengan konsistensi untuk membetulkan cara memegang, mencontohkan bagaimana dan dimana bagian yang dipukul, lama2 Nara bisa juga. Pukulannya mulai menghasilkan bunyi yang nyaring, meskipun sering juga terpukul bagian rangka plastiknya, sehingga bunyinya kurang enak didengar.

Bunyi logam yang bergema nyaring menjadi konsekuensi menyenangkan buat Nara. Langsung deh, kalau pukulannya pas, dan terdengar bunyi nyaring, Nara tersenyum memamerkan tiga giginya ;-) Apalagi kalau kemudian ibunya ikut tepuk tangan, bertambahlah konsekuensi menyenangkan yang membuatnya makin bersemangat. Pukul terus, pukul terus, sehingga makin lama makin ahli.

Practice makes perfect, itu yang terjadi. Dan memang benar sekali ungkapan itu, karena memang hanya ada dua hal yang penting dalam proses belajar: konsekuensi (dalam bahasa 'keren'-nya disebut reinforcement) dan konsistensi pemberian konsekuensi itu. Lainnya sih modifikasi aja ;-)

Sempat buka2 buku Psychology of Learning, tulisannya Arno F Wittig, yang gw tinggal di kantor untuk membuktikannya. Dan ternyata memang benar! Mau prinsip belajar dengan classical conditioning, instrumental/operant conditioning, modeling, maupun verbal learning, prinsipnya sama: 2K, alias konsekuensi dan konsistensi.

Hanya cara pemberian konsekuensinya saja yang berbeda2. Pada classical conditioning, misalnya, konsekuensi diberikan diawal, bersamaan dengan stimulus yang diharapkan memicu perilaku tertentu. Pada operant conditioning, konsekuensi muncul sebagai akibat dari melakukan perilaku tertentu. Sementara pada modeling, yang diberi konsekuensi adalah orang lain, tapi konsekuensi itu akan diadaptasi oleh si observer untuk mengharapkan suatu saat dia akan mendapatkan konsekuensi itu juga jika melakukan hal yang sama.

Naah... berdasarkan teori2 pembelajaran tersebut, kening gw jadi berlipat2 ketika membaca tentang Kantin Kejujuran. Salah satunya seperti yang terkutip berikut ini:

Kantin Kejujuran merupakan bagian kegiatan Gerakan Aksi Langsung Antikorupsi Sejak Dini atau Galaksi yang dicanangkan Karang Taruna Tingkat Nasional dengan Kejaksaan Agung. Gerakan ini bertujuan menciptakan sikap dan budaya jujur di masyarakat sebagai bentuk pembinaan masyarakat taat hukum.


*Eh sebenernya, 2K (= Kantin Kejujuran) ini proyeknya siapa sih? Kejagung atau KPK? Karena di artikel lain ini proyeknya KPK ;-)*

Eniwei... terlepas dari projectnya siapa, tetap aja konsepnya membuat kening gw berkerut. Kenapa? Ya karena gw nggak menemukan 2K yang lainnya, yaitu Konsekuensi dan Konsistensi a.k.a dua unsur penting pembelajaran di sini.

Sejauh yang gw tahu, Kantin Kejujuran dioperasikan dengan "sekedar" membuat kantin tanpa penjaga. Pengunjung bebas mengambil barang, dan meletakkan sejumlah uang sebagai pembayarannya. Suatu konsep yang bagus, sebenarnya, tapi..... tanpa konsekuensi dan konsistensi, ya sami mawon ;-) Dari mana timbul motivasi untuk bersikap jujur, jika mereka tidak melihat konsekuensi positifnya (dan tidak melihat konsekuensi negatif dari tidak jujur)? Akhirnya, ya kembali ke integritas diri masing2 pengunjung. Pengunjung2 yang integritasnya baik, karena didikan ortunya misalnya, akan lebih besar kemungkinannya untuk jujur. Yang tidak menganggap penting kejujuran, ya nggak akan jujur.

Ohya, memang beberapa tempat mencatat tingginya tingkat kejujuran pada tempat penjualan seperti ini. Laporan Tempo ini, misalnya, menceritakan tentang warung jujur yang ada di Bali - yang mungkin sekali menjadi salah satu referensi KPK/Kejagung saat mencanangkan Kantin Kejujuran. Tapi.... yang mereka mungkin lupa (atau tidak tahu?), bahwa yang menjadi faktor utama keberhasilan di warung ini adalah "sanksi sosial" :-) Masyarakat Bali punya keterikatan masyarakat yang kuat. Mereka sangat berusaha untuk menjadi homogen, menjaga harmoni dengan masyarakat sekelilingnya. "Sanksi sosial", atau yang lebih nyata berupa "sanksi adat" menjadi konsekuensi tidak menyenangkan yang dikhawatirkan terjadi. Oleh karenanya, bayangan atas kemungkinan mendapat konsekuensi tidak menyenangkan ini membentuk kontrol dari berbuat tidak jujur.

Lha, kalau di Kantin Kejujuran yang dicanangkan pemerintah ini, apa yang menjadi konsekuensi pembentuk kontrol diri? Masyarakat yang cenderung loe-loe gw-gw membuat sanksi sosial menjadi majal. Kenapa harus takut nggak jujur? Apa fungsinya? Paling diomongin orang.... tapi kemudian berlalu. Itu juga belum tentu diomongin, wong banyak yang lebih parah kelakuannya and get away with it.

Kenapa Kantin Kejujuran di sebuah SD di Padang bisa berhasil? Yaaaah... karena karakteristiknya beda :-) Anak2 SD berada dalam tahap Middle-Childhood, yang memang dalam tahap Industry vs. Inferiority. I am what I achieve, sehingga berhasil menuruti kata orang tua/guru, menjadi "anak manis", pun sudah merupakan motivasi bagi mereka untuk berbuat jujur. Dengan mengikuti nasihat orang tua/guru untuk berbuat jujur saat berbelanja di kantin kejujuran, mereka sudah membayangkan akan mendapat pujian dan ungkapan bangga.

Lha, begitu Kantin Kejujuran ini dilakukan di SMP - SMA, dimana anak sudah masuk usia remaja dan tahap psikososialnya adalah Identity vs Role Confusion, metode ini backfire ;-) Lha wong justru di tahap ini mereka berusaha sedapat mungkin untuk tidak diasosiasikan dengan orang tua/guru kok ;-) Being a bad boy/girl is much cooler at this stage ;-) Nggak heran kalau kedua kantin kejujuran ini akhirnya ditutup karena rugi ;-)

Intinya, gw nggak bilang bahwa ide Kantin Kejujuran ini jelek :-) Tapi... gw mesti bilang bahwa kalau mau berhasil, ada yang harus dibenahi dari metode ini. Paling tidak, pencanangnya harus kembali ke teori awal: Social Learning Theory

Secara singkatnya, prinsip berikut ini harus diperhatikan:

Pertama, manusia memang bisa belajar melalui observasi terhadap perilaku orang lain dan konsekuensi yang didapat oleh orang tersebut. Prinsip ini membutuhkan dua hal yang solid: role model yang tepat (baca: diaspirasikan oleh orang yang akan belajar), dan konsekuensi yang jelas. Kantin Kejujuran sudah menggunakan role model yang tepat (peer group untuk SMP/SMA, dan guru/ortu untuk SD), tapi.... konsekuensinya belum jelas, jadi masih separuh jalan ;-)

Kedua, intrinsic reinforcement (baca: perasaan dan pikiran yang timbul terhadap konsekuensi) juga harus diperhatikan. Ini kaitannya dengan tahapan psikososial di atas. Kalau buat remaja, bisa jadi justru "berhasil melanggar aturan" itu memberikan intrinsic reinforcement. Bangga dong, kalau bisa membangkang terhadap perintah guru ;-) Tentu ini menjadi backfire untuk Kantin Kejujuran, karena secara tidak langsung justru mendidik mereka untuk "mencuri"

Ketiga, pembelajaran tidak selalu disertai dengan perubahan tingkah laku. Ini juga harus diingat oleh para pencanang konsep Kantin Kejujuran. Karena sifatnya lebih kognitif, tetap bisa jadi siswa2 itu belajar sesuatu secara konsep, tapi tidak mengubah perilakunya. Jadi jangan heran kalau setelah kantin kejujuran diadakan dimana2, tetap saja tingkat kejujuran tak meningkat ;-)


Harus diingat pula bahwa peran situasi sosial dalam sebuah "Social Learning" sangat besar. Jadi, meskipun bisa saja kejujuran terbentuk saat di SD/SMP/SMA karena penggunaan role model, konsekuensi, dan konsistensi yang tepat, akan terjadi pembelajaran baru selepas mereka dari dunia sekolah. Lha, iya, nanti kalau anak2 ini sudah lulus dan masuk dunia kerja, lantas melihat bahwa senior2nya korupsi, apa iya mereka kebal terhadap pembelajaran baru? Apa iya, proses pembelajaran sosial ini akan terulang lagi dengan para senior korup sebagai role model baru ;-)?

Jangan lupa, ada 2K lagi yang bisa berperan memunculkan kebutuhan akan pembelajaran sosial baru: Kesempatan dan Kebutuhan ;-) Kalau punya kebutuhan, dan ada kesempatan, apalagi diberi contoh oleh seniornya, yaaaah.... namanya juga manusia ;-)

So... kalau boleh komentar, bukan hanya jumlahnya, Pak, yang harus membuat Bapak miris ;-) Melainkan konsep dasarnya ;-) Supaya bisa mengantisipasi dan mencegah kemungkinan gagal. Supaya hasil pembelajarannya maksimal. Mau jumlahnya banyak, kalau nggak kuat dasarnya, kecil kemungkinan berhasil.

***

Tapi lupakan dulu prognosa keberhasilan Kantin Kejujuran ini di masa depan. Kita fokus di "menanamkan kejujuran" pada remaja saja dulu. Iseng2, gw pikir, ada hal lain yang bisa dilakukan untuk membiasakan remaja bersikap jujur. Pakai aja game online seperti Pet Society ini ;-)

Beberapa teman gw tiba2 pet-nya jadi tajir mampus, karena pakai cheat ;-) Hmmm... karena cheat-nya harus pakai donlot cheat engine segala, dan mengubah beberapa syntax, tentu effort-nya gede untuk bisa berbuat "tidak jujur". Gw pikir akan lucu juga kalau nyebar cheat palsu di internet. Begitu dicoba, tiba2 keluar kalimat "Sorry, you've been robbed. It wasn't the right cheat. Yes, we lie, and you lose!" ;-) Terus koinnya yang sudah dikumpulkan dengan susah payah itu hilang. Pasti habis itu kapok... hehehe.... pasti mikir2 lagi untuk mengulangi berbuat curang, karena konsekuensinya besaaar ;-)

Jadi... alternatif aja nih buat KPK & Kejagung. Daripada susah2 set up kantin di berbagai sekolah, bikin aja cheat palsu untuk berbagai game online. Sebar di internet ;-) Lebih mudah dan murah, tapi hasilnya mungkin bisa lebih efektif... HAHAHAHA... Setidaknya lebih nampol hasilnya buat remaja ;-)

Wednesday, February 04, 2009

Part III: Epilog

Yang lagi belajar nge-rock bilang "You're the one who set it up, now you're the one to make it stop". Kalau yang suka Bang Haji, bilangnya, "Kau yang mulai, kau yang mengakhiri" ;-) So, gw akan mengakhiri apa yang sudah gw mulai ;-) Yang udah bosen, silakan click away ;-) Protes belakangan nggak akan diterima ;-)

Ya, seperti biasa, curiousity never fails to get the best of me. Jadi, walaupun udah nyela abis bukunya, tetap aja gw nggak tahan untuk nggak nonton filmnya.. hehehe...

Ini celaan lanjutan catatan dibuang sayang dari nonton filmnya... ;-) Tadinya udah hampir gw delete dari draft, karena mau ngebahas Kantin Kejujuran. Tapi... melihat data Google Analytics bahwa Perempuan Berkalung Selimut Perca adalah top entry , dan ternyata komentar masih berdatangan, gw putuskan untuk mempublikasikannya ;-)

*Ngomong2 soal top entry, gila, rekor bo! Satu2nya URL yang lebih tinggi angka kunjungannya daripada posting itu adalah: home URL. Iya, alias http://smritacharita.blogspot.com/ ;-) Considering bahwa posting itu umurnya baru 2 minggu, berarti emang heboh banget pencarian informasi tentang "Perempuan Berkalung Sorban" di dunia maya ;-)*

***

Setengah film pertama, gw cukup menikmati. It seems that Hanung (and that other screenplay writer) are better author than the original one ;-) Mereka berhasil membumikan cerita. Pun penokohannya jadi lebih kuat. Pendeknya, alis gw bisa istirahat, karena fragmen2 ceritanya nggak bikin jidat gw berkerut berkali2... hehehe...

Setelah beberapa detik adegan pembuka berupa Annisa naik kuda berkalung sorban (catatan: Annisanya yang berkalung sorban, bukan kudanya ;-)) yang agak out-of-context, cerita mengalir lancar dengan flashback ke masa Annisa kecil. Annisa digelandang ibunya pulang - secara harafiah - dari atas punggung kuda. Saat itu Annisa sedang berkuda bersama kedua kakak laki2nya.

Pengubahan cerita awal ini tampaknya sederhana, tapi membuat semuanya lebih fall into place. Penonton jadi lebih bisa connected kepada keinginan Nisa berkuda karena keinginan ini berawal seorang anak kecil yang melihat kakak2nya berkuda. Dengan angle ini, Hanung & tim mengantar kita pada masa kecil kita; dimana kita selalu look up to the aspired one.

Masalah kuda2an ini juga diperkuat konteksnya dengan adegan ketika Khudori memenuhi keinginan Annisa belajar berkuda. Annisa kecil benar2 digambarkan sebagai anak kecil yang make-believe play. Sederhana, nggak penuh dengan pesan muluk tentang pertidaksamaan hak, tapi penonton diajak mengingat masa kecil betapa suatu hal remeh-temeh seperti make-believe play itu sebenarnya masalah mati-hidup buat anak kecil. Jadi, nggak perlu norak memaksakan bahwa si anak kecil itu melihat esensi sebenarnya dari tidak diperbolehkannya ia berkuda ;-)

Pesan lain yang juga tersampaikan dengan baik tanpa eksekusi senorak di buku aslinya adalah mental breakdown yang dialami Annisa dalam rumah tangganya. Tanpa gambar yang vulgar (yaaah... emang sih masih ada suara2 desahan dan adegan pre-coitus, tapi menurut gw sih standard lah buat film dewasa ;-)), pesan ini tersampaikan dengan baik melalui pipi Annisa yang biru legam maupun pendarahan hebat yang dialami Kalsum. Film ini membiarkan penonton terjebak dengan kengeriannya sendiri, bayangannya sendiri, tentang apa yang tidak digambarkan. And in a way, itu membuat pesannya lebih "kena".

Dalam banyak hal, detil cerita justru akan mengurangi kedahsyatan pesan yang diterima, karena persepsi orang dikebiri menjadi fakta singular ;-) If you want to market the idea, if you want the people to buy YOUR idea, manipulate their perception. Do not give them all the fact ;-) Marketing is all about perception, and a little bit about facts ;-)

Dengan ketidakdetilan seperti ini, malah jadi lebih dimengerti kenapa Annisa mengalami trauma, sehingga perlu waktu menyesuaikan diri lagi ketika sudah menikah dengan Khudori. Dan... digabungkan dengan ketidakjelasan pengalaman seksualnya, efeknya seperti bola salju. Kini lebih besar alasan bagi orang untuk mendukung kesamaan gender: untuk menghindarkan mengalami mental breakdown dan trauma seperti Annisa. Karena tidak tahu detil pengalaman seksual yang dialami Annisa, maka orang lebih termotivasi untuk mencegah nasib dari awal sekali.

Ibaratnya, dinikahkan dengan Samsudin itu pengalaman A, kekerasan seksual itu pengalaman B, dan trauma itu pengalaman C. Maka rumusnya adalah A --> B --> C. Karena kita tidak tahu pasti B itu seperti apa, maka kita mencegah terjadinya C dengan mengeliminasi A. Bandingkan jika kita tahu B seperti apa; maka akan lebih besar celah argumen bahwa A boleh terjadi, asal dilakukan suatu treatment yang menetralisir B sehingga tidak menghasilkan C. Trust me, rumus ini adalah mainan gw sehari2... hehehe.... Gw termasuk orang yang selaluuuuu aja bisa menemukan alternatif untuk membuat orang ragu apakah A harus dieliminasi agar C tidak terjadi, kalau gw tahu B-nya... hehehe...

Kalau sepanjang baca bukunya gw terganggu banget dengan tokoh Khudori, di film ini malah tokoh ini yang paling berperan sebagai jangkar cerita. Why? Karena Hanung dan timnya benar2 bisa menterjemahkan Khudori sebagai muslim muda progresif; yang tetap berakar pada nilai2 Islam, tapi berpikiran terbuka dan modern. Dialog2nya, perilakunya, semua menunjukkan itu. Jauuuuuuhhhh beda dengan Khudori di buku yang isi kepalanya esek2 melulu ;-)

Salah satu perbedaan kecil yang menjadikan tokoh Khudori di film nggak bikin ilfil kayak di buku adalah: Khudori nggak nyosor aja ketika Annisa kecil bilang, "Aku sukaaaa sekali sama Lik". Di buku kan diceritakan Khudori langsung bersikap kayak dapat durian runtuh; langsung menggenggam tangan Annisa dan minta mengklarifikasi maksudnya (hal 36). Kesannya jadi kayak pedofil, kan ;-)? Naah... di filmnya, Khudori nggak norak gitu. Cuma matanya aja yang memandang Annisa dengan sejuta tanya yang tak terucapkan ;-) Lebih nampol, bo!

Dan cinta terpendamnya buat Annisa itu digambarkan dengan subtle. Hanya dengan sepucuk permohonan maaf bahwa ia "takut atas perasaannya yang tidak pantas". So humble.

*Acungan jempol buat Oka Antara, si pemerannya. Ekspresi dan caranya bertutur menunjukkan ia benar2 masuk ke tokoh yang diperankan. Apalagi, tidak seperti Revalina Temat, logatnya juga cukup "Jawa" (meskipun lebih ke arah logat Jawa Tengah daripada logat Jawa Timuran ;-)) Tambah jempol lagi mengingat Oka ini bukan muslim, apalagi yang keluaran pesantren*

Tokoh Khudori di film ini juga nggak muncul bak pahlawan kesiangan yang pulang sekolah langsung jadi superhero yang mengangkat problem Annisa dalam rapat keluarga. Khudori masih tetap berperan sebagai teman yang santun; yang bersimpati, namun punya kontrol diri yang kuat. Tidak bias dengan self-interestnya. Gw suka dengan pengubahan cerita menjadi membumi; bahwa Samsudin menemukan surat Khudori, kemudian menemukan Annisa sedang curhat padanya di kandang, dan atas dasar itu menuduhnya berzinah. Dan klimaks cerita, menurut gw, adalah pada saat Samsudin menceraikan Annisa di depan massa.

Ya, adegan itu menurut gw sangat berkesan. Annisa accidentally outsmarts Samsuddin. Dia mendapatkan apa yang diinginkannya, tapi... pesan moralnya adalah: be careful of what you're wishing for. Seringkali apa yang kita dapatkan itu ditebus dengan kehilangan sesuatu yang sangat kita hargai. Dalam hal ini seumur pernikahannya Annisa selalu berharap bisa bebas dari Samsuddin. Dia mendapatkannya - at last - tapi dengan harga yang sangat mahal. Ia hampir mati dirajam, ayahnya wafat karena serangan jantung, dan yang paling mahal: pengalaman itu telah membuat rasa cinta yang ia jaga untuk Khudori hancur.

She doesn't know anymore what she wants... and I wonder... at that time, did she ever look back and judge whether this freedom is worth it all?

Adegan nyaris-rajam ini merupakan klimaks cerita, menurut gw. Sehingga, kalau mau cooling down, sebenarnya cukup dengan menceritakan hidup Annisa dan Khudori pasca kebebasan. Bagaimana Annisa kemudian memperjuangkan persamaan hak perempuan melalui Pusat Krisis Perempuan, bagaimana kemudian ia dapat memperbaharui cintanya dengan Khudori, lantas bahu-membahu mengajarkan nilai2 Islam progresif kepada orang lain. Annisa mentransfer nilai2nya pada klien2nya di Pusat Krisis Perempuan, sementara Khudori pada mahasiswa2 didikannya. Bersama kita mereka bisa! Dan dari situlah muncul tunas2 muda yang tidak lagi menomorduakan perempuan.

Sayang... kayaknya Hanung waktu itu beli rol filmnya yang buy one get one free ;-) Jadi ada sisa rol film yang harus dimanfaatkan. Jadilah, filmnya dipanjang2in nggak penting. Pakai acara Annisa pulang ke pesantren, "memaksakan" nilai2nya dalam pesantren kakaknya, Khudori [masih] pakai meninggal, kakak2nya Annisa pakai ngutang sama Samsudin lagi, dan Samsudin pakai mau menikahi Annisa lagi sebagai penebus utang kakaknya. Persis seperti sinetron kejar tayang!

Asli! Sejak Annisa balik ke pesantren itu, gw bolak-balik menguap, merem, melek lagi, ngintip HP udah jam berapa (soalnya arloji gw gak kelihatan), daaaaan.... terakhir gw malah browsing internet (duh! Tagihan 3G gw berapa ya, bulan ini... hehehe... belum punya Blackberry sih ;-))..

Ada dua hal yang membuat gw gak sreg dengan setengah film terakhir. Yang pertama, ya karena menurut gw klimaksnya sudah terjadi pada adegan nyaris-rajam itu. Cooling down harusnya selesai saat Nisa menikah dengan Khudori. Begitu ditambah porsinya, jadi basi. Apalagi cerita tambahan itu jadinya kembali ke titik awal: bigotry and misogynist all over again.

Dialognya memang bagus2, seperti ketika kakaknya mengatakan, "Perempuan sudah mendapatkan surganya tanpa harus berpikir". Tapi, menurut gw, nggak perlu ada pengulangan ini. Justru dialog2 ini harusnya muncul di awal cerita. Ketika Annisa gagal menjadi ketua kelas karena, "Dalam Islam perempuan tidak boleh menjadi pemimpin," tentu akan lebih kuat jika penyelesaiannya bukan sekedar Annisa digebukin bapaknya. Bapaknya bisa mengucapkan dialog ini, bahwa Annisa [menurut nilai2 yang dianutnya] salah, karena kabur dari kelas. Bahwa [menurut nilai2 yang dianutnya] sang guru benar, karena perempuan memang tidak boleh jadi pemimpin.

Daripada memanjang2kan cerita di akhir, lebih baik mengelaborasi cerita di depan ;-) Dan... memasukkan dialog2 seperti itu dalam awal cerita, justru akan makin memperkuat penokohan Annisa - serta membuat semakin jelas mengapa ia kemudian berontak dan berjuang untuk persamaan hak.

Alasan kedua kenapa gw bete banget pada paruh terakhir film adalah: karena menurut gw Annisa salah! Ya, menurut gw, Annisa justru salah jika memaksakan perubahan di pesantren itu.

Adalah haknya untuk memiliki pandangan progresif. Adalah haknya juga untuk menyebarkan, mengajarkan, membuat orang tertarik pada pandangan progresifnya. Tapi.... kakak2nya juga punya hak yang sama untuk memiliki pandangan konservatif. Pesantren itu punya hak untuk memiliki pandangan konservatif. It is a wrong thing to march into somebody's house and tell them what they should do!

Sorry to say, gw setuju dengan kata2 kakaknya Annisa di film itu: bahwa para santri itu dititipkan ke mereka. Apa hak Annisa mengubah cara belajar? Belum tentu lho, orang tuanya para santri itu setuju dengan cara berpikir Nisa.

Akan lain ceritanya jika Annisa melakukannya di luar pesantren. Itu adalah haknya. Dan hak para santri pula untuk bergabung. Annisa akan punya alasan yang lebih kuat untuk complain pada pihak pesantren jika kemudian pesantren melarang aksinya. Dua organisasi yang berbeda, lebih kuat jadi masalah hukum kalau ada yang saling melarang. Sementara kalau dia balik dan memperbaharui pesantren kakaknya, itu jadi masalah internal belaka.

Lagipula, inti perjuangan Annisa adalah persamaan hak bagi perempuan kan? Bukan memperjuangkan perbaikan di pesantren Al-Huda itu kan? Kalau dia pulang ke pesantren dan memaksakan penerapan pandangan progresifnya di sana, apakah ini tidak mereduksi perjuangannya? Arahnya jadi sekedar "membebaskan para santri dari kezaliman pengurus Pesantren Al-Huda"?

Monday, February 02, 2009

25 Supposed-to-be-Random Facts

I used to think that writing chain-topic like "25 Random Things About Me" is a waste of time. It is a silly thing done by those who do not have better idea to put on writing. My perception is forced to change upon reading Intan's note in Facebook. Instead of following the crowd, she turned this mass topic into a nice, holistic essay of herself.

Then Putri tagged me to write the same note, and so did Yanti. And I say, "Why not? Perhaps I can turn this chain-topic into something unique too".

Well, actually, I should write this topic on my Facebook. But I think Blogspot is a sexier place. I can add links, and perhaps upload some pictures later. And since everything I write on the blog goes to my Facebook account as well, technically I've written this on my Facebook too ;-)

To cut a long story short, here we go....

1. Let's start it from my childhood. I declared myself dropping out of school at the age of four. I decided then that I was smart enough, and the boring pre-school - which only taught me to sing, dance, and play - would not make me smarter.

2. My parents tried to talk me out of this decision. But they were forced to give up when I demonstrated a passive-aggresive act: walking out of my classroom one day and diving into a dirty pond outside

3. Of course, it was not my intention to dive into that dirty pond. I just wanted to play with the ducks, who swam happily on the pond. My mom told me that I was smarter than animal. My conclusion was: if I was smarter than the ducks, I would be able to walk on the water like them

4. Not knowing what to do with me, my parents consulted a Educational Psychologist. She was the wife of my dad's cousin.

5. Oh, and her husband was a psychologist too. But my dad did not consult his cousin, as he was an Industrial Psychologist. He didn't work with children.

6. This Educational Psychologist my dad consulted me to was specialized in "Gifted Children". Therefore, although I was barely a gifted child, I was in a good hand.

7. But my dad didn't want me to be, or be treated as, a gifted child. He wanted me to be a normal child. He was afraid that I would not be able to fit in the society if my potency was supported.

8. So, he treated me himself: no more newspaper to read (yes, I could read at the age of 3.5, and by the age of 4 I have already read newspaper), no more discussion with older people (yes, I'm terrible in socializing with my own peer group)...

9. ... more outdoor activity, and read children's book instead.

10. That treatment helped me becoming who I am now. Definitely not a gifted one ;-)

11. Alas, despite successfully preventing me from being a freak, my dad failed to raise a daughter who could fit into society easily ;-)

12. But let's get back to the original story. The funny thing is: my teacher in that boring pre-school was a psychology student. He is a prominent psychologist now, working with children and the founding father of Indonesia's Twin Foundation.

13. And so was another teacher; a psychology student who later became the daughter-in-law of a former governor.

14. With all these intense encounter with psychology and psychologists, how could I resist entering Faculty of Psychology, University of Indonesia, in 1991?

15. A place where I met my dad's cousin again. He was a former Dean by then.

16. The wife of his became my professor too.

17. And the female teacher of that pre-school became my lecturer.

18. I also met that pre-school teacher in this place when he pursued his doctoral degree.

19. I sealed my eternal bond with the world of psychology by marrying a psychologist in 1998...

20. ... the one who dedicates his life to serve two faculties of psychology; of two reputable universities in Indonesia.

21. Now I just wonder whether any of my children will ever enter Faculty of Psychology. Well, I hope they will not. As they will be able to reveal all the tricks I used when I was raising them.

22. Then I will not be able to use the same tricks on my grandchildren.

23. I also hope that they will not marry a psychologist for the same reason.

24. On a second thought, having a psychologist as a daughter-in-law might be a better alternative; compared to Nara marrying a shallow, empty-headed girl, who knows nothing beyond cosmetics ;-) Debating theories of psychology with a daughter-in-law might be fun... of course, she is condemned to lose, rite ;-)?

25. As for Ima, how can I dictate her about whom to marry? I even failed to convince her to buy Sony PSP instead of Nintendo DS ;-)

There you are... :) A 25 supposed-to-be-random facts about me ;-)

Did you learn anything new about me upon reading this? I bet you didn't ;-) I just recycled old information.

So.. you can learn something here: it's a waste of time trying to peek into my inner life with such a "questionnaire"... HAHAHAHA...